• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN ZAKAT NUCARE LAZISNU TEMANGGUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PANDUAN ZAKAT NUCARE LAZISNU TEMANGGUNG"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN ZAKAT

NUCARE LAZISNU TEMANGGUNG

KOMPLEK INISNU TEMANGGUNG

Rusunawa lt. 2 Jl. Suwandi - Suwardi Km 01,

(2)
(3)

DAFTAR ISI

I. ZAKAT DAN HUKUMNYA ... 5

1. DEVINISI ZAKAT ... 5

2. HIKMAH SYARI‟AH ZAKAT. ... 6

3. HUKUM MEMBAYAR ZAKAT... 7

4. INGKAR ZAKAT DAN HUKUMNYA. ... 8

5. HARTA BENDA YANG WAJIB ZAKAT. ... 10

6. SYARAT WAJIB ZAKAT ... 10

II. GOLONGAN PENERIMA ZAKAT ... 12

1. DASAR HUKUM ... 12

2. KADAR ZAKAT YANG DIBERIKAN KEPADA PENERIMA ZAKAT ... 15

3. GOLONGAN YANG TIDAK BERHAK MENERIMA ZAKAT ... 16

III. TATA CARA DAN ETIKA BERZAKAT ... 18

1. SYARAT SAHNYA ZAKAT... 18

2. HUKUM MENDAHULUKAN ZAKAT ... 18

3. HUKUM MENGAKHIRKAN ZAKAT ... 19

4. CARA MEMBAGI DAN HUKUM MEMINDAH ZAKAT... 20

5. PAJAK BUKANLAH ZAKAT ... 21

IV. ADAB DAN SUNNAHNYA BERZAKAT ... 22

1. PEMILIK HARTA ... 22

2. PENERIMA ZAKAT ... 23

V. ZAKAT BINATANG TERNAK ... 25

1. JENIS BINATANG YANG WAJIB DIZAKATI... 25

2. SYARAT BINATANG TERNAK YANG WAJIB ZAKAT. ... 25

3. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA BINATANG UNTA ... 27

4. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA BINATANG SAPI. ... 28

5. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA KAMBING (DOMBA, BIRI BIRI DLL) ... 30

6. STANDART TERNAK YANG DIGUNAKAN ZAKAT ... 31

7. HAULNYA ANAK BINATANG TERNAK ... 32

8. SYIRKAH PETERNAKAN. ... 33

VI. ZAKAT FITRAH ... 34

1. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUMNYA ... 34

2. SYARAT WAJIB ZAKAT FITRAH. ... 35

3. MEKANISME DAN KADARNYA ZAKAT FITRAH. ... 35

4. WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH. ... 36

(4)

1. PENGERTIAN TIJAROH DAN DASAR HUKUMNYA. ... 39

2. SYARAT WAJIB ZAKAT TIJAROH. ... 39

3. JENIS HARTA TIJAROH ... 41

4. NISHOB DAN PROSENTASE ZAKAT TIJAROH ... 42

5. MENGHITUNG HARTA TIJAROH ... 44

6. PENGARUH HUTANG PADA NISHOB TIJAROH. ... 45

7. JUAL BELI JASA / PROFESI DAN ZAKATNYA... 46

8. BENTUK USAHA DAN ZAKATNYA ... 48

VIII. ZAKAT TANAMAN DAN BUAH BUAHAN ... 52

1. DASAR HUKUM ZAKATNYA TANAMAN ... 52

2. JENIS TANAMAN DAN BUAH BUAHAN YANG WAJIB DIZAKATI ... 53

3. SYARAT WAJIB ZAKATNYA TANAMAN DAN BUAH BUAHAN. ... 53

4. KADAR DAN PROSENTASE ZAKATNYA TANAMAN. ... 54

5. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA TANAMAN. ... 55

6. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA BUAH BUAHAN ... 57

7. WAKTU DAN SYARAT MENGELUARKA ZAKATNYA TANAMAN. ... 57

8. MENGUMPULKAN HITUNGAN NISHOB. ... 58

9. PEMILIK TANAMAN DAN PEMILIK SAWAH... 59

IX. ZAKAT EMAS DAN PERAK ... 60

1. DALIL WAJIB ZAKATNYA EMAS DAN PERAK ... 60

2. SYARAT WAJIB ZAKAT EMAS DAN PERAK ... 60

3. PERHIASAN EMAS DAN PERAK ... 61

4. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA EMAS ... 63

5. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA PERAK ... 64

6. MEKANISME MENGELUARKAN ZAKATNYA EMAS DAN PERAK ... 64

X. ZAKAT MA‟DIN DAN RIKAZ ... 66

1. PENGERTIAN DAN DALIL KEWAJIBAN ZAKATNYA ... 66

2. SYARAT WAJIB ZAKATNYA MA‟DIN DAN RIKAZ... 66

3. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA MA‟DIN (BARANG TAMBANG) ... 67

4. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA RIKAZ (HATA TERPENDAM) ... 67

(5)

I.

ZAKAT DAN HUKUMNYA

1. DEVINISI ZAKAT

Zakat menurut bahasa (etimologi) berarti bersih, berkembang baik, terpuji dan barokah. Disebut zakat karena dapat mengembangkan dan menjauhkan harta yang dizakati dari bahaya, sekaligus dapat membersihkan harta dan pemiliknya dari haqnya orang lagi.

Sedangkan zakat menurut istilah syara‟ (fiqh) berarti nama sejumlah harta (dalam batas tertentu) yang dikeluarkan dari jenis harta tertentu, dengan syarat tertentu dan diberikan pada golongan tertentu.

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun islam. Kefardluannya berdasarkan nash Al Qur‟an maupun Al Hadist. Pengingkaran terhadap syariah zakat merupakan dosa besar, yang bahkan bisa mengarahkan pada tingkatan kufur.

Kalimat zakat disebut berulang kali dalam Al Qur‟an, bahkan hampir setiap ayat al Qur‟an yang menyebutkan dirikanlah sholat maka akan diikuti dan bayarlah zakat (aqimussholah wa aatuzzakah). Hal ini menunjukan betapa sangat pentingnya syari‟ah zakat, sebagaimana pentingnya syari‟ah sholat. Baik dilihat dari sisi kepatuhan seorang mahkluk pada kholiqnya, maupun jiwa sosial sebagai sesama mahkluk.

Devinisi zakat berbeda dengan devinisi infaq, shodaqoh, hibah dan lain lain. Namun kadangkala kalimat zakat disebut dengan menggunakan bahasa, selain kalimat zakat, seperti : a. Infaq.

....

ََو

َِ

َ

لّا

َْح

َََ

َََي

َْس

َُِن

َْو

ََن

َ

ََلّا

ََْ

ََب

َََو

َ

ْ

ىا

َِف

ََض

ََثَ

ََو

َ

َ

ل

َُحَِْ

َِفَُل

َََْٔج

ََٓا

َ

َِف

ََشَ

َِبَْي

َِوَ

َِ ّللا

َََف

ََب

َْ ِّش

َُْ

ًََْ

َِةََع

ََذ

ٍَبا

ََ

َ

أَِْل

ٍَم.

َ(

َ

ََثبٔلتا

:

َ

٣٤

)

“ Orang orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannnya (menzakatinya)

pada jalan Alloh, maka beritahukanlah pada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih “ (At Taubah 34)

b. As Shodaqoh.

ََوًََُْٓلَ ٌََسَشَ َمَحلا َصَ َنِإًَِْْٓي

َيَعَِّوَصَوَآَِةًَِْٓيِّكَزُحَوًَُُْْرَِّٓطُتًَثَكَدَصًَِِْٓلأَْمَأٌَََِْْذُخ

ٌَعيٍَِشَُ َللا

ًٌَيِيَع

َ

103

َ

أٍَُيْعَحًََْل

أ

َ

َ

ََّن

َ

أ

َ

َُوَتْلَحَََُْٔ ََللا

َ

ََن

َ

أَوَ ِتاَكَد َّصلاَ ُذُخ

ْ

أَيَوَِهِداَتِعَ ََْخََثَبَّْٔلتا

َّّ

َََُْٔ ََللا

َ

َ ُبأََّّلتا

ًَُيِحَّرلا

َ(

103

-104

)

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan

mensucikan mereka. Tidakkah mereka mengetahui, bahwasannya Alloh menerima taubat dari hamba hambaNya dan menerima zakat, dan sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang “ (At Taubah :103- 104).

(6)

ٍَجَّٰ َنَجَ

َ

أ َشن

َ

أَ ٓىِ

لّٱَ ََُْٔو

َ

َ

َ َنُٔخْيَزلٱَوَۥُُّيُز

ُ

أَاًفِيَخْ ُمَُ َعْرَزلٱَوَ َوْخَلنٱَوَ ٍجَّٰ َشوُرْعٌََ َ ْيَْدَوَ ٍجَّٰ َشوُرْعٌَ

َۖۦِهِدا َصَحََمَْٔيَۥَُّلَحَأُحاَءَوََرٍَْث

َ

أَٓاَذِإَٓۦِهِرٍَ

َثٌَََِأُ ُكٍََُِّۚتَّٰ َشَتٌََُ ْيَْدَوَآًِتَّٰ َشَتٌََُناٌَُّرلٱَو

ََۚآُٔفِ ْْ

َُُ َلَوَ

َ

َ

لَۥَُُِّإ

ََنِذِ ٍُْْ

ْ

لٱَ ُّبِ َُُ

َ.َ

(

َماعُلا

:

١٤١

)

“ Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman tanaman yang bermacam macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan yang tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam macam itu) bila dia berubah dan tunaikanlah haqnya (zakatnya) dihari memetik hasinya (dengan dikeluarkan zakatnya) dan janganlah kamu berlebih lebihan. Dan sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang orang yang berlebih lebihan “ (Al An‟am 141).

َّّٰ

Dewasa ini, orang lebih taat membayar pajak dari pada membayar zakat yang note bene merupakan syari‟ah Isalam dan merupakan perintah Alloh SWT. Fenomena ini menjadi semakin menghawatirkan manakala pajak disamakan dengan zakat. Sebuah presepsi yang salah kaprah, dengan membayar pajak berarti telah berzakat. Oleh sebab itu, budaya dan kesadaran berzakat perlu ditumbuh kembangkan pada setiap muslim yang mampu. Sehingga tidak manipulasi zakat, zakat rekayasa, zakat karena terpaksa atau tidak berzakat.

2. HIKMAH SYARI’AH ZAKAT.

Zakat merupakan salah satu manifestasi solidaritas (ukhuwah) ummat islam yang difardlukan Alloh SWT. Dan merupakan ibadah materil yang menjadi kunci pembuka rahmat Alloh. Betapa indahnya kebersamaan, yang kaya berbagi rizki dengan yang miskin, yang miskin berbagi do‟a dengan yang kaya.

Selain menjadi wahana perlindungan bagi sesama yang memerlukan, syari‟ah zakat mengandung hikmah yang sangat besar. Baik untuk pribadi orang yang berzakat, hartanya, maupun orang yang menerima zakat. Diantara hikmahnya zakat adalah :

a. Meningkatkan iman.

Orang yang dengan sabar dan tulus ihklas mengeluarkan zakat, berarti telah sanggup menerima perintah Alloh secara total dan menempatkanya diatas semua kepentingan. Meyakini dan membenarkan bahwa zakat merupakan rukun Islam dan menjadi haqnya orang lain yang harus diberikan. Saelain itu, zakat, infaq, shodaqoh dan lain-lain menjadi perwujudan syukur kepada Alloh atas karuniaNya yang berupa materi, sebagaimana sholat, puasa dan lain-lain menjadi wujud syukur atas ni‟mat yang berupa (kesehatan) badan. Dalam Al Baqoroh 267, Alloh memulai perintah mengeluarkan zakat :

أٌَُِآَ ََيِ

لّاَآَُّح

َّ

َ

أَاَي

َ

ٌَََِأُلِفُ

َ

أ

َِتاَتِّي َط

َ

اٌَ

َ

ًَُْخْب َصَن

َ

ًُسَىَاَِْجَرْخ

َ

أَاٍَِّمَو

َ

َ ََ ٌِّ

َ ِضْر

َ ْ

لْا

ََّۖ

َ

...

َ(

َ

َةرللبا

:

َ

٢٦٧

)

“ Hai orang orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Alloh) sebagai hasil usahamu yang baik baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”

b. Membersihkan jiwa

(7)

َُخ

َْذَ

ٌَِ

ََْ

ََ

َ

أَْم

َََٔ

ِلا

ًََِْٓ

َ

ََص

ََد

ََكًَث

ََُت

ََط

ََُِّٓر

َُْ

ًََْ

ََوَُح

ََزَ

ِ

ّكَْيَِٓ

ًََْ

َِةََٓ

َََا

....

َ(

َ

َثبٔلتا

:

َ

103

)

َ

“ Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan “

“Membersihkan” maksudnya, zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta berlebih lebihan terhadap harta benda. Maksud “Mensucikan” adalah, zakat itu menyuburkan sifat sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

c. Menjaga harta

Rosululloh SAW bersabda :

ََح

َِّص

ََُِْٔ

َ

َ

أَا

َْم

ََٔ

ََىا

َُس

ًََْ

َِة

ََزلا

ََك

َِةَ

ََوََد

َُوا

َْو

ََمَا

َْر

ََض

َُزا

ًََْ

َِة

ََصلا

ََد

ََكَِث

Artinya :“ Jagalah hartamu dengan (mengeluarkan) zakat, dan sembuhkan orang orang sakitmu dengan shodaqoh “

Secara implisit hadist diatas memberi pemahaman, bahwa resep mujarab untuk menjaga harta dan jiwa pemiliknya dari mara bahaya adalah zakat. Secara logika, apabila sikaya berjiwa social, mau berbagi rizki dengan simiskin, maka akan tercipta sebuah kebersamaan, solidaritas dan ukhuwah yang kuat. Dan begitu sebaliknya, apabila sikaya pelit, bakhil dan berprinsip “elu

-

elu, gua

-

gua”, maka akan tercipta suasana yang tidak harmonis, iri, dengki, individualisme yang akan menimbulkan bahaya dan malapetaka. Perlu difahami, bahwa zakat itu haq (milik) nya fakir miskin, bukan milik sikaya. Menahan zakat berarti telah berbuat dzolim pada faqir miskin, dan………….do‟anya orang yang teraniaya dikabulkan oleh Alloh.

d. Mendapat Rahmat Allah SWT

Dalam Surat An-Nur 56 Alloh SWT berfirman :

ََوَ

َ

أَِر

َْيٍَُ

َْٔا

َ

ََصلا

َ َلا

ََةَ

ََو

َُحآ

َْٔ

ََزلاَا

ََك

ََةَ

ََوَ

َ

أَِط

َْيَُع

َْٔ

ََرلاَا

َُش

َْٔ

ََلَ

ََىََع

ََي

َُس

ًََْ

َُحَْر

ََُح

َْٔ

ََن

َ

“Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kamu mendapat rahmat”

3. HUKUM MEMBAYAR ZAKAT

Berdasarkan Nash Al Qur‟an dan ijma‟ Ulama mengeluarkan zakat bagi orang yang telah menetapi syarat wajibnya, hukumnya WAJIB. Artinya, wajib bagi setiap muslim yang merdeka, baligh, berakal dan mempunyai harta tertentu (harta yang wajib dizakati) yang telah mencapai nishob dan menetapi syarat-syaratnya untuk mengeluarkan zakat.

Syari‟ah zakat diwajibkan pada bulan Syawwal (menurut sebagian ulama bulan Sya‟ban) pada tahun kedua Hijriah. Diantara dalil nash yang melegimitasi hukum wajib zakat adalah:

ََوَ

َ

أَِر

َْيٍَُ

ََصلاَأ

ََي

ََةٔ

َََو

ََء

َُحا

ََزلاَأ

ََن

ََةٔ

َََو

َْرا

ََن

َُع

َْٔ

ٌَََا

ََعَ

ََرلا

َِنا

َِع

ََ ْن

.

َ(

َ

َةرللبا

:

َ

٤٣

)

(8)

َُخ

َْذَ

ٌَِ

ََْ

ََ

َ

أَْم

َََٔ

ِلا

ًََِْٓ

َ

ََص

ََد

ََكًَث

ََُت

ََط

ََُِّٓر

َُْ

ًََْ

ََوَُح

ََزَ

ِ

ّكَْيَِٓ

ًََْ

َِةََٓ

ََوَا

ََص

َِ

ّوَ

ََع

ََيَْي

ًََِْٓ

َََۖ

....

َ(

َثبٔلتا

:

َ

103

)

َ

“ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan

mensucikan mereka “ (At Taubah 103)

َ

َ

أَوَُ َللاَلِإََ

لَِإَلَْن

َ

َ

أَِةَدآَ َشَ ٍسْ َخََ

َ َعَلَُملاْشِلإاََ ِنُِة

َِة َكَزلاَِءاَخيوَإَِِةلا َصلاَِماَكوَإَِِ َللاَ ُلُٔشَرَاًدٍََ ُمَُ َن

ََنا َضَمَرَِمْٔ َصَوَ ِّجَ

لْاَو

ْ

َ(

ًَيصمَوَىراخلباَهاور

)

“ Islam itu ditegakkan diatas lima dasar, mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang hak

melainkan Alloh, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakn haji dan berpuasa dibulan Romadlon “ (HR. Bukhori

Muslim).

Bagi orang yang mempunyai harta yang telah menetapi syarat wajib zakat, wajib mengerti (belajar) ilmu dan tata cara berhubungan dengan permasalahan zakat. Seperti tata cara menentukan nishob, kadar harta yang dikeluarkan, jenis harta yang digunakan zakat dan lain lain. Sebab diantara syarat sahnya zakat adalah sesuai dengan batas ketentuannya dan dari jenis barang yang mencukupi untuk digunakan zakat.

4. INGKAR ZAKAT DAN HUKUMNYA.

Sungguh beruntung bagi orang yang mau zakat, dan sungguh celaka bagi golongan yang ingkar dan tidak mau menbayar zakat. Dalam surat Fusshilat 5- 6, Alloh menegaskan :

...

َ

ََنِكِ ْشٍُ

ْ

يِّىَ ٌوْيَوَو

5

َ

ََنوُرِف َكًََُِْْةَرِخ

لْاِةًََُْوََة

ْ

َكَزلاََنُٔحْؤُيَ َلَََيِ َلّا

6

.

َ(

َجيصف

:

َ

5

-6

)

“ Dan kecelakaan yang besar bagi yang menpersekutukanNya, (yaitu) orang orang yang tidak menunaikan zakat, dan mereka kafir akan (adanya) kehidupan akhirat “

Syaikh Nawawi Al Jawy dalam tafsir Al Munir menegaskan bahwa (celaka) itu diperuntukan bagi tiga golongan, yaitu :

1. Golongan yang mempersekutukan Alloh. 2. Golongan yang tidak membayar (ingkar) zakat. 3. Golongan yang ingkar terhadap hari akhir.

Dalam hadist riwayat Bukhori Muslim, Rosululloh bersabda

ََف َصَُ

لََ ْجَحِّف ُصَِثٌَاَيِل

َ

ْ

ىاَُمَْٔيَ َن َكَاَذِإَ

لِإَآََلَحَآٌََِِْيِّدَؤُيَ

َ

لٍَث َضِفَ

َ

لَوَ ٍبََْذَ ِبِحا َصٌَََِْاٌَ

َ

َ ُُ ِنا

ََديِخ

ُ

أَ ْتَدَرَةَاٍََ ُكَُُهُرْٓ َظَوَُُِّيِتَجَوَُُّتَِْجَآَِةَىَٔ

ْهُيَذًَََََِٓجَِراََُ ِفَآَْيَيَعََ ِمِْحُأَفٍَراٌَََُِْ

َ ِفَُ

لََ ْت

َ

وَإَِِثََِ

لْاَ

ْ

لَِإَاٌَِإَُّ

َ

َييِبَشَىَ َيَْذَِداَتِعْىاََ ْنَبَ َضَْلُحَ َتََّحٍَثََِشَ َفْىَأََنِصْ َخََُهُراَدْلٌََِنَكٍَمَْٔي

َ

لَِإَاٌَ

َ

َِراَلنا

َ(

ًيصموَىراخلباَهاور

)

(9)

neraka jahanam, kemudian disetrikalah (gosok) lambungnya, dahinya, punggungnya. Bila sudah dingin , akan dipanaskan kembali (secara terus menerus) di (satu) hari yang lamanya kira

-

kira lima puluh ribu tahun, sampai semua nasib manusia diputuskan, kemudian akan dilihatkan jalannya ( nasibnya), apakah akan masuk surga ataukah neraka “.

ََخ

ََْ

ََِإَْة

َََِ

َُخ

ٍََ

ََرَ

ََك

ََلا

ٌَََ

ََْ

َََن

ََْن

ََْ

ََفا

ََي

ًََْ

َُيََؤ

َِّدَ

ََز

ََكََت

ََٓ

ََفَا

َََْٔي

ٌَو

َ

َُ

َ

لَ

َ(

َ

ىراخلباَهاور

)

Dari Ibnu Umar RA “Barang siapa menyimpan harta dan tidak menunaikan zakatnya, maka neraka wail untuknya “ (HR. Bukhori)

Dalam terminology fiqh, pro kontra terhadap syari‟ah zakat terbagi menjadi 3 kelompok

a. Golongan yang menyakini (menerima sebagai syari’ah agama) dan mengeluarkan zakat.

b. Golongan yang menyakini (menerima sebagai syari’ah agama), namun tidak mau mengeluarkan zakat.

Hukumnya haram, namun tidak sampai kufur (keluar islam). Jika dalam negara islam, bagi Imam diperbolehkan mengambil zakatnya secara paksa, bahkan boleh memerangi golongan tersebut jika masih membangakang untuk mengeluarkan zakat.

c. Golongan yang tidak menyakini (ingkar) kewajiban zakat.

Bagi orang yang tidak menyakini (ingkar) terhadap syari‟ah zakat, hukumnya sebagai berikut :

 Apabila baru mengenal hukumnya zakat (masih mu‟allaf) maka tidak kufur.

 Apabila sudah tahu hukumnya zakat (bukan mu‟allaf), dan ingkar terhadap kewajiban zakat yang telah ada nash (al Qur‟an/ Al Hadist) dan mujma‟ alaih, maka hukumnya kufur (keluar dari islam). Seperti ingkar terhadap kewajiban zakatnya emas dan perak. Sedangkan tidak menyakini kewajiban zakatnya benda yang masih dipersilahkan ulama (mukhtalaf), hukumnya tidak sampai kufur.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, sepeninggal Rosululloh SAW. Abu Bakar memerangi sekelompok Baduwi yang murtad. Ketika itu Umar r.a. mengatakan kepadanya, bagaimana tuan memerangi orang-orang itu ?,padahal Rosululloh telah bersabda, “Saya diperintahkan untuk memerangi semua orang sampai mereka mengakui, bahwa tidak ada tuhan selain Alloh. Jika mereka sudah mengatakanya, maka jiwa dan hartanya terpelihara, kecuali yang bersangkutan melakukan perkara yang berhak dihukum, sedangkan perhitungan (hisab) tersebut dikembalikan kepada Alloh “Abu Bakar r.a. menjawab : “Demi Alloh aku akan terus memerangi orang-orang yang memisahkan antara sholat dan zakat, karena zakat hak atas harta. Demi Alloh, seandainya mereka enggan membayar sutas tali yang dulunya mereka bayarkan kepada Rosululloh SAW. Aku akan memerangi mereka karenanya. Umar r.a. kemudian berkata : “ Sungguh Alloh telah menerangi dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, dan saya yakin bahwa itu benar “ .

REKAYASA ZAKAT itu setali tiga uang dengan anti zakat alias sama. Artinya melakukan

pekerjaan (trick) agar terhindar dari kewajiban membayar zakat itu termasuk katagori anti zakat yang dibungkus dengan dalil (alasan) pembenaran yang dibenarkan oleh syara‟ (fiqh) seperti membekukan dagangan menjelang masa haul, menghibahkan atau menshodaqohkan benda yang wajib dizakati sebelum masa wajib mengeluarkan zakat dengan perjanjian akan dikembalikan setelah masa wajib mngeluarkan zakat, memanipulasi harganya barang dagangan dan lain-lain.

(10)

Menguntip peryataan sebagian pakar kebatinan dalan kitab I‟anah At Tholibin, bahwa haqiqot ilmu terbagi menjadi 2 bagian :

1. Ilmu nafi‟, yaitu ilmu yang (bermanfaat) menyelamatkan pemiliknya dalam kehidupan dunia dan akhirat.

2. Ilmu dzorrun, yaitu ilmu yang bisa menimbulkan bahaya bagi pemiliknya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Termasuk ilmu dlorrun adalah mengerti ilmu permasalahan zakat namun digunakan untuk memanipulasi zakat atau menghindar dari kewajiban membayar zakat. Dari sudut pandang fiqh, menjual harta yang diperkirakan wajib zakat sebelum masa wajib membayar zakat, dan tanpa adanya hajat hukumnya hanya makruh. Artinya, syara‟ (fiqh) hanya melihat pada dlohirnya harta saja, manakala seorang /benda pada masa wajib membayar zakat tidak menetapi syarat syaratnya, maka tidak wajib zakat. Walaupun tidak terpenuhinya syarat syarat tersebut karena ada unsur rekayasa. Sedangkan yang tahu pada niat dan tujuan dari pemilik harta hanya Alloh semata. Barangkali perlu menjadi renungan, apakah tidak mungkin rekayasa ibadah akan dibalas rekayasa siksa……….?

5. HARTA BENDA YANG WAJIB ZAKAT.

Zakat terbagi atas dua tipe yakni

a. Zakat Fitrah

Yaitu zakat setiap orang muslim yang menemui sebagian atau keseluruhan bulan Romadlon dan bulan Syawal. Baik zakat tersebut dikeluarkan oleh dirinya sendiri atau dikeluarkan oleh orang yang menanggung nafkah / fitrahnya, atau oleh orang lain.

b. Zakat maal

Harta benda (maal) yang wajib dizakati adalah : 1. Binatang Ternak ( Unta, Sapi, kambing) 2. Hasil perkebunan ( Kurma dan anggur) 3. Harta Perniagaan (dagangan)

4. Emas dan Perak

5. Hasil Tambang (Ma‟din) 6. Hasil pertanian

7. Barang temuan (Rikaz)

6. SYARAT WAJIB ZAKAT

Syarat wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut :

1. Islam.

Karena zakat merupakan rukun islam maka bagi non muslim (kafir) tidak wajib mengeluarkan zakat. Sedangkan bagi orang murtad (keluar islam) menurut pendapat yang shohih, zakatnya ditangguhkan (mauquf). Apabila kembali masuk islam wajib mengqodlo zakat yang tidak dikeluarkan saat diluar islam, dan apabila tetap diluar islam, maka tidak wajib zakatdan hartanya menjadi harta fai‟ (disita negara)

2. Merdeka.

Bagi budak atau hamba sahaya tidak mengeluarkan zakat,karena hartanya (budak) adalah milik tuannya.

3. Milik yang sempurna.

Bagi orang yang mempunyai hak kepemilikan namun tidak sempurna, tidak wajib mengeluarkan zakat. Misalnya budak mukatab (budak yang dijanjikan merdeka dengan syarat pembayaran tertentu) yang mempunyai harta yang telah menetapi syarat wajib zakat, maka bagi budak mukatab tersebut maupun sayyid (majikan)nya tidak wajib mengeluarkan

(11)

4. Mencapai nishob / batas tertentu mewajibkan zakat. 5. Haul / sudah genap satu tahun.

6. Saum/ digembalakan

Saum hanya disyaratkan untuk jenis harta yang berupa binatang ternak.

Pemilik harta (orang yang wajib zakat) tidak disyaratkan harus baligh, berakal dan pandai (rosydun). Artinya apabila pemilik harta telah menetapi syarat wajib zakat itu anak kecil (belum baligh), orang gila (tidak berakal) atau idiot/ cacat mental (tidak rosydun), maka zakatnya tetap dikeluarkan. Sedangkan yang mengurus pembayaran zakat dan seterusnya adalah walinya.

(12)

II.

GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

1. DASAR HUKUM

Orang (golongan) yang berhak menerima zakat ada 8 yaitu dijelaskan dalam surat At-Taubah 60:

اَع

ْ

ىاَوَ ِنِنا َصٍَ

ْ

لاَوَِءاَرَلُف

ْ

يِلَ ُتاَكَد َّصلاَاٍََّجِإ

ََنِيِم

َ

َ ِفَِوَ َنٌِِراَغ

ْ

ىاَوَ ِباَكِّرلاَ ِفَِوًَُُْٓبٔ

ُيُكَِثَفَّىَؤٍُْلاَوَآَْيَيَع

ًٌَيِهَحًٌَيِيَعَ َُّللاَوَِ َّللاَ ًٌَََِث َضيِرَفَِويِبَّصلاََِْةاَوَِ َّللاَِويِبَش

َ(

َ

َثبٔلتا

:

َ.

6

)

َ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-oraang faqir, orang-orang miskin,

pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk sabilillah, dan orang yang sedang dalam perjalanan yang diwajibkan Alloh, dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. ( QS At Taubah 60)

Jika diteliti, ada perbedaan dalam mengungkapkan golongan penerima zakat. Empat golongan pertama menggunakan huruf li sedangkan empat golongan yang lain menggunakan huruf fi yang makna asalnya adalah keterangan tempat.

Hikmah penyebutan tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Fakhrurrozi adalah untuk empat golongan pertama ( faqir, miskin, amil, dan muallaf) mempunyai hak penuh atas zkat yang diterimanya. Sedangkan untuk empat golongan yang lain ( riqob, ghorim, sabililllah, dan Ibnu Sabil) zakat tidak diserahkan untuk menjadi milik mereka tetapi karena ada hajat yang menyebabkan mereka berhak menerimanya. Seperti budak, zakat digunakan untu memerdekakan dirinya, bagi ghorim untu membayar hutangnya, bagi sabilillah untuk sarana dan prasarana perang.

Penjelasan mengenai kedelapan golongan penerima zakat adalah sebagai berikut :

a. FAQIR

Yaitu orang yang tidak mempunyai harta atau penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang ia tanggung selama umumnya usia manusia. Kebutuhan itu mencakup makanan, minuman, pakaian, atau tempat tinggal, walaupun ia mempunyai harta senishob.

Yang dimaksudkan harta dan pekerjaan adalah harta yang halal dan layak. Dengan demikian termasuk kategori faqir yang berhak menerima zakat adalah :

1. Orang yang sama sekali tidak mempunyai harta dan pekerjaan.

2. Orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai pekerjaan. Dan harta yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan pokoknya selama umumnya usia manusia.

3. Orang yang mempunyai pekerjaan yang halal dan layak, namun tidak mempunyai harta. Dan hasil yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya selama umumnya usia manusia.

4. Orang yang mempunyai harta dan pekerjaan, atau harta saja, atau pekerjaan saja, dan semuanya busa mencukupi kebutuhan pokoknya selama umumnya usia manusia, namun harta dan pekerjaan tersebut haram menurut syariat agama.

Catatan :

Orang yang tidak mempunyai harta, atau mempunayi harta yang tidak mencukupi,atau tidak mempunyai pekerjaan karena tidak ada pekerjaan yang layak, termasuk orang yang berhak menerima zakat. Sedangkan orang yang mempunyai keahlian, namun tidak mau

(13)

b. MISKIN

Yaitu orang yang tidak mempunyai harta / penghasilan yang bisa mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ia tanggung selama umumnya usia manusia (63 tahun).

Perbedaan antara faqir dan miskin adalah harta / penghasilan faqir jauh dari mencukupi, tidak sampai dari separo yang diperlukan. Standart “mencukupi” dalam keterangan di atas adalah standart ekonomi sedang ( tidak mewah dan tidak ngirit).

Contoh :

Biaya hidup standart sedang per hari Rp. 20.000,- apabila hanya mampu menghasilkan kurang dari Rp. 10.000,- maka termasuk kategori faqir, dan apabila menghasilkan Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,- maka termasuk kategori miskin, dan apabila mampu menghasilkan di atas Rp. 20.000,- maka termasuk orang kaya.

Rumah tempat tinggal dan pakaian serta sarana pekerjaan (misal sawah pak tani, motornya tukang ojek) tidak mempengaruhi status faqir / miskin seseorang. Jadi walau mempunyai sawah atau motor ojek dll, tetapi penghasilanya di bawah standart maka tetap berhak menerima zakat.

c. AMIL ZAKAT

Adalah orang / sekelompok orang yang ditunjuk oleh Imam / Kepala Pemerintahan untuk mengelola zakat, dan tidak menerima upah dari baitul mal atau negara. Jumlah zakat yang diberikan kepada amil disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan (menggunakan standart ujroh mitsil / ongkos standart)

Termasuk amil adalah semua orang yang terlibat dalam kepanitiaan zakat, seperti petugas yang mengambil zakat dari muzakki, pencatat, penghitung, dan petugas yang menyalurkan zakat dan lain-lain. Amil zakat harusproaktif mengambil zakat dari muzakki sesuai bunyi teks Al Qur‟an. Menurut sebagian ulama‟ amil zakat harus memenuhi syarat sebagai berikut :

- Islam - Laki-laki

- Merdeka - Mukallaf

- Adil - Bisa melihat

- Bisa mendengar - Mengerti masalah zakat (faqih)

d. MUALLAF

Secara harfiah, muallaf qulubuhum adalah orang yang dijinakkan/dibujuk hatinya. Sedangkan dalam terminologi fiqih, muallaf ada 4, yaitu :

- Orang yang baru masuk islam, dan imannya belum kuat

- Orang yang baru masuk islam dan imannya cukup kuat, dan ia terkemuka di kaumnya. Maka ia diber zakatdengan harapan teman-temanya akan masuk islam.

- Orang islam yang melindungi kaum muslimin dari gangguan kaum kafir.

- Orang Islam yang membela kepentingan kaum muslimin dari kejahatan muslim lain ( misal pemberontak atau golongan anti zakat)

Golongan pertama dan kedua berhak menerima zakat secara mutlak. Baik kaya atau miskin, Kaum muslimin membutuhkan mereka atau tidak, dan yang membagi zakat Imam atau Pemilik harta.

Golongan ketiga dan keempat boleh diberi zakat sekiranya mereka diperlukan, misal karena mereka sudah diberi zakat, tidak perlu ada angkatan bersenjata. Dan syaratnya lagi mereka harus laki-laki, dan yang berhak menetukan zakat adalah Imam bukan pemilik harta.

e. BUDAK MUKATAB (RIQOB)

(14)

- Islam. Walaupun sayid/tuannya beragama non-islam atau dari keturunan bani Hasyim / Bani Mutholib yang notabene mereka tidak berhak menerima zakat.

- Tidak mempunyai biaya untuk menebus dirinya. - Aqad kitabah yang dilakukan hukumnya sah.

- Isi perjanjian bisa memerdekakan secara keseluruhan (total).

Zakat boleh diberikan kepada budak mukatab secara langsung atau kepada sayidnya dengan seidzin si budak mukatab.

f. GHORIM (orang yang mempunyai hutang)

Adalah orang yang mempunyai tanggungan hutang. Ghorim yang berhak menerima zakat terbagi menjadi 3 kelompok :

- Berhutang untuk islah / perdamaian

Orang yang berhutang untuk mendamaikan 2 orang / kelompok atau lebih yang sedang bertikai berhak mendapat zakat apabila benda / materi yang digunakan diperoleh dengan berhutang dan saat pembagian zakat hutang tersebut belum lunas.

- Berhutang untuk kemaslahatan

Orang yang berhutang untuk dirinya sendiri atau keluarganya untuk kebutuhan yang mubah atau sunnah (tidak untuk maksiat) seperti untuk biaya hidup atau pendidikan berhak menerima zakat agar digunakan untuk melunasi hutangnya. Termasuk juga orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum seperti untuk membangun masjid, madrasah, jembatan dan lain-lain.

- Berhutang untuk menanggung hutang orang lain

Metode penyampaian zakat untuk orang yang berhutang untuk menanggung hutangnya orang lain adalah :

^ Apabila Penaggung hutang yang ditanggung saat hutang jatuh tempo dalam kondisi tidak mampu, maka zakat boleh diberikan kepada penanggung atau yang ditanggung. Dan yang lebih baik diberikan kepada yang ditanggung.

^ Apabila Penanggung dan yang ditanggung saat hutang jatuh tempo dalam kondisi mampu maka keduanya tidak berhak menerima zakat.

^ Apabila saat jatuh tempo, penanggung hutang dalam kondisi tidak mampu dan yang ditanggung mampu, maka jika saat berhutang mendapat idzin dari yang ditanggung, maka keduanya tidak berhak menerima zakat. Bahkan penanggung hutang supaya meminta kepada yang ditanggung untuk melunasi hutangnya. Dan jika saat berhutang tidak mendapat idzindari yang ditanggung, maka yang berhak menerima zakat adalah penanggung hutang.

^ Apabila saat jatuh tempo penanggung hutang dalam kondisi mampu dan yang ditanggung tidak mampu maka yang berhak menerima zakat adalah yang ditanggung.

g. SABILILLAH

Menurut syara‟ sabilillah adalah orang yang berjihad/berperang dijalan Alloh SWT dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak mendapat zakat untuk mencukupi keperluanya atau keluarga yang ditanggungnya sejak berangkat perang sampai pulang. Yang berhak menentukan kebijakan zakat terhadap sabilillah adalahg Imam, bukan pemilik harta.

Jumhur ulama‟ seperti madzhab Abu Hanifah, Malik, As-Syafi‟i dan Ahmad sepakat bahwa fisabilillah artinya khusus untuk jihad.

Ada sebagian ulama‟ yang meluaskan arti jihad baik dari kalangan salaf atau khalaf, mereka berpendapat bahwa sabilillah adalah semua bentu kebaikan. Namun pendapat ini

tidak kuat, karena jika sabilillah diartikan pada semua bentuk kebaikan berarti ashnaf zakat

semuanya tercakup pada kata sabilillah dan tidak ada pengkhususan pada delapan kelompok tadi. Dan pendapat ini berbahaya karena akan mengakibatkan semua orang dapat mengklaim

(15)

Adapula sebagian ulama‟ yang berpendapat makna jihad tidak hanya pada peperangan fisik, tetapi juga dakwah untuk menegakkan dan membebaskan manusia dari kemusyrikan, kebatilan dan lain-lain.

Sabilillah dan sabililkhoir adalah dua hal yang berbeda. Sabilillah adalah orang yang berperang di jalan Allah SWT, sedangkan sabilil khoir adalah jalan kebaikan atau kemashlahatan umum ( membangun jalan, jembatan, masjid, menggaji pengajar, dan lain-lain). Zakat tidak boleh diberikan kepada sabilil khoir.

Dan apabila sabilillah tidak jadi berangkat jihad, maka seluruh biaya dan peralatan yang dibeli dengan harta zakat wajib dikembalikan. Begitu juga kelebihan biaya perang. Sedangkan peralatan perang yang dibelikan oleh Imam dengan harta zakat tidak wajib dikembalikan, dan boleh dimiliki oleh sabilillah

h. IBNU SABIL (MUSAFIR)

Yaitu orang yang memulai bepergian dari daerah zakat, atau musafir yang melewati daerah zakat. Seorang musafir boleh menerima zakat dengan syarat sebagai berikut :

- Tidak maksiat, dan tempat yang dituju jelas.

- Memerlukan biaya, maksudnya musafir tersebut tidak mempunyai / kekurangan / kehabisan biaya. Dan zakat yang diterima sebatas kekurangannya atau sebawahnya saja. Jumlah zakat yang diberikan kepada ibnu sabil tergantung pada tujuanya, maka :

- Jika hanya satu tujuan ( pergi / pulang saja) maka zakat diberikan sekiranya cukup untuk ke tempat tujuan tersebut.

- Jika dua tujuan ( pulang dan pergi) maka zakat diberikan sekiranya cukup untuk berangkat pergi, menetap selama 4 hari dan pulang.

1. ZAKAT KEPADA ANAK YATIM, KERABAT, SUAMI, ATAU PENCARI ILMU

Apakah anak yatim berhak menerima zakat ? Dilihat dulu, jika termasuk faqir / miskin maka berhak menerima zakat. Haknya menerima zakat dikarenakan kefaqiran / kemiskinannya, bukan karena keyatimannya. Karena ada juga anak yatim yang kaya, karena warisan dari orangtuanya yang melimpah. Maka anak yatim yang seperti ini tidak berhak menerima zakat.

Memberikan zakat kepada sanak kerabat itu boleh, bahkan hal tersebut lebih baik, karena selain mendapat pahala zakat juga dapat mempererat persaudaraan. Yang dimaksud sanak kerabat disini misalnya saudara, paman, bibi dan lain-lain, dengan syarat mereka termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Begitu juga istri yang mempunyai kekayaan melimpah boleh memberikan zakatnya kepada suaminya, jika suaminya termasuk orang yang berhak menerima zakat.

Membeikan zakat kepada kepada orang yang menuntut ilmu agama juga boleh, jika ia sibuk mencari ilmu syariat. Namun jika orang yang belajar tidak sungguh-sungguh dalam belajarnya, sehingga tidak ada harapan untu berhasil, maka tidak boleh menerima zakat.

2. KADAR ZAKAT YANG DIBERIKAN KEPADA PENERIMA ZAKAT

Apabila kebutuhan dari masing-masing penerima zakat berbeda, dan harta zakat mencukupi, maka seharusnya kadar zakat yang diterima oleh masing-masing penerima disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu :

a. Faqir dan miskin

Faqir miskin yang biasa berdagang ( berpengalaman dan berpengetahuan dagang) diberi modal berdagang yang besarnya diperkirakan mempunyai keuntunga yang bisa mencukupi kebutuhanya. Atau yang mempunyai keterampilan seperti tukang kayu, tukang batu dan

(16)

kebutuhannya. Jika memang tidak mempunyai keterampilan dan pengalaman mereka diberi bekal selama umumnya usia manusia.

b. Budak dan ghorim

Budak mukatab dan ghorim diberi sejumlah zakat yang mencukupi untuk melunasi hutang mereka.

c. Ibnu Sabil

Ibnu sabil diberi sejumlah zakat yang cukup untuk biaya ketempat tujuan, atau tempat hartanya berada.

d. Sabilillah

Sabilillah diberi sejumlah zakat yang cukup untuk biaya perang dan nafkah orang uyang ditanggungnya selama ditinggal perang

e. Muallaf

Muallaf diberi sejumlah zakat sesuai kepentingan dan kebijakan Imam. f. Amil Zakat

„Amil diberi zakat sesuai bidang pekerjaan, ( menggunakan standart Ujroh mitsil)

3. GOLONGAN YANG TIDAK BERHAK MENERIMA ZAKAT

a. Non muslim (kafir asli atau murtad) b. Budak ( kecuali budak mukatab)

c. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Mutholib) Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh SAW :

َ ِساَّلناَُخاشوأَهيَاٍُإًَثكد َّصلاَهذََّْنإ

َ

ٍَدٍَّمَُللَْلوٍَدٍَّحٍىَ ُّوِتحَلَآُإو

َ

ًَّيشوَّييعَُللاَ َّلَص

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah hal yang kotor dari manusia, dan sungguh zakat itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarganya”

d. Orang kaya

Yaitu orang yang mempunyai harta atau pekerjaan yang halal yang mencukupi kebutuhan pokoknya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya selama umumnya usia manusia.

Standart kaya adalah terpenuhinya kebutuhan pokok secara lebih, oleh sebab itu kaya tidak harus berarti mempunyai harta yang melimpah. Jika penghasilan /hartanya sudah mencukupi kebutuhan pokoknya, maka sudah termasuk kaya yang notabene tidak berhak menerima zakat.

Catatan :

- Orang yang banyak harta dan banyak hutangnya, selama hartanya belum digunakan untuk melunasi hutangnya, statusnya tetap kaya dan tidak berhak menerima zakat. - Orang yang mempunyai harta yang tidak mencukupi kebutuhan pokok selama

umumnya usia manusia, namun apabila digunakan untuk modal berdagang, maka laba yang dihasilkan setiap hari jumlahnya lebih dari cukup juga termasuk orang kaya. e. Orang yang ditanggung nafkahnya

Artinya orang yang menanggung nafkah tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang ia tanggung. Misalnya suami memberikan zakat kepada istrinya, ayah kepada anaknya, dan anak kepada orang tua yang menjadi tanggungannya. Kecuali jika jumlah nafkah yang sudah cukup menurut standart agama belum cukup untuk orang yang ditanggung, atau diberikan atas nama ghorim. Sedangkan memberikan zakat terhadap kerabat dekat yang tidak menjadi tanggungannya atas nama faqir / miskin itu boleh, bahkan hal itu lebih baik.

(17)

2. MASALAH-MASALAH SEKITAR ZAKAT

a. Zakat boleh diberikan terhadap orang yang fasiq (misalnya orang yang meninggalkan sholat). Kecuali jika sejak sebelum baligh tidak melakukan sholat maka yang berhak menerima adalah walinya.

b. Tidak boleh mengeluarkan zakat sekaligus sebagai shodaqoh, atau sebaliknya. c. Orang yang mengaku faqir / miskin boleh menerima zakat tanpa harus disumpah.

d. Orang yang tidak bekerja karena sibuk menghafal Al-Qur‟an atau belajar ilmu fiqh, tafsir, hadits dan lain-lain boleh menerima zakat. Sedangkan yang tidak bekerja karena sibuk melakukan sholat sunnah tidak boleh menerima zakat.

e. Zakat yang diberikan kepada orang yang nampaknya faqir / miskin tetapi ternya kaya hukumnya tidak sah. Bagi pemilik harta boleh untuk memintanya kembali, jika masih adad. Dan jika sudah tidak ada pemilik harta boleh meminta gantinya.

(18)

III. TATA CARA DAN ETIKA BERZAKAT

1. SYARAT SAHNYA ZAKAT

a. Niat

Artinya pemilik harta atau yang mewakili berniat mengeluarkan zakat, Adapun waktunya boleh ketika mulai menyiapkan harta zakat atau saat menyerahkannya atau waktu diantaranya. Niat itu tempatnya di hati, sedangkan melafadzkannya hukumnya sunnah.

Contoh lafadz niat :

ََْ

ََذ

ََزَا

ََكَُة

ٌَََ

َِلَا

,

َََْ

ََذ

ََصَا

ََد

ََكٌَث

ٌَََ

َْف

َُر

َْو

ََض

ٌَث,

َََْ

ََذ

ََزَا

ََكَُة

ٌَََ

َِلَا

ٍََلاَ

َْف

َُر

َْو

ََض

َُث

“Harta ini zakat harta saya, harta ini shodaqoh wajib,

َ

harta ini zakat wajib harta saya”

Apabila ada keraguan tentang niat setelah zakat diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya, maka hukumnya tetapsah. Namun jika zakat telah diberikan, tapi belum diniati, maka hukumnya tidak sah alias pemilik wajib mengulang kembali zakatnya. Dan status zakat awwal yang tanpa diniati adalah shodaqoh.

b. Diberikan pada orang yang berhak menerimanya

Apabila zakat disalurkan melalui Imam atau Amilnya, maka saat zakat telah diberikan kepada Imam atau Amilnya maka kewajiban zakatnya telah gugur. Dan apabila langsung diberikan kepada yang golongan yang berhak menerima hukumnya juga sah. Dan jika diberikan kepada orang yang tidak berhak menerima maka zakatnya tidak sah dan wajib diulang.

Untuk zakat fitrah yang utama zakat diberikan kepada kerabat yang berhak menerima dan nafkahnya tidak menjadi tanggungannya.

2. HUKUM MENDAHULUKAN ZAKAT

Semestinya zakat ditunaikan pada masa wajib mengeluarkan zakat. Namun diperbolehkan juga mendahulukan zakat atau mengeluarkan zakat sebelum waktu wajib mengeluarkannya, dengan ketentuan :

a. Dikeluarkan oleh pemilik harta sendiri, bukan walinya. ( Orang yang bertanggung jawab atas anak yang berkewajiban zakat).

b. Jenis harta yang disyaratkan haul ( genap satu tahun) seperti ternak, harta tijaroh, emas dan perak (selain ma‟din dan rikaz)

c. Hanya untuk masa satu tahun.

d. Jumlah harta telah mencapai satu nishob, kecuali harta tijaroh tidak disyaratkan mencapai nishob.

Untuk jenis tanaman dan buah-buahan, boleh mendahulukan zakat sebelum sampai waktu wajib mengeluarkan zakat, namun tidak boleh mendahulukan zakat sebelum sampai waktu wajib zakat. Seperti sudah dijelaskan bahwa dalam bab zakat tanaman terdapat dua istilah waktu, yaitu

a. Waktu wajib zakat

Yaitu saat semua atau sebagian tanaman sudah berisi dan sudah mengeras (isytidad) atau saat buah-buahan sudah tua.

b. Waktu wajib mengeluarkan zakat

Yaitu saat tanaman atau buah-buahan sudah dipanen dan dibersihkan dari tanah atau kulit pembungkus yang tidak diperlukan.

(19)

Contoh zakat cicilan pertanian :

Seorang petani gabah mengalami panen 2 Kali dalam satu tahun dengan perincian sebagai berikut :

Hasil panen pertama : 1.000 kg gabah Hasil panen kedua : 1.250 kg gabah Zakat cicilan : 100 kg gabah Junlah hasil panen : 2.250 kg gabah Zakat yang wjib dikeluarkan :

- Dengan biaya : 5 % x 2.520 : 112,5 kg Sisa zakat : 112,5 – 100 : 12,5 kg - Tanpa biaya : 10% x 2.250 : 225 kg Sisa zakat : 225 – 100 : 125 kg

Contoh zakat cicilan tijaroh

Seorang pedagang saat haul menghitung debet, kredit, saldo serta zakat cicilan yang telah dikeluarkan sebagai berikut :

Nilai harta tijaroh : Rp. 25.000.000,-

Laba : Rp. 10.000.000,-

Zakat cicilan : Rp. 250.000,- Jumlah harta tijaroh =

Rp. 25.000.000,- + Rp. 10.000.000,- + Rp 250.000,-

َ

= Rp. 35.250.000,- Zakat yang dikeluarkan =

2,5 % x Rp. 35.250.000,- = Rp. 881.250,- Sisa zakat yang harus dikeluarkan

َ

=

Rp. 881.250,- - Rp. 250.000,- = Rp. 631.250,-

Zakat cicilan atau zakat yang dikeluarkan lebih dahulu dari masa wajib mengeluarkan zakat dihukumi sah apabila :

1. Sejak mengeluarkan sampai waktu wajib mengeluarkan zakat (haul), pemilik harta dan hartanya masih menetapi syarat. ( Islam, merdeka, mencapai nishob, milik sempurna, masih hidup).

2. Saat menerima zakat dan saat waktu wajib mengeluarkan zakat (haul), penerima zakat masih menetapi syarat. (Islam, Masih hidup, termasuk orang yang berhak menerima zakat, berada dalam daerah zakat)

Jika zakat cicilan diberikan pada seseorang yang pada saat haul tidak berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak sah. Apabila saat memberikan sudah menjelaskan bahawa yang diberikan adalah zakat cicilan dan saat haul ternyata pemilik harta atau penerima zakat tidak menetapi syarat, zakatnya boleh diminta kembali. Dan jika tidak menjelaskan maka zakatnya tidak boleh diminta kembali.

3. HUKUM MENGAKHIRKAN ZAKAT

Zakat harus dikeluarkan pada masa wajib zakat, tidak boleh mengeluarkan sebelum atau sesudah masanya tanpa ada alasan yang dibenarkan syara‟. Apabila harta telah memenuhi syarat wajib zakat, maka pemilik wajib mengeluarkan zakat dengan ketentuan sebagai berikut:

(20)

a. Ada hartanya

Ketika harta yang dihutang sudah dilunasi, harta yang hilang sudah ketemu, harta yang dighosob sudah dikembalikan, maka apabila sudah menetapi syarat-syaratnya, wajib dikeluarkan zakatnya. Oleh sebab itu, piutang yang belum jatuh tempo, harat yang belum ketemu atau belum dikembalikan pada masa wajib zakat / haul tidak wajib dizakati pada saat itu. Dan jika sudah kembali, maka wajib dizakati secara tersendiri pada saat itu juga. b. Ada golongan yang berhak menerima zakat

Apabila saat wajib zakat tidak menemukan orang / golongan yang berhak menerima zakat, maka zakat boleh diakhirkan / tidak dikeluarkan pada saat itu.

c. Sudah memungkinkan (tamakkun)

Artinya sudah ada kesempatan mengeluarkan zakat pada waktu wajib mengeluarkan zakat. Apabila sudah tiba waktu wajib mengeluarkan zakat, namun belum memungkinkan, kemudian harta rusak sehingga mengakibatkan tidak wajib zakat atau kadarnya berkurang, maka pemilik tidak wajib mengganti.

Namun jika setelah masa tamakkun pemilik tidak segera berzakat tanpa ada alasan yang dibenarkan syara‟, maka hukumnya haram. Dan jika ada kerusakan harta maka pemilik harus menanggung beban zakat seperi sebelum adanya kerusakan.

Mengakhirkan atau menunda zakat setelah masa wajib mengeluarkan zakat dan tamakkun hukumnya haram, kecuali jika bermaksud mencari keutamaan, dan hal itu tidak

menimbulkan madlorot pada orang-orang yang berhak menerima zakat. Seperti menanti kerabat, tetangga atau orang sholih yang notabene mereka semua lebih utama menerima zakat dibanding yang lain

4. CARA MEMBAGI DAN HUKUM MEMINDAH ZAKAT

Mekanisme pembagian zakat dari pemilik harta kepada mustahiqqin boleh dilakukan dengan cara sebagi berikut :

a. Dibagikan sendiri oleh pemilik harta

Menurut madzhab Syafi‟i, apabila zakat dibagi sendiri oleh pemilik harta, maka jika orang yang berhak menerima zakat terbatas dan harta zakat cukup, maka metode yang harus dilakukan adalah :

- Pembagian harus mencakup semua golongan penerima zakat yang berada di daerah zakat.

- Pembagian zakat harus merata diantara golongan penerima zakat. Namun tidak disyaratkan bagian yang diterima masing-masing penerima zakat harus sama.

- Tidak boleh memindah zakat dari daerah zakat.

Zakat harus diberikan pada penerima zakat yang berada dalam daerah pembagian zakat, walaupun bukan penduduk asli.

Sedangkan jika orang yang berhak menerima zakat tidak terbatas, atau harta tidak cukup, maka zakat harus dibagi dan diberikan minimal orang untuk setiap golongan penerima zakat yang ada.

b. Dibagi oleh Imam atau Amil Zakat

Apabila zakat disalurkan melalui Imam atau Amil, maka metode pembagianya adalah sebagai berkut :

- Pembagian harus mencakup semua golongan penerima zakat.

- Bagian yang diterima masing-masing golongan harus sama kecuali Amil.

- Jika zakat mencukupi maka masing-masing orang pada tiap golongan harus mendapat bagian.

(21)

Mengeluarkan zakat melaui Imam atau Amil itu lebih baik daripada dibagi sendiri, karena Imam mempunyai wewenang dan lebih mengetahui tentang orang yang berhak menerima dan kadar keperluannya.

Namun apabila Imam tidak adil / menyeleweng maka cara membagi dan menyampaikan zakat yang utama adalah jika harta dlohir ( binatang ternak, barang tambang, tanaman dan buah-buahan) melalui Imam, dan jika harta Batin ( emas, perak, harta dagangan, rikaz dan zakat fitrah) lebih baik dibagi sendiri.

Pendapat yang membolehkan memindah zakat

Menurut pendapat Ibnu „Ujail, Imam Usbuhi dan Ulama‟ mutaakhirin dari madzhab Imam Syafi‟i, tiga permasalahan dalam bab zakat boleh digunakan dan difatwakan, yaitu : 1. Boleh memindah zakat dari daerah zakat (baladuz zakat)

2. Boleh memberikan zakat pada satu golongan penerima zakat.

3. Zakatnya satu orang boleh diberikan pada satu orang penerima zakat.

Ketiga pendapat tersebut berbeda dengan fatwa Imam Syafi‟i tetapi bisa digunakan karena sulitnya membagi secara merata pada semua golongan, apalagi zakat fitrah yang jumlahnya tidak banyak.

5. PAJAK BUKANLAH ZAKAT

Pajak jelas bukanlah zakat, membayar pajak sebagai zakat tidak sah dan harus diulang. Perbedaan antara zakat adalah bahwa zakat adalah harta dalam batas tertentu yang

dikeluarkan dari harta tertentu, dengan syarat-syarat dan wajib diberikan kepada golongan tertentu. Zakat merupakan rukun Islam, kefardluannya berdasarkan nash Al-Qur‟an dan Al Hadits, merupakan perintah Alloh SWT terhadap orang-orang yang mampu / kaya. Batasan zakat sejahulu, sekarang dan seterusnya tidak akan berubah.

Sedangkan pajak adalah suatu pembayaran yang ditetapkan terhadap wajib pajak kepada negara untuk pembiayaan pengeluaran penyelenggaran negara. Batasanya sesuai aturan dan kepentingan negara, kadang antara negara satu dengan yang lainnya tidak sama. Kadang bisa bertambah atau berkurang. Mencakup hampir semua benda dan warga negara, bahkan termasuk orang-orang yang dalam kacamata agama layak disantuni.

(22)

IV. ADAB DAN SUNNAHNYA BERZAKAT

1. PEMILIK HARTA

Bagi pemilik harta yang telah menetapi syarat wajib zakat, selain harus memperhatikan aturan main dan tata cara mengeluarkan zakat yang diatur oleh Syara‟, pemilik juga harus memperhatikan etika / adab berzakat. Sehingga zakat yang telah dikeluarkan, selain sah menurut syara‟, juga mendapat pahala disisi Alloh SWT. Menurut Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya‟ Ulunuddin, pemilik harta harus memahami hal-hal sebagai berikut :

a. Memahami syari’ah zakat

Pemilik harta (pelaku zakat) harus memahami bahwa zakat merupakan perintah Alloh terhadap hambaNya yang mampu, d an juga merupakan salah satu ujian keimanan. Apakah cintanya kepada Alloh SWT bisa mengalahkan cintanya kepada harta benda ataukah justru sebaliknya. Apakah keinginannya untuk mencapai derajat tinggi disisi Alloh itu benar benar dari hati dan diusahakan dengan perjuangan yang sepadan ataukah hanya di mulut saja, yang hanya jadi slogan layaknya iklan.

b. Tidak menunda zakat jika telah menetapi syarat wajibnya.

Segeralah mengeluarkan zakat jika telah menetapi syarat wajib zakat. Lebih-lebih jika bertepatan dengan bulan istimewa seperti bulan Muharram, Romadlon dan lain-lain.

c. Menyampaikan dengan cara yang samar

Apabila khawatir timbul riya‟ atau sum‟ah (ingin dikenal orang), maka sebaiknya zakat diberikan dengan cara samar. Sebab amal yang dilakukan disertai riya‟ atau sum‟ah itu tidak diterima Alloh. Banyak kekasih / wali Alloh yang memberikan zakat dengan cara samar, karena khawatir akan timbul riya‟ atau sum‟ah. Dalam surat Al-Baqoroh 271, Alloh SWT berfirman :

ًَُْسَّىٌَ ْيَْخَََُٔٓذََءاَرَلُف

ْ

ىاَأَُْحْؤُحَوَأَُْفْ

تَُنوَإِ

ُ

ََّۚ

“Dan jika kamu menyembunyikan dan kamu berikan kepadaorang-orang faqir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu”.

d. Menjaga hati dari riya’ sum’ah dan lain-lain.

Apabila zakat diberikan secara terang-terangan (tidak disamarkan), maka berusahalah agar jangan sampai mempunyai keinginan dipuji atau dikenal orang.

e. Tidak menyebut-nyebut (membangga-banggakan) zakat

Dalam surat Al-Baqoroh 264, Alloh SWT berfirman :

ٍَََِّ

ْ

لاِةًَُسِحاَكَد َصَأ

ُيِطْتُتَ َلَأٌَُِآَََيِ َّلّاَآَُّحَأَاَي

َ

ىَذ

َ ْ

لْاَو

َّّٰ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”

Di antara penyakit hati yang kerap menghinggapi orang kaya dan pelaku zakat yang notabene bisa menghilangkan nilai pahala zakat atau shodaqoh adalah berbangga diri, menganggap diri sendiri lebih baik dari faqir miskin, menyebut-nyebut kebaikan diri sendiri, menyampaikan zakat disertai kata atau sikap kasar serta melecehkan.

Semestinya pemilik harta bersyukur dan berterima kasih kepada faqir, miskin atau golongan penerima zakat yang telah membebaskan mereka dari tanggung jawabnya. Jangan pernah menganggap diri sendiri lebih baik dan terhormat, karena salah dalam

(23)

f. Ikhlas dan menganggap ringan terhadap zakat

Pekara kecil jika dianggap besar akan menjadi berat, dan perkara besar jika dianggap kecil akan menjadi ringan. Jangan melihat nominalnya zakat, tapi lihatlah hikmah dibalik zakat. Jangan hanya melihat 2,5% nya harta yang keluar, tapi lihatlah juga 97,5 % harta yang tersisa. Bukankah Rp. 25.000,- nilainya sangat kecil jika dibanding Rp. 975.000,-. Diantara tanda-tanda orang munafiq adalah mengerjakan sholat dengan bermalas-malasan dan mengeluarkan zakat dengan terpaksa (tidak ikhlas)

g. Menggunakan harta tebaik

Standart minimal sahnya barang yang digunakan untuk zakat adalah sejenis dan setingkat dengan barang yang dizakati. Disunahkan barang yang digunakan untuk zakat lebih baik dari yang dizakati.

h. Mendahulukan penerima zakat yang lebih baik

Walaupun secara keseluruhan 8 ashnaf berhak menerima zakat, namun secara personal ada yang lebih layak untuk diprioritaskan. Orang-orang yang mempunyai prioritas untuk didahulukan adalah :

- Yang lebih taqwa dan tidak materialis - Yang ahli ilmu (agama)

- Yang jujur dan pandai bersyukur - Yang mempunyai harga diri (muru‟ah)

- Yang bertanggung jawab atas nafkahnya orang lain - Yang mempunyai pertalian darah (kerabat)

2. PENERIMA ZAKAT

Yang harus difahami oleh penerima zakat adalah : a. Mentasarufkan harta zakat secara benar

Hendaknya penerima zakat menyadari, bahwa hikmah dibalik kewajiban zakat atas orang-orang kaya adalah untuk meringankan beban kehidupan mereka. Sehingga penerima zakat dapat beribadah dengan baik. Zakat yang telah diterima harus digunakan dengan baik untuk menopang. Apabila zakat ditasarufkan pada jalan yang tidak benar, berarti penerima zakat telah kufur atas ni‟mat dan karunia Alloh SWT.

b. Berterima kasih dan mendo‟akan orang yang mengeluarkan zakat Ketika menerima zakat, penerima zakat disunnahkan berdo’a :

َِراَيْخ

َ

لْاَِوٍََخَ ِفَ َمَيٍََخَ َكََّزَوَِراَرْةَلْاَِبُْٔيُكَ ِفََمَتْيَكَُللاََرََٓط

َ

َِءاَدَٓ ُّشلاَ ِحاَوْر

َ

أَ ِفَ َمِحْوُرَ

َ َعَلَ َلَ َصَو

Wujudkanlah rasa terima kasih dengan menerima apa adanya, tidak menghina, tidak mencela, dan jika ada kurang baiknya harta zakat supaya dirahasiakan. Anggaplah zakat sebagai karunia, sehingga yang ada hanya rasa syukur dan terima kasih.

c. Wira‟i atau menjauhi yang tidak halal

Jika harta yang diterima ada yang halal dan tidak, maka usahakanlah untuk menggunaka yang halal saja.

d. Menerima sesuai kadar yang berhak diterima

Bagian yang diterima oleh masing-masing penerima zakat ada kemungkinan tidak sama, sesuai dengan kebutuhan yang tidak sama. Ada kemungkinan pembagian zakat yang

(24)

yang berhak diterima harus dikembalikan kepada pemilik harta, Imam, atau Amil. Jangan

menerima zakat jika tidak termasuk orang yang berhak menerima, hukumnya haram.

e. Meminta sesuai batas yang berhak diterima

Apabila Pemilik Harta / Amil / Imam melakukan pendataan, maka penerima zakat harus meminta sesuai yang berhak diterima, walaupun pemilik harta tidak wjib memberikan zakat sesuai jumlah yang diminta. Kecuali jika yang membagi Imam / amil dan jumlah harta zakat mencukupi.

(25)

V.

ZAKAT BINATANG TERNAK

1. JENIS BINATANG YANG WAJIB DIZAKATI.

Selama ini zakat binatang ternak kurang populer dan kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Mungkin dikarenakan tidak banyak orang yang mempunyai peternakan dalam jumlah besar. Petani dipedesaan biasanya hanya memepunyai beberapa ekor kambing, atau sepasang sapi untuk membajak sawah.

Binatang yang secara dzatiah wajib dikeluarkan zakatnya itu hanya meliputi 3 jenis, yaitu ; 1. Binatang unta.

2. Binatang sapi 3. Binatang kambing.

Selain tiga jenis binatang diatas, secara dzatiah tidak wajib dizakati. Seperti kuda, ayam, ikan dan lain-lain. Kecuali jika binatang-binatang tersebut menjadi benda yang diperdagangkan (komoditas perdagangan) maka wajib zakat atau tidaknya tergantung syarat-syarat dan mekanismenya zakat perdagangan. Jika memenuhi syarat dan mekanismenya tijaroh, maka wajib zakat dengan metode dan prosentasenya tijaroh, walaupun dalam pengelolaanya mengandung unsur peternakan.

Begitu juga tidak wajib dizakati adalah binatang peranakan dari binatang yang dzatiahnya wajib dizakati dengan binatang yang dzatiahnya tidak wajib dizakati. Misalnya, binatang peranakan dari kuda dengan sapi, peranakan sapi dengan himar dan lain lain.

Sedangkan binatang peranakan dari dua jenis binatang yang secara dzatiah wajib zakat, tetap wajib dizakati dengan batasan nishob yang lebih ringan. Misalnya peranakan unta (nishobnya 5 ekor) dan sapi (nishobya 30 ekor) itu nishobnya 30 ekor, sama dengan nishobnya sapi. Peranakan sapi (nishobnya 30 ekor) dengan kambing (nishobnya 40 ekor) itu nishobnya 40 ekor, sama dengan nishobnya kambing.

2. SYARAT BINATANG TERNAK YANG WAJIB ZAKAT.

Binatang unta, sapi, kerbau, kambing atau domba, wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Haul (genap satu tahun)

Binatang ternak wajib dizakati apabila sudah genap satu tahun dimiliki. Hikmah syarat genap satu tahun adalah agar harta tersebut dapat berkembang terlebih dahulu. Sabda Rosululloh

َ

َ

ل

ََز

ََكََة

َ

َِف

ٌَََ

ٍَلا

َ

ََح

َ َتَّ

َََُُ

َْٔ

ََلَ

ََع

ََيَْي

ََِّ

ََ

ْ

لْا

َْٔ

َُل

“ Tidak wajib zakat pada harta sehingga sampai (genap) tahunnya (HR. Daruqutni)

Haul atau masa satu tahun itu terhitung sejak jumlah binatang mencapai nishobnya, tidak dihitung dari saat pertama memiliki ternak (yang tidak mencapai nishob). Selain itu, selama satu tahun jumlah ternak tidak pernah kurang dari nishob. Maka masa satu tahun yang terhitung dari waktu sebelumnya menjadi batal (rusak), dan masa satu tahun dihitung kembali sejak jumlah

(26)

Contoh.

Pada tanggal 1 Muharram Umar memiliki (membeli) kambing 30 ekor. Kemudian tanggal 1 Shofar membeli lagi 10 ekor (=40 ekor). Pada bulan Rojab yang 15 ekor dijual (= 25 ekor), kemudian bulan Syawal membeli kambing lagi 20 ekor (= 45 ekor).

Keterangan : Masa satu tahun (haul) terhitung sejak satu Shofar, kemudian haul yang terhitung

dari 1 Shofar menjadi rusak (putus) dibulan Rojab. Dan haul terhitung lagi dari bulan Syawal. Jika sampai bulan Syawal berikutnya, jumlah ternak tidak berkurang dari nishob, maka zakat wajib dikeluarkan pada bulan Syawal.

2. Saum (digembalakan)

Artinya, dalam masa satu tahun binatang ternak diberi makan dengan cara digembalakan dipadang rumput yang mubah. Baik digembala oleh pemiliknya sendiri, atau oleh wakilnya. Dengan demikian binatang ternak yang tidak digembalakan alias binatang yang merumput sendiri, atau semua / sebagian makannya hasil dari pembelian, tidak wajib mengeluarkan zakat ternak.

Dan apabila makanan ternak tersebut sebagian dari pembelian dan sebagian lagi dari pengembalaan dipadang rumput yang mubah, maka hukumnya (zakat)nya diperinci sebagai berikut :

a. Jika makanan ternak yang berasal dari pembelian hanya sebagian kecil, kira kira tanpa adanya makanan hasil pembelian, ternak masih hidup tanpa menimbulkan bencana, maka tetap wajib dizakati.

b. Jika sebagian besar makanan ternak berasal dari pembelian, atau hanya sebagian kecil namun diperkirakan tanpa adanya makanan hasil pembelian, binatang ternak akan mati atau setidaknya timbul bahaya yang nyata, maka tidak wajib zakat.

Menurut sebagian Ulama‟, binatang ternak yang sebagian kecil makanannya berasal dari pembelian, tanpa adanya makanan hasil pembelian ternak masih bisa hidup dan tidak menimbulkan bahaya, namun diserai niat tidak digembalakan lagi, maka ternak juga tidak wajib dizakati.

Catatan .

a. sebagian Ulama berpendapat, binatang ternak yang sudah menetapi syarat haul dan saum wajib dizakati apabila ternak tersebut tidak digunakan sebagai alat bekerja oleh pemiliknya. Jika ternak digunakan sebagai sarana bekerja seperti digunakan sebagai sarana angkutan atau untuk membajak sawah, maka binatang ternak tidak wajib dizakati. Rosululloh bersabda :

ََىَْي

َ َس

َ

َِف

ََ

ْ

لباَ

ََل

َِرَ

ََعىا

ََٔ

َِما

َِوَ

ََص

ََد

ََكًَث

َ

“ Tiada (wajib) zakat pada sapi yang digunakan untuk bekerja” ( HR. Abu Dawud dan

Daruquthni )

b. Peternakan hewan itu berbeda dengan perdagangan hewan ternak. Peternakan hewan lebih mengacu pada sebuah system penggemukan dan zakatnya menggunakan sandart (syarat, nishob dan kadar) zakatnya binatang ternak. Sedangkan perdagangan hewan ternak lebih menitik beratkan pada unsur laba perdagangan, walaupun dalam prakteknya terkandung unsur peternakan. Dan zakatnya menggunakan standart (syarat, nishob, prosentase) zakatnya tijaroh (perdagangan).

(27)

3. NISHOB DAN KADAR ZAKATNYA BINATANG UNTA

Batas nishob atau jumlah minimal unta yang wajib dizakati adalah 5 ekor. Dibawah 5 ekor, tidak wajib zakat. Sedangkan kadar zakat yang harus dikeluarkan adalah sebagai tabel berikut ini : Jumlah ternak Jumlah zakat KETERANGAN

5 s/d 9 1 ekor Domba betina genap umur 1 tahun atau lebih. Atau kambing kacang betina genap umur 2 tahun atau lebih

10 s/d 14 2 ekor 15 s/d 19 3 ekor 20 s/d 24 4 ekor

25 s/d 35 1 ekor Unta jenis bintu makhodl

36 s/d 45 1 ekor Unta jenis bintu labun

46 s/d 60 1 ekor Unta jenis hiqqoh

61 s/d 75 1 ekor Unta jenis jadza‟ah 76 s/d 90 2 ekor Unta jenis bintu labun

91 s/d 120 2 ekor Unta jenis hiqqoh

121 3 ekor Unta jenis bintu labun

Keterangan :

Bintu ma’khdodl : Unta betina yang sudah genap umur 1 tahun, masuk umur 2 tahun.

Bintu labun : Unta betina yang sudah genap umur 2 tahun, masuk umur 3 tahun.

Hiqqoh : Unta betina yang sudah genap umur 3 tahun, masuk umur 4 tahun.

Jadza’ah : Unta betina yang sudah genap umur 4 tahun, masuk umur 5 tahun.

Apabila jumlah unta lebih dari 121 ekor, maka metode pembagian zakatnya adalah setiap 50 ekor (hasil pembagian 50) zakatnya unta betina umur 3 tahun genap atau lebih (hiqqoh), dan setiap 40 ekor (hasil pembagian 40) zakatnya unta betina umur 2 tahun genap atau lebih (bintu labun).

Berikut beberapa contoh dan metode membagi zakatnya unta diatas 121 ekor. a. Jika jumlah unta hanya bisa habis dibagi 50, maka zakatnya unta jenis hiqqoh.

Contoh.

Jumlah unta 150 ekor = 150 : 50 = 3

Zakatnya = 3 ekor unta hiqqoh

b. Jika jumlah unta hanya bisa dibagi 40, maka zakatnya unta jenis bintu labun Contoh.

Jumlah unta 160 ekor = 160 : 40 = 4 Zakatnya = 4 ekor unta bintu labun

c. Jika jumlah unta bisa dibagi habis dengan 50 saja atau 40 saja, maka zakatnya boleh unta jenis hiqqoh atau bintu labun.

Contoh.

Jumlah unta 200 ekor = 200 : 50 = 4 atau = 200 : 40 = 5

Zakatnya = 4 ekor unta hiqqoh atau 5 ekor unta bintu labun.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian evaluasi dan analisis laporan keuangan KUD Sumber Karya tahun 2018 dalam menyajikan dan mengungkapkan informasi akuntansi berdasarkan SAK ETAP menunjukkan

Tabel Pengakuan, Pengukuran dan Penyajian Laporan Keuangan (PSAP 01) gggggg. Pengak uan iiiiii. Pengu kuran jjjjjj. Penyaji an kkkkkk. -Diakui pada saat oooooo. a) Kas

3 Operator mengecek oli mesin 31,25 Kategori pekerjaan ringan, dengan karakteristik pekerjaan wajar/tingkat kesulitan ringan 4 Operator menghidupkan mesin 10,00 Kategori

Pribadi konselor efektif bisa ditunujukkan dari seberapa ketahan ujian seorang konselor dalam menghadapi masalah baik masalah yang dihadapinya sendiri maupun oleh

Tapi sudah terbukti, jika produk yang anda jual tidak jelek dan keyword nya juga hasil riset di Terapeak, 7 dari 10 auction pasti berakhir dengan sukses terjual.. Ini kerana

inar  dan sinar* merupakan radiasi +elom!an+ elektroma+netik ,an+ !erarti tidak mempun,ai massa maupun muatan listrik- .leh karena itu/ sinar  dan sinar*

Bank Kustodian akan menerbitkan Surat Konfirmasi Transaksi Unit Penyertaan yang menyatakan antara lain jumlah investasi yang dialihkan dan dimiliki serta Nilai Aktiva Bersih