KAJIAN YURIDIS TENTANG PEMBATALAN PERKAWINAN ANAK DIBAWAH UMUR

Teks penuh

(1)

KAJIAN YURIDIS TENTANG PEMBATALAN

PERKAWINAN ANAK DIBAWAH UMUR

Oleh ; Emi Zulaika, S.H.

ABSTRAK

Perkawinan anak dibawah umur yang masih banyak terjadi pada masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan suatu fenomena yang menjadi rahasia umum dan menjadi suatu kebiasaan pada masyarakat itu sendiri. Kemiskinan, sosial ekonomi yang lemah, pekerjaan yang sulit didapat, sarana pendidikan yang terbatas serta pola pikir dari masyarakat itu sendiri telah menyuburkan perkawinan anak dibawah umur. Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam telah memberikan batasan – batasan diijinkannya usia ( umur ) untuk melakukan perkawinan tetapi di masyarakat masih saja terjadi perkawinan dibawah umur padahal jika dilihat dari ketentuan undang – undang perkawinan hal tersebut sangat bertentangan sekali. Terjadinya suatu pembatalan perkawinan tentunya menimbulkan tidak hanya dampak akibat secara hukum saja tetapi juga menimbulkan dampak secara psikologis bagi suami isteri tersebut apalagi jika suami – isteri tersebut salah satunya anak ( bocah ) perempuan dibawah umur yang tentunya usianya masih sangat muda dan secara psikologis tingkat emosionalnya masih tinggi selain itu dampak secara sosial tentunya timbul adanya rasa malu dari pihak keluarga terhadap masyarakat disekitarnya.

Kata Kunci : 1.Pembatalan Perkawinan; 2.Anak Dibawah Umur

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari berbagai macam peristiwa yang terus menerus dialaminya seperti halnya kelahiran, perkawinan maupun kematian. Peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat dinamakan peristiwa hukum atau kejadian hukum ( rechtsfeit ). Dikatakan sebagai peristiwa hukum adalah peristiwa kemasyarakatan yang yang akibatnya diatur oleh hukum ( Dudu Duswara Machmudin 2000 : 46 ). Hal itu disebabkan didalam peristiwa hukum ( rechtsfeit ) akan selalu timbul adanya hak dan kewajiban.

Perkawinan merupakan salah satu peristiwa kemasyarakatan yang nantinya akan menimbulkan akibat hukum bagi calon suami - isteri, anak maupun pihak

(2)

ketiga, karena dalam suatu perkawinan akan timbul adanya suatu hak dan kewajiban yang harus ditaati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh masing – masing pihak, untuk itulah di Indonesia tentang perkawinan diatur dalam Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berlaku secara umum dan mengikat seluruh warga negara Indonesia dan Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam atau yang disingkat KHI yang berlaku bagi pemeluk agama islam di Indonesia.

Hakikat perkawinan menurut Pasal 1 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah “ Ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa “.

Sedangkan hakikat perkawinan menurut Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa perkawinan adalah “ pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah “ .

Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam ( KHI ) telah memberikan rumusan yang jelas tentang hakikat perkawinan. Hakikat perkawinan yang terdapat dalam kedua aturan tersebut juga di perkuat dengan adanya pendapat para sarjana hukum.

Dengan demikian hakikat perkawinan secara umum dapat dikemukakan dengan berdasarkan Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam ( KHI ), maupun sebagian pendapat para sarjana hukum adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk suatu keluarga dalam jangka waktu yang lama.

Dalam undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah ditentukan prinsip – prinsip atau azas – azas mengenai perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan itu sendiri, dimana azas – azas atau prinsip – prinsip yang tercantum dalam Undang – Undang tersebut adalah :

1. Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal;

2. Dalam Undang – Undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bilaman dilakukan menurut hukum masing – masing agamanya dan

(3)

kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap – tiap perkawinan harus dicatatkan menurut peraturan perundang – undangan yang berlaku;

3. Undang – Undang ini menganut azas monogami;

4. Undang – Undang ini menganut prinsip, bahwa calon suami – isteri itu harus telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami – isteri yang masih dibawah umur;

5. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal, dan sejahtera, maka Undang – Undang ini menganut prinsip mempersukar terjadinya perceraian;

6. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat, sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami – isteri ( Komariah 2008 : 42 )

Azas – azas atau prinsip – prinsip yang terdapat dalam Undang _ Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah memberikan maksud yang jelas tentang perkawinan itu sendiri tetapi dalam kehidupan sehari – hari masyarakat, azas – azas atau prinsip – prinsip perkawinan dalam pelaksanaan kaidah hukum perkawinan masih belum bisa terlaksana dengan baik bahkan seringkali terjadi benturan dalam pelaksanaannya, contohnya masih ada perkawinan anak dibawah umur.

Perkawinan anak dibawah umur yang masih banyak terjadi pada masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan suatu fenomena yang menjadi rahasia umum dan menjadi suatu kebiasaan pada masyarakat itu sendiri. Kemiskinan, sosial ekonomi yang lemah, pekerjaan yang sulit didapat, sarana pendidikan yang terbatas serta pola pikir dari masyarakat itu sendiri telah menyuburkan perkawinan anak dibawah umur, padahal Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah memberikan batasan – batasan usia perkawinan yang diijinkan. Hal ini terjadi tidak lepas dari sikap para orang tua yang menginginkan anaknya untuk segera menikah. Mereka tidak peduli bahwa anak – anak mereka masih membutuhkan kebebasan, kesempatan belajar maupun

(4)

terlaksananya suatu perkawinan walaupun yang dinikahkan usianya masih belasan tahun maka beban tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anak berkurang sudah padahal anggapan tersebut tidaklah benar demikian, karena masih akan ada beban yang lainnya jika nantinya terjadi suatu persoalan pada perkawinan tersebut.

Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, telah memberikan batasan – batasan usia jika melakukan suatu perkawinan. Pada Pasal 7 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan :

“ Bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pria mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun. Dalam hal adanya penyimpangan, dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria dan wanita “.

Ketentuan yang terdapat pada Pasal 7 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah menentukan dengan jelas batasan usia perkawinan dengan demikian tujuan perkawinan yaitu membentuk keluarga yang bahagia, kekal, dan berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa yang terdapat dalam Pasal 1 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dapat tercapai maksudnya pada masyarakat.

Kasus yang terjadi dan sangat gencar dibicarakan saat ini adalah kasus pernikahan poligami antara H M. Pujiono Cahyo Widianto yang biasa dipanggil Syech Puji yang berumur 43 tahun seorang pengusaha dimana sebagai pemilik PT Sinar Lendoh Terang dan sekaligus pemilik ( pendiri ) Ponpes Miftahul Jannah Desa Bedono Kabupaten Semarang dengan seorang anak ( bocah ) perempuan yang berumur 12 tahun yang bernama Lutviana Ulfah yang dinikahi secara sirri pada tanggal 8 Agustus 2008. Kasus yang menarik perhatian serta timbulnya pro kontra di dalamnya dikarenakan selain pernikahan itu sendiri juga adanya pengangkatan serta pelantikan Lutviana Ulfa yang dalam hal ini sebagai isteri kedua dari Syech Puji diberikan sebuah kedudukan sebagai GM ( General Manager ) pada PT Sinar Lendoh Terang yang didirikannya. Pro kontra yang timbul apakah mungkin seorang anak ( bocah ) perempuan yang baru berusia 12 tahun dapat memimpin sebuah perusahaan yang besar walaupun diakui atau tidak,

(5)

Lutviana Ulfah bisa berbahasa Inggris dengan lancar dalam memberikan sambutan sesudah pelantikan tersebut. Apakah ini bukan pemaksaan terhadap seorang anak ( bocah ) perempuan yang masih berusia belasan tahun untuk kerja keras. Hal inilah yang akhirnya menjadi sorotan media massa nasional maupun Komnas Perlindungan Anak yang di pimpin Seto Mulyadi yang biasanya di panggil dengan Kak Seto, turun tangan dengan timnya untuk menyelesaikan masalah yang timbul didalamnya dan mencarikan jalan keluarnya yang terbaik bagi semua pihak.

Kasus diatas merupakan salah satu contoh kasus kecil terjadinya suatu perkawinan anak dibawah umur yang terjadi didalam masyarakat. Masih banyak kasus – kasus lain seperti yang dialami Lutviana Ulfah, dimana mereka menghabiskan waktu di usia yang sangat muda untuk menikah dan mengurus rumah tangga, impian mereka bermain, bersekolah sekolah sampai lulus sarjana, bekerja mencari penghasilan sudah musnah dalam benak mereka. Mereka adalah contoh seperti halnya Lutviana Ulfa yang harus mengalami pernikahan dini namun nasib mereka tidaklah seberuntung Lutviana Ulfa yang pada usianya masih belasan telah menduduki jabatan sebagai GM ( General Manager )

Masalah anak serta hal yang berkaitan dengan perlindungan anak maupun kesejahteraan anak itu sendiri di Indonesia telah diundangkannya pada tanggal 22 Oktober tahun 2002 dalam sebuah Undang – Undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak .

Anak menurut pengertian yang terdapat dalam Pasal 1 Angka ( 1 ) Undang – Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 ( delapan belas ) tahun , termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Perlindungan anak menurut pengertian yang terdapat dalam Pasal 1 Angka ( 2 ) Undang – Undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak – haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

(6)

Dengan adanya Undang – Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pemerintah mempunyai harapan bahwa kehidupan anak – anak khususnya anak –anak Indonesia dapat terjamin sesuai dengan yang diamanatkan dan perkawinan anak dibawah umur dapat dicegah lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diuraikan secara panjang lebar, terdapat banyak sekali permasalahan yang timbul namun berkaitan dengan judul tersebut maka permasalahan yang nantinya akan dibahas adalah sebagai berikut :

1. Apakah perkawinan anak dibawah umur bertentangan dengan ketentuan Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 ?

2. Bagaimana jika terjadi penolakan pembatalan perkawinan akibat tidak dipenuhinya ketentuan yang terdapat dalam Pasal 7 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 ?

II. PEMBAHASAN

2.1. Perkawinan Anak Dibawah Umur Bertentangan dengan Ketentuan Undang _ Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974

Pengertian perkawinan menurut Pasal 1 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan adalah “ Ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri untuk membina rumah tangga ( keluarga ) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa “.

Definisi perkawinan yang tercantum dalam Pasal 1 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan maksud bahwa perkawinan tidak hanya dilihat dari segi keperdataan saja, tetapi perkawinan juga dilihat dari segi agama, yang artinya perkawinan tidak hanya merupakan urusan kedua calon suami – isteri maupun pihak keluarga dan pihak ketiga tetapi juga bahwa perkawinan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan definisi perkawinan menurut Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah “.

Pada definisi tentang perkawinan menurut Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam tertulis dengan jelas bahwa suatu perkawinan merupakan pelaksanaan suatu ibadah dalam rangka untuk mentaati perintah Allah dengan demikian maka

(7)

tujuan perkawinan itu sendiri menurut Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam adalah “ untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan

rahmah.

Tujuan perkawinan yang terdapat dalam Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam memberikan pemahaman secara nyata dan jelas tentang perkawinan itu sendiri sehingga diharapkan bahwa perkawinan itu bukan hanya sekedar main – main belaka tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan.

Perkawinan anak dibawah umur jika dilihat dari ketentuan peraturan undang – undang perkawinan yang mengatur tentang syarat usia yang diijinkan untuk menikah sangat bertentangan dengan Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.

Alasannya pada Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur tentang syarat – syarat perkawinan dan syarat – syarat perkawinan itu sendiri dibagi menjadi 2 ( dua ) yaitu :

1. Syarat – syarat materiil, yaitu syarat mengenai orang – orang yang hendak melangsungkan perkawinan, terutama mengenai persetujuan, ijin, dan kewenangan untuk memberi ijin.

2. Syarat – syarat formil, yakni syarat – syarat yang merupakan formalitas yang berkaitan dengan upacara nikah.

Syarat – syarat materiil yang diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dibedakan lagi dalam:

A. Syarat materiil yang absolut ( mutlak ) yang merupakan syarat – syarat yang berlaku dengan tidak membeda – bedakan dengan siapapun dia akan melangsungkan perkawinan yang meliputi :

a. Batas umur minimum pria 19 ( sembilan belas ) tahun dan untuk wanita 16 ( enam belas ) tahun ( Pasal 7 undang – Undang No 1 Tahun 1974 ) . Dalam hal terdapat penyimpangan dari batas umur tersebut dapat meminta dispensasi kepada pengadilan;

b. Perkawinan harus didasarkan atas perjanjian atau persetujuan antara kedua calon mempelai ( Pasal 6 Ayat ( 1 ) Undang – Undang no 1 tahun 1974 );

(8)

c. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 ( dua puluh satu ) tahun harus mendapat ijin kedua orang tua ( Pasal 6 Ayat ( 2 ) Undang - Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 ).

B. Syarat materiil yang relatif ( nisbi ) merupakan syarat yang melarang perkawinan antara seorang dengan seorang tertentu, yaitu :

a. Larangan kawin antara orang – orang yang mempunyai hubungan keluarga, yakni hubungan kekeluargaan karena darah dan perkawinan, yang ditentukan dalam Pasal 8 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 :

a) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah dan keatas;

b) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;

c) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu / bapak tiri;

d) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi / paman susuan;

e) Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;

f) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

b. Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali seorang suami yang oleh pengadilan diijinkan untuk poligami karenan telah memenuhi alasan – alasan dan syarat – syarat ditentukan ( Pasal 9 Undang - Undang No 1 Tahun 1974 );

c. Larangan kawin bagi suami dan isteri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, sepanjang hukum masing – masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan ( Pasal 10 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 );

d. Seorang wanita yang putus perkawinannya dilarang kawin lagi sebelum habis jangka waktunya ( Pasal 11 Undang – Undang no 1 tahun 1974 ). Syarat – syarat formil meliputi :

(9)

a. Pemberitahuan akan dilangsungkan perkawinan oleh calon mempelai baik secara lisan maupun tertulis kepada Pegawai Pencatat ditempat perkawinan akan dilangsungkan, dalam jangka waktu sekurang – kurangnya 10 ( sepuluh ) hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan ( Pasal 3 dan Pasal 4 PP No 9 Tahun 1975 );

b. Pengumuman oleh Pegawai Pencatat dengan menempelkannya pada tempat yang disediakan di Kantor Pencatat Perkawinan.

Sedang menurut ketentuan Pasal 15 kompilasi Hukum Islam yang mengatur tentang syarat sahnya perkawinan untuk kedua calon mempelai dinyatakan bahwa untuk kemaslahatan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan oleh calon mempelai yang telah mencapai umur, yaitu calon suami sekurang – kurangnya berumur 19 ( sembilan belas ) tahun dan calon isteri sekurang – kurangnya berumur 16 ( enam belas ) tahun. Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 ( dua puluh satu ) tahun , harus mendapat izin dari :

1). Kedua orang tuanya , atau;

2). Orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya, atau;

3). Wali, orang yang memelihara atau keluarganya yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya, atau;

4). Pengadilan dalam daerah hukum tempat orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan tersebut.

dengan demikian baik itu Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam telah memberikan batasan – batasan diijinkannya usia ( umur ) untuk melakukan perkawinan tetapi mengapa di masyarakat masih saja terjadi perkawinan dibawah umur padahal jika dilihat dari ketentuan undang – undang perkawinan hal tersebut sangat bertentangan sekali, hal ini dikarenakan mereka ( masyarakat ) menganut ketentuan yang terdapat dalam hukum agamanya sebagai dasar untuk melangsungkan suatu perkawinan. Para orang tua beranggapan bahwa seorang anak yang sudah akil baligh dianggap telah dewasa dan bisa menikah.

(10)

Menurut Syariat Islam seseorang dikatakan dewasa dimana dinyatakan sebagai subyek hukum atau mukallaf ( kewajiban untuk melaksanakan peraturan Allah ) yaitu apabila :

a. Ajaran islam sudah sampai kepadanya;

b. Berakal ( sehat, tidak gila, atau dalam keadaan tidak sadar, dan sebagainya ); c. Baligh yang ciri – cirinya antara lain sudah berumur 15 ( lima belas ) tahun,

pernah mimpi bersetubuh, sudah menikah, dan menstruasi ( haid ) bagi wanita. ( Dudu Duswara Machmudin 2000 : 35 )

sehingga dengan demikian walaupun menurut hukum agamanya atau syariat islam adalah dibenarkan tentang perkawinan anak di bawah umur, tetapi hal tersebut tidak dapat dibenarkan menurut ketentuan hukum perkawinan positif yang berlaku di Indonesia karena perkawinan anak di bawah umur itu bertentangan dengan undang – undang perkawinan, undang – undang perlindungan anak serta Kitab Undang – Undang Hukum Pidana terutama pada Pasal 288 Ayat ( 1 ) KUHP (http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia/060905/nikah_dibawah_umur,diakses

tanggal 10/11/2008).

Tidak jarang orang tua memberi restu kepada anak – anaknya untuk menikah sebelum mencapai umur yang diizinkan oleh undang – undang perkawinan sehingga dengan demikian ketentuan yang terdapat dalam Pasal 26 Ayat ( 1 ) Undang – Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dimana berisi ketentuan yang mengatur mengenai “ Kewajiban dan Tanggung Jawab Keluarga dan Orang Tua “ haruslah mendapat perhatian.

Pasal 26 Ayat ( 1 ) undang – Undang Perlindungan anak berisi tentang : ( 1 ) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :

a. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

b. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan

c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak – anak.

Pasal 26 Ayat ( 1 ) Huruf C Undang – Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah memberikan secara jelas tentang kewajiban untuk mencegah terjadinya perkawinan anak dibawah umur dan jika telah terjadi adanya hubungan badan antara pria dan wanita pada anak - anak ketentuan yang terdapat dalam Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 88 Undang – Undang No 23 Tahun 2002

(11)

Perlindungan Anak telah memberikan sanksi yang sangat jelas dan tegas bagi yang melanggarnya dan jika diperlukan lagi sanksi yang lebih tegas maka ketentuan yang terdapat dalam Pasal 288 Ayat ( 1 ) KUH Pidana dapat diterapkan.

2.2. Terjadinya Pembatalan Perkawinan Akibat Tidak Dipenuhinya Ketentuan yang Terdapat dalam pasal 7 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974

Pada kasus perkawinan poligami antara Syeh puji dengan Lutviana Ulfah, KPAI ( Komisi Perlindungan Anak Indonesia ) meminta adanya pembatalan perkawinan dengan maksud bahwa tidak pernah ada atau belum pernah ada terjadinya suatu perkawinan tersebut, tetapi masalah pembatalan perkawinan tersebut menimbulkan adanya pro kontra dan pada kasus perkawinan antara Syech Puji dengan Lutviana Ulfa terjadi adanya penolakan pembatalan perkawinan.

Pembatalan perkawinan, para ahli hukum berpendapat bahwa tiap perkawinan hanya dapat dinyatakan “ vernietigbaar “ ( dapat dibatalkan ), artinya bahwa perkawinan itu hanya dapat dinyatakan batal setelah keputusan hakim atas dasar – dasar yang diajukan oleh penuntut yang ditunjuk oleh Undang – Undang dengan demikian perkawinan tidak dapat dinyatakan “ nietigbaar “ ( batal demi hukum, karena kalau demikian halnya maka tak menjamin kepastian hukum ( Komariah 2008 : 50 ).

Alasan – alasan suatu perkawinan dapat dibatalkan adalah sebagai berikut:

a. Apabila para pihak ( suami isteri ) tidak memenuhi syarat – syarat untuk melangsungkan perkawinan, yakni syarat materiil absolut maupun relatif seperti yang ditentukan dalam Pasal 6 s/d Pasal 11 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

b. Perkawinan diajukan pada Pegawai Pencatat perkawinan yang tidak sah;

c. Perkawinan dilaksanakan oleh wali nikah yang tidak sah;

d. Perkawinan dilakukan tanpa dihadiri oleh 2 ( dua ) orang saksi. Menurut Pasal 26 Ayat ( 2 ) Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, hak untuk menuntut pembatalan perkawinan suami isteri berdasarkan pada alasan huruf b, c, dan d ini gugur apabila mereka telah hidup bersama sebagai suami isteri dan dapat memperlihatkan akta perkawinan yang dibuat Pegawai

(12)

Pencatat Perkawinan yang tidak berwenang akan tetapi perkawinan harus diperbaharui supaya sah;

e. Perkawinan dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar hukum;

f. Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri. Menurut Pasal 27 Ayat ( 3 ) Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, apabila ancaman telah berhenti atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaannya dan dalam jangka waktu 6 ( enam ) bulan setelah itu tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur ( Komariah 2008 : 50 – 51 ).

Pasal 23 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan pihak – pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan adalah sebagai berikut :

1. Para keluarga dalam garis lurus keturunan lurus ke atas dari suami isteri;

2. Suami atau isteri;

3. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan;

4. Pejabat yang ditunjuk dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.

Pada Pasal 24 Undang – Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan barang siapa karena perkawinan masih terikat dirinya dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar masih adanya perkawinan dapat mengajukan pembatalan perkawinan yang baru ( Libertus Jehani 2008 : 40 ).

Menurut Pasal 28 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan Pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan. Perkawinan yang dibatalkan menurut Undang – Undang tetap mempunyai akibat hukum, baik terhadap suami / isteri dan anak – anaknya maupun terhadap pihak ketiga sampai pada saat pernyataan pembatalan perkawinan itu ( Komariah 2008 : 53 ).

Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan Pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku surut terhadap :

(13)

1. anak – anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut;

2. suami atau isteri yang bertindak dengan itikad yang baik; kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkawinan lain yang lebih dahulu;

3. orang ketiga lainnya, sepanjang mereka memperoleh hak – hak dengan itikad yang baik sebelum keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap ( Libertus Jehani 2008 : 41 ).

Kasus yang terjadi pada perkawinan Syech Puji dengan Lutviana Ulfah dapat dimintakan suatu pembatalan perkawinan jika perkawinan tersebut telah sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Ayat ( 2 ) undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, tiap – tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang – undangan berlaku. Mengapa dicatatkan hal ini untuk menjamin kepastian hukum dalam suatu perkawinan. Tetapi pada kasus perkawinan anak dibawah umur antara Syeh Puji dengan Lutviana Ulfah tidak dapat dimintakan suatu pembatalan perkawinan karena perkawinan tersebut adalah perkawinan sirri atau dibawah tangan ( belum dicatatkan ) sehingga negara menganggap tidak pernah atau belum pernah terjadi suatu perkawinan kecuali telah dilakukannya isbath nikah. Isbath

nikah dilakukan untuk menjamin kepastian hukum dari suatu perkawinan yang telah terjadi dan yang belum pernah dicatatkan, setelah adanya isbath nikah maka pihak – pihak yang merasa keberatan atas perkawinan tersebut dapat meminta adanya pembatalan suatu pernikahan pada pengadilan agama atau negeri yang berwenang secara relatif.. Jika dilihat dari peraturan perundang – undangan yang mengatur tentang hukum perkawinan di Indonesia dapat saja dimintakan pembatalan perkawinan dengan alasan telah terjadi perkawinan anak dibawah umur atau dengan kata lain tidak terpenuhinya syarat – syarat materiil baik yang absolut maupun yang relatif yang terdapat dalam suatu perkawinan ( Pasal 6 – Pasal 11 Undang – Undang No 1 Tahun 1974 ) ataupun dengan alasan yang dibenarkan dalam dalam Undang – Undang Perkawinan. Kemudian siapa yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan haruslah mengacu pada ketentuan yang terdapat dalam Pasal 23 Undang – Undang No 1 Tahun 1974. Apakah jika terjadi pembatalan perkawinan tersebut tidak menimbulkan dampak kepada suami isteri dan pihak keluarganya tentunya hal tersebut perlu mendapat suatu perhatian

(14)

menimbulkan tidak hanya dampak akibat secara hukum saja tetapi juga menimbulkan dampak secara psikologis bagi suami isteri tersebut apalagi jika suami – isteri tersebut salah satunya anak ( bocah ) perempuan dibawah umur yang tentunya usianya masih sangat muda dan secara psikologis tingkat emosionalnya masih tinggi selain itu dampak secara sosial tentunya timbul adanya rasa malu dari pihak keluarga terhadap masyarakat disekitarnya apalagi jika terjadi pemberitaan secara besar – besaran oleh sebuah media massa. Kemudian dengan terjadinya suatu pembatalan perkawinan apakah statusnya dapat dianggap sebagai gadis atau jejaka lagi padahal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, kemudian jika terjadi penolakan pembatalan perkawinan apakah suami isteri tersebut dapat dikenakan suatu sanksi. Dalam Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tidak ada suatu sanksi bagi suami isteri yang menolak pembatalan suatu perkawinan, yang hanya dikenakan adalah sanksi secara pidana jika terjadi suatu perbuatan secara pidana dalam perkawinan tersebut.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

1. Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan demikian terjadinya suatu perkawinan haruslah memenuhi syarat – syarat perkawinan itu sendiri yang terdapat dalam Undang – Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun INPRES No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam sehingga terjadinya perkawinan anak dibawah umur sangatlah bertentangan dengan hukum positif perkawinan yang berlaku di Indonesia.

2. Pembatalan suatu perkawinan haruslah memenuhi alasan – alasan yang telah ditentukan oleh Undang – Undang Perkawinan, sehingga apabila adnya pihak – pihak yang merasa keberatan dengan adanya suatu perkawinan tersebut kemudian meminta adanya suatu pembatalan perkawinan maka pihak – pihak yang merasa keberatan harus sudah memastikan apakah perkawinan tersebut sudah sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Ayat ( 2 ) undang – Undang No 1 Tahun 1974, jika belum maka tidak bisa dimintakan suatu pembatalan perkawinan.

(15)

3.2 Saran

1. Perkawinan anak dibawah umur haruslah mendapat perhatian dengan serius tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari lembaga – lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai perhatian khusus dengan masalah wanita dan anak – anak maupun dari masyarakat sehingga diperlukan adanya sosialisasi tentang dampak perkawinan anak dibawah umur kepada warga masyarakat maupun orang tua sehingga tidak lagi dengan mudah merestui anaknya untuk menikah di usia dini.

2. Perlu adanya perhatian aparat pemerintah maupun Kantor Pencatat Perkawinan untuk tidak mudah mengeluarkan surat – surat ( formulir – formulir ) yang berkaitan dengan persyaratan pernikahan jika diketahui bahwa umur dari salah satu calon mempelai belum memenuhi criteria umur yang diijinkan oleh Undang – Undang Perkawinan.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU TEKS

Dudu Duswara Machmudin, Pengantar Ilmu Hukum ( Sebuah Sketsa ), PT Refika Aditama, Bandung, 2000.

Komariah, Hukum Perdata ( Edisi Revisi ), UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah , Malang, 2008.

Libertus Jehani, Perkawinan Apa Risiko Hukumnya, Forum Sahabat, Jakarta Barat, 2008.

Rachmadi Usman, Aspek – Aspek Hukum Perorangan & Kekeluargaan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006.

PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN

Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam

INTERNET

www.ranesi.nl.arsipaktua/indonesia060905/nikah_dibawah_umur20081029, diakses tanggal 10 Nopember 2008

(16)

Figur

Memperbarui...