BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori Pengertian Belajar Menurut Nasution (1982 : 2) belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman

Teks penuh

(1)

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori

2.1.1. Pengertian Belajar

Menurut Nasution (1982 : 2) belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman sendiri. Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku, sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan, maupun kelakuannya. Dengan kata lain ada perbedaan sikap dan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar.

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pengalaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada individu belajar (Sujana, 1989 : 5).

Slameto (2003 : 2) merumuskan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam intraksi dengan lingkungan. Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil intraksi dengan lingkungannya yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2003 : 66).

Brunner dalam Slemeto (2003 : 8) mengatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal yang baru diluar informasi yang diberikannya. Dalam belajar terjadi tiga proses kognitif yaitu : (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses mentransformasikan informasi yang diterima, dan (3) proses menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

Menurut Gagne dalam Slameto (2003 : 8) menyatakan belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.

Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan

(2)

pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya (Jihad, 2009 : 1).

Dari uraian tersebut di atas dapat diisimpulkan bahwa perubahan belajar terjadi karena interaksi seseorang dengan lingkungannya yang akan menghasilkan suatu perubahan pada berbagai aspek, perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. 2.1.2. Belajar Matematika

Belajar matematika ialah belajar konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika (Hudoyo, 1990 : 48). Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih baik untuk mengkususkan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi (Dahar, 1989 : 76).

Objek abstrak matematika sebagai ilmu yang tidak dapat diubah menjadi konkrit, akan tetapi memahaminya dapat ditempuh berbagai jalan, antara lain dengan menggunakan benda-benda konkrit, sifat-sifat tertentu dari kumpulan benda konkrit dapat dijadikan titik tolak untuk memahami subjek matematika yang abstrak itu.

Belajar matematika di SD merupakan pembelajaran yang utama, terutama di SD kelas rendah. Hal ini dijelaskan karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa matematika kususnya dalam pokok bahasan berhitung bilangan merupakan dasar sebelum pembelajaran pokok bahasan-bahasan yang lain.

2.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Menurut Slameto (2003 : 54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu : faktor internal dan faktor eksternal.

1) Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar) a. Faktor Biologis (Jasmani)

Orang yang fisiknya tidak sehat, fisiknya cacat maka proses belajarnya terganggu dan mempengaruhi keberhasilan belajar.

b. Faktor Psikologis

Faktor psikologis ini meliputi antara lain intelegensi, minat, bakat, motivasi, perhatian dan kesiapan. Semua hal tadi penting dimiliki oleh setiap siswa agar proses belajarnya berhasil.

(3)

2) Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar) a. Faktor Lingkungan Keluarga

Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhatian orang tua terhadap perkembangan proses belajar mempengaruhi keberhasilan belajarnya.

b. Faktor Lingkungan Sekolah

Faktor mencangkup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran, tata tertib yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten.

c. Faktor Lingkungan Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaannya dalam masyarakat. Lingkungan masyarakat yang baik dapat menunjang keberhasilan belajar.

2.1.4. Hasil Belajar

Menurut Hamalik (1983 : 56) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diukur, hasil belajar dapat dievaluasi dengan menggunakan standar tertentu.

Menurut Abdulrahman dalam Jihat (2009 : 14) bahwa “hasil belajar atau prestasi belajar adalah belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatife menetap.

Menurut Nasution (1982 : 36) hasil belajar adalah hasil dari suatu intraksi tindak belajar mengajar dan biasanya ditunjukan dengan nilai tes yang diberikan guru.

Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiyono (2000 : 36) hasil belajar adalah hasil yang ditunjukan dari suatu intraksi tindak belajar dan biasanya ditunjukan nilai tes yang diberikan guru.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan peroses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran melalui penilaian keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang masing masing golongan dapat di isi dengan kurikulum sekolah.

2.1.5. Aktivitas Belajar Siswa

Menurut Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan/keaktivan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun nonfisik,

(4)

merupakan suatu aktivitas. Sedangkan belajar menurut Hamalik (2001 : 28), adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Jika seseorang telah belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.

Dari uraian tentang belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar terjadi dua proses yaitu 1. perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar, 2. interaksi dengan lingkungannya, baik berupa pribadi, fakta, dsb.

Berdasarkan pendapat diatas disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif.

2.1.6. Aktivitas Mengajar Guru

Menurut Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan/keaktivan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun nonfisik, merupakan suatu aktivitas. Menurut Dequeliy dan Ganazali dalam Slameto (2003: 30) mengajar adalah menanamkan pengetahuan kepadaseseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Sedangkan pengertian mengajar menurut Slameto (2003 : 29) ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid-murid disekolah.

Usman (1994 : 3) mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar.

Nasution (1982 : 8) mengemukakan bahwa mengajar adalah segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.

Dari definisi para pakar di atas adapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas mengajar adalah suatu aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidikan

(5)

dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran tercapai.

2.1.7. Model Pembelajaran Kooperatif 1) Hakekat Model Kooperatif

Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika saling berdiskusi dengan sesame temannya. Siswa secara rutin berkerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah yang komplek. Di dalam kelas kooperatif siswa bersama dalam kelompok kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang siswa sederajat tetapi heterogen,

Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa berkerja secara berkaloborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996 : 279 dalam Trianto, 2007 : 41)

2) Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar.

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan prestasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berintraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya.

Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tujuan-tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis Tujuan-tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000 : 7)

Pembelajar kooperatif memberikan peluang pada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk berkerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan, kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

(6)

3) Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

a. Untuk menuntaskan materi belajarnya siswa-siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.

b. Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

c. Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras suku budaya, jenis kelamin yang berbeda-beda pula.

d. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan. (Trianto, 2007 : 41)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kerja sama dan tanggung jawab dalam kelompok. Pembelajaran komunikasi dan berdiskusi dalam pemecahan sebuah permasalahan sehingga siswa dapat belajar menggunakan pendapat dan bentuk pikiran serta saling menghargai antar anggota kelompok. Dimana siswa berkerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan siswa yang berbeda kemampuannya, jenis kelamin bahkan latar belakangnya untuk membentuk belajar satu sama lainnya sebagai sebuah tim.

4) Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division), tipe ini dikembangkan pertama kali oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins dan merupakan model pembelajaran kooperatif paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000 : 6). Masing-masing kelompok memiliki kemampuan akademik yang heterogen, sehingga dalam satu kelompok akan terdapat satu siswa berkemampuan tinggi, dua orang kemampuan sedang dan satu siswa lagi berkemampuan rendah.

Kelebihan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain (Ibrahim, dkk. 2000 : 72).

Sedangkan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah Membutuhkan waktu yang lama Siswa cenderung tidak

(7)

mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya (Ibrahim, 2000 : 72).

Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa berkerja dalam tim mereka, guru memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.

Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain :

a. Perangkat pembelajaran

Sebelum mengajar guru harus menyiapkan RPP, lembar kerja berserta jawabannya dan lembar kegiatan.

b. Membentuk kelompok kecil

Guru membentuk anggota kelompok dengan kemampuan heterogen yang terdiri 4-5 siswa dalam tiap kelompok.

c. Menentukan skor awal, dengan nilai ulangan sebelumnya. d. Pengaturan tempat duduk

Sebelum dimulai kegiatan kooperatif, guru menentukan letak tempat duduk masing-masing kelompok.

e. Kerja kelompok

Sebelum diadakan diskusi kelompok, perlu diadakan latihan kelompok untuk memahami karakter anggota kelompoknya.

Fase-fase pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division : Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2 : Menyajikan atau menyampaikan informasi

Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemontrasikan atau lewat bahan bacaan.

(8)

Fase 3 : Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu setiap kelompok-kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5 : Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6 : Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

(Trianto, 2007 : 53)

2.1.8. Operasi Hitung Bilangan Pecahan

Operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. 1. Penjumlahan berbagai bentuk pecahan

2. Pengurangan berbagai bentuk pecahan

3. Melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan

Buchari, dkk (2007 : 84)

2.2. Kajian Hasil-Hasil Penelitian Yang Relefan

1) Penelitian yang dilakukan oleh Rukiyanti dalam judul: “Upaya peningkatan hasil belajar IPS melalui model Pembelajaran Student Teams Achievement Division pada siswa kelas IV SD Negeri gabus 3 Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen Tahun pelajaran 2009/2010” hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa : 1. Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division tidak hanya dapat meningkatkan

(9)

aspek kognitif saja, namun semua aspek yang menyangkut perkembangan siswa dalam pembelajaran seperti kemampuan kerjasama serta partisipasi siswa dalam pembelajaran, selain itu pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division juga dapat meningkatkan guru dalam merancang serta mengelola pembelajaran secara individual, klasikal maupun secara kelompok. 2. Penerapan model pembejaran Student Teams Achievement Division dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Negeri Gabus 3 Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen. Hal ini dapat dilihat dari dari peningkatan hasil tes pada setiap siklus. Hasil tes pada siklus I mencapai 60% tuntas dan meningkat pada siklus II mencapai 80% tuntas.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Thotot Hendro Susanto dengan judul : “Peningkatan Hasil Belajar Operasi Hitung Pecahan Melalui Model Pembelajaran NHT(Number Head Together) Berbasis Realitis Pada Siswa Kelas III SD Negeri Pungangan 01 Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2009/2010”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT berbasis realistik pada siswa kelas III tidak hanya dapat meningkatkan aspek kognitif saja, tetapi semua aspek yang menyangkut perkembangan siswa dalam pembelajaran seperti kemampuan kerja sama serta partisipasi siswa dalam pembelajaran, selain itu pembelajaran kooperatif model NHT juga dapat meningkatkan guru untuk merancang serta mengelola pembelajaran secara individu, klasikal maupun kelompok. 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas III SD Negeri Pungangan 01 Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2009/2010. Hasil ini dapat dilihat dari peningkatan hasil tes pada setiap siklus. Hasil tes pada siklus 1 mencapai 39% tuntas dan meningkat pada siklus II mencapai 71% tuntas serta peningkatan pada siklus III mencapai 86% tuntas.

2.3. Kerangka Pikir

Dalam pembelajaran matematika diperlukan berbagai pengetahuan dan pemahaman guru yang baik tentang matematika sebagai sentral dari wahana pendidikan sehingga hasil pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Namun model pembelajaran yang digunakan guru selama ini masih bersifat konvensional dan masih didominasi metode ceramah dimana kegiatan pembelajarannya berpusat pada guru. Siswa selalu pasih hanya mendengar dan melakukan kegiatan sesuai

(10)

perintah guru .siswa hanya diam dan tidak mampu memecahkan soal-soal operasi bilangan hitung campuran yang diberikan guru.

Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya adalah model kooperatif tipe Student Teams Achievement Division. Model pembelajaran Student Teams Achievement Division ini adalah model pembelajaran kelompok dan dimana setiap kelompoknya bersifat hetrogen. Model pembelajaran Student Teams Achievement Division ini seperti lomba beregu dikarenakan pada akhir pembejaran nilai dari tiap kelompok akan dijumlahkan untuk mengetahui kelompok mana yang memperoleh nilai paling tinggi dan berhak mendap hadiah dari guru. Sehingga para siswa dituntun aktif dalam mengikuti pelajaran agar kelompoknya mendapat nilai tertinggi. Dalam proses pembelajaran ini peran guru adalah sebagai pengarah pola piker siswa, penuntun siswa dalam kegiatan pembelajaran dan memfasilitasi kesempatan kepada siswa untuk berpikir berkelompok menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.

2.4. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian pada kerangka teori dan kerangka pikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division, diduga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, aktivitas mengajar guru serta hasil belajar matematika tentang operasi hitung bilangan pecahan pada siswa kelas V SD Negeri Dlimas 01 Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2011/2012.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :