• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Gorton & Hanson dalam Bafadal (2003: 4) “sekolah merupakan institusi yang kompleks , bahkan paling kompleks diantara keseluruhan institusi sosial.”Menurut Mc. Pherson dalam Bafadal (2003: 4) “Kompleksitas tersebut, bukan saja dari masukkannya yang bervariasi, melainkan dari proses pembelajaran yang diselenggarakan didalamnya.”Penyelenggaraan pembelajaran atau kegiatan pendidikan dipengaruhi oleh beberapa komponen, diantaranya adalah guru, sarana prasarana, siswa, lingkungan masyarakat, dana, dan lain-lain. Keseluruhan komponen ini digunakan untuk menunjang keberhasilan mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan sebelumnya.

Guru menjadi komponen yang lebih diutamakan apabila dibandingkan dengan keseluruhan komponen yang lain. Hal tersebut dikarenakan keseluruhan komponen tersebut (selain guru) tidak dapat dimanfaatkan dan memberi dukungan secara maksimal apabila tidak ditunjang dengan keberadaan guru secara kontinyu untuk memberikan ide, gagasan, dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap terunggul bagi pendidikan dalam tugasnya sebagai pendidik (Bafadal, 2003:4).

Guru merupakan unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Selain itu, guru memiki hubunganyang sangat dekat dengan anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah.Hal tersebut dapat diartikan bahwa guru memiliki kendali atau pengaruh yang besar terhadap keberhasilan pengajaran di kelas.Untuk itu dibutuhkan profesionalitas seorang guru sebagai tenaga pendidik dalam menjalankan tugasnya.Guru yang profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari (Rice & Bishoprick, 1971).

(2)

Tugas guru pada umumnya adalah mewariskan pengetahuan dan berbagai keterampilan kepada generasi muda. Proses mewariskan atau penurunan pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat berlangsung apabila terjadi proses pembelajaran. Dalam kasus ini, guru bertindak sebagai pengajar yang mengemban tugas untuk mengajarkan siswa baik pengetahuan maupun keterampilan sehingga proses mewariskan tersebut dapat terjadi.

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tidak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Di dalam semua kegiatan pendidikan pasti terdapat kegiatan mengajar. Selama proses mengajar tersebut berlangsung akan terjadi transfer pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada anak didiknya. Maka dari itu, dalam melakukan tugas mengajarnya guru tidak boleh sembarangan terlebih pada saat menyampaikan pengetahuan yang diturunkan.Untuk itulah diperlukan kesiapan guru dalam mengajar. Kesiapan ini dirasa penting karena apabila guru tidak siap maka hasil yang diperoleh akan kurang maksimal. Kesiapan ini dapat meliputi penguasaan materi, mental, maupun kecakapan guru dalam menyampaikan pelajaran.Untuk itulah guru harus melakukan persiapan sebelum mengajar agar dapat benar-benar siap sebelum terjun untuk mengajar. Menurut Rooijakkers (2003: 5) “Persiapan yang baik merupakan jaminan hasil dalam pelaksanaan.” Oleh karena itu, seorang guru harus mempersiapkan pelajarannya dengan sebaik-baiknya sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif.

Pembelajaran yang efektif tidak hanya dipengaruhi oleh kesiapan guru dalam mengajar saja akan tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat siswa belajar. Efektifitas belajar mengajar tidak hanya tercipta apabila hanya guru yang berperan.Selain guru, yang memiliki peran utama dalam kegiatan belajar mengajar adalah siswa. Siswa juga memiliki peranan yang vital dalam mempengaruhi efektifitas proses belajar mengajar. Hal tersebut dikarenakan, kedua pihak tersebut saling berhubungan satu sama lain

(3)

sehingga sering terjadi interaksi diantara keduanya. Interaksi antara kedua pihak tersebutlah yang seringkali dinamakan dengan kegiatan belajar mengajar atau disingkat KBM. Apabila salah satu diantara kedua pihak tersebut mengahadapi masalah maka tentunya akan berimbas dan mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.Dalam kegiatan belajar mengajar ini guru berperan sebagai tenaga pengajar yang tugasnya adalah mengajar siswa.Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam mengajar dipengaruhi oleh tingkat kesiapan guru. Sedangkan dari segi siswa dalam kegiatan ini berperan sebagai pihak yang belajar. Dalam melaksanakan kegiatan belajarnya, siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal ini merupakan faktor yang berasal dari dalam siswa, baik dari fisik siswa (fisiologis) maupun dari rohani siswa (psikologis).Sedangkan dari faktor eksternal dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial, faktor lingkungan non sosial.Lingkungan yang di-ungkapkan disini meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini lebih menekankan pada lingkugan belajar di sekolah saja karena dianggap yang paling berhubungan dengan efektifitas proses belajar mengajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi tempat siswa belajar disekolah juga memiliki pengaruh dan peran yang penting dalam mewujudkan efektifitas proses belajar mengajar.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kristen 1 Surakarta merupakan salah satu sekolah swasta yang bernaung pada Yayasan Perhimpunan Pen-didikan Kristen Surakarta (PPKS).Hasil dari observasi yang telah peneliti lakukan selama melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL) menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa guru yang memiliki tingkat kesiapan mengajar yang minim. Hal ini terbukti dengan ditemukannya siswa-siswa yang seringkali masih asik “nongkrong” di kantin pada jam pelajaran, siswa keluar masuk kelas dengan bebas dan ijin yang tidak jelas, guru sering

(4)

ijin dan hanya memberi tugas, keluhan siswa mengenai materi yang belum diajarkan tetapi sudah mendapat tugas beruntun (siswa dituntut belajar mandiri, disisi lain kecakapan siswa kurang memadai untuk melaksanakan hal tersebut), hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, cara mengajar guru yang terkadang kurang menyenangkan, kondisi kelas yang bising karena letaknya yang tepat disamping jalan raya maupun karena siswa yang seringkali gaduh karena kelas kosong sehingga mengganggu kelas lain. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa masih terdapat guru yang kurang siap dalam mengajar terbukti pengelolaan kelasnya masih kurang baik, cara mengajarnya kurang efektif dan membosankan serta kondisi lingkungan belajar siswa yang terkadang masih kurang kondusif sehingga memengaruhi efektifitas pembelajaran di kelas.

Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk memilih judul penelitian “Pengaruh Tingkat Kesiapan Guru Mengajar dan

Kondisi Lingkungan Belajar Siswa Terhadap Efektivitas Proses Belajar Mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kristen 1 Surakarta”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Adakah pengaruh tingkat kesiapan mengajar guru terhadap efektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta?

2. Adakah pengaruh kondisi lingkungan belajar siswa terhadap efektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta?

3. Adakah interaksi pengaruh tingkat kesiapan mengajar gurudan lingkungan belajar siswa terhadap efektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta?

(5)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan pijakan atau rancangan untuk merealisasikan aktivitas penelitian yang akan dilaksanakan sehingga perlu dirumuskan secara jelas. Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat kesiapan mengajar guru terhadap efektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta. 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kondisi lingkungan belajar

siswa terhadap efektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta.

3. Untuk mengetahui ada tidaknya interaksi pengaruh tingkat kesiapan mengajar guru dan kondisi lingkungan belajar siswa terhadapefektivitas proses belajar mengajar di SMK Kristen 1 Surakarta.

D. ManfaatPenelitian

Hasil penelitian yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak antara lain sebagai berikut :

1. Manfaat Teoretis

a.

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi keilmuan yang bermanfaat mengenai pengaruh tingkat kesiapan mengajar guru kondisi lingkungan belajar siswa terhadap efektifitas pembelajaran.

b.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembanding, pertimbangan dan pengembangan bagi penelitian di masa yang akan datang di bidang dan permasalahan yang sejenis atau bersangkutan.

(6)

c. Meningkatkan wawasan dan pemahaman tentang adanya pengaruh kesiapan guru dalam mengajar, dan kondisi lingkungan belajar siswa terhadap kegiatan belajar mengajar.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan dapat lebih memotivasi guru untuk lebih siap atau untuk meningkatkan kesiapannya dalam mengajar agar tercipta pembelajaran yang efektif.

Memberi pengetahuan bagi guru kondisi lingkungan belajar seperti apa yang dibutuhkan siswa agar pembelajaran tetap berjalan efektif. b. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih peka lagi dalam mengidentifikasi guru mereka yang telah benar-benar siap mengajar dan guru belum siap mengajar serta memberi pengetahuan bagi siswa mengenai pengaruh lingkungan belajar mereka terhadap proses pembelajaran.

c. Bagi Sekolah

Memotivasi sekolah untuk lebih mengawasi, mengontrol serta men-dorong tenaga pendidik mereka agar lebih siap sebelum mengajar dan lebih cakap dalam mengendalikan serta mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas mereka serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang senyaman mungkin bagi siswa.

d. Bagi Perpustakaan

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber referensi bagi penelitian berikutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini apabila persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru di masa pandemi covid-19 positif, maka kehadiran guru dalam mengajar akan direspon

Seorang guru yang mengajar tanpa menggunakan media ataupun media yang tepat dapat memberi kesan kurang menarik dan dapat menimbulkan kebosanan kepada siswa karena penggunaan

Kondisi yang demikian mengakibatkan seorang guru cenderung tidak memberi inspirasi pada siswa untuk berkreasi dalam belajar dan kurang dapat melatih siswa

Adapun menurut Abu & Prasetya (2005) metode merupakan teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam

Dengan pembelajaran model Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS), diharapkan siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, membantu siswa dalam

Penulis mencoba untuk mengembangkan model Card Sort yang sudah ada, mudah-mudahan dapat memberi kontribusi bagi siswa, guru, sekolah maupun orang tua siswa

Pengenalan terhadap siswa dalam interaksi belajar mengajar, merupakan faktor yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan oleh setiap guru agar

Bagi Guru : melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan guru terutama dalam memperhatikan gaya berpikir siswa dalam pelajaran geografi untuk hasil belajar