• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Bidan THE HISTORY (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Perkembangan Bidan THE HISTORY (1)"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

THE HISTORY OF

MIDWIFERY

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

PELOPOR DALAM PERKEMBANGAN KEBIDANAN

Bapak Pengobatan

Menaruh perhatian terhdap

kebidanan/keperawatan dan pengobatan • Wanita yang bersalin dan nifas

mendapatkan pertolongan dan pelayanan yang selayaknya

Hyppocrates (460–370 SM) dari Yunani

Bapak Kebidanan

Berpendapat bahwa seorang ibu yang telah melahirkan tidak takut akan hantu atau setan dan menjauhkan ketahyulan

(7)

Midwifery Care From Time To

Time

Zaman Dahulu

Dukun;

mengobati penderita dengan cara membaca mantra,

menyajikan korban, melakukan pantangan, bertapa

untuk

mendapatkan ilham.

Perawatan Kebidanan

Kehamilan;

diperiksa oleh dukun bayi & diberi nasehat tentang

pantangan (makanan, pakaian, tidak boleh keluar malam,

(8)

Persalinan :

dilakukan duduk diatas tikar. Dukun menunggu sambil

mengurut perut ibu

menarik anak

diciprat air supaya menangis

tali pusat dipotong dgn bambu, diolesi dgn kunyit sbagai desinfektan

(bnyk baca mantra)

Cara lama dalam persalinan

: bila akan bersalin disuruh jongkok,

duduk ditengah lapangan, kemudian ditakuti

terkejut

bayi lahir,

dengan cara berdiri & pinggang diurut

lahir, dianggap aktivitas bayi

dinyayikan lagu

bayi lahir.

Nifas

: dimandikan dukun dengan bunga2, diberi jamu untuk

(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

Praktek kebidanan modern di Indonesia oleh dokter-dokter Belanda tahun

1850 dibuka kursus bidan yang pertama sampai dengann 1873

Tahun 1850, kursus Bidan I dan ditutup tahun 1873

Tahun 1879, mulai pendidikan Bidan

Tahun 1950, didirikan BKIA yang dipimpin oleh Bidan dengan kegiatan ANC,

PNC, pemeriksaan/pengawasan bayi dan balita, KB, dan pelatihan dukun bayi

Pelita 1 (1969-1974), dibuka Puskesmas

berkembang pada pelita II

(1974-1979), Pelita III (1 April 1979 – 31 Maret 1984), Pelita IV (1 April 1984 – 31

(21)

Depkes

upaya untuk penurunan AKI & AKP

sebagai salah satu program proiritas dalam

pembangunan dalam pembngunan kesehatan

dengan

pelayanan kebidanan yang berkualitas

sedikit mungkin dengan masyarakat

tahun

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)

Penyebab utama AKI adalah

perdarahan (40-60%), infeksi

30%), toxsemia

(20-30%), lain-lain (5%)

resiko

(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)

1851

1851

Dibuka pendidikan

bidan bagi wanita

pribumi di Batavia

oleh dokter militer

Belanda, dr. W.

Bosch

Dibuka pendidikan

bidan bagi wanita

pribumi di Batavia

oleh dokter militer

Belanda, dr. W.

Bosch

1902

1902

Dibuka kembali

pendidikan bidan

untuk pribumi di

Rumah Sakit Militer

Batavia

Dibuka kembali

pendidikan bidan

untuk pribumi di

Rumah Sakit Militer

Batavia

1904

1904

Pendidikan bidan

dibuka di Makassar.

Lulusan tersebut

harus bersedia

ditempatkan

dimana saja,

menolong

masyarakat

tidak/kurang

mampu secara

cuma-cuma

Pendidikan bidan

dibuka di Makassar.

Lulusan tersebut

harus bersedia

ditempatkan

dimana saja,

menolong

(36)

1922

Lulusan mendapat tunjangan pemerintah ± 15-25 Gulden/bulan lalu naik menjadi 40 Gulden/bulan

1911-1912

Dimulai pendidikan keperawatan terencana di CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting) di Semarang dan Batavia

(37)
(38)
(39)
(40)

1914

~ Diterima siswa wanita pertama kali, yang lulus dapat meneruskan pendidikan kebidanan selama 2 tahun

1935-1938

~ Pemerintah Kolonial Belanda mulai mendidik bidan lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SLTP bagian B

~ Bersamaan dibuka sekolah bidan di RSB Budi Kemuliaan, RSB Palang Dua, dan RSB Mardi Waluyo di Semarang

~ Keluar peraturan untuk bedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan

(41)

Bidan dari lulusan perawat (mantri)

disebut bidan kelas dua

(Vroedvrouweerste tweede class), beda

kelas ketentuan gaji pokok dan tunjangan.

(42)

1950-1953

Dibuka sekolah bidan lulusan dari SMP, batas usia minimal 17 tahun, lama pendidikan 3 tahun

Kebutuhan tenaga penolong persalinan dibuka pendidikan pembantu bidan

Penjenang Kesehatan E (PK/E), lanjut hingga 1976 dan setelahnya ditutup. Peserta lulusan SMP plus 2 tahun kebidanan dasar, banyak yang lanjut ke

pendidikan Bidan (2 tahun).

1953–1965

Dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta, lamanya 7-12 minggu, tahun 1960 KTB pindah ke Jakarta dan tutup tahun 1967.

Tujuan KTB: mengenalkan

(43)

1954

Dibuka pend. guru bidan bersamaan dengan guru perawat dan perawat

kesmas di Bandung, awalnya berlangsung 1 tahun, lalu 2 tahun dan terakhir

berkembang 3 tahun

1954

Dibuka pend. guru bidan bersamaan dengan guru perawat dan perawat

kesmas di Bandung, awalnya berlangsung 1 tahun, lalu 2 tahun dan terakhir

berkembang 3 tahun

1972

Dilebur menjadi SGP (Sekolah Guru Perawat), menerima calon dari sekolah

perawat dan sekolah bidan

1972

Dilebur menjadi SGP (Sekolah Guru Perawat), menerima calon dari sekolah

perawat dan sekolah bidan

1970

Dibuka pendk. Bidan yang terima dari SGP ditambah 2 tahun pend. Bidan

disebut Sekolah Pendidikan Lanjut Jurusan Kebidanan (SPLJK), tetapi tidak

merata disemua propinsi

1970

(44)

1974

Mengingat jenis tenaga kes.

Menengah & bawah sangat banyak (24 kategori), Depkes menyederhanakan Pend. tenkes. non sarjana

Sekolah bidan ditutup & dibuka SPK, tujuan adanya tenaga multi

purpose di lapangan yang salah satu

tugasnya menolong persalinan, karena beda falsafah &

kurikulum terutama berkaitan dengan kemampuan bidan, tujuan tidak

tercapai.

1981

Untuk tingkatkan kemampuan SPK dalam yan. KIA termasuk

(45)

1975-1984

dibuka lagi Program Pend. Bidan dari lulusan SPR & SPK, saat itu

dibutuhkan bidan yang memiliki kewenangan untuk meningkatkan yan.

KIA & KB, lama pend. 1 tahun,

lulusan

dikembalikan ke institusi pengirim

1989

1989

Dibuka crash program pend.

Bidan secara nasional yang

perbolehkan lulusan SPK langsung masuk pendidikan bidan,

dikenal sebagai Program

Pendidikan Bidan A (PBB/A), lama

(46)

1 tahun lulusan ditempatkan

didesa dengan tujuan

memberikan yankes terutama

terhadap ibu & anak didaerah

(47)

Kenyataan lulusan tidak miliki pengetahuan & ketrampilan sebagai

bidan profesional, karena lama pendidikan singkat, jumlah peserta terlalu besar sehingga

kesempatan untuk

praktik klinik kebidanan sangat kurang

1993

Dibuka PPB/B dengan peserta lulusan Akper, lama pend. 1 tahun. Tujuan program untuk persiapkan tenaga

pengajar bidan pada

program PBB/A. Dari hasil penelitian dianggap tidak kompeten karena lama pendidikan singkat, hanya berlangsung 2 tahun (1995-1996)

Lulusan SPK tidak cukup penuhi kebutuhan bidan desa, al. Irian jaya dan Kalteng, dibuat progran cepat pend. Bidan

(PPB/C) dengan latar SMP ditambah pend. 3 tahun yang diselenggarakan di 11 propinsi (Aceh,

Bengkulu, Lampung dan Riau, Kalbar, Kaltim,

Kalsel, NTT, Maluku dan Irja, hanya untuk

(48)

1994

Bidan desa merupakan PTT, kontrak 3 tahun, diperpanjang 2X3 tahun lagi

Penempatan ini menyebabkan orientasi sebagi tenkes berubah. Bidan harus disiapkan

sebaik-baiknya tidak hanya kemampuan profesional bidan tapi juga kemampuan komunikasi, konseling &

mampu menggerakkan masy. Desa dalam tingkatkan taraf KIA.

(49)

Tahun 1994-1995 pemerintah juga

menyelenggarakan uji coba Pendidikan Bidan Jarak Jauh (distance learning) di 3 propinsi (Jabar, Jateng dan Jatim)

Diselenggarakan untuk memperluas cakupan upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan

Pengaturan

penyelenggaraan ini diatur SK Menkes No. 1247/Menkes/SK/XII/19 94

(50)

~ Sebetulnya tahun 1994 RS St. Carolus sudah melaksanakan pend. Bidan dari lulusan SMA, lamanya 3½ tahun, tidak berlangsung lama ~ Pada tahun 1994 juga dilaksanakan

pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal

~ Sebetulnya tahun 1994 RS St. Carolus sudah melaksanakan pend. Bidan dari lulusan SMA, lamanya 3½ tahun, tidak berlangsung lama ~ Pada tahun 1994 juga dilaksanakan

pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal

~ Tahun 1995-1998 IBI bekerja sama langsung dengan mather care melakukan pelatihan

bidan RS dan bidan Puskesmas serta bidan di Desa di prop. Kalsel

~ Tahun 2000 telah ada pelatihan Asuhan Persalinan Normal yang dikoordinasikan dengan Maternal Neonatal Health (MNH)

~ Tahun 1995-1998 IBI bekerja sama langsung dengan mather care melakukan pelatihan

bidan RS dan bidan Puskesmas serta bidan di Desa di prop. Kalsel

(51)

Pelatihan life skill S (LSS) dan Asuhan Persalinan Normal (APN) tidak hanya untuk pelayanan tetapi juga guru, dosen-dosen dari akbid

Pelatihan life skill S (LSS) dan Asuhan Persalinan Normal (APN) tidak hanya untuk pelayanan tetapi juga guru, dosen-dosen dari akbid

Selain pendidikan formal dan pelatihan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan diadakan seminar dan lokakarya organisasi

Selain pendidikan formal dan pelatihan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan diadakan seminar dan lokakarya organisasi

Dilaksanakan tiap tahun selama 2 kali tahun 1996-2000 dengan biaya dari UNICEF

(52)

Untuk penuhi tuntutan profesionalisme Kepmenkes RI no

4118 tahun 1987 dan Kepmendikbud no 009/U/1996, dibuka D III kebidanan dengan institusi AKBID di 6 propinsi menerima calon dari SMA

Untuk penuhi tuntutan profesionalisme Kepmenkes RI no

4118 tahun 1987 dan Kepmendikbud no 009/U/1996, dibuka D III kebidanan dengan institusi AKBID di 6 propinsi menerima calon dari SMA

1996

1996

Tentang pedoman penyusunan kurikulum

pendidikan tinggi dan disahkan dengan Kepmenkes RI. No. HK.00.06.2.4.1583

Tentang pedoman penyusunan kurikulum

pendidikan tinggi dan disahkan dengan Kepmenkes RI. No. HK.00.06.2.4.1583

Saat ini kurikulum D III

keb telah direvisi

mengacu pada Kep.

Mendiknas 232 tahun

2000

Saat ini kurikulum D III

keb telah direvisi

mengacu pada Kep.

Mendiknas 232 tahun

2000

Tercatat 65 institusi D III keb. (45 DEPKES, 20

swasta) diseluruh Indonesia

Sampai tahun 2008 telah tercatat ± 310 institusi D

III Keb.

Tercatat 65 institusi D III keb. (45 DEPKES, 20

swasta) diseluruh Indonesia

Sampai tahun 2008 telah tercatat ± 310 institusi D

III Keb.

(53)

Jumlah institusi banyak ditambah jumlah guru kompeten

terbatas, tahun 2000 dibuka Program Pend. Diploma IV Bidan Pendidik yang diselenggarakan di FKUGM, lamanya 2 smt, telah hasilkan 7 angkatan dengan gelar S.SiT

Institusi lain penyelenggara D IV seperti UNPAD (2002), USU

(2004) dan tempat lain

Awalnya program dirancang hasilkan bidan pendidik 1000 lulusan.

Hanya dilaksanakan sebagai masa transisi dalam upaya pemenuhan kebutuhan dosen

S1 Kebidanan tahn 2008 di UNAIR, Brawijaya dan Unhas juga buka.

Bulan Mei 2006 UNPAD membuka S2 kebidanan, menerima

dari DIV bidan

Pendidikan bidan di Indonesia dapat dikatakan tragis,

(54)

AMERIKA SERIKAT

Tahun 1955

American College of Nurse Midwifery

(ANCM) dibuka

Pada tahun 1971 seorang bidan di Tennesche mulai menolong persalinan

secara mandiri di sebuah institusi kesehatan

Pada tahun 1979 badan pengawasan obat Amerika menyatakan bahwa

ibu bersalin yang menerima anastesi dalam dosis tinggi telah melahirkan

anak-anak yang mengalami kemunduran perkembangan psikomotor. Hal

ini membuat masyarakat tertarik pada proses persalinan alamiah,

persalinan dirumah dan memacu peran bidan.

Pada era 1980-an, ANCM membuat pedoman alternatif lain dalam

pelayanan persalinan dan mengubah pernyataan yang negatif tentang

(55)

Pada tahun 1980-an, dibuat legalisasi tentang praktek profesional

bidan, hal ini membuat bidan menjadi sebuah profesi dengan

lahan praktek yang spesifik dan membutuhkan organisasi yang

mengatur profesi tersebut.

Saat ini, Amerika Serikat merupakan negara yang menyediakan

perawatan maternitas termahal di dunia, tetapi sekaligus

merupakan negara industri yang paling buruk dalam hasil

perawatan antenatal diantara negara-negara industri lainnya.

Bidan menangani 1,1% persalinan di tahun 1980, 5,5% di tahun

1994. Angka sectio secaria menurun dari 25% di tahun 1988

(56)

AUSTRALIA

Kebidanan dan keperawatan di Australia dimulai dengan

tradisi dan latihan yang dipelopori oleh Florence Nightingale

pada abad ke-19.

Pada tahun 1824 kebidanan masih belum dikenal sebagai

bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia.

Kebidanan masih banyak didominasi oleh dokter.

Pendidikan Bidan yang pertama kali di Australia dimulai

pada tahun 1862. Lulusan waktu itu telah dibekali dengan

pengetahuan teori dan praktik.

Pendidikan diploma kebidanan dimulai pada tahun 1893

(57)

Pada tahun 1913 sebanyak 30% persalinan ditolong oleh bidan.

Meskipun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan

antara tahun 1900 sampai 1940, tidak ada penurunan yang berarti

pada angka kematian ibu.

Bidan terus disalahkan akan hal itu. Kenyataannya, wanita kelas

menengah keatas yang ditangani oleh dokter dalam persalinannya

mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin

yang ditangani oleh Bidan.

(58)

SELANDIA BARU

Pada era 1980-an bidan bekerja sama dengan wanita untuk

menegaskan kembali otonomi bidan dan sama-sama sebagai

rekanan. Mereka telah membawa kebijakan politik yang

diperkuat dengan legalisasi tentang profesionalisasi praktik bidan.

Sebagian besar bidan di selandia baru mulai memilih untuk

bekerja secara independen dengan tanggungjawab yang penuh

pada klien dan asuhannya dalam lingkup yang normal.

(59)

Saat ini 86% wanita mendapat pelayanan dari bidan

dari kehamilan sampai nifas dan asuhan

berkelanjutan yang hanya dapat dilaksanakan pada

persalinan di rumah.

Sekarang disamping dokter, 63% wanita memilih

bidan sebagai salah satunya perawat maternitas, dan

hal ini terus meningkat. Ada suatu keinginan dari

(60)

KANADA

Selandia baru dan Kanada menerapkan program

direct

entry

selama 3 tahun dalam pendidikan bidan.

Sebelumnya, di selandia baru ada perawat kebidanan

dimana perawat dapat menambah pendidikannya untuk

menjadi seorang bidan sedangkan di Kanada tidak ada.

Bagaimanapun kedua negara tersebut yakin bahwa untuk

(61)

Kedua negara tersebut menggunakan dua model pendidikan yaitu pembelajaran teori

dan magang. Pembelajarn teori di kelas difokuskan pada teori dasar, yang akan

melahirkan bidan-bidan yang dapat mengartikulasikan teorinya sendiri dalam praktik,

memanfaatkan penelitian dalam praktik mereka dan berfikir kritis tentang praktik.

Dilengkapi dengan belajar magang, dimana mahasiswa bekerja dengan bimbingan dan

pengawasan bidan yang berpraktik dalam waktu yang cukup lama. Bidan tersebut

memberikan role model yang penting untuk proses pembelajaran.

Satu mahasiswa akan bekerja dengan 1 bidan, sehingga mereka tidak akan dikacaukan

dengan bermacam – macam model praktik.

Mahasiswa bidan juga akan mulai belajar tentang model

partnership

. Model ini terdiri

dari;

partnership

antara wanita dan mahasiswa bidan, mahasiswa bidan dengan bidan,

mahasiswa bidan dengan guru bidan, guru bidan dengan bidan,

partnership

antara

(62)

THANK YOU

“Sejarah adalah perjalanan hidup dan kehidupan manusia, dengan belajar sejarah bukan hanya menghargai sejarah, tetapi sejarah bisa menjadi "spion"

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Suatu metode yang sama,yang dibuat untuk mencegah dominasi jabatan dan posisi- posisiberkuasa oleh orang atau kelompok individu tertentu adalah dengan giliran atau

Properti yang digunakan dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah kipas, yang telah menjadi identitas dari tari Legong pada umumnya.. Dalam

bahwa sehubungan dengan hal-bal tersebut di atas dan untuk memberi landasan hukum yang lebih baik bagi tumbuhnya kehidupan partai politik yang dapat lebih menjamin peran

Penetapan Kinerja Tahunan ini yang akan menjadi dasar pelaksanaan dan tanggung jawab Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan

Langkah-langkah tergantung perspektif kasek, tolong jangan di batasi paling tidak mereka melakukan tindakan penyamaan persepsi, prinsip keadilan bagi yang bekerja keras dan

Tim Persiapan Revitalisasi Pergulaan Indonesia (1999) memberikan rekomendasi kebijakan dalam masa transisi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri gula