• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah perundangan tentang peradilan.do (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah perundangan tentang peradilan.do (1)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar tertulis di Negara kita. Awal mulanya ketentuan pasal-pasal pada Undang-Undang Dasar 1945 itu memuat hal-hal pokok yang belum terjabarkan secara luas serta masih kondusif dengan era itu. Sehingga seiring perjalanan bangsa Indonesia sudah banyak sekali perubahan Undang-Undang Dasar. Tidaklah cukup Undang-Undang Dasar itu sebagai aturan tunggal. Tentu harus menjadi payung hukum yang utama dari undang-undang dan aturan lainnya yang berada di bawahnya.

Pada Amandemen ke-3 Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan 10 November 2001 pada Pasal 1 ayat (3) menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Penegasan ketentuan konstitusi ini bermakna bahwa bahwa segala aspek kehidupan dalam kemasyarakatan, kenegaraan dan pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Penegakan dan penerapan hukum itu sedianya bersumber dari tata aturan yang mengaturnya. Sejak awal kemerdekaan, para pendiri negara telah melakuan beberapa hal untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan sebaik-baiknya sebagaimana tujuan hakikat Negara merdeka itu sendiri.

Dalam bidang hukum dan peradilan pada awalnya belum memiliki payung hukum yang jelas walau pelaksanaan praktisnya sudah ada di masyarakat. Kita mengenal berbagai jenis peradilan seperti peradilan umum/sipil, peradilan militer, peradilan agama dan peradilan tata usaha.

(2)

lahirnya beberapa ketentuan yang mengatur lebih lanjut tentang perikehidupan masyarakat dalam bidang peradilan.

Seiring dinamika perkembangan bangsa maka munculah Undang-Undang sistem peradilan. Kita mengenal era Orde Lama, Orde Baru, dan sekarang Orde Reformasi yang tentu saja memberi pembedaan dalam tata peradilan baik itu perubahan Undang-Undang dan tata aturan lainnya maupun membuat sesuatu aturan Undang-Undang yang baru. Berkaitan dengan hal tersebut di atas sehingga pada makalah ini hanya membahas perundang-undangan peradilan di zaman Orde Lama dan Orde baru.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan beebagai perundang-undangan di bidang peradilan di kedua era yaitu Orde Lama dan Orde Baru. Selain itu juga untuk mengetahui sejarah peradilan di Negara Indonesia semenjak kemerdekaan hingga sekarang ini.

C. Manfaat

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat Peradilan di Indonesia

Sebagai Negara yang konstitusinya menamakan dirinya Negara hukum, maka sesungguhnya sistem dan sumber hukum tentu harus jelas. Suatu Negara dapat dikatakan sebagai Negara hukum dapat diukur dari pandangan bagaimana hukum itu diperlakukan di Indonesia, apakah ada sistem peradilan yang baik dan tidak memihak serta bagaimana bentuk-bentuk pengadilannya dalam menjalankan fungsi peradilan juga sumber hukum sebagai dasar acuan penerapan hukumnya.

Perkembangan perundang-undangan peradilan di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama sejalan dengan perkembangan sistem hukum yang ada di Indonesia. Bahkan sebelum bangsa Eropa (Belanda) datang ke Indonesia, kita sebenarnya telah memiliki berbagai macam lembaga peradilan yang dipimpin oleh Raja sekalipun susunan dan jumlahnya masih terbatas bila dibandingkan dengan yang ada sekarang ini. Aturan sejenis perundang-undangan dari zaman ke zaman akan mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan dan perubahan masyarakat itu sendiri. Ketika Hindia Belanda berkuasa dikenal berbagai peraturan yang berfungsi sebagai payung hukum bagi masyarakat di zamannya. Tentu peraturan sejenis perundang-undangan itu sekemauan bangsa kolonial.

Pada periode awal kemerdekaan, hampir semua payung hukum bersumber dari sistem yang diwariskan bangsa kolonial. Bahkan ada beberapa perundang-undangan yang masih memakai aturan jaman penjajahan. Seiring dengan nuansa kemerdekaan, maka secara perlahan bangsa Indonesia mulai melakukan berbagai perubahan-perubahan dalam tata aturan hukum terutama perundang-undangan untuk mengatur peri kehidupan bangsa yang merdeka dan berdaulat.

(4)

ketimpangan dalam pelaksanaan. Seperti pengadilan umum misalnya, sudah ada semenjak jaman colonial Belanda, juga peradilan agama.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945 mulailah dengan menata perundangan-undangan Negara merdeka dengan sistem peradilan yang disesuaikan zamannya. Selanjutnya di era Orde Lama, pemerintahan di saat itu mulai perlahan melakukan pembenahan sistem perundang-undangan khususnya pada bidang peradilan dengan mengacu pada hukum dasar Negara Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945.

Situasi Negara yang belum stabil karena adanya berbagai gejolak di masyarakat, di era Orde Lama tersebut menyebabkan dasar hukum Negara kita mengalami berbagai perubahan. Dan perubahan dasar hukum itu mempengaruhi tata aturan perundang-undangan di bawahnya termasuk tentang peradilan.

Di masa Orde Baru sudah semakin memperhatikan perundang-undangan peradilan dengan tujuan mencapai masyarakan yang adil dan makmur sesuai cita-cita luhur bangsa. Peradilan umum, peradilan agama, dan peradilan militer, bahkan di akhir era Orde Baru hadir juga peradilan Tata Usaha Negara.

Namun seiring dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru dan dimulainya era reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, bergulir pula tuntutan untuk mereformasi hukum secara menyeluruh. Dengan melihat hukum sebagai suatu sistem, maka reformasi hukum selain menyangkut perbaikan substansi peraturan perundang-undangan, juga harus menyentuh struktur/kelembagaan penegakan hukum serta kultur/budaya hukum masyarakatnya. Sejalan dengan tuntutan Reformasi dan amandemen UUD 1945 muncul lembaga peradilan baru, yaitu Mahkamah Konstitusi, yang diharapkan keberadaannya dapat meningkatkan wibawa hukum dan peradilan di Indonesia.

Namun substansi yang akan dibahas di dalam makalah ini hanya mengenai perundang-undangan tentang peradilan Indonesia pada era Orde Lama dan era Orde Baru sebagai salah satu bagian yang integral dari sistem dan dasar hukum Indonesia.

(5)

Berdasarkan Pasal II aturan peralihan UUD 1945, maka susunan pengadilan masih menggunakan seperti yang diatur di dalam Undang-Undang No. 34 tahun 1942. Perubahan mulai terjadi setelah dikeluarkannya Undang-Undang No. 19 tahun 1948. Undang-undang ini bermaksud melaksanakan Pasal 24 UUD 1945 tentang kekuasaan kehakiman sekaligus juga mencabut Undang-undang No. 7 tahun 1947 tentang susunan dan kekuasaan Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung.

Menurut Pasal 6 Undang-undang No. 19 tahun 1948 dalam Negara RI dikenal adanya 3 lingkungan peradilan, yaitu :

1). Peradilan umum

2). Peradilan Tata Usaha Pemerintahan; 3). Peradilan Ketentaraan.

Selanjutnya Pasal 10 ayat 1 menyebutkan tentang sebagai “pemegang kekuasaan dalam masyarakat yang memeriksa dan memutus perkara-perkara yang menurut hukum yang hidup di masyarakat desa”. Tentang peradilan agama tidak disebutkan oleh Undang-undang No. 19 tahun 1948 itu, hanya dalam Pasal 35 ayat 2 ditetapkan bahwa perkara-perkara perdata antara orang Islam yang menurut hukum yang hidup harus diperiksa dan diputus menurut hukum agamanya, harus diperiksa oleh pengadilan Negeri, yang terdiri dari seorang hakim beragama Islam, sebagai ketua dan dua orang hakim ahli agama Islam sebagai anggota.

1. Peradilan Umum • 1945-1949

Pasal II Aturan Peralihan UUD’45 menetapkan bahwa: segala badan negara dan peraturan yang ada masih lansung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini. Hal ini berarti bahwa semua ketentuan badan pengadilan yang berlaku akan tetap berlaku sepanjang belum diadakan perubahan.

(6)

dilakukan oleh Landgerecht dan Appelraad dengan menggunakan HIR sebagai hukum acaranya.

Pada masa ini juga dikeluarkan UU UU No.19 tahun 1948 tentang Peradilan Nasional yang ternyata belum pernah dilaksanakan.

• 1949-1950

Pasal 192 Konstitusi RIS menetapkan bahwa Landgerecht diubah menjadi Pengadilan Negeri dan Appelraad diubah menjadi Pengadilan Tinggi

• 1950-1959

Adanya UU Darurat No.1 tahun 1951 yang mengadakan unifikasi susunan, kekuasaan, dan acara segala Pengadilan Negeri dan segala Pengadilan Tinggi di Indonesia dan juga menghapuskan beberapa pengadilan termasuk pengadilan swapraja dan pengadilan adat. • 1959 sampai sekarang terbitnya UU No. 14 Tahun 1970

Pada masa ini terdapat adanya beberapa peradilan khusus di lingkungan pengadilan Negeri yaitu adanya Peradilan Ekonomi (UU Darurat No. 7 tahun 1955), peradilan Landreform (UU No. 21 tahun 1964).

2. Peradilan Militer

Pada tanggal 5 Oktober 1945 Angkatan Perang RI dibentuk tanpa diikuti pembentukan Peradilan Militer. Peradilan Militer baru dibentuk setelah dikeluarkannya UU. No. 7 tahun 1946 tentang Peraturan mengadakan Pengadilan Tentara disamping pengadilan biasa, pada tanggal 8 Juni 1946, kurang lebih 8 bulan setelah lahirnya Angkatan Bersenjata RI. Dalam masa kekosongan hukum ini, diterapkan hukum disiplin militer. Bersamaan dengan ini pula dikeluarkan UU No. 8 tahun 1946 tentang Hukum acara pidana guna peradilan Tentara.

Dengan dikeluarkannya kedua undang-undang diatas, maka peraturan-peraturan di bidang peradilan militer yang ada pada zaman sebelum proklamasi, secara formil dan materil tidak diperlakukan lagi.

(7)

2. Mahkamah Tentara Agung.

Peradilan Tentara berwenang mengadili perkara pidana yang merupakan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh:

1. Prajurit Tentara (AD) RI, Angkatan laut dan Angkatan Udara

2. Orang yang oleh presiden dengan PP ditetapkan sama dengan prajurit

3. Orang yang tidak termasuk gol 1 dan 2 tetapi berhubungan dengan kepentingan ketentaraan.

Pengadilan juga diberi wewenang untuk mengadili siapapun juga, bila kejahatan yang dilakukan termasuk dalam titel I dan II buku II KUHP yang dilakukan dalam daerah yang dinyatakan dalam keadaan bahaya.

Mahkamah Tentara; pengadilan tingkat pertama yang berwenang mengadili perkara dengan tersangka prajurit berpangkat Kapten ke bawah. Mahkamah Tentara Agung; Mahkamah Tentara Agung pada tingkat kedua dan terakhir, mengadili perkara yang telah diputus oleh mahkamah tentara.

Pada tahun 1948 dikeluarkan PP No. 37 tahun 1948, yang mengubah beberapa ketentuan susunan, kedudukan dan daerah hukum yang telah diatur sebelumnya. PP ini mengatur peradilan tentara dengan susunan:

1.Mahkamah Tentara. 2.Mahkamah Tentara Tinggi 3.Mahkamah Tentara agung

Dalam PP tersebut juga diatur adanya 3 tingkat kejaksaan tentara; 1. Kejaksaan Tentara

2. Kejaksaan Tentara Tinggi 3. Kejaksaan Tentara Agung

Hukum Pidana Materil yang berlaku pada masa berlakunya undang-undang No. 7 tahun 1946 dan peraturan pemerintah No. 37 tahun 1948 adalah sebagai berikut:

(8)

2. KUHPT (UU. No. 39 Tahun 1947 jo. S. 1934 No. 167) 3. KUHDT (UU. No. 40 Tahun 1947 jo. S. 1934 No. 168)

Pada masa tahun 1946 hingga 1948 diadakan Peradilan Militer Khusus, sebagai akibat dari peperangan yang terus berlangsunf yang mengakibatkan putusnya hubungan antar daerah. Peradilan militer khusus ini meliputi:

1. Mahkamah Tentara Luar Biasa (PP. No. 5 tahun 1946). 2. Mahkamah Tentara Sementara (PP. No. 22 tahun 1947).

3. Mahkamah Tentara Daerah Terpencil (PP. No. 23 Tahun 1947).

Pada tanggal 19 Desember 1948 tentara Belanda Melakukan Agresinya yang kedua terhadap negara RI. Agresi tersebut dimaksudkan untuk menghancurkan tentara nasional Indonesia dan selanjutnya pemerintah RI. Aksi tersebut mengakibatkan jatuhnya kota tempat kedudukan badan-badan peradilan ke tangan Belanda.

Mengingat kondisi ini, maka dikeluarkanlah peraturan darurat tahun 1949 No. 46/MBKD/ 49 yang mengatur Peradilan Pemerintahan Militer untuk seluruh pulau Jawa -Madura. Peraturan tersebut memuat tentang:

1. Pengadilan Tentara Pemerintahan Militer 2. Pengadilan Sipil Pemerintah Militer 3. Mahkamah Luar Biasa

4. Cara menjalankan Hukuman Penjara.

Peraturan darurat tersebut hanya berjalan selama kurang lebih 6 bulan, kemudian pada tanggal 12 juli 1949 menteri kehakiman RI mencabut Bab II peraturan tersebut. Kemudian pada tanggal 25 Desember 1949 dengan PERPU No. 36 tahun 1949 mencabut seluruhnya materi Peraturan darurat No. 46/MBKD/49, dan aturan yang berlaku sebelumnya dinyatakan berlaku lagi.

Berdasarkan Undang-undang darurat No. 16 tahun 1950, mengatur peradilan tentara kedalam tiga tingkatan yaitu:

1. Mahkamah Tentara

(9)

3. Mahkamah Tentara Agung

Sementara untuk Kejaksaan dibagi atas: 1. Kejaksaan Tentara

2. Kejaksaan Tentara Tinggi 3. Kejaksaan Tentara Agung

Undang-undang darurat No. 16 tahun 1950 kemudian dicabut dengan lahirnya UU No. 5 tahun 1950, yang sebenarnya hanya merupakan penggantian formil saja, sedangkan mengenai materinya tetap tidak mengalami perobahan. Pada masa ini masa RIS lahir Mahkamah Tentara di banyak tempat, seperti di Jawa-Madura.

Pada Tanggal 5 Juli 1959 Presiden RI mengeluarkan dekrit yang menyatakan pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945. UU No. 5 tahun 1950 sejak dikeluarkannya dekrit tetap berlaku, tetapi perkembangan selanjutnya menyebabkan penerapannya berbeda dengan periode sebelum dekrit 5 Juli 1959. Hal ini karena makin disadari bahwa kehidupan militer memiliki corak kehidupan khusus, disiplin tentara yang hanya dapat dimengerti oleh anggota tentara itu sendiri. Karena itu dirasakan perlunya fungsi peradilan diselenggarakan oleh anggota militer.

Pada tanggal 30 Oktober 1965 di undangkan Penetapan Presiden No.22 tahun 1965, tentang perobahan dan tambahan beberapa pasal dalam UU. No. 5 tahun 1950. Perobahan-perobahan tersebut adalah mengenai pengangkatan pejabat-pejabat utama pada badan-badan peradilan militer.

(10)

peradilan dalam lingkungan angkatan kepolisian. Dengan demikian peradilan dalam lingkungan Peradilan Militer dalam pelaksanaannya terdiri dari:

a. Peradilan Militer untuk Lingkungan Angkatan Darat b. Peradilan Militer untuk Lingkungan Angkatan Laut c. Peradilan Militer untuk Lingkungan Angkatan Udara d. Peradilan Militer untuk Lingkungan Angkatan Kepolisian.

Peradilan ini terus berlangsung hingga setelah 11 maret 1966, bahkan peradilan di lingkungan angkatan kepolisian baru di mulai pada tahun 1966.

3. Peradilan Agama

Pada awal tahun 1946 dibentuklah kementerian agama. Departemen agama dimungkinkan melakukan konsolidasin atas seluruh administrasi lembaga-lembaga Islam dalam sebuah badan yang bersifat nasional.

Adapun kekuasaan pengadilan agama/mahkamah syar’iyah menurut ketetapan pasal 4 PP adalah sebagai berikut:

1) Pengadilan agama / mahkamah syar’iyah memeriksa dan memutuskan perselisihan antara suami isteri dan semua perkara yang menurut hukum yang hidup diputus menurut hukum agama Islam.

2) Pengadilan agama / mahkamah syar’iyah tidak berhak memeriksa perkara-perkara tersebutdalam ayat 1 jika untuk perkara berlaku lain dari pada hukum agama Islam. Pada masa kemerdekaan, Pengadilan Agama atau Mahkamah Agung Islam Tinggi yang telah ada berlaku berdasarkan aturan peralihan. Selang tiga bulan berdirinya Departemen Agama yang dibentuk melalui keputusan pemerintah. Setelah Pengadilan Agama diserahkan pada Departemen Agama masih ada pihak tertentu yang berusaha menghapuskan keberadaan pengadilan agama. Pengadilan agama selanjutnya ditempatkan dibawah tanggung jawab jawatan urusan agama.

(11)

Selama pendudukan Jepang masih tetap digunakan system IS dan RO, yakni system banding administratif (administratief beroep). Setelah itu, pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikanlah kemerdekaan Negara RepubLik Indonesia. Untuk kali pertama diberlakukan UUD 1945 dari tanggal 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949. Kemudian dari tanggal 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 diberlakukanlah Konstitusi Indonesia Serikat. Selanjutnya sejak tanggal 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 diberlakukanlah UUD Sementara tahun 1950. Dan terkhir sejak tanggal 5 Juli 1959 dengan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 berlakulah kembali UUD 1945.

Apabila kita telusuri, pada kurun waktu di atas, yakni sejak Indonesia merdeka hingga penghujung tahun 1986, Indonesia belum mempunyai suatu lembaga Peradilan Administrasi Negara (TUN) yang berdiri sendiri. Memang dalam praktek telah banyak perkara administrasi Negara (TUN) yang dapat diselesaikan. Namun dalam penyelesaiannya bukan dilakukan oleh lembaga Peradilan TUN, melainkan diselesaikan oleh berbagai macam badan yang masing-masing mempunyai batas kompetensi tertentu dengan prosedur pemeriksaan yang berbeda pula. Dalam praktek, kita mengetahui adanya 3 lembaga yang melakukan fungsi seperti lembaga Peradilan TUN yaitu Majelis Pertimbangan Pajak (MPP), Peradilan Pegawai Negeri, dan Peradilan Bea Cukai. Tetapi yang betul-betul menjalankan hanya MPP saja dan yang lainnya tidak pernah berfungsi. Satu-satunya lembaga yang dianggap sebagai Peradilan TUN adalah Majelis Pertimbangan Pajak (MPP), Majelis ini merupakan hakim yang mandiri, yang mengadili antara sengketa yang memungut pajak (pemerintah) dengan pembayar pajak (rakyat). Dalam hal ini kedua pihak mempunyai kedudukan yang sederajat dan hak yang sama. Apabila kita telusuri dokumen yang berkenaan dengan masalah Peradilan Tata Usaha Negara, maka upaya kearah perwujudan Peradilan TUN memang sudah sejak lama dirintis. Untuk kali pertam pada tahun 1946 Wirjono Prodjodikoro membuat Rancangan Undang-Undang tentang Acara Perkara Dalam Soal Tata Usaha Pemerintahan. Di samping itu masih ada usaha lain yang mendukung perwujudan Peradilan TUN. Misalnya kegiatan-kegiatan yang berupa penelitian, simposium, seminar, penyusunan RUU, dan sebagainya. Perintah untuk mewujudkan Peradilan TUN untuk kali pertama dituangkan dalam Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960.

(12)

Pada tahun 1970 ditetapkan UU No 14 Tahun 1970 yang dalam Pasal 10 menetapkan bahwa ada 4 lingkungan peradilan yaitu: peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara.

1. Peradilan Umum

Semangat dari UU No 14 Tahun 1970 memang yang patut di apresiasi, dengan Empat lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang masing-masing memiliki kopentensi dibidangnya, yakni lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara, telah diakui eksistensinya oleh hukum dasar yakni konstitusi negara Republik Indonesia.

Sementara itu Mahkamah Agung menjadi lembaga tinggi negara (lembaga negara) diranah yudisial, yang mana MA tidak hanya sebagai pemegang puncak kekuasaan kehakiman tetapi juga menjadi lembaga yang diberi wewenang oleh undang-undang pokok kekuasaan kehakiman untuk mengawasi perbuatan peradilan yang lain (pasal 10 ayat (4)).

Mahkamah Agung sebagai salah satu badan yang melakukan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945, didefinisikan sebagai “... Pengadilan Negara Tertinggi dari semua lingkungan peradilan, yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lain.”

Intervensi kebijakan (politik dan birokratik) terhadap lembaga peradilan sepanjang dekade 70-an, pada dekade 80-an mendapat penguatan oleh dua produks legislasi. Masing-masing UU No. 14/1985 tentang Mahkamah Agung dan UU No. 4/1986 tentang Peradilan Umum. Usulan IKAHI yang mengingatkan kembali mengenai kemandirian lembaga peradilan dengan mengeluarkan administrasi lembaga peradilan dari birokrasi pemerintah dan pemberian kewenangan uji materiil undang-undang, tidak digubris. Dengan intervensi birokratik dan politik yang sudah mendalam, IKAHI pada masa itu adalah organisasi yang sudah terkooptasi oleh pemerintah dan dengan demikian tidak mampu lagi melakukan tekanan.

(13)

kembali menegaskan bahwa hal itu hanya dapat dilakukan lewat pemeriksaan kasus biasa dan dengan demikian tidak dapat diajukan langsung ke MA. Sementara itu UU No. 4/1986 tetap mempertahankan dualisme administrasi peradilan dengan menentukan bahwa urusan manajemen teknis peradilan di bawah MA sementara urusan manajemen organisasi, administrasi dan keuangan berada di tangan Departemen Kehakiman.

2. Peradilan agama

Pada masa orde baru kekuasaan dari lembaga peradilan (yudikatif) mengalami perkembangan yang signifikan yaitu dengan diundangkannya undang-undang nomor 14 tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman yang mana dalam undang-undang ini kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh empat lingkungan peradilan yang ada yaitu peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara yang semuanya berada dibawah Mahkamah Agung.

Dalam masa kurang lebih 15 tahun yakni menjelang disahkannya UU No.1/1974 tentang perkawinan sampai menjelang lahirnya UU No.7/1989 tentang peradilan agama. Ada dua hal yang menonjol dalam perjalanan peradilan agama di Indonesia:

a. Tentang proses lahirnya UU No.1/1974 tentang perkawinan dengan peraturan pelaksanaannya PP No.9/1974

b. Tentang lahirnya PP No.28/1977 tentang perwakafan tanah milik, sekarang telah diperbaharui UU No.41/2004 tentang wakaf. (Basiq Djalil,2006:73)

Terlepas dari itu semua, harus diakui bahwa UU No. 1 tahun 1974 ini sangat berarti dalam perkembangan Peradilan Agama di Indonesia, karena selain menyelamatkan keberadaan Peradilan Agama sendiri, sejak disahkan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo. PP No. 9 tahun 1975 tentang peraturan Pelaksanaanya, maka terbit pulalah ketentuan Hukum Acara di Peradilan Agama, biarpun baru sebagian kecil saja. Ketentuan Hukum Acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama baru disebutkan secara tegas sejak diterbitkan UU No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Hukum Acara yang dimaksud diletakkan Bab IV yang terdiri dari 37 pasal.

(14)

dimuat di media massa, namun akhirnya pada tanggal 27 Desember 1989 UU No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama disahkan oleh DPR yang kemudian yang diikuti dengan dikeluarkannya Inpres No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Dengan disahkan UU tersebut bukan saja menyejajarkan kedudukan Peradilan Agama dengan lembaga peradilan lain, melainkan juga mengembangkan kompetensi Peradilan Agama yang dulu pernah dimilikinya pada zaman kolonial. Pasal 49 UU itu menyatakan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di bidang:

a. Perkawinan

b. Kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam c. Wakaf dan shodaqoh

Dalam pasal 49 ayat 3 dinyatakan bahwa:

Bidang kewarisan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian-bagian ahli waris dan melaksanakan pembagian-bagian pada harta peninggalan tersebut.

Dalam ayat 3 diatas terlihat bahwa Pengadilan Agama memiliki kekuatan hukum untuk melaksanakan keputusannya sendiri, tidak perlu meminta executoir verklaring lagi dari Pengadilan Umum.

3. Peradilan Militer

Pelaksanaan peradilan militer di dalam lingkungan masing-masing angkatan seperti yang ada sebelumnya tetap berlaku hingga pada awal 1973. Tahun 1970 lahirlah UU No. 14 tahun 1970 menggantikan UU No. 9 tahun 1964 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Undang-undang ini mendorong proses integrasi peradilan di lingkungan militer. Baru kemudian berubah ketika dikeluarkan berturut-turut;

a. Keputusan bersama menteri kehakiman dan menteri pertahanan/Pangab pada tanggal 10 Juli 1972 No. J.S.4/10/14 - SKEB/B/498/VII/72

(15)

tempat kedudukan, daerah hukum, jurisdiksi serta kedudukan organisatoris pengadilan tentara dan kejaksaan tentara.

Barulah kemudian peradilan militer dilaksanakan secara terintegrasi. Pengadilan militer tidak lagi berada di masing-masing angkatan tetapi peradilan dilakukan oleh badan peradilan militer yang berada di bawah departemen pertahanan dan keamanan. Berdasarkan dari SK bersama tersebut, maka nama peradilan ketentaraan diadakan perubahan. Dengan demikian, maka kekuasaan kehakiman dalam peradilan militer dilakukan oleh:

1. Mahkamah Militer (MAHMIL)

2. Mahkamah Militer Tinggi (MAHMILTI) 3. Mahkamah Militer Agung (MAHMILGUNG).

Pada tahun 1982 dikeluarkan Undang-Undang No. 20 tahun 1982 tentang ketentuan pokok pertahanan keamanan negara RI yang kemudian diubah dengan Undang-Undang No 1 tahun 1988. Undang-undang ini makin memperkuat dasar hukum keberadaan peradilan militer. Pada salah satu point pasalnya dikatakan bahwa angkatan bersenjata mempunyai peradilan tersendiri dan komandan-komandan mempunyai wewenang penyerahan perkara. Hingga tahun 1997 hampir tidak ada perubahan yang signifikan dalam pelaksaanan peradilan militer di Indonesia.

Pada tahun 1997 diundangkan UU No. 31 tahun 1997 tentang peradilan militer. Undang-undang ini lahir sebagai jawaban atas perlunya pembaruan aturan peradilan militer, mengingat aturan sebelumnya dipandang tidak sesuai lagi dengan jiwa dan semangat undang-undang No. 14 tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Undang-undang ini kemudian mengatur susunan peradilan militer yang terdiri dari; a. Pengadilan Militer

b. Pengadilan Militer Tinggi c. Pengadilan Militer Utama d. Pengadilan Militer Pertempuran.

(16)

ketentaraan, sebagaimana telah diubah dengan UU. No. 22 PNPS tahun 1965 dinyatakan tidak berlaku lagi. Demikian halnya dengan UU No. 6 tahun 1950 tentang Hukum Acara Pidana pada pengadilan tentara, sebagaimana telah di ubah dengan UU No 1 Drt tahun 1958 dinyatakan tidak berlaku lagi.

4. Peradilan Tata Usaha Negara

UU Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, yang dituangkan dalam pasal 10 ayat (1) jo. Pasal 12. Selanjutnya perintah ini diperkuat dalam Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1978, yang menyatakan “Mengusahakan terwujudnya Peradilan TUN”. Di samping itu, Presiden Soeharto dalam pidato kenegaraannya di depan Sidang Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 16 Agustus 1978 menegaskan bahwa : “akan diusahakan terbentuknya pengadilan administrasi, yang dapat menampung dan menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat atau aparatur Negara, maupun untuk memberikan kepastian hukum untuk setiap pegawai negeri”.

Selanjutnya untuk merealisasikan kehadiran Peradilan TUN maka ditetapkan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1982 tentang GBHN. Selanjutnya dalam Ketetapan MPR Nomor II/ MPR/1983 tentang GBHN untuk Pelita IV, yang merupakan kelanjutan dari Pelita III, memeng tidak disebutkan secara jelas tantang perwujudan Peradilan TUN. Namun karena rencana pembangunan merupakan rencana yang berkesinambungan maka sudah sepantasnya untuk tetap mengupayakan Peradilan TUN. Seiring dengan itu pada tanggal 16 April 1986 pemerintah melalui Surat Presiden Nomor R.04/PU/IV/1986 mengajukan kembali RUU Peradilan Administrasi ke DPR. Rancangan tersebut merupakan penyempurnaan dari RUU Peradilan Administrsi 1982.

(17)

Setelah itu melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1991 dinyatakan bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara dan UU No. 5 Tahun 1986 mulai berlaku.

Kemudian pada tanggal 29 Maret 2004 disahkan UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah menjelaskan dan menguraikan pada bab sebelumnya, maka berikut ini merupakan beberapa simpulan yang dapat kami sampaikan. Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan perundang-undangan peradilan di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama sejalan dengan perkembangan sistem hukum yang ada di Indonesia. Bahkan sebelum bangsa Eropa (Belanda) datang ke Indonesia, kita sebenarnya telah memiliki berbagai macam lembaga peradilan yang dipimpin oleh Raja sekalipun susunan dan jumlahnya masih terbatas bila dibandingkan dengan yang ada sekarang ini.

2. Pada periode awal kemerdekaan, hampir semua payung hukum bersumber dari sistem yang diwariskan bangsa kolonial. Bahkan ada beberapa perundang-undangan yang masih memakai aturan jaman penjajahan. Seiring dengan nuansa kemerdekaan, maka secara perlahan bangsa Indonesia mulai melakukan berbagai perubahan-perubahan dalam tata aturan hukum terutama perundang-undangan untuk mengatur peri kehidupan bangsa yang merdeka dan berdaulat.

3. Orde Lama tersebut menyebabkan dasar hukum Negara kita mengalami berbagai perubahan. Dan perubahan dasar hukum itu mempengaruhi tata aturan perundang-undangan di bawahnya termasuk tentang peradilan.

(18)

5. Menurut Pasal 6 Undang-undang No. 19 tahun 1948 dalam Negara RI dikenal adanya 3 lingkungan peradilan, yaitu : 1) Peradilan umum; 2) Peradilan Tata Usaha Pemerintahan; dan 3)Peradilan Ketentaraan.

6. Pada tahun 1970 ditetapkan UU No 14 Tahun 1970 yang dalam Pasal 10 menetapkan bahwa ada 4 lingkungan peradilan yaitu: peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara.

B. Saran

Bagian akhir dari makalah ini izinkan kami menyampaikan beberapa saran yang sekiranya menjadi khazanah guna perbaikan dan penyempurnaan di masa yang akan datang.

1. Pada penggiat hukum dan akademisi agar lebih memahami tata aturan yang pernah berlaku di Negara kita khususnya pada bidang peradilan.

Referensi

Dokumen terkait

signifikan dibandingkan dengan perbankan konvensional, sedangkan pada rasio-. rasio yang lain perbankan syariah lebih

İşte Şakir Sırmalı bu tür insanlardan biriydi. Hepimiz gi­ bi hayal kurmakla yetinmez, bunları eyleme koyardı. Özel ya­ şamında, bizi artık şaşırtmayan birçok

“ Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi (Survey pada Siswa Kelas X dan XI IIS SMA Negeri 1

Aplikasi minyak atsiri serai sebelum tanam (perendaman benih) dan sebelum inokulasi sap daun bergejala mosaik cenderung memiliki bobot brangkasan segar dan kering

dalam perubahan kurikulum seperti yang dikutip dalam rubrik, yaitu:.. Perumusan dan perubahan kurikulum di Indonesia banyak dipengaruhi

Chitosan-stabilized gold colloids (chi-Au) prepared in aqueous acetic acid-methanol and reduced by reflux or irradiation gave dispersed particles (9-30 nm) and some of the

Secara umum, aktivitas guru pada siklus I pertemuan 1 memperoleh kategori B (baik) Melalui upaya perbaikan yang dilakukan pada siklus II pertemuan 1 nilai rata-rata aktivitas guru

(1996) bahawa warga tua yang sihat biasanya bukan sahaja penerima bantuan, malah lazimnya mereka juga merupakan pemberi bantuan kepada anak dewasa. Artikel ini bertujuan