PEMBERLAKUAN HUKUM EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA
Bahwa pemberlakuan itu senidiri bermakna proses, cara, perbuatan memberlakukan (menurut KBBI) yang berarti bahwa jika ditarik kedalam mosi ini, maka pemberlakuan hukum ekonomi syariah berarti memberlakukan hukum ekonomi syariah kedalam kegiatan ekonomi di indonesia. apabila hukum ekonomi diartikan, maka Menurut Soedarto, Pengertian Hukum Ekonomi ialah keseluruhan peraturan, khususnya yang telah dibuat oleh pemerintah atau badan pemerintah, baik itu secara langsung maupun tidak langsung bertujuan untuk mempengaruhi perbandingan ekonomi di pasar-pasar, yang terwujud dalam perundangan perekonomian. Dalam perundangan itu diatur kehidupan ekonomi dari negara termasuk rakyatnya.
Rochmat Soemitro mengungkapkan bahwa Pengertian Hukum Ekonomi merupakan sebagian dari keseluruhan norma yang dibuat oleh pemerintah atau penguasa sebagai satu personifikasi dari masyarakat yang mengatur kehidupan kepentingan ekonomi masyarakat yang saling berhadapan.
kedalamnya. Jadi dalam hal ini perlu kami tekankan, pemberlakuan hukum ekonomi syariah bukan lah memberlakukan islam kepada seluruh rakyat Indonesia, sebab mesti dibedakan antara tujuan ekonomi dan tujuan akidah. Yang mana tujuan ekonomi adalah semata-mata guna mensejahterakan rakyat sebgaimana tertuang dalam tujuan Negara pada alinea keempat UUD NRI 1945 yang kemudian diejawantahkan dalam pasal 33 UUD NRI tahun 1945.
Sudah cukup lama umat manusia mencari sistem untuk meningkatkan kesejahteraannya khususnya di bidang ekonomi. Selama ini memang sudah ada beberapa sistem, diantaranya dua aliran besar sistem perekonomian yang dikenal di dunia, yaitu sistem ekonomi liberal-kapitalis, dan sistem ekonomi komunis. Tetapi sistem-sistem itu tidak ada yang berhasil penuh dalam menawarkan solusi optimal yang juga ditambah lagi dengan tejadinya krisis ekonomi di benua amerika maupun benua eropa yang jelas-jelas menganut system ekonomi liberal-kapitalis. Konsekuensinya orang-orang mulai berpikir mencari alternatif. Dan alternatif yang oleh banyak kalangan diyakini lebih menjanjikan adalah sistem ekonomi Islam. Karena sistem ini berpijak pada asas keadilan dan kemanusiaan. Oleh karenanya, sistem ini bersifat universal, tanpa melihat batas-batas etnis, ras, geografis, bahkan agama.
Sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang sangat baik. Sistem ekonomi ini tidak hanya di perbankan, namun mencakup semua sistem keuangan. Mulai dari perbankan, pasar modal, asuransi, hingga dana pension. Pangsa pasar ekonomi Islam di Indonesia sangat luas, hal ini disebabkan karena Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga tidak diragukan penerapan sistem ini.
Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dalam beberapa tahun terkahir ini, baik pada tataran teoritis-konseptual (sebagai wacana akademik) maupun pada tataran praktis (khususnya di lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non-bank),
Khusus di Indonesia Indonesia, beberapa tahun belakangan ini, lembaga-lembaga ekonomi yang berbasiskan syariah semakin marak di panggung perekonomian nasional. Mereka lahir menyusul krisis berkepanjangan sebagai buah kegagalan sistem moneter kapitalis di Indonesia.
Di Indonesia sendiri jika kita mengacu pada system ekonomi, maka dapat dibagi menjadi dua, yaitu konvensional dan syariah. Secara de facto system ekonomi di Indonesia telah memberlakukan system ekonomi syariah di beberapa kegiatan ekonominya yakni perbankan, pasar modal, asuransi, jaminan.
tahap yakni untuk bidang perbankan, asuransi dan pasar modal yang kemudian akan dilanjutkan kepada kegiatan ekonomi yang lain yang harus dirumuskan secara matang baik dari segi konseptual maupun dari segi actual nya.
Adapun Argumentasi penerapan hukum ekonomi syariah Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Bahwa hukum islam merupakan salah satu hukum nasional Inonesia, maka penerapan hukum ekonomi islam merupakan konsekuensi logis daripada pemberlakuannya. Perlu pula ditekankan bahwa ekonomi adalah lapangan hukum yang netral yang artinya tidak ada keberpihakan hukum ekonomi kepada suatu akidah tertentu.
2. Bahwa tujuan hukum ekonomi harus dibedakan dari tujuan akidah. Yang artinya dalam lapangan hukum ekonomi syariah pun bertujuan untuk mensejahterakan pelakunya. Seorang fuqaha(ahli hukum islam) asal Mesir bernama Prof. Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu:
1. Kemanfaatan kepada sesama
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakupi aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.
3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya) yaitu kesejahteraan.
syariah adalah suatu win-win solution guna menyelamatkan perekonomian Indonesia agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan seperti yang telah terjadi di Amerika dan Eropa.
3. Hakikatnya secara parsial ekonomi syariah telah diterapkan di Indonesia. Sepanjang tahun 1990an perkembangan ekonomi syariah di Indonesia relatif lambat. Tetapi pada tahun 2000an terjadi gelombang perkembangan yang sangat pesat ditinjau dari sisi pertumbuhan asset, omzet dan jaringan kantor lembaga perbankan dan keuangan syariah. Sistem keuangan Islam telah menjadi salah satu segmen keuangan yang pertumbuhannya paling cepat, diperkirakan mencapai 20% mulai 2008 hingga 2012. Saat ini ada US $600 miliar asset yang dikelola oleh perbankan Islam. Diperkitakan akan tumbuh mencapai satu triliyun dollar AS dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan yang pesat juga muncul dari segmen sistem keuangan Islam, misalnya Islamic mutual fund diperkirakan telah mencapai 300 miliyar dollar AS dan diperkirakan akan mencapai tiga kali lipat pada akhir dekade ini. Tahun 2007 pertumbuhan luar biasa terjadi pada pasar sukuk dunia yang tumbuh lebih dari 70%. Sukuk baru yang diluncurkan telah mencapai rekor yang tinggi sekitar 47 miliar dollar AS dan pasar sukuk dunia telah melebihi 100 miliar dollar AS.
ekonomi-industri dan menciptakan pasar bagi produk yang bersangkutan. Perguruan tinggi agama Islam memiliki peran menentukan bagi arah pengembangan ekonomi syariah dengan melibatkan sumber-sumber daya yang dimiliki dan berkontribusi secara nyata dalam perkembangan tersebut.
Beberapa diantaranya yaitu: STIE Syariah di Yogyakarta (1997), D3 Manajemen Bank Syariah di IAIN-SU di Medan (1997), STEI SEBI (1999) , STIE Tazkia (2000), PSTTI UI yang membuka konsentrasi Ekonomi dan Keuangan Islam (2001), dan STIS Azhar Center yang juga membuka konsentrasi Ekonomi Islam pada tahun 2006.
Perluasan itu juga terkait dalam bidang: 1. Pegadaian
2. Asuransi
3. Koperasi (BMT)
4. Pasar Modal Syariah (Syariah index) 5. Pasar uang
6. Multi Level Marketing
7. dan lembaga keuangan syariah lainnya.
4. Jika dilihat perkembangan ekonomi sariah didunia maka:
1. Inggris
Inggris adalah negara Barat pertama yang menerapkan sistem ekonomi Islam ini, kenyataannya data-data menunjukkan bahwa Inggris telah memberikan layanan keuangan Islam selama 20 tahun dan telah berkontribusi besar untuk menjadi pusat penyediaan keuangan Islam di negara-negara Barat. Dukungan kebijakan pemerintah dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Financial Services Authority (FSA) telah membuat situasi semakin kondusif bagi investor dalam negeri maupun luar negeri untuk mendorong bank-bank Islam beroperasi di Inggris.
of British, Islamic Sharia Council, dan Islamic Finance Council serta kebijakan pemerintah mampu bersinergis dalam membentuk kerangka ekonomi Islam yang kuat di Inggris. Artinya, ada titik temu antara kepentingan kaum muslim minoritas di Inggris yang tereksklusi secara finansial (sebelum 2004) akibat tidak adanya produk perbankan yang sesuai dengan azas-azas Islam, dengan kebijakan pemerintah yang mendukung berdirinya bank Islam pertama di tanah Eropa, yakni IBB.
Pembentukan kerangka fiskal dan peraturan yang memungkinkan ekonomi Islam memasuki Inggris sejak tahun 2004 oleh FSA telah menghasilkan dua keuntungan utama: 1) penghapusan pajak ganda dan perpanjangan keringanan pajak untuk perusahaan serta individu, 2) Reformasi pengaturan utang sesuai hukum Islam. Dengan kebijakan pemerintah Inggris yang akomodatif terhadap keuangan Islam, data menunjukkan bahwa kekuatan utama keuangan Islam di Inggris adalah: 1) Sejak 2008, London menawarkan pasar sekunder sukuk senilai 5 miliar US$, 2) Didukung oleh pajak dan regulasi yang kondusif (revisi dan penyesuaian UU Keuangan 2003, 2004, 2005, 2007, dan 2008), 3) Permintaan pasar telah mendorong pertumbuhan produk-produk inovatif seperti produk Islam di sektor properti (Islamic home financing), 4) Islamic Bank of Britain, yang berkantor pusat di Birmingham telah menyebarluaskan pangsa pasar hingga ke Midlands, Manchester, dan Wales
Secara global, permintaan layanan ekonomi Islam diperkirakan telah tumbuh lebih dari tiga kali lipat selama dekade terakhir, dari sekitar 150 miliar US$ pada pertengahan 1990-an menjadi 500 miliar US$ pada tahun 2006. Hingga tahun 2006, jumlah sukuk meningkat empat kali lipat menjadi 24 miliar US$, dana ekuitas dan investasi lainnya juga meningkat empat kali lipat menjadi 14 miliar US$, dan asuransi takaful dua kali lipat menjadi 3 miliar US$.Dengan semua faktor tersebut, potensi pertumbuhan jasa keuangan berbasis Islam di Inggris menjadi semakin masif.
mendirikan kantor cabang untuk menyediakan produk maupun layanan ekonomi Islam di Inggris. Meskipun begitu, penulis menduga bahwa penerapan ekonomi Islam ini sarat dengan kepentingan ekonomi politik Inggris di bidang SWF, FDI, maupun petrodollar terhadap negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council) yang kaya akan minyak bumi, bukan hanya upaya Inggris mencari sistem ekonomi alternatif atau pun menyediakan produk finansial terhadap kaum minoritas muslim Inggris.
2. Singapura
Perkembangan ekonomi Islam di Singapura ditandai dengan peluncuran sukuk Singapura yang pertama kali. Program keuangan Islam itu sebenarnya telah direncanakan sejak lama dan ditujukan untuk mempromosikan perbankan Islam sekaligus menjadikan Singapura sebagai titik jaringan keuangan Islam baru di wilayah Asia.
Pemerintah Singapura berusaha meyakinkan dunia atau pengusaha bahwa Sukuk yang dijalankan Singapura berdasarkan struktur Al-Ijarah dan telah dikaji secara mendalam dan seksama oleh para ulama terkenal. Dalam hal ini merujuk pada Bank Islam Asia dan Standrad Chartered Bank untuk mendapatkan aturan main sebagai pedoman agar perbankan berjalan
dengan prinsip-prinsip Syariah.
Program bernilai total 134 juta dolar (setara lebih dari 1,5 triliun rupiah dengan kurs 1 dolar = Rp. 11.730), memungkinkan bank central menerbitkan ikatan transaksi Islami jika ada invenstor yang menginginkan. Singapura sendiri yang memiliki mata di pasar minyak Timur Tengah kini mau tak mau juga mengalami peningkatan tuntutan terhadap investasi beretika syariah
keuangan global.
3. Perancis
Krisis Finansial yang melanda dunia belakangan ini telah banyak mengguncang bank-bank konvensional, baik itu bank-bank dari negara maju maupun bank-bank dari negara berkembang. Hal ini tentunya sangat meresahkan semua pihak, terutama ahli ekonomi yang mengkhawatirkan nasib perekonomian negaranya.
Di tengah bank-bank konvensional yang banyak terpuruk, bank syariah yang menganut sistem ekonomi syariah tetap jaya berdiri dan memancarkan cahayanya. Hal ini disebabkan dari keunggulan sistem ekonomi syariah yang tidak menggunakan instumen derivatif seperti sistem bank konvensional. Ekonomi syariah memberlakukan perjanjian yang pasti, artinya jika suatu perjanjian jual beli tidak transparan dan tidak pasti maka perjanjian tersebut tidak berlaku. Oleh sebab itu, ekonomi syariah jauh dari ketidakpastian. Jika terkena risiko, maka keuangan syariah akan berbagi risiko tersebut. Sedangkan pada bank konvensional, nasabah dan bank membagi risiko dari segala investasi sesuai dengan peraturan yang telah disetujui. Nilai-nilai Islam yang melarang transaksi perbankan syariah dari hal-hal berbau ribawi, maksiat, perjudian dan ketidakpastian menjadi keunggulan perbankan syariah.
4. Amerika
Krisis keuangan yang terjadi tahun ini dan bermula di Amerika Serikat mengakibatkan serta mempengaruhi semua keadaan ekonomi negara-negara didunia khususnya bursa saham dan dunia perbankan, tanpa terkecuali negara kita Indonesia juga mengalami dampaknya walaupun belum sampai memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian negara kita.
Pemerintah Amerika serikat seperti yang dikabarkan banyak media bahwa telah mengeluarkan program 700 milyar US Dollar untuk menyelamatkan krisis yang terjadi di negaranya. Para pakar dan ekonom Amerika bahkan dunia memperkirakan program yang dikeluarkan Pemerintah Amerika tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang sekarang dihadapi oleh Amerika, karena program pemerintah Amerika tersebut memberikan terapi bukan pada akar permasalahannya.