INOVASI
TEKNOLOGI PRODUKSI
Peningkatan IP Jagung di Lahan Kering dengan Pendekatan PTT.
Peningkatan produksi jagung nasional dilakukan melalui perluasan areal tanam jagung, penggunaan varietas hibrida atau bersari bebas unggul serta peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung, sehingga dalam satu hamparan pertanaman jagung dapat diusahakan dua sampai empat kali tanam.
Ada empat faktor penting dalam penerapan IP jagung yaitu: (1) Penggunaan benih bermutu dan varietas umur genjah, (2) Penerapan teknologi pengendalian hama dan penyakit terpadu, (3) Pengelolaan hara secara terpadu dan spesifik lokasi, dan (4) Manajemen tanam dan panen.
Di daerah Jeneponto umumnya petani menanam jagung varietas Bisi-2, karena terbatasnya ketersediaan varietas alternatif. Untuk itu Badan Litbang Pertanian melalui UPT Balitsereal memperkenalkan kepada petani varietas Bima-3, dan jagung bersari bebas varietas Bisma dan Lamuru (Tabel 9). Hasil evaluasi komponen teknologi menunjukan varietas Bisma dan Lamuru sesuai ditanam di daerah Jeneponto yang tergolong beriklim kering pada pertanaman ke II secara sisip dan sistem tanam legowo, dengan hasil 8,10 dan 8,00 t/ha secara TOT.
Tabel 9. Keragaan komponen produksi jagung hasil evaluasi teknologi pilihan IP di lahan
Parameter
Varietas
Hibrida
Bersari Bebas
Bisi-2
Bima-3
Bisma
Lamuru
Tinggi tanaman (cm)
Tinggi letak tongkol (cm)
Panjang tongkol )cm)
Lingkar tongkol (cm)
Jumlah baris/tongkol
Jumlah biji/baris
Bobot 100 biji (g)
Hasil (t/ha)
187,30
94,80
14,50
13,10
11,60
31,40
30,60
9,40
186,70
85,30
14,40
14,60
13,50
30,40
34,50
9,80
183,80
88,60
13,80
14,50
13,80
25,90
30,51
8,10
193,30
84,70
15,50
15,20
12,30
30,50
33,40
8,00
Peningkatan IP Jagung di Lahan Sawah dengan Pendekatan PTT
Penelitian peningkatan IP jagung melalui penerapan pola tanam padi-jagung-jagung dilaksanakan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Takalar dan Jeneponto. Varietas yang diujicobakan adalah Bisi-2, NK-33 dan Lamuru sementara varietas bersari bebas, Lamuru dan Gumarang. Hasil penelitian di Kabupaten Takalar menunjukkan jagung hibrida Varietas Bima 3 memberikan hasil yang tertinggi, 8,2 t/ha sedangkan varietas bersari bebas, Gumarang dapat digunakan karena selain hasilnya cukup tinggi, 7,8 t/ha juga berumur genjah (<80 hari). Sementara itu hasil penelitian di Kabupaten Jeneponto menunjukkan Varietas NK-33 menghasilkan 9,8 t/ha sementara Bima 3 memberikan hasil 9,5 t/ha (Tabel 10).
Tabel 10. Keragaan komponen produksi jagung hasil evaluasi teknologi pilihan dengan peningkatan IP di lahan sawah, 2013.
Lokasi dan Parameter Varietas
Hibrida Bersari Bebas
Bisi-2* NK-33**
Bima-3 Lamuru Gumarang
TAKALAR*
Tinggi tanaman (cm) Tinggi letak tongkol (cm) Panjang tongkol (cm) Jumlah baris/tongkol (cm) Diameter tongkol (cm) Bobot 100 biji (g) Hasil (t/ha) JENEPONTO** Tinggitanaman (cm) Tinggi letak tongkol (cm) Panjang tongkol (cm) Jumlah baris/tongkol (cm) Diameter tongkol (cm) Bobot 100 biji (g) Hasil (t/ha) 155,00 62,50 15,30 14,00 4,30 26,50 7,90 176,00 76,00 20,10 14-16 4,98 34,00 9,80 ` 183,90 80,90 16,20 14,00 4,40 29,00 8,20 162,00 75,00 19,70 14-16 4,97 33,90 9,45 196,00 92,00 15,70 14,00 4,40 26,00 7,90 196,00 92,00 17,30 12-14 4,90 29,50 8,68 165,90 70,50 15,90 14,00 4,50 24,20 7,80 181,00 84,00 17,10 12-14 4,80 29,30 8,44
Gambar 17.Peningkatan IP jagung di lahan sawah dengan pendekatan PTT
HAMA DAN PENYAKIT
Penyakit Utama Jagung
Hasil pengujian ketahanan varietas jagung terhadap penyakit utama di Kediri,Jawa Timur menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis penyakit yang menginfeksi tanaman diantaranya penyakit bulai (Peronosclerospora maydis), bercak daun (Bipolaris maydis), hawar upih daun (Rhizketahoctonia solani, busuk batang (Fusarium sp.), dan karat (Puccinia polysora).
Penyakit bulai merupakan penyakit dominan pada tanaman jagung dengan persentase serangan yang tinggi, terutama pada varietas peka. Hal ini terlihat pada Varietas Srikandi kuning dengan tingkat serangan 85,50%,sementara Varietas Bima-3 dan Lagaligo tingkat serangannya rendah antara 6,70-7,30%.
Intensitas serangan penyakit busuk batang pada beberapa varietas memperlihatkan tingkat serangan rendah dengan kisaran antara 5,00%-10,50% (Tabel 11). Pada pengamatan 8 MST terhadap penyakit bercak daun dan hawar upih daun serta karat pada jagung menunjukkan intensitas serangan yang berbeda-beda (Tabel 12).
Pada Tabel 12 terlihat bahwa penyakit bercak daun pada beberapa varietas menunjukkan nilai skoring antara 2,00 – 3,50, sementara intensitas penyakit hawar upih daun mempunyai skoring 1,50 – 2,00, dan karat dengan nilai skoring 1,50 – 2,50. Pada penyakit karat gejala serangan yang khas terlihat adanya bintik-bintik kecil (bisul) pada permukaan daun. Bisul ini berbentuk bulat sampai lonjong berwarna coklat kemerahan bercak inilah yang menghasilkan teliospora yang dapat menjadi sumber inokulum yang dapat menginfeksi pada
Tabel 11. Rata-rata tingkat serangan penyakit bulai dan busuk batang jagung, 2013.
No.
Varietas
Penyakit bulai
(%)
Penyakit busuk batang
(%)
4 MST
12 MST
1.
2.
3.
4.
5.
Bima-3
Lamuru
Lagaligo
Sukmaraga
Srikandi kuning
6,70
20,50
7,30
15,50
85,50
10,00
6,25
5,00
6,25
10,50
No. Varietas Bercak daun (skoring)
Hawar upih daun (skoring) Karat (skoring) 8 MST 10 MST 12 MST 1. 2. 3. 4. 5. Bima-3 Lamuru Lagaligo Sukmaraga Srikandi kuning 2,40 3,00 2,00 2,50 3,50 2,00 2,00 1,50 2,00 2,00 2,00 2,00 1,50 2,00 2,50 Tabel 12. Rata-rata tingkat serangan penyakit bercak daun dan hawar upih daun jagung, 2013
Gambar 18. Gejala serangan penyakit dan karat pada tanaman jagung
hawar daun
Hama Utama Jagung
Hasil pengamatan selama pertanaman dilapangan pada MH 2013 di Kediri, Jawa Timur menunjukkan terdapat enam jenis hama utama yang menyerang jagung hibrida maupun bersari bebas yaitu: Lalat bibit, Ulat grayak, Penggerek batang, Penggerek tongkol, Belalang, dan Tikus. Pada umur 2 MST.sudah ditemukan hama lalat bibit dan ulat grayak pada pertanaman jagung, sementara hama lainnya belum ditemukan. Jumlah populasi hama lalat bibit dan ulat grayak berbeda pada setiap varietas, antara 2- 6 ekor/20 tanaman dan 1-2 ekor/20 tanaman.
Selanjutnya pada pengamatan 10 MST hama lalat bibit dan ulat grayak sudah tidak ditemukan, dan yang muncul adalah hama penggerek batang dan tikus. Tingkat populasi hama penggerek batang antara 2-4 ekor/20 tanaman, dan sudah mulai menggerek batang jagung bagian bawah dan atas. Penggerek tongkol, jumlah populasinya mencapai antara 4-7 ekor/20 tanaman yang menyerang ujung tongkol jagung (gambar 19).
Gambar 19. Gejala serangan penggerek tongkol dan penggerek batang
Musuh alami yang ditemukan adalah tomcat dengan populasi cukup tinggi antara 44-65 ekor/20 tanaman, sementara cecopet dan coccinella serta laba-laba masing-masing antara 11-18 ekor/20 tanaman, dan 3-15 ekor/20 tanaman, serta 6-19 ekor/20 tanaman (Tabel 13).
Tabel 13. Rata-rata tingkat populasi hama dan musuh alami pada beberapa varietas jagung pada umur 10 MST.
No. Varietas Jenis dan populasi hama Musuh alami Penggerek
batang
Penggerek tongkol
Tikus Tomcat Cecopet Coccinella Laba-laba
1. 2. 3. 4. 5. Bima-3 Lamuru Sukmaraga Lagaligo S. kuning 2 4 3 3 4 4 6 5 7 6 -2 -2 -65 55 64 52 44 17 14 13 14 11 4 3 11 12 15 6 11 19 18 14
Biopestisida Hama dan Penyakit jagung
Sejak dimulainya revolusi hijau, upaya pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya resistensi, resurgensi, bahkan ledakan hama penyakit. Untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut beberapa pendekatan dilakukan seperti penggunaan pestisida dengan pedoman ambang batas ekonomi, dan pestisida hayati (biopestisida). Di alam terdapat banyak mikroorganisme yang dapat menjadi agen aktif pengendali hama dan penyakit tanaman tanpa mencemari lingkungan, dan aplikasinya mudah dilakukan sehingga secara ekonomis menguntungkan.
Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan tiga isolat bakteri antagonis Bacillus subtilis yang dapat mengendalikan penyakit utama jagung yaitu hawar pelepah (Rhizoctonia solaniI), busuk batang (Fusarium moniliforme), dan bercak daun (Bipolaris maydis). Isolat tersebut. adalah TLB1, BNt4, dan BNt6. Isolat ini akan menjadi bahan aktif dalam pembuatan formulasi biopestisida (bakterisida), dan dicobakan pada beberapa innert carier.
Hasil evaluasi beberapa innert carrier terhadap ke tiga isolat bakteri B. subtilis (TLB1, BNt4, dan BNt6) menunjukkan bahwa innert carrier Bedak + 0,25% yeast extract 0,25% + 1% CMC mempunyai jumlah koloni (CFU/ml) yang lebih banyak dibanding dengan perlakuan innert carrier lainnya (Tabel 14).
Selanjutnya juga dikembangkan formulasi dengan bahan akatif virus (Virusida) untuk pengendalian hama dari Ordo Lepidoptera yaitu hama penggerek tongkol (H. armigera) dan ulat grayak (S. litura). Hasil evaluasi terhadap tingkat mortalitas masing-masing hama tersebut diatas menunjukkan persentase 100% dan 94%.
Tabel 14. Jumlah koloni tiga isolat B.subtilis pada lima jenis formulasi.
Formulasi
Jumlah koloni
B. subtilis
(CFU/ml) pada setiap isolat
Bedak+0,25% yeast extract 0,25%+1% CMC
Tepung jagung+0,25% yeast extract 0,25%+1% CMC
Tepung beras pecah+0,25% yeast extract 0,25%+1% CMC
Tepung beras+0,25% yeast extract 0,25%+1% CMC
Tepung tapioka+0,25% yeast extract 0,25%+1% CMC
73,33
29,00
13,00
11,33
5,67
99,00
32,33
9,67
13,00
14,33
96.67
88,00
24,33
12,33
15,33
Penangkaran benih jagung hibrida berbasis komunitas
Penangkaran benih jagung berbasis komunitas di tingkat petani bertujuan untuk memenuhi kebutuhan benih dalam jumlah yang cukup dan mutu terjamin. Di berbagai negara berkembang, penangkaran benih jagung oleh petani merupakan solusi dalam memenuhi kebutuhan benih tepat waktu. Upaya penyediaan benih jagung berbasis komunitas telah dirintis oleh Balitsereal sejak tahun 2003 di sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Selatan. Beberapa model penangkaran benih jagung dilakukan bekerjasama dengan petani penangkar dan perusahaan benih swasta.
Pada tahun 2013 kegiatan penangkaran benih di komunitas petani di pusatkan pada empat wilayah masing-masing Kabupaten Takalar dan Kabupaten Sidrap Provinsi Sulawesi Selatan penangkaran benih jagung F1 hibrida silang tiga (STJ) mencapai hasil 5,8 t/ha, Donggala Sulawesi Tengah 6,9 t/ha. Di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kegiatan penangkaran benih dilakukan oleh Kelompok Tani Salaka II dengan komoditas jagung hibrida silang tiga jalur (STJ). Kegiatan meliputi sosialisasi kegiatan penangkaran demplot pengkaran benih serta temu lapang saat panen. Hasil benih F1 Bima-19 URI sebesar 5,8 t/ha dan didistribusikan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan seperti Sidrap masih berupa ujicoba dan pendapingan dari peneliti Balitsereal terus dilakukan sehingga dapat menguasai teknologi penangkaran benih jagung hibrida (Gambar 20).
Gambar 20. Penampilan tanaman F1 calon hibrida STJ-01 yang ditanam di Kab. Sidrap dan Enrekang, Sulsel
Di Provinsi Sulawesi Tengah, petani penangkar benih telah terampil menangkarkan benihnya, dan hasil benih telah didistribusikan di Kabupaten lain, seperti Tojo Una-una sebanyak 20 kg, Donggala 600 kg, serta kecamatan Labuan Toposo sebanyak 100 kg. Sosialisasi jagung hibrida STJ-01 dilakukan di lokasi penanaman F1 Bima-19 URI yang benihnya dihasilkan oleh penangkar benih lokal (Gambar 21).
Gambar 21. Sosialisasi dan evaluasi hasil panen hibrida yang dihadiri petani penangkar dan Muspida di Kab. Donggala, Sulteng
Di Provinsi NTT, penelitian diawali dengan sosialisasi dan penanaman F1 hibrida Bima-19 URI hasil penangkaran KT. Julukaya, Kab. Takalar, Sulsel. Penampilan tanaman dan hasil biji yang tinggi menggugah minat masyarakat bahkan Bupati Flores Timur menghadiri panen F1 STJ yang ditanam di Adonara, Flores Timur, NTT. Mempertimbangkan tingkat kemampuan petani dalam produksi benih jagung hibrida, maka di wilayah NTT khususnya Flores Timur memerlukan adanya pelatihan teknik produksi dan penanganan benih jagung hibrida (Gambar 22).
Gambar 22. Sosialisasi jagung hibrida di Adonara, Flores Timur, NTT
Produksi Benih Sumber dan Distribusinya
Dalam rangka mendukung ketersediaan benih sumber jagung di Indonesia, Badan Litbang Pertanian telah membentuk unit pengelola benih sumber (UPBS) yang memproduksi benih sumber serealia klas BS dan FS dengan penerapan Sistem Manajemen Mutu berbasis ISO 9001: 2008. Pengembangan sistem produksi dan distribusi benih sumber serealia dengan penerapan manajemen mutu dilakukan dengan tujuan : (1). memproduksi benih sumber serealia (jagung, sorgum, gandum) klas BS dan FS dengan penerapan SMM, (2). mengevaluasi UPBS berbasis sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001-2008 dalam produksi dan distribusi benih sumber serealia dengan menerapkan dan memanfaatkan laboratorium terakreditasi berbasis ISO/IEC 17025: 2008.
Pada tahun 2013 telah diproduksi benih jagung klas BS sebanyak 6.765 kg, klas FS 14.615 kg, sorgum 4.325 kg serta gandum 544,5 kg. Selama tahun 2013 distribusi benih jagung klas BS sebanyak 2.657 kg, dan FS 8501,25 kg. Untuk benih sorgum sebanyak 4.934 kg yang terdiri dari Varitas Kawali 2.816,5 kg dan Numbu 2.117,5 kg. Sementara benih gandum Varietas Nias 1.170,5 kg, Dewata 174,5 kg dan Selayar 1.239,5 kg (Tabel 15).
Tabel 15. Produksi dan distribusi benih sumber serealia, 2013.
Keterangan: * termasuk produksi benih tahun sebelumnya.
Gambar 23. Produksi benih sumber jagung
Pada Tahun 2013 Badan Litbang Pertanian telah mendistribusikan benih sumber klas BS sebanyak 2,657kg. (Tabel 16).
Komoditas Jumlah Produksi Jumlah distribusi* Varietas Daerah distribusi BS (kg) FS (kg) BS (kg) FS (kg) Jagung 6.765 14.615 2.657 8.501,25 Bisma,Lamuru Sukmaraga Gumarang Anoman,Arjuna S.Kuning,Lagaligo S.Putih,Provit A1 Provit A2 NAD,Sumut,Sumbar Jambi,Sumsel, Riau, Bengkulu,Lampung, Babel, DKI, Banten Jabar, Jateng, D.I Y Jatim,Kalteng,Kalbar Kaltim,Kalel,Sumut Gorontalo, Sulteng Sulsel, Sulteng Sulbar, Bali, NTB NTT,Malut, Malteng Papua, Fak-fak Selatan/Merauke Sorgum 4.325 - 2.816,50 2.117,50 - - Kawali Numbu Banten,Sulteng,NTB, Malut,Sulsel,Kalbar Gandum 544,50 - 1.170,50 174,50 1.239,50 - - - Nias Dewata Selayar
Banten, Jabar, DIY Jumlah 10,634,50 14.615 10.175,50 8.501,25
Tabel 16. Distribusi benih jagung klas BS (kg) menurut provinsi, Tahun 2013
Provinsi Jenis Varietas
Bisma Lamuru
Sukma-raga Guma rang Ano-man S. Kuning S. Putih Laga ligo Arjuna Provit A1 Provit A2 Total NAD Sumut 50 50 Sumbar 25 25 Jambi 25 25 Sumsel 0 Bengkulu 25 1 57 6 1 1 1 92 Riau 90 90 150 330 Lampung 2 2 4 Babel 20 20 DKI.Jakarta 0 Banten 20 20 40 Jabar 40.5 10.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 1.75 1.75 57.5 Jateng 50 75 75 200 D.I. Yog. 25 25 Jatim 60 40 100 Kalteng 10 10 Kalbar 10 10 Kaltim 5 10 15 Kalsel 25 25 Sulut 40 35 15 90 Gorontalo 180 105 205 90 80 660 Sulteng 65 5 15 20 40 60 50 255 Sulsel 145 102.5 25 25 5.5 20 31 41 58.5 453.5 Sultra 20 20 40 Sulbar 20 10 30 Bali 0 NTB 30 0 NTT 10 30 30 70 Maluku Utara 0 Maluku Tengah 0 Papua/ Fak fak 0 Papua Selatan/M erauke 0 Jumlah 685.5 309.0 567.5 236.5 181.5 152.0 136.5 0.0 111.5 134.8 142.3 2657
Gambar 24. Distribusi benih jagung, 2013
Distribusi benih terbanyak adalah propinsi Sulawesi Selatan dengan volume permintaan 453,50 kg. Varietas yang paling banyak diminati adalah varietas Bisma dengan permintaan 685,50 kg.
Distribusi benih sumber sorgum dan gandum klas BS menurut provinsi pada tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 17.
Tabel 17. Distribusi benih sorgum dan gandum di sejumlah propinsi di Indonesia Tahun 2013.
NO. PROPINSI Komoditas TOTAL
Kawali Numbu Nias Selayar Dewata
1 NAD 0 2 Sumatera Utara 0 3 Sumatera Barat 0 4 Jambi 0 5 Sumatera Selatan 0 6 Bengkulu 0 7 Riau 0 8 Lampung 0 9 Bangka Belitung 0 10 DKI Jakarta 0 11 Banten 10.5 817.5 1.5 1.5 16.5 847.5 12 Jawa Barat 1.169 1.233 153 2.555 13 Jawa Tengah 0 14 D.I. Yogyakarta 5 5 10 15 Jawa Timur 0 16 Kalimantan Tengah 0 17 Kalimantan Barat 60 50 110 18 Kalimantan Timur 0 19 Kalimantan Selatan 0 20 Sulawesi Utara 0 21 Gorontalo 0 22 Sulawesi Tengah 49 49 23 Sulawesi Selatan 2 40 42 24 Sulawesi Tenggara 0 25 Sulawesi Barat 0 26 Bali 0 27 NTB 2.695 1.205 3.900 28 NTT 0 29 Maluku Utara 0 30 Maluku Tengah 5 5 31 Papua/Fak-fak 0 32 Papua Selatan/Merauke 0 Jumlah (Kg) 2.816.5 2.117.5 1.170.5 1.239.5 174.5 7,518.5
Pendampingan SL-PTTjagung
Salah satu program pendukung dalam pencapaian swasembada jagung nasional adalah Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) jagung.Target utamanya adalah meningkatkan produksi jagung melalui peningkatan produktivitas, sementara paket teknologinya bertujuan untuk memperbaiki kualitas lahan dan menguatkan kelembagaan kelompok. Untuk mendukung program Kementan Badan Litbang Pertanian melalui UPT Balitsereal pada tahun 2013 telah menyiapkan benih jagung hibrida maupun bersari bebas sebanyak 6.750 kg.
Selanjutnya benih tersebut ditambah benih hasil tahun sebelumnya digunakan dalam kegiatan demfarm/display di BPTP, Pemda, Program Badan Litbang atau bantuan sosial sebanyak 21.535 kg, yang terdiri dari 9.706 kg jagung hibrida dan 11.841 kg jagung bersari bebas (Tabel 18).
Tabel 18. Sebaran benih jagung untuk pendampingan SLPTT Tahun 2013
No. Propinsi Hibrida (kg) Bersaribebas (kg)
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 10. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.
Nangro Aceh Darussalam Bangka Belitung Banten Bengkulu Gorontalo Jawa Barat Jambi Jawa Tengah JawaTimur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Lampung Maluku
Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Papua Barat Papua Riau Sulawesi Selatan SulawesiBarat Sulawesi Utara Sulawesi tengah Sumatera Barat Sumatera Utara Sumatera Selatan DI Yogyakarta 200. -75. -1.879 120 45 -310 60 225 65 -205 60 490 10 50 -4.610 510 197 40 90 60 40 365 -20 40 92 730 110 25 210 130 35 25 30 65 -42 340 180 20 1.750 330 2.061 1.565 131 3.750 25 110 10 15 Jumlah 9.706 11.841
Hasil display di Jawa Timur menunjukkan bahwa varietas yang dihasilkan oleh badan Litbang Pertanian yaitu varietas Bima yang ditanam pada lahan sawah irigasi di Probolinggo rata-rata hasil 7,3 – 10,45 t/ha, sedangkan Bisi-2 hasilnya 5,76 t.ha. dan di Gersik varietas Bima menghasilkan 8,45 – 9,03 t/ha dan Bisi-2 hanya 2,75 t/ha. Selanjutnya di Sulawesi Selatan hasil varietas Bima pada empat lokasi adalah 7,74-8,23 t/ha, sedangkan Bisi-2 6,88 t/ha. Di Nusa Tenggara Timur hasil display pada lahan sawah dan lahan kering menunjukan varietas Bima hasilnya 8,47-8,81 t/ha. Secara umum preferensi petani di empat lokasi kegiatan display sangat baik, terutama pada varietas Bima-3 karena hasilnya tinggi, tahan bulai, dan daunnya saat panen masih hijau sehingga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Selain display varietas, juga dilakukan pendampingan langsung dengan kegiatan pelatihan bagi PL II dan kelompok tani, serta magang/pelatihan produksi benih jagung hibrida bagi staf BPTP Provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan DI Yogyakarta (Tabel 19).
Tabel 19. Lokasi dan bentuk pendampingan SL_PTT jagung
No. Provinsi BentukPendampingan
1
2
3.
Sulawesi Selatan.
Nusa Tenggara Barat
DI Yogyakarta
*Bantuan benih untuk display dan demfarm pada kelompok tani dan bantuan sosial pada Pemda Gowa dan Kostrad Maros
*Pendampingan PTT jagung di Kabupaten Takalar dan Gowa.
*Pelatihan bagi penyuluh, kelompok tani berupa PTT, pengelolaan hara spesifik lokasi.
*Pengendalian hama dan penyakit pertanian kerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulsel, sebanyak 16 angkatan
* Bantuan benih untuk display varietas
*Sosialisasi PTT jagung, hama dan penyakit terpadu, penentuan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi bagi 30 penyuluh/peneliti lingkup BPTP dan Badan penyuluh.
*Benih bantuan untuk display varietas
*Sosialisasi PTT jagung, dan penentuan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi bagi penyuluh/peneliti lingkup BPTP dan penyuluh BPP.
*Magang staf peneliti dan penyuluh untuk produksi benih jagung hibrida.
*Pendampingan produksi benih Bima -3, Bima -5, Bima-19 URI pada 2 kelompok tani bekerjasama dengan BPTP DIY dan Balai Benih Kulon Progo.