• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user i

HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI

EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) DAN KESIAPAN BELAJAR

SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Oleh :

RESTY HERMITA NIM K4308111

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA JULI 2012

(2)

commit to user

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Resty Hermita NIM : K4308111

Jurusan/Program Studi : PMIPA/Pendidikan Biologi

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) DAN KESIAPAN BELAJAR SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, Juli 2012

Yang membuat pernyataan

(3)

commit to user

HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI

EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) DAN KESIAPAN BELAJAR

SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh:

RESTY HERMITA K4308111

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mandapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

JULI 2012

(4)
(5)
(6)

commit to user ABSTRAK

Resty Hermita. Hasil Belajar Kognitif Biologi Diprediksi dari Emotional

Quotient (EQ) dan Kesiapan Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 7 Surakarta

Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret. Juli 2012.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara: 1) Emotional Quotient (EQ) dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012, 2) kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012, 3) Emotional Quotient (EQ) dan kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling sejumlah 74 sampel. Pengumpulan data diambil dengan tiga metode, meliputi tes, dokumentasi, dan angket. Pengumpulan data emotional quotient (EQ) menggunakan metode tes, hasil belajar kognitif menggunakan metode dokumentasi, dan kesiapan belajar diukur dengan angket. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik analisis korelasi regresi dengan SPSS 17.

Hasil penelitian ini adalah 1) terdapat hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012, 2) terdapat hubungan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012, 3) terdapat hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dan kesiapan belajar secara bersama-sama dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Hubungan dari ketiga hipotesis tersebut bernilai positif dan signifikan.

Kata kunci : Emotional Quotient (EQ), kesiapan belajar, hasil belajar kognitif biologi, analisis korelasi regresi

(7)

commit to user ABSTRACT

Resty Hermita. Biology Cognitive Learning Achievement Predicted From Student’s Emotional Quotient (EQ) and Learning Readiness in X Grade of SMA Negeri 7 Surakarta in Academic Year 2011/2012. Thesis. Surakarta. Teacher and Training Education Faculty. Sebelas Maret University. July 2012.

The aims of this research are certain the relationship of 1) emotional quotient (EQ) with student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012, 2) learning readiness with student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012, 3) emotional quotient (EQ) and learning readiness with student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012.

This was a correlational quantitive research. The population were all of the students in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year of 2011/2012. The sample was taken among 74 samples of student using simple random sampling technique. The data was collected by test, documentation, and questionnaire. Test was used to knowing student’s emotional quotient (EQ), documentation was used to getting student’s cognitive learning achievement, and learning readiness was measured by using questionnaire. Analyze uses correlation regression analysis with SPSS 17.

The result showed that 1) there is a relationship between emotional quotient (EQ) and student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012, 2) there is a relationship between learning readiness and student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012, 3) there is a relationship both of emotional quotient (EQ) and learning readiness with student’s cognitive learning achievement of biology in X grade of SMA Negeri 7 Surakarta in academic year 2011/2012. The three aforementioned correlation are considered as significant and positive valuable.

Keywords: Emotional Quotient (EQ), learning readiness, cognitive learning outcome of biology, correlation regression analysis

(8)

commit to user MOTTO

”Hidup hanya sekali, jalanilah dengan baik, hidup adalah perjuangan, hargailah setiap detiknya, lakukan yang terbaik dengan penuh semangat”.

”Jangan pernah berhenti untuk belajar, karena siapa pun yang terus belajar akan tetap muda”.

(9)

commit to user PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

Ibu terkasih, tercinta, dan tersayang, doa dan kasih sayangmu menjadikan kekuatan dan kelancaran di setiap langkahku....terima kasih tiada tara untukmu Ibu.

Bapak, terima kasih atas dukungan dan segala pengertian serta pengorbanan Bapak…terima kasih sedalam-dalamnya.

Kakakku “Nela Rofisian” terkasih dan keponakanku “Hafiza Naya” tercinta….kalian yang telah mewarnai kehidupanku dengan segala keceriaan….terima kasih atas motivasi dan senyumannya.

Pak Puguh dan Bu Alvi, terima kasih atas bimbingan, nasehat, dan kesabarannya.

Evi NH, Rahma, Fety, Shelly, Iva Yuni, Ita Widya….teman berbagi….kalian tempat mencurahkan uneg-uneg dan kepenatan…tanpa kalian aku tidak ada artinya….terima kasih atas semangat dan kesabarannya….i love u.

Anisa Nur Khasanah, Afi, Isnaini, Fatimah, Novita (AFNIRA)....terima kasih teman diskusi dan tawaku....kalian memang teman yang solid...kalian membuatku hidup dan nyaman...aku merasa menjadi seseorang yang lebih berarti...i love u ANFISMAN Holic.

Someone yang ada disana....terima kasih atas semangatmu...i miss u.

Semua siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta....terima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya.

Teman-teman P. Biologi 2008, terima kasih atas kebersamaan dan perjuangan yang tak akan terlupakan.

(10)

commit to user KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas segala rahmat, hidayah serta inayah-Nya. Atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) DAN KESIAPAN SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012”.

Penulisan skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari prasyarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Biologi, Jurusan Pendidikan Matetatika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi dapat terselesaikan dengan baik atas bantuan, bimbingan, serta pengarahan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D., selaku Pembimbing I, yang selalu memberikan motivasi, pengarahan dan bimbingan dalam menyusun skripsi ini.

5. Dra. Hj. Alvi Rosyidi, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang selalu memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyusun skripsi ini.

6. Kepala SMA Negeri 7 Surakarta, yang telah memberikan kesempatan dan tempat guna pengambilan data dalam penelitian.

7. Guru Biologi Kelas X SMA Negeri 7 Surakarta yang telah membantu dan memberikan dukungan pada saat jalannya penelitian.

(11)

commit to user

8. Siswa-siswi kelas X dan keluarga besar SMA Negeri 7 Surakarta atas segala partisipasi dan dukungannya selama penelitian.

9. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Surakarta, Juli 2012

(12)

commit to user DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN ABSTRACT ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka dan hasil penelitian yang relevan ... 7

1. Emotional Quotient (EQ) ... 7

a. Pengertian Emotional Quotient (EQ) ... 7

b. Ciri-Ciri Emotional Quotient (EQ) ... 8

c. Skala Emotional Quotient (EQ) ... 9

2. Kesiapan Belajar ... 11

(13)

commit to user

b. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap

Kesiapan Belajar ... 12

c. Aspek-Aspek Kesiapan Belajar ... 13

d. Prinsip-Prinsip Kesiapan Belajar ... 14

3. Belajar dan Hasil Belajar ... 16

a. Pengertian Belajar ... 16

b. Pengertian Hasil Belajar ... 17

c. Ranah Hasil Belajar ... 18

1) Ranah Kognitif ... 18

2) Ranah Afektif ... 20

3) Ranah Psikomotorik ... 21

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar .... 21

4. Teori Belajar ... 23

a. Pengertian Teori Belajar ... 23

b. Penggolongan Teori Belajar ... 24

5. Hasil Penelitian yang Relevan ... 26

B. Kerangka Berpikir ... 28

C. Hipotesis ... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

1. Tempat Penelitian ... 32

2. Waktu Penelitian ... 32

B. Rancangan Penelitian ... 33

C. Populasi dan Sampel ... 34

D. Teknik Pengambilan Sampel ... 35

E. Pengumpulan Data ... 35

1. Variabel Penelitian ... 35

2. Metode Pengumpulan Data ... 36

3. Teknik Penyusunan Instrumen ... 37

(14)

commit to user

b. Uji Reliabilitas Angket ... 40

G. Analisis Data ... 40

1. Uji Prasyarat Analisis Regresi ... 40

a. Uji Normalitas ... 41

b. Uji Linearitas dan Keberartian Regresi ... 41

c. Uji Homoskedastisitas ... 42

d. Uji Multikolinearitas ... 42

2. Uji Hipotesis ... 43

3. Uji Lanjut ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 49

1. Emotional Quotient (X1) ... 49

2. Kesiapan Belajar (X2) ... 51

3. Hasil Belajar Kognitif Biologi (Y) ... 52

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 53

1. Uji Normalitas ... 53

2. Uji Linearitas dan Keberartian ... 53

3. Uji Homoskedastisitas ... 53

4. Uji Multikolinearitas ... 53

C. Pengujian Hipotesis ... 54

1. Uji Hipotesis Pertama ... 54

2. Uji Hipotesis Kedua ... 55

3. Uji Hipotesis Ketiga ... 57

D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 57

BAB IV SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan ... 65 B. Implikasi ... 66 C. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN ... 71

(15)

commit to user DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Posisi Penelitian yang Dilaksanakan Peneliti ... 21

Tabel 2 Aspek dan Indikator Emotional Quotient (EQ) ... 37

Tabel 3 Validitas Konstruk Angket Kesiapan Belajar ... 38

Tabel 4 Rangkuman Uji Validitas Hasil Tes Try Out ... 39

Tabel 5 Rangkuman Uji Reliabilitas Hasil Tes Try Out ... 40

Tabel 6 Deskripsi Data ... 49

Tabel 7 Distribusi Frekuensi Data Skor Emotional Quotient (EQ) ... 50

Tabel 8 Distribusi Frekuensi Data Kesiapan Belajar ... 51

Tabel 9 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Kognitif Biologi ... 52

Tabel 10 Hasil Uji Prasyarat Penelitian ... 53

Tabel 11 Hasil Analisis Uji Hipotesis Pertama ... 54

Tabel 12 Hasil Analisis Uji Hipotesis Kedua ... 55

(16)

commit to user DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Hubungan antar Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil

Belajar ... 30

Gambar 2 Jadwal Penelitian ... 32

Gambar 3 Bagan Paradigma Penelitian ... 33

Gambar 4 Histogram Distribusi Frekuensi Skor EQ ... 50

Gambar 5 Histogram Distribusi Frekuensi Kesiapan Belajar ... 51

Gambar 6 Histogram Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kognitif Biologi... 52

Gambar 7 Diagram Pencar Regresi Linier Sederhana Skor EQ dengan Hasil Belajar Kognitif Biologi ... 55

Gambar 8 Diagram Pencar Regresi Linier Sederhana Kesiapan belajar dengan Hasil Belajar Kognitif Biologi ... 56

(17)

commit to user DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Instrumen Penelitian

a. Kisi-Kisi Angket Kesiapan Belajar ... 71

b. Angket Kesiapan Belajar ... 72

Lampiran 2. Analisis Instrumen a. Uji Validitas Angket Kesiapan Belajar ... 76

b. Uji Reliabilitas Angket Kesiapan Belajar ... 100

c. Daftar Nama Sampel Try Out ... 122

Lampiran 3. Data Hasil Penelitian a. Hasil Tes Emotional Quotient (EQ) ... 123

b. Data Awal Kesiapan Belajar ... 130

c. Daftar Nilai UH 1 dan UH 2 Semester Genap ... 151

d. Daftar Responden Penelitian ... 154

e. Daftar EQ, Kesiapan Belajar, dan Hasil Belajar Kognitif Biologi ... 156

f. Deskripsi Data ... 159

Lampiran 4. Hasil Uji Prasyarat a. Uji Normalitas ... 162

b. Uji Linearitas ... 165

c. Uji Homoskedastisitas ... 167

d. Uji Multikolinearitas ... 168

e. Nilai Kritik Uji Lilliefors ... 169

Lampiran 5. Analisis Data a. Uji Hipotesis Pertama ... 170

b. Uji Hipotesis Kedua ... 172

c. Uji Hipotesis Ketiga ... 174

Lampiran 6. Uji Lanjut ... 176

(18)

commit to user BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar adalah suatu proses penting bagi perubahan tingkah laku manusia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan sehingga terbentuk pengalaman dan peningkatan kemampuan (kompetensi) serta kematangan pribadi (Slameto, 2003:2). Terdapat tiga komponen utama dalam belajar yaitu input, proses, dan output. Input merupakan segala sesuatu yang ada pada diri siswa yaitu motivasi, minat, bakat, inteligensi. Proses belajar merupakan proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh yaitu berupa model atau strategi pembelajaran yang digunakan pada saat proses belajar, serta sarana prasarana yang mendukung. Model pembelajaran dan sarana prasarana yang mendukung dapat menciptakan proses belajar yang optimal dan menghasilkan hasil belajar yang baik. Input yang berpengaruh pada output pembelajaran dapat meningkatkan proses belajar yaitu berupa perubahan tingkah laku dan hasil belajar.

Hasil belajar merupakan tujuan proses pembelajaran yang terdiri dari 3 ranah yaitu kognitif, afektif, psikomotorik. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan intelektual siswa yang menjadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran. Ranah afektif berhubungan dengan sikap, nilai, minat, motivasi, dan apresiasi siswa. Ranah psikomotor berhubungan dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki setiap individu (Roestiyah, 2007:110). Dari ketiga ranah tersebut, ranah kognitif merupakan ranah yang paling mendominasi dan menonjol karena berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran, serta sering dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan siswa (Sudjana, 2010:23). Ranah kognitif memiliki enam kategori dimensi proses kognitif yang meliputi C1 sampai C6 yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mngevaluasi, dan mencipta (Anderson, 2010:99). Ketercapaian keenam jenjang kognitif menunjukkan keberhasilan pencapaian hasil belajar kognitif seseorang. Setiap individu memiliki kemampuan kognitif berbeda, sehingga membedakan individu satu dengan individu lainnya. Individu yang

(19)

commit to user

memiliki kemampuan kognitif berbeda akan berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif sebagai subyek belajar.

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Slameto, 2003:54). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi dua faktor yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis. Faktor fisiologis lebih berhubungan dengan kondisi fisik. Faktor psikologis berhubungan dengan kondisi jiwa seseorang yang meliputi tujuh komponen utama yaitu intelegensi, bakat, minat, motivasi, perhatian, kelelahan, dan kesiapan (Slameto, 2003:54). Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di antara kedua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, faktor yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal yaitu sebesar 70% sedangkan faktor eksternal hanya mempengaruhi 30% (Clark, 1981 dalam Sudjana, 2005:39). Faktor internal tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa faktor internal yang berperan penting dalam menentukan hasil belajar adalah intelegensi dan kesiapan. Sulaeman (2008:45) mendapatkan hasil bahwa intelegensi memberi pengaruh dan menunjang terhadap hasil belajar siswa. Putri (2011:62), Fatchurrochman (2011:68), dan Darso (2011:159) mendapatkan hasil bahwa kesiapan belajar berpengaruh positif terhadap hasil belajar, dengan kesiapan belajar yang lebih baik dan matang dapat menghasilkan hasil belajar yang baik juga.

Salah satu faktor internal (aspek psikologis) yang mempengaruhi hasil belajar adalah inteligensi. Inteligensi memiliki tiga jenis kecakapan yaitu kecakapan menyesuaikan diri dalam situasi yang baru, kemampuan abstrak dan mengkombinasikan sesuatu yang dapat dinilai dan diukur (J.P.Chaplin, 1971 dalam Slameto, 2003:56). Inteligensi berpengaruh pada kemajuan belajar. Siswa dengan inteligensinya tinggi berpeluang untuk lebih berhasil dibanding siswa dengan inteligensinya rendah.

Selain kemungkinan di atas, ternyata siswa dengan tingkat inteligensinya tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Hal tersebut disebabkan karena

(20)

commit to user

mempengaruhi hasil belajar. Taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Menurut Goleman (2003:44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati, berempati serta kemampuan bekerja sama. Menurut Bar-On (2005:4), dalam EQ terdapat 5 skala yaitu skala intrapersonal, skala interpersonal, skala kemampuan penyesuaian diri (adaptability), skala manajemen stress, dan skala suasana hati umum (general mood).

EQ (Emotional Quotient) merupakan hasil dari aktivitas individu dalam melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri maupun orang lain yang melibatkan kemampuan perasaan dan emosi sehingga memperoleh hasil belajar optimal (Aunurrahman, 2009:87). Kecerdasan emosional yang tidak berfungsi maksimal maka hasil belajar yang diperoleh juga tidak maksimal. Kecerdasan emosional merupakan faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar, jika kecerdasan emosi berkembang baik maka dapat meningkatkan hasil belajar. Kecerdasan emosional berpengaruh dan berperan penting dalam meningkatkan hasil belajar (Ogundokun & Adeyemo, 2010:135). Hal ini senada dengan hasil penelitian Wahyuningsih (2004:64) bahwa EQ berhubungan positif dan signifikan terhadap hasil belajar, dimana kecerdasan emosional tinggi maka hasil belajar tinggi.

Pembelajaran yang memperhatikan emosi dapat membantu mempercepat siswa dalam memahami materi pelajaran. Memahami emosi siswa juga membuat pelajaran lebih berarti dan permanen, karena siswa akan hadir baik secara fisik maupun psikis. Kecerdasan emosional juga mampu memaksimalkan fungsi kecerdasan intelektualnya sehingga mampu menunjukkan prestasi yang lebih baik.

Selain inteligensi, faktor internal lain yang mempengaruhi belajar adalah kesiapan belajar. Kesiapan belajar merupakan prasyarat dalam belajar bagi seseorang untuk dapat berinteraksi dan memberi respons dengan cara dan kondisi tertentu (Slameto, 2003:113). Kesiapan belajar dipengaruhi oleh beberapa kondisi

(21)

commit to user

mencakup kondisi fisik (keadaan, lelah, alat indera), mental (kecerdasan), emosional. Kesiapan belajar memiliki dua dimensi yaitu kesiapan jasmani dan rohani (mental) (Aunurrahman, 2009:52). Kesiapan belajar juga perlu diperhatikan, dengan kesiapan belajar yang baik dan lebih matang, akan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik (Huhn, 1980:30). Tanpa kesiapan belajar tujuan belajar tidak akan tercapai secara optimal.

Kesiapan belajar tidak hanya diartikan dalam kesiapan fisik dan psikis saja, tetapi juga diartikan siap dalam materiil. Kesiapan materiil merupakan alat bantu yang mendukung pembelajaran seperti adanya bahan yang dipelajari berupa buku, catatan pelajaran, modul untuk pembelajaran (Djamarah, 2002:35). Kesiapan siswa dalam belajar merupakan kondisi diri siswa yang telah dipersiapkan untuk suatu kegiatan belajar. Sehingga kesiapan belajar merupakan kebutuhan yang disadari mendorong usaha untuk mencapai tujuan belajar. Terdapat hubungan erat antara kesiapan belajar dengan hasil belajar. Hal tersebut dinyatakan oleh Long dan Agyekum (1984:710) bahwa terdapat beberapa hal dalam kesiapan belajar khususnya aspek mental dan emosional meliputi kecerdasan, kemandirian, kepercayaan diri, kegigihan, inisiatif, kreativitas, kemampuan untuk kritis mengevaluasi diri sendiri, keinginan untuk belajar, dan orientasi tugas yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti ingin meneliti mengenai hubungan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar terutama faktor internal yaitu Emotional Quotient (EQ) dan kesiapan belajar, dimana kedua faktor internal tersebut menunjang pencapaian hasil belajar siswa, sehingga peneliti merumuskan judul penelitian sebagai berikut:

“HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI EMOTIONAL QUOTIENT (EQ) DAN KESIAPAN BELAJAR SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012”.

(22)

commit to user B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, untuk merujuk prediksi masalahnya dapat dirumuskan dalam bentuk regresi sebagai berikut:

1. Adakah hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012?

2. Adakah hubungan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012?

3. Adakah hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dan kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti menetapkan beberapa tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya:

1. Hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. 2. Hubungan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa

kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.

3. Hubungan antara Emotional Quotient (EQ) dan kesiapan belajar dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai faktor internal dalam mempengaruhi belajar yaitu EQ dan kesiapan belajar

(23)

commit to user

dalam memprediksi hasil belajar kognitif biologi siswa sehingga dapat dijadikan tolok ukur dalam pencapaian hasil belajar kognitif biologi siswa. 2. Manfaat Praktis

a. Guru

Guru mengetahui EQ dan kesiapan belajar siswa sehingga dapat memprediksi hasil belajar siswa.

b. Siswa

Siswa mengetahui EQ dan kesiapan belajar turut memprediksi hasil belajar siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal pada mata pelajaran biologi. Siswa dapat mengelola emosi dengan baik, tidak mudah menyerah dan putus asa saat menghadapi kesulitan dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil belajar kognitif dengan baik.

c. Orang Tua

Dapat membimbing dan memotivasi anak supaya mampu mengelola emosi dengan baik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar kognitif yang dicapai.

d. Institusi Terkait

Memberikan masukan dan kontribusi pada institusi dan sekolah bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Dengan demikian sekolah dapat melakukan perbaikan pada proses belajar mengajar di sekolah menengah selanjutnya untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.

e. Peneliti Lain

Sebagai penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa selain kedua faktor yang telah diteliti.

(24)

commit to user BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

1. Emotional Quotient (EQ)

a. Pengertian Emotional Quotient (EQ)

Salah satu faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah emotional quotient (EQ). Emotional quotient atau dikenal dengan kecerdasan emosional merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam, dan merupakan suatu kekuatan, karena dengan adanya emosi itu manusia dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah-masalah manusia. Aunurrahman menegaskan bahwa, “Emotional quotient (EQ) lebih merupakan hasil dari aktivitas individu dalam melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri atau oleh orang lain sehingga lebih merupakan hasil belajar” (2009:87). Hasil dari melatih fungsi emosional tersebut berupa kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Kecerdasan emosi berperan penting dalam menunjang pencapaian keberhasilan seseorang (Aunurrahman, 2009:88). Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional berarti memiliki kemampuan dalam menggunakan emosi-emosi seseorang yang dapat membantu memecahkan masalah, mampu mengendalikan emosi, tenang dan stabil, berpikir positif, bisa memahami orang lain dan pandai bergaul, serta menjalani kehidupan secara lebih efektif.

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. Keterampilan dasar

(25)

emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional tersebut besar pengaruhnya. Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak sukses di sekolah dan dalam berhubungan dengan teman sebaya (Gottman, 1999:250).

b. Ciri-Ciri Emotional Quotient (EQ)

Menurut Goleman (2003:45) menegaskan bahwa ciri-ciri emotional quotient meliputi “Kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa”. Seseorang dapat mengaplikasikan ciri emotional quotient yang terdapat pada diri seseorang meliputi kemampuan memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, serta kemampuan menjaga suasana hati. Kemampuan memotivasi diri sendiri merupakan kemampuan internal pada diri seseorang berupa kekuatan mendorong seseorang untuk mampu menggerakkan kemampuan atau potensi fisik dan mental dalam melakukan aktivitas tertentu sehingga mampu mencapai keberhasilan yang diharapkan. Ketahanan menghadapi frustasi, mencakup kemampuan menghadapi frustasi dengan cara menghadapi suatu masalah sehingga memiliki daya tahan lebih tinggi dalam menghadapi persoalan yang kompleks. Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mencakup mengendalikan emosi agar tidak depresi dan selalu optimis untuk mencapai keberhasilan. Ketika menghadapi kesuksesan seseorang harus melihat keadaan lingkungan sekitar dan tidak memperlihatkan sikap yang berlebih-lebihan. Kemampuan menjaga suasana hati, kemampuan ini terkait dengan kemampuan mengatasi masalah, karena

(26)

commit to user

seseorang yang telah mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi akan lebih dewasa dalam menghadapi persoalan-persoalan yang lebih berat.

Kemampuan-kemampuan ini ternyata mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap diri seseorang untuk mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan. Menurut Goleman menegaskan bahwa “Bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar, dengan tujuh varietas utama” (2003:50). Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional. Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan Gardner (Goleman, 2003:57) dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu yaitu kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. c. Skala Emotional Quotient (EQ)

Kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional, Goleman menegaskan, “Menempatkan kecerdasan emosional dan memperluas kemampuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, meliputi: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, membina hubungan” (2003:57). Mengenali emosi diri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan diri pada saat perasaan itu terjadi, mampu menggunakannya untuk membuat keputusan diri sendiri, mempunyai kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan, mengekspresikan dan mengendalikan emosi sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri, melepaskan kecemasan, kemurungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. Memotivasi diri sendiri adalah kemampuan untuk membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, mampu menghadapi kegagalan dan frustasi, berusaha menerima atau menolak sesuatu yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan, serta mampu mengambil inisiatif. Untuk mendapatkan

(27)

commit to user

hasil belajar yang optimal maka harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasaan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif.

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Empati merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan mampu menimbulkan hubungan saling percaya. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu mendengarkan keluh kesah orang lain. Membina hubungan merupakan keterampilan yang menciptakan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, kepemimpinan, dan keberhasilan antarpribadi (Goleman, 2003:59). Dalam membina hubungan individu harus mampu menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, menciptakan serta mempertahankan hubungan dengan orang lain, dan mampu memimpin. Merujuk pada Ogundokun dan Adeyemo (2010:135) bahwa kecerdasan emosional saling berkaitan dengan keberhasilan akademik. Kompetensi kecerdasan emosional, seperti kemampuan untuk mengatur perasaan seseorang, menghadapi masalah, kecerdasan intrapersonal dan interpersonal berhubungan erat dengan keberhasilan akademik.

Merujuk pada Bar-On (2005:4) instrument Bar-On EQ-I membagi EQ ke dalam lima skala dan 15 subskala. Bar-On (2005:4) menegaskan bahwa, “Lima skala tersebut antara lain skala intrapersonal (intrapersonal), skala interpersonal (interpersonal), skala kemampuan penyesuaian diri (adaptability), skala manajemen stress (skala management), skala suasana hati umum (general mood)”. Stein dan Book (2002) dalam Armansyah (2002:25) skala intrapersonal (intrapersonal), meliputi: penghargaan diri, emosional kesadaran diri, ketegasan, kebebasan, aktualisasi diri. Skala

(28)

commit to user

Skala kemampuan penyesuaian diri (adaptability), meliputi: tes kenyataan, fleksibilitas, pemecahan masalah. Skala manajemen stress (stress management), meliputi: daya tahan stress, kontrol impuls. Skala suasana hati umum (general mood), meliputi: optimisme, kebahagiaan.

2. Kesiapan belajar

a. Pengertian Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar juga merupakan faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar. Kesiapan belajar merupakan kemauan individu untuk berkembang dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya. Menurut Slameto (2003:113), menegaskan bahwa, “Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi”. Kesiapan belajar merupakan prasyarat dalam belajar bagi seseorang untuk dapat berinteraksi dan memberi respons dengan cara dan kondisi tertentu. Untuk mencapai tingkat kesiapan maksimal diperlukan kondisi fisik dan psikologis yang saling menunjang kesiapan individu tersebut dalam proses pembelajaran. Kesiapan sangat penting untuk memulai suatu aktivitas, karena dengan memiliki kesiapan, aktivitas atau pekerjaan apapun dapat teratasi dan dikerjakan dengan lancar sehingga mampu memperoleh suatu hasil yang baik pula. Kesiapan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses pembelajaran terutama pada pembelajaran berbasis kompetensi, mengingat dalam rancangan pembelajaran kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai standar yang telah ditetapkan.

Mengenai kemampuan dalam kesiapan belajar, Aunurrahman berpendapat, “Kesiapan mencakup kemampuan menempatkan diri dalam suatu keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan” (2009:52). Kemampuan ini mencakup aktivitas jasmani dan rohani (Aunurrahman, 2009:52). Kesiapan adalah kondisi-kondisi sebelum adanya kegiatan belajar. Tanpa kesiapan belajar, proses belajar tidak akan

(29)

commit to user

terlaksana secara optimal. Hal-hal yang dilakukan siswa yang ditunjukkan oleh perilaku siswa sebelum terjadinya proses belajar, hal tersebut perlu dilakukan oleh siswa agar lebih mendukung terlaksananya proses belajar yang lebih optimal, jika dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi proses belajar tersebut.

Kesiapan belajar menghasilkan tindakan untuk mencapai tujuan. Tanpa kesiapan belajar tujuan belajar tidak akan tercapai secara optimal (Slameto, 2003:114). Kesiapan belajar merupakan tingkat perkembangan yang harus dicapai oleh seseorang untuk dapat menerima suatu pelajaran baru. Sebelum menerima pelajaran baru dibutuhkan kesiapan belajar yang matang. Sehingga kesiapan belajar erat hubungannya dengan kematangan. Kesiapan belajar akan tercapai apabila seseorang telah mencapai tingkat kematangan tertentu maka seseorang akan siap untuk menerima pelajaran-pelajaran baru (Nurkancana, 1986:221). Kondisi awal siswa yang mendukung, maka keterlaksanaan proses belajar dapat berjalan dengan baik, sehingga siswa siap untuk memberi respons yang ada pada diri siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tertentu.

b. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kesiapan Belajar

Menurut Soemanto (2006:191), menegaskan bahwa “Kesiapan dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang bersama-sama membentuk kesiapan yaitu: kesehatan dan motivasi”. Motivasi dapat membentuk kesiapan belajar berupa motivasi yang terkait kebutuhan, minat, serta tujuan untuk mengembangkan diri. Kesehatan dapat membentuk kesiapan belajar berupa kondisi tubuh sehat yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Kesiapan belajar terbentuk dalam periode tertentu selama masa pembentukan dan perkembangan, serta dibentuk melalui kebiasaan belajar (Slameto, 2003:115). Sehingga kesiapan belajar juga memiliki faktor lainnya meliputi sejarah dan latar belakang perkembangan individu. Berdasarkan pendapat diatas bahwa kesiapan belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi motivasi, kesehatan, sejarah, latar belakang

(30)

commit to user c. Aspek-Aspek Kesiapan Belajar

Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal diperlukan persiapan siswa dalam belajar yang baik pula. Persiapan siswa dalam belajar merupakan prasyarat yang harus oleh siswa dalam mencapai hasil belajar. Untuk siap melakukan aktivitas belajar ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu aspek kesiapan fisik dan psikologis (Slameto, 2003:113). Menurut Aunurrahman (2009:52) kesiapan belajar dibagi menjadi dua aspek meliputi aspek kesiapan jasmani dan rohani. Djamarah menegaskan bahwa, “Kesiapan belajar terdiri dari tiga aspek meliputi aspek kesiapan fisik, psikis, dan materiil (2002:35)”. Kesiapan fisik merupakan kondisi yang berkaitan dengan kesehatan tubuh seseorang. Seperti kondisi fisik yang bebas dari gangguan penyakit, lesu, mengantuk, kurang gizi dan rasa lapar (Djamarah, 2002:35). Oleh karena itu, anak yang kondisi badannya tidak sehat (sering sakit) maka prestasinya akan menurun. Sehingga kondisi fisik sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Kesiapan psikis merupakan hasrat ingin tahu seseorang pada suatu kondisi, seperti hasrat untuk belajar, percaya diri, dan berkonsentrasi. Kondisi psikis harus terhindar atau bebas dari gangguan konflik kejiwaan, tekanan masalah atau ketegangan emosional (Surya, 2009:24). Kesiapan psikis berhubungan dengan mental dan emosional (Slameto, 2003:113). Kesiapan materiil misalnya ada bahan yang harus dipelajari atau dikerjakan, dapat berupa buku bacaan, catatan pelajaraan, modul, dan sebagainya (Djamarah, 2002:35).

Merujuk pada Long dan Agyekum (1983:78) kesiapan psikis membutuhkan kemampuan-kemampuan untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan aktivitas belajar. Kemampuan tersebut meliputi intelegensi, kemandirian, percaya diri, ketekunan, inisiatif, kreatif, kemampuan untuk kritis mengevaluasi diri sendiri, kesabaran, keinginan untuk belajar dan orientasi tugas. Kesiapan fisik dan kesiapan psikis adalah kondisi yang saling menunjang kesiapan individu tersebut dalam proses pembelajaran untuk mencapai tingkat kesiapan yang maksimal (Slameto, 2003:113).

(31)

commit to user

Selain aspek tersebut, ada faktor lain yang menjadi aspek kesiapan belajar meliputi aspek kesiapan lingkungan dan kesiapan perilaku. Kesiapan lingkungan merupakan faktor penting dalam kesiapan belajar seperti lingkungan tempat belajar yang kondusif. Beberapa aspek kesiapan belajar diatas, ada yang tergolong aspek kesiapan intrinsik dan ekstrinsik. Aspek kesiapan yang berasal dari dalam diri adalah aspek kesiapan intrinsik meliputi aspek kesiapan fisik dan psikis. Aspek kesiapan yang berasal dari luar adalah aspek kesiapan ektrinsik meliputi aspek kesiapan materiil, lingkungan, dan perilaku. Merujuk Darso (2011:159); Fatchurrochman (2011:68); dan Putri (2011:62) bahwa antara kesiapan belajar dengan hasil belajar terdapat hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan belajar memiliki hubungan erat terhadap pencapaian hasil belajar.

d. Prinsip-Prinsip Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar memiliki prinsip-prinsip kesiapan yang mempengaruhi perilaku belajar siswa, Slameto menegaskan bahwa, “Prinsip-prinsip kesiapan belajar meliputi semua aspek perkembangan berinteraksi, kematangan jasmani dan rohani, pengalaman-pengalaman, kesiapan belajar untuk kegiatan tertentu” (2003:115). Kematangan adalah proses akibat dari pertumbuhan dan perkembangan yang menimbulkan perubahan tingkah laku. perlu adanya kematangan jasmani dan rohani untuk memperoleh manfaat dari pengalaman. Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh positif terhadap kesiapan belajar. Kesiapan belajar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan. Tanpa kesiapan belajar, proses belajar tidak akan terjadi. Kesiapan belajar terdiri atas perhatian, motivasi, dan perkembangan kesiapan.

Perhatian adalah kondisi jiwa dari seseorang yang terfokus pada suatu hal tertentu terutama dalam hal belajar, maka hasil belajar yang disertai dengan perhatian yang baik diharapkan akan mencapai hasil belajar

(32)

commit to user

pembelajaran, maka hasilnya pun tidak akan sebaik bila dibandingkan dengan seseorang siswa yang memfokuskan perhatiannya. Perhatian tidak hanya pada saat siswa mendengarkan penjelasan guru, tetapi bahan yang dipelajarinya juga merupakan suatu perhatian. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan sehingga menyebabkan ketidak senangan terhadap belajar. Beberapa prinsip penting yang berkaitan dengan perhatian (Slameto, 2003:106) yaitu: perhatian seseorang tertuju pada hal-hal yang baru; perhatian seseorang tertuju pada hal-hal yang rumit; perhatian seseorang tertuju pada hal-hal yang dikehendakinya

Motivasi adalah dorongan dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu dalam bentuk aktivitas untuk mencapai kebutuhan dan tujuan tertentu (Winkels, 1987, Siregar dan Nara, 2010:48). Agar motivasi dari dalam diri dapat tergerakkan, maka harus ada alasan tertentu yang merangsang perbuatan tersebut. Sebaliknya aktivitas yang tidak didasari motivasi yang kuat, akan menimbulkan ketidakseriusan dan perhatian tidak optimal sehingga menimbulkan dorongan untuk mengalihkan aktivitas tersebut ke aktivitas yang lain. Jadi motivasi yang kuat menjadi alasan yang kuat agar memotivasi diri sendiri untuk giat belajar (Nasution, 1995:73).

Perkembangan kesiapan adalah suatu proses yang dapat menimbulkan perubahan pada diri seseorang, perubahan itu terjadi karena adanya pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan bertambahnya usia dari seseorang itu. Kesiapan merupakan sebagai kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu. Dan kematangan itu sendiri adalah suatu proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan (Slameto, 2003:115). Perkembangan kesiapan dapat menunjang terhadap kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dalam menguasai kompetensi lainnya. Dalam aktivitas belajar ketiga komponen perhatian, motivasi, dan perkembangan sikap merupakan faktor yang mempengaruhi dalam kesiapan

(33)

belajar, jika ketiga komponen tersebut tidak optimal, maka akan mengalami kesulitan dalam konsentrasi belajar (Nasution, 1995:73).

3. Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia disebabkan pengalaman yang berulang-ulang dengan jangka waktu tertentu. Aunurrahman berpendapat, “Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya” (2009:35). Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai usaha yang bertujuan (Soemanto, 2006:104). Tujuan belajar sebagai salah satu ciri proses mengubah perilaku adalah untuk memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup. Menurut Sudjana (2010:22) bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar”. Hasil belajar didapat dari pengalaman-pengalaman belajar selama proses belajar berlangsung, dan hasil belajar biasanya diukur melalui seperangkat test pengukuran pencapaian. Pengalaman belajar berupa pemahaman siswa terhadap materi mencakup tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik (Dimyati dan Mudjiono,2002:22).

b. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2010:22); Aunurrahman (2009:35) hasil belajar ditandai adanya perubahan tingkah laku, perubahan tingkah laku pada diri individu terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya, dan merupakan akibat proses belajar berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian/pengertian. Hasil belajar terjadi setelah adanya pengalaman belajar selama proses belajar berlangsung, dimana hasil belajar ditandai adanya perubahan tingkah laku maupun terbentuknya kemampuan-kemampuan tertentu.

(34)

commit to user

Hasil belajar ini dapat diketahui besarnya melalui pengukuran hasil belajar. Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi lima macam meliputi informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris (Sudjana, 2010:22). Sudjana (2010:22) membagi tiga macam hasil belajar meliputi keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan atau pengertian, sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Salah satu tujuan belajar adalah pencapaian hasil belajar yang meliputi ranah kognitif (mencakup pengetahuan dan fakta), afektif (mencakup sikap), psikomotorik (mencakup keterampilan bertindak) (Sudjana, 2010:22). Ketiga ranah hasil belajar tersebut merupakan satu kesatuan utuh. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup, interaksi satu sama lain, dan interaksi dengan lingkungannya. Karakterisitik ilmu biologi ditentukan oleh objek dan permasalahan yang dikaji. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat didefinisikan bahwa hasil belajar biologi merupakan hasil yang dicapai siswa sebagai akibat dari proses belajar mengenai ilmu tentang makhluk hidup untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran biologi harus sejalan dengan hasil belajar biologi. Ketiga ranah hasil belajar diatas dikaitkan dengan pembelajaran biologi yaitu siswa tidak hanya mempelajari pengetahuan dan fakta berupa produk kognitif, tetapi dalam prosesnya siswa juga harus terlibat aktif dalam aspek intelektual, sikap, dan keterampilan dalam pembelajaran biologi.

c. Ranah Hasil Belajar

Hasil belajar sebagai output pembelajaran memiliki tingkatan jenis perilaku belajar, Aunurrahman berpendapat, “Penggolongan atau tingkatan jenis perilaku belajar terdiri dari tiga ranah atau kawasan, yaitu ranah kognitif (Bloom, dkk), ranah afektif, ranah psikomotor” (2009:49).

1) Ranah Kognitif

Ranah kognitif berhubungan dengan hasil belajar intelektual siswa. Ranah kognitif paling banyak dinilai karena selain ranah yang paling

(35)

commit to user

menonjol juga ranah yang langsung berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran (Sudjana, 2010:23). Ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom yang telah direvisi Anderson dan Krathwohl (2010:99) berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam kategori dimensi proses kognitif, yakni mengingat (remember), memahami (understand), mengaplikasikan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate) dan mencipta (create).

Mengingat (remember) merupakan menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan dimensi proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Pengetahuan Mengingat penting sebagai bekal untuk belajar yang bermakna dan menyelesaikan masalah karena pengetahuan dapat dipakai dalam tugas-tugas yang lebih kompleks. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif yaitu mengenali (recognizing) dan mengingat kembali (recalling). Memahami (understand) adalah mengkonstruksi makna atau pengertian dari materi pembelajaran termasuk apa yang dijelaskan oleh guru. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif yaitu menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). Mengaplikasikan (apply) mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas, sehingga mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Kategori mengaplikasikan mencakup 2 macam proses kognitif yaitu mengeksekusi (executing) dan mengimplementasikan (implementing). Menganalisis (analyze) menguraikan suatu permasalahan menjadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan bagaimana hubungan antar bagian dan antara setiap bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori menganalisis mencakup tiga macam proses kognitif yaitu membedakan (differentiating), mengorganisasi (organizing), dan mengatribusikan

(36)

commit to user

keputusan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini ada dua macam yaitu memeriksa (checking) dan mengkritik (critiquing). Mencipta (create) adalah memadukan beberapa unsur sehingga membentuk sesuatu yang baru dan satu kesatuan. Proses kognitif yang tergolong dalam kategori mencipta ada tiga macam yaitu merumuskan (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing).

Keenam tingkatan di atas menggambarkan tingkatan kemampuan yang dimiliki seseorang. Keenam tingkatan tersebut merupakan tingkatan terendah yang sebaiknya dimiliki terlebih dahulu sebelum mempelajari tingkatan yang lebih tinggi. Seseorang yang belajar adalah suatu proses menuju perubahan yang bermula dari kemampuan dan tingkatan yang lebih rendah, kemudian akan meningkat pada kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Proses ini merupakan proses yang dinamis, dimana siswa melalui keaktifannya akan dapat secara terus-menerus mengembangkan kemampuannya untuk mencapai tingkatan-tingkatan kemampuan yang lebih tinggi melalui proses belajar yang dilakukan (Aunurrahman, 2009:49).

2) Ranah Afektif

Ranah afektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif yang tampak pada siswa berupa sikap atau tingkah laku meliputi perhatian siswa terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Ranah afektif berkenaan dengan hasil belajar terdiri dari lima kategori meliputi penerimaan, penanggapan, penilaian, organisasi, dan internalisasi nilai (Sudjana, 2010:30).

Penerimaan merupakan kemampuan peka dalam menerima rangsangan dari luar dalam bentuk masalah, situasi, atau gejala. Penanggapan merupakan kemampuan seseorang memberikan tanggapan terhadap stimulus dari luar. Penilaian berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus dari luar. Organisasi

(37)

commit to user

merupakan kemampuan mengembangkan kemampuan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi. Internalisasi nilai merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang dimiliki seseorang sehingga dapat mempengaruhi dan membentuk sikap (tingkah laku) positif dan kepribadian seseorang (Sudjana, 2010:30).

3) Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik berhubungan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Terdapat enam kategori ranah psikomotorik meliputi gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan di bidang fisik, gerakan–gerakan skill, serta gerakan ekspresif dan interpretatif. Gerakan refleks, mencakup keterampilan pada gerakan yang tidak sadar. Kemampuan perceptual, mencakup membedakan visual, membedakan auditif, motoris. Kemampuan di bidang fisik, mencakup kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan. Gerakan–gerakan skill mencakup keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks. Gerakan ekspresif dn interpretatif mencakup kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive (Sudjana, 2010:31).

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Slameto (2003:54) hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal (meliputi aspek fisiologis dan aspek psikologis) dan faktor eksternal (melalui pendekatan dan strategi pembelajaran yang diterapkan guru). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa berupa kemampuan yang dimiliki siswa tersebut. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa, biasanya juga ada kaitannya dengan lingkungan. Hasil belajar siswa lebih ditentukan oleh faktor internal sebesar 70%, sedangkan faktor eksternal hanya mempengaruhi 30% (Clark, 1981, dalam Sudjana, 2005:39). Menurut Slameto (2003:54), faktor internal dibagi menjadi tiga faktor meliputi faktor jasmaniah, faktor psikologis, faktor

(38)

commit to user

Faktor jasmaniah berhubungan dengan kondisi fisik individu meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Seseorang yang kondisi kesehatan tubuhnya baik, maka terwujud belajar yang baik dan nyaman sehingga hasil belajar yang dicapai baik pula. Cacat tubuh adalah kondisi tubuh seseorang yang kurang sempurna atau kurang baik. Keadaan cacat tubuh seseorang akan mempengaruhi hasil belajar seseorang (Slameto, 2003:55).

Faktor psikologis meliputi tujuh faktor yaitu inteligensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan, kesiapan. Inteligensi berpengaruh pada kemajuan belajar. Siswa dengan inteligensinya tinggi berpeluang untuk lebih berhasil dibanding siswa dengan inteligensinya rendah. Seseorang yang mempunyai intelegensi tinggi umumnya mudah belajar dan hasilnya cenderung baik (Sulaeman, 2008:37). Dalam proses belajar juga perlu adanya perhatian dan konsentrasi yang kuat. Perhatian dan konsentrasi yang kuat dalam proses belajar akan menghasilkan hasil belajar yang optimal. Faktor lain yaitu minat, siswa yang memiliki minat besar akan berpengaruh terhadap proses belajar sehingga berpengaruh pula terhadap hasil belajar. Bakat merupakan kemampuan siswa untuk belajar. Motivasi dapat mempengaruhi hasil belajar, dimana motivasi yang kuat akan menciptakan proses belajar dengan semangat, sehingga menghasilkan hasil belajar yang baik. Kematangan merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan. Kematangan dan kesiapan belajar saling erat hubungannya. Kematangan membuat siswa menjadi lebih siap belajar (Slameto, 2003:115). Kesiapan belajar mempengaruhi proses dan hasil belajar (Huhn, 1980:30). Kesiapan perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika pada diri siswa sudah ada kesiapan untuk belajar maka hasil belajar akan optimal. Faktor internal ketiga adalah faktor kelelahan, apabila kondisi siswa baik dan bebas dari kelelahan, maka siswa akan dapat belajar dengan baik. Belajar yang baik akan memudahkan ketercapaian hasil belajar yang baik.

(39)

commit to user

Selain faktor internal, hasil belajar siswa juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mendorong siswa untuk belajar dan pada akhirnya memperoleh hasil belajar yang optimal. Menurut Slameto (2003:60), faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa dibedakan menjadi tiga faktor meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Faktor keluarga mencakup cara orang tua mendidik, hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga. Lingkungan keluarga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar, dimana akan memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap keberhasilan belajar. Faktor sekolah mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, displin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Faktor masyarakat mencakup kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

4. Teori Belajar

a. Pengertian Teori Belajar

Belajar merupakan kegiatan siswa sehari-hari berupa perilaku yang kompleks (Dimyati dan Mudjiono, 2002:17). Kegiatan belajar yang berupa perilaku kompleks telah lama menjadi objek penelitian ilmuwan. Perilaku kompleks tersebut menimbulkan berbagai teori belajar. Teori belajar menunjukkan hubungan antara aktivitas siswa dengan proses psikis siswa. Siregar dan Nara berpendapat, “Teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-proses psikologis dalam diri siswa, atau teori belajar mengungkapkan hubungan antara fenomena yang ada dalam diri siswa” (2010:24). Merujuk pada Suprijono (2011:16) teori belajar ditujukan untuk memberikan hasil sebagai akibat dari proses belajar. Teori belajar menunjukkan hubungan antar variabel yang menentukan hasil belajar. Tujuan utama teori belajar lebih menjelaskan proses belajar, dimana

(40)

commit to user

belajar dan proses belajar menghasilkan perubahan tingkah laku berupa hasil belajar. Fungsi teori belajar adalah memberi kerangka konseptual belajar, memberi rujukan menyusun rancangan pelaksanaan belajar, mendiagnosis masalah-masalah dalam proses belajar, mengkaji kejadian belajar dalam diri siswa, mengkaji faktor eksternal yang berpengaruh terhadap hasil belajar (Suprijono, 2011:15).

b. Penggolongan Teori Belajar

Merujuk pada Siregar dan Nara (2010:25) bahwa teori belajar dapat dibedakan menjadi empat yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar humanistik, teori belajar konstruktivisme. Belajar menurut teori belajar behavioristik dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku yang berasal dari interaksi antara stimulus dan respons. Teori belajar behavioristik sering disebut juga dengan stimulus-respons, dimana lingkungan mempengaruhi tingkah laku manusia berupa hadiah dan penguatan (Suprijono, 2011:17). Beberapa ilmuwan yang menganut teori belajar behavioristik meliputi Pavlov, Thorndike, Watson, Guthrie, dan Skinner.

Teori belajar yang dikembangkan Pavlov adalah teori conditioning. Belajar menurut teori belajar Pavlov merupakan proses perubahan tingkah laku karena adanya syarat yang menimbulkan reaksi. Proses perubahan pada teori ini karena adanya latihan dan pengulangan (Suprijono, 2011:19). Teori conditioning kemudian dikembangkan Guthrie bahwa tingkah laku manusia dapat berubah, yang baik diubah menjadi buruk dan sebaliknya. Guthrie percaya bahwa hukuman merupakan peranan penting dalam proses belajar (Siregar dan Nara, 2010:26). Merujuk pada Siregar dan Nara (2010:26) bahwa terdapat tiga metode pengubahan tingkah laku menurut Guthrie yaitu metode respons bertentangan, metode membosankan, metode mengubah lingkungan. Teori conditioning dikembangkan lebih lanjut oleh Watson bahwa perubahan tingkah laku karena adanya latihan terhadap stimulus yang diterima. Stimulus dan respons yang diterima berbentuk tingkah laku yang mudah diamati. Teori conditioning selanjutnya dikembangkan oleh

(41)

commit to user

Skinner bahwa tingkah laku siswa perlu memahami hubungan antara stimulus dengan stimulus lainnya, respons, dan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari konsekuensi dari respons (Siregar dan Nara, 2010:27). Faktor penting dalam belajar menurut teori ini adalah reinforcement yaitu suatu penguat sebagai konsekuensi perilaku sehingga perilaku tertentu menjadi semakin kuat. Skinner memandang bahwa belajar adalah suatu perilaku. Perilaku belajar dapat dilihat dari segi perilaku teramati (Dimyati dan Mudjiono, 2004:9). Teori belajar Thorndike lebih dikenal dengan teori connectionism. Belajar menurut Thorndike adalah interaksi antara stimulus dan respons. Belajar dalam teori ini dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error). Thorndike mengemukakan tiga hukum tentang belajar yaitu Law of Readiness, Law of Exercise, dan law of Effect (Suprijono, 2011:20).

Salah satu aspek belajar yang berkaitan dengan teori belajar behavioristik adalah kesiapan belajar. Menurut Thorndike kesiapan merupakan prasyarat dalam belajar bagi seseorang untuk dapat berinteraksi dan memberi respons dengan cara dan kondisi tertentu, sehingga siap untuk belajar berikutnya, ini merupakan belajar asosiatif (Slameto, 2003:114). Kesiapan belajar adalah kondisi awal siswa yang mendukung terlaksananya proses belajar dengan baik, sehingga siswa siap untuk memberi respons yang ada pada diri siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tertentu. Kesiapan belajar termasuk aspek teori belajar behaviorisitik, yaitu sebagai proses perubahan tingkah laku yang berasal dari interaksi antara stimulus dan respons.

Teori belajar kognitif menekankan belajar sebagai proses belajar terutama proses internal. Belajar menurut teori ini adalah suatu perubahan tingkah laku yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks dan proses mental yang aktif untuk memperoleh pengetahuan. Beberapa tokoh yang mengemukakan konsep terpenting dalam teori kognitif yaitu Jean Piaget tentang adaptasi intelektual, Bruner tentang discovery learning, Ausubel tentang reception learning (Suprijono, 2011:22). Belajar menurut

(42)

commit to user

perkembangan intelek individu (Dimyati dan Mudjiono, 2002:13). Belajar menurut Bruner dengan discovery learning, yaitu siswa mengorganisasi bahan yang dipelajari sesuai tingkat kemajuan siswa dengan suatu bentuk akhir (Soemanto, 2006:134). Teori belajar humanistik adalah teori yang paling abstrak dimana siswa diberikan kebebasan dalam melakukan proses belajar (Siregar dan Nara, 2010:34). Belajar menurut teori belajar konstruktivisme adalah proses pembentukan pengetahuan oleh siswa. Pengetahuan berasal dari dalam diri siswa melalui pengalaman (Siregar dan Nara, 2010:39).

5. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang hubungan kecerdasan emosional (EQ) dengan hasil belajar telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Wahyuningsih (2004:64) mendapatkan bahwa terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar dengan arah hubungan positif. Artinya, jika kecerdasan emosional tinggi, maka prestasi belajar tinggi dan sebaliknya. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa kecerdasan emosional berhubungan dengan prestasi belajar dimana kecerdasan emosional tinggi akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Purnaningtyas (2009:12) mendapatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosi dengan prestasi belajar siswa. Artinya, antara kecerdasan emosi dan prestasi belajar siswa terdapat korelasi yang signifikan. Korelasi yang signifikan tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosi juga akan semakin tinggi prestasi belajarnya, sedangkan semakin rendah kecerdasan emosi maka prestasi belajar siswa juga semakin rendah. Ogundokun dan Adeyemo (2010:135) mendapatkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. Hidayat (2009:12) mendapatkan bahwa tingkat kecerdasan rasional dan aspek pengendalian diri dari kecerdasan emosional yang berperan secara signifikan dengan prestasi belajar.

Penelitian tentang hubungan kesiapan belajar dengan hasil belajar telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Darso (2011:159)

(43)

mendapatkan bahwa kesiapan belajar siswa berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar. Siswa yang kesiapan belajarnya lebih matang maka akan menunjukkan prestasi belajar yang baik. Fatchurrochman (2011:68) mendapatkan bahwa kesiapan belajar siswa memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian kompetensi siswa, semakin tinggi kesiapan belajar siswa maka akan berdampak pada hasil pencapaian kompetensi siswa menjadi lebih baik. Putri (2011:62) mendapatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kesiapan belajar dengan prestasi belajar.

Penelitian tentang hubungan EQ dan kesiapan belajar dengan hasil belajar telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Putri (2011:62) mendapatkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional (EQ) dengan prestasi belajar, terdapat hubungan positif dan signifikan antara kesiapan belajar dengan prestasi belajar, terdapat hubungan kecerdasan emosional (EQ) dan kesiapan belajar dengan prestasi belajar. Penelitian Putri (2011:62) tersebut menunjukkan hubungan secara simultan antara kecerdasan emosional (EQ) dan kesiapan belajar dengan prestasi belajar.

Penelitian terdahulu telah dijelaskan di atas dan dapat digambarkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Posisi Penelitian yang Dilaksanakan Peneliti Hubungan Emotional

Quotient

Kesiapan Belajar

Hasil Belajar

Kognitif Afektif Psikomotor Emotional Quotient Kesiapan Belajar Hasil Belajar Kognitif Afektif Psikomotor

Gambar

Tabel 1 Posisi Penelitian yang Dilaksanakan Peneliti
Gambar 1 Hubungan antar Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar   Dari gambar diatas, kotak variabel ditebalkan menunjukkan variabel yang diteliti
Gambar 2 Jadwal Penelitan
Gambar 3 Bagan Paradigma Penelitian  Keterangan :
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional dan minat belajar pada diri siswa sebagai salah satu faktor penting untuk meraih hasil belajar dan prestasi akademik maka

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kesiapan belajar dan persepsi mahasiswa

Berdasarkan hasil penelitian maka di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kesiapan belajar siswa dan kecerdasan emosional dalam menghadapi Ujian

Tingkat kecerdasan emosional siswa diperoleh dengan menggunakan angket yang disusun untuk tujuan penelitian ini serta hasil belajar sebagai variabel terikat menjadi

Terdapat pengaruh positif yang sig- nifikan perhatian guru, motivasi be- lajar dan kecerdasan emosional se- cara bersama-sama terhadap prestasi belajar biologi siswa kelas XII IPA

Belajar adalah kegiatan yang melibatkan kompleksnya proses berpikir. Belajar terjadi antara lain meliputi pengaturan stimulus yang didapat

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan kecerdasan dengan hasil belajar biologi siswa kelas X MAN

Dikarenakan nilai signifikansi tersebut ≤ 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar peserta didik pada materi sistem gerak