Pada hari Selasa, 27 Pebruari 2007 Dalam Rapat Dengar Pendapat Dengan Badan Legislasi DPR-RI

Teks penuh

(1)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

MASUKAN-MASUKAN IKAHI TERHADAP

RUU TENTANG PERUEAHAN ATAS UU NO.22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL,

RUU TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO.5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO.14 TAHUN 1985

TENTANG MAHKAMAH AGUNG DAN

RUU TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO.24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

Pada hari Selasa, 27 Pebruari 2007

Dalam Rapat Dengar Pendapat Dengan Badan Legislasi DPR-RI I TENTANG KOMISI YUDISIAL (KY)

A. Rekruitmen Hakim.

IKAHI berpendapat bahwa jabatan Hakim Agung adalah jabatan yang tidak boleh dilamar. Dengan demikian, IKAHI tidak sependapat dengan cara-cara KY yang membuka pendaftaran dari calon yang melamar sendiri. Oleh karenanya sistem rekruitmen Hakim Agung harus di atur dengan tegas di dalam Undang-Undang KY.

B. Pengawasan Hakim Oleh KY.

Di dalam melaksanakan fungsi pengawasan KY telah memasuki wilayah teknis yudisial, padahal fungsi pengawasan KY hanya sebataas menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhutan martabat, serta perilaku Hakim. Pengawasan bidang teknis yudisial hanya boleh dilakukan melalui upaya hukum. Dalam hal Hakim melakukan penyimpangan dari jalannya peradilan yang baik, MA sebagai pergadi!an negara tertinggi melakukan pengawasan tertinggi atas jalannya peradilan dapat mengambil langkah-langkah untuk meluruskan agar jalannya peradilan tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Dalam hal ini KY tidak diberi wewenang oleh Undang-Undang.

Oleh karena itu, harus ditegaskan dalam ketentuan undang-undang tentang batas-batas kewenangan KY dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap Hakim, yaitu :

1 Perilaku apa yang akan menjadi ukuran untuk menilai seorang Hakim. IKAHI berpendapat ukurannya adalah kode etik dan pedoman perilaku Hakim (code of conduct) dan tingkah laku lain yang tidak pantas menurut ukuran masyarakat beradab.

2 Berwenangkah KY melakukan pemeriksaan terhadap Hakim, bagaimana prosedur pemeriksaan Hakim dilakukan, kapan seorang Hakim dapat dipanggil dan sebagainya.

IKAHI berpendapat :

1 KY dapat melakukan pemeriksaan atas laporan terhadap Hakim yang diajukan ke KY.

2 Pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh KY hanya sebatas terhadap laporan pelanggaran yang dilakukan Hakim di dalam dan di luar kedinasan yang tidak berkaitan dengan pelanggaran pelaksanaan tugas peradilan, baik yang bersifat teknis yudisial maupun teknis administrasi peradilan.

3 Hasil pemeriksaan oleh KY diteruskan ke MA dengan disertai catatan-catatan atau pendapat-pendapat atau rekomendasi.

(2)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

4 Dalam hal KY berpendapat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, terbukti Hakim yang dilaporkan melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud ad.2, KY dapat mengusulkan kepada MA agar Hakim yang bersangkutan dikenai sanksi administratif berupa :

a Teguran lisan ; b Teguran tertulis ;

c Pernyataan tidak puas secara tertulis ;

d Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun ;

e Penundaan gaji sebesar 1 (satu) kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun ;

f Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun ;

g Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun ;

h Pembebasan dari jabatan ;

i Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Hakim maupun sebagai Pegawai Negeri Sipil ;

j Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Hakim maupun sebagai Pegawai Negeri Sipil.

5 MA dapat menindakianjuti usulan penjatuhan sanksi administratif terhadap Hakim yang diajukan oleh KY.

6 Apabila MA berpendapat usulan penjatuhan sanksi administratif terhadap Hakim yang diajukan KY cukup beralasan menurut hukum dan terbukti kebenarannya, MA menerbitkan surat keputusan yang berisi penjatuhan sanksi administratif yang dianggap tepat terhadap Hakim yang bersangkutan.

C. Pengawasan Hakim Oleh MA.

IKAHI berpendapat MA sebagai pengadilan negara tertinggi secara atributif mempunyai kewenangan mengawasi terhadap para Hakim agar jalannya peradilan dapat dilaksanakan sebagaimna mestinya. Sisi lain dari pengawasan dengan sendirinya melahirkan kewajiban MA untuk membina lembaga peradilan dan Hakim, termasuk di dalamnya apabila ada pelanggaran terhadap kode etik atau perilaku Hakim. Kode etik pada suatu organisasi profesi tertentu bertujuan untuk mendisiplinkan anggotanya. Dengan demikian tidak mungkin menghapuskan fungsi pengawasan itu dari induk organisasi yang bersangkutan (dalam hal ini MA). Dengan demikian, pengawasan terhadap tingkah laku Hakim di dalam maupun di luar kedinasan harus tetap dilakukan oleh MA didukung oleh KY, sehingga Pasal 32 UU MA harus dipertahankan.

D. Hubungan MA Dengan KY.

IKAHI sependapat dengan pertimbangan MK di dalam putusan No.005/PUU-IV/2006, yang menyatakan kedudukan KY adalah merupakan auxiliary organ atau supporting element dari MA. Maka tidak logis secara hukum bila MA diawasi oleh KY. Apalagi di dalam pertimbangan putusan MK dinyatakan MK tidak dapat diawasi oleh KY. Padahal sesual ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 MK dan MA sama-sama sebagai pemegang kekuasaan kehakiman, maka menjadi diskriminatif secara hukum jika Hakim MK tidak dapat diawasi oleh KY namun Hakim MA diawasi oleh KY.

E. KY Yang Ideal.

1 IKAHI berpendapat KY bukan pelaksana kekuasaan kehakiman, sehingga tidak tepat jika ketentuan yang mengatur KY ditempatkan di dalam Bab IX Tentang Kekuasaan Kehakiman dalam UUD 1945. Kalaupun disebut di dalam Bab IX

(3)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

tersebut, maka KY harus dianggap bagian dari MA. Konsekuensinya adalah pimpinan KY secara ex officio dipegang oleh Ketua MA sebagaimana pendapat dalam pertimbangan putusan MK No.005/PUU-IV/2006 yang dicantumkan pada halaman 191-192 putusan tersebut.

2 Keanggotaan KY harus diisi oleh orang-orang yang berpengalaman luas di bidang peradilan, di samping persyaratan tentang kematangan pribadi yang berintegritas, kearifan dan bijaksana. Berkaitan dengan itu persyaratan usia maximum tidak perlu ditentukan, yang ditentukan cukup usia minimum.

3 Karena posisinya sebagai supporting element dari MA, maka tugas utama KY idealnya hanyalah menyangkut pengawasan di dalam dan di luar kedinasan yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan tugas peradilan baik yang bersifat teknis yudisial maupun teknis administrasi peradilan.

Oleh karena keberadaan (eksistensi) KY bukanlah lembaga yang merupakan unsur penentu keberadaan negara, melainkan hanyalah sebagai "auxiliary state organs" atau "auxiliary agencies”, maka cara pelaksanaan pengawasan perilaku Hakim haruslah didasarkan pada hubungan kemitraan (partnership). Dalam hal ini sebaiknya tindaklanjut tentang pelaksanaan pengawasan diatur dalam peraturan bersama antara MA dan KY agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaannya.

4 Oleh karena pengawasan terhadap Hakim yang relaksanakan fungsi yudisial berada dalam ranah independensi kekuasaan kehakiman, di samping itu sesuai dengan sistem yang sudah ada pengawasan Hakim dalam melaksanakan fungsi yudisial adalah melalui upaya hukum, maka fungsi pengawasan KY terhadap Hakim yang berkaitan dengan perilaku Hakim harus dirumuskan secara eksplisit dan terinci dengan jelas dalam ketentuan undang-undang.

5 Konsekuensi lanjut dari posisi KY sebagai auxiliary organs adalah jikapun KY diberi kewenangan oleh undang-undang untuk mengajukan usulan atau rekomendasi yang berkaitan dengan penjatuhan sanksi ataupun penghargaan terhadap Hakim, maka oleh karena KY bukan pelaksana kekuasaan kehakiman, penentuan keputusannya ada pada MA sebagai main organs, dan sebagai pemegang kekuasaan kehakiman tertinggi yang membawahi empat lingkungan peradilan dimana para Hakimnya menjalankan kekuasaan kehakiman di bawah pembinaan dan pengawasan MA.

6 Di dalam melakukan tugas pengawasan seandainya oleh undang-undang KY diberi kewenangan untuk melakukan pemeriksaan dan klarifikasi, maka harus tetap menjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku Hakim. Dan sesuai dengan asas praduga tak bersalah KY harus menjaga terhadap hasil pemeriksaan yang masih bersifat rahasia untuk tidak dipublikasikan.

7 Oleh karena MA dan MK sama-sama sebagai pemegang kekuasaan kehakiman tertinggi maka sesuai asas persamaan di hadapan hukum, Hakim Agung pada MA berada di luar pengawasan KY, sama halnya terhadap Hakim Konstitusi pada MK, karena Hakim Agung pada MA dan juga Hakim Konstitusi pada MK sama-sama menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman yang kelembagaannya bersifat konstitusional Tidak ada sistem di dunia ini yang berlaku dan mengenal adanya lembaga pengawasan terhadap Hakim Agung. Pengawasan terhadap MA adalah oleh sistem yang berlaku yang ada pada MA itu sendiri.

8 Keanggotaan KY perlu ditinjau kembali, IKAHI mengusulkan agar rekruitmen anggota KY beserta tata cara dan mekanisme maupun materi persyaratan rekruitmennya dicantumkan secara eksplisit dalam undangundang. Diantara persyaratan tersebut, sebaiknya diisi oleh mantan Hakim Agung, mantan Jaksa Agung atau Pejabat Negara lainnya yang benar-benar memahami dan mengetahui tentang kekuasaan kehakiman dan bukan orang awam atau yang tidak memiliki pekerjaan tetap yang tidak memahami dan mengetahui tugas-tugas dan fungsi

(4)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

kekuasaan kehakiman. Cara untuk mengisi keanggotaannya tidak dengan melamar, tetapi Pemerintah yang melamar dan mencari orang-orang yang mempunyai kompetensi dan integritas yang berkaitan dengan tugas dan fungsi KY. 9 Berkaitan dengan itu, maka cara KY dalam rekruitmen calon Hakim Agung perlu

ditinjau kembali. Selama ini yang dilakukan oleh KY berpotensi menghancurkan institusi MA, karena dengan cara yang dilakukannya tersebut, yaitu membuka pelamar dari para LSM, politisi dan sebagainya termasuk terhadap Hakim yang melamar tidak melalui MA, cenderung sudah bersifat politisasi terhadap lembaga MA. Atas dasar itu oleh karena ketentuan tentang tata cara atau hukum acara termasuk ketentuan yang bersifat "lex stricta", maka IKAHI mengusulkan agar materi beserta tata cara/prosedur rekruitmen talon Hakim Agung diatur secara eksplisit, jelas dan terinci dalam undang-undang untuk menutup peluang interpretasi dan membuka kewenangan diskresi bagi KY yang menjurus ke arah bias kepentingan.

Khusus rekruitmen calon Hakim Agung yang dilakukan untuk pengisian Hakim Agung sekarang, guna menghindari politisasi lembaga MA dan Hakim Agung, IKAHI berpendapat sistem rekruitmen lama (yang dahulu dilakukan DPR) lebih baik, karena DPR menunggu calon Hakim Agung terbaik yang diusulkan oleh MA dan telah dievaluasi kinerjanya selama meniti kariernya sebagai Hakim.

10 IKAHI berpendapat tentang hal apa yang dimaksud dengan perilaku Hakim, adalah yang telah diatur di dalam pedoman perilaku Hakim (code of conduct) yang dibuat dan disahkan oleh MA bersama IKAHI. Atas dasar itu, maka ketentuan tentang perilaku Hakim berada di luar kewenangan KY untuk mengatur dan tidak perlu diatur oleh KY maupun oleh ketentuan undang-undang, karena tentang perilaku pada prinsipnya berada di ranah moral. Di samping itu perilaku atau "etik" berkaitan dengan penegakan disiplin, maka pelanggaran terhadap "etik" sudah dikenai dengan hukuman disiplin, dan hukuman disiplin telah diatur dalam UndangUndang Kepegawaian (Undang-Undang No.8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 Jo. PP No.30 Tahun 1980 sebagaimana diubah dengan PP No.45 Tahun 1990), dan tentang pelanggaran profesi menyangkut teknis peradilan dan teknis administrasi peradilan sudah ada sistem atau mekanisme pengawasannya melalui upaya hukum sesuai ketentuan hukum acara.

11 IKAHI berpendapat jikapun kewenangan KY dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku Hakim ditafsirkan mencakup bidang pengawasan terhadap Hakim, maka pengawasan tersebut sebatas “pengawasan yang menyangkut perilaku individu Hakim di dalam dan di luar kedinasan yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan tugas peradilan baik yang bersifat teknis yustisial maupun teknis administrasi peradilan. KY tidak berwenang melakukan pengawasan teknis peradilan dan teknis administrasi peradilan, karena bidang-bidang tersebut adalah wujud dari pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan tidak dapat diawsi oleh lembaga negara lain”:

Dengan demikian, KY dalam melakukan pengawasan tidak boleh melakukan penilaian terhadap putusan Hakim. Penilaian terhadap putusan Hakim hanya dapat dilakukan melalui proses upaya hukum sesuai dengan hukum acara.

12 MA adalah salah satu dari tiga lembaga (dalam hal ini Yudikatif, Eksekutif, dan Legislatif), yang merupakan unsur penentu keberadaan negara. Pengawasan terhadap pejabat-pejabat negara pada ketiga lembaga negara tersebut sesuai dengan sistem yang berlaku tidak melalui prosedur biasa. Pengawasan terhadap Hakim Agung dilakukan oleh sistem yang berlaku pada MA itu sendiri termasuk di dalamnya oleh Majelis Kehormatan Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (4) UU Kekuasaan Kehakiran.

(5)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

13 Pengawasan terhadap Hakim di empat lingkungan peradilan di bawah MA dilakukan oleh MA sesuai dengan Pasal 11 ayat (4) UU Kekuasaan Kehakiman Jo. Pasal 32 UU Mahkamah Agung. Kewenangan ini mutlak melekat pada MA sebagai puncak kekuasaan kehakiman yang secara atributif melaksanakan fungsi pengawasan tertinggi atas perbuatan Pengadilan di semua lingkungan peradilan, tanpa melanggar atau bertentangan dengan prinsip independensi kekuasaan kehakiman, termasuk pengawasan internal pada MA itu sendiri.

Dengan demikian, pelaksanaan pengawasan terhadap Hakim di bidang teknis yustisial dan teknis administrasi peradilan menjadi wewenang MA, sedangkan masalah perilaku Hakim di dalam dan di luar kedinasan yang tidak berkaitan dengan tugas peradilan diawasi secara bersama oleh MA dan KY. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa untuk menelusuri dan menemukan pelanggaran perilaku Hakim tanpa harus berbenturan dengan independensi Hakim di dalam memutus perkara, membutuhkan pemahaman dan pengalaman yang mendalam tentang kekuasaan kehakiman, yang hal ini tidak akan dapat dilakukan sendiri oleh KY tanpa melibatkan MA.

14 IKAHI berpendapat bahwa revisi UU KY harus dilakukan secara integral, karena posisi, tugas, kewenangan, dan fungsi KY sebagai "supporting element" dari MA berkaitan erat dengan posisi, tugas, kewenangan, dan fungsi kekuasaan kehakiman. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka perubahan UU KY harus diselaraskan (ada sinkronisasi) dengan undang-undang yang berkaitan di bidang kekuasaan kehakiran. Di samping itu IKAHI berpendapat tidak ada alasan urgensi atau kepentingan yang sangat mendesak untuk dilakukan percepatan revisi terhadap UU KY. Dengan demikian, perancangan dan pembahasan revisi terhadap UU KY tidak perlu harus tergesa-gesa dilakukan.

II TENTANG MAHKAMAH AGUNG (MA).

A. Sistem Organisasi Dan Manajemen Peradilan Pada MA.

IKAHI berpendapat sistem organisasi dan manajemen peradilan pada MA tidak dapat disamakan dengan sistem organisasi dan manajemen Departemen, karena sistem organisasi dan manajemen MA dibentuk dengan maksud dan tujuan untuk mendukung kelancaran tugas-tugas teknis peradilan (kekuasaan kehakiman), sehingga pemisahan sistem organisasi dan manajemen antara Sekretariat MA dan Panitera MA adalah tidak tepat.

B. Jabatan-Jabatan Pada Kepaniteraan MA.

IKAHI perpendapat oleh karena sistem.organisasi dan manajemen peradilan pada MA tidak sama dengan sistem organisasi dan manajemen pada departemen-departemen, maka jabatan-jabatan kepaniteraan di MA harus diisi oleh para Hakim, karena MA adalah judex iuris yang membawahi empat lingkungan peradilan. Sedangkan para Hakim dari empat lingkungan peradilan tersebut, baik Hakim di tingkat pertama maupun Hakim di tingkat banding mempunyai kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan di bidang teknis peradilan yang lebih mapan dibandingkan dengan para Panitera Pengadilan. Dan hal yang tidak pernah dikerjakan oleh Panitera adalah pengalaman bagaimana mengadili dan memutus perkara, yang hal itu hanya dimiliki oleh Hakim sebagai judex factie yang memutus dengan menerapkan hukum pula.

C. Jabatan-Jabatan Pada Sekretariat MA.

IKAHI berpendapat sama halnya dengan jabatan-jabatan pada Kepaniteraan MA, oleh karena sistem organisasi dan manajemen pada MA tidak sama dengan sistem organisasi dan ranajemen pada departemen-departemen, maka jabatan-jabatan pada Sekretariat MA dapat pula diisi oleh para Hakim, karena MA sebagai pemegang kekuasaan kehakiman menyelenggarakan segala urusan mengenai peradilan baik yang menyangkut teknis yudisial, organisasi, administrasi, dan finansial peradilan. Agar penyelenggaraan peradilan dapat dilakukan dengan benar dan saksama, MA membutuhkan tenaga para

(6)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Hakim yang mempunyai pengalaman dalam menangani berbagai perkara di daerah untuk ditempatkan dan/atau diangkat sebagai Pejabat struktural pada unit-unit struktur organisasi sekretariat MA dengan pertimbangan bahwa kemampuan teknis penanganan perkara yang dimilikinya sangat dibutuhkan untuk mendukung kinerja di bidang peradilan yang ada pada MA.

D. Masa Jabatan Hakim Agung.

IKAHI berpendapat terdapat diskriminasi oleh undang-undang terhadap pengaturan masa jabatan Hakim Agung dan Hakim Konstitusi, karena batas masa jabatan Hakim Konstitusi oleh Undang-Undang MK ditetapkan berakhir setelah yang bersangkutan berumur 67 tahun sedangkan masa jabatan Hakim Agung oleh Undang-Undang MA ditetapkan berakhir setelah yang bersangkutan berumur 65 tahun dan dapat diperpanjang sampai dengan 67 tahun dengan syarat mempunyai prestasi kerja luar biasa serta sehat jasmani dan rohani, padahal dalam UUD 1945 Hakim Konstitusi dan Hakim Agung adalah sama-sama pemegang kekuasaan kehakiman. Oleh karena itu, dalam revisi Undang-Undang Mahkamah Agung IKAHI mengusulkan masa jabatan Hakim Agung agar ditetapkan berakhir setelah yang bersangkutan berumur 70 tahun, dengan pertimbangan bahwa di beberapa negara lain masa jabatan Hakim Agung berakhir setelah yang bersangkutan berumur 70 tahun. Disamping itu pertimbangan kemapanan dan psikologis, Hakim yang telah meniti karier panjang di bidang kekuasaan kehakiman diharapkan telah mapan baik dari segi finansial maupun kehidupannya, anak-anak telah dewasa dan mandiri, tingkat kemampuan dan penguasaan hukum serta intuisi memutus perkara sudah dikuasai, dan secara psikis diharapkan telah mencapai tingkat kearifan sebagai Hakim.

Konsekuensinya adalah ketentuan Pasal 11 ayat (1) huruf b dan (2) UU No.5 Tahun 2004 Tentang MA dihapuskan.

Pasal 7 ayat (1) huruf d UU No.5 Tahun 2004 menjadi "berusia tidak lebih dari 60 tahun". Pasal 8 ayat (2) UU No5 Tahun 2004 diberi penjelasan bahwa "calon Hakim Agung dipilih DPR dari nama talon yang diusulkan oleh KY, bahwa KY hanya mengusulkan dan melakukan seleksi administrasi tetapi tidak melakukan penilaian sebab penilaian ada pada kewenangan DPR".

Pasal 12 ayat (2) UU No.5 Tahun 2004 diubah menjadi "usul pemberhentian sementara hanya berdasarkan rekomendasi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung".

Pasal 32 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) UU No.5 Tahun 2004 tetap dan tidak perlu dirubah, sebab merupakan penjabaran dari Pasal 1.1 ayat (4) UU Kekuasaan kehakiman.

Pasal 80 B UU No.5 Tahun 2004 dihapus. E. Pengawasan Terhadap Hakim Agung.

IKAHI berpendapat tidak ada satupun lembaga di dunia ini mengenal lembaga yang mengawasi MA, karena MA adalah lembaga konstitusional. Dengan demikian pengawasan terhadap MA adalah oleh sistem yang ada pada MA itu sendiri. Berkaitan dengan hal itu, Hakim Agung pada MA tidak dapat diawasi oleh KY.

F. Rekruitmen Hakim Agung.

IKAHI berpendapat, rekruitmen Hakim Agung harus didasarkan pada sistem karier, dibukanya Hakim Agung non karier bersifat apabila dibutuhkan dengan beberapa persyaratan (vide Pasal 7 ayat 2 UU No.5 Tahun 2004 Tentang Mahkamah Agung). III TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI (MK).

Telah disinggung dalam catatan-catatan tentang KY dan MA. IV TENTANG REVISI RUU KY USULAN BADAN LEGISLASI.

(7)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

IKAHI mengusulkan beberapa tambahan pokok-pokok pikiran sebagaimana telah diuraikan pada angka romawi I dan II tersebut di atas agar dimasukan dalam RUU KY, RUU MA, dan RUU MK yang akan dibahas di DPR.

IKAHI juga mengusulkan perubahan/penghapusan pada pasal-pasal RUU KY sebagai berikut :

• Pasal I, tetap.

• Pasal 1 ayat (4), diubah sehingga berbunyi

"Hakim adalah Hakim pada badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dalam lingkungan peradilan umum, lingkunggan peradilan agama, Iingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan Hakim pada Pengadilan Khusus yang berada dalam Iingkungan peradilan tersebut". • Pasal 1 ayat (5), tetap.

• Pasal 1 ayat (6), diubah sehingga berbunyi

"Perilaku Hakim adalah perilaku Hakim di daiam dan di luar kedinasan yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan tugas peradilan baik yang bersifat teknis yudisial maupun yang bersifat teknis administrasi peradilan".

• Pasal 1 ayat (7), tetap. • Pasal 13, tetap.

• Pasal 20 dan Pasal 21, digabungkan menjadi satu pasal dengan beberapa perubahan sebagai berikut :

(1) Dalam melaksanakan wewenangnya Komisi Yudisial mempunyai tugas a Menjaga kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku Hakim ; b Menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku Hakim ; c Mengupayakan kesejahteraan dan menjaga keselamatan serta

memberikan perlindungan Hakim ;

(2) Dalam melaksanakan wewenang terseblat Komisi Yudisial dapat a Menerima laporan masyarakat tentang perilaku Hakim ;

b Melakukan koordinasi dengan Mahkamah Agung dalam upaya menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku Hakim, serta upaya untuk mensejahterakan, menjaga keselamatan, dan memberi perlindungan terhadap Hakim ;

c Menyampaikan hasil pemeriksaan dan mengusulkan kepada pimpinan Mahkamah Agung untuk mengenakan sanksi administratif terhadap Hakim yang berdasarkan hasil pemeriksaan Komisi Yudisial terbukti melakukan pelanggaran.

(3) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Komisi Yudisial wajib a Mentaati norma dan peraturan perundang-undangan ; dan b Menjaga kerahasiaan keterangan/informasi yang diperoleh.

(4) Pelaksanaan tugas dan wewenangnya tidak boleh mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan merrputus perkara.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Komisi Yudisial diatur bersama antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung.

Catatan

Dengan demikian Pasal 20 ayat (2), dan (3), dihapus. Pasal 22 ayat (1) b, dihapus.

(8)

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Pasal 22 ayat (4), (5), (6), (7), dan (8) RUU KY dihapus, dan diatur tersendiri dimasukkan ke dalam peraturan bersama mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang pengawasan Hakim oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. • Pasal 22A diubah sehingga berbunyi

"Dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya Komisi Yudisial

a Menerima pengaduan masyarakat dan mengumpulkan informasi atas dugaan pelanggaran aturan perilaku Hakim ;

b Melakukan pemeriksaan dan memberi catatan-catatan atau pendapat atau rekomendasi atas hasil pemeriksaan ;

c Menetapkan sanksi administratif terhadap Hakim yang berdasarkan hasil pemeriksaan terbukti melakukan pelanggaran dan mengusulkan agar penetapan sanksi administratif terhadap Hakim tersebut dikukuhkan dalam bentuk surat keputusan oleh Mahkamah Agung ;

Catatan

Dengan demikian, Pasal 22A huruf c, d, dan e dihapus.

Pasal 22B, Pasal 22C dihapus, dan diatur tersendiri dimasukkan ke dalam peraturan bersama mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang pengawasan Hakim oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.

• Pasal 25 diubah, sehingga berbunyi

(1) Pengambilan keputusan Komisi Yudisial tentang pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dilakukan secara musyawarah untuk mencapai mufakat ; (2) Apabila pengambilan keputusan secara musyawarah tidak tercapai,

pengambilan keputusan dilakukan dengan suara terbanyak ;

(3) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sah apabila rapat dihadiri oleh seluruh anggota Komisi Yudisial ;

(4) Dalam hal terjadi penundaan 3 (tiga) kali berturut-turut atas keputusan mengenai pengusulan calon Hakim Agung ke DPR, maka keputusan dianggap sah apabila dihadiri oleh 5 (lima) orang anggota Komisi Yudisial. • Pasal 25A dihapus, dan diatur tersendiri dimasukkan ke dalam peraturan bersama

mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang pengawasan Hakim oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.

• Pasal 25B Bab IIIA, PERILAKU HAKIM, dihapus, karena sudh}h diatur dalam Pedoman Perilaku Hakim (code of conduct) yang dibuat dan disahkan oleh Mahkamah Agung bersama dengan IKAHI.

• Pasal II, tetap.

Jakarta, 27 Pebruari 2007.

PENGURUS PUSATIKAHI

SEKRETARIS II, KETUA UMUM,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :