ANALISIS DAN EVALUASI PENDEKATAN IMAJINASI WALTER BRUEGGEMANN DALAM PRAKTIK TEKS YESAYA 55
Skrispi Ini Diserahkan kepada
Dewan Pengajar STT SAAT
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Teologi
oleh
Ivan Simeon Halim
Malang, Jawa Timur
Nama : Ivan Simeon Halim NIM : 20131041380
Disetujui oleh
Pembimbing
Richard John Koniezcny, Th.M.
Tanggal Lulus: ______________
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Wakil Ketua Bidang Akademik
Sarjana Teologi
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi SAAT, yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama : Ivan Simeon Halim NIM : 20131041380
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Sekolah Tinggi Teologi SAAT Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmah saya yang berjudul ―Analisis Dan Evaluasi Pendekatan Imajinasi Walter Brueggemann Dalam Praktik Teks Yesaya 55.‖ Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini Sekolah Tinggi Teologi SAAT berhak
menyimpan, mengalih-mediakan/format-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), dan menampilkan dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademik tanpa perlu meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan saya sebagai penulis/pencipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Malang
Pada tanggal : 4 November 2017 Yang menyatakan
―Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.‖
--Keluaran 33:15, TB
ABSTRAK
Halim, Ivan Simeon, 2017. Analisis dan Evaluasi Pendekatan Imajinasi Walter Brueggemann Dalam Praktik Teks Yesaya 55. Skripsi, Program studi: Sarjana
Teologi, Konsentrasi Teologi, Sekolah Tinggi Teologi SAAT, Malang. Pembimbing: Richard Koniezcny, Th.M. Hal. xiii, 111.
Kata Kunci: imajinasi, testimoni, pluralisme, teks, post-modern.
Dalam perkembangan dunia penafsiran Alkitab, khususnya dalam teks PL, banyak sarjana telah berusaha untuk merumuskan rumusan terbaik dalam mendekati PL. Berbagai pendekatan telah diusulkan dari zaman ke zaman, dan sekarang zaman telah berada pada sebuah babak baru: zaman post-modern di mana pendekatan yang lama harus dikembangkan sehingga dapat mengikuti tuntutan zaman, khususnya dalam hal penafsiran.
Tulisan ini menjelaskan mengenai penelitian terhadap pendekatan imajinasi yang dikembangkan oleh Walter Brueggemann dengan mempertanyakan bagaimana konsep dari pendekatan imajinasi yang dikembangkan oleh Brueggemann.
Pendekatan imajinasi ini dikembangkan Brueggemann sebagai sebuah respons atas keadaan penafsiran di Amerika Serikat yang sangat dipengaruhi oleh Eichrodt dan von Rad dengan penekanan mereka dalam kritik historis. Itulah sebabnya, dalam pendekatan yang diusulkan oleh Brueggemann ini menolak kritik historis dan berfokus pada sisi post-modern dalam penafsiran teks PL. Penekanan dalam pendekatan imajinasi Brueggemann ini pun lebih menitik beratkan pada pembaca sebagai sumber kebenaran tersebut dan membuka kemungkinan akan pluralitas penafsiran yang begitu besar. Dan dalam menguji praktik pendekatan ini, penulis memilih teks Yesaya 55 sebagai lapangan berteologi dan mendapati hasil penafsiran yang sangat terbuka dengan tidak ada standar dalam penafsiran itu sendiri. Oleh sebab itu, problem-problem penafsiran dengan metode ini perlu mendapat respons dan kritik terkait dalam hal penafsiran ini. Memang perlu diakui, pendekatan yang
vi
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur yang paling pertama dan utama diberikan hanya untuk Allah
Tritunggal yang telah menolong penulis dalam penelitian ini. Dalam keterbatasan
penulis, Allah telah menolong dalam pengerjaan, penyediaan buku-buku terkait
penelitian, dan semangat dalam penelitian ini. Kedua, untuk Rev. Richard K., Th.M.
Melalui beliaulah, saya mengenal dunia teologi biblika, khususnya bidang PL dan
diajak untuk menggumuli tema penelitian ini bersama. Beliau tidak hanya
mengarahkan secara intelektual, tetapi juga memberikan teladan dari kehidupannya!
Ketiga, untuk Ketua dan seluruh dosen STT SAAT yang tidak hanya mengajarkan
kebenaran firman Tuhan dalam ruang kuliah, tetapi kehidupan dan pelayanan mereka
pun menjadi materi kuliah yang hidup. Secara khusus, penulis sangat berterima kasih
kepada Pdt. Irwan Pranoto, M.Th., seorang spiritual mentor yang Tuhan tempatkan
untuk menajamkan penulis secara pribadi untuk mengenal Tuhan dan menapaki
perjalanan panggilan ini dengan setia.
Keempat, untuk Papa, Mama, Tesa, dan Ivan Nathanael yang sudah menjadi
semangat dan mood-booster penulis selama menempuh studi di STT SAAT. Terima
kasih juga untuk Om Setiadhy Dharmawan dan Iie Lita Lukito yang menjadi orang
tua kedua penulis dan telah mencurahkan kasih dan perhatian mereka selama penulis
vii
Kelima, untuk sahabat-sahabat yang Tuhan tempatkan untuk mengasihi dan
menerima penulis apa adanya, Nehemiah A. Riggruben, Febrianto, Grace PIS, Paula
C. Mulyatan, Jonathan Liem, Jonathan Prasetya, Proborukma Chandra, Citra, Paulus,
Gabriela, Munfaridah, Fransisiana, Yulia Tanti, Hany Saloh, Efrianto, Wendy, Debora
Stefanie, Eka Gilroy, Phillips Steven, Lefrandy, Surya Novadinata dan Richard Awuy!
Terima kasih juga kepada 5 Hendra dalam hidup penulis: Hendrawan, Hendra
Yohanes, Hendra Fongaja, Hendra Sugianto, dan Hendra Winarjo! Terima kasih juga
untuk keluarga besar Theresion yang menjadi sebuah chapter yang indah yang telah
mewarnai kehidupan penulis selama studi di STT SAAT! Terima kasih komunitas
SAAT yang indah dengan kehadiran Asadab, Magisterium, Servant Eleven,
Twelvengers, Maestro, Staccatos, dan Arpeggio!
Keenam, untuk gereja-gereja yang menjadi tempat penulis untuk belajar
melayani melayani: GKIm Sumber Sari Indah Bandung, GKIm Mesias Bandung,
GKKK Kesamben, GPPS Anugerah Malang, GKY Surabaya, GKI Kota Modern,
GKKK Padang, GIDI Ngergen, GIDI Kobakma, GKKK Timika, GKKK Merauke,
dan GKI Kanaan Jakarta. Terima kasih sudah menjadi tempat pembentukkan Tuhan
yang indah bagi penulis! Terakhir, kepada pihak-pihak yang lainnya yang telah
menjadi bagian dalam hidup penulis yang indah, namun tidak dapat disebutkan
namanya satu per satu.
Karya ilmiah ini juga penulis dedikasikan untuk para reformator yang sangat
setia pada pencarian kebenaran melalui firman Tuhan. Kiranya pengenalan akan Ialah
viii
DAFTAR ISI
DAFTAR ILUSTRASI xii
DAFTAR ISTILAH xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian 5
Batasan Masalah 6
Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan 9
BAB 2 PENDEKATAN WALTER BRUEGGEMANN TERHADAP PL 12
Pendahuluan 12
Latar Belakang dan Kehidupan Walter Brueggemann 13
Konteks Berteologi Walter Brueggemann 17
Pasca Keruntuhan Kritik Historis dan Titik Kebangkitan Teologi
Biblika 18
Sebagai Jawaban atas Pergerakkan Menuju dunia Pasca Modern 22
Tanggapan Brueggeman Terhadap Hubungan Teologi PL dengan Dogmatika
Gerejawi 25
Tanggapan Brueggemann terhadap Keyahudian Teks PL 26
Tanggapan Brueggemann terhadap Peran Pembaca 30
ix
Mekanisme Pendekatan Imajinasi Brueggemann:
Orientasi-Disorientasi-Reorientasi 37
Hasil Akhir Pendekatan Imajinasi Walter Brueggemann: Mendekati Teks
sebagai Testimoni, dan Mekanisme Testimony-Advocacy-Dispute dalam
Metafora Pengadilan 38
Core Testimony 40
Countertestimony 42
Unsolicited Testimony 45
Embodied Testimony 47
Kesimpulan 48
BAB 3 PRAKTIK EKSEGESIS YESAYA 55 BERDASARKAN PENDEKATAN
WALTER BRUEGGEMANN 49
Pendahuluan 49
Membaca Kitab Yesaya dalam Pendekatan Brueggemann 50
Praktik Eksegesis Yesaya 55 dalam Pendekatan Brueggemann 54
Langkah 1: Orientasi – Pembacaan Pertama terhadap Teks Yesaya
55 54
Orientasi Yesaya 55: 1-5 –―Janji akan Ketercukupan
Kebutuhan‖ 55
Orientasi Yesaya 55:6-7 –―Seruan Pertobatan‖ 57
Orientasi Yesaya 55:8-11 –―Penyataan Kuasa atas
x
Orientasi Yesaya 55:12-13 –―Sukacita bagi Umat Allah‖ 59
Langkah 2: Disorientasi Teks Yesaya 55 61
Disorientasi Yesaya 55:1-5 61
Disorientasi Yesaya 55:6-9 66
Disorientasi Yesaya 55:10-11 67
Disorientasi Yesaya 55:12-13 68
Langkah 3: Reorientasi Teks Yesaya 55 69
Contoh Reorientasi Teks Yesaya 55 69
Praktik Reorientasi Teks Yesaya 55 70
Kesimpulan 71
BAB 4 EVALUASI PENDEKATAN WALTER BRUEGGEMANN DALAM
STUDI BIBLIKA: RESPONS, PERKEMBANGAN, DAN PENGARUHNYA 73
Pendahuluan 73
Respons terhadap Pendekatan Brueggemann 74
Kritik terhadap Retorik yang Bermasalah: Masalah Ontologis 74
Kritik terhadap Penekanan terhadap Ucapan: Sebuah Pengabaian
atas Prosa dan Historisitas Teks yang Berujung pada Penolakkan
Otoritas Teks 79
Kritik terhadap Penolakan Ideologi Gereja dan Penekanan Pada
Pembaca: Sebuah Problem Penafsiran dan Otoritas 85
xi
Pengaruh Pendekatan Brueggemann 94
Pengaruh Pendekatan Brueggemann dalam Studi Biblika:
Pendekatan yang Dikesampingkan dalam Horizon Hermeneutika 94
Pengaruh Pendekatan Brueggemann bagi Gereja dan Orang Kristen:
Mandat untuk Memelihara Pluralitas 98
Kesimpulan 98
BAB 5 PENUTUP 100
Kesimpulan 100
Saran 103
xii
DAFTAR ILUSTRASI
Tabel
1. Metafora dalam Undangan dan Realita yang Terbentuk 62
xiii
DAFTAR ISTILAH
de facto. Ungkapan yang berarti ―berdasarkan (atau menurut) fakta.‖
de jure. Ugkapan yang berarti ―erdasarkan (atau menurut) hukum.‖
de novo. Dari ekspresi Latin. Sesuatu yang baru.
hegemoni. Pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagainya suatu
negara atas negara lain (atau negara bagian).
magnum opus. Dari bahasa Latin. Karya besar yang dapat dihasilkan dari
kehidupan.
mutatis mutandis. Dari bahasa Latin. Sebuah perubahan penting telah terjadi.
raison d’être. Alasan yang penting atau tujuan untuk seseorang atau eksistensi
seseorang.
restrospect. Tinjauan atau survei terhadap apa yang ada di belakang.
speech-event. Kesatuan komponen melalui keluar: tujuan yang sama dari
komunikasi topik yang sama peserta yang sama variasi bahasa yang sama
(umumnya).
status quo. Keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan
sebelumnya.
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Diskusi mengenai metodologi dalam menghasilkan sebuah teologi PL
merupakan diskusi yang tidak pernah habis dan yang akan menjadi akar dalam
pembahasan studi biblika.1 Gerhard Hasel berkata, ―The fundamental question of methodology is one that encompasses a cluster of basic issues, and on which Biblical
theologians have not succeeded in moving toward a single direction.‖2 Apa yang disampaikan oleh Hasel ini juga dirasakan oleh beberapa sarjana PL seperti Gerhard
von Rad, Walther Eichrodt, Brevard S. Childs, James Barr, dan Walter
Brueggemann.3 Dengan lebih mendetail, Eichrodt menajamkan kembali poin penting
yang dihadapi dalam merumuskan metodologi teologi PL: kesulitan untuk
1Gerhard F. Hasel, Old Testament Theology: Basic Issues In The Current Debate (Grand
Rapids: Eerdmans, 1972), 11.
2 Ibid.
3Gerhard von Rad, Old Testament Theology, vol. 1 terj. David Stalker (Louisville:
Westminster John Knox, 2001), xxxiii; Walther Eichrodt, Theology of the Old Testament, terj. John Baker, vol. 1 (Philadelphia: The Westminster, 1980), 25; Brevard S. Childs, Introduction to the Old Testament as Scripture (Philadelphia: Fortress, 1979), 15; James Barr, The Concept Of Biblical Theology: An Old Testament Perspective (Minneapolis: Fortress, 1999), 18; Walter
menemukan sebuah gambaran yang komplit yang menjelaskan dimensi dari PL yang
dapat menjelaskan keunikan dan keluasan dari apa yang menjadi topik utama dari
PL.4 Meskipun nampaknya hal ini merupakan hal yang sulit untuk dicapai, tetapi
dengan metodologinya masing-masing, mereka mendekati teks PL dan merumuskan
apa yang menjadi poin utama dari teologi PL.5
Sebagai salah seorang yang memberikan sumbangsih yang besar dalam dunia
teologi PL, Brueggemann memberikan pemikirannya bagi perkembangan penelitian
studi PL ini.6 Brueggemann memberikan saran untuk meninggalkan metode-metode
pendekatan sedang mempengaruhi disiplin PL yang ditawarkan oleh von Rad dan
Walther Eichrodt.7 Bagi Brueggemann, metode yang ditawarkan oleh von Rad8 dan
Walter Eichrodt9 yang dinilai memiliki kelemahan-kelemahan, sehingga
4
Eichrodt, Theology of the Old Testament, 1:25.
5John Goldingay, ―The Study of Old Testament Theology: Its Aim and Purpose,‖ Tyndale Bulletin 26 (1975): 36. Dalam tulisannya ini, Goldingay mengklasifikasikan usaha pencarian ini merupakan bagian dari kaum teologi Perjanjian Lama yang modern.
6
Barr, The Concept Of Biblical Theology, 541.
7Baginya, ―since Eichrodt‘s publication in the 1930s and von Rad‘s in the 1950s, much has
changed both in interpretive work and in interpretive context. That change, moreover, requires and permits an effort at a fresh and venturesome alternative interpretation. . . . A fresh theological exposition must work its way cautiously and provisionally in the midst of that enormous unsettlement. It is my judgment, however, that the unsettlement is not primarily a problem but is itself an important datum to be taken into account in fresh, venturesome efforts at Old Testament theology. It is belongs to the nature of Old Testament theological interpretaion that we are not permitted to be sure as we once thought we were about such critical matters.‖ Lih. Brueggemann, Theology of the Old Testament, xv.
8Gerhard von Rad membangun teologinya dengan menggunakan pendekatan diakronik.
Teologi yang dibangun oleh von Rad harus dimahami sebagai teologi dari tradisi historis dan tradisi profetis. Von Rad sendiri menekankan sebuah gambaran kerigmatik atau gambaran yang diucapkan (kerygmatic picture) dengan dimensi yang lebih dalam mengenai realita teologi PL. Sehingga dengan demikian, bangunan teologi yang dibangun oleh von Rad merupakan teologi yang memiliki dua buah bentuk: pertama, teologi atas tradisi-tradisi historis bangsa Israel (the Theology of Israel‘s Historical Traditions) dan teologi tradisi profetik bangsa Israel (the Theology of Israel‘s Prophetic Traditions). Lih. von Rad, Old Testament Theology, 1.; Hasel, Old Testament Theology, 22–25.
9
membutuhkan suatu teologi yang de novo.10 Dalam bagian ―retrospect,‖ Brueggemann bahkan menuliskan,
But it is impossible, in my judgment, to take either Eichrodt or von Rad as a model for our own work. It is more important, I suggest, to notice the way in which these works resonated with their own particular time and place, to recognize the brilliance of the works, and to see that a dimension of their brilliance is their context-specificity. . . . This refusal may not be simply a literary one but a theological one, pertaining to its central Subject.11
Pendekatan yang dilakukan oleh Walter Eichrodt dan von Rad telah
menghasilkan setidaknya tiga poin yang disoroti oleh Brueggemann. Pertama, tidak
ada satu penegasan teologis yang harus diambil sebagai penegasan yang ultimat,
tetapi dapat digantikan berdasarkan artikulasi dari teologi yang selanjutnya.12 Kedua,
pada saat yang sama, Eichrodt dan von Rad belum dapat membuat sebuah pernyataan
penafsiran yang memadai atas penekanan-penekanan yang terdapat pada teologi
mereka masing-masing.13 Ketiga, baik Eichrodt dan von Rad memanfaatkan
metode-metode dengan substansi eksposisi tetapi belum mencapai ―one idea‖ dalam metode
mereka.14 Atau dengan kata lain, baik usaha yang telah diberikan oleh Eichrodt dan
von Rad, pada dasarnya hanya memberikan sebuah sumbangan yang tidak
menyelesaikan permasalahan yang terdapat di dalam perumusan teologi PL ini.
benar-benar berbeda di dalam pendekatan studi PL. Eichrodt sendiri mendefinisikan teologinya dengan terminologi ―perjanjian.‖ Dan dalam bangunan teologi yang dibangun, Eichrodt sendiri merumuskan teologi PLnya menjadi tiga buah bentuk perjanjian: pertama, Allah dan Umat (God and the People); kedua, Allah dan Dunia (God and The World); dan ketiga, Allah dan Manusia (God and the Man). Lih. Hasel, Old Testament Theology, 18–22; Brueggemann, Theology of the Old Testament, 1; Walther Eichrodt, Theology of the Old Testament, vol. 2 (Philadelphia: The Westminster, 1967).
10Brueggemann, Theology of the Old Testament, 38.
11Ibid., 38–42.
12
Ibid., 39.
13Ibid., 39–40.
Brueggemann sendiri mengatakan, ―It is now conventional to recognize that the great period of Old Testament theology dominated by Eichrodt, and even more by von Rad,
came to an end around 1970.‖15
Sebagai gantinya, Brueggemann menawarkan sebuah proposal mengenai
sociological approach yang dilengkapi dengan ketajaman rhetorical criticism untuk
merumuskan metode teologi PL.16 Pada tulisan-tulisan awal dari Brueggemann
sendiri, pendekatan tersebut dilakukan dengan covenantal-historical reading yang
digunakan untuk mendekati teks Alkitab.17 Tetapi pada dasarnya tidak terdapat
perbedaan antara terminologi sociological approach dan rhetorical criticism dengan
terminologi covenantal-historical reading.18 Dalam pengakuannya, pandangan
Brueggemann ini sedikit banyak dipengaruhi oleh Barth dan Paul Ricoeur.19
Meskipun demikian, Brueggemann telah berusaha menjawab isu-isu biblika
yang tidak dapat dijawab melalui pendekatan yang dilakukan oleh Eichrodt dan von
Rad. Usaha yang dilakukan Brueggemann memang telah menolong disiplin ilmu ini
memiliki sedikit perkembangan dengan terjawabnya sedikit isu tersebut.20 Tetapi di
sisi yang lainnya, konsep yang ditawarkan oleh Brueggemann ini pun mendapatkan
banyak respons. Tetapi terlepas dari banyaknya respons yang diberikan kepada
15Ibid., 42.
16Ibid., 49–59.
17Walter Brueggemann, The Bible Makes Sense (Cincinnati: Franciscan, 2015), 9–14.
18
Dalam tulisannya, Brueggemann menjelaskan pendekatan ini menolong people (penafsir) untuk mengklaim memori historikal yang tepat, bukan berbicara mengenai ide-ide yang abstrak, tetapi dalam sebuah masyarakat yang memiliki memori yang partikular yang memberikan kuasa kepada kita (penafsir). Lih. Ibid., 10.
19Walter Brueggemann, ―Theology of the Old Testament: Testimony, Dispute, Advocacy Revisited,‖ The Catholic Biblical Quarterly 74 (2012): 30.
Brueggemann, sebuah penghargaan mengenai usahanya untuk memberikan warna
yang baru dalam teologi PL ini perlu diberikan apresiasi karena Brueggemann
menjadi pintu bagi pendekatan post-modernisme dapat diterapkan dalam studi teologi
PL.21 Dalam perkembangan metode-metode yang baru studi biblika yang dengan
cepat disajikan, maka setiap metodologi yang baru harus dikaji terlebih dahulu,
termasuk pendekatan yang ―mutatis mutandis‖ ini.22 Tidak hanya itu, metode yang
ditawarkan oleh Brueggemann ini sudah menjadi suatu ―isu mayor‖ yang diikuti baik
di gereja-gereja maupun pada lembaga-lembaga pendidikan teologi sejak beberapa
tahun terakhir.23
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini, penulis akan meneliti pendekatan
Teologi PL yang ditawarkan oleh Walter Brueggemann dengan menggunakan
sumber-sumber primer: Theology of the Old Testament, dengan buku-buku lainnya
yang menjelaskan pendekatan tersebut, praktik pendekatan, dan mengumpulkan
respons-respons atas konsep Brueggemann serta mengkaitkannya dengan
perkembangan studi biblika yang sedang berkembang ini.
Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
1. Seperti apa pendekatan yang ditawarkan oleh Walter Brueggemann untuk
menghasilkan sebuah konsep teologi PL? Untuk memahami pendekatan yang
21Brevard S. Childs, ―Walter Brueggemann’s Theology of the Old Testament: Testimony, Dispute, Advocacy,‖ dalam The Book That Breathes New Life: Scriptural Authority and Biblical Theology (Minneapolis: Fortress, 2005), 171–172.
22
Brueggemann, Theology of the Old Testament, xiv.
23Walter Brueggemann dan Carolyn J. Sharp, Living Countertestimony: Conversations With
ditawarkan oleh Brueggemann ini, perlu mempertanyakan mengenai
bagaimana pendekatan ini dapat terbentuk. Kemudian dari pertanyaan ini
akan berlanjut kepada bagaimana konsep testimony dapat dikembangkan oleh
Brueggemann.
2. Bagaimana praktik pendekatan Walter Brueggeman pada teks Yesaya 55?
Pertanyaan ini akan menjadi penuntun untuk melakukan laboratorium
penelitian yang akan dilakukan di dalam skripsi ini. Laboratorium penelitian
ini penting dilakukan untuk membuktikan pendekatan yang Brueggemann
tawarkan ini merupakan pendekatan yang memberikan sumbangsih bagi studi
biblika.
3. Apa evaluasi dari pendekatan yang ditawarkan oleh Walter Brueggemann ini
bagi perkembangan studi biblika? Sama seperti setiap penelitian lainnya,
dampak dari penelitian yang dilakukan paling besar berdampak pada area
terbesar konsep ini berada: perkembangan studi biblika. Oeh karena itu,
penulis ingin mengetahui dampak dari pendekatan Brueggemann ini bagi
perkembangan studi biblika.
Batasan Masalah
Agar mempertajam penelitian ini, penulis memberikan batasan-batasan
penelitian terbatas pada pandangan Brueggemann sebagai variabel utama. Yang
dibatasi dalam analisis pandangan Brueggemann adalah analisis pendekatan yang
beberapa tulisan-tulisan lain dari Brueggemann. Kemudian analisis latar belakang
pembentukkan pendekatan tersebut yang akan menyoroti pandangan politikal Norman
Gottwald, konsep Karl Barth mengenai firman Tuhan, dan konsep Paul Ricoeur yang
telah banyak memengaruhi Brueggemann.
Untuk memperjelas praktik pendekatan yang dilakukan oleh Brueggemann
ini, penulis memilih teks Yesaya 55 sebagai lapangan dalam melakukan laboratorium
teologi.24 Bagi Brueggemann sendiri, kitab Yesaya merupakan sebuah oratio yang
megah di mana Israel menyanyikan kisah iman mereka.25 Kisah iman yang dimiliki
bangsa Israel ini dilihat Brueggemann sebagai sebuah tulisan yang dapat diandalkan
untuk melihat isu-isu kontemporer.26 Isu-isu yang terdapat dalam kitab Yesaya
merupakan cerminan akan isu-isu kontemporer dalam konteks urban. Oleh karena itu,
tidaklah heran jika bagi Parrish, karya Brueggemann dalam kitab Yesaya ini
merupakan hasil yang berdampak yang besar.27 Childs pun mengakui pendekatan
yang ditawarkan Brueggemann ini dapat menggambarkan pertentangan (disputation)
yang terdapat dalam kitab Yesaya.28 Tetapi tidak hanya itu, teks Yesaya 55 yang
berbentuk puisi ini yang lebih bermakna ucapan dibandingkan keterangan sehingga
24Burke, ―Walter Brueggemann’s Bountiful Harvest,‖ 26. Dalam hal ini, Burke sendiri
memberikan pernyataan bahwa salah satu tafsiran terbaik yang diberikan Brueggemann mengenai pendekatannya adalah tafsirannya terhadap kitab Yesaya yang terdiri dari dua buah volume. Dalam tafsiran ini digambarkan mengenai semangat dari pendekatan Brueggemann yang berfokus pada teks-teks puisi, imageri yang tergambar dan juga penggambaran mengenai hegemoni kuasa.
25
Walter Brueggemann, Isaiah 1-39, Westminster Bible Companion (Louisville: Westminster John Knox, 1998), 1.
26Walter Brueggemann, Journey to the Common Good (Louisville: Westminster John Knox,
2010), ix.
27V. S. Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ ed. Donald K. McKim,
Dictionary of Major Biblical Interpreters (Downers Grove: InterVarsity, 2007), 243.
dapat menjadi sumber yang tepat untuk dipahami sebagai sebuah wahyu.29
Dan tidak
hanya itu, Brueggemann juga melihat teks-teks nabi yang berbentuk puisi juga
menggambarkan kekuatan imajinatif yang digunakan oleh para nabi sebagai suatu
strategi untuk mengambil perhatian dari komunitas pendengar.30
Dalam tulisan yang
selanjutnya, Brueggemann sendiri menyadari bahwa kitab Yesaya ini didasari atas
dua buah prinsip utama, yaitu kekudusan Allah dan ditujukan untuk komunitas
manusia, sehingga pendekatan yang cocok digunakan adalah pendekatan yang
diusulkan olehnya.31
Untuk pandangan-pandangan respons terhadap Brueggemann, penulis akan
memilih pandangan-pandangan menyerang konsep dari Brueggemann ini secara
eksplisit maupun implisit berdasarkan buku-buku, tulisan-tulisan jurnal akademik
yang merespons pendekatan Brueggemann ini.
Batasan utama dibuat karena perlu diakui bahwa Walter Brueggemann adalah
seorang sarjana biblika PL yang sangat produktif dalam menulis. Oleh karena itu,
agar penelitian ini menjadi penelitian yang fokus, maka fokus penelitian ini hanya
berada di area konsep pendekatan, praktik pendekatan tersebut dan dampaknya pada
studi biblika.
29Brueggemann, Theology of the Old Testament, 123.
30
Ibid., 625.
31Walter Brueggemann, Texts That Linger, Words That Explode (Minneapolis: Fortress, 2000),
Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan
Karena penelitian ini termasuk pada penelitian hermeneutik, Subagyo
memberikan keterangan untuk meneliti dimensi yang khas yang terdapat dalam
penelitian hermeneutik ini.32 Oleh karena itu, penulis memilih menggunakan model
telaah literatur karena Walter Brueggemann merupakan teolog yang sangat produktif
dalam menulis baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk artikel jurnal.33 Dalam
penelitian ini, metode penelitian yang akan dilakukan adalah metode analisis, praktik,
serta evaluasi metodologi terhadap pendekatan yang ditawarkan oleh Brueggemann.
Kemudian, penelitian ini akan dimulai dari Bab 1 yang akan menjelaskan
mengenai masalah dalam isu biblika yang selalu hangat untuk diperbincangkan, yaitu
mengenai metode untuk merumuskan sebuah konsep teologi PL yang mampu
menaungi setiap konten yang ada di dalam PL: subjek utama yang dibicarakan dalam
PL termasuk dengan keunikan-keunikan yang terdapat dalam PL. Di mulai dengan
penjelasan secara umum mengenai masalah ini, kemudian penulis akan
mengkerucutkan kepada satu periode yang dipengaruhi oleh dua orang sarjana PL:
Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad yang memberikan sumbangsih mereka terhadap
teologi PL. Tetapi apa yang disumbangkan oleh mereka ini diresponi juga oleh
Brueggemann. Ia memberikan sumbangan pemikiran untuk melihat PL dengan
32Subagyo menjelaskan setidaknya ada tiga buah penekanan yang perlu diperhatikan dalam
jenis penelitian ini. Pertama, masalah dan perhatian sehingga dapat mengupayakan perolehan pemahaman yang luas mengenai konteks data, lingkungan kemunculannya, dan yang memberinya makna. Kedua, sifat pengetahuan yang menggunakan proses dialogis yang bersifat terbuka dan berulang-ulang terhadap objek penelitian. Ketiga, hubungan peneliti dan pokok peneliti. Oleh karena itu, model penelitian yang paling cocok dilakukan adalah telaah kepustakaan. Lih. Andreas Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif Dan Kualitatif: Termasuk Riset Teologi Dan Keagamaan (Bandung: Kalam Hidup, 2004), 118–119.
kacamata testimoni. Memang benar, metode yang ditawarkan oleh Brueggemann ini
pada akhirnya melahirkan sebuah konsep tunggal yang menjawab kebutuhan konsep
teologi PL. Tetapi, apa yang ditawarkan oleh Brueggemann ini tidaklah diterima
sepenuhnya, bahkan mendapatkan beberapa kritik. Berdasarkan poin inilah, skripsi
ini akan dikembangkan.
Bab 2 kan secara khusus berfokus pada pendekatan yang ditawarkan oleh
Walter Brueggemann terhadap Perjanjian Lama. Sama seperti teolog-teolog lainnya,
teologi yang terbentuk adalah teologi yang menjawab zaman di waktu teolog itu hidup.
Oleh karena itu, penjelasan mengenai konteks berteologi Walter Brueggemann dan
kehidupannya akan membuka penjelasan bab 2 ini. Setelah memahami konteks
berteologi dan latar belakang kehidupannya, penulis akan memfokuskan pada
pendekatan yang digunakan oleh Walter Brueggemann: pendekatan sosiologi dan
kritik retorik yang sangat mempengaruhi Brueggemann. Setelah mengerti dengan
jelas mengenai kedua macam pendekatan tersebut, penulis akan memfokuskan pada
bangunan akhir yang lahir dari pendekatan yang ditawarkan oleh Brueggemann ini:
mendekati teks sebagai testimoni. Konsep testimoni ini di dalamnya masih
terbagi-bagi kembali menjadi core testimony, countertestimony, unsolicited testimony, dan
embodied testimony. Menariknya, ketika terbentuk sebuah konsep mengenai
testimoni ini, proses pertentangan (dispute) dan pembelaan (advocacy) pun juga
terjadi. Oleh karena itu, tidak heran jika apa yang ditawarkan oleh Brueggemann ini
bukan hanya satu konsep mengenai testimoni saja, tetapi satu kesatuan antara
testimoni, pertentangan, dan pembelaan. Oleh karena itu, dalam bab selanjutnya,
akan dilakukan sebuah laboratorium penelitian teks, secara khusus teks yang
dipercaya sebagai teks nubuat untuk ditafsirkan berdasarkan pendekatan yang
Bab 3 akan menjadi sebuah laboratorium penelitian: praktik pendekatan
Brueggemann kepada teks yang dianggap bermasalah: teks nubuat. Oleh karena itu,
penulis memilih teks Yesaya 55 untuk dilihat dari kacamata Brueggemann. Setelah
hasil eksegesis berdasarkan pendekatan yang ditawarkan oleh Brueggemann, penulis
akan membandingkannya dengan argumentasi-argumentasi, baik yang setuju maupun
yang menolak terhadap hasil eksegesis berdasarkan pendekatan Brueggemann ini.
Dari kejelasan dalam laboratorium berteologi inilah, penulis akan mengerucutkan
keberadaan pendekatan Walter Brueggemann ini dalam disiplin studi biblika yang
akan dibahas dalam bab selanjutnya.
Bab 4 secara khusus akan melihat keberadaan pendekatan Brueggemann ini di
dalam disiplin studi biblika. Ada tiga buah penekanan yang akan dijabarkan oleh
penulis: respons terhadap pendekatan Walter Brueggemann, perkembangan
pendekatan Walter Brueggemann, dan pengaruh pendekatan Walter Brueggemann
dalam dunia studi biblika dan gereja.
Bab 5 berisi kesimpulan yang akan dipaparkan oleh penulis berdasarkan
analisis-analisis yang telah dilakukan kepada pendekatan yang ditawarkan oleh
Walter Brueggemann. Penulis ingin menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak
kekurangan dalam teologi yang diusulkan oleh Walter Brueggemann ini, bukan
berarti pendekatan Brueggemann ini tidak memberikan sumbangsih sedikitpun bagi
perkembangan studi biblika. Setelah itu, penulis akan memberikan saran-saran yang
terkait dengan penelitian ini untuk menjadi bahan pertimbangan bagi
BAB 2
PENDEKATAN WALTER BRUEGGEMANN TERHADAP PL
Having been introduced to Professor Brueggemann as a teacher, we soon came to realize his stature as a scholar as well. Indeed, he is certainly one of the most prolific
and widely respected and simultaneously controversial. . . Brueggemann has produced a steady stream of influental publication.
-- Timothy K. Beal dan Tod Linafelt
Brueggemann‘s work is not just big, it is exciting, refreshing,
critically self-aware and provocative.
-- Gordon Wenham
Pendahuluan
Dalam bagian ini, penulis akan memaparkan latar belakang kehidupan dan
konteks berteologi Walter Brueggemann sehingga lahirlah teologi PL yang berbentuk
―testimoni.‖ Kemudian, penulis akan melakukan analisis terhadap pembentukkan teologi PL yang diusulkan oleh Walter Brueggemann dengan bentuk ―testimoni.‖
Dalam pembahasan mengenai bentuk teologi PL penulis akan menganalisis
pendekatan yang dilakukan oleh Brueggemann ini di dalam satu rangkaian
Latar Belakang dan Kehidupan Walter Brueggemann
Walter Brueggemann lahir pada tanggal 11 Maret 1933 di Tilden, Nebraska
dan ia merupakan anak dari seorang pendeta gereja Jerman Injili.34 Ia memulai
studinya di Elmhurst College dan lulus pada tahun 1955 dan memperoleh gelar A.B.
sebagai pijakan pertama akademiknya di bidang sosiologi.35 Setelah itu,
Brueggemann kembali melanjutkan studinya ke Eden Theological Seminary dan
mendapatkan gelar B.D. dalam bidang studi PL pada tahun 1958.36 Setelah itu ia juga
kembali melanjutkan studinya dalam bidang PL di Union Theological Seminary dan
memperoleh gelar Th.D. pada tahun 1961 di bawah bimbingan James Muilenburg, 37
seorang yang merupakan pionir dari pendekatan kritik retorik38 dalam disiplin PL
yang ideologinya sangat memengaruhi Brueggemann. 39 Setelah mendapatkan gelar
Th.D., Brueggemann pun mengajar di institusi yang sama dari tahun 1961-1986
34Walter Brueggemann, ―About,‖
Walter Brueggemann, 2013, diakses 20 Maret 2015, www.walterbrueggemann.com.
35Ibid.; Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 242.
36Gelar B.D. merupakan gelar yang setara dengan M.Div. pada masa sekarang (Lih. Brueggemann, ―About‖; Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 242.).
37Brueggemann, ―About‖; J. J. Jackson, ―Muilenburg, James (1896
-1974),‖ ed. Donald K. McKim, Dictionary of Major Biblical Interpreters (Downers Grove: InterVarsity, 2007), 764; Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 243. Brueggemann pun menuliskan pendapatnya mengenai Muilenburg dan menanggapi kritik retorik yang dikembangkan olehnya. Dan dalam tulisannya, Brueggemann melihat kritik retorik yang dikembangkan memiliki tiga ciri khusus: perhatian khusus pada perkataan (speech), keterbukaan terhadap keyahudian, dan keterlibatan penuh Roh Kudus dalam pendekatannya. Lih. Walter Brueggemann, ―James Muilenburg as Theologian,‖ Union Seminary Quarterly Review 50, no. 1–4 (1996): 71–82.
38Pendekatan yang dihasilkan Muilenburg ini memang lahir dari pendekatan form criticism
atau yang disebut gattungsforschung yang juga harus memperhatikan setiap keunikan dari setiap teks. Oleh karena itu, Muilenburg memberikan perhatian lebih pada bentuk sastra atau bentuk retoriknya. Lih. Jackson, ―Muilenburg, James (1896-1974),‖ 763–764; James Muilenburg, ―Form Criticism and Beyond,‖ Journal of Biblical Literature (1969): 1–18.
39Dalam tulisannya, Brueggemann mengakui Prof. James Muilenburg telah mempengaruhinya
sebagai seorang dekan.40 Sambil mengajar, ia pun meraih gelar Ph.D. dalam bidang
pendidikan di St. Louis University.41 Perjalanan karir mengajar Brueggemann pun
tidak hanya ia torehkan di Eden Theological Seminary, pada tahun 1986
perjalanannya sebagai sarjana PL dilanjutkannya di Columbia Theological Seminary
bersamaan dengan momentum diangkatnya Brueggemann menjadi Profesor PL
William Marcellus McPheeder.42 Pada masa inilah, Brueggemann menghasilkan
magnum opus-nya yang dengan judul Theology of The Old Testament pada tahun
1997.43 Kemudian pada tahun 2003, Brueggemann memasuki masa emeritusnya pada
institusi yang sama sampai sekarang.44 Tercatat, dari awal hidup Brueggemann
bahkan sampai melampaui masa emeritusnya, ia merupakan orang yang sangat
produktif dalam menulis tulisan-tulisan yang tidak hanya memengaruhi dunia
pendidikan, tetapi juga merupakan telah memengaruhi sampai lintas gereja.45 Tentu
saja sebagai seorang prolific writer, Brueggemann menunjukkan kekokohan
pemikirannya melalui karya-karya yang ia hasilkan.46
Pengaruh Brueggemann pun tidak terbatas hanya pada institusi-institusi
seminari saja. Bersama dengan istrinya, Marry Bonner Miller, Brueggemann
40Brueggemann, ―About‖; Parrish, ―Brueggemann, Walter.‖
41Timothy K. Beal dan Tod Linafelt, ―In The Fray and at Risk,‖ dalam God in The Fray: A
Tribute to Walter Brueggemann (Minneapolis: Fortress, 2016); Brueggemann, ―About‖; Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 242.
42Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 242.
43Rachel L. Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ The Asbury Journal 70, no. 2 (2015): 88.
44Brueggemann, ―About.‖
45Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ 88.
ditahbiskan sebagai hamba Tuhan yang melayani di United Church of Christ.47 Di
bidang yang lainnya, Brueggemann pun memberikan sumbangsih pada lembaga
literatur-literatur jurnal ternama sebagai editor bagi beberapa lembaga ternama seperti
Fortress Press, the Journal of Biblical Literature, Interpretation, Theology Today,
Sojourners dan Journal for Preachers48 dan bahkan pernah menjabat sebagai
pimpinan dari Society of Biblical Literature.49 Atas apa yang telah Brueggemann
lakukan dalam bidang kesarjanaan dan gereja ini, tidak heran jika gelar ―Sarjana Gerejawi‖ diberikan kepadanya.50
Beal menambahkan, ―Brueggemann was able to bring the biblical literature and even specialized biblical scholarship to life.‖51 Tentu hal ini menjadi dukungan yang memperlihatkan keberadaan Brueggemann dalam
disiplin PL yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Tidak hanya sebagai pribadi yang diingat sebagai seorang sarjana gerejawi,
kehidupan Brueggemann pun menjadi hal yang diingat juga oleh kolega-kolega,
murid-murid, maupun orang-orang lain yang pernah mengenalnya.52 Pribadi
Brueggemann memang dikenal sebagai lawan berdiskusi yang menarik.53 Dan dalam
konteks institusi akademik, seorang kolega mengingat kebiasaan Brueggemann pada
47Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 242.
48Ibid.
49Jackson, ―Muilenburg, James (1896-1974),‖ 764.
50Samuel E. Balentine, ―Foreword,‖
dalam Living Countertestimony: Conversations with Walter Brueggemann (Louisevile: Westminster John Knox, 2012), x.
51Beal dan Linafelt, ―In The Fray and at Risk,‖ 2.
52Balentine, ―Foreword,‖ ix; Walter Brueggemann dan Carolyn J. Sharp, ed., ―Arguing with the Text: A Dinner Conversation with Walter Brueggemann and Colleagues, Boston, November 22, 2008,‖ dalam Living Countertestimony: Conversations with Walter Brueggemann (Louisville: Westminster John Knox, 2012), 2–8.
saat ia menjadi dosen di Columbia Theological Seminary yang selalu datang lebih
awal ke kantornya untuk mengetik doa-doa untuk perkuliahan hari itu.54 Dalam
doa-doa yang diketik oleh Brueggemann, ia memasukkan materi-materi kuliah untuk
memberikan gambaran imajinasi mengenai realitas ilahi dalam perkuliahannya.55
Tidak hanya itu, Tod Linafelt, seorang murid Brueggemann juga memberikan
testimoni bahwa Brueggemann adalah dosen yang membuat materi mengenai Alkitab
menjadi menarik.56 Sehingga tidak mengherankan jika dalam kelas-kelas perkuliahan
yang diajarkan oleh Brueggemann terdapat sebuah interaksi yang hidup. Hal senada
juga ditambahkan oleh Parrish. Ia mencatat ―this lively interaction between
confessing communities and the academic world is one of Brueggemann‘s
trademarks.‖57 Tentu saja kebiasaan ini menunjukkan sebuah poin penting mengenai pada area manakah Brueggemann sedang mengembangkan teologinya, yaitu pada
area pasca-modernisme.58 Sebab, salah satu ciri yang nampak dengan sangat jelas di
dalam area ini adalah peran kehidupan dari komunitas religius yang menjadi faktor
utama dalam proses pembentukkan ideologi, termasuk pendekatan kritik retorik dan
pendekatan sosiologis yang akan dibahas dalam bagian selanjutnya.59 Oleh sebab itu,
tidaklah mengherankan bahwa materi-materi kuliah yang disampaikan olehnya
merupakan sumber dari tulisan-tulisan yang dipublikasikan oleh Brueggemann dalam
bentuk monograf-monograf maupun tulisan-tulisan yang menggambarkan
54Balentine, ―Foreword,‖ ix–x.
55Ibid., ix.
56Brueggemann dan Sharp, ―Arguing with the Text,‖ 3.
57Parrish, ―Brueggemann, Walter,‖ 244.
58Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ 90.
bagaimanakah pendekatan yang dilakukan Brueggemann itu.60 Dan dalam bagian
selanjutnya akan fokus membahas mengenai konteks berteologi yang dihadapi oleh
Brueggemann.
Konteks Berteologi Walter Brueggemann
Berbicara mengenai pendekatan yang dilakukan oleh Brueggemann, publik
mengenal pendekatan yang dilakukan oleh Brueggemann ini dengan menggunakan
metode kritik retorik dan dengan penekanan sosiologis dari Brueggemann.61 Tetapi
pendekatan yang dilakukan oleh Brueggemann ini tidaklah muncul dengan sendirinya,
tetapi sebagai sebuah usaha untuk melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh para
sarjana PL dalam disiplin ilmu ini.62 Apalagi konteks berteologi Brueggemann saat
itu sangat dipengaruhi oleh dua orang raksasa teologi PL seperti Walter Eichrodt dan
Gerhard von Rad yang sedikit banyak telah memengaruhi Brueggemann untuk
mengeluarkan pendekatan teologinya sebagai respons kepada mereka.63 Oleh karena
itu, dalam bagian ini memaparkan dua buah gerakan yang terjadi yang mendorong
pendekatan Brueggemann lahir yaitu pasca keruntuhan kritik historis dan titik
kebangkitan teologi biblika serta sebagai jawaban atas pergerakan menuju pasca
modern.
60Ibid.
61Ibid., 243.
62
No intelligible study begins de novo but must be situated in past and present ongoing conversationn (Theology of the Old Testament, 1).
Pasca Keruntuhan Kritik Historis dan Titik Kebangkitan Teologi Biblika
Momentum pertama lahirnya pendekatan Brueggemann ini ditandai dengan
peristiwa runtuhnya kritik historis pada tahun 1970.64 Ia menilai keruntuhan ini
ditandai dengan diterbitkannya tulisan Gerhard von Rad yang berjudul Wisdom in
Israel dan pada tahun yang sama diterbitkan tulisan Brevard S. Childs dengan judul
Biblical Theology in Crisis.65 Keruntuhan ini menyebabkan apa yang telah dilakukan
Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad menjadi pendekatan yang tidak lagi cukup bagi
studi PL ini.
Walter Eichrodt yang mengembangkan teologinya dengan sebuah kata kunci
―perjanjian,‖ dinilai Brueggemann merupakan sebuah pendekatan yang sangat
tradisional.66 Eichrodt sendiri mengakui bahwa pendekatannya dilakukan dalam
dengan menggunakan pendekatan kritik historis yang baginya merupakan pendekatan
yang tepat untuk diterapkan pada PL.67 Tetapi apa yang dilakukan oleh Walter
Eichrodt ini merupakan pendekatan yang bermasalah karena memaksakan sebuah
konsep pada teks yang kompleks, ambigu, dan multitafsir atau yang dikenal dengan
64Brueggemann, Theology of the Old Testament, 42. Dalam hal ini, Brueggemann pun
mempengaruhi Leo Purdue yang mengembangkan teori mengenai keruntuhan kritik historis untuk teologi PL. Purdue menjelaskan pendekatan historik memiliki beberapa masalah seperti terdapat ketegangan yang besar antara sejarah dengan masa sekarang, perbedaan sudut pandang teologis, krisis epistemologi, penolakan terhadap pendekatan deskriptif yang biasa digunakan oleh kalangan
positivisme, serta perubahan zaman yang bergerak ke arah post-modernisme. Lih. Leo G. Perdue, Reconstructing Old Testament Theology: After The Collapse of History (Minneapolis: Fortress, 2005) 8-14.
65
Brueggemann, Theology of the Old Testament, 42.
66Ibid., 28.
istilah reduksionisme.68 Setuju dengan Brueggemann, Barr pun memang melihat
pendekatan Eichrodt ini dikembangkan dengan prinsip unitarian.69 Walter Eichrodt
melihat bahwa konsep perjanjian ini sebagai hubungan bilateral dan secara esensial
harus melibatkan dua pihak.70 Lebih lanjut, model yang ditawarkan oleh Eichrodt ini
menunjukkan hubungan bilateral yang mengakibatkan posisi manusia juga sepenting
posisi Allah di dalam konteks perjanjian tersebut.71 Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika pendekatan yang ditawarkan oleh Walter Eichrodt ini dinilai oleh
Brueggemann sebagai pendekatan yang sia-sia.72
Selain memiliki pendekatan yang berseberangan dengan Walter Eichrodt,
Brueggemann juga mengkritik pendekatan Gerhard von Rad yang adalah gurunya
selain James Muilenberg.73 Dalam pemahaman von Rad, teologi PL adalah sebuah
proses melanjutkan tradisi yang terjadi dari generasi kepada generasi bangsa Israel
dalam sebuah cerita naratif.74 Dan bagi von Rad, proses inilah yang menjadi aspek
utama dalam pendekatan teologisnya.75 Von Rad berpendapat, ―investigation of the
68Brueggemann, Theology of the Old Testament, 28–30. Dalam bagian ini juga, Brueggemann
melihat bahwa Eichrodt melakukan satu kesalahan fatal dalam mendekati teks yaitu melakukan reduksionisme.
69Barr, The Concept Of Biblical Theology, 30.
70
The use of the covenant concept in secular life argues that the religious berīt too was always regarded as a bilateral relationship; . . . this makes no difference to the fact that the relationship is still essentially two-sided. Lih. Brueggemann, Theology of the Old Testament, 1:37.
71Brueggemann, Theology of the Old Testament, 31. Dalam bagian ini, Brueggemann menambahkan ―the relational quality of reality signified in the term covenant moves against all naturalistic presuppositions, so that no notion of developmentalism could ever move Israel from ―common theology‖ to the peculiar claims it makes in its faith.‖
72Ibid., 29.
73Brueggemann dan Sharp, ―Arguing with the Text,‖ 14.
74
Brueggemann, Theology of the Old Testament, 33.
75von Rad berpendapat re-telling remains the most legitimate form of theological discouse on
history of traditions completely confirms this picture of later Israel‘s increasing
detachment from her sa cral traditions.‖76 Hal ini mengakibatkan sebuah implikasi logis yang terjadi, yaitu tidak terdapat sebuah bentuk normatif yang dapat merangkum
teologi PL secara keseluruhan karena yang tersisa hanyalah sebuah proses pemberian
nilai akan tradisi yang terus menerus terjadi secara dalam kacamata historikal.77
Brueggemann menilai pendekatan yang dilakukan von Rad ini memiliki masalah pada
materi-materi yang mengandung hikmat dalam teks PL yang nampak terpisah dari
kesatuan teologi PL yang diusulkan olehnya, sehingga menimbulkan kemungkinan
reduksionisme juga terjadi jika menggunakan pendekatan ini.78 Hal ini dibuktikan
melalui tulisan belakangan von Rad yang diterbitkan mengenai hikmat dalam Israel
yang merupakan bagian yang terpisah dari teologi PL von Rad. Oleh karena hal
inilah, Brueggemann menyatakan posisinya yang menolak pendekatan yang
ditawarkan oleh von Rad.79 Pada tulisan-tulisan awal dari Brueggemann, ia
mencermati pandangan Von Rad mengenai penciptaan dan menekankan mengenai isu
pluralisme antara teks dengan tradisi penafsiran. Ia menulis, ―it is important that scholarship not shift from one hegemonic model to another hegemonic model but
recognize an irreducible pluralism in both the text and in interpretive habit.‖80 Oleh
76Ibid., 1:70.
77
Israel told the story of all this, and of much besides, and then she thought the whole thing through again and called fresh concepts to her aid to re-tell it, in order to come to a better
understanding of her experience and a more adequate realisation of her own peculiarity. Lih. Ibid., 1:114–115.
78
Brueggemann, Theology of the Old Testament, 36–37.
79Ibid., 61.
karena itu, jelas sekali bagi Brueggemann, masa pendekatan historis telah berakhir.81
Bahkan di dalam percakapan dengan Sharp, seorang profesor dari Yale University,
Brueggemann mengakui bahwa dirinya sangat menentang kritik historis, karena
periode penafsiran sudah beralih ke periode penafsiran post-modern.82
Tetapi di luar dari apa yang menjadi kritikannya kepada von Rad dan kepada
Eichrodt, Brueggemann juga mencermati sebuah gerakan baru yang muncul yaitu
Gerakan Teologi Biblika yang diusulkan oleh Childs.83 Bentuk pendekatan yang
ditawarkan oleh Childs adalah pendekatan kanonikal.84 Brueggemann menilai,
gerakan baru ini dinilai bermasalah karena pendekatan ini tidak sepenuhnya berfokus
pada teks itu sendiri dan masih dipengaruhi oleh ideologi-ideologi 85 Brueggemann
juga menilai pendekatan yang ditawarkan oleh Childs ini masih dipengaruhi oleh
kritik historik yang membuat pendekatan ini dipengaruhi oleh presuposisi teologis
sedangkan terpisah dari teks itu sendiri.86 Oleh karena itu, salah satu implikasi yang
terjadi adalah pengabaian akan tuntunan yang diberikan oleh komunitas iman yang
memiliki berfokus pada tanggung jawab pembacaan teologis.87 Keberadaan
komunitas iman sebagai pembaca teks sangat penting dalam pembentukkan teologi
81Brueggemann, Theology of the Old Testament, 42.
82
Brueggemann dan Sharp, Living Countertestimony, 14; Burke, ―Walter Brueggemann’s Bountiful Harvest,‖ 28.
83Brueggemann, Theology of the Old Testament, 47.
84Ibid., 44.
85
Walter Brueggemann, The Book That Breathes New Life: Scriptural Authority And Biblical Theology (Minneapolis: Fortress, 2005), xiv.
86Meskipun penekanan utama dari pendekatan Childs ini mengutamakan kesatuan kanonikal,
tetapi tetap saja penafsiran teologis yang dilakukan dilakukan dalam skema kritik historis. Lih. Brueggemann, Theology of the Old Testament, 45.
Brueggemann dan akan dijelaskan dalam bagian selanjutnya. Tetapi bagi
Brueggemann, gerakan ini pun masih berkaitan dengan unsur historis yang tidak dapat
menyatu dengan intensitas teks itu sendiri sehingga pendekatan yang dinamakan
teologi biblika tidak cukup biblika dalam praktiknya.88
Sebagai Jawaban atas Pergerakkan Menuju dunia Pasca Modern
Tidak hanya itu keruntuhan masa kritik historis, Brueggemann juga melihat
bahwa momentum yang kedua berkaitan dengan konteks masyarakat yang berjalan
dalam konteks pluralistik.89 Dalam hal ini, ia memiliki kepekaan untuk menyadari
adanya sebuah pergerakkan dalam dunia penafsiran yang berubah ke konteks
pasca-modern.90 Coleman juga mencatat bahwa pendekatan Brueggemann yang bersifat
postmodern telah mempengaruhinya dalam penafsirannya.91 Lebih lanjut, Perdue
mencatat,
Brueggemann sees postmodernism, not as a threat to mainline faith, but rather as a much-needed vehicle to challenge what he calls ―regnant‖ and
―conventional‖ theologies and epistemologies and their dominant modes of
power. He argues this was a raison d’être of historical criticism. . . . this approach was designed, at least in large part to challenge and difuse the authoritarianism of the church.92
88
Ibid., 47.
89Ibid., 61.
90Bahkan ia pun mengakui hal tersebut dengan mengatakan ―
the great new fact of interpretaion is that we live in a puralistic context, in which many different interpreters in many different specific context representing many different interests are at work on textual interpretation.‖ (Ibid., 61–62.)
91Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ 90.
Lebih lanjut, dalam tulisannya yang lebih awal, Brueggemann menjelaskan
makna dari post-modern yang ia maksudkan. Dalam hal ini, Brueggemann banyak
dipengaruhi oleh Jean-Francois Lyotard dalam tulisannya The Post-modern Condition
yang memperlihatkan bahwa tidak ada sebuah narasi besar (grand story) yang harus
disetujui oleh semua kalangan karena perbedaan lokal yang menyebabkan kesamaan
besar harus ditolak.93 Selanjutnya, dalam Text under Negotiation, Brueggemann pun
memaparkan tiga pendapatnya mengenai hal ini yang menunjukkan bahwa
Brueggemann setuju dengan pemikiran Lyotard.94 Pertama, Brueggemann mengakui
bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tidak dapat dipisahkan dari konteks.
Konteks yang dimaksudkan oleh Brueggemann ini mengacu kepada pengetahuan
dasar mengenai realita sosioekonomi dan politik yang akan menjadi pengetahuan itu
sendiri. Oleh karena itu, setiap konteks ini ditentukan dari batasan-batasan area
pengetahuan itu berada. Oleh karena itu, tidak heran jika Brueggemann berkata, ―All one can do is to voice local truth and propose that it pertains everywhere. . . . all our
knowing is quite local, even when we say it in a loud voice.‖95 Dalam hal ini,
pendapat Susan E. Gillingham tepat dengan melihat pendekatan ini yang menganggap
perbedaan dalam penafsiran bukanlah sebagai sebuah masalah tetapi sebagai sebuah
hasil interpretasi teologis yang bermacam-macam.96
Lebih lanjut, dalam hal kontekstualisasi dan sifatnya yang lokal ini akan
membuat pengetahuan tersebut tidak dapat dipisahkan dari karakter yang pluralistik.
93Walter Brueggemann, Texts Under Negotiation: The Bible and Postmodern Imagination
(Minneapolis: Fortress, 1993), 8.
94Ibid., 8–12.
95 Ibid., 9.
96Susan E. Gillingham, One Bible, Many Voices: Different Approaches to Biblical Studies
Lebih jauh lagi, Brueggemann pun memang melihat hal ini dilakukan dalam praktik
gereja termasuk dalam setiap khotbah dan liturgi dibangun dengan memerhatikan
aspek kontekstual, lokal, dan pluralistiknya.97 Tetapi dalam hal ini, Brueggemann
juga memberikan batasan bagi dirinya sendiri agar pendekatannya tidak jatuh ke
ekstrem yang lainnya, yaitu relativisme.98 Kemudian, dalam proses pengembangan
mengenai proses imajinasi (yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya),
Brueggemann sendiri mengakui bahwa pandangannya ini lahir dari kesadaran akan
era baru yang dimulai dengan tingkat kepartikularan yang tinggi.99 Oleh sebab itu,
tidak heran jika bentuk teologi baru yang diperkirakan Brueggemann akan
berkembang akan bersifat dapat dinegosiasi oleh para pembacanya.100
97Brueggemann, Texts Under Negotiation, 9.
98
Ibid., 9–10. Dalam hal ini Brueggemann pun menambahkan argumennya. Pertama, ia tidak mendukung bahwa objektivitas telah tidak ada. Tetapi permasalah yang muncul di sini adalah tidak ada sebuah standar yang pasti untuk menentukan kebenaran manakah yang paling benar. Kedua, Brueggemann juga berpendapat bahwa relativisme bukanlah sebuah ancaman dibandingkan objektivisme. Baginya, objektivismelah yang merupakan masalah utama karena akan menentang pluralistik yang menjadi ini dari filsafat postmodern. Oleh karena itu, Brueggemann menyarankan praktik-praktik perspektivisme. Pandangan perspektivisme itu sendiri berbicara mengenai sebuah alat untuk melihat sebuah realita yang ada. Melalui pandangan ini, masalah-masalah realita yang tidak dapat dibuktikan dapat dijawab melalui perspektif yang kita miliki. Dan dengan pandangan inilah, Brueggemann mengembangkan pandangan postmodernnya yang bersifat perspektif. Dalam hal ini, objektivitas baru dapat diputuskan setelah mempertimbangkan perspektif lain. (bdk. Brueggemann, Theology of the Old Testament, 103–104).
99
Brueggemann, Texts Under Negotiation, 17.
Tanggapan Brueggeman Terhadap Hubungan Teologi PL dengan Dogmatika Gerejawi
Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan juga dalam pendekatan ini adalah
mengenai hubungan teologi PL dengan teologi gereja. Brueggemann melihat adanya
isu mengenai relasi antara klaim-klaim teologi gereja dengan klaim-klaim teologi PL
dapat memiliki beberapa macam relasi.101 Pertama, sebuah sistem doktrinal teologi
yang sudah tersusun memiliki kecenderungan yang besar kepada reduksionisme yang
sering dijumpai dalam teks-teks PL yang nampak berbeda dan bervariasi.102 Dalam
hal ini, Brueggemann sangat memerhatikan isu reduksionisme sebagai masalah utama
yang harus dihindari dalam melakukan penafsiran teks PL karena doktrin teologi yang
sudah tersusun sistematik tidak dapat berkompromi dengan teks-teks yang sifatnya
tidak sepasti doktrin tersebut. Dalam hal ini Wenham dengan jeli melihat bahwa
Brueggemann secara langsung membantah doktrin yang dimiliki di dalam PL tidak
sedang membicarakan mengenai doktrin Tuhan Yesus yang lebih banyak disinggung
pada PB.103
Kedua, kritik historis yang mengikuti keberagaman kualitas dari teks dapat
terganggu dengan paradigma kanonikal yang harus dipaksakan dalam penafsiran
101Relasi yang muncul ini adalah akibat dari kritik modern yang berkembang di dunia
penafsiran Alkitab (Brueggemann, Theology of the Old Testament, 105–106).
102Ibid., 106.
teks.104 Di sisi lain, keadaan ini juga dapat membatasi penafsir dalam melakukan
tafsiran yang seharusnya dapat dilakukan dengan bebas agar semua horizon dalam PL
dapat disentuh tanpa memerhatikan keberadaannya dalam kanon Alkitab. Tentu ini
dalam praktik ini, akan memberikan celah bagi dilakukannya reduksionisme bagi
horizon-horizon yang tidak memiliki kaitan dalam kerangka berpikir kanonikal yang
dipaksakan oleh beberapa model penafsiran. Dalam hal ini, Brueggemann
menjelaskan bahwa kebebasan dalam penafsiran ini harus berada dalam koridor yang
sesuai dengan tradisi sola scriptura, sehingga tidak menyebabkan penafsiran yang
melebihi dari konteks dan konten yang ada.105 Dan dalam menghadapi tensi ini,
Brueggemann berpendapat, ―the work of biblical theology to counter the reductionism
and to bear resilient witness to those texts and their interpretations that do not ―fit.‖
Thus the work of biblical theology vis-a-vis systematic theology, is one of tension that
is honest but not quarrelsome.‖106 Meskipun demikian, Brueggemann juga menyadari bahwa tidak ada resolusi final antara ketegangan tugas sistemisasi teologi dan juga
pekerjaan penafsiran biblika yang sulit.
Tanggapan Brueggemann terhadap Keyahudian Teks PL
Hal yang perlu diperhatikan juga dalam pendekatan baru yang diusulkan oleh
Brueggemann berbicara mengenai bagaimana peran konteks Yahudi di dalam
pendekatan ini karena perlu diakui bahwa karakter keyahudian yang muncul dalam
104Brueggemann, Theology of the Old Testament, 106.
105
Brueggemann, ―Theology of the Old Testament: Testimony, Dispute, Advocacy Revisited,‖ 107.
teks-teks PL tidak dapat dihindari.107 Tetapi Brueggemann menyatakan posisinya
yang berbeda dengan Childs yang harus memerhatikan juga karakter Yahudi yang
terdapat dalam teks PL.108 Ia pun mencatat, ―what Jews and Christians share is much more extensive, much more important, much more definitional than what divides
us.‖109
Di sisi lain, Brueggemann lebih mengakui satu karakteristik yang
dimunculkan oleh PL yaitu polyphonic yang dimiliki oleh teks PL itu sendiri yang
sangat penting dan kemudian menjadi epistemologinya dalam berteologi.110 Tentunya
hal ini menimbulkan ketegangan-keteganga dalam hal interpretasi. Salah satu
contohnya, Brueggemann melihat bahwa teks-teks PL tidak hanya mengarah kepada
pribadi Yesus dari Nazareth sama seperti yang terdapat dalam pemahaman teologi PL
yang dianut oleh gereja selama ini dalam memahami teks-teks nubuat mengenai sosok
107Ibid.
108Ibid., 108. Dalam hal ini, Brueggemann melihat Childs mengembangkan pendekatan yang
kembali kepada penafsiran yang sudah tercampur dengan pemahaman-pemahaman dogmatika gerejawi. Meskipun dalam hal ini Brueggemann mengakui bahwa Childs memiliki kapasitas melakukan itu, tetapi dalam perkembangan dunia teologi PL sedang berjalan ke arah pemisahan antara pembacaan yang sifatnya Yahudi dan pembacaan yang sifatnya Kristiani. Dan menariknya Brueggemann pun mencatat bahwa pendekatan yang dilakukan oleh Childs ini dapat berakibat menjadi pendekatan yang sifatnya sektarianisme.
Hal ini juga bukan berarti bahwa penolakan kepada pendekatan yang dilakukan oleh Childs ini sebagai jalan terbaik dalam berteologi PL. Brueggemann juga mencatat bahwa di sisi lain, penolakkan terhadap apa yang dilakukan Childs ini hanya berfokus kepada karakter yang tidak terkekang dalam melakukan pendekatan teologi PL. Dalam hal ini, klaim-klaim dogmatik yang terdapat dalam gereja tidak akan membatasi pengalaman berteologi PL seseorang.
109Ibid., 109.
110Ibid.; Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ 90.
Dalam tulisan yang belakangan, Brueggemann menggunakan terminologi plurivocal untuk
Mesias Yahudi yang diharapkan.111 Baginya, berita-berita mengenai kedatangan
Mesias ini seharusnya hanya dimaknai dalam horizon yang lebih luas.112 Dalam hal
ini, Brueggemann sangat menyarankan bagi setiap pembaca teks PL agar tidak
terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman umum. Sehingga tidak heran jika
Brueggemann berkata, ―Beyond that, in my judgment, Christians do not need to crowd
the reading of the Old Testament into a confessional corner.‖113 Dalam hal ini Brueggemann sangat menekankan mengenai horizon penafsiran yang seharusnya
memiliki dimensi yang sangat luas. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika
Brueggemann sendiri menyatakan bahwa pendekatan ini bersifat post-modern.
Di sisi lain, perluasan horizon penafsiran ini memberikan dampak yaitu akan
membuka kemungkinan besar untuk menafsirkan tindakan-tindakan apa yang akan
Allah lakukan tidak hanya sekadar yang ditulis dalam PB, tetapi seakan-akan
membuka kesempatan juga bagi Allah untuk menggunakan bentuk-bentuk lain dalam
menentukan masa depan.114 Selanjutnya, kebebasan dalam penafsiran ini juga dilihat
Brueggemann sebagai sebuah usaha untuk mengembalikan pola penafsiran kepada
zaman rabi-rabi Yahudi kuno yang mendekati teks tanpa batasan.115 Pendekatan yang
dilakukan oleh rabi-rabi Yahudi kuno tidak terbatas pada pensistemisasian, tetapi
111Brueggemann, Theology of the Old Testament, 109.
112Sebagai salah satu contoh yang lainnya, Brueggemann juga memberikan argumentasi
mengenai horizon yang lebih luas dalam memaknai teks mengenai doa Tuhan Yesus yang ditulis dalam Yohanes 17. Dalam penafsiran gerejawi secara umum, perikop ini hanya mengarahkan kepada
kerajaan Tuhan Yesus yang akan dinyatakan di kemudian hari. Tetapi Brueggemann mencoba melihat horizon yang lebih luas dengan berpendapat bahwa doa yang terdapat dalam perikop ini juga berbicara mengenai kedatangan akan pemerintahan Allah ke dalam dunia (lih. Ibid.)
113 Ibid.
114Ibid.
hanya berdasarkan teks itu sendiri. Oleh sebab itu, karakter teks yang polifonik ini
juga harus diperlakukan dengan metode-metode yang beragam, komunitas yang
beragam, dan batas-batas penafsiran yang beragam pula.
Di sisi lain, karakter teks yang polifonik ini juga mengandung banyak
metafora sebagi bentuk-bentuk ucapan juga memengaruhi usaha-usaha penafsiran
yang dilakukan.116 Dalam hal ini, pandangan Brueggemann sangat dipengaruhi oleh
pandangan filsafat Paul Ricoeur yang juga melihat masalah dalam hal interpretasi.117
Salah satu masalah utama yang diangkat oleh Ricoeur yang juga muncul dalam
penafsiran teks-teks PL adalah terdapatnya makna berganda (multiple meanings) yang
terdapat dalam teks.118 Bagi Ricoeur, hal ini disebabkan karena terdapat simbolisme
yang menjadi problem utama dalam penafsiran yang berfokus pada semantik dari
linguistik.119 Oleh karena itu, gaya metode Ricoeur inilah yang kemudian akan
diserap oleh Brueggemann dalam melakukan penafsiran teks PL ini.
Kemudian, Brueggemann juga melihat adanya penggunaan gaya bahasa
hiperbola, ambiguitas dan keterbukaan yang terdapat dalam teks PL yang seharusnya
diperlakukan sebagaimana teks-teks itu diperlakukan, sehingga penting sekali untuk
mempertimbangkan faktor retorika keyahudian dalam teks PL.120 Oleh karena itu,
salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam menganalisis pendekatan yang
diusulkan oleh Brueggemann ini adalah dengan memberikan penekanan analisis pada
116Brueggemann, Theology of the Old Testament, 110.
117Ibid., 57–59.
118Paul Ricoeur, The Conflict of Interpretations: Essays in Hermeneutics (Evanston:
Northwestern University, 1996), 63.
119Ibid., 62.
sisi retorika keyahudian teks itu sendiri.121 Lebih lanjut, Brueggemann juga melihat
bahwa teks yang ada bukanlah sekadar teks biasa, melainkan sebuah presentasi yang
menjadi jalan untuk memasuki dunia iman.122 Jadi, yang menjadi penekanan di dalam
pendekatan ini bukan lagi berbicara mengenai pendekatan historis yang dilakukan
kepada teks itu sendiri, tetapi lebih mengacu pada sisi analisis teks itu sendiri dengan
batasan yang sesuai dengan para pembaca tersebut. 123 Komunitas Yahudi sebagai
pembaca pertama yang melakukan penafsiran itu sendiri bahkan dianggap sebagai
sebuah kualitas yang setara dan utama sebagai faktor utama penafsiran itu sendiri.124
Tanggapan Brueggemann terhadap Peran Pembaca
Dalam hal ini, salah satu faktor yang penting yang tidak dapat diacuhkan
dalam pendekatan Brueggemann adalah mengenai keberadaan para pembaca yang
melakukan interaksi dengan teks Alkitab. Brueggemann menulis bahwa situasi
interpretasi yang sedang berkembang sekarang berbeda dengan situasi interpretasi
yang berkembang di masa-masa yang lampau.125 Brueggemann menjelaskan bahwa
pengetahuan iman yang dimiliki oleh orang Kristen hari ini tidak dapat dipisahkan
dari isu-isu yang berkaitan dengan kekuasaan yang ―meresap‖ baik di dalam teks maupun di dalam pembacaan yang dilakukan terhadapnya.
121Coleman, ―Walter Brueggemann’s Enduring Influence on Biblical Interpretation,‖ 90.
122
Walter Brueggemann, Old Testament Theology: Essays on Structure, Theme, and Text (Minneapolis: Fortress, 1992), 255.
123Brueggemann, ―Biblical Theology Appropriately Postmodern,‖ 99.
124Jon D. Levenson, ―Is Brueggemann Really A Pluralist?,‖
Harvard Theological Review 93, no. 3 (2000): 270.
Oleh karena itu, dalam mengerjakan teologi PL dalam era ini, Bureggemann
bukan hanya sekadar mengusulkan praktik yang bersifat religius ataupun seperti
sebuah proyek dari komunitas gerejawi, tetapi sebagai sebuah diskusi publik
mengenai hal-hal apa saja yang harus diputuskan dalam tengah-tengah pergumulan
yang dihadapi oleh pembaca. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Brueggemann
berkata, ―The Old Testament insists that there is a moral shape to the public process
that curbs the raw exercise of power. It equally insists that there is a hidden cunning
in the historical process that is capable of surprise, and that prevents the absolutizing
of any program or power.‖126
Dan salah satu pemikiran Brueggemann yang memungkinkan faktor ini dapat
dimiliki disebabkan karena isu-isu publik yang terjadi dalam era ini tidaklah lepas dari
horizon-horizon PL.127 Atau dengan kata lain, diskusi yang dilakukan oleh pembaca
teks ini masih relevan dengan horizon-horizon yang tercakup dalam teks PL.
Kemudian, dalam memahami ―diskusi‖ yang terjadi dalam bagian ini mengacu pada
proses interaksi yang akan harus dilalui oleh para pembaca teks PL untuk menemukan
kebenaran dalam teks PL tersebut. Dalam hal ini, penting sekali untuk menyadari
bahwa keragaman ―diskusi‖ sebagai hasil dari bacaan inilah yang akan mewarnai
dinamika penafsiran terhadap teks-teks PL. 128 Bahkan Wenham menambahkan
bahwa disksi-diskusi publik inilah yang menjadi perbedaan yang mencolok antara
pendekatan Brueggemann dengan pendekatan kritik historis yang sangat
126 Ibid.
127Ibid., 114.