Implikasi Peristiwa Black September Terh

Teks penuh

(1)

Implikasi Peristiwa Black September

Terhadap Fenomena Islamophobia di Eropa

Rasisme di Eropa sudah mulai terjadi sejak Perang Dunia II yang mana Jerman dikuasai oleh Hitler. Hitler kala itu menyatakan bahwa dirinya adalah ras yang paling mulia dan manusia lain merupakan budak yang harus dilakukan secara sewenang-wenang karena mereka tidak pantas hidup di dunia. Kejadian tersebut menjadi titik ukur bagaimana bangsa Eropa selalu menganggap dirinya paling baik diantara manusia yang lain, dan hal ini terus berulang hingga peradaban modern sekarang.

Istilah rasisme baru pertama kali digunakan sekitar tahun 1930-an, ketika istilah tersebut diperlukan untuk menggambarkan teori-teori rasis yang dipakai orang-orang Nazi dalam melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi. Rasisme adalah ideologi rasis yang dipahami sebagai suatu sistem sosial yang kompleks berdasarkan kesukuan atau rasial yang mengakibatan adanya dominasi dan ketidaksetaraan (Dijk, 1993). Pada dasarnya, rasisme adalah pandangan hidup yang mempunyai anggapan bahwa satu kelompok menganggap kelompok tertentu tidak sederajat atau belum sederajat dan bahkan belum berderajat manusia. Celah perbedaan dan keragaman itu, ternyata ditafsirkan secara salah. Maka tidak dapat dihindari, jika dalam catatan sejarah muncul penilaian terhadap manusia yang berkulit hitam dengan cap sebagai manusia yang bodoh, kurang beradab dan terbalakang. Hal ini tentu saja berkaitan dengan teori Darwin tentang peradaban manusia yang merupakan keturunan dari monyet. Dalam buku Racism: A Short History karya George M. Fredrickson, menyadari betul bahwa rasisme bukan sekadar suatu sikap atau sekumpulan kepercayaan yang terpatri dalam masyarakat. Rasisme mengungkapkan diri pada praktik-praktik, lembaga, dan struktur yang dibenarkan dan diakui oleh suatu perasaan berbeda yang mendalam. Lebih jauh rasisme bisa membentuk suatu tatanan rasial, tidak sekadar berkubang dalam teori tentang perbedaan manusia1.

Tindakan rasis tidak hanya berlaku bagi orang berkulit hitam saja, sebab kini telah meluas dengan banyak ditemukannya kasus rasis terhadap orang Muslim di Eropa. Rasisme terhadap Muslim sendiri merupakan tindakan yang mencerminkan ketidaksukaan mereka terhadap orang Muslim yang dianggap sebagai sumber teror dan rasa takut setelah tragedi 11

1

(2)

September lalu di Amerika. Masyarakat mulai sentimen dan melakukan tindakan yang sewenang-wenang terhadap penduduk Muslim di Eropa sebagai bentuk pembalasan dan pembelaan diri mereka dari rasa takut yang sudah diciptakan oleh kejadian tersebut.

Islamophobia di kalangan masyarakat Eropa semakin meningkat dan menimbulkan keresahan. Pasalnya masyarakat kini membentuk aliansi anti Muslim dan menolak adanya imigrasi terutama dari kaum Muslim. Tindakan ini kembali muncul setelah hilang sejak tahun 1995, di mana Eropa diwarnai dengan gerakan anti imigran, fasisme, rasialisme, dan anti asing kalangan muda2.

Sebelumnya, Komisi Eropa untuk Rasisme dan Intoleransi (ECRI) pada Juli 2010 telah mengumumkan Laporan ECRI Januari-Desember 2009 yang memperlihat memperlihatkan tren utama di bidang rasisme, diskriminasi rasial, xenophobia, anti-Semitisme dan intoleransi di Eropa. Salah satu temuan utama ECRI menggaris bawahi bahwa kaum muslim adalah korban terbesar dari diskriminasi pekerjaan, penegakan hukum, perencanaan kota, imigrasi, dan pendidikan, serta pembatasan hukum tertentu yang diberlakukan baru-baru ini3.

Meningkatnya sentimen anti Islam (Islamophobia) di Eropa semakin mengkhawatirkan banyak pihak. Gejala ini tampak dari kemenangan bebarapa partai ultranasionalis yang dikenal anti imigran dan anti Islam di berbagai kawasan Eropa. Dalam berbagai pemilu di negara Eropa, partai-partai ekstrim itu perlahan mendapatkan banyak suara. Setelah Geert Wilders sukses meraih banyak kursi di parlemen Belanda, kini giliran Partai Demokrat Swedia yang mengikutinya. Dalam pemilu yang dihelat Ahad (19/9) waktu setempat, partai yang dipimpin Jimmie Akesson, itu berhasil meraih 20 kursi di parlemen Swedia. Itu merupakan kali pertama partai yang memiliki sikap Islamphobia itu masuk ke parlemen. Bahkan, demi mengangkat status untuk mendapatkan legitimasi parlemen, Demokrat Swedia akan bergabung dengan sesama partai ultra kanan di seluruh Eropa, dari Denmark, Norwegia, dan Belanda, sampai Prancis, Belgia dan Austria. Mengikuti jejak mereka, partai Demokrat Swedia sedang belajar untuk memperluas basis dukungannya keluar konstituen inti mereka yaitu kelompok neo Nazi garis keras dan kaum muda rasialis 'skinhead.' Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan Negara Eropa yang menyudutkan umat Islam seperti larangan jilbab dan Burga di Prancis, larangan pembangunan menara masjid4.

2

Sumber : Bahan Kuliah Kajian Uni Eropa

(3)

Dikutip dari harian online yang menyoroti dan fokus pada kajian Islamophobia mengatakan bahwa :

Menguatnya Islamophobia tampak saat Presiden Jerman Christian Wulf mengatakan (dalam peringatan ke-20 unifikasi Jerman ) bahwa Islam telah menjadi bagian dari Jerman. Ucapan itu tidak menyenangkan sebagian politisi yang membantah pernyataan presiden dengan mengatakan bahwa, “Jika presiden ingin menyamakan Islam di Jerman dengan agama Masehi dan Yahudi, maka itu adalah salah”. Atas dasar itu kanselir Jerman Angela Merkel membela pernyataan presiden dengan menempatkannya pada konteknya yang tepat. Kanselir tidak lupa menegaskan sikapnya dengan ungkapan lain yang menegaskan bahwa kedaulatan di Jerman berada di tangan konstitusi bukan di tangan syariah. Menyoroti hal ini Syakir 'Ashim, Perwakilan media Hizbut Tahrir di Jerman menggugat klaim pluralism Eropa dengan mengajukan beberapa pernyataan retoris5.

Tidak hanya itu, gerakan-gerakan anti Islam kemudian banyak muncul di Eropa sebagai bentuk protes atas Islamisasi dan keberadaan orang Muslim di Eropa. Dikutip dari berita online BBC mengatakan bahwa :

Kelompok ultra kanan Eropa dijadwalkan akan menggelar aksi di Denmark bertujuan untuk mendirikan apa yang mereka istilahkan sebagai aliansi anti-Islam di seluruh Eropa. Demonstrasi ini diselenggarakan oleh Liga Pertahanan Inggris, EDL yang mengatakan ingin menghambat ''Islamisasi Eropa''. EDL mengharapkan aksi ini akan menjadi permulaan dari sebuah gerakan yang meluas di Eropa. Aksi ini mendapat tentangan dari sejumlah pihak. Pegiat anti rasisme mengkhawatirkan kelompok geras Islamfobia di Eropa akan bergabung dengan gerakan tersebut. Kelompok utama aksi ini EDL selama ini memang dikenal sebagai kelompok yang ingin menghentikan migrasi kamum Musim ke Eropa, karena dianggap sebagai ancaman yang bisa membawa konflik di kawasan. Mereka mengharapkan aksi demo Sabtu (31/03/12) ini akan menciptakan gerakan yang menyebar di seluruh Eropa secara bersamaan. Ketua EDL Stephen Lennon mengatakan ratusan orang akan ikut dalam aksi ini. "Kami tidak mengharapkan banyak orang ikut di Aarhus," katanya. ''Kami mengharapkan ini akan menjadi awal bagi gerakan Eropa yang akan terus bertambah.''

Meskipun tidak diketahui secara pasti apakah aksi ini akan berhasil atau tidak untuk mengumpulkan massa yang lebih besar tapi pegiat anti rasisme mengkhawatirkan retorika anti Islam digunakan untuk meningkatkan ketegangan di kota-kota Eropa dan mendorong ekstrimis dari kedua belah pihak. Matthew Goodwin seorang pengamat kelompok kanan-jauh dari

(4)

Universitas Nottingham mengatakan gerakan ini tetap signifikan meski hanya dihadiri sedikit orang. "Apa yang kita lihat disini untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Inggris adalah sebuah organisasi anti Muslim memimpin untuk mencoba memobilisasi kelompok anti Islam Eropa,'' katanya6.

Di sisi lain, rasisme kerap terjadi melalui intimidasi yang dilakukan oleh anak-anak muda yang anti imigran. Bahkan banyak tulisan di gedung-gedung kota yang berbunyi “Tourists are terrorists”. Kelompok minoritas anti-imigran dan pendatang ini terus berkampanye menolak orang asing masuk ke Eropa. Bahkan, mereka sering mengganggu para turis yang datang. Tidak hanya turis Asia, tetapi juga dari benua lain. Anggota kelompok anti-pendatang ini kebanyakan anak-anak muda, yang sekarang ini tidak lagi berpenampilan urakan. Mereka rapih dan bersih, tidak melulu anak-anak underground. Di beberapa kota di Inggris, aktivitas rasisme cukup tinggi. Di London, beberapa kasus penyerangan terhadap turis kerap terjadi. Begitu juga di kota-kota lain seperti di Manchester, Liverpool, dan Newcastle. Keributan pun sering terjadi. Tapi bisa diselesaikan dengan baik tanpa ada kekerasan. Para remaja itu dikomplain oleh sejumlah warga Inggris lain atas ketidaksopanan mereka terhadap orang-orang Timur Tengah itu. Begitu juga di beberapa kota di Jerman seperti Frankfurt. Aksi-aksi rasialisme kerap terjadi terhadap turis yang datang. Di Jerman kebanyakan dilakukan anak-anak underground yang secara terang-terangan menyatakan kebencian terhadap orang asing. Mereka seringkali berani melakukan penyerangan meski turis-turis itu berada di tengah keramaian. Ada sejumlah kasus para turis diserang di tengah keramaian, meski tidak ada aksi pengambilan barang atau pencurian. Di Paris, kasus pelecehan terhadap turis wanita berjilbab kerap terjadi. Begitu juga intimidasi atas turis-turis Asia lainnya, termasuk dari Cina7.

Orang muslim di Eropa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Eropa itu sendiri. Namun seiring dengan terjadinya tragedi Black September muslim sianggap sebagai kaum minoritas yang harus diintimidasi dan diusir dari Eropa. Sebagian besar masyarakat mengaku mulai merasa takut dan terancam dengan hadirnya muslim serta Islamisasi yang terjadi di Eropa. Sehingga banyak muncul gerakan-gerakan anti Islam, anti imigran hingga tindakan rasis dan kekerasan yang dilakukan kepada penduduk bahkan pendatang Muslim ke Eropa. Mereka

6

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/03/120331_antiislamrally.shtml (Diakses 25 Juni 2013)

(5)

terorganisir dan membentuk aliansi atau kelompok-kelompok massa serta mencari dukungan masyarakat lain melalui aksi protes dan gelaran demo anti Islam yang sering dilakukan secara berkala. Tidak hanya itu saja, banyak dari rumah ibadah yang dirusak dan dihancurkan sebagai salah satu upaya masyarakat Eropa menghambat Islamisasi dan mengusir penduduk Muslim dari Eropa.

Dikutip dari harian online Pelita, mengatakan bahwa:

Kasus rasisme yang terus bergulir di negara-negara Eropa akhirnya membuat geram komisaris HAM Eropa, Nils Muiznieks. “Sudah banyak korban akibat penindasan hak oleh para rasis di Eropa. Rumah ibadah dirusak, orang dengan simbol agama dilecehkan, ini benar-benar sudah tidak bisa ditolerir,” jelasnya dilansir dari Süddeutschen Zeitung. Tampaknya kepolisian pun telah kewalahan menangani kasus rasisme yang terjadi. Gelagat ini telah ditangkap Muiznieks. Muiznieks akhirnya memerintahkan instansi yang berwenang di setiap Negara yang tergabung di Uni Eropa untuk berkonsekuensi menjamin keamanan dari serangan rasis kelompok NSU. Semenjak pembunuhan Breivik-Massaker di Norwegia yang diduga dilakukan oleh kelompok NSU, sekarang polisi dan Dewan Keamanan Uni Eropa telah bersungguh-sungguh melakukan pemeriksaan dokumen kasus ini. Tidak hanya gerak-gerik kelompok NSU yang diawasi dengan ketat, Neo Nazi yang beroperasi di Berlin pun merupakan target operasi kepolisian dan keamanan Eropa8.

Diketahui lebih lanjut bahwa Islamophobia kini menjadi salah satu ideologi masyarakat Eropa yang membentuk satu masyakat populis baru. Masyarakat membentuk serikat dan kelompoknya sendiri sebagai respon atas anti Islam yang bertujuan untuk menghilangkan Islam dari Eropa karena dianggap sebagai ancaman keamanan baik untuk individu maupun untuk kelompok. Dewan keamanan dan komisi Eropa berusaha untuk menangani kasus-kasus diskriminasi dan kekerasan yang timbul sebagai akibat dari Islamophobia yang berlebihan di kalangan masyarakat ini. Sebab tindakan masyarakat yang diskriminatif tersebut tentu saja terdapat pelanggaran hak asasi manusia dan menjadi isu penting di tengah isu krisis yang sedang melanda Eropa.

Meskipun demikian, masih banyak kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Islamophobia menjadi momok yang menakutkan bagi Eropa. Banyak dibentuk kelompok-kelompok massa terutama anak muda yang mendukung anti diskriminasi dan anti kekerasan

8

(6)

yang sering dilakukan terhadap pendatang maupun masyarakat Muslim Eropa. Bahkan mereka menggelar aksi damai dan mengumpulkan banyak dukungan untuk mendapatkan simpati Eropa terhadap kasus yang sedang terjadi dan membuat masyarakat khawatir. Dikutip dari website resmi, yang mengatakan bahwa :

Jika Eropa menginginkan damai dan persatuan, dia tidak boleh melupakan kengerian yang disebabkan oleh diskriminasi rasial, anti-semit, dan anti-gipsi: holocaust. Sebagai tanda akan kenangan ini, yang mengungkapkan keinginan untuk berkontribusi bagi Eropa yang beragam, tempat yang memungkinkan untuk masing-masing hidup berdampingan, kaum muda dari 5 negara Eropa yang baru saja mengunjungi Auschwitz bersama Komunitas Sant'Egidio. Setelah peziarahan ke kamp konsentrasi dan pertemuan dengan saksi-saksi dan mereka yang bertahan hidup (lihat program di bawah), mereka telah mengeluarkan seruan, sebuah ungkapan dari komitmen mereka untuk "menyisihkan semua bentuk rasisme, diskriminasi, dan penghinaan terhadap manusia dan terhadap kehidupan dan secara aktif berkontribusi kepada Eropa tempat semua bisa hidup bersama: dalam satu dunia tanpa rasisme".

Setiap kali orang asing menderita karena kekerasan di kota kami, setiap orang menemui penghinaan dikarenakan asal-usul, agama atau karena berbeda, satu jalan kebencian dan kekerasan disiapkan di dalam hati tiap-tiap orang. Oleh sebab itu kami ingin bersaksi bahwa kami semua telah melihat dan mendengar perihal hari-hari ini dan kami menginginkan rekan-rekan kami dan generasi sesudah kami mengenai pentingnya mengesampingkan bentuk-bentuk rasisme, diskriminasi atau pun penghinaan terhadap manusia dan kehidupan. Kami berhenti dan meletakkan karangan bunga di tempat simbolis ini, tempat banyak perjalanan hidup berakhir dengan tiba-tiba. Kami berjalan melewati jalur-jalur yang menjadi perjalanan akhir mereka untuk menghormati para korban butanya kekerasan, dan dicabut martabat bahkan hidupnya sebagai manusia. Kami yakin mengenai nilai absolut kehidupan dan pengampunan di atas balas dendam. Kami ingin mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Oleh sebab itu kami ingin berkontribusi secara aktif untuk satu Eropa tempat setiap orang bisa hidup bersama: Satu dunia tanpa rasisme. Satu dunia tanpa rasisme!9.

Islamophobia memang menjadi momok yang mengerikan di Eropa di tengah krisis ekonomi yang sedang dihadapinya. Eropa meskipun demikian tetap berusaha untuk terus meminimalisir Islamophobia di kalangan masyarakat untuk menghindari bentrokan dan konflik yang terjadi di antara masyarakat itu sendiri begitupun dengan kaum pendatang.

Kaum muda Eropa menjadi aktor utama dalam tindakan dan gerakan anti Muslim dan anti imigran tersebut. Keinginan mereka untuk mengusir Islam dan Muslim dari Eropa begitu

9

Sumber :

(7)

besar hingga mereka mampu melakukan tindakan diskriminatif dan kekerasan yang cukup parah sebagai bentuk respon terancamnya individu bahkan negara dari tindakan Muslim seperti yang tergambar jelas dari tragedi 9 September 2001 di Amerika yang merupakan serangan teroris Islam terhadap bangunan penting bagi pemerintahan.

Black September tentu saja berpengaruh banyak terhadap Islamophobia serta tindakan anti imigran di Eropa yang sempat hilang sekitar tahun 1995. Masyarakat Eropa kembali melakukan tindakan rasisme untuk menghambat perkembangan Islam dan juga keberadaan kaum Muslim yang setiap tahunnya semakin bertambah. Masyarakat Eropa semakin diselimuti ketakutan akan terjadinya tragedi yang sama di Eropa. Sesuai dengan hipotesis yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa Peristiwa Black September berimplikasi pada semakin tingginya tingkat Islamophobia di Eropa. Masyarakat Eropa semakin diselimuti ketakutan dan merasa terancam dengan kejadian yang dianggap sebagai teror Muslim Al Qaeda yang dipimpin oleh Sadam Husein.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :