i
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DAN
KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWALYANG BERPACARAN
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni
NIM: 099114123
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
Aku selalu percaya kasih Tuhan itu nyata
Ketika terjatuh, terpuruk dan terluka, aku selalu percaya bahwa
Tuhan sangat mencintaiku. Karena saat itu, tangan Tuhan sedang
bekerja untuk menjadikanku semakin kuat. Dan setelah itu, aku
akan merasakan kasih Tuhan dan kebahagiaan dari-Nya yang
luar biasa…
Hidup akan selalu terdapat masalah, namun tetap berusaha yang
terbaik dan selalu bersyukur atas segala nikmat Tuhan adalah
v
Dengan rasa syukur, skripsi ini kupersembahkan untuk:
Tuhanku Yang Maha Pengasih,
Orangtuaku yang tersayang,
Seseorang yang terkasih dan teristimewa
Dan orang-orang yang menyayangi maupun membenciku yang telah
vii
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DAN
KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG BERPACARAN
Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara kelekatan tidak aman dengan kecemburuan pada pria yang berpacaran. Subjek pada penelitian ini berjumlah 103 orang. Karakter subjek adalah seorang pria dewasa (18-35) yang sedang menjalin suatu hubungan (pacaran) dan di Yogyakarta. Hipotesis pada penelitian ini adalah “semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat kecemburuan seseorang”. Skala yang digunakan untuk mengukur kelekatan tidak aman adalah Experiences in Close Relationships (ECR) Scale yang terdapat pada penelitian Fraley, Brennan, Waller (2000). Untuk mengukur variabel kecemburuan, skala yang mengacu pada penelitian Dijkstra, Barelds dan Groothof (2010) yaitu menggunakan Partner Behaviours Scale. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi dariPearson. Hasil dari pengolahan data menunjukkan korelasi sebesar -0.055. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada korelasi atau hubungan antara kelekatan tidak aman dan kecemburuan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini ditolak.
viii
THE RELATION BETWEEN INSECURE ATTACHMENT AND JEALOUSY IN ADULT MEN WHO ARE DATING
Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni
ABSTRACT
This research see the relations between insecure attachment and jealousy in men who are dating. Amount of subjects in this research are 103 subjects. The character of subject is a date man (between 18-35 years old). Hypothesis in this research is “Higher the Level of Insecure Attachment, Higher the Level of Jealousy in Men Who are Dating”. The scale of this research used to measure insecure attachment is Experiences in Close Relationships (ECR) Scale by Fraley, Brennan, Waller (2000) researches. Measuring jealousy to a person used a scale that commonly used by Dijkstra, Barelds and Groothof (2010) using Partner Behaviours Scale. Processing data in this research used correlation by Pearson. The coefficient correlation as result in this research is -0.055. It means there is no correlation between insecure attachment and jealousy.. Thereby, the hypothesis in this research was rejected.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat dan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa. Berkat bimbingan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan, bimbingan
dan dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Dekan Universitas Sanata Dharma, Bapak Siswa Widyatmoko yang
terhormat. Terima kasih telah membantu, mendukung dan membimbing
saya dalam menempuh perkuliahan.
2. Kaprodi Universitas Sanata Dharma, Ibu Ratri Sunar Astuti yang
terhormat. Terima kasih atas bimbingan, dukungan dan bantuan yang telah
diberikan selama saya menempuh perkuliahan.
3. Dosen pembimbing skripsi, Bapak Heri Widodo yang terhormat. Terima
kasih atas bimbingan, bantuan dan dukungan serta kesabarannya dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Dosen pembimbing akademik yang terhormat, Bapak Siswa Widyatmoko.
Terima kasih atas bimbingan dan dukungan yang diberikan selama saya
menempuh perkulihan di Universitas Sanata Dharma.
5. Papi dan Mami yang tersayang. Terima kasih atas doa, dukungan dan
bantuan baik dalam hal moral dan materi, kesabaran dan kasih sayang
yang tiada hentinya selama proses penyusunan skripsi ini.Mami, papi,
xi
6. Seseorang yang sangat istimewa. Terima kasih atas dukungan, bantuan,
motivasi, kesabaran dan doa yang luar biasa dan tiada hentinya yang telah
diberikan selama proses penyusunan skripsi ini.
7. Teman-teman seperjuangan yang terhebat. Terima kasih atas bantuan,
semangat, motivasi dan kerja samanya selama proses penyusunan skripsi
ini.We have finished it guys!!
8. Seluruh dosen Fakultas Psikologi, saudara dan teman yang terkasih.
Terima kasih atas segala bentuk bantuan, dukungan dan semangat yang
diberikan selama proses pembuatan skripsi ini.
9. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan. Terima
kasih telah membantu dan mendukung proses pembuatan skripsi ini.
Semoga sekiranya Tuhan berkenan membalas atas segala bantuan dan jasa
yang telah diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini terdapat kesalahan dan
ketidaksempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi
penulis maupun pembacanya.
Penulis,
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT...viii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL... xvi
DAFTAR LAMPIRAN... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 8
C. TUJUAN PENELITIAN... 8
D. MANFAAT PENELITIAN... 8
1. Manfaat Teoritis ... 8
xiii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
A. DEWASA AWAL... 10
1. Pengertian... 10
2. Tugas Perkembangan Dewasa Awal ... 10
3. Ciri-ciri Sosio-Emosi Dewasa Awal ... 12
4. Hubungan Romantis (Romantic Relationship)... 14
B. KELEKATAN (ATTACHMENT) ... 14
1. Pengertian... 14
2. Tipe Kelekatan ... 16
3. Dampak Kelekatan ... 22
C. KECEMBURUAN (JEALOUSY) ... 24
1. Pengertian... 24
2. Bentuk Perilaku Pasangan yang Menyebabkan Kecemburuan ... 26
3. Faktor Penyebab Kecemburuan ... 27
4. Proses Kecemburuan... 29
5. Aspek Kecemburuan ... 31
D. HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG BERPACARAN ... 33
xiv
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 36
A. JENIS PENELITIAN ... 36
B. VARIABEL PENELITIAN ... 36
C. DEFINISI OPERASIONAL ... 36
D. SUBJEK PENELITIAN... 37
E. METODE PENGAMBILAN SAMPEL ... 37
F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA ... 38
1. Metode Pengumpulan Data ... 38
2. Alat Pengumpulan Data ... 38
G. KREDIBILITAS ALAT UKUR ... 41
H. METODE ANALISIS DATA... 44
1. Uji Asumsi ... 44
2. Uji Hipotesis ... 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46
A. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN ... 46
B. DATA DEMOGRAFIS... 46
C. UJI ASUMSI ... 47
1. Uji Normalitas... 47
2. Uji Linearitas... 48
D. HASIL PENELITIAN... 49
1. Uji Hipotesis ... 49
2. Statistik Deskriptif ... 49
xv
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 53
A. KESIMPULAN ... 53
B. SARAN ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 54
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Blue-printKelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba... 39
Tabel 3.2. Blue-printKecemburuan Sebelum Diuji Coba ... 41
Tabel 3.3. Blue-printKelekatan Dewasa Setelah Diuji Coba ... 42
Tabel 3.4. Blue-printKecemburuan Setelah Diuji Coba ... 43
Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Hubungan Berpacaran... 47
Tabel 4.2 Normalitas Variabel Penelitian ... 48
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Skala Kecemburuan (Try-Out) ... 58
Lampiran 2 Skala Kelekatan (Try-Out) ... 63
Lampiran 3 Skala Kecemburuan ... 69
Lampiran 4 Skala Kelekatan ... 73
Lampiran 5 Reliabilitas dan Seleksi Aitem Kecemburuan ... 77
Lampiran 6 Reliabilitas dan Seleksi Aitem Kelekatan ... 80
Lampiran 7 Uji Normalitas ... 82
Lampiran 8 Uji Linearitas ... 85
Lampiran 9 Uji Korelasi ... 87
Lampiran 10 Statistik Deskriptif ... 89
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Proses perkembangan manusia merupakan proses seumur hidup.
Proses tersebut akan terus terjadi dan tidak ada periode usia yang
mendominasi perkembangannya, sehingga manusia akan terus menjalin relasi
dengan lingkungannya (Santrock, 2002). Proses perkembangan manusia
terdiri dari beberapa periode dan setiap periode memiliki tugas
masing-masing. Periode masa perkembangan meliputi periode pra-kelahiran, masa
bayi, masa awal kanak-kanak, masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, masa
remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa
(Santrock, 2002). Pada masa dewasa awal individu memiliki tugas
perkembangan yang meliputi kemandirian pribadi, ekonomi, pengembangan
karir, memilih pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab,
memulai kehidupan berkeluarga dan mengasuh anak (Santrock, 2002). Selain
itu, pada masa dewasa awal seorang individu akan mulai serius memikirkan
masa depannya, baik dalam hal karir maupun dalam menjalin hubungan
dengan lawan jenis. Pada masa ini, seorang individu akan mengalami suatu
perubahan, diantaranya adalah Identity and Intimacy (Identitas dan
Keintiman). Perubahan tersebut terjadi ketika seorang individu akan mulai
mencoba menjalin hubungan yang serius dengan orang lain (Schismberg &
Menjalin suatu relasi untuk mencari pasangan hidup diawali dengan
adanya hubungan romantis yang melibatkan dua orang berlawanan jenis atau
biasa disebut dengan Romantic Relationship (Wisnuwardhani & Mashoedi,
2012). Dalam menjalin relasi romantis, hubungan individu dengan
pasangannya akan dipengaruhi oleh kelekatan yang dimiliki masing-masing
individu (working model). Kelekatan pada dewasa menjelaskan bahwa
keadaan dari individu saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh dirinya sendiri,
tetapi kelekatan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman
seseorang terhadap figur lekat pada masa kecilnya (M. Main dalam
Stanojevic, 2004).
Kelekatan menurut Bowlby adalah suatu relasi antara figur sosial
tertentu dengan suatu keadaan tertentu yang dianggap mencerminkan
karakteristik unik. Dalam hal ini, figur sosial adalah figur seorang ibu sebagai
pengasuh (Santrock, 2002). Pola kelekatan tersebut dapat digunakan untuk
melihat bagaimana seorang individu akan menjalin hubungan dengan orang
lain, seperti keluarga, teman, pasangan dan orang asing (Baron dan Byrne
dalam Santrock, 2002).
Teori kelekatan milik Bowlby dikembangkan oleh beberapa tokoh,
diantaranya adalah Fraley dan Waller (dalam Nosko, Tieu, Lawford & Pratt,
2011) mengemukakan dua tipe kelekatan, yaitu insecure attachment
(kelekatan tidak aman) yang dibedakan menjadi dua yaitu avoidant
attachment (kelekatan menolak) dan anxiety attachment (kelekatan cemas),
attachment (kelekatan menolak) adalah seorang individu yang kurang
memiliki interaksi dengan orang lain karena adanya penolakan untuk dekat.
Anxiety attachment (kelekatan cemas) adalah seorang individu yang yang
memiliki kecenderungan untuk sangat bergantung dengan orang lain dan
merasa tidak mampu hidup tanpa orang lain. Sedangkan Secure Attachment
(kelekatan aman) adalah perasaan aman yang dimiliki oleh seorang individu,
sehingga ia dapat melakukan sesuatu dengan bebas.
Individu dengan kelekatan tidak aman dalam menjalin relasi dengan
lawan jenisnya akan berpengaruh pada tingkat komitmen, kepuasan berelasi,
dan perilaku seksualnya. Selain itu, dampak dari kelekatan tidak aman yang
dimiliki oleh individu dengan pasangannya dalam menjalin relasi romantis
akan berpotensi mengalami atau merasakan suatu perasaan cemburu terhadap
pasangannya atau biasa disebut dengan Romantic Jealousy (Levy & Kelly,
2010).
Feeney dan Noller (1990) menyatakan bahwa kelekatan berkorelasi
cukup besar dengan penghargaan diri (self-esteem). Menurut White and
Mullen (1989) orang yang cemburu memiliki perasaan takut kehilangan, rasa
tidak percaya pada pasangan dan adanya ancaman terhadap harga diri seorang
individu. Hal ini sejalan dengan hasil survey pra-penelitian yang menyatakan
bahwa penyebab seseeorang cemburu adalah kurangnya penghargaan terhadap
Hazan dan Shaver (dalam Shaver, 2002) menyatakan bahwa orang
dengan tipe insecure attachment khususnya anxious attachment akan
cenderung tidak percaya dengan pasangannya dan merasa takut kehilangan.
Seorang individu yang memiliki tipe anxious attachment adalah orang yang
merasa kurang percaya diri, merasa kurang berharga, dan memandang orang
lain mempunyai komitmen yang rendah dalam hubungan interpersonal
(Simpson, 1990), ragu-ragu terhadap pasangan dalam hubungan romantis
(Levy&Davis, dalam Feeney & Noller, 1990). Seorang individu dengan tipe
kelekatan menghindar (avoidant attachment) cenderung tidak memiliki rasa
percaya pada pasangannya dan merasa bahwa dirinya tidak memiliki arti
penting bagi pasangannya (Fricker & Moore, 2002). Perasaan tersebut akan
meyebabkan seseorang menjadi cemburu terhadap pasanngannya karena tidak
adanya rasa percaya dan merasa tidak berharga. Individu akan beranggapan
bahwa orang lain lebih berharga dari dirinya sehingga akan merasa cemburu
jika ada orang lain (lawan jenis) yang mendekati pasangannya (Acton, 2010).
White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menyatakan
bahwaRomantic Jealousy merupakan suatu pikiran, emosi dan tindakan yang
komplek. Hal yang komplek tersebut meliputi perasaan takut kehilangan atau
ancaman terhadap harga diri dan kualitas dari hubungan romantisnya.
Perasaan tersebut muncul dari persepsi seorang individu yang beranggapan
Cemburu merupakan respon dari ketakutan akan kehilangan. Respon
tersebut dikategorikan menjadi dua tipe. Tipe pertama merupakan variasi dari
orang yang berfikir rasional (Ellis, 1977), orang yang reaktif (Bringle, 1991),
dan orang yang mampu menghadapi keadaan dari kecemburuan (Parrot,
1991). Dampak dari tipe pertama ini seseorang akan memiliki hubungan yang
nyata, jelas dan tidak ambigu. Tipe kedua adalah seseorang yang memiliki
kecurigaan atau pemikiran yang irasional. Dampak dari tipe kedua ini
seseorang akan memiliki hubungan yang tidak jelas, adanya kecurigaan,
ketakutan, kecemasan serta rasa tidak aman (Acton, 2010).
Acton (2010) menyatakan bahwa terdapat dua hal yang
menyebabkan seseorang menjadi cemburu. Pertama, kecemburuan dilihat
sebagai rasa takut akan kehilangan yang berkaitan dengan masa depannya,
unsur dari ancaman tersebut adalah waktu. Ketika waktu menjadi sebuah
penderitaan yang akan datang di masa depan (Tellenbach, 1974). Meskipun
penyebab cemburu cenderung berasal dari masa lalu seseorang, tetapi pada
dasarnya kecemburuan adalah suatu obsesi untuk melindungi diri sendiri dari
sesuatu yang akan terjadi pada masa depan. Kedua, adanya pengalaman dari
suatu persitiwa yang ditakutkan telah terjadi, seperti ditinggal pergi oleh orang
yang dicintai. Hal ini membuat seorang individu menjadi rentan terhadap
cemburu dengan mencurigai pasangan berikutnya (Tellenbach, 1974).
Kecemburuan yang dialami pada masa menjalin hubungan romantis
cukup sering terjadi. Untuk melihat fenomena kecemburuan pria dengan
pra-penelitian (Maret, 2013). Sampel yang digunakan mahasiswa karena usia pada
dewasa awal berada berkisaran usia mahasiswa (18-25 tahun). Pada survey
pra-penelitian ini ada 55 pria yang sedang menjalani masa pacaran dan berusia
20-24 tahun. Lima puluh pria menyatakan bahwa mereka merasakan cemburu
terhadap pasangannya dan 5 pria tidak merasa cemburu terhadap pasangannya.
Dari survey tersebut, dapat disimpulkan 90% dari sampel menyatakan bahwa
seorang pria merasakan cemburu terhadap pasangannya.
Buss dkk (dalam Levy, Kelly & Jack, 2006) menemukan bahwa pria
cenderung melihat ketidaksetiaan secara seksual lebih distressful
dibandingkan perempuan. Levy, Kelly dan Jack (2006) menyatakan dampak
kecemburuan pada pria adalah ia akan cenderung melakukan kekerasa bahkan
pembunuhan pada pasangannya. Hal ini terjadi tidak terbatas pada budaya
tertentu. Pria yang melakukan kekerasan hingga mencoba membunuh dan
benar-benar membunuh pasangannya karena cemburu serta melakukaknnya
secara terus menenurus tergolong pada kecemburuan yang ekstrim.
Kecemburuan yang ekstrim tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan klinis
yang disebut dengan kecemburuan patologis (pathological jealousy) atau
morbid jealousy(Shepherd, dalam Easton & Shackelford, 2009).
Kasus kecemburuan yang berakhir pada kekerasan bahkan hingga
terjadinya pembunuhan sering dilakukan oleh seorang pria. Easton dan
Shackelford (2009) menyatakan bahwa persentase perilaku kekerasan yang
dilakukan oleh pria pada pasangannya karena cemburu lebih besar daripada
membunuh pasangan dan benar-benar membunuh pasangannya. Dijkstra dan
Buunk (2004) juga menyatakan penyebab kecemburuan pada pria dapat
berasal dari adanya indikasi perselingkuhan seksual yang dilakukan oleh
pasangannya dengan orang lain. Hal ini dapat terjadi ketika pasangannya
tersenyum pada pria lain, apalagi jika pria tersebut lebih tampan, muda dan
berstatus sosial lebih tinggi dari dirinya. Perilaku tersebut dapat menyebabkan
seorang pria cenderung ingin terlibat dalam segala aktivitas dan kegiatan
pasangannya.
Hasil survey pra-penelitian (Maret, 2013) melihat beberapa alasan
atau penyebab seorang pria cemburu terhadap pasangannya, baik berdasarkan
karakter pasangan maupun karakter saingan. Penyebab cemburu yang paling
banyak berdasarkan karakter pasangan diantaranya adalah pasangan terlalu
dekat dengan lawan jenisnya. Alasan lain adalah karena pasangannya terlalu
peduli dan terbuka dengan lawan jenisnya. Selain itu karena pasangannya
selalu membicarakan lawan jenisnya atau mantan kekasihnya. Beberapa pria
juga menyatakan bahwa mereka cemburu karena pasangannya terlalu centil
dengan lawan jenisnya. Hal lain yang membuat seorang pria cemburu
berdasarkan karakter saingan di antaranya adalah saingannya lebih keren dari
dirinya. Kemudian, saingan lebih pintar dan kaya. Ada juga yang menyatakan
bahwa saingannya lebih populer, serta jauh lebih baik dari dirinya dalam
Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa kelekatan tidak aman yang dimiliki oleh seorang individu
terhadap pasangannya dapat mempengaruhi tingkat kecemburuannya pada
pasangan.
Melihat permasalahan tersebut, maka peneliti ingin melihat adakah
hubungan antara tipe kelekatan tidak aman dengan kecemburuan seorang pria
pada pasangannya.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat
hubungan atau korelasi antara tipe kelekatan tidak aman dengan kecemburuan
pada pria dewasa.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat adanya hubungan atau
korelasi antara tipe kelekatan dengan kecemburuan pada pria dewasa.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan dan
Psikologi Sosial mengenai pentingnya mengetahui hubungan antara tipe
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan bagi seorang
pria mengenai pentingnya pengelolaan atau menejemen kecemburuan. Hal
ini bertujuan agar dapat menjalin dan mengembangkan hubungan romantis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEWASA AWAL
1. Pengertian
Subjek pada penelitian ini adalah pria yang berada pada tahap
perkembangan masa dewasa awal. Masa dewasa awal (early adulthood)
adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun
atau awal usia duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun
(Santrock, 2002). Selain itu, menurut sumber lain mengaatakan bahwa usia
pada masa dewasa awal adalah berawal dari usia 20 tahun sampai 40 tahun
(Papalia, Old & Feldman, 2008). Dapat disimpulkan bahwa seorang
individu pada tahap dewasa awal berusia 19 tahun hingga 35 tahun.
2. Tugas Perkembangan Dewasa Awal
Masa dewasa awal adalah masa pemilihan pasangan, belajar
hidup dengan seseorang secara akrab dan memulai hubungan yang serius
dengan lawan jenis (Santrock, 2002). Dalam teori Erik Erikson (Santrock,
2002), individu akan mengalami delapan tahap perkembangan semasa
hidupnya. Setiap tahap terdiri dari tugas perkembangan dan individu akan
dihadapkan dengan suatu krisis yang dihadapi. Apabila seorang individu
mampu mengatasi krisis pada tahap perkembangannya, maka akan
Tahap pada perkembangan dewasa awal adalah tahap keenam
dari delapan tahap yang ada, yaitu Keintiman dan Keterkucilan (intimacy
and isolation). Tahap ini seorang individu akan menghadapi tugas
perkembangan dalam pembentukan relasi yang intim atau akrab dengan
orang lain. Jika individu mampu menjalin relasi yang akrab maka
keintiman akan tercapai, tetapi jika tidak maka individu akan mengalami
isolasi. Selain itu, pada masa ini individu juga akan mengalami suatu
perubahan, di antaranya adalah Identity and Intimacy (Identitas dan
Keintiman). Perubahan ini individu akan mulai mencoba menjalin
hubungan yang serius dengan orang lain (Schismberg & Smith, 1982).
Menurut Erikson (dalam Santrock, 2002), apabila seorang individu tidak
mampu menjalin suatu hubungan, maka dapat menyebabkan adanya
penolakan, pengabaian dan penyerangan terhadap orang lain yang
dianggapnya sebagai penghalang.
Masa dewasa awal merupakan waktu perubahan yang dramatis
dalam relasi personal ketika seorang individu mulai membentuk dan
mempererat ikatan yang didasarkan pada pertemanan, cinta, dan
seksualitas. Perkembangan psikososial masa dewasa awal, seorang
individu akan membuat keputusan mengenai hubungan yang lebih intim
dan sebagian besar individu akan menikah dan menjadi orang tua (Papalia,
3. Ciri-ciri Sosio-Emosi Dewasa Awal
a. Ciri Sosial
Ciri-ciri sosial seorang individu pada masa dewasa awal
adalah adanya gaya interaksi intim yang berbeda-beda pada tiap
individu. Gaya interaksi tersebut dibagi menjadi lima klasifikasi
menurut Jakob Orlofsky (Santrock, 2002), yaitu :
1. Gaya interaksi yang intim (intimate style), yaitu seorang individu
yang membentuk dan mempertahankan satu atau lebih suatu
hubungan yang mendalam dan cenderung lama.
2. Gaya interaksi pra-intim (preintimate style), yaitu seorang individu
yang memiliki strategi untuk menawarkan cinta tanpa adanya
kewajiban atau ikatan yang lama.
3. Gaya interaksi stereotip (stereotyped style), yaitu seorang individu
ketika menjalin hubungan akan cenderung didominasi oleh ikatan
persahabatan dengan teman yang berjenis kelamin sama.
4. Gaya interaksi intim yang semu (pseudointimate style), yaitu
seorang individu yang memiliki kelekatan seksual dalam waktu
yang lama namun tanpa adanya kedekatan yang dalam dengan
lawan jenisnya.
5. Gaya interaksi menyendiri (isolated style), yaitu individu yang
menarik diri dari sosialnya dan tidak memiliki kelekatan dengan
b. Ciri Emosi
Selain itu, pada masa dewasa awal seorang individu juga
memiliki ciri-ciri secara emosional. Ciri-ciri emosional tersebut di
antaranya adalah adanya perasaan tertarik dengan lawan jenisnya dan
memiliki keinginan untuk menghabiskan waktunya dengan mereka.
Terkadang, seorang individu akan tertarik dengan lawan jenis yang
memiliki kesamaan dengan dirinya seperti kesamaan sikap,
karakteristik, kepribadian dan gaya hidup. Akan tetapi ada juga yang
menganggap bahwa memiliki perbedaan akan lebih menarik, seperti
seseorang yang introvert akan mengharapkan memiliki pasangan yang
ekstrovert. Pada umumnya, seseorang akan lebih tertarik dengan lawan
jenisnya yang memiliki karakteristik yang sama (Berndt & Perry)
dalam Santrock, (2002).
Individu yang sedang menjalani hubungan romantis memiliki
ciri-ciri emosional, seperti adanya kesadaran terhadap diri, adanya
perasaan empati pada orang lain, memiliki kemampuan
mengkomunikasikan emosi dengan baik pada orang lain, memiliki
kemampuan dalam pembuatan keputusan seksual, serta memiliki
kemampuan dalam penyelesaian konflik dan kemampuan
4. Hubungan Romantis (Romantic Relationship)
Hubungan romantis adalah suatu pertemuan antara dua orang
(lawan jenis) yang secara khusus memiliki arah untuk menjalin suatu
komitmen pernikahan. Pacaran adalah proses untuk saling mengenal,
menerima kelebihan dan kekurangn pasangan serta membangun suatu
hubungan yang kuat (Wisnuwardhani & Mashoedi, 2012).
B. KELEKATAN (ATTACHMENT)
1. Pengertian
Teori kelekatan menjelaskan dasar-dasar dari ikatan afeksional
seorang individu dengan orang lain. Teori kelekatan untuk pertama kalinya
diungkapkan oleh Psikolog asal Inggris John Bowlby pada tahun 1958
(Baron & Byrne dalam Santrock, 2002). Kelekatan adalah suatu relasi
antara figur sosial tertentu dengan suatu keadaan tertentu yang dianggap
mencerminkan karakteristik unik. Dalam hal ini, figur sosial adalah figur
seorang ibu sebagai pengasuh (Bowlby, 1969, 1989). Ainsworth (dalam
Mc.Cartney & Dearing, 2002) mengungkapkan bahwa kelekatan
merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak
melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam
kehidupannya, biasanya orang tua. Secara singkat, kelekatan adalah suatu
Pola kelekatan yang dijelaskan oleh Bowlby dapat diterapkan
pada semua tahap perkembangan seorang individu, mulai dari bayi hingga
dewasa. Pola kelekatan tersebut dapat digunakan untuk melihat bagaimana
seorang individu akan menjalin hubungan dengan orang lain, seperti
keluarga, teman, pasangan, dan orang asing (Baron & Byrne dalam
Santrock, 2002). Kemudian, pola kelekatan ini dikembangkan oleh
Bartholomew berdasarkan teori kelekatan milik Bowlby menjadi empat
grup model tipe kelekatan pada tahap dewasa. Perbedaan antara dua teori
milik Bartholomew dan Bowlby, Bowlby menggunakan model kerja
antara diri dengan figur kelekatan. Sedangkan menurut Bartholomew diri
dapat dibedakan menjadi positif dan negatif, kemudian pada figur
kelekatan juga dibedakan menjadi positif dan negatif (Adult Attachment,
1996, hal. 51). Kelekatan pada dewasa menjelaskan bahwa keadaan dari
individu saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh dirinya sendiri, tetapi
kelekatan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman seseorang
terhadap figur lekat pada masa kecilnya (Main dalam Stanojevic, 2004).
Kelekatan yang terjadi pada seorang individu yang dewasa dapat
didefiniskan sebagai kecenderungan yang stabil pada individu untuk
berusaha mencari dan memperthankan keakraban atau kedekatannya
dengan orang lain yang dapat memberikan rasa aman karena merasa
terlindungi secara fisik maupun psikologis. Selain itu, kelekatan pada
perilaku seorang individu yang melibatkan kedekatan dan keakraban
dengan orang lain sebagai pasangannya.
Berdasarkan dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan
bahwa kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang
dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai
arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua. Kelekatan pada
dewasa menjelaskan bahwa keadaan dari individu saat ini tidak hanya
dipengaruhi oleh dirinya sendiri, tetapi kelekatan tersebut dipengaruhi oleh
lingkungan dan pengalaman seseorang terhadap figur lekat pada masa
kecilnya.
2. Tipe Kelekatan
Bentuk kelekatakan menurut Fraley dan Waller (dalam Nosko,
Tieu, Lawford & Pratt, 2011) dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipeInsecure
Attachment(kelekatan tidak aman) yang dibagi lagi menjadi duaAvoidant
Attachment (kelekatan menolak) dan Anxiety Attachment (kelekatan
cemas) serta tipeSecure Attachment(kelekatan aman).
a. Insecure Attachment
Kelekatan tidak aman (Insecure Attachment) merupakan
perasaan tidak aman yang ditunjukkan dengan perilaku yang
cenderung tertutup, menunjukkan sikap takut kepada orang asing,
kurang percaya diri (Gentzler & Kerns, 2004). Pada tipe kelekatan
tidak aman dibagi menjadi dua tipe kelektan, yaitu:
1. Avoidant Attachment
Kelekatan menolak (Avoidant Attachment) adalah seorang
individu yang kurang memiliki interaksi dengan orang lain karena
adanya penolakan untuk dekat. Seorang individu akan cenderung
merasa tidak cemas saat tidak ada orang lain di sisinya,
menghindari kontak apabila ada orang lain. Individu dengan tipe
kelekatan ini akan cenderung pemarah dan tidak mencari bantuan
saat membutuhkan. Seorang individu akan menunjukkan perasaan
tidak amannya dengan menghindari orang lain (Fricker & Moore,
2002).
2. Anxiety Attachment
Kelekatan cemas atau (Anxiety Attachment) adalah
seorang individu yang yang memiliki kecenderungan untuk sangat
bergantung dengan orang lain dan merasa tidak mampu hidup
tanpa orang lain. Hal imi menyebabkan seorang individu dengan
tipe kelekatan ini menjadi sangat cemas dan takut untuk
ditinggalkan oleh orang lain. Selain itu, individu juga sangat takut
b. Secure Attachment
Kelekatan aman (Secure Attachment) adalah perasaan aman
yang dimiliki oleh seorang individu, sehingga ia dapat melakukan
sesuatu dengan bebas karena ia percaya bahwa ibunya akan tetap
memperhatikannya walau jauh dari tempat ia berada (Santrock, 2002).
Keluarga yang dapat mendukung agar anak dapat dipercaya, adanya
penerimaan satu sama lain, saling mendukung pasangan secara
emosional ketika dibutuhkan dan adanya toleransi perpisahan dengan
pasangan serta adanya rasa percaya adanya hubungan yang romantis
dan dapat bertahan lama akan membentuk seorang individu ketika
dewasa memiliki rasa aman terhadap pasangannya.
Selain itu, Bartholomew membedakan empat tipe kelekatan pada
dewasa berdasarkan dua dimensi, yaitu dimensi objek (object of mental
models) dan dimensi perasaan utama terhadap objek (predominant feeling
about that object). Pada dimensi objek dibedakan menjadi dua, yaitu diri
dan orang lain. Pada dimensi perasaan utama terhadap objek juga
dibedakan menjadi dua, yaitu positif dan negatif (Adult Attachment, 1996,
Empat grup model kelakatan menurut Bartholomew (Adult
Attachment, 1996) :
a. Secure partner attachment
Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki
kecemasan yang rendah dan penolakan yang rendah. Hal ini
merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang positif
terhadap diri sendiri dan positif terhadap orang lain.
Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memandang
dirinya sebagai orang yang berharga, penuh dengan dorongan dan
beranggapan bahwa orang lain sebagai orang yang bersahabat,
dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ketika menjalin suatu hubungan
yang romantis, maka mereka akan saling mempercayai (Levy & Davis
dalam Feeney & Noller, 1990). Pada umumnya, seorang individu
dengan kelekatan ini akan mengekspresikan rasa percayanya pada
pasangan, tidak mudah marah dan mencurigai pasangan, serta
beranggapan bahwa konflik yang ada akan dapat memberi dampak
yang positif dan membangun bagi hubungannya.
Seorang individu yang memiliki tipe kelekatan ini akan
cenderung memiliki hubungan yang baik, bertahan lama, memiliki
komitmen dan menyenangkan. Selain itu, individu tidak akan merasa
cemas apabila di tingglakan oleh pasangan dan tidak cemas untuk
memiliki hubungan yang dekat (Baron & Byrne dalam Santrock,
b. Dismissing Partner attachment
Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki
kecemasan yang rendah dan penolakan yang tinggi. Hal ini
merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang positif
terhadap diri sendiri dan negatif terhadap orang lain.
Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini yaitu karena
adanya kecenderungan untuk memandang orang lain negatif, maka
individu ini akan menolak dan menjadi takut untuk mejadi dekat
dengan orang lain. Hubungan emosional yang individu jalani baik,
akan tetapi cenderung menolak adanya hubungan yang dekat dengan
orang lain yang bertujuan agar ia terhindar dari penolakan terhadap
dirinya dari orang lain. Selain itu, individu akan cenderung tidak
menampakkan kebutuhannya untuk dicintai pada pasangan karena
adanya perasaan takut dan cemas akan disakiti dan penolakan.
c. Preoccupied partner attachment
Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki
kecemasan yang tinggi dan penolakan yang rendah. Hal ini
merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang negatif
terhadap diri sendiri dan positif terhadap orang lain.
Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memandang
hubungan yang romantis, orang dengan tipe kelekatan ini cenderung
ingin memiliki kedekatan yang berlebihan dengan pasangan karena
adanya perasaan takut kehilangan. Akan tetapi, individu ini juga
mengalami kecemasan dan merasa tidak berharga untuk dicintai orang
lain.
d. Fearful partner attachment
Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki
kecemasan yang tinggi dan penolakan yang tinggi. Hal ini
merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang negatif
terhadap diri sendiri dan negatif terhadap orang lain.
Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memiliki sifat
yang mudah marah, memiliki potensi yang tinggi untuk bermusuhan
dengan orang lain, adanya penolakan akan kedekatan dengan orang
lain, dan akan cenderung kurang menyenangkan dalam menjalin suatu
hubungan romantis, akan tetapi individu tersebut akan mencurigai dan
takut kehilangan pasangannya. Selain itu, individu memiliki perasaan
yang tidak aman apabila dekat dengan orang lain dan akan mengalami
kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Seorang
individu dengan tipe kelekatan ini akan cenderung menghindari
hubungan yang dekat dengan orang lain dan cukup membatasi diri, hal
ini bertujuan untuk melindungi diri dari perasaan sakit jika adanya
3. Dampak Kelekatan
Pada tiap tipe kelekatan yang dimiliki oleh seorang individu
dengan pasangannya akan menimbulkan beberapa dampak, yaitu:
a. Rasa Percaya Pada Pasangan
Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar akan
cenderung kurang memiliki rasa percaya pada pasangannya.
Kemudian, seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar juga
cenderung kurang memiliki rasa percaya pada pasangannya. Rasa tidak
percaya tersebut seperti kecurigaan bahwa pasangannya tidak
benar-benar mencintainya dan pasangannya tidak setia. Seorang individu
dengan tipe kelekatan aman akan cenderung lebih mempercayai
pasangannya (Fricker & Moore, 2002).
b. Harga Diri
Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan
cenderung memiliki harga diri yang rendah terhadap pasangannya. Hal
ini disebabkan karena adanya perasaan tidak memiliki arti penting bagi
pasangannya. Individu dengan kelekatan menghindar cenderung
merasa bahwa dirinya sangat berharga daripada orang lain. Kemudian,
individu dengan tipe kelekatan aman merasa bahwa dirinya cukup
berharga bagi pasangannya, sehingga membuat individu dapat menjadi
c. Kecemasan
Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar dan
cemas memiliki kecemasan akan ditinggalkan dan diabaikan oleh
pasangannya. Akan tetapi, pada individu dengan kelekatan aman tidak
memiliki kecemasan akan ditinggalkan oleh pasangannya (Fricker &
Moore, 2002).
d. Ketergantungan Terhadap Pasangan
Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan
cenderung sangat bergantung dan merasa tidak mampu berdiri sendiri
tanpa pasangannya. Seorang individu dengan tipe kelekatan
menghindar cenderung sangat tidak tergantung pada pasangannya
karena merasa tidak nyaman dengan adanya kedekatan dan keintiman
dengan orang lain. Sedangkan individu dengan tipe kelekatan aman
bergantung dengan pasangannya dan ia merasa nyaman jika
pasangannya juga tegantung dengan dirinya (Fricker & Moore, 2002).
e. Hubungan dengan Pasangan
Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar akan
cenderung menjaga jarak dengan pasangan, sehingga dalam menjalin
suatu hubungan romantis akan cenderung tidak bahagia. Begitu pula
dengan hubungan romantis yang dijalani oleh individu dengan
individu dengan kelekatan aman dapat menjalin hubungan yang
romantis dengan bahagia, hal ini disebabkan karena adanya rasa aman
dan dapat menjadi diri sendiri (Fricker & Moore, 2002).
C. KECEMBURUAN (JEALOUSY)
1. Pengertian
Kecemburuan digambarkan sebagai keadaan yang cukup
berbahaya bagi seseorang (Greenberg & Pyszczynski; Hauck dalam
Scheinkman, 2010). Berawal dari perasaan cinta akan tetapi didorong oleh
kemarahan, kecemburuan adalah pengalaman yang kompleks yang terjadi
ketika orang lain sebagai saingannya mengancam suatu hubungan
romantis yang sangat bergaharga baginya (Pines, 1998).
Scheinkman (2010) menjelaskan kecemburuan merupakan suatu
pengalaman emosional yang didasarkan pada ketakutan yang mendalam
akan kehilangan orang yang dicintai, suatu perasaan dan pikiran, serta
suatu tindakan dan reaksi. Easton dan Shackelford (2009) menyatakan
bahwa kecemeburuan adalah hasil dari pengalaman yang pernah dirasakan
dengan adanya ancaman pada hubungan yang romantis dan hal tersebut
menghasilkan perilaku yang dirancang untuk mempertahankan
pasangannya (Buss et al. 1992; Buss and Shackelford 1997; Daly et al.
White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menjelaskan
bahwa kecemburuan merupakan pikiran, emosi dan tindakan yang
kompleks. Hal yang kompleks tersebut meliputi perasaan takut kehilangan
atau ancaman terhadap harga diri dan kualitas dari hubungan romantis
tersebut. Perasaan tersebut muncul dari persepsi seorang individu bahwa
pasangannya menjalin hubungan dengan orang lain. Acton (2010)
menyatakan bahwa kecemburuan adalah suatu perasaan seseorang yang
takut kehilangan.
Berhm (dalam Wisnuwardhani & Mashoedi, 2012) menjelaskan
bahwa kecemburuan merupakan respon dari seorang individu terhadap
ketidakpastian dari pasangannya, baik yang bersifat aktual maupun yang
dibayangkan oleh individu tersebut. Penke dan Asendorpf (2001)
menyatakan bahwa kecemburuan adalah suatu respon dari perasaan
seseorang terhadap situasi yang nyata maupun imajinasi ketika orang yang
berharga terancam hilang karena adanya orang lain (‘romantic
jealousy’;White, 1981; White & Mullen, 1989).
Bevan dan Lannutti (2002) menjelaskan bahwa kecemburuan
juga merupakan suatu pengalaman. Pengalaman dari kecemburuan
tersebut melibatkan kecemburaun kognitif dan kecemburuan emosi.
Kecemburuan kognitif didefinisikan sebagai pikiran individu,
kekhawatiran, dan kecurigaan akan suatu kemungkinan mengenai
melibatkan berbagai perasaan seperti rasa tidak aman, takut, marah, dan
kesedihan (Pfeiffer & Wong, 1989).
Berdasarkan dari pengertian kecemburaun diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa kecemburuan merupakan suatu pengalaman dan
perasaan takut ditinggalkan oleh pasangannya. Kecemburuan tersebut
menghasilkan perilaku yang dirancang untuk mempertahankan pasangan
dan hubungannya.
2. Bentuk Perilaku Pasangan yang Menyebabkan Kecemburuan
Pada penelitian Dijkstra, Barelds & Groothof (2009) menjelaskan
mengenai emapt bentuk perilaku kecemburuan seseorang, yaitu:
a. Perilaku Mencurigakan (Suspicious Behaviour)
Bentuk dari perilaku mencurigakan ini ditandai dengan
adanya perilaku pasangan seperti merangkul lawan jenisnya,
menghabiskan banyak waktu dan saling berbagi ikatan emosional
dengan lawan jenis.
b. Perilaku tidak setia
Bentuk dari perilaku tidak setia ditandai dengan adanya
perilaku pasangan seperti mengirimkan pesan kepada lawan jenisnya
dengan intensitas yang cukup sering dan dengan nada romantis, serta
c. Pornografi
Bentuk kecemburuan seseorang dengan pasangannya pada
perilaku pornografi ditandai dengan adanya keterlibatan pasangan
dengan segala hal yang berhubungan dengan pornografi. Seperti
contohnya pasangan menonton film porno dan melihat majalah porno.
d. Technological investment
Perilaku pasangan yang menyebabkan kecemburuan pada
bentuk ini adalah adanya keterlibatan pasangan dengan orang lain
secara seksual melalui internet. Seperti contohnya pasangan
melakukan hubungan seks dengan orang lain melalui dunia maya
(cyber sexdanchat box).
3. Faktor Penyebab Kecemburuan
Menurut beberapa penelitian, perasaan cemburu yang muncul
dari seseorang dapat disebabkan oleh dua faktor. Yaitu faktor eksternal
atau faktor yang berasal dari luar individu dan faktor internal yang berasal
dari individu sendiri.
a. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dapat menyebabkan seorang individu
cemburu terhadap pasangannya adalah tingkah laku pasangan yang
lebih tertarik dengan orang lain daripada dirinya, baik secara
menjadi sebuah ancaman bagi hubungan yang sedang dijalani (Olson
& Defrain, 2006). Selain itu, bisa juga dari saingan atau orang lain
yang menyukai pasangannya (Miller dalam Wisnuwardhani &
Mashoedi, 2012).
b. Faktor Internal
Pines (dalam Scheinkman, 2010) menyatakan bahwa faktor
kecemburuan dapat timbul dari tiap karakteristik individu. Diantaranya
adalah seorang individu yang merasa cemburu pada pasangannya
karena kurangnya percaya diri, memiliki penghargaan diri (
self-esteem) yang rendah, sangat tergantung pada pasangannya, serta tidak
dapat mempercayai pasangannya. Selain itu, terdapat beberapa faktor
internal yang menyebabkan seorang individu menjadi cemburu, yaitu:
1. Adanya perasaan tidak berharga dari diri sendiri
Perasaan ini akan menimbulkan persepsi dari seorang
individu bahwa orang lain lebih berharga dari dirinya sehingga
akan merasa cemburu jika ada orang lain (lawan jenis) yang
mendekati pasangannya (Hansen dalam Bringle & Buunk, 1991).
2. Ketergantungan pada pasangan.
Seorang individu yang sangat tergantung pada
menjaga dan kehilangan pasangannya maka mereka akan sendiri
(Olson & Defrain, 2006).
3. Kelekatan
Penelitian Levy and Kelly (2010) juga menyatakan bahwa
faktor yang menyebabkan kecemburuan dapat berasal dari
kelekatan seseorang terhadap pasangannya.
4. Proses Kecemburuan
Menurut White and Mullen (dalam Penke & Asendorpf, 2001)
seorang individu yang cemburu pada pasangannya akan melalui beberapa
proses. Proses tersebut diantaranya :
a. Primary Appraissal
Pada proses ini, seorang individu akan merasakan dan
menilai adanya ancaman terhdap hubungan yang sedang dijalani.
Ancaman tersebut bisa datang dari luar maupun dari dalam individu
tersebut, hal ini tergantung pada persepsi individu dalam melihat
ancaman tersebut.
b. Secondary Appraissal
Pada proses ini, individu yang telah merasakan adanya
ancaman dalam hubungannya, maka ia akan berusaha untuk
akan mulai berfikir mengenai cara mengatasi masalah yang dihadapi.
dan kemudian akan mulai mengevaluasi bukti-bukti yang mendukung
atau tidak beradasarkan ancaman tersebut. Akan tetapi, kecenderungan
seorang individu dalam melalui proses ini adalah adanyaCatastrophic
thingking atau mengambil kesimpulan yang ekstrim saat sedang
cemburu.
c. Emotional Reaction
Pada proses ini, seorang individu yang mengalami cemburu
ketika pemikiran dan perasaan cemburu terhadap pasangannya terdapat
fakta yang mendukung, maka individu akan mengalami reaksi
emosional. Seorang individu yang mengalami cemburu akan
mengkaitkan kecemburuan tersebut dengan emosi yang negatif, seperti
marah (pada pasangan maupun saingan), cemas dan takut akan
kehilangan, perasaan sedih dan depresi.
d. Coping with the situation
Seorang individu dalam mengatasi perasaan cemburu
(coping) tergantung dari proses sebelumnya, dan masing-masing
individu memiliki caranya sendiri-sendiri tergantung pada penilaian
dan persepi pada proses sebelumnya. Tingkah laku seorang individu
berusaha untuk mempertahanakan hubungan dan berusaha menjaga
harga diri (self-esteem) yang dimilikinya.
5. Aspek Kecemburuan
White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menyatakan
bahwa kecemburuan terdiri dari tiga aspek, yaitu kognisi, afeksi dan
perilaku. Hal ini juga didukung oleh Pfeiffer and Wong (1989) yang
menyatakan bahwa aspek dari kecemburuan terdiri dari kognisi, afeksi dan
perilaku.
a. Aspek Kognisi (Cognitive Jealousy)
Dalam aspek kognisi terdiri dari pikiran-pikiran seorang
individu yang meliputi kecemasan atau ketakutan, kekhawatiran, dan
kecurigaan akan adanya hubungan yang dijalani pasangan dengan
orang lain (lawan jenis).
b. Aspek Afeksi (Emotional Jealousy)
Pada aspek ini, seorang individu yang cemburu akan
melibatkan berbagai perasaan emosi seperti perasaan tidak aman,
ketakutan, marah dan kesedihan terhadap hubungan dan perilaku
c. Aspek Perilaku (Behavioral Jealousy)
Pada aspek ini, seorang individu yang cemburu dengan
pasangannya akan cenderung melakukan perilaku yang berfungsi
untuk menjaga pasangan agar tidak ditinggalkan. Perilaku tersebut
seperti mengawasi kegiatan pasangan, menanyakan dan mencari
keberadaan pasangan, serta membatasi kegiatan pasangan dengan
tujuan agar pasangan tidak melakukan kegiatan yang akrab dengan
2.4. HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN
KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG
BERPACARAN Merasa tidak berharga
Seorang individu dengan tipe kelekatan aman akan cenderung lebih
mempercayai pasangannya, merasa bawa dirinya berharga dan tidak
khawatir jika ditinggalkan oleh pasangannya. Individu dengan tipe kelekatan
ini cukup bergantung dengan pasangannya dan merasa nyaman jika
pasangannya bergantung dengan dirinya. Meskipun demikian, ia tetap bisa
menjadi dirinya sendiri (Fricker & Moore, 2002). Hal ini membuat seorang
individu dengan kelekatan aman akan cenderung memiliki tingkat
kecemburuan yang rendah, karena adanya rasa percaya pada pasangan dan
penghargaan diri yang tinggi (Acton, 2010).
Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan cenderung
sangat bergantung dan merasa tidak mampu berdiri sendiri tanpa
pasangannya, kurang memiliki kepercayaan serta merasa tidak berharga
sehingga ia cenderung memiliki kecemasan bahwa pasangannya tidak
benar-benar mencintainya. (Fricker & Moore, 2002). Hal ini membuat seorang
individu dengan kelekatan cemas akan cenderung memiliki tingkat
kecemburuan yang tinggi, karena seorang individu yang sangat tergantung,
tidak percaya dan merasa dirinya tidak berharga pada pasangannya akan
mudah cemburu (Acton, 2010).
Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar cenderung
tidak memiliki rasa percaya pada pasangannya. Individu akan menolak
untuk sangat dekat dengan pasangan sehingga merasa tidak nyaman jika
tergantung dengan pasangannya. Kemudian, individu tersebut memiliki
tetapi ia cenderung melindungi dirinya dengan cara menolak orang lain
karena beranggapan bahwa dirinya sangat berharga (Fricker & Moore,
2002). Hal ini membuat seorang individu dengan kelekatan menghindar
akan cenderung memiliki tingkat kecemburuan yang tinggi, karena tidak
adanya rasa percaya sehingga akan merasa cemburu jika ada orang lain
(lawan jenis) yang mendekati pasangannya (Acton, 2010).
E. HIPOTESIS
Berdasarkan dari penjelasan diatas, maka peneliti memiliki hipotesis
bahwa semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional.
Penelitian ini, akan melihat hubungan antara kelekatan tidak aman (insecure
attachment) dengan kecemburuan (Jealousy)pada pria.
B. VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah kelekatan tidak
aman (insecure attachment) yang memiliki dua tipe kelekatan, yaitu tipe
kelekatan cemas (anxiety attachment) dan tipe kelekatan menolak
(avoidant attachment)serta tipe kelekatan aman (secure attachment).
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kecemburuan
(Jealousy)pria.
C. DEFINISI OPERASIOANL
Kelekatan tidak aman (insecure attachment) merupakan perasaan
tidak aman yang ditunjukkan dengan perilaku yang cenderung tertutup,
menunjukkan sikap takut kepada orang asing, merasa kurang nyaman dan
diukur dengan skalaExperience in Close Relationship(ECR) (Fraley, Brennan
& Waller, 2000). Skor dengan nilai tinggi pada skala ini menunjukkan
semakin tinggi kelekatan tidak aman seorang individu dan begitu juga
sebaliknya.
Kecemburuan adalah gambaran dari keadaan yang cukup berbahaya
dan merupakan suatu pengalaman yang pernah dialami seseorang dalam
menjalin suatu hubungan yang romantis. Variabel ini diukur dengan
menggunakan skalaPartner Behaviours Scale (Dijkstra, Barelds & Groothof,
2010). Skor dengan nilai tinggi pada skala ini menunjukkan semakin tinggi
kecemburuan seorang individu terhadap pasangannya dan begitu juga
sebaliknya.
D. SUBJEK PENELITIAN
Subjek pada penelitian ini adalah:
1. Pria
2. Dewasa awal, dengan rentang usia 18-35 tahun.
3. Sedang menjalani hubungan (pacaran)
E. METODE PENGAMBILAN SAMPEL
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah incidental
sampling. Teknik ini digunakan karena subjek pada penelitian ini ditentukan
secara tidak sengaja namun tetap memiliki kriteria sebagai sumber data
F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
1. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan skala likert untuk
mengumpulkan data dari subjek. Pada penelitian ini, skala yang akan
digunakan untuk melihat tipe kelekatan yang dimiliki serta skala
kecemburuan digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya kecemburuan
yang dimiliki oleh Pria di Yogyakarta yang sedang menjalin hubungan
berpacaran.
Pada skala kelekatan terdapat aitem yang bersifat favorable dan
unfavorable. Aitem favorable adalah aitem yang mendukung variabel
yang ingin diukur, sedangkan aitem unfavorable adalah aitem yang
bertolak belakang dengan variabel yang ingin diukur. Sedangkan pada
skala kecemburuan hanya terdapat aitem yang bersifatfavorable.
2. Alat Pengumpulan Data
a. Experience in Close Relationship Scale
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala
adaptasi, yaitu Experience in Close Relationship (ECR) Scale untuk
melihat tipe kelekatan dewasa, khususnya tipe kelekatan avoidantdan
anxiety. Proses adaptasi dilakukan oleh salah satu dosen Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta fakultas Psikologi, yaitu bapak Siswa
PadaExperiences in Close Relationship Scale, jawaban skala
terdiri dari 7 alternatif pilihan, yaitu STS (Sangat Tidak Setuju), TS
(Tidak Setuju), ATS (Agak Tidak Setuju), N (Netral), AS (Agak
Setuju), S (Setuju), dan SS (Sangat Setuju). Aitem favorable diberi
penilaian dari angka terkecil, yaitu 1 (STS), sampai angka terbesar,
yaitu 7 (SS). Penilaian untuk aitem unfavorable dilakukan mulai dari
angka terbesar, yaitu 7 (STS) sampai angka terkecil, yaitu 1 (SS).
Tabel 3.1.Blue-printKelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba
Aitem skala adaptasi Experiences in Close Relationship
sebelum diuji coba berjumlah 36 buah aitem.
b. Partner Behaviours Scale
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala
adaptasi, yaitu Partner Behaviours Scale untuk mengukur tinggi
rendahnya kecemburuan yang dimiliki oleh seorang pria. Proses
adaptasi dilakukan oleh peneliti, kemudian meminta bantuan kepada
salah satu sarjana PBI untuk mengkonfirmasi hasil terjemahan. Setelah
itu, peneliti mengkonsultasikan hasil tersebut kepada dosen
pembimbing penelitian.
Pada Partner Behaviours Scale, jawaban skala terdiri dari 5
alternatif pilihan, yaitu 1 sampai 5. Pilihan 1 menunjukkan tidak
Tabel 3.2.Blue-printKecemburuan Sebelum Diuji Coba
Aitem skala adaptasiPartner Behaviours Scalesebelum diuji
coba berjumlah 42 buah aitem.
Indikator Aitem Jumlah
Perilaku mencurigakan 5, 7, 9, 10, 14, 18, 28, 32 8
Perilaku tidak setia 19, 19, 20, 21, 22, 23, 24,
25, 26, 27, 29, 30, 31, 36,
37, 42
16
Pornografi 1, 2, 3, 4, 33, 34, 35 7
Technological Investment 6, 8, 11, 12, 15, 16, 17,
38, 39, 40, 41
11
G. KREDIBILITAS ALAT UKUR
1. Validitas
Suatu tes dikatakan memiliki validitas bila tes tersebut mengukur
apa yang seharusnya diukur Azwar (2007). Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan validitas isi. Pada penelitian ini, orang ahli yang
2. Seleksi Aitem
Seleksi aitem dilakukan untuk melihat aitem-aitem yang baik
dalam alat ukur. Pada penelitian ini, selsksi aitem dilakukan dengan cara
menggunakanSPSS 15.0 for Windows.
Tabel 3.3.Blue-printKelekatan Dewasa Setelah Diuji Coba
Aitem diuji coba pada 48 orang subjek dan dianalisis
menggunakan SPSS dengan melihat Korelasi Aitem Total (Rit). Aitem
yang memiliki Rit ≥0.25 dipandang memiliki daya diskriminasi yang baik.
Aitem yang gugur berjumlah 11, yaitu aitem 1, 3, 5, 9, 11, 17, 25, 30, 31,
32, 35. Aitem yang tersisa kemudian dianalisis kembali sampai didapatkan
semua aitem memiliki daya diskriminasi yang baik. Batas≥0.25 digunakan karena menghindari keguguran aitem yang terlalu banyak. Sehingga
terdapat 25 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data penelitian
Tabel 3.4.Blue-printKecemburuan Setelah Diuji Coba
Aitem diuji coba pada 48 orang subjek dan dianalisis
menggunakan SPSS dengan melihat Korelasi Aitem Total (Rit). Aitem
yang memiliki Rit ≥0.3 yaitu aitem 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16,
17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36,
37, 38, 39, 40, 41, 42 dipandang memiliki daya diskriminasi yang baik.
Sehingga terdapat 38 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data
penelitian yang sesungguhnya.
Indikator Aitem Jumlah
Perilaku mencurigakan 5, 7, 9, 10, 14, 18, 28, 32 8
Perilaku tidak setia 19, 19, 20, 21, 22, 23, 24,
25, 26, 27, 29, 30, 31, 36,
37, 42
16
Pornografi 33, 34, 35 3
Technological Investment 6, 8, 11, 12, 15, 16, 17,
38, 39, 40, 41
11
3. Reliabilitas
Berdasarkan hasil olah data menggunakan SPSS 15.0 for
Windowstersebut maka terlihat bahwa koefisien reliabilitas memiliki nilai
0.865 dan 0.975. Nilai tersebut merupakan nilai yang mendekati 1. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa kedua skala yang digunakan memiliki
H. METODE ANALISIS DATA
1. Uji Asumsi
a. Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk melihat sampel yang
digunakan pada penelitian merupakan bagian dari populasi yang
memiliki sebaran data normal. Bila p > 0.05, maka suatu penelitian
memiliki sebaran data yang normal, sedangkan bila p < 0.05 , maka
suatu penelitian memiliki sebaran data yang tidak normal. Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan 15.0 for Windows untuk mencari
normalitasnya.
b. Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk melihat hubungan antara dua
variabel menyerupai garis lurus. Bentuk hubungan garis lurus tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas salah satu variabel akan
diikuti oleh peningkatan kuantitas variabel yang lain. Begitu juga
apabila salah satu variabel mengalami penurunan kuantitas, akan
diikuti oleh penurunan variabel yang lain (Sarwono, 2006). Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan 15.0 for Windows untuk mencari
2. Uji Hipotesis
Pada penelitian ini, peneliti menguji hipotesis dengan
menggunakan teknik korelasi. Teknik korelasi digunakan untuk
menentukan hubungan antara dua variabel dan melihat pola suatu variabel
terhadap variabel yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk melihat jika ada
kenaikan pola pada suatu variabel maka dapat menyebabkan penurunan
atau peningkatan variabel lain (Sarwono, 2006). Penelitian ini
menggunakan uji korelasi produk momen Pearson. Besar korelasinya
adalah -1 sd 1, dengan arti:
1. Semakin mendekati -1, maka kedua variabel tersebut memiliki korelasi
yang negatif.
2. Semakin mendekati 1, maka kedua variabel tersebut memiliki korelasi
yang positif.
3. Semakin mendekati 0, maka kedua variabel tersebut tidak memiliki
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2013 – 28 Juli 2013
dengan menyebarkan 115 skala. Penyebaran skala dilakukan secara cetak
maupun elektronik. Dari 115 skala yang disebarkan, 12 diantaranya gugur
karena diisi dengan kurang tepat dan tidak sesuai sasaran, sehingga hanya 103
skala yang dapat dianalisis oleh peneliti.
B. DATA DEMOGRAFIS
1. Deskripsi Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini berjumlah 103 orang. Subjek
penelitian merupakan seorang pria dengan rentang usia 18-35 tahun yang
saat tinggal di Yogyakarta dan menjalin hubungan berpacaran dengan
Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Hubungan Berpacaran
Lama Hubungan Jumlah
1 – 7 bulan 11 orang
8 – 18 bulan 29 orang
19 – 39 bulan 17 orang
40 – 57 bulan 21 orang
58 – 73 bulan 9 orang
74 – 81 bulan 12 orang
82 – 88 bulan 4 orang
TOTAL 103 ang
C. UJI ASUMSI
1. Uji Normalitas
Berdasarkan hasil perhitungan SPSS, ditemukan bahwa Asymp.
Sig. (2-tailed), yang merupakan nilai p, pada variabel X (kelekatan tidak
aman) dan Y (kecemburuan) pada penelitian ini nilai p di atas 0.05. Hal ini
menunjukkan bahwa sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang
Tabel 4.2 Normalitas Variabel Penelitian
Pengukuran p Keterangan
Xtotal 0.154
Sebaran data normal Y total 0.759
Xcemas 0.316
Xmenghindar 0.055
2. Uji Linearitas
Berdasarkan penghitungan menggunakan SPSS 15.0, ditemukan
bahwa besar nilai p sebesar 0.492 yang menunjukkan bahwa kedua
variabel tidak membentuk satu garis lurus yang signifikan.
80 90 100 110
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh scatterplot, terlihat
bahwa hasil olah data pada penelitian ini tidak linier. Hal ini terlihat dari
kondisi sebaran data yang sangat menyebar dan tidak membentuk garis
lurus. Tidak adanya korelasi tersebut menunjukkan bahwa kelekatan tidak
aman yang dimiliki oleh pria tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya
kecemburuan pria terhadap pasangan.
D. HASIL PENELITIAN
1. Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis korelasi menggunakan SPSS 15.0,
ditemukan bahwa besar korelasi variabel X dan Y pada penelitian ini
sebesar -0.055. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut tidak
memiliki korelasi.
2. Statistik Deskriptif
a. Paired Sample T-test
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 15.0,
rata-rata anxiety (42.57) lebih tinggi daripada rata-rata avoidant
(51.00). Hal ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini didominasi
b. One Sample T-test
Tujuan menggunakan teknik ini adalah untuk melihat
apakah nilai mean teoritis lebih besar atau lebih kecil daripada mean
empiris. Mean teoritis dicari dengan rumus :
(skor rendah x jml soal) + (skor tinggi x jml soal)
2
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Statistik Deskriptif
Pengukuran Mean Empiris Mean Teoritis p
Kelekatan 46.79 100 0.000
Kelekatan
cemas
42.57 56 0.000
Kelekatan
menghindar
51.00 44 0.000
Nilai p pada tabel di atas adalah p< 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mean yang signifikan antara
E. PEMBAHASAN
Hasil analisis korelasi Pearson menggunakan program SPSS 15.0
menunjukkan koefisien korelasi sebesar –0.055. Kondisi ini memperlihatkan
bahwa tidak ada hubungan antara kelekatan dewasa tidak aman (insecure
adult attachment) dengan kecemburuan (Jealousy). Dengan demikian,
hipotesis pada penelitian ini yang menyatakan : “Semakin tinggi kelekatan
tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat kecemburuan seseorang”,
ditolak.
Hal ini dipengaruhi oleh adaptasi skala yang berasal dari Belanda
dan kurang sesuai dengan keadaan serta norma-norma yang berlaku pada
masyarakat Indonesia. Faktor adaptasi skala yang kurang sesuai tersebut
dinyatakan oleh beberapa orang yang menjadi subjek penelitian ini. Beberapa
diantaranya mengatakan bahwa pernyataan pada skala tersebut terlalu vulgar,
senonoh, dan tidak lazim. Ada pula yang mengatakan bahwa jelas saja orang
akan cemburu jika pasangannya melakukan hubungan seks dengan orang lain.
Berdasarkan dari pernyataan subjek penelitian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi seksual antara masyarakat
Indonesia dengan masyarakat Belanda. Perbedaan persepsi tersebut di
antaranya adalah Indonesia memiliki pandangan bahwa seks adalah tabu
membuat sebagian orang Indonesia menjadi enggan untuk berdiskusi
mengenai kesehatan reproduksinya dengan orang lain. Selain itu, mereka
merasa tidak nyaman apabila harus membahas seksualitas dengan anggota
di Belanda memiliki pandangan bahwa dalam membicarakan seks bukanlah
hal yang tabu. Mereka cenderung lebih rileks dalam membicarakan mengenai
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini adalah ipotesis yang menyatakan:
“Semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat
kecemburuan seseorang”, ditolak. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan
beberapa hasil penelitian sebelumnya dan teori-teori yang menjadi landasan
diadakannya penelitian ini.
B. SARAN
Saran untuk penelitian selanjutnya berdasarkan hasil penelitian ini
adalah apabila menggunakan skala adaptasi, maka sebaiknya meminta ijin
kepada pembuat skala terlebih dahulu sebelum menggunakan untuk
pengambilan data. Selain itu, sebaiknya menggunakan skala yang dapat
diterima oleh masyarakat yang menjadi subjek penelitian. Hal ini bertujuan
agar skala yang digunkan dapat menggambarkan keadaan subjek yang
sesungguhnya, sehingga tidak terjadi faking good atau faking bad dalam
menjawab.
Saran lain yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah
lebih memperhatikan mengenai penempatan skala (skala x dan y) serta
pernyataan dalam skala, hal tersebut dapat mempengaruhi jawaban yang