Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan “Profil Kesehatan Kota Metro 2016 ” dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang

196 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan

“Profil

Kesehatan Kota Metro 2016

dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang

telah ditentukan.

Penyusunan profil kesehatan ini merupakan upaya pengembangan Sistem

Informasi Kesehatan (SIK) yang merupakan salah satu program dalam

pembangunan kesehatan. ”Profil Kesehatan Kota Metro

2016

” ini diharapkan

dapat dipergunakan sebagai bahan rujukan dalam penilaian, bimbingan

pengendalian serta penyusunan rencana pelaksanaan program kesehatan

khususnya di wilayah Kota Metro. Selain itu diharapkan juga dapat menjadi

masukan bagi para pengambil kebijakan baik di tingkat Kota Metro maupun

Provinsi Lampung.

Dalam rangka meningkatkan mutu Profil Kesehatan Kota Metro berikutnya,

diharapkan saran dan kritik yang membangun serta partisipasi dari semua pihak

khususnya dalam upaya mendapatkan data dan informasi yang akurat, tepat

waktu dan sesuai kebutuhan.

Mudah-

mudahan ”Profi

l Kesehatan Kota Metro 2016

” ini dapat bermanfaat bagi

kita semua. Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan

tenaganya dalam penyusunan profil ini, kami ucapkan terima kasih.

Metro, Juni 2017

KEPALA DINAS KESEHATAN

KOTA METRO

MARYATI, SKM.,M.Kes

(3)
(4)

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Maksud dan Tujuan disusunya Profil ... 3

1.3 Sistematika Penyajian ... 4

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA METRO ... 6

2.1 Keadaan Penduduk ... 7

2.2 Keadaam Ekonomi ... 9

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN KOTA METRO ... 12

3.1 Mortalitas ... 13

3.2 Morbiditas ... 21

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN ... 40

4.1 Pelayanan Kesehatan ... 40

4.2 Perbaikan Gizi Masyarakat ... 49

4.3 Penjaringan Kesehatan Siswa Sekolah dasar/setingkat ... 60

4.4 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ... 63

4.5 Indikator Yang Akan Dicapai ... 70

4.6 Perilaku Hidup Masyarakat ... 71

4.7 Keadaan Lingkungan ... 72

(5)

BAB VI KESIMPULAN ... 91 6.1 Kesimpulan ... 91

(6)

Tabel 1

Tabel 2

Tabel 3

Tabel 4

Tabel 5

Tabel 6

Tabel 7

Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kota Metro

Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Rasio Jenis Kelamin & Golongan Umur, Kota Metro Tahun 2012-2016

Sepuluh Penyakit Terbanyak Pda Pasien Rawat Jalan di Puskesmas, Kota Metro Tahun 2016

Realisasi Program P2DBD Kota Metro Tahun 2016

Indikator Pelayanan Rumah Sakit Kota Metro Tahun 2016

Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 Penduduk, Kota Metro Tahun 2016

(7)

Gambar 1

Perkiraan Angka Kematian Neonatal per 1000 Kelahiran Hidup Kota

(8)

Gambar 22

Cakupan Deteksi Dini Ibu Hamil ResDengan Komplikasi Kota Metro

2012 – 2016

Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita Menurut Wilayah Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Cakupan Pemberian Tablet Fe Kota Metro Tahun 2012 – 2016

Cakupan Pemberian Tablet Fe Berdasarkan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Balita Gizi Buruk per Kecamatan Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus BBLR Kota Metro Tahun 2012 – 2016

Distribusi Kasus BBLR Berdasarkan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Balita dengan Gizi buruk dan BGM Kota Metro Tahun

(9)
(10)

Gambar 65

Gambar 66

Gambar 67

Gambar 68

Jumlah Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Desa Siaga Aktif Kota Metro Tahun 2016

Distribuasi Tenaga Kesehatan pada Sarana Kesehatan Kota Metro Tahun 2016

Perkembangan Anggaran Kesehatan Perkapita Kota Metro Tahun 2012

(11)

LAMPIRAN 1

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kematian Neonatal Bayi Dan Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Baru Tb Bta+, Seluruh Kasus Tb, Kasus Pada Tb Pada Anak, Dan Case Notification Rate (Cnr) Per 100.000 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kcamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Dan Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA + Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Kesembuhan Dan Pengobatan lengkap TB Paru BTA + Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Hiv, Aids, Dan Syphilis Menurut Jenis Kelamin Kota Metro Tahun 2016

(12)

Tabel 15

Kasus Baru Kusta 0 – 14 Tahun Dan Cacat Tingkat 2 Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Dan angka Prevalensi Penyakit Kusta Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Afp (Non Polio) Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Kasus DBD Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Kesakitan Dan Kematian Akibat Malaria Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016 Kanker Payudara Dengan Pemeriksaan Klinis (CBE) Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Penderita Dan Kematian Pada Klb Menurut Jenis Kejadian Luar Biasa (KLB) Kota Metro Tahun 2016

(13)

Tabel 31

Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

(14)

Tabel 47

Jumlah Balita Ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Cakupan Balita Gizi Buruk Yang Mendapat Perawatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD & Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro tahun 2016

Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak SD Dan Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 20156

Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia lanjut menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

(15)

Tabel 64

Tempat Pengelolaan Makan (TPM) Menurut Status Higiene Sanitasi Kota Metro tahun 2016

Tempat Pengelolaan Makanan Dibina Dan Diuji Petik Kota Metro Tahun 2016

Persentase Ketersediaan Obat Dan Vaksin Di Kabupaten/Kota Metro Kota Metro Tahun 2016

Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan Kota Metro Tahun 2016

(16)
(17)
(18)

BAB I

P

P

E

E

N

N

DA

D

AH

HU

UL

LU

UA

AN

N

1

1

.

.

1

1

Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu komponen utama dalam indek

pembangunan manusia (IPM) yang dapat mendukung terciptanya SDM yang sehat,

cerdas, terampil, ahli menuju keberhasilan pembangunan kesehatan. Pembangunan

kesehatan adalah salah satu hak dasar masyarakat yaitu hak untuk memperoleh

pelayanan kesehatan.

Kualitas Sistem Kesehatan Nasional dalam era desentralisasi

atau otonomi

daerah dibidang kesehatan, sangat ditentukan oleh kualitas sistem kesehatan dari

masing-masing Kabupaten/Kota, maka guna pencapaian Visi Kota Metro

METRO

KOTA

PENDIDIKAN

DAN

WISATA

KELUARGA

BERBASIS

EKONOMI

KERAKYATAN BERLANDASAN PEMBANGUNAN PARTISIFATIF

dengan misi:

1. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui sektor pendidikan dan

kesehatan.

2. Meningkatkan kesejahtraan rakyat berbasis ekonomi kerakyatan melalui sector

perdagangan jasa, pertanian dan pariwisata

3. Meningkatkan kualitas infrastuktur Kota yang terintegrasi dan berkelanjutan

4. Mewujutkan Pemerintah Kota Metro Good Governance melalui kualitas

pelayanan publik

Kesehatan masuk dalam misi pertama dalam visi & misi walikota Metro, yang

mana kesehatan merupakan urusan wajib dalam Undang Undang No 23 Tahun

2014 tentang Pemerintah daerah, untuk itu perlu adanya upaya upaya yang kreatif

dan inovatif untuk mewujutkan visi misi tersebut.

(19)

dengan benar. Dimana perlu adanya perubahan pola piker tentang kesehatan yaitu

paradigma sakit menjadi paradigma sehat

Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang terdiri dari enam

subsistem, dan salah satunya adalah Sub sistem Manajemen Kesehatan dan

informasi kesehatan, “Meningkatkan Manajemen Keseh

atan yang Akuntabel,

transparan, Berdayaguna dan Berhasil guna untuk memantapkan Desentralisasi

Kesehatan yang Bertanggung

jawab”. Untuk itu perlu adanya s

istem informasi

kesehatan yang baik untuk menggambarkan kondisi kesehatan yang ada di Kota

Metro, salah satunya adalah dengan adanya Profil Kesehatan Kota Metro yang

dibuat setiap tahun.

(20)

1

1

.

.

2

2

Maksud dan Tujuan disusunnya

Profil

Maksud disusunnya Profil Kesehatan Kota Metro 2016 adalah untuk

mengetahui kondisi kesehatan di wilayah Kota Metro dalam mencapai derajat

kesehatan Masyarakat yang optimal dan untuk mengetahui potensi, menganalisa

permasalahan serta pemecahannya dalam bentuk narasi, tabel dan gambar untuk

program pembangunan kesehatan di Kota Metro

- Diperolehnya data/informasi umum dan lingkungan yang meliputi lingkungan

fisik dan biologi, data kependudukan dan social ekonomi.

- Diperolehnya data/informasi tentang status kesehatan masyarakat yang

meliputi, angka kematian,angka kesakitan dan status gizi

- Diperolehnya data/informasi upaya kesehatan yang meliputi cakupan kegiatan

dan sumber daya kesehatan

- Diperolehnya data/informasi untuk bahan penyusunan perencanaan kegiatan

program kesehatan.

- Tersedianya alat untuk pemantauan dan Evaluasi tahunan program-program

kesehatan.

- Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah dikumpulkan oleh

berbagai sumber pencatatan, pelapor yang ada di Puskesmas, Rumah Sakit

maupun unit-unit kesehatan lainnya.

(21)

1

dilaksanakan oleh bidang kesehatan selama tahun 2013, yang

(22)

Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan

sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.

BAB VI

: Kesimpulan

Bab ini beerisi tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah

lebih lanjut dari profil kesehatan, tentang keberhasilan dan hal-hal yang

masih dianggap kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan

kesehatan

(23)

BAB II

G

G

AM

A

M

BA

B

AR

RA

AN

N

U

UM

MU

UM

M

D

DA

AN

N

P

P

E

E

R

R

I

I

L

L

A

A

K

K

U

U

P

P

E

E

N

N

D

D

U

U

D

D

U

U

K

K

Kota Metro yang berjarak 45 km dari Kota Bandar Lampung (Ibukota Provinsi

Lampung) meliputi areal daratan seluas 68,74 Km

2

atau 0,19 % dari luas Provinsi

Lampung yang besarnay 3.528.835 Km

2

. Secara geografis Kota Metro terletak pada

5°6‟

-

5°8‟ LS dan 105°17‟

-

105°19‟ BT

dengan batas wilayah sebagai berikut :

A. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung

Tengah dan Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur.

B. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Metro Kibang Kabupaten

Lampung Timur dan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

C. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pekalongan dan Kecamatan

Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

D. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung

Tengah.

Gambar 1

Peta Wilayah Kota Metro

(24)

Berdasarkan karakteristik topografi

,

Kota Metro merupakan wilayah yang

relatif datar dengan kemiringan <6. Wilayah Kota Metro beriklim humid tropis dengan

kecepatan angin rata-rata 70 Km/hari. Ketinggian wilayah berkisar antara 25-60 m

dari permukaan laut (dpl), suhu udara antara 26°C 29°C, kelembaban udara

80%-88%, dan rata-rata curah hujan pertahun 2.264 sampai dengan 2.868 mm.Kota

Metro secara administratif terbagi menjadi 5 Kecamatan dan 22 Kelurahan, yaitu:

Tabel 1

Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kota Metro

NO

KECAMATAN

JUMLAH

KELURAHAN

LUAS (KM

2

)

1

Metro Pusat

5

11,71

2

Metro Utara

4

19,64

3

Metro Barat

4

11,28

4

Metro Timur

5

11,78

5

Metro Selatan

4

14,33

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Metro

Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Metro Utara (19,64 Km

2

),

sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Metro Barat

(11,28 Km

2

)

.

2

2

.

.

1

1

Keadaan Penduduk

Menurut hasil proyeksi penduduk Kota Metro tahun 2016 yaitu 160.729 jiwa.

(25)

Tabel 2

Berdasarkan hasil Proyeksi Sensus Penduduk tahun 2016 dapat diketahui

bahwa laju pertumbuhan penduduk Kota Metro sebesar 1,79 %. Apabila melihat

Rasio Jenis Kelamin, jumlah penduduk laki-laki 80.300 jiwa (49,96 %) lebih sedikit

dari jumlah penduduk wanita yang berjumlah 80.429 jiwa (50,04 %). 129 jiwa (49,9

6%) lebih sedikit dari jumlah penduduk wanita yang berjumlah 80.429 jiwa (50,04 %).

(26)

Gambar 2

Piramida Penduduk Kota Metro Tahun 2016

Sumber : BPS Kota Metro tahun 2016

Komposisi penduduk Kota Metro menurut kelompok umur menunjukkan

bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 41,5 % Penduduk

berusia produktif (15-64 tahun), sekitar 112,5% dan penduduk pada usia tua (lebih

dari 64 tahun) sebanyak 7,54 %. Dengan demikian maka angka Angka Beban

Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Kota Metro pada tahun 2016 sebesar

43,6 artinya setiap 100 jiwa penduduk produktif menanggung beban 43,6 jiwa

penduduk tidak produktif. Ratio beban tanggungan penduduk Kota Metro

termasuk klasifikasi rendah (<50%).

2

2

.

.

2

2

Keadaan Ekonomi

A. Indeks Pembangunan Manusia

Untuk mengukur kualitas dan kesejahteraan penduduk dapat digunakan

ukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau

Human Development Index (HDI)

.

(27)

tiga komponen indeks yaitu Indeks kelangsungan hidup, indeks pengetahuan, dan

indeks daya beli.

Nilai IPM Kota Metro merupakan tertinggi di antara kabupaten/Kota lainnya dii

Provinsi Lampung. Pencapaian nilai IPM Kota Metro, yang diperbandingkan antara

Kabupaten/Kota lain serta perbandingan antar waktu, menunjukan bahwa proses

pembangunan yang dilaksanakan di Kota Metro terus dilaksanakan dengan

berlandaskan pada titik pijak konsep pembangunan manusia seutuhnya, yang

merupakan konsep yang menghendaki peningkatan kualitas hidup penduduk baik

secara fisik, mental, maupun spritual seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Gambar 3

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Metro Tahun

Tahun 2011-2016

Sumber: BPS Kota Metro

B. Gambaran umum Ekonomi Kota Metro

(28)

Gambar 4

PDRB per Kapita Kota Metro

Tahun 2011-2016

Sumber: BPS Kota Metro

(29)

BAB III

S

S

I

I

T

T

U

U

A

A

S

S

I

I

D

D

E

E

RA

R

AJ

JA

AT

T

K

KE

ES

SE

EH

HA

AT

TA

AN

N

Gambaran mengenai derajat kesehatan mencakup indikator umur harapan

hidup waktu lahir (UHH), mortalitas berisi indikator-indikator angka kematian ibu &

angka kematian bayi, morbiditas berisi indikator-indikator mengenai penyakit infeksi,

penyakit non infeksi dan penyakit potensial. Sedangkan status gizi dilihat dari

indikator berat badan lahir rendah (BBLR) dan status gizi balita.

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi

pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari

suatu

negara.

Meningkatnya

perawatan

kesehatan

melalui

Puskesmas,

meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan

kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyaii

pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan

yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja

pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan

meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang

rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan

program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori

termasuk program pemberantasan kemiskinan.

(30)

3

3

.

.

1

1

Mortalitas

Kematian merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyakit penyebab kematian.

Angka Kematian secara umum berkaitan erat dengan Angka Kesakitan dan Status Gizi.

Indikator untuk menilai keberhasilan program pembangunan Kesehatan juga dapat dilihat

dari perkembangan Angka Kematian. Gambaran kejadian kematian di Kota Metro dalam

rentang waktu 3 sampai 5 tahun terakhir dijelaskan dalam uraian di bawah ini:

1.

Angka kematian Neonatus

Angka kematian balita dibagi tiga yaitu kematian neonatus (0-28 hari), kematian bayi (1

bulan - < 1 tahun) dan kematian anak balita (1 – 5 tahun). Kematian neonatal adalah

kematian bayi yang lahir hidup dalam rentang waktu 28 hari sejak kelahiran.

Kematian neonatal terdiri dari sebagai berikut :

a. Kematian neonatal dini ; Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam

waktu 7 hari setelah lahir.

b. Kematian neonatal lanjut ;Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup setelah 7

hari, atau sebelum 29 hari

Berdasarkan laporan dari Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro, pada

Tahun 2016 terdapat kematian 13 orang dari 2740 kelahiran hidup ( Diperkirakan 5 per

1000 KH), tahun 2015 terdapat kematian 17 orang dari 2888 kelahiran hidup

(diperkirakan 6 per 1000 KH) ,tahun 2014 terdapat kematian neonatal 16 orang

(diperkirakan 4,7 per 1000 KH ) dan tahun 2013 terdapat kematian Neonatal 9 bayi dari

3.365 kelahiran hidup (diperkirakan 2,7 per 1000 KH), dan tahun 2012 yaitu terdapat

kematian neonatal sebanyak 24 orang dari 3.251 kelahiran hidup (diperkirakan 7,4 per

1000 kelahiran hidup), Kecenderungan angka kematian Neonatal di Kota Metro selama 5

(31)

Gambar 5

Perkiraan Angka Kematian Neonatal per 1000 Kelahiran Hidup Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

Adapun proporsi penyebab Kematian Neonatal selama tahun 2016 seperti tampak

pada gambar berikut:

Gambar 6

Prosentase Penyebab Kematian Neonatal Kota Metro tahun 2016

(32)

BBLR merupakan penyebab terbesar kasus kematian Neonatal di Kota Metro (62,5

%). Menurut WHO, kejadian BBLR terkait erat dengan kekurangan gizi ataupun

kejadian sakit ada saat kehamilan. Untuk mencegah terjadinya BBLR, identifikasi dinii

terhadap ibu hamil KEK (kurang energi kalori) kemudian diikuti dengan pemberian

suplemen gizi kepada ibu pada masa kehamilan mutlak dilakukan (Bang, Abhay et al,

2009). Penyebab kedua adalah kelainan konenital & asfiksia. Asfiksia ( kesulitan

bernafas sesaat setelah lahir. Menurut UNICEF, Kejadian Asfiksia bisa dicegah

dengan meningkatkan kualitas proses persalinan dan perawatan terhadap bayi baru

lahir. Petugas Kesehatan (terutama bidan) dituntut untuk bisa mendeteksi asfiksia dan

dapat melakukan resusitasi terhadap bayi baru lahir apabila terjadi asfiksia (UNICEF

REPORT, 2009). Penyebab kematian bayi < 1 tahun adalah penyakit infeksi dan

indikator penting yang sangat sensitif untuk mengetahui permasalahan kesehatan

yang berkaitan dengan penyebab kematian dan tingkat keberhasilan program

kesehatan. kelahiran hidup. Angka kematian Bayi (AKB) adalah jumlah yang

meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran

hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan

untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu banyak upaya

kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB.

Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran

Millenium Development Goals (MDG) untuk menurunkan Angka Kematian Anak sebesar dua per tiga dari angka di tahun 1990 atau menjadi 20 per 1000 kelahiran bayi

pada tahun 2015, Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi

masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi

untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian

bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang

berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka

kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan

(33)

Berdasarkan laporan dari Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro,

tidak terjadi peningkatan kematian bayi pada tahun 2016, dengan kematian bayi 5

orang dari 2.888 kelahiran hidup (2 per 1000 KH), sama dengan tahun 2015

sedangkan tahun 2014 kematian bayi 3 orang dari 3427 kelahiran hidup (0,9 per 1000

KH) dan tahun 2013 terdapat kematian bayi 3 bayi dari 3.365 kelahiran hidup

(diperkirakan 0,9 per 1000 KH), tahun 2012 yaitu terdapat kematian bayi

sebanyak 3 orang dari 3.251 kelahiran hidup (diperkirakan 0,9 per 1000 kelahiran

hidup) sedangkan pada tahun 2011 terdapat kematian bayi sebanyak 1 orang dari

3.239 kelahiran hidup ( diperkirakan 0,3 per 1000 kelahiran hidup). Kecenderungan

angka kematian bayi di Kota Metro selama 5 tahun terakhir tergambar seperti pada

gambar berikut:

Gambar 7

Perkiraan Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

Kota Metro sudah mencapai target Kematian bayi pada MDGs, tetapi dari grafik

terlihat angka kematian bayi pada tahun 2015 dan tahun 2016, masih sama belum ada

(34)

Adapun proporsi penyebab Kematian bayi selama tahun 2016 seperti tampak pada

gambar berikut:

Gambar 8

Prosentase Penyebab Kematian bayi Kota Metro tahun 2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

Pada tahun 2016 di Kota Metro terdapat 5 kasus kematian bayi (1 bulan - < 1 tahun)

yang disebabkan karena jantung bawaan 2 kasus (Puskesmas Yosomulyo dan

Mulyojati), Vomitus 1 kasus (Puskesmas Yosomulyo), ISPA 1 kasus (Puskesmas

Yosomulyo) dan 1 kasus kematian karena kelenjar paru.

Jika dilihat dari proporsi kematian bayi berdasarkan umur, maka didapatkan grafik

(35)

Gambar 9

Proporsi Kematian Bayi Berdasarkan Umur Kota Metro tahun 2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

Kematian bayi di Kota Metro umumnya terjadi pada masa neonatal (0-28 hari).

Hampir 77 % dari seluruh angka kematian bayi di Kota Metro terjadi pada masa

neonatal. Sedangkan 23 % pada umur 1 bl – 1th.

Dari hasil pengkajian kasus kematian neonatal di Kota Metro antara lain karena

kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir,

kurangnya pengetahuan dan keterampilan bidan dalam mendeteksi dan menangani

kasus neonatal resiko tinggi.

Kemampuan tenaga kesehatan dan adanya fasilitas dalam hal perawatan neonatal

esensial adalah suatu keharusan dalam upaya penurunan angka kematian bayi

Kemampuan dan fasilitas tersebut meliputi persalinan yang bersih dan aman,

stabilitas suhu, inisiasi pernapasan spontan, inisiasi menyusui ASI dini, dan

pencegahan infeksi serta pemberian imunisasi. Dari hasil pengkajian kasus kematian

banyak faktor yang mempengaruhi bertambahnya kasus kematian neonatal di Kota

Metro antara lain karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tanda bahaya

pada bayi baru lahir, kurangnya pengetahuan dan ketrampilan bidan dalam

mendeteksi dan menangani kasus neonatal resiko tinggi sedangkan di tingkat

pelayanan rujukan kurangnya kolaborasi di ruang operasi dengan dokter spesialis

anak dan kurangnya ruang neonatus yang tersedia baik di Rumah Sakit Umum

(36)

3.

Angka Kematian Anak Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (1 - <5 tahun) menggambarkan peluang untuk meninggal pada

fase antara umur 1 tahun dan sebelum umur 5 tahun. AKABA menggambarkan tingkat

permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap

kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi penyakit infeksi dan kecelakaan.Hasil SDKI

2007 menunjukan bahwa angka kematian balita 55 per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan laporan dari bidang Kesga tahun 2016 terdapat kematian anak balita

sebanyak 2 kasus dari 2740 kelahiran hidup (diperkirakan 0,7 per 1000 KH)

disebabkan karena diare (Puskesmas Yosomulyo) dan lain-lain. Puskesmas Mulyojati,

tahun 2015 terdapat kematian anak balita 1 orang disebabkan karena kejang

(diperkirakan 0,34 per 1000 KH), Dan tahun 2014 kematian anak balita sebanyak 4

kasus dari 3427 kelahiran hidup (diperkirakan 1,2 per 1000 KH) dan tahun 2013

terdapat 2 kasus dari 3.365 kelahiran hidup (diperkirakan 0,6 per 1000 kelahiran

hidup), Tahun 2012 tidak ada kematian anak balita, tahun 2011 terdapat 1 kematian

anak balita dari 3.239 kelahiran hidup (diperkirakan 0,3 per 1000 KH) .Hasil ini tidak

bisa dibandingkan dengan target Nasional AKABA sebesar 23 per 1000 KH karena

data di atas belum menggambarkan AKABA sebenarnya. Kematian balita yang

dimaksud yaitu kematian pada masa > 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun.

Gambar 10

Perkiraan Angka Kematian Akaba per 1000 Kelahiran Hidup Kota Metro tahun 2012-2016

(37)

4.

Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI)

Kematian Ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan,

persalinan, dan masa nifas. Angka kematian ibu merupakan cermin status kesehatan

masyarakat terutama kesehatan wanita. Angka kematian ibu dapat menggambarkan

status gizi, keterjangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, serta menunjukkan

rendahnya keadaan sosial ekonomi.

Jumlah kasus kematian ibu melahirkan di Kota Metro pada tahun 2012 ada 5 kematian

dari 3.251 kelahiran hidup, dan pada tahun 2013 terdapat 5 kematian ibu dari 3.365

kelahiran hidup dan tahun 2014 terdapat 2 kematian maternal dari 3427 kelahiran

hidup (diperkirakan 58,4 per 100.000 KH) dan tahun 2015 tidak ada kematian dan

tahun 2016 tejadi kematian 2 dari 2740 kelahiran hidup (diperkirakan 73 per 100.000

KH) Adapun gambaran kasus kematian ibu dalam beberapa tahun terakhir terlihat

pada gambar berikut :

Gambar 11

Kasus Kematian Ibu Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

Sangat sulit menganalis kecenderungan kasus kematian ibu di Kota Metro karena

kejadian kematian ibu berfluktuatif. Namun dari grafik di atas dapat diketahui bahwa

kasus kematian ibu di Kota Metro meningkat dari 0 kematian menjadi 2 kematian

(38)

Kematian Ibu (AKI) didisain untuk tingkat nasional melalui kegiatan survey, namun

sebagai bahan evaluasi Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Metro diperkirakan sebesar

73 per 100.000 kelahiran hidup. Adapun perkiraan Angka Kematian Ibu di Kota Metro

tergambar di bawah ini

Gambar 12

Perkiraan Angka Kematian Ibu Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Metro

3

3

.

.

2

2

Morbiditas

Morbiditas/ Angka kesakitan dapat diartikan sebagai keadaan sakit yaitu adanya

penyimpangan dari keadaan kesehatan yang normal (BKKBN, 2009). Angka kesakitan

mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah dan berkaitan erat

dengan kejadian kematian. Pada bagian ini akan disajikan gambaran kejadian penyakit

yang dapat menjelaskan keadaan derajat kesehatan masyarakat Kota Metro sepanjang

tahun 2016.

1. Sepuluh Besar Penyakit di Puskesmas

Meningkatnya umur harapan hidup dan perubahan struktur umur penduduk

(39)

masih tingginya penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit non infeksi. Penyakit

infeksi akut lainnya pada saluran pernafasan bagian atas tetap menduduki peringkat

pertama pada pola penyakit rawat jalan di puskesmas.

5 Other acute upper respiratory infections of multiple sites 4346 7

6 Myalgia 4210 6.8

jalan di puskesmas didominasi oleh penyakit Infeksi. Penyakit Hipertensi merupakan

penyakit yang menempati urutan teratas pada 10 penyakit terbanyak yang diderita

oleh pasien rawat jalan puskesmas dengan prosentase sebanyak 11%. Meskipun

penyakit infeksi masih mendominasi, namun penyakit non-infeksi juga perlu

diperhatikan mengingat penyakit hipertensi yang berhubungan dengan faktor perilaku

menempati urutan terbesar pasien rawat jalan puskesmas.

2. Penyakit Menular

a. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pneumonia

Penyakit ISPA khususnya Pneumonia masih merupakan penyakit utama penyebab

(40)

juta balita meninggal karena Pneumonia (1 balita/15 detik) dari 9 juta total kematian

Balita, 1 diantaranya disebabkan oleh Pneumonia. Karena besarnya kematian ISPA

ini, ISPA Pneumonia disebut sebagai Pandemi yang terlupakan atau The Forgotten

Pandemic. Namun, tidak banyak perhatian terhadap penyakit ini, sehingga Pneumonia

disebut juga pembunuh Balita yang terlupakan atau The Forgotten Killer of Children

(Unicef/WHO,2006).Pneumonia menyebabkan empat juta kematian pada anak balita

di dunia, dan merupakan 30% dari seluruh kematian yang ada. Di Negara

Berkembang 60% kasus Pneumonia disebabkan oleh Bakteri, sementara di Negara

maju umumnya disebabkan Virus.

Pneumonia masih menjadi penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. kematian

balita akibat pneumonia pada akhir tahun 2000 di Indonesia diperkirakan sekitar

4,9/1000 balita (Depkes, 2004). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250

hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Pneumonia juga sering berada

dalam daftar 10 penyakit terbanyak baik di puskesmas maupun rumah sakit.Sebanyak

40 – 60 % kunjungan berobat di Puskesmas dan 15 – 30 % kunjungan berobat di

bagian rawat jalan dan rawat inap di Rumah Sakit disebabkan oleh ISPA. Episode

penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per

tahun. Berdasarkan laporan Seksii Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, temuan

kasus Pneumonia pada balita selama periode waktu 2012 – 2016 terjadi peningkatan

yaitu sampai dengan tahun 2014 dan menurun pada tahun 2015 hingga tahun 2016,

(41)

Gambar 13

Kasus Pneumonia pada Balita Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Pada tahun 2015 penderita pneumonia balita yang ditemukan sebanyak 132 penderita

dan pada tahun 2016 tidak ditemukan penderita pneumonia, namun penemuan kasus

pneumonia pada balita di Kota Metro masih jauh dari target yang diharapkan sebanyak

1.318 penderita (10% dari jumlah balita). Hal tersebut dapat disebabkan karena

tenaga kesehatan yang telah dilatih MTBS tidak melakukan Desinfo kepada petugas

lain di Puskesmas dalam rangka penjaringan kasus ISPA pneumonia di Puskesmas,

atau penyakit pneumonia hanya ada pada pasien dengan jumlah tersebut.

Upaya pengendalian penyakit ISPA Pneumonia difokuskan pada upaya penemuan

kasus secara dini dan tata laksana kasus yang cepat dan tepat melalui Manajemen

Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Jumlah populasi balita untuk Program P2 ISPA Kota Metro tahun 2016 sebanyak

13.593 jiwa. Sasaran penemuan penderita Pneumonia balita Kota Metro tahun 2015

adalah 1.359 kasus (10% dari jumlah balita). Target penemuan penderita pneumonia

balita sebesar 10% dari jumlah sasaran (1.359 kasus). Adapun Realisasi temuan

(42)

realisasi penemuan dan penanganan penderita pneumonia hanya sebesar 15,4 %

dari jumlah sasaran. Cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita paling

banyak terdapat di Puskesmas Yosomulyo sebesar 36,13 % dan terendah di

Puskesmas Karang Rejo sebesar 0%. Realisasi penemuan penderita pneumonia pada

balita per-puskesmas dapat dilihat dari grafik sebagai berikut:

Gambar 14

Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Menurut Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Secara umum realisasi penemuan penderita pneumonia pada balita di Kota Metro

masih jauh dari target. Hal ini kemungkinan memang tidak ada kasus pneumonia di

wilayah puskesmas atau petugas puskesmas belum dapat menemukan kasus balita

pneumonia (ketidakmampuan diagnosa).

b. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui

Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus ini berpotensi

menimbulkan kepanikan karena penyebarannya yang cepat dan

beresiko kematian. Kota Metro merupakan daerah endemis DHF atau

Demam Berdarah (DBD). Setiap tahun jumlah kasus selalu tinggi

dimana Incidence rate pada tahun 2012 jumlah kasus DBD sebanyak 390 kasus dan

meningkat lagi pada tahun 2013 dengan 460 kasus dan pada tahun 2014 terjadi

(43)

kasus dan pada tahun 2016 kasus DBD berjumlah 233 kasus. Adapun Incidence

Rate ( IR ) DBD pada tahun 2012 adalah 260,5 per 100.000 penduduk, dan

meningkat lagi tahun 2013 menjadi 298,6 per 100.000 penduduk dan tahun 2014

menjadi 95,8 per 100.000 penduduk, tahun 2015 menjadi 173,4 per 100.000 penduduk

dan pada tahun 2016 adalah 145,0 per 100.000 penduduk. Perkembangan jumlah

kasus DBD di Kota Metro selama periode waktu 2012–2016 tergambar dalam grafik

berikut:

Gambar 15

Incidence Rate DBD per 100.000 penduduk & Case Fatality Rate DBD Kota Metro tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Incidence rate DBD pada tahun 2016 tidak mengalami penurunan yang berarti dari

tahun 2015 hanya menurun sebanyak 16 % dan case fatality rate (CFR) tahun 2016

meningkat. Case fatality Rate (CFR) menunjukkan keganasan suatu penyakit juga

untuk menilai kualitas penanganan yang dilakukan (Roestam, A UI 2009). Pada

tahun-tahun sebelumnya CFR akibat penyakit DBD di Kota Metro selalu di bawah target

nasional yaitu <2,5%. Pada pada tahun 2012 dan tahun 2013 meningkat sangat tinggi

dan pada tahun 2014 menurun menjadi 2,1 % dan menurun lagi pada tahun 2015

menjadi 0,40 % dan pada tahun 2016 terjadi peningkatan kembali menjadi 1,3 %.

Tetapi hal ini tetap mencapai target < 2,5 %.

Jumlah kelurahan yang terkena DBD selama tahun 2012-2015 tersebar di 22

(44)

yang mempunyai kasus DBD terbanyak adalah Kecamatan Metro Pusat dengan 81

kasus (Puskesmas Yosomulyo 43 kasus dan Puskesmas Metro 38 kasus), dan

kecamatan dengan jumlah kasus terkecil adalah Kecamatan Metro Selatan 13 kasus.

Berikut ini adalah gambaran distribusi kasus DBD per kecamatan:

Gambar 16

Distribusi Kasus DBD Kota Metro per Kecamatan Tahun 2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Banyak faktor yang menyebabkan masih banyaknya jumlah penderita DBD antara lain

karena kepadatan rumah, mobilitas penduduk, belum optimalnya program

pemberantasan vektor (nyamuk Aedes Aegepty), dan perilaku hidup bersih dan sehat

yang belum optimal. Dengan demikian perlu kerjasama antara berbagai elemen baik

masyarakat, pemerintah maupun swasta untuk melakukan upaya agar jumlah kasus

DBD di Kota Metro dapat ditekan.

Trend terjadinya penyakit DBD naik turun, untuk itu perlu adanya kewaspadaan dini

pada saat terjadi perubahan musim dari musim panas ke musim hujan, baik pada

pemerintah daerah khususnya dinas kesehatan melalui jaringannya yaitu Puskesmas

dan poskeskel serta masyarakat itu sendiri.

Jumlah kasus penyakit DBD cenderung meningkat tajam dalam 5 tahun terakhir.

Diperlukan penanganan yang efektif untuk mencegah dan memberantas penyakit

(45)

pembentukan tim pokjanal DBD tingkat kota dan tingkat kecamatan, fogging fokus,

dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) DBD.

Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang

Nyamuk (PSN) melalui 3 M plus (Menguras, Menutup dan Mengubur) plus menabur

larvasida, penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan

lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak.

Angka Bebas Jentik (ABJ) merupakan tolok ukur tingkat partisipasi masyarakat dalam

mencegah DBD. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan

kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru. Surveilans

vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun

juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik).

Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan

terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus.

Penemuan penderita secara dini dengan penegakan diagnosa yang tepat juga harus

dilakukan untuk memastikan penanganan penderita sehingga dapat menekan angka

kematian akibat penyakit DBD.

Untuk mengatasi masalah TB di Indonesia, pemerintah telah melaksanakan program

penanggulangan penyakit TB dengan strategi DOTS (directly observe treatment

shortcource) atau pengobatan TB Paru dengan pengawasan langsung oleh PMO (Pengawas Minum Obat). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan

pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket

(46)

Strategi program P2 TB Paru di Kota Metro juga mengacu kepada strategi DOTS yang

mencakup ; upaya penemuan dan pengobatan penderita TB Paru BTA+ minimal 80%

yang di ikuti angka konversi sebesar 80% serta angka kesembuhan minimal 85% yang

dilakukan melalui unit pelayanan puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya.

Pelaksanaan program penanggulangan TB Paru di Kota Metro dilakukan pada 1

puskesmas rujukan mikroskopis (PRM), dan 4 puskesmas pelaksana mandiri (PPM)

dan 6 puskesmas satelit.

Cakupan penemuan penderita baru (CDR) TB BTA+ mengalami penurunan yaitu

43,75 % pada tahun 2012, 41,06 % pada tahun 2013, 37,31 % pada tahun 2014, 33,7

% pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 adalah 34 %. Namun pencapaian ini masih

di bawah target nasional sebesar 80%. Namun peningkatan cakupan penemuan

penderita baru TB BTA+ tidak diikuti dengan keberhasilan pengobatan. Angka

keberhasilan pengobatan adalah angka yang menunjukkan presentase pasien TB

BTA+ yang menyelesaikan pengobatan (SR). Angka kesembuhan penyakit TB Paru

dengan BTA+ (cure rate) pada tahun 2012 adalah 76,63 %, terjadi penurunan tahun

2013 menjadi 83 % dan mengalami penurunan kembali tahun 2014 yaitu 77,67 %,

tahun 2015 terjadi peningkatan yaitu 90,22 % dan pada tahun 2016 menurun kembali

yaitu 84 %. Angka keberhasilan pengobatan TB BTA+ di Kota Metro hampir mencapai

target nasional sebesar 85%. Perkembangan cakupan penemuan penderita baru

(CDR) dan angka kesembuhan (CR) TB BTA + selama tahun 2012-2016 tergambar

(47)

Gambar 17

Cakupan Case Detection Rate (CDR) dan Cure Rate (CR) TB BTA + Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Dari data di atas harus diwaspadai karena angka angka tersebut masih belum

memenuhi target nasional artinya dari kasus TB yang ditemukan dan diobati telah

dilakukan manajemen kasus dengan baik tetapi perlu diupayakan lebih maksimal

dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pengobatan penderita TB. Dalam rangka

menyukseskan pelaksanaanaan penanggulangan TBC,prioritas ditujukan terhadap

peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan paduan obat yang

sesuai dengan strategi DOTS.

Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut

WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per

tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari

kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95%

penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi

HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB

(48)

Penderita TB yang sudah mengalami keberhasilan pengobatan dari tahun 2012

sampai tahun 2013 terus mengalami peningkatan yaitu 85,86 % pada tahun 2012,

89,04 % pada tahun 2013, 95 % pada tahun 2014, pada tahun 2015 menurun menjadi

94 % dan tahun 2016 tetap yaitu 94 %. Gambaran lebih lengkap dapat dilihat pada

grafik berikut:

Gambar 18

Succes Rate TB Paru (Angka Keberhasilan Pengobatan) Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Grafik diatas menggambarkan bahwa secara umum ada kestabilan pada keberhasilan

pengobatan TB Paru di Kota Metro, terbukti dari tahun 2012 s.d tahun 2014 terus

mengalami kenaikan dan mengalami penurunan pada tahun 2015 namun hanya 1 %

dan stabil pada tahun 2016. Keberhasilan pengobatan penderita TB paru ini berkat

kesadaran penderita dan keinginannya untuk sembuh dan juga pengawasan yang

efektif dari PMO (pengawas Minum Obat) dan kerja sama yang baik dengan lintas

sektor terkait.

d. Penyakit Diare

Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami buang air besar yang

sering dan masih memiliki kandungan air berlebihan. Di Dunia, diare adalah penyebab

kematian paling umum kematian balita, membunuh lebih dari 1,5 juta orang per tahun.

Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkatkan angka kesakitan diare tahun ke

(49)

adalah 411/1000 penduduk. Secara proporsional Diare pada golongan balita adalah

55%. Kematian Diare pada balita 75,3 per 100.000 balita dan semua umur adalah 23,2

per 100.000 semua umur (Hasil SKRT 2001). Pada tahun 2007 Angka Kesakitan Diare

di Indonesia adalah 423 per 1000 penduduk (Ditjen PP&PL, 2007).

Diare banyak disebabkan oleh pemakaian air yang tidak bersih dan sehat, pengolahan

dan penyiapan makanan yang tidak higienis dan ketiadaan jamban sehat tahun 2010

yaitu 29,2 per 1000 penduduk dan tahun 2011 meningkat menjadi 33.03 per 1000

penduduk, dan tahun 2012 menurun menjadi 22,9 per 1000 penduduk dan terjadi

peningkatan yang signifikan pada tahun 2013 yaitu 214 per 1000 penduduk, dan tahun

2014 yaitu 214 per 1000 penduduk, tahun 2015 adalah 214 per 1000 penduduk dan

tahun 2016 adalah 214 per 1000 penduduk. Grafik perkembangan Angka Kesakitan

Diare Balita di Kota Metro terlihat pada gambar berikut:

Gambar 19

Angka Kesakitan Diare Balita per 1000 penduduk Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Masih tingginya diare tahun 2015 tidak diiringi dengan penggunaan oralit sesuai

dengan tatalaksana penderita diare yang standar, hal ini disebabkan pengetahuan

masyarakat yang masih kurang tentang tatalaksana penderita diare, untuk itu perlu

ada kewaspadaan dini dan surveilan yang ketat dan terkoordinasi baik melalui lintas

program maupun lintas sektor, mengembangkan dan menyebarluaskan pedoman

(50)

ketrampilan petugas dalam pengelolaan program. Penyakit Diare yang ditangani 82,6

%, sedangkan yang lain melaksanakan pengobatan sendiri.

e. Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit polio, pemerintah

melaksanakan program Eradikasi polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi

polio secara rutin pemberian imunisasi massal pada anak Balita melalui PIN (Pekan

Imunisasi Polio) dan surveilans AFP (Acute Flaccid Paralysis). Surveilans AFP

bertujuan untuk memantau adanya penyebaran virus polio liar disuatu wilayah,

sehingga upaya-upaya pemberantasannya menjadi terfokus dan efisien. Sasaran

utama surveilans AFP adalah kelompok yang rentan terhadap penyakit poliomielitis,

yaitu anak berusia <15 tahun. Pengamatan difokuskan pada kasus poliomyelitis yang

mudah diidentifikasikan, yaitu penyakit poliomyelitis paralitik (menimbulkan

kelumpuhan) yang terjadi secara akut dan sifatnya flaccid (layuh).

Penemuan kasus AFP merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk

mendapatkan indikator Non polio AFP rate sama atau lebih dari 1 pada anak berusia

kurang dari 15 tahun yang dilaporkan baik puskesmas / masyarakat maupun rumah

sakit. Untuk mencapai non polio AFP rate ≥ 2 di Kota Metro maka harus ditemukan

minimal 1 kasus lumpuh layuh.

Tahun 2015 tidak ditemukan kasus AFP dan pada tahun 2016 ditemukan kembali 1

kasus (Puskesmas Purwosari), sedangkan tahun 2014 ada 1 kasus (AFP rate 2,44 per

100.000 anak < 15 tahun)di wilayah Yosodadi, dan tahun 2013 ditemukan 1 kasus

AFP (AFP rate 2,41 per 100.000 anak < 15 tahun) di wilayah Mulyojati, 2011

ditemukan 1 kasus AFP. Grafik perkembangan Angka Kesakitan AFP di Kota Metro

(51)

Gambar 20

Acute Flaccid Paralysis (AFP) rate per 100.000 Penduduk <15 tahun Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Surveylans & Penanggulangan KLB Dinkes Kota Metro

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa penemuan kasus AFP di Kota Metro dari

tahun ke tahun selalu berada di atas target nasional yaitu ≥ 2 per 100.000 penduduk<15 tahun 2011 terdapat 1 kasus (> 2 per 100.000 penduduk < 15 Tahun)

dan tahun 2012 terdapat 1 kasus dan tahun 2013 juga terdapat 1 kasus (>1 per

100.000 penduduk <15 tahun), tahun 2014 terdapat 1 kasus (>2 per 100.000

penduduk <15 tahun), tahun 2015 tidak ditemukan kasus dan tahun 2016 ditemukan 1

kasus. Dari setiap kasus AFP yang ditemukan selalu dilakukan pemeriksaan spesimen

tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus polio liar. Dari hasil pemeriksaan selama

tahun 2010-2014 tidak ditemukan adanya infeksi virus polio liar pada kasus AFP yang

ditemukan.

f. Penyakit Campak

Penyakit campak merupakan penyakit menular yang berpotensi menjadi KLB.

Penyakit ini menempati urutan ke-5 penyebab kematian pada bayi. Penyakit Campak

yang juga disebut measles adalah penyakit yang sangat menular dan akut. Program

reduksi campak global (WHO Ninth General Programme of Work,

1996-2001),menargetkan penurunan insidens campak 90% dan penurunan mortalitas

(52)

Kasus campak di Kota Metro mengalami penurunan selama periode tahun 2012

meningkat tajam yaitu ada 163 kasus atau 9,4 per 1000 balita dan menurun tahun

2013 terdapat 121 kasus atau 6,7 per 1000 balita, tahun 2014, 2015 dan 2016 tidak

ada kasus campak yang meninggal seperti terlihat pada gambar berikut:

Gambar 21

Angka kesakitan Campak per 1000 Balita Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

Strategi pengendalian penyakit campak dilakukan dengan imunisasi dengan target

nasional sebesar >95%, karena campak merupakan penyakit dengan potensi

menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa). Ada korelasi positif antara kenaikan

kejadian campak di Kota Metro dengan penurunan cakupan imunisasi campak.

Cakupan imunisasi campak di Kota Metro tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi

106,3 %,dan tahun 2013 meningkat menjadi 102,4 % dan tahun 2014 menjadi 103,1 %

dan tahun 2015 meningkat 114 % di atas target nasional sebesar > 95 %, kemudian di

(53)

Gambar 22

Cakupan Imunisasi Campak Kota Metro Tahun 2012-2016

Sumber: Seksi Surveylan & Epidemiologi

Gambar 23

Cakupan Imunisasi Campak Berdasarkan Puskesmas Kota Metro Tahun 2016

Sumber: Seksi Surveylan & Epidemiologi

g. Penyakit Kusta

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah

kesehatan di Propinsi Lampung, baik dari aspek medis maupun aspek sosial. Indikator

(54)

adalah angka kesembuhan (Release from treatment/RFT) serta angka kesakitan

(Angka Prevalensi) per 10.000 penduduk.

Penemuan penderita baru (case finding) penyakit Kusta di Kota Metro selama ini

dilaksanakan secara pasif yaitu hanya dari penderita yang berobat ke puskesmas.

Tahun 2011 ditemukan 1 kasus penyakit kusta di wilayah kecamatan Metro Pusat

pada kelurahan Metro dan tahun 2012 tidak ada temuan kasus baru, penderita kusta

yang ada adalah kasus lama yaitu yang ditemukan tahun 2011. Tahun 2013 terdapat 1

kasus baru di Metro dan tahun 2014 terdapat 1 kasus di Yosodadi , tahun 2015 dan

tahun 2016 tidak ditemukan kasus. Sedangkan sampai saat dari kasus yang

ditemukan dari tahun 2011 yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Metro penderita

sudah kembali ke daerahnya sehingga di Kota Metro tidak memiliki penderita kusta.

Tenaga puskesmas banyak yang belum dilatih program P2 Kusta, untuk itu perlu

adanya peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan melalui pelatihan-pelatihan yang

ada. Diharapkan dengan adanya peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang

penyakit kusta, maka penemuan penderita dapat ditingkatkan kembali. Penemuan

penderita kusta tersebut dapat melalui kegiatan perkesmas yang ada.

Gambar 24 Kasus Kusta Baru Kota Metro Tahun 2012-2016

(55)

h. Penyakit IMS dan HIV/AIDS

Penyakit infeksi menular seksual dan HIV/AIDS merupakan salah satu

penyakit yang sulit untuk teregristrasi di pelayanan kesehatan karena

penderita cenderung untuk tertutup dalam mencari pengobatan

penyakitnya.

Perlu diwaspadai dan diantisipasi bahwa penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun di

Kota Metro meningkat. Seperti diketahui penderita HIV/AIDS merupakan fenomena

gunung es, dimana kasus penderita HIV/AIDS yang sebenarnya mungkin lebih banyak

dari yang terpantau.

Hal ini karena penderita HIV/AIDS pada umumnya tersembunyi dan

menutupi penyakitnya karena masih stigma di masyarakat bagi

penderita HIV/AIDS dikucilkan dan diasingkan dari pergaulan. Sebagai

gambaran bahwa bila terdapat 1 kasus/penderita HIV/AIDS maka

diperkirakan terdapat sekitar 100 orang disekitarnya berpotensi terkena

HIV/AIDS.

Berdasarkan laporan SST tahun 2015 tidak terdapat penyakit Sifilis,

gonorhoe di Kota Metro. Sedangkan Penyakit HIV/AIDS di Kota Metro

Penemuan kasus baru HIV-AIDS di Kota Metro dari tahun 2008 – 2016 cenderung

fluktuatif. Tahun 2016 penemuan kasus baru HIV sebanyak 4 kasus. Dan kumulatif

hingga akhir Desember 2016 terdata bahwa pasien HIV-AIDS dari tahun 2008

sebanyak 54 kasus dengan yang meninggal sebanyak 24 kasus. Dapat digambarkan

secara rinci jumlah kasus HIV-AIDS 5 tahun terakhir adalah tahun 2012 terdapat 8

kasus meninggal 3 kasus, dan tahun 2013 terdapat 12 kasus meninggal 4 kasus

,Tahun 2014 terdapat 4 kasus meninggal 2 dan tahun 2015 terdapat 4 kasus dan

(56)

Gambar 25

Angka kesakitan HIV/AIDS Kota Metro Tahun 2011-2016

Sumber: Seksi Pencegahan & Pemberantasan Penyakit

i. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit Luar Biasa (KLB) Upaya penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB merupakan tindak lanjut

dari penemuan dini kasus-kasus penyakit berpotensi wabah yang terjadi di

masyarakat. Upaya yang dilakukan dimaksudkan untuk mencegah penyebaran lebih

luas dan mengurangi dampak yang ditimbulkan. Berdasarkan laporan seksi surveilans

(57)

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

4

4

.

.

1

1

Pelayanan Kesehatan

1. Pelayanan Antenatal/Ante Natal Care (ANC)

Ante Natal Care adalah merupakan cara penting untuk memonitoring dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal, ibu hamil

sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia

merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal

(Prawirohardjo. S, 2006 :52).

Pelayanan Ante Natal Care adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga yang memiliki

kompetensi/profesional untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standard

pelayanan antenatal yang meliputi standar minimal ”7T” untuk pelayanan Ante Natal

Care (ANC) yang terdiri atas:

(Timbang) berat badan, Ukur (tekanan) darah, Ukur (tinggi) fundus uteri, Pemberian

imunisasai (Tetanus Toksoid) TT lengkap,Pemberian (tablet besi) minimal 90 tablet

selama kehamilan, (Tes) terhadap penyakit menular seksual, (Temu) wicara dalam

rangka pensiapan rujukan.

Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru bumil

(K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling

sedikit empat kali (K4) dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada

triwulan kedua, 2 kali pada triwulan ketiga. Gambaran cakupan K1 dan K4 selama

(58)

Gambar 26

Cakupan K1 Kota Metro Tahun 2012 – 2016

Sumber: Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kota Metro

Gambar 27

Cakupan K4 Kota Metro Tahun 2012 – 2016

(59)

Pada tahun 2016, dari 2.990 ibu hamil terdapat 2.990 yang memeriksakan kehamilan

(K1) atau sebesar 100,0 %. Adapun cakupan pelayanan K4 pada tahun 2015 sebesar

99,3 %. Pencapaian cakupan pelayanan K1-K4 sudah memenuhi target yang ditetapkan

yaitu sebesar 95%, dan menunjukkan trend menurun dari tahun sebelumnya pada K4.

K4 yang meningkat pada tahun 2015 dapat disebabkan adanya bumil yang melakukan

pemeriksaan kehamilan dari luar wilayah Kota Metro.

2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan Komplikasi dan kematian maternal seringkali terjadi pada masa persalinan. Kematian

maternal dapat disebabkan karena persalinan tidak ditolong oleh tenaga yang tidak

mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan di Kota Metro pada tahun 2012-2016 mempunyai kecenderungan meningkat,

namun mengalami penurunan pada tahun 2012 dan tahun 2013 dan meningkat pada

tahun 2014 sampai 2015 dan pada tahun 2016 cakupan persalinan oleh tenaga

kesehatan menurun kembali. Hal tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 28

Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Kota Metro Tahun 2012 – 2016

(60)

Pada tahun 2016 dari 2.860 persalinan 98 % (2.802) ditolong oleh petugas kesehatan.

Angka ini sudah mencapai target. Kota Metro tidak ada tenaga dukun lagi, maka

pertolongan persalinan dii Kota Metro dilakukan oleh tenaga Kesehatan.

3. Deteksi ibu hamil dengan komplikasi

Komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung dapat

menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/komplikasi kebidanan

meliputi Hb<8 g%, tekanan darah tinggi (sistole >140mmHg, diastole >90mmHg),

oedeme nyata, pre-eklampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak

lintang pada usia kehamilan >32 minggu, letak sungsang primigravida, infeksi

berat/sepsis, dan persalinan prematur. Cakupan deteksi bumil di Kota Metro dari

periode tahun 2012-2016 menunjukkan kecenderungan naik pada tahun 2012 yaitu

96%, menurun pada tahun 2013 menjadi 95,4 dan tahun 2014 meningkat 97,6 %

sampai tahun 2015 menjadi 99,7 % dan tahun 2016 menurun kembali menjadi 94,3 %.

Cakupan deteksi bumil dengan komplikasi perlu dipertahankan karena keterlambatan

mendeteksi resiko kehamilan akan memperbesar risiko terjadinya kematian ibu. Jumlah

bumil resiko komplikasi sebanyak 599 ibu hamil dan ibu hamil yang di tangani 565

(cakupan 94,3%). Gambaran cakupan deteksi ibu hamil risti tergambar dalam grafik

berikut:

Gambar 29

Cakupan Deteksi Dini Ibu Hamil dengan komplikasi Kota Metro Tahun 2012 – 2016

(61)

4. Deteksi neonatus dengan komplikasi

Masalah rujukan bayi baru lahir risiko tinggi merupakan masalah yang perlu

mendapat perhatian, mengingat tingginya angka kematian umumnya terjadi pada masa

perinatal (0-7 hari) dan neonatal (8-28 hari).

Upaya menekan angka kesakitan dan kematian bayi dilakukan dengan cara

deteksi bayi-bayi komplikasi untuk mendapatkan rujukan dan penatalaksanaan

selanjutnya. Petugas kesehatan dituntut untuk mampu mengenali bayi komplikasi.

Disamping perlu juga diketahui bahwa neonatus komplikasi lahir dari ibu dengan

kehamilan komplikasi pula.

Adapun neonatus yang termasuk dalam kategori resiko tinggi adalah sebagai berikut :

1. Prematur / berat badan lahir rendah (BB< 1750 – 2000gr)

2. Umur kehamilan 32-36 minggu

3. Bayi dari ibu DM

4. Bayi dengan riwayat opname

5. Bayi dengan kejang berulang

6. Sepsis

7. Asfiksia Berat

8. Bayi dengan ganguan pendarahan

9. Bayi dengan Gangguan nafas (respiratory distress)

Dalam upaya menurunkan angka kematian bayi, Departemen Kesehatan

RI menetapkan cakupan deteksi dini neonatus risiko tinggi sebesar 70% di

dalam standar pelayanan minimal (SPM) Tahun 2008.Adapun pencapaian

program tersebut di Kota Metro dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2016

(62)

Gambar 30

Cakupan Deteksi Dini Neonatus Dengan Komplikasi

Kota Metro Tahun 2012- 2016

Sumber: Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kota Metro

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa cakupan deteksi dini neonatus komplikasi di Kota

Metro telah mencapai target nasional 100% yaitu mencapai 114,1 %. Dari tahun ke

tahun dapat diketahui bahwa cakupan program meningkat dari tahun 2012 , 2013 , 2014

dan menurun pada tahun 2015 dan meningkat kembali pada tahun pada tahun 2016.

5. PelayananKeluarga Berencana

Peserta KB aktif yaitu pasangan usia subur (15-49 tahun) yang berstatus kawin dan

sedang menggunakan salah satu kontrasepsi. Jumlah pasangan usia subur (PUS) yang

ada di Kota Metro tahun 2016 sebanyak 28.934 PUS dan tersebar di lima (5)

Kecamatan dengan jumlah PUS terbesar ada di Kecamatan Metro Pusat yaitu sebanyak

9.148 PUS atau 31,62 % sedangkan jumlah PUS terkecil ada di Kecamatan Metro Barat

yaitu sebesar 2,719 PUS atau 9,40 %.

Jumlah peserta KB aktif menurut BKKB & PP Kota Metro pada tahun 2016 sebanyak

(63)

6. Kunjungan Neonatus dan Kunjungan Bayi

Cakupan kunjungan neonatal (KN) adalah persentase neonatal yang memperoleh

pelayanan kesehatan minimal 2 kali dari tenaga kesehatan; satu kali pada umur 0-7 hari

dan satu kali pada umur 8-28 hari. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan

neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan

ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian

imunisasi), pemberian vitamin K, manajemen terpadu balita muda (MTBM) dan

penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. Dan ini digunakan

untuk melihat jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal.

Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 1-12 bulan di sarana

pelayanan kesehatan maupun di rumah, ataupun di tempat lain melalui kunjungan

petugas. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada

umur 1-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali pada

umur 9-12 bulan.

Gambar 31

Cakupan Kunjungan Neonatus 1 dan Neonatus Lengkap Kota Metro Tahun 2012– 2016

Sumber: Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kota Metro

Cakupan kunjungan neonatus di Kota Metro tahun 2016 yaitu sebanyak 2.839 dari

Figur

Gambar 1 Peta Wilayah Kota Metro
Gambar 1 Peta Wilayah Kota Metro . View in document p.23
Tabel 2
Tabel 2 . View in document p.25
Gambar 3 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Metro Tahun
Gambar 3 Indeks Pembangunan Manusia IPM Kota Metro Tahun . View in document p.27
Gambar 4 PDRB per Kapita Kota Metro
Gambar 4 PDRB per Kapita Kota Metro . View in document p.28
Gambar 6 Prosentase Penyebab Kematian Neonatal
Gambar 6 Prosentase Penyebab Kematian Neonatal . View in document p.31
Gambar 5 Perkiraan Angka Kematian Neonatal per 1000 Kelahiran Hidup
Gambar 5 Perkiraan Angka Kematian Neonatal per 1000 Kelahiran Hidup . View in document p.31
Gambar 7 Perkiraan Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup
Gambar 7 Perkiraan Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup . View in document p.33
Gambar 8 Prosentase Penyebab Kematian bayi
Gambar 8 Prosentase Penyebab Kematian bayi . View in document p.34
Gambar 9 Proporsi Kematian Bayi Berdasarkan Umur
Gambar 9 Proporsi Kematian Bayi Berdasarkan Umur . View in document p.35
Gambar 12 Perkiraan Angka Kematian Ibu Kota Metro tahun 2012-2016
Gambar 12 Perkiraan Angka Kematian Ibu Kota Metro tahun 2012 2016 . View in document p.38
Gambar 17
Gambar 17 . View in document p.47
Gambar 19 Angka Kesakitan Diare Balita per 1000 penduduk
Gambar 19 Angka Kesakitan Diare Balita per 1000 penduduk . View in document p.49
Gambar 21 Angka kesakitan Campak per 1000 Balita
Gambar 21 Angka kesakitan Campak per 1000 Balita . View in document p.52
Gambar 23 Cakupan Imunisasi Campak Berdasarkan Puskesmas
Gambar 23 Cakupan Imunisasi Campak Berdasarkan Puskesmas . View in document p.53
Gambar 22 Cakupan Imunisasi Campak Kota Metro Tahun 2012-2016
Gambar 22 Cakupan Imunisasi Campak Kota Metro Tahun 2012 2016 . View in document p.53
Gambar 24 Kasus Kusta Baru
Gambar 24 Kasus Kusta Baru . View in document p.54
Gambar 25 Angka kesakitan HIV/AIDS
Gambar 25 Angka kesakitan HIV AIDS . View in document p.56
Gambar 28 Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Gambar 28 Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan . View in document p.59
Gambar 29 Cakupan Deteksi Dini Ibu Hamil dengan komplikasi
Gambar 29 Cakupan Deteksi Dini Ibu Hamil dengan komplikasi . View in document p.60
Gambar 30 Cakupan Deteksi Dini Neonatus Dengan Komplikasi
Gambar 30 Cakupan Deteksi Dini Neonatus Dengan Komplikasi . View in document p.62
Gambar 31 Cakupan Kunjungan Neonatus 1 dan Neonatus Lengkap
Gambar 31 Cakupan Kunjungan Neonatus 1 dan Neonatus Lengkap . View in document p.63
Gambar 33 Cakupan D/S Menurut Wilayah Puskesmas
Gambar 33 Cakupan D S Menurut Wilayah Puskesmas . View in document p.67
Gambar 37 Cakupan Pemberian Tablet Fe Berdasarkan Puskesmas
Gambar 37 Cakupan Pemberian Tablet Fe Berdasarkan Puskesmas . View in document p.71
Gambar 38 Jumlah  Balita Gizi Buruk per Kecamatan
Gambar 38 Jumlah Balita Gizi Buruk per Kecamatan . View in document p.72
Gambar 40 Distribusi Kasus BBLR Berdasarkan Puskesmas
Gambar 40 Distribusi Kasus BBLR Berdasarkan Puskesmas . View in document p.74
Gambar 42 Cakupan ASI Eksklusif Kota Metro Tahun 2012-2016
Gambar 42 Cakupan ASI Eksklusif Kota Metro Tahun 2012 2016 . View in document p.76
Gambar 43 Pelayanan kesehatan gigi dan mulut
Gambar 43 Pelayanan kesehatan gigi dan mulut . View in document p.79
Gambar 44 Pelayanan kesehatan Usia Lanjut
Gambar 44 Pelayanan kesehatan Usia Lanjut . View in document p.80
Gambar 45 Prosentase Peserta JPK terhadap Jumlah Penduduk
Gambar 45 Prosentase Peserta JPK terhadap Jumlah Penduduk . View in document p.81
Gambar 46 Prosentase JPK Menurut Jenisnya
Gambar 46 Prosentase JPK Menurut Jenisnya . View in document p.82

Referensi

Memperbarui...