PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS ANTARA IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

92 

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS

ANTARA IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh :

Nita Bonita Prasetyo

NIM : 099114083

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

this writing was simply dedicated for,

mother of earth,

my beloved father, mother, and fabian,

and every living soul.

(5)

v

because I'm happy

clap along if you feel like happiness is the truth

because I'm happy

clap along if you know what happiness is to you

(happy by Pharell Williams)

live high, live mighty, live righteously

takin’ it easy

(6)
(7)

vii

PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS ANTARA IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA

Nita Bonita Prasetyo

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Penelitian kuantitatif komparatif ini memanfaatkan metode try out terpakai. Skala pengukuran kesejahteraan psikologis yang dikonstruksi dengan model penskalaan Likert terdiri dari 55 aitem dengan reliabilitas 0,938. Subjek penelitian adalah 100 ibu bekerja dan 100 ibu tidak bekerja yang berasal dari sebuah institusi pendidikan dan dua perusahaan swasta. Data dianalisis dengan menggunakan independent sample t-test. Berdasarkan hasil analisis data, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja (t (198) = 0,308; p > 0,05). Analisis data tambahan dilakukan untuk melihat perbedaan enam dimensi kesejahteraan psikologis berdasarkan status kerja. Berdasarkan status kerja, ditemukan perbedaan yang signifikan pada dimensi pertumbuhan pribadi antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja (t (198) = 3,09; p < 0,05). Selain itu, analisis data tambahan juga dilakukan untuk melihat perbedaan kesejahteraan psikologis berdasarkan kelompok usia dan tingkat pendidikan. Tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara kelompok usia dewasa awal dan dewasa tengah (t (198) = - 0,627; p > 0,05). Pada tingkat pendidikan juga tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara subjek dengan tingkat pendidikan SMA dan Akademik yang terdiri dari D3, S1, dan S2 (t (198) = - 1,453; p > 0,05).

(8)

viii

PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DIFFERENCE BETWEEN WORKING MOTHERS AND NON-WORKING MOTHERS

Nita Bonita Prasetyo

ABSTRACT

This research aimed to reveal psychological well-being difference between working mothers and non-working mothers. This research was a comparative quantitative research. A scale measuring psychological well-being was constructed by using Likert scale model. The scale was consisted of fifty five items with reliability 0,938. Subjects were 100 working mothers and 100 non-working mothers from an education institution and two private companies. The data were analyzed using independent sample t-test. The analysis shows that there is no significant difference between working mothers and non-working mothers (t (198) = 0,308; p > 0,05). Additional analyses were conducted to reveal difference of six dimensions of psychological well-being based on employment status. It is found that, there is significant difference in personal growth dimension of psychological well-being between working mothers and non-working mothers (t (198) = 3,09; p < 0,05). Age and educational background were also analyzed as additional analyses. Based on age, there is no significant psychological well-being difference between early adulthood and middle adulthood (t (198) = - 0,627; p > 0,05). Based on educational background, there is also no significant difference between subjects with highschool and academic (vocational, undergraduate, and master degree) background (t (198) = - 1,453; p > 0,05) .

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena memberikan kesempatan untuk menyelesaikan proses penulisan skripsi ini dengan baik. Banyak pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini dan penulis sangat bersyukur atas kontribusi mereka. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah mengizinkan penulis menjalani proses penulisan hingga pertanggungjawaban skripsi ini.

2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si., Kepala Program Studi Psikologi, yang telah membantu proses pertanggungjawaban skripsi ini lancar.

3. Romo Dr. A. Priyono Marwan, S.J., Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan, kritik, saran, dukungan dan selalu sabar dalam membimbing sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi., Dosen Pembimbing Akademik, yang telah mendampingi proses belajar selama di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

5. Bapak Agung Santoso, M. A. yang telah bersedia membagi ilmu statistika dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

(11)

xi

7. Seluruh staf sekretariat dan laboratorium Fakultas Psikologi, Ibu Nanik, Pak Gie, Mas Gandung, Mas Muji, dan Mas Doni, yang selalu mendukung dan memberikan pelayanan yang terbaik.

8. Drs. T Sarkim, M.Ed., Ph.D., Wakil Rektor IV Universitas Sanata Dharma dan seluruh staf kantornya, Mami, Mbak Yovie, Kak Risca, Wawan, Mas Harry, dan Pak Mono yang selalu membantu dan bersedia membagi pengalaman, kehangatan, dukungan, serta kritikan.

9. Papa, Mama dan Ooh yang selalu mendukung proses ini dari awal hingga akhir.

10.Sahabatku Ita, Virly, Riri, Yosua, Wulan, Risa, dan Pucil yang bersedia membagi cerita, tawa dan tangis selama ini.

11.Teman-teman seperjuangan angkatan 2009 yang telah menemani selama proses belajar penulis.

12.Stephanus Randy yang selalu memberikan dukungan.

13.Semua pihak yang telah membantu segala proses pengerjaan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini sehingga penulis terbuka akan kritik dan saran untuk memperbaiki karya ini.

Yogyakarta, 2 Oktober 2014 Penulis

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……….. i

HALAMAN PERSTUJUAN DOSEN PEMBIMBING …...………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ………...………... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...……… iv

HALAMAN MOTTO ……… v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………..……… vi ABSTRAK ………... vii

ABSTRACT ………...………. viii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ………. ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ……….………... xii

DAFTAR TABEL ...xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A.Latar Belakang ...1

B.Perumusan Masalah ...4

C.Tujuan Penelitian ...4

D.Manfaat Penelitian ...4

(13)

xiii

A.Kesejahteraan Psikologis ...6

1.Definisi ... 6

2.Dimensi Kesejahteraan Psikologis ... 8

3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis ... 11

B.Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja ...14

1.Ibu Bekerja ... 14

2.Ibu Tidak Bekerja ... 15

C.Dinamika Penelitian ...15

D.Hipotesis ...17

BAB III METODE PENELITIAN ...18

A.Jenis Penelitian ...18

B.Identifikasi Variabel Penelitian ...18

C.Definisi Operasional ...18

D.Subjek Penelitian ...19

F.Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ...24

1.Validitas ... 24

2.Seleksi aitem ... 25

3.Reliabilitas ... 26

G.Persiapan Penelitian ...27

(14)

xiv

2.Proses Penelitian ... 28

H.Metode Analisis Data ...29

1.Uji Asumsi ... 29

2.Uji Hipotesis ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...31

A.Pelaksanaan Penelitian ...31

B.Deskripsi Subyek Penelitian ...31

C.Deskripsi Data Penelitian ...32

D.Hasil Penelitian ...33

1.Uji Asumsi ... 33

2.Uji Hipotesis ... 34

E.Pembahasan ...38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...41

A.KESIMPULAN ...41

B.SARAN ……….41

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Tabel Skor Dimensi Kesejahteraan Psikologis ... 21

Tabel 2. Sistem Skoring untuk Pernyataan Favorable... 23

Tabel 3. Sistem Skoring untuk Pernyataan Unfavorable ... 23

Tabel 4. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis (Sebelum Uji Coba) ... 24

Tabel 5. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis (Setelah Uji Coba)... 26

Tabel 6. Deskripsi Subjek Penelitian ... 31

Tabel 7. Tingkat Kesejahteraan Psikologis Secara Keseluruhan ... 32

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas ... 33

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas ... 34

Tabel 10. Hasil Uji Hipotesis ... 35

Tabel 11. Hasil Analisis Enam Dimensi Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Status Kerja ... 36

Tabel 12. Hasil Analisis Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Usia ... 37

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Skala Kesejahteraan Psikologis Sebelum Uji Coba ... 46

LAMPIRAN 2 Skala Kesejahteraan Psikologis Setelah Uji Coba ... 55

LAMPIRAN 3 Analisis Reliabilitas Skala dan Kualitas Aitem Skala ... 63

LAMPIRAN 4 Analisis Data ... 69

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kebahagiaan ibu merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Kebahagiaan ibu tidak hanya berdampak pada dirinya tetapi juga mempengaruhi perkembangan anaknya di kemudian hari. Berger dan Spiess (2011) menemukan bahwa semakin puas ibu terhadap hidupnya maka semakin meningkat kemampuan verbal dan menurunnya perilaku yang bermasalah pada anak. Secara umum, ibu yang bahagia akan membantu perkembangan anaknya karena ibu yang bahagia memiliki pandangan hidup yang positif (Nikolaou, 2013).

Belsky (dalam Berger dan Spiess, 2011; Nikolaou, 2013) juga mengemukakan hal yang serupa bahwa ibu yang bahagia lebih peka dan responsif dalam memenuhi kebutuhan anaknya. Kepekaan dan responsivitas ibu mempengaruhi pembentukan pola kelekatan yang akan dibawa terus hingga dewasa. Pola kelekatan tersebut kemudian mempengaruhi pola hubungan yang dibangun dengan orang lain dan cenderung diturunkan melalui pola asuh kepada anaknya di kemudian hari. Hal ini semakin menguatkan bahwa dalam mendampingi perkembangan anak dibutuhkan ibu yang bahagia.

Terdapat gejala bahwa ibu bekerja lebih bahagia dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Klumb dan Lampert (2004) menemukan bahwa ibu bekerja lebih sehat secara fisik dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Selain itu, Buehler dan

(18)

menunjukkan kesehatan fisik yang lebih baik serta lebih sedikit gejala depresi selama kehamilan dan masa prasekolah anak dibandingkan ibu yang tidak bekerja.

Meskipun tidak memiliki data yang spesifik mengenai jumlah ibu bekerja, Badan Pusat Statistik (2012) melaporkan jumlah perempuan bekerja di Indonesia meningkat sebanyak 1.390.725 orang dari tahun 2011 hingga 2012. Sedangkan di Amerika Serikat, kecenderungan yang serupa juga terjadi, data statistik menunjukkan jumlah ibu bekerja meningkat dari 37% pada tahun 1968 menjadi 65% pada tahun 2011 (Wang dkk, 2013). Bahkan bidang yang dulunya didominasi oleh laki-laki, seperti kedokteran dan hukum, belakangan ini mulai tergeser oleh perempuan (Walsh dalam Matlin, 2012). Peningkatan perempuan dalam dunia kerja tersebut menarik perhatian para peneliti untuk melihat pengaruh pekerjaan terhadap kondisi psikologis perempuan (Srimathi dan Kumar, 2010).

(19)

Pekerjaan nampaknya dapat membantu pencapaian kesejahteraan psikologis karena tiga hal. Pertama, pekerjaan menyediakan pemasukan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal harus tercapai terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mencapai kesejahteraan psikologis (Aristoteles dalam Ryff, 2002). Kedua, pekerjaan merealisasikan potensi yang dimiliki seseorang (Williams dalam Lemme, 1995). Realisasi potensi merupakan hal yang ditekankan dalam konsep kesejahteraan psikologis (Ryan dan Deci, 2001). Ketiga, pekerjaan membuat ibu menjalani peran sosial yang lebih dari satu yaitu sebagai ibu, istri, dan karyawati dan berdampak positif bagi kesehatan mentalnya (Barnett dan Hyde, 2001). Kesehatan mental merupakan bagian dari kesejahteraan psikologis (Ryff, 2013).

Kesejahteraan psikologis menurut Ryff (2013) adalah keadaan ketika seseorang mengembangkan potensi dan mengatasi tantangan dalam hidupnya agar menjadi pribadi yang utuh. Kesejahteraan psikologis dapat diukur melalui enam dimensi yaitu penerimaan diri, relasi positif dengan orang lain, otonomi, pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, dan penguasaan lingkungan.

(20)

bekerja. Kedua kelompok ini dapat menunjukkan faktor pekerjaan yang diduga mempengaruhi perbedaan pencapaian kesejahteraan psikologis.

B.Perumusan Masalah

Apakah ada perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja?

C.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja.

D.Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sedangkan secara khusus, penelitian ini memberikan sumbangan identifikasi faktor bekerja dalam kesejahteraan psikologis serta alat ukur kesejahteraan psikologis.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Institusi

(21)

2. Institusi mendapatkan data yang dapat digunakan untuk meningkatkan martabat karyawati yang sesuai dengan visi dan misi intitusi.

b. Bagi Subjek Penelitian

(22)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Kesejahteraan Psikologis

1. Definisi

Konsep kesejahteraan psikologis berkembang dari tulisan Aristoteles dalam Etika Nichomacea. Dalam Etika Nichomacea, Aristoteles menuliskan bahwa ada dua macam pandangan untuk menjalani hidup, yaitu hedonis dan eudaimonia (Magnis-Suseno, 2009). Pandangan hedonis menekankan pada pencapaian kepuasan dengan menghindari rasa sakit dan mengusahakan rasa nikmat. Sedangkan, pandangan eudaimonia menekankan pada usaha untuk menjadi unggul dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Dalam psikologi, hedonis menjadi dasar bagi konsep subjective well-being dan eudaimonia menjadi dasar konsep kesejahteraan psikologis (psychological well-being).

Diener (dalam Snyder, 2011) menjelaskan subjective well-being

(23)

Kesejahteraan psikologis adalah keadaan ketika seseorang menjadi pribadi yang utuh dengan mengembangkan potensi dan mengatasi tantangan dalam hidupnya (Ryff, 2013). Kesejahteraan psikologis tidak semata-mata dapat dicapai dengan mengejar kenikmatan tetapi menekankan pada pengembangan potensi yang dimiliki seseorang (Ryan dan Deci, 2001). Dalam pengukurannya, digunakan pendekatan multidimensional yang meliputi, penerimaan diri, relasi positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi.

Dalam penelitian ini, konsep kesejahteraan psikologis Ryff (2013) dipilih sebagai dasar teori karena konsep ini lebih menekankan pada pengembangan potensi yang dimiliki seseorang dan tidak semata-mata berbicara mengenai pencapaian kenikmatan seperti dalam konsep subjective well-being. Hal ini sesuai dengan fokus penelitian yaitu bekerja sebagai salah satu sarana pengembangan potensi dan pencapaian menjadi pribadi yang utuh sehingga mempengaruhi pencapaian kesejahteraan psikologis.

(24)

menyebabkan konsep tersebut tidak mendapat cukup perhatian (Ryff, 2013). Ryff (2013) kemudian menyusun konsep baru yaitu, kesejahteraan psikologis dengan enam dimensinya. Konsep tersebut mencakup keseluruhan konsep-konsep sebelumnya serta menyediakan pengukuran yang lebih valid dan reliabel sehingga dapat digunakan untuk pengembangan positif psikologi.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis adalah keadaan ketika seseorang menjadi pribadi yang utuh dengan mengembangkan potensi dan mengatasi tantangan dalam hidupnya (Ryff,2013)

2. Dimensi Kesejahteraan Psikologis

Kesejahteraan psikologis menurut Ryff (2013) bersifat multidimensional. Hal ini berarti dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis tersebut terdapat dalam diri setiap individu dan memiliki tingkatan tinggi-rendah. Dimensi tersebut adalah:

a. Penerimaan diri

(25)

Berdasarkan penjabaran di atas, dimensi penerimaan diri disimpulkan sebagai keadaan ketika seseorang mampu memandang setiap hal yang ada pada dirinya dengan lebih positif.

b. Relasi Positif dengan Orang lain

Kemampuan untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama dalam kesehatan mental. Memiliki relasi positif dengan orang lain tidak semata-mata dijelaskan dengan memiliki banyak teman dekat tetapi dengan kualitas hubungan yang dijalin. Lebih jauh lagi, dijelaskan bahwa menjalin relasi positif membutuhkan minat sosial dari seseorang. Minat tersebut berupa memberi empati, membangun kepercayaan, menciptakan hubungan yang hangat dan dalam, serta kemauan untuk mengembangkan orang di sekitarnya.

Secara singkat, dimensi relasi positif dengan orang lain disimpulkan sebagai keadaan ketika seseorang mampu menjalin hubungan yang positif dengan orang lain.

c. Otonomi

(26)

Oleh karena itu, dimensi otonomi disimpulkan sebagai keadaan ketika seseorang memiliki standar pribadi sehingga tidak mudah terpengaruh pemikiran orang lain.

d. Penguasaan Lingkungan

Dimensi ini meliputi kemampuan seseorang untuk memilih dan memanipulasi lingkungan sehingga menjadi sesuai dengan kebutuhan dirinya. Dalam memanipulasi lingkungan, seseorang harus menggunakan aktivitas fisik dan mentalnya terlebih dahulu. Dimensi penguasaan lingkungan juga membutuhkan minat dari seseorang untuk terlibat dalam aktivitas selain yang berhubungan dirinya.

Dimensi penguasaan lingkungan dapat disimpulkan sebagai keadaan ketika seseorang mampu mengatur dan mengendalikan lingkungan sekitarnya sesuai dengan kebutuhannya.

e. Tujuan Hidup

Dimensi ini meliputi pemahaman seseorang akan tujuan dan arah dalam hidupnya. Seseorang dengan tujuan dalam hidup berusaha memaksimalkan dirinya sehingga bisa menjadi produktif di setiap saat. Selain itu, dimensi ini juga menjelaskan mengenai kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan pengalaman masa lalunya menjadi pengalaman yang berharga.

(27)

f. Pertumbuhan Pribadi

Dimensi ini merupakan dimensi yang memiliki hubungan terdekat dengan konsep eudaimonia. Hal yang utama dalam dimensi pertumbuhan pribadi adalah kesadaran akan potensi yang dimiliki. Potensi yang dimiliki digunakan untuk menciptakan perkembangan yang terus menerus untuk menghindari stagnansi dalam hidup. Dalam menciptakan perkembangan tersebut, diperlukan adanya keterbukaan terhadap pengalaman baru sehingga dapat terus beradaptasi dengan keadaan dunia yang terus berubah.

Dimensi pertumbuhan pribadi dapat disimpulkan sebagai keadaan ketika seseorang menyadari dan berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis

Kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, usia (Ryff, 1989; Clarke, 2001), jenis kelamin (Ryff, Magee dkk, 1999), status sosial ekonomi (Ryff, Magee dkk, 1999; Ryan dan Deci, 2001), jenjang pendidikan (Ryff, Keyes, & Shmotkin, 2002), pekerjaan (Lindfors, Berntsson dan Lundberg ,2006), dan status pernikahan (Ryff, 2013). Faktor tersebut akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut.

a. Usia

(28)

(Ryff, 1989; Clarke, 2001). Subjek kelompok usia dewasa awal dan tengah juga memandang diri mereka mengalami peningkatan dalam hidup, sedangkan subjek kelompok dewasa akhir berusaha mengantisipasi penurunan kesejahteraan psikologis mereka (Ryff, 1989). b. Jenis Kelamin

Ryff, Magee, dkk (1999) menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan psikologis perempuan di semua kelompok usia menunjukkan skor yang lebih tinggi pada dimensi relasi positif dengan orang lain dan pertumbuhan pribadi jika dibandingkan dengan pria. c. Status Sosial Ekonomi

Ryan dan Deci (2001) menuliskan bahwa pemasukan dapat meningkatkan akses ke sumber daya yang penting untuk mencapai kebahagiaan. Ryff, Magee, dkk (1999) menemukan pengaruh status sosial ekonomi terhadap pencapaian kesejahteraan psikologis. Status sosial ekonomi yang rendah atau kemiskinan berpengaruh pada dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi.

d. Jenjang pendidikan

(29)

e. Pekerjaan

Lindfors, Berntsson dan Lundberg (2006) meneliti hubungan jumlah waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga terhadap kesejahteraan psikologis laki-laki dan perempuan yang telah menikah, memiliki anak dan bekerja kantoran. Penelitian tersebut menemukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk kedua jenis pekerjaan tersebut memberikan pengaruh yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Pada perempuan, semakin banyak jumlah waktu untuk pekerjaan rumah tangga berhubungan dengan rendahnya tingkat dimensi penerimaan diri dan penguasaan lingkungan. Sedangkan jumlah waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan kantor pada perempuan dan laki-laki, berhubungan dengan meningkatnya dimensi pertumbuhan pribadi.

f. Status pernikahan

(30)

B.Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja

1. Ibu Bekerja

Bekerja dipandang sebagai aktivitas sosial yang mendasar dan penting bagi setiap individu, baik bagi laki-laki maupun perempuan (Anorogo dan Widiyanti, 1990; Warr dan Wall, 1978). Bekerja menurut Warr dan Wall (1978) merupakan suatu bentuk kontribusi terhadap masyarakat yang nantinya dihargai dengan dukungan sosial dan pemasukan. Meskipun begitu, kebanyakan orang lebih memilih untuk bekerja walaupun secara ekonomi mereka tidak lagi perlu bekerja (Morse dan Weiss dalam Warr dan Wall, 1978). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemasukan bukan alasan utama seseorang untuk bekerja. Beberapa orang mengemukakan bahwa dirinya merasa menemukan tujuan hidup melalui bekerja (Warr dan Wall, 1978). Anorogo dan Widiyanti (1990) lebih lanjut mengemukakan bahwa bekerja mengisi dan memberi makna pada kehidupan seseorang. Bekerja juga dijelaskan memberikan persahabatan dan kehidupan sosial.

(31)

Dalam penelitian ini, ibu adalah perempuan yang menikah dan miliki anak sedangkan bekerja adalah melakukan tugas dengan mendapatkan gaji dan memiliki jadwal kerja yang tetap. Jadi, ibu bekerja adalah perempuan yang telah menikah dan memiliki anak serta menerima gaji dari melakukan tugas tertentu dengan jadwal tertentu.

2. Ibu Tidak Bekerja

Ibu tidak bekerja dihadapkan pada jenis pekerjaan rumah tangga dan keluarga yang rutin dan sama setiap harinya (Berk dalam Linawaty, 1992). Matlin (2012) mendefinisikan perempuan yang tidak bekerja sebagai perempuan yang tidak dibayar untuk pekerjaan yang dilakukannya. Pekerjaan yang dilakukan antara lain pekerjaan mengurus rumah tangga dan keluarga atau sebagai sukarelawan organisasi.

Dalam penelitian ini, ibu adalah perempuan yang menikah dan miliki anak, sedangkan tidak bekerja adalah tidak menerima gaji dari melakukan tugas tertentu dan tidak memiliki jadwal kerja yang tetap.Jadi, ibu yang tidak bekerja adalah perempuan yang telah menikah dan memiliki anak serta tidak menerima gaji dari melakukan tugas tertentu dengan jadwal tertentu.

C.Dinamika Penelitian

(32)

tinggal. Pekerjaan juga memenuhi kebutuhan psikologis seperti kontak sosial dan merealisasikan potensi (Williams dalam Lemme, 1995).

Peran yang dijalani perempuan pada jaman sekarang tidak terbatas pada peran domestik tetapi juga peran publik. Peran publik ini memberikan kesempatan untuk ibu menjalani berbagai peran seperti sebagai ibu dan istri tetapi juga sebagai karyawati. Pekerjaan dapat memberikan peran sosial yang lebih dari satu dan berdampak positif bagi kesehatan mental perempuan (Barnett dan Hyde, 2001).

(33)

D.Hipotesis

(34)

18

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif komparatif. Jenis penelitian kuantitatif komparatif digunakan untuk membandingkan dua kelompok atau lebih dengan mengumpulkan data numerik yang kemudian dianalisa dengan metode berbasis statistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja.

B.Identifikasi Variabel Penelitian

X : Kesejahteraan Psikologis Y : Status Kerja Ibu

Y1 : Ibu Bekerja Y2 : Ibu Tidak Bekerja

C.Definisi Operasional

1. Kesejahteraan Psikologis

(35)

diukur dengan skala kesejahteraan psikologis yang disusun berdasarkan teori Ryff (2013). Penyusunan skala mengacu pada teori kesejahteraan psikologis Ryff (2013) dan skala kesejahteraan psikologis yang sebelumnya telah digunakan. (Ndiki, 2011).

2. Ibu Bekerja

Ibu bekerja adalah ibu yang melakukan kegiatan yang memiliki tanggung jawab tertentu di luar rumah, memiliki jadwal yang tetap dan menghasilkan gaji (Van Vuuren dalam Dwijanti, 1999; Matlin, 2012).

3. Ibu Tidak Bekerja

Ibu tidak bekerja adalah ibu yang tidak menerima gaji dengan melakukan pekerjaan rumah tangga dan keluarga (Matlin, 2012).

D.Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini diambil dengan menggunakan metode

purposive sampling. Dalam metode ini, pemilihan subjek didasarkan pada karakteristik tertentu yang dipandang berkaitan erat dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Karakteristik subjek dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

Karakteristik subjek dalam penelitian ini yaitu : 1. Perempuan berusia 25 hingga 54 tahun.

(36)

tengah. Menurut Hurlock (1999) masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun sedangkan dewasa madya dimulai pada umur 41 tahun hingga 60 tahun.

2. Menikah (tidak bercerai) dan memiliki anak.

Dalam penelitian ini, status pernikahan dikontrol dengan memilih subjek penelitian yang menikah dan tidak bercerai karena perempuan yang bercerai dan tidak menikah menunjukkan tingkat kesejehteraan psikologis yang rendah dibanding perempuan yang menikah (Shapiro dan Keyes dalam Ryff, 2013).

3. Telah menyelesaikan pendidikan minimal SMA.

Dalam penelitian ini, jenjang pendidikan dikontrol dengan memilih subjek penelitian yang telah menuntaskan pendidikan minimal SMA. Hal ini sesuai dengan ketentuan skala kesejahteraan psikologis Ryff (2013) yang menyatakan bahwa subjek yang mengisi skala sudah menyelesaikan pendidikan minimal SMA.

4. Kelompok ibu yang bekerja : pegawai institusi yang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya.

5. Dalam penelitian ini, status sosial ekonomi dikontrol dengan memilih subjek penelitian yang berasal dari rentang gaji yang sama. Rentang gaji ditetapkan berdasarkan Panduan Gaji Pegawai Sipil.

(37)

b. Kelompok ibu yang tidak bekerja : ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan selain dari gaji suami sebesar Rp 2.400.000 – Rp 6.000.000,00.

E.Alat Pengumpulan Data

Skala ini dirancang untuk mengukur kesejahteraan psikologis melalui enam dimensi yaitu penerimaan diri, relasi positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Penyusunan skala mengacu pada teori kesejahteraan psikologis Ryff (2013) dan skala kesejahteraan psikologis yang sebelumnya telah digunakan (Ndiki, 2011).

Tabel 1. Tabel Skor Dimensi Kesejahteraan Psikologis

No. Dimensi Skor Tinggi Skor Rendah

- Tidak puas terhadap diri

- Merasa terisolasi dan frustasi dalam

menjalin relasi interpersonal.

(38)

3. Otonomi - Mandiri dan mampu menentukan pilihan sendiri

- Mampu berpikir dan bertindak tanpa - Mudah hanyut dalam

tekanan sosial. - Merasa tidak mampu

mengubah atau

- Merasa hidup tidak bermakna

- Memiliki sedikit tujuan hidup

- Tidak memiliki arah dalam hidup

(39)

6. Pertumbuhan pribadi

- Merasa hidupnya berkembang - Melihat diri terus

bertumbuh dan

- Merasa dirinya tidak berkembang

- Merasa bosan dengan hidup yang dijalani

- Merasa tidak mampu mengembangkan sikap maupun pemikiran baru.

Skala kesejahteraan psikologis ini berisi pernyataan-pernyataan yang

favorable dan unfavorable. Metode yang digunakan adalah Likert dengan enam pilihan respon. Respon tersebut berupa angka 1 sampai 6. Angka 1 menunjukkan kecenderungan “sangat tidak setuju” terhadap pernyataan dan angka 6 menunjukkan kecenderungan “sangat setuju” terhadap pernyataan. Sistem skoring dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 2. Sistem Skoring untuk Pernyataan Favorable

Respon Skor

Tabel 3. Sistem Skoring untuk Pernyataan Unfavorable

(40)

Tingkat dimensi kesejahteraan psikologis yang tinggi ditunjukkan dengan skor yang tinggi pada aitem yang terkait dimensi kesejahteraan psikologis tersebut. Sedangkan tingkat dimensi kesejahteraan psikologis yang rendah ditunjukkan dengan skor yang rendah pada aitem yang terkait dimensi kesejahteraan psikologis tersebut.

Tabel 4. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis (Sebelum Uji Coba)

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

1. Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan skala psikologi menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan pengukurannya (Azwar, 2011). Suatu skala yang validitasnya tinggi akan memiliki kesalahan pengukuran yang kecil. Hal ini berarti skor setiap subjek yang diperoleh dari skala tersebut tidak jauh berbeda dengan keadaan sesungguhnya.

No. Dimensi

Komponen Aitem dan Nomor

Aitem Jumlah

Favorable Unfavorable

1. Penerimaan diri 1,13,24,35,54,60 7,19,30,40,65,68 12 2. Relasi positif

dengan orang lain

6,12,39,45,58,67 18,29,34,48,52,64 12

3. Otonomi 2,8,25,31,55,61 14,20,36,41,49,69 12 4. Penguasaan

lingkungan

3,15,42,46,50,62 9,21,26,47,56,70 12 5. Tujuan hidup 4,16,27,43,59,72 10,22,32,37,53,66 12 6. Pertumbuhan

pribadi

5,11,23,38,51,57 17,28,33,44,63,71 12

(41)

Pada penelitian ini, akan dilakukan uji validitas isi terhadap skala kesejahteraan psikologis. Validitas isi dilakukan melalui pengujian isi skala dengan analisis rasional atau professional judgement dari ahli.

2. Seleksi aitem

Seleksi aitem dilakukan berdasarkan besarnya koefisien korelasi aitem total. Besarnya koefisien korelasi aitem total bekisar antara 0 sampai 1,00 dengan tanda positif atau negatif. Koefisien korelasi aitem total dikenal sebagai indeks daya beda aitem. Hal ini berfungsi untuk menunjukkan kemampuan aitem dalam mengungkap perbedaan antara individu. Koefisien ini diperoleh melalui mengkorelasikan antara skor tiap subjek pada aitem tertentu dengan skor total skala.

Azwar (2011) menuliskan bahwa semakin mendekati 1,00 maka semakin tinggi daya beda aitem. Sebaliknya, jika koefisien korelasi semakin mendekati 0 maka daya beda aitem semakin rendah atau aitem tersebut dianggap tidak baik. Jika koefisien bernilai negatif (-) maka aitem tersebut dianggap sangat buruk dan tidak cocok dengan fungsi alat ukur sehingga harus dibuang.

(42)

Aitem yang sudah diujicobakan dapat dilihat pada tabel 5. Berdasarkan seleksi aitem yang mengacu pada koefisien korelasi aitem total, maka sebanyak 17 aitem dinyatakan gugur dari total 72 aitem yang diujicobakan. Aitem yang gugur memiliki nilai koefisien korelasi aitem total (rix) dibawah 0,30 dan ditandai dengan angka yang dicetak tebal.

Tabel 5. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis (Setelah Uji Coba)

Keterangan: nomor aitem yang dicetak tebal menunjukkan aitem yang dikeluarkan dari skala.

3.Reliabilitas

Reliabilitas memiliki dua makna (Klein dalam Supratiknya, 2014) yaitu konsistensi internal dan stabilitas. Konsistensi internal berarti kesesuaian antar bagian dalam suatu tes. Stabilitas berarti kesamaan skor yang dicapai oleh setiap subjek yang sama dalam setiap pengetesan. Jadi, reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tetap bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama. Suatu hasil pengukuran dapat dikatakan reliabel jika hasil berupa

No. Dimensi

Komponen Aitem dan Nomor

Aitem Jumlah

3,15,42,46,50,62 9,21,26,47,56,70 12 5. Tujuan hidup 4,16,27,43,59,72 10,22,32,37,53,66 10 6. Pertumbuhan

pribadi

5,11,23,38,51,57 17,28,33,44,63,71 11

(43)

angka yang didapat relatif sama dalam beberapa kali pengukuran terhadap subjek penelitian yang sama (Azwar, 2011).

Reliabilitas suatu skala ditentukan dengan nilai koefisien (rix) yang berkisar antara 0 – 1,00. Semakin mendekati angka 1,00 maka tingkat reliabilitasnya semakin tinggi. Hal ini berarti alat tes atau skala penelitian dianggap mampu menjaga konsistensinya. Sebaliknya, semakin mendekati 0 maka tingkat reliabilitasnya semakin rendah. Hal ini berarti alat tes atau skala penelitian dianggap tidak mampu menjaga konsistensinya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan reliabilitas konsistensi internal. Dalam pendekatan konsistensi internal, prosedurnya hanya memerlukan satu kali pengerjaan tes oleh sekelompok individu sebagai subjek (single trial administration) (Azwar, 2011). Dalam penelitian ini, konsistensi internal mengacu pada koesifisien Alpha Cronbach.

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 16.0, nilai Alpha Cronbach skala sebelum seleksi aitem adalah sebesar 0,794 sedangkan setelah seleksi aitem adalah sebesar 0,938. Dengan demikian, skala dapat dinyatakan reliabel karena nilai Alpha Cronbach yang ideal berkisar antara 0,7 hingga 0,9 (Klein dalam Supratiknya, 2014).

G.Persiapan Penelitian

1. Pelaksanaan Uji Coba

(44)

Jogjakarta dan Sleman dari tanggal 9 Juni 2014 sampai 25 Juli 2014. Skala yang disebar sebanyak 220 lembar tetapi tidak semuanya kembali. Jumlah skala yang kembali sebanyak 200 lembar. Uji coba alat ukur dilakukan untuk melihat kualitas aitem dalam skala yang akan digunakan dalam penelitian. Skala kesejahteraan psikologis diujicobakan pada 200 subjek yang terdiri dari 100 ibu bekerja dan 100 ibu tidak bekerja.

2. Proses Penelitian

1. Mengurus surat ijin penelitian dari fakultas untuk menyebar skala

2. Meminta ijin penelitian dosen pengampu mata kuliah dengan membawa surat ijin penelitian dari fakultas

3. Mengurus surat ijin penelitian ke institusi dan perusahaan

4. Mendapatkan ijin pelaksanaan penelitian dari institusi dan perusahaan 5. Memintakesediaan tiap subjek untuk mengisi skala penelitian

6. Pengisian skala ditunggu oleh peneliti

7. Skala yang telah diisi oleh subjek diperiksa kembali untuk memastikan semua skala terisi secara lengkap

8. Skala yang tidak diisi lengkap dikembalikan kepada subjek untuk dilengkapi

(45)

H.Metode Analisis Data

1. Uji Asumsi

Asumsi yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan uji beda dengan

independent sample t-test adalah uji normalitas dan uji homogenitas varian. a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran skor pada kedua sampel mengikuti distribusi normal (Santoso, 2013). Cara untuk mengujinya adalah dengan melihat nilai probabilitas (sig.) pada

Kolmogrov-Smirnov Test menggunakan perangkat lunak SPSSversi 16.0.

Uji normalitas dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov Test memiliki kriteria pengujian yaitu, nilai probabilitas (sig.) lebih besar dari 0,05 maka sebaran skor dinyatakan mengikuti distribusi normal. Sedangkan jika nilai probabilitas (.sig) lebih kecil dari 0,05 maka sebaran skor dinyatakan tidak mengikuti distribusi normal.

b. Uji Homogenitas

(46)

Sedangkan jika nilai probabilitas (sig.) lebih kecil dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang mempunyai varian tidak sama.

2. Uji Hipotesis

(47)

31

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode uji coba terpakai yang dilaksanakan di sebuah institusi pendidikan dan dua perusahaan swasta di Jogjakarta dan Sleman pada tanggal 9 Juni 2014 sampai dengan 25 Juli 2014. Subjek penelitian sejumlah 200 ibu yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok yaitu, ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Jumlah ibu dalam kelompok ibu bekerja adalah 100 orang dan jumlah ibu dalam kelompok ibu tidak bekerja adalah 100 orang.

B.Deskripsi Subyek Penelitian

Di bawah ini adalah data demografis subjek penelitian yang ada dalam kuesioner:

Tabel 6. Deskripsi Subjek Penelitian

No Kategori Keterangan

(48)

3 Tingkat

C.Deskripsi Data Penelitian

Penelitian dengan subjek 200 orang yang terbagi menjadi 100 ibu bekerja dan 100 ibu bekerja menunjukkan bahwa rerata empiris kesejahteraan psikologis ibu bekerja sebesar 266,93 dan ibu tidak bekerja sebesar 265,34. Sedangkan rerata teoritis kedua kelompok tersebut sebesar 192,5. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata empiris dan rerata teoritis.

Perbandingan antara rerata empiris dan teoritis menunjukkan bahwa rerata empiris lebih tinggi daripada rerata teoritis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis ibu bekerja dan ibu tidak bekerja termasuk dalam kategori tinggi. Data selengkapnya dapat dilihat dalam tabel di bawah.

Tabel 7. Tingkat Kesejahteraan Psikologis Secara Keseluruhan

Status Kerja Ibu Rerata Empiris

Rerata

Teoritis Sig. Kategori

Ibu Bekerja 266,93 192,5 0,0 Tinggi

(49)

D.Hasil Penelitian

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 16.0. Berdasarkan hasil uji normalitas, ditemukan bahwa kelompok ibu bekerja menunjukkan nilai probablitias (sig.) sebesar 0 sedangkan kelompok ibu bekerja sebesar 0,001. Kedua kelompok menunjukkan nilai probabilitas (sig.) yang lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa skor kedua kelompok tidak mengikuti distribusi normal. Data selengkapnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas

Meskipun sebaran skor kedua kelompok tidak mengikuti distribusi normal, peneliti tetap menggunakan uji independent sample t-test. Uji demikian dilakukan mengingat bahwa t-test dapat dilakukan meskipun tidak memenuhi uji asumsi normalitas karena t-test termasuk uji yang tangguh ketika harus berhadapan dengan ketidaknormalan data (Santoso, 2010).

Status Pekerjaan

Kolmogorov-Smirnova

Statistic df Sig. Keterangan

KP kerja 0,130 100 ,000 Tidak Normal

(50)

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 16.0. Berdasarkan hasil uji homogenitas, ditemukan bahwa nilai probablitias (sig.) sebesar 0,467 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok berasal dari populasi yang mempunyai varian sama.. Data selengkapnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas

Levene

Statistic Sig. Varians diasumsikan setara 0,532 0,467

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan dengan metode independent sample t-test

menggunakan perangkat lunak SPSS versi 16.0. Berdasarkan uji homogenitas, ditemukan bahwa data penelitian memiliki homogenitas varians. Dengan demikian, perbedaan rerata kedua kelompok data dilihat melalui asumsi varians yang sama.

(51)

Data selengkapnya dapat dilihat dalam tabel hasil uji hipotesis di bawah ini :

Tabel 10. Hasil Uji Hipotesis

3. Analisis Tambahan

Data penelitian dianalisis untuk melihat perbedaan enam dimensi kesejahteraan psikologis berdasarkan status kerja serta perbedaan kesejahteraan psikologis berdasarkan kelompok usia dan tingkat pendidikan. Analisis tambahan dilakukan berdasarkan kelompok usia dan tingkat pendidikan karena peneliti ingin melihat lebih detil mengenai pengaruh kedua hal tersebut terhadap kesejahteraan psikologis ibu.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa perbedaan yang signifikan antara ibu bekerja dan tidak bekerja hanya ditemukan pada dimensi pertumbuhan pribadi. Ibu bekerja menunjukkan rerata skor dimensi pertumbuhan pribadi sebesar 55,21 sedangkan ibu tidak bekerja sebesar 50,95. Hal ini menunjukkan bahwa ibu bekerja memiliki tingkat dimensi pertumbuhan pribadi yang lebih tinggi daripada ibu tidak bekerja.

N Rerata Perbedaan

Rerata Nilai t Sig. Ket

Kerja 100 266,93

(52)

Tabel 11. Hasil Analisis Enam Dimensi Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Status Kerja

(53)

Tabel 12. Hasil Analisis Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Usia

Analisis berikutnya dilakukan pada kesejahteraan psikologis berdasarkan tingkat pendidikan SMA dan Akademik. Kelompok Akademik terdiri dari tingkat pendidikan D3, S1 dan S2. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara kedua kelompok. Rerata kesejahteraan psikologis subjek dengan tingkat pendidikan Akademik sebesar 269,76 lebih tinggi daripada subjek dengan tingkat pendidikan SMA sebesar 262,29.

Tabel 13. Hasil Analisis Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Tingkat Pendidikan

N Rerata Perbedaan

Rerata Nilai t Sig. Ket

Dewasa

Awal 73 264

- 3,3622 - 0,627 0,531 p > 0,05 (tidak signifikan) Dewasa

Tengah 127 267,36

N Rerata Perbedaan

Rerata Nilai t Sig. Ket

SMA 97 262,29

(54)

Berdasarkan hasil penjabaran analisis tambahan, ditemukan tiga kesimpulan. Pertama, ibu bekerja dan ibu tidak bekerja menunjukkan perbedaan yang signifikan pada dimensi pertumbuhan pribadi. Rerata ibu bekerja lebih tinggi dibandingkan ibu tidak bekerja. Kedua, tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara kelompok usia dewasa awal dan dewasa tengah. Ketiga, tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara subjek dengan tingkat pendidikan SMA dan Akademik yang terdiri dari D3, S1 dan S2.

E.Pembahasan

Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata kesejahteraan psikologis ibu bekerja adalah sebesar 266,93 sedangkan ibu tidak bekerja sebesar 265,34. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tidak terbukti. Kesejahteraan psikologis ibu bekerja (M = 266,93) sekilas lebih tinggi daripada ibu tidak bekerja (M = 265,34) meskipun tidak signifikan berbeda.

(55)

dikontrol dalam penelitian ini. Dapat diingat kembali, bahwa kesejahteraan psikologis dapat dicapai melalui pengembangan potensi dan mengatasi tantangan dalam hidup (Ryff, 2002).

Selanjutnya, pandangan ibu bekerja dan tidak bekerja terhadap pekerjaan dapat mempengaruhi tidak munculnya perbedaan yang signifikan pada kesejahteraan psikologis. Anorogo dan Widiyanti (1990) menuliskan bahwa bekerja mengisi dan memberi makna pada kehidupan seseorang. Ibu tidak bekerja yang memandang positif pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya dapat menemukan makna dan mengisi hidupnya dengan pekerjaan rumah tangga.

Meskipun jika dilihat secara keseluruhan tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja, analisis tambahan dilakukan untuk melihat melihat lebih detil perbedaan enam dimensi kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Analisis tambahan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada dimensi pertumbuhan pribadi.

(56)
(57)

41

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja.

2. Perbedaan yang signifikan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja ditemukan pada dimensi pertumbuhan pribadi. Ibu bekerja menunjukkan skor lebih tinggi dibandingkan ibu tidak bekerja.

3. Tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis antara kelompok usia dewasa awal dan dewasa madya.

4. Tidak ditemukan perbedaan kesejahteraan psikologis antara subjek dengan tingkat pendidikan SMA dan Akademik yang terdiri dari D3, S1 dan S2.

B.SARAN

Beberapa saran yang perlu diperhatikan berkaitan dengan kesimpulan di atas yaitu:

1. Bagi Institusi

(58)

sarana, dan prasarana yang dapat meningkatkan kelima dimensi tersebut. Sebagai contoh, dimensi otonomi dapat ditingkatkan melalui pengkajian ulang manajemen sistem alur kerja sehingga sesuai dengan kebutuhan pekerja dan memberi keleluasan dalam penyelesaian tugas (Vanderfeesten, 2006). Institusi dapat mengadakan pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal yang dapat meningkatkan dimensi relasi positif dengan orang lain. Selain itu, pelatihan mengenai manejemen masalah dapat diadakan terkait dengan usaha meningkatkan dimensi penguasaan lingkungan.

2. Bagi peneliti selanjutnya

(59)

43

DAFTAR PUSTAKA

Allport, G. (1961). Pattern and growth in personality. New York: Holt, Rinehart, & Winston.

Anorogo, P. & Widiyanti, N. (1990). Psikologi dalam Perusahaan. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2011). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Badan Pusat Statistik. (2012). Perkembangan Beberapa Indikatr Utama

Sosial-Ekonomi Indonesia. diambil 15 Februari 2014. dari

http://www.bps.go.id/booklet/Booklet_Mei_2012.pdf.

Barnett, R. C. & Hyde, J. S. (2001). Women, Men, Work and Family: An Expansionist Theory. American Psychologist, 56, 781-796.

Berger, E. M. & Spiess, K. K. (2011). Maternal life satisfaction and child outcomes: are they related? Journal of Economic Psychology 32:142-58. Clarke, P. J., Marshall, V. W., Ryff, C. D. & Wheaton, B. (2001). Measuring

psychological well-being in psychological well-being in the Canadian Study of Health and Aging. International Psychogeriatics 13 (Suppl 1), pp. 79-90.

Diener, E. (1984). Subjective Well-Being. Psychological Bulletin, Vo. 95, No. 3, 542-575.

Dwijanti, J. E. (1999). Perbedaan motif ibu rumah tangga yang bekerja dan tidak bekerja dalam mengikuti sekolah pengembangan pribadi. Anima, Vol 14, No. 55.

Haditono, S. R. (1989). Wanita sebagai karyawati. Media KORPRI DIY, No. 5 th. II

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.

Jahoda, C. (1958). Current concepts of positive mental health. New York: Basic Books.

Lemme, B. H. (1995). Development in Adulthood. Boston: Allyn & Bacon.

(60)

and Male White-Collar Workers. International Journal of Behavioral Medicine, Vol. 13, No. 2, 131-137.

Magnis-Suseno, F. (2009). Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles. Yogyakarta : Kanisius. Buruh. Skripsi. Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

Nikolaou, D. (2013). Happy Mothers, Successful Children: Effects of Maternal

Satisfaction on Child Outcomes. Working Papers. Department of

Economics, Illinois State University.

Rogers, C. (1961). On becoming a person. Boston: Houghton Mifflin.

Ryan, R. M. & Deci, E. L. (2001). On Happiness and Human Potentials: A Review of Research on Hedonic and Eudaimonic Well-Being. Annu. Rev. Psychol, 52: 141 – 66.

Ryff, C. D. (1989). Beyond Ponce de Leon and Life Satisfaction: New Directions in Quest of Successful Ageing. International Journal of Behavioral Development, 12 (1), 35-55.

Ryff, C. D. (1989). Happiness Is Everything or Is It? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 57, No. 6, 1069-1081.

Ryff, C. D. (2013). Psychological Well-Being Revisited: Advances In the Science and Practice of Eudaimonia. Psychother Psychosom, 83, 10-28.

Ryff, C. D., Keyes, C. L. M. & Shmotkin, D. (2002). Optimizing Well-Being: The Empirical Encounter of Two Traditions. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 82, No. 6, 1007-1022.

Ryff, C. D., Magee, W. J., dkk. (1999). Forging Macro-Micro Linkage in the Study of Psychological Well-Being. The Self and Society in Aging Processes. New York: Springer Publishing Company.

(61)

Santoso, S. (2013). Menguasai SPSS 21 di Era Informasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Snyder, C. R. (2011). Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths 2nd edition. Thousand Oaks: SAGE Publications, Inc.

Srimathi, N.L. & Kiran Kumar, S. K. (2010). Psychological Well-Being of Employed Women across Different Organisations. Journal of Indian Academy of Applied Psychology, Vol. 36, No. 1, 89-95.

Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Vanderfeesten, I. & Reijers, H. A. (2006). How to increase work autonomy in workflow management systems?. Management Research News, Vo. 29, No. 10, 652-665.

Wang, W., Parker, K. & Taylor, P. (2013). Breadwinner Moms. diambil 10 Juni 2014. dari http://www.pewsocialtrends.org/2013/05/29/breadwinner-moms/.

Warr, P. & Wall, T. (1978). Work and Well-being. Harmondsworth: Penguin Books Ltd.

Zeitlin, M. F., Megawangi, R., Kramer, E. M., Colletta, N. D., Babatunde, E. D. & Garman, D. (1995). Strengthening the family - Implications for

international development. diambil 26 Juli 2014. dari

(62)

46

LAMPIRAN 1

Skala Kesejahteraan Psikologis

(63)

SKALA

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS

Nita Bonita Prasetyo 099114083

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(64)

Ibu peserta penelitian yang terhormat,

Terima kasih atas kesediaan Anda meluangkan waktu untuk mengisi daftar pernyataan yang saya ajukan berkenaan dengan penelitian Tugas Akhir. Penelitian ini murni bertujuan untuk pengembangan bidang psikologi dan tidak akan disalahgunakan untuk keperluan lain. Identitas dan jawaban Anda dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian.

Hormat saya,

(65)

Petunjuk :

Di bawah ini tersedia 72 pernyataan. Mohon membaca setiap pernyataan dengan seksama dan memahaminya baik-baik. Selanjutnya berilah jawaban dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang mewakili keadaan Anda.

Setiap pernyataan mempunyai enam kemungkinan jawaban : 1 menunjukkan Sangat tidak setuju pada pernyataan tersebut dan 6 menunjukkan Sangat setuju pada pernyataan tersebut.

(66)

No. Pernyataan 1 2 3 4 5 6 1. Saya merasa bangga pada diri saya

2. Saya bebas menentukan pilihan saya sendiri 3.

Saya mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan dengan baik

4. Saya memiliki visi-misi yang jelas dalam hidup 5. Saya suka mencoba hal baru

6. Saya merasa nyaman berelasi dengan orang lain 7. Saya ingin mengubah masa lalu jika ada kesempatan 8.

Saya mampu mengendalikan perilaku meskipun sedang tertekan

9.

Saya kesulitan dalam menentukan dan menjalankan hal yang menjadi prioritas

10. Saya menjalani hidup tanpa tujuan 11.

Saya mengikuti kegiatan yang mengembangkan potensi saya

12. Saya sering merasa iba akan orang yang kesusahan 13.

Saya merasa bangga dengan kelebihan yang saya miliki

14.

Saya berusaha memenuhi harapan orang lain terhadap diri saya

15.

Saya menciptakan lingkungan yang sesuai dengan dengan kebutuhan dan nilai pribadi saya

16.

Masa sekarang dan masa lalu memiliki makna bagi saya

17. Saya merasa hidup saya mengalami stagnansi 18.

Kompromi bukanlah hal yang penting dalam membangun relasi dengan orang lain

(67)

orang pada umumnya 21.

Perilaku dan emosi saya digerakkan oleh lingkungan di mana saya berada

22.

Saya tidak bisa menjawab ketika ditanya mengenai visi misi dalam hidup saya

23.

Selama ini saya belajar untuk mengenal diri saya lebih dalam

24.

Kelebihan dan kekurangan saya adalah anugerah dalam hidup saya

25. Saya menilai diri saya dengan standar pribadi 26.

Sulit bagi saya untuk melakukan pengembangan atau perubahan di tempat saya berada.

27.

Saya percaya bahwa ada tujuan tertentu di dalam hidup saya

28. Saya tidak bisa membuat perubahan dalam hidup saya 29.

Saya tidak memiliki banyak teman yang dekat dan dapat dipercaya

30. Saya merasa tidak menarik 31.

Saya berani mempertahankan pendapat saya meskipun berbeda dari orang lain

32.

Masa lalu tidak memberikan kontribusi berarti bagi diri saya yang sekarang

33. Saya merasa tidak berguna lagi pada saat ini 34.

Saya merasa frustasi dalam menjalin relasi dengan orang lain

35. Masa lalu memberi saya banyak pelajaran hidup 36.

Penilaian orang mempengaruhi penilaian saya atas diri saya

(68)

perilaku saya

39. Saya mempunyai teman yang dapat saya percaya 40. Saya merasa kecewa dengan diri saya

41.

Pendapat orang lain mempengaruhi saya dalam membuat keputusan

42.

Saya mampu menentukan dan melakukan hal yang menjadi prioritas

43. Saya tahu tujuan dan apa yang mau saya capai 44. Saya tidak tertarik untuk mencoba hal yang baru 45. Saya paham prinsip tolong-menolong dalam berelasi 46. Saya memiliki banyak cara untuk mengatasi masalah 47. Kesempatan yang datang seringkali saya abaikan 48. Kesusahan orang lain bukan urusan saya

49.

Saya cenderung terpengaruh orang dengan pendapat yang kuat

50.

Secara umum, saya merasa bertanggung jawab terhadap situasi di mana saya tinggal

51.

Penting bagi saya untuk memiliki pengalaman baru yang menantang saya untuk berpikir lebih lanjut tentang diri saya dan dunia

52.

Menjalin hubungan dekat merupakan hal yang sulit dan meresahkan saya

53.

Saya hidup untuk hari ini dan tidak terlalu memikirkan masa depan

54.

Ketika saya mengingat masa lalu, saya puas dengan apa yang sudah saya lalui

55.

Saya yakin dengan pendapat saya meskipun bertentangan dengan pendapat umum 56.

(69)

57.

Bagi saya, kehidupan adalah proses belajar, berkembang dan bertumbuh yang berkelanjutan 58.

Saya adalah orang yang senang memberi, mau menghabiskan waktu dengan orang lain 59. Saya menjalani hidup dengan tujuan

60. Saya menyukai sebagian besar kepribadian saya 61.

Saya menilai diri saya berdasarkan standar saya, bukan berdasarkan standar orang lain

62. Saya cukup baik melaksanakan tanggung jawab saya 63.

Saya sudah lama menyerah untuk mencoba meningkatkan atau mengubah hidup saya 64.

Saya belum pernah menjalani hubungan yang dekat dan penuh kepercayaan dengan orang lain

65.

Saya terkadang merasa sudah melakukan semua yang saya harus lakukan dalam hidup

66.

Dalam banyak hal, saya kecewa terhadap pencapaian hidup saya.

67.

Saya memiliki banyak teman yang dekat dan dapat dipercaya

68. Kelemahan saya cukup mengganggu kehidupan saya 69.

Pendapat orang lain berpengaruh besar dalam keputusan saya

70.

Saya seringkali merasa kewalahan menjalani tugas sehari-hari

(70)

Identitas Diri (Identitas akan dirahasiakan)

Usia : ฀ 25 – 29 tahun ฀ 40 – 44 tahun

฀ 30 – 34 tahun ฀ 45 – 49 tahun

฀ 35 – 39 tahun ฀ 50 – 54 tahun Pendidikan terakhir : ฀ SLTA ฀ S1 ฀ S3

฀ D3 ฀ S2

Status pekerjaan : ฀ Bekerja (Pegawai Institusi)

฀Tidak Bekerja(Ibu rumah tangga)

Bila pada pernyataan sebelumnya anda memilih “Tidak Bekerja (Ibu rumah

tangga)” maka anda tidak perlu mengisi pilihan selanjutnya

Jumlah pendapatan per bulan :

฀ Rp 1.200.000,00 – Rp 1.800.000,00

฀ Rp 1.800.000,00 – Rp 2.400.000,00

฀ Rp 2.400.000,00 – Rp 3.000.000,00

฀ Rp 3.000.000,00 – Rp 3.600.000,00

฀ Rp 3.600.000,00 – Rp 4.200.000,00

฀ Rp 4.200.000,00 – Rp 4.800.000,00

฀ Di atas Rp 4.800.000,00

Jumlah anggota keluarga yang ditanggung : orang

(71)

55

LAMPIRAN 2

Skala Kesejahteraan Psikologis

(72)

SKALA

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS

Nita Bonita Prasetyo 099114083

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(73)

Ibu peserta penelitian yang terhormat,

Terima kasih atas kesediaan Anda meluangkan waktu untuk mengisi daftar pernyataan yang saya ajukan berkenaan dengan penelitian Tugas Akhir. Penelitian ini murni bertujuan untuk pengembangan bidang psikologi dan tidak akan disalahgunakan untuk keperluan lain. Identitas dan jawaban Anda dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian.

Hormat saya,

(74)

Petunjuk :

Di bawah ini tersedia 72 pernyataan. Mohon membaca setiap pernyataan dengan seksama dan memahaminya baik-baik. Selanjutnya berilah jawaban dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang mewakili keadaan Anda.

Setiap pernyataan mempunyai enam kemungkinan jawaban : 1 menunjukkan Sangat tidak setuju pada pernyataan tersebut dan 6 menunjukkan Sangat setuju pada pernyataan tersebut.

(75)

No. Pernyataan 1 2 3 4 5 6 1. Saya merasa bangga pada diri saya

2.

Saya mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan dengan baik

3. Saya memiliki visi-misi yang jelas dalam hidup 4. Saya suka mencoba hal baru

5. Saya merasa nyaman berelasi dengan orang lain 6.

Saya kesulitan dalam menentukan dan menjalankan hal yang menjadi prioritas

7. Saya menjalani hidup tanpa tujuan 8.

Saya mengikuti kegiatan yang mengembangkan potensi saya

9. Saya sering merasa iba akan orang yang kesusahan 10.

Saya merasa bangga dengan kelebihan yang saya miliki

11.

Saya menciptakan lingkungan yang sesuai dengan dengan kebutuhan dan nilai pribadi saya

12.

Masa sekarang dan masa lalu memiliki makna bagi saya

13. Saya merasa iri dengan kehidupan orang lain 14.

Saya cenderung mengikuti pemikiran dan perilaku orang pada umumnya

15.

Perilaku dan emosi saya digerakkan oleh lingkungan di mana saya berada

16.

Saya tidak bisa menjawab ketika ditanya mengenai visi misi dalam hidup saya

17.

Selama ini saya belajar untuk mengenal diri saya lebih dalam

18.

(76)

19.

Sulit bagi saya untuk melakukan pengembangan atau perubahan di tempat saya berada.

20.

Saya percaya bahwa ada tujuan tertentu di dalam hidup saya

21. Saya tidak bisa membuat perubahan dalam hidup saya 22.

Saya tidak memiliki banyak teman yang dekat dan dapat dipercaya

23. Saya merasa tidak menarik

24. Saya merasa tidak berguna lagi pada saat ini 25.

Saya merasa frustasi dalam menjalin relasi dengan orang lain

26. Masa lalu memberi saya banyak pelajaran hidup 27.

Penilaian orang mempengaruhi penilaian saya atas diri saya

28. Saya tidak bisa menemukan arti hidup saya selama ini 29.

Saya selama ini melihat peningkatan dalam diri dan perilaku saya

30. Saya mempunyai teman yang dapat saya percaya 31. Saya merasa kecewa dengan diri saya

32.

Pendapat orang lain mempengaruhi saya dalam membuat keputusan

33.

Saya mampu menentukan dan melakukan hal yang menjadi prioritas

34. Saya tahu tujuan dan apa yang mau saya capai 35. Saya tidak tertarik untuk mencoba hal yang baru 36. Saya paham prinsip tolong-menolong dalam berelasi 37. Saya memiliki banyak cara untuk mengatasi masalah 38. Kesempatan yang datang seringkali saya abaikan 39.

(77)

40.

Secara umum, saya merasa bertanggung jawab terhadap situasi di mana saya tinggal

41.

Penting bagi saya untuk memiliki pengalaman baru yang menantang saya untuk berpikir lebih lanjut tentang diri saya dan dunia

42.

Menjalin hubungan dekat merupakan hal yang sulit dan meresahkan saya

43.

Tuntutan hidup sehari-hari seringkali menurunkan semangat saya

44.

Bagi saya, kehidupan adalah proses belajar, berkembang dan bertumbuh yang berkelanjutan 45.

Saya adalah orang yang senang memberi, mau menghabiskan waktu dengan orang lain 46. Saya menjalani hidup dengan tujuan

47. Saya menyukai sebagian besar kepribadian saya 48. Saya cukup baik melaksanakan tanggung jawab saya 49.

Saya sudah lama menyerah untuk mencoba meningkatkan atau mengubah hidup saya 50.

Dalam banyak hal, saya kecewa terhadap pencapaian hidup saya.

51.

Saya memiliki banyak teman yang dekat dan dapat dipercaya

52.

Pendapat orang lain berpengaruh besar dalam keputusan saya

53.

Saya seringkali merasa kewalahan menjalani tugas sehari-hari

(78)

Identitas Diri (Identitas akan dirahasiakan)

Usia : ฀ 25 – 29 tahun ฀ 40 – 44 tahun

฀ 30 – 34 tahun ฀ 45 – 49 tahun

฀ 35 – 39 tahun ฀ 50 – 54 tahun Pendidikan terakhir : ฀ SLTA ฀ S1 ฀ S3

฀ D3 ฀ S2

Status pekerjaan : ฀ Bekerja (Pegawai Institusi)

฀Tidak Bekerja(Ibu rumah tangga)

Bila pada pernyataan sebelumnya anda memilih “Tidak Bekerja (Ibu rumah

tangga)” maka anda tidak perlu mengisi pilihan selanjutnya

Jumlah pendapatan per bulan :

฀ Rp 1.200.000,00 – Rp 1.800.000,00

฀ Rp 1.800.000,00 – Rp 2.400.000,00

฀ Rp 2.400.000,00 – Rp 3.000.000,00

฀ Rp 3.000.000,00 – Rp 3.600.000,00

฀ Rp 3.600.000,00 – Rp 4.200.000,00

฀ Rp 4.200.000,00 – Rp 4.800.000,00

฀ Di atas Rp 4.800.000,00

Jumlah anggota keluarga yang ditanggung : orang

(79)

63

LAMPIRAN 3

Analisis Reliabilitas Skala dan

(80)
(81)
(82)
(83)
(84)

aitem50 258.32 1297.433 .402 .937

aitem51 258.46 1294.541 .411 .937

aitem52 258.62 1269.302 .587 .936

aitem56 259.13 1285.447 .389 .937

aitem57 258.13 1290.164 .467 .937

aitem58 258.88 1301.573 .300 .938

aitem59 257.97 1283.632 .623 .936

aitem60 258.32 1278.850 .654 .936

aitem62 258.36 1286.089 .574 .936

aitem63 258.33 1275.046 .548 .936

aitem66 258.71 1286.119 .437 .937

aitem67 258.92 1286.462 .405 .937

aitem69 259.34 1299.070 .284 .938

aitem70 259.36 1305.277 .215 .939

aitem71 258.46 1278.240 .504 .936

aitem72 258.45 1288.278 .385 .937

(85)

69

LAMPIRAN 4

(86)

A. Uji Normalitas

a. Lilliefors Significance Correction

B. Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis

Test of Homogeneity of Variance

Levene Statistic df1 df2 Sig.

skortot Based on Mean .532 1 198 .467

Based on Median .683 1 198 .409

Based on Median and with

adjusted df .683 1 193.289 .409

Based on trimmed mean .555 1 198 .457

Independent Samples Test

Levene's Test

for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

(87)

71

LAMPIRAN 5

(88)

ENAM DIMENSI KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS BERDASARKAN STATUS KERJA

StatusP

ekerjaa

n N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

totpd kerja 100 43.5200 6.80089 .68009

tidak 100 44.4300 6.83907 .68391

totrp kerja 100 43.4900 7.56854 .75685

tidak 100 44.1000 8.34666 .83467

toto kerja 100 20.1100 5.16182 .51618

tidak 100 20.0100 5.11187 .51119

totpl kerja 100 54.2800 9.01635 .90163

tidak 100 54.3000 8.05474 .80547

totth kerja 100 50.3200 8.64669 .86467

tidak 100 51.5500 6.93604 .69360

totpp kerja 100 55.2100 8.72046 .87205

Figur

Tabel 1. Tabel Skor Dimensi Kesejahteraan Psikologis
Tabel 1 Tabel Skor Dimensi Kesejahteraan Psikologis . View in document p.37
Tabel 2. Sistem Skoring untuk Pernyataan Favorable
Tabel 2 Sistem Skoring untuk Pernyataan Favorable . View in document p.39
Tabel 4. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis
Tabel 4 Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan Psikologis . View in document p.40
Tabel 5. Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan
Tabel 5 Blueprint dan Persebaran Aitem Skala Kesejahteraan . View in document p.42
Tabel 6. Deskripsi Subjek Penelitian
Tabel 6 Deskripsi Subjek Penelitian . View in document p.47
Tabel 7. Tingkat Kesejahteraan Psikologis Secara Keseluruhan
Tabel 7 Tingkat Kesejahteraan Psikologis Secara Keseluruhan . View in document p.48
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas
Tabel 8 Hasil Uji Normalitas . View in document p.49
Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas
Tabel 9 Hasil Uji Homogenitas . View in document p.50
Tabel 10. Hasil Uji Hipotesis
Tabel 10 Hasil Uji Hipotesis . View in document p.51
Tabel 11. Hasil Analisis Enam Dimensi Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Status Kerja
Tabel 11 Hasil Analisis Enam Dimensi Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Status Kerja . View in document p.52
Tabel 12. Hasil Analisis Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Usia
Tabel 12 Hasil Analisis Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Usia . View in document p.53

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (92 Halaman)