BAB 3 METODE PENELITIAN. adalah permasalahan asosiatif, yaitu suatu pernyataan penelitian yang bersifat

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Disain Penelitian

Mengacu pada referensi Sugiyono (2002 : 45), desain penelitian yang digunakan adalah permasalahan asosiatif, yaitu suatu pernyataan penelitian yang bersifat menghubungkan dua variabel atau lebih. Permasalahan ini terdapat tiga macam yaitu hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.

Dalam penelitian ini digunakan permasalahan hubungan kausal atau sebab akibat. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat, jadi di sini ada variabel bebas (variabel yang mempengaruhi) dan variabel terikat (variabel yang dipengaruhi). Model penelitian yang digunakan dimodifikasi dari penelitian yang dapat digambarkan sebagai berikut :

(2)

Gambar 3.1 Disain Penelitian Analisa Perancangan Jabatan (Y) Motivasi (X3) Produktivitas (X2) Kepuasan Kerja (X1) - Variasi Keahlian - Variasi Tugas - Tingkat Kepentingan Tugas - Otonomi - Umpan Balik - Prestasi - Pengakuan - Pekerjaan - Tanggung Jawab - Pengembangan Diri - Gaji - Kondisi - Kebijakan - Hubungan - Supervisi - Cerdas dan belajar cepat - Kompeten

- Kreatif dan inovatif - Paham pekerjaan - Belajar dengan cerdik - Selalu memperbaiki - Bernilai

- Catatan prestasi baik - Meningkatkan diri - Pemenuhan Kebutuhan - Perbedaan - Pencapaian Nilai - Keadilan - Komponen Genetik

(3)

Berdasarkan model atau disain analisa perancangan jabatan di atas dapat dilihat bahwa untuk mengetahui analisa perancangan jabatan yang sesuai dengan kebutuhannya maka perlu diperhatikan pengaruh antara ketiga faktor atau variabel yaitu kepuasan kerja, produktivitas dan motivasi. Di mana jika ketiga faktor tersebut mempunyai pengaruh dan hubungan yang positif terhadap analisa perancangan jabatan, ini menunjukkan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut sesuai dengan kebutuhannya dan sebaliknya jika ketiga faktor tersebut tidak mempunyai pengaruh dan hubungan yang positif terhadap analisa perancangan jabatan dikatakan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhannya.

a. Operasional Variabel Penelitian

Agar dapat lebih memahami terhadap variabel yang digunakan dalam suatu penelitian, maka perlu digunakan operasional variabel penelitian, yang merupakan variabel yang lebih mendekati kepada empiris yang dapat dinyatakan sebagai suatu wujud manifestasi dari suatu variabel yang masih bersifat abstrak.

3.1.1 Alat Uji Analisa yang digunakan:

1. Uji Validitas 2. Uji Reliabilitas 3. Analisis Korelasi

4. Analisis Regresi Berganda 5. Uji Multikoleniaritas 6. Uji Anova (F Test)

7. Uji Heteroskedasitisitas a. Scatterplot b. Histogram c. PPlot

(4)

1. Perancangan jabatan dengan indikator sebagai operasionalisasi variabel penelitian terdiri dari :

a. Variasi Keahlian b. Variasi Tugas

c. Tingkat Kepentingan Tugas

d. Otonomi

e. Umpan Balik

2. Kepuasan kerja, dengan indikator sebagai operasional variabel penelitian terdiri dari :

a. Pemenuhan kebutuhan

b. Perbedaan

c. Pencapaian nilai d. Keadilan, dan

e. Komponen genetik

3. Produktivitas, dengan indikator sebagai operasional variabel penelitian terdiri dari : a. Cerdas dan belajar cepat

b. Kompeten

c. Kreatif dan inovatif d. Paham pekerjaan e. Belajar dengan cerdik f. Selalu memperbaiki g. Bernilai

h. Catatan prestasi baik i. Meningkatkan diri

(5)

4.Motivasi, dengan indikator sebagai operasional variabel penelitian terdiri dari : a. Prestasi b. Pengakuan c. Pekerjaan d. Tanggung jawab e. Gaji f. Kondisi g. Kebijakan h. Hubungan i. Supervisi.

Berikut adalah tabulasi Operasionalisasi Variabel berdasarkan penjabaran diatas, yaitu

Variabel Indikator Instrumen Pengukuran

Skala Skala Pengukuran

Perancangan Jabatan (Y) Variasi keahlian Variasi tugas Tingkat kepentingan tugas Otonomi Umpan Balik

Kuisioner Interval Likert

Kepuasan Kerja (X1) Pemenuhan kebutuhan Perbedaan Pencapaian nilai Keadilan

Komponen Genetik

(6)

Produktivitas (X2) Cerdas dan belajar cepat

Kompeten Kreatif dan inovatif Paham Pekerjaan Belajar dengan cerdik Selalu memperbaiki Bernilai

Catatan prestasi baik Meningkatkan diri

Kuisioner Interval Likert

Motivasi (X3) Prestasi Pengakuan Pekerjaan Tanggung Jawab Gaji Kondisi Kebijakan Hubungan Supervisi

Kuisioner Interval Likert

3.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian

Mengacu pada referensi Dajan (1989 : 246), pengertian data kuantitatif dan data kualitatif adalah :

1. Data kuantitatif

Adalah bila serangkaian observasi atau pengukuran dapat dinyatakan dalam angka-angka. Jenis data kuantitatif ini antara lain, yaitu data interval dan data rasio.

(7)

2. Data kualitatif

Adalah bila serangkaian observasi dimana tiap observasi yang terdapat dalam sampel (atau populasi) tergolong dalam salah satu kelas-kelas yang saling lepas (mutually exclusive) dan yang kemungkinannya tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka. Jenis data kualitatif ini antara lain : data nominal dan data ordinal.

Dalam penelitian ini digunakan jenis data kuantitatif yaitu data interval, adapun sumber data penelitian diperoleh dari sejumlah 32 orang responden yang merupakan jumlah populasi dari karyawan dan pimpinan yang terkait dengan memberikan pernyataannya terhadap analisa perancangan jabatan yang dipengaruhi oleh ketiga variabel bebas seperti kepuasan kerja, produktivitas dan motivasi.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Di mana pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Penyebaran kuesioner, yaitu membagi-bagi (daftar pertanyaan) kepada responden, dengan tipe atau model pertanyaan tertutup dan responden diminta untuk memilih salah satu alternatif jawaban sesuai dengan daftar pertanyaannya.

2. Wawancara, tanya jawab dengan responden, untuk mendapatkan masukan tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan obyek penelitian.

3. Observasi, teknik mengumpulkan data dengan melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan analisa perancangan jabatan di suatu divisi pada PT Talbia Bina Seksama.

4. Studi kepustakaan dan dokumentasi.

Keseluruhan teknik tersebut bersifat saling melengkapi satu sama lainnya dalam rangka memperoleh data yang akurat.

(8)

3.4 Metode Analisis 1. Analisis Regresi

Metode analisis yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan hubungan kausal atau sebab akibat adalah analisis regresi linear, karena di sini terdapat lebih dari dua variabel yang memiliki hubungan kausal maka digunakan regresi linear berganda. Menurut Assauri (1984 : 76-77), di mana dalam regresi linear berganda menjelaskan suatu pola hubungan yang merupakan fungsi, dimana terdapat lebih dari satu variabel yang menentukan atau variabel bebas. Dengan notasi matematis, maka bentuk hubungan tersebut adalah Y = f(X1, X2, X3), di mana Y adalah variabel yang diramalkan atau yang dicari (variabel terikat), dan X1, X2 dan X3 adalah variabel bebas.

Dalam regresi linear berganda terdapat satu variabel yang diramalkan (variabel terikat) dalam hal ini analisa perancangan jabatan diberi notasi Y, dengan lebih dari satu varibel bebas yang mempengaruhinya yaitu kepuasan kerja sebagai variabel bebas pertama (X1), produktivitas sebagai variabel bebas kedua (X2) dan motivasi sebagai variabel bebas ketiga (X3).

Dalam peramalan yang dilakukan, diasumsikan bahwa keberhasilan dari analisa perancangan jabatan dipengaruhi secara bersama-sama oleh ketiga variabel bebas tersebut dengan bentuk umum dari persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana :

Y adalah variabel yang diramalkan (variabel terikat)

X1, X2 dan X3 adalah variabel bebas pertama yang mempengaruhi.

a, dan b1, b2, b3 merupakan parameter atau koefisien regresi linear berganda masing-masing variabel bebas.

(9)

Di mana variabel-variabel atau faktor-faktor tersebut dapat diuji (di-test) untuk mengetahui pengaruh masing-masing dalam keberhasilan ramalan analisa perancangan jabatan dengan menggunakan uji signifikansi yaitu uji t-test dan F-test serta uji koefisien determinasi.

a. Uji F test (Anova)

Mengacu pada referensi Assauri (1984 : 83), uji F digunakan untuk menguji apakah rata-rata lebih dari dua sampel berbeda secara signifikan atau tidak, serta untuk menguji apakah dua buah sampel mempunyai variance populasi yang sama atau tidak. Dan uji F sebagai uji statistik yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya hubungan linear antara variabel terikat dengan beberapa atau semua variabel bebas.

Varian terbesar F hitung = ---

Varian terkecil

Untuk melakukan uji ini, digunakan tabel distribusi F, hipotesis yang digunakan untuk menguji F adalah :

Ho : β1 = β2 = …= βk = 0

H1 : Tidak semua βj (1, 2, … k) = 0.

Untuk pengambilan keputusan dilakukan pembandingan antara nilai F hitung terhadap nilai F tabelnya.

Dasar Pengambilan Keputusan

Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak. Jika F hitung < F tabel maka Ho diterima.

(10)

Untuk mencari nilai F dan daerah penerimaan atau penolakan, perlu menentukan derajat kebebasan pembilang (df1) dan derajat kebebasan penyebut (df2) dengan rumus df1 = k-1 dan df2 = n-k. Dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel bebas yang yang digunakan.

b. Uji koefisien regresi secara parsial (Uji t test)

Menurut Assauri (1984 : 84), uji t individual digunakan untuk menguji apakah suatu nilai tertentu (yang diberikan sebagai pembanding) berbeda secara nyata atau tidak dengan rata-rata sebuah sampel. Hipotesis yang digunakan untuk uji t ini adalah :

Ho : β1= 0 H1 : β1≠ 0

Cara perhitungannya adalah :

Dimana :

bj = estimasi slope/kemiringan regresi melalui metode least square βjo = nilai bj dalam hipotesis nol

Sbj = standar error bj

Jika t hitung > t tabel dengan derajat bebas = n-2, maka Ho ditolak.

Mengacu pada referensi Supranto (2001 : 79), banyak kejadian dapat dinyatakan dalam data hasil observasi atau eksperimen yang mengikuti distribusi normal. Banyak teori statistik yang modern berdasarkan pada teori normal, dan selain itu banyak fungsi probabilitas yang berguna untuk pengujian hipotesis dan pendugaan interval diturunkan atau berasal dari fungsi normal, seperti fungsi t, F, X2.

(11)

Untuk n (banyaknya sampel) mendekati tak terhingga, fungsi Binomial akan mendekati normal. Variabel yang mengikuti normal adalah variabel kontinu. Selanjutnya menurut Supranto (2001 : 81), bahwa kalau variabel kontinu X mendekati fungsi normal, maka sebagian besar nilai X mengelompok mendekati rata-rata populasinya (μ) dan makin sedikit nilai ekstrem yang besar maupun yang kecil.

Variabel kontinu X mengikuti fungsi normal dengan rata-rata (μ) dan simpangan baku (σ) biasanya ditulis X = N(μ , σ) dan bentuk fungsinya adalah sebagai berikut :

Dimana : π = 3,14159 σ = simpangan baku = μ = rata-rata X (sampel) e = 2,71828 P ( - ∞≤ X ≤ + ∞ ) = P ( - ∞ < X < + ∞ )

Bentuk kurva normal sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya rata-rata μ dan simpangan baku σ. Makin kecil σ bentuk kuva semakin runcing dan sebagian besar nilai X mengumpul mendekati rata μ, dan sebaliknya, bila σ makin besar, maka bentuknya makin tumpul dan nilai-nilai X makin menjauhi rata-rata μ.

2. Uji Asumsi Klasik a. Multikolinearitas

Bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. (Imam Gozali, 2002:57)

(12)

Dasar analisis:

Nilai tolerance yang rendah (di bawah 100%) dan nilai VIF yang tinggi (diatas 1) menunjukkan adalah multikolinearitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regesi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengataman ke pengamatan yang lain. Sedangkan jika variance dari satu pengamtan ke pengamatan yang lain adalah tetap disebut homoskedastisitas. (Imam Gozali, 2002:69)

Dasar analisis :

Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3. Analisa Grafik a. Scatterplot

Adalah suatu persentase grafis yang menunjukkan hubungan dari dua variabel X dan Y. (Supranto, 2001:208)

b. Histogram

Adalah suatu persentase grafis yang khusus digunakan dalam penggambaran distribusi frekuensi. Biasanya digunakan dalam pendekatan distribusi normal. (Anto Dajan, 1989:64)

(13)

c. PPlot

Adalah suatu presentase grafis yang menunjukkan sebaran data observasi terhadap garis diagonal koefisien regresi dan intercept (a dan b dalam persamaan regresi) (Imam Gozali, 2002:64)

Mengacu pada referensi Sugiyono (2002 : 97) , perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen penelitian yang valid dan reliabel. Hasil penelitian yang valid bila, terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.

Selanjutnya menurut Sugiyono (2002 : 97), bahwa intrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Intrumen yang reliabel berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Mengacu pada referensi Sugiyono (2002 : 97), dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untama untuk, mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.

Menurut Sugiyono (2002 : 97), bahwa instrumen-instrumen dalam ilmu sosial sudah ada yang baku (standard), karena telah diuji validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada. Untuk itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen pada setiap penelitian dan menguji validitas dan reliabilitasnya. Instrumen yang tidak diuji validitas dan reliabilitasnya bila digunakan untuk penelitian akan menghasilkan data yang sulit dipercaya keberanannya.

(14)

Mengacu pada referensi Sugiyono (2002 : 98), instrumen yang reliabel belum tentu valid. Meteran yang putus di bagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrumen (meteran) tersebut sudah rusak. Jadi reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.

Statistik parametrik harus besar, karena nilai-nilai atau skor diperoleh distribusinya harus mengikuti distribusi normal. Sampel yang tergolong sampel besar yang distribusinya normal adalah sampel yang jumlahnya > 30, bila analisa yang dipakai adalah teknik korelasi, maka sampel yang harus diambil minimal 30 (Singarimbun, 1995:171).

Pengujian validitas butir digunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Dalam hal analisis item ini Masrun (1979) menyatakan teknik korelasi untuk menentukan validitas item ini sampi sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan. (Sugiyono, 2002:106).

Selanjutnya dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi, Masrun menyatakan item yang mempunyai korelasi positif dengan skor total serta korelasinya yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r = 0,3. Jadi kalau korelasi antara butir denagn skor total kurang dari 0,3 maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid 0( Sugiyono, 2002:106).

(15)

1. Pengujian Reliabilitas Instrumen

Menurut Sugiyono (2002 : 104), pengujian reliabilitas instrumen dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen cukup sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksikan reliabilitas instrumen.

Pengujian instrumen internal consistency, antara lain dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown, rumusnya sebagai berikut:

Dimana : ri = reliabilitas internal seluruh instrumen

rb = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

Adapun penggunaan uji reliabilitas digunakan metode cronbach’s alpha dihitung dengan menggunakan varian butir-butir individu dan kovarian antarbutir. Selanjutnya untuk memberikan interpretasi skala dalam cronbach’s alpha secara singkat dikatakan bahwa kalau kita menggunakan suatu skala dengan keandalan tinggi, maka kita mempunyai kesalahan pengukuran yang kecil.

Sedangkan kalau menggunakan skala dengan tingkat keandalan rendah (low reliability), hanya perbedaan sebenarnya yang besar yang kemungkinan dapat dideteksi. (Supranto, 2001:60,63)

2. Pengujian validitas Instrumen

Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.

(16)

Dalam hal analisis item ini mengacu pada referensi Sugiyono (2002 : 106), menyatakan teknik korelasi untuk menentukan validitas item sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan. Selanjutnya dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi, Masrun menyatakan item yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta korelasinya yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r = 0,3. Jadi kalau korelasi antara butir dengan skor butir kurang dari 0,3 maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid. Adapun rumus korelasi product moment sebagai berikut :

= = = = = = =

=

n i n i i i n i n i i i n i i n i i n i i i

y

y

n

x

x

n

y

x

y

x

n

r

1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1

Dimana : r = koefisien korelasi product moment n = jumlah observasi/sampel

xi = variabel bebas, y = variabel tidak bebas

Untuk menganalisis pengaruh dan hubungan antara ketiga faktor tersebut terhadap analisa perancangan jabatan, digunakan metode statistik korelasi dan regresi linear berganda dan pengolahan datanya menggunakan software SPSS versi 12.

3.5 Rancangan Uji Hipotesis

Mengacu pada referensi Supranto (2001 : 98), hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proporsi atau anggapa yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut.

(17)

Anggapan/asumsi sebagai suatu hipotesis juga merupakan data, akan tetapi karena kemungkinan bisa salah, apabila akan digunakan sebagai dasari pembuatan keputusan harus diuji terlebih dahulu dengan menggunakan data hasil observasi.

Untuk dapat diuji, suatu hipotesis haruslah dinyatakan secara kuantitatif (dalam bentuk angka). Pendapat yang mengatakan persediaan beras cukup, sukar diuji kebenarannya, sebab apa yang dikatakan cukup itu tidak jelas. Hipotesis statistik ialah suatu pernyataan tentang bentuk fungsi suatu variabel (apakah Binomial, apakah Poison, apakah Normal, dan lain sebagainya) atau tentang nilai sebenarnya suatu parameter.

Suatu pengujian hipotesis statistik ialah prosedur yang memungkinkan keputusan dapat dibuat, yaitu keputusan untuk menolak atau tidak menolak hipotesis yang sedang dipersoalkan/diuji.

Untuk menguji hipotesis, digunakan data yang dikumpulkan dari sampel, sehingga merupakan data perkiraan (estimate). Itulah sebabnya, keputusan yang dibuat di dalam menolak/tidak menolak hipotesis mengandung ketidakpastian (uncertainty), maksudnya keputusan bisa benar dan bisa juga salah. Adanya unsur ketidakpastian menyebabkan risiko bagi pembuatan keputusan. Besar-kecilnya risiko dinyatakan dalam nilai probabilitas pengujian hipotesis erat kaitannya dengan pembuatan keputusan.

Menurut Dajan (1989 : 247), dalam penelitian tentang ciri-ciri peristiwa tertentu umumnya peneliti mengakhiri penelitiannya dengan mengemukakan sebuah hipotesis yang dapat memberikan suatu model bagi aspek atau ciri tertentu dari peristiwa yang telah diteliti. Hipotesis sedemikian itu akan memiliki nilai ilmiah jika sesuai dengan atau mendekati kenyataan empiris. Hipotesis semacam itu dapat diuji dengan jalan membandingkan hasil teoritisnya dengan hasil sampel yang bersifat empiris. Jika hipotesis tersebut ternyata tidak sesuai dengan data empirisnya, maka harus diperbaiki atau ditolak keabsahannya (kesahihannya).

(18)

Jika cara pengumpulan data sampel memang baik sekali, maka penolakan atau penerimaan hipotesis di atas dapat menggunakan prosedur pengujian hipotesis secara statistik. Dalam hal tersebut, hipotesis dapat bersifat statistis atau yang menggambarkan nilai parameter distribusi populasi teoritis dari mana data sampel empirisnya dipilih.

Mengacu pada referensi Dajan (1989 : 246), Ho merupakan hipotesis nol (null hypothesis) dan merupakan hipotesis yang akan diuji dan yang nantinya akan diterima atau ditolak tergantung pada hasil eksperimen atau pemilihan sampelnya. H1 merupakan hipotesis alternatif atau hipotesis tandingan (alternative hypothesis).

Dalam penelitian ini akan dirumuskan 1 buah hipotesis yang dapat digeneralisasikan ke dalam 3 buah hipotesis lanjutan sehingga jumlah hipotesis penelitian yang ada sebanyak 4 buah hipotesis, sebagai berikut :

Hipotesis pertama digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana hubungan perancangan jabatan dengan kepuasan, produktivitas, dan motivasi kerja. Artinya apakah faktor-faktor atau variabel tersebut secara keseluruhan memiliki pengaruh signifikan terhadap analisis perancangan jabatan, dimana hipotesis ini akan diuji dengan metode statistik korelasi dan regresi linear berganda, dengan rumus seperti yang telah disebutkan di atas, dengan bentuk hipotesis statistik sebagai berikut :

Hipotesis I :

Ho : Analisa perancangan jabatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, produktivitas, dan motivasi kerja secara keseluruhan.

Tidak semua βj (1, 2, … k) > 0

H1 : Analisa perancangan jabatan memiliki pengaruh signifikan terhadap Kepuasan kerja, produktivitas dan motivasi kerja secara keseluruhan.

(19)

Pada hipotesis pertama ini memiliki asumsi bahwa ketiga variabel yang mempengaruhi tersebut secara keseluruhan harus memiliki pengaruh yang positif atau searah, yang menunjukkan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

Sedangkan untuk ketiga hipotesis lainnya yang merupakan generalisasi dari hipotesis pertama, yang masing-masing menjawab pertanyaan sejauh mana analisis perancangan jabatan dipengaruhi kepuasan kerja, sejauh mana analisis perancangan jabatan dipengaruhi produktivitas kerja, dan sejauh mana analisis perancangan jabatan dipengaruhi motivasi kerja. Yang tidak lain merupakan korelasi dan regresi parsial, yang digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya.

Hipotesis II :

Ho : Analisa perancangan jabatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja.

β1 = 0

H1 : Analisa perancangan jabatan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja .

β1≠ 0

Pada hipotesis kedua ini memiliki asumsi bahwa variabel kepuasan kerja memiliki pengaruh yang positif atau searah, yang menunjukkan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

Hipotesis III :

Ho: Analisa perancangan jabatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas.

(20)

H1 : Analisa perancangan jabatan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas. β1≠ 0

Pada hipotesis ketiga ini memiliki asumsi bahwa variabel produktivitas memiliki pengaruh yang positif atau searah, yang menunjukkan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

Hipotesis IV :

Ho : Analisa perancangan jabatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi. β1 = 0

H1 : Analisa perancangan jabatan memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi. β1≠ 0

Pada hipotesis keempat ini memiliki asumsi bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh yang positif atau searah, yang menunjukkan bahwa analisa perancangan jabatan tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

3.6 Rancangan Implementasi Hasil Penelitian

Hipotesis penelitian yang dihasilkan merupakan acuan dalam membuat rancangan implementasi secara empiris, yang berguna sebagai peramalan di masa mendatang dalam menganalisa perancangan jabatan dengan mengikutsertakan ketiga variabel bebas seperti kepuasan karyawan, produktivitas dan motivasi sebagai variabel yang turut mempengaruhi dalam keberhasilan suatu perancangan jabatan.

Figur

Gambar 3.1 Disain Penelitian  Analisa Perancangan Jabatan (Y) Motivasi (X3) Produktivitas  (X2) Kepuasan Kerja  (X1)  - Variasi Keahlian - Variasi Tugas  - Tingkat          Kepentingan Tugas - Otonomi - Umpan Balik - Prestasi - Pengakuan - Pekerjaan - Tang

Gambar 3.1

Disain Penelitian Analisa Perancangan Jabatan (Y) Motivasi (X3) Produktivitas (X2) Kepuasan Kerja (X1) - Variasi Keahlian - Variasi Tugas - Tingkat Kepentingan Tugas - Otonomi - Umpan Balik - Prestasi - Pengakuan - Pekerjaan - Tang p.2

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :