Evaluasi Kadar Air Tanah, Bahan Organik dan Liat serta Kaitannya Terhadap Indeks Plastisitas Tanah Pada Beberapa Vegetasi di Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Panei/Dolok Pardamean di sebelah utara dan Kecamatan Jorlang Hataran di sebelah selatan. Kemudian di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Girsang Simpangan Bolon dan di sebelah timur dengan Kecamatan Sidamanik.

Luas wilayah Kecamatan Pamatang Sidamanik adalah 137,80 km2. Kecamatan ini terdiri dari 10 desa/nagori yakni Sipolha Horison, Pematang Tambun Raya, Sihaporas, Jorlang Huluan, Bandar Manik, Sait Buttu Saribu, Pematang Sidamanik, Sarimattin, Simattin dan Gorak ( BPS, 2014 ).

Kecamatan Pamatang Sidamanik merupakan daerah dengan ketinggian antara 950 - 1100 meter di atas permukaan laut sehingga baik untuk pengembangan tanaman pertanian dan perkebunan. Produk perkebunan yang banyak dihasilkan antara lain teh sedangkan produk pertaniannya antara lain cabai.

(2)

Apabila pengolahan lahan penanaman tanaman teh telah selesai dilakukan, tanah perlu diratakan kembali. Dalam kurun waktu 1,5 atau 2 bulan setelah tanaman ditanam, gulma mulai tumbuh dan perlu disiangi. Penyiangan dengan cara manual perlu diulangi 1 bulan kecuali ada serangan hama dan penyakit. Untuk Tanaman Baru penyiangan di ulang 20 hari sekali.

Pemupukan tanaman teh dapat diberikan melalui 2 cara, yaitu dengan disebar di sekitar tanah dan melalui daun. Pupuk makro dengan jumlah yang cukup besar lebih efektif diberikan lewat tanah. Tanaman teh mempunyai daerah perakaran aktif pada jarak 30-40 cm dari batang utama dengan kedalaman 5-10 cm. Pada daerah akar aktif terjadi penyerapan hara yang intensif maka jarak penempatan pupuk harus 30- 40 cm dari batang perdu teh.

Untuk menjaga lahan tanaman teh dari erosi maka dilakukan penanaman pohon pelindung tetap dan sebaiknya ditanam 1 tahun sebelum atau bersamaan waktu tanaman teh ditanam. Ada 2 macam tanaman pelindung yaitu tanaman pelindung sementara dan tetap. Tanaman pelindung sementara dipakai jenis

(3)

Tabel 1. Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik

No Desa/ Nagori Tanaman Cabai

Luas areal (Ha) Produksi/tahun (ton)

Sumber : Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kecamatan Pamatang Sidamanik

Pengolahan lahan cabai di Kecamatan Pamatang Sidamanik umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang sederhana seperti cangkul. Lahan petanaman kemudian dibentuk bedengan. Beberapa petani menggunakan mulsa dalam pertanaman. Hal ini dilakukan untuk mempermudah perawatan, efisensi unsur hara dan mengurangi terjadinya erosi. Selain itu, beberapa petani mengolah lahan dengan menggunakan sistem guludan dan tumpang sari dengan beberapa tanaman. Hal ini dilakukan untuk efisiensi lahan dan hasil yang diperoleh lebih bervariasi.

Kadar Air Tanah

Tanah dengan kadar air lebih tinggi dari batas cair maka akan dapat melekat pada alat pengolah tanah dan apabila kadar airnya bertambah lagi maka tanah bersama air akan mengalir (Hardjowigeno, 1995).

(4)

kadar air ini, sejumlah tanah basah dikeringkan dalam oven pada suhu antara 100oC sampai 110oC untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah basah (Hakim, dkk., 1986).

Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air dalam tanah. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut dalam tanah. Air dapat menyerap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi, karena air higroskopik dan air kapiler. Tanah tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat (gram) mempunyai luas pemukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara lebih tinggi (Hardjowigeno, 2003).

Faktor-faktor kadar dan ketersedian air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umumnya bervariasi terutama pada tekstur tanah. Kadar air tanah bertekstur liat > lempung > pasir misalnya pada tegangan 1/3 atm (kapasitas lapang) kadar air tanah pada masing-masing adalah sekitar 55 %. Hal ini terkait dengan pengaruh tekstur terhadap koloid tanah, ruang pori dan luas permukaan adsorbsi, yang makin halus teksturnya dan makin banyak, sehingga makin besar kapasitas simpan airnya. Hasilnya berupa peningkatan kadar dan ketersediaan air tanah ( Hanafiah, 2005).

Bahan Organik

(5)

tanaman, baik berupa daun, batang/cabang, ranting, buah maupun akar, sedangkan sumber sekundernya berupa jaringan organik fauna termasuk kotorannya serta mikroflora (Hanafiah, 2009).

Pengukuran plastisitas pada profil tanah yang berbeda menunjukkan batas plastis yang berbeda antara horizon lapisan atas dan lapisan dibawahnya. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan keberadaan bahan organik pada horizon permukaan (Lubis, 2015).

Kandungan bahan organik tanah akan mempengaruhi porositas tanah sehingga mempengaruhi besar densitas dan kadar air tanah, konsistensi (Braja et al, 1993). Bertambahnya kandungan bahan organik akibat bertambahnya dosis POG menyebabkan bertambahnya porositas tanah sehingga meningkatkan kemampuan tanah memegang molekul air yang ditandai dengan bertambahnya kadar air tanah pada batas plastis dan batas cair (Pramuhadi dan Dymaz, 2006).

Kuantitas dan kualitas input bahan organik akan berpengaruh pada kandungan bahan organik tanah. Substrat organik dengan C/N rasio sempit (<25) menyebabkan dekomposisi berjalan cepat, sebaliknya pada bahan dengan C/N lebar maka mendorong immobilisasi, pembentukan humus, akumulasi bahan organik, dan peningkatan struktur tanah (Supriyadi, 2008).

Indeks Plastisitas Tanah

(6)

keadaan fisik tanah melalui perubahan kadar air. Batas antara perbedaan kondisi plastis berdasarkan kadar air tersebut disebut batas Atterberg (Kurnia ,dkk., 2006).

Menurut Atterberg (1911), indeks plastisitas adalah selisih batas cair dan batas plastis. Indeks plastisitas merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. Karena itu, plastisitas menunjukkan sifat keplastisan tanah. Jika tanah mempunyai PI tinggi, maka mengandung banyak butiran lempung. Jika PI rendah, seperti lanau, sedikit pengurangan kadar air berakibat tanah menjadi kering (Hardiyatmo, 2010).

Pemeriksaan batas-batas Atterberg diperlukan untuk memperoleh garis besar sifat-sifat tanah yang digunakan. Sifat tersebut dapat dilihat dari batas cair, batas plastis dan batas susut. Batas susut tanah merupakan batas dimana jika terjadi pengurangan air lebih lanjut tidak menyebabkan berkurangnya volume tanah atau kadar air batas antara semipadat dengan padat (Wiryasa, dkk., 2008) Padat Semipadat Plastis Cair

Batas susut Batas plastis Batas cair

Gambar Hubungan antara Kadar Air dengan Batas Atterberg (Wiryasa, dkk., 2008).

Batas cair adalah jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah. Batas plastis adalah kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digulung lagi (Hardjowigeno, 1995).

(7)

Tabel 2 . Nilai Indeks plastisitas

Kandungan bahan organik cenderung meningkat dengan meningkatnya kandungan liat. Ikatan antara liat dan bahan organik melindungi bahan tersebut dari aksi dekomposisi oleh mikroba tanah. Tingginya kandungan liat juga berpotensi tinggi untuk formasi agregat. Agregat makro akan melindungi bahan organik dari mineralisasi lebih lanjut. Pada kondisi iklim yang sama kandungan bahan organik tanah bertekstur halus (berliat) bisa mencapai 2- 4 kali kandungan bahan organik di tanah ( Supriyadi, 2008).

Partikel- partikel liat bersama air perkolasi bergerak dari horizon A dan ditumpukkan (deposit) dizona horizon B. Dengan demikian, kandungan liat ini pada horizon ini adalah tinggi. Terdapatnya kulit-kulit liat (clay skin) atau cutan atau mantel pada permukaan agregat tanah dan pada ruang pori-pori Bt membuktikan transkolasi liat itu memegang peranan penting dalam perkembangan tekstur profil tanah. Tanah dengan 25 % liat misalnya, maka liat monmorillonit akan lebih plastis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 70 % liat yang terdiri dari oksida-oksida berair dari besi dan aluminium (Hakim, dkk., 1986).

(8)

maupun posirif. Pada kondisi biasa liat memperoleh muatan negatif dan pada kondisi tertentu permukaan tepi liat yang patah memperoleh muatan positif ( Tan, 1992).

Figur

Tabel 1. Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik  No Desa/ Nagori Tanaman Cabai

Tabel 1.

Rincian luas lahan cabai dan produksinya di beberapa desa Kecamatan Pamatang Sidamanik No Desa/ Nagori Tanaman Cabai p.3

Referensi

Memperbarui...