• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret Orang Kebumen Tinjauan Filosofis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Potret Orang Kebumen Tinjauan Filosofis"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Potret Orang Kebumen; Tinjauan Filosofis Nilai Sosial-Harmoni Orang Jawa Mengenai Perbedaan Agama di Indonesia

Oleh Alfi Arifian, SS

Perbedaan seringkali memicu konflik terbuka yang kemudian memantik amarah dan keberingasan massa hingga membawa bencana. Kerusuhan Tolikara merupakan salah satu dampak gesekan sosial yang disebabkan oleh perbedaan ideologi; Islam dan Kristen (Gereja Injili di Indonesia – GIDI) hingga menyebabkan pembakaran Masjid Baitul Mustaqin pada 17 Juli 2015. Gesekan ini dipicu hal sepele, takbiran, saat pelaksaan salat Ied yang dianggap mengganggu kegiatan GIDI pada saat bersamaan. Paska Kerusuhan Tolikara pada 28 Agustus 2015, rombongan FKUB kabupaten Sorong mengunjungi Kebumen dalam rangka kunjungan kerja dan studi banding. Ketua FKUB kabupaten Sorong, KH. Ahmad Anderson Meage, S.Pd.I mengonfirmasi adanya gesekan sosial di Tolikara. Dia tidak membantah adanya perselisihan antara pemeluk Islam dan Nasrani di Papua, tapi dia juga menghimbau agar masyarakat tidak ikut terprovokasi pemberitaan media yang seringkali subjektif dalam menyampaikan informasi. Filosofi Sosial-Harmoni Orang Jawa

(2)

Karakter orang Jawa yang sangat menjaga harmoni ini ditunjukkan dengan beberapa contoh kecil di masyarakat. Orang Jawa enggan menegur secara vulgar, sebab hal ini dianggap sebagai perwujudan disharmoni yang akan merusak keseimbangan sosial, yakni memicu konflik. Pada zaman dahulu cara menegurnya menggunakan kidung, syair, cerita legenda, ataupun dengan sindiran yang santun tanpa menunjuk batang hidung. Orang Jawa takut bila nanti menyinggung perasaan orang lain, sebab ketersinggungan tersebut bisa memupuk dendam di kemudian hari dan akan menciptakan kerenggangan hubungan. Hal ini sudah dianggap melanggar nilai harmoni yang sudah mengakar dalam keyakinan luhur masyarakat Jawa. Orang Jawa juga tidak bisa menolak secara terbuka. Menolak apapun sudah dianggap perwujudan disharmoni. Salah satu penolakan yang diharuskan oleh masyarakat Jawa adalah menolak pujian. Makanya apabila datang pujian pasti dibalas dengan menghina diri sendiri (self-mockery). Sebagai contoh, “Sampeyan kok pinter yo iso mlebu STAN? Ah, mboten pak, namung bejan” (Kamu kok pinter ya bisa diterima di STAN? Ah, enggak pak, cuma lagi beruntung). Karena bagi orang Jawa menolak termasuk sikap yang mengarah pada konflik sosial, maka orang Jawa pun tidak menolak perbedaan, namun mereka juga tidak serta merta menerimanya. Contoh masuknya pengaruh eksternal di kalangan masyarakat Jawa tidak buru-buru ditentang atau ditolak, bahkan cenderung diterima secara terbuka asal pengaruh ini tidak mengganggu stabilitas masyarakat serta tidak menghilangkan kearifan lokal. Bila menilik sejarah maka pengaruh eksternal selalu diterima melalui proses adaptasi, asimilasi, serta modifikasi. Oleh karena itu, agama Islam di Indonesia tidaklah sama dengan Islam di Semenanjung Arabia. Ketika masuk nusantara pertama kali pada abad 16, agama Islam telah terpengaruh nilai lokal melalui proses akulturasi dengan agama Hindu. Akulturasi ini sangat erat dengan figur Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga yang menggunakan dakwah halus dengan menyusupi nilai-nilai Islam dalam kebudayaan lokal khususnya masyarakat Jawa, sehingga Islam secara perlahan bisa diterima masyarakat karena telah menyatu dengan kebudayaan setempat.

Potret Orang Kebumen dalam Menyikapi Perbedaan

(3)

Gombong. Istilah Wong Gombong pun lebih dikenal ketimbang nama kabupaten Kebumen. Gombong mewakili toleransi di kabupaten Kebumen dengan kehidupan harmoni masyarakatnya. Bisa dikata Gombong adalah miniatur Kota Roma. Ada benteng kolonial (Benteng Van der Wijck) di barak militer Dodik yang mirip Roman fort, ada sistem pengairan di muara Waduk Sempor yang mirip Roman aqueduct, serta tempat-tempat ibadah di setiap komun yang mewakili Roman temple. Untuk menjaga ketertiban kelompok masyarakat terbagi dalam komun-komun, meski mayoritas warganya membaur. Ada Kauman untuk orang-orang Arab and Pecinan untuk orang-orang etnis Tionghoa. Ini bukan upaya pengucilan ras, tetapi untuk menjaga ketertiban dan menghindari friksi atau konflik sosial. Kota Gombong memiliki gereja Katolik tertua, Santo Mikael, yang dibangun pada tahun ‘60an serta yayasan Pius Bhakti Utama yang berlokasi di Jalan Kartini dimana area ini berdampingan dengan masyarakat Muslim. Sejak gereja Santo Mikael berdiri belum pernah ada gesekan sosial lantaran perbedaan ideologi. Padahal gereja tua itu telah membunyikan loncengnya bertahun-tahun setiap jam, dan setiap menjelang Idul Fitri pemuda Muslim pun merayakan malam takbiran dengan takbir keliling dan sambil menabuh bedug, namun hal ini tidak pernah menjadi pemicu gesekan sosial.

(4)

‘Keporo Ngalah’ adalah Akar Harmoni

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia di bawah pemerintahan republik demokrasi dan Pancasila. Indonesia tidak menganut Hukum Islam secara konstitusional melainkan hukum tersebut hanya dipahami secara organisatoris dan individual. Bahkan sebagai kelompok religius dominan, Islam di Indonesia, khususnya di Kebumen tidak menerapkan hukum berdasarkan syariat Islam yang malahan praktik terhadapnya dianggap melanggar konstitusi, termasuk memaksa non-muslim untuk masuk Islam, menerapkan hukum ‘had’ maupun ‘qishash’ (atas kasus pembunuhan, pencurian, miras, perzinahan) ataupun memaksa non-muslim untuk membayar pajak (sebagai kaum dzimmi), sebab mayoritas orang Indonesia yang didominasi orang Jawa sangat toleran. Toleransi dan pluralisme hanya bisa dicapai berdasarkan konsep sosial harmoni. Jika harmoni telah terbangun di masyarakat, niscaya tidak akan pernah ada gesekan sosial ataupun konflik di negeri ini.

Tidaklah salah bila belajar dari filsafat sosial-harmoni orang Jawa, bahwa untuk menjadi ksatria setiap individu menunjukkan sikap ‘keporo ngalah’ (mengalah) bila dihadapkan dengan situasi konflik. Dalam falsafah Jawa yang merujuk harmoni, ‘keporo ngalah’ merupakan akar harmoni. ‘Keporo ngalah’ merupakan penguasaan diri atas hati untuk bersabar guna meraih ketentraman hidup di masyarakat. Sama halnya dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa “orang terkuat adalah orang yang bisa menguasai hati untuk bersabar”. Mengalah lebih meninggikan martabat ketimbang adu urat yang di kemudian hari akan merusak keseimbangan sosial (konflik sosial berupa tawuran antar geng ataupun perang ideologis) seperti nilai luhur yang dipercaya orang Jawa.

*Penulis adalah pengamat sosial-budaya

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil univarian terdapat 4 parameter (SVL. lebar mulut) yang merupakan sifat dimorfisme seksual; untuk uji korelasi terdapat 14 nilai korelasi yang berbeda nyata antara betina

Kemungkinan penerapan teori mengenai permasalahan dominan pad a perpustakaan ini adalah penggunaan sirkulasi campuran dan fleksibilitas ruang berdasarkan

Pada halaman ini terdapat form data laporan buku besar ini dipanggil dari menu utama, pilih menu laporan keuangan kemudian pilih submenu buku besar, kemudian

Dari hasil pemotongan citra, kemudian dilakukan proses grayscale dan histogram untuk mendapatkan nilai piksel pada udang sehat dan udang sakit yang ditunjukkan dalam Tabel 1

Terkait dengan pandangan ini perspektif ini, Mahfud (2001: 15) telah melakukan penelitian dengan berangkat dari asumsi bahwa konfigurasi politik suatu negara akan melahirkan

pada kadar air minyak dan FFA tidak efektif untuk memperbaiki kualitas minyak, namun untuk angka peroksida dan angka yodium sedikit menyumbangkan perbaikan dibandingkan

Terdapat perbedaan kadar trigliserida antara kelompok diet standar ad libitum dengan kelompok diet tinggi minyak sawit maupun kelompok diet tinggi minyak sawit +

Dari hasil analisis Servqual terbobot diketahui indikator yang harus ditingkatkan kualitas layanannya adalah Lay Out / tata letak ruangan Dinas Kependudukan