KLIPING
JURNAL PROTOZOA AIR SEBAGAI INDIKATOR LINGKUNGAN
“Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Avertebrata Air”
DISUSUN OLEH :
PEFI FIRMAN NURLAILUDIN ( 230110110030 )
RIANDI SAPUTRO ( 230110110042 )
FIQI MUHAMMAD SEPTIAN ( 230210110023 )
KELAS : FPIK I A
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
DAFTAR ISI
Resume Jurnal……… 1
1. Luli Gustiantini dan Ediar Usman: Distribusi Foraminifera Bentik Sebagai Indikator Kondisi Lingkungan di Perairan Sekitar Pulau Batam – Riau
Kepulauan ………... 2
2. Suhartati M. Natsir dan Rubiman: Distribusi Foraminifera Bentik Resen
di Laut Arafura……….. 12
3. Suhartati M. Natsir: Kelimpahan Foraminifera Resen Pada Sedimen
Permukaan di Teluk Ambon………... 21
4. Effendi Parlindungan Sagala: Potensi Komunitas Plankton dalam Mendukung Kehidupan Komunitas Nekton di Perairan Rawa Gambut, Lebak Jungkal di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Propinsi Sumatera
Selatan………31
5. Ainin Niswati, Dermiyati, dan Mas Achmad Syamsul Arif: Perubahan Populasi Protozoa dan Alga Dominan pada Air Genangan Tanah Padi
Sawah yang Diberi Bokashi Berkelanjutan ………...37
6. Rosmimik Emerde Palar: Peranan Mikroba dan Protozoa Dalam
Penanggulangan Limbah Cair Industri Kertas……….. 44
RESUME JURNAL
Protozoa termasuk golongan protista eukariotik yang berada dalam keadaan sel tunggal dan berkoloni. Protozoa hidup bebas tergantung adanya air, pada bahan organik yang membusuk, dalam tanah dan pasir, hidupnya dipengaruhi kelembaban, suhu, cahaya, nutrien dan kondisi fisik dan kimia. Pertumbuhanannya dapat bertahan dalam air pada suhu 560C, tetapi suhu optimumnya adalah antara 36 s/d 400C, keasaman berkisar antara pH 6.0 dan pH 8.0. Protozoa memiliki 4 kelas yang dibedakan berdasarkan alat geraknya, yaitu Rhizopoda, Flagellata (Mastigophora), Ciliata (Ciliophora), dan Apicomplexa (Sporozoa).
Dalam Kliping Jurnal Protozoa Air Sebagai Indikator Lingkungan, dibahas beberapa protozoa air sebagai indikator lingkungan antara lain :
1. Kandungan Foraminifera (Kelas Rhizopoda) di dalam sedimen permukaan perairan sekitar Pulau Batam – Kepulauan Riau sangat berlimpah dan beraneka
ragam. Kumpulan Foraminifera yang ditemukan menunjukkan kondisi
lingkungan laut dangkal dengan energi arus relatif tinggi, dengan material sedimen yang kasar sampai lumpuran.
2. Chlorophyceae, Diatomae (Bacillariophyceae) dan Flagellata merupakan takson yang dominan yang dijumpai pada ekosistem perairan Danau Lebak Jungkal. Dengan demikian spesies-spesies yang termasuk ketiga taksa tersebut merupakan yang paling adaptif dan dapat dikembangkan untuk pakan alami dalam budidaya ikan di wilayah Danau Lebak Jungkal.
3. Protozoa dan alga yang mendominasi pada air genangan tanah sawah pada penelitian ini adalah dari genus Euglena, Pleodorina, Volvox, dan Diatom. Pemberian bokashi terus menerus selama 4 tahun meningkatkan secara siginifikan jumlah populasi protozoa dan algae secara keseluruhan, tetapi hanya alga genus Volvox yang jumlahnya secara signifikan dipengaruhi oleh pemberian bokashi terus menerus.
4. Protozoa aerob yang berfungsi mendegradasi limbah mentah yang ada dalam tangki dan menghasilkan produk samping berupa amoniak, methan, hidrogen sulfida. Protozoa yang digunakan adalah kelas Ciliata yaituMetapussp, Saprodiniumsp, Epulxissp.
Dari pembahasan sekilas di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat protozoa yang dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan antara lain Foraminifera (kelas Rhizopoda), Metapussp, Saprodiniumsp, Epulxissp (kelas Ciliata).
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008 43
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI
PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM – RIAU KEPULAUAN
Oleh :
Luli Gustiantini dan Ediar Usman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
SARI
Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang.
Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3.
Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau
ABSTRACT
Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef.
The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3).
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008
44
PENDAHULUAN
Perairan di sebelah utara P. Batam merupakan bagian dari jalur lalu lintas internasional, dan merupakan batas antara Indonesia – Malaysia, dan Indonesia – Singapura. Perairan ini mempunyai karakteristik arus yang relatif kuat, bergerak pada umumnya dari baratlaut ke tenggara sejajar dengan arah perairan Selat Malaka. Kedalaman rata-rata daerah penelitian 10-20 m, sedangkan kedalaman maksimal 65m terdapat di bagian tengah penelitian (Usman, drr., 2005).
Seiring dengan perkembangan pembangunan, Perairan Batam sebagai kawasan pesisir akan menjadi tujuan pengembangan sarana teknologi pelayaran, pelabuhan, industri, pemukiman, dan perikanan. Akibatnya akan timbul permasalahan baru antara lain persoalan pencemaran lingkungan, abrasi pantai, banjir, erosi permukaan tanah, amblasan, kelangkaan air bersih, dll. (Usman, drr., 2005). Sehingga perlu adanya monitoring terhadap berbagai perubahan lingkungan yang terjadi. Oleh karena itu selain bertujuan untuk mengetahui kandungan dan penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya, penelitian ini juga dimaksudkan sebagai monitoring terhadap kondisi lingkungan perairan sekitar Pulau Batam.
Foraminifera merupakan salah satu partikel dalam sedimen dasar laut yang keberadaannya dapat menunjukkan lingkungan tempat dia hidup. Cara hidupnya adalah menempelkan diri pada sedimen, batuan, tumbuh-tumbuhan laut dan karang yang berada di dasar perairan. Akibatnya foraminifera bentik sangat sensitif terhadap berbagai perubahan lingkungan seperti temperatur, salinitas, cahaya, kedalaman, kandungan oksigen, dll. (Boltovskoy dan Wright, 1976), sehingga merupakan indikator lingkungan yang sangat potensial.
Daerah penelitian adalah perairan Pulau Batam dan sekitarnya, yang terletak pada koordinat 103030’ BT – 1050 BT, 1000’ LU-2000’LU (Gambar 1), termasuk ke dalam lembar peta no. 1017. Sedimen dasar laut Perairan Batam didominasi oleh pasir kuarsa dan campuran kerikil, serta cangkang dan batulempung kaolin, terutama di bagian timur daerah pemetaan. Sementara di bagian barat
lebih didominasi oleh sedimen fraksi yang lebih halus dan tebal (Usman, drr., 2005).
METODE PENELITIAN
Pelaksanaan survei lapangan dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) pada 1 Juni s/d 5 Juli 2005, menggunakan kapal Geomarin I. Dalam kegiatan tersebut telah dikoleksi sebanyak 80 per contoh sedimen dasar laut dengan alat grab sampler, lalu dipilih sebanyak 42 sampel yang dianggap mewakili daerah penelitian. Selanjutnya 300 individu diambil dari percontoh hasil cucian masing-masing dari contoh fraksi ukuran terbesar, bila masih kurang diambil dari fraksi yang lebih kecil. Cangkang foraminifera tersebut akan dideterminasi mengacu pada Barker (1960), Albani & Yassini (1993), Loeblich&Tappan (1994), dan Yassini & Jones (1995).
Tahap selanjutnya adalah analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragamannya, serta pengelompokkan berdasarkan metode cluster. Untuk pengelompokkan ini, dipilih 19 spesies yang paling melimpah di lokasi penelitian, dan kemudian diproses dalam program komputer “STATISTICA : cluster analysis”, yang telah banyak dilakukan antara lain oleh Jorissen (1986), dan Yassini & Jones (1991). Pengelompokkan dilakukan berdasarkan kemiripan pola sebaran masing-masing spesies.
Untuk menghitung tingkat keanekaragaman, digunakan rumus
Shannon-Weaver yang dikembangkan dalam program komputer oleh Bakus (1990), yaitu:
Keterangan : pi = ni / N Σ = jumlah
ni = jumlah individu dari setiap spesies pada tiap contoh (I1, I2, . .., in)
N = jumlah total individu
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Foraminifera bentik ditemukan cukup melimpah, terdiri dari 123 spesies, terbagi menjadi 72 dari grup Rotaliina, 28 spesies dari
JU
RNAL GEOLOGI KELAUTAN
Vol
u
m
e 6,
No. 1
, Apr
il 2
008
45
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008
46
grup Miliolina, dan 23 spesies dari grup Textulariina. Komposisi ini sangat ideal bagi lingkungan laut dangkal/zona paparan (Boltovskoy & Wright, 1976), di mana jenis Rotaliina lebih dominan dibandingkan dengan jenis lainnya.
Berdasarkan analisis cluster, yang dilakukan terhadap 19 jenis foraminifera paling dominan (Gambar 2), lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, di mana tiap cluster dicirikan oleh beberapa spesies yang pola penyebarannya hampir sama.
Cluster 1 dicirikan oleh spesies Asterorotalia trispinosa yang paling dominan, Textularia agglutinans, Textularia cf. T.semialata, dan Textularia conica, yang menunjukkan karakteristik lingkungan perairan terbuka dengan arus menengah - kuat, serta sedimen
penyusun lumpuran dan pasir (Boltovskoy & Wright, 1976; Yassini & Jones, 1995, dan Rositasari & Rahayuningsih, 2000). Sedangkan keberadaan spesies Textularia conica menunjukkan energi tingkat menengah (Biswas, 1976). Penyebarannya terutama pada area di sebelah baratlaut (lokasi 49), serta di sebelah timurlaut penelitian sekitar lokasi 21 dan 81 (Gambar 3).
Cluster 2 dicirikan oleh Pseudorotalia annectens, Eponides cibrorepondus, Pseudorotalia conoides, dan Pseudorotalia sp.2, yang menunjukkan lingkungan perairan dangkal, terbuka, dengan tingkat energi menengah, serta sedimen pasir lebih halus (Biswas, 1976). Penyebarannya terutama di sebelah utara P. Bintan (Gambar 4).
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008 47
Gambar 3. Distribusi Cluster 1
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008
48
Cluster 3 dicirikan oleh Amphistegina radiata dan Elphidium cf. E. discoidalis multiloculum, menunjukkan kondisi lingkungan perairan dangkal dengan energi arus yang relatif tinggi. Seperti diketahui, pada Perairan Batam, terutama di sekitar Pulau Batam dan Bintan, terdapat populasi terumbu karang, yang biasanya berasosiasi dengan kondisi turbulen dan temperatur hangat (Boltovskoy & Wright, 1976). Jenis-jenis foraminifera yang biasanya berasosiasi dengan terumbu karang antara lain Amphistegina, Calcarina, serta Elphidium. Keterkaitan dengan terumbu karang inilah yang mempengaruhi penyebaran cluster 3, sehingga cenderung memiliki konsentrasi yang tinggi di sekitar Pulau Bintan, yaitu lokasi 4, 5, dan 7 (Gambar 5).
Cluster 4 dicirikan oleh Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, Heterolepa subhaidingeri, Asterorotalia inflata, dan Spiroloculina subimpresa. Penyebarannya terutama di bagian timurlaut penelitian, yaitu di sekitar lokasi no 24, 28, 32, dan 33 (Gambar 6). Spesies Quinqueloculina cf. Q. philippinensis yang sangat dominan menunjukkan (indikator)
kondisi lingkungan laut terbuka, dangkal, dengan komposisi sedimen pasir halus sampai lempung, dan fragmen cangkang (Biswas, 1976).
Foraminifera yang ditemukan pada cluster 5 dicirikan oleh Operculina ammonoides, Agglutinella agglutinans, Siphotextularia sp. 3, Siphotextularia sp. 2, dan Ammobaculites agglutinans. Penyebarannya adalah di sebelah timur daerah penelitian, terutama di wilayah paling timurlaut, yaitu di sekitar lokasi 28, 30, 31, 38, dan 39 (Gambar 7). Dominasi dari Operculina ammonoides menunjukkan kondisi lingkungan laut dangkal terbuka, turbidit, terumbu karang, dan sedimen pasir yang lebih halus, sampai lumpur dengan fragmen cangkang dan kaya akan zat organik (Biswas, 1976; Murray, 1991; dan Yassini & Jones, 1991).
Berdasarkan distribusi kelima cluster tersebut, hanya cluster 1 yang penyebarannya mendominasi daerah bagian barat. Wilayah bagian barat ini memiliki karakteristik sedimen fraksi kasar, kecuali pada beberapa lokasi memiliki kandungan sedimen lumpur. Daerah ini didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, yaitu jenis foraminifera bentik yang mampu bertahan
Tabel 1. Nilai indeks diversitas foraminifera bentik
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008 49
Gambar 5. Distribusi Cluster 3
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008
50
Gambar 7. Distribusi Cluster 5
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008 51 pada lingkungan dengan kondisi arus relatif kuat,
terutama sangat berlimpah pada lokasi 49, yang mencapai 211 individu, atau 72,01 % dari seluruh individu yang ada. Lokasi ini merupakan lokasi paling ujung baratlaut, di mana seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa arus berarah baratlaut-tenggara, sehingga diasumsikan daerah ini memiliki arus yang sangat kuat. Asterorotalia trispinosa yang ditemukan menunjukkan variasi dari bentuk dan jumlah duri, gejala tersebut disebut ekofenotip, yaitu variasi morfologi cangkang sebagai salah satu cara beradaptasi terhadap lingkungan. Gejala ini berasosiasi dengan lingkungan daerah pesisir, dan lingkungan dengan variabel tinggi (Walton & Sloan, dalam Rositasari, 1997).
Tingginya energi arus di bagian barat ini (lokasi 49) juga terlihat dari ditemukannya cangkang-cangkang foraminifera dalam kondisi pecah (tidak utuh), terutama jenis Asterorotalia, Pseudorotalia, dan Operculina (Gambar 8). Kondisi ini menunjukkan adanya transportasi cangkang akibat pergerakan arus.
Sementara 4 cluster lainnya lebih terkonsentrasi di bagian utara sampai timur laut lokasi penelitian. Daerah ini dicirikan dengan kandungan sedimen yang relatif lebih halus dengan energi arus yang relatif lebih rendah.
Pada daerah bagian utara dan sebelah timur penelitian ini, keberadaan terumbu karang juga sangat berperan terhadap distribusi foraminifera, terutama karena habitatnya selalu berasosiasi dengan kondisi yang cukup mendapat sinar matahari, yang berarti kandungan oksigen yang mencukupi, serta pasokan nutrisi yang tinggi, maka kondisi ini sangat menguntungkan bagi populasi foraminifera, sehingga daerah ini cenderung lebih berlimpah dan beraneka ragam dibanding dengan bagian barat.
Nilai indeks diversitas lokasi penelitian relatif tinggi (> 3), dengan nilai rata-rata 3,72 (Tabel 1). Hal tersebut menunjukkan bahwa wilayah Perairan Pulau Batam dan sekitarnya masih memiliki kondisi lingkungan yang masih bagus dan cocok bagi perkembangan fauna (Darsono, 1996).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kandungan
foraminifera di dalam sedimen permukaan perairan sekitar P Batam – Kepulauan Riau sangat berlimpah dan beraneka ragam. Kumpulan foraminifera yang ditemukan menunjukkan kondisi lingkungan laut dangkal dengan energi arus relatif tinggi, dengan material sedimen yang kasar sampai lumpuran.
Ada perbedaan nyata antara penyebaran foraminifera di sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian, menunjukkan adanya pengaruh dari faktor arus, jenis sedimen, dan terumbu karang yang terkonsentrasi di sekitar P. Batam dan P. Bintan.
Karena memiliki kelimpahan foraminifera bentik tinggi (nilai indeks diversitas > 3), Perairan di sekitar P. Batam dan P. Bintan ini dianggap masih bagus dan cocok untuk pertumbuhan mikrofauna.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis berterima kasih kepada rekan-rekan PPPGL yang merupakan anggota tim penelitian di Perairan Batam – Riau Kepulauan (LP 1017), K. T. Dewi, A. Fauzi, dan Y. Permanawati atas dukungan, bantuan, dan diskusi selama proses penyusunan makalah ini.
ACUAN
Albani, A.D., & Yassini, I. 1993. Taxonomy and distribution of the Family Elphididae (foraminiferida) from shallow Australian Waters, Centre for Marine Science, University of New South Wales, Australia. 51h.
Bakus, G.J. 1990. Quantitative ecology and marine biology, A.A. Balkema, Rotterdam. 157h.
Barker, W. R., 1960. Taxonomic notes, soxy of economic paleontologists and mineralogist, Shelf Development Company, Houston, Texas, 238h.
Biswas, B., 1976. Bathymetry of Holocene foraminifera and Quaternary sea – level changes on the Sunda Shelf. Dalam : Journal of Foraminiferal Research, v. 6 (2) : 107 – 133.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 1, April 2008
52
Darsono, P. 1996. Analisis ”Infaunal benthos” untuk pemantauan pencemaran, studi kasus di Fiji. Oseana. Vol. 21(2) : 45-63.
Loeblich, JR., A.R., & Tappan, H. 1994. Foraminifera of the Sahul Shelf and Timor Sea, Cushman Foundation Special Publication no.31. Dalam: Stephen J. Culvier (Edt). Cushman Foundation for Foraminiferal Research, Cambridge, U.S.A. 661h.
Murray, J.W. 1991. Ecology and distribution of benthic foraminifera. Dalam : Biology of foraminifera, J.J. Lee & O.R. Anderson (Editor), Academic Press, United Kingdom : 221 - 253.
Rositasari, R. 1997. Variasi morfologi pada marga Ammonia. Dalam : Oseana. Majalah Ilmiah Semi Populer. Badan Penelitian dan Pengembangan Oseanografi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, Volume XXII, no.3 : 1 - 15.
Rositasari, R., dan Rahayuningsih, S. K., 2000. Foraminifera bentik. Dalam Foraminifera sebagai bioindikator pencemaran, hasil studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap,
Tangerang, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia : 3 – 26.
Usman, E., Setyanto, A., Gustiantini, L., Permanawati, Y., Aryawan, I. K. G., Laputua, G., Novi., Subarsah, Sahudin, dan Hartono, 2005. Pemetaan geologi dan potensi energi dan sumber daya mineral bersistem (LP 1017) Batam – Riau Kepulauan. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Bandung, Laporan Intern, Tidak diterbitkan. 120h.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Hal. 74-82, Desember 2010
©Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan
74 Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK RESEN DI LAUT ARAFURA
THE DISTRIBUTION OF RECENT BENTHIC FORAMINIFERA IN THE ARAFURA SEA
Suhartati M. Natsir dan Rubiman
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI
Ema
ABSTRACT
Arafura Sea consists of shallow waters and located in the Southern of Papua to the north coast of Australia. The waters is vegetated by shallow-water ecosytems such as mangrove, seagrass bed, and coral reefs. The Arafura continental shelf is predominated by sediment from late Paleozoic, Mesozoic to Cenozoic and underlain by granitic basement. Foraminifera is a single cell microorgainsm, has pseudopodia with high level of diversity. Foraminifera dwells in every level of sea depth, from estuary to the deep sea. However, a certain species commonly dwells in the specific profundity. The aim of the study was to recognize the distribution of benthic foraminifera in the waters of Arafura Sea and it relation with the environmental characteristics. As many as 11 sediment samples was collected in May 2010 from the water of Arafura Sea using a box core with capcity of 0,3 m3. Laboratory analyses on the colleted samples were performed to determine the type of sediments and identify the benthic foraminifera, and to determine the abundance of each samples. The number of species found from the collected sediments were 37 species consisting of 29 genera of which most of them were member of Suborder Rotaliina and many of them belong to Suborder Miliolina and Textulariina. The most common species of the sampling sites were Ammonia beccarii and Pseudorotalia schroeteriana. The Arafura Sea commonly recognized as shallow waters, open seas, with current speed of midium to high. The predominant sediment type of the waters is sandy mud and little of clay.
Keywords: distribution, benthic foraminifera, sediment and Arafura
ABSTRAK
Laut Arafura merupakan perairan dangkal yang terletak di wilayah Papua bagian Selatan sampai bagian utara pantai Australia. Ekosistem yang terdapat pada perairan tersebut merupakan ekosistem penciri perairan dangkal seperti hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Sedimen yang mendominasi landas kontinen perairan Arafura berasal dari masa Paleozoikum akhir, Mesozoikum sampai Kenozoikum yang dilandasi oleh lapisan granit pada bagian bawah. Foraminifera merupakan mikroorganisme bersel tunggal dan berkaki semu yang mempunyai keragaman sangat tinggi. Habitat foraminifera terdiri dari semua kedalaman laut dari tepi pantai sampai pada laut dalam. Secara umum, suatu spesies bentik hidup pada kedalaman tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi foraminifera bentik yang terdapat pada sedimen di perairan Laut Arafura dan kaitannya dengan karakteristik perairan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2010 di Peraiaran Laut Arafura. Sebanyak 11 sampel sedimen diambil dari dasar perairan menggunakan box core. Kemudian sampel yang diperoleh dianalisis jenis sedimennya dan kandungan foraminifera bentik didalamnya. Jumlah spesies yang ditemukan mencapai 37 spesies yang termasuk dalam 29 genus yang sebagian besar merupakan anggota dari subordo Rotaliina dan beberapa spesies merupakan anggota Miliolina dan Textulariina. Spesies yang ditemukan merata hampir di semua stasiun adalah Ammonia beccarii dan Pseudorotalia schroeteriana. Karakeristik sebagian besar perairan Laut Arafura merupakan perairan dangkal, terbuka dengan tingkat energi arus menengah sampai kuat. Jenis sedimen yang mendominasi perairan Laut Arafura adalah Lumpur pasiran dengan sedikit lempung.
Natsir dan Rubiman
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 75
I. PENDAHULUAN
Laut Arafura merupakan perairan yang meliputi landas kontinen Arafura – Sahul dan terletak di wilayah Papua bagian Selatan sampai perbatasan Benua Australia. Batas bagian Utara perairan tersebut merupakan Laut Seram dan Pulau Irian Jaya (Papua), sedangkan Pantai Utara Australia dari Semenanjung York sampai Semenanjung Don merupakan batas di bagian Selatan. Di bagian Barat, perairan tersebut dibatasi oleh Laut Banda dan Laut Timor yang melewati Kepulauan Aru dan Tanimbar. Sedangkan di bagian Timur terdapat Pulau Dolak dan Semenajung Don yang membatasi perairan tersebut. Brdasarkan tingkat kedalamannya, Laut Arafura termasuk perairan dangkal dengan kisaran kedalaman antara 30-90 m. Ekosistem yang terdapat pada perairan tersebut merupakan ekosistem penciri perairan dangkal seperti hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang (Wagey dan Arifin, 2008). Menurut Katili (1986), sedimen yang mendominasi landas kontinen perairan Arafura berasal dari masa Paleozoikum akhir, Mesozoikum sampai Kenozoikum yang dilandasi oleh lapisan granit pada bagian bawah.
Foraminifera merupakan mikroor-ganisme bersel tunggal dan berkaki semu yang mempunyai keragaman sangat tinggi dan menempati hampir 2,5% dari seluruh hewan yang dikenal sejak zaman kambrium hingga resen. Sebanyak 38.000 spesies berupa fosil dan 10.000 – 12.000 spesies foraminifera resen ditemukan di seluruh lauatan (Boltovskoy and Wright, 1976). Menurut Murray (1973), distribusi dan kelimpahan spesies mendapat perhatian yang cukup besar, baik spesies yang masih hidup maupun yang sudah mati. Foraminifera merupakan kelompok hewan yang sebagian besar hidup di laut.
Program pemantauan lingkungan perairan dapat dilakukan berdasarkan distribusi foraminifera karena beberapa keunggulannya antara lain ukurannya yang relatif kecil, hidup pada lingkungan tertentu, jumlahnya melimpah, mudah dikoleksi, ekonomis dan secara signifikan dapat diolah secara statistik. Habitat foraminifera terdiri dari semua kedalaman laut dari tepi pantai sampai pada laut dalam. Secara umum, suatu spesies bentik hidup pada kedalaman tertentu. Kedalaman merupakan faktor ekologi yang mempengaruhi distribusi-nya (Boltovskoy and Wright, 1976). Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi foraminifera bentik yang terdapat pada sedimen di perairan Laut Arafura dan kaitannya dengan karakteristik perairan tersebut.
II. METODE PENELITIAN
Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura
76
Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di perairan Laut Arafura
Sampel yang diperoleh merupakan material dari dasar laut secara keseluruhan yang meliputi material sedimen, serasah dan organisme termasuk foraminifera bentik. Tahap preparasi diperlukan untuk memisahkan foraminifera bentik yang terdapat pada sampel tersebut dari bahan-bahan dan organisme lain sehingga dapat diidentifikasi dengan mudah. Preparasi sampel dilakukan dengan beberapa tahap, antara lain pencucian sampel, picking, deskripsi dan identifikasi serta sticking dan dokumentasi.
Pencucian sampel dilakukan dengan menggunakan air mengalir diatas saringan dengan diameter berturut-turut 1.0, 0.5, 0.250, 0.125, 0.063 mm. Setelah pencucian, sampel tersebut dikeringkan menggunakan oven pada suhu 30°C sampai kering (selama ± 30 menit).
Sampel yang telah kering dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label untuk analisis lebih lanjut. Setelah
pencucian dan pengeringan, saringan harus direndam dalam larutan methiline blue untuk mencegah kontaminasi oleh sampel berikutnya dan dicuci. Tahap selanjutnya adalah picking yang dilakukan dengan menyebarkan sampel yang telah dicuci pada extraction tray dibawah mikroskop secara merata. Foraminifera yang terdapat dalam sampel tersebut diambil dan disimpan pada foraminiferal slide.
Natsir dan Rubiman
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 77 untuk mendapatkan data kelimpahan.
Proses sticking dan dokumentasi dilakukan dengan meletakkan spesimen yang terpilih pada foraminiferal slide dengan posisi tampak apertura, tampak dorsal, tampak ventral dan tampak samping yang kemudian didokumen-tasikan dibawah mikroskop.
Pengelompokan kelimpahan fora-minifera bentik yang ditemukan berdasarkan jumlah spesimen yang ditemukan. kelimpahan foraminifera bentik dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu tinggi (melimpah), sedang dan rendah (jarang). Spesies yang tergolong dalam kelimpahan tinggi merupakan spesies yang ditemukan sebanyak lebih dari 50 spesimen, sedangkan kelimpahan sedang dan rendah masing-masing diwakili oleh jumlah spsies yang ditemukan sebanyak 11 – 50 spesimen dan kurang dari 11 spesimen.
Penentuan jenis sedimen dari sampel yang diambil dilakukan dengan analisis granulometri menggunakan ayakan berukuran 0,063 – 4 mm. Pengelompokan butir sedimen dilakukan berdasarkan skala Wenworth (1922) dan penamaannya berdasarkan klasifikasi Shepard (1960).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Laut Arafura terletak di wilayah Papua bagian Selatan sampai perbatasan Benua Australia. Menurut Wagey dan Arifin (2008), perairan Laut Arafura merupakan perairan dangkal dengan kisaran kedalaman antara 30-90 m dengan Ekosistem yang terdapat pada perairan tersebut merupakan ekosistem penciri perairan dangkal seperti hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Namun, pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat perairan yang mempunyai kedalaman lebih dari 300 m.
Stasiun 13 yang terletak di bagian Selatan Kepulauan Tanimbar tercatat mempunyai kedalaman yang mencapai 341 m. Lokasi tersebut diduga merupakan titik pertemuan antara Busur Banda dan lempeng Benua Australia seperti yang dinyatakan oleh Katili (1986) bahwa terdapat lengkungan kebawah pada sedimen di perairan Arafura yang berbatasan dengan Busur Banda. Pola tektonik dari deformasi tersebut terjadi karena dorongan Busur Banda ke arah Benua Australia dan semakin meningkat ke arah Utara. Sedangkan kedalaman di stasiun lainnya tercatat tidak lebih dari 60 m dan perairan paling dangkal ditemukan di dekat Pulau Dolak (stasiun 14).
Secara keseluruhan, hasil analisis terhadap sampel sedimen yang diperoleh dari 10 lokasi di perairan Laut Arafura diperoleh foraminifera bentik resen sebanyak 1593 individu. Jumlah tersebut terdiri dari 37 spesies yang termasuk dalam 29 genus (Tabel 1). Sebagian besar spesies yang ditemukan merupakan anggota dari subordo Rotaliina, namun juga ditemukan beberapa spesies yang merupakan anggota Milioliina dan Textulariina. Kelimpahan dan jenis foraminifera bentik yang ditemukan pada masing-masing stasiun berbeda-beda seiring dengan komposisi atau jenis sedimennya.
Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura
78
Tabel 1. Jumlah foraminifera bentik yang ditemukan pada sampel yang berasal dari perairan Laut Arafura
Foraminifera Benthic Sampel
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
Ammonia beccarii (Linnaeus) - 104 21 46 121 69 14 116 131 111 14
Amphistegina lessonii - - - 1
Anomalina rostrata (Bradyi) 21 - - - - Asterorotalia trispinosa - - - 1 -
Astocolus reniformis (d'Orbigny) 6 - - - - Bolivina earlandi (Parr) 82 - - - 2 - - - -
Bolivina spathulata (Williamson) 26 16 - - 41 4 - - - - 4
Bolivina subspinecens (Cushman) 12 - - - - Cancris oblongus (Cushman) 40 - 48 - - - 18 -
Cibicides berthelotianus (d'Orbigny) - - - 2 - - - -
Cibicides molis - - - 14 -
Discorbinella biconcavus (Parker & Jones) - - - 2
Elphidium craticulatum - - - 6 9 41 - Elphidium crispum - - 7 - - 8 4 - - 29 -
Eponides berthelotianus (d'Orbigny) - 12 - - - - Fissurina exsculpra (Brady) - - - - 1 - - - -
Guttulina dawsoni (Chusman and Ozawa) - - - 2 - - - -
Gyroidina neosoldanii - - - 2 2 - - 2
Hoglundina elegans (d'Orbigny) - - - - 6 - 2 4 - - - Lagena gracillisima (Sguenza) 1 - - - - Nonion sp. 8 12 - - - - 24 2 - - 2
Oolina apiculata (Reuss) - - - 2 - - - - -
Operculina ammonoides - - - 12 12 - 1 Planispinoides bucculantus (Brady) - - - 6 - -
Planorbulina sp. (d'Orbigny) - - - 3
Pseudopolymorphina ligua (Rosmer) - - - 2 - - - -
Pseudorotalia schroeteriana - 40 - 28 30 24 3 21 6 64 2 Quinqueloculina cultrate - - - - 2 - - - -
Quinqueloculina granulocostata - - - 4 - - - 3 -
Quinqueloculina parkery - 2 - - 1 3 - - - 8 1 Quinqueloculina seminulum - - - 2 - - - 8 2 Quinqueloculina sp. - - - - 1 - - - - 4 -
Rosalina sp. - - - 2
Spiroloculina communis - - - 2 - - - - 3
Textularia pseudogramen - - - 2
Triloculina tricarinata - - - 8
Natsir dan Rubiman
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 79 Tabel 2. Kedalaman dan jenis sedimen pada masing-masing stasiun pengambilan
sampel di perairan Laut Arafura
Stasiun Kedalaman (m) Jenis sedimen
13 341 Lempung 23 59 Pasir (sedang-kasar) lumpuran
Boltovskoy and Wright (1976) menyatakan bahwa Asterorotalia trispinosa dan Ammonia beccarii banyak dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur pasiran. Namun A. Trispinosa hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Spesies yang ditemukan dengan tingkat kelimpahan sedang pada stasiun tersebut adalah Cancris oblongus, Cibicides molis dan dua spesies dari genus Elphidium. Spesies yang terdapat melimpah dan sedang tersebut merupakan anggota dari Subordo Rotaliina.
Selain itu, pada stasiun 22 juga ditemukan beberapa spesies yang termasuk dalam Subordo Miliolina, namun dalam jumlah yang sedikit atau termasuk dalam kelimpahan rendah. Spesies-spesies tersebut diwakili oleh merupakan anggota dari genus Quinqueloculina yang diwakili oleh Quinqueloculina sp., Q. granulocostata, Q. parkery dan Q. seminulum. Spesies-spesies yang bercangkang hialin tersebut masing-masing ditemukan tidak lebih dari 10 individu.
Spesies yang bersimbiosis dengan terumbu karang, berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh Hallock et al. (2003) hanya ditemukan pada stasiun 23 dengan
jumlah yang sangat sedikit. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa perairan tersebut bukan termasuk lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang. Spesies tersebut adalah Amphistegina lessonii yang ditemukan dengan kondisi cangkang yang sudah rusak. Demikian pula dengan beberapa spesies yang ditemukan pada stasiun 17 dan 19 juga ditemukan dengan kondisi cangkang yang rusak. Hal tersebut dapat dimungkinkan akibat hempasan arus sehingga dapat menghancurkan cangkang foraminifera bentik yang terdapat di perairan tersebut.
Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura
80
Quinqueloculina melimpah di Pulau Pari dan Pulau Belanda, Kepulauan Seribu pada kedalaman 26-32 m, sedangkan Barker (1960) menemukannya di bagian selatan Papua pada kedalaman 37 m. Graham dan Milante (1959) menemukan spesies-spesies tersebut sangat melimpah pada beberapa stasiun di Teluk Puerto Galera, Philipina dan termasuk spesies kosmopolitan.
Spesies yang ditemukan hampir di seluruh stasiun adalah Ammonia beccarii dan Pseudorotalia schroeteriana. A. beccarii ditemukan sangat melimpah pada semua stasiun kecuali stasiun 13 dengan kedalaman yang mencapai 341 m. Menurut Hallock et. al. (2003), A. beccarii tergolong dalam spesies yang oportunis sehingga dapat ditemukan di berbagai lokasi yang berbeda. Walaupun demikian, terdapat spesies oportunis lain yang ditemukan dalam jumlah melimpah dan dominan pada stasiun 13, yaitu dari genus Bolivina. Genus tersebut didominasi oleh spesies Bolivina erlandi yang ditemukan mencapai 82 individu, sedangkan B. spathulata dan B. subspinecens masing hanya mencapai 26 dan 12 individu.
Sebagai spesies penciri perairan dangkal, P. schroeteriana juga ditemukan hampir di semua stasiun kecuali stasiun 13 dan 15. Spesies tersebut ditemukan dengan kelimpahan rendah sampai tinggi. Menurut Biswas (1976), P. schroeteriana merupakan penciri perairan dangkal, terbuka dengan tingkat energi arus menengah dengan sedimen pasir halus. Oleh karena itu karakeristik sebagian besar perairan Laut Arafura merupakan perairan dangkal, terbuka dengan tingkat energi arus menengah sampai kuat karena juga ditemukan Elphidium sebagai penciri perairan berarus kuat.
Selain itu, spesies dari genus Elphidium juga termasuk dalam genus oportunis sesuai dengan pernyataan
Hallock et al. (2003), terbukti dengan ditemukannya spesies tersebut pada 6 stasiun dari 11 stasiun yang diteliti. Namun, genus yang diwakili oleh E. craticulatum dan E. crispum tersebut hanya ditemukan dengan kelimpahan rendah sampai sedang (tidak lebih dari 50 individu). Spesies-spesies tersebut ditemukan pada stasiun yang memiliki kisaran kedalaman antara 35-60 m. Hal ini sesuai dengan hasil peneletian yang dilakukan oleh Murray (1973) dan Boltovskoy dan Wright (1976) yang menyatakan bahwa E. craticulatum dan E. crispum memiliki penyebaran yang luas dari daerah pantai hingga neritik tengah.
Natsir dan Rubiman
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 81 Selain foraminifera bentik, juga
ditemukan foraminifera planktonik yang menyebar hampir di semua stasiun kecuali stasiun 16, 17 dan 22. Begitu pula dengan fragmen moluska yang juga terdapat di hampir semua stasiun (Tabel 3). Hal ini diduga karena karakteristik perairan Laut Rafura yang terbuka dengan arus yang relatif kuat memungkinkan distribusi foraminifera planktonik dan fragmen moluska tersebut ke beberapa staiun disekitarnya, termasuk perairan dalam (stasiun 23).
IV. KESIMPULAN
Jumlah spesies yang ditemukan di perairan Laut Arafura dari sekitar Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru hingga Pulau Dolak adalah 37 spesies yang termasuk dalam 29 genus. Sebagian besar spesies yang ditemukan merupakan anggota dari subordo Rotaliina dan beberapa spesies yang merupakan
anggota Milioliina dan Textulariina. Spesies yang ditemukan merata hampir di semua stasiun adalah Ammonia beccarii dan Pseudorotalia schroeteriana. Berdasarkan distribusi foraminifera bentik yang ditemukan, karakeristik sebagian besar perairan Laut Arafura merupakan perairan dangkal, terbuka dengan tingkat energi arus menengah sampai kuat. Selain P. schroeteriana, juga ditemukan spesies penciri lainnya seperti dari genus Elphidium dan Quinqueloculina. Selain itu, pada perairan terbuka tersebut juga ditemukan foraminifera planktonik yang dtersebar merata hampir di setiap stasiun. Jenis sedimen yang mendominasi perairan Laut Arafura adalah Lumpur pasiran dengan sedikit lempung. Jumlah individu terbanyak diperoleh dari stasiun dengan sedimen lumpur pasiran, sedangkan jumlah spesies terbanyak diperoleh dari sedimen pasir lumpuran dengan butiran pasir sedang sampai kasar.
Tabel 3. Organisme selain foraminifera bentik yang ditemukan dari sampel yang berasal dari perairan Laut Arafura
Keterangan Stasiun
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
Foraminifera planktonik - - - Moluska - - - - - -
Bryozoa - - - -
Gastropoda - - - - - - - -
Ostracoda - - - - - -
Fragmen karang - - - - - - - - Fragmen moluska - - Keterangan: = terdapat dalam jumlah banyak; = terdapat dalam jumlah sedang; = terdapat dalam jumlah sedikit;
− = tidak ada
Distribusi Foraminifera Bentik Resen di Laut Arafura
82
DAFTAR PUSTAKA
Barker, R.W. 1960. Taxonomic Notes. Society of Economic Paleontologist and Mineralogist. Special Publication No. 9. Tulsa. Oklahoma, USA. 238 pp.
Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976. Recent Foraminifera. Dr. W. June, B. V. Publisher, The Haque, Netherland.
Graham, J.J. and Militante. 1959. Recent Foraminifera from The Puerto Galera Area Northern Mindoro, Philippines. Stanford University, California.
Hallock, P., B.H. Lidz, E.M. Cockey-Burkhard, and K.B. Donnelly. 2003. Foraminifera as bioindicators in coral reef assessment and monitoring: the FORAM Index. Environmental Monitoring and Assessment, 81(1-3):221-238.
Katili, J.A. 1986. Geology and hydrocarbon potential of the Arafura Sea. In: Future Petroleum Provinces of the World. AAPG Memoir 40, M.T. Halbouty (editor) 487-501.
Murray, J. W. 1973. Distribution and Ecology of Living Foraminifera. The John Hopkins Press. Baltimore.
Rositasari R. dan S. K. Rahayuningsih. 2000. Foraminifera Bentik: Dalam Foraminifera sebagai bioindikator pencemaran, hasil studi di perairan estuarin Sungai Dadap, Tangerang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: 3-26.
Shepard, F. P. 1954, Nomenclature based on sand-silt-clay ratios: Journal of Sedimentari Petrology, 24:151-158.
Suhartati, M.N. 1994. Benthic Forami-nifera In The Seagrass Beds of Pari Island, Seribu Islands, Jakarta. Proceedings. Third ASEAN-Australia Symposium on Living Coastal Resources. Volume 2: Research Papers. Chulalongkorn University Bangkok, Thailand. 323p.
________. 2010. Sebaran Foraminifera Bentik di Pulau Belanda, Kepulauan Seribu pada Musim Barat. Ilmu Kelautan, Edisi khusus, 2:381–387.
Wagey, T., Arifin, Z. 2008. Marine Biodiversity Review of The Arafura and Timor Seas. Ministry of Marine Affairs and Fisheries, Indonesian Institute of Sciences, United Nation Development Program, and Cencus of Marine Life. Jakarta. 136 pp.
Wentworth, C. K. 1922, A scale of grade and class term for clastic sediment. Jour. Geol. 30:337-392
E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 1, Hal. 9-18, Juni 2010
©Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 9
KELIMPAHAN FORAMINIFERA RESEN PADA SEDIMEN PERMUKAAN DI TELUK AMBON
THE ABUNDANCE OF RECENT FORAMINIFERA IN SURFACE SEDIMENT OF AMBON BAY
Suhartati M. Natsir
Pusat Penelitian Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Pasir Putih 1, Ancol Timur, Jakarta, Indonesia (14430)
ABSTRACT
Foraminifera are generally live in sea water with various sizes. These organisms consist of planktonic and benthic foraminifera. Geological activity on plutonic and volcanic with vomiting magma is transpiring on, and then affects sedimentation and foraminiferal abundance of Ambon Bay. The study was determined to study the abundance and distribution of foraminifera based on the sediment characteristic of Ambon Bay. Sample collected in 2007 of Ambon Bay showed that only 29 samples of 50 samples containing foraminifera. The collected sediments have 86 species of foraminifera, consisting 61 species of benthic foraminifera and 25 species of planktonic foraminifera. The dominant benthic foraminifera in the surface sediment of Ambon bay were Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium craticulatum, Operculina ammonoides and Quinqueloculina parkery. The planktonic foraminifera that were frequently collected from the bay were Globorotalia tumida, Globoquadrina pseudofoliata,
Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan Pulleniatina finalis. Generally, the species dwelled as abundant on substrate sand, whereas the areas within substrate mud have no foraminifera lie on them.
Keywords: Foraminifera, Abundance, Sediment, Ambon Bay
ABSTRAK
Mayoritas anggota foraminifera hidup pada lingkungan laut dan mempunyai ukuran yang beragam. Menurut habitatnya, foraminifera dibagi menjadi foraminifera planktonik dan foraminifera bentik. Sedimen permukaan Teluk Ambon merupakan salah satu lokasi ditemukannya foramifera bentik maupun planktonik. Teluk Ambon bagian dalam memiliki bentuk membulat. Kegiatan geologi berupa plutonik dan vulkanik yang diikuti oleh naiknya magma granetik pada fase pengangkatan geoantiklin di teluk tersebut masih aktif sehingga dapat mempengaruhi pembentukan sedimen serta kondisi foraminifera di Teluk Ambon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kelimpahan dan penyebaran foraminifera berdasarkan karakteristik sedimen permukaan di perairan Teluk. Hasil identifikasi dari 50 sampel sedimen yang diambil dari Teluk ambon pada tahun 2007 menunjukkan bahwa hanya terdapat 29 sampel yang mengandung foraminifera. Foraminifera yang ditemukan pada sedimen permukaan di Teluk Ambon mencapai 86 spesies yang terdiri dari 61 spesies foraminifera bentik dan 25 spesies foraminifera planktonik. Spesies foraminifera bentik yang mendominasi sedimen permukaan perairan Teluk Ambon adalah Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium craticulatum,Operculina ammonoides dan Quinqueloculina parkery. Foraminifera planktonik yang sering dijumpai adalah Globorotalia tumida, Globoquadrina pseudofoliata,
Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan Pulleniatina finalis. Pada umumnya spesies tersebut ditemukan melimpah pada sedimen pasir, sedangkan pada sedimen lumpur tidak ditemukan baik foraminifera bentik maupun planktonik.
Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 10
I. PENDAHULUAN
Foraminifera termasuk dalam Filum Protozoa yang mulai berkembang pada jaman Kambrium sampai Resen. Mayoritas anggotanya hidup pada lingkungan laut dan mempunyai ukuran yang beragam mulai dari 3 μm sampai 3 mm
(Haq and Boersma, 1983). Menurut habitatnya, foraminifera dibagi menjadi foraminifera planktonik dan foraminifera bentik. Foraminifera merupakan organisme bersel tunggal yang mempunyai kemampuan membentuk cangkang dari zat-zat yang berasal dari dirinya sendiri atau dari benda asing di sekelilingnya. Dinding cangkang tersebut mempunyai komponen dan struktur yang bervariasi.
Sedimen permukaan Teluk Ambon merupakan lokasi ditemukannya foramifera bentik maupun planktonik. Kondisi sedimen ini sangat dipengaruhi oleh mineral penyusun dan sifat fisiknya. Menurut Ongkosongo et al. (1978), mineral kuarsa dan fragmen batuan beku mendominasi Teluk Ambon merupakan pembatas populasi foraminifera, yang ditunjukkan dari seringnya sampel sedimen tidak mengandung foraminifera. Teluk Ambon terletak pada busur Banda dalam sistem Banda dan terletak pada koordinat geografi 128°4’15” – 128°14’25” BT dan 3°37’55” LS – 3°47’35” LS. Menurut Van Bemelen (1949 ) dan Dwiyanto et al. (1988), stratigrafi yang melatarbelakangi Teluk Ambon adalah batuan sedimen berumur Trias Atas sampai Ultra Basa. Kegiatan geologi selanjutnya adalah plutonik dan vulkanik yang diikuti oleh naiknya magma granetik pada fase pengangkatan geoantiklin (Lubis et al., 1988). Kegiatan-kegiatan geologi ini masih aktif sehingga dapat berpengaruh terhadap pembentukan sedimen serta kondisi foraminifera di Teluk Ambon. Pada umumnya foraminifera hidup pada dasar
perairan dengan substrat pasir. Boltovskoy and Wright (1976), Dewi (1984) dan Dewi (2010) menyatakan bahwa beberapa spesies foraminifera bentik banyak dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur pasiran. Begitu pula hasil studi yang dilakukan oleh Renema (2008) yang menemukan beberapa spesies yang melimpah pada substrat karang bercampur pasir di Kepulauan Seribu.
Menurut King (1974), pembentukan sedimen pada perairan tertutup sangat dipengaruhi oleh daratan yang berdekatan, seperti halnya Teluk Ambon yang di apit oleh daratan Laihitu dan Laitimur. Proses pencucian yang ditimbulkan oleh energi gelombang dan arus serta tekanan aliran muara sungai menyebabkan agregat sedimen dari darat dapat diuraikan menjadi partikel sedimen berbagai ukuran. Dinyatakan oleh Davies (1980), bahwa energi kinetik di setiap tempat berbeda-beda sehingga ukuran partikel sedimen bervariasi sesuai dengan besar energi kinetik yang terjadi. Berdasarkan variasi sedimen tersebut, diduga mengakibatkan adanya perbedaan jenis foraminifera yang terdapat di daerah tersebut. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis foraminifera berdasarkan perbedaan jenis sedimen permukaan yang terdapat di suatau perairan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kelimpahan dan penyebaran foraminifera berdasarkan karakteristik sedimen permukaan di perairan Teluk .
II. BAHAN DAN METODE
Natsir
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 11
sampel yang diambil dilakukan dengan analisis granulometri menggunakan ayakan berukuran 0,063 – 4 mm. Pengelompokan butir sedimen dilakukan berdasarkan skala Wenworth (1922) dan penamaannya berdasarkan klasifikasi Shepard (1960) Preparasi sampel untuk identifikasi foraminifera dilakukan dengan beberapa tahap, antara lain pencucian, picking, deskripsi dan identifikasi serta sticking dan dokumentasi. Sebelumnya, masing-masing sampel ditimbang sebanyak 50 gram, ditambahkan 10% formaldehide, dibiarkan selama 24 jam dan disaring. Hasil saringan tersebut direndam dengan rose bengal 50% selama 24 jam, dan dicuci lagi dengan air bersih. Pencucian sampel dilakukan dengan air mengalir diatas saringan dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 30°C selama 2 jam. Setelah pencucian dan pengeringan, saringan harus direndam dalam larutan methylene blue untuk mencegah kontaminasi oleh sampel berikutnya dan dicuci. Tahap selanjutnya adalah picking yang dilakukan dengan menyebarkan 25 gram sampel yang telah kering pada extraction tray dibawah
mikroskop secara merata. Foraminifera yang terdapat dalam sampel tersebut diambil dan disimpan pada foraminiferal slide.
Kemudian dilakukan proses deskripsi dan identifikasi terhadap spesimen yang didapatkan. Spesimen yang telah dipisahkan diklasifikasikan berdasarkan morfologinya seperti bentuk cangkang, bentuk kamar, formasi kamar, jumlah kamar, ornamentasi cangkang, kemiringan apertura, posisi apertura dan kamar tambahan. Sedangkan proses identifikasi dilakukan berdasarkan berbagai referensi tentang foraminifera. Tahap selanjutnya merupakan kajian sistemik dan analisis kuantitatif untuk mendapatkan data kelimpahan. Foraminifera bentik yang ditemukan diklasifikasikan dalam foraminifera bentik dan foraminifera planktonik. Proses sticking dan dokumentasi dilakukan dengan meletakkan spesimen yang terpilih pada foraminiferal slide dengan posisi tampak apertura, tampak dorsal, tampak ventral dan tampak samping yang kemudian didokumentasikan dibawah mikroskop.
Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 12
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil identifikasi dari 50 sampel sedimen yang diambil menunjukkan bahwa hanya terdapat 29 sampel yang mengandung foraminifera. Hal ini menunjukkan kemungkinan faktor ekologis yang menyebabkan 21 lokasi lainnya tidak menunjang kehidupan foraminifera terutama jenis substrat yang lebih didominasi oleh lumpur. Boltovskoy and Wright (1976) dan Dewi (1984) menyatakan bahwa Asterorotalia trispinosa dan Ammonia beccarii banyak dijumpai pada sedimen pasir dan lumpur pasiran dengan turbiditas yang rendah. Turbiditas dapat mempengaruhi penetrasi cahaya matahari di perairan, sehingga akan mempengaruhi fotosintesis. Akibatnya jumlah oksigen akan berkurang pada turbiditas tinggi. Secara umum di perairan dengan turbitas tinggi, popolasi foraminifera bentik akan berkurang.
Berdasarkan jenisnya, foraminifera yang terdapat di Teluk Ambon cukup heterogen, yaitu terdapat 86 spesies. Secara keseluruhan, foraminifera bentik yang ditemukan pada stasiun pengamatan mencapai 61 spesies. Jumlah tersebut relatif lebih banyak dibandingkan dengan foraminifera planktonik yang hanya mencapai 25 spesies (Tabel 1). Hal ini berkaitan dengan sampel yang diambil, yaitu sedimen permukaan sebagai habitat yang sesuai untuk kehidupan foraminifera bentik. Secara tekstural, sedimen permukaan yang terdapat di perairan Teluk Ambon terdiri dari 7 jenis, yaitu lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, pasir krakalan, krakal pasiran dan krakal (Tabel 2).
Keberadaan foraminifera bentik mendominasi setiap stasiun yang mengandung foraminifera. Bahkan pada beberapa stasiun sama sekali tidak ditemukan foraminifera planktonik, yaitu stasiun 8, 22, 25, 35, 36, 39, 45 serta 46.
Secara umum, foraminifera bentik lebih banyak dijumpai pada sedimen yang didominasi oleh pasir. Foraminifera bentik ditemukan melimpah pada stasiun 4, yaitu sebanyak 129 individu. Begitu pula dengan kelimpahannya di stasiun 2, 18, 38 dan 43 yang masing-masing mencapai 113, 9l, 88 dan 83 individu (Gambar 2).
Natsir
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 13
Tabel 1. Spesies foraminifera yang ditemukan di Teluk Ambon
No Spesies No Spesies
a. Foraminifera Bentik
1. Ammonia beccarii 32. Nodosari sp.
2. Ammonia umbonata 33. Nonion depressulum
3. Amphistegina lessonii 34. Operculina ammonoides
4. Amphistegina quoyii 35. Peneroplis pertusus
5. Anomalinella rostata 36. Peneroplis planatus
6. Baculogypsina sphaerulata 37. Piliolina papelliformis
7. Bolivina earlandi 38. Planorbulina larvata
8. Bolivina schwagerina 39. Pleurostomella sp.
9. Calcarina calcar 40. Pseudomassilina macilenta
10. Cancris oblongus 41. Pseudorotalia schroeteriana
11. Cibicides praecinctus 42. Pyrgo depressa
12. Discorbina mira 43. Pyrulina angusta
13. Discorbina sp. 44. Quinqueloculina auberiana
14. Elphidium advenum 45. Quinqueloculina granulocostata
15. Elphidium craticulatum 46. Quinqueloculina lamarckiana
16. Elphidium crispum 47. Quinqueloculina parkery
17. Elphidium macellum 48. Quinqueloculina pulchella
18. Eponide umbonatus 49. Quinqueloculina seminula
19. Eponides repandus 50. Quinqueloculina seminulum
20. Heterostegina depressa 51. Quinqueloculina sp. 21. Hoglundina elegans 52. Quinqueloculina tropicalis
22. Lecticulina cultrate 53. Reusella simlex
23. Lecticulina elegans 54. Reusella sp.
24. Lecticulina sp. 55. Siphogenerina alveolifrmis
25. Loxostomum amygdalaeformis 56. Siphogenerina raphanus
26. Marginophora vertebralis 57. Spiroloculina angulata
27. Massilina crenata 58. Spiroloculina communis
28. Massilina milleti 59. Spiroloculina sp. 29. Miliolinella oblonga 60. Textularia agglutinans
30. Miliolinella sublineata 61. Triloculina tricarinata
31. Neocorbina terquemi
b. Foraminifera Planktonik
1. Globigerina bulloides 14. Globorotalia seiglei
2. Globigerina falconensis 15. Globorotalia trucatulinoides
3. Globigerinella callida 16. Globorotalia tumida
4. Globigerinoides conglobatus 17. Globorotalia ungulata
5. Globigerinoides cyclostomus 18. Neogloboquadrina blowi
6. Globigerinoides fistulosus 19. Neogloboquadrina humerosa
7. Globigerinoides ruber 20. Orbulina universa
8. Globigerinoides sacculifer 21. Pulleniatina finalis
9. Globoquadrina pseudofoliata 22. Pulleniatina obliqueloculata
10. Globorotalia bermudezi 23. Pulleniatina praecursor
11. Globorotalia menardii 24. Pulleniatina primalis
12. Globorotalia pseudopumilio 25. Spheroidinella dehiscens
Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...
E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
14
Gambar 2. Kelimpahan foraminifera pada sedimen permukaan di Teluk Ambon
Hasil analisis yang didapatkan di Teluk Ambon menunjukkan bahwa foraminifera pada umumnya ditemukan pada sedimen pasir dengan ukuran partikel 60,063 – 0,500 mm. Jumlah spesies semakin banyak pada daerah-daerah yang semakin dalam dan pada sedimen yang memiliki kadar pasir yang cukup tinggi. Hal ini sama dengan yang ditemukan oleh Mintoba (1970) di Teluk Miyogi, Jepang dan Susmiati (1981) di Teluk Jakarta. Suhartati (1994) menyatakan bahwa Ammonia beccarii ditemukan dalam jumlah yang melimpah di Delta Mahakam dan Citarum pada kedalaman antara 1,5 – 10 m yang didominasi oleh sedimen pasir dan lumpur. Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan foraminifera, terutama foraminifera bentik yang hidup di dasar laut. Uchio (1966) dalam penelitiannya di San Diego, California, menyatakan bahwa tipe sedimen menentukan populasi foraminifera. Boltovskoy and Wright (1976), Dewi (1984) menyatakan bahwa foraminifera bentik banyak dijumpai pada sedimen
pasir dan lumpur pasiran terutama dari spesies Asterorotalia trispinosa dan Ammonia beccarii. Beberapa spesies foraminifera bentik yang ditemukan hampir di semua lokasi adalah Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium craticulatum, Operculina ammonoides dan Quinqueloculina parkery. Kelima spesies tersebut ditemukan mendominasi hampir di semua lokasi yang ditemukan foraminifera.
Natsir
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 15
Gambar 3. Kelimpahan spesies pada sedimen permukaan di Teluk Ambon
Pada perairan dangkal, seperti pada Stasiun 22, dijumpai spesies penciri laut dangkal seperti Ammonia beccarii, Quinqueloculina, Elphidium dan Amphistegina. Hallock dalam Buzas and Gupta (1982) menyatakan bahwa beberapa spesies dari genus Amphistegina hidup, tumbuh dan bereproduksi dengan baik pada perairan dangkal (kurang dari 3 meter) dengan intensitas cahaya yang tinggi. Albani (1979) menyatakan bahwa spesies dari Subordo Milioliina (Spiroloculina communis, Quinqueloculina granulocostata, Q. parkery) merupakan spesies perairan dangkal. Pada lokasi-lokasi yang lebih dalam, yaitu Stasiun l8 (15 m), ditemukan 5 spesies foraminifera planktonik dan 9 spesies foraminifera bentik yang semuanya berasal dari laut dangkal. Pada kedalaman lebih dari 35 m banyak dijumpai foraminifera planktonik, bahkan terkadang baik jumlah spesies maupun individu lebih banyak ditemukan daripada jenis foraminifera bentik. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh arus dari Laut Banda cukup besar terhadap Teluk Ambon sehingga dapat membawa foraminifera bentik menyebar ke daerah lain.
Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...
E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
16
Kebanyakan foraminifera hidup dan tumbuh secara optimal pada daerah yang memiliki sedimen dasar pasir maupun lumpur pasiran Boltovskoy and Wright (1976). Renema (2008) menemukan dua spesies dari marga Amphistegina di lereng terumbu (reef slope) pada pecahan karang (rubble) atau pecahan karang bercampur pasir bersama-sama dengan beberapa spesies dari marga Calcarina di Kepulauan Seribu. Beberapa spesies Calcarina yang ditemukan melimpah di paparan terumbu (reef flat) dan puncak terumbu (reef crest), atau yang berasosiasi dengan alga dan makroalga seperti Sargassum,
Galaxaura dan Chelidiopsis. Sifat fisik sedimen di Teluk Ambon berkaitan dengan keberadaan foraminifera yang umunnya menempati sedimen yang memiliki kandungan pasir, sedangkan pada sedimen lumpur dan lanau tidak ditemukan foraminifera. Pada tempat-tempat tertentu, seperti stasiun 4 dan 2 terjadi akumulasi sedimen pasir dan di sini paling banyak ditemukan foraminifera. Namun, pada stasiun 6, 10, dan 11 sama sekali tidak dijumpai foraminifera, Pada lokasi ini mungkin foraminifera mengalami pencucian dan bergerak ke lokasi lain.
Tabel 2. Jenis sedimen permukaan di Teluk Ambon
Stasiun Sedimen Stasiun Sedimen
1 Pasir 26 Krakal pasiran
2 Pasir 27 Krakal
3 Pasir 28 Pasir
4 Pasir 29 Pasir lumpuran
5 Pasir lumpuran 30 Pasir lumpuran
6 Pasir krakalan 31 Pasir lumpuran
7 Pasir krakalan 32 Pasir lumpuran
8 Pasir lumpuran 33 Pasir
9 Krakal 34 Pasir
10 Krakal pasiran 35 Pasir
11 Krakal pasiran 36 Pasir
12 Pasir krakalan 37 Pasir
13 Pasir lumpuran 38 Pasir
14 Pasir lumpuran 39 Lumpur pasiran
15 Krakal pasiran 40 Lumpur
16 Pasir 41 Pasir
17 Pasir krakalan 42 Pasir
18 Pasir krakalan 43 Pasir
19 Pasir krakalan 44 Lumpur
20 Pasir krakalan 45 Pasir
21 Pasir krakalan 46 Pasir
22 Pasir krakalan 47 Lumpur
23 Lumpur pasiran 48 Lumpur pasiran
24 Pasir krakalan 49 Pasir
Natsir
http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt21 17
IV. KESIMPULAN
Foraminifera yang ditemukan pada sedimen permukaan di Teluk Ambon mencapai 86 spesies yang terdiri dari 61 spesies foraminifera bentik dan 25 spesies foraminifera planktonik. Spesies foraminifera bentik yang ditemukan hampir di semua lokasi adalah Amphistegina lessonii, Ammonia beccarii, Elphidium craticulatum, Operculina ammonoides dan Quinqueloculina parkery. Kelima spesies tersebut ditemukan mendominasi hampir di semua sedimen permukaan perairan Teluk Ambon. Foraminifera planktonik yang sering dijumpai adalah Globorotalia tumida, Globoquadrina pseudofoliata, Globigerinoides pseudofoliata, Globigerinoides cyclostomus dan Pulleniatina finalis. Foraminifera pada umumnya ditemukan melimpah pada daerah yang memiliki sedimen pasir, sedangkan pada sedimen lumpur sama sekali tidak ditemukan baik foraminifera bentik maupun planktonik .
DAFTAR PUSTAKA
Albani, R. D. 1979. Recent Shallow Water Foraminifera From New South Wales. AMS Handbook No. 3. The Australian Marine Assosiation, Australia.
Van Bemelen, R.W. 1949. The gology of Indonesia, V.IA, Government Printing Office, The Hague: 640 p.
Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976. Recent Foraminifera. Dr. W. June, B. V. Publisher, The Haque, Netherland.
Buzas, M. A. and B. K. Gupta. 1982. Foraminifera. Notes for a Short Course. University of Tennessee. Department of Geological Science, Louisiana.
Davies, J.L. 1980. Geographical variation in coastal development. Lowe & Brydone Printers limited. Thetford, Nortfolk. 212p.
Dewis, K.T., Suhartati, M.N. dan Y. Siswantoro. 2010. Mikrofauna (Foraminifera) Terumbu Karang Sebagai Indikator Perairan Sekitar Pulau-Pulau Kecil. Ilmu Kelautan, Edisi khusus, 1:162– 170.
Dewi, T. 1984. Ecology of Recent Benthic Foraminifera from the North Java Central Zones. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Dwiyanto, B., T.A. Soeprapto, dan M. Hanafi. 1988. Laporan geology dan fisika kelautan di perairan Teluk Ambon, Maluku. Dep. Pertambangan dan Energi, PPGL, Bandung. 155hal.
Haq, B.U. and Boersma. 1983. Introduction to Marine Micropaleontology. Elsevier Biomedical. New York, Amsterdam, Oxford. Hedley, R.H and C.G. Adams.
Kennet, J.P. 1982. Marine geology. Prentice Hal, Inc. Englewood Cliffs, 822p.
King, C.A.M. 1974. Techniques to marine geology. Edward Arnold (Publishers) Ltd. 41 London, 309p.
Lubis, S., M. Widjajanegara, Wahyudi, I Wayan Lugra, dan A. Wahib 1988. Laporan penyelidikan geofisika marine di Teluk Ambon Maluku. Dep. Pertambangan dan Energi, PPGL, Bandung: 62hal. Mintoba, Y. 1970. Distribution of recent
Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan ...
E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol.2, No.1, Juni 2010
18
Ongkosongo, O.S.R., Soemoenar, dan Susmiati. 1978. Foraminifera resen dari daerah kehidupan hutan bakau di Teluk Ambon. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Jakarta, 129-138.
Renema, W., 2008. Habitat Selective Factors Influencing the
Distribution of Larger Benthic Foraminiferal Assemblages Over the Kepulauan Seribu. Marine Micropaleontology, 68:286–298. Shepard, F.E. 1960. Nomenclature Based
on Sand-Silt-Clay Ratios. Journ. Sed. Petrology, 24:151–158. Stoddart, D.R. dan J.A. Streers. 1977.
The natural and origin of coral reef islands. Dalam “Biology and Geology of Coral Reef'” (O. Ajones dan R. Endean, eds). Academic Press, New York, San Francisco, London: 60–102.
Susmiati. 1981. Ekologi foraminifera bentonik resen di Teluk Jakarta. Skripsi Sarjana. Fak. Teknik, Jur. Geologi UGM, Yogyakarta.
Suhartati. 1994. The Distribution of Benthic Foraminifera in Citarum and Mahakam Delta, Indonesia. Symposium on Living Coastal Resources, Chulalongkorn University Bangkok, Thailand. Suwartana, A. 1986. Analisa parameter
morfometri perairan Teluk Ambon bagian dalam. Oseanologi di Indonesia, 2l:37–52.
Uchio, T. 1966. Ecology of living benthonic fomraminifera from the San Diego, California area. Cushman foundation for Foraminifera Research, Special Publication No.5.
Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Desember 2009 (D) 09:12-11
Potensi Komunitas Plankton dalam Mendukung Kehidupan
Komunitas Nekton di Perairan Rawa Gambut, Lebak Jungkal di
Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI),
Propinsi Sumatera Selatan
Effendi Parlindungan Sagala
Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia
Intisari: Analisis plankton telah dilakukan di laboratorium terhadap contoh air yang diambil dari perairan Danau
Lebak Jungkal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan jenis-jenis plankton, September, 2009. Dari pengamatan tersebut diperoleh 38 spesies plankton yang terbagi menjadi 26 jenis termasuk fitoplankton dan 12 spesies zooplankton. Secara keseluruhan termasuk ke dalam 7 kategori taksonomi (Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Diatomae/Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda dan Rotifera). Ke-limpahan komunitas plankton berkisar dari 49 individu/liter (Lebak Bahanan) hingga 79 individu/liter (Lebak Betung). Dari hasil studi yang dilakukan ternyata, keanekaragaman yang tertinggi adalah fitoplankton dari kelompok takson Chlorophyceae, yaitu terdiri dari 11 spesies dengan penyebaran 2 spesies yang hanya dijumpai di Lebak Bahanan dan 6 spesies hanya terdapat di Lebak Betung serta 3 spesies dijumpai pada Lebak Bahanan dan Lebak Betung. Keanekaraga-man tertinggi kedua adalah fitoplankton dari kelompok takson Diatomae atau Bacillariophyceae, yaitu terdiri dari sekitar 10 spesies dengan penyebaran 1 spesies yang hanya dijumpai di Lebak Bahanan dan 2 spesies yang hanya dijumpai di Lebak Betung serta 7 spesies dijumpai pada Lebadan Bahanan dan Lebak Betung. Dengan demikian, ganggang hijau (Chlorophyceae) dan ganggang kersik (Diatomae) ini berperanan penting dalam menopang produktivitas primer ekosis-tem di perairan Danau Lebak Jungkal. Potensi komunitas plankton diperlihatkan taksa Chlorophyceae, Diatomae dan Flagellata. Berdasarkan data yang diperoleh, maka perairan Danau Lebak Jungkal yang diambil pada September, 2009 adalah tergolong perairan dengan kesuburan rendah. Kondisi ini ditandai tidak hanya kelimpahan plankton yang rendah tetapi juga dari beberapa parameter fisika kimia yang juga tidak menguntungkan. Kandungan C-organik yang tinggi (505,6 mg/l), kandungan fosfat yang rendah (0,38 mg/l) dan juga kandungan NH4 yang rendah (3,15 mg/l) juga rendah akan menghambat pertumbuhan phytoplankton dan pada gilirannya zooplankton.
Kata kunci: Potensi, Komposisi, kelimpahan, plankton, phytoplankton, zooplankton, takson, taksa
Abstract: Analysis plankton had be done in laboratorium for water sample from Danau Lebak Jungkal waters,
subregion Pampangan, Region Ogan Komering Ilir to know the composition and abundance of plankton species, September, 2009. From the observation can find 38 species plankton consists 26 species phytoplankton and 12 species zooplankton. All of plankton consists of 7 category taxonomy (Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Di-atomae/Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda danRotifera). The abundance of plankton in Danau Lebak Jungkal waters was 49 inviduals/liter (Lebak Bahanan) upto 79 inviduals/liter (Lebak Betung). Base to results of studies, in fact that highest diversity was phytoplankton from Chlorophyceae, namely 11 species with 2 species only in Lebak Bahanan and 6 spesies only in Lebak Betung and 3 species only in Lebak Bahanan and Lebak Betung. And the second highest diversity was phytoplankton from Diatomae (Bacillariophyceae), namely 10 species with 1 species only in Lebak Ba-hanan and 2 spesies only in Lebak Betung and 7 species only in Lebak BaBa-hanan and Lebak Betung. And than, the green algae (Chlorophyceae) and diatoms algae (Bacillariophyceae) are very importance to support the primary productivity in ecosystem of Danau Lebak Jungkal waters. The potency of plankton community showed by Chlorophyceae, Diatomae and Flagellata. From results of these research, can be said that Danau Lebak Jungkal waters at September 2009 was oligotrophic waters or the low fertility. This condition showed by low plankton populations and the low of organic matters (505,6 mg/l), phosphates (0,38 mg/l) and NH4 (3,15 mg/l) also so low and all of these can to limite the growth of phytoplankton and than to stop zooplankton.
Keywords: Composition, abundance, plankton, phytoplankton, zooplankton, category, taxonomy.
Desember 2009
c