BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desa Klinting merupakan bagian dari kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas. Secara mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, dan selebihnya beragama Hindu. Meskipun Hindu di desa Klinting masuk tahun 1987-an, tetapi desa ini merupakan desa dengan kosentrasi umat Hindu terbesar dan memiliki salah satu Pura yang sudah di akui pemerintah kabupaten Banyumas, dan sebagian besar bertempat tinggal di dusun Wanasara yang menjadi tempat dibangunnya Pura Pedaleman Giri Kendeng (wawancara dengan Minoto Dharmo, 29 November 2014). Keunikan dari penganut agama Hindu di Klinting adalah para penganutnya yang merupakan masyarakat pribumi Klinting dan bukan berasal dari daerah lain.
Kemajemukan dalam hal agama dan budaya antara masyarakat beragama Islam dan Hindu di desa Klinting tidak mempengaruhi kehidupan sosial mereka. Selalu menjaga keharmonisan dan toleransi antar umat beragama merupakan suatu kewajiban bagi masyarakat Klinting. Salah satu bentuk keharmonisannya diwujudkan dengan cara bergotong royong dalam melakukan atau mengerjakan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan bersama, misalnya memperbaiki jalan atau membangun rumah, mereka saling bahu membahu bekerja sama tanpa memandang status agama.
Hindu maupun Islam mereka saling mengucapkan selamat dan saling bersilaturahmi. Contoh lainnya pada perayaan Idul Adha, pembagian hewan kurban tersebut bukan hanya untuk masyarakat yang beragama Islam tetapi dibagikan merata kepada semua masyarakat Klinting tanpa melihat latar belakang agama mereka. Sifat-sifat kekeluargaan merekalah yang menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kecil kemungkinan terjadi konflik antar agama.
Menurut Minoto Dharmo (wawancara, 29 November 2014), kegiatan religi yang dilakukan masyarakat beragama Hindu di desa Klinting masih memadukan budaya yang sudah dimiliki sebelumnya, yatu aliran “wayah kaki”, yaitu salah satu dari banyak aliran kejawen yang berkembang di Jawa dengan Eyang Semar sebagai Sang Pepunden. Mulai dari tempat ibadah keluarga dan Pura yang ada di desa Klinting masih menyisakan simbol-simbol aliran sebelumnya. Walaupun telah menganut Hindu, kebiasaan aliran wayah kaki memang tidak benar-benar ditinggalkan masyarakatnya karena sebagian mereka masih menyambangi gunung Srandil kecamatan Adipala, kabupaten Cilacap yang dipercaya terdapat makam dari Sang Pepunden Semar yang sangat di keramatkan.
Masyarakat Hindu desa Klinting memang memiliki cara sendiri dalam beribadah yang membedakan dengan masyarakat Hindu di daerah lain. Cara beribadah masyarakat Hindu di Klinting yang sudah tercampur dengan kepercayaan sebelumnya menjadikan akulturasi budaya Hindu-Jawa. Kehidupan sosial masyarakat beragama Hindu juga terjaga harmonis dengan selalu memupuk sikap gotong royong, toleransi, dan tolong menolong antara masyarakat beragama Hindu maupun dengan masyarakat yang beragama Islam di Klinting. Sikap seperti ini mencirikan sifat asli masyarakat desa, karena memang penganut agama Hindu di Klinting merupakan masyarakat pribumi.
B. Pokok Masalah
Dari uraian di atas, maka pokok permasalahan yang diambil adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana gambaran umum desa Klinting, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas ?
2. Bagaimana kehidupan sosial komunitas Hindu Dharma di desa Klinting, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas tahun 1987-2013 ?
3. Bagaimana kehidupan religi komunitas Hindu Dharma di desa Klinting, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas tahun 1987-2013 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok masalah di atas, maka kajian ini bertujuan untuk mengetahui berikut ini.
1. Gambaran umum desa Klinting, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas. 2. Kehidupan sosial komunitas Hindu Dharma di desa Klinting, kecamatan
Somagede, kabupaten Banyumas tahun 1987-2013.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang sejarah serta menambah bahan referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut bagi peneliti lain. b. Sebagai sumber keilmuan di lingkup Mahasiswa Pendidikan Sejarah
khususnya dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto umumnya atau dalam lingkup yang lebih luas.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi penulis, hasil penelitian ini diharapkan akan menambah dan memperluas wawasan dan pendalaman pengetahuan tentang kehidupan sosial dan religi komunitas Hindu Dharma di Banyumas.
b. Bagi komunitas Hindu Dharma, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi untuk selalu menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
E. Tinjauan Pustaka
berkaitan dengan tema yang diangkat penulis. Adapun yang hendak dipaparkan di bawah ini.
Slamet Sugijono (2001) dengan judul “Perkembangan Komunitas Agama Hindu Dharma di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas tahun 1978-1998”. Membahas tentang perpindahan kepercayaan masyarakat di desa Klinting dari aliran Wayah Kaki beralih memeluk agama Hindu. Perkembangan selanjutnya masyarakat desa Klinting membangun sebuah Pura yang diberi nama Pura Pedaleman Giri Kendeng sebagai pusat tempat Ibadah dan pusat pengembangan agama Hindu di Banyumas. Meskipun mengalami kemajuan agama Hindu yang ditandai dengan dibangunnya Pura Giri Kendeng dan makin bertambahnya jumlah penduduk yang beralih memeluk agama Hindu, tetapi masyarakat Hindu desa Klinting tidak meninggalkan rasa saling menghormati dengan pemeluk agama lainnya, sehingga pemeluk agama yang ada di sekitarnya menjadi lebih bersatu dan kondusif.
Agni Priambodo (2013) dengan judul “Kehidupan Sosial dan Religi Komunitas Aboge Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas tahun 1983-2012”. Secara garis besar skripsi ini membahas tentang komunitas Aboge pada desa Tumiyang dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya masih berinteraksi secara kuat dalam masyarakat di dalam maupun di luar komunitas. Sikap toleransi dan saling gotong royong terjalin dengan baik, meskipun dalam keadaan berbeda kepercayaan di dalam masyarakat desa Tumiyang. Komunitas Aboge merupakan aliran sebuah kepercayaan masyarakat hasil dari sinkretisme Jawa dengan Islam. Komunitas Aboge merupakan masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi mereka dalam kesehariannya sekaligus menjalankan ajaran Islam.
Penelitian Agni Priambodo (2013), mengambil lokasi tempat penelitian di desa Tumiyang, kecamatan Pekuncen, kabupaten Banyumas dengan obyek penelitiannya adalah komunitas Aboge. Aboge merupakan sebuah aliran hasil dari sinkretisme jawa dan islam. Hal tersebut berbeda dengan apa yang di teliti oleh penulis. Perbedaannya yaitu, dari lokasi tempat penelitian penulis mengambil desa Klinting, dan obyek penelitiannya mengkaji tentang komunitas Hindu Dharma.
dan kepercayaan lain, tetapi dengan cara musyawarah mereka mampu menyelsaikan masalah maupun perselisihan antar Agama. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kerukunan di desa Sidomulyo di antara lain :1) kesadaran akan kerukunan menjadi landasan hidup bermasyarakat. 2) sikap saling menghormati sebagai sebuah tradisi dan norma. 3) interaksi dan komunikasi diantara pemeluk agama yang berbeda. 4) pemerintah sebagai payung dan pelindung dari adanya tradisi dan budaya yang berkembang.
Pemaparan yang dijelaskan oleh Ani Juwita (2008) tentang “Perilaku Sosial-Keagamaan pada Masyarakat Multi Agama (Studi Kerukunan Beragama pada Masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar”, menekankan pada bentuk kerukunan dan faktor yang mempengaruhi kerukunun masyarakat multi agama desa Sidomulyo. Berbeda dengan penulis yang lebih menekankan pada kehidupan sosial dan kehidupan religi komunitas Hindu Dharma yang terdapat pada masyarakat berbeda agama, kepercayaan, dan budaya di desa Klinting.
Sumbertanggul. Perkembangan umat Hindu yang ada di Sumbertanggul mengalami pasang surut dilihat dari jumlah pemeluknya. Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat muslim sehingga kehidupan sosialnya sangat dinamis. Kehidupan sosial umat Hindu mengalami pasang surut dalam artian pada periode tertentu mengalami masa tenang dan pada periode tertentu mengalami masa konflik.
Syaiful Aris (2014) penelitiannya akan dinamika kehidupan sosial masyarakat Hindu desa Sumbertanggul dan kontribusinya dalam pendidikan. Fokus penelitiannya membahas tentang peran masyarakat Hindu terhadap pendidikan bagi generasi muda umat Hindu di Sumbertanggul. Berbeda dengan kajian penulis, yang tidak menekankan pada peran masyarakat Hindu terhadap pendidikan tetapi lebih menekankan pada kehidupan sosial dalam lingkungan masyarakat.
Pemaparan yang telah dijelaskan di atas memiliki kesamaan dan perbedaan dengan kajian yang akan penulis lakukan. Kesamaannya terdapat pada obyek penelitiannya yang mengangkat komunitas Hindu sebagai bahan kajian. Hal ini ditunjukkan pada penelitian Slamet Sugijono, dan penelitian Syaiful Aris.
dengan obyek penelitiannya komunitas Aboge, dan penelitian Ani Juwita yang mengambil obyeknya adalah masyarakat multi agama.
F. Landasan Teori dan Pendekatan
Dalam penelitian ini digunakan beberapa teori-teori yang relevan sebagai landasan penelitian. Teori yang digunakan adalah teori tentang kehidupan sosial, dan religi.
1. Kehidupan Sosial
Manusia sebagai individu ternyata tidak mampu hidup sendiri. Ia dalam menjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhi sendiri, ia akan bergabung dengan manusia lain membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup. Dalam hal ini, manusia sebagai individu memasuki kehidupan bersama dengan individu lainnya (Herimanto dan Winarno, 2010: 43).
Dalam kehidupan sosial, tentu saja keluarga tidak terlepas dari kondisi-kondisi yang ada dalam masyarakat tersebut, baik norma-norma maupun nilai-nilai yang berlaku. Karena pada dasarnya norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap tindakan-tindakan yang akan dijalankan oleh keluarga. Jelas nilai dan norma yang berlaku adalah bersifat kolektif dan mengikat sehingga keluarga dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku tersebut (Khairudin, 2008: 26).
Mengenai norma-norma yang ada di dalam masyarakat (Herimanto dan Winarno, 2010: 49), mengungkapkan bahwa di dalam masyarakat terdapat norma-norma sebagai patokan untuk bertingkah laku sebagai berikut.
a. Norma agama, yaitu norma yang bersumber dari Tuhan.
b. Norma kesusilaan atau moral, yaitu norma yang berasal dari hati nurani manusia itu sendiri.
c. Norma kesopanan atau adat, yaitu norma yang bersumber dari masyarakat. d. Norma hukum, yaitu norma yang dibuat masyarakat secara resmi (negara).
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain (Elly M. Setiadi, 2009: 67). Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa proses-proses kehidupan sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila orang perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem-sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada (Soerjono Soekanto, 1986: 50).
2. Kehidupan Religi atau Agama
Sejarah perkembangan religi orang Jawa telah di mulai sejak zaman prasejarah, dimana pada waktu itu nenek moyang orang Jawa sudah beranggapan bahwa semua yang ada di sekelilingnya itu bernyawa, dan semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan gaib atau mempunyai roh yang berwatak baik maupun jahat (Koentjaraningrat, 1974: 103). Bentuk religi yang tertua adalah berdasarkan keyakinan manusia akan adanya kekuatan gaib dalam hal-hal yang luar biasa dan yang menjadi sebab timbulnya gejala-gejala yang tak dapat dilakukan manusia biasa, Marett (Koentjaraningrat, 1987: 60).
Asal kata religi sendiri tidaklah jelas, tetapi ada yang mengatakan istilah itu berhubungan dengan kata religare, kata bahasa latin yang berarti Mengikat, sehingga religi atau religius berarti ikatan atau juga pengikat. Memang dalam religi manusia mengikatkan diri kepada Tuhan. Pada pokoknya religi adalah penyerahan diri kepada Tuhan, dalam keyakinan bahwa manusia itu tergantung dari Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan keselamatan yang sejati dari manusia, bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak mampu untuk memperoleh keselamatan itu dan karenanya ia menyerahkan dirinya, Driyarkara (Budiono Herusatoto, 2008: 42).
Sejalan dengan pendapat Driyarkara (Yan Mujianto, dkk, 2010: 15) mengungkapkan, agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasal dari bahasa latin religare, yang berarti menambatkan), adalah sebuah unsur kebudayaan yang
institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama sama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.
Sistem keyakinan dalam suatu religi berwujud pikiran dan gagasan manusia, yang menyangkut keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat tuhan, tentang wujud dari alam gaib (kosmologi), tentang terjadinya alam dan dunia (kosmogoni), tentang zaman akhirat (esyatologi), tentang wujud dan ciri-ciri kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-dewa, roh jahat, hantu dan mahluk-mahluk halus lainnya. Kecuali itu sistem keyakinan juga menyangkut sistem nilai dan sistem norma keagamaan, ajaran kesusilaan, dan ajaran doktrin religi lainnya yang menyatu tingkah laku manusia (Koentjaraningrat, 1987: 81).
Koentjaraningrat (Budiono Herusatoto, 2008: 43-44) menyatakan, religi terdiri empat komponen berikut ini.
a. Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia menjadi religius. Emosi keagamaan merupakan suatu getaran yang menggerakan jiwa manusia,
b. Sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusoa tentang sifat sifat Tuhan, alam gaib, supernatural, dewa-dewa, dan mahluk-mahluk lain,
c. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan manusia dengan Tuhan, dewa-dewa atau mahluk halus yang mendiami alam gaib,
Dalam kehidupan sosial agama juga memiliki fungsi penting, seperti halnya yang dikatakan dalam bukunya (Munandar Soelaeman, 2009: 281) fungsi agama dibagi berikut.
a. Fungsi agama dibidang sosial, adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka.
b. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu, ialah individu, pada saat ia tumbuh menjadi dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat.
Kesimpulan dari pemaparan di atas, religi adalah penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat tiga unsur, yaitu manusia, penghambaan atau pemujaan dan Tuhan. Agama atau religi menjadi sebuah pilihan utama manusia dalam membimbing keyakinan yang dimilikinya. Teori-teori religi yang telah dijelaskan bagi penulis bermanfaat sebagai gambaran atau landasan untuk meneliti tentang bentuk-bentuk religi komunitas Hindu Dharma, ajaran-ajaran Hindu Dharma, dan upacara atau ritual yang dilaksanakan oleh komunitas Hindu Dharma desa Klinting.
masing-masing mempelajari suatu kompleks masalah-masalah khusus mengenai makhluk manusia (Koentjaraningrat, 1987: 1). Pada pendekatan antropologi ini penulis mengfokuskan untuk menggunakan dua cabang ilmu yaitu, antropologi-sosial dan antropologi-agama. Dimana antropologi-sosial merupakan studi yang mempelajari hubungan antara orang-orang atau kelompok dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1986: 26). Dengan studi ini, penulis di sini mengkaji tentang kehidupan sosial yang mencangkup proses hubungan sosial, serta faktor faktor yang mempempengaruhi hubungan sosial, dan dampak dari hubungan atau interaksi antara satu individu dengan individu lain maupun satu kelompok dengan kelompok lain, terutama dalam hubungan masyarakat beragama Hindu-Islam di desa Klinting.
G. Metode Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih jauh tentang Kehidupan Sosial dan Religi Komunitas Hindu Dharma di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Untuk mendapatkan data yang berhubungan permasalahan yang di rumuskan, mempermudah pelaksanaan penelitian serta terlaksana secara terarah dan dapat mencapai hasil yang optimal, maka penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Langkah-langkah metode sejarah adalah sebagai berikut:
1. Heuristik
Heuristik adalah proses mencari dan menemukan data sejarah. Data sejarah tidak selalu tersedia dengan mudah sehingga untuk memperolehnya harus bekerja keras mencari data lapangan, (Sugeng Priyadi, 2013: 112). Pada tahapan ini penulis mengumpulkan beberapa sumber dan data yang relevan, baik sumber primer maupun sekunder yang dapat digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas. Pada tahap ini penulis menentukan sumber yang cocok untuk menjawab persoalan-persoalan yang penulis dapat dan kemudian dikumpulksn. Sumber-sumber tersebut berasal dari sumber buku dan wawancara dengan pihak yang bersangkutan seperti, kepala desa Klinting, kepala dusun Wanasara, ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kabupaten Banyumas, sesepuh desa Klnting, dan masyarakat desa Klinting.
2. Kritik atau Verifikasi
telah dikumpulkan terlebih dahulu verifikasi sebelum digunakan (ABD. Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjid, 2011: 47).
a. Kritik Ekstern
Kritik ekstern adalah proses mencari keotentikan atau keaslian sumber. Dalam kritik ekstern penulis disini memilih tokoh yang menjadi sumber lisan dengan melihat umur (karena biasanya semakin tua informan tingkat daya ingatnya juga semakin menurun, sehingga susah untuk mendapatkan informasi yang lengkap). Penulis juga melihat dari segi fisik apakah informan buta atau tidak, tuli atau tidak, sehingga mendapatkan sumber yang otentik dan dapat dipertanggung jawabkan.
b. Kritik Intern
Kritik intern artinya peneliti atau sejarawan harus menentukan seberapa jauh dapat dipercaya kebenaran dari isi informasi yang disampaikan oleh suatu sumber (Daliman, 2012:72). Langkah penulis adalah dengan mencari informan lain untuk membanding-bandingkan hasil wawancara antara informan yang satu dengan yang lain sehingga menemukan kesamaan fakta untuk dijadikan sumber penelitian.
3. Interpretasi
yang jelas tentang fokus penelitian. Proses interpretasi yang penulis lakukan dalam penelitian kali ini berupaya untuk dilakukan secara obyektif sehingga hasil dari penelitian ini tidak memiliki kecenderungan untuk memihak pihak manapun yang terkait. Selain itu tahapan penafsiran ini dilakukan dengan cara mengolah beberapa fakta yang telah dikritisi, setelah melalui beberapa proses seleksi maka fakta-fakta tersebut dijadikan pokok pikiran dalam penyusunan penelitian.
4. Historiografi
Tahap terakhir dalam metode sejarah adalah historiografi, pada tahap ini penulis berusaha untuk memproses terhadap informasi dan sumber sejarah yang didapat dari berbagai sumber kemudian hasil interpretasi terhadap fakta-fakta kemudian disusun dalam bentuk tulisan yang berjudul “Kehidupan Sosial dan Religi Komunitas Hindu Dharma di Desa Klinting Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas Tahun 1987-2013”.
H. Sistematika Penyajian
Keseluruhan skripsi ini berjudul “Kehidupan Sosial dan Religi Komunitas Hindu Dharma di Desa Klinting Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas Tahun 1987-2013”, untuk memperoleh gambaran dan memudahkan pembahasan maka sistematika skripsi ini dikelompokan dalam V Bab. Bab pertama, pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori dan pendekatan, metode penelitian, sistematika penyajian.
Bab dua, gambaran umum desa klinting, menguraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian yang dimulai dengan sejarah pembangunan desa Klinting, letak geografis, keadaan demografi (jumlah penduduk, tingkat pendidikan, pekerjaan), jumlah penduduk menurut agama, sarana dan prasarana, dan kelembagaan desa.
Bab tiga, kehidupan sosial komunitas Hindu Dharma Klinting tahun 1987-2013, berisi tentang kehidupan sosial komunitas Hindu Dharma (meliputi interaksi sosial masyarakat Hindu-Hindu dan Hindu-Islam di desa Klinting, sistem kekerabatan di desa Klinting, dan sistem perkawinan).
Bab empat, kehidupan religi komunitas hindu dharma klinting tahun 1987-2013, berisi tentang kehidupan religi komunitas Hindu Dharma (meliputi kepercayaan wayah kaki, sejarah agama Hindu di Klinting, upacara atau ritual umat Hindu di Klinting).