OPINI Kompasiana | 26 April 2013 | 09:08 Peran, Kendala, dan Tantangan LPSK
Oleh : Duloh Suherman Pendahuluan
Pasca Tahun 1998 hingga sekarang, proses transisi menuju demokrasi dan penegakan HAM di Indonesia belum terlihat tanda-tanda yang meyakinkan ( convincing – signs ). Belum terwujudnya stabilitas politik yang krusial bagi pemulihan dan kehidupan ekonomi rakyat pada umumnya serta krisis kepercayaan rakyat pada pemimpin dan elite politik serta penegakan HAM bukan hanya disebabkan kontroversi dan reperkusi politik, tetapi juga karena elite politik dan banyak kalangan masyarakat belum siap dengan apa yang disebut dengan civilized democracy / Demokrasi Keadaban.[1]
Kemerosotan keadaban itu bisa dilihat dengan tak berdayanya law and order dikalangan masyarakat luas dengan masih terpuruknya wibawa aparat hukum dan keamanan, yang pada gilirannya hukum hanya seperangkat aturan permainan bagi para mafia hukum yang menimbulkan banyak anekdot real di negeri ini; kasus penjara berkelas seperti hotel berbintang , kasus cicak dan buaya , Century Bank, adu - jotos Anggota Dewan terhormat, Jual - beli suara Pemilu dan Pilkada dibeberapa tempat,, Penodaan agama, tergusurnya para koruptor , yang mengakibatkan sang komandan KPK tersandung kasus pembunuhan sang Direktur suaminya Rani Juliani, terlepas melanggar KUHP atau mungkin karena konspirasi politik, yang jelas semakin menambah pahitnya kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa ini.[2]
dilematis ,belum lagi persoalan “Gayus” pemuda milyader asisten sutradara markus, Video Ariel yang menyentakan tempramen bangsa , belum tretrkait dengan bencana di mana mana; tsunami Aceh, mentawai ., merapi, bromo serta banyak lagi yang tak tersebut karena keterbatasan penulisan naskah ini. Panggung realita kehidupan ini diracik sedemikian rupa oleh Tuhan Yang Maha Esa yang memang telah diatur oleh Nya untuk ‘ suatu pelajaran ‘ dan diharapkan dapat ‘ menemukan kembali wujud dan bentuk aslinya atau jati diri bangsa ini yang memiliki karakter khas bangsa ini.
Dari proses pendewasaan ini, Indonesia patut berbangga dan bersyukur kepada Allah,/ Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan inspirasi dan keberanian pada para pemimpin bangsa ini, terutama pada wakil rakyat( Anggota DPR-RI , yang telah bersusah payah merumuskan undang – undang terkait perlindungan saksi dan korban. Pengakuan atas eksistensi Saksi dan Korban dalam Proses Peradilan Pidana di Indonesia, perlahan-lahan mulai diakui. Pengakuan tersebut tercermin dari lahirnya berbagai Peraturan Per-undang-undangan yang mengakui hak-hak Saksi dan Korban.Lahirnya berbagai peraturan Per-undang-undangan ini dapat dilihat sebagai tonggak perubahan paradigma atau cara pandang terhadap keberadaan saksi dan korban.[3]
Peran LPSK
permohonan, seperti pembunuhan, pelecehan seksual, penipuan dan lainnya. Pelanggaran HAM 123 permohonan, kasus korupsi 26 permohonan, KDRT 10 permohonan, narkotika lima permohonan dan kasus traficking sebanyak 15 permohonan. Hingga akhir tahun 2012 jumlah permohonan yang masuk ke LPSK mencapai 500 lebih permohonan, jumlah permohonan yang masuk untuk bantuan restitusi (ganti rugi) korban tindak kejahatan masih minim. Jumlah permohonan untuk bantuan restitusi hanya 26 permohonan. Jumlah permohonan yang masuk lebih cenderung pada perlindungan fisik dan perlindungan hukum saja, sementara bantuan medis, psikologi dan restitusi masih terhitung sedikit.[4]
Maka peran LPSK kedepannya adalah bagaimana membentuk perwakilan dalam pendelegasian hirarkis independent di dareah. Hal ini , dimaksud agar LPSK mampu berperan aktif dalam mem-follow-up dalam menangani permohonan dari sejumlah kasus yang masuk ke LPSK, terutama terkait kasus permohonan Restitusi
Perwakilan LPSK Daerah
Pemahaman yang kurang terhadap hak-hak saksi dan korban oleh masyarakat di daerah maupun aparat penegak hukum itu sendiri menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi LPSK ketika memberikan perlindungan dan bantuan kepada saksi dan korban di daerah, hal ini dikarenakan keterbatasan informasi yang diperoleh di daerah dibandingkan dengan masyarakat dan aparat penegak hukum yang berada di Jakarta ataupun pulau jawa, sosialisasi yang dilakukan LPSK di daerah menjadi bagian penting dalam hal ini. Untuk hal penanganan korban di daerah saat ini LPSK lebih berfokus pada pemulihan terhadap diri korban, pemberian bantuan terhadap korban tindak pidana pun menjadi sangat penting untuk menunjukan peran dan kepedulian Negara atas hak-hak korban sebagai orang yang dinilai paling dirugikan dalam kerangka proses peradilan pidana.
korban dihadapkan pada situasi yang sangat membahayakan jiwanya, tetapi pada kenyataanya perlindugan dan bantuan bagi saksi dan korban saat ini bukan hanya diperlukan untuk tindak pidana atau kasus-kasus tertentu seperti dimaksud penjelasan Pasal 5 ayat (2) tersebut melainkan tindak pidana umum lainnya yang bersentuhan dengan konflik sosial di Indonesia terutama masyarakat di wilayah luar Jakarta dan luar pulau jawa yang sedikit lebih sensitif dengan permasalahan hukum yang dialami terlebih bila berada dalam posisi sebagai korban. Keberadaan LPSK sebagai lembaga yang memberikan penaganan terhadap hak-hak saksi dan korban diharapkan dapat menjadi bagian yang penting dan tak terpisahkan dari sistem peradilan pidana di indonesia.[5]
Sebagai contoh kasus, Paska diumumkannya Kopassus sebagai pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sudah dapat dipastikan harus bekerja sangat serius, fokus dan ini akan semakin bisa dtangani jika existensi LPSK daerah dapat berkoordinasi secara linieritas dengan instansi terkait secara lokal terlebih dahulu, dan baru dapat ditingkatkan kedalaman kasusnya untuk di set up di pusat.
Kendala dan Tantangan LPSK
permainan waktu jatuh tempo kasus yang harus segera ditangani, maka kendala dan tantangan terpenting adalah , sebagai berikut :
1. Keutuhan dan Integritas serta Professionalitas TIM LPSK dalam menjalankan tugas.
Kata kunci ini sangat penting , bagi Lembaga Negara sejenis, termasuk LPSK. Volume kerja yang begitu tinggi, kemudian berbagai karakter dan latar belakang anggota LPSK dan SDM ( Sumber Daya Manusia ) pendukung di dalam LPSK, sering terjadi gesekan, sehingga kurang solid, hal ini akan menghasilkan kultur kerja yang kurang baik.
2. Integritas dan Kwalitas SDM pendukung
Kwalitas SDM pendukung sangat penting, terutama yang terkait dengan fron liner office pengaduan dan bank data pengaduan yang harus selalu di up-grade dan di referes.agar bisa selalu up-date progress report kasus dimaksud.Hal ini juga sangat berpengaruh dan berdampak sistemik, contoh, seperti kasus bocornya ‘sprindik’ anas di KPK, yang dibocorkan oleh sekretaris pribadinya, dan ini bersinggungan juga dengan point 3, yakni Review SOP Layanan Prima
3. Up-grading & Reviewing SOP Layanan Prima
Hal ini dimaksudkan agar seluruh aktivitas kerja dan kinerja dapat berjalan dan selalu meningkat jika prosedur dalam sitem layanan dimaksud dapat dijalankan dengan baik.
4. Synergize
positive teamwork, so as to achieve goals no one person could have done alone).
5. Good will dari seluruh aparat penegak hukum
Point 5 ini , menjadi sangat penting, karena keberhasilan tugas LPSK adalah Keberhasilan “Demokrasi & Penegakkan Hukum,” masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Keberhasilan ini dapat diukur dari upaya pemberian restitusi terhadap korban. Data penanganan LPSK terhadap pengajuan restitusi menunjukan respon pengadilan yang cukup beragam, yakni jumlah Permohonan Restitusi Yang diterima LPSK sebanyak 26 orang, Jumlah Permohonan Restitusi Yang Sudah Diajukan Ke Pengadilan sebanyak 26 orang, Jumlah Permohonan Yang Sudah Diputus ditingkat pengadilan 21 orang dengan amar putusan mengabulkan permohonan restitusi 1 korban sebesar Rp. 11.600.000 (sudah diputus di Mahkamah Agung), amar putusan Pengadilan Negeri Menggala Lampung yang mengabulkan permohonan restitusi 1 orang korban sebesar Rp. 14.700.000, Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengabulkan permohonan restitusi 7 orang korban traffiking sebesar Rp.300.000.000, Pengadilan Negeri Bukittinggi menolak permohonan restitusi 1 Orang korban pembunuhan, Pengadilan Negeri Jakarta Utara Menolak permohonan restitusi 10 Orang korban penganiayaan, Pengadilan Negeri Magetan menerima permohonan restitusi 1 orang korban pembunuhan.
6. Meminimalisir serangan balik
keterangan sampai pada jebak kepemilikan narkoba dan lain sebagainya.
Pasal 36 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang menyatakan bahwa instansi terkait sesuai dengan kewenangannya wajib melaksanakan keputusan LPSK sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang tersebut, selama ini justru kerap diabaikan, dan bahkan upaya penerapan pidana dalam Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban dalam ketentuan Pasal 37 sampai dengan Pasal 43 nyaris tak pernah digunakan.[6].
Dari data diatas, jelas bahwa untuk meminimalisir serangan dimaksud adalah adanya kerjasama dan koordinasi dari seluruh instansi terkait, juga kesadaran dan keberanian dari para saksi dan korban. Untuk itu, maka ponit berikut ini sangat penting, yakni sosialisasi dan pendidikan kesadaran hukum bagi masyarakat yang tematiknya adalah perlindungan atas saksi dan korban.
7. Sosialisasi dan Pendidikan atas kesadaran hukum bagi masyarakat
Tantangan LPSK ke depan ?
Dari sejumlah kasus yang masih menjadi dark numbers, hukum telah menjadi sejumlah aturan rekayasa, yang hanya mampu dipermainkan dan dimainkan oleh orang – orang yang mampu mempermainkannya. Hukum pun kini ‘bak sarang laba – laba , hanya binatang kecil lah yang dapat dijerat, sementara binatang besar dan buas dengan mudahnya merobek – robek sarng laba – laba tersebut. Andai saja setiap individu masyarakat Indonesia , terutama para penegak hukumnya mampu untuk ‘ menahan selera’ atas penawaran – penawaran yang menggiurkan , maka Indonesia tak mungkin kehilangan bentuk seperti ini.
Perlindungan atas saksi Mutilasi wibawa Hukum
Mutilasi kini telah merambah ranah hukum. Wibawa dan kepastian hukum telah dengan mudahnya dimutilasi. Gayus salah seorang sang pelaku mutilasi berdarah dingin dengan sikap dan gayanya yang khas dengan mudahnya memutilasi wibawa dan kepastian hukum, alat pemotongnya adalah ; Rupiah , Dolar dan Celengan.
Perlindungan atas saksi Mutilasi Jaringan ekonomi , pajak dan century
Sampai saat ini pelaku mutilasi ‘ mayat’ yang bernama century belum, terungkap, padahal masyarakat luas sangat antusias ingin mengetahui siapa pelaku mutilasi mayat yang bernama century tersebut. Yang sangat menghebohkan publik adalah adanya indikasi serangkaian aksi yang sistemik dari mutilasi mayat century tersebut, yakni jaringan ekonomi , mafia pajak dan century, walaupun hal tersebut adalah suatu dugaan yang tidak sangat beralasan , tetapi realitanya adalah bahwa public sedang disuguhkan suatu tayangan telenovela yang sepertinya ada keterkaitan antara mafia pajak dan century.
LPSK ; Kejujuran dan keberanian minoritas kreatif
semangat yang kuat ).Tantangan lingkungan yang ditangani oleh minoritas kreatif itulah yang membuat sejarah tetrcipta. Minoritas kreatif memilki peran yang sangat penting di dalam perkembangan sebuah peradaban. Maka LPSK adalah bagian dari minoritas kreatif.
Simpulan
Peran LPSK sangat penting bagi penegakkan hukum dan terwujudnya demokrasi yang berkeadaban di Indonesia. Hali ini terlihat dari animoo masyarakat yang mengadukan persoalannya terkait perlindungan saksi dan korban, juga terlihat pada masih banyaknya persoalan – persoalan hukum yang begitu banyak belum terselesaikan akibat pehaman masyarakat akan pentingnya sebuah kesaksian dalam penyelesaian sebuah kasus hukum.
Secara inventarisasi sederhana dari penulis terkait kendala dan tantangan LPSK kedepan adalah sebagai berikut : 1. Keutuhan dan Integritas serta Professionalitas TIM LPSK
dalam menjalankan tugas.
2. Integritas dan Kwalitas SDM pendukung 3. Up-grading & Reviewing SOP Layanan Prima 4. Synergize
5. Good will dari seluruh aparat penegak hukum 6. Meminimalisir serangan balik
7. Sosialisasi dan Pendidikan atas kesadaran hukum bagi masyarakat
8. Perlindungan atas saksi Mutilasi wibawa Hukum
[1] Duloh Suherman, Indonesia Hilang Bentuk , Info’Ulumuddin, ( Jakarta: 1999)
[2] Ibid
[3] Abdul Haris Semendawai.Kuliah umum Victimologi FH UI, 4 Okt 2010
[4]———————————-, Antara, Jakarta : Kamis (13/9 2011 )
[5] Lawrully’s BlogPowered by WordPress.comTop of Form
Bottom of Form