• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis Sekolah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis Sekolah)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

246

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Parent education tentang pendidikan seks bagi remaja merupakan program yang dirancang sebagai bentuk pengembangan model konseling keluarga berbasis sekolah. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks bagi remaja. Upaya ini ditempuh sebagai alternatif dukungan sistem, dengan melibatkan orang tua, sekolah dan profesional lain dalam membantu mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan seksual remaja. Sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini ada tiga yaitu:

1. Pengetahuan Orang Tua tentang Pendidikan Seks

Pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks, mengalami peningkatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Dari dua jenis pengetahuan yang diukur pada bagian pertama ini (pengetahuan faktual dan konseptual), ternyata peningkatan lebih banyak terjadi pada pengetahuan konseptual orang tua dibandingkan pengetahuan faktualnya. Pengetahuan factual merepresentasikan pengetahuan orang tua tentang istilah-istilah spesifik dalam pendidikan seks bagi remaja. Jenis pengetahuan ini biasanya banyak diperoleh melalui pengalaman keseharian langsung atau informasi yang diterima dari lingkungan. Sedangkan pengetahuan konseptual merupakan bentuk pengetahuan yang lebih kompleks dan terorganisasi, diperoleh melalui kegiatan belajar secara formal, dari hasil membaca atau mempelajari secara khusus.

(2)

247

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

Hasil penelitian membuktikan bahwa orang tua sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan tentang pendidikan seks yang memadai. Termasuk pengetahuan tentang norma-norma yang berkaitan dengan seksualitas. Ada dua tema pengetahuan tentang pendidikan seks yang mengalami peningkatan skor yang cukup tinggi, antara sebelum dan sesudah pelatihan, yaitu: tema tentang seksualitas dan reproduksi, serta seksualitas dan hubungan pribadi.

Tema tentang seksualitas dan reproduksi, banyak membahas tentang seksualitas dari sudut pandang saintifik yang perlu dipelajari secara khusus. Sedangkan tema seksualitas dan hubungan pribadi, berbicara tentang keterampilan (skills) yang perlu diajarkan orang tua terhadap remaja (empat materi tentang skills, satu materi tentang pusat informasi jasa layanan seksual). Tema tentang mengajarkan skills ini termasuk tema yang agak sulit dan perlu dipelajari secara khusus oleh para orang tua.

2. Kemampuan Orang Tua dalam Membuat Rencana Tindakan

Rencana tindakan, merepresentasikan kemampuan orang tua untuk merencanakan sendiri pendidikan seks yang akan diberikan kepada anak remajanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan orang tua dalam membuat rencana tindakan mengalami peningkatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Pengetahuan yang digali melalui rencana tindakan ini menggambarkan pengetahuan prosedural dan metakognitif yang dimiliki para orang tua. Pengetahuan prosedural merepresentasikan bagaimana cara orang tua memberikan pendidikan seks kepada anak remajanya. Sedangkan pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan tentang strategi umum dan beragam yang dimiliki para orang tua dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja.

(3)

248

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

Respon yang diberikan orang tua dalam membuat rencana tindakan sangat bervariasi. Hal ini menandakan adanya perbedaan prioritas yang dimiliki orang tua dalam menyampaikankan materi pendidikan seks kepada remaja. Perbedaan ini menggambarkan kondisi dan kesiapan masing-masing orang tua.

Meskipun para orang tua memperoleh materi pendidikan seks dengan urutan yang sama dalam pelatihan yang mereka ikuti, namun pada saat membuat rencana tindakan ternyata sangat berbeda. Hal ini membuktikan fleksibilitas dalam berpikir yang dimiliki para orang tua, dan kemampuan orang tua dalam menyusun strategi yang akan mereka terapkan dalam memberikan pendidikan seks kepada anak remaja mereka. Dengan kata lain, mayoritas orang tua mengalami peningkatan kemampuan dalam merencanakan sendiri pendidikan seks kepada anak remajanya, sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

3. Penilaian Peserta terhadap Pelatihan Parent Education tentang Pendidikan Seks bagi Remaja

Penilaian peserta terhadap pelatihan parent education tentang pendidikan seks bagi remaja, mengungkap enam hal yaitu: reaksi secara umum, reaksi peserta secara khusus, konfirmasi pembelajaran, evaluasi pelatih, keseimbangan program, isi program dan evaluasi terhadap materi pelatihan. Berikut ini adalah kesimpulan yang diperoleh:

a. Reaksi Peserta secara Umum.

Berdasarkan reaksi peserta secara umum diperoleh penilaian yang sangat positif dari orang tua terhadap pelatihan yang mereka ikuti, dengan tingkat kepuasan tinggi. Kepuasan peserta yang tinggi, terutama pada nilai kegunaan pelatihan, serta kesesuaian antara materi yang disampaikan dengan peran

(4)

249

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

mereka sebagai orang tua. Pada bagian ini, dapat disimpulkan hasil konfirmasi dari peserta tentang: a) ketercapaian tujuan pelatihan, b) materi yang paling bermanfaat menurut orang tua, c) materi lain yang ingin diusulkan para orang tua serta d) materi yang perlu dikurangi atau dihilangkan.

b. Reaksi Peserta secara Khusus.

Secara khusus, para peserta menilai bahwa pelatihan yang mereka ikuti sudah sesuai dengan tujuan yang mereka harapkan. Mayoritas peserta juga mengakui bahwa pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai pendidikan seks meningkat setelah mengikuti pelatihan. Peningkatan pengetahuan yang dialami para orang tua sedikit di bawah persentase peningkatan keterampilan. Hal ini menandakan bahwa para orang tua lebih konsern terhadap kebutuhan akan keterampilan. Para orang tua juga menilai bahwa pelatihan parent education tentang pendidikan seks bagi remaja, layak untuk direkomendasikan kepada orang tua lainnya.

c. Konfirmasi Pembelajaran.

Mayoritas orang tua memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengadministrasian program pelatihan. Mereka juga mengakui belum pernah memperoleh materi yang serupa dengan pelatihan ini sebelumnya. Secara umum, para orang tua cukup puas dengan rangkaian proses pelatihan yang mereka ikuti, mulai dari undangan pelatihan, sosialisasi, persiapan pelatihan, hingga aktivitas pengisian kuesioner sebelum dan setelah pelatihan. Masukan peserta terkait konfirmasi pembelajaran lebih menyoroti perlunya meningkatkan komunikasi dua arah, penambahan video dan games. Para

(5)

250

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

orang tua menginginkan lebih banyak lagi orang tua yang mendapatkan pelatihan ini dan lebih diperbanyak lagi pelatihan semacam ini.

d. Evaluasi Pelatih.

Penilaian peserta terhadap pelatih 1 dan pelatih 2 cenderung berbeda. Perbedaan ini menyiratkan perbedaan kompetensi yang dimiliki masing-masing pelatih. Aspek yang dinilai peserta dari pelatih yaitu: penguasaan terhadap materi, sistematika penyampaian materi, persiapan, gaya penyampaian, respon terhadap peserta dan iklim belajar yang ditampilkan.

Penilaian peserta terhadap pelatih pertama, cenderung memberikan respon yang positif. Penilaian tertinggi diberikan untuk penguasaan materi dan gaya penyampaian materi. Masukan peserta untuk pelatih pertama, adalah dalam sistematika penyampaian yang kurang tersusun. Penilaian terhadap pelatih kedua, cukup positif. Penilaian yang tinggi terdapat pada penguasaan materi dan sistematika penyampaian materi. Sedangkan gaya penyampaian materi dinilai peserta kurang efektif. Masukan dari peserta untuk kedua pelatih (1 dan 2) adalah perlu lebih meningkatkan lagi kemampuan berkomunikasi secara efektif dan melibatkan humor selama penyampaian materi.

e. Keseimbangan Program.

Ada lima poin utama yang dievaluasi dalam keseimbangan program yaitu: 1) keseimbangan antara materi dengan aktivitas, kegiatan diskusi dan video yang ditayangkan; 2) pendapat peserta tentang lamanya waktu pelatihan; 3) urutan program; 4) efektif tidaknya aktivitas yang dilakukan; 5) pembagian waktu yang diberikan untuk aktivitas dan diskusi. Selain data

(6)

251

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

kuantitatif juga dilengkapi dengan data kualitatif. Berikut ini adalah kesimpulan tentang evaluasi peserta terhadap keseimbangan program:

Peserta menilai materi, aktivitas, diskusi dan video yang disajikan sudah seimbang. Beberapa masukan yang diberikan peserta terkait materi dan video belum sepenuhnya sempurna, infokus tidak jelas dan kurangnya waktu untuk berdiskusi. Mengenai waktu pelatihan, peserta menilai bahwa lama waktu pelatihan (satu hari) sudah pas. Dengan kata lain, jika lebih dari satu hari akan memberatkan para orang tua.

Berkaitan dengan keurutan program, mayoritas peserta menilai program yang mereka terima selama pelatihan, sangat berurutan. Materi yang disampaikan kepada peserta dimulai dari yang mendasar hingga yang detail. Mayoritas peserta menilai materinya jelas dan mudah dicerna, juga sesuai dengan perkembangan remaja dan norma yang berlaku di masyarakat. Ada masukan dari peserta tentang perlunya pembukaan yang jelas pada setiap materi yang akan disampaikan. Juga penambahan waktu untuk diskusi, tanya jawab serta aktivitas kelompok.

f. Isi Program dan Evaluasi terhadap Materi Pelatihan.

Terdapat 9 poin yang dievaluasi dalam isi program dan materi pelatihan, yaitu materi yang paling disukasi, materi yang tidak disukai, apa yang dipelajari peserta dari pelatihan yang mereka ikuti, penilaian peserta tentang materi yang tidak didapatkan dari pelatihan, penilaian peserta tentang materi yang perlu dihilangkan, materi dalam pelatihan yang pernah diperoleh sebelumnya, penilaian peserta terhadap handout, penilaian peserta terhadap bantuan visul yang digunakan, meliputi powerpoint dan lembar peraga.

(7)

252

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

Materi yang paling disukai. Materi yang paling disukai oleh peserta dalam pelatihan ini ada tiga yaitu tentang seksualitas dan reproduksi, seksualitas dan hubungan pribadi serta materi tentang perilaku seksual remaja. Para orang tua mengakui telah memperoleh pemahaman tentang permasalahan seksual, mempelajari perilaku seksual remaja, mengenal istilah-istilah dalam pendidikan seks, konsep tentang aurat, cara menyampaikan atau menjelaskan seks kepada anak.

Materi yang tidak didapatkan dalam pelatihan. mayoritas peserta tidak memberikan jawaban. Ada sebagian kecil peserta yang mengharapkan agar pembahasan seksualitas dari sudut pandang agama dan cara berkomunikasi yang baik dan efektif lebih ditingkatkan.

Materi yang perlu ditambahkan. Pendapat peserta tentang materi yang perlu ditambahkan cukup beragam. Mayoritas peserta tidak mmberikan pendapat apapun. Ada peserta yang mengatakan sudah cukup. Ada juga yang ingin ditambah lagi porsi materi yang membahas kaitan seksualitas dengan agama dan memperbanyak contoh mengenai perilaku seksual remaja yang ditemukan dalam kehidupan sehari hari. Sebagian lagi ada yang menginginkan agar cara-cara penyampaian terhadap anak ditambahkan. Tidak ada satupun peserta yang mengajukan materi pelatihan yang perlu dihilangkan.

Materi yang pernah dipelajari sebelumnya. Hanya sebagian kecil peserta yang mengakui pernah belajar tentang alat reproduksi, materi tentang pendidikan seks dasar dan konsep tentang aurat. Mayoritas peserta belum pernah mempelajari materi yang mereka dapatkan dalam pelatihan.

Handout Materi. Respon peserta terhadap handout materi dari segi kuantitas, kualitas, isi, serta relevansi dengan materi sudah pas (sesuai). Ada sedikit masukan dari peserta tentang ukuran handout yang terlalu kecil,

(8)

253

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

sehingga ada yang tidak terbaca. Secara umum, peserta menilai keberadaan

handout sangat membantu mereka sebagai bahan referensi.

Pendapat lain terkait isi program yang dievaluasi peserta adalah mengenai bantuan visual yang digunakan. Dalam hal ini, adalah penilaian peserta terhadap kualitas, kuantitas, serta penggunaan powerpoint sangat positif. Penilaian peserta terhadap Alat Bantu Lembar Peraga mayoritas menilai sangat baik. Mereka puas dengan alat bantu lembar peraga yang digunakan. Ketika diminta penilaian tentang kuantitas lembar peraga, penggunaan lembar peraga, dinilai sangat baik oleh peserta Adapun masukan peserta yang layak dipertimbangkan adalah terkait ukuran font yang digunakan, pencahayaan dan kualitas powerpoint.

Kesimpulan umum yang diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain membuktikan bahwa:

a. Mayoritas orang tua telah memiliki pengetahuan dasar tentang pendidikan seks bagi remaja, terutama pengetahuan yang diperoleh dari apa yang mereka pelajari di lingkungan, termasuk norma-norma yang berkaitan dengan seksualitas (pengetahuan faktual). Pengetahuan konseptual tentang pendidikan seks bagi remaja, dibutuhkan para orang tua untuk mempertegas dan memperjelas pengetahuan faktual yang mereka miliki.

b. Pengetahuan yang paling dibutuhkan orang tua tentang pendidikan seks bagi remaja adalah pengetahuan prosedural. Yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan keterampilan tentang “bagaimana cara melakukan” atau “bagaimana cara merancang, menyampaikan” pendidikan seks kepada remaja.

(9)

254

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

c. Parent education tentang pendidikan seks bagi remaja yang dirancang dalam bentuk pelatihan, merupakan alternatif yang dapat dipilih sebagai salah satu model pengembangan konseling keluarga berbasis sekolah. Dari hasil uji terbatas, model ini terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks bagi remaja.

Novelty atau kebaruan dari penelitian ini adalah memaksimalkan fungsi dukungan sistem melalui pendekatan konseling keluarga berbasis sekolah. Khususnya strategi preventif yang berfokus pada keluarga, dengan mempersiapkan orang tua sebagai sex-educator bagi remaja. Sehingga, upaya berbagi tanggung jawab ini akan meringankan tugas guru BK atau konselor di sekolah. Novelty yang kedua terletak pada konten pendidikan seks yang digunakan, yaitu pendidikan seks berbasis nilai-nilai Islam, saintifik dan prinsip perkembangan.

Layaknya setiap penelitian, tentu tidak akan luput dari keterbatasan. Setelah semua tahapan proses penelitian dilalui, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan anta lain:

1. Prosedur kerja sama perlu diperjelas dan lebih operasional, mengingat banyak pihak yang akan terlibat, jika model ini diterapkan. Termasuk kelengkapan administrasi yang diperlukan seperti format surat kerja sama, surat kesediaan mengikuti program

2. Konten Pendidikan seks berbasis nilai-nilai Islam, saintifik dan perkembangan yang menjadi salah satu novelty dalam penelitian, juga masih perlu dikembangkan lagi muatan nilai-nilai keislamannya. Harapan ini muncul dari hasil evaluasi terhadap peserta dalam kegiatan parent education

(10)

255

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

Kedua poin keterbatasn penelitian di atas, sekaligus dapat menjadi masukan bagi peneliti lain yang memiliki minat dalam bidang pengembangan model konseling keluarga berbasis sekolah.

B. Rekomendasi

Berdasarkan temuan penelitian yang telah diuraikan, maka untuk memperoleh model konseling keluarga berbasis sekolah yang dapat meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks bagi remaja, perlu memperhatikan hal-hal berikut:

1. Kebutuhan orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja bisa saja bervariasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan assessment kebutuhan secara spesifik kepada orang tua yang akan diberikan pelatihan. Sehingga dapat teridentifikasi kebutuhan real yang dimiliki orang tua. Hasil assessment ini akan mengungkap prioritas kebutuhan orang tua terhadap materi pendidikan seks bagi remaja. Tujuan pelatihan yang dirancang, disesuaikan dengan kebutuhan real tersebut. Selain untuk efisiensi waktu, juga untuk menghindari penyampaian materi yang sudah diketahui oleh orang tua.

2. Mayoritas orang tua membutuhkan pengetahuan yang berkenaan dengan “keterampilan untuk melakukan sesuatu” (pengetahuan prosedural) sehingga memberikan latihan keterampilan tentang pendidikan seks bagi remaja lebih diprioritaskan. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan, keterampilan yang diminati orang tua dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja adalah keterampilan dalam merencanakan sendiri pendidikan seks bagi remaja, dan mengajarkan tentang seksualitas dan keterampilan pribadi

(11)

256

NANI NURANISAH DJAMAL, 2018

PARENT EDUCATION TENTANG PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA (Studi Ke Arah Pengembangan Model Konseling Keluarga Berbasis

Sekolah)Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

|

perpustakaan.upi.edu

kepada remaja. Temuan ini, memberikan peluang bagi penelitian lanjutan untuk merancang pelatihan yang diarahkan untuk meningkatkan skills

tersebut, dengan metode yang lebih bervariasi.

3. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, perlu dilakukan TOT (Training Of Trainer) bagi pelatih/konselor yang akan dilibatkan dalam kegiatan parent education tentang pendidikan seks bagi remaja. Selain untuk melatih penguasaan terhadap materi (content) juga untuk mengasah kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta pelatihan (delivery).

4. Meskipun mayoritas orang tua yang terlibat sebagai peserta pelatihan menilai materi parent education tentang pendidikan seks bagi remaja sudah memadai, namun masih perlu penambahan dan pengembangan dari sudut pandang agama (khususnya Islam).

5. Koordinasi dengan pihak sekolah di awal persiapan program, bukan hanya membahas masalah sosialisasi kegiatan, rekruitmen peserta, atau membuat kesepakatan jadwal saja. Hal yang juga perlu dipersiapkan adalah ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelatihan. Pengecekan terhadap fasilitas tersebut perlu dilakukan sebelum pelatihan dilaksanakan. Terutama untuk mengantisipasi bila ada fasilitas yang tidak berfungsi.

Referensi

Dokumen terkait