• Tidak ada hasil yang ditemukan

Murni Disiplin dan Antar Disiplin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Murni Disiplin dan Antar Disiplin"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal

llmiah

Bidnng

Sains

- Teknologi

Murni

Disiplin

dan

Antar

Disiplin

IS$N

No.

:

l9?S

- 8819

Vol.

Il,

ITo.

6,

Tahun

III,

September

2009

Ditcrbitkrn

Oleh

:

Fakultas

Telmik

-

Universitns

Bengkulu, Jalan Raya Kandang

Limun

Bengkulu 381?3

Telp. :

t0736) 21170.34406?

Fax. : {0736} 22105

E-mail:

[email protected]

Analisis Distribusi Suhii denganComputntional Flaid Dynamics

(CfD)

padaProses

Pengeringan Gabah

Oleh M. Syaifhl, Slaf pe,nsaiar Teknik Mesin

UllB

_

The Utilization of Husk Ash and Sea-ShellAsh in Concrete mix Design,

Oleh Fepv Supriuni, Ade Sri Wah.vuni Staf pengajar Teknik Sipil (JNIB

l3

l8

lenga5u.h Prosentase Sil_lkon Dioksida (Si02) terhadap Perubahan Derajat

Resistivitas Konduktor Tembasa.

Oleh Yuli Rodiah, Staf' PengajarTeknik ElektroUNIB

Identifikasi Virus Komputer Menggunakan Case Base Reasoning

Oleh Ernswati, Staf'Pengajar Teknik Informatikc UNIB

28

34

40

Kaji

Eksperimental PeLgandingar Performansi illesin Pendingin Kompresi l-ap dengan Menggunakan Pipa Kapiler dan Katup Ekspansi.

oleh Ahmad Fauzan suryono,

Hindri

van

Hotei.

Sra.fPengajar Teknik Mesin tlNIB

Tundaan

Lalu

Lintas pada Simpang Lima

Kotr

Bengknlu,

oleh Samsul Bahri, Staf'pengajar Teknik Sipil IJNIB

Optimasi Penggunaan AC Sebagai

Alat

Pendingin Ruangano

Oleh Irnsnda Priyadi, Stsl'Pettgajar Teknik Elektro LINIB

47

Studi Pengaruh Perlakuan Normalizins terhadao

4340 dalam Lurutan

Hish

Sult Baffer (f,SB)

0 I e h H e n d r i H e s t i av, u n,"S t al' P e n g;ii a

r

ie kn i ti M e s i n

Ketahanan Korosi Baja AISI

UI{IB

(2)

l$,$N:

t$?t-Sf9

Yol.

lI,

Na.6' Trhun IlI,,

September 2{XX),

Jurnal Teknosia rnernpublikasikan karya tulis di bidang Sain

*

Teknolagi,

Msrni Disiplin

dan Anrar Disiplin, berupa penelitian dasar" psrancsngan dan studi pengembangan

teknologi. Jurnal terbit

be*ala

enam bulsnan ( lvlaret dan September).

Pelindrng

Dr.

lr.

Muhammad Syaiful, M.S

Penyunting

Ahli

(*titr* Bet*ri)

DR. Eddy Herma*syah,

(UNIB)

Dr.

lr.

Febrin Anas

lmrail,

M.Eng

(U}{AND)

Prof. Mulyadi Bur*

Dr-lng.

(UNAND)

Dr lr" Reftlinal Nafsir

(UNAND)

Rdsktur

Aniirar lndriani, ST,, h4T.

Redaktur

Pelxksana

Elhus*a

ST.M'[

Oewlr

Drs. Btlka $usilo., M.Kom.

Ade Sri Wahyuni. ST. M"Hng

RedsLsi

lrnanda Priyadi, ST." MT.

Nurul

lman Supardi, ST., MP.

n

b

p

ti

'I

IT p( tei tal 20 sel

pft

pet pas

Jt

Pencrbit

TAKULTAS TEKNIK

*

L'NIYARSTTAS BE!*GKTJLU

Sekretariat

Redsksi

cedung

v

Fakultas

'teknik

*

universifirs Bengkulu, Jdan Rny* Ka*dang Limun
(3)

TUNDAAN

LALA

LINTAS

PAuA

SIT.IPANG

LIMA

KOTA

BENGKALA

Samsul Bahri

Prodi teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Bengkulu Jl. Kandang Limun, Bengkulu, Telp (0736) 21170, ext227

e-ruail:sbirhri I !l?iilvirha*.co.id

ABSTMCT

The objective of this study is to find how long the delay on lntersection 5 Bengkulu city controlled by the traffic light. The method was splitting the monitoring time into 15 minutes only, counting the stopped vehicle and all of moving vehicle allowing the stopline of the monitoring street.

The result indicate that eaeh traffic light at intersection 5 kota Bengkulu have B for the level of service. There is no traffic

jump.

All of vehicle which is

in

the intsrsection can reach the stopline when the light is green, and the residual time is about 5-10 sec. This sondition describes that the intErsection 5 traffic light at Bengkulu cig having 215 sec cycle timO is too long.

K eywor ds : Dekq', Intersection

I. PENDAHI.JLUAI\T

Persimpangan merupaken lokasi yang

kritis

dalam suatu sistem

lalulintas.

Pefiemuan

beberapa

ujung

jalan

menyebabkan suatu situasi yang kompleks.

Persimpangan bercabang banyak

(nulti-leg

intersection), yaitu persimpangan

jalan

raya

dengan jumlah cabang tEbih dari ernpat, dari

sudut parrdang

teknik

lalulintas merupakan

suatu kondisi

yang

sedapat

mungkin

dihindari.

Karena sernakin banyak cabang

suatu persimpallgan, akumulasi dan konflik

lalulinras akan semakin besar.

Secara teoritis pada volume lalulintas

yang

rendah,

persirnpangan bercabang

banyak

tidak

menimbulkan rnasalah. Tetapi

dengan semakin berkembangnya lalulintas, timbul persoalan yang rumit, karena kapasitas

persimpangan

tak

mampu

lagi

melayani

volume lalulintas yang ada. Akibatnya mulai

timbul kemacetan lalulintas.

Kota Bengkulu merupakan salah satu

kota yang direncanakan tidak dalam struktur

blok

yang

baik.

Akibatnya

keberadaarr

simpang

5

(lina)

yang

membelah Kota

Bengkulu

tidak

dapat

dihindari.

Simpang

tersebut

merupakan

simpang

bersinyal

dengan bundaran

pada tengah

sirnpang.

Efektifitas

sinyal

lalulintas

pada

persimpangan bercabang

banyak

dengan

disain geometri

yang

kompleks

ini

perlu

dipe*aiiyakan, Itarena dengan

tingginya

volume

lalulintas

dan

banyaknya cabang

jalan

akan meugakibatkan slgnal phasing

yang

kompleks dan panjang siklus yang

lebih

lama.

Konsekuensinya" kondisi

tersebut

bisa

mengakibatkau penundaan

yang berlebihan dan tingkat pelayanan yang

rendah.

Tujuan

penelitian

ini

adalah untuk mengotahui seberapa besar tundaan yang

Jurnal llmiah Bidang Sains * Tel*ologi ldurnt Ditiplin dan Anmr Disiplin, Vol IL No. 6, &ptenber 2009

(4)

F'

terfadipada simpang 5 (lima) Kota Bengkulu

yang

dikontrol

oleh

sinyal

lalu-lintas,

selringga dapat diketahui tingkat pelayanan

simpang

dan

kondisi

pengaturan sinyal

lalulintas.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Persimpangan Dengan Bundaran

Suatu

bundaran

(ratary

intersection atav rowtrlubottt) terdiri dari suatu lingkaran

di

tengah dikelilingi oleh suatu jalan searah'

Cabang-cabang

jalannya

mengarahkan

lalulintasnya untuk memutar

kekiri.

Semua

konflik yang terjadi pada persimpangan biasa

dirrbalr rnenjadi konflik weaving (menyilang)

pada bundaran.

Di

Inggris dan

Australi4

bundann

bukan

merupakan prasarana

Yalg

diperlengkapi dengan

sinyal. Aturan

yang

berlaku adalah, lalulintas

yang

memasuki

bundaran harus memberi kesempatan pada

lalulintas

yang

sudah berada

di

bundaran

(aturan

yield-at-entryi.

Aturan

ini

disinrbolkan dengan

marka

jalan

berupa

garis-garis melintang.

Di

negara tersebut,

persimpangan dengan bundaran dilaporkan

nrampu

menurunkan kecelakaan

secaf,a

drastis,

dan

nrampu menampung lalulintas

pada

persimpangan

utama

di

daerah

perkotaan.

Era

nrcdern roundabout

di

Inggris

dirnulai

tahun

1966 dengan dibangunnya

yield-at-entry roundaboat (Ourston

&

Bared,

1995) yang

diikuti

dengan diberlakukannya

peraturan yield-ahenlry secar& nasiotral. L{al

ini

segera

diikuti

oleh Australia dan

negara-negam

lain,

khususnya

di

Eropa" Amerika

Serikat baru memulai membangun bundaran

modern padatahun 1990.

Menurut Ourston

dan

Bared (1995)'

terdapat

beberapa karakteristik

yang

rnembeclakan

bundaran

modem

dengan

bundaran biasa disamping aturan

)'ield-ut-entry

yang merupakatr eleman operasional

yang terpenting. Karakteristik penting )'arlg

lain

adalah pembelokan lintasan kendaraan

dan

pelebaran

jalan

masuk. Karakteristik

yang

lain

diantaranya adalah pulau-pularr

jalan untuk mengontrol kecepatan masuk dau

mencegah

belok

kanan,

serta

jarak

pandangan, pencahayaan

diwaktu

malatn,

dan perambuan yang baik.

Sinyal Lalulintas

Pada prinsipnya

sinyal

lalulintns

mengalokasikan

waktu

secara bergantiatt

untuk gerakan-gerakan lalulintas yang saling

konflik

untuk menggunakan ruangan yaog

sama. Apabila secara teknis dibenarkan dan

didisain

dengan

tepat,

pemasangan suatu

sinyal lalulintas bisa menghasilkan satu atau

lebih

keuntungan-keuntungan sebagai

berikut (Oreutt, 1993):

1)

menurunkan frekuensi tipe kecelakaan

tertentu, khususrrya

tipe right

nngle (tabrakan siku-siku),

2)

melancarkan arus lalulintas'

3)

memungkinkan

arus

menerus

iring-Jurnal ltmiah Bidang Sains * Telowlogt Mumi Disiplin dan Attrar Disiplin, Vol ll' No. 6, September 2009

(5)

a"

iringan

ksx:daraan

(ptatoon)

metalui

kgpdrnasi

sinyal-sinyal

sepanjang

--..'

suatu rutejalan,

4)

memungkinkan

lalulintas

kendaraan

dan pejalan

kaki

untuk melintas atau

menyeberangi

anrs

lalulintas

yang

padat,

dan

dapat mengafur lalulintas

secara

lebih

ekonornis

dibanding

dengan metode manual.

Sebalikny4

peniasangfii

siriyal

lalulintas

yang

tidik

didukung

analisa

lalulintas yang benar, dengan disain yang buruk, dioperasikan secara tidak tepat, atau

tidak

dipelihara

dengan

baik

bisa rnenyebabkan hal-hal sebagai berikut (pline,

r e92):

l)

2) 3)

4)

Peningkatan frekuensi kocelakaan, Penundaan yang berlebihan,

Pelanggaran terhadap rarnbu lalulintas,

dan

Beralihnya lalulintas ke jalur alternatif.

Tingkat Pelayanan Dan Penundaan

Tingkat

pelayanan langsung

berhubungan dengan nilai penundaan. Dalam

penentuan tingkat pelayanan, stopped deloy

rata-rata

per

kendaraan

diukur

untuk

tiap

cabang.

Tingkat

Pelayanan

suatu

persimpangan

bersinyal

diukur

dari

penundaan

yang

terjadi.

penundaan

merupakan

ukuran

efektivitas

bagi

sinyal

lalulintas karena merupakan

ukuran

bagi

ketidaknyamanan pengemudi, rasa frustasi,

konsumsi bahan bakar, dan kehilangan walitu

perjalanan. Secara spesifik tingkat pelayanan

dinyatakan daiam

istilah

avarage stopped

delay (penundaan karena berhenti rata-rata)

untuk tiap kendaraan untuk periode analisa

15 menit (TRB, 1985).

Tabel

1.

Kriteria Tingkat Pelayanan Persimpangan Bersinyal

Tingkat pelayanan Stopped delay per

kendaraan (detik)

A s 5.0

B 5.1 - 15.0 C

l5.l

- 2s.0 D 25.1 - 40.0

40. t - 60.0 > 60.0

Sumber: (TRB, 1985)

trI.

METODOLOGI PENELITIAN

Untuk

mengetahui

besarnya penundaan, dipilih simpang 5 Kota Bengliulu

sebagai objek penelitian karena simpang ini

terletak di tengah kota dengan arus lalulintas

padat.

Survai

lapangan

dilakukan

untuk

mengamati

kondisi

geometri,

kondisi

operasional arus lalulintas

di

persimpangan,

dan kondisi sinyal. Geometri persimpangan

dinyatakan

secara

diagrarnatik

yalrg

mencakup

informasi

yang

relevan.

Pengamatan

kondisi

lalulintas

meliputi

pergerakan lalulintas

di

persimpangan dari

dan menuju tiap-tiap cabang jalan. Informasj

yang

lengkap

berkaitan dengan

sinyal

diperlukan,

Hal

ini

meliputi

informasi

tentang fase, panjang siklus, rvaktu hijau,

Jurwl llmiah Bidwtg &,ins

-

Tebmlagl Murzi Disiplin dan Anrar Distptin Vol II, No. 6, Seprember 2009
(6)

kuning, dan merah. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap junrlah kendaraan yang

berhenti untuk digunakan dalam perhitungan

penundaan.

Penundaan

berkaitan

erat

dengan

tingkat pelayanan yang diberikan oleh sinyal

lalulintas. Tingkat

pelayanan ditentukan

berdasarkan besarnya penundaan karena

berhenti rata-rata per kendaraan

di

masing-rnasing

sinyal

lalulintas sesuai

dengan

kategori

yang

tercantum

pada Tabel l.

Penundaan yang terjadi di persimpangan akan

ditentukan

dengan

cara

pengukuran

penundaan langsung di lapangan.

Periode pengamatan untuk setiap sinyal

didasarkan pada

hasil

survai pendahuluan,

dengan memperhatikan

waktu

arus lalulintas

optimum.

Periode pengamatan

ini

dibigi

dalam interval waktu

(I)

selama 15 detik.

Pada tiap-tiap interval ini jumlalr kendaraan

(Vs) yang

berhenti

dihitung

dan

dicatat.

Volume

kendaraan

total

(V)

yaitu

jurnlah

kendaraan yang berjalan melewati garis stop

dari

cabang

jalan

y'ang

ditidau

memasuki

bundaran juga dicatat. pengamatan dilakukan

untuk tiap

sinyal yang ada

baik

di

setiap cabang jalan maupun yang bemda

di

dalam bundaran.

Besamya penundaan karena berhenti

rata-rata

tiap

kendaraan pada suatu sinyal

lalulintas dihitung

dengan persamaan

(l)

sebagai berikut:

4=(XVsxI)/V

dimana:

d-

penundaan rata-rata per kendaraarr karena berhenti di suatu sinyal, detik

per kendaraan

XVs= jumlah

kendaraan

yang

berhenti

selama

periode

pengamalan,

kendaraan

[=

interval waktu pengamatan. detik

V-

Volume

kendaraan

total

selanra periode pengarnatan.

ry.

HASIL

DAI{ PEMBAHASAN

Simpang

5

(lima)

Kota

Bengkulu

merupakan pertemuan

ant,ira Jl.

Suprapto,

Jl.

Basuki Rahma!

Jl

S.

parman,

Jl.

Fatmawati

dan

Jl.

Soekarno-Hatta. Ruas

jalan tersebut melayani lalulintas dari

dan ke

arah masing-rnasing ruas

jalan

tersebut di

atas. Sebagai contoh Jl.suprapto melayani

lalulintas dari dan ke arah Jl. Basuki Rahnrat,

Jl S. Parman, Jl. Fatmawati dan Jl. Soekarno_ Hatta. Begitu juga sebaliknya.

Simpang

5

(lima) Kota

Bengkulu dikontrol

oleh

sebuah bundaran dan

5

ser

sinyal lalulintas yang dipasang pada

masing-masing simpang. Pengaturan

waktu

sinyal

(timtug signal) disajikan pada Tabel 2.

(l)

(7)

T'abel

2.

Pengnturau waktu laiuiintss

Sim 5 F Nama

Jalan H (drk)

K

(drk) M (drk)

PS

(dtk)

I

$oe-rapto

42 J 170 2t5

2

Basu-ki Rah-mat

4t 3 t7t 215

S. Par man

4l 3

t7l

215

4 Fatma wati

29 3 183 2t5

5 Soe

karno-Hatta

4l 3 17l 215

F= Fase,

H=Hijau, K= Kuning M=Meruh.

PS* Paqiarg Siklus (Detit}

Model pengaturan Simpang lima Kota

Bengkuln menggunakan

tipefxed

time, yaitu

untuk sepanjang

waktu

pelayanan,

masing-masing pendekat memiliki waktu pelayanan

yang same. Panjang siklusnya adalah sebesar

215 detik. Pada fase peftama sinyal lalulintas

pada

jalan Jl,

Soeprapto (fase

l)

menyala

hijau,

sedangkan cabang

jalan yang

lain

menyala merah. Begitu

juga

untuk fase 2-3.

Untuk belok

kiri,

semua ruas

jalan

tersebut

rnembolehkan

untuk

langsung dengan

hat!

hati.

Dengan demikian

tidak

ada

konflik

prirner untuk setiap fasenya.

Kendaraan arah betok kanan yang akan

melewati

Simpang

Lima Kota

Bengkulu,

tidak

dirvajibkan untuk

memukri

bundaran

ketika

mendapat

giliran

waktu

hijau.

Kewajiban memutari

bundqratr

bagi

kendaraan belok kanan hanya dikhususkan

untuk waktu

antara

pukul

7.00

-

7.3g,

dengan dipandu

oleh polisi

lalulintas

(polantas).

Akibat dari

pengaturan sepefii

tersebut,

sering

membingungkan

para

pengendar4 terutama pengendaraan yang

tidak

terbiasa melewati

sirnpang

lima

iersebut. Disamping

itu juga

menimbulkan

tundaaan ditengah+engah

simpang

yang

beratlbat

pada

terganggunya pergerakan

kendaraan

dari

arah simpang lainnya yang

mendapat giliran waktu hijau saat

itu.

Tabel

3.

memberikan gambaran tentang selisih

waktu antara kondaraan belok kanall yang

rnemutari

dengan

yang

tidak

memutari bundararr,

I

I

I

I

I

I

I Jarnal llmiah Eidang fuins * Telwdogi llwri Dwpln dm Anwr Dislplin ltot Il, No. 6, &ptenber 200g

(8)

Tabel3. Selisih waktu kendaraan belok ksnan yang memutari dan tidak memutari

bundaran F Dari Jalan Menuju Jalan Selisih 1 Soeprapto

Fatmawati l7 detik

Soekarno-Hatta

15 detik

2 Basuki Rahmat

Soeprapto 9 detik

Soekarno-Hatta

3 detik

J S. Parman Basuki Rahmat

l4 detik

4 Fatmawati

Basuki Rahmat

6 detik

S. Parman 9 detik

5 Soekarno-Hatta

S. Parman 10 detik

Fatmawati 18 detik*

Secara urnum, pengaturan simpang dengan

bundaran, menghanrskan kendaraan yang

bergerak ke arah kanan, memutari bundaran

dari

arah

sebelah

kiri

bundaran.

Hal

ini

dimaksudkan untuk memberikan kesempatan

kepada kendaraan dari aratr berlawanan untuk

keluar dari konflik. Bsrbeda dongan simpang

lirna kota Bengkulu, dimana bundaran diatur

juga

dengan

lampu

lalulintas, pergerakan

kendaraan

belok

kanan

yang

memutari

bundaran, justru menambah waktu perjalanan sebesar rata-rata 60 o/o bagi kendaraan unfuk

keluar

dari

bundaran.

Dengan

demikan

kebijakan bagi pengendara untuk memutari

bundaran pada

pukul

07,00

-

07.30 WIB,

dirasa kurang tepat karena wakru perjalanan

untuk

keluar

dari

sirnpang

bertanrbah.

Disamping

itu

ketika waktu hijatr, konllik

kendaraan dari arah berlawanan tidak ada.

Pada

tabel

4.

disajikan

besarnYa

penundaan berhenti rata-ratil per kendaraan dan kriteria Tingkat Pelayanan pada

rnasing-rnasing

sinyal

pada

simpang

lirna

Kota Bengkulu.

Tabel

4.

Penundaan berhenti rata-rata dan

Tingkat Pelayanan sinyal lalu lintas simpang lima Kota Bengkulu

Siklus Nama Jalan Rata-rata (dtk)

tos

I Soeprapto t2,82 B 2 Basuki Rahmat 12,67 B

3 S. Parman 12,68 B 4 Fatmawati 13,34 B

5 Soekarno-Hatta 13, l9 B

Untuk Jl. Soeprapto besantya tundaan

rata-rata

sebesar 12,82 detiVkendaraan"

Jl.

Basuki

Rahmat

12,67

detiVkendaraan,

Jl.

S.

Parman

12,68

detillkendaraan, Jl,

Fatmawati 13,34 detiklkendaraan

dan

Jl.

Soekarno-Hatta

13,

l9

detilJkendaraan.

Menurut Highway Capacity Munuul (TRB,

1985), tingkat pelayarran yang diberikan olelt

lampu

lalulintas simpang

lima

Kota

Bengkulu, berada pada tingkat pelayanan 13,

arlinya arus lalulintas lansar.

Namun

demikian

dari

pengamatan

terhadap kendaraan

yang

berhenti ketika

: : ,l It i: ii I I I I I I

l.t

,;lt I

tt

I I I I I I I I f,

I

Jurnal llmiah Bidang Sains * Tefuologi Murni Disiplin dan Anmr Disiplin, Vol U, No. 6, September 2009

(9)

giliran

rneraho kemudian mendapat giliran

hijau,

semua kendaraan tersebut dapat

melewati stop

line

dan tersisa waktu hijau

berkisar 5-10 detik. Sisa waktu hi$au tersebut

dimanfaatkan oleh kendaraan

lain

dari arah

yang sama yang tidak berhenti karena tidak

mendapatkan waktu merah, untuk lolos dari stop

line

dengan jumlah berkisar 10

%

dari

jumlah kendaraan yang berhenti.

Kondisi

tersebut

memberikan

gambaran

bfiwa

bila ditinjau dari optimasi,

pengaturan

lampu

lalulinas

simpang lima

Kota

Bengktilu dengan panjeng siklus 215

detik dirasa terlalu larna. Hal tersebut dapat

menyebabkan

(Pline,

1992)

peiringkaran

frekuensi

kecelakaan, penundaan

yang

berlebihan,

pelanggaran

terhadap

rambu

lalulintas, dan beralihnya lalulintas ke

jalur

altcrnatif.

V.

KESIMPIJLAN

Berdasarkan

hasil

penelitian

dapat

disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1.

Tingkat pelayanan yang diberikan oleh

masing-masing sinyal lalulintas simpang

lirna Kota Bengkulu, berada pada tingkat

pelayanan B, dalam artian arus lalulintas

adalah lancar.

2.

Semua kendaraan

dari

masing-masing

simpang ketika rnendapat

giliran

waktu

hijau

dapat melewati stop line dan tersisa

waktu hijau berkisar 5-10 detik.

3.

Panjang siklus sebesar

2i5

detik dengan

5 fase dirasa tedalu lama

4.

Perlunya redesain yang baik menyangkut

waktu sinyal dan desain geometrik agar

nantinya simpang

lima

kota

Bengkulu

dapat beroperasi lebih baik,

DAFTAR

PUSTAKA

[1].

Haryadi,

8.,

dkk., 2000, Peundaan

tli

Persimprngan

Bersinyal

Bercabang

Banyai<, Simposium

III

FSTPT, ISBN

n6,979-9624t-0-X.

[2J.

Orcuq F.L., Jr.,

1993,

The

Traffic

Signet

Booh

Prentice-Hall, Englewod

Cliffs, NewJersey.

t3l.

Ourston,

L. &

J.C.

Bared,

tggs,

Roundabouts:

A

Direct Way

to

Safer

Highways,,

Public

Rontls,

Auntunrn

1995, Internet.

l4l.

TRB,

1985,

Ifighway

Capaciry

Manual,

Special

Report

Z0g,

Transportation

Research

Board.

Washington, D.C.

pJ.

Homb'uryer, W.S.,

ed.,

et.

al.,

1982.

Trnnsportatlon

nnd

Traffic

Englueering

llandbooh

2net' ed.,

Prmtic+H*ll,

Englewood

Cliffs"

New

Jersey.

16l.

Pline,

J.L.,

ed.,1992,

Traflic

Engineering

H*ndboo\

4ttr

ed.,

Institute

of

Transportation Engineers.

Prentice-Hall, Englewood

Cliffs,

Nerv

Jersey.

Jurnal llmiah Bidang Sains - Telorologi Mtnni Disiplin dan Antar Disiplin, Vol II, No. 6, kptenber 2A09

46

Gambar

Tabel 1. Kriteria Tingkat Pelayanan
Tabel 4. Penundaan berhenti rata-rata danlalu lintas

Referensi

Dokumen terkait

Dari penjelasan di atas, maka minat terhadap mata pelajaran yang dimiliki siswa bukan merupakan faktor bawaan sejak lahir, tetapi dipelajari melalui proses

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KETAHANAN TUBUH PADA BAYI USIA 6-7 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOMBA OPU..

Dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa terdapat 12 (30,8%) responden yang mengatakan insentif kurang baik, jadi untuk meningkatkan kinerja perawat di RSUD

anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur

Merakit (pemasangan setiap komponen, handle, poros pemutar, dudukan handle alas atas bawah, dan saringan).. Mengelas (wadah dengan alas atas, saringan, handle, dan

Dengan produk-produk seperti pinjaman pribadi tanpa jaminan atau kredit pemilikan rumah, kreditur akan mengenakan suku bunga yang tinggi terhadap konsumen yang berisiko

Berdasarkan pada analisa pasar dapat disimpulkan bahwa proyek ini layak untuk dijalankan, mengingat belum adanya pesaing langsung dalam bisnis ini walaupun pesaing

Penukar Nasi : Bahan ini umumnya digunakan sebagai makan pokok. Satu porsi nasi setara dengan ¾ gelas atau 100 gram, mengandung 175 kalori, 4 gram protein dan 40. gram