Penapisan Bakteri Kitinolitik dari Sumber Air Panas Penen, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang dan Karakterisasi Kitinasenya

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Mikroorganisme termofil merupakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang pada kisaran suhu antara 45 – 65 ᴼC (Rudiger, 1994). Enzim dan protein yang dihasilkan mikroorganisme termofil lebih resisten terhadap panas bila dibandingkan dengan bakteri mesofil (Zubaidah, 2000). Mikroorganisme termofil menghasilkan enzim yang dapat aktif di atas suhu lingkungan hidupnya dan dapat dimanfaatkan dalam bidang industri yang menggunakan suhu tinggi pada proses produksi (Rudiana, 2003).

Enzim termostabil memiliki beberapa kelebihan karena sifat termostabil dan resistensinya terhadap perubahan faktor-faktor fisik dan kimia. Enzim termostabil sangat penting dalam aplikasi bioteknologi dan industri, seperti dalam teknik-teknik biologi molekuler untuk kegunaan penelitian dan diagnostik (enzim yang memproses DNA dan RNA) dan kemampuan enzim mengubah tepung makanan, pengelolaan sampah, sintesis organik, pembuatan kertas, industri kulit dan lain-lain (George, 2001).

Salah satu enzim yang banyak mendapat perhatian saat ini ialah kitinase. Kitinase merupakan kelompok enzim yang menghidrolisis ikatan β-1,4 dalam kitin ke berat molekul yang lebih rendah (Sahai & Manocha, 1993). Kitinase dapat dihasilkan oleh bakteri dan jamur yang diperoleh dari berbagai sumber seperti rizosfer dan filosfer, tanah atau dari lingkungan air seperti laut, danau, kolam, atau limbah udang dan sebagainya (Herdyastuti et al. 2009). Bakteri kitinolitik tidak hanya ditemukan pada lingkungan mesofil, namun juga

ditemukan pada lingkungan termofil seperti Bacillus licheniformis MB-2 diperoleh dari Danau Tompaso, Sulawesi Utara (Toharisman, 2004), Bacillus sp. Hu1 diperoleh dari tanah sumber air panas Xinjiang di Cina (Dai et al. 2011)

(2)

pertanian kitinase berperan sebagai kontrol patogen tanaman (Dahiya et al. 2005). Hasil pengujian in vitro enzim kitinase ekstraselluler, Cellulosimicrobium cellulans 191 mampu melisiskan dinding sel jamur Rhizopus oligosporus, Mucor miehei, Penicillium sp., Streptomyces. phaerochromogenes, Trichoderma viride (Fleuri et al. 2009).

Mengingat pentingnya peranan kitinase dalam berbagai bidang, berbagai usaha dilakukan untuk mencari, menyeleksi dan mengembangkan bakteri yang memiliki kemampuan memproduksi kitinase yang tinggi. Salah satu kawasan yang memberikan peluang besar untuk mendapatkan bakteri potensial penghasil kitinase ialah air panas Penen, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Beberapa mikroorganisme yang diisolasi dari sumber air panas Penen memiliki aktivitas amilolitik (Sianturi, 2008) dan proteolitik (Afriani, 2008), namun belum ada laporan mengenai mikroorganisme penghasil kitinase di daerah tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penapisan bakteri kitinolitik dan karakterisasi kitinasenya.

1.2Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan isolat bakteri kitinolitik dari sumber air panas Penen.

2. Mengetahui karakter kitinase isolat bakteri kitinolitik terpilih dengan beberapa konsentrasi ammonium sulfat dari sumber air panas Penen.

3. Mengidentifikasi bakteri kitinolitik isolat terpilih dari sumber air panas Penen berdasarkan sekuen gen penyandi 16S rRNA.

1.3Rumusan Masalah

(3)

1.4Hipotesis Penelitian

Terdapat isolat bakteri kitinolitik termofilik asal Penen yang menghasilkan kitinase yang aktif pada rentang pH dan suhu yang luas.

1.5Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumber informasi mengenai potensi bakteri kitinolitik yang terdapat pada air panas Penen.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...