• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

i

HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DAN

KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWALYANG BERPACARAN

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh :

Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni

NIM: 099114123

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Aku selalu percaya kasih Tuhan itu nyata

Ketika terjatuh, terpuruk dan terluka, aku selalu percaya bahwa

Tuhan sangat mencintaiku. Karena saat itu, tangan Tuhan sedang

bekerja untuk menjadikanku semakin kuat. Dan setelah itu, aku

akan merasakan kasih Tuhan dan kebahagiaan dari-Nya yang

luar biasa…

Hidup akan selalu terdapat masalah, namun tetap berusaha yang

terbaik dan selalu bersyukur atas segala nikmat Tuhan adalah

(5)

v

Dengan rasa syukur, skripsi ini kupersembahkan untuk:

Tuhanku Yang Maha Pengasih,

Orangtuaku yang tersayang,

Seseorang yang terkasih dan teristimewa

Dan orang-orang yang menyayangi maupun membenciku yang telah

(6)
(7)

vii

HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DAN

KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG BERPACARAN

Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara kelekatan tidak aman dengan kecemburuan pada pria yang berpacaran. Subjek pada penelitian ini berjumlah 103 orang. Karakter subjek adalah seorang pria dewasa (18-35) yang sedang menjalin suatu hubungan (pacaran) dan di Yogyakarta. Hipotesis pada penelitian ini adalah “semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat kecemburuan seseorang”. Skala yang digunakan untuk mengukur kelekatan tidak aman adalah Experiences in Close Relationships (ECR) Scale yang terdapat pada penelitian Fraley, Brennan, Waller (2000). Untuk mengukur variabel kecemburuan, skala yang mengacu pada penelitian Dijkstra, Barelds dan Groothof (2010) yaitu menggunakan Partner Behaviours Scale. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi dariPearson. Hasil dari pengolahan data menunjukkan korelasi sebesar -0.055. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada korelasi atau hubungan antara kelekatan tidak aman dan kecemburuan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini ditolak.

(8)

viii

THE RELATION BETWEEN INSECURE ATTACHMENT AND JEALOUSY IN ADULT MEN WHO ARE DATING

Ni Nyoman Laksmi Nugrahaeni

ABSTRACT

This research see the relations between insecure attachment and jealousy in men who are dating. Amount of subjects in this research are 103 subjects. The character of subject is a date man (between 18-35 years old). Hypothesis in this research is “Higher the Level of Insecure Attachment, Higher the Level of Jealousy in Men Who are Dating”. The scale of this research used to measure insecure attachment is Experiences in Close Relationships (ECR) Scale by Fraley, Brennan, Waller (2000) researches. Measuring jealousy to a person used a scale that commonly used by Dijkstra, Barelds and Groothof (2010) using Partner Behaviours Scale. Processing data in this research used correlation by Pearson. The coefficient correlation as result in this research is -0.055. It means there is no correlation between insecure attachment and jealousy.. Thereby, the hypothesis in this research was rejected.

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat dan kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa. Berkat bimbingan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis

menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan, bimbingan

dan dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Dekan Universitas Sanata Dharma, Bapak Siswa Widyatmoko yang

terhormat. Terima kasih telah membantu, mendukung dan membimbing

saya dalam menempuh perkuliahan.

2. Kaprodi Universitas Sanata Dharma, Ibu Ratri Sunar Astuti yang

terhormat. Terima kasih atas bimbingan, dukungan dan bantuan yang telah

diberikan selama saya menempuh perkuliahan.

3. Dosen pembimbing skripsi, Bapak Heri Widodo yang terhormat. Terima

kasih atas bimbingan, bantuan dan dukungan serta kesabarannya dalam

menyelesaikan skripsi ini.

4. Dosen pembimbing akademik yang terhormat, Bapak Siswa Widyatmoko.

Terima kasih atas bimbingan dan dukungan yang diberikan selama saya

menempuh perkulihan di Universitas Sanata Dharma.

5. Papi dan Mami yang tersayang. Terima kasih atas doa, dukungan dan

bantuan baik dalam hal moral dan materi, kesabaran dan kasih sayang

yang tiada hentinya selama proses penyusunan skripsi ini.Mami, papi,

(11)

xi

6. Seseorang yang sangat istimewa. Terima kasih atas dukungan, bantuan,

motivasi, kesabaran dan doa yang luar biasa dan tiada hentinya yang telah

diberikan selama proses penyusunan skripsi ini.

7. Teman-teman seperjuangan yang terhebat. Terima kasih atas bantuan,

semangat, motivasi dan kerja samanya selama proses penyusunan skripsi

ini.We have finished it guys!!

8. Seluruh dosen Fakultas Psikologi, saudara dan teman yang terkasih.

Terima kasih atas segala bentuk bantuan, dukungan dan semangat yang

diberikan selama proses pembuatan skripsi ini.

9. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan. Terima

kasih telah membantu dan mendukung proses pembuatan skripsi ini.

Semoga sekiranya Tuhan berkenan membalas atas segala bantuan dan jasa

yang telah diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini terdapat kesalahan dan

ketidaksempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi

penulis maupun pembacanya.

Penulis,

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT...viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 8

C. TUJUAN PENELITIAN... 8

D. MANFAAT PENELITIAN... 8

1. Manfaat Teoritis ... 8

(13)

xiii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. DEWASA AWAL... 10

1. Pengertian... 10

2. Tugas Perkembangan Dewasa Awal ... 10

3. Ciri-ciri Sosio-Emosi Dewasa Awal ... 12

4. Hubungan Romantis (Romantic Relationship)... 14

B. KELEKATAN (ATTACHMENT) ... 14

1. Pengertian... 14

2. Tipe Kelekatan ... 16

3. Dampak Kelekatan ... 22

C. KECEMBURUAN (JEALOUSY) ... 24

1. Pengertian... 24

2. Bentuk Perilaku Pasangan yang Menyebabkan Kecemburuan ... 26

3. Faktor Penyebab Kecemburuan ... 27

4. Proses Kecemburuan... 29

5. Aspek Kecemburuan ... 31

D. HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG BERPACARAN ... 33

(14)

xiv

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 36

A. JENIS PENELITIAN ... 36

B. VARIABEL PENELITIAN ... 36

C. DEFINISI OPERASIONAL ... 36

D. SUBJEK PENELITIAN... 37

E. METODE PENGAMBILAN SAMPEL ... 37

F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA ... 38

1. Metode Pengumpulan Data ... 38

2. Alat Pengumpulan Data ... 38

G. KREDIBILITAS ALAT UKUR ... 41

H. METODE ANALISIS DATA... 44

1. Uji Asumsi ... 44

2. Uji Hipotesis ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN ... 46

B. DATA DEMOGRAFIS... 46

C. UJI ASUMSI ... 47

1. Uji Normalitas... 47

2. Uji Linearitas... 48

D. HASIL PENELITIAN... 49

1. Uji Hipotesis ... 49

2. Statistik Deskriptif ... 49

(15)

xv

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 53

A. KESIMPULAN ... 53

B. SARAN ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 54

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Blue-printKelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba... 39

Tabel 3.2. Blue-printKecemburuan Sebelum Diuji Coba ... 41

Tabel 3.3. Blue-printKelekatan Dewasa Setelah Diuji Coba ... 42

Tabel 3.4. Blue-printKecemburuan Setelah Diuji Coba ... 43

Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Hubungan Berpacaran... 47

Tabel 4.2 Normalitas Variabel Penelitian ... 48

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Kecemburuan (Try-Out) ... 58

Lampiran 2 Skala Kelekatan (Try-Out) ... 63

Lampiran 3 Skala Kecemburuan ... 69

Lampiran 4 Skala Kelekatan ... 73

Lampiran 5 Reliabilitas dan Seleksi Aitem Kecemburuan ... 77

Lampiran 6 Reliabilitas dan Seleksi Aitem Kelekatan ... 80

Lampiran 7 Uji Normalitas ... 82

Lampiran 8 Uji Linearitas ... 85

Lampiran 9 Uji Korelasi ... 87

Lampiran 10 Statistik Deskriptif ... 89

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Proses perkembangan manusia merupakan proses seumur hidup.

Proses tersebut akan terus terjadi dan tidak ada periode usia yang

mendominasi perkembangannya, sehingga manusia akan terus menjalin relasi

dengan lingkungannya (Santrock, 2002). Proses perkembangan manusia

terdiri dari beberapa periode dan setiap periode memiliki tugas

masing-masing. Periode masa perkembangan meliputi periode pra-kelahiran, masa

bayi, masa awal kanak-kanak, masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, masa

remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa

(Santrock, 2002). Pada masa dewasa awal individu memiliki tugas

perkembangan yang meliputi kemandirian pribadi, ekonomi, pengembangan

karir, memilih pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab,

memulai kehidupan berkeluarga dan mengasuh anak (Santrock, 2002). Selain

itu, pada masa dewasa awal seorang individu akan mulai serius memikirkan

masa depannya, baik dalam hal karir maupun dalam menjalin hubungan

dengan lawan jenis. Pada masa ini, seorang individu akan mengalami suatu

perubahan, diantaranya adalah Identity and Intimacy (Identitas dan

Keintiman). Perubahan tersebut terjadi ketika seorang individu akan mulai

mencoba menjalin hubungan yang serius dengan orang lain (Schismberg &

(19)

Menjalin suatu relasi untuk mencari pasangan hidup diawali dengan

adanya hubungan romantis yang melibatkan dua orang berlawanan jenis atau

biasa disebut dengan Romantic Relationship (Wisnuwardhani & Mashoedi,

2012). Dalam menjalin relasi romantis, hubungan individu dengan

pasangannya akan dipengaruhi oleh kelekatan yang dimiliki masing-masing

individu (working model). Kelekatan pada dewasa menjelaskan bahwa

keadaan dari individu saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh dirinya sendiri,

tetapi kelekatan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman

seseorang terhadap figur lekat pada masa kecilnya (M. Main dalam

Stanojevic, 2004).

Kelekatan menurut Bowlby adalah suatu relasi antara figur sosial

tertentu dengan suatu keadaan tertentu yang dianggap mencerminkan

karakteristik unik. Dalam hal ini, figur sosial adalah figur seorang ibu sebagai

pengasuh (Santrock, 2002). Pola kelekatan tersebut dapat digunakan untuk

melihat bagaimana seorang individu akan menjalin hubungan dengan orang

lain, seperti keluarga, teman, pasangan dan orang asing (Baron dan Byrne

dalam Santrock, 2002).

Teori kelekatan milik Bowlby dikembangkan oleh beberapa tokoh,

diantaranya adalah Fraley dan Waller (dalam Nosko, Tieu, Lawford & Pratt,

2011) mengemukakan dua tipe kelekatan, yaitu insecure attachment

(kelekatan tidak aman) yang dibedakan menjadi dua yaitu avoidant

attachment (kelekatan menolak) dan anxiety attachment (kelekatan cemas),

(20)

attachment (kelekatan menolak) adalah seorang individu yang kurang

memiliki interaksi dengan orang lain karena adanya penolakan untuk dekat.

Anxiety attachment (kelekatan cemas) adalah seorang individu yang yang

memiliki kecenderungan untuk sangat bergantung dengan orang lain dan

merasa tidak mampu hidup tanpa orang lain. Sedangkan Secure Attachment

(kelekatan aman) adalah perasaan aman yang dimiliki oleh seorang individu,

sehingga ia dapat melakukan sesuatu dengan bebas.

Individu dengan kelekatan tidak aman dalam menjalin relasi dengan

lawan jenisnya akan berpengaruh pada tingkat komitmen, kepuasan berelasi,

dan perilaku seksualnya. Selain itu, dampak dari kelekatan tidak aman yang

dimiliki oleh individu dengan pasangannya dalam menjalin relasi romantis

akan berpotensi mengalami atau merasakan suatu perasaan cemburu terhadap

pasangannya atau biasa disebut dengan Romantic Jealousy (Levy & Kelly,

2010).

Feeney dan Noller (1990) menyatakan bahwa kelekatan berkorelasi

cukup besar dengan penghargaan diri (self-esteem). Menurut White and

Mullen (1989) orang yang cemburu memiliki perasaan takut kehilangan, rasa

tidak percaya pada pasangan dan adanya ancaman terhadap harga diri seorang

individu. Hal ini sejalan dengan hasil survey pra-penelitian yang menyatakan

bahwa penyebab seseeorang cemburu adalah kurangnya penghargaan terhadap

(21)

Hazan dan Shaver (dalam Shaver, 2002) menyatakan bahwa orang

dengan tipe insecure attachment khususnya anxious attachment akan

cenderung tidak percaya dengan pasangannya dan merasa takut kehilangan.

Seorang individu yang memiliki tipe anxious attachment adalah orang yang

merasa kurang percaya diri, merasa kurang berharga, dan memandang orang

lain mempunyai komitmen yang rendah dalam hubungan interpersonal

(Simpson, 1990), ragu-ragu terhadap pasangan dalam hubungan romantis

(Levy&Davis, dalam Feeney & Noller, 1990). Seorang individu dengan tipe

kelekatan menghindar (avoidant attachment) cenderung tidak memiliki rasa

percaya pada pasangannya dan merasa bahwa dirinya tidak memiliki arti

penting bagi pasangannya (Fricker & Moore, 2002). Perasaan tersebut akan

meyebabkan seseorang menjadi cemburu terhadap pasanngannya karena tidak

adanya rasa percaya dan merasa tidak berharga. Individu akan beranggapan

bahwa orang lain lebih berharga dari dirinya sehingga akan merasa cemburu

jika ada orang lain (lawan jenis) yang mendekati pasangannya (Acton, 2010).

White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menyatakan

bahwaRomantic Jealousy merupakan suatu pikiran, emosi dan tindakan yang

komplek. Hal yang komplek tersebut meliputi perasaan takut kehilangan atau

ancaman terhadap harga diri dan kualitas dari hubungan romantisnya.

Perasaan tersebut muncul dari persepsi seorang individu yang beranggapan

(22)

Cemburu merupakan respon dari ketakutan akan kehilangan. Respon

tersebut dikategorikan menjadi dua tipe. Tipe pertama merupakan variasi dari

orang yang berfikir rasional (Ellis, 1977), orang yang reaktif (Bringle, 1991),

dan orang yang mampu menghadapi keadaan dari kecemburuan (Parrot,

1991). Dampak dari tipe pertama ini seseorang akan memiliki hubungan yang

nyata, jelas dan tidak ambigu. Tipe kedua adalah seseorang yang memiliki

kecurigaan atau pemikiran yang irasional. Dampak dari tipe kedua ini

seseorang akan memiliki hubungan yang tidak jelas, adanya kecurigaan,

ketakutan, kecemasan serta rasa tidak aman (Acton, 2010).

Acton (2010) menyatakan bahwa terdapat dua hal yang

menyebabkan seseorang menjadi cemburu. Pertama, kecemburuan dilihat

sebagai rasa takut akan kehilangan yang berkaitan dengan masa depannya,

unsur dari ancaman tersebut adalah waktu. Ketika waktu menjadi sebuah

penderitaan yang akan datang di masa depan (Tellenbach, 1974). Meskipun

penyebab cemburu cenderung berasal dari masa lalu seseorang, tetapi pada

dasarnya kecemburuan adalah suatu obsesi untuk melindungi diri sendiri dari

sesuatu yang akan terjadi pada masa depan. Kedua, adanya pengalaman dari

suatu persitiwa yang ditakutkan telah terjadi, seperti ditinggal pergi oleh orang

yang dicintai. Hal ini membuat seorang individu menjadi rentan terhadap

cemburu dengan mencurigai pasangan berikutnya (Tellenbach, 1974).

Kecemburuan yang dialami pada masa menjalin hubungan romantis

cukup sering terjadi. Untuk melihat fenomena kecemburuan pria dengan

(23)

pra-penelitian (Maret, 2013). Sampel yang digunakan mahasiswa karena usia pada

dewasa awal berada berkisaran usia mahasiswa (18-25 tahun). Pada survey

pra-penelitian ini ada 55 pria yang sedang menjalani masa pacaran dan berusia

20-24 tahun. Lima puluh pria menyatakan bahwa mereka merasakan cemburu

terhadap pasangannya dan 5 pria tidak merasa cemburu terhadap pasangannya.

Dari survey tersebut, dapat disimpulkan 90% dari sampel menyatakan bahwa

seorang pria merasakan cemburu terhadap pasangannya.

Buss dkk (dalam Levy, Kelly & Jack, 2006) menemukan bahwa pria

cenderung melihat ketidaksetiaan secara seksual lebih distressful

dibandingkan perempuan. Levy, Kelly dan Jack (2006) menyatakan dampak

kecemburuan pada pria adalah ia akan cenderung melakukan kekerasa bahkan

pembunuhan pada pasangannya. Hal ini terjadi tidak terbatas pada budaya

tertentu. Pria yang melakukan kekerasan hingga mencoba membunuh dan

benar-benar membunuh pasangannya karena cemburu serta melakukaknnya

secara terus menenurus tergolong pada kecemburuan yang ekstrim.

Kecemburuan yang ekstrim tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan klinis

yang disebut dengan kecemburuan patologis (pathological jealousy) atau

morbid jealousy(Shepherd, dalam Easton & Shackelford, 2009).

Kasus kecemburuan yang berakhir pada kekerasan bahkan hingga

terjadinya pembunuhan sering dilakukan oleh seorang pria. Easton dan

Shackelford (2009) menyatakan bahwa persentase perilaku kekerasan yang

dilakukan oleh pria pada pasangannya karena cemburu lebih besar daripada

(24)

membunuh pasangan dan benar-benar membunuh pasangannya. Dijkstra dan

Buunk (2004) juga menyatakan penyebab kecemburuan pada pria dapat

berasal dari adanya indikasi perselingkuhan seksual yang dilakukan oleh

pasangannya dengan orang lain. Hal ini dapat terjadi ketika pasangannya

tersenyum pada pria lain, apalagi jika pria tersebut lebih tampan, muda dan

berstatus sosial lebih tinggi dari dirinya. Perilaku tersebut dapat menyebabkan

seorang pria cenderung ingin terlibat dalam segala aktivitas dan kegiatan

pasangannya.

Hasil survey pra-penelitian (Maret, 2013) melihat beberapa alasan

atau penyebab seorang pria cemburu terhadap pasangannya, baik berdasarkan

karakter pasangan maupun karakter saingan. Penyebab cemburu yang paling

banyak berdasarkan karakter pasangan diantaranya adalah pasangan terlalu

dekat dengan lawan jenisnya. Alasan lain adalah karena pasangannya terlalu

peduli dan terbuka dengan lawan jenisnya. Selain itu karena pasangannya

selalu membicarakan lawan jenisnya atau mantan kekasihnya. Beberapa pria

juga menyatakan bahwa mereka cemburu karena pasangannya terlalu centil

dengan lawan jenisnya. Hal lain yang membuat seorang pria cemburu

berdasarkan karakter saingan di antaranya adalah saingannya lebih keren dari

dirinya. Kemudian, saingan lebih pintar dan kaya. Ada juga yang menyatakan

bahwa saingannya lebih populer, serta jauh lebih baik dari dirinya dalam

(25)

Berdasarkan dari hasil-hasil penelitian sebelumnya, maka dapat

disimpulkan bahwa kelekatan tidak aman yang dimiliki oleh seorang individu

terhadap pasangannya dapat mempengaruhi tingkat kecemburuannya pada

pasangan.

Melihat permasalahan tersebut, maka peneliti ingin melihat adakah

hubungan antara tipe kelekatan tidak aman dengan kecemburuan seorang pria

pada pasangannya.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat

hubungan atau korelasi antara tipe kelekatan tidak aman dengan kecemburuan

pada pria dewasa.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat adanya hubungan atau

korelasi antara tipe kelekatan dengan kecemburuan pada pria dewasa.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran dalam ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan dan

Psikologi Sosial mengenai pentingnya mengetahui hubungan antara tipe

(26)

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan bagi seorang

pria mengenai pentingnya pengelolaan atau menejemen kecemburuan. Hal

ini bertujuan agar dapat menjalin dan mengembangkan hubungan romantis

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEWASA AWAL

1. Pengertian

Subjek pada penelitian ini adalah pria yang berada pada tahap

perkembangan masa dewasa awal. Masa dewasa awal (early adulthood)

adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun

atau awal usia duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun

(Santrock, 2002). Selain itu, menurut sumber lain mengaatakan bahwa usia

pada masa dewasa awal adalah berawal dari usia 20 tahun sampai 40 tahun

(Papalia, Old & Feldman, 2008). Dapat disimpulkan bahwa seorang

individu pada tahap dewasa awal berusia 19 tahun hingga 35 tahun.

2. Tugas Perkembangan Dewasa Awal

Masa dewasa awal adalah masa pemilihan pasangan, belajar

hidup dengan seseorang secara akrab dan memulai hubungan yang serius

dengan lawan jenis (Santrock, 2002). Dalam teori Erik Erikson (Santrock,

2002), individu akan mengalami delapan tahap perkembangan semasa

hidupnya. Setiap tahap terdiri dari tugas perkembangan dan individu akan

dihadapkan dengan suatu krisis yang dihadapi. Apabila seorang individu

mampu mengatasi krisis pada tahap perkembangannya, maka akan

(28)

Tahap pada perkembangan dewasa awal adalah tahap keenam

dari delapan tahap yang ada, yaitu Keintiman dan Keterkucilan (intimacy

and isolation). Tahap ini seorang individu akan menghadapi tugas

perkembangan dalam pembentukan relasi yang intim atau akrab dengan

orang lain. Jika individu mampu menjalin relasi yang akrab maka

keintiman akan tercapai, tetapi jika tidak maka individu akan mengalami

isolasi. Selain itu, pada masa ini individu juga akan mengalami suatu

perubahan, di antaranya adalah Identity and Intimacy (Identitas dan

Keintiman). Perubahan ini individu akan mulai mencoba menjalin

hubungan yang serius dengan orang lain (Schismberg & Smith, 1982).

Menurut Erikson (dalam Santrock, 2002), apabila seorang individu tidak

mampu menjalin suatu hubungan, maka dapat menyebabkan adanya

penolakan, pengabaian dan penyerangan terhadap orang lain yang

dianggapnya sebagai penghalang.

Masa dewasa awal merupakan waktu perubahan yang dramatis

dalam relasi personal ketika seorang individu mulai membentuk dan

mempererat ikatan yang didasarkan pada pertemanan, cinta, dan

seksualitas. Perkembangan psikososial masa dewasa awal, seorang

individu akan membuat keputusan mengenai hubungan yang lebih intim

dan sebagian besar individu akan menikah dan menjadi orang tua (Papalia,

(29)

3. Ciri-ciri Sosio-Emosi Dewasa Awal

a. Ciri Sosial

Ciri-ciri sosial seorang individu pada masa dewasa awal

adalah adanya gaya interaksi intim yang berbeda-beda pada tiap

individu. Gaya interaksi tersebut dibagi menjadi lima klasifikasi

menurut Jakob Orlofsky (Santrock, 2002), yaitu :

1. Gaya interaksi yang intim (intimate style), yaitu seorang individu

yang membentuk dan mempertahankan satu atau lebih suatu

hubungan yang mendalam dan cenderung lama.

2. Gaya interaksi pra-intim (preintimate style), yaitu seorang individu

yang memiliki strategi untuk menawarkan cinta tanpa adanya

kewajiban atau ikatan yang lama.

3. Gaya interaksi stereotip (stereotyped style), yaitu seorang individu

ketika menjalin hubungan akan cenderung didominasi oleh ikatan

persahabatan dengan teman yang berjenis kelamin sama.

4. Gaya interaksi intim yang semu (pseudointimate style), yaitu

seorang individu yang memiliki kelekatan seksual dalam waktu

yang lama namun tanpa adanya kedekatan yang dalam dengan

lawan jenisnya.

5. Gaya interaksi menyendiri (isolated style), yaitu individu yang

menarik diri dari sosialnya dan tidak memiliki kelekatan dengan

(30)

b. Ciri Emosi

Selain itu, pada masa dewasa awal seorang individu juga

memiliki ciri-ciri secara emosional. Ciri-ciri emosional tersebut di

antaranya adalah adanya perasaan tertarik dengan lawan jenisnya dan

memiliki keinginan untuk menghabiskan waktunya dengan mereka.

Terkadang, seorang individu akan tertarik dengan lawan jenis yang

memiliki kesamaan dengan dirinya seperti kesamaan sikap,

karakteristik, kepribadian dan gaya hidup. Akan tetapi ada juga yang

menganggap bahwa memiliki perbedaan akan lebih menarik, seperti

seseorang yang introvert akan mengharapkan memiliki pasangan yang

ekstrovert. Pada umumnya, seseorang akan lebih tertarik dengan lawan

jenisnya yang memiliki karakteristik yang sama (Berndt & Perry)

dalam Santrock, (2002).

Individu yang sedang menjalani hubungan romantis memiliki

ciri-ciri emosional, seperti adanya kesadaran terhadap diri, adanya

perasaan empati pada orang lain, memiliki kemampuan

mengkomunikasikan emosi dengan baik pada orang lain, memiliki

kemampuan dalam pembuatan keputusan seksual, serta memiliki

kemampuan dalam penyelesaian konflik dan kemampuan

(31)

4. Hubungan Romantis (Romantic Relationship)

Hubungan romantis adalah suatu pertemuan antara dua orang

(lawan jenis) yang secara khusus memiliki arah untuk menjalin suatu

komitmen pernikahan. Pacaran adalah proses untuk saling mengenal,

menerima kelebihan dan kekurangn pasangan serta membangun suatu

hubungan yang kuat (Wisnuwardhani & Mashoedi, 2012).

B. KELEKATAN (ATTACHMENT)

1. Pengertian

Teori kelekatan menjelaskan dasar-dasar dari ikatan afeksional

seorang individu dengan orang lain. Teori kelekatan untuk pertama kalinya

diungkapkan oleh Psikolog asal Inggris John Bowlby pada tahun 1958

(Baron & Byrne dalam Santrock, 2002). Kelekatan adalah suatu relasi

antara figur sosial tertentu dengan suatu keadaan tertentu yang dianggap

mencerminkan karakteristik unik. Dalam hal ini, figur sosial adalah figur

seorang ibu sebagai pengasuh (Bowlby, 1969, 1989). Ainsworth (dalam

Mc.Cartney & Dearing, 2002) mengungkapkan bahwa kelekatan

merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak

melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam

kehidupannya, biasanya orang tua. Secara singkat, kelekatan adalah suatu

(32)

Pola kelekatan yang dijelaskan oleh Bowlby dapat diterapkan

pada semua tahap perkembangan seorang individu, mulai dari bayi hingga

dewasa. Pola kelekatan tersebut dapat digunakan untuk melihat bagaimana

seorang individu akan menjalin hubungan dengan orang lain, seperti

keluarga, teman, pasangan, dan orang asing (Baron & Byrne dalam

Santrock, 2002). Kemudian, pola kelekatan ini dikembangkan oleh

Bartholomew berdasarkan teori kelekatan milik Bowlby menjadi empat

grup model tipe kelekatan pada tahap dewasa. Perbedaan antara dua teori

milik Bartholomew dan Bowlby, Bowlby menggunakan model kerja

antara diri dengan figur kelekatan. Sedangkan menurut Bartholomew diri

dapat dibedakan menjadi positif dan negatif, kemudian pada figur

kelekatan juga dibedakan menjadi positif dan negatif (Adult Attachment,

1996, hal. 51). Kelekatan pada dewasa menjelaskan bahwa keadaan dari

individu saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh dirinya sendiri, tetapi

kelekatan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman seseorang

terhadap figur lekat pada masa kecilnya (Main dalam Stanojevic, 2004).

Kelekatan yang terjadi pada seorang individu yang dewasa dapat

didefiniskan sebagai kecenderungan yang stabil pada individu untuk

berusaha mencari dan memperthankan keakraban atau kedekatannya

dengan orang lain yang dapat memberikan rasa aman karena merasa

terlindungi secara fisik maupun psikologis. Selain itu, kelekatan pada

(33)

perilaku seorang individu yang melibatkan kedekatan dan keakraban

dengan orang lain sebagai pasangannya.

Berdasarkan dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan

bahwa kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang

dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai

arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua. Kelekatan pada

dewasa menjelaskan bahwa keadaan dari individu saat ini tidak hanya

dipengaruhi oleh dirinya sendiri, tetapi kelekatan tersebut dipengaruhi oleh

lingkungan dan pengalaman seseorang terhadap figur lekat pada masa

kecilnya.

2. Tipe Kelekatan

Bentuk kelekatakan menurut Fraley dan Waller (dalam Nosko,

Tieu, Lawford & Pratt, 2011) dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipeInsecure

Attachment(kelekatan tidak aman) yang dibagi lagi menjadi duaAvoidant

Attachment (kelekatan menolak) dan Anxiety Attachment (kelekatan

cemas) serta tipeSecure Attachment(kelekatan aman).

a. Insecure Attachment

Kelekatan tidak aman (Insecure Attachment) merupakan

perasaan tidak aman yang ditunjukkan dengan perilaku yang

cenderung tertutup, menunjukkan sikap takut kepada orang asing,

(34)

kurang percaya diri (Gentzler & Kerns, 2004). Pada tipe kelekatan

tidak aman dibagi menjadi dua tipe kelektan, yaitu:

1. Avoidant Attachment

Kelekatan menolak (Avoidant Attachment) adalah seorang

individu yang kurang memiliki interaksi dengan orang lain karena

adanya penolakan untuk dekat. Seorang individu akan cenderung

merasa tidak cemas saat tidak ada orang lain di sisinya,

menghindari kontak apabila ada orang lain. Individu dengan tipe

kelekatan ini akan cenderung pemarah dan tidak mencari bantuan

saat membutuhkan. Seorang individu akan menunjukkan perasaan

tidak amannya dengan menghindari orang lain (Fricker & Moore,

2002).

2. Anxiety Attachment

Kelekatan cemas atau (Anxiety Attachment) adalah

seorang individu yang yang memiliki kecenderungan untuk sangat

bergantung dengan orang lain dan merasa tidak mampu hidup

tanpa orang lain. Hal imi menyebabkan seorang individu dengan

tipe kelekatan ini menjadi sangat cemas dan takut untuk

ditinggalkan oleh orang lain. Selain itu, individu juga sangat takut

(35)

b. Secure Attachment

Kelekatan aman (Secure Attachment) adalah perasaan aman

yang dimiliki oleh seorang individu, sehingga ia dapat melakukan

sesuatu dengan bebas karena ia percaya bahwa ibunya akan tetap

memperhatikannya walau jauh dari tempat ia berada (Santrock, 2002).

Keluarga yang dapat mendukung agar anak dapat dipercaya, adanya

penerimaan satu sama lain, saling mendukung pasangan secara

emosional ketika dibutuhkan dan adanya toleransi perpisahan dengan

pasangan serta adanya rasa percaya adanya hubungan yang romantis

dan dapat bertahan lama akan membentuk seorang individu ketika

dewasa memiliki rasa aman terhadap pasangannya.

Selain itu, Bartholomew membedakan empat tipe kelekatan pada

dewasa berdasarkan dua dimensi, yaitu dimensi objek (object of mental

models) dan dimensi perasaan utama terhadap objek (predominant feeling

about that object). Pada dimensi objek dibedakan menjadi dua, yaitu diri

dan orang lain. Pada dimensi perasaan utama terhadap objek juga

dibedakan menjadi dua, yaitu positif dan negatif (Adult Attachment, 1996,

(36)

Empat grup model kelakatan menurut Bartholomew (Adult

Attachment, 1996) :

a. Secure partner attachment

Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki

kecemasan yang rendah dan penolakan yang rendah. Hal ini

merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang positif

terhadap diri sendiri dan positif terhadap orang lain.

Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memandang

dirinya sebagai orang yang berharga, penuh dengan dorongan dan

beranggapan bahwa orang lain sebagai orang yang bersahabat,

dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ketika menjalin suatu hubungan

yang romantis, maka mereka akan saling mempercayai (Levy & Davis

dalam Feeney & Noller, 1990). Pada umumnya, seorang individu

dengan kelekatan ini akan mengekspresikan rasa percayanya pada

pasangan, tidak mudah marah dan mencurigai pasangan, serta

beranggapan bahwa konflik yang ada akan dapat memberi dampak

yang positif dan membangun bagi hubungannya.

Seorang individu yang memiliki tipe kelekatan ini akan

cenderung memiliki hubungan yang baik, bertahan lama, memiliki

komitmen dan menyenangkan. Selain itu, individu tidak akan merasa

cemas apabila di tingglakan oleh pasangan dan tidak cemas untuk

memiliki hubungan yang dekat (Baron & Byrne dalam Santrock,

(37)

b. Dismissing Partner attachment

Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki

kecemasan yang rendah dan penolakan yang tinggi. Hal ini

merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang positif

terhadap diri sendiri dan negatif terhadap orang lain.

Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini yaitu karena

adanya kecenderungan untuk memandang orang lain negatif, maka

individu ini akan menolak dan menjadi takut untuk mejadi dekat

dengan orang lain. Hubungan emosional yang individu jalani baik,

akan tetapi cenderung menolak adanya hubungan yang dekat dengan

orang lain yang bertujuan agar ia terhindar dari penolakan terhadap

dirinya dari orang lain. Selain itu, individu akan cenderung tidak

menampakkan kebutuhannya untuk dicintai pada pasangan karena

adanya perasaan takut dan cemas akan disakiti dan penolakan.

c. Preoccupied partner attachment

Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki

kecemasan yang tinggi dan penolakan yang rendah. Hal ini

merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang negatif

terhadap diri sendiri dan positif terhadap orang lain.

Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memandang

(38)

hubungan yang romantis, orang dengan tipe kelekatan ini cenderung

ingin memiliki kedekatan yang berlebihan dengan pasangan karena

adanya perasaan takut kehilangan. Akan tetapi, individu ini juga

mengalami kecemasan dan merasa tidak berharga untuk dicintai orang

lain.

d. Fearful partner attachment

Pada model kelekatan ini, seorang individu memiliki

kecemasan yang tinggi dan penolakan yang tinggi. Hal ini

merepresentasikan bahwa seseorang memiliki pandangan yang negatif

terhadap diri sendiri dan negatif terhadap orang lain.

Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memiliki sifat

yang mudah marah, memiliki potensi yang tinggi untuk bermusuhan

dengan orang lain, adanya penolakan akan kedekatan dengan orang

lain, dan akan cenderung kurang menyenangkan dalam menjalin suatu

hubungan romantis, akan tetapi individu tersebut akan mencurigai dan

takut kehilangan pasangannya. Selain itu, individu memiliki perasaan

yang tidak aman apabila dekat dengan orang lain dan akan mengalami

kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Seorang

individu dengan tipe kelekatan ini akan cenderung menghindari

hubungan yang dekat dengan orang lain dan cukup membatasi diri, hal

ini bertujuan untuk melindungi diri dari perasaan sakit jika adanya

(39)

3. Dampak Kelekatan

Pada tiap tipe kelekatan yang dimiliki oleh seorang individu

dengan pasangannya akan menimbulkan beberapa dampak, yaitu:

a. Rasa Percaya Pada Pasangan

Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar akan

cenderung kurang memiliki rasa percaya pada pasangannya.

Kemudian, seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar juga

cenderung kurang memiliki rasa percaya pada pasangannya. Rasa tidak

percaya tersebut seperti kecurigaan bahwa pasangannya tidak

benar-benar mencintainya dan pasangannya tidak setia. Seorang individu

dengan tipe kelekatan aman akan cenderung lebih mempercayai

pasangannya (Fricker & Moore, 2002).

b. Harga Diri

Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan

cenderung memiliki harga diri yang rendah terhadap pasangannya. Hal

ini disebabkan karena adanya perasaan tidak memiliki arti penting bagi

pasangannya. Individu dengan kelekatan menghindar cenderung

merasa bahwa dirinya sangat berharga daripada orang lain. Kemudian,

individu dengan tipe kelekatan aman merasa bahwa dirinya cukup

berharga bagi pasangannya, sehingga membuat individu dapat menjadi

(40)

c. Kecemasan

Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar dan

cemas memiliki kecemasan akan ditinggalkan dan diabaikan oleh

pasangannya. Akan tetapi, pada individu dengan kelekatan aman tidak

memiliki kecemasan akan ditinggalkan oleh pasangannya (Fricker &

Moore, 2002).

d. Ketergantungan Terhadap Pasangan

Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan

cenderung sangat bergantung dan merasa tidak mampu berdiri sendiri

tanpa pasangannya. Seorang individu dengan tipe kelekatan

menghindar cenderung sangat tidak tergantung pada pasangannya

karena merasa tidak nyaman dengan adanya kedekatan dan keintiman

dengan orang lain. Sedangkan individu dengan tipe kelekatan aman

bergantung dengan pasangannya dan ia merasa nyaman jika

pasangannya juga tegantung dengan dirinya (Fricker & Moore, 2002).

e. Hubungan dengan Pasangan

Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar akan

cenderung menjaga jarak dengan pasangan, sehingga dalam menjalin

suatu hubungan romantis akan cenderung tidak bahagia. Begitu pula

dengan hubungan romantis yang dijalani oleh individu dengan

(41)

individu dengan kelekatan aman dapat menjalin hubungan yang

romantis dengan bahagia, hal ini disebabkan karena adanya rasa aman

dan dapat menjadi diri sendiri (Fricker & Moore, 2002).

C. KECEMBURUAN (JEALOUSY)

1. Pengertian

Kecemburuan digambarkan sebagai keadaan yang cukup

berbahaya bagi seseorang (Greenberg & Pyszczynski; Hauck dalam

Scheinkman, 2010). Berawal dari perasaan cinta akan tetapi didorong oleh

kemarahan, kecemburuan adalah pengalaman yang kompleks yang terjadi

ketika orang lain sebagai saingannya mengancam suatu hubungan

romantis yang sangat bergaharga baginya (Pines, 1998).

Scheinkman (2010) menjelaskan kecemburuan merupakan suatu

pengalaman emosional yang didasarkan pada ketakutan yang mendalam

akan kehilangan orang yang dicintai, suatu perasaan dan pikiran, serta

suatu tindakan dan reaksi. Easton dan Shackelford (2009) menyatakan

bahwa kecemeburuan adalah hasil dari pengalaman yang pernah dirasakan

dengan adanya ancaman pada hubungan yang romantis dan hal tersebut

menghasilkan perilaku yang dirancang untuk mempertahankan

pasangannya (Buss et al. 1992; Buss and Shackelford 1997; Daly et al.

(42)

White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menjelaskan

bahwa kecemburuan merupakan pikiran, emosi dan tindakan yang

kompleks. Hal yang kompleks tersebut meliputi perasaan takut kehilangan

atau ancaman terhadap harga diri dan kualitas dari hubungan romantis

tersebut. Perasaan tersebut muncul dari persepsi seorang individu bahwa

pasangannya menjalin hubungan dengan orang lain. Acton (2010)

menyatakan bahwa kecemburuan adalah suatu perasaan seseorang yang

takut kehilangan.

Berhm (dalam Wisnuwardhani & Mashoedi, 2012) menjelaskan

bahwa kecemburuan merupakan respon dari seorang individu terhadap

ketidakpastian dari pasangannya, baik yang bersifat aktual maupun yang

dibayangkan oleh individu tersebut. Penke dan Asendorpf (2001)

menyatakan bahwa kecemburuan adalah suatu respon dari perasaan

seseorang terhadap situasi yang nyata maupun imajinasi ketika orang yang

berharga terancam hilang karena adanya orang lain (‘romantic

jealousy’;White, 1981; White & Mullen, 1989).

Bevan dan Lannutti (2002) menjelaskan bahwa kecemburuan

juga merupakan suatu pengalaman. Pengalaman dari kecemburuan

tersebut melibatkan kecemburaun kognitif dan kecemburuan emosi.

Kecemburuan kognitif didefinisikan sebagai pikiran individu,

kekhawatiran, dan kecurigaan akan suatu kemungkinan mengenai

(43)

melibatkan berbagai perasaan seperti rasa tidak aman, takut, marah, dan

kesedihan (Pfeiffer & Wong, 1989).

Berdasarkan dari pengertian kecemburaun diatas, maka dapat

disimpulkan bahwa kecemburuan merupakan suatu pengalaman dan

perasaan takut ditinggalkan oleh pasangannya. Kecemburuan tersebut

menghasilkan perilaku yang dirancang untuk mempertahankan pasangan

dan hubungannya.

2. Bentuk Perilaku Pasangan yang Menyebabkan Kecemburuan

Pada penelitian Dijkstra, Barelds & Groothof (2009) menjelaskan

mengenai emapt bentuk perilaku kecemburuan seseorang, yaitu:

a. Perilaku Mencurigakan (Suspicious Behaviour)

Bentuk dari perilaku mencurigakan ini ditandai dengan

adanya perilaku pasangan seperti merangkul lawan jenisnya,

menghabiskan banyak waktu dan saling berbagi ikatan emosional

dengan lawan jenis.

b. Perilaku tidak setia

Bentuk dari perilaku tidak setia ditandai dengan adanya

perilaku pasangan seperti mengirimkan pesan kepada lawan jenisnya

dengan intensitas yang cukup sering dan dengan nada romantis, serta

(44)

c. Pornografi

Bentuk kecemburuan seseorang dengan pasangannya pada

perilaku pornografi ditandai dengan adanya keterlibatan pasangan

dengan segala hal yang berhubungan dengan pornografi. Seperti

contohnya pasangan menonton film porno dan melihat majalah porno.

d. Technological investment

Perilaku pasangan yang menyebabkan kecemburuan pada

bentuk ini adalah adanya keterlibatan pasangan dengan orang lain

secara seksual melalui internet. Seperti contohnya pasangan

melakukan hubungan seks dengan orang lain melalui dunia maya

(cyber sexdanchat box).

3. Faktor Penyebab Kecemburuan

Menurut beberapa penelitian, perasaan cemburu yang muncul

dari seseorang dapat disebabkan oleh dua faktor. Yaitu faktor eksternal

atau faktor yang berasal dari luar individu dan faktor internal yang berasal

dari individu sendiri.

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang dapat menyebabkan seorang individu

cemburu terhadap pasangannya adalah tingkah laku pasangan yang

lebih tertarik dengan orang lain daripada dirinya, baik secara

(45)

menjadi sebuah ancaman bagi hubungan yang sedang dijalani (Olson

& Defrain, 2006). Selain itu, bisa juga dari saingan atau orang lain

yang menyukai pasangannya (Miller dalam Wisnuwardhani &

Mashoedi, 2012).

b. Faktor Internal

Pines (dalam Scheinkman, 2010) menyatakan bahwa faktor

kecemburuan dapat timbul dari tiap karakteristik individu. Diantaranya

adalah seorang individu yang merasa cemburu pada pasangannya

karena kurangnya percaya diri, memiliki penghargaan diri (

self-esteem) yang rendah, sangat tergantung pada pasangannya, serta tidak

dapat mempercayai pasangannya. Selain itu, terdapat beberapa faktor

internal yang menyebabkan seorang individu menjadi cemburu, yaitu:

1. Adanya perasaan tidak berharga dari diri sendiri

Perasaan ini akan menimbulkan persepsi dari seorang

individu bahwa orang lain lebih berharga dari dirinya sehingga

akan merasa cemburu jika ada orang lain (lawan jenis) yang

mendekati pasangannya (Hansen dalam Bringle & Buunk, 1991).

2. Ketergantungan pada pasangan.

Seorang individu yang sangat tergantung pada

(46)

menjaga dan kehilangan pasangannya maka mereka akan sendiri

(Olson & Defrain, 2006).

3. Kelekatan

Penelitian Levy and Kelly (2010) juga menyatakan bahwa

faktor yang menyebabkan kecemburuan dapat berasal dari

kelekatan seseorang terhadap pasangannya.

4. Proses Kecemburuan

Menurut White and Mullen (dalam Penke & Asendorpf, 2001)

seorang individu yang cemburu pada pasangannya akan melalui beberapa

proses. Proses tersebut diantaranya :

a. Primary Appraissal

Pada proses ini, seorang individu akan merasakan dan

menilai adanya ancaman terhdap hubungan yang sedang dijalani.

Ancaman tersebut bisa datang dari luar maupun dari dalam individu

tersebut, hal ini tergantung pada persepsi individu dalam melihat

ancaman tersebut.

b. Secondary Appraissal

Pada proses ini, individu yang telah merasakan adanya

ancaman dalam hubungannya, maka ia akan berusaha untuk

(47)

akan mulai berfikir mengenai cara mengatasi masalah yang dihadapi.

dan kemudian akan mulai mengevaluasi bukti-bukti yang mendukung

atau tidak beradasarkan ancaman tersebut. Akan tetapi, kecenderungan

seorang individu dalam melalui proses ini adalah adanyaCatastrophic

thingking atau mengambil kesimpulan yang ekstrim saat sedang

cemburu.

c. Emotional Reaction

Pada proses ini, seorang individu yang mengalami cemburu

ketika pemikiran dan perasaan cemburu terhadap pasangannya terdapat

fakta yang mendukung, maka individu akan mengalami reaksi

emosional. Seorang individu yang mengalami cemburu akan

mengkaitkan kecemburuan tersebut dengan emosi yang negatif, seperti

marah (pada pasangan maupun saingan), cemas dan takut akan

kehilangan, perasaan sedih dan depresi.

d. Coping with the situation

Seorang individu dalam mengatasi perasaan cemburu

(coping) tergantung dari proses sebelumnya, dan masing-masing

individu memiliki caranya sendiri-sendiri tergantung pada penilaian

dan persepi pada proses sebelumnya. Tingkah laku seorang individu

(48)

berusaha untuk mempertahanakan hubungan dan berusaha menjaga

harga diri (self-esteem) yang dimilikinya.

5. Aspek Kecemburuan

White and Mullen (dalam Bevan & Lannutti, 2002) menyatakan

bahwa kecemburuan terdiri dari tiga aspek, yaitu kognisi, afeksi dan

perilaku. Hal ini juga didukung oleh Pfeiffer and Wong (1989) yang

menyatakan bahwa aspek dari kecemburuan terdiri dari kognisi, afeksi dan

perilaku.

a. Aspek Kognisi (Cognitive Jealousy)

Dalam aspek kognisi terdiri dari pikiran-pikiran seorang

individu yang meliputi kecemasan atau ketakutan, kekhawatiran, dan

kecurigaan akan adanya hubungan yang dijalani pasangan dengan

orang lain (lawan jenis).

b. Aspek Afeksi (Emotional Jealousy)

Pada aspek ini, seorang individu yang cemburu akan

melibatkan berbagai perasaan emosi seperti perasaan tidak aman,

ketakutan, marah dan kesedihan terhadap hubungan dan perilaku

(49)

c. Aspek Perilaku (Behavioral Jealousy)

Pada aspek ini, seorang individu yang cemburu dengan

pasangannya akan cenderung melakukan perilaku yang berfungsi

untuk menjaga pasangan agar tidak ditinggalkan. Perilaku tersebut

seperti mengawasi kegiatan pasangan, menanyakan dan mencari

keberadaan pasangan, serta membatasi kegiatan pasangan dengan

tujuan agar pasangan tidak melakukan kegiatan yang akrab dengan

(50)

2.4. HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN

KECEMBURUAN PADA PRIA DEWASA AWAL YANG

BERPACARAN Merasa tidak berharga

(51)

Seorang individu dengan tipe kelekatan aman akan cenderung lebih

mempercayai pasangannya, merasa bawa dirinya berharga dan tidak

khawatir jika ditinggalkan oleh pasangannya. Individu dengan tipe kelekatan

ini cukup bergantung dengan pasangannya dan merasa nyaman jika

pasangannya bergantung dengan dirinya. Meskipun demikian, ia tetap bisa

menjadi dirinya sendiri (Fricker & Moore, 2002). Hal ini membuat seorang

individu dengan kelekatan aman akan cenderung memiliki tingkat

kecemburuan yang rendah, karena adanya rasa percaya pada pasangan dan

penghargaan diri yang tinggi (Acton, 2010).

Seorang individu dengan tipe kelekatan cemas akan cenderung

sangat bergantung dan merasa tidak mampu berdiri sendiri tanpa

pasangannya, kurang memiliki kepercayaan serta merasa tidak berharga

sehingga ia cenderung memiliki kecemasan bahwa pasangannya tidak

benar-benar mencintainya. (Fricker & Moore, 2002). Hal ini membuat seorang

individu dengan kelekatan cemas akan cenderung memiliki tingkat

kecemburuan yang tinggi, karena seorang individu yang sangat tergantung,

tidak percaya dan merasa dirinya tidak berharga pada pasangannya akan

mudah cemburu (Acton, 2010).

Seorang individu dengan tipe kelekatan menghindar cenderung

tidak memiliki rasa percaya pada pasangannya. Individu akan menolak

untuk sangat dekat dengan pasangan sehingga merasa tidak nyaman jika

tergantung dengan pasangannya. Kemudian, individu tersebut memiliki

(52)

tetapi ia cenderung melindungi dirinya dengan cara menolak orang lain

karena beranggapan bahwa dirinya sangat berharga (Fricker & Moore,

2002). Hal ini membuat seorang individu dengan kelekatan menghindar

akan cenderung memiliki tingkat kecemburuan yang tinggi, karena tidak

adanya rasa percaya sehingga akan merasa cemburu jika ada orang lain

(lawan jenis) yang mendekati pasangannya (Acton, 2010).

E. HIPOTESIS

Berdasarkan dari penjelasan diatas, maka peneliti memiliki hipotesis

bahwa semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi

(53)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional.

Penelitian ini, akan melihat hubungan antara kelekatan tidak aman (insecure

attachment) dengan kecemburuan (Jealousy)pada pria.

B. VARIABEL PENELITIAN

1. Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah kelekatan tidak

aman (insecure attachment) yang memiliki dua tipe kelekatan, yaitu tipe

kelekatan cemas (anxiety attachment) dan tipe kelekatan menolak

(avoidant attachment)serta tipe kelekatan aman (secure attachment).

2. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kecemburuan

(Jealousy)pria.

C. DEFINISI OPERASIOANL

Kelekatan tidak aman (insecure attachment) merupakan perasaan

tidak aman yang ditunjukkan dengan perilaku yang cenderung tertutup,

menunjukkan sikap takut kepada orang asing, merasa kurang nyaman dan

(54)

diukur dengan skalaExperience in Close Relationship(ECR) (Fraley, Brennan

& Waller, 2000). Skor dengan nilai tinggi pada skala ini menunjukkan

semakin tinggi kelekatan tidak aman seorang individu dan begitu juga

sebaliknya.

Kecemburuan adalah gambaran dari keadaan yang cukup berbahaya

dan merupakan suatu pengalaman yang pernah dialami seseorang dalam

menjalin suatu hubungan yang romantis. Variabel ini diukur dengan

menggunakan skalaPartner Behaviours Scale (Dijkstra, Barelds & Groothof,

2010). Skor dengan nilai tinggi pada skala ini menunjukkan semakin tinggi

kecemburuan seorang individu terhadap pasangannya dan begitu juga

sebaliknya.

D. SUBJEK PENELITIAN

Subjek pada penelitian ini adalah:

1. Pria

2. Dewasa awal, dengan rentang usia 18-35 tahun.

3. Sedang menjalani hubungan (pacaran)

E. METODE PENGAMBILAN SAMPEL

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah incidental

sampling. Teknik ini digunakan karena subjek pada penelitian ini ditentukan

secara tidak sengaja namun tetap memiliki kriteria sebagai sumber data

(55)

F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

1. Metode Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan skala likert untuk

mengumpulkan data dari subjek. Pada penelitian ini, skala yang akan

digunakan untuk melihat tipe kelekatan yang dimiliki serta skala

kecemburuan digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya kecemburuan

yang dimiliki oleh Pria di Yogyakarta yang sedang menjalin hubungan

berpacaran.

Pada skala kelekatan terdapat aitem yang bersifat favorable dan

unfavorable. Aitem favorable adalah aitem yang mendukung variabel

yang ingin diukur, sedangkan aitem unfavorable adalah aitem yang

bertolak belakang dengan variabel yang ingin diukur. Sedangkan pada

skala kecemburuan hanya terdapat aitem yang bersifatfavorable.

2. Alat Pengumpulan Data

a. Experience in Close Relationship Scale

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala

adaptasi, yaitu Experience in Close Relationship (ECR) Scale untuk

melihat tipe kelekatan dewasa, khususnya tipe kelekatan avoidantdan

anxiety. Proses adaptasi dilakukan oleh salah satu dosen Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta fakultas Psikologi, yaitu bapak Siswa

(56)

PadaExperiences in Close Relationship Scale, jawaban skala

terdiri dari 7 alternatif pilihan, yaitu STS (Sangat Tidak Setuju), TS

(Tidak Setuju), ATS (Agak Tidak Setuju), N (Netral), AS (Agak

Setuju), S (Setuju), dan SS (Sangat Setuju). Aitem favorable diberi

penilaian dari angka terkecil, yaitu 1 (STS), sampai angka terbesar,

yaitu 7 (SS). Penilaian untuk aitem unfavorable dilakukan mulai dari

angka terbesar, yaitu 7 (STS) sampai angka terkecil, yaitu 1 (SS).

Tabel 3.1.Blue-printKelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba

Aitem skala adaptasi Experiences in Close Relationship

sebelum diuji coba berjumlah 36 buah aitem.

(57)

b. Partner Behaviours Scale

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala

adaptasi, yaitu Partner Behaviours Scale untuk mengukur tinggi

rendahnya kecemburuan yang dimiliki oleh seorang pria. Proses

adaptasi dilakukan oleh peneliti, kemudian meminta bantuan kepada

salah satu sarjana PBI untuk mengkonfirmasi hasil terjemahan. Setelah

itu, peneliti mengkonsultasikan hasil tersebut kepada dosen

pembimbing penelitian.

Pada Partner Behaviours Scale, jawaban skala terdiri dari 5

alternatif pilihan, yaitu 1 sampai 5. Pilihan 1 menunjukkan tidak

(58)

Tabel 3.2.Blue-printKecemburuan Sebelum Diuji Coba

Aitem skala adaptasiPartner Behaviours Scalesebelum diuji

coba berjumlah 42 buah aitem.

Indikator Aitem Jumlah

Perilaku mencurigakan 5, 7, 9, 10, 14, 18, 28, 32 8

Perilaku tidak setia 19, 19, 20, 21, 22, 23, 24,

25, 26, 27, 29, 30, 31, 36,

37, 42

16

Pornografi 1, 2, 3, 4, 33, 34, 35 7

Technological Investment 6, 8, 11, 12, 15, 16, 17,

38, 39, 40, 41

11

G. KREDIBILITAS ALAT UKUR

1. Validitas

Suatu tes dikatakan memiliki validitas bila tes tersebut mengukur

apa yang seharusnya diukur Azwar (2007). Pada penelitian ini, peneliti

menggunakan validitas isi. Pada penelitian ini, orang ahli yang

(59)

2. Seleksi Aitem

Seleksi aitem dilakukan untuk melihat aitem-aitem yang baik

dalam alat ukur. Pada penelitian ini, selsksi aitem dilakukan dengan cara

menggunakanSPSS 15.0 for Windows.

Tabel 3.3.Blue-printKelekatan Dewasa Setelah Diuji Coba

Aitem diuji coba pada 48 orang subjek dan dianalisis

menggunakan SPSS dengan melihat Korelasi Aitem Total (Rit). Aitem

yang memiliki Rit ≥0.25 dipandang memiliki daya diskriminasi yang baik.

Aitem yang gugur berjumlah 11, yaitu aitem 1, 3, 5, 9, 11, 17, 25, 30, 31,

32, 35. Aitem yang tersisa kemudian dianalisis kembali sampai didapatkan

semua aitem memiliki daya diskriminasi yang baik. Batas≥0.25 digunakan karena menghindari keguguran aitem yang terlalu banyak. Sehingga

terdapat 25 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data penelitian

(60)

Tabel 3.4.Blue-printKecemburuan Setelah Diuji Coba

Aitem diuji coba pada 48 orang subjek dan dianalisis

menggunakan SPSS dengan melihat Korelasi Aitem Total (Rit). Aitem

yang memiliki Rit ≥0.3 yaitu aitem 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16,

17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36,

37, 38, 39, 40, 41, 42 dipandang memiliki daya diskriminasi yang baik.

Sehingga terdapat 38 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data

penelitian yang sesungguhnya.

Indikator Aitem Jumlah

Perilaku mencurigakan 5, 7, 9, 10, 14, 18, 28, 32 8

Perilaku tidak setia 19, 19, 20, 21, 22, 23, 24,

25, 26, 27, 29, 30, 31, 36,

37, 42

16

Pornografi 33, 34, 35 3

Technological Investment 6, 8, 11, 12, 15, 16, 17,

38, 39, 40, 41

11

3. Reliabilitas

Berdasarkan hasil olah data menggunakan SPSS 15.0 for

Windowstersebut maka terlihat bahwa koefisien reliabilitas memiliki nilai

0.865 dan 0.975. Nilai tersebut merupakan nilai yang mendekati 1. Hal ini

dapat disimpulkan bahwa kedua skala yang digunakan memiliki

(61)

H. METODE ANALISIS DATA

1. Uji Asumsi

a. Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk melihat sampel yang

digunakan pada penelitian merupakan bagian dari populasi yang

memiliki sebaran data normal. Bila p > 0.05, maka suatu penelitian

memiliki sebaran data yang normal, sedangkan bila p < 0.05 , maka

suatu penelitian memiliki sebaran data yang tidak normal. Pada

penelitian ini, peneliti menggunakan 15.0 for Windows untuk mencari

normalitasnya.

b. Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk melihat hubungan antara dua

variabel menyerupai garis lurus. Bentuk hubungan garis lurus tersebut

menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas salah satu variabel akan

diikuti oleh peningkatan kuantitas variabel yang lain. Begitu juga

apabila salah satu variabel mengalami penurunan kuantitas, akan

diikuti oleh penurunan variabel yang lain (Sarwono, 2006). Pada

penelitian ini, peneliti menggunakan 15.0 for Windows untuk mencari

(62)

2. Uji Hipotesis

Pada penelitian ini, peneliti menguji hipotesis dengan

menggunakan teknik korelasi. Teknik korelasi digunakan untuk

menentukan hubungan antara dua variabel dan melihat pola suatu variabel

terhadap variabel yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk melihat jika ada

kenaikan pola pada suatu variabel maka dapat menyebabkan penurunan

atau peningkatan variabel lain (Sarwono, 2006). Penelitian ini

menggunakan uji korelasi produk momen Pearson. Besar korelasinya

adalah -1 sd 1, dengan arti:

1. Semakin mendekati -1, maka kedua variabel tersebut memiliki korelasi

yang negatif.

2. Semakin mendekati 1, maka kedua variabel tersebut memiliki korelasi

yang positif.

3. Semakin mendekati 0, maka kedua variabel tersebut tidak memiliki

(63)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2013 – 28 Juli 2013

dengan menyebarkan 115 skala. Penyebaran skala dilakukan secara cetak

maupun elektronik. Dari 115 skala yang disebarkan, 12 diantaranya gugur

karena diisi dengan kurang tepat dan tidak sesuai sasaran, sehingga hanya 103

skala yang dapat dianalisis oleh peneliti.

B. DATA DEMOGRAFIS

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini berjumlah 103 orang. Subjek

penelitian merupakan seorang pria dengan rentang usia 18-35 tahun yang

saat tinggal di Yogyakarta dan menjalin hubungan berpacaran dengan

(64)

Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Hubungan Berpacaran

Lama Hubungan Jumlah

1 – 7 bulan 11 orang

8 – 18 bulan 29 orang

19 – 39 bulan 17 orang

40 – 57 bulan 21 orang

58 – 73 bulan 9 orang

74 – 81 bulan 12 orang

82 – 88 bulan 4 orang

TOTAL 103 ang

C. UJI ASUMSI

1. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil perhitungan SPSS, ditemukan bahwa Asymp.

Sig. (2-tailed), yang merupakan nilai p, pada variabel X (kelekatan tidak

aman) dan Y (kecemburuan) pada penelitian ini nilai p di atas 0.05. Hal ini

menunjukkan bahwa sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang

(65)

Tabel 4.2 Normalitas Variabel Penelitian

Pengukuran p Keterangan

Xtotal 0.154

Sebaran data normal Y total 0.759

Xcemas 0.316

Xmenghindar 0.055

2. Uji Linearitas

Berdasarkan penghitungan menggunakan SPSS 15.0, ditemukan

bahwa besar nilai p sebesar 0.492 yang menunjukkan bahwa kedua

variabel tidak membentuk satu garis lurus yang signifikan.

80 90 100 110

(66)

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh scatterplot, terlihat

bahwa hasil olah data pada penelitian ini tidak linier. Hal ini terlihat dari

kondisi sebaran data yang sangat menyebar dan tidak membentuk garis

lurus. Tidak adanya korelasi tersebut menunjukkan bahwa kelekatan tidak

aman yang dimiliki oleh pria tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya

kecemburuan pria terhadap pasangan.

D. HASIL PENELITIAN

1. Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil analisis korelasi menggunakan SPSS 15.0,

ditemukan bahwa besar korelasi variabel X dan Y pada penelitian ini

sebesar -0.055. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut tidak

memiliki korelasi.

2. Statistik Deskriptif

a. Paired Sample T-test

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS 15.0,

rata-rata anxiety (42.57) lebih tinggi daripada rata-rata avoidant

(51.00). Hal ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini didominasi

(67)

b. One Sample T-test

Tujuan menggunakan teknik ini adalah untuk melihat

apakah nilai mean teoritis lebih besar atau lebih kecil daripada mean

empiris. Mean teoritis dicari dengan rumus :

(skor rendah x jml soal) + (skor tinggi x jml soal)

2

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Statistik Deskriptif

Pengukuran Mean Empiris Mean Teoritis p

Kelekatan 46.79 100 0.000

Kelekatan

cemas

42.57 56 0.000

Kelekatan

menghindar

51.00 44 0.000

Nilai p pada tabel di atas adalah p< 0,05. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mean yang signifikan antara

(68)

E. PEMBAHASAN

Hasil analisis korelasi Pearson menggunakan program SPSS 15.0

menunjukkan koefisien korelasi sebesar –0.055. Kondisi ini memperlihatkan

bahwa tidak ada hubungan antara kelekatan dewasa tidak aman (insecure

adult attachment) dengan kecemburuan (Jealousy). Dengan demikian,

hipotesis pada penelitian ini yang menyatakan : “Semakin tinggi kelekatan

tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat kecemburuan seseorang”,

ditolak.

Hal ini dipengaruhi oleh adaptasi skala yang berasal dari Belanda

dan kurang sesuai dengan keadaan serta norma-norma yang berlaku pada

masyarakat Indonesia. Faktor adaptasi skala yang kurang sesuai tersebut

dinyatakan oleh beberapa orang yang menjadi subjek penelitian ini. Beberapa

diantaranya mengatakan bahwa pernyataan pada skala tersebut terlalu vulgar,

senonoh, dan tidak lazim. Ada pula yang mengatakan bahwa jelas saja orang

akan cemburu jika pasangannya melakukan hubungan seks dengan orang lain.

Berdasarkan dari pernyataan subjek penelitian tersebut, dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi seksual antara masyarakat

Indonesia dengan masyarakat Belanda. Perbedaan persepsi tersebut di

antaranya adalah Indonesia memiliki pandangan bahwa seks adalah tabu

membuat sebagian orang Indonesia menjadi enggan untuk berdiskusi

mengenai kesehatan reproduksinya dengan orang lain. Selain itu, mereka

merasa tidak nyaman apabila harus membahas seksualitas dengan anggota

(69)

di Belanda memiliki pandangan bahwa dalam membicarakan seks bukanlah

hal yang tabu. Mereka cenderung lebih rileks dalam membicarakan mengenai

(70)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Kesimpulan pada penelitian ini adalah ipotesis yang menyatakan:

“Semakin tinggi kelekatan tidak aman seseorang, maka semakin tinggi tingkat

kecemburuan seseorang”, ditolak. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan

beberapa hasil penelitian sebelumnya dan teori-teori yang menjadi landasan

diadakannya penelitian ini.

B. SARAN

Saran untuk penelitian selanjutnya berdasarkan hasil penelitian ini

adalah apabila menggunakan skala adaptasi, maka sebaiknya meminta ijin

kepada pembuat skala terlebih dahulu sebelum menggunakan untuk

pengambilan data. Selain itu, sebaiknya menggunakan skala yang dapat

diterima oleh masyarakat yang menjadi subjek penelitian. Hal ini bertujuan

agar skala yang digunkan dapat menggambarkan keadaan subjek yang

sesungguhnya, sehingga tidak terjadi faking good atau faking bad dalam

menjawab.

Saran lain yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah

lebih memperhatikan mengenai penempatan skala (skala x dan y) serta

pernyataan dalam skala, hal tersebut dapat mempengaruhi jawaban yang

Gambar

Tabel 3.1.Blue-print Kelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba.................... 39
Tabel 3.1. Blue-print Kelekatan Dewasa Sebelum Diuji Coba
Tabel 3.2. Blue-print Kecemburuan Sebelum Diuji Coba
Tabel 3.3. Blue-print Kelekatan Dewasa Setelah Diuji Coba
+5

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti ingin melihat apakah kelekatan tidak aman pada masa dewasa memiliki hubungan dengan kepuasan berelasi, secara khusus pada mahasiswi yang menjalani hubungan berpacaran

Berdasarkan hasil analisis data, tidak terdapat perbedaan Long Term Debt Payment Ratio, Re-Investment Ratio dan Dividend Payout Ratio antara industri asuransi

Walaupun tidak ada definisi yang dapat diterima dan secara universal mengenai citra tubuh, tetapi Hsu dan Sobkiewicz (dalam Massidda, 2010) mengatakan bahwa perbedaan antara

Analisis tambahan dilakukan dan diperoleh hasil bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara variabel Leader Member Exchange (LMX) dengan variabel Employee

Pada proses awal pembuatan water heater dengan panjang pipa 10 meter, dengan diameter pipa 0,5 inci dan bersirip adalah membuat gambaran desaign water heater

Dari data yang telah diperoleh, kemudian diolah kembali ke dalam bentuk grafik untuk mengetahui hubungan antara torsi (N.m) dengan kecepatan putar kincir (rpm),

Bila seorang pemimpin dapat mengerti apa yang dibutuhkan oleh karyawan, menjalin hubungan yang baik antara pemimpin dengan bawahan dengan baik, memberikan tugas

sebuah model pendalaman Iman untuk orang dewasa. Salah satu pokok yang sangat digaris bawahi oleh model ini adalah sifatnya yang dialogis partisipatif. Model