INVIGORASI DAN TINGKAT POPULASI UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU BENIH KACANG BAMBARA (Vigna subterranea L. Verdc.) AKSESI SUMEDANG DAN TASIKMALAYA

63 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

INVIGORASI DAN TINGKAT POPULASI UNTUK

PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU BENIH KACANG

BAMBARA (

Vigna subterranea

L. Verdc.) AKSESI

SUMEDANG DAN TASIKMALAYA

RINA AGUSTINA

A24120016

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Invigorasi dan Tingkat Populasi untuk Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) Aksesi Sumedang dan Tasikmalaya adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2016

Rina Agustina

(4)
(5)

ABSTRAK

RINA AGUSTINA. Invigorasi dan Tingkat Populasi untuk Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) Aksesi Sumedang dan Tasikmalaya. Dibimbing oleh ABDUL QADIR.

Kacang bambara memiliki kandungan gizi tinggi dan toleran terhadap kondisi kering tetapi produktivitasnya masih rendah. Penelitian ini bertujuan memperoleh teknik invigorasi dan tingkat populasi yang tepat untuk meningkatkan produksi dan mutu benih kacang bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) aksesi Sumedang dan Tasikmalaya. Penelitian dilaksanakan di Desa Kampung Jawa, Situgede, Bogor dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB pada bulan November 2015 hingga Juni 2016. Percobaan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dengan ulangan sebagai kelompok (Split Plot

RKLT). Perlakuan invigorasi (petak utama) terdiri atas tiga taraf yaitu tanpa invigorasi, matriconditioning + Rhizobium sp., dan hydropriming. Faktor kedua tingkat populasi (anak petak) terdiri atas tiga taraf yaitu 250.000 ha-1, 100.000 ha-1, dan 66.667 ha-1. Perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. pada kedua aksesi memberikan pertumbuhan vegetatif terbaik meliputi daya tumbuh, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Aksesi Sumedang menghasilkan produktivitas tertinggi pada kombinasi perlakuan tanpa invigorasi dengan populasi 100.000 ha-1 yaitu menghasilkan 2,07 ton polong basah dan 0,81 ton polong kering. Aksesi Tasikmalaya menghasilkan produktivitas tertinggi pada populasi 66.667 ha-1 yaitu 4,13 ton polong basah dan 1,54 ton polong kering. Hasil panen perlakuan invigorasi dan tingkat populasi tidak berpengaruh terhadap mutu fisiologi benih. Kata kunci : hydropriming, matriconditioning, Rhizobium sp.

ABSTRACT

Bambara groundnut has a high nutrient content and tolerant of dry conditions but productivity is still low. The research aims to obtain appropriate invigoration techniques and population level to increase the production and seed quality of bambara groundnut (Vigna subterranea L. Verdc.) Accession Sumedang and Tasikmalaya. The research was conducted at Kampung Jawa, Situ Gede, Bogor and Seed Science and Technology Laboratory of IPB in November 2015 until June 2016. Research was arranged by split plot design of randomized complete block design (Split Plot RCBD). Treatment invigoration (main plot) consists of three levels is without invigoration, matriconditioning + Rhizobium

sp., and hydropriming. The second factor is population level (subplot) consists of three levels is 250.000 ha-1, 100.000 ha-1, and 66.667 ha-1. Treatment of matriconditioning + Rhizobium sp. on both accession provides the best growth include field emergence, plant height, and number of leaves. Accession Sumedang produce the highest productivity in the combination treatment without invigoration with a population of 100.000 ha-1, which produces 2,07 tons of wet pods and 0,81 tons of dry pods. Accession Tasikmalaya produce the highest productivity in a population of 66.667 ha-1 is 4,13 tons of wet pods and 1,54 tons of dry pods. Yields of invigoration treatment and population levels had no effect on the quality seed phisiology.

(6)
(7)

INVIGORASI DAN TINGKAT POPULASI UNTUK

PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU BENIH KACANG

BAMBARA(

Vigna subterrranea

L. Verdc.) AKSESI

SUMEDANG DAN TASIKMALAYA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INTSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016

RINA AGUSTINA

A24120016

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga karya ilmiah berjudul Invigorasi dan Tingkat Populasi untuk Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) Aksesi Sumedang dan Tasikmalaya dapat disusun dan diselesaikan dengan baik.

Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan melalui doa dan kasih sayang.

2. Dr. Ir. Abdul Qadir, M.Si. sebagai dosen pembimbing skripsi yang senantiasa memberikan bimbingan, saran, dan dukungan dalam penyelesaian tugas akhir. 3. Dr. Ir. Hariyadi, M.S. sebagai dosen pembimbing akademik yang telah

memberikan bimbingan dan nasihat selama penulis menempuh pendidikan di Departemen Agronomi dan Hortikultura.

4. Dr. Ir. Asep Setiawan, M.S. dan Dr. Ir. Ketty Suketi, M.Si. sebagai Dosen Penguji dan Wakil Urusan pada ujian akhir yang telah memberikan saran untuk perbaikan skripsi.

5. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Agronomi dan Hortikultura.

6. Happy Suryati, S.P., M.Si. yang telah membantu penulis dalam pendanaan dan selama proses penelitian.

7. Bapak Karna dan keluarga yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian di lapang.

8. Fida Sumayyah, Riri Damayanti, Feryra Yulfina sebagai teman satu bimbingan skripsi yang senantiasa membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian dan mendorong penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.

9. Suryani Humayyah, Eska Ayu Wardhani, Lia Nuryanah, Devi Kurnia Aprilianti, Tri Restu Wahyuningtyas, Iin Nurbaetun, Ahmad Yani, dan Gofarudiansyah yang telah bersedia memberikan bantuan dan semangat selama penelitian dan penyelesaian tugas akhir.

10. Teman-teman di Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 49 dan Gerakan Pramuka SMAN 1 Rancabungur atas kebersamaan, motivasi, dan semangat yang diberikan kepada penulis.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.

Bogor, September 2016

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR ix DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan 2 Hipotesis 2 TINJAUAN PUSTAKA 2

Botani Kacang Bambara dan Karakteristik Morfologi Kacang

Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) 2

Syarat Tumbuh Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) 3 Aksesi Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) 3

Invigorasi Benih 4

Tingkat Populasi 5

Produksi dan Pengujian Mutu Benih 6

METODE PENELITIAN 7

Tempat dan Waktu 7

Bahan dan Alat 8

Rancangan Percobaan 8

Pelaksanaan Percobaan 9

Pengamatan 11

Analisis Data 12

HASIL DAN PEMBAHASAN 12

Kondisi Umum 12

Aksesi Sumedang 12

Aksesi Tasikmalaya 23

KESIMPULAN DAN SARAN 32

Kesimpulan 32

Saran 33

DAFTAR PUSTAKA 33

LAMPIRAN 39

(14)
(15)

DAFTAR TABEL

1 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya

terhadap daya tumbuh benih 14

2 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya

terhadap pertumbuhan tinggi tanaman 15

3 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya

terhadap pertumbuhan jumlah daun 16

4 Pengaruh invigorasi, populasi, dan interaksi keduanya terhadap

diameter kanopi 17

5 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan ulangan terhadap bobot

kering brangkasan 18

6 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh invigorasi, populasi, interaksi keduanya, dan kelompok terhadap produksi dan mutu benih 19 7 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan ulangan terhadap

produksi benih kacang bambara 19

8 Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap bobot

basah polong per petak 21

9 Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap bobot

kering polong per petak 22

10 Daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan kecepatan tumbuh benih hasil panen perlakuan invigorasi dan perbedaan

tingkat populasi 23

11 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi dan interaksi keduanya

terhadap daya tumbuh benih 23

12 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya

terhadap pertumbuhan tinggi tanaman 24

13 Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap tinggi

tanaman 6 MST 25

14 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya

terhadap pertumbuhan jumlah daun 26

15 Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap

jumlah daun 6 MST 27

16 Pengaruh invigorasi, populasi, dan interkasi keduanya terhadap

diameter kanopi 27

17 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan ulangan terhadap bobot

kering brangkasan 28

18 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh invigorasi, populasi, interaksi keduanya, dan kelompok terhadap produksi dan mutu benih 29

(16)
(17)

19 Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan ulangan terhadap

produksi benih kacang bambara 30

20 Daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan kecepatan tumbuh benih hasil panen perlakuan invigorasi dan perbedaan

tingkat populasi 32

DAFTAR GAMBAR

1 Rata-rata curah hujan dan kelembaban bulanan 7

2 Rata-rata suhu bulanan 8

3 Perlakuan invigorasi benih 9

4 Kondisi umum lahan percobaan 13

5 Gejala penyakit busuk batang pada pertanaman 31

DAFTAR LAMPIRAN

1 Denah percobaan 40

2 Hasil analisis tanah di lokasi penelitian 41 3 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh invigorasi, populasi, interaksi

keduanya, dan kelompok terhadap pertumbuhan kacang bambara

aksesi Sumedang 42

4 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh invigorasi, populasi, interaksi keduanya, dan kelompok terhadap pertumbuhan kacang bambara

(18)
(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang bambara (Vigna subterranea) merupakan tanaman yang berasal dari Afrika Utara (Swanevelder, 1998) dan saat ini tanaman tersebut ditanam di dataran Senegal sampai Kenya, dari Sahara hingga Afrika Selatan dan Madagaskar (IPGRI, 2000). Menurut Kuswanto et al. (2012), penyebaran kacang bambara di Indonesia meliputi Sukabumi, Majalengka, Tasikmalaya, Bandung, Jawa Tengah (Pati dan Kudus), Jawa Timur (Gresik), Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan lebih dikenal dengan sebutan kacang Bogor karena telah lama beradaptasi dengan baik di wilayah Bogor dan bagian timur Jawa Barat.

Komoditas kacang bambara merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang potensial dikembangkan di Indonesia dan termasuk ke dalam future crop

karena kandungan gizi yang tinggi dan jenis legum yang paling toleran terhadap kondisi kering (National Academy of Science, 1979). Kandungan gizi kacang bambara yaitu rata-rata 63% karbohidrat, 19% protein, dan 5,6% lemak (FAO, 2015). Kondisi pertanaman kacang bambara di Indonesia belum banyak mendapat perhatian karena produktivitasnya yang tergolong rendah. Menurut Redjeki (2003), kacang bambara yang ditanam pada kondisi lingkungan suboptimum dapat menghasilkan 0,77 ton biji kering ha-1 dan dapat mencapai 4 ton biji kering ha-1 pada kondisi optimum.

Kacang bambara yang dibudidayakan oleh petani masih dalam bentuk populasi campuran dengan variasi warna kulit dan ukuran biji (Kuswanto et al., 2012). Petani biasanya menanam kacang bambara sebagai tanaman sampingan dan belum terlalu dikenal karena produktivitas tanaman yang tergolong rendah. Hal tersebut disebabkan belum tersedianya benih yang seragam, tanaman berumur panjang (4-5 bulan), dan potensi genetik kacang bambara yang belum banyak diteliti. Ketidakseragaman benih dapat berupa warna maupun ukuran benih yang bervariasi dan berkaitan dengan mutu benih.

Salah satu periode kritis dalam siklus kehidupan tanaman ialah periode antara benih mulai ditanam dengan munculnya kecambah, karena pada saat tersebut benih dihadapkan pada beragam kondisi lingkungan tumbuh yang berpengaruh terhadap munculnya kecambah serta vigor kecambah. Invigorasi benih ialah perlakuan yang diberikan terhadap benih sebelum penanaman dengan tujuan memperbaiki perkecambahan dan pertumbuhan kecambah. Beberapa perlakuan invigorasi benih juga digunakan untuk menyeragamkan pertumbuhan kecambah dan meningkatkan laju pertumbuhan kecambah. Rendahnya persentase tanaman tumbuh di lapangan merupakan masalah utama bagi petani kecil, terutama pada lahan tadah hujan dan mempunyai fasilitas pengairan terbatas (Arief dan Koes, 2010).

Upaya peningkatan produksi benih kacang bambara dapat dilakukan melalui teknik invigorasi dan perbaikan teknik budidaya. Informasi mengenai populasi optimum untuk produksi benih kacang bambara sangat dibutuhkan. Tipe pertumbuhan yang berbeda dari berbagai aksesi kacang bambara akan berpengaruh terhadap populasi optimum pada setiap aksesi.

(20)

Tujuan

Penelitian ini bertujuan memperoleh teknik invigorasi dan tingkat populasi yang tepat untuk meningkatkan produksi dan mutu benih kacang bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) aksesi Sumedang dan Tasikmalaya.

Hipotesis

1. Terdapat perlakuan invigorasi yang menghasilkan produksi dan mutu benih kacang bambara yang maksimum.

2. Terdapat tingkat populasi optimum yang menghasilkan produksi dan mutu benih kacang bambara yang maksimum.

3. Terdapat interaksi antara perlakuan invigorasi dan tingkat populasi yang menghasilkan produksi dan mutu benih kacang bambara yang maksimum.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Kacang Bambara dan Karakteristik Morfologi Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.)

Kacang bambara dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bambara groundnut memiliki klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Super divisi : Sprematophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) Sub kelas : Rosidae

Ordo : Fabeles

Famili : Fabaceae (polong-polongan) Genus : Vigna

Spesies : Vigna subterranea L. Verdc. (PROHATI, 2010).

Tanaman kacang bambara merupakan herba semusim dengan cabang-cabang lateral yang menjalar di atas tanah (Ditjen TP, 2013). Morfologi kacang bambara berbentuk tandan hingga tersebar dengan batang menjalar bercabang banyak. Akar memiliki bintil bercuping. Berdaun tiga, gundul, tegak dengan panjang hingga 30 cm, dan tangkai daun beralur. Daun berbentuk menjorong hingga melanset sungsang berukuran hingga 8 cm x 4 cm dan memiliki bunga berwarna kuning keputihan. Buah dalam tanah, berbentuk agak membulat, berdiameter sekitar 2,5 cm, dan biasanya hanya dengan 1 biji (PROHATI, 2010). Ginofor lebih pendek dibandingkan ginofor kacang tanah dan polong berwarna hijau menempel di permukaan tanah (Redjeki, 2007).

Kacang bambara termasuk tanaman menyerbuk sendiri. Morfologi bunga hampir sama dengan bunga kacang tanah, baik bentuk, susunan, maupun warnanya. Penyerbukan sendiri pada kacang bambara sangat didukung oleh

(21)

struktur bunganya. Tanaman kacang-kacangan jenis ini memiliki banyak keragaman. Keragaman tersebut diantaranya dapat terlihat dari warna biji kacang bambara. Beberapa warna kulit biji kacang bambara seperti putih, krem, coklat, ungu, hitam, hingga bertutul-tutul (Canda et al., 2011). Berdasarkan penelitian Hamid (2009), warna hipokotil dari kacang bambara yang benihnya berkulit ari ungu dan merah adalah putih dengan tangkai daun berwarna hijau muda. Tanaman kacang bambara memasuki fase generatif pada umur 42 HST dan semua populasi telah berbunga pada umur 70 HST.

Kacang bambara memiliki keragaman yang luas pada karakter panjang daun, panjang tangkai daun, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bunga, panjang tangkai bunga, panjang mahkota bunga, panjang biji, dan lebar biji pada 29 galur kacang bambara (Austi et al., 2014).

Syarat Tumbuh Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) Kacang bambara dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian 1.600 m dari permukaan laut. Kondisi iklim yang dibutuhkan kurang lebih sama dengan kacang tanah. Suhu rata-rata yang dibutuhkan adalah 19 – 27oC, dengan penyinaran matahari yang cukup. Curah hujan yang dikehendaki berkisar antara 500-3.500 mm per tahun (Ditjen TP, 2013). Drainase tanah yang baik dan gembur sangat dibutuhkan kacang bambara untuk memudahkan perkembangan Rhizobium, bintil akar, dan perkembangan buah di dalam tanah. Pemeliharaan kacang bambara saat memasuki fase berbunga harus dilakukan dengan lebih berhati-hati karena kondisi tangkai bunga yang lebih lemah daripada kacang tanah dan sulit menembus permukaan tanah. Kondisi tanah yang ringan juga dapat mempermudah proses penggalian polong ketika panen (Nasional Academy of Science, 1979).

Kacang bambara merupakan jenis legum yang paling toleran terhadap kondisi kering dan lahan marginal. Kemampuan tersebut membuat tanaman ini banyak dikembangkan di daerah kering Afrika (Nasional Academy of Science, 1979). Menurut Redjeki (2007), tanaman kacang bambara memiliki titik kritis akan kebutuhan air, yaitu pada saat pengisian polong. Kekurangan air dapat mengakibatkan polong menjadi sedikit karena ginofor mengering sebelum terbentuk polong.

Aksesi Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc.)

Aksesi adalah hasil eksplorasi terhadap tumbuhan atau tanaman lokal (Hermanto, 2008). Menurut Wicaksana et al. (2013), perbedaan jenis aksesi kacang bambara terlihat melalui semua karakteristik morfo-agronomis (tipe pertumbuhan, karakter morfologi daun, batang, bunga, polong, biji, dan karakteristik tanaman). Menurut tipe pertumbuhan, kacang bambara memiliki tiga tipe pertumbuhan, yaitu bergerombol, semi bergerombol, dan menyebar.

Hasil pengamatan Wicaksana et al. (2013), dari 163 aksesi kacang bambara asal Jawa Barat sebagian besar aksesi kacang bambara asal Jawa Barat yang diamati memiliki tipe tumbuh menyebar yaitu Bandung (85,19%), Garut (100,00%), Majalengka (77,78%), Sumedang (94,44%) dan Tasikmalaya

(22)

(88,00%). Karakter bentuk daun yang mendominasi pada tanaman kacang bambara asal Jawa Barat adalah lanceolate dan elliptic dengan variasi tertinggi ditemukan pada aksesi asal Majalengka (round 5,56%; lanceolate 50,00%, dan

elliptic 44,44%) dan Tasikmalaya (round 1,33%; lanceolate 57,33% dan elliptic

41,33%). Penelitian Manggung et al. (2016), menggunakan empat aksesi kacang bambara yaitu aksesi Sukabumi, Bogor, Sumedang testa cokelat, dan sumedang testa hitam menunjukkan bahwa keempat aksesi tersebut memiliki keragaman morfologi meliputi warna plumula, tangkai daun, testa biji, dan bentuk daun.

Invigorasi Benih

Invigorasi adalah proses yang dilakukan untuk meningkatkan vigor benih yang telah mengalami deteriorasi atau kemunduran. Invigorasi yang diberikan pada benih sebelum tanam akan meningkatkan viabilitas benih dengan membantu memperbaiki perkecambahan melalui imbibisi air secara terkontrol. Air berperan penting dalam proses fisiologis perkecambahan. Menurut Murniati (2013), air berperan untuk reaktivasi enzim, melunakkan kulit benih, transport metabolit, dan memungkinkan masuknya oksigen.

Metode invigorasi meliputi hidrasi-dehidrasi, osmoconditioning, dan

matriconditioning (Nurmauli dan Nurmiaty, 2008). Priming ialah teknik invigorasi benih yang merupakan suatu proses yang mengontrol proses hidrasi dehidrasi benih untuk berlangsungnya proses-proses metabolik menjelang perkecambahan (Haris et al., 2004). Menurut Khan (1992), priming dengan kombinasi bahan padatan, benih, dan air untuk mengatur air, oksigen, dan suhu yang berpengaruh terhadap proses perkecambahan. Bahan-bahan yang dapat digunakan berupa larutan garam (osmoconditioning) atau campuran bahan organik padatan dan air (matriconditioning) untuk memperoleh keseimbangan potensial air antara benih dan media osmotik yang diperlukan untuk conditioning. Menurut Kubik et al. (1989), matriconditioning mengontrol proses hidrasi benih ialah menggunakan bahan matriks padatan dengan potensial matriks rendah.

Hasil penelitian bahwa perlakuan priming pada benih dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit pada beberapa tanaman dan pada tanaman lainnya dapat mengatasi defisiensi beberapa unsur hara mikro (Harris et al., 2004).

Priming yang terbaik menurut Basra et al. (2003) ialah selama 24 jam yang diikuti dengan matriconditioning dengan karung goni selama 24 jam. Murungu et al.

(2004) menyimpulkan bahwa keuntungan priming pada benih jagung ialah perbaikan pertumbuhan awal tanaman dan percepatan tumbuhnya kecambah, namun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian Arief (2009) pada benih gandum bahwa pemberian perlakuan priming

secara umum berpengaruh terhadap daya berkecambah, keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah, dan panjang akar primer kecambah gandum varietas Nias (baru panen dan simpan 18 bulan) dan varietas Dewata (baru panen dan disimpan 18 bulan).

Invigorasi benih melalui proses priming berpengaruh positif terhadap pertumbuhan awal tanaman, pertumbuhan kecambah, dan kecepatan tumbuh kecambah pada tanaman jagung dan gandum. Keberhasilan perlakuan priming

(23)

spesies tanaman, potensial air dari bahan priming, lama waktu priming, suhu udara, dan suhu media tanam serta vigor benih (Arief dan Koes, 2010).

Perlakuan invigorasi menggunakan matriconditioning dan matri-conditioning plus Rhizobium sp. terbukti efektif meningkatkan viabilitas (daya berkecambah dan bobot kering normal) dan vigor (kecepatan tumbuh dan indeks vigor) benih kacang bambara dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan invigorasi lainnya. Perlakuan matricoditioning plus Rhizobium sp. juga me-ningkatkan tinggi tanaman dan hasil kacang bambara (jumlah polong per tanaman dan bobot basah polong per petak) dibandingkan dengan perlakuan invigorasi lainnya dan kontrol (Ilyas dan Sopian, 2013). Perlakuan matriconditioning

menggunakan arang sekam plus inokulan B. japonicum dan A. lipoferum selama 12 jam pada suhu kamar terbukti dapat meningkatkan mutu benih dan pertumbuhan tanaman kedelai. Sifat efektif tersebut ditandai dengan nilai daya hantar listrik yang rendah dan daya berkecambah, kecepatan tumbuh relatif, indeks vigor, jumlah nodul, bobot kering akar, dan bobot kering tajuk yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan invigorasi benih lainnya (Ningsih, 2003).

Berdasarkan penelitian Nurmauli dan Yayuk (2010), benih kedelai yang diberi perlakuan invigorasi (pelembaban dan perendaman) ternyata memiliki persentase muncul bibit, kecepatan tumbuh bibit, tinggi bibit, panjang hipokotil, panjang akar, bobot kering akar, dan bobot kering bibit normal yang tinggi daripada benih yang tidak diinvigorasi. Hal ini bahwa invigorasi dengan cara hidrasi dehidrasi yaitu pelembaban dan perendaman dalam air kemudian dikeringkan ternyata dapat mengoptimalkan viabilitas benih kedelai yang telah disimpan selama 8 bulan. Menurut Sutariati et al. (2014), perlakuan invigorasi + rizobakteri pada benih padi lokal dapat mengatasi permasalahan dormansi fisiologis yang terjadi pada saat benih padi gogo lokal dipanen, sekaligus mampu meningkatkan viabilitas dan vigor benih. Penggunaan rizobakteri Bacillus

CKD061 dan P. fluorescens PG01, baik yang diintegrasikan dengan teknik invigorasi menggunakan matriconditioning serbuk bata merah atau serbuk arang sekam terbukti lebih efektif meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi gogo lokal dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Tingkat Populasi

Populasi tanaman adalah jumlah satu jenis individu tanaman pada suatu areal dengan luas tertentu. Menurut Bunyamin dan Awaludin (2013), produksi tanaman per satuan luas ditentukan oleh produksi per tanaman dan jumlah tanaman per satuan luas. Menurut Jumin (2005), kepadatan populasi bergantung pada jarak tanam, banyaknya benih tiap lubang, daya kecambah, kekuatan tumbuh benih, dan faktor-faktor luar yang dapat menimbulkan kematian pada tanaman. Kerapatan tanaman penting diketahui untuk menentukan sasaran agronomi, yaitu produksi maksimum. BPPSP (2015) menyebutkan bahwa populasi tanaman terkait erat dengan jarak tanam dan mutu benih yang merupakan salah satu penentu produktivitas pada tanaman jagung.

Menurut Harjadi (1966), jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman dan keefisienan penggunaan cahaya, juga mempengaruhi kompetisi antara tanaman dalam menggunakan air dan zat hara, sehingga akan mempengaruhi hasil.

(24)

Populasi yang lebih besar akan mengefisienkan penggunaan pupuk karena tercapainya keefisienan penggunaan cahaya. Umumnya produksi per satuan luas yang tinggi tercapai dengan populasi yang tinggi pula, karena tercapainya penggunaan cahaya secara maksimum di awal pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing tanaman secara individu menurun karena persaingan cahaya dan faktor-faktor tumbuh lainnya.

Menurut Harjadi (1979), umumnya hasil maksimum per satuan luas tercapai pada populasi tinggi, tetapi hasil pertanaman menjadi rendah karena terjadinya persaingan antar tanaman untuk mendapatkan zat hara, cahaya, dan faktor tumbuh lainnya. Menurut Loomis dan William (1969), tinggi tanaman, lebar tajuk, dan sudut daun mempengaruhi kemampuan intersepsi radiasi yang diterima oleh tanaman. BPPSP (2015) menyebutkan bahwa jarak tanam menentukan populasi. Semakin rapat jarak tanam maka semakin banyak populasi. Kondisi seperti ini membuat kemungkinan terjadinya persaingan semakin besar dalam hal mendapatkan faktor-faktor tumbuh (CO2, cahaya, air, dan hara). Tanaman yang ditanam dengan jarak tanam yang lebar, jumlah populasi semakin sedikit, tidak efisien dalam pemanfaatan lahan, terjadi kebocoran energi matahari, dan tanah terbuka sehingga memacu pertumbuhan gulma terutama gulma berdaun sempit sehingga jarak tanam harus diatur untuk mendapatkan populasi yang optimun sehingga diperoleh hasil yang maksimum.

Lebar tajuk dapat mempengaruhi populasi optimum pada pertanaman kacang bambara karena tipe pertumbuhannya yang berbeda, yaitu bergerombol (bunch), semi bergerombol (semibunch), dan menyebar (spreading) (Hamid, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2014), kacang bambara varietas lokal yang ditanam menggunakan jarak tanam 60 cm x 60 cm menghasilkan bobot polong basah dan kering, jumlah polong bernas, serta bobot biji per tanaman yang nyata paling besar dibandingkan jarak tanam lain. Tetapi jika dilihat berdasarkan peubah bobot polong per petak, penggunaan jarak tanam 50 cm x 25 cm memberikan hasil bobot polong basah terbesar dan berbeda nyata dengan tanaman yang ditanam menggunakan jarak tanam 60 cm x 60 cm, sedangkan untuk peubah bobot polong kering per petak tanaman yang berjarak tanam 60 cm x 25 cm memberikan hasil yang nyata lebih besar dibandingkan jarak tanam 50 cm x 50 cm dan 60 cm x 60 cm yaitu sebesar 2,04 ton ha-1. Penggunaan jarak tanam 40 cm x 40 cm menghasilkan bobot biji ha-1 tertinggi dan hanya berbeda nyata dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm.

Penelitian (Turmudi dan Suprijono, 2004) menunjukkan bahwa kacang bambara yang ditanam dengan kerapatan 100.000 ha-1 menghasilkan jumlah polong per tanaman yang nyata lebih besar dibandingkan dengan kerapatan tanaman 200.000 ha-1. Hal tersebut dikarenakan pada kerapatan tanaman 100.000 ha-1 kanopi tanaman tidak saling menutupi sehingga tanaman mendapatkan unsur hara, air, dan cahaya matahari yang optimum.

Produksi dan Pengujian Mutu Benih

Produksi benih merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam memperbanyak segenggam benih dari varietas unggul menjadi benih dengan jumlah yang sesuai kebutuhan dan mutu yang sudah ditentukan. Kegiatan dalam produksi benih

(25)

mencakup prinsip agronomis (memaksimalkan potensi hasil) dan prinsip genetik (mempertahankan standar mutu terutama mutu genetik). Salah satu kegiatan dalam prinsip agronomis adalah penentuan tingkat populasi tanaman yang akan menentukan terhadap pemanfaatan hara dan radiasi matahari yang optimum. Populasi tanaman dikatakan baik jika populasi yang ditentukan menyebabkan pengaturan jarak tanam yang kanopi antar tanaman relatif tidak tumpang tindih (Qadir, 2013). Setelah benih diproduksi maka akan melalui proses pengolahan benih. Tahapan pengolahan benih yaitu penerimaan, prapengolahan, pengeringan, pembersihan, pemilahan, perlakuan benih, dan pengemasan (Suhartanto, 2013).

Mutu benih adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh benih yang kemampuan untuk memenuhi standar yang ditentukan (Wahyuni dan Hadipoentyanti, 2015). Mutu benih mencakup mutu fisik, fisiologis, genetis, dan memenuhi persyaratan kesehatan benih. Mutu fisik benih diukur dari kebersihan benih, bentuk, ukuran, dan warna cerah homogen serta benih tidak mengalami kerusakan mekanis atau kerusakan karena serangan hama dan penyakit. Mutu fisiologis diukur dari viabilitas benih, kadar air, maupun daya simpan benih sedangkan mutu genetik diukur dari tingkat kemurniannya (Widajati et al., 2013).

Informasi mengenai mutu benih didapatkan dari pengujian. Pengujian benih dikelompokkan berdasarkan metode pengujian dan indikasi yang dihasilkan diantaranya pengujian langsung dengan indikasi langsung, pengujian langsung indikasi tidak langsung, pengujian tidak langsung indikasi langsung, dan pengujian tidak langsung indikasi tidak langsung (Kartika, 2013).

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Desa Kampung Jawa, Situgede, Bogor dan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dramaga. Lahan percobaan berada pada ketinggian 207 m dpl.

Gambar 1. Rata-rata curah hujan dan kelembaban bulanan

673.2 579.7

415

610 644 558.2 Rata-rata curah hujan (mm)

83 84.6 86 89 86 85 Rata-rata kelembaban (%)

(26)

Sumber: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Darmaga, Bogor

Gambar 2. Rata-rata suhu bulanan selama percobaan.

Menurut data BMKG (2016), rata-rata curah hujan bulanan selama November 2015 hingga April 2016 berkisar antara 415 mm hingga 673,2 mm. Rata-rata kelembaban bulanan berkisar antara 83% hingga 89 % dan rata-rata suhu bulanan berkisar antara 25,7oC hingga 26,7 oC (Gambar 1 dan 2). Penelitian telah dilaksanakan pada bulan November 2015 hingga Juni 2016.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih kacang bambara (Vigna subterranea L. Verdc.) aksesi Sumedang dan aksesi Tasikmalaya yang merupakan hasil panen petani antara bulan Maret-April 2015 dan Rhizobium sp. yang berasal dari Balai Penelitian Tanah, Cimanggu, Bogor. Bahan lainnya adalah arang sekam, aquades, pupuk kandang, pupuk urea, SP-36, KCl, karbofuran, insektisida, dan fungisida. Alat yang digunakan diantaranya blender, saringan 0,5 mm, timbangan digital, oven, amplop, pasir, bak pengecambah, alat tulis, alat dokumentasi, dan mistar. Peralatan lainnya berupa alat - alat untuk produksi tanaman berupa cangkul, kored, tugal, ember, label, ajir, dan gembor.

Rancangan Percobaan

Percobaan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dengan ulangan sebagai kelompok (Split Plot RKLT). Petak utama adalah perlakuan invigorasi yang terdiri atas tiga taraf, yaitu kontrol (I0), matriconditioning (I1), dan

hydropriming (I2). Faktor kedua yang menjadi anak petak adalah tingkat populasi yang terdiri atas tiga taraf, yaitu 250.000 ha-1 (P1), 100.000 ha-1 (P2), dan 66.667 ha-1 (P3). Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali untuk aksesi Sumedang dan Tasikmalaya sehingga terdapat 54 satuan percobaan. Denah percobaan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Model linier Rancangan petak terbagi (Split Plot), adalah : Yijk = + Kk + αi + dik + βj + (αβ)ij + ɛijk

26.3

26.1

26.4

25.7

26.5 26.7

November Desember Januari Februari Maret April Rata-rata suhu (0C)(oC)

(27)

Keterangan:

Yijk = Nilai pengamatan pada faktor tingkat populasi taraf ke-i, faktor taraf ke- j, ulangan ke-k

= Nilai tengah umum

Kk = Pengaruh aditif dari kelompok ke-k

αi = Pengaruh utama faktor tingkat populasi taraf ke-i

dik = Komponen acak dari petak utama yang menyebar normal βj = Pengaruh utama faktor invigorasi taraf ke-i

(αβ)ij = Komponen interaksi dari faktor tingkat populasi ke-i dan faktor invigorasi ke-j

ɛijk = Komponen acak dari anak petak yang menyebar normal.

Pelaksanaan Percobaan 1. Persiapan bahan tanam dan pengolahan lahan

Persiapan bahan tanam dilakukan dengan pengadaan benih kacang bambara aksesi Sumedang dan Tasimalaya masing-masing sebanyak 3,7 kg. Jumlah petakan yang dibutuhkan adalah 54 dengan ukuran 3 m x 3 m sehingga dibutuhkan lahan seluas ± 608 m2. Pengolahan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam kemudian diberikan pupuk kandang ayam dengan dosis 10 ton ha-1.

2. Perlakuan benih Tanpa invigorasi

Benih yang tidak diberi perlakuan invigorasi langsung ditanam di lahan percobaan (Gambar 3a).

Matriconditioning+ Rhizobium sp.

Perlakuan matriconditioning plus Rhizobium sp (Gambar 3b) menggunakan perbandingan 5 : 3 : 3 : 0,03 (benih : arang sekam : air : Rhizobium sp.). Arang sekam terlebih dahulu dihaluskan menggunakan blender dan disaring menggunakan saringan 0,5 mm. Benih, arang sekam, air, dan Rhizobium sp. dicampurkan dan disimpan di dalam ruang AC dengan suhu rata-rata 25°C selama 3 hari (Ilyas dan Sopian, 2013). Selama perlakuan matriconditioning

berlangsung dilakukan pengadukan sekali setiap hari.

a. Tanpa invigorasi

b. Matriconditioning + Rhizobium sp. c. Hydropriming

Gambar 3. Perlakuan invigorasi benih

(28)

Hydropriming

Perlakuan benih dengan metode hydropriming (Gambar 3c) yaitu benih direndam dalam aquades selama 24 jam dan diletakkan di ruangan dengan suhu 28°C. Benih yang telah diinvigorasi kemudian diletakkan pada tissue dan dikeringanginkan selama ± 3 jam sebelum ditanam (Safiatou, 2012).

3. Penanaman

Penanaman kacang bambara dengan populasi 250.000 ha-1 (P1) digambar-kan dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga terdapat 225 tanaman pada setiap petak, populasi 100.000 ha-1 (P2) digambarkan dengan jarak tanam 50 cm x 20 cm sehingga terdapat 90 tanaman pada setiap petak, dan populasi 66.667 ha-1 (P3) digambarkan dengan jarak tanam 60 cm x 25 cm sehingga terdapat 60 tanaman pada setiap petak.

Upaya perlindungan benih dari hama melalui pemberian karbofuran dengan dosis 30 kg ha-1 pada lubang tanam. Setiap satuan percobaan diberi label percobaan dan ditancapkan di sudut petakan.

4. Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan, penyiangan gulma, pembumbunan, dan pengairan (jika diperlukan). Pemupukan menggunakan pupuk urea, SP-36, dan KCl hanya dilakukan pada saat awal tanam karena berkaitan dengan sifat tanaman kacang bambara yang dapat membentuk bintil akar dan memfiksasi nitrogen. Pemupukan diberikan berdasarkan hasil analisis tanah yang telah dilakukan sebelumnya. Ketiga pupuk tersebut dicampur dan diberikan dengan cara membuat lubang di samping tanaman. Dosis pupuk yang digunakan adalah 61,39 kg N ha-1, 45,5 kg SP-36 ha-1, dan 61,63 kg KCl ha-1 (Fitriesa, 2015).

Penyiangan gulma dilakukan secara manual menggunakan kored atau cangkul. Pembumbunan dilakukan saat tanaman berumur 4 MST, 7 MST, 10 MST, dan 13 MST. Pembumbunan dilakukan dengan tujuan menggemburkan tanah sehingga bunga dapat masuk ke dalam tanah dan mendukung pembentukan dan perkembangan polong di dalam tanah.

5. Penentuan tanaman contoh

Penentuan tanaman contoh dilakukan ketika tanaman berumur 2 MST. Setiap satuan percobaan dipilih 5 tanaman contoh secara acak dengan ketentuan bukan tanaman pinggir sehingga terdapat 270 tanaman contoh dari keseluruhan percobaan. Tanaman contoh tersebut digunakan untuk pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, lebar kanopi, dan pengamatan hasil panen per tanaman.

6. Pemanenan

Panen dilakukan ketika tanaman sudah memasuki fase masak fisiologis yaitu ketika lapisan parenkim sekitar embrio telah menghilang dan polong berwarna coklat.

7. Pengolahan benih

Benih yang telah dipanen akan melalui tahapan pengolahan benih diantaranya, pembersihan, pengeringan, pemilahan, dan pengupasan.

8. Pengujian mutu benih

Pengujian mutu fisiologis benih diawali dengan penetapan kadar air pada setiap aksesi. Kemudian benih dikecambahkan pada media pasir. Benih yang diguna-kan sebanyak 50 butir setiap satuan percobaan yang ditanam pada bak plastik

(29)

dan diletakkan pada ruangan yang bersuhu 25oC (ISTA, 2014). Pasir yang akan digunakan harus dilembabkan terlebih dahulu dan dijaga kelembabannya sela-ma pengujian dengan menyemprotkan air pada media.

Pengamatan Pengamatan yang dilakukan diantaranya,

1. Daya tumbuh benih diamati ketika tanaman berumur 10 HST (ISTA, 2014) 2. Tinggi tanaman yang dikur dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi

sejak tanaman berumur 2 MST hingga 10 MST 3. Jumlah daun (trifoliate)

4. Lebar kanopi dengan mengukur bagian luar kanopi menggunakan mistar secara menyilang sejak tanaman berumur 6 MST, 8 MST, dan 10 MST

5. Bobot kering brangkasan pada fase vegetatif, generatif, dan berpolong, dan panen dengan mengambil 1 tanaman dari setiap petak. Brangkasan dioven menggunakan suhu 60oC selama 3 hari.

Pengamatan untuk peubah panen

1. Bobot basah polong per petak termasuk polong dari 5 tanaman contoh 2. Bobot basah polong per tanaman diambil 5 tanaman contoh dari setiap petak 3. Bobot kering polong per tanaman

4. Bobot kering polong per petak termasuk polong dari 5 tanaman contoh

5. Bobot kering brangkasan diambil dari 1 tanaman contoh yang telah dioven menggunakan suhu 60oC selama 3 hari

6. Produktivitas polong basah dan kering kacang bambara yang selanjutnya akan dikonversi ke dalam satuan ha.

Pengujian mutu benih dilakukan setelah benih dikeringkan dan peubah yang diamati diantaranya:

1. Daya berkecambah

Benih dikecambahkan menggunakan media pasir dan ditanam 25 butir tiap sampel Daya berkecambah dihitung berdasarkan ketentuan dari ISTA (2014) yaitu 5 HST (hitungan I) dan 10 HST (hitungan II)

DB (%) = kecambah normal hitungan 1+kecambah normal hitungan 2Jumlah benih yang dikecambahkan x 100% Keterangan : DB = Daya berkecambah (%)

2. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM)

Potensi Tumbuh Maksimum adalah total benih hidup atau gejala hidup (Sadjad, 1994). Potensi tumbuh maksimum dihitung berdasarkan jumlah kecambah normal dan abnormal yang tumbuh sampai akhir pengamatan. PTM dihitung dengan rumus:

PTM = Keterangan:

PTM = Potensi tumbuh maksimum (%) Σ KN = jumlah kecambah normal Σ KAN = jumlah kecambah abnormal 3. Kecepatan tumbuh

(30)

Kecepatan tumbuh benih dihitung berdasarkan persentase kecambah normal yang tumbuh pada setiap 24 jam (/etmal) dengan persamaan berikut (Widajati, 2013).

Kecepatan tumbuh = ∑𝑖=𝑛𝑖=0%Kn/etmal Keterangan :

Kn = Kecambah normal 4. Kadar air benih

Kadar air benih ditetapkan menggunakan metode langsung menggunakan oven dengan suhu tinggi konstan (130oC ± 2oC) selama 1 jam. Setiap sampel untuk penetapan kadar air benih menggunakan 4,5 g ± 0,5 g benih kemudian dioven menggunakan wadah yang berdiamater 5 – 8 cm. Penetapan kadar air menggunakan persamaan berikut (Widajati, 2013).

KA (%) = M2−M1M2−M3 x 100% Keterangan :

KA = Kadar air (%)

M1 = Massa cawan + tutup (g)

M2 = Massa benih + M1 sebelum oven (g) M3 = Massa benih + M1 setelah dioven (g) 5. Bobot kering kecambah normal

Kecambah normal yang telah dihitung jumlahnya dilepaskan dengan bagian kotiledon kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60oC selama 3 hari. Selanjutnya kecambah ditimbang menggunakan timbangan digital.

Analisis Data

Data dianalisis dengan uji F, apabila memberikan pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT dengan taraf α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum

Secara umum kondisi pertanaman kacang bambara saat penelitian cukup baik. Awal pertanaman hingga akhir percobaan tanaman tidak pernah mengalami kekurangan air karena selama bulan November 2015 hingga April 2016 curah hujan bulanan di daerah tersebut lebih dari 401 mm yang termasuk ke dalam curah hujan yang sangat tinggi (BMKG, 2016).

(31)

a. Lahan percobaan sebelum tanam b. Kondisi tanaman 4 MST

c. gulma dominan (Portulaca sp.) pada awal pertumbuhan tanaman Gambar 4. Kondisi umum lahan percobaan

Tanaman kacang bambara ditanam pada lahan yang relatif datar (Gambar 4). Kacang bambara aksesi Sumedang dan Tasikmalaya mulai berbunga pada 38 HST hingga akhir pertanaman. Menurut Hamid (2009), tanaman kacang bambara memasuki fase generatif pada umur 42 HST, mencapai 75% berbunga pada 56 HST, dan 100% berbunga pada 70 HST. Menurut Juwita (2012), tanaman kacang bambara memasuki masa generatif pada umur 41 HST dan 50% populasi tanaman kacang bambara telah berbunga pada umur 50 HST.

Daun trifoliate terbentuk sepanjang hidup tanaman. Menurut Manggung et al. (2016), kacang bambara termasuk tanaman indeterminate, pertumbuhan vegetatif masih berlangsung meskipun telah memasuki stadia generatif. Benih kacang bambara aksesi Sumedang dan Tasikmalaya dipanen saat berumur 23 MST. Waktu panen tersebut termasuk ke dalam waktu panen yang lebih lama dikarenakan selama penelitian berlangsung curah hujan yang terjadi sangat tinggi sehingga waktu yang dibutuhkan untuk pemasakan polong menjadi lebih lama. Kacang bambara dapat dipanen pada 122 HST (Hamid, 2009) dan 111 HST (Dita, 2012).

Kondisi lahan ketika tanaman berumur 3 MST ditumbuhi banyak gulma

Portulaca sp. (Gambar 3). Gulma lain yang juga tumbuh di sekitar pertanaman diantaranya Eleusin indica (golongan rumput), Cyperus iria (golongan teki), dan golongan daun lebar seperti Cleome rutidosperma, Phylanthus niruri, Euphorbia hirta, dan Amaranthus dibius. Hama yang menyerang pertanaman yaitu ulat jengkal (Plusia sp.), kutu daun, belalang (Valanga nigricornis), dan kepik hijau (Nezaraviridula) namun kondisi serangannya termasuk ringan sehingga relatif

a b

(32)

tidak mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman. Penyakit yang menyerang pertanaman meliputi penyakit busuk batang, bercak daun, dan tanaman kerdil akibat virus.

Aksesi Sumedang Daya Tumbuh

Berdasarkan rekapitulasi sidik ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara faktor invigorasi dengan tingkat populasi pada semua peubah pertumbuhan tanaman kacang bambara. Peubah daya tumbuh benih diamati ketika tanaman berumur 10 HST (ISTA, 2014). Tabel 1 memperlihatkan bahwa faktor yang mempengaruhi daya tumbuh adalah perlakuan invigorasi. Tabel 1. Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya terhadap

daya tumbuh benih

Perlakuan Daya tumbuh (%)

1. Invigorasi

Tanpa invigorasi 74,5b

Matriconditioning + Rhizobium sp. 87,5a

Hydropriming 79,9ab Uji F * 2. Tingkat populasi 250.000 tanaman ha-1 81,0 100.000 tanaman ha-1 78,5 66.667 tanaman ha-1 82,5 Uji F tn

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata.

Perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. menghasilkan daya tumbuh yang nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol yaitu sebesar 87,5%, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan hydropriming. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Fitriesa (2015) yang menunjukkan bahwa benih kacang bambara yang diberikan perlakuan invigorasi memiliki daya tumbuh nyata lebih tinggi (87,72%) dibandingkan benih yang tidak diberikan perlakuan invigorasi. Perlakuan invigorasi sebelum benih ditanam akan meningkatkan viabilitas benih dengan membantu memperbaiki perkecambahan melalui imbibisi air secara terkontrol.

Hasil tersebut sangat berkaitan dengan fungsi air dalam proses perkecambahan. Menurut Murniati (2013), proses imbibisi merupakan tahap awal perkecambahan dimana air yang terserap oleh benih akan mengaktivasi enzim-enzim sehingga terjadi peningkatan respirasi untuk inisiasi pertumbuhan embrio sampai retaknya kulit benih dan munculnya akar menembus kulit benih. Selain itu

(33)

fungsi air dalam perkecambahan adalah untuk melunakkan kulit benih, transport metabolit, dan memungkinkan masuknya oksigen.

Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter kanopi

Hasil rekapitulasi sidik ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman 2 MST dan jumlah daun 2 MST serta berpengaruh nyata pada jumlah daun 4 MST dan 8 MST. Tingkat populasi berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 4 MST dan 6 MST, jumlah daun 6 MST, dan bobot kering brangkasan 12 MST serta berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman pada 2 MST dan 8 MST, jumlah daun 8 MST, serta bobot kering brangkasan panen.

Tabel 2. Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya terhadap pertumbuhan tinggi tanaman

Perlakuan Tinggi tanaman (cm)

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST

1. Invigorasi

Tanpa invigorasi 16,34c 35,37 42,32 50,31

Matriconditioning + Rhizobium sp. 19,05a 35,72 42,55 51,33

Hydropriming 17,33b 34,96 42,39 51,45

Uji F ** tn tn tn

2. Tingkat populasi

250.000 tanaman ha-1 17,88a 37,28a 45,10a 53,07a

100.000 tanaman ha-1 17,74a 34,69b 41,21b 51,13ab

66.667 tanaman ha-1 17,11b 34,09b 40,95b 48,88b

Uji F * ** ** *

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F tn tn tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata.

Tabel 2 memperlihatkan bahwa perlakuan matriconditioning + Rhizobium

sp. memberikan pertumbuhan tinggi tanaman yang nyata lebih besar dibandingkan tanaman tanpa invigorasi dan perlakuan hydropriming pada awal pertumbuhan (2 MST) sebesar 19,05 cm. Kacang bambara yang berumur 2 MST dengan tingkat populasi 250.000 tanaman ha-1 mengalami pertumbuhan tinggi yang nyata lebih besar dibandingkan pada populasi 66.667 tanaman ha-1 tetapi tidak berbeda nyata dengan populasi 100.000 tanaman ha-1.

Tanaman pada umur 4 MST semakin mengalami pertambahan ukuran sehingga ruang tumbuh yang tersedia berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Menurut Turmudi dan Suprijono (2004), pada tingkat populasi yang padat kanopi tanaman cenderung saling menutupi sehingga untuk mendapatkan cahaya matahari tanaman mengalami pertumbuhan tinggi yang cepat dan daun yang terbentuk cenderung lebar dan tipis.

(34)

Kacang bambara aksesi Sumedang memiliki daun trifoliate berbentuk

lanceolate yang terus terbentuk hingga tanaman mati. Daun berperan penting dalam proses fotosintesis. Menurut Darmawan dan Baharsjah (2010), daun berperan sebagai tempat terjadinya fotosistensis yang akan menangkap energi matahari untuk pembentukan bahan organik. Tabel 3 menunjukkan rata-rata jumlah daun pada setiap perlakuan.

Tabel 3. Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya terhadap pertumbuhan jumlah daun

Perlakuan Jumlah daun

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 1. Invigorasi

Tanpa invigorasi 3,06c 11,42b 33,74 73,11b

Matriconditioning + Rhizobium sp. 3,45a 12,76a 35,91 79,64a

Hydropriming 3,25b 11,43b 34,20 74,51b

Uji F ** * tn *

2. Tingkat populasi

250.000 tanaman ha-1 3,27 11,76 30,92b 72,66b 100.000 tanaman ha-1 3,26 12,00 35,18a 74,73b 66.667 tanaman ha-1 3,23 11,85 37,74a 79,86a

Uji F tn tn ** *

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F tn tn tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata.

Pertumbuhan jumlah daun pada perlakuan matriconditioning + Rhizobium

sp. menunjukkan nilai yang lebih besar pada umur 2 MST, 4 MST, dan 8 MST dibandingkan perlakuan invigorasi lainnya (Tabel 3) dengan rata-rata 3,45 helai, 12,76 helai, dan 79,64 helai. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Fitriesa (2015) yang menunjukkan bahwa perlakuan benih dengan matriconditioning, fungisida benomil, dan Rhizobium sp. menghasilkan jumlah daun tertinggi dibandingkan perlakuan matriconditioning lainnya dan tanpa perlakuan.

Perbedaan tingkat populasi memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan jumlah daun ketika tanaman berumur 6 MST dan 8 MST. Ketika tanaman berumur 6 MST tingkat populasi 100.000 tanaman ha-1 dan 66.667 tanaman ha-1 menghasilkan jumlah daun yang lebih tinggi dibandingkan pada populasi 250.000 tanaman ha-1, selanjutnya memasuki umur 8 MST tingkat populasi 66.667 tanaman ha-1 menghasilkan jumlah daun paling tinggi yaitu 79,86 helai. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengaruh tingkat populasi berkaitan dengan umur dan pertumbuhan tanaman. Jumlah daun pada populasi 250.000 tanaman ha-1 dan 100.000 tanaman ha-1 yang lebih sedikit dibandingkan 66.667 tanaman ha-1 pada umur 8 MST menunjukkan bahwa pada tingkat populasi dan umur tersebut menimbulkan persaingan antar tanaman. Menurut Capriyati et al. (2014),

bertambahnya umur tanaman akan diikuti dengan perkembangan tajuk tanaman. Perkembangan tajuk tersebut akan mempengaruhi interaksi antar tanaman dalam memanfaatkan ruang tumbuh, air, unsur hara, dan cahaya.

(35)

Kacang bambara aksesi Sumedang memiliki bentuk kanopi semibunch

karena memiliki lebar tajuk yang kurang dari 80 cm.

Tabel 4. Pengaruh invigorasi, populasi, dan interaksi keduanya terhadap diameter kanopi

Perlakuan Diameter kanopi (cm)

6 MST 8 MST 10 MST 1. Invigorasi Tanpa invigorasi 58,36 73,65 56,13 Matriconditioning + Rhizobium sp. 58,49 73,55 57,84 Hydropriming 58,78 75,53 56,06 Uji F tn tn tn 2. Tingkat populasi 250.000 tanaman ha-1 58,47 73,41 57,64 100.000 tanaman ha-1 59,23 74,93 55,68 66.667 tanaman ha-1 57,92 74,40 56,71 Uji F tn tn tn

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F tn tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata.

Perlakuan invigorasi dan tingkat populasi tidak berpengaruh terhadap diameter kanopi pada 6 MST, 8 MST, maupun 10 MST (Tabel 4). Diameter kanopi maksimal tercapai ketika tanaman berumur 8 MST dengan rata-rata 74,25 cm. Menurut Juwita (2012), diameter kanopi kacang bambara memiliki korelasi positif dengan hasil sehingga peubah diameter kanopi dapat dijadikan sebagai faktor penentu produksi (jumlah polong).

Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi tidak berpengaruh terhadap bobot kering brangkasan. Tingkat populasi terlihat pengaruhnya ketika tanaman berumur 12 MST. Hal tersebut berkaitan dengan intensitas cahaya yang dapat melewati kanopi semakin berkurang saat kanopi tanaman semakin lebat. Berdasarkan penelitian Djukri (2005) pada tanaman kedelai menunjukkan bahwa semakin bertambah umur tanaman maka akan terjadi penurunan intensitas cahaya yang terdistribusi melewati kanopi. Semakin bertambah umur tanaman kanopinya semakin lebat, sehingga tingkat naungannya semakin besar. Semakin kecil intensitas cahaya yang melewati kanopi biomassanya semakin kecil. Absorbsi energi cahaya akan dimanfaatkan untuk pembentukan fotosintat yang disimpan dalam berbagai organ. Indikator tersimpannya fotosintat tersebut ditunjukkan pada bobot kering tanaman atau biomassa.

Populasi yang paling rendah yaitu 66.667 tanaman ha-1 menghasilkan bobot kering brangkasan yang nyata lebih tinggi 84,49 g pada 12 MST dan 59,68 g pada saat panen dibandingkan dengan tingkat populasi lainnya (Tabel 5).

(36)

Tabel 5. Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan interaksi keduanya terhadap bobot kering brangkasan

Perlakuan Bobot kering brangkasan (g)

4 MST 8 MST 12 MST 23 MST 1. Invigorasi Tanpa invigorasi 3,67 30,40 58,08 54,44 Matriconditioning + Rhizobium sp. 4,25 32,58 66,30 43,36 Hydropriming 3,50 23,68 68,55 57,37 Uji F tn tn tn tn 2. Tingkat populasi 250.000 tanaman ha-1 3,38 26,80 45,73b 44,87b 100.000 tanaman ha-1 3,84 28,70 62,71b 50,61b 66.667 tanaman ha-1 4,20 31,17 84,49a 59,68a

Uji F tn tn ** *

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F tn tn tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata, data ditransformasi menggunakan √𝑥 + 0,5.

Menurut Capriyati et al. (2014), bahan kering merupakan penimbunan hasil bersih fotosintesis selama proses pertumbuhan. Bahan kering akan dialokasikan untuk pertumbuhan tajuk, akar, dan hasil tanaman. Menurut Arfian (1992), terdapat korelasi antara jumlah daun trifoliate yang dihasilkan dengan bobot kering brangkasan Hal tersebut sesuai dengan hasil pada penelitian ini. Jumlah daun pada tingkat populasi 66.667 tanaman ha-1 menghasilkan nilai tertinggi pada umur 12 MST (37,74 helai) dan saat panen (79,86 helai) sehingga berpengaruh pada bobot kering brangkasan yang dihasilkan.

Produksi dan pengujian mutu benih

Rekapitulasi sidik ragam pada peubah pengamatan produksi dan pengujian mutu benih dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi tidak memberikan pengaruh terhadap produksi per petak yang meliputi bobot basah polong dan bobot kering polong sedangkan tingkat populasi berpengaruh sangat nyata terhadap dua peubah tersebut. Berbeda dengan peubah produksi per tanaman, perlakuan invigorasi berpengaruh nyata terhadap bobot basah polong per tanaman dan berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering polong per tanaman sedangkan tingkat populasi berpengaruh nyata terhadap bobot basah polong per tanaman dan berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering polong per tanaman.

Hasil panen benih dari tanaman yang diberi perlakuan invigorasi dan ditanam dengan perbedaan tingkat populasi tidak berpengaruh nyata terhadap peubah pengujian mutu benih yang meliputi daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan kecepatan tumbuh benih.

(37)

Tabel 6. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh invigorasi, populasi, interaksi keduanya, dan kelompok terhadap produksi dan mutu benih

Peubah pengamatan Invigorasi (I)

Populasi (P)

Interaksi

(IxP) Kelompok KK (%) Bobot basah polong per petak tn ** ** tn 15,97 Bobot basah polong per tanaman * * tn tn 18,95 Bobot kering polong per petak tn ** ** * 14,52 Bobot kering polong per tanaman ** ** tn * 15,84

Daya berkecambah tn tn tn ** 8,82

Potensi tumbuh maksimum tn tn tn tn 5,93

Kecepatan tumbuh tn tn tn ** 8,96

Bobot kering kecambah normal tn tn tn * 8,87

Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata pada taraf 5%.

Tabel 7 memperlihatkan bahwa perlakuan hydropriming memberikan hasil bobot basah polong per tanaman yang nyata lebih tinggi (29,42 g) dibandingkan perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. tetapi tidak berbeda nyata dengan hasil dari tanaman tanpa invigorasi. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada peubah bobot kering polong per tanaman, perlakuan hydropriming, dan tanpa invigorasi memberikan hasil tertinggi.

Tabel 7. Pengaruh invigorasi, tingkat populasi, dan ulangan terhadap produksi benih kacang bambara

Perlakuan Peubah produksi (g) Bobot basah polong per petak Bobot basah polong per tanaman Bobot kering polong per petak Bobot kering polong per tanaman 1. Invigorasi

Tanpa invigorasi 1101,2 32,46a 378,99 12,08a

Matriconditioning + Rhizobium sp. 733,2 16,64b 261,05 6,76b

Hydropriming 1074,9 29,42a 366,91 10,60a

Uji F tn * tn **

2. Tingkat populasi

250.000 tanaman ha-1 530,2b 18,26b 185,61b 6,72b 100.000 tanaman ha-1 1136,2a 29,46a 410,77a 13,19a

66.667 tanaman ha-1 1242,9a 30,79a 410,57a 9,53a

Uji F ** * ** **

3. Interaksi invigorasi dan tingkat populasi

Uji F ** tn ** tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata, data ditransformasi menggunakan √𝑥 + 0,5.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Fitriesa (2015), perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. memberikan bobot benih per tanaman yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (tanpa perlakuan) sedangkan

(38)

perlakuan matriconditioning, fungisida dan Rhizobium sp. serta perlakuan

matriconditioning dan fungisida merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan bobot polong kering per tanaman yang paling tinggi.

Tanaman dengan perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. mengalami pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan perlakuan hydropriming dan tanpa invigorasi tetapi menghasilkan produksi polong per tanaman yang paling rendah yaitu 16,64 g polong basah dan 6,76 g polong kering. Hal tersebut karena pada perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. terjadi persaingan individu tanaman dalam mengalokasikan hasil asimilat antara bagian vegetatif dan generatif (pengisian polong). Penelitian Mas’udah (2008) menjelaskan bahwa persaingan di dalam tanaman untuk mengalokasikan asimilat antara bagian generatif dan vegetatif mengakibatkan jumlah polong kacang tanah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit.

Perbedaan tingkat populasi berpengaruh nyata pada semua peubah produksi (Tabel 7). Tingkat populasi 66.667 tanaman ha-1 menghasilkan bobot basah polong per petak (1.242,9 g), bobot kering polong per petak (410,57 g), bobot basah polong per tanaman (30,79 g), dan bobot kering polong pertanaman (9,53 g) yang nyata lebih tinggi dibandingkan populasi 250.000 tanaman ha-1 tetapi tidak berbeda nyata dengan populasi 100.000 tanaman ha-1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat populasi 100.000 tanaman ha-1 masih memberikan kondisi yang optimum dan tidak menyebabkan persaingan antar tanaman dalam pemanfaatan sarana tumbuh seperti cahaya, air, hara, dan ruang tumbuh sehingga dapat menghasilkan bobot polong yang tinggi.

Tanaman dengan tingkat populasi 250.000 tanaman ha-1 lebih rentan terhadap serangan penyakit karena iklim mikro yang terbentuk di sekitar tanaman menjadi lebih lembab yang disebabkan oleh kanopi tanaman yang saling menutupi. Penyakit busuk batang akibat cendawan Scelrotium rolfsii lebih cepat menyerang dan menyebar pada populasi padat (250.000 tanaman ha-1). Hal ini juga yang mempengaruhi hasil polong pada populasi tersebut menjadi lebih sedikit. Kondisi lingkungan yang juga memicu munculnya penyakit busuk batang adalah curah hujan dan kelembaban yang tinggi saat percobaan. Menurut Balitkabi (2015), lingkungan pertanaman dengan suhu yang hangat dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi yang memicu perkembangan penyakit busuk batang. Penyebab penyakit yaitu cendawan Sclerotium rolfsii mampu tumbuh pada kondisi lembab 55−100%, toleran terhadap pH masam hingga alkalis (pH 4,0−8,0), dan pH 5,5−7,5 merupakan nilai optimum untuk pembentukan sklerosia

Pengaruh interaksi antara kedua faktor (invigorasi dan tingkat populasi) terlihat pada peubah bobot basah polong per petak dan bobot kering polong per petak (Tabel 8 dan Tabel 9). Kombinasi terbaik yang menghasilkan bobot polong basah tertinggi adalah perlakuan tanpa invigorasi pada populasi 100.000 tanaman ha-1 (I0P2) menghasilkan 1.866,9 g polong basah (ukuran petak 3 m x 3 m) dan tidak berbeda nyata dengan kombinasi I2P2, I2P3, dan I1P3. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pada populasi yang lebih rendah (66.667 tanaman ha-1) pemberian invigorasi menggunakan matriconditioning + Rhizobium sp. (I1P3) atau hydropriming (I2P3) mampu menghasilkan bobot basah per petak yang tidak berbeda nyata dengan hasil dari tanaman yang tidak diinvigorasi pada tingkat populasi yang lebih padat (I0P2). Hasil bobot polong basah per petak kombinasi

(39)

I0P2 (1.866,9 g) jika dikonversi ke dalam hasil ha-1 menghasilkan 2,07 ton polong basah. Penelitian Fitriesa (2015) pada aksesi Sumedang testa hitam keunguan menghasilkan bobot basah polong sebanyak 1,99 ton ha-1.

Tabel 8. Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap bobot basah polong per petak

Perlakuan invigorasi

Bobot basah polong per petak (g) Tingkat populasi (tanaman ha-1) 250.000 (P1) 100.000 (P2) 66.667 (P3)

Tanpa invigorasi (I0) 351,9e 1866,9a 1125,5bcd

Matriconditioning + Rhizobium sp. (I1) 772,0cde 676,9de 1173,6abcd

Hydropriming (I2) 530,4e 1292,8abc 1673,0ab

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda artinya berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata, data ditransformasi menggunakan √𝑥 + 0,5.

Teknik invigorasi menggunakan matriconditioning + Rhizobium sp. pada tingkat populasi yang sama dengan kombinasi terbaik yaitu 100.000 tanaman ha-1 (I1P2) menghasilkan polong basah per petak yang lebih rendah yaitu 676,9 g (Tabel 8) dibandingkan tanpa perlakuan invigorasi. Hal tersebut terjadi karena tanaman yang mendapatkan perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. mengalami pertumbuhan vegetatif yang sangat optimal pada peubah pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun sehingga membutuhkan ruang tumbuh yang lebih lebar (populasi rendah) agar tidak terjadi persaingan antar tanaman.

Matriconditioning + Rhizobium sp. pada tingkat populasi yang rendah (I1P3) cenderung meningkatkan hasil polong basah dibandingkan pada dua tingkat populasi lainnya yang lebih padat yaitu menghasilkan 1.173,6 g per petak. Sedangkan kombinasi matriconditioning + Rhizobium sp. pada populasi 100.000 tanaman ha-1 (I1P2) dan 250.000 tanaman ha-1 (I1P3) hanya menghasilkan polong basah per petak sebesar 676,9 g dan 772 g. Hal ini sesuai dengan penelitian Ilyas dan Sopian (2013), kacang bambara yang diberi perlakuan matriconditioning +

Rhizobium sp. pada populasi 33.333 tanaman ha-1 (jarak tanam 50 cm x 60 cm) mampu meningkatkan bobot basah polong per petak dibandingkan perlakuan invigorasi lainnya.

Tabel 9 memperlihatkan interaksi perlakuan terhadap hasil polong kering per petak. Kombinasi tanpa perlakuan invigorasi pada populasi 100.000 tanaman ha-1 (I0P2) menghasilkan bobot polong kering per petak yang paling tinggi yaitu 733,09 g (Tabel 9). Hasil tersebut tidak berbeda nyata dengan kombinasi tanpa invigorasi pada populasi 66. 667 tanaman ha-1 (I0P3) dan teknik hydropriming

pada populasi 66.667 tanaman ha-1 (I2P3). Hasil polong kering petak dengan hasil tertinggi (733,09 g) jika dikonversi ke dalam satuan ha menghasilkan 0,81 ton. Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian Fitriesa (2015) pada benih kacang bambara aksesi Sumedang dengan testa ungu yang menghasilkan 0,59 ton polong kering ha-1. Rendemen polong basah menjadi polong kering ha-1 aksesi Sumedang mencapai 39,3%. Penelitian Ratnapuri (2008) menyebutkan bahwa rendemen polong kering kacang tanah pada 5 varietas berkisar antara 38% hingga 53%.

(40)

Tabel 9. Interaksi perlakuan invigorasi dan tingkat populasi terhadap bobot kering polong per petak

Perlakuan invigorasi

Bobot kering polong per petak (g) Tingkat populasi (tanaman ha-1) 250.000 (P1) 100.000 (P2) 66.667 (P3)

Tanpa invigorasi (I0) 138,23f 733,09a 508,01abc

Matriconditioning + Rhizobium sp. (I1) 328,42cd 273,42de 410,54bcd

Hydropriming (I2) 180,23ef 478,35bc 572,02ab

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda artinya berbeda nyata pada DMRT taraf α 5%, tn = tidak berpengaruh nyata, * dan ** = berpengaruh nyata dan sangat nyata, data ditransformasi menggunakan √𝑥 + 0,5.

Tabel 9 memperlihatkan bahwa kombinasi perlakuan matriconditioning +

Rhizobium sp. pada semua tingkat populasi menunjukkan kecenderungan bahwa bobot polong kering per petak akan mengalami peningkatan ketika populasi tanaman semakin rendah hingga 66.667 tanaman ha-1. Kombinasi matricondition-ing + Rhizobium sp. pada populasi rendah 66.667 tanaman ha-1 (I1P3) menghasil-kan bobot polong kering per petak yang cenderung lebih tinggi dibandingmenghasil-kan hasil dari I1P2 yaitu 410,54 g. Perbedaan yang nyata juga ditunjukan pada perlakuan I0P2 dan I1P2, dua kombinasi tersebut ditanam pada tingkat populasi yang sama yaitu 100.000 tanaman ha-1 tetapi bobot polong kering per petak yang didapat dari tanaman yang diberikan perlakuan matriconditioning + Rhizobium sp. menunjukkan hasil yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman dengan perlakuan invigorasi (matriconditioning + Rhizobium sp. ataupun

hydropriming) membutuhkan tingkat populasi yang lebih rendah dibandingkan tanaman yang tidak diberikan invigorasi untuk dapat menghasilkan bobot polong kering yang tinggi.

Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa hasil panen benih dari perlakuan invigorasi dan perbedaan tingkat populasi tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap mutu benih yang dihasilkan. Benih yang diuji memiliki kadar air 11%. Hasil panen tidak memberikan pengaruh terhadap mutu fisiologis benih yang meliputi peubah pengamatan daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh, dan berat kering kecambah normal. Menurut Widajati et al. (2013), pengujian mutu benih merupakan kegiatan yang harus dilakukan untuk memastikan mutu benih yang dihasilkan. Pengujian mutu benih yang umum dilakukan diantaranya, penetapan kadar air, pengujian daya berkecambah, pengujian potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh benih, dan berat kering kecambah normal. Pengujian tersebut untuk mengetahui viabilitas dan vigor benih yang dihasilkan.

Berbeda hasilnya apabila perlakuan invigorasi dilakukan sebelum pengujian benih seperti yang dilakukan dalam penelitian Sopian (2011) bahwa perlakuan Rhizobium sp., matriconditioning, dan matriconditioning + Rhizobium

sp. pada benih kacang bambara menunjukkan nilai viabilitas dan vigor yang nyata lebih tinggi dibandingkan tanpa perlakuan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :