Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus: 4E (35 42), 2011

Download (0)

Teks penuh

(1)

stratEGI MasYaraKat saMIN DaLaM MEMPErtaHaNKaN

KEsEIMBaNGaN EKOLOGIs

Agung Wibowo

Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta e-mail: agoengfpuns@gmail.com atau agungwibowo99vina@yahoo.co.id

ABSTRACT

This study starts from the concerns of the various problems related with floods and landslides that the higher level of intensity and the complexity consequence that hit the community. In addition, concerns over the high level of poverty and unemployment are concentrated living in areas adjacent to forest and watershed areas around. This research was conducted at the Feet of Kendeng Mountain, Bombong Village, Sukolilo District, Pati Regency, which is based on the consideration of the region still upholds the values of Samin Culture. This study was a descriptive qualitative research, with a single case study research strategy. The analysis technique used was a single case analysis, in each case of the analysis will be conducted by using an interactive model (data reduction, data description and data verification). Samin Community in Feet of Kendeng Mountains in the region has a visionary in seeing how far the existence of Samin Culture/ oral traditions which are reflected in their indigenous knowledge able to maintain ecological balance. Samin Community has strategies to deal with pressure from the outside in maintaining environmental sustainability. Strategy ‘mbodohi’ (pretend stupid), ‘ngeli neng ora keli’ (go with the flow but actually do not participate) is a strategy commonly applied by Samin Community in the face of pressure from outside the community.

Key words: Samin Culture, Indigenous Knowledge, Ecological Balance

PENGANTAR Secara empirik, kita masih dapat menyaksikan sistem budaya masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, sistem ini tercermin dalam sistem pengetahuan, ketrampilan dan teknologi yang bersifat adaptif terhadap lingkungan alam. Budaya Samin masih mengakar begitu kuat di sebagian wilayah sekitar Kabupaten Blora, Kabupaten Pati, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Ngawi. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan kesaharian masyarakat setempat, dimana nilai-nilai budaya masih dipertahankan dan diadaptasikan untuk kelangsungan hidupnya dalam menjaga keseimbangan alam. Berbekal sistem budaya tersebut, petani Samin di wilayah tersebut melakukan berbagai kegiatan ekonomi dan sosial dengan cara-cara yang tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai budaya Samin. Sistem pengetahuan lokal yang juga refleksi dari sistem nilai budaya, memberikan pemahaman tentang struktur pengetahuan, pengambilan keputusan dan struktur organisasi yang dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Kearifan tradisi yang tercermin dalam sistem pengetahuan lokal dan teknologi lokal masyarakat setempat masih mempertimbangkan nilai-nilai adat, seperti bagaimana masyarakat melakukan prinsip-prinsip konservasi, manajemen dan penggunaan sumber daya alam, ekonomi dan sosial. Hal ini tampak jelas pada perilaku mereka yang memiliki rasa hormat begitu tinggi terhadap lingkungan alam yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupannya. Dalam menggunakan sumber daya alam, sistem pengetahuan dan daya adaptasi penggunaan teknologi akan selalu disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam serta sistem distribusi dan pengalokasian penggunaan sumber daya alam tersebut. Budaya Samin Kebudayaan sebagai sistem pengetahuan merupakan alat esensial yang mendudukkan manusia pada posisi sebaik mungkin untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi dari lingkungan fisik dan sosial guna memenuhi kebutuhannya. Sistem budaya merupakan keseluruhan nilai-nilai, norma, sikap, harapan-harapan dan tujuan (White; Bahana dalam Legawa, 1999).

Malinowski dalam Susanto (1999), menyatakan bahwa kebudayaan sebagai unsur yang mempunyai fungsi serta pelembagaan/lembaga dalam setiap masyarakat. Oleh karena itu kebudayaan tidak terlepas dari kehidupan berkelompok, yaitu kebudayaan merupakan unsur pengorganisasian antar individu dan membentuknya menjadi satu kelompok. Dengan demikian untuk memahami budaya yang ada dalam hal ini adalah tradisi lisan/budaya Samin perlu melihat individu-individu atau kelompok dalam melaksanakan tugas kehidupan dan memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian sistem nilai budaya berfungsi sebagai pengatur perilaku

(2)

individu dalam sistem sosial sesuai dengan lingkungannya, karena pada dasarnya sistem nilai budaya mengandung unsur-unsur simbolik pengetahuan, ide dan kepercayaan yang mengarahkan dan memberi makna kepada setiap tindakan manusia (Legawa, 1999). Samin adalah sebuah nama perkumpulan atau ajaran yang didirikan oleh Samin Soerosentiko dari Dukuh Ploso, Desa Kediren, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora yang mendasarkan diri pada suatu ajaran yang berasal dari sebuah Kitab Kalimosodo, yang didapatkan dari suatu wangsit ketika ia melakukan topobroto (meditasi). Saminisme sebagai sikap agamis memang tidak banyak memberi peluang untuk tumbuh, karena paham ini memang mengecualikan kemungkinan bertumbuh dalam arti lembaga baik ajaran maupun organisasi. Tetapi Saminisme sebagai sikap ilmiah bisa menjadi sangat produktif karena beberapa hal khusus dari Saminisme yaitu pola sikep rabi. Pola Sikep rabi adalah rumusan yang mengatakan bahwa pada individu tidaklah memainkan posisi dominan dalam masyarakat. Tidak ada aku yang

terpisah tetapi selalu ada sikep rabi, hubungan dan

tali temali. Masyarakat bertumpu pada alam dan alam tertumpu pada manusia yang pada gilirannya berpola sikep

rabi (Subangun, 1994).

Di dalam bukunya Hutomo (1996) yang berjudul

“Tradisi Dari Blora “ disini ditulis secara jelas tentang

Samin Surosentiko dan ajarannya. Di desa Tapelan Samin Surosentiko di kenal sebagai petani, sesepuh (orang tua atau pemimpin yang dihormati), guru kebatinan dan pemimpin pergerakan melawan pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu Samin Surosentiko juga dikenal sebagai Ratu

Tanah Jawi atau Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam.

Ajaran kebatinan Samin Surosentiko adalah perihal “Manunggaling Kawulo Gusti” atau “Sangkan Paraning

Dumadi”. Artinya dari mana manusia berasal, apa dan

siapa dia pada masa kini dan kemana tujuan hidup yang dijalani dan dituju. Menurut Samin Surosentiko, perihal “Manunggaling Kawulo Gusti” itu dapat diibaratkan sebagai “Rangka Umanjing Curiga” tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya. Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, tugas manusia didunia adalah sebagai utusan Tuhan. Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia semuanya adalah kehendak Tuhan semata. Sebuah pandangan yang menarik dari Sedulur Sikep (Samin) adalah mereka percaya pada sesuatu, jika dan hanya jika hal itu bisa dibuktikan. Meraka mengakuhi bahwa agama yang dianut adalah Agama Adam, dengan berpegang teguh pada keyakinan akan ”Nabi Adam”. Nabi adalah sosok wanita atau pasangannya (pengertian nabi bukan seperti layaknya pengertian tentang pesuruh Tuhan) dan Adam adalah ucapan (bukan manuasia pertama yang diturunkan di dunia). Sehingga secara kasar ditafsirkan bahwa ikrar tentang kehidupan rumah tangga dengan pasangannya, menjadi sesuatu yang sangat sakral. Pandangan Sedulur Sikep akan ketuhanan cenderung bersifat material dan rasional. Mereka secara kritis akan mempertanyakan tentang apa yang disebut oleh orang lain sebagai ”Tuhan” (Wahono dkk., 2002). Sedulur Sikep memegang apa yang dipercayainya dalam sikap ”lugu dan mlingi” yang dapat diterjemahkan sebagai sikap jujur, sederhana, apa adanya serta tidak banyak basa-basi dalam menjalankabn ajaran-ajaran para leluhur mereka. Meski kepercayaan pada sesuatu yang cenderung ”material” namun Sedulur Sikep mempunyai sikap yang dipratekkan sehari-hari yang dimanifestasikan dalam lima larangan berkaitan dengan pembentukan watak keluarga Sikep, yaitu: a. Ojo drengki, digambarkan sebagai orang yanmg tidak mensyukuri karunia sebab orang drengki selalu menyembunyikan segala harta benda yang dimiliki. Jadi orang drengki biasanya selalu menyatakan dirinya miskin dan selalu kekurangan sehingga tidak pernah berderma/memberi pada orang lain.

b. Ojo Srei (jangan iri hati). Iri hati merupakan sikap yang dimiliki orang-orang yang mempunyai nafsu untuk memperoleh jabatan atau kekayaan, bahkan ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Orang Sikep tidak butuh jabatan dan material. Material yang dibutuhkan hanya sekedar untuk melangsungkan kehidupan, lain itu tidak. c. Ojo Panesten (Jangan mudah panas hati). Bagi Sedulur Sikep emosi adalah api yang dapat memutuskan paseduluran/persaudaraan. Putusnya persaudaraan berarti mengingkari kodratnya sbagai manusia, sebab manusia itu saudara. d. Ojo Dahwen (Jangan mudah menilai negatif), menilai sesuatu orang lain tanpa bukti dan analisis dipastikan hasilnya salah. Jikapun benar hal ini sama sekali tidak banyak berguna. Jadi Sedulur Sikep tidak dengan mudah meilai sesuatu secara negatif sebab mereka hanya percaya yang nyata. e. Ojo Kemeren (jangan menginginkan sesuatu yang bukan miliknya). Sikap kemeren ini mendorong nafsu untuk mencuri atau menipu. Sikap lugu dan lingi, serta lima larangan tersebut yang mendasari perilaku hidup Sedulur Sikep. Perilaku tersebut tidak hanya diucapkan tetapi juga dijalankan (Wahono dkk., 2002).

(3)

Sedangkan lima pantangan dasar dalam berinteraksi meliputi: pertama, bedok (menuduh). Kedua, colong (mencuri), Ketiga, pethil (mengambil barang yang masih menyatu dengan alam atau masih melekat dengan sumber kehidupannya. Keempat, jumput (mengambil barang yang telah menjadi komoditas di pasar). Kelima, nemu wae ora

keno/menemukan menjadi pantangan (Rosyid, 2008).

Keari�an Lokal dalam Keanekaragaman Hayati Warren, et al. (1995) mendefinisikan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) sebagai berikut: “Indigenous

knowledge is local knowledge that is unique to a given culture or society. That is important as it forms the information base for a society which facilitates communication and decision-making”. (Pengetahuan lokal merupakan pengetahuan setempat yang unik yang ada pada masyarakat atau komunitas tertentu. Pengetahuan lokal ini penting karena merupakan basis informasi bagi masyarakat tersebut dalam melakukan komunikasi dan pengambilan keputusan). Sistem pertanian yang digunakan oleh masyarakat tradisional atau petani tradisional adalah sistem pertanian yang didasarkan pada pengamatan selama bertahun-tahun terhadap lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya. Masyarakat tardisional memiliki berbagai pengetahuan untuk mempertahankan hidup termasuk pengetahuan bercocok tanam dan setiap jenis tanaman memiliki kegunaan untuk bermacam-macam kepentingan sehingga dalam setiap varietas terkandung berbagai macam pengetahuan (Hardiyoko dan Panggih, 2005).

Keunggulan pengetahuan rakyat desa adalah kemampuannya untuk mempertahankan, meluaskan dan membetulkannya. Pengetahuan rakyat desa, dapat ditopang dan ditingkatkan oleh kekayaan dan ketajaman pengamatan yang tidak ditemui dalam ilmu pengetahuan “orang luar” (Chambers, 1988). Keanekaragaman hayati yang berada di alam, telah terancam punah oleh berbagai cara. Ancaman terhadap kelestarian varietas-varietas tersebut dapat terjadi melalui berbagai cara, yakni : (1) perluasan areal pertanian dengan membuka hutan atau eksploitasi hutannya sendiri akan mengancam kelestarian varietas, (2) alih fungsi lahan pertanian untuk penggunaan di luar sector pertanian menyebabkan flora yang hidup di sana kehilangan tempat tumbuh, (3) pencemaran lingkungan karena penggunaan herbisida dapat mematikan gulma serta varietas tanaman budi daya (Soemartono, 2005). Pembangunan berwawasan lingkungan pada prinsipnya mengupayakan terselenggaranya pembangunan secara berkelanjutan. Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya untuk mengembangkan komunitas lokal bersama ekosistemnya menuju produktivitas yang lebih tinggi dan tingkat pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi yang terlaksana secara berkelanjutan dalam arti ekologis maupun sosial.

Pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan seefisien mungkin dan dengan senantiasa memelihara sistem ekologis untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduknya (Hettne dalam Amine, 2005). Dengan demikian untuk mencapai keseimbangan antara aktivitas produksi dan daya dukung lingkungan diperlukan adanya perubahan cara produksi dan gaya konsumsi. Kehidupan Masyarakat Samin yang bersahaja, mendayagunakan apa yang mereka miliki sangat relevan untuk mendukung pembangunan berwawasan pelestarian lingkungan.

Prinsip keseimbangan, menekankan pentingnya hubungan antara sistem-sistem dan kebutuhan untuk menjaga suatu kesetimbangan diantara sistem-sistem tersebut. Di alam, hal ini terjadi melalui keseimbangan yang dinamis, dimana perubahan-perubahan secara alamiah dan alterasi-alterasi dibuat sehingga kesetimbangan tersebut terpelihara (Ife dan Tesoriero, 2008) Menurut Poerbo (1999), kelestarian lingkungan akan tercapai bilamana penggunaan sumber daya yang ada tidak terkuras keluar tanpa imbalan yang memadai. Disamping itu, masyarakat juga harus siap untuk memanfaatkan sumber daya secara arif. Konflik-konflik yang terjadi dalam pemanfaatan sumber daya oleh berbagai pihak yang terlibat sebagai aktor dalam proses pembangunan yang sesunggunhnya merupakan proses interaksi antara manusia, teknologi dan sumber daya, dan manusia sebagai motor penggeraknya. Sedangkan menurut Sutanto (2005) terkait dengan pemanfaatan sumber daya, perlunya program-program : (1) mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan dengan memanfaatkan sumber daya lokal (seperti jenis tanaman potensial, bibit unggul lokal, pupuk hijau, kompos dan pupuk hayati); (2) meningkatkan diversifikasi tanaman pangan; (3) optimalisasi usahatani terpadu (integrated system farming) melalui sistem ternak tanaman, perikanan-tanaman yang dipadukan dengan usaha peningkatan produksi tanaman; (4) mengolah dan menanami lahan pekarangan dengan jenis tanaman yang bermanfaat (seperti tanaman obat keluarga) dan diadaptasikan dengan kondisi lokal, serta memanfaatkan teknologi yang mudah diadopsi dan dilaksanakan oleh petani; (5) meningkatkan pendampingan, pemanduan serta pelatihan bagi petani dan kelompok tani guna mendorong dan meningkatkan kemandirian petani; (6) meningkatkan peran wanita dalam usahatani; (7) melaksanakan survei dan pemetaan ketersediaan dan kerawanan pangan yang bertujuan untuk memperoleh

(4)

gambaran yang sebenarnya terhadap kondisi pangan di Indonesia. Melestarikan keanekaragaman hayati berarti menjamin kelangsungan pembangunan berkelanjutan. Ada empat hal yang menonjol bahwa keanekaragaman hayati mempunyai prospek penting dari segi ekonomi; (1) keanekaragaman hayati adalah sumber potensial kekayaan genetik; (2) keanekaragaman hayati di hutan merupakan satu-satunya harapan hidup manusia karena di sana terdapat obat-obatan ilmiah; (3) memiliki keanekaragaman hayati berarti memiliki pilihan yang besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) memiliki keanekaragaman hayati mempunyai kekayaan jenis yang bervariasi (Mangunjaya, 2006).

BAHAN DAN CARA KERJA Bahan Penelitian ini difokuskan pada komunitas Samin di Kaki Pegunungan Kendeng di Desa Bombong Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Ada berbagai alasan yang menjadi pertimbangan peneliti untuk menetapkan seting penelitian tersebut. Pertama, Masyarakat Samin di wilayah tersebut masih memegang teguh budaya samin. Kedua, Masyarakat setempat berhasil menolak rencana pemerintah membangun pabrik semen. Menurut pemahaman masyarakat setempat, pembangunan pabrik semen akan merusak keseimbangan alam dan akan mematikan sumber air yang menjadi kebutuhan dasar hidup manuisa. Ketiga, wilayah tersebut memiliki latar belakang topografi wilayah sekitar hutan, yang

nota bene menjadi cirikhas Komunitas Samin bermukim.

Keempat, munculnya film layar lebar yang mengambil judul ”Lari Dari Blora” dimana wilayah tersebut juga merupakan seting film tersebut.

Cara Kerja Strategi yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan langkah-langkah sebagai berikut, pertama, peneliti memusatkan perhatian kepada observasi, mengamati berbagai ragam praktik yang terpola dan terkait dengan belajar terampil berusaha, termasuk menyimak kata-kata atau ungkapan-ungkapan relevan yang terkait. Langkah ini dimaksud untuk memperoleh gambaran tentang nilai-nilai kearifan lokal yang masih berkembang di Masyarakat Samin. Kedua, dikatakan bahwa hasil observasi yang memerlukan pemahaman lebih lanjut untuk menemukan makna dibalik suatu praktik sosial digali dengan melakukan wawancara mendalam (in depth interview). Wawancara terutama kepada agen/pelaku praktik sosial itu sendiri. Hal ini sekaligus merupakan penerapan dari analisys of

strategics

conduct yang ditawarkan Giddens bagi studi-studi strukturasionistik. Ketiga, menerapkan prinsip teknik komparasi konstan sepanjang proses penelitian berlangsung, baik dalam rangka menemukan “peta” perilaku sosial beserta spesifikasi agen/ pelakunya maupun dalam rangka menemukan makna dibalik tradisi lisan dan perannya dalam mempertahankan budaya Samin.

Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara mendalam, pengamatan berperan serta studi dokumentasi. Teknik tersebut merupakan teknik-teknik dasar yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Untuk dapat memberikan data yang bermakna maka dalam penelitian ini dilakukan analisis data yang berlanjut, berulang-ulang dan terus menerus mulai dari reduksi data, penyajian data dan verifikasi sehingga terjadi kegiatan analisis yang susul menyusul (Miles dan Huberman, 1992).

HASIL

Pro�il Komunitas Samin di Kaki Pegunungan Kendeng

Komunitas Samin adalah sekelompok orang yang mengikuti dan mempertahankan ajaran Samin Surosentiko yang muncul pada masa kolonial Belanda, yakni sekitar tahun1890. Pada masa tersebut masyarakat merasakan tekanan-tekanan dari pihak penjajah sebagai suatu siksaan kehidupan, kemudian mereka mencari cara untuk membebaskan diri dari tekanan tersebut. Ajaran Samin memberikan angin baru bagi masyarakat untuk keluar dari siksaan dan tekanan penjajah. Sikap skeptis, begitulah kira-kira untuk menggambarkan karakteristik komunitas Samin. Apabila kita menanyakan sesuatu kepada mereka, barang kali sebuah pertanyaan menggantung karena jawaban-jawaban yang meluncur singkat dan menutup diri. Contohnya, ketika ditanya sapi kamu berapa? jawabnya “loro” (dua), lanang karo wedhok (jantan dan betina). Padahal sapi yang dimiliki berjumlah empat ekor. Sikap lugu, Masyarakat Samin mengataka kata “ya” apabila ia sanggup berjanji dengan orang lain dan selalu akan dipegang teguh. Sedangkan apabila mereka merasa tidak sanggup atau ada keraguan sedikitpun, mereka berkatra”tidak”. Masyarakat Samin memiliki karakter yang jelas, selalu mengatakan apa adanya dan tidak mengenal pola abu-abu. Bagi orang Samin, tamu atau dalam bahasa mereka disebut “sedulur” (saudara), mempunyai arti penting walau darimanapun datangnya. Dalam memanggil atau

(5)

mengajak dengan kata “ayo lur”. Sedangkan karakter Petani Samin dalam meminta sesuatu hasil bumi, biasa dengan menggunakan kata “ aku nggunake gedhangmu

lur?” Maksudnya adalah saya meminjam pisang kamu.

Hal ini karena dalam Masyarakat Samin tidak mengenal istilah pemberian melainkan peminjaman. Bagi yang akan meminjam mengatakan “tak nggone sik”. Menurut keyakinan orang Samin pemberian itu bukan berarti menghilangkan segala-galanya. Karakteristik Masyarakat Samin, khususnya di kaki Pegunungan Kendeng adalah kesederhanaan. Mereka tidak membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu, sehingga rata-rata keadaan ekonomi rumah tangga sebenarnya termasuk kategori cukup. Kejujuran dan kerja keras merupakan prinsip yang terus dijunjung tinggi oleh orang Samin. Prinsip hidup Masyarakat Samin adalah ‘kudu weruh te’e dewe” artinya harus mengetahui tentang apa yang dimilikinya. Selalu mawas diri, adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan karakteristik Masyarakat Samin. Apa yang dimiliki dan bagaimana kita mengunakan kepemilikan itu untuk kepentingan sesama manusia. Dalam hal bertingkah laku, mereka menekankan pada dua konsep, yaitu kejujuran dan kebenaran. Untuk melakukan keduanya, mereka memiliki ajaran yang disebut

Pandom Urip, yaitu : “ojo nganti srei, dengki, dahwen, open, kemeren, panasten, rio sapodo-podo, mbedak, nyolong playu, kutil jumput, nemok wae emoh” (sikap sombong,

iri hati, bertengkar, membuat marah terhadap orang lain, bersifat cemburu, bermain judi dan mengambil barang orang lain yang tercecer di jalan).

Pengetahuan Lokal Masyarakat Samin

Di dalam melakukan usahatani, petani Samin di Kaki Pegunungan Kendeng mempunyai banyak pengetahuan mengenai tanda-tanda alam yang yang menjadi penuntunnya untuk menentukan kegiatannya. Misalnya munculnya binatang/ tumbuhan tertentu akan menandai musim tertentu. Untuk menadai hujan sudah dekat, menurut salah satu petani setempat: “Yen tanduran Gadung kuwi wis njalar

iku pertanda yen udan iku arep teko” . Artinya kalau sudah

terlihat menjalarnya daun Gadung itu pertanda musim penghujan akan datang “. Sedangkan kalau musim kemarau akan tiba: “ yen Garengpung kuwi wis ngereng iku jenenge

mareng “. Artinya kalau Garengpung itu sudah berbunyi itu merupakan tanda musim mareng (peralihan antara musim penghujan dan kemarau). Pengetahuan Masyarakat Samin di Kaki Pegunungan Kendeng mengenai jenis-jenis tanaman diketahuinya lewat pengalaman mereka dalam mengelola lingkungannya, baik dari sawah maupun tegal dan pekarangan. Jenis-jenis spesies tanaman tidak hanya jenis tanaman pangan yang mereka kenal, tetapi juga jenis tanaman sayuran, jamu, bangunan, sesaji (sajen), pagar hidup dan sebagainya. Mereka juga menguasai jenis-jenis tanaman yang tumbuhnya hanya cocok pada iklim tertentu. Dari pengalaman tersebut, mereka mengetahui pula jenis-jenis tanaman tertentu yang cocok ataupun tidak cocok bila ditanam secara bersama-sama. Petani Samin memiliki kearifan lokal bagaimana jenis-jenis tanaman yang baik untuk menyuburkan tanah, untuk menjaga agar tidak terjadi kelongsoran dan bagaimana mengerjakannya serta mengaturnya. M e n u r u t p a n d a n g a n M a s y a r a k a t S a m i n , keanekaragaman tanaman akan menjamin petani untuk memaksimalkan produksi dalam kondisi lingkungan yang beragam sedangkan pergiliran tanaman dimaksudkan untuk selalu menjaga kesuburan tanah, upaya mencegah kegagalan panen secara total, dan mempertahankan ketahanan pangan. Hal ini karena setiap tanaman secara khusus dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana ia tumbuh dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Pada dasarnya petani setempat masih tetap menggunakan teknologi lokal dan selalu menggunakan potensi lokal. Petani di sana masih tetap menggunakan sistem pengetahuan lokalnya dalam berusahatani dan mereka beranggapan bahwa kondisi lahan pertanian suatu daerah selalu memiliki keistimewaanya sendiri. Dengan demikian antara wilayah yang satu dengan yang lain mempunyai kecocokkan tanaman yang berbeda-beda, hama dan penyakit yang menyerang tanamannyapun berbeda-beda. Atas dasar itu, maka petani Samin di kaki Pegunungan Kendeng tetap menjadikan sistem pertanian lokal menjadi pilihannya. Hal ini karena di samping sistem pertanian lokal itu mengandalkan keanekaragaman hayati dan pengetahuan lokal, sistem pertanian lokal diyakini petani tetap mempertahankan cirikhas budaya masyarakatnya, yakni kemandirian petani. PEMBAHASAN

Masyarakat Samin dan Hidup Selaras Alam Masyarakat Samin memandang alam sebagai sebuah potensi yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebagai sebuah potensi, menyimpan banyak manfaat yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Barangkali bisa digambarkan manusia tidak bisa hidup tanpa dukungan alam yang di anugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada umatnya sedangkan alam (hewan dan tumbuh-tumbuhan) akan hidup nikmat tanpa manusia.

(6)

Masyarakat Samin menjadi cemas apabila alam diposisikan sebagai komoditas. Pertama, tidak semua manusia yang hidup di dunia ini bisa menikmati kekayaan alam yang melimpah. Masyarakat Samin yakin bahwa hanya orang kaya yang memiliki kapital yang dapat menikmati kekayaan alam tersebut. Kedua, Masyarakat Samin kawatir apabila alam menjadi suatu komoditas, maka akan terjadi ketidakrukunan antar manusia. Akan terjadi usaha memperebutkan kekayaan alam di antara kelompok-kelompok yang berkepentingan. Sebagai konsekuensi upaya untuk menguasai sumberdaya alam itu adalah timbulnya perkelahian dan saling menyerang. Implikasi selanjutnya dari itu adalah ‘yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin’. Kecenderungan itu, apabila menjadi kenyataan, maka ia sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Samin

Pola Sikep Rabi. Pola Sikep Rabi adalah rumusan yang

mengatakan bahwa individu tidaklah memainkan posisi dominan dalam masyarakat. Tidak ada aku yang terpisah tetapi selalu ada sikep rabi, hubungan dan tali temali. Masyarakat bertumpu pada alam dan alam tertumpu pada manusia yang pada gilirannya berpola sikep rabi (Subangun, 1994). Ketiga, Masyarakat Samin juga kawatir manusia akan terpisah dengan alam sebagai akibat menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Dalam pandangan dunianya (world view), menurunnya partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan bukan disebabkan oleh masyarakat setempat melainkan lebih disebabkan oleh suprasistem yang ada diluar masyarakat tersebut. Oleh karenannya kalau kita ingin menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian alam, semestinya merubah dulu paradigma hubungan alam dengan manusia.

Keempat, alam dan kekayaan yang melimpah

tersebut tidak lestari dan tidak sustainable. Manusia sibuk mengekploitasi dan terlena untuk menjaga dan melestarikannya. Semestinya manusia sadar bahwa kekayaan alam yang melimpah yang diberikan oleh Tuhan semestinya digunakan untuk kemaslahatan umat bukan untuk segelintir manusia. Bencana alam yang selalu datang di negeri ini merupakan sebuah bentuk peringatan Tuhan. Ini berarti manusia harus menyadari akan ketidakbenaran dalam memposisikan alam ini dan semestinya tidak hanya sadar tapi harus mau merubah ketidakbenaran tadi. Upaya yang dilakukan Masyarakat Samin dalam menjalin dengan lingkungan alam supaya tetap harmonis adalah melakukan upacara-upacara tradisional yang mereka yakini sebagai upaya penyerahan diri terhadap kekuatan supra natural. Meraka berharap dengan melakukan upacara tradisional itu segala kebutuhan yang tersedia di dalam lingkungan tempat tinggal dan berkembang baik dengan sendirinya. Mereka melakukan seperti ini alasannya adalah bahwa manusia seharusnya menyadari bahwa tumbuhan dan hewan itu bisa hidup tanpa manusia, maka peranan do’a pengharapan melalui upacara tradisional mereka lakukan supaya hubungan dengan lingkungan alam bisa harmonis. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sajogya dan Sajogya (1999), bahwa sistem nilai budaya yang terperinci dalam norma-norma akan menjadi suatu pedoman dan tata kelakuan tindakan-tindakan manusia dalam bermasyarakat

Strategi ‘Mbodohi’ dan Strategi ‘Ngeli Neng Ora Keli’ Masyarakat Samin dalam Mempertahankan Keseimbangan Ekologis Berdasarkan nilai-nilai budaya hidup yang diyakini tersebut maka petani Samin yang notabene adalah kental dengan budaya Samin memposisikan kehidupan dirinya tergantung pada alam. Para petani Samin percaya bahwa proses transformasi sumber daya alam untuk kepentingan hidup manusia harus didasarkan atas prinsip kesetaraan. Semua manusia memilki hak dan kewajiban yang sama untuk memanfaatkan sekaligus untuk menjaga sumber daya alam. Menurut ajaran-ajaran yang mereka yakini bahwa kewajiban manusia di bumi adalah mengelola alam semesta hasil ciptaan Tuhan untuk kemaslahatan umat. Dengan denikian sistem nilai budaya tersebut bersifat adaptif terhadap lingkungan alam. Sekalipun sistem ini tidak utuh lagi, tetapi masih digunakan, dipertahankan dan diadaptasikan untuk kelangsungan hidup masyarakatnya. Tanah bagi Masyarakat Samin adalah “ibu“ yang akan menyediakan pangan untuk mencukupi kehidupannya, sehingga tidak akan ada orang Samin yang menjual tanah atau sawahnya. Oleh karena itu maka Petani Samin selalu berpegang teguh dan menjunjung tinggi tanah mereka sebagaimana menghormati ibunya. Masyarakat Samin sangat berhati-hati di dalam bertindak hubungannya dengan alam dan masih mempertimbangkan nilai-nilai budaya seperti bagaimana masyarakat setempat melakukan prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan sumber daya alam supaya tetap dipertahankan keseimbangan ekologisnya. Hal ini tampak jelas pada perilaku petani yang memiliki rasa hormat begitu tinggi terhadap lingkungan alam yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Perilaku tersebut dimanifestasikan dalam simbol-simbol yang dipahami oleh masyarakat setempat. Di dalam menghadapi tekanan penetrasi kapitalisme, Masyarakat Samin di Pegunungan Kendeng menggunakan strategi “mbodohi” guna mempertahankan keseimbangan

(7)

ekologis. Strategi tersebut tercermin dalam perilaku ‘pura-pura tidak tahu’ ketika pemerintah bekerja sama dengan perusahaan dalam merencanakan pendirian pabrik semen, namun mereka mampu melakukan aksi kolektif tanpa diorganisir secara formal. Di dalam melakukan aksi kolektifnya, selalu mendapatkan simpatisan dan orang-orang selalu menyambutnya, karena selalu mendasarkan roh perjuangan yang mendasar untuk kebutuhan hidup manusia dan selalu menonjolkan prinsip hidup setara yang sekaligus menolak segala macam intervensi dari luar yang dianggap merugikan. Aksi kolektif dilakukan secara simbolik non kekerasan, dengan mengembangkan bahasa ngoko yang menyiratkan kesetaraan. Dengan bahasa ‘ngoko’ secara literal Masyarakat Samin mengembangkan makna-makna tertentu yang berbeda dengan makna yang biasa dipahami secara umum oleh banyak orang.

Strategi “ngeli neng ora keli “ Masyarakat Samin tampak ketika melakukan penolakan terhadap rencana pemerintah dalam pembangunan pabrik semen di sekitar Pegunungan Kendeng. Masyarakat Samin meyakini bahwa Pegunungan Kendeng dengan kekayaannya berupa sumber air dan goa telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sumber air juga bermanfaat untuk mengairi lahan pertanian. Distribusi air irigasi dari Jratun Seluna belum mencukupi untuk mengairi lahan pertanian bagi masyarakat Sukolilo dan Kayen. Sehingga sebagian petani masih mengharapkan rembesan air dari sumber-sumber air di Pegunungan Kendeng.

Strategi ’ngeli ning ora keli’ tercermin Masyarakat Samin

dalam mersespon pembangunan pabrik yang didasarkan atas akal sehat dan logika, bukan kepentingan ataupun ambisi. Komunitas Samin, mampu meyakinkan orang luar komunitas di wilayah setempat, dengan logika Pegunungan Kendeng adalah sumber air untuk kehidupan manusia, ketika Pegunungan Kendeng berubah menjadi areal pabrik, lambat laun manusia tidak bisa hidup di wilayah setempat. Ketulusan tanpa kepentingan itulah senjata ampuh untuk mengorganisir aksi-aksi kolektif. Dengan demikian mereka adalah orang-orang ’pinter’ walau tidak anak sekolahan. KESIMPULAN Masyarakat Samin yang selama ini dianggap tidak berpendidikan, ternyata memiliki banyak hal, yang sebagian besar manusia pada umumnya tidak memahami. Konsepsi hidup selaras alam, memiliki filosofis tinggi dan konsisten menjadi pegangan hidup, sehingga mampu bertahan di era global. Konsepsi tersebut patut menjadi pelajaran sebagai warga negara yang bermartabat untuk menuju kemandirian bangsa. KEPUSTAKAAN Amine, Mappajanti, 2005. Kemandirian Lokal: Konsepsi Pembangunan, Organisasi, dan pendidikan dari Perspektif Sains Baru. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Chambers R, 1988. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. (Edisi terjemahan oleh Pepep Sudradjat). LP3ES, Jakarta. Hardiyoko dan Panggih S, 2005:200. Kearifan Lokal dan Stok

Pangan Desa dalam Wahono, dkk (Editor) “Pangan

Kearifan Lokal dan Keanekaragaman hayati: Pertaruhan Bangsa yang Terlupakan”. Cindelaras Pustaka Rakyat

Cerdas, Yogyakarta. Hutomo, Suripan Sadi, 1996. Tradisi dari Blora. Citra Almamater, Semarang. Ife dan Tesoriero, 2008. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Ersa Globalisasi. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Legawa, 1999. Subak - Organisasi Sosio-Religius di Bali dalam Kusnaka Adimiharja (Editor). Petani Merajut Tradisi

Era Globalisasi – Pemberdayaan Sistem Pengetahuan Lokal dalam Pembangunan. Humaniora Utama Press,

Bandung. Mangunjaya, Fachrudin M, 2006. Hidup Harmonis dengan Alam: Esai-esai Pembangunan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Miles, Matthew B, dan Huberman A Michael, 1992. Analisis Data Kualitatif. (Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi). Universitas Indonesia, Jakarta. Poerbo, Hasan, 1999. Lingkungan Binaan Untuk Rakyat. AKATIGA, Bandung. Rosyid Moh., 2008. Samin Kudus: Bersahaja di Tengah Asketisme Lokal. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Sayogyo, 1994. Pengaruh Sosial Budaya terhadap Pembinaan Masyarakat Desa. Semiloka Nasional Pembangunan Masyarakat Pedesaan yang Terpadu dan Berkesinambungan. Balitbangsos RI. Sayogyo dan Sajogyo P, 1999. Sosiologi Pedesaan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Soemartono, 2005. Upaya Penyelamatan Varietas Padi Lokal dengan Pemuliaan Tanaman Serta Ekologi Konservasi dan Penyimpanan dalam Wahono, dkk (Editor) Pangan

Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati: Pertaruhan Bangsa yang Terlupakan. Cindelaras Pustaka Rakyat

Cerdas, Yogyakarta. Subangun E, 1994. Dari Saminisme ke Posmodernisme. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Sutanto, Rahman, 2005. Tantangan Global Menghadapi Kerawanan Pangan dan Peranan Pengetahuan Tradisional dalam Pembangunan Pertanian dalam Wahono, dkk (Editor)

(8)

Pertaruhan Bangsa yang Terlupakan. Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta. Susanto, Astrid S, 1999. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Putra A Bardin, Jakarta. Wahono, dkk., 2002. Mempertahankan Nilai dari Gesekan Zaman di Kabupaten Kudus dan Pati Jawa Tengah, dalam Budi Baik Siregar dan Wahono (penyunting). Kembali ke Akar:

Kembali ke Konsep Otonomi Masyarakat Asli. Forum

Pengembangan Partisipasi Masyarakat, Jakarta.

Warren DM, Slikkerveer LJ, and Brokensha D, 1995. Introduction in DM. Warren, LJ. Slikkerveer, and D. Brokensha, (Eds).

The Cultural Dimension of Development: Indigenous Knowledge Systems. London Intermediate Technology

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :