• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menyelaraskan Kebijakan Pembangunan IPTE (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Menyelaraskan Kebijakan Pembangunan IPTE (1)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Menyelaraskan Kebijakan Pembangunan

IPTEK

Pesatnya perkembangan global seakan membuat Indonesia tidak akan pernah terbebas dari pola “konsumtif”, yaitu ketika Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) memiliki posisi tawar yang sangat strategis dalam era globalisasi. “Ilmu” selalu dipandang sebagai produk, proses dan paradigma etika, yang secara sadar diperoleh melalui kegiatan ilmiah, sementara “pengetahuan” di dapat melalui proses pemahaman di luar metode ilmiah. Kemajuan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Disinilah peran teknologi sebagai hasil dari sublimasi teori dan rumus-rumus ilmu pengetahuan dapat menjadi

instrument paling penting dalam era modern saat ini. Maka kita tidak perlu heran jika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu beriringan menyesuaikan zamannya. Selanjutnya, apakah perkembangan IPTEK yang semakin “liar” dapat dimanfaatkan untuk membangun peradaban bangsa yang lebih merata dan sejahtera?

Merespon pertanyaan sederhana namun cukup “menyentil”, maka pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah kegiatan yang “wajib” diijalankan oleh

pemerintah yang dalam konteks ke-Indonesia-an dimotori oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pada hakikatnya kegiatan pengembangan ini ditujukan kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa dan penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seiring berjalannya teknologi sebagai konskuensi “logis” dari globalisasi serta terbukanya “keran” Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka ukuran sebuah perekonomian Negara tidak lagi berbasis dengan sumber daya alam (Resource Based Economy), melainkan berbasis pada sumber daya pengetahuan (Knowladge Based Economy). Implikasinya adalah, kekuatan bangsa diukur dari kekuatan iptek sebagai faktor “primer ekomomi” yang menggantikan “kekuatan modal”. Sejalan dengan implikasi tersebut, sebuah Negara sepantasnya dituntut memajukan inovasi-inovasi dan temuan anak bangsa yang salah satunya diperoleh dari fondasi riset yang kokoh.

Namun, realitasnya pembangunan IPTEK dihadapkan pada masalah klasik berupa belum memadai dan tertatanya infrastruktur pengembangan iptek nasional, dalam bentuk (1) ketersediaan sumberdaya (manusia, modal, sarana dan fasilitas, prasarana dan informasi) penelitian dan pengembangan (LITBANG) yang menyebabkan tidak tercapainya ambang kritis aktivitas litbang, (2) pola manajerial kelembagaan litbang yang cenderung struktural, (3) belum terbangunnya mekansime intermediasi yang berpeluang mempersambungkan kapasitas iptek dengan kebutuhan (need) industri dan dunia usaha, serta (4) belum tegas dan operasionalnya bentuk intervensi pemerintah dalam mendorong iklim yang kondusif bagi berkembangnya industri berbasis litbang maupun penguatan kapasitas iptek nasional. Salah satunya adalah kurangnya dorongan pemerintah dalam mengimplementasikan sistem inovasi daerah (SIDa) secara komperhensif dan tepat.

(2)

iptek dan perguruan tinggi memiliki konsep yang sederhana, yakni melalui “interaksi yang lebih erat” antara peneliti/akademisi, pelaku bisnis, pelaku pemerintahan dan pihak-pihak lainnya.

Pada literatur akademik, kita telah mengenal sejumlah gagasan seperti triple helix, university-industry linkage (UIL), sistem inovasi ataupun perguruan tinggi entrepreneurial. Semua gagasan ini mencoba menjawab permasalahan iptek di Indonesia.

Untuk menyempurnakan kebijakan yang telah ada, perlu dilakukan “re-skenario” kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu menciptakan iklim yang tidak hanya sinergi, tetapi juga selaras dalam pembangunan IPTEK menghadapi tantangan global, lembaga lembaga riset yaitu: (1) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, (2) Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) RISTEK, Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LEMLITBANG) dalam mensejahterakan masyarakat dan bangsa lebih memberikan prioritas kepada peningkatan mutu universitas, competitiveness index,

pemenuhan harapan masyarakat terhadap hasil penelitian, pengelolaan kelembagaan dan jaringan LITBANG, dan sedaya upaya agar bangkit dan keluar dari middle income economy trap dengan 4 (empat) langkah ideal, yaitu innovation driven economy, agent of economic development, increasing international publication dan boosting innovation.

Hal penting lainnya, apa Langkah sempurna pengelolaan kelembagaan dan jaringan LITBANG?

“Jaringan komunikasi harus dibedakan dengan struktur organisasi. Jaringan memusatkan perhatian pada siapa “aktor” yang memegang peranan kunci dalam suatu organisasi. Peranan kunci yang dimaksud di sini adalah peranan yang riil (kontak nyata), bukan

peranan atau posisi di atas kertas dalam suatu struktur organisasi. Aktor yang penting dalam struktur organisasi belum tentu menjadi aktor kunci dalam struktur jaringan atau sosial secara riil ”. (Eriyanto)

Menata jaringan penelitian dan pengembangan dimulai ketika program kebijakan riset dapat dirasakan secara langsung oleh kelompok litbang kelas bawah. Bagaimana suatu ide,

gagasan, produk yang semula kecil, berjaringan dan kemudian menjadi suatu “trend” di masyarakat. Bagaimana suatu produk yang semula tidak laku, kemudian bisa berubah menjadi “booming” dan menjadi produk populer. Bagaimana suatu penyakit yang semula hanya menjangkiti beberapa orang bisa berubah menjadi “epidemic” yang menjalar ke semua warga di satu kota. Ide, gagasan, produk tidak ubahnya seperti sebuah penyakit yang bisa menular dari satu orang ke orang lain, bisa berkembang dan menular dengan cepat lewat proses jaringan. Inti gagasan Galdwell adalah penyebaran ide, gagasan atau produk tidak ditentukan oleh berapa banyak upaya yang dilakukan untuk mencapai target, tetapi apakah ide, gagasan atau produk tersebut sampai ke orang/lembaga yang tepat?. Salah satu pihak yang disebut Gladwell (2000) adalah “penghubung atau konektor”. Mereka lah yang menghubungkan satu orang dengan orang lain sehingga membuat jaringan besar.

(3)

sosial” bagi lembaga litbang miskin, maksud dari “modal sosial” di sini adalah kepercayaan (trust) yang didapat dari relasi dengan aktor lain. Modal sosial menjadi penting karena lewat modal sosial tersebut aktor bisa diterima dalam lingkungan sosial, dan penerimaan tersebut akan membuat aktor bisa memaksimalkan keuntungan dalam relasi dengan orang lain. jaringan sosial merupakan aspek penting dalam membentuk modal sosial. Semakin terlibat seseorang dengan jaringan, semakin banyak relasi dan interaksi antara satu orang dengan orang lain, sehingga akan makin menumbuhkan kepercayaan. (3) Menciptakan konektor (penghubung), merupakan alternatif lain yang bisa dilakukan. Keterbatasan lembaga litbang ada pada akses informasi bisa diatasi dengan menciptakan konektor-konektor yang

menghubungkan lembaga litbang dengan sumber informasi.

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto mencapai 20 persen atau 18 persen untuk industri pengolahan non migas. Adapun pertumbuhan industri non migas hingga September 2016 mencapai 4,71 persen

Kesimpulan :

Untuk mendorong pertumbuhan industri nasional yang berkelanjutan, harus ada dukungan SDM industri yang kompeten, salah satunya dengan memperkuat pendidikan kejuruan dan vokasi berbasis kompetensi yang link and match dengan industri.

Butuh kemitraan yang kuat antara pendidikan dan industri untuk memastikan bahwa supply tenaga kerja yang dihasilkan sesuai juga dengan kebutuhan dunia industri. "Inilah makanya kami sangat bersyukur karena hari ini MoU lima kementerian bisa kita tandatangani bersama untuk ditindaklanjuti.

Aligning the Science and Technology

Development Policy

The rapid global developments seemed to make Indonesia will never be free from the pattern of "consumptive", that is, when Science and Technology

(Science and Technology) has a very strategic bargaining position in the globalization era. "Science" is always seen as products, processes and paradigms

of ethics, consciously acquired through scientific activities, while the "knowledge" in the can through the process of understanding beyond the scientific method. Advances in technology is something that is inevitable in life, because of technological advances will be run in accordance with the progress of

science. Here, the role of technology as a result of sublimation theory and formulas of science may be the most important instrument in the modern era. So

we should not be surprised if the development of science and technology is always hand in hand to adjust his time.

(4)

Responding to the question is simple but adequate "poked", the development of science and technology (Science and Technology) is an activity that is "mandatory" diijalankan by the government in the context of Indonesia's all

driven by the Ministry of Research Technology and Higher Education

(Kemenristekdikti). In essence, these development activities aimed at improving the welfare of the community in order to build the civilization and the strengthening of the Unitary Republic of Indonesia (NKRI). Over the technology

as the consequence "logically" from globalization and the opening of "taps" ASEAN Economic Community (AEC), the size of a state's economy is no longer

based natural resources (Resource Based Economy), but based on knowledge resources (Knowladge Based Economy ). The implication is, the strength of a nation is measured from the power of science and technology as a factor "both economic primer" which replaces "capital strength". In line with the implications

of such a country where appropriate prosecuted promote innovations and findings of the nation, one of which is obtained from a solid research foundation.

However, the reality of development of science and technology are faced with the classic problems of inadequate and well-organized infrastructure development of national science and technology, in the form of (1) the

availability of resources (human, capital, infrastructure and facilities, infrastructure and information) research and development (R & D) that led to failure to achieve the threshold critical activities of R & D, (2) managerial pattern of institutional R & D tend to be structural, (3) has not been the establishment of mechanisms of intermediation are likely to interlink the capacity of science and technology to the needs (need) industry and businesses, and (4) have not been

expressly and operational forms of government intervention in encouraging climate conducive to the development of industry-based research and development as well as strengthening the capacity of national science and technology. One of them is the lack of the government's drive to implement the

regional innovation system (SIDA) comprehensively and accurately.

Responding to these problems, it takes nets relevance among government agencies as well as relevant stakeholders, which means building and strengthening connectivity systematically institutionalized. The relevance of this needs to be improved, especially in the realm of science and technology research and development. Then, enter the results of science and technology into the teaching of science and technology, so that the resulting HR with relevant competence. The relevance of science and universities have a simple concept, namely

through "closer interaction" between researchers / academics, businessmen, officials and other parties.

In the academic literature, we have known a number of ideas such as the triple helix, university-industry linkage (UIL), system innovation or entrepreneurial universities. All of these ideas to try to answer the problems of science and technology in Indonesia.

To enhance existing policies, need to be "re-scenarios" of science policy and technology that can create a climate that is not only synergistic, but also aligned in the development of

science and technology to face global challenges, organizations research institutions, namely: (1) the Ministry of Research and Technology Higher Education, (2) Non-Government

(5)

people's expectations of the results of research, institutional management and R & D network, and Sedaya efforts in order to rise up and out of the trap of middle income economy by 4 (four) the ideal step, namely innovation driven economy, the agent of economic development, increasing international publication and boosting innovation.

Another important thing, what a perfect step institutional management and network R & D? "The communications network must be distinguished from the organizational structure. Network focus on who "actor" who played a key role in an organization. The key role is meant here is the role of real (real contact) and not the role or position on the paper in the organization structure. Important actors in the organizational structure may not necessarily be a key actor in the structure or social network in real terms ". (Eriyanto)

Organizing a network of research and development began when the research policy program can be felt directly by the lower-class R & D group. How is an idea, a product which was originally a small, networked and later became a "trend" in society. How a product that initially did not sell well, then can turn into the "boom" and become a popular product. How is a disease that initially affects only a few people can become "epidemic" that spreads to all residents in the city. Idea, the product does not is like a disease that can be transmitted from one person to another, can grow and spread quickly through the network. Galdwell core idea is the spread of ideas, ideas or products are not determined by how many efforts were made to reach the target, but if the idea, the idea or the product is up to the person / institution that right ?. One party, called Gladwell (2000) is a "liaison or connector". Those who connect one person with another person so that makes a big network.

Perfect Step institutional management and network R & D conducted by: (1) Creating the closure of the network (network closure). Network meetings and closed where members interact with each other, will have a better position, (Coleman 1998: S102-105), because the more closed networks enable network members abide by the norms in force. Actions contrary, can directly receive "punishment" by members of the network. (2) creating "social capital" for the poor R & D institutions, the purpose of "social capital" here is the confidence (trust) is obtained from a relationship with another actor. Social capital is important because it is through social capital of the actors to be accepted into the social environment, and the reception will make the actor can maximize profits in relationships with others. Social networking is an important aspect in shaping social capital. The more involved a person with the network, the more the relationship and interaction between one person to another, so that will increasingly foster trust. (3) Creating a connector (connecting), is an alternative that can be done. Limitations D institutions exist on access to information can be overcome by creating connectors linking R & D institutions with resources.

Improving the welfare of the community with a contribution to GDP reached 20 percent or 18 percent for non-oil processing industry. The growth of non-oil industry until September 2016 reached 4.71 percent

conclusion:

(6)

Referensi

Dokumen terkait

a. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian

Deis dan Groux (1992) dalam Nurul (2015) mengemukakan 4 hal yang memiliki hubungan dengan kualitas audit yaitu: (1) lama waktu auditor melakukan pemeriksaan terhadap suatu

Prasyarat kedua adalah, meskipun terjadi migrasi besar-besaran, tetapi masyarakat yang berpindah tersebut sama sekali tidak terserabut penuh dari akar tradisinya

Oleh sebab itu, maka kecantikan wanita selalu mengalami suatu standarisasi, di mana tolok ukur untuk penilaian tersebut seolah-olah berasal dari penilaian laki-laki yang kadang

Gaol, M.Si Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Muhammad Shaufi, M.Pd.I Muhammad Shaufi, M.Pd.I

 Metoda dalam pengendalian kecepatan dan arah kursi roda adalah PID menggunakan mikrokontroler. roda adalah PID

PENGARUH MODEL HELLISON DALAM PENDIDIKAN JASMANI TERHADAP KECERDASAN EMOSI DAN SELF-EFFICACY SISWA.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

SDIT AL uswah Surabaya is one unified Islamic elementary school that has problems ranging from frequent mistake inputting data, loss of data that has been collected, the data is not