Teks penuh

(1)
(2)

Judul asli :

FUSHUL FI SHIYAM

Penulis:

Syaikh M uhammad bin Shalih Al-Utsaimin

t

Edisi Indonesia:

Penerjemah:

Team I’dad Du’at Ponpes Al-Ukhuwah

Editor:

Ust adz Abu Sulaim an Aris Sugiant oro

Pener bit :

PUSTAKA AL-M INHAJ

Alamat : Ponpes Al-Ukhuwah

Joho, Sukoharjo, Solo - Jawa Tengah 57513

Cp. 085293155252

(3)

3

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 3

MUKADIMAH ... 5

PA SA L PERTA M A : H UKUM PUA SA ... 7

PA SA L KEDUA : H IKMA H DAN FA IDA H

PUASA ... 12

PA SA L KETIGA : H UKUM BERPUA SA BA GI

ORA N G SA KIT DA N MUSA FIR ... 17

PA SA L KEEM PAT :PEM BATA L-PEMBATA L

PUASA ... 26

PA SA L KELIM A : SH A LAT TA RAWIH ... 33

PA SA L KEEN A M : ZA KAT DA N FA EDA H

-FA EDAH N YA ... 38

PA SA L KETUJUH : PEN ERIM A ZA KAT ... 51

PA SA L KEDELA PA N : ZA KAT FITRA H ... 57

(4)
(5)

5

MUKADIMAH

egala puji hanya milik A llah Ta’ala, kami memuji, memohon pertolongan, memohon ampunan, dan bertaubat hanya kepada-N ya semata. Kami berlindung kepada A llah Ta’ala dari kejelekan jiw a-jiw a dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang A llah Ta’ala beri petunjuk, maka sekali-kali tidak ada yang mampu menye-satk anny a, d an barangsi apa y ang A l l ah Ta’ al a sesatkan maka sekali-kali tidak ada yang mampu memberikan hidayah kepadanya. Dan aku bersaksi bahwa N abi M uhammad adalah hamba dan utusan-N ya. Shalaw at dan salam semoga tercurah kepada N abi M uhammad, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa mengikutinya dalam kebaikan. A mma ba’du:

Seiring dengan akan tibanya bulan suci Ramadhan yang penuh barakah, maka kami akan menyajikan k epad a sau d ar a-saud ar a k ami k aum m usl imi n beberapa hal penting yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar

S

(6)

menjadikan amalan kami ikhlas karena-N ya, sesuai dengan syari‘at-N ya, bermanfaat bagi makhluk-N ya. Sesungguhny a A l lah Ta’ala M aha Dermaw an lagi M aha mulia. Beberapa hal tersebut adalah:

Pasal pertama : H ukum puasa.

Pasal kedua : H ikmah dan faidah puasa. Pasal ketiga : H ukum berpuasa bagi orang sakit dan musafir.

Pasal keempat : Hal-hal yang merusak ibadah puasa.

Pasal kelima : Shalat Taraw ih.

Pasal keenam : Zakat dan faidah-faidahnya. Pasal ketujuh : Golongan yang berhak me nerima zakat.

(7)

7

PASAL PERTAMA :

HUKUM PUASA

uasa Ramadhan adalah kew ajiban yang telah ditetapkan dalam Kitabullah yaitu A l-Qur‘an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi w a sallam serta ijma‘(kesepakatan) kaum muslimin.

A llah Ta’ala berfirman:

P

(8)
(9)

9 ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya di t u r u n kan (per mu l aan ) A l -Q u r ’ an sebagai petunjuk bagi manusi a dan penjelasan-penjel asan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bu l an i t u, dan bar an gsi apa saki t at au dal am perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi mu, dan t i dak men ghendaki kesu kar an bagi mu . D an hen dakl ah kamu mengagungkan Allah Ta’ala atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. A l -Baqarah: 183-185).

N abi M uhammad shallallahu ‘alaihi w a sallam telah bersabda:

“ Agama Islam dibangun di atas lima hal; Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Ta’ala dan bahwa M uhammad adalah utusan Allah

(10)

Ta’ al a, menegakkan shal at , menunai kan zakat , berhaji ke Baitull ah, dan berpuasa Ramadhan.” ( M uttaf aqun `al ai h ). Sedangkan riwayat M uslim berbunyi ; “ berpuasa Ramadhan dan berhaj i ke Baitullah.”

A dapun kaum muslimin telah sepakat tentang hukum w ajibnya berpuasa pada bulan Ramadhan. M aka barangsiapa yang mengingkari akan kew ajiban puasa bulan Ramadhan, maka dia murtad dan kafir. L al u ia d iminta untuk bertaubat, mak a jik a di a ber taubat dan m enetapk an kew ajiban berpuasa Ramadhan, maka taubatnya diterima. Dan jika tidak bertaubat maka dia diperangi dalam keadaan kafir.

Kew ajiban berpuasa Ramadhan dimulai pada tahun kedua H ijriyah, sehingga N abi M uhammad shallallahu ‘alaihi w a sallam berpu asa sebanyak sembilan kali di bulan Ramadhan. Dan puasa itu hukumny a w ajib bagi setiap muslim, baligh dan berakal.

(11)

11

tahun, atau d engan tumbuhny a bulu di sek itar kemaluan, atau dengan keluarnya air mani akibat mimpi basah atau yang sejenisnya. Sedangkan bagi w anita ditambahkan dengan keluarnya darah haidh. M aka jika seorang anak menjumpai salah satu dari ciri-ciri tersebut pada dirinya, maka dia dihukumi sebagai anak yang telah baligh. A kan tetapi anak kecil boleh diperintah untuk berpuasa, jika ia mampu dan tidak memadharatkan dirinya, supaya dia terbiasa dan menjadikan mudah baginya untuk berpuasa. Dan tidak w ajib berpuasa bagi orang yang hilang akalnya disebabkan gila, atau kurang normal otaknya atau yang sejenisnya. Maka karena itu, apabila ada seorang tua, lalu dia pikun dan tidak mampu membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk, maka tidak ada k ew ajiban ber puasa dan m em ber i m ak an (faki r miskin) atas dirinya.

(12)

PASAL KEDUA :

HIKMAH DAN FAIDAH PUASA

i antara nama-nama A llah Ta’ala adalah A l-Hakim. Dan dzat yanghakimitu disifati dengan sifat hikmah. Sedangkan hikmah itu adalah bersikap bijaksana dalam urusan dan menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Dan konsekuensi dari salah satu nama diantara nama-nama A llah Ta’ala ini adalah bahw a semua apa yang Dia ciptakan dan Dia syariatkan itu untuk hikmah yang agung, hal ini akan diketahui oleh orang yang mengetahuinya sedangkan orang yang jahil maka dia tidak mengetahuinya.

A d apun puasa y ang telah A llah Ta’ala tel ah syariatkan dan w ajibkan kepada hamba-N y a itu mempunyai hikmah yang agung dan mempunyai faidah yang melimpah ruah. Di antara hikmah puasa adalah:

- Puasa merupakan ibadah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri k epada Rabbnya, dengan meninggalkan hal-hal yang dia sukai seperti makan, minum, dan hubungan badan. Supaya

(13)

13

dengan amalan ini ia bisa menggapai keridhaan dari Rabbnya dan mendapatkan kemenangan di negeri kemuliaan-Nya. Maka dari itu akan menjadi jelas bagi seseorang yang mengutamakan kecintaannya kepada rabbnya daripada kecintaan terhadap dirinya sendiri, dan lebih mengutamakan negeri akhirat daripada kehidupan dunia.

- Puasa merupakan sebab untuk meraih ketaq-w aan, jika seseorang melaksanakan karena meyakini w ajibnya hukum berpuasa tersebut. A llah Ta’ala berfirman:

“ H ai orang-orang yang beri man, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. A l -Baqarah: 183)

M aka orang yang berpuasa itu diperintahkan agar bertaqw a kepada A llah Ta’ala, yaitu dengan menja-lankan puasa semata-mata ikhlas karena-N ya dan menjauhi larangan-N ya. Dan ini merupakan tujuan terbesar dari ibadah puasa. Dan bukanlah tujuan puasa itu untuk menyiksa orang yang berpuasa

(14)

d en gan m en i n ggal k an m ak an , m i n u m , d an berhubungan badan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan palsu, serta kebodohan, maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya meski ia meninggalkan makan dan minum.” (H R Buk hari )

Ucapan palsu adalah setiap ucapan yang diharam-kan, di antaranya seperti berdusta, ghibah, mencela, dan yang lainnya dari jenis ucapan-ucapan yang diharamk an. Sedangkan perbuatan palsu adalah melak ukan perbuatan yang di haramkan, seperti m em u suhi manusi a d engan ber si k ap k hi anat , mencela, memukul badan, mengambil harta dan lain sebagainya. Dan masuk dalam kategori ini adalah mendengarkan sesuatu yang diharamkan, seperti mendengarkan nyanyian-nyanyian danma’azif yang diharamkan.Al-ma’azif yaitu semua alat yang sia-sia. Dan arti kebodohan adalah ketololan, yaitu tidak lurus dalam ucapan dan perbuatan.

(15)

15

sesuai dengan konsekuensi dari ayat dan hadits ini, niscaya puasanya menjadi mediator untuk men tar-biyah diri pribadi dan mendidik akhlaknya, dan agar istiqamah dalam menempuhnya. Dan tidaklah dia keluar dari bulan Ramadhan itu melainkan dalam keadaan benar-benar mendapatkan dampak (penga-ruh) yang dalam (dari puasanya), dimana pengaruh ini nampak pada diri, akhlak dan kehidupannya.

Termasuk dari hik mah berpuasa adal ah:

1. Orang yang kaya mengetahui kadar kenikmatan yang telah A llah Ta’ala berikan kepadanya dalam bentuk kekay aan, yang m ana A l lah Ta’ ala telah memudahkan baginya untuk mendapatkan hal yang ia inginkan dari makanan, minuman, berhubungan badan yang telah A llah Ta’ala perbolehkan menurut ti mbangan sy ar ’ i , d an A l lah Ta’ al a ju ga tel ah memberikan kemudahan berupa kemampuan untuk mendapatkannya. Oleh sebab itulah ia bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat-nikmat ini. Dia akan selalu mengingat-ingat saudaranya yang fakir yang tidak mulus jalan yang ia tempuh untuk mendapat yang seperti itu. M aka ia akan mew ujudkan rasa syukurnya tersebut dengan cara bershadaqah dan berbuat kebaikan.

(16)

2. M elatih untuk mengekang haw a nafsu dan mengendalikannya, hingga ia mampu menyetirnya dan mengerahkannya kep ada hal-hal yang akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan baginya, baik di dunia maupun akhirat. Berpuasa juga akan menjauhkan dirinya dari menjadi sifat manusia yang berperingai seperti binatang yang tidak mampu mengekang diri dalam menuruti kelezatan syahw at, padahal dalam perbuatan ini mengandung kemasla-hatan bagi dirinya.

(17)

17

PASAL KETIGA:

HUKUM BERPUASA BAGI

ORANG SAKIT DAN MUSAFIR

A llah Ta’ala berfirman:

“ …dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu i a berbuka), maka (waj iblah baginya ber puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. D an hendaklah kamu mengagungkan A llah atas petunj uk-N ya yang diberikan kepadamu, supaya

(18)
(19)

19

K el ompok K edua: Orang yang sakitnya tidak terus-menerus dan bisa diharapkan untuk sembuh, seperti sakit demam dan sebagainya. Kelompok ini mempunyai tiga keadaan:

Keadaan pertama: Tidak memberatkannya jika berpuasa dan tidak membahayakannya. M aka, tetap wajib baginya untuk berpuasa karena tidak ada udzur baginya.

Keadaan kedua: M emberatkanny a jika ber-puasa namun ti d ak membahay ak anny a. M ak a, hukumnya makruh jika ia melaksanakan puasa karena dengan demikian ia telah meninggalkan rukhshah (keringanan) dari A llah Ta’ala dan memberatkan diri sendiri.

Keadaan ketiga: M embahayakan dirinya jika ia melaksanakan puasa. Maka, haram hukumnya jika ia melaksanakan puasa, karena hal itu akan menim-bulkan kecelakaan bagi dirinya sendiri. A llah Ta’ala telah berfirman:

“ D an j anganl ah kal i an membunu h di r i kal i an sendiri, sesungguhnya Allah M aha Pemurah kepada kali an.”

(20)

Dan A llah Ta’ala berfirman:

“ D an janganlah kalian melempar kan dir i kalian sendiri ke dalam kebinasaan.”

Dan di dalam sebuah hadits, N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

“ Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

(21)

21

hari-hari yang lain sedangkan ia tidak mendapatkan hari-hari tersebut.

A dapun musafir terdiri atas dua kelompok: K el ompok Pertama: Orang yang melakukan safar (perjalanan jauh) dengan tujuan supaya terlepas dari kewajiban melaksanakan puasa. M aka orang tersebut tidak diperbolehkan meninggalkan puasa, karena telah melakukan tipu daya untuk menghindar dari k ew aji ban. H al ter sebut ti dak l ah meny ebabk an kew ajiban tersebut gugur.

K el ompok k edua: Orang yang melakukan safar bukan karena tujuan di atas. Kelompok ini mempu-nyai tiga keadaan:

K eadaan per tama: Puasa tersebut sangat memberatkan orang yang safar. Maka dalam keadaan ini haram hukumnya untuk melaksanakan puasa. Hal ini dikarenakan ketika N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam dalam perang Fathu M akkah dalam keadaan berpuasa, datanglah berita bahw a para manusia merasa berat dalam berpuasa dan mereka menunggu apa yang akan N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam kerjakan. Lalu beliau meminta dibawakan satu wadah ber i si ai r. Set el ah w ak t u ash ar m emi num ny a, sedangkan saat itu par a sahabat m elihat beliau. Kemudian dikatakan kepada beliau: “ Sesungguhnya

(22)

sebagi an manusi a tetap ber puasa.” Lal u beli au bersabda:

“ M er eka adal ah or ang-or ang yang ber maksi at , mereka itu adalah orang-orang yang bermaksi at.”

(H R. M usl i m)

Keadaan kedua: Puasa tersebut memberatkan orang yang safar namun tidak sampai pada keberatan y ang sangat. M ak a, hu k u m ny a m ak ru h jik a ia melaksanakan puasa, karena dengan melaksanakan puasa berar ti i a tel ah m eni nggal k an r uk hshah (keringanan dari A llah Ta’ala) dan memberatkan diri sendiri.

Keadaan ketiga: Puasa tersebut tidak membe-r atkanny a. M ak a, d al am k ead aan sepemembe-r ti ini ia memilih yang paling ringan baginya, boleh baginya unt uk ber puasa bol eh juga ti dak . A l l ah Ta’ al a berfirman:

“ A llah menghendaki kemudahan atas kalian dan tidak menghendaki kesukaran atas kalian.”

(23)

23

berpuasa dengan tidak berpuasa sama-sama tidak memberatkan, maka melaksanakan puasa adalah lebih utama karena demikianlah yang dilaksanakan N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dari A bu Darda’, ia berkata:

“ Kami keluar bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan ketika hari sangat panas, hingga salah seorang dar i kami mel etakkan tangannya di atas kepalanya dikarenakan panas yang sangat. Dan tidak ada di antara kami yang berpuasa ketika itu kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.”

Seseorang dikatakan dalam keadaan safar (beper-gian) sejak ia keluar dari daerahnya sampai ia kembali ke daerah asalnya tersebut. M eskipun ia tinggal di tempat tujuan safarnya beberapa w aktu lamanya, ia tetap dinamakan musafir selama ia meniatkan untuk t i dak ber m u k i m d i t em p at i tu setel ah sel esai

(24)

u r u sanny a. Ol eh k ar ena i t u , i a m end ap at k an r uk hshah (k er i nganan) bagi or ang y ang safar meskipun dalam w aktu yang lama. H al ini dika-renakan tidak ada keterangan dari N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam tentang batas w aktu tertentu selesainya safar. M ak a pada asalnya adalah tetap dalam kondisi safar dan diiringi dengan huk um-hukum yang berkaitan dengannya sampai datang d al il y ang m enu nju k k an sel esai ny a saf ar d an d it i ad ak an n y a hu k um -hu k u m y an g ber k ai tan dengannya.

(25)

25

adalah lebih utama jika hal itu lebih memudahkan, kemudian mereka mengqadha’ puasa yang ditinggal-k an ter sebu t p ada mu sim dingin. K arena, p ar a pengemudi kendaraan tersebut mempunyai daerah tempat mereka berasal. Oleh karena itu, kapan saja berada di negeri asalnya, mereka adalah orang-orang mukim, mereka mendapatkan hak orang-orang yang mukim dan mendapatkan kew ajiban bagi orang-or-ang yorang-or-ang mu kim. Dan kapan saja mereka safar, mereka mendapatkan hak bagi orang yang safar dan mendapatkan kew ajiban bagi orang yang safar.

(26)

PASAL KEEMPAT :

PEMBATAL- PEMBATAL PUASA

Pembatal -pembatal puasa ada tujuh hal : 1. Jima’ (Berhubungan suami isteri)

(27)

27

2. M engeluarkan air mani karena bercumbu, mencium, atau memeluk. A dapun jika mencium dan tidak keluar air mani maka tidak mengapa.

3. M ak an d an mi num . Yai tu, memasu k k an mak anan atau minum an ke kerongkongan, baik m el al u i m u l u t at au m el al u i hid u ng, d ari jeni s makanan atau minuman apa saja. Dan tidak diperbo-lehkan bagi orang yang berpuasa menghirup asap dupa sampai masuk ke dalam kerongkongannya, karena asap adalah suatu materi. A dapun mencium bau wew angian maka tidak mengapa.

4. Segala sesuatu yang semakna dengan makan dan minum, misalnya suntikan yang mengandung nutrisi makanan sehingga mencukupi dari kebutuhan makan dan minum. A dapun suntikan yang tidak mengandung nutrisi makanan maka tidak mem-batalkan puasa, sama saja apakah suntikan tersebut melalui otot ataupun pembuluh darah.

5. M engeluarkan darah dengan hijamah (berbe-kam). Dikiaskan dalam hal ini adalah melakukan do-nor (menyumbangkan) darah, dan semisalnya yang m em ber i k an p engar u h k ep ad a bad an sep er t i pengaruh berbekam. A dapun mengeluarkan sedikit darah untuk tes darah dan semisalnya, maka tidak membatalkan puasa karena yang demikian ini tidak menyebabkan lemahnya badan seperti pengaruh yang

(28)

diakibatkan oleh hijamah.

6. M untah dengan sengaja. Yaitu, mengeluarkan isi lambung berupa makanan atau minuman.

7. Keluarnya darah haid atau nifas.

Pembatal-pembatal puasa tersebut di atas tidaklah menyebabkan batalnya puasa kecuali dengan tiga syarat:

M engetahui hukum dan waktu. Dikerjakan dalam keadaan ingat. Dikerjakan tanpa keterpaksaan.

Oleh karena itu, jika seseorang berbekam sedang-kan ia menyangka bahw a berbekam tersebut tidak membatalkan puasa maka puasanya tetap sah, karena i a menger jak anny a d al am k ead aan jahi l (tid ak mengetahui). A llah Ta’ala berfirman:

(29)

29

Dan A llah Ta’ala berfirman:

“ Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”

M aka A llah Ta’ala berfirman:

“ Aku telah melakukannya.”

Dalam hadits riw ayat Bukhari dan M uslim, dari A di bin H atim bahw asanya ia meletakkan dua utas benang ber w ar na hi t am d an p u t i h d i baw ah bantalnya, lalu ia makan sembari melihat pada kedua benang tersebut. Setelah jelas perbedaan antara kedua benag tersebut, maka ia menghentikan makannya. Ia melakukannya karena meny angka bahw a inilah makna firman A llah Ta’ala;

“ Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.”

Kemudian ia mengkhabarkan apa yang ia kerjakan tersebut kepada N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam , lalu beliau bersabda kepadanya:

(30)

“ Sesu nggu hny a y ang d i m ak su d k an ad al ah putihnya siang dan gelapnya malam.”

Dan N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi puasanya.

Demik ian pul a, jik a seseorang makan k arena meny angk a f ajar bel um ter bi t atau meny angk a m atahar i t el ah t enggel am , k em u d ian ter ny ata sangkaannya tersebut keliru maka puasanya tetap sah, karena ia tidak mengetahui w aktu. Disebutkan dalamShahih Bukhari, dari A sma’ binti A bu Bakar, ia berkata: “(Suatu ketika) pada masa N abi shall all ahu ‘alaihi wa sallam , ketika keadaan langit mendung kami berbuka puasa, kemudian terlihatlah matahari.”

(31)

31

tidak mungkin ada kelalaian dalam hal ini.

Demikian pula, jika seseorang makan dikarenakan lupa maka puasanya tidaklah batal. Berdasarkan sabda N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam :

“ Barangsiapa yang berpuasa lalu makan atau m i nu m k ar ena l u p a, m ak a hend ak l ah i a menyempurnakan puasanya, sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh A llah Ta’ala.” (M uttaf aqun ‘A l ai h)

Dan jika seseorang dipaksa untuk makan, atau ketika berkumur-kumur kemudi an masuk ai r ke per utn y a, atau menetesk an obat tetes m ata k e matanya lalu tetesan tersebut dirasakan di kerong-kongannya, atau bermimpi sehingga keluar air mani darinya, maka puasanya tetap sah dalam semua keadaan tersebut dikarenakan hal itu terjadi bukan karena kesengajaannya.

Dan seseorang tidaklah batal puasanya dikarena-kan bersiw ak, bahdikarena-kan bersiw ak disunnahdikarena-kan bagi orang yang berpuasa dan selainnya pada setiap w aktu, di aw al si ang m aupun di ak hi r ny a. Dan diper

(32)

bolehkan bagi orang yang berpuasa untuk menger-jakan apa-apa yang dapat meringankannya dari hawa yang panas dan haus, seperti mendinginkan diri dengan air dan semisalnya. Karena sesungguhnya N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

“ D ahul u bel i au men uangkan ai r ke kepal anya sedangkan bel i au dal am keadaan ber puasa dikarenakan haus.”

(33)

33

PASAL KELIMA :

SHALAT TARAW IH

arawih adalah shalat sunnah malam hari yang d i lakuk an secar a ber jamaah pad a bul an Ramadhan, dan waktunya dilaksanakan sete-lah shalat ‘isya hingga terbit fajar. Dan sungguh Rasu l u l l ah shal l al lahu ‘ al ai hi w a sal l am t el ah menganjurkan agar menegakkan shalat sunnah tara-w ih ini. Rasulullah bersabda:

“ Barangsiapa yang menegakkan qiyamullail (shalat tarawih) karena iman dan mengharap pahala, niscaya kami mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

D an d i d al am Shahi h Bu khar i, d ar i ‘ A isy ah Radhiallahu ‘anha, bahw asanya N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam telah bersabda:

T

(34)

“ Rasulullah keluar pada suatu malam, lal u beliau shal at di masj i d, l al u shal at l ah beber apa or ang bersama beliau. Kemudian pada malam berikutnya Rasul ul l ah shal at l agi , maka or ang-or ang pun bertambah banyak. Kemudian pada malam ketiga at au keempat par a sahabat ber kumpul , namun Rasulullah tidak keluar kepada mereka. M aka tatkala shalat subuh, Rasul ullah bersabda: Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, dan tidaklah men ghal an gi ku u n t u k kel u ar kepada kal i an melai nkan kar ena aku khawati r (shal at ini) akan diwajibkan kepada kalian.” Dan itu pada saat bulan Ramadhan.

(35)

35 “ Tidaklah Rasulullah menambah di bulan Ramadhan dan j uga pada bul an selai nnya lebih dari sebelas rakaat.” (M uttaf aqun `A l ai h)

Di dalam kitabAl-M uwattha‘, dari M uhammad bin Yusuf (seorang yang tsiqah dan tsabt) dari Saib bin Yazi d (seorang sahabat) bahw asany a Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bi n K a‘ ab d an Tam i m A d -D ar i agar k ed uan y a mendirikan shalat tarawih sebanyak sebelas rakaat.

D an ji k al au ju m l ah r ak aat y ang sebel as i ni ditambah, maka tidaklah mengapa. Karena N abi M uhammad pernah ditanya tentang shalat sunnah pada malam hari, lantas beliau menjaw ab:

“ D ua, dua, lal u apabila sal ah seorang di antara kalian khawatir akan tibanya waktu subuh, maka shalatlah satu rakaat yang dengannya ia menjadikan shalatnya menjadi witir.” (M utaf aqun ’A l ai h) N amun menjaga jumlah bilangan shalat taraw ih yang telah datang (ketetapannya) dari sunnah dan dilakukan secara perlahan-lahan sambil memper-panjang shalat yang tidak memberatkan manusia,

(36)

maka hal ini lebih utama dan lebih sempurna. A d apun ap a y an g d i k er jak an ol eh sebagi an manusia yang melak ukan shalat dengan terburu-buru lagi meremehkannya, maka hal ini menyelisihi syariat. M ak a jik a ia sampai menghilangkan satu kew ajiban atau salah satu rukun, maka hal ini bisa membatalkan shalat.

Banyak dijumpai para imam yang tidak tenang di dalam mengerjakan shalat taraw ih, dan ini meru-pakan salah satu kesalahan mereka. Sesungguhnya seorang imam itu tidak hanya shalat untuk diri sendiri saja, tetapi selain untuk dirinya juga untuk orang lain. Kedudukannya seperti seorang wali (pemimpin) yang w ajib baginya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih mendatangkan bany ak masl ahat. Para ahli ilmu menyebutkan bahw a tidak disukai seorang imam melakukan shalat secara cepat, karena hal ini akan menghalangi para makmum untuk melakukan hal yang w ajib atas mereka.

(37)

37

kasurnya.

Dan tidaklah mengapa dengan hadirnya para w ani t a u nt u k m engi k u t i shal at t ar aw i h, ji k a keadaannya aman dari fitnah. Dengan syarat para w anita keluar dengan berhiaskan sifat malu, tanpa bertabarruj (berhias diri) dengan perhiasan-perhiasan dan tanpa menggunakan minyak w angi.

(38)

PASAL KEENAM :

ZAKAT DAN

FAIDAH-FAIDAHNYA

akat merupakan kew ajiban satu dari kew a-jiban-kew ajiban di dalam agama Islam, dan ia mer upak an salah satu ruk un dari ruk un-rukun Islam, serta zakat adalah hal terpenting setelah dua kalimat syahadat dan shalat. Dan yang menun-jukkan akan kew ajiban zakat ini adalah Kitabullah, Sunnah Rasul-N ya shallallahu ‘alaihi w a sallam dan i jm a’ (k esep ak at an ) sel u r u h k au m m u sl i m i n . Barangsiapa yang mengingkari kew ajiban zakat maka ia jatuh ke dalam kekafiran dan telah murtad dari agama Islam. Maka ia diminta untuk segera bertaubat, jika ia bertaubat itulah yang diharapkan dan jika menolak maka ia diperangi. Dan barangsiapa yang bakhil dari mengeluarkannya serta mengurangi dari zakat itu sedikitpun, maka ia termasuk orang yang dhalim, berhak mendapatkan hukuman A llah Ta’ala. A llah Ta’ala berfirman:

(39)

39 “ Sekal i -kali j anganl ah or ang-orang yang bakhi l dengan har t a yang A l l ah Ta’ ala ber i kan kepada mer eka dar i kar u n i a-N y a men yangka, bahwa kebakhi l an i t u bai k bagi mer eka. Seben ar n ya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhi l kan it u akan di kalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. D an kepunyaan Allah -lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. D an Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. A l i I mran: 180)

Dan di dalam shohih Bukhori terdapat hadits yang d i r i w ay atk an d ar i A bu H ur ai r ah, d i a ber k at a: Rasulullah shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

(40)

“ Barangsiapa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya harta kemudian ia tidak menunaikan zakatnya, maka kel ak pada har i ki amat har t a t er sebu t akan diserupakan dalam wujud seekor ular jantan yang botak kepalanya lagi sangat berbisa yang mempunyai dua titik hitam di atas matanya. Ular tersebut akan mel i l i t l eher or ang i t u dan menggi gi t kedua rahangnya (bagian leher yang atas) terus menerus sambil mengatakan, ‘aku adalah hartamu, aku adalah kekayaanmu’.” (H R. Buk hari )

(41)

41 “ D an orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah Ta’ala, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat ) si ksa yang pedi h, pada har i di pan askan emas per ak i t u di dal am n er aka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mer eka (l al u di kat akan) kepada mereka:” Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk di ri mu sendi ri, maka rasakanlah sekarang (akibat dar i) apa yang kamu si mpan.” (QS. A t-Taubah : 34 - 35)

Dan diriwayatkan oleh M uslim dari jalan A bu H urairah, bahw a N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

“ Tidaklah seorang yang mempunyai emas ataupun perak yang dia tidak membayarkan haknya (zakat)

(42)

kecuali pada hari kiamat maka akan dibentangkan bagi nya pedang-pedang yang l ebar dar i ner aka, kemudian pedang tersebut dipanggang di neraka Jahannam. Lal u pedang t er sebut di gosokkan ke pundaknya, keni ng dan punggungnya. Setiapkal i pedang tersebut mendingin, diulangi kembali pada hari yang satu hari lamanya sebanding dengan 50 ribu tahun, sampai diputuskan perkara para hamba.”

(H R. M usl i m)

Zakat mempunyai faedah-faedah dalam sisi agama, ak hl aq d an masy ar ak at pad a umum ny a. K ami sebutkan di antaranya:

Faedah-f aedah zak at dari si si agama

1. Bahw asanya menunaikan zakat adalah mene-gakkan salah satu diantara rukun-rukun Islam , jika kita mengerjakan ruk un-rukun tersebut maka kita akan selamat di dunia maupun di akhirat.

2. Zakat adalah salah satu cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya dan juga tambahan bagi keimanannya. Dalam hal ini kebera-daan zakat sam a dengan sel uruh amal ketaatan lainnya.

(43)

43

A llah Ta’ala berfirman:

“ Allah Ta’ala memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. D an A l lah Ta’al a tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. A l-Baqarah : 276)

A llah Ta’ala juga berfirman:

“ D an sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah Ta’ala. D an apa yan g kamu ber i kan ber u pa zakat y an g kamu maksudkan untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka (yang berbuat demiki an) itulah orang-orang yang mel i pat gandakan (pahalanya).” (QS. A r-Ruum : 39)

(44)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

“ Barangsiapa yang ber shadaqah seukuran dengan satu buah kurma (yaitu yang senilai dengan sebutir kurma) dari harta yang baik sedangkan Allah Ta’ala ti dak meneri ma kecual i hanya yang baik. M aka sesungguhnya Allah Ta’ala mengambilnya dengan t an gan kan an -N ya, kemu di an D i a men j aga shadaqahnya tersebut seperti penjagaan seorang di an t ar a kal i an t er hadap an ak ku danya, sampai shadaqah tersebut sebesar gunung.” (H R. Buk hari dan M usl i m)

4. A llah Ta’ala akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dengannya, hal ini seperti dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi w a sallam:

“ D an shadaqah dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan seperti air memadamkan api.”

(45)

45

2. Sesungguhnya zakat akan menuntut orang yang menunaikannya bersifat rahmah (kasih sayang) dan selalu pengertian terhadap saudara-saudaranya yang miskin. Seseorang yang mengasihi orang lain maka A llah Ta’ala akan mengasihi mereka.

3. Real i tas m enunjuk k an bahw a or ang y ang memberikan kemanfaatan, baik berupa harta maupun badan terhadap kaum muslimin, berarti ia mela-pangkan dada, meluaskan jiw a serta menjadikan ia seorang yang dicintai dan dimuliakan, tentunya tergantung seberapa tingkat kemanfaatan yang ia curahkan bagi saudaranya.

4. Sesungguhnya di dalam zakat itu terdapat pembersihan akhlak dari sifat bakhil dan kikir yang ada pada dirinya. A llah Ta’ala berfirman:

“ Ambilah dari sebagian harta-harta mereka sebagai shadaqah yang akan membersihkan dan mensucikan mereka.”

Faedah-f aedah dari segi k emasyarak atan 1. Di dalamnya terdapat pemenuhan kebutuhan orang-orang fakir yang mereka merupakan bagian terbanyak dari penduduk kebanyakan negeri.

2. Di dalam zakat terdapat penguat bagi kaum muslimin dan mengangkat keadaan mereka. Oleh karenanya, termasuk di antara alokasi zakat adalah

(46)

jihad di jalan A llah Ta’ala (karena menguatkan kaum muslimin sebagaimana faedah dari zakat) pemba-hasannya akan kami sebutkan insya A llah Ta’ala.

3. Bahw asany a dengan zakat akan menghi-langkan kedengk ian dan rasa iri yang terdapat di dada-dada orang yang fakir dan serba kesulitan. Or-ang-orang yang fakir ketika melihat orOr-ang-orang kaya ber gel i mang d engan har t a tanp a m em ber i k an kemanfaatan kepada orang fakir dari harta yang mereka punyai, tidak memberikan sedikit ataupun banyak, maka terkadang akan muncul pada diri or-ang-or ang f ak i r ter sebut r asa per musuhan dan kedengkian terhadap orang kaya, karena mereka tidak memperhatikan hak-hak orang-orang fakir. Dan juga tidak memenuhi kebutuhan yang ada pada mereka. Ketika orang-orang kaya memberikan sesuatu bagi mereka dari harta yang mereka punyai pada setiap putaran tahunnya, maka akan hilanglah perkara-perkara ini serta saling mencintai sehingga kesela-rasan akan diperoleh.

(47)

47

itu mengurangi harta dari segi jumlahnya, maka shadaqah sama sekali tidak mengurangi harta dari segi barakah dan penambahannya di w aktu yang akan datang, bahkan A llah Ta’ala akan memberikan ganti serta memberikan keberkahan di dalam hartanya.

5. Sesungguhnya bagi orang yang berzakat di dalam apa yang telah ia tunaikan terdapat perluasan dan pengembangan hartanya. Karena harta apabila diberik an sedik it dariny a, akan meluaslah pere-daranny a ser ta ak an dimanfaatk an oleh bany ak manusia. A kan berbeda halnya dengan orang-orang miskin di suatu negara yang tidak mendapat sesuatu pun dari harta orang-orang kaya di antara mereka.

Inilah faedah-faedah di dalam zakat yang menun-jukkan bahwa zakat merupakan perkara yang dhoruri (sangat dibutuhkan) untuk perbaikan individu dan masy ar ak at. M aha Suci A llah Ta’ala Yang M aha M engetahui lagi M aha Bijaksana.

Zakat merupakan kew ajiban di dalam harta-harta khu sus seper ti emas, perak dengan sy arat telah mencapai nishob (ukuran yang telah ditentukan), yaitu emas 113/ 7 junaih Saudi, perak 56 real Saudi dari perak atau yang sesuai dengannya dari mata uang yang mempunyai nilai jual. Wajib mengeluarkan zakatnya adalah seperempatnya dari bilangan sepuluh

(48)
(49)

49

utama.”

Dan harta lain yang w ajib dikeluarkan zakatnya adalah barang-barang perniagaan, yaitu semua benda y ang d i per si ap k an u nt u k d i per d agangk an, d i antaranya komoditas tak bergerak, mobil, hew an gembalaan, pakaian-pakaian dan lain sebagainya dari berbagai jenis harta. Wajib dikeluarkan zakatnya 2,5%, i a k u m p u l k an d an i a hi t u ng bar ang-bar ang perniagaan tersebut menurut nilai nominalnya pada setiap masa haul (satu tahun), lalu dikeluarkan zakatnya 2,5%. Baik dalam perhitungannya nanti ternyata jumlahnya lebih sedikit dari nilai barang yang ia beli, atau lebih banyak ataupun sama jumlahnya (m ak a t i d ak m engap a). A d ap u n har t a y ang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau disew ak an dari barang-barang tak bergerak, mobil-mobil, peralatan-peralatan atau selainnya, maka tidak ada zakat di dalamnya. Hal ini berdasarkan sabda N abi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Tidak ada kew ajiban shadaqah (zakat) bagi seorang muslim di dalam urusan budaknya dan juga kudanya.” A kan tetapi w ajib dikeluarkan zak at pada up ah sew a menyew a apabila tel ah sem purna haul nya (satu tahun) dan juga perhiasan-perhiasan emas dan perak (w alaupun bukan untuk jual beli) sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

(50)

PASAL KETUJUH :

PENERIMA ZAKAT

hlu Z akat adalah orang-orang yang berhak menerima zakat. A llah Ta’ala secara langsung menyebutk an p enjelasanny a. A llah Ta’ala berfirman:

“ Sesungguhnya zakat-zakat it u, hanyal ah untuk orang-or ang fakir, orang-or ang mi skin, pengurus-pengurus zakat, para M u’allaf yang dibujuk hatinya, u n t u k (memer dekakan ) bu dak, or an g yan g berhutang, untuk jalan Allah Ta’ala dan orang-orang yang sedang dal am per jal anan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah M aha

(51)

51 M engetahui lagi M aha Bijaksana.” (QS. A t-Taubah : 60)

M ereka ada 8 kelompok:

1. Orang yang Faqir, yaitu orang-orang yang tidak mendapati dari pemenuhan hidupnya kecuali hanya sesuatu yang sedikit saja yang kurang dari setengah (dari kebutuhan hidup). M aka apabila ada manusia yang tidak mendapati apa yang ak an ia infakkan untuk dirinya sendiri dan juga keluarganya dalam kurun waktu setengah tahun, dialah orang yang faqir. M aka dia diberi apa yang dapat mencukupi dirinya dan keluarganya untuk jangka w aktu satu tahun.

2. Orang M i sk i n, mer ek a adalah orang yang m en d apati sesuatu d ar i pem en uhan hi d up ny a sep ar u h at au l ebi h, ak an t et ap i m er ek a t i dak mendapati apa yang dapat memenuhi kebutuhannya selama setahun penuh. M aka dipenuhilah nafkahnya selama setahun. A pabila seseorang tidak memiliki uang, akan tetapi ia mempunyai yang lainnya dari pekerjaan, gaji, atau dari hasil tanah yang dapat memenuhi kebutuhannya, maka ia tidak berhak mendapatkan zakat, dikarenakan N abi bersabda:

“ Tidak ada bagian dalam zakat tersebut bagi orang kaya dan mempunyai tenaga dapat digunakan untuk bekerja”

(52)

3. A mi l , yaitu orang-orang yang telah ditunjuk dan diserahi oleh hakim umum pada sebuah negara untuk memungut zakat dari orang-orang yang w ajib mengeluarkannya, dan diserahkan kepada orang yang berhak mendapatkannya, bertanggungjaw ab dalam penjagaannya dan lain sebagainya dari kepengurusan atas zakat ter sebut. M ak a mereka diberi bagian darizakat sesuai apa yang telah dikerjakan meski mereka termasuk orang-orang mampu.

4. M ual lafah Qul ubuhum, mereka adalah pemim-pin-pemimpin suku yang belum kuat keimanannya. M aka mereka diberi bagian zakat untuk menguatkan keimanan mereka, sehingga diharapkan nantinya mereka menjadi penyeru-penyeru Islam dan panutan yang shalih. Dan apabila ada seorang yang lemah keislamannya, namun bukan termasuk dari pemimpin y ang di taati bahk an ter masuk d ar i k ebany akan manusia, apakah ia juga mendapat bagian zakat sebagai penguat keimanannya?

(53)

53

yang lain berpendapat bahw a ia tidak diberi zakat, karena mashlahah dari kuatnya keimanan yang ia miliki adalah kebaikan bagi dirinya sendiri secara khusus.

5. Bu dak , ter masuk juga d i d alamny a bol eh membeli budak dar i harta zakat, unt uk memer-dekakannya, membantu budak yang menebus dirinya send i ri , dan membebask an taw anan d ari k aum muslimin.

6. Orang yang punya hutang, yaitu orang-orang yang mempunyai hutang dan tidak punya kemam-puan yang memungkinkan untuk membayarnya. M aka mereka diberi bagian zakat yang sesuai untuk m em enuh i hut ang-hut angny a sed i k i t ataup un banyak. A pabila ditakdirkan ada orang yang mampu m em enu hi k ebu tu han m ak anan u ntu k di ri dan keluarganya, hanya saja ia mempunyai hutang yang tak mampu ia bayarkan, maka ia diberi zakat sebesar untuk melunasi hutangnya. Dan tidak boleh bagi pemberi hutang untuk menggugurkan (menganggap lunas) hutangnya kepada orang fakir yang berhutang kepadanya dengan meniatkan zakat untuknya.

Para ulama berselisih pendapat di dalam permasa-lahan hutang piutang antara orang tua dan anaknya, apakah ia diberikan zakat untuk melunasi hutangnya tersebut? Dan yang benar (dari pendapat-pendapat

(54)

yang ada) yaitu diperbolehkan untuk diberi zakat. Boleh bagi orang yang mengeluarkan zakat untuk langsung m endatangi or ang yang berhak mene-rimanya (misal, or ang yang berhu tang, ed) dan memberik an hak-haknya, sekal ipun orang yang berhutang tidak mengetahui hal tersebut, dengan catatan apabila pemberi zakat mengetahui bahw a-sanya orang yang berhutang tersebut tidak sanggup melunasinya.

7. Orang-orang yang berj uang di j al an A l l ah Ta’al a, yaitu orang yang berjihad di jalan A llah Ta’ala. M aka orang-orang yang berjihad tersebut berhak untuk memperoleh bagian dari zakat yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dalam berjihad. Dan juga sebagian dari zakat tersebut dibelikan alat-alat yang dapat menunjang kelancaran jihad fi sabilillah. Termasuk orang yang berjuang di jalan A llah Ta’ala yaitu para penuntut ilmu syar‘i. Maka seorang yang belajar ilmu agama diberi bagian dari zakat yang dapat menunjang proses dia dalam menuntut ilmu, seperti buku-buku atau selainnya, kecuali bila ia termasuk orang berharta yang dapat memperoleh apa yang dibutuhkannya dalam hal tersebut.

(55)

55

negara yang ia tuju.

M ereka itulah orang-orang yang berhak menda-patkan zakat sebagaimana yang telah A llah Ta’ala sebutkan di dalam kitab-N ya. Dan A llah Ta’ala juga telah mengkhabarkan bahw asanya zakat merupakan hal yang difardhukan, yang bersumberkan ilmu dan hikmah, dan A llah Ta’ala M aha M engetahui lagi M aha Bijaksana.

Tidak diperbolehkan menyalurkan zakat kepada selain orang y ang berhak menerim any a, seper ti untuk membangun masjid ataupun untuk memper-baiki jalan, karena A llah Ta’ala telah membatasi siapa saja yang ber hak u nt uk m ener i ma zak at , dan pembatasan di sini berfaedah meniadakan hukum terhadap hal-hal yang tidak disebutkan.

A p abil a k ita mer enungi merek a yang berhak m ener i m a zak at , m ak a k i t a ak an m enget ahu i bahw asanya di antara mereka ada yang membu-tuhkan zakat bagi pribadinya sendiri, ada juga yang dibutuhkan oleh kaum muslimin dari bagian zakat tersebut. Oleh sebab itulah kita mengetahui hikmah dari diw ajibkannya zakat yaitu membangun masya-rakat yang baik, saling menyempurnakan, dan saling mencukupi sesuai kemampuan yang ada. Sesung-guhnya agama Islam tidak menyia-nyiakan harta dan tidak meninggalkan maslahat yang terkandung di

(56)
(57)

57

PASAL KEDELAPAN :

ZAKAT FITRAH

akat fitrah merupakan perkara fardhu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka dari bulan Ramadhan. Telah berkata sahabat A bdullah bin Umar –semoga A llah Ta’ala meridhai keduanya-:

“ Rasulull ah telah memfardhukan zakat fi trah dari bulan Ramadhan atas budak, orang yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil ataupun besar dari kaum muslimin.” (M uttaf aqun ’A l ai h) Ukuran zakat fitrah yaitu satusha’ dari makanan pokok yang biasa dimakan manusia. Telah berkata A bu Said A l-Khudri Radhiallahu ‘anhu:

Z

(58)

“ Kami mengeluarkan (zakat fitrah) pada hari berbuka (di akhir bulan Ramadhan) pada zaman Nabi satu ‘ sha’ dar i bahan makanan, dan pada wakt u i t u makanan kami adalah gandum, anggur kering, keju dan juga kurma.”(H R. Buk hari )

M aka zakat ini tidak bisa digantikan dengan dirham (atau mata uang lainnya), kuda, pakaian, makanan-makanan ternak, barang-barang, dan lain sebagainya, karena hal ini menyelisihi perintah N abi r. Sungguh N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam telah bersabda:“ Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (H R. M usl i m) yaitu ditolak, tidak diterima. Ukuran satu sha’ sebanding dengan 2 kg lebih 40 gram dari gandum yang berkualitas baik. Inilah ukuransha’ nabawi yang N abi shallallahu ‘alaihi w a sallam menggunakannya untuk zakat fitrah.

(59)

59

hari raya, dan tidak sah apabila dikeluarkan setelah shalat ‘Ied. H al ini berdasarkan hadits dar i Ibnu Abbas, bahwasanya N abi shallallahu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitrah sebagai pembersih untuk orang yang berpuasa dari omong kosong dan ucapan yang keji, serta sebagai pemberian makan kepada or-ang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat‘Ied, maka itu merupakan zakat yang diter ima. D an siapapun yang m engeluark annya setelah shalat dilak sanak an, mak a itu terhitu ng sebagai shadaqah biasa. (Diriw ayatkan oleh A bu Daud dan Ibnu M ajah)

A kan tetapi apabila seseorang tidak mengetahui kapan datangnya hari raya, kecuali setelah shalat‘Ied

dilaksanakan, atau ketika itu ia berada di tengah laut, atau berada di suatu negeri yang tidak ada yang berhak menerimanya, maka diperbolehkan menge-luarkan zakat walaupun setelah mengerjakan shalat ketika ada kesempatan untuk menunaikannya.Wallah Ta’alau-a’lam

Sem oga shal aw at d an sal am senant i asa tercurah kepada N abi kita M uhammad shallallahu ‘alaihi w a sallam, kepada keluarga dan juga para sahabat beliau.

(60)

CATATAN

Download ulang dari:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (60 Halaman)