PENGARUH PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN, RISIKO LIKUIDITAS, DAN RISIKO OPERASIONAL TERHADAP KINERJA BPR SYARIAH (Studi Kasus pada BPR Syariah Provinsi Jawa Tengah dan DIY yang Terdaftar di OJK Periode 2013-2016) - repository perpustakaan

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian BPRS

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah salah satu lembaga keuangan perbankan syariah, yang pola operasionalnya mengikuti prinsip-prinsip syariah maupun muamalah islam. BPRS berdiri berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Pada pasal 1 (butir 4) UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa BPRS adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberi jasa lalu lintas pembayaran. BPR yang melakukan kegiatan usaha dalam prinsip syariah selanjutnya diatur menurut Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/1999 tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah. Dalam hal ini, secara teknis BPR Syariah bisa diartikan sebagai lembaga keuangan sebagaimana BPR Konvensional, yang operasinya menggunakan prinsip-prinsip syariah terutam bagi hasil (Muchtar, 2016:3).

(2)

membutuhkan. BPRS sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan lumbung desa, bank desa, bank tani, dan bank dagang desa atau bank pasar. BPRS tidak hanya berfumgsi sekedar menyalurkan kredit kepada para pengusaha mikro, kecil, dan menengah, tetapi juga menerima simpanan dari masyarakat dengan prinsip-prinsip syariah (Muchtar, 2016:101).

Menurut Suyanto (2016:3-5) prinsip kerja BPRS yang mengandalkan kecepatan dan kemudahan namun tetap memakai asas kehati-hatian berdasarkan prinsip syriah selalu punya daya tarik bagi para pelaku usaha. Prosedur kerja BPRS lebih cepat dan mudah karena struktur organisasi BPRS jauh lebih ramping dan pendek daripada bank umum. Target marker BPRS adalah melayani kebutuhan petani, peternak, nelayan, pedagang, pengusaha kecil, pegawai dan pensiunan karena sasaran ini belum terjangkau oleh bank umum, selain untuk pemerataan layanan perbankan, pemerataan kesempatan berusaha, pemerataan pendapatan, dan agar mereka tidak jatuh ke tangan pelepas uang atau rentenir.

2. Definisi Risiko

(3)

pertimbangan pada saat ini. Menurut Joel G. Siegel dan Jae K.Shim mendefinisikan risiko pada tiga hal,

a. Risiko adalah keadaan yang mengaruh pada sekumpulan hasil kasus, dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemengkunan yang telah diketahui oleh pengambil keputusan

b. Risiko adalah variasi dalam keuntungan, penjualan, atau variable keuntungan lainya

c. Risiko adalah kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi perusahaan keuangan, seperti risiko ekonomi, ketidakpastian politik, dan masalah industri.

Lebih jauh Joel G. Siegel dan Jae K.Shim menjelaskan pengertian dari analisis risiko adalah proses pengukuran dan penganalisaan risiko disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi (Fahmi, 2014:536).

3. Risiko Pembiayaan

(4)

terdapat kesalahan dari pihak bank dalam proses persetujian pembiayaan (IBI, 2015:67).

Penentuan besarnya risiko pembiayaan atau lebih dikenal dengan pengukuran risiko pembiayaan pada pembiayaan komersial maupun pembiayaan konsumsi dilakukan dengan pendekatan berbeda. Pendektan pengukuran individual lebih umum dilakukan pada pembiayaan korporasi dan komersial, antara lain dengan menggunakan sitem rating. Sementara, pada pembiayaan konsumsi untuk mengukur besarnya risiko pembiayaan pada umumnya dilakukan dengan pendekatan portofolio. Apabila terjadi peningkatan risiko pembiayaan yang signifikan terhadap bank maka bank tersebut dapat mengalami gangguan kemampuan membayar kepada sumber dana. Apabila ini terjadi maka kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana mereka di bank dapat berkurang (IBI, 2015:67).

Oleh karena itu, BPRS perlu meningkatkan pengelolaan terhadap risiko pembiayaannya agar tingkat pembiayaan bermasalah atau NPF (Non Performing Financing) tidak melebihi dari ketentuan dari OJK (Otoritas

Jasa Keungan). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3/POJK.03/2016 tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah menetapkan bahwa rasio NPF (Non Performing Financing) maksimal 7% dari total pembiayaan.

Menurut Syafri (2011:310) cara menghitung NPF (Non Performing Financing) atau kredit bermasalah sebagai berikut :

(5)

4. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk melunasi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko likuiditas disebabkan oleh adanya transaksi finansial atau komitmen. Oleh sebab itu, bank harus mengidentifikasi setiap transaksi finansial yang mempunyai implikasi terhadap likuiditas bank dan mengelola kondisi likuiditas secara hati-hati (IBI, 2015:136).

Pengelolaan risiko likuiditas merupakan salah satu aktivitas terpenting yang dilakukan bank. Kekurangan likuiditas pada suatu bank selain berdampak pada bank tersebut dapat pula menimbulkan efek lebih luas pada sistem perbankan secara keseluruhan. Oleh sebab itu, dalam pengelolaan risiko likuiditas, diperlukan penerapan strategi yang tepat dan pengawasan yang efektif yang diimplementasikan melalui proses-proses yang sudah dilakukan validasi dalam pengukuran risiko likuiditas (IBI, 2015:136).

(6)

Pembiayaan Rakyat Syariah menetapkan bahwa rasio FDR (Financing to Deposit Ratio) kisaran 78%-100%. Apabila FDR berada di bawah

ketentuan OJK menunjukan kurangnya efektivitas bank dalam menyalurkan pembiayaannya sehingga hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Jika FDR lebih dari 100% menunjukan pembiayaan yang disalurkan melebihi dana yang dihimpun sehingga bank akan mengalami kekurangan dana untuk mencukupi kewajibanya. Menurut Suyanto (2016:149) Cara menghitung FDR (Financing to Deposit Ratio) adalah sebagai berikut :

5. The Liability Management Theory

Teori manajemen liabilitas (the liability management theory) merupakan teori bagaimana bank dapat mengelola pasivanya sedemikian rupa sehingga pasiva tersebut dapat menjadi sumber likuiditas. Teori ini beranggapan bahwa suatu bank dalam menjaga likuiditas minimumnya dilakukan dengan cara mempunyai jaringan pinjaman yang cukup banyak, baik dari rekanan maupun dari call money atau sumber lainnya. Teori manajemen liabilitas beranggapan bahwa suatu bank yang memiliki likuiditas tinggi maka kegiatan bank tersebut akan semakin cepat dalam memenuhi kewajibannya atau lebih cepat dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu memperoleh keuntungan (Fahmi, 2014:20).

(7)

6. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan system, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Rasio yang digunakan untuk mengukur risiko operasional adalah BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional). BOPO sering disebut sebagai rasio efisiensi, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasinal terhadap pendapatan operasionalnya. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3/POJK.03/2016 tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah menetapkan bahwa rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) maksimal 94% (IBI 2015:143).

Jika suatu bank memiliki BOPO lebih dari ketentuan yang telah ditentukan maka bank tersebut masuk dalam katagori tidak efisien, karena semakin tinggi BOPO berarti peningkatan biaya operasionalnya semakin besar daripada peningkatan pendapatan operasional sehingga laba yang diperoleh menurun. Menurut Suyanto (2016:139) BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) dapat diukur dengan cara :

7. Definisi Manajemen Risiko

Menurut Fahmi (2014:536) manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan

(8)

ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komperhensif dan sistematis. Dengan diterapkannya manajemen risiko di suatu perusahaan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, yaitu:

a. Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan, sehingga para manajer menjadi lebih berhati-hati dan selalu menempatkan ukuran-ukuran dalam berbagai keputusan.

b. Mampu memberi arah bagi suatu perusahaan dalam melihat pengaruh-pengaruh yang mungkin timbul secara jangka pendek dan jangka panjang. c. Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu

menghindari risiko dan menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya kerugian dari segi finansial.

d. Memungkinkan perusahaan memperoleh risiko kerugian yang minimum. e. Dengan adanya konsep manajemen risiko yang dirancang secara detail

maka artinya perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara berkelanjutan.

(9)

8. Definisi Risiko Perbankan

Risiko perbankan adalah risiko yang dialami sektor bisnis perbankan sebagai bentuk dari berbagai keputusan yang dilakukan dalam berbagai bidang seperti keputusan penyaluran kredit/pembiayaan dan berbagi bentuk keputusan finansial lainya, dimana itu telah menimbulkan kerugian terbesar adalah dalam bentuk financial. Risiko perbankan adalah berfokus pada masalah finansial karena bisnis perbankan adalah bisnis yang bergerak di bidang jasa keuangan. Bank menyediakan fasilitas yang mampu memberikan kemudahan kepada publik sebagai nasabahnya untuk memperlancar segala urusannya yang menyangkut dengan masalah keuangan. Karena fungsinya sebagai mediasi maka bank harus mampu menyediakan atau memberikan kemudahan itu, seperti kemampuan simpanan, kemudahan dalam menarik kembali dana dalam jumlah yang disesuaikan, kemudahan dalam urusan mencairkan kredit termasuk rendahnya biaya admistrasi yang ditanggung, dan perhitungan yang dilakukan secara cepat dan akurat (Fahmi 2015:193-194)

9. Definisi Kinerja Keuangan

(10)

kewajibanya terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Menurut Suyanto (2016:138) salah satu untuk menukur kesehatan perbankan adalah kemampuan perbankan dalam memperoleh keuntungan. Bila perbankan selalu mengalami kerugian dalam kegiatan operasinya, tentu saja lama-kelamaan kerugian tersebut akan menguras modalnya. Perbankan yang demikian dapat dikatakan tidak sehat. Penilaian kinerja keuangan atau kesehatan perbankan didasarkan pada rentabilitas atau profitabilitas, yaitu dengan melihat kemampuan perbankan dalam

menciptakan laba. Penilaian dalam unsur ini dilakukan dengan cara :

10. The Anticipated Income Theory

Dalam teori antisipasi pendapatan, bank layak memberikan kredit/pembiayaan jangka panjang yang pelunasannya dijadwalkan sesuai dengan ketetapan waktu. Jadwal pembayaran dalam bentuk angsuran pokok dan bunga akan menjadi supplier arus kas secara teratur dan akhirnya kebutuhan likuiditas pun terpenuhi. Teori antisipasi pendapatan mengutamakan likuiditas, sehingga bank dapat mengantisipasi kewajiban sesegera mungkin dan memprediksikan alat-alat lancar yang akan masuk.

ROA =

Total Aktiva

(11)

Teori ini mendorong bank untuk memperlakukan pinjaman jangka panjang sebagai potensi sumber likuiditas (Fahmi, 2014:20).

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian ini menggunakan acuan yang berasal dari penelitian-penelitian sebelumnya, yang dijadikan perbandingan dalam melakukan penelitian. Penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

NO PENELITI JUDUL/JURNAL VARIABEL HASIL

1 Ni Wayan

Profitabilitas BPR di Kota Denpasar/

Risiko Kredit tidak berpengaruh terhadap Likuiditas , Efisiensi Operasional , NPL, NIM Dan DER Terhadap

Profitabilitas Bank Pengkreditan Rakyat yang Terdaftar di OJK Purwokerto signifikan terhadap ROA.

BOPO memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap positif dan signifikan terhadap ROA. Perbankan , dan

Depeneden :

(12)

Terhadap Kinerja signifikan terhadap ROA.

LDR berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. BOPO berpengaruh negatif tidak signifikn terhadap ROA. Rentabilitas BPR di Kabupaten Mageleng simultan CAR, NPL, LDR, dan BOPO terhadap ROA. terdapat pengaruh positif dan signifikan CAR terhadap ROA. terdapat pengaruh negatif dan signifikan NPL terhadap ROA. terdapat pengaruh positif dan signifikan LDR terhadap ROA. Terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara

BOPO terhadap ROA

5 Suhardi &

NPL berpengaruh positif tidak Modal , Tingkat Efisiensi , Risiko Kredit , dan Likuiditas pada Profitabilitas LPD Kabupaten Bandung

(13)

7 Sekar Sari

secara simultan rasio NPL, CR, dan LDR

CR tidak berpengaruh terhadap

2011 Analisis Pengaruh Rasio CAR, NIM, BOPO, dan LDR terhadap ROA di BPR BKK Jawa negatif dan signifikan terhadap ROA ROE

10 Muhammad the Profitability of Islamic Banks of Pakistan

Ukuran bank tidak ada pengaruh terhadap ROA ROE. Gearing ratio terhadap ROA ROE. BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA ROE. 11 Idowu Abiola

The Impact of Credit Risk Management on the Commercial

Risiko Kredit (NPL) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja bank (ROA ROE).

(14)

Permodalan

(CAR) dan tidak signifikan terhadap kinerja bank (ROA ROE) Dana pihak ketiga berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA ROE FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA ROE NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA ROE (NPF=NPL)

C. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran ini mencoba untuk menguraikan tentang hubungan sebab akibat antara penerapan manajemen risiko dan pengaruhnya terhadap kinerja keuangan BPRS di provinsi Jawa Tengah dan DIY. Dasar pemikiran dari penetapan judul ini adalah diawali dengan adanya pengelolaan risiko sesuai diuraikan secara lengkap pada Peraturan OJK No. 4/POJK.03/2015 tentang “Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat” dan No. 13/POJK.13/2015 tentang “Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Perkreditan Rakyat” (Suyanto, 2016:167).

(15)

iktitad baik untuk memenuhi kewajiban kepada pihak bank, atau memang terdapat kesalahan dari pihak bank dalam proses persetujuan pembiayaan. Penelitian tentang manajemen risiko pembiayaan telah dilakukan terlebih dahulu oleh Muhammad (2011), Sekar (2012), Lia (2013), Aamir (2014), Idowu (2014), dan Made (2015). Mereka sependapat bahwa risiko pembiayaan atau NPF (Financing to Deposit Ratio) berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan atau ROA (Return on Asset).

Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk melunasi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko likuiditas disebabkan oleh adanya transaksi finansial atau komitmen. Oleh sebab itu, bank harus mengidentifikasi setiap transaksi finansial yang mempunyai implikasi terhadap likuiditas bank dan mengelola kondisi likuiditas secara hati-hati. Penelitian sebelumnya tentang risiko likuiditas yang telah dilakukan oleh Rendy (2011), Sekar (2012), Lia (2013), Suhardi (2013), Made (2015), (Riesty 2015), dan Ni Wayan (2016). Mereka sependapat bahwa risiko likuiditas atau FDR (Financing to Deposit Ratio) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan atau ROA (Return on Asset).

(16)

mempengaruhi operasional bank. Penelitian tentang risiko operasional yang dilakukan oleh Made (2015), Suhardi (2013), Trias (2013), Riesty (2015), dan Ni Wayan (2016) sependapat bahwa risiko operasional atau BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keuangan atau ROA (Return on Asset).

Meskipun terjadi variasi pada variabel penelitian, namun peneliti mencoba melakukan penelitian kembali untuk mengetahui kinerja keuangan BPRS di Jawa Tengah dan DIY dengan menggunakan alat uji yang lazim dipergunakan dalam mengukur kinerja keuangan BPRS dengan optimalisasi ROA (Return on Asset) , minimalisasi NPF (Non Performing Financing), minimalisasi FDR (Financing to Deposit Ratio), dan

minimalisasi BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional), diharapkan akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan BPRS. Berdasarkan penelitian terdahulu maka kerangka penelitian sebagai bekut.

Kinerja Keuangan

BPRS (ROA) (Y) Risiko Pembiayaan (NPF) (X1)

Risiko Likuiditas (FDR) (X2)

Biaya Oprasional (BOPO) (X3)

H (+) H (−)

(17)

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran, maka rumusan hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1 :Penerapan manajemen risiko pembiayaan, manajemen risiko likuiditas, dan manajemen risiko operasional secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan BPRS

H2 :Penerapan manajemen risiko pembiayaan berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja keungan BPRS

H3 :Penerapan manajemen risiko likuiditas berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan BPRS

Figur

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu p.11
Gambar 2.1 Kerangka pemikiran

Gambar 2.1

Kerangka pemikiran p.16

Referensi

Memperbarui...