HUBUNGAN DIPLOMATIK INDONESIA DENGAN PALESTINA & ISRAEL
Hubungan Bilateral ( Palestina )
Indonesia menyambut baik Deklarasi Kemerdekaan Palestina oleh Dewan Nasional Palestina di Aljir, Aljazair dan telah mengakui Negara Palestina pada 16 November 1988. Setahun kemudian Indonesia dan Palestina menandatangani Kesepakatan Bersama pada Dimulainya Hubungan Diplomatik Indonesia-Palestina di tingkat kedutaan besar, pada 19 Oktober 1989. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Ali Alatas, dan pejabat PLO, Farouk Kaddoumi. Termasuk dalam hal keuangan, di tengah-tengah sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Israel.
KTT OKI & Deklarasi Jakarta
Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) pada 6-7 Maret 2016 di Jakarta guna membahas dukungan terhadap Palestina yang dituangkan dalam Resolusi dan Deklarasi Jakarta. Terdapat 56 negara anggota, 4 negara pengamat, dan 4 pihak yang terlibat dalam proses perdamaian antara Palestina dengan israel dalam KTT ini.
Draft Resolusi berisi tentang upaya menegaskan kembali posisi, prinsip dan komitmen OKI terhadap Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Resolusi ini diharapkan sejalan dengan kehendak rakyat Palestina. Sementara Deklarasi Jakarta berisi tentang inisiatif Indonesia yang memuat rencana aksi konkret para pemimpin OKI untuk penyelesaian isu Palestina dan Quds Al-Sharif.
Ekonomi
Perdagangan bilateral Indonesia-Palestina belum menunjukkan volume yang besar. Minimnya volume perdagangan kedua negara tidak terlepas dari kondisi dalam negeri Palestina yang terus dilanda konflik serta kebijakan pembatasan pergerakan manusia dan arus barang ke/dari Palestina oleh pemerintahan israel.
Perjanjian
Indonesia dan Palestina memiliki kerja sama kota kembar, yaitu antara ibukota negara, Jakarta dan Al-Quds Al-Shareef. MoU tersebut ditandatangani pada tanggal 22 Oktober 2007 yang meliputi kerja sama antara lain di bidang pengendalian bencana dan krisis, pendidikan dan pelatihan, sosial dan budaya.
MENGAPA INDONESIA TIDAK MEMPUNYAI HUBUNGAN DIPLOMATIK DENGAN ISRAEL?
Karena ada banyaknya pro dan kontra antara kedua belah pihak tentang penjajakan kerjasama diplomatik antara keduanya. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, faktor dukungan dari rakyat luas terhadap Palestina menjadi salah satu faktor penting mengapa sampai sekarang Israel belum bisa diterima untuk membuka kantor kedutaan besarnya di Indonesia.
Merunut sejarah kedua bangsa ini, berakhirnya perang dunia II telah menciptakan peta-peta politik baru di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Sejak berdirinya, Israel mendapat tentangan keras dari negara-negara Arab di sekelilingnya yang memuncak pada peristiwa pertempuran 6 hari. Koalisi Arab kalah kala itu namun ketegangan demi ketegangan terus mewarnai kawasan Timur Tengah sampai sekarang.
Meski belum memiliki hubungan diplomatik resmi ternyata hubungan Indonesia dengan
Israel dalam hal perdagangan sudah berlangsung lama di balik layar. Artinya, ada banyak produk dari Israel terutama produk medis dan teknologi yang diimpor oleh Indonesia dari pihak ketiga. Demikian pula, produk-produk dari Indonesia pun sampai ke Israel juga lewat pihak ketiga. Karena sifatnya tertutup, sulit rasanya memastikan seperti apa neraca perdagangan di antara kedua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik ini.
ALASAN INDONESIA TIDAK BERHUBUNGAN DIPLOMATIK DENGAN ISRAEL
1. Indonesia Bakal Seperti Menjilat Ludah Sendiri
2. Indonesia Dianggap Menyetujui Invasi Israel ke Palestina
3. Rakyat Akan Marah Besar
4. Jalin Hubungan dengan Israel Mengkhianati UUD 1945
5. Tidak Ada Urgensi Ekonomi Kita dengan Israel