Pemerintah Desa dalam Pengaturan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah A. Nomenklatur dan Status Desa
Dibawah UU No.5/1979 tentang Pemerintahan Desa, satuan pemerintahan terenddah dibawah kecamatan disebut dengan nomenklatur desa. Di seluruh Indonesia nomenklaturnya sama, yaitu desa. Bahkan tidak hanya nomenklaturnya yang diseragamkan, melainkan juga struktur organisasinya dan mekanisme kerjanya. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan pemerintahan desa yang efisien sehingga dapat menerima tugas-tugas pembangunan yang menjadi prioritas pemerintah saat itu. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka semua satuan pemerintahan terendah seperti nagari di Sumatera Barat, gampong di Aceh, marga di Sumatera Selatan, huta di Sumatera Utara dan lain-lain mengubah nomenklaturnya menjadi desa.
Penyeragaman nomenklatur dan organisasi desa tersebut kemudian menciptakan perasaan kurang senang dalam masyarakat luar Jawa karena merasa dipaksa untuk menerima konsep desa Jawa. Bahkan banyak kelompok masyarakat yang menyebut jawanisasi desa luar Jawa tersebut sebagai penjajahan cultural oleh penguasa Jawa kepada masyarakat luar Jawa. Masyarakat luar Jawa kurang senang karena secara kelembagaan, sosial budaya, dan tata kerjanya “desa” di luar Jawa tidak sama dengan desa di Jawa. Dalam kenyataannya “desa” di luar Jawa mempunyai kelembagaan , struktur organisasi, dan mekanisme kerja yang sangat beragam.
Berdasarkan pengalaman tersebut, maka dalam UU No 32 Tahun 2004 masalah nomenklatur diserahkan kepada masing-masing daerah. Artinya, setiap daerah bisa menyebut satuan pemerintahan terendah dengan istilah yang sudah hidup sejak zaman dulu seperti nagari, huta, gampong, kampung, marga dan lain-lain. Dengan demikian, di daerah luar Jawa sebutan untuk desa menjadi beragam.
Status desa adalah satuan pemerintahan di bawah kabupaten/kota. Desa tidak sama dengan kelurahan yang statusnya di bawah camat. Kelurahan hanyalah wilayah kerja lurah di bawah camat yang tidak mempunyai hak mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Sedangkan desa atau yang disebut dengan nama lain adalah kesatuan masyarakat hokum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesi (UU No.32/2004)
tangan panjang bupati di wilayah kerja tertentu yaitu kecamatan yang salah satu tugasnya adalah melakukan koordinasi, sinkronisasi, pengawasan dan pembinaan terhadap desa-desa. Hal tersebut berbeda dengan status camat pada zaman Orde Baru yaitu tangan panjang pemerintah pusat di bawah pembinaan menteri dalam negeri, gubernur dan bupati/walikota.
B. Kewenangan Desa
1. Kewenanangan yang Sudah Ada Berdasarkan Hak Asal-Usul Desa
Desa tumbuh dari komunitas yang menyelenggarakan urusannya sendiri, self governing community, kemudian diakui oleh pemerintah kolonial sebagai kesatuan masyarakat hokum dan akhirnya berkembang menjadi kesatuan masyarakat hukum adat. Sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, desa telah memiliki lembaga yang mapan dan ajeg yang mengatur perikehidupan masyarakat desa yang bersangkutan. Berdasarkan pendapat Ter Haar, masyarakat hukum adat mempunyai tiga komponen yaitu: 1)skumpulan orang yang teratur, 2) mempunyai lembaga yang bersifat ajeg dan tetap, 3) memiliki kekuasaan dan kewenangan mengurus harta benda.
Komponen pertama yaitu bahwa desa merupakan sekelompok orang yang teratur, berarti bahwa di desa tinggal orang-orang yang membentuk sistem kemasyarakatan yang teratur. System kemasyarakatan yang teratur menunjuk pada adanya pola tata tindak sekumpulan orang tersebut berdasarkan peran,status dan fungsi masing-masing yang mengacu pada nilai dan norma yang disepakati bersama. Konkritnya, di desa tidak hanya ada orang-orang yang tinggal bersama saja, melainkan orang-orang yang tinggal bersama tersebut membentuk suatu system kerja sama yang teratur. Orang-orang yang tinggal di desa mengatur diri dengan cara memposisikan diri dalam status, peran, dan fungsi tertentu dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Komponen kedua, yaitu mempunyai lembaga yang bersifat tetap dan ajeg. Artinya bahwa masyarakat desa mempunyai lembaga sosial yang mapan. Lembaga berasal dari kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat. Lembaga ini menjadi pola perilaku masyarakat yang fungsional dalam rangka memenuhi kehidupannya. Masyarakat desa sebagai kesatuan masyarakat hukum adat mempunyai lembaga-lembaga sosial yang melekat dalam dirinya. Pola perilaku itu berjalan begitu adanya, dengan sendirinya, tanpa ada yang mengatur atau memaksa dan jika tidak dilakukan akan mengganggu keteraturan masyarakat.
masyarakat desa mempunyai lembaga arisan kerja, gotong royong, jamaah pengajian, kumpulan pencak silat, kumpulan seni tradisional, dll. Semua lembaga tersebut begitu teratur, mapan, dan fungsional dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat desa yang bersangkutan.
Komponen ketiga, yaitu desa mempunyai kewenangna mengurus harta benda, berarti bahwa desa mempunyai harta benda sendiri yang diatur dan diatur oleh masyarakat desa sendiri. Harta benda milik desa tersebut tidak diatur dan ditentukan oleh pemerintah atasnya (kabupaten, provinsi, pusat). Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, hampir semua desa mempunyai harta benda berupa tanah banda desa dan tanah bengkok. Tanah banda desa adalah tanah komunal milik masyarakat desa yang diperuntukkan untuk membiayai pembangunan dan pemeliharaan desa. Seddangkan tanah bengkok adalah tanah komunal milik masyarakat desa yang diperuntukkan sebagai honor/gaji pada pengurus desa selama menjabat. Beberapa desa ada yang mempunyai tanah gembalaan, kolam ikan, alun-alun. Disamping memiliki tanah, ada juga desa yang mempunyai pasar desa, tempat wisata, tempat pemandian, dermaga, dan pelabuhan. Semua harta benda yang dimilki tersebut pengaturannya (pembuat kebijakannya) dan pengurusannya (pelaksanaannya) dibuat sendiri oleh masyarakat desa yang bersangkutan.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan kewenangan yang sudah ada berdasarkan asal-usulnya adalah kewenangan yang mengacu pada pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum adat tersebut. Untuk dapat mengidentifikasi kewenangan berdasarkan asal-usul ini maka perlu dilakukan tiga langkah:
1. Melihat lembaga-lembaga apa saja yang fungsional dalam mengatur perikehidupan masyarakat 2. Menginventarisir harta benda yang dimilikinya dan
3. Menghubungkan antara lembaga yang dikembangkan masyarakat desa yang bersangkutan dengan tata cara pengaturan dan pengurusan harta benda yang dimiliki.
Berdasarkan tiga langkah tersebut, maka akan muncul beberapa urusan yang diselenggarakan oleh masyarakat desa. Urusan-urusan tersebut dalam penyelenggaraannya menyatu dengan lembaga-lembaga yang dikembangkan yang didukung oleh harta benda yang dimiliki. Misalnya, Desa Loireng Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah pada masa sebelum UU No.5/1979 menyelenggarakan otonomi asli dalam bentuk sebagai berikut. Desa menyelenggarakan urusan keamanan dibawah koordinasi bayan polisi, urusan keagamaan Islam dan adat dibawah koordinasi modin, urusan pengairan di bawah koordinasi ulu-ulu, dan urusan peradilan di bawah lembaga peradilan yang diketuai kepala desa dengan anggota kamituuwo, tokoh ulama, dan tokoh adat/masyarakat.
Dalam UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, urusan pemerintahan ada yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, ada yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi, dan ada yang diselenggarakan oleh pemerintahan kabupaten/kota. Pengaturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Dengan PP No. 38/2007 tersebut urusan pemerintahan yang pengaturan dan pengurusannya diserahkan kepada pemerintahan daerah kabupaten/kota sangat jelas dan rinci.
Dalam rangka memperkuat desa, pemerintah mngeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyerahan Urusan Pemerintahan Kabupaten/kota kepada Desa. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa urusan pemerintahan kabupaten/kota yang dapat diserahkan kepada desa antara lain:
1. Bidang Peranian dan Ketahanan Pangan;
2. Bidang Pertambangan dan Energi serta Sumber Daya Mineral; 3. Bidang Kehutanan dan Perkebunan;
4. Bidang Perindustrian dan Perdagangan; 5. Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah; 6. Bidang Penanaman Modal;
7. Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 8. Bidang Kesehatan;
9. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan; 10. Bidang Sosial;
11. Bidang Penataan Ruang;
12. Bidang Pemukiman/Perumahan; 13. Bidang Pekerjaan Umum; 14. Bidang Perhubungan; 15. Bidang Lingkungan Hiidup;
16. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi Publik; 17. Bidang Otonomi Desa;
18. Bidang Perimbangan Keuangan; 19. Bidang Tugas Pembantuan; 20. Bidang Pariwisata;
21. Bidang Pertanahan;
22. Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil;
23. Bidang Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, dan Pemerintahan Umum; 24. Bidang Perencanaan;
25. Bidang Penerangan/Informasi dan Komunikasi;
26. Bidang Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak; 27. Bidang Keluarga Berencana ddan Keluarga Sejahtera; 28. Bidang Pemuda dan Olahraga;
29. Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa; 30. Bidang Statistik; dan
Itulah urusan-urusan pemerintahan yang sudah menjadi kompetensi kabupaten/kota yang dapat diserahkan pengaturan dan pengurusannya kepada desa. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penyerahan urusan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota kepada Desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
3. Tugas Pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota. Dalam sistem pemerintahan desentralistik menurut UU No.32/2004, pemerintah pusat menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang luar negeri, keamanan, pertahanan, keuangan, dn moneter nasional, justisi dan agama. Sedangkan pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur dan mengurus urusan pemerintahan sisanya yang mencakup 31 urusan pemerintahan baik berupa urusan wajib maupun urusan pilihan. Pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota tersebut diatur dalam UU No. 38/2007.
Terhadap urusan pemerintahan yang sudah menjadi kewenangannya, pemerintah pemilik kewenangan dapat meminta kepada pemerintahan bawahannya untuk melaksanakan sebagian kewenangan miliknya tersebut disertai biaya dan sumber daya yang diperlukan. Pemerintah atasan meminta kepada pemerintah bawahan untuk melaksanakan sebagian atau seluruh kewenangan tersebut disebut tugas pembantuan. Misalnya, pemerintah pusat adalah pemilik kewenangan pertahanan dan keamanan. Pemerintah pusat dapat meminta provinsi, kabupaten/kota, dan desa melaksanakan pelatihan bela Negara kepada semua warga yang tinggal di wilayahnya.
Tugas pembantuan bisa berasal dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, bisa berasal dari provinsi saja atau bisa berasal dari kabupaten/kota saja. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota kepada desa wajib disertai dengan dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia. Penyelenggaraan tugas pembantuan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Jika tugas pembantuan tidak disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia, desa berhak menolak.
4. Urusan Pemerintahan Lainnya yang oleh Peraturan Perundang-Undangan Diserahkan Kepada Desa
Disamping mempunyai kewenangan asli, kewenangan yang diserahkan dari kabupaten/kota dan tugas pembantuan, desa juga dapat menerima urusan pemerintahan lainnya yang diserahkan kepadanya. Urusan pemerintahan lainnya yang diserahkan kepada desa berdasarkan undang-undang sampai saat ini belum ada.
Penyelenggaraan pemerintah desa dilakukan oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Pemerintah Desa adalah organisasi pemerintahan desa yang terrdiri atas:
a. Unsur pimpinan, yaitu kepala desa;
b. Unsur pembantu kepala desa, yang terdiri atas:
1. Sekretariat Desa, yaitu unsur staf atau pelayanan yang diketuai oleh sekretaris desa;
2. Unsur Pelaksana Teknis, yaitu unsur pembantu Kepala Desa yang melaksanakan urusan teknis di lapangan seperti urusan pengairan, keagamaan, dan lain-lain;
3. Unsur Kewilayahan, yaitu pembantu kepala desa di wilayah kerjanya seperti kepala dusun.
Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan pembanguna dan kemasyarakatan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala desa mempunyai wewenang:
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD;
b. Mengajukan rancangan peraturan desa;
c. Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD;
d. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APBDesa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD;
e. Membina kehidupan masyarakat desa; f. Membina perekonomian desa;
g. Mengoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif;
h. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
i. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
Dalam melaksanakan tugas dan wewenanganya, kepala desa mempunyai kewajiban:
a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan UUD 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan NKRI;
b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat; d. Melaksanakan kehidupan demokrasi;
e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari KKN; f. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa;
h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik;
i. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa; j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa;
k. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa; l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa;
m. Membina,mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat; n. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa;
o. Mengembangkan potensi SDA dan melestarikan lingkungan hidup.
Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah berdasarkan peraturan pemerintah. Agar fokus pada pelayanan kepada masyarakat, kepala desa dilarang:
a. Menjadi pengurus partai politik;
b. Merangkap jabatan sebagai ketua dan/anggota BPD, dan lembaga kemasyarakatn di desa bersangkutan;
c. Merangkap jabatan sebagai anggota DPRD;
d. Terlibat dalam kampanye pemilihan umum, pemilihan presiden, dan pemilihan kepala daerah;
e. Merugikan kepentingan umum, meresahkan kelompok masyarakat, dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat lain;
f. Melakukan KKN, menerima uang, barang dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;
g. Menyalahgunakan wewenang; h. Melanggar sumpah/janji jabatan.
Kepala Desa berhenti karena 1) meninggal dunia, 2) permintaan sendiri, atau 3) diberhentikan. Kepala Desa diberhentikan karena:
a. Berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru;
b. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tettap secara berturut-turut selama 6 bulan;
d. Dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan;
e. Tidak melaksanakan kewajibak kepala desa; dan/atau f. Melanggar larangan bagi kepala desa.
Masa jabatan kepala desa adalah enam tahun, yang dihitung sejak yang bersangkutan dilantik. Kepala desa yang sudah menduduki jabatan kepala desa hanya boleh menduduki jabatan kepala desa lagi untuk satu kali masa jabatan.
Sesuai dengan prinsip demokrasi, kepala desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada bupati/walikota, memberikan laporan pertanggungjawaban kepada BPD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat. Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa disampaikan kepada bupati/walikota melalui camat 1 kali dalam satu tahun. Laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD disampaikan 1 kali dalam satu tahun dalam musyawarah BPD. Menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat dapat berupa selebaran yang ditempelkan pada papan pengumuman atau diinformasikan secara lisan dalam pertemuan masyarrakat desa, radio komunitas atau media lainnya. Laporan tersebut digunakan sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut. Kepala desa juga wajib menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepala desa yang disampaikan kepada Bupati/walikota melalui camat dan kepada BPD.
Sebagaimana disinggung di atas, kepala desa dibantu oleh perangkat desa ddalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Perangkat desa bertanggung jawab kepada kepala desa. Perangkat desa terdiri atas sekretaris desa dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan yaitu:
a. Berpendidikan paling renddah lulusan SMA atau sederajat; b. Mempunyai pengetahuan tentang teknis pemerintahan; c. Mempunyai kemampuan di bidang administrasi perkantoran;
d. Mempunyai pengalaman di bidang administrasi keuangan dan bidang perencanaan; e. Memahami sosial budaya masyarakat setempat; dan
f. Bersedia tinggal di desa yang bersangkutan.
bisa diangkat sebagai perangkat desa calon harus berusia paling rendah 20 tahun dan paling tinggi 60 tahun. Ketentuan lebih lanjut mengenai perangkat desa lainnya diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota yang sekurang-kurangnya memuat:
a. Persyaratan calon;
b. Mekanisme pengangkatan; c. Masa jabatan;
d. Kedudukan keuangan; e. Uraian tugas;
f. Larangan;
g. Mekanisme pemberhentian.
Jumlah perangkat desa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya masyrakat setempat. Susunan organisasi dan tata kerja pemerintahan desa ditetapkan dengan peraturan desa. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan organisasi dan tata kerja pemerintahan desa diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota. Peraturan daerah kabupaten/kota sekurang-kurangnya memuat:
a. Tata cara penyusunan struktur organisasi; b. Perangkat;
c. Tugas dan fungsi; d. Hubungan kerja.
Kepala desa dan perangkat desa diberikan penghasilan tetap setiap bulan dan/atau tunjangan lainnya sesuai dengan kemampuan keuangan desa yang ditetapkan setiap tahun dalam APBDesa. Penghasilan tetap tersebut paling sedikit sama dengan upah minimum regional kabupaten/kota. Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan keuangan kepala desa dan perangkat desa diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota yang sekurang-kurangnya memuat:
a. Rincian jenis penghasilan; b. Rincian jenis tunjangan;
c. Penentuan besarnya dan pembebanan pemberian; d. Penghasilan dan/atau tunjangan.
4. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Atas fungsi tersebut, BPD mempunyai wewenang:
a. Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa
b. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa c. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa
d. Membentuk panitia pemilihan kepala desa
e. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat f. Menyusun tata tertib BPD
Anggota BPD terdiri dari ketua rukun warga,pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya dengan masa jabatan enam tahun dan dapat dipilih untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Jumlah anggota BPD ditetapkan dengan jumlah ganjil dimana paling sedikit lima orang dan paling banyak sebelas orang.
BPD mempunyai hak:
a. Mengajukan rancangan peraturan desa; b. Mengajukan pertanyaan;
c. Menyampaikan usul dan pendapat; d. Memilih dan dipilih;
e. Memporoleh tunjangan.
Anggota BPD mempunyai kewajiban:
a. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan UUD 1945 dan menaati segala peraturan perundang-undangan;
b. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa; c. Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan NKRI; d. Menyerap, menampung, menghimpun dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat; e. Memproses pemilihan kepala desa;
f. Mendahulukan kepetingan umum di atas kepentingan pribadi,kelompok dan golongan; g. Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat;
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA
Demi efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan desa, pemerintah desa harus didukung dengan tata usaha yang benar. Tata usaha adalah kegiatan mencatat semua proses penyelenggaraan pemerintahan desa yang disebut administrasi desa. Jadi, administrasi desa adalah keseluruhan proses kegiatan pencatatan data dan informasi menegenai penyelenggaraan pemerintahan desa pada buku administrasi desa. Administrasi desa juga dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang bersumber pada wewenang Pemerintah desa yang terdiri atas tugas-tugas kewajiban, tanggungjawab dan hubungan-hubungan kerja, yang dilaksanakan dengan berlandaskan peraturan-peraturan perundangan yang berlaku, guna menjalankan pemerintahan desa.
Administrasi Desa terdiri atas :
1. Administrasi Umum
adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai kegiatan pemerintahan desa pada bukun administrasi umum ;
2. Administrasi Penduduk
adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penduduk dan mutasi penduduk pada buku administrasi penduduk ;
3. Administrasi Keuangan
adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai pengelolaan keuangan desa pada buku administrasi keuangan ;
4. Administrasi Pembangunan
adalah kegiatan pencatatan data dan informasi pembangunan yang akan, sedang dan telah dilaksanakan pada buku administrasi pembangunan ;
5. Administrasi Badan Permusyawaratan Desa atau BPD
adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai BPD.
6. Administrasi lainnya
adalah administrasi selain kelima administrasi tersebut yang dianggap penting oleh desa .
Dalam administrasi desa terdapat kegiatan administrasi pemerintahan desa. Guna mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kegiatan administrasi Pemerintahan Desa, berikut ini akan diuraikan tugas-tugas dan kewajiban Kepala Desa dalam menjalankan Pemerintahan Desa.
1. Tugas Bidang Pemerintahan
Pencatatan-pencatatan tersebut dilakukan di dalam berbagai Buku Register, mengenai berbagai hal dan peristiwa yang menyangkut kehidupan/tindakan warga masyarakat, berdasarkan laporan yang diperoleh melalui Sub-Pelayanan Umum dari masyarakat yang berkepentingan. Hal ini merupakan pekerjaan rutin pemerintahan yang diharuskan bagi Pemerintahan Desa guna membinan ketertiban bagi wagra masyarakat Desa.
Pencatatan data-data tersebut merupakan dasar bagi suatu sensus secara kronologis dan bahan guna penyusunan suatu statistic penduduk, hewan, panenan, luas tanah dan hal-hal lain dari suatu wilayah.
b. Tugas-tugas Umum
Menerima dan melaksanakan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk
Pemerintah di atasnya, mengenai bidang pemerintahan, ketertiban/keamanan, tugas-tugas teknis dan kesejahteraan.
Membuat laporan secara periodic mengenai keadaan dan perubahan penduduk
keamanan serta social ekonomi wlayah desa dan sebagainya berdasarkan hasil pencatatan buku-buku register desa, kepada Pemerintah Kecamatan.
Melaksanakan hal-hal yang sudah menjadi keputusan Rapat (rembug desa)
Selain tugas-tugas yang bersifat adminsitratif maupun operasional dan
program-program pembangunan Desa sesuai digariskan Pemrintah Pusat/Pemerintah Daerah.
Mengadakan kerjasama dengan instansi-instansi organisasi lain yang terdapat
dalam tingkat desa antara lain Bimas (Bimbingan Masyarakat dari Kepolisian), babinsa (Bintara Pembina Desa), RT/RW dan lain-lain.
Menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan tanah desa/agrarian. Membantu mengumpulkan iuran rehabilitasi daerah (Ireda), perpajakan dan/atau
retribusi (polorogo) tingkat wewenang Pemerintah desa. Dan lain-lain.
Pemberian macam-macam izin: izin tempat tinggal, izin keramaian, izin
meninggalka desa, izin usaha, mendirikan bangunan baru dan lain sebagainya. Sebagai otoria eselon bawah Pemrintah Desa berwenang untuk memberikan
macam-macam surat keterangan guna berbagai keperluan, antara lain : surat keterangan bukti diri (kenal lahir, mati), nikah/talak/rujuk, kartu penduduk, kelakuan baik, pemberian kesaksian untuk berbagai transaksi (jual/beli/sewa tanah dan sebagainya)
Menyampaikan surat-surat pos dari kecamatan atau panggilan dari
instansi-instansi resmi bagi penduduk wilayah desa. Dan lain-lain.
3. Bidang Tata Usaha
a. Tata Usaha Umum
Pelaksanaan tata-usaha Pemerintahan Desa sebagai salah satu segi administras pemerintahan desa, bersifat sederhana atau elementer. Pekerjaan-pekerjaan yang harus silakukan di dalam tata usaha Pemerintahan desa yang menjadi tanggungjawab juru tulis Desa ialah dapat kita perinci menjadi pekerjaan-pekerjaan antara lain meliputi pencatatan register-register dan dokumentasi, serta penyusunan surat-surat mengenai laporan data-data tentang keadaan wilayah desa, yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas bidang Pemerintahan dan Pelayanan Umum, laporan keuangan dan hal-hal lain yang telah ditetapkan sebagai tugas Pemerintahan Desa.
Pengelolaan personal ialah termasuk mengenai segi kesejahteraan dan segala emolumenten atau hal-hal yang berhbungan dengan penghasilan Kepala Desa dan pamong desa.
b. Tata Usaha Keuangan Pemerintah Desa
Kepala desa berkewajiban mengelola dan penerimaann dan penggunaan keuangan
Pemerintah Desa dari hasil tanah milik Desa dan penghasilan lainnya.
Mengerjakan pembukuan mengenai penerimaan dan pengeuaran keuangan milik
Pemerintah Desa.
Membuat pertanggungan jawab keuagan mengenai bantuan/subsidi,pengumpulan
secara gotong-royong bai pelaksanaan program pembangunan desa yang telah dilaksanakan.
Dan lain-lain.
Pengembangan Administrasi Pemerintahan Desa
Guna mendinamisir administrasi Pemerintahan Desa sebagai sarana dalam rangka mensukseskan tujuan pembangunan, maka langkah-langkah yang perlu mendapat perhatian, antara lain :
Program pendidikan untuk meningkatkan skill di bidang administrasi dan manajemen
bagi pimpinan dan anggota Pamong Desa.
Meninjau kembali prosedur pemilihan/pengangkatan pimpinan dan anggota Pamong
Desa berdarakan persyaratan yang obyektif.
Meninjau kembali struktur organisasi dan Tata-kerja Pemerintah Desa.
System koordinasi dan pengawasan yang intensif mengenaibtugas-tugas pengurusan
rumah tangga, pemerintahan serta program pembsngunsn desa oleh Pemerintah Kecamatan/Kabupaten.
Model buku administrasi desa adalah sebagai berikut :
1. Buku Adminsitrasi Umum
a. Model A.1 : Buku Data Peraturan Desa
b. Model A.2 : Buku Data Keputusan Kepala Desa
c. Model A.3 : Buku Data Inventaris Desa
d. Model A.4 : Buku Data Aparat Pemerintahan Desa
e. Model A.5 : Buku Data Tanah Milik Desa/Tanah Kas Desa
f. Model A.6 : Buku Data Tanah di Desa
g. Model A.7 : Buku Agenda
2. Buku Admisnitrasi Penduduk
a. Model B.1 : Buku Data Induk Penduduk Desa
b. Model B.2 : Buku Data Mutasi Penduduk Desa
c. Model B.3 : Buku Data Rekapitulasi Jumlah Pendudk Akhir Bulan
d. Model B.4 : Buku Data Penduduk Sementara
3. Buku Administrasi Keuangan Desa
a. Model C.1.a : Buku Anggaran Penerimaan
b. Model C.1.b : Buku Anggaran Pengeluaran Rutin
c. Model C.1.c : Buku Anggaran Pengeluaran Pembangunan
d. Model C.2 : Buku Kas Umum
e. Model C.3.a : Buku Kas Pembantu Penerimaan
f. Model C.3.b : Buku Kas Pembantu Pengeluaran Rutin
g. Model C.3.c : Buku Kas Pembantu Pengeluaran Pembangunan
4. Buku Administrasi Pembangunan
a. Model D.1 : Buku Rencana Pembangunan
b. Model D.2 : Buku Kegiatan Pembangunan
c. Model D.3 : Buku Inventaris Proyek
d. Model D.4 : Buku Kader-kader Pembangunan
5. Buku Administrasi BPD
a. Model E.1 : Buku Data Anggota BPD
c. Model E.3 : Buku Data Kegiatan BPD
d. Model E.4.a : Buku Anggota BPD
e. Model E.4.b : Buku Ekspedisi
6. Buku Administrasi Lainnya
a. Model F.1 : Buku Data Pengurus dan ANggota Kemasyarakatan
b. Model F.2 : Buku Register
c. Model F.3 : Buku Profil Desa
Contoh Format Buku Administrasi Desa
BUKU DATA PERATURAN DESA
TAHUN …
Model A.1.
NOMOR DAN TANGGAL PERATURAN DESA
T E N T A N G
URAIAN SINGKA
T
NOMOR DAN TANGGAL PERSETUJUA
N BPD
NOMOR DAN TANGGAL DILAPORKAN
KET
2 3 4 5 6 7
Mengetahui ….., ….., …..
Kepala Desa …. Sekretaris Desa ….
……….. ………
TAHUN ….
Model A.2.
NOMOR DAN TANGGAL PERATURAN
DESA
T E N T A N G
URAIAN SINGKAT
NOMOR DAN TANGGAL DILAPORKAN
KET
2 3 4 5 6
Mengetahui ….., ….., …..
Kepala Desa …. Sekretaris Desa …
……… ………..
LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA
Dalam kehidupan masyarakat desa, keberadaan lembaga-lembaga masyarakat sangat diperlukan karena dapat menjadi alat untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan di bidang politik, keamana, ekonomi, dan social dan lain-lain.
Lembaga-lembaga masyarakat desa terdiri atas lembaga formal dan nonformal. Lembaga masyarakat yang bersifat formal ialah lembaga yang didirikan atau disponsori oleh pemerintah, dan mungkin diniayai oleh pemerintah (pusat, daerah, dan desa). Sedangkan lembaga nonformal ialah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat, berdasarkan inisiatif masyarakat sendiri atau kelompok warga tertentu, dan pembiayaan atau dananya diperoleh melalui hasil swadaya masyarakat yang bersangkutan.
Lembaga Formal yang Ada di Desa, antara lain:
1. Lembaga politik/administrasi dengan membentuk organisasi RT/RW
3. Lembaga ekonomi dengan membentuk organisasi Koperasi Unit Desa (KUD), Kelompok Tani, dan arisan dasa wisma pada setiap RT
4. Lembaga pengaturan air dengan membentuk organisasi Usaha Tirta
5. Lembaga keamanan dengan membentuk hansip (Pertahanan Sipil), Wanra (Perlawanan Rakyat Semesta), dan system keamanan lingkungan (Siskamling)
6. Lembaga kependuduka dengan gerakan Keluarga Berencana (KB)
7. Lembaga kesehatan dengan Gerakan Kesehatan Masyarakat, Gerakan Kesejahteraan Ibu dan Anak, dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
8. Lembaga Kepemudaan: KNPI, Karang Taruna, Kader Pembangunan Desa, dan lain-lain.
Sedangkan Lembaga nonformal yang ada di desa, antara lain :
1. Lembaga kekeluargaan. Misalnya, ikatan wangsa atau keluarg besar, ikatan suku, dan ikatan marga.
2. Lembaga social. Misalnya, perkumpulan warga untuk membantu warga msyarakat yang menghadapi musibah, kematian, dan perkawinan dengan cara arisan atau jimpitan.
3. Lembaga pendidikan. Misalnya, podok pesantren, taman pendidikan alquran, panti asuhan, pendidikan keterampilan/montir/tukang kayu/listrik, dan sebagainya.
4. Lembaga olah raga. Misalnya, perkumpulan pencak silat, sepak bola, voli, bulu tangkis, dan lain-lain.
5. Lembaga seni dan budaya. Misalnya, perkumpulan orkes gambus, orkes keroncong, perkumpulan kerawitan, dan sebagainya.
Dalam Sumber Saparin:1985 halaman 172, Lembaga Kemasyarakatan Desa disebut dengan Organisasi Kemasyarakatan Pedesaan, antara lain :
A. Organisasi Kemasyarakatan Fungsional
1. Organisasi Bidang Sosial dan Kesejahteraan :
a. Lembaga Sosial Desa.
b. Gerakan Pendidikan Masyarakat.
c. Gerakan Pembangunan Masyarakat Desa.
d. Gerakan Pendidikan Kesjahteraan Keluarga (PKK).
2. Organisasi Bidang Usaha Ekonomi :
a. Gerakan Koperasi dan Nelayan (perikanan).
b. Badan Usaha Unit Desa atau Koperasi Unit Desa.
3. Organisasi Bidang Produksi
a. Gerakan padat karya/Panca usaha tani dan bibit unggul,
b. Gerakan Penghijauan.
c. Gerkan Bimas dan Inmas
4. Organisasi Bidang Pengairan :
a. Organisasi Damatirta (Jawa Tengah).
b. Gerakan Pompanisas.
5. Organisasi Bidang Keamanan :
a. Hasip/Wanra. (Pertahanan Sipil dan Perlawnan Rakyat Semesta)
a. Gerakan Keluarga Berencana.
b. RT/RW.
7. Organisasi Bidang Kesehatan :
a. Bidang Kesejahteraan Ibu dan Anak.
b. Gerakan Kesehatan Masyarakat.
c. Gerakan Kesehatan mental dan lain sebagainya
B. Bentuk-bentuk Organisasi Kemasyarakatan Tradisional
1. Organisasi kekeluargaan antara lain wangsa/keluarga besar, seku dan marga.
a. Gotong royong dalam arti saling memberi bantuan di antara warga masyarakat dalam bentuk uang dan tenaga dalam peristiwa upacara kematian, hajad perkawinan, kelahiran da sebagainya.
b. Gotong royong dalam mendirikan rumah, mengerjakan sawah dan menuai padi dan sebagainya.
c. Gotong royong untuk kepentingan bersama, misalnya pada upacara ersih desa, peringatan/upacara keagamaan, hari nasional atau menerima tamu agung.
2. Perkumpulan biada dan sinoman ialah perkumpulan muda-mudi untuk membantu warga masyarakat yang mempunyai hajad perkawinan, upacara kematian dan upacara bersama lainnya.
a. Lumbung paceklik/Lumbung Desa.
b. Subak. Ialah organisasi petani dan penggarap sawah dalam masyarakat pedesaan di Bali dan berciri magisreligius guna mengatur pembagian air berdasarkan lingkungan pengairan setempat.
c. Maro atau mertelu. Hubungan kerja antara petani pemilik tanah dan petani penggarap, terutama perbandingan dalam pemilikan hasil usaha pertanian.
d. Jual sende, menjual tanah sawah/rumah untuk waktu tertentu.
e. Ngempit, menjual barang orang lain.. yang bersangkutan akan menerima bagian keuntungan dan sebagainya.
f. Jual lepa, menjual tanah/rumah secara mutlak ialah untuk selamanya.
g. Arisan/jula-jula, ialah perkumpulan/gerakan gotong-royong menabung uang untuk satu jangka waktu tertentu, berdasarkan uundian bagi yang menarik arisan.
C. Organisasi Kemasyarakatan Non Tradisional
1. Bidang Pendidikan :
a. Persatua orang tua murid.
b. Kursus keterampilan.
2. Bidang Olah Raga :
a. Perkumpulan pencak silat/seni beladiri.
b. Perkumpulan badminton-sepakbola-catur dan sebagainya.
3. Bidang Senibudaya :
a. Perkumpulan Wayang Orang.
b. Perkumpukan Seni Tari.
d. Perkumpulan Orkes Keroncong/Band.
e. Perkumpulan Darmawisata dan lain sebagainya.
Zaman Orde Baru
Lembaga yang dibentuk oleh pemerintah pusat dalam kehidupan masyarakat desa antara lain RT dan RW, PKK, LMD, LKMD, Karang taruna, Kader Penggerak Pembangunan, BUUD/KUD, Kelompok Tani, dan Kelompencapir. Pembentuk semua lembaga tersebut adalah pemerintah pusat, yang juga menginstruksikan agar semuanya diterapkan di seluruh Indonesia secara beragam. Dengan pendekatan top down seperti ini, maka seringkali lembaga-lembaga tersebut tidak berkembang karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. Akibatnya, lembaga-lembaga tersebut tidak berfungsi.
Dalam UU No. 32/2004
tersebut; tentu harus disesuaikan dengan kebiasaab, tata perilaku, dan kemampuannya. Jika sudah ketemu, barulah dibuat organisasnya.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007
Dalam Permendagri tersebut diatur bahwa pembentukan lembaga kemasyarakatan ditetapkan dengan peraturan desa. Lembaga kemasyarakatan mempunyai tugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa.
Tugas lembaga kemasyarakatan desa sebagaimana dimaksud dalam peraturan meliputi :
a. menyusun rencana pembangunan secara partispatif
b. melaksanakan, mengendalikan, memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan pembangunan secara partisipatif
c. menggerakkan dan mengembangkan partisiapsi, gotong royong dan swadaya masyarakat
d. menumbuhkembangkan kondisi dinamis masyarakat dalam rangka pemberdayan masyarakat
dalam melaksanakan tugasnya, lembaga kemasyarkatan mempunyai fungsi :
a. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam pembangunan
b. menanam dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan masyarakatndalam kerangka memperkokoh NKRI
c. meningkatkan kualitas dan percepatan pelayanan pemerintah kepada masyarakar
d. menyusun rencana, pelaksanaan, pelestarian, dan pengembangan hasil-hasil pembangunan secara partisipatif
e. menumbuhkembangkan dan menggerakkan prakarsa, partisipasi, serta swadaya gotong royong masyarakat
f. memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga
kegiatan lembaga kemasyarakatan ditujukan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui :
a. peningkatan pelayanan msyarakat
b. peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan
c. pengembagan kemitraan
d. pemberdayan masyarakat
e. pengembangan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat
Pengurus lembaga kemasyarakatan dipilih secara musyawarah dari anggota masyarakat yang mempunyai kemauan, kemampua, dan kepedulian dalam pemberdayaan masyarakat desa. Susunan dan jumlah pengurus lembaga kemasyarakatan disesuaikan dengan kebutuhan. Hubungan kerja antara lembaga kemasyrakatan dengan pemerintahan desa bersifat kemitraan, konsultatif, dan koordinatif.
Dana kegiatan lembaga kemasyarakatan dapat bersumber dari :
a. swadaya masyarakat
b. anggaran pendapatan dan belanja desa
c. anggaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten/Kota dan/atau anggaran pendapatan belanja daerah provinsi
d. bantua pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota
e. bantuan lain yang sah dan tidak mengikat
Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga kemasyarakatan diatur dengan peraturan daerah Kabupaten/Kota dengan memperhatikan kondisi social budaya masyarakat. peraturan daerah Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memuat :
a. tata cara pembentukan
c. tugas, fungsi dan kewajiban
d. kepengurusan
e. tata kerja
f. hubungan kerja