1. PENDAHULUAN. negara berkembang maupun di negara maju. Penelitian yang dilakukan oleh

Teks penuh

(1)

1

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Krisis perbankan dan bank runs telah menjadi fenomena global dalam beberapa dasawarsa terakhir. Keduanya telah terjadi berulang kali di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Penelitian yang dilakukan oleh

International Monetary Fund di lebih dari 160 negara selama periode 1970-2007 menunjukkan bahwa telah terjadi 124 krisis perbankan, 26 diantaranya diklasifikasikan sebagai “twin”1 dan delapan masuk kategori “triple”2 (Laeven dan Valencia, 2008). Secara khusus Laeven dan Valencia mengkaji lebih jauh mengenai 42 krisis perbankan sistemik yang terjadi di 37 negara dan menemukan 26 kasus bank runs serius yang terjadi di dalamnya. Probabilitas terjadinya bank runs dalam suatu krisis perbankan sistemik berdasarkan data penelitian ini cukup tinggi, yaitu 61,9 persen.

Bank runs sendiri merujuk pada sebuah kejadian di mana nasabah suatu bank menarik dana mereka dalam jumlah besar pada waktu yang bersamaan karena para nasabah yakin bank tempat mereka menaruh dananya sedang bermasalah dan terancam bangkrut3. Simorangkir (2011) menjelaskan bahwa berulangnya peristiwa bank runs dan krisis perbankan disebabkan bank merupakan lembaga kepercayaan yang rentan terhadap penarikan dana oleh nasabah secara besar-besaran. Kerentanan tersebut merupakan akibat dari kegiatan usaha bank yang mentransformasikan kewajiban jangka pendek, seperti giro, tabungan dan deposito ke dalam aktiva yang berjangka waktu lebih panjang,

1

Krisis dengan klasifikasi twin adalah krisis perbankan yang juga disertai dengan krisis mata uang.

2

Krisis dengan kualifikasi triple adalah krisis perbankan yang disertai dengan krisis mata uang dan juga krisis utang.

3

Definisi bank runs tersebut dikemukakan oleh George G. Kaufman pada “Bank Runs: Causes, Benefits, and Costs”. Cato Journal, Vol.7, No. 3 (Winter 1988): 559-588

(2)

2

seperti kredit. Dengan kondisi tersebut, bank selalu menghadapi permasalahan maturity mismatch sehingga sangat rentan terhadap penarikan dana besar-besaran (bank runs) oleh nasabah karena terbatasnya aktiva likuid yang dimiliki bank.

Bank runs yang terjadi pada suatu bank dapat berubah menjadi krisis perbankan serius jika menjalar ke bank-bank lainnya. Risiko menjalarnya bank runs dari satu bank ke bank lainnya sering disebut dengan risiko sistemik (contagion). Risiko ini muncul akibat adanya asymmetric information nasabah terhadap kondisi banknya. Nasabah yang tidak mengetahui secara pasti kondisi fundamental banknya dapat panik dan memutuskan untuk menarik dananya apabila nasabah percaya bahwa ada masalah di bank tersebut. Walaupun pada kenyataannya dugaan atau kepercayaan nasabah tersebut belum tentu benar.

Kaufman (1983) mengibaratkan kepanikan yang timbul akibat rumor “runs” pada

suatu bank sama dengan teriakan “kebakaran” dalam sebuah ruangan yang berisikan banyak orang. Orang-orang yang mendengar teriakan kebakaran tersebut akan segera lari berhamburan menuju pintu keluar terdekat, tanpa perlu atau sempat memastikan terlebih dahulu apakah benar-benar terjadi kebakaran atau tidak. Dalam kondisi panik, orang cenderung mencari aman daripada menyesal karena terlambat mengambil keputusan.

Penarikan dana secara besar-besaran pada suatu bank dapat pula diikuti oleh nasabah bank lainnya. Para nasabah bank lain yang melihat runs pada bank yang dipercayai memiliki karakteristik yang sama dengan bank tempatnya menabung akan ikut menarik dananya karena mereka berpikir bahwa jika bank lain tersebut bermasalah maka kemungkinan bank tempat nasabah tersebut menabung juga bermasalah. Proses yang sama kembali terjadi pada bank-bank lainnya, sehingga akan ada banyak bank yang

(3)

3

mengalami bank runs dan pada akhirnya menimbulkan krisis perbankan. Simorangkir (2011) menyebutkan bahwa faktor penyebab bank runs yang didasarkan pada kekhawatiran nasabah akibat tidak terdapatnya informasi mengenai kinerja bank inilah yang sering disebut self-fulfilling prophecy.

Faktor penyebab bank runs selain self-fulfilling prophecy adalah faktor fundamental, baik dari fundamental bank tersebut maupun fundamental ekonomi makro (Kindleberger, 1978; D’Amato et al, 1997; McCandless et al, 2001). Sebagai institusi keuangan yang bertugas menerima dan menyalurkan dana ke masyarakat, kinerja bank rentan terhadap guncangan yang terjadi pada fundamental ekonomi, seperti kontraksi ekonomi, peningkatan suku bunga, volatilitas nilai tukar, penurunan nilai aset, dan peningkatan ketidakpastian di sektor keuangan. Semua guncangan ini akan berdampak negatif pada usaha bank. Kontraksi ekonomi akan meningkatkan kredit macet sehingga menurunkan kinerja bank sekaligus membuat bank tidak mampu membayar penarikan dana nasabah karena dana tersebut tertanam dalam kredit macet. Nasabah yang sadar kinerja banknya bermasalah akan memutuskan menarik dananya dari bank tersebut. Jika ada cukup banyak nasabah yang tidak percaya bank mampu membayar mereka secara penuh dan tepat waktu sehingga memutuskan untuk menarik seluruh dananya sesegera mungkin, maka bank runs akan terjadi.

Simorangkir (2011) menyebutkan bahwa krisis perbankan yang berasal dari terjadinya bank runs dapat melumpuhkan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi dan menimbulkan kerugian pada perekonomian dan masyarakat. Selanjutnya, hal ini akan menghambat akses pembiayaan untuk dunia usaha sehingga mengakibatkan kontraksi ekonomi. Perlambatan ekonomi ini akan meningkatkan jumlah pengangguran yang pada akhirnya akan menurunkan output. Studi Laeven dan Valencia (2008) mengemukakan

(4)

4

bahwa negara-negara yang mengalami krisis perbankan disertai bank runs yang signifikan mengalami output loss besar. Hasil penelitian tersebut antara lain menunjukkan output loss pada krisis Asia 1998 yang dialami Indonesia mencapai 67,95 persen terhadap PDB, Malaysia (50,04 persen), Thailand (97,66 persen) dan Korea (50,1 persen). Selain itu, krisis perbankan disertai bank runs juga pernah dialami Argentina (2001) dengan output loss 42,65 persen terhadap PDB4.

Dalam kasus Indonesia telah terjadi beberapa kali bank runs. Penutupan bank pertama yang terjadi akibat bank runs sejak era liberalisasi keuangan di Indonesia dialami oleh Bank Summa pada 1992. Selanjutnya, pada 1 November 1997 setelah pemerintah memutuskan untuk menutup 16 bank, terjadi bank runs terbesar dan terparah dalam sejarah perbankan Indonesia. Bank runs berawal dari krisis kepercayaan yang kemudian berkembang menjadi krisis perbankan. Penutupan 16 bank oleh pemerintah mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan Indonesia mencapai titik terendah, khususnya pada bank swasta yang diyakini masyarakat berkinerja buruk. Penurunan kepercayaan kepada bank tersebut mendorong nasabah bersama-sama menarik dananya secara besar-besaran (bank runs). Selanjutnya penarikan pada satu bank menjalar ke bank lainnya dan menimbulkan efek sistemik yang mengakibatkan krisis perbankan serius. Semua upaya penyehatan perbankan kemudian dilakukan oleh pemerintah. Namun upaya ini memerlukan biaya fiskal besar yang pada akhirnya akan dibebankan kepada pembayar pajak (Simorangkir, 2011).

4

(5)

5 1.2 Rumusan Masalah

Berulangnya krisis perbankan dan bank runs menjadi ancaman serius bagi setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Keputusan untuk melikuidasi 16 bank pada tanggal 1 November 1997 oleh pemerintah dianggap sebagai pemicu krisis kepercayaan yang berlanjut dengan terpuruknya sektor perbankan. Kebijakan penutupan bank yang dimaksudkan untuk mencegah semakin meluasnya krisis perbankan justru sebaliknya mengakibatkan penarikan dana besar-besaran pada bank-bank lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa informasi kejadian bank runs atau penarikan dana pihak ketiga yang signifikan pada suatu bank di Indonesia dapat memengaruhi ekspektasi nasabah untuk melakukan penarikan dana besar-besaran pada bank lain.

Pada krisis keuangan tahun 2008 Indonesia kembali menghadapi masalah serupa. Namun kali ini pemerintah memutuskan untuk menyelamatkan Bank Century (yang setelah diambil alih pemerintah berubah menjadi Bank Mutiara) yang terkena runs oleh nasabahnya. Pemerintah berargumen bahwa walaupun Bank Century hanya bank kecil namun penutupannya dikhawatirkan akan mengakibatkan runs pada 19 bank lain yang dipercayai memiliki karakteristik hampir sama. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti karena sejarah menunjukkan bahwa self-fulfilling prophecy merupakan hal yang dapat dialami sektor perbankan Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan penelitian terhadap bank-bank di Indonesia yang sensitif terhadap faktor self-fulfilling prophecy

agar kemungkinan terjadinya contagious bank runs dapat dihindari.

1.3 Pembatasan Masalah

Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi hanya pada fenomena bank runs yang disebabkan oleh self-fulfilling prophecy dan bukan mengkaji

(6)

6

faktor penyebab bank runs lainnya, seperti faktor ekonomi makro maupun faktor kinerja bank. Selain itu, subjek penelitian dibatasi hanya pada 6 kelompok bank dan 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset total per Juni 2013. Alasan pemilihan 10 bank terbesar ini dikarenakan dua hal. Pertama, keterbatasan data yang dihadapi penulis sehingga tidak memungkinkan untuk meneliti 120 bank di Indonesia. Penulis kemudian merujuk pada Bank Indonesia yang menetapkan 14 bank terbesar di Indonesia sebagai bank berdampak sistemik. Alasan kedua, untuk memilih 14 bank terbesar tersebut didasarkan pada aset total hanya saja perbedaan aset diantara bank ke-14 dan ke-15 sangat kecil sehingga timbul ambiguitas dalam penentuan urutan bank. Untuk mengantisipasi masalah ini penulis memilih 10 bank terbesar di Indonesia sebagai subjek penelitian karena adanya perbedaan besar antara bank ke-10 dengan bank ke-11 dalam hal total aset. Sementara, data yang akan digunakan sebagai proksi self-fulfilling prophecy adalah data dana pihak ketiga bulanan periode Januari 2002 sampai dengan Juni 2013.

1.4 Pertanyaan Penelitian

Adapun yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh self-fulfilling prophecy terhadap bank runs di Indonesia? 2. Bagaimana tingkat sensitifitas di antara 10 bank terbesar di Indonesia terhadap faktor

self-fulfilling prophecy?

3. Apakah bank runs yang disebabkan oleh self-fulfilling prophecy lebih rentan terjadi pada bank-bank kecil?

4. Apakah terjadi peningkatan konektivitas di antara bank-bank terhadap faktor self-fulfilling prophecy pada masa krisis dibandingkan pada kondisi normal?

(7)

7 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1 Tujuan Penelitian

Mengacu pada pertanyaan penelitian, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengkaji lebih jauh faktor self-fulfilling prophecy di antara kelompok bank di Indonesia.

2. Melakukan pemetaan sensitifitas pada 10 bank terbesar di Indonesia terhadap faktor self-fulfilling prophecy.

3. Menganalisis pengaruh self-fulfilling prophecy pada kelompok bank-bank kecil. 4. Menunjukkan bahwa pada waktu krisis konektivitas di antara bank-bank terhadap

faktor self-fulfiling prophecy meningkat.

1.5.2 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini meliputi:

1. Memutakhirkan penelitian-penelitian sebelumnya dengan menunjukkan bahwa

bank runs di Indonesia selain dipengaruhi oleh faktor fundamental juga dipengaruhi oleh self-fulfilling prophecy.

2. Hasil penelitian berupa pemetaan sensitivitas pada kelompok bank serta 10 bank terbesar di Indonesia terhadap faktor self-fulfilling prophecy akan memberikan gambaran mengenai interaksi antar bank. Berdasarkan hasil tersebut, maka diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu alat bantu bagi otoritas pengawas agar secara dini dapat mencegah dampak contagious bank runs pada suatu bank ke bank lainnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...