Upaya peningkatan asam lemak tidak jenuh

222 

Teks penuh

(1)
(2)

ii UPAYA PENINGKATAN ASAM LEMAK TIDAK JENUH SUSU SAPI

PERAH DENGAN SUPLEMENTASI LEMAK TERPROTEKSI

Disertasi untuk memperoleh

derajat Doktor dalam Ilmu Peternakan pada Universitas Gadjah Mada

Dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Program Pascasarjana

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada

Pada tanggal: 8 Agustus 2014

Oleh: Lilis Hartati 07/260548/SPT/094

Lahir di

(3)
(4)
(5)
(6)

vi PRAKATA

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi.

Disertasi yang berjudul “Upaya Peningkatan Asam Lemak Tidak Jenuh Susu Sapi Perah Dengan Suplementasi Lemak Terproteksi” merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat Doktor pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Dengan segala hormat dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional yang telah memberikan beasiswa selama 6 semester.

2. Rektor Universitas Lambung Mangkurat yang sudah memberikan ijin penulis untuk studi lanjut.

3. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk studi lanjut.

4. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di Fakultas Peternakan UGM.

(7)

vii 6. Prof. Dr. Ir. Budi Prasetyo Widyobroto, DESS.,DEA. selaku ko-promotor atas segala masukan dan bimbingan selama penulis menuntut ilmu di Fakultas Peternakan UGM.

7. Prof. Dr. Ir. Lies Mira Yusiati, S.U. selaku ko-promotor yang sudah seperti mami bagi penulis. Terimakasih banyak atas segala bimbingan, masukan, arahan dan nasehat-nasehatnya baik ilmu peternakan maupun ilmu kehidupan untuk penulis. Hanya Allah SWT yang akan membalas kebaikan beliau.

8. Prof. Ir. I Gede Suparta Budisatria, M.Sc., Ph.D selaku ketua tim penguji, Dr. Ir. Subur Priyono Sasmito Budhi, Dr. Ir. Adiarto, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Prof. Dr. Ir. F.M. Suhartati, S.U., dan Ir. Yustina Yuni Suranindyah, M.S., Ph.D selaku penguji yang telah memberikan masukan berharga dalam penulisan disertasi ini.

9. Pengelola Program Pascasarjana Ilmu Peternakan beserta staf yang telah banyak membantu selama penulis menempuh pendidikan.

10. Ayahanda Bp Wagimin Siswohadi Wiyoto (Alm.) dan Ibunda Suli yang telah memberikan segalanya untuk penulis. Sembah sujud ananda haturkan untuk semua pengorbanan, kasih sayang, pengertian, motivasi dan doa-doa untuk penulis. Sungguh penulis tidak mungkin untuk membalasnya.

(8)

viii terbesar dalam hidup ibu. Doa ibu akan selalu mengiringi langkah-langkah kalian.

12. Kakak-kakakku mas Heri Subrata, SE beserta keluarga, mas Aris Suprobo beserta keluarga, mas Rahmat Wibawa, S.P. beserta keluarga, Mbak dr. Esti Rohani, Sp.PK beserta keluarga, dan adikku Kunto Purnojati, S.T. dan keluarga, terimakasih banyak atas segala bantuan, pengertian dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis.

13. Dr. Ika Sumantri, S.Pt., M.Si., M.Sc., yang telah banyak membantu selama penulis menempuh pendidikan ini, terimakasih banyak atas kebersamaan selama 14 tahun, hanya Allah SWT yang dapat membalasnya.

14. Bp Soemardi Saryo dan seluruh keluarga Banjarbaru, terimakasih atas segala dukungan dan bantuannya selama ini.

15. Mbak Dr. Ir. Chusnul Hanim, M.Si. dan Mbak Asih Kurniawati, S.Pt., M.Si. yang telah penulis anggap seperti kakak bagi penulis, terimakasih banyak atas diskusi, bantuan dan masukan selama penulis menempuh pendidikan di UGM.

16. Kel. Bp. Subaidi serta kel. Bp. H. Bunyamin yang telah menerima penulis seperti keluarga, terimakasih banyak atas segala bantuan dan nasehatnya.

(9)

ix 18. Adik-adik yang telah membantuku: Sitasari Nurhayati, Farida Suratin,

Bayu N, Bayu T, terimakasih atas bantuan kalian semua.

19. Kawan-kawan angkatan 2007: bu Emy, bu Agustinah, bu Fatma, pak Harsono, pak Dicky, pak Imran, pak Budiman, pak Munir, pak Efka, pak Siswadi, pak Bahrun, pak Bambang Hartoyo, pak Nafli dan pak Socheh, terimakasih atas kebersamaan dan persahabatan kita selama ini, semoga tali silaturahmi tidak akan pernah putus.

20. Kawan-kawan sesama mahasiswa S3 dan S2: Bu Yusnaini, Bu Meity, Bu Agnes, Bu Suci, Bu Kismiati, Pak Aryogi, Pak Iskandar, Pak Erwin, Pak Sadik, Pak Iksan Haris, Bu Batse, Mbak Elly, Bu Datta, Dik Ahmad Pramono, Pak Amrih, Pak Subhan, mbak Sri Purwanti, Komang, Bayu, firman dan semua teman-teman yang telah memberikan bantuan dan persahabatan kepada penulis selama menempuh pendidikan program Doktor.

21. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis menyelesaikan penulisan disertasi ini.

Akhirnya, tiada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa disertasi ini jauh dari sempurna karena sebagai manusia biasa, penulis tidak lepas dari salah dan khilaf. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembaca semua.

Yogyakarta, September 2014

(10)

x DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……….. iii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iv

PERNYATAAN……… v Pengaruh Komposisi Asam Lemak Susu terhadap Kesehatan Manusia . ... Manipulasi Nutrisi untuk Meningkatkan Kandungan Asam Lemak Tidak Jenuh Susu ... Lemak sebagai Sumber Energi ……… Lemak Nabati Sebagai Sumber Asam Lemak Tidak Jenuh . Lemak Pakan Sebagai Prekursor Asam Lemak Susu... Proteksi Lemak Pakan ... …….

(11)

xi Metabolisme Lemak di Dalam Rumen ...

Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Kecernaan dan Fermentasi Rumen ………..…. Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Metabolit Plasma Darah …………..………. Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Produksi dan Komposisi Susu ……….. Evaluasi Kecernaan Bahan Pakan ...

17

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ……… Landasan Teori ……… Penelitian I. Evaluasi Proteksi Lemak Dalam Rumen Secara In Vitro ...

Materi ... Metode ... Analisis data ... Penelitian II. Pengaruh Penggunaan Lemak Terproteksi Terhadap Parameter Fermentasi Rumen, Profil Asam Lemak Digesta Duodenum dan Profil Asam Lemak Plasma Darah ………..

Materi ……… Metode ………. Analisis data ………. Penelitian III. Penggunaan Lemak Terproteksi Dalam Ransum Sapi Laktasi Terhadap Kecernaan Nutrien, Profil Asam Lemak Plasma Darah, Produksi Susu, Komposisi Susu dan Komposisi Asam Lemak Susu ...

Materi ...

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. Penelitian I. Evaluasi Proteksi Lemak Secara In Vitro ...

Optimasi metode proteksi ... Uji kecernaan in sacco ………. Penelitian II. Evaluasi Penggunaan Lemak Terproteksi Terhadap Parameter Fermentasi Rumen, Profil Asam Lemak Digesta Duodenum dan Profil Asam Lemak Plasma Darah...

Parameter fermentasi rumen ……….. Nilai pH ………. Amonia ……….. VFA ……… Profil asam lemak digesta duodenum ………

(12)

xii Profil asam lemak plasma darah ………

Penelitian III. Evaluasi Penggunaan Lemak Terproteksi Dalam Ransum Sapi Laktasi Terhadap Proporsi Asam Lemak Tidak Jenuh Susu Sapi Perah ...

Konsumsi nutrien ……… Kecernaan nutrien ……….. Profil asam lemak plasma darah ……… Produksi dan komposisi susu ……… Profil asam lemak susu ……….

67

70 70 72 75 77 85

PEMBAHASAN UMUM ……….. 90

KESIMPULAN DAN SARAN, SERTA IMPLIKASI/KEBIJAKAN ……. Kesimpulan ……….. Saran ……… Implikasi/kebijakan ………. 95 95 96 96 RINGKASAN ……… 97

SUMMARY ……….. … 111

DAFTAR PUSTAKA ……… 124

(13)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

1. Minyak nabati komersial dan kandungan asam lemak

utamanya………. 12

2. Efek perbedaan sumber lemak terhadap kadar asam lemak

plasma darah pada domba ………... 23

3a. Pengaruh lemak nabati dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak

susu………... 25

3b. Pengaruh lemak hewani dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak

susu………... 27

4. Data awal sapi yang digunakan dalam percobaan ... 43

5. Komposisi kimia hijauan dan pakan tambahan yang diberikan

ke sapi-sapi percobaan (% BK) ... 43

6. Komposisi ransum sapi perlakuan (sapi yang mendapat

lemak terproteksi dalam ransumnya (% BK). ... 43

7. Komposisi ransum sapi perlakuan (sapi yang tidak mendapat

lemak terproteksi dalam ransumnya (% BK). ... 44

8. Rerata kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), asam lemak bebas (ALB) dan angka yod

dari metode proteksi penyabunan dan kapsulasi formaldehid. 47

9. Rerata kecernaan in vitro protein kasar (KcPK) dan protein

terdegradasi dari lemak terproteksi dengan formaldehid ... 51

10. Nilai a, b, c dan DT dari BK lemak terproteksi dengan kadar

formaldehid yang berbeda ………... 54

(14)

xiv relatif) ... 64

12. Perbedaan kadar asam lemak duodenum (% relatif) antara sapi perlakuan dan kontrol pada jam penggambilan sampel

yang berbeda ... 66

13. Rerata konsumsi nutrien sapi perah yang diberi suplemen lemak terproteksi (perlakuan) dan tidak diberi supplemen

lemak terproteksi (kontrol) (g/kg BB0,75/hari) ………... 71

14. Rerata kecernaan pakan sapi perah yang diberi ransum lemak terproteksi (perlakuan) dan tidak diberi ransum lemak

terproteksi (kontrol) (%) ... ……… 73

15. Produksi dan komposisi susu sapi yang diberi suplemen lemak terproteksi (perlakuan) dan tidak diberi suplemen

(15)

xv DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

1. Sintesis dan sekresi lemak susu pada ruminansia …… 9

2. Roadmap penelitian……….. 35

3 Kehilangan bahan kering lemak terproteksi dengan

kadar formaldehid yang berbeda (%) ……… 53

4 Rerata nilai pH cairan rumen sapi perlakuan ketika mendapat suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan ketika tidak mendapat suplementasi lemak

terproteksi (kontrol) ... 57

5. Kinetika kadar NH3 cairan rumen pada sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat

tidak diberi suplementasi (kontrol) (mg/100ml) ... 59

6. Kinetika kadar asam asetat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi (kontrol)

(mmol/ml) ... 61

7. Kinetika kadar asam propionat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi (kontrol)

(mmol/ml) ... 61

8. Kinetika kadar asam butirat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi (kontrol)

(mmol/ml) ... 62

9. Kinetika total VFA sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi

suplementasi lemak terproteksi (kontrol) (mmol/ml) ... 63

10. Profil asam lemak plasma darah ternak saat mendapat suplementasi lemak terproteksi (perlakuan/P) dan saat sapi tidak diberi suplementasi lemak terproteksi

(16)

xvi 11. Profil asam lemak plasma darah ternak saat mendapat

suplementasi lemak terproteksi (perlakuan/p) dan saat sapi tidak diberi suplementasi lemak terproteksi

(kontrol/k) pada 4 jam sesudah makan (% relatif) ... 69

12. Profil asam lemak plasma darah 1 jam sebelum makan pada sapi yang diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan sapi yang tidak diberi suplementasi

(kontrol) ……….. 76

13. Profil asam lemak plasma darah 4 jam sesudah makan pada sapi yang diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan sapi yang tidak diberi suplementasi

(kontrol) ………... 77

14. Profil asam lemak susu sapi yang diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan tidak diberi

(17)

xvii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Pembuatan sabun Ca dari minyak sawit mentah ………. 144

2. Pembuatan kapsulasi minyak sawit mentah dengan matrik protein dan diproteksi dengan formaldehid ……... 145

3. Metode in vitro menurut Tilley and Terry (1963) ... 146

4. Metode uji in sacco... 149

5. Pengukuran kadar protein terlarut metode Lowry ... 151

6. Penentuan asam lemak bebas (Free Fatty Acid/FFA) … 152 7. Penentuan Protein Kasar Metode Kjeldahl... 153

8. Penentuan Angka Yodium... 155

9. Penentuan kadar Amonia …. ………... 157

10. Preparasi untuk analisis VFA (volatil fatty acid)... 159

11. Preparasi lemak dan minyak untuk analisa selanjutnya . 159 12. Penentuan kadar lemak dengan Soxhlet. ... 160

13. Penentuan Bahan Kering... 161

14. Penentuan kadar abu... 162

15. Penentuan serat kasar... 163

16. Penentuan lemak susu dengan metode Babcock ... 165

17. Penentuan laktosa dalam susu ... 166

18. Skema penelitian tahap II ……….. 168

(18)

xviii kadar CaCl2 yang berbeda …... 169

20. Kecernaan in vitro bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), asam lemak bebas (ALB) dan angka yod dari metode proteksi kapsulasi dan

formaldehid dengan kadar formaldehid yang berbeda ... 170

21. Kecernaan in vitro protein kasar (KcPK) dan protein terdegradasi dari metode proteksi kapsulasi dan

formaldehid dengan kadar formaldehid yang berbeda.... 171

22. Kehilangan bahan kering (BK) secara in sacco dari lemak terproteksi formaldehid dengan kadar

formaldehid yang berbeda ………... 172

23. pH cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat tanpa suplementasi

lemak terproteksi (Kontrol) ………... 173

24. Kadar amonia (NH3) cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat

tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) ... 174

25. Kadar asam asetat cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat

tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) ……….. 175

26. Kadar asam propionat cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat

tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) ... 176

27. Kadar asam butirat cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat

tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) ……... 177

28. Total kadar VFA cairan rumen sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat

tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) ……... 178

29. Profil asam lemak plasma darah sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) pada

(19)

xix 30. Kadar asam lemak plasma darah sapi saat diberi

suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan saat tanpa suplementasi lemak terproteksi (Kontrol) pada

empat jam setelah makan …... 180

31. Rerata kadar asam lemak plasma darah kelompok sapi yang diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan kelompok sapi yang tanpa suplementasi emak

terproteksi (Kontrol) pada satu jam sebelum makan ... 181

32. Rerata kadar asam lemak plasma darah kelompok sapi yang diberi suplementasi lemak terproteksi (Perlakuan) dan kelompok sapi yang tanpa suplementasi lemak

terproteksi (Kontrol) pada empat jam setelah makan .... 182

33 Grafik kadar asam lemak palmitat pada jam

pengambilan sampel yang berbeda ………... 183

34 Grafik kadar asam lemak stearat pada jam pengambilan

sampel yang berbeda……….. 183

35 Grafik kadar asam lemak oleat pada jam pengambilan

sampel yang berbeda ………. 184

36 Grafik kadar asam lemak linoleat pada jam

pengambilan sampel yang berbeda ……….. 184 37 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan kering

lemak terproteksi secara in vitro tingkat 1 dengan

metode proteksi yang berbeda ……… 185 38 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan kering

lemak terproteksi secara in vitro tingkat 2 dengan

metode proteksi yang berbeda ……… 185 39 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan organik

lemak terproteksi secara in vitro tingkat 1 dengan

metode proteksi yang berbeda ………. 186

40 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan organik lemak terproteksi secara in vitro tingkat 2 dengan

metode proteksi yang berbeda………. 186

41 Tabel analisis ragam untuk asam lemak bebas lemak terproteksi secara in vitro tingkat 1 dengan metode

(20)

xx 42 Tabel analisis ragam untuk asam lemak bebas lemak

terproteksi secara in vitro tingkat 2 dengan metode proteksi yang berbeda ………

187

43 Tabel analisis ragam untuk angka yod lemak terproteksi secara in vitro tingkat 1 dengan metode proteksi yang

berbeda………. 187

44 Tabel analisis ragam untuk angka yod lemak terproteksi secara in vitro tingkat 2 dengan metode proteksi yang

berbeda ………. 188

45 Uji beda nyata terkecil untuk asam lemak bebas secara

in vitro tingkat 2 ……… 189

46 Tabel analisis ragam untuk konsumsi bahan kering sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design) ……… 190 47 Tabel analisis ragam untuk konsumsi bahan organik

sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design) ……… 190

48 Tabel analisis ragam untuk konsumsi protein sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design) ……… 190 49 Tabel analisis ragam untuk konsumsi lemak sapi yang

mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design) ……… 191 50 Tabel analisis ragam untuk konsumsi serat kasar sapi

yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design) ………. 191 51 Tabel analisis ragam untuk konsumsi ekstrak tanpa N

sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design)……… 191

52 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan kering pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

(21)

xxi 53 Tabel analisis ragam untuk kecernaan bahan organik

pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design)……… 192 54 Tabel analisis ragam untuk kecernaan protein kasar

pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design)………. 192 55 Tabel analisis ragam untuk kecernaan lemak kasar

pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design) ……….. 193 56 Tabel analisis ragam untuk kecernaan serat kasar

pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design)……… 193 57 Tabel analisis ragam untuk kecernaan ekstrak tanpa N

pakan sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design)……… 193 58 Tabel analisis ragam untuk produksi susu (kg/ek/hr)

sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design)……… 194

59 Tabel analisis ragam untuk produksi susu 4% FCM (kg/ek/hr) sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design) ………. 194 60 Tabel analisis ragam untuk kadar lemak susu (%) sapi

yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design)………. 194 61 Tabel analisis ragam untuk produksi lemak susu

(kg/ek/hr) sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan beralih (cros over design)………

195 62 Tabel analisis ragam untuk BJ susu sapi yang

mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

(22)

xxii 63 Tabel analisis ragam untuk kadar laktosa (%) susu sapi

yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan rancangan

beralih (cros over design)……… 195 64 Tabel analisis ragam untuk kadar protein (g/100ml)

susu sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

rancangan beralih (cros over design)………. 196 65 Tabel analisis ragam untuk kadar bahan kering (%)

susu sapi yang mendapat suplementasi dan tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi dengan

(23)

xxiii DAFTAR SINGKATAN

ADF Acid Detergent Fiber ALB Asam Lemak Bebas

AOAC Association of Official Analytical Chemist

BJ Berat Jenis

BK Bahan Kering

BKTL Bahan Kering Tanpa Lemak

BO Bahan Organik

CLA Conjugated Linoleic Acid CPO Crude Palm Oil

DT Degradasi Teori

EE Ekstrak Eter

ETN Ekstrak Tanpa Nitrogen FCM Fat Corrected Milk LDL Low Density Lipoprotein

LPPT Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu MUFA Monounsaturated Fatty Acid

NADH Nicotinamide Adenin Dinukleotida Hidrogenase NDF Neutral Detergent Fiber

PFA Prilled Fatty Acid

PUFA Polyunsaturated Fatty Acid RUP Rumen Undegradable Protein SFA Saturated Fatty Acid

(24)

xxiv UFA Unsaturated Fatty Acid

(25)

xxv INTISARI

Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode efektif dalam memproteksi lemak, mengkaji pengaruh penggunaan lemak terproteksi terhadap parameter fermentasi rumen, profil asam lemak digesta duodenum, profil asam lemak plasma darah serta pengaruh penggunaan lemak terproteksi terhadap konsumsi, kecernaan nutrien, produksi susu, komposisi susu dan profil asam lemak susu. Penelitian dilaksanakan dalam 3 tahap, pertama dilakukan evaluasi metode proteksi yaitu metode penyabunan dan metode kapsulasi formaldehid selanjutnya hasil proteksi diuji secara in vitro dengan menggunakan minyak sawit sebagai sumber lemak dan susu skim afkir sebagai bahan untuk kapsulasi, kedua uji in vivo untuk lemak terproteksi hasil metode proteksi yang efektif menggunakan satu sapi perah berfistula rumen dan bercanula duodenum, ketiga uji in vivo lemak terproteksi pada 8 sapi perah laktasi menggunakan rancangan percobaan simple cross over. Pada tahap satu diamati kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, asam lemak bebas, angka yod dan untuk metode kapsulasi formaldehid ditambah uji kecernaan protein dan tingkat degradasi protein. Pada tahap dua dilakukan pengamatan pada pH rumen, ammonia rumen, VFA rumen, profil asam lemak digesta duodenum dan profil asam lemak plasma darah. Pada tahap tiga dilakukan pengamatan pada kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, profil asam lemak plasma darah, produksi susu, komposisi susu dan profil asam lemak susu. Hasil dari penelitian ini adalah metode kapsulasi protein dan formaldehid secara nyata memberikan hasil yang lebih baik dibanding metode penyabunan pada kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan kadar asam lemak bebas secara in vitro (P<0,01). Penambahan lemak terproteksi pada ransum ternak tidak mempengaruhi pH, kadar ammonia, VFA rumen, profil asam lemak digesta duodenum, profil asam lemak plasma darah, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Penambahan lemak terproteksi dalam ransum tidak mempengaruhi komposisi susu sapi (kadar lemak, kadar protein, kadar laktosa, kadar bahan kering dan BJ), tetapi meningkatkan produksi susu dan produksi lemak susu (P<0,05). Profil asam lemak susu dipengaruhi oleh penambahan lemak terproteksi pada asam lemak kaprat, asam lemak laurat dan asam lemak oleat (P<0,05).

(26)

xxvi ABSTRACT

The aims of the study were to obtain an effective method in protecting fat, to study the effect of the use of protected fat on rumen fermentation parameters, fatty acid profile of duodenal digested, blood plasma fatty acid profile, and to measure the effect of the protected fat usage on intake, nutrient digestibility, milk production, milk composition and fatty acid profile milk. The research was conducted in three phases. The first phase was the protection method of evaluation consisting of saponification methods and formaldehyde capsulation methods, then the protection result was tested in vitro by using palm oil as the source of fat and rejected skim milk as an ingredient for capsulator. The second phase, protected fat was tested by in vivo for the most effective protection methods using a single rumen fistulated and canulated duodenum dairy cow. The third phase, the in vivo test of protected fat was conducted towards 8 lactating dairy cows using a simple cross-over trial design. In the first stage, the dry matter digestibility, organic matter digestibility, free fatty acids, iodium numbers were observed, and for capsulation formaldehyde method was also tested by adding the protein digestibility and protein degradation rates. In the second phase, rumen pH, rumen ammonia, rumen VFA, duodenal digested fatty acid profile, and fatty acid profile of blood plasma were observed as well. In the third phase, digestibility of dry matter, organic matter digestibility, fatty acid profile of blood plasma, milk production, milk composition, and milk fatty acid profile was also observed. Results from this study are: the formaldehyde capsulation method gave significantly better results than the saponification method on dry matter digestibility, organic matter digestibility and free fatty acid level (P<0.01). Protected fat supplementation in livestock rations did not affect the pH, ammonia levels, rumen VFA, duodenal digested fatty acid profile, blood plasma fatty acid profile, dry matter digestibility and organic matter digestibility. Instead of affecting the composition of cow's milk (fat content, protein content, lactose content, dry matter content and BJ), the addition of protected fat in the ration, increased milk production and milk fat production (P<0.05). Fatty acid profile of milk was affected by the addition of protected fat on fatty acids capric, lauric fatty acid and oleic fatty acids (P<0.05).

(27)

1 PENGANTAR

Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong manusia untuk melakukan perbaikan terhadap kehidupannya. Sekarang ini, masyarakat semakin peduli dengan makanan yang sehat. Masyarakat semakin berminat terhadap produk-produk pangan yang berkualitas dari sisi kesehatan. Salah satunya adalah dengan lebih banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang bernilai kesehatan bagi tubuhnya. Susu sapi merupakan produk dari peternakan yang cukup populer di masyarakat karena perannya sebagai susu pendamping air susu ibu untuk bayi, dan juga sebagai sumber nutrisi yang lengkap bagi anak-anak dan orang dewasa. Susu dapat menjadi sumber protein, kalsium, energi dan asam lemak bagi tubuh.

Masyarakat semakin sadar pentingnya nilai bahan pangan berkhasiat medis, sehingga susu yang kandungan asam lemak jenuhnya rendah namun kaya asam-asam lemak tidak jenuh (oleat, linoleat, dan linolenat) mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi dan semakin diminati. Asam linoleat terkonjugasi (Conjugated Linoleic Acid / CLA) sebagai isomer asam linoleat yang banyak ditemukan dalam susu dapat mencegah perkembangan sel kanker (Dewhurst et

(28)

2 Susu sebagai salah satu sumber nutrisi lengkap bagi manusia telah diupayakan untuk menjadi minuman yang lebih bernilai untuk kesehatan dengan cara meningkatkan kandungan asam lemak tidak jenuh dan menurunkan kandungan asam lemak jenuhnya. Susu yang ideal dari segi kesehatan adalah susu yang mempunyai kandungan asam lemak rantai panjang tidak jenuh tinggi dan kandungan asam lemak jenuh rendah (Jenkins dan McGuire, 2006). Secara alami kandungan lemak dalam susu paling besar adalah asam lemak jenuh (Reh et al.,2004).

Salah satu upaya untuk mengubah komposisi asam lemak rantai panjang dalam susu sapi adalah melalui manipulasi pakan, salah satunya dengan memberikan suplemen sumber asam lemak tidak jenuh dalam ransum sapi perah. Di dalam rumen sapi perah, asam lemak tidak jenuh mengalami proses hidrolisis dan hidrogenasi. Proteksi lemak perlu dilakukan agar tidak mengalami hidrolisis dan biohidrogenasi di dalam rumen (Harvatine dan Allen, 2006; Gulati et al., 2005), dan untuk mengurangi pengaruhnya terhadap kecernaan serat dalam rumen ( Rotunno et al., 1998; Bayourthe etal., 1994).

(29)

3 Proteksi lemak dapat dilakukan dengan cara penyabunan sehingga terbentuk sabun yang cukup inert didalam rumen (Bayourthe et al., 1994; Bayourthe et al., 1993) atau dengan cara diproteksi dengan menggunakan formaldehid (Gulati et al., 2005). Hasil penelitian menggunakan kedua metode tersebut sangat bervariasi baik pada produksi maupun komposisi susu.

(30)

4 Penelitian tentang penggunaan lemak terproteksi pada sapi perah telah banyak dikerjakan di negara-negara Eropa. Penelitian tentang lemak terproteksi perlu dilakukan mengingat kondisi iklim tropis dan perbedaan kualitas nutrisi bahan pakan lokal di Indonesia yang berbeda dengan Eropa. Metode proteksi lemak mana yang lebih efektif, bagaimana pengaruh lemak terproteksi terhadap fermentasi di dalam rumen dan profil asam lemak duodenum, bagaimana pengaruh lemak terproteksi terhadap konsumsi pakan, kecernaan nutrien, profil asam lemak plasma darah, produksi dan komposisi susu serta profil asam lemak susu akan dapat diketahui dengan penelitian ini.

Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendapatkan metode yang efektif dalam melakukan proteksi lemak. 2. Mengkaji pengaruh penggunaan lemak terproteksi terhadap

parameter fermentasi rumen, profil asam lemak digesta duodenum dan plasma darah.

3. Mengkaji pengaruh penggunaan lemak terproteksi dalam ransum sapi perah terhadap konsumsi, kecernaan nutrien, profil asam lemak plasma darah, produksi dan komposisi susu serta profil asam lemak susu.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

(31)
(32)

6 TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Komposisi Asam Lemak Susu terhadap Kesehatan Manusia

Secara umum, komposisi susu dipengaruhi oleh sifat genetik ternak, lingkungan, masa laktasi, paritas dan nutrisi yang diterima oleh ternak. Saat ini para peneliti di seluruh dunia berusaha untuk memanipulasi komposisi susu. Dasar yang mendorong upaya tersebut antara lain: (1) peningkatan pengolahan susu dan produk susu; (2) pemenuhan standar komposisi nutrisi seperti yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang; dan (3) menjadikan susu sebagai penyedia senyawa-senyawa nutraceutical yang diketahui menguntungkan bagi kesehatan manusia (Jenkins dan McGuire, 2006).

(33)

7 dibanding lemak tanaman (Lock dan Bauman, 2004). Kepedulian konsumen yang meningkat untuk menghindari konsumsi berlebih energi, asam lemak jenuh dan kholesterol menyebabkan dilakukannya upaya menurunkan kandungan lemak susu atau SFA dengan meningkatkan proporsi MUFA dan PUFA. The Wisconsin Milk Marketing Board mengusulkan suatu komposisi asam lemak susu ideal, yaitu SFA maksimal 8%, PUFA minimal 10% dan MUFA sekitar 82% (Jenkins dan McGuire, 2006).

Salah satu PUFA yang menarik perhatian banyak ahli nutrisi saat ini adalah asam linoleat terkonjugasi (conjugated linoleic fatty acid / CLA). Asam linoleat terkonjugasi merupakan asam lemak yang dikategorikan sebagai bahan pangan fungsional karena memberikan efek yang menguntungkan bagi kesehatan manusia, yaitu sebagai senyawa anti kanker, anti aterosklerosis (Dhiman et al., 1999), menurunkan deposisi lemak tubuh, dan memperkuat sistem immun tubuh (McDonald, 2000; Pariza et al., 1999). Menurut Reh et al. (2004) C18:2 cis-9, trans-11 merupakan isomer CLA yang diduga memiliki efek

(34)

8 Manipulasi Nutrisi untuk Meningkatkan Kandungan

Asam Lemak Tidak Jenuh Susu

Perubahan komposisi susu melalui kontrol nutrisi dapat terjadi jika komponen susu yang diinginkan diikutsertakan bersama pakan untuk dapat diabsorbsi di intestinum dan ditranspor ke kelenjar mammae serta pada akhirnya disekresikan bersama susu. Lemak susu merupakan komponen susu yang paling sensitif terhadap manipulasi pakan, yang perubahannya dapat lebih dari 3% unit (Jenkins dan McGuire, 2006). Pada Gambar 1 terlihat mekanisme sintesis lemak susu. Berbeda dengan asam lemak rantai pendek yang berasal dari asetat, PUFA tidak disintesis di jaringan ternak ruminansia, sehingga konsentrasinya dalam susu tergantung pada konsentrasi PUFA pakan yang dapat diserap di intestinum (Chilliard et al., 2000). Meskipun demikian, adanya aktivitas hidrogenasi ikatan rangkap oleh mikrobia rumen pada ruminansia menyebabkan pemberian pakan yang tinggi kandungan PUFA tidak efektif meningkatkan jumlah PUFA yang dapat diabsorbsi di dalam intestinum (Jenkins dan McGuire, 2006). Untuk itu kemudian dikembangkan metode proteksi asam lemak dari proses hidrolisis dan hidrogenasi di dalam rumen (by pass rumen) (Jenkins dan Palmguist, 1984; Cook et al., 1970).

(35)
(36)

10 diproteksi dengan formaldehid ke sapi perah, ternyata menaikkan kadar lemak susu sampai 1% dan menaikkan asam lemak linoleat (C18:2) hingga 20% dengan kompensasinya terjadi penurunan asam lemak miristat (C14) dan palmitat (C16).

Efek positif dari manipulasi pakan dengan cara suplementasi minyak terproteksi adalah peningkatan efisiensi penggunaan energi untuk produksi susu, mengurangi kehilangan berat badan pada awal laktasi dan meningkatkan produksi komponen susu terutama lemak susu (Kaufmann dan Hagemeister, 1987).

Lemak Sebagai Sumber Energi

(37)

11 Lemak mempunyai peran penting dalam ransum sapi perah karena mempunyai kontribusi langsung sampai kira-kira 50% dalam sintesis lemak susu dan karena mempunyai konsentrasi energi yang tinggi. Biasanya ransum sapi mengandung 2 – 4 % lemak. Di dalam rumen, sebagian besar lemak dihidrolisis, ikatan antara gliserol dan asam lemak dipecah untuk membebaskan gliserol dan 3 asam lemak. Gliserol difermentasi secara cepat menjadi volatile fatty acid, beberapa asam lemak digunakan oleh bakteri untuk sintesis phospholipid yang diperlukan untuk membentuk membran sel (Wattiaux dan Grummer, 1995 )

Lemak juga disebut sebagai cold nutrien karena selama digesti dan penggunaan oleh tubuh menghasilkan energi panas yang lebih rendah dibanding karbohidrat dan protein. Peningkatan lemak dalam ransum sapi perah mempunyai beberapa keuntungan antara lain meningkatkan densitas energi ransum (Wettstein et al., 2001) terutama ketika konsumsi menjadi pembatas seperti pada pakan tinggi hijauan, di cuaca panas lemak membantu mengurangi stress panas pada sapi laktasi (Wattiaux dan Grummer, 1995)

Meskipun telah banyak diteliti, penggunaan lemak dalam ransum ruminansia masih terbatas, yaitu maksimal 5% bahan kering karena diduga akan menghambat aktivitas mikrobia rumen dalam mendegradasi serat kasar (Doreau dan Chilliard, 1996; Palmquist et al., 1993a).

Lemak Nabati Sebagai Sumber Asam Lemak Tidak Jenuh

(38)

12 Trigliserida nabati mempunyai kandungan asam lemak tidak jenuh yang lebih tinggi dibanding lemak hewani. Beberapa lemak nabati mempunyai asam lemak tidak jenuh dalam proporsi yang dominan (Block et al., 2005). Beberapa contoh minyak nabati dan kandungan asam lemak yang dominan dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Minyak nabati komersial dan kandungan asam lemak utamanya

No Jenis biji Asam lemak yang utama

1. Kedelai 9,12-18:2

2. Kacang tanah 9,12-18:2

3. Biji bunga matahari 9,12-18:2

4. Kelapa sawit 16:0, 9-18:1, 12:0

5. Biji kapas 9,12-18:2, 9-18:1

6. Zaitun 9-18:1

7. Wijen 9-18:1, 9,12-18:2

Sumber: Gurr, 1984

Penambahan minyak nabati dalam pakan hewan monogastrik akan mempengaruhi komposisi lemak di jaringan adiposa dan susu, tetapi hal yang sama tidak terjadi pada ternak ruminansia karena adanya biohidrogenasi asam lemak tidak jenuh rantai panjang di dalam rumen sehingga diabsorbsi dalam bentuk asam lemak jenuh atau cis- atau trans- monounsaturated fatty acid (MUFA) (Doreau and Chilliard, 1997; Gurr, 1984; Moore, 1978). Asam lemak tidak jenuh dapat diproteksi dari hidrogenasi rumen dengan kapsulasi minyak dengan protein dan disemprot dengan formaldehid (Gurr, 1984).

(39)

13 angka yod. Semakin tidak jenuh suatu lemak, maka semakin tinggi angka yodnya.

Lemak Pakan Sebagai Prekursor Asam Lemak Susu

Sumber asam lemak utama dari pakan adalah dari hijauan, minyak bijian, minyak ikan dan suplemen lemak (Mansbridge and Blake, 1997). Komposisi asam lemak pakan akan sangat berbeda setelah sampai di usus halus karena adanya proses hidrolisis dilanjutkan proses hidrogenasi oleh mikrobia rumen (Mansbridge dan Blake, 1997; Doreau dan Chilliard, 1996; Noble, 1981). Hal ini menyebabkan rendahnya prekursor untuk sintesis asam-asam lemak tidak jenuh susu, seperti oleat (C18:1), linoleat (C18:2) dan linolenat (C18:3) (Kalscheur et al., 1997; Ashes et al., 1992).

Setelah melewati rumen, asam lemak rantai panjang akan diabsorbsi usus halus dan masuk sistem limfatik, berikatan dengan protein kemudian bergerak melalui darah menuju sel sekretorik dan diserap (Bath et al.,1985). Tipe pakan dan tingkat saturasi dalam rumen akan mempengaruhi kejenuhan asam lemak rantai panjang yang diekskresikan ke dalam susu (Kaufmann dan Hagemeister, 1987; Bath et al., 1985).

(40)

14 perubahan ke dalam lemak susu. Total produksi lemak susu tergantung pada keseimbangan antara transfer asam lemak rantai panjang ransum ke lemak susu dan sintesis di glandula mamae (Palmquist, 1984).

Asam lemak rantai pendek disintesis dalam sel sekretori mamae dari asetat dan -hidroksibutirat, yang keduanya merupakan produk fermentasi

karbohidrat di dalam rumen. Asam lemak rantai pendek disintesis dengan cara penambahan 2 karbon derivat asetat (asetil-koA). Ada 2 komplek enzim yang penting dalam sintesis asam lemak dalam jaringan mamae yaitu asetil-koA karboksilase dan asam lemak sintase. Asetat lebih banyak digunakan dalam sintesis lemak susu dibandingkan dengan butirat. Asetat juga digunakan untuk mensuplai energi bagi sel sekretori mamae. Karena tingginya peranan dalam sintesis susu, produksi asetat dalam rumen menjadi esensial untuk optimalnya produksi susu (Bath et al., 1985)

Ada 3 jalur penting dalam sintesis asam lemak susu ruminansia. Asam lemak C4, C6, C8 disintesis melalui jalur yang spesial (avidin- sensitive atau thioesterase) melibatkan -hidroksibutirat sebagai substrat. Asam lemak C10 –

C14 dan sebagian C16 disintesis melalui jalur malonil ko A. Sebagian asam lemak C16 lainnya dan semua asam lemak C18 diperoleh dari pakan , sedangkan asam lemak C18:1 diperoleh melalui aktivitas stearyl desaturase (Kaufmann dan Hagemeister, 1987). Sintesis lemak atau triasilgliserol selanjutnya terjadi karena tersedianya asil lemak ko A dan gliserol 3-fosfat (Lehninger, 1991).

Proteksi Lemak Pakan

(41)

15 tidak berpengaruh negatif terhadap kecernaan karbohidrat. Selain itu, asam-asam lemak tidak jenuh yang sampai di intestinum diharapkan dapat meningkatkan kadar asam lemak tidak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acid) susu (Gulati et al., 2005, Sinclair et al., 2005; Fearon et al., 1994).

Metode proteksi lemak yang mungkin dikembangkan adalah penyabunan atau saponifikasi dengan garam kalsium atau CaCl2 (Jenkins dan Palmquist, 1984) dan pengkapsulan atau pembungkusan lemak dengan matriks protein yang telah di proteksi dengan aldehid (Cook et al., 1970). Rachmadi et al. (2003) telah melakukan proteksi bungkil inti sawit dengan menggunakan formaldehid untuk meningkatkan kandungan asam lemak poli tidak jenuh pada daging domba. Tiven et al. (2011) melakukan proteksi minyak sawit mentah dengan formaldehid untuk meningkatkan kualitas daging domba.

(42)

16 Suplementasi garam kalsium dan lemak tidak berpengaruh terhadap parameter fermentasi rumen secara in vitro (Bayourthe et al., 1994). Lemak pakan yang terproteksi oleh garam kalsium dilaporkan meningkatkan protein susu (Cervantes et al., 1996), memenuhi kebutuhan energi dari lemak (Holter et al., 1993; Sklan dan Tinsky, 1993), menurunkan kadar asam lemak jenuh dan meningkatkan kadar asam lemak tidak jenuh pada susu (Chouinard et al., 1997). Kelemahan metode penyabunan menurut Bauman dan Lock (2006) adalah pada banyak kasus, penyabunan hanya efektif melindungi trigliserida dari hidrolisis tetapi tidak efektif melindungi ikatan rangkap dari hidrogenasi dalam rumen.

(43)

17 pada pH netral tetapi menjadi labil pada pH rendah (Wilbraham dan Matta, 1992 dalam Anggraeny dan Krishna, 2005).

Formaldehid banyak digunakan di industri dan secara alami terkandung dalam banyak produk makanan termasuk produk susu dan daging. Formaldehid adalah produk normal metabolisme intermediet pada mamalia (Lu et al., 2010). Formaldehid dikonversi menjadi asam format oleh aksi enzim formaldehid dehidrogenase, asam format dimetabolisme menjadi karbon dioksida dan air atau bergabung dalam satu pool karbon atau disekresikan dalam urin sebagai garam sodium (Owens et al., 1990 dalam Gulati et al., 2005).

Metode proteksi melalui pengkapsulan dengan matriks protein yang telah diproteksi dengan formaldehid mampu memberikan keberhasilan proteksi yang cukup tinggi (82 – 86%) (Sklan dan Tinsky, 1993; Sklan, 1989), bahkan dapat memproteksi lemak dari metabolisme dalam rumen hingga 90% (Gulati et al., 2005; Gulati et al., 1997).

Pengkapsulan lemak dengan protein yang diproteksi menggunakan formaldehid juga mampu meningkatkan konsentrasi asam lemak linoleat dalam plasma (Mata-Herndanez et al., 1978), mampu menaikkan konsumsi energi tercerna (Shell et al., 1978), meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan kualitas produk susu dan daging, meningkatkan kinerja reproduksi (Gulati et al., 2005) serta tidak mempengaruhi konsumsi pakan, kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi VFA dan nilai pH cairan rumen (Rachmadi, 2003)

Metabolisme Lemak di Dalam Rumen

(44)

18 jumlah asam lemak bebas dapat menunjukkan berapa banyak lemak yang terhidrolisis (Oser, 1976). Lemak yang masuk ke dalam rumen akan dihidrolisis oleh lipase mikrobia (Harfoot dan Hazlewood, 1988) dan membebaskan asam lemak bebas serta gliserol (Block et al., 2005). Gliserol dengan cepat difermentasi menjadi asam lemak volatil (Wattiaux dan Grummer, 1995). Laju lipolisis tergantung jumlah konsumsi lemak dan komposisi asam lemak yang terikat pada gliserol (Block et al., 2005). Mikrobia yang paling berperan dalam proses hidrolisis adalah bakteri rumen, protozoa bersilia dilaporkan juga mampu mendegradasi lemak walaupun terbatas sedangkan jamur belum menunjukkan kemampuannya dalam proses hidrolisis lemak (Dehority, 2003).

Bakteri yang berperan dalam proses hidrolisis lemak adalah Anaevibrio

lipolytica dan berbagai macam strain Butiryvibrio fibrisolvens (Dehority, 2003; Harfoot dan Hazlewood, 1988). Butiryvibrio fibrisolvens adalah bakteri yang pertama diketahui mempunyai kemampuan hidrogenasi, bakteri lain yang mempunyai kemampuan tersebut berasal dari kelompok Treponema,

Micrococcus, Ruminococcus, Eubacterium dan Fusocillus (Dehority, 2003). Asam lemak tidak jenuh yang terbebaskan dengan cepat akan mengalami hidrogenasi oleh bakteri rumen, sedangkan hidrogenasi asam lemak tidak jenuh oleh protozoa sangat terbatas. Sejumlah asam lemak intermediet akan diproduksi sebagai konsekuensi terjadinya hidrogenasi asam lemak (Bauman et al., 2003b).

(45)

19 Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Kecernaan dan Fermentasi Rumen

Asam lemak bebas dalam rumen cenderung menempel pada partikel pakan dan mikrobia sehingga mempengaruhi fermentasi terutama fermentasi karbohidrat struktural (Castro et al., 2009; Gulati et al, 1997; Doreau dan Chilliard, 1997; Wattiaux dan Grummer, 1995) Pengaruh dari asam lemak bisa terjadi secara langsung ke membran sel mikrobia atau secara tidak langsung melalui penurunan ketersediaan kation seperti kalsium dan magnesium di dalam rumen (Jenkins, 1993 dalam Schroeder et al., 2004).

Perbedaan sumber lemak diketahui memberikan efek yang berbeda terhadap konsumsi. Ketika campuran tallow dan barley diberikan ke sapi perah, total konsumsi akan dipengaruhi secara nyata sampai lebih dari 750 g/hari tallow yang diberikan, sedangkan ketika campuran minyak kedelai dan tepung kedelai diberikan ke ternak yang sama ternyata menurunkan konsumsi (Czerkawski dan Clapperton, 1984). Penggunaan lemak bypass dalam pakan menurunkan konsumsi pakan (Chilliard, 1993; Palmquist dan Jenkins, 1980).

Pemberian minyak dalam ransum secara nyata menurunkan kecernaan bahan organik (Sutton et al., 1983), kecernaan bahan kering, kecernaan selulosa dan kecernaan protein (Davison dan Woods, 1960), serta menaikkan kecernaan lemak (Mattos dan Palmquist, 1974; Davison dan Woods, 1960). Dari penelitian Kalscheur et al. (1997) diperoleh bahwa pemberian minyak biji bunga matahari dalam ransum tidak mempengaruhi kecernaan bahan kering, serta bahan organik (Wu et al., 1994).

(46)

20 1997), hal ini berbeda dari hasil penelitian Sutton et al. (1983) bahwa penambahan minyak dalam ransum menurunkan asam asetat dan butirat tetapi menaikkan produksi propionate. Penggunaan minyak sawit bypass dilaporkan paling rendah pengaruhnya terhadap penurunan konsumsi pakan dibanding penggunaan lemak bypass asal hewan dan minyak nabati dalam kapsul, yaitu berturut-turut 0,55, 1,1, dan 1,3 kg BK/hari (Chilliard dan Ollier, 1994; Chilliard, 1993).

Pada pengujian secara in sacco, pemberian lemak yang dikapsulasi dengan protein by pass tidak mempengaruhi degradasi bahan kering acid

detergent fiber (ADF) dan neutral detergent fiber (NDF) serta tidak mempengaruhi karakteristik parameter fermentasi rumen seperti pH dan pola

volatile fatty acid (VFA) (Bayourthe et al., 1993). Dari penelitian Newbold et al. (2004) dilaporkan bahwa penambahan minyak esensial pada pakan tidak mempengaruhi fermentasi rumen dengan tidak terpengaruhnya kadar VFA dan ammonia, demikian juga dari hasil penelitian Hristov et al. (2008) yang melakuan uji secara in vitro. Volatile fatty acid merupakan produk dari aktifitas fermentasi karbohidrat oleh mikrobia rumen dan merupakan sumber karbon dan energi utama bagi ternak ruminansia (Wolin dan Miller, 1988, Ørskov dan Ryle, 1990). Hampir 70% kebutuhan energinya dipenuhi dari VFA yang diabsorsi melalui villi rumen. Jumlah VFA dan kinetikanya dalam rumen dapat mengindikasikan jumlah energi yang tersedia untuk ternak dan juga dikaitkan dengan aktivitas mikrobia rumen (Van Soest, 1994).

(47)

21 dengan kualitas yang rendah sebagai hijauan utamanya. Pemberian lemak terproteksi akan meningkatkan densitas energi tanpa mempengaruhi fermentasi dalam rumen (Naik et al., 2009).

Hal yang berbeda dilaporkan oleh Palmquist dan Conrad (1978) cit. Czerkawski dan Clapperton (1984) bahwa penambahan lemak pada pakan sapi meningkatkan kecernaan serat, selanjutnya disebutkan bahwa pengaruh tersebut juga tergantung pada jenis lemak yang ditambahkan. Pemberian lemak hewan (tallow) yang dikombinasi dengan protein by pass tidak memberikan pengaruh terhadap total konsumsi bahan kering (Maiga dan Schingoethe, 1997) tetapi pada penelitian Petit (2003) yang menggunakan biji bunga matahari dan flaxseed yang diberi perlakuan formaldehid menaikkan konsumsi bahan kering. Pemberian lemak dalam ransum tidak berpengaruh terhadap kecernaan dalam rumen (Palmquist et al., 1993), bahkan menaikkan kecernaan bahan kering (Petit, 2003), kecernaan lemak dan total digestible nutrients (TDN) (Shell et al., 1978).

Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Metabolit Plasma Darah

(48)

22 kadar protein, dan hubungan antara komponen ransum dan lemak darah sangat kompleks sifatnya (Bohman et al., 1962 dalam Parakkasi, 1999).

Fluktuasi metabolit darah dipengaruhi oleh mekanisme homeostasis. Homeostasis adalah kemampuan tubuh atau sel untuk mengatur kondisi konstan internalnya (Guyton dan Hall, 2000). Penelitian DeFrain et al. (2004) yang mengggunakan suplementasi gliserol pada sapi perah tidak menyebabkan perbedaan yang signifikan pada glukosa, insulin, β-hidroksi butirat dan asam lemak bebas plasma pada saat sebelum beranak, tetapi menyebabkan rendahnya glukosa plasma setelah beranak, sedangkan asam lemak bebas plasma tidak berbeda nyata. Hal ini berbeda dengan penelitian Wang et al. (2009) yang memberikan suplementasi gliserol pada sapi perah ternyata menurunkan asam lemak bebas dan asam β-hidroksi butirat, dan secara linier menurun dengan semakin meningkatnya suplementasi gliserol.

Penambahan lemak pada ransum akan menyebabkan perubahan asam lemak plasma darah seperti pada penelitian Febel et al. (2002) pada domba seperti pada Tabel 3.

(49)

23 campuran keduanya tidak memberikan pengaruh terhadap kadar asam lemak bebas, β-hidroksibutirat, insulin, glukosa dan urea plasma darah sapi perah

Tabel 2. Efek perbedaan sumber lemak terhadap kadar asam lemak plasma darah pada domba (Febel et al., 2002)

kalsium1 Minyak kedelai HESA

2 BSA3

Ket : abcdeBerbeda nyata P<0,05

1 Dari minyak sawit merk Magnapac 2

Hydroxyethylsoyamide 3

Butylsoyamide

(50)

-24 hidroksibutirat plasma darah yang lebih rendah dibanding pakan lipogenik atau campuran keduanya (van Knegsel et al., 2007). Pemberian pakan lipogenik pada domba pada penelitian Vakili et al. (2011) meningkatkan secara nyata kadar asam lemak bebas plasma darah.

Pengaruh Lemak Ransum Terhadap Produksi dan Komposisi Susu Kelebihan lemak dalam pakan (lebih dari 8%) mungkin mempunyai efek negatif terhadap produksi susu dan persentase lemak susu. Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek negatif lebih besar dibandingkan asam lemak jenuh terhadap mikrobia rumen, sehingga lemak perlu diproteksi untuk menurunkan laju hidrolisis dan membuat lebih inert (tidak mudah berubah) dalam rumen (Wattiaux dan Grummer, 1995). Menurut Hammon et al. (2008) pemberian pakan lemak terproteksi juga merupakan strategi untuk meningkatkan densitas energi pakan dan konsumsi energi pada ternak. Pengaruh pemberian lemak nabati terhadap produksi dan komposisi susu dapat dilihat pada Tabel 3a sedangkan pengaruh lemak hewani dapat dilihat pada Tabel 3b.

Proporsi asam butirat dalam lemak susu tidak pernah menurun secara signifikan karena pemberian lemak pada pakan. Proporsi asam lemak rantai pendek dengan panjang karbon 6 dan 8 menurun pada saat lemak yang tidak diproteksi mempengaruhi fungsi mikrobia rumen. Proporsi C4:0, C6:0 dan C8:0 berubah dengan jelas dengan penambahan lemak terproteksi (Chilliard et al., 2000).

(51)

25 terproteksi dalam pakan akan menaikkan produksi susu dan lemak susu. Produk susu yang dihasilkan dari sapi perah dengan suplemen bijian mengandung minyak terproteksi juga akan memiliki nilai komersial lebih tinggi karena lemak susu yang dikandungnya akan lebih kaya asam lemak oleat (C18:1), linoleat (C18:2) dan linolenat (C18:3).

Tabel 3a. Penggunaan lemak nabati dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak susu

No. Perlakuan Hasil Peneliti

1. Minyak canola 2% pada sapi Holstein awal laktasi

Tidak ada efek pada produksi susu, kadar protein,laktosa dan BKTL, tetapi kadar lemak susu menurun (3,43 vs 2,67%), produksi lemak menurun (1,17 vs 0,9 kg/hari), C6-C8,C12 menurun, C18:1,cis-11 meningkat (0,78 vs 1,12 g/100 g asam lemak)

Vafa et al., 2012

2. Suplementasi Echium oil yang diproteksi menggunakan matrik protein aldehid pada sapi perah

Penurunan produksi susu, kadar protein, laktosa, dan BKTL susu tidak terpengaruh. Total asam lemak n-3 meningkat (559 vs 1162 mg/l), Total asam lemak n-6 meningkat (622 vs 886 mg/l). Total SFA tidak terpengaruh, Total MUFA meningkat (9897 vs 12.019 mg/l)

Kitessa dan Young, 2011

3. Suplementasi 1,9% sabun kalsium flaxseed oil pada 4 ekor Holstein primiparous.

Produksi susu, kadar protein dan laktosa susu tidak terpengaruh, kadar lemak menurun (2,57 vs 1,1,83%), C18:1 meningkat, total SFA menurun (74,4 vs 69,6%), total MUFA meningkat (21,1 vs 25,3%), total PUFA tidak berbeda.

(52)

26 Tabel 3a. (lajutan)

4. Suplementasi 5% asam lemak dari linseed utuh, extruded linseed, dan minyak linseed pada sapi Holstein laktasi multiparous.

Produksi susu menurun pada minyak linseed. kadar lemak susu dan produksi lemak susu menurun pada exruded linseed dan minyak linseed dibanding kontrol (tanpa suplementasi). Asam lemak oleat meningkat pada extruded linseed dan minyak linseed. SFA menurun, MUFA meningkat pada semua perlakuan dibanding kontrol.

Chilliard et al., 2009

5. Suplementasi 12,6%

flaxseed utuh,

micronized flaxseed dan extruded flaxseed pada sapi perah Holstei laktasi.

Asam lemak oleat, linoleat dan linolenat, MUFA dan PUFA meningkat dibanding kontrol (tanpa suplementasi)

Gonthler et al, 2005.

Hal tersebut bisa dilihat pada penelitian Kalscheur et al. (1997) yang menggunakan biji bunga matahari, penelitian Ashes et al. (1992) yang menggunakan biji canola, penelitian Mattos dan Palmquist (1974) yang menggunakan tepung kedelai terproteksi.

Penambahan minyak dari by-product industri etanol sampai 15% dalam ransum ternyata tidak menurunkan produksi lemak susu, selain itu pemakaian minyak jagung dalam ransum (ekstrak eter dalam ransum 5%) akan menaikkan produksi susu dan produksi lemak susu tetapi menurunkan kadar lemak susu (Leonardi et al., 2005).

(53)

27 1991), menurunkan kadar lemak susu tetapi menaikkan produksi lemak susu (Rodriguez et al., 1997). Penurunan kadar lemak susu juga dihasilkan dari penelitian Kaslcheur et al. (1997) yang memberikan suplementasi minyak biji bunga matahari, Troegeler-Meynadier et al. (2007) yang memberikan asam lemak dari ektraksi kedelai dan asam palmitat dan Mohamed et al. (1988) yang memberikan tambahan minyak pada bijian pada pakan sapi perah.

Pemberian suplementasi lemak yang dikombinasi dengan protein kualitas tinggi menaikkan produksi susu, protein susu dan bahan kering tanpa lemak susu (Chan et al., 1997), juga menaikkan produksi lemak dan kadar lemak (Christensen et al., 1994). Pemberian pakan kedelai dan biji bunga matahari (30:70) yang diproteksi dengan formaldehid 1% pada sapi perah menaikkan kadar lemak susu dan asam lemak linoleat (C18:2) susu, sedangkan produksi susu, bahan kering tanpa lemak susu, protein susu dan kholesterol susu tidak mengalami perubahan (Wrenn et al., 1975).

Tabel 3b. Penggunaan lemak hewani dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak susu

No. Perlakuan Hasil Peneliti

1. Minyak ikan 2% pada sapi FH awal laktasi

Produksi susu tidak terpengaruh, kadar protein,laktosa dan BKTL tidak terpengaruh, kadar lemak susu menurun (3,43 vs 2,32%), produksi lemak menurun (1,17 vs 0,68 kg/hari), C6-C14 menurun, peningkatan C18:1trans (0,38 vs 1,16 g/100 g asam lemak), C18:2 t-10, c-12 (0,05 vs 0,13 g/100g asam lemak), C18:2 c9-,t-11 (0,47 vs 1,05 g/100g asam lemak), C18:3, EPA dan DHA.

(54)

28 Tabel 3b. (lanjutan)

2. Suplementasi 2% minyak ikan pada sapi perah primiparous.

Suplementasi tidak mempe-ngaruhi produksi susu (28,6 vs 29,7 kg/hari), kadar lemak dan protein susu ( 3,49 vs 3,25% dan 3,08 vs 2,96%), tetapi menurunkan asam lemak jenuh (69,53 vs 63,06 g/100g asam lemak), meningkatkan asam lemak tidak jenuh (24,62 vs 27,40 g/100g asam lemak).

AbuGhazaleh et al., 2002a

3. Pemberian minyak ikan tak terproteksi (3,7% BK), minyak ikan terproteksi (1,5 dan 3,0% BK).

Minyak ikan menurunkan kadar lemak susu dan protein susu, menurunkan proporsi asam lemak rantai pendek ,asam searat dan asam oleat dalam lemak susu. Asam lemak rantai panjang meningkat termasuk C20:5 dan C22:6.

Lacasse et al., 2002

4. Penambahan tallow, molases dan by pas protein pada ransum sapi perah.

Produksi susu meningkat pada ternak yang diberi lemak, by pas protein dan molases dibandingkan yang tanpa penambahan. Kadar protein lebih rendah pada ternak yang diberi lemak dan by pass protein dibandingkan dengan ternak yang diberi molases dan by pas protein.

Maiga dan Schingoethe, 1997

(55)

29 Evaluasi Kecernaan Bahan Pakan

Nilai nutrisi pakan ruminansia diukur dari laju degradasi komponen kimianya. Uji kecernaan dapat dilakukan dengan langsung memberikan kepada ternak (in vivo), tetapi hal ini sulit dilakukan jika harus menguji pakan secara rutin, sehingga dapat dilakukan estimasi dengan uji secara in vitro yang lebih murah dan mudah dilakukan (Hamid et al., 2007). Dengan metode in vitro, dalam waktu yang singkat dan dan dengan biaya yang lebih rendah dapat dilakukan analisis sampel pakan dalam jumlah yang banyak (Pell et al., 1993), selain itu kecernaan in vitro juga mempunyai korelasi yang nyata dengan kecernaan in vivo (Boucher et al., 2009), dengan nilai yang lebih tinggi dibanding kecernaan in vivo (Aregheore, 2000).

Kecernaan in vitro dilakukan diluar tubuh ternak tetapi disimulasikan seperti pencernaan dalam tubuh ternak. Teknik fermentasi in vitro terdiri dari 48 jam fermentasi dengan cairan rumen diikuti hidrolisis dengan pepsin dalam suasana asam (Van Soest, 1994). Secara umum, metode kecernaan in vitro didasarkan pada pengukuran sisa fermentasi atau produk fermentasi. Uji in vitro dapat digunakan untuk mengukur kecernaan bahan organik, mengukur bagaimana nilai pakan yang dipengaruhi oleh penambahan lemak, faktor anti nutrisi dan modifikasi rumen, memonitor perubahan mikrobia di dalam rumen sinkronisasi kecernaan nutrien, dan untuk seleksi hijauan (Getachew et al., 2004).

(56)

30 penambahan bahan tambahan misalnya urea dalam sampel pakan akan memberikan hasil yang berbeda.

Metode in sacco merupakan metode pendugaan kecernaan menggunakan kantong nilon. Teknik in sacco untuk menduga degradasi dalam rumen bukan hal baru, tetapi standarisasi dan validasi baru dikerjakan akhir-akhir ini. Dengan prosedur ini, sampel sebanyak 2 – 5 g, tergantung densitasnya, ditempatkan dalam kantong nilon dan diinkubasi dalam rumen dengan berbagai variasi waktu inkubasi. Inkubasi sering dilakukan maksimum dalam waktu 48 jam (Ørskov, 2000).

Perlakuan pakan sebelum inkubasi akan berpengaruh terhadap degradasi pakan. Perlakuan fisik seperti pencacahan, penggilingan, pembuatan pelet, pemanasan, serta perlakuan kimiawi seperti aldehid dan tanin akan mempengaruhi degradasi pakan ( Blanchart, 1988, dalam Widyobroto dkk, 1994), tetapi variabilitas ternak merupakan sumber variasi yang terbesar (Ørskov, 2002). Perbedaan prosedur pencucian dan kontaminasi mikrobia dalam residu setelah inkubasi juga menyebabkan terjadinya variasi hasil uji kecernaan in

sacco (Milis et al, 2007).

Kurva karakteristik degradasi dinyatakan dengan persamaan: P = a + b (1-e-ct)

(57)

31 rumen dan tergantung pada nilai laju aliran. Untuk menerangkan hal tersebut maka digunakan istilah degradabilitas teori (DT) yang mencerminkan fraksi yang sesungguhnya terdegradasi dalam rumen. Persamaan yang digunakan adalah:

DT= a + bc / (c +k)

Nilai degradasi teori tergantung pada kelarutan sampel (a), laju degradasi (c) dan laju aliran partikel kecil meninggalkan rumen (k). Dari persamaan terlihat jelas bahwa degradasi teori (DT) akan menurun jika nilai k meningkat, artinya semakin cepat fraksi pakan meninggalkan rumen, maka semakin kecil kesempatan mikrobia rumen untuk melakukan fermentasi sehingga proses degradasi tidak berjalan secara efektif. Dari beberapa penelitian terlihat bahwa hasil uji kecernaan in sacco dan uji kecernaan in vitro mempunyai korelasi yang tinggi (Gosselink et al., 2004), demikian juga antara in sacco dan in vitro produksi gas (Gasmi-Boubaker et al., 2005; Kamalak et al., 2005).

(58)

32 LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Landasan Teori

Proteksi bisa dilakukan dengan dilakukan penyabunan atau dikapsulasi dengan protein dan disemprot formaldehid. Metode penyabunan dengan garam kalsium tidak menurunkan kecernaan bahan organik dalam rumen, dan kalsium dilaporkan mampu mengurangi problem gangguan pencernaan namun presipitasi yang terbentuk dari kalsium dan asam lemak bebas rantai panjang jenuh kurang bisa diabsorbsi. Selain itu pada banyak kasus, penyabunan hanya efektif melindungi trigliserida dari hidrolisis tetapi tidak efektif melindungi ikatan rangkap dari hidrogenasi dalam rumen.

Metode proteksi dengan kapsulasi menggunakan protein yang terproteksi formaldehid mampu memberikan proteksi yang tinggi dari metabolisme di dalam rumen, mencapai 90%,` serta tidak mempengaruhi konsumsi pakan, kecernaan bahan kering dan bahan organik, walaupun jumlah protozoa rumen terpengaruh dengan digunakannya formaldehid sebagai agen proteksi. Metode kapsulasi formaldehid ini mempunyai manfaat ganda yaitu memproteksi lemak dan protein.

(59)

33 serta akan terjadi transfer langsung asam lemak rantai panjang ke dalam susu dan jaringan tubuh.

Lemak susu mempunyai kandungan asam lemak jenuh yang tinggi. Dengan semakin tingginya perhatian masyarakat terhadap bahan makanan yang berkhasiat kesehatan, maka susu yang mempunyai kandungan asam lemak jenuh rendah dan kandungan asam lemak tidak jenuhnya tinggi akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Sintesis asam lemak dalam susu prekusornya berasal dari asam lemak volatil rantai pendek dari hasil fermentasi rumen, asam lemak pakan dan asam lemak hasil mobilisasi lemak tubuh. Lemak pakan yang diproteksi dari proses degradasi dan hidrogenasi dalam rumen (undegraded rumen) akan terhidrolisis di abomasum dan diabsorbsi di dalam intestinum. Lemak pakan yang berupa lemak nabati yang mempunyai kandungan asam lemak tidak jenuh tinggi dan diproteksi dari pencernaan rumen akan menjadi sumber asam lemak tidak jenuh dalam sintesis asam lemak susu.

Dari uraian diatas perlu kiranya dilakukan penelitian pemberian lemak terproteksi pada pakan sapi perah di Indonesia untuk menghasilkan susu fungsional. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian lemak terproteksi terhadap kecernaan pakan, produksi dan komposisi susu terutama komposisi asam lemak dalam susu.

Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

(60)

34 2. Pemberian lemak terproteksi dalam rumen tidak mempengaruhi

fermentasi di dalam rumen.

3. Pemberian lemak terproteksi meningkatkan produksi dan kandungan

(61)
(62)

36 NH3, VFA rumen dan profil asam lemak duodenum dan plasma darah. Penelitian tahap ketiga mengaplikasan lemak terproteksi ke ternak laktasi untuk melihat pengaruhnya terhadap konsumsi, kecernaan, produksi dan komposisi susu serta profil asam lemak susu. Cara penelitian selengkapnya dapat dilihat pada cara penelitian l, penelitian ll dan penelitian lll.

Penelitian I. Evaluasi Proteksi Lemak dalam Rumen Secara In Vitro

Penelitian tahap I ini bertujuan untuk menemukan metode efektif proteksi lemak terhadap degradasi mikrobia rumen. Pada tahap ini dilakukan proteksi lemak nabati, yaitu minyak sawit dengan mengadopsi 2 metode yaitu metode penyabunan dan gabungan metode kapsulasi dan formaldehid. Penelitian tahap ini dilaksanakan di Laboratorium Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM.

Materi

Materi yang digunakan pada penelitian tahap ini adalah minyak sawit mentah (CPO/crude palm oil), susu skim afkir produk PT. Sari Husada, CaCl2, NaOH, formaldehid, sapi perah berfistula rumen, reagen untuk analisis protein kasar (Lampiran 7), reagen untuk analisis asam lemak bebas (Lampiran 6), reagen untuk analisa angka yod (Lampiran 8) dan reagen untuk analisa protein terdegradasi (Lampiran 5).

Metode

(63)

37 Chilliard, 1996). Hasil dari penyabunan diperoleh Ca-soaps. Pada pra penelitian dilakukan uji untuk mengetahui konsentrasi NaOH optimal, demikian juga imbangan antara minyak sawit, NaOH serta CaCl2, sehingga diperoleh konsentrasi untuk NaOH adalah 5% dan imbangan minyak:NaOH:CaCl2 adalah 4:1:1. Konsentrasi CaCl2 yangdigunakan yaitu 0,25, 0,5, 0,75, dan 1,0%. Hasil sabun yang diperoleh berbentuk cream. Metode selengkapnya untuk pembuatan sabun dapat dilihat pada Lampiran 1.

Pada metode kapsulasi/pembungkusan dengan matriks protein (

Na-caseinate) yang diproteksi dengan formaldehid, uji metodologi juga dilakukan terhadap kadar formaldehid (0,5, 1,0, 1,5,, dan 2,0%) dalam campuran protein minyak, sehingga diketahui kadar formaldehid yang optimal. Matriks protein yang digunakan untuk kapsulasi digunakan susu skim afkir. Kapsulasi minyak sawit dengan matriks protein mengacu pada rekomendasi Cook et al. (1970) yang dimodifikasi oleh Sklan (1989) sebagai berikut : jumlah yang sama antara lemak dan natrium-caseinate (atau sumber protein lain) dicampur secara merata kemudian campuran disemprot dengan formalin (mengandung 37% formaldehid). Pada penelitian ini, setelah dilakukan pra penelitian untuk mengetahui imbangan susu dan minyak yang optimal akhirnya diperoleh imbangan susu skim:minyak adalah 3:1. Metode selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Lemak yang sudah terproteksi dari kedua metode tersebut kemudian diuji secara in vitro 2 tingkat menurut metode Tilley dan Terry (1963) yang dimodifikasi. Tingkat 1 diasumsikan pencernaan di dalam rumen sedangkan tingkat 2 diasumsikan pencernaan di dalam abomasum. Metode kecernaan in

(64)

38 kering, kecernaan bahan organik, kadar asam lemak bebas serta angka yod. Parameter yang diamati untuk uji kecernaan in vitro metode kapsulasi dan formaldehid adalah kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein kasar, kadar asam lemak bebas, angka yod dan protein terdegradasi. Pada kecernaan protein kasar yang diukur adalah sisa protein yang terdegradasi (total N) menggunakan metode Kjeldahl, sedangkan pada protein terdegradasi yang diukur adalah protein yang terdegradasi dan terlarut di dalam filtrat menggunakan metode Lowry. Pengujian filtrat dilakukan pada saat tingkat 1 (inkubasi 48 jam) atau asumsi kondisi dalam rumen dan juga pada tingkat 2 (inkubasi 96 jam) setelah penambahan HCl pepsin atau asumsi kondisi dalam abomasum.

Analisis bahan kering dan bahan organik menggunakan metode AOAC (2005) (Lampiran 13 dan Lampiran 14), asam lemak bebas menggunakan metode Mehlenbacher (1960) sesuai Sudarmadji et al. (1984) seperti pada Lampiran 6, angka yod mengikuti metode Sudarmadji et al. (1984) (Lampiran 8), protein kasar menggunakan metode Kjeldahl (AOAC, 2005) (lampiran 7) dan protein terdegradasi menggunakan metode Lowry (Plummer, 1971) (Lampiran 5).

(65)

39 Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis variansi dengan rancangan acak lengkap pola tersarang dan perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (Astuti, 1981).

Penelitian II. Pengaruh Penggunaan Lemak Terproteksi Terhadap Parameter Fermentasi Rumen, Profil Asam Lemak Digesta Duodenum

dan Profil Asam Lemak Plasma Darah

Tujuan dari penelitian tahap II ini adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan lemak terproteksi terhadap parameter fermentasi rumen, profil asam lemak digesta intestinum dan profil asam lemak plasma darah. Penelitian dilakukan di kandang percobaan bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Paternakan UGM, Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan dan Laboratorium Biokimia PAU Pangan dan Gizi UGM.

Materi

Materi yang digunakan dalam penelitian tahap ini adalah 1 ekor sapi perah yang berfistula rumen dan berkanula duodenum, rumput raja, wheat polard, lemak terproteksi dengan metode kapsulasi formaldehid, reagen untuk uji NH3 (Lampiran 9), kromatografi gas, pH meter, vacutainer, reagen untuk preparasi cairan rumen untuk analisa VFA (Lampiran 10).

Metode

Figur

Gambar 11. Sintesis daan sekresi leemak susu p2000)  pada ruminaansia (Chilliaard et al.,
Gambar 11 Sintesis daan sekresi leemak susu p2000 pada ruminaansia Chilliaard et al . View in document p.35
Tabel 1. Minyak nabati komersial dan kandungan asam lemak utamanya
Tabel 1 Minyak nabati komersial dan kandungan asam lemak utamanya . View in document p.38
Tabel 2. Efek perbedaan sumber lemak terhadap kadar asam lemak plasma darah pada domba (Febel et al., 2002)
Tabel 2 Efek perbedaan sumber lemak terhadap kadar asam lemak plasma darah pada domba Febel et al 2002 . View in document p.49
Tabel 3a. Penggunaan lemak nabati dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak susu
Tabel 3a Penggunaan lemak nabati dalam ransum terhadap produksi susu komposisi susu dan komposisi asam lemak susu . View in document p.51
Tabel 3a. (lajutan)
Tabel 3a lajutan . View in document p.52
Tabel 3b. Penggunaan lemak hewani dalam ransum terhadap produksi susu, komposisi susu dan komposisi asam lemak susu
Tabel 3b Penggunaan lemak hewani dalam ransum terhadap produksi susu komposisi susu dan komposisi asam lemak susu . View in document p.53
Tabel 3b. (lanjutan)
Tabel 3b lanjutan . View in document p.54
Gambar 2.. Roadmap ppenelitian
Gambar 2 Roadmap ppenelitian . View in document p.61
Tabel 4. Data awal sapi yang digunakan dalam percobaan
Tabel 4 Data awal sapi yang digunakan dalam percobaan . View in document p.69
Tabel 5. Komposisi kimia hijauan dan pakan tambahan yang diberikan ke sapi-sapi percobaan (% BK)
Tabel 5 Komposisi kimia hijauan dan pakan tambahan yang diberikan ke sapi sapi percobaan BK . View in document p.69
Tabel 6. Komposisi ransum sapi perlakuan (sapi yang mendapat lemak terproteksi dalam ransumnya) (% BK)
Tabel 6 Komposisi ransum sapi perlakuan sapi yang mendapat lemak terproteksi dalam ransumnya BK . View in document p.69
Tabel 7. Komposisi ransum sapi kontrol (sapi yang tidak  mendapat lemak terproteksi dalam ransumnya) (% BK)
Tabel 7 Komposisi ransum sapi kontrol sapi yang tidak mendapat lemak terproteksi dalam ransumnya BK . View in document p.70
Tabel 9.  Rerata kecernaan in vitro  protein kasar (KcPK) dan protein terdegradasi dari lemak terproteksi dengan formaldehid
Tabel 9 Rerata kecernaan in vitro protein kasar KcPK dan protein terdegradasi dari lemak terproteksi dengan formaldehid . View in document p.77
Gambar 3. Kehilangan bahan kering lemak terproteksi dengan kadar formaldehid yang berbeda (%)
Gambar 3 Kehilangan bahan kering lemak terproteksi dengan kadar formaldehid yang berbeda . View in document p.79
Tabel 10. Nilai a, b, c dan DT dari BK lemak terproteksi dengan kadar formaldehid yang berbeda Kadar formaldehid (%)
Tabel 10 Nilai a b c dan DT dari BK lemak terproteksi dengan kadar formaldehid yang berbeda Kadar formaldehid . View in document p.80
Gambar 4. Rerata nilai pH cairan rumen sapi perlakuan ketika mendapat suplementasi lemak terproteksi (perlakuan)  dan ketika tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi (kontrol)
Gambar 4 Rerata nilai pH cairan rumen sapi perlakuan ketika mendapat suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan ketika tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi kontrol . View in document p.83
Gambar 5. Kinetika kadar NH3 cairan rumen pada sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi (kontrol) (mg/100 ml)
Gambar 5 Kinetika kadar NH3 cairan rumen pada sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi kontrol mg 100 ml . View in document p.85
Gambar 7. Kinetika kadar asam propionat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi  lemak terproteksi (kontrol) (mmol/ml)
Gambar 7 Kinetika kadar asam propionat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi kontrol mmol ml . View in document p.87
Gambar 6. Kinetika kadar asam asetat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi  lemak terproteksi (kontrol) (mmol/ml)
Gambar 6 Kinetika kadar asam asetat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi kontrol mmol ml . View in document p.87
Gambar 8. Kinetika kadar asam butirat sapi saat diberi suplementasi lemak  terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi  lemak terproteksi (kontrol) (mmol/ml)
Gambar 8 Kinetika kadar asam butirat sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi kontrol mmol ml . View in document p.88
Gambar 9. Kinetika total VFA sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan saat tidak diberi suplementasi  lemak terproteksi (kontrol) (mmol/ml)
Gambar 9 Kinetika total VFA sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan saat tidak diberi suplementasi lemak terproteksi kontrol mmol ml . View in document p.89
Tabel 11. Profil asam lemak digesta duodenum pada 1 jam sebelum makan dan 1,3,5 jam setelah makan pada sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi (perlakuan) dan sapi saat tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi (kontrol) (% relatif)
Tabel 11 Profil asam lemak digesta duodenum pada 1 jam sebelum makan dan 1 3 5 jam setelah makan pada sapi saat diberi suplementasi lemak terproteksi perlakuan dan sapi saat tidak mendapat suplementasi lemak terproteksi kontrol relatif . View in document p.90
Tabel 12. Perbedaan kadar asam lemak duodenum (%relatif) antara sapi perlakuan dan kontrol pada jam penggambilan sampel yang berbeda
Tabel 12 Perbedaan kadar asam lemak duodenum relatif antara sapi perlakuan dan kontrol pada jam penggambilan sampel yang berbeda . View in document p.92
Gambar 9 teerlihat bahwaa kandunga
Gambar 9 teerlihat bahwaa kandunga. View in document p.94
Gambar 11.asi lemak teplementasi  lemak terp Profil asamproteksi (pererproteksi (km lemak plasrlakuan/P) daontrol/K) padma darah tean saat sapida 4 jam ses ernak saat mi tidak diberisudah makamendapat sup suplementaan (% relatif))
Gambar 11 asi lemak teplementasi lemak terp Profil asamproteksi pererproteksi km lemak plasrlakuan P daontrol K padma darah tean saat sapida 4 jam ses ernak saat mi tidak diberisudah makamendapat sup suplementaan relatif . View in document p.95
Tabel 13. Rerata konsumsi nutrien sapi perah yang diberi suplemen lemak
Tabel 13 Rerata konsumsi nutrien sapi perah yang diberi suplemen lemak . View in document p.97
Tabel 14. Rerata kecernaan pakan sapi perah yang diberi ransum lemak terproteksi (perlakuan) dan tidak diberi ransum lemak  terproteksi (kontrol) (%)
Tabel 14 Rerata kecernaan pakan sapi perah yang diberi ransum lemak terproteksi perlakuan dan tidak diberi ransum lemak terproteksi kontrol . View in document p.99
Gambar 12yang d2. Profil asamdiberi suplemm lemak plamentasi lema tidak diberi asma darah 1ak terproteksuplementa 1 jam sebelusi (perlakuaasi (kontrol)um makan pn) dan sapi pada  sapi yang
Gambar 12yang d2 Profil asamdiberi suplemm lemak plamentasi lema tidak diberi asma darah 1ak terproteksuplementa 1 jam sebelusi perlakuaasi kontrol um makan pn dan sapi pada sapi yang . View in document p.102
Gambar 13yang dpada  sapi  3. Profil asamdiberi suplemm lemak plamentasi lema tidak diberi asma darah 4ak terproteksuplementa4 jam sesudsi (perlakuaasi (kontrol)ah makan pn) dan sapi yang
Gambar 13yang dpada sapi 3 Profil asamdiberi suplemm lemak plamentasi lema tidak diberi asma darah 4ak terproteksuplementa4 jam sesudsi perlakuaasi kontrol ah makan pn dan sapi yang . View in document p.103
Tabel 15. Produksi dan komposisi susu sapi yang diberi suplemen lemak terproteksi (perlakuan) dan tidak diberi suplemen lemak terproteksi  (kontrol)
Tabel 15 Produksi dan komposisi susu sapi yang diberi suplemen lemak terproteksi perlakuan dan tidak diberi suplemen lemak terproteksi kontrol . View in document p.104

Referensi

Memperbarui...