BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Demografi Responden Penelitian

31  10  Download (0)

Teks penuh

(1)

60 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Demografi Responden Penelitian

Di dalam penelitian ini terdapat dua kategori responden yaitu 42 orang perawat dan 42 orang pasien yang sedang mendapatkan terapi Intravena. Penelitian dilakukan di tiga ruangan yaitu Ruang Anggrek, Ruang HCU dan Ruang Cempaka. Demografi responden penelitian perawat dijabarkan menurut umur, jenis kelamin, tingkat pengetahuan, dan lama bekerja. Demografi responden penelitian pasien dijabarkan menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, diagnosa medis, jenis terapi intravena, waktu dan lama pemasangan terapi intravena, serta letak pemasangan terapi intravena.

4.1.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ruangan/Bangsal

Distribusi frekuensi karakteristik pasien dan perawat di Ruang Anggrek, HCU (High Care Unit), dan Ruang Cempaka Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 4.1

Tabel Distribusi Frekuensi Karakteristik Ruangan

No Karakteristik Ruang

Anggrek HCU Cempaka 1. Jumlah tempat tidur 38 TT 6 TT 46 TT 2. Jumlah tempat tidur

yang terpakai

36 TT 6 TT 41 TT

(2)

61

yang tidak terpakai 4. Jumlah pasien yang terpasang terapi Intravena 34 orang 6 orang 38 orang 5. Jumlah pasien yang terpasang terapi intravena yang masuk ke dalam kriteria sampel 16 orang 6 orang 20 orang 6. Jumlah pasien yang terpasang terapi intravena yang tidak masuk kriteria sampel 18 orang - 18 orang 7. Jumlah pasien yang tidak terpasang terapi intravena 2 orang - 3 orang

Berdasarkan tabel 4.1, dapat dilihat di ruang Anggrek yang masuk ke dalam kriteria sampel penelitian sebanyak 16 orang, di ruang HCU yang terpasang infus sebanyak 6 orang, dan semua responden masuk kedalam kriteria sampel, dan di ruang Cempaka yang masuk ke dalam kriteria sampel penelitian sebanyak 20 orang, sehingga jumlah sampel pasien sebanyak 42 orang.

(3)

62

4.1.2. Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Umur

Tabel 4.2

Tabel Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Umur

No Umur Frekuensi Persentase

1. 25 – 40 tahun 38 90.5 %

2. 41 – 55 tahun 4 9.5 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden perawat adalah berumur antara 25-40 tahun yaitu sebanyak 38 orang (90,5%) dan responden yang berumur 41-55 tahun sebanyak 4 orang (9,5%).

4.1.3. Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Jenis Kelamin

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1. Laki-laki 9 21.4 %

2. Perempuan 33 78.6 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, dari 42 responden perawat, responden yang paling banyak adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 33 orang (78,6%) dan responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang (21.4%).

(4)

63

4.1.4. Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Tingkat Pendidikan

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase

1. D3 35 83.3 %

2. Sarjana 7 16.7 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat dari 42 responden perawat, tingkat pendidikan terbanyak adalah lulusan D3 yaitu sebanyak 35 orang (83,3%) dan Sarjana sebanyak 7 orang (16,7%).

4.1.5. Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Lama Bekerja

Tabel 4.5

Tabel Distribusi Frekuensi Responden Perawat Menurut Lama Bekerja

No Lama bekerja Frekuensi Persentase

1. < 5 tahun 15 35.7 %

2. > 5 tahun 27 64.3 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan Tabel 4.5 diatas dapat dilihat lama bekerja responden perawat terbanyak adalah lebih dari 5 tahun sebanyak 27 orang (64,3%) dan responden perawat yang bekerja kurang dari 5 tahun sebanyak 15 orang (35,7%).

(5)

64

4.1.6. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Umur

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Umur

No Umur Frekuensi Persentase

1. 20 – 40 thn 18 42.9 %

2. 41 – 60 thn 13 31.0 %

3. > 60 thn 11 26.2 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat dilihat dari 42 responden, responden pasien dengan umur 20 sampai 40 tahun sebanyak 18 orang (42,9%), reponden pasien dengan umur 41 sampai 60 tahun sebanyak 13 orang (31,0%), dan responden pasien yang berumur lebih dari 60 tahun sebanyak 11 orang (26,2%).

4.1.7. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Jenis Kelamin

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1. Laki-laki 17 40.5 %

2. Perempuan 25 59.5 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan Tabel 4.7 diatas dapat dilihat dari 42 responden pasien sebanyak 25 orang berjenis kelamin perempuan (59,5%), dan responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang (40,5%).

(6)

65

4.1.8. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Pekerjaan

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Pekerjaan

No Pekerjaan Frekuensi Persentase 1. Tidak Memiliki

Pekerjaan 8 19.0 %

2. Ibu Rumah Tangga 8 19.0 %

3. Mahasiswa 4 9.5 %

4. Pensiunan 4 9.5 %

5. Swasta 13 31.0 %

6. Wiraswasta 5 11.9 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.8 diatas dapat dilihat dari 42 responden pasien, 8 orang tidak memiliki pekerjaan (19,0%), 8 orang ibu rumah tangga (19,0%), 4 orang mahasiswa (9,5%), 4 orang pensiunan (9,5%), 13 orang sebagai pekerja swasta (31,0%), dan 5 orang bekerja wiraswasta (11,9%).

4.1.9. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Diagnosa Medis

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Diagnosa Medis

No Diagnosa Medis Frekuensi Persentase 1. AMI (Acute Myocardial

(7)

66 2. Demam Tipoid 1 2.4 % 3. DHF (Dengue Haemoragic Fever) 3 7.1 % 4. Diare 2 4.8 % 5. Dispepsia 1 2.4 % 6. DM (Diabetes Mellitus) 3 7.1 % 7. Febris 8 19.0 % 8. Gastritis 2 4.8 % 9. Hipertensi 5 11.9 % 10. Kanker Ovarium 1 2.4 % 11. Kolik Renal 1 2.4 % 12. Odonektomi 1 2.4 % 13. Pneumonia 1 2.4 %

14. Post Op. Laparatomi 1 2.4 % 15. SH (Stroke Haemoragic) 1 2.4 % 16. SNH (Stroke Non Haemoragic) 8 19.0 % 17. Tumor 1 2.4 % Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.9 diatas dapat dilihat dari 42 responden, jumlah responden dengan diagnosa medis terbanyak adalah Febris yaitu 8 orang responden (19,0%), 8 orang responden (19,0%) dengan diagnosa Stroke Non Haemoragic, dan 5 orang responden (11,9%) dengan diagnosa Hipertensi.

(8)

67

4.1.10. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Jenis Terapi Intravena

Tabel 4.10

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Jenis Terapi Intravena

No Jenis Terapi IV Frekuensi Persentase

1. Asering 1 2.4 % 2. DW 10% /(Dextrosa In Water)10% 2 4.8 % 3. DW 5% /(Dextrosa In Water)5% 2 4.8 % 4. NaCl 0,9%(Natrium Clorida) 2 4.8 % 5. RL (Ringer lactated) 30 71.4 % 6. RS (Ringer Solution) 5 11.9 % Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.10 diatas dapat dilihat jenis terapi yang paling banyak diberikan kepada responden pasien adalah cairan RL/Ringer Lactated sebanyak 30 orang (71,4%), cairan Asering sebanyak 1 orang (2,4%), cairan Dextrosa 10% sebanyak 2 orang (4,8%), cairan Dextrosa 5% sebanyak 2 orang (4,8%), cairan NaCl sebanyak 2 orang (4,8%), dan cairan RS sebanyak 5 orang (11,9%).

(9)

68

4.1.11. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Waktu Dan Lama Pemasangan Terapi Intravena

Tabel 4.11

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Waktu Dan Lama Pemasangan

No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Waktu Pemasangan a. 1 Desember 2011 23 54.8 % b. 2 Desember 2011 15 35.7 % c. 3 Desember 2011 4 9.5 % Jumlah 42 100 % 2. Lama Pemasangan a. 1 hari 4 9.5 % b. 2 hari 15 35.7 % c. 3 hari 23 54.8 % Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.11 diatas dapat dilihat dari 42 responden pasien, ketika dilakukan observasi pada tanggal 3 Desember 2011, responden dengan tanggal pemasangan 1 Desember 2011 dengan lama pemasangan 3 hari sebanyak 23 orang (54,8%), responden dengan tanggal pemasangan 2 Desember 2011 dengan lama pemasangan 2 hari sebanyak 15 orang (35,7%), responden dengan tanggal pemasangan 3 Desember 2011 dengan lama pemasangan 1 hari sebanyak 4 orang (9,5%).

(10)

69

4.1.12. Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Letak Pemasangan

Tabel 4.12

Distribusi Frekuensi Responden Pasien Menurut Letak Pemasangan

No Letak Pemasangan Frekuensi Persentase 1. Vena punggung

tangan kiri (vena Metakarpal /dorsalis sinistra)

16 38.1 %

2. Vena punggung tangan kanan (vena metakarpal/dorsalis dekstra)

12 28.6 %

3. Vena lengan tangan kiri (vena radialis sinistra)

11 26.2 %

4. Vena lengan tangan kanan (vena radialis dekstra)

2 4.8 %

5. Vena punggung kaki kiri (vena dorsalis pedis)

1 2.4 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.12 diatas dapat dilihat dari 42 responden pasien, letak pemasangan terapi intravena di vena punggung tangan kiri sebanyak 16 orang (38,1%), letak pemasangan terapi intravena di vena punggung tangan kanan sebanyak 12 orang (28,6%), letak pemasangan terapi intravena di vena lengan kiri sebanyak 11 orang (26,2%), letak pemasangan terapi intravena di

(11)

70

vena lengan tangan kanan sebanyak 2 orang (4,8%), letak pemasangan terapi intravena di vena punggung kaki kiri sebanyak 1 orang (2,4%).

4.1.13. Pengetahuan Perawat Tentang Terapi Intravena Tabel 4.13

Pengetahuan Perawat Tentang Terapi Intravena No Kategori Frekuensi Persentase

1. Rendah 7 16.7 %

2. Tinggi 35 83.3 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.13, dapat dilihat bahwa mayoritas responden penelitian secara umum memiliki pengetahuan yang tinggi dengan persentase 83,3% atau sebanyak 35 orang, sedangkan hanya 7 orang (16,7%) yang masuk kedalam kategori memiliki pengetahuan rendah.

4.1.14. Angka Kejadian Flebitis

Tabel 4.14

Angka Kejadian Flebitis

No Kategori Frekuensi Persentase

1. Rendah 40 95.2 %

2. Tinggi 2 4.8 %

Jumlah 42 100 %

Berdasarkan tabel 4.14, dapat dilihat bahwa angka kejadian flebitis di Rumah Sakit rendah dengan persentase 95,2 %.

(12)

71

4.1.15. Analisa Hubungan Antara Pengetahuan Perawat Tentang Pemasangan Terapi Intravena Dengan Angka Kejadian Flebitis

4.1.15.1. Uji Chi-Square

Setelah seluruh data terkumpul, kemudian peneliti melakukan pengolahan data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan program SPSS. Hasil pengolahan data secara statistik diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.15

Crosstabulation Pengetahuan Perawat dan Angka Kejadian Flebitis Angka Kejadian Flebitis Total Rendah Tinggi Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Terapi Intravena Rendah Count 6 1 7 Expected Count 6.7 0.3 7.0 Tinggi Count 34 1 35 Expected Count 33.3 1.7 35.0 Total Count 40 2 42 Expected Count 40.0 2.0 42.0 Tabel 2x2 diatas tidak layak untuk diuji dengan Chi-Square karena terdapat sel yang nilai expected-nya kurang dari 5 jumlah sel yaitu 0,3 dan 1,7. Oleh karena itu, uji yang dipakai adalah uji alternatifnya yaitu uji Fisher.

(13)

72

4.1.15.2. Analisa Uji Fisher

Tabel 4.16 Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 1.680a 1 0.195 Continuity Correctionb 0.105 1 0.746 Likelihood Ratio 1.258 1 0.262

Fisher's Exact Test 0.309 0.309

N of Valid Casesb 42

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 0.33.

b. Computed only for a 2x2table

Hasil dari table 4.16 diatas menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai Significancy adalah 0,309 untuk 2-sided (two tail) dan 0,309 untuk 1-sided (one tail). Karena nilai p > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa H0 diterima. Kesimpulan tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang terapi intravena dengan angka kejadian flebitis.

(14)

73

4.2. Pelaksanaan Penelitian 4.2.1. Perijinan

Untuk melakukan sebuah penelitian yang menjadi syarat utama adalah mendapatkan ijin dari pihak yang terkait, dalam hal ini adalah Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. Peneliti meminta surat perijinan untuk melakukan penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW yang ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. Peneliti mengirimkan surat tersebut pada tanggal 22 November 2011 dengan lampiran proposal penelitian dan instrumen penelitian ke bagian Diklat Rumah Sakit untuk kemudian diteruskan ke Direktur Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. Peneliti mendapatkan informasi perijinan pada tanggal 2 Desember 2011 melalui telepon dan kemudian disusulkan dengan surat ijin penelitian.

4.2.2. Pengumpulan Data

Peneliti melakukan dua kegiatan dalam penelitian ini, yaitu penyebaran angket untuk responden perawat dan melakukan observasi pada pada klien yang terpasang terapi intravena. Peneliti melaksanakan penyebaran angket di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang pada tanggal 2 sampai 9 Desember 2011. Peneliti melakukan penyebaran angket dilakukan sendiri oleh peneliti di ruang rawat inap/bangsal yaitu bangsal Anggrek, HCU, dan Cempaka. Kegiatan observasi dilakukan pada tanggal 3 Desember 2011 di 3 ruangan tersebut.

(15)

74

Angket pengetahuan perawat tentang terapi intravena dikerjakan sendiri oleh perawat yang telah dipilih oleh peneliti. Peneliti menyebarkan angket sebanyak 42 buah yang terbagi dalam 3 ruangan atau masing-masing ruangan 14 buah dan angket tersebut kembali diterima semua oleh peneliti dengan lengkap sebanyak 42 buah. Peneliti dapat menerima semua angket kembali karena peneliti menunggu responden penelitian mengisi angket hingga angket tersebut kembali dan semua angket dapat diolah. Selama 8 hari responden penelitian yang mengisi angket di tiga ruangan tersebut adalah 42 orang sehingga jumlah tersebut sudah memenuhi jumlah sampel penelitian.

Kegiatan observasi dilakukan pada tanggal 3 Desember 2011 di tiga ruangan yaitu ruang Anggrek, HCU, dan Cempaka selama 1 hari. Peneliti menggunakan Lembar Observasi Angka Kejadian Flebitis yang diisi sendiri oleh peneliti. Peneliti melakukan pengamatan langsung kepada klien yang terpasang infus di tiga ruangan tersebut.

(16)

75

4.3. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka pada bagian ini akan dibahas lebih lanjut hasil penelitian yang diperoleh.

4.3.1. Demografi Responden Perawat

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa mayoritas responden perawat adalah berumur antara 25-40 tahun yaitu sebanyak 38 orang (90,5%). Secara fisiologis pertumbuhan dan perkembangan seseorang dapat digambarkan dengan pertambahan umur. Dengan peningkatan umur diharapkan terjadi pertumbuhan kemampuan motorik sesuai dengan tumbuh kembangnya, yang identik dengan idealisme tinggi, semangat tinggi dan tenaga yang prima (Sastrohadiwiryo, 2002). Kemampuan berpikir kritis pun meningkat secara teratur selama usia dewasa (Perry & Potter, 2009).

Menurut Hurlock (1980), umur 25-40 tahun masuk dalam masa dewasa dini dimana pada masa ini orang akan memusatkan harapan-harapannya untuk mendapatkan pekerjaan, memilih teman hidup, membentuk keluarga, dan bersosialisasi. Pada masa ini orang akan berpacu dan bersaing dengan orang lain atau rekan kerjanya agar lebih produktif dalam bekerja. Orang akan menggunakan kemampuan motorik yang masih baik dalam belajar menguasai ketrampilan-ketrampilan motorik baru, dan menggunakan kemampuan mental seperti mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analogis, dan berpikir kreatif serta didukung dengan kemampuan fisik/tenaga yang masih efisien agar

(17)

76

mampu bersaing dengan lingkungannya. Menurut Perry& Potter (2009), pengalaman pendidikan formal dan informal, pengalaman hidup, dan kesempatan untuk bekerja dapat meningkatkan konsep diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan ketrampilan motorik individu.

Usia perawat yang diperoleh peneliti di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang banyak berkisar di masa dewasa muda, sehingga masih banyak perawat yang berpacu dan bersaing dengan menggunakan kemampuan motorik, kemampuan mental, penalaran analogis, berpikir kreatif, dan didukung dengan fisik/tenaga yang prima sehingga mampu memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan.

Responden penelitian perawat yang paling banyak adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 33 orang (78,6%) dan responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang (21.4%). Menurut Manajemen Keperawatan Rumah Sakit tidak ada batas yang pasti dan ideal untuk perbandingan antara perawat laki-laki dan perempuan. Namun dalam terkait dengan pengaturan jadwal dinas, dianjurkan dalam satu shift ada perawat laki-laki dan perempuan, sehingga apabila melakukan tindakan yang bersifat privacy bisa dilakukan oleh perawat yang sama jenis kelaminnya misalnya personal higiyene, eliminasi, perekaman EKG, pemasanga asesoris bed side monitor, dll (Kusumapraja, 2002).

(18)

77

Berdasarkan tabel 4.4 responden perawat dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah lulusan D3 yaitu sebanyak 35 orang (83,3%) dan Sarjana sebanyak 7 orang (16,7%). Menurut U.S Departement of Labor (2005), lulusan sarjana muda dan diploma atau yang setingkat merupakan sumber daya yang tumbuh paling signifikan dalam dunia kerja (Perry & Potter, 2009). Terdapat empat jenjang pendidikan keperawatan yaitu pendidikan D3 yang menghasilkan perawat vokasional, pendidikan Ners dimana menghasilkan Sarjana Keperawatan dan Perawat Profesional (Ners ”First, Profesional Degree ), pendidikan Ners Spesialis yang menghasilkan perawat ilmuwan (Magister) dan profesional (Ners Spesialis, ”Second Profesional Degree), dan pendidikan S3 Keperawatan yang menghasilkan perawat ilmuwan (Nursalam, 2011). Perawat profesional adalah perawat yang memiliki kriteria lulusan pendidikan tinggi keperawatan, mentaati kode etik, mampu berkomunikasi dengan pasien dan keluarga, serta mampu memanfaatkan sarana kesehatan yang tersedia secara berdaya guna dan berhasil guna, mampu berperan sebagai agen pembaharu dan mengembangkan ilmu serta teknologi keperawatan (Nursalam, 2002).

Hasil penelitian yang diperoleh, lama bekerja responden perawat terbanyak adalah lebih dari 5 tahun sebanyak 27 orang (64,3%) dan responden perawat yang bekerja kurang dari 5 tahun sebanyak 15 orang (35,7%). Semakin lama perawat bekerja semakin banyak kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya, sebaliknya

(19)

78

semakin singkat orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang ditanganinya. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian dan ketrampilan kerja (Sastrohadiwiryo, 2002). Dengan waktu selama itu pengetahuan perawat dan ketrampilannya terus diasah dengan bervariasinya kasus yang ditangani.

Dari hasil demografi responden perawat dapat disimpulkan bahwa usia perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang mayoritas di masa dewasa muda, sehingga perawat yang bekerja di Rumah Sakit ini masih saling berpacu dan bersaing memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang hampir semua sudah bekerja lebih dari 5 tahun, sehingga sudah banyak pengalaman, ketrampilan, pengetahuan, dan kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya.

4.3.2. Pengetahuan Perawat Tentang Terapi Intravena Berdasarkan tabel 4.13, dapat dilihat bahwa mayoritas responden penelitian secara umum memiliki pengetahuan yang tinggi dengan persentase 83,3% atau sebanyak 35 orang, sedangkan hanya 7 orang (16,7%) yang masuk kedalam kategori memiliki pengetahuan rendah.

Didalam melakukan asuhan keperawatan terapi intravena, perawat dituntut untuk mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, dan mengevaluasi dari setiap tahap-tahap tindakan terapi

(20)

79

intravena. Pengetahuan perawat tentang terapi intravena lebih dari 80% masuk kedalam kategori tinggi. Perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang sudah mampu untuk memahami atau dapat menjelaskan secara benar tentang tujuan pemberian terapi intravena, memahami pemilihan akses dan cara pemberian terapi intravena, memahami jenis cairan yang akan digunakan, memahami dan mengaplikasi standart operasional prosedur tindakan terapi intravena sesuai dengan standart yang berlaku di rumah sakit, serta mampu mengevaluasi, menganalisis dan mengidentifikasi komplikasi terapi intravena.

Jika dilihat dari usia perawat, mayoritas di usia dewasa muda (25-40 tahun), sehingga dari kemampuan untuk memahami, mengingat, dan bekerja sesuai dengan prosedur yang ada masih mampu dilakukan oleh perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang.

Menurut Perry& Potter (2009), Kemampuan seorang perawat dalam berfikir kritis dalam melakukan asuhan keperawatan akan terus meningkat secara teratur selama usia dewasa dengan banyaknya kasus dan pengalaman yang diperoleh selama perawat bekerja. Pengalaman perawat yang didapat dari pendidikan formal dan informal, pengalaman hidup, dan kesempatan untuk bekerja di Rumah Sakit, komunitas, maupun di tempat kerja yang lain dapat meningkatkan konsep diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan ketrampilan motorik perawat tersebut.

Tenaga perawat di Rumah Sakit ini mayoritas adalah lulusan D3 yang dikategorikan sebagai perawat

(21)

80

vokasional, dan tenaga perawat sarjana hanya beberapa ditiap ruangan, sehingga perawat sudah memiliki dasar pendidikan yang kuat untuk menjadi perawat yang profesional. Menurut U.S Departement of Labor (2005), lulusan sarjana muda dan diploma atau yang setingkat merupakan sumber daya yang tumbuh paling signifikan dalam dunia kerja (Perry & Potter, 2009). Dengan ditambah hampir semua perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang sudah bekerja lebih dari 5 tahun, sehingga sudah banyak pengalaman, ketrampilan, pengetahuan, dan kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya khususnya dalam melakukan asuhan keperawatan terapi intravena.

(22)

81

4.3.3. Angka Kejadian Flebitis

Berdasarkan tabel 4.14, dapat dilihat bahwa angka kejadian flebitis di Rumah Sakit rendah yaitu hanya terdapat dua kejadian flebitis.

Jika dihitung menggunakan rumus :

Persen Flebitis = Angka Kejadian x 100 Total pasien yang terpasang IV

Maka didapatkan hasil infeksi flebitis sebesar 4,76%. Sementara data yang didapatkan peneliti saat studi pendahuluan bahwa selama tahun 2010 sampai 2011 telah tercatat infeksi flebitis sebanyak 7,56% (Diklat RSPW Citarum Semarang, 2011). Menurut INS (Infusion Nurses Society, 2006) dalam Phillips (2010), Insiden flebitis harus di bawah 5% dari populasi pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Rumah Sakit Harus terus menjaga maupun menekan agar tidak terjadi infeksi flebitis dengan rata-rata 5% atau dibawah angka tersebut. Insiden flebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena, komposisi cairan, atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitas), ukuran dan tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme pada saat penusukan.

Faktor lain yang berkontribusi dalam insiden flebitis seperti trauma pada vena selama penusukan, cairan infuse yang bersifat asam atau alkali atau memiliki osmolalitas tinggi, penusukan ke pembuluh darah yang terlalu kecil, menggunakan jarum yang terlalu besar, jarum infuse yang lama tidak diganti, jenis bahan kateter infus, riwayat dan kondisi pasien, kondisi

(23)

82

pembuluh darah, stabilitas kanul, dan pengendalian infeksi di Rumah Sakit (Nursalam, 2011).

Selain itu faktor lain yang berkontribusi dalam insiden flebitis dalam penelitian ini antara lain faktor usia, dari hasil yang ada responden pasien dengan umur 20 sampai 40 tahun sebanyak 18 orang (42,9%), reponden pasien dengan umur 41 sampai 60 tahun sebanyak 13 orang (31,0%), dan responden pasien yang berumur lebih dari 60 tahun sebanyak 11 orang (26,2%). Menurut Phillips (2010), resiko untuk terjadi infeksi flebitis lebih besar pada orang yang lebih tua/lansia maupun pada anak-anak. Selain itu resiko flebitis lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding laki-laki. Pertimbangan usia harus digunakan, seperti pada anak-anak pemilihan tempat penusukan sangat penting, biasanya vena anak akan sangat mudah pecah seperti vena-vena dikulit kepala dan memerlukan perlindungan agar tidak mudah mengalami infiltrasi. Untuk pertimbangan geriatrik juga perlu diperhatikan karena otot-otot lengan menjadi kurang kuat karena proses penuaan, ketebalan kulit dermal menurun, lapisan subkutan berkurang yang membuat tendon dan vena menonjol sehingga akan beresiko untuk vena menjadi pecah ketika melakukan pungsi/memasang infus (Rocca, 1998).

Diagnosa medis ikut mempengaruhi insiden flebitis. Diagnosa medis terbanyak adalah Febris yaitu 8 orang responden (19,0%), 8 orang responden (19,0%) dengan diagnosa Stroke Non Haemoragic, dan 5 orang responden (11,9%) dengan diagnosa

(24)

83

Hipertensi. Penyakit yang dapat beresiko terjadi flebitis seperti Diabetes Melitus, infeksi, dan luka bakar.

Jenis cairan terapi intravena juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi dalam insiden flebitis, jenis cairan terapi intravena paling banyak diberikan kepada responden pasien adalah cairan RL/Ringer Lactated. Cairan ini memiliki konsertrasi elektrolit yang hampir sama dengan kadar plasma,indikasi pada pasien yang mengalami hipovolemi. Cairan ini masuk kedalam jenis cairan isotonis, contoh lainnya seperti Dekstrosa 5%, Dekstrosa 5% + NaCl 0,2%, Dekstrosa 5% + NaCl 0,3%, Normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). Jenis cairan hipertonik osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Pemberian cairan hipertonik yang cepat dapat menyebabkan kelebihan (overload) sirkulasi, dan dehidrasi. Pemberian cairan infus hipotonik yang berlebihan dapat menyebabkan deplesi cairan intravaskular, hipotensi, edema seluler, dan kerusakan sel. Oleh karena itu larutan ini digunakan hanya dengan observasi yang teliti karena dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Larutan hipotonis digunakan pada keadaan sel yang mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah, hiperglikemia. Contoh seperti NaCl 0,45%, NaCl 0,33% dan Dekstrosa 2,5%. Osmolaritas cairan dan pH infus yang ekstrem selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat

(25)

84

lebih flebitogenik dibandingkan normal saline (Rocca, 1998). Larutan Hipertonik seperti D10% yang memiliki tonisitas lebih dari 375, dapat meningkatkan resiko flebitis (Phillips, 2010).

Lama pemasangan juga menjadi salah satu faktor insiden flebitis. Ketika dilakukan observasi pada tanggal 3 Desember 2011, responden dengan lama pemasangan terlama adalah 3 hari sebanyak 23 orang (54,8%), Menurut Smith 2008, observasi dan penggantian set infus dilakukan dalam 3x24 jam setelah pemasangan terakhir sehingga dapat meminimalkan insiden flebitis. Hal tersebut juga menjadi standart yang diberlakukan oleh INS (Infusion Nurses Society) dimana terapi infus harus diganti setiap 72 jam atau kurang jika terdapat kontaminasi, komplikasi, atau terapi dihentikan (Phillips, 2010). Di rumah sakit Panti Wilasa Citarum sudah menerapkan prosedur unruk penggantian rutin set infus selama 3x24 jam sekali, sehingga dapat menekan jumlah kejadian infeksi flebitis.

Letak pemasangan terapi intravena juga dapat mempengaruhi insiden flebitis. Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena. Dari hasil yang didapat letak pemasangan terapi intravena yang biasa digunakan adalah di vena punggung tangan kiri, vena punggung tangan kanan, dan lengan kiri. Lokasi-lokasi yang

(26)

85

sering menyebabkan komplikasi seperti flebitis, infiltasi, dll adalah seperti vena digitalis sampai ke vena dorsalis. Vena dorsalis (metacarpal/punggung tangan) berasal dari gabungan vena digitalis, keuntungan pemasangan terapi intravena didaerah ini adalah pasien memungkinkan pergerakan lengan, mudah dilihat dan dipalpasi, sedangkan kerugiannya tempat penusukan sering macet karena digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, cuci tangan, dll (Rocca, 1998).

Pemilihan kateter penting untuk keberhasilan terapi intravena. Ketebalan dinding kateter dapat berpengaruh pada kecepatan aliran, sifat kelunakan kateter dapat berpengaruh pada lama/keawetan kateter, desain yang aman untuk mencegah cedera saat pemasangan terapi, dan ukuran kateter juga berpengaruh pada kecepatan aliran. Kateter yang terbuat dari silikone elastomer dan polyurethane kurang bersifat iritatif di vena dibanding politetrafluoroethylene (teflon). Bahan kateter yang terbuat dari silikone elastomer dan polyurethane permukaannya lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen (Rocca, 1998).

Flebitis dapat dicegah dengan menggunakan teknik aseptik selama pemasangan, menggunakan ukuran kateter dan jarum yang sesuai untuk vena, mempertimbangkan komposisi cairan dan medikasi ketika memilih daerah penusukan, mengobservasi tempat penusukan akan adanya komplikasi apapun

(27)

86 setiap jam, dan menempatkan kateter atau jarum dengan baik (Smeltzer, 2002).

4.3.4. Hubungan Antara Pengetahuan Perawat Tentang Pemasangan Terapi Intravena Dengan Angka Kejadian Flebitis

Berdasarkan analisa data pada Tabel 4.15 diatas, tabel tersebut tidak layak untuk diuji dengan Chi-Square karena sel yang nilai expected-nya kurang 5 dari 50% dari jumlah sel yaitu 0,3 dan 1,7. Oleh karena itu, uji yang dipakai adalah uji alternatifnya yaitu uji Fisher.

Hasil dari table 4.16 diatas menunjukkan hasil uji Fisher. Nilai Significancy adalah 0,309 untuk 2-sided (two tail) dan 0,309 untuk 1-sided (one tail). Karena nilai p > 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa H0 diterima. Kesimpulan tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang terapi intravena dengan angka kejadian flebitis.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi insiden flebitis diantaranya jenis larutan yang akan diberikan, lamanya terapi intravena yang diharapkan, kondisi vena, jenis obat yang diberikan, usia/ukuran pasien, riwayat kesehatan/status kesehatan pasien sekarang, dan ketrampilan dan pengetahuan tenaga kesehatan (Smeltzer, 2002).

Dilihat dari sisi pengetahuan perawat dapat dijelaskan bahwa mayoritas responden perawat berumur di masa dewasa dini sebanyak 90,5%. Menurut Hurlock (1980), umur 25-40 masuk dalam

(28)

87

masa dewasa dini dimana pada masa ini orang akan memusatkan harapan-harapannya untuk mendapatkan pekerjaan. Orang akan menggunakan kemampuan motorik yang masih baik dalam belajar menguasai ketrampilan-ketrampilan motorik baru, dan menggunakan kemampuan mental seperti mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analogis, dan berpikir kreatif serta didukung dengan kemampuan fisik/tenaga yang masih efisien agar mampu bersaing dengan lingkungannya. Menurut Perry& Potter (2009), Kemampuan seorang perawat dalam berfikir kritis dalam melakukan asuhan keperawatan akan terus meningkat secara teratur selama usia dewasa dengan banyaknya kasus dan pengalaman yang diperoleh selama perawat bekerja. Pengalaman perawat yang didapat dari pendidikan formal dan informal, pengalaman hidup, dan kesempatan untuk bekerja di Rumah Sakit, komunitas, maupun di tempat kerja yang lain dapat meningkatkan konsep diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan ketrampilan motorik perawat tersebut.

Mayoritas pendidikan perawat di Rumah Sakit Citarum Semarang adalah lulusan D3 sebanyak 83,3% dan lulusan sarjana sebanyak 16,7%, dengan sebaran tahun lulusan terbanyak antara tahun 2005 dan 2006 sehingga dapat dikatakan masih lulusan baru dan dengan tenaga sarjana ditiap ruangan minimal 2 orang yang dapat menjadi kontrol untuk menjaga mutu pelayanan keperawatan dimana beberapa diantara lulusan sarjana tersebut menduduki jabatan sebagai kepala dan wakil kepala ruang.

(29)

88

Lama bekerja terbanyak adalah lebih dari 5 tahun yaitu sebanyak 64,3% sehingga dapat disimpulkan bahwa perawat-perawat di Rumah Sakit Citarum Semarang mempunyai tingkat pengalaman yang cukup dan pengetahuan yang tinggi. Semakin lama perawat bekerja semakin banyak kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya, sebaliknya semakin singkat orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang ditanganinya. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian dan ketrampilan kerja (Sastrohadiwiryo, 2002).

Dari hasil perhitungan bahwa mayoritas responden penelitian secara umum memiliki pengetahuan yang tinggi dengan persentase 83,3%. Sedangkan angka kejadian flebitis di Rumah Sakit rendah. Insiden flebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena, jenis/komposisi cairan, atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitas), ukuran dan tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme pada saat penusukan. Faktor lain yang berkontribusi dalam insiden flebitis seperti trauma pada vena selama penusukan, cairan infus yang bersifat asam atau alkali atau memiliki osmolalitas tinggi, penusukan ke pembuluh darah yang terlalu kecil, menggunakan jarum yang terlalu besar, jarum infuse yang lama tidak diganti, jenis bahan kateter infuse, riwayat dan kondisi pasien, kondisi pembuluh darah, stabilitas kanul, dan

(30)

89

pengendalian infeksi di Rumah Sakit (Nursalam, 2011).

Dari beberapa penjelasan diatas disimpulkan bahwa pengetahuan perawat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum adalah tinggi dan angka kejadian flebitis rendah. Dari hasil analisa uji bivariat dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang terapi intravena dengan angka kejadian flebitis. Hal ini dapat disebabkan karena peneliti hanya memfokuskan pada pengetahuan perawatnya saja, tetapi tidak melihat dari aspek peralatan (alat dan bahan), aspek metode (ketrampilan/skill), dan lingkungan maupun aspek-aspek lain.

Aspek yang berpengaruh dalam kejadian flebitis yang perlu perawat ketahui selain pengetahuan perawat itu sendiri adalah dari aspek peralatan dan bahan dari terapi intravena seperti jenis cairan intravena, komposisi cairan, ukuran kateter. Pemilihan kateter yang benar adalah penting untuk keberhasilan terapi intravena. Seperti pada jarum kupu-kupu dapat digunakan pada situasi terbatas dan bersifat jangka pendek. Jarum ini mudah dimasukkan tetapi mudah menyebabkan infiltrasi. Pemilihan dan pertimbangan ketebalan dinding kateter dapat berpengaruh pada kecepatan aliran, ketajaman jarum dapat berpengaruh pada ada tidaknya gangguan saat melakukan penusukan, sifat kelunakan kateter berpengaruh pada masa pemasangan kateter, desain yang aman berpengaruh pada keamanan pasien dan perawat. Selain itu mempertimbangkan jenis dan komposisi

(31)

90

cairan intravena dapat mempengaruhi angka kejadian flebitis. Perawat perlu mengetahui jenis larutanseperti cairan isotonik, hipotonik, dan hipertonik. Perawat juga harus mempertimbangkan osmolalitas suatu larutan, tetap mengingat bahwa osmolalitas plasma adalah kira-kira 300 mOsm/L. Larutan Hipertonik seperti D10% yang memiliki tonisitas lebih dari 375, dapat meningkatkan resiko flebitis (Phillips, 2010). pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline (Rocca, 1998). Aspek lain yang ikut mempengaruhi Insiden flebitis seperti lamanya obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitas), Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral. Aspek-aspek dari lingkungan yang ikut mencetuskan seperti daerah kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, riwayat dan kondisi pasien, dan masuknya mikroorganisme pada saat penusukan. Ketrampilan perawat saat melakukan insersi juga dapat mempengaruhi infeksi flebitis, seperti trauma pada vena selama penusukan, penusukan ke pembuluh darah yang terlalu kecil, menggunakan jarum yang terlalu besar, jarum infus yang lama tidak diganti (Phillips, 2010).

Figur

Tabel 4.16 Chi-Square Tests

Tabel 4.16

Chi-Square Tests p.13

Referensi

Memperbarui...