BASELINE SURVEY DAN MAPPING SOSIAL EKONOMI UNTUK
MENDUKUNG PEMBANGUNAN SENTRA KELAUTAN PERIKANAN
TERPADU
PROFIL SOSIAL EKONOMI PERIKANAN WPP 573
DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, DAN KABUPATEN LEMBATA
Baseline Survey dan Mapping Sosial Ekonomi Untuk Mendukung
Pembangunan Sentra Kelautan Perikanan Terpadu
DATA DAN INFORMASI
PROFIL SOSIAL EKONOMI PERIKANAN WPP 573
DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, DAN KABUPATEN LEMBATA
PUSAT PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
PENDAHULUAN ... 1
Tujuan ... 3
METODOLOGI ... 4
Lokasi Penelitian dan Justifikasi Pemilihan Lokasi ... 4
Jenis Data : Primer/ Sekunder ... 4
Teknik Pengumpulan Data ... 5
Metode Analisis Data ... 6
Kerangka Pemikiran ... 8
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10
Sintesa Prioritas Isu Perikanan di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba Timur ... 10
Penilaian USG (Urgency, Seriousness, Growth) ... 10
Perumusan Alternatif Strategi Pengembangan Bisnis Perikanan ... 14
Gambaran Umum ... 22
Perikanan Tangkap ... 28
Budidaya Perikanan ... 41
Pengolahan Perikanan ... 48
Wisata Bahari ... 55
Produk Kelautan - Garam... 60
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 68
Kesimpulan ... 68
Rekomendasi ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 71
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Teknik Pengumpulan Data ... 5
Tabel 2. Hasil Analisis USG Perikanan Tangkap di WPP-573 ... 10
Tabel 3. Hasil Analisis USG Perikanan Budidaya di WPP-573 ... 11
Tabel 4. Hasil Analisis USG Pengolahan Produk Perikanan di WPP-573 ... 12
Tabel 5. Hasil Analisis USG Wisata Bahari di WPP-573 ... 13
Tabel 6. Hasil Analisis USG Produk Garam di WPP-573 ... 13
Tabel 7. Rekapitulasi Isu-Isu Utama Perikanan di WPP-573 ... 14
Tabel 8. Hasil Penilaian Kekuatan-Kelemahan (S-W) Perikanan Tangkap di WPP-573 ... 15
Tabel 9. Hasil Penilaian Peluang-Ancaman (O-T) Perikanan Tangkap di WPP-573 ... 16
Tabel 10. Perumusan Strategi Pengembangan usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur ... 17
Tabel 11. Perumusan Strategi Pengembangan usaha perikanan tangkap di Kab. Lembata ... 18
Tabel 12. Hasil Quantitatif Strategic Plan Matrix Terhadap Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur ... 19
Tabel 13. Hasil Quantitatif Strategic Plan Matrix Terhadap Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Lembata... 21
Tabel 14. Estimasi Potensi dan Status Eksploitasi Potensi Ikan di WPP-573 ... 23
Tabel 15. Luas Wilayah Kabupaten Sumba Timur ... 23
Tabel 16. Luas Wilayah Kecamatan Kabupaten Lembata ... 24
Tabel 17. Sebaran Hutan Mangrove di Kab. Sumba Timur ... 24
Tabel 18. Jumlah Penduduk Di Kab. Sumba Timur Berdasar Jenis Kelamin Tahun 2015 ... 25
Tabel 19. Jumlah penduduk menurut lapangan kerja utama di Kab. Sumba Timur Tahun 2015 ... 26
Tabel 20. Pendidikan terakhir penduduk Kab. Sumba Timur usia 15 tahun keatas ... 27
Tabel 21. Peran Sektor Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Rp juta) Di Kab. Sumba Timur Tahun 2014 – 2015 ... 27
Tabel 22. Peran Sektor Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Rp juta) Di Kab. Lembata Tahun 2013 - 2014 ... 28
Tabel 23. Produksi Perikanan Tangkap di Kab. Sumba Timur Tahun 2015 ... 28
Tabel 24. Produksi Perikanan Tangkap di Kab. Lembata Tahun 2014 ... 29
Tabel 25. Jumlah RTP dan Nelayan di kabupaten Lembata, 2015 ... 29
Tabel 26. Jumlah Armada Tangkap di Kabupaten Lembata, 2015 ... 30
Tabel 27. Alat Tangkap yang digunakan di Kabupaten Lembata, 2015 ... 31
Tabel 28. Kondisi Eksisting Fasilitas Pendukung Perikanan Tangkap di WPP-573 ... 32
Tabel 29. Kelembagaan usaha, aktor dan keterkaitan antar aktor dalam bidang perikanan tangkap Kab. Lembata ... 33
Tabel 30. Nelayan, Pedagang Bakul, Pengecer di Kabupaten Lembata... 34
Tabel 31. Kelembagaan Usaha Nelayan di Kab. Sumba Timur ... 35
Tabel 32. Biaya Operasional nelayan cumi di Kab. Sumba Timur ... 35
Tabel 33. Biaya operasional nelayan mini purse seine... 35
Tabel 34. Potensi Konflik Antar Nelayan di WPP-573 ... 40
v
Tabel 36. Potensi dan pemanfaatan lahan budidaya di Kab. Sumba Timur ... 41
Tabel 37. Pemanfaatan Lahan Rumput Laut di Kab. Sumba Timur, 2015 ... 41
Tabel 38. Sarana Prasarana Budidaya Perikanan di Kab. Sumba Timur ... 43
Tabel 39. Produksi Dan Proyeksi Areal Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Lembata ... 44
Tabel 40. Jumlah Pembudidaya Rumput Laut di Kabupaten Lembata Tahun 2015 ... 44
Tabel 41. Pembudidaya Keramba Jaring Apung di Kabupaten Lembata Tahun 2012 ... 45
Tabel 42. Pembudidaya Tambak di Kab. Lembata Tahun 2015 ... 45
Tabel 43. Pembudidaya Air Tawar di Kab. Lembata Tahun 2015 ... 46
Tabel 44. Analisis Usaha Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Lembata, 2016 ... 47
Tabel 45. Data produksi dan penjualan es batangan di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015 ... 49
Tabel 46. Kelompok Penerima Para-Para Penjemuran Rumput Laut tahun 2015 ... 49
Tabel 47. Kelembagaan Usaha Pengolahan di WPP 573 ... 51
Tabel 48. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pengolah cumi di Kabupaten Sumba Timur ... 52
Tabel 49. Biaya Operasional penangkapan cumi di Kabupaten Sumba Timur tahun 2016 ... 53
Tabel 50. Fasilitas pendukung pengolahan produk perikanan di Kabupaten Sumba Timur ... 55
Tabel 51. Penginapan, Klasifikasi dan Lokasi ... 56
Tabel 52. Objek Wisata Bahari di Kabupaten Sumba Timur ... 58
Tabel 53. Lokasi Potensi Wisata Bahari ... 59
Tabel 54. Kelembagaan Pengelolaan Wisata Bahari di WPP 573 ... 59
Tabel 55. Sarana dan Prasarana Garam di Kabupaten Sumba Timur ... 61
Tabel 56. Kelembagaan Usaha Produk Kelautan Garam di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Lembata, 2016... 63
Tabel 57. Biaya Investasi Usaha Garam Rebus di Kabupaten Sumba Timur, 2016 ... 63
Tabel 58. Biaya Operasional dan Penerimaan Usaha Garam Rebus Per Siklus Produksi di Kabupaten Sumba Timur, 2016 ... 64
Tabel 59. Analisis Usaha Tambak Garam di Kabupaten Lembata, 2016... 64
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Pemikiran ... 9
Gambar 2. Peta Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap di Kab. Sumba Timur (a) dan Kab. Lembata (b) ... 17
Gambar 3. Grafik Terumbu Karang di Kab. Sumba Timur ... 25
Gambar 4. Jumlah Penduduk kabupaten Lembata, 2012-2014 ... 26
Gambar 5. Nelayan Tangkap di Kab. Sumba Timur ... 30
Gambar 6. Nelayan Perikanan Tangkap di Kab. Lembata ... 31
Gambar 7. Sistem bagi hasil pada nelayan Mini Purse seine di Sumba Timur ... 36
Gambar 8. Jalur Pemasaran ikan pelagis kecil di Kabupaten Lembata ... 36
Gambar 9. Sistem bagi hasil pada Nelayan Purse Seine di Kab. Lembata ... 37
Gambar 10. Kearifan Lokal Penangkapan Ikan Paus ... 38
Gambar 11. Proses Badu” di Desa Watodiri Kecamatan Ile Ape ... 39
Gambar 12. Kalender musim tangkap nelayan cumi di Pulau Salura ... 40
Gambar 13. Kalender musim tangkap nelayan penongkol ... 40
Gambar 14. Cara melakukan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Lembata ... 46
Gambar 15. Rantai Pemasaran Rumput Laut di Kabupaten Lembata ... 47
Gambar 16. Identifikasi Nelayan Cumidi Kabupaten Sumba Timur... 54
Gambar 17. Saluran Pemasaran olahan cumi kering di Pulau Salura ... 54
Gambar 18. Grafik kondisi jalan dan panjang jalan di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Lembata Tahun (km) 2016 ... 56
Gambar 19. Grafik jumlah hotel, jumlah kamar, dan jumlah tempat tidur di WPP 573 Tahun 2015 ... 57
Gambar 20. Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Lembata Tahun 2015 ... 57
Gambar 21. Produksi Garam di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Lembata ... 60
Gambar 22. Pembuatan Garam di Kabupaten Sumba Timur dan Lembata ... 61
Gambar 23. Jumlah Kelompok Garam di di Kabupaten Sumba Timur dan Lembata ... 62
Gambar 24. Saluran Pemasaran Garam Rebus di Kabupaten Sumba Timur ... 64
Gambar 25. Saluran Pemasaran Garam Tambak di Kabupaten Lembata... 66
Gambar 26. Saluran Pemasaran Garam Rebus di Kabupaten Lembata ... 66
1
PENDAHULUAN
Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan terdiri dari pulau-pulau besar
dan pulau-pulau kecil. Jumlah pulau yang terdaftar dan memiliki koordinat berjumlah
13.466 pulau (bakosurtanal.go.id). Berdasarkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Indonesia memiliki 92 pulau
terluar/terdepan yang umumnya lokasinya sangat terpencil dan 31 pulau di antaranya telah
berpenduduk sehingga perlu diberdayakan ekonomi masyarakatnya. Potensi pulau-pulau
kecil dan kawasan perbatasan di Indonesia dapat didayagunakan menjadi salah satu
penggerak pertumbuhan sekaligus sebagai pilar ekonomi nasional. Banyak potensi maritim
yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan sosial ekonomi masyarakat.
Saat ini, setidaknya terdapat beberapa payung hukum terkait dengan keberadaan
pulau-pulau terluar di Indonesia. Perpres No 78 Tahun 2005 terkait dengan pengelolaan
pulau-pulau kecil terluar. Adapun Perpres tersebut bertujuan untuk: 1) Menjaga keutuhan
wilayah NKRI, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan
stabilitas kawasan; 2) Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang
berkelanjutan; 3) Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan.
Selain itu pondasi hukum pengelolaan pulau kecil dan terluar/terdepan (PPKT) diperkuat
oleh UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil jo
UU No 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan UU No 27 Tahun 2007, dan Peraturan Pemerintah
No.62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan PPKT.
Pemerintah Indonesia harus memberikan perhatian khusus kepada pulau-pulau
kecil dan terluar, terutama pembangunan infastruktur. Infrastruktur merupakan hal penting
guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang masih rendah
sekaligus guna meningkatkan pendapatan. Salah satu aspek penting dalam pembangunan
infrastruktur adalah adanya identifikasi kebutuhan yang prioritas untuk dipenuhi. Kebutuhan
ini, biasanya spesifik sesuai dengan potensi sebuah lokasi. Indentifikasi potensi dan
kebutuhan yang baik, akan memudahkan pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan
suatu kawasan disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan sekaligus akan meminimalisir
2
kegagalan pembangunan infrastruktur (fasilitas, sarana, dan prasarana untuk menunjang
bisnis kelautan dan perikanan).
Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengarahkan pembangunan kelautan dan
perikanan lima tahun kedepan memenuhi tiga pilar yang saling terintegrasi, yakni kedaulatan
(sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kemakmuran (prosperity). Pada tiga pilar
tersebut, pulau-pulau terluar yang ada di Indonesia dianggap sebagai dasar penting dalam
pengembangan perekonomian secara nasional. Kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi
sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai modal dasar
pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Diharapkan dengan adanya
pengelolaan pulau kecil terluar (PKT) secara optimal, diharapkan akan memperkuat basis
ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan secara berdaulat, berkelanjutan dan lebih
sejahtera. Pembangunan pulau terluar dimaksudkan untuk memperpendek kesenjangan
infrastruktur dibandingkan wilayah yang padat penghuninya.
Dalam hal ini diperlukan suatu landasan yang kuat dan terpadu sebagai pedoman
atau panduan bagi pemangku kepentingan dalam mengembangkan pulau-pulau kecil.
Landasan tersebut haruslah merupakan berdasarkan data dan informasi dari setiap lokasi.
Informasi yang dikumpulkan mencakup aspek sosial, ekonomi, dan kelembagaan sehingga
pengelolaan dan pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing pulau.
Informasi hasil identifikasi merupakan hal penting dan dapat digunakan sebagai dasar
direktorat teknis terkait dalam memprioritaskan kebijakan pembangunan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah.
Indonesia memiliki 11 wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang terdiri dari
banyak pulau-pulau. Keberadaan pulau-pulau tersebut memiliki potensi untuk
dikembangkan. Pengembangan memerlukan informasi aspek sosial ekonomi untuk
mengidentifikasi potensi dan permasalahannya. Salah satu WPP adalah WPP 573 yang
didalamnya terdapat Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba Timur. Informasi tentang
potensi dan permasalahan perikanan di lokasi tersebut menjadi hal penting sebagai rencana
pengembangan kegiatan perikanan kedepan di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba
Timur.
3
Tujuan
1) Mengidentifkasi Potensi dan Permasalahan Pemanfaatan Sumberdaya KP.
2) Melakukan Analisis peluang dan tantangan pengembangan kelautan dan perikanan di
Lokasi Penelitian.
4
METODOLOGI
Lokasi Penelitian dan Justifikasi Pemilihan Lokasi
Kegiatan Penelitian dilakukan pada tahun 2016. Lokasi penelitian yaitu rencana
lokasi kegiatan PSKPT (pembangunan sentra kelautan terpadu) pada tahun 2017,
berdasarkan informasi yang didapat dari Direktorat Pengelolaan Ruang Laut. Pada WPP 573
yang menjadi bakal calon lokasi adalah Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba Timur.
Pada tahap awal kegiatan pengumpulan data di daerah, dilakukan koordinasi
dengan Dinas Kelautan Perikanan setempat untuk menentukan lokus kegiatan pengumpulan
data. Salah satu kriteria penentuan lokus kegiatan adalah lokasi tersebut merupakan sentra
perikanan dengan tipologi perikanan tangkap, budidaya, pengolahan, garam dan wisata
bahari. Penentuan suatu wilayah merupakan sentra atau tidak, didasarkan pada informasi
dari dinas dan data statistik perikanan di lokasi.
Jenis Data : Primer/ Sekunder
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data
primer dilakukan melalui wawancara dan observasi di tingkat pelaku usaha KP, sedangkan
data sekunder dikumpulkan, berupa bahan-bahan tertulis yang berupa laporan tahunan, hasil
penelitian terdahulu (sebelumnya), buku serta publikasi media cetak maupun elektronik,
seperti dari monografi desa, kecamatan dalam angka, kabupaten dalam angka.
Menurut Nasution (2006), Sumber data sekunder adalah sumber bahan bacaan.
Bahan sekunder adalah hasil pengumpulan oleh orang lain dengan maksud tersendiri dan
mempunyai kategorisasi atau klasifikasi menurut keperluan mereka. Data sekunder berupa
bahan-bahan tertulis yang berupa laporan tahunan, hasil penelitian terdahulu (sebelumnya),
buku serta publikasi media cetak maupun elektronik. Data ini dipakai sebagai pelengkap
temuan atau sebagai starting point untuk memperoleh orientasi yang lebih luas mengenai
topik yang diteliti.
5
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan teknik wawancara, observasi
lapang. Untuk mengkonfirmasi informasi yang didapat, dilakukan triangulasi. Menurut
Sitorus (1998), triangulasi dapat diartikan sebagai "kombinasi sumber data" yang
memadukan sedikitnya tiga metode, seperti observasi, wawancara dan analisis dokumen.
Kelebihan dari metode ini adalah saling menutupi kelemahan antara satu metode dengan
metode lainnya, sehingga hasil yang diharapkan dari realitas sosial masyarakat menjadi lebih
valid.
Menurut Nasution (2006), observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih
jelas tentang kehidupan sosial. Dengan observasi sebagai alat pengumpul data, diusahakan
mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk
mempengaruhi, mengatur atau memanipulasinya. Sedangkan wawancara atau interview
adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan untuk
memperoleh informasi (Nasution, 2006). Menurut Mulyana (2004), wawancara mendalam
disebut juga wawancara tidak terstruktur, yang susunan pertanyaannya tidak ditetapkan
sebelumnya. Wawancara ini mirip dengan percakapan informal. Teknik wawancara dengan
mengunakan pedoman wawancara (interview guide).
Pemilihan
Informan/responden
dilakukan
secara
proporsive
dengan
mempertimbangkan beberapa kriteria, diantaranya sudah mendiami lokasi lebih dari 2
tahun, mewakili unsur keterwakilan, dan bisa memberikan informasi yang dibutuhkan.
Adapun jumlah informan yang diambil dari setiap lokasi sebanyak 60 orang yang terdiri dari
unsur SKPD, tokoh adat dan masyarakat, bakul/tengkulak, nelayan, pembudidaya, pegaram,
pengolah dan UPT dilokasi (TPI, PPI, PPN).
Tabel 1. Teknik Pengumpulan Data
Tujuan Informasi yang dikumpulkan Teknik Pengumpulan data Informan/ responden Analisis Data Mengidentifkasi Potensi dan Permasalahan Pemanfaatan Sumberdaya KP Potensi sumberdaya, jenis hasil tangkapan, kalender musim, alat tangkap perikanan, tingkat pendidikan, umur, proporsi jenis kelamin pada kegiatan usaha,
- Studi literatur - Observasi lapang - Wawancara - FGD - Pemerintah daerah (DKP, Bapppeda, BPS, Dispar, PLN) - Tokoh Masyarakat - Tokoh Adat - Deskriptif kualitatif - Statistik sederhana - Analisis rantai manfaat
6
Tujuan Informasi yang dikumpulkan Teknik Pengumpulan data Informan/ responden Analisis Data infrastruktur di lokasi, sarana dan prasarana perikanan, karakteristik rumah tangga perikanan, kalender musim, pola usaha, tingkat penerapan teknologi dan produktivitas usaha KP - Bakul/ tengkulak - Nelayan - Pembudidaya - Pengolah - Garam - TPI, PPI, PPN, Syahbandar Melakukan Analisis peluang dan tantangan pengembangan pulau terdepan Potensi pengembangan usaha, Tantangan pengembangan usaha FGD - Pemerintah daerah - SKPD terkait - Tokoh Masyarakat - Tokoh Adat - Bakul/ tengkulak - Nelayan - Pembudidaya - Pelaku usaha perikanan Analisis USG, SWOT, Qpsm
Metode Analisis Data
Metode analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis
data bertujuan untuk menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih mudah dipahami
(Nazir 1988). Analisa data dilakukan berdasarkan informasi yang didapat dari data sekunder,
wawancara, dan observasi lapang. Khusus untuk data kuantitatif, data yang diperoleh akan
dianalisis dalam bentuk tabulasi statistik sederhana. Untuk mengidentifikai peluang
pengembangan pulau terdepan adalah dengan menggunakan analsisis USG (Urgency,
Seriousness dan Growth) , SWOT ( Strength-Weakneses Opportunity and Threat), QSPM
(Quantitative Strategic Planning Matrix).
USG dilakukan pada semua tipologi (tangkap, budidaya, pengolahan, garam,
wisata bahari) yang ada di lokasi penelitian. Berdasarkan hasil pengukuran USG pada tiap
tipologi dilakukan pengukuran tipologi manakah yang diprioritaskan untuk dikembangkan.
Berdasarkan pengukuran tersebut maka dipilih tipologi untuk dilakukan SWOT-Qpsm untuk
menentukan strategi pengembangan yang dipilih.
7
Metode USG dicetuskan oleh Kepner dan Tragoe pada tahun (1981). Urgency
berkaitan dengan mendesaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan.
Semakin mendesak suatu masalah untuk diselesaikan maka semakin tinggi urgensi masalah
tersebut. Seriousness berkaitan dengan dampak dari adanya masalah tersebut terhadap
dampak yang ditimbulkan. Dampak ini dikaitkan dengan potensi kerugian seperti
dampaknya terhadap produktivitas, keselamatan jiwa manusia, sumberdaya dan sumber
dana. Semakin tinggi dampak masalah tersebut maka semakin serius masalah tersebut.
Growth berkaitan dengan pertumbuhan masalah. Semakin cepat berkembang masalah
tersebut maka semakin tinggi tingkat pertumbuhannya. Suatu masalah yang cepat
berkembang tentunya semakin prioritas untuk diatasi.
Untuk mempermudah analisis dan mengurangi tingkat subyektivitas dalam
menentukan masalah prioritas, maka perlu ditetapkan kriteria untuk masing-masing unsur
USG dan dilakukan pengukuran dengan skor dengan skala likert (1 – 5). Semakin tinggi
tingkar urgensi, serius dan atau penumbuhan masalah tersebut maka semakin tinggi skor
yang didapatkan.
Analisis SWOT merupakan alat bantu analisis untuk mengidentifikasi berbagai
faktor secara sistematis dalam rangka penyusunan strategi dan kebijakan yang akan dipilih
terkait dengan peluang pengembangan pulau terdepan. Analisis ini berbasis pada cara
berpikir logis dalam memaksimalkan kekutan (Strength) dan peluang (Opportunities) serta
meminimalisir kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats), (Rangkuti 2002). Proses
implementasi SWOT di awali dengan: (a) tahapan identifikasi data dan informasi sebagai
bahan evaluasi faktor internal dan eksternal; (b) tahapan analisis melalui pemetaan
faktor-faktor teridentifikasi dalam bentuk matrik SWOT, dan; (c) tahapan pengambilan keputusan
berdasarkan pada tahapan (a) dan (b). Secara garis besar SWOT mengilustrasikan secara
jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan
disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki sehingga dapat dirumuskan
strategi dan kebijakan antisipasinya.
8
Kerangka Matriks SWOT Perumusan Strategi Peluang Pengembangan
Internal
Eksternal
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
Peluang (O)
Strategi SO Strategi WO
Strategi ini dirumuskan dengan tujuan memaksimalkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Strategi ini dirumuskan dengan tujuan meminimalkan
kelemahan untuk memanfaatkan peluang
Ancaman (T)
Strategi ST Strategi WT
Strategi ini dirumuskan dengan tujuan menggunakan kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman
Strategi ini dirumuskan dengan tujuan meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman
Sumber: Rangkuti 2002
QSPM merupakan alat analisis yang memungkinkan para penyusun strategi
mengevaluasi berbagai strategi alternatif secara objektif, berdasarkan pada faktor-faktor
keberhasilan penting eksternal dan internal yang diidentifikasi sebelumnya (David, 2011).
QSPM menggunakan analisis input dari Matriks EFE, Matriks IFE dan matriks SWOT untuk
secara objektif menentukan strategi yang hendak dijalankan di antara strategi-strategi
alternatif.
Kerangka Pemikiran
Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki banyak potensi perikanan dan
kelautan yang belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal. Potensi Kelautan perikanan
tersebut bisa bersumber dari kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan,
garam dan wisata bahari. Potensi-potensi tersebut bisa menjadi sumber ekonomi yang besar
dan membutuhkan penanganan yang berbeda dan spesifik disesuaikan dengan profil yang
ada dilokasi. Pembangunan yang tepat berdasarkan potensi yang dimiliki dapat berguna bagi
masyarakat setempat dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan.
9
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk mengidentifikasi potensi
permasalahan, peluang dan tantangan pengembangan suatu lokasi didasari dengan aspek
sosial, ekonomi kelembagaan. Data dan informasi yang diperoleh pada tahap identifikasi
dapat diolah menggunakan analis kelembagaan usaha, kelembagaan input dan produksi, dan
analisis rantai manfaat. Sedangkan untuk melakukan analisis prioritas pengembangan dapat
menggunakan USG, SWOT dan QSPM. Berdasarkan output kedua tahapan ini dapat dibuat
data dan informasi profil dan prioritas pengembangan sentra bisnis kelautan perikanan.
Profil potensi ini diperlukan dan dapat digunakan sebagai landasan kebijakan yang akan
dilakukan dalam pengembangan kedepan (Gambar 1).
10
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sintesa Prioritas Isu Perikanan di Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba Timur
Penilaian USG (Urgency, Seriousness, Growth)
Metode USG dilakukan terhadap sektor perikanan tangkap, perikanan budidaya,
pengolahan produk perikanan, wisata bahari, dan produk kelautan/garam.
USG Perikanan Tangkap
Tiga isu yang utama adalah: (1) Pengawasan ikan, (2) Dermaga, dan (3)
Keterbatasan alat tangkap dan alat bantu penangkapan ikan/rumpon. Total nilai USG
perikanan tangkap di Kab. Sumba Timur sebesar 24,85 (ranking pertama).
Tabel 2. Hasil Analisis USG Perikanan Tangkap di WPP-573
Sumber: data primer, diolah 2016
No Isu Penting Kab. Sumba Timur
Rank Kab. Lembata Rank U S G Total U S G Total
Perikanan Tangkap
1 Pasokan es 8,25 7,67 8,17 24,08 3,91 3,73 3,91 11,55
2 Ice storage x x x x 4,27 4,36 4,23 12,86 3
3 keterbatasan armada kecil <
10 GT 9,42 8,42 8,33 26,17 3,86 3,77 3,73 11,36
4
Keterbatasan alat tangkap dan alat bantu penangkapan ikan/rumpon
9,25 8,83 8,17 26,25 3 x x x x
5 SPDN (Solar Paket Dealer
Nelayan) 8,25 7,92 7,92 24,08 4,95 4,91 4,77 14,64 1 6 Dermaga/PPI 9,42 8,50 8,50 26,42 2 3,91 3,86 3,86 11,64
7 Break water 7,58 7,42 7,75 22,75 x x x x
8 Ketersediaan pasokan listrik 8,08 7,42 7,25 22,75 x x x x 9 Keterbatasan
pela-tihan/Kapasitas SDM 9,33 7,83 7,92 25,08 4,18 4,05 4,05 12,27 10 Akses permodalan ke nelayan 8,50 8,00 8,08 24,58 3,91 3,91 3,91 11,73 11 Pengawasan ikan/Unreported 9,75 8,83 8,25 26,83 1 4,36 4,45 4,59 13,41 12 Alat tangkap tidak ramah
lingkungan 8,75 8,42 8,00 25,17 4,45 4,41 4,55 13,41 2 13 Fasilitas dasar yang masih
kurang 9,00 8,42 8,50 25,92 x x x x
14 Etos kerja nelayan 8,00 7,50 7,42 22,92 x x x x
11
Prioritas tiga isu penting pada usaha perikanan di Kab. Lembata (USG) adalah:
(1) SPDN (Solar Paket Dealer Nelayan), (2) Alat tangkap tidak ramah lingkungan dan
Unreported fishing.
USG Perikanan Budidaya
Perikanan budidaya di kabupaten Sumba Timur memiliki 15 isu penting.
Berdasarkan hasil penilaian melalui metode USG, tiga isu utama adalah: (1) Sarana produksi
budidaya perikanan laut, (2) Benih ikan air tawar, dan (3) Induk ikan air tawar. Sedangkan
pada perikanan budidaya di Kab. Lembata terdapat 9 (sembilan) isu penting dengan 3 (tiga)
isu utama yaitu: (1) Preferensi pasar, (2) benih, dan (3) SDM penyuluh perikanan.
Tabel 3. Hasil Analisis USG Perikanan Budidaya di WPP-573
Sumber: data primer, diolah 2016
No Isu Penting Kab. Sumba Timur Rank Kab. Lembata Rank U S G Total U S G Total
Perikanan Budidaya
1 Teknologi pakan dan
distribusinya 8,58 8,42 8,08 25,08 3,86 3,91 3,82 11,59 2 Induk ikan air tawar 9,25 8,92 8,42 26,58 3 3,64 3,77 3,59 11,00 3 Teknologi dan bahan
baku pakan mandiri 8,67 8,25 8,33 25,25 3,59 3,77 3,82 11,18 4 Benih ikan air tawar 9,17 8,92 8,58 26,67 2 4,18 3,95 4,00 12,14 2 5 Teknologi perbenihan x x x x 3,91 3,91 3,86 11,68 6 Ketersediaan pasokan air
untuk budidaya 7,42 7,00 6,83 21,25 3,77 3,82 3,64 11,23 7 Sapras produksi bd air
tawar 8,92 8,50 8,33 25,75 x x x x
8 Sapras produksi bd di
laut 9,33 8,83 8,83 27,00 1 x x x x
9 Pengendalian hama
penyakit budidaya di laut 8,75 8,50 8,00 25,25 x x x x
10 Preferensi pasar x x x x 4,41 4,27 4,18 12,86 1 11 Pengendalian hama
penyakit ikan air tawar 8,75 8,50 8,83 26,08 x x x x 12 Pemasaran hasil
budidaya (air tawar) 7,50 6,75 7,00 21,25 x x x x 13 Pelatihan terkait dengan
budidaya 8,67 7,75 8,08 24,50 x x x x
14 Kebun bibit rumput laut 8,50 8,00 8,08 24,58 x x x x 15 Fasilitas dasar yang
masih kurang 8,58 8,33 8,17 25,08 x x x x
16 Etos kerja 8,50 8,00 8,17 24,67 x x x x
17 Akses dan kelembagaan
permodalan 8,00 7,58 7,17 22,75 3,73 3,73 3,82 11,27 18 SDM penyuluh
perikanan x x x x 4,09 3,95 4,05 12,09 3
12
USG Pengolahan Produk Perikanan
Tiga isu utama pengolahan produk perikanan di Kabupaten Sumba Timur adalah:
(1) Akses permodalan usaha, (2) Etos kerja pengolah, dan (3) Keterbatasan bahan baku.
Total nilai USG pengolahan produk perikanan sebesar 20,42 (rangking 5). Sedangkan Tiga
(tiga) isu utama di kabupaten Lembata yaitu: SDM penyuluh perikanan, (2) Cold storage,
dan (3) Teknologi pengolahan. Tiga isu utama di Kabupaten Lembata adalah (1) Pelatihan
SDM, (2) Sarana Pendingin, dan (3)Teknologi pengolahan dan diversifikasi produk.
Tabel 4. Hasil Analisis USG Pengolahan Produk Perikanan di WPP-573
Sumber: data primer, diolah 2016
USG Wisata Bahari
Tiga isu yang paling utama wisata bahari di Kabupaten Sumba Timur adalah: (1)
Kelestarian lingkungan, (2) Kearifan lokal, dan (3) Transportasi. Total rata-rata nilai USG
wisata bahari sebesar 23,08. Tiga isu utama di Kabupaten Lembata adalah : (1) Transportasi,
(2) kelestarian lingkungan, (3) penginapan.
No Isu Penting Kab. Sumba Timur
Rank Kab. Lembata Rank U S G Total U S G Total
Pengolahan Produk Perikanan
1
Sarana Pendingin (cool box, freezer, cold storage)
6,92 6,58 6,50 20,00 4,00 3,86 4,00 11,86 2
2
Teknologi pengolahan dan diversifikasi produk olahan
6,17 6,17 5,75 18,08 3,82 3,68 3,86 11,36 3
3
Teknologi pengolahan dan diversifikasi produk olahan rumput laut
7,17 7,17 6,92 21,25 x x x x 4 Bahan/teknologi kemasan 6,25 6,08 5,92 18,25 3,77 3,73 3,82 11,32 5 Informasi Pasar 7,00 7,25 6,42 20,67 3,91 3,82 4,00 11,73 6 Akses permodalan rumput laut 6,92 7,00 6,75 20,67 x x x x 7 Akses permodalan 7,33 7,50 7,08 21,92 1 x x x x 8 Pelatihan SDM untuk
petugas dan pengolah 7,00 6,92 6,50 20,42 4,09 4,00 4,00 12,09 1 9 Keterbatasan bahan baku 7,33 7,25 6,83 21,42 3 x x x x
10 Etos kerja pengolah 7,50 7,17 6,83 21,50 2 x x x x 11 Sanitasi lingkungan x x x x 3,95 3,91 3,91 11,77 12 Pengujian mutu hasil x x x x 3,95 3,82 3,77 11,55
13
Tabel 5. Hasil Analisis USG Wisata Bahari di WPP-573
Sumber: data primer, diolah 2016
USG Produk Garam
Tiga isu utama produk garam di Kabupaten Sumba timur adalah: (1) Lahan, (2)
Permodalan, dan (3) Teknologi pergaraman. Sedangkan tiga isu utama pada Kabupaten
Lembata adalah (1) Lahan, (2) Teknologi penggaraman, dan (3) Pasar Gamram Tambak.
Tabel 6. Hasil Analisis USG Produk Garam di WPP-573
Sumber: Data Primer diolah. 2016
No Isu Penting Kab. Sumba Timur Kab. Lembata Rank U S G Total U S G Total
Wisata Bahari
1 Transportasi 8,25 8,17 8,08 24,50 3 4,32 4,36 4,32 13,00 1 2 Komunikasi 7,33 6,75 6,67 20,75 3,86 3,91 3,95 11,73 3 Penginapan/home stay 7,83 7,25 7,08 22,17 4,09 4,09 4,18 12,36 3 4 Tour guide dan pelatihan 7,08 7,25 7,33 21,67 3,82 3,73 3,73 11,27 5 Sapras wisata bahari 8,50 7,75 7,67 23,92 x x x x 6 Promosi wisata bahari 8,33 7,75 7,92 24,00 4,09 3,95 4,00 12,05 7 kelembagaan pengelola wisata bahari 7,33 6,92 7,00 21,25 x x x x 8 Kelestarian lingkungan 8,42 8,50 8,00 24,92 1 4,45 4,18 4,09 12,73 2 9 Kearifan lokal 8,50 8,08 8,00 24,58 2 x x x x 10 Sinkronisasi program lintas sektor 7,75 7,58 7,75 23,08 3,91 3,68 3,86 11,45 11 Pasokan air bersih x x x x 4,32 4,00 3,95 12,27
Jumlah rata-rata 23,08 12,11
No Isu Penting Kab. Sumba Timur
Rank Kab. Lembata Rank U S G Total U S G Total
Produk Garam
1 Lahan 8,25 7,92 8,08 24,25 1 3,91 4,32 3,91 12,14 1 2 Teknologi pergaraman 8,00 7,67 7,50 23,17 3 4,00 3,95 3,86 11,82 2 3 Sarana dan prasarana 8,08 7,58 7,42 23,08 x x x x
4 Permodalan 8,08 7,67 7,58 23,33 2 x x x x
5 Etos kerja 8,08 7,58 7,42 23,08 x x x x
6 Fasilitas dasar
pergaraman 7,50 7,00 7,00 21,50 x x x x
7 Pasar garam tambak 7,60 7,02 7,27 21,90 1 4,05 4,00 4,09 4,05 3 8 Koordinasi lintas sektor x x x x 3,82 3,82 3,68 3,82
14
Tabel 7. Rekapitulasi Isu-Isu Utama Perikanan di WPP-573
Sub Sektor
Kab. Sumba Timur Kab. Lembata Tiga Isu Utama Total
nilai Rank Tiga Isu Utama
Total nilai Rank Perikanan Tangkap 1) Pengawasan ikan/unreported 2) Dermaga/PPI
3) Keterbatasan alat tangkap dan alat bantu
penangkapan ikan/rumpon. 24,85 1 1) SPDN (Solar Paket Dealer Nelayan)
2) Alat tangkap tidak ramah lingkungan 3) Ice storage 12,38 1 Perikanan Budidaya 1) Sarana produksi budidaya perikanan laut 2) Benih ikan air tawar 3) Induk ikan air tawar.
24,78 2
1) Preferensi pasar 2) Benih ikan air
tawar 3) Induk ikan air
tawar 11,67 4 Pengolahan Produk Perikanan 1) Akses permodalan usaha
2) Etos kerja pengolah 3) Keterbatasan bahan baku. 20,42 5 1) Pelatihan SDM untuk petugas dan pengolah 2) Sarana Pendingin (cool box, freezer, cold storage) 3) Teknologi pengolahan dan diversifikasi produk olahan 11,67 5 Wisata Bahari 1) Kelestarian lingkungan 2) Kearifan lokal 3) Transportasi. 23,08 3 1) Transportasi 2) Penginapan 3) Pasokan air bersih
12,11 2 Produk Garam 1) Lahan 2) Permodalan 3) Teknologi pergaraman. 22,90 4 1) Lahan 2) Teknologi pergaraman 3) Pasar garam tambak 11,85 3
Sumber: data primer, diolah 2016
Perumusan Alternatif Strategi Pengembangan Bisnis Perikanan
Untuk dapat merumuskan alternatif strategi pengembangan bisnis perikanan,
berdasarkan hasil USG tersebut dilakukan analisis lanjutannya yaitu analisis SWOT
(Strengths, Weakness, Opportunities, Threats). Strength faktors atau faktor-faktor kekuatan
dan weakness factors atau faktor-faktor kelemahan merupakan faktor internal. Sedangkan
Opportunity factors atau faktor-faktor peluang dan threat factors atau faktor-faktor ancaman
merupakan faktor eksternal dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan . Berikut
merupakan penjelasan dari masing-masing faktor.
15
Analisis Faktor Internal Strategis Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur dan
Kabupeten Lembata
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor internal strategis, yang selanjutnya
dilakukan penilaian bobot, rating dan skor terhadap setiap faktor yang teridentifikasi pada
komponen kekuatan (S) dan komponen kelemahan (W) di Kab. Sumba Timur dan Kab.
Lembata seperti yang tertera pada tabel dibawah ini.
Tabel 8. Hasil Penilaian Kekuatan-Kelemahan (S-W) Perikanan Tangkap di WPP-573
Faktor Internal Kab. Sumba Timur Kab. Lembata
Bobot Rate Skor Bobot Rate Skor Kekuatan (Strenght-S)
S-1 Potensi Sumber daya Perairan 0,19 4,80 0,92 0,31 4,75 1,49 S-2 Wilayah penangkapan ikan 0,17 4,53 0,78 0,26 4,56 1,20
S-3 Akses distribusi ikan 0,10 3,67 0,38 0,12 3,56 0,43
S-4 Jumlah Kapal tangkap/angkut 0,13 3,80 0,50 0,11 3,44 0,38 S-5
Pulau Salura dan pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (PSKPT)
0,12 3,80 0,45 x x x
Skor S 0,72 3,03 0,81 3,50
Kelemahan (Weakness –W) W-1 Alat tangkap tidak ramah
lingkungan 0,06 1,80 0,11 0,06 1,44 0,10
W-2 Jumlah Armada skala kecil 0,08 2,40 0,19 0,06 2 0,12
W-3 Ukuran Armada skala kecil 0,07 2,53 0,18 0,05 2,25 0,11
W-4 Break water 0,03 2,60 0,08 x x x
W-5 Dermaga pelabuhan 0,01 1,93 0,03 x x x
W-6 Pengawasan /unreported 0,02 1,93 0,04 0,01 1,69 0,02
W-7 Alat tangkap dan alat bantu
penangkapan 0,01 1,93 0,02 x x x
Skor W 0,28 0,65 0,18 0,35
Skor total 100 0,68 100 0,85
16
Analisis Faktor Eksternal Strategis Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur dan
Kabupeten Lembata
Faktor-faktor eksternal strategis dalam analisis SWOT terdiri dari faktor-faktor
peluang (opportunities factors) dan faktor-faktor ancaman (threat factors) dalam
pengembangan usaha perikanan tangkap di Kab. Sumba Timur dan Kab. Lembata
masing-masing sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Penilaian Peluang-Ancaman (O-T) Perikanan Tangkap di WPP-573
Faktor Eksternal Kab. Sumba Timur Kab. Lembata
Bobot Rate Skor Bobot Rate Skor Peluang (Opportunity-O)
O-1 Pembangunan Pabrik Es 0,17 3,93 0,65 0,20 4,44 0,91
O-2
Keberadaan SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan)/SPBU Nelayan di pelabuhan
0,21 3,80 0,81 0,33 4,43 1,47
O-3 Pembangunan dermaga 0,15 3,80 0,58 0,19 4,37 0,83
O-4 AksesKelembagaan permodalan 0,09 4,00 0,34 0,09 0,04 0,04
O-5 Nelayan andon 0,14 3,33 0,46
Skor O 0,75 2,84 0,82 3,25
Ancaman (Treath-T)
T-1 Konflik dengan nelayan luar 0,11 2,73 0,29 0,11 2,5 0,29 T-2 Regulasi terkait dengan perijinan 0,07 2,47 0,17 0,07 1,75 0,19 T-3 Sinkronisasi program lintas sektor 0,04 2,47 0,11 x x x
T-4 Pengeboman ikan 0,03 1,80 0,05 x x x
Skor T 0,25 0,62 0,18 0,48
Skor total 100 3,46 100 3,73
Sumber: Data Primer Diolah, 2016
Alternatif Strategi Pengembangan Bisnis Perikanan di WPP-573
Berdasarkan hasi analisis SWOT, faktor-faktor internal strategis (IFAS) dan
factor-faktor eksternal strategis (EFAS) di Kab. Sumba Timur dan Kab. Lembata, diketahui
total bobot nilai tertinggi ada pada faktor internal S (Strength) dan faktor eksternal O
(Opportunity) sehingga perumusan alternatif strategi yang digunakan adalah strategi SO,
artinya: menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Peta penentuan
strategi ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
17
(a)
(b)
Gambar 2.
Peta Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap di Kab. Sumba Timur
(a) dan Kab. Lembata (b)
Sumber: Hasil olahan data primer, diolah 2016
Berdasarkan hasil identifikasi dana analisis di atas, secara umum hal yang perlu
dilakukan (rumusan strategi) dalam pengembangan usaha perikanan tangkap di Sumba
Timur adalah: 1) Peningkatan Armada <10 GT; 2) Optimalisasi Pemanfaatan Infrastruktur;
dan 3) Pembangunan Pelabuhan Ikan yang digambarkan melalui tabel berikut.
Tabel 10. Perumusan Strategi Pengembangan usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur Kekuatan: 1) Pembangunan pabrik es 2) Keberadaan SPDN 3) Pembangunan dermaga 4) Kelembagaan permodalan 5) Nelayan andon Kelemahan
1) Alat tangkap tidak ramah lingkungan
2) Jumlah armada skala kecil 3) Ukuran armada skala kecil 4) Break Water
5) Dermaga pelabuhan 6) Pengawasan
7) Alat tangkap dan alat bantu penagkapan
Peluang :
(a) Pembangunan pabrik es (b) Keberadaan SPDN (c) Pembangunan dermaga (d) Kelembagaan permodalan (e) Nelayan andon
Strategi SO: 1. Peningkatan Armada <10 GT 2. Optimalisasi Pemanfaatan Infrastruktur 3. Pembangunan Pelabuhan Ikan WO Faktor Internal Faktor Eksternal
(a)
18 Sumber: Sintesa berdasarkan data dan informasi dalam Tabel SWOT
Sedangkan strategi yang dapat ditempuh dalam pengembangan usaha perikanan
tangkap di Kabupaten Lembata merupakan strategi yang didominasi faktor kekuatan (S) dan
faktor peluang (O), adalah sebegai berikut:
1) Pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan tangkap
2) peningkatan distribusi dan transportasi pendukung hasil perikanan tangkap
3) Peningkatan mutu hasil tangkapan pada usaha perikanan
Tabel 11. Perumusan Strategi Pengembangan usaha perikanan tangkap di Kab. Lembata
Sumber: Sintesa berdasarkan data dan informasi dalam Tabel IFAS dan Tabel EFAS
Ancaman
1) Konflik dengan nelayan luar
2) Regulasi terkait perijinan 3) Sinkronisasi program
lintas sektor\ 4) Pengeboman ikan
ST WT
Kekuatan:
2 Potensi Sumber daya Perairan Indonesia 3 Wilayah penangkapan
ikan
4 Akses distribusi ikan 5 Jumlah Kapal angkut
Kelemahan
1) Alat tangkap tidak ramah lingkungan
2) Jumlah Armada skala kecil 3) Ukuran Armada skala kecil 4) unreported hasil tangkapan
Peluang : 2. Pembangunan Pabrik Es 3. Keberadaan SPDN di pelabuhan 4. Pembangunan dermaga di Pulau 5. Akses kelembagaan permodalan Strategi SO: 1) Pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan tangkap 2) peningkatan akses distribusiproduksi hasil perikanan tangkap 3) Peningkatan mutu hasil
tangkapan pada usaha perikanan
WP
Ancaman
5) Konflik dengan nelayan luar
6) Regulasi terkait dengan perijinan ST WT Faktor Internal Faktor Eksternal
19
Penetapan Urutan Prioritas Strategi Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap
Setelah diketahui 3 (tiga) langkah strategis yang harus dilakukan pada
pengembangan usaha perikanan tangkap di Kab. Sumba Timur, untuk menentukan urutan
prioritas dari ke tiga langkah strategi tersebut dilakukan analisis Quantitatif Strategic Plan
Matrix (QSPM) seperti yang dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 12. Hasil Quantitatif Strategic Plan Matrix Terhadap Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Sumba Timur
Peningkatan jumlah armada tangkap <10 GT Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Pembanguna n pelabuhan pendaratan ikan Attracti ve score Total attractive score Attra ctive score Total attracti ve score Attra ctive score Total attrac tive score
FAKTOR INTERNAL BOBOT
KEKUATAN (Strength-S)
Potensi Sumber daya Perairan 0,19 9 1,72 6,6 1,26 7,4 1,41 Wilayah penangkapan ikan 0,17 8,6 1,48 4,6 0,79 6,2 1,07
Akses distribusi ikan 0,10 5,8 0,60 7,4 0,77 7,4 0,77
Jumlah Kapal tangkap 0,13 8,2 1,08 7,8 1,03 7,8 1,03
Pulau Salura dan pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (PSKPT)
0,12 6,6 0,78 5,8 0,69 5,8 0,69
0,72 5,66 4,53 4,96
FAKTOR INTERNAL
KELEMAHAN (Weakness –W)
Alat tangkap tidak ramah lingkungan 0,06 4,2 0,26 3,4 0,21 1,8 0,11 Jumlah Armada skala kecil 0,08 8,6 0,67 6,6 0,51 7,4 0,58
Ukuran Armada skala kecil 0,07 9 0,64 6,2 0,44 7 0,50
Break water 0,03 7 0,21 4,6 0,14 8,6 0,26
Dermaga pelabuhan 0,01 7 0,09 8,2 0,11 9 0,12
Pengawasan 0,02 5,4 0,10 5,4 0,10 4,2 0,08
Alat tangkap dan alat bantu
penangkapan 0,01 8,6 0,09 3 0,03 3,4 0,03
0,28 2,06 1,54 1,68
FAKTOR EKSTERNAL
Peluang (Opportunity-O)
Pembangunan Pabrik Es 0,17 7,8 1,29 8,2 1,36 5,4 0,89
Keberadaan SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan)/SPBU Nelayan di pelabuhan
0,21 7,8 1,65 8,2 1,74 6,2 1,31
Pembangunan dermaga 0,15 6,2 0,94 9 1,36 8,6 1,30
Kelembagaan permodalan 0,09 7,8 0,67 5,4 0,46 4,2 0,36
20 Peningkatan jumlah armada tangkap <10 GT Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Pembanguna n pelabuhan pendaratan ikan Attracti ve score Total attractive score Attra ctive score Total attracti ve score Attra ctive score Total attrac tive score Nelayan andon 0,14 5,8 0,81 5,4 0,75 6,2 0,86 0,75 5,36 5,67 4,73 FAKTOR EKSTERNAL ANCAMAN (Threath-T)
Konflik dengan nelayan luar 0,11 3 0,32 2,2 0,24 1,4 0,15
Regulasi terkait dengan perijinan 0,07 7 0,48 3,4 0,23 2,2 0,15
Sinkronisasi program lintas sektor 0,04 5,4 0,24 7,4 0,33 9 0,40
Pengeboman ikan 0,03 5,4 0,14 2,2 0,06 1,4 0,04
0,25 1,18 0,85 0,74
Skor total 14,26 12,60 12,11
Sumber: Data Primer diolah, 2016
Berdasarkan tabel hasil penilaian di atas, diketahui skor total tertinggi ada pada
aspek Peningkatan jumlah armada tangkap <10 GT (total skor 14,26); urutan kedua ada pada
aspek Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur (total skor 12,60; dan urutan ketiga ada pada
aspek Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan (total skor 12,11). Dengan demikian maka
strategi pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Sumba Timur
direkomendasikan berbasis perikanan tangkap dengan urutan strategi berdasarkan prioritas
yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1) Peningkatan jumlah armada tangkap <10 GT
2) Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur
3) Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan
Strategi utama berbasis perikanan tangkap ini tentunya diikuti dengan
pembangunan sub sektor lainnya sesuai dengan urutan prioritas dan isu-isu strategis seperti
yang ada pada tabel 7.
Sedangkan urutan prioritas pengembangan usaha perikanan di kab. Lembata dari
ke tiga langkah strategi tersebut dilakukan analisis Quantitatif Strategic Plan Matrix
(QSPM) seperti yang dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
21
Tabel 13. Hasil Quantitatif Strategic Plan Matrix Terhadap Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Kabupaten Lembata
Faktor Internal
dan Eksternal
Pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan tangkap peningkatan distribusi dan transportasi pendukung hasil perikanan tangkap Peningkatan mutu hasil tangkapan padausaha perikanan Attractive score Total attractive score Attractive score Total attractive score Attractive score Total attractive score FAKTOR INTERNAL BOBOT KEKUATAN (Strenght-S) Potensi Sumber daya Perairan 0,313535 9 2,82 5,5 1,72 3,5 1,10 Wilayah penangkapan ikan 0,262503 8,5 2,23 4,5 1,18 2,5 0,6 Akses distribusi ikan 0,120493 8 0,96 6 0,72 7 0,84 Jumlah Kapal tangkap 0,112027 8 0,89 6 0,67 2 0,22 6,91 4,30 2,82 KELEMAHAN (Weakness –W) Alat tangkap tidak
ramah lingkungan 0,067574 1,5 0,10 1,5 0,10 8 0,54 Jumlah Armada skala kecil 0,060972 5,5 0,33 3,5 0,21 2,5 0,15 Ukuran Armada skala kecil 0,051554 6,5 0,33 4 0,21 3 0,15 unreported hasil perikanan 0,011341 3 0,04 3 0,03 1 0,02 1 0,80 0,55 0,86 FAKTOR EKSTERNAL Peluang (Opportunity-O) Pembangunan Pabrik Es 0,205746 7,5 1,54 6,5 1,32 9 1,85 Keberadaan SPDN di pelabuhan 0,330663 6 1,98 6 1,98 4 1,32 Pembangunan dermaga di Pulau 0,19056 5,5 1,05 7,5 1,43 3 0,57 Akses kelembagaan permodalan 0,089401 7 0,61 6 0,52 4,5 0,41 4,58 4,75 3,75 ANCAMAN (Treath-O) Konflik dengan nelayan luar 0,115645 1,5 0,17 3,5 0,41 3 0,35 Regulasi terkait dengan perijinan 0,067985 2,5 0,17 3 0,20 2,5 0,17 1 0,34 0,61 0,52
Urutan Prioritas strategi 12,63 10,21 7,95
22
Berdasarkan tabel hasil penilaian di atas, diketahui skor total tertinggi ada pada
aspek Pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan tangkap (total skor 12,63);
urutan kedua ada pada aspek peningkatan distribusi dan transportasi pendukung hasil
perikanan tangkap (total skor 10,21); dan urutan ketiga ada pada aspek peningkatan mutu
hasil tangkapan pada usaha perikanan (total skor 7,95).
Dengan demikian maka strategi pembangunan sektor kelautan dan perikanan di
Kabupaten Sumba Timur direkomendasikan berbasis perikanan tangkap dengan urutan
strategi berdasarkan prioritas yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1) Pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan tangkap
2) Peningkatan distribusi dan transportasi pendukung hasil perikanan tangkap
3) Peningkatan mutu hasil tangkapan pada usaha perikanan
Strategi utama berbasis perikanan tangkap ini tentunya diikuti dengan
pembangunan sub sektor lainnya sesuai dengan urutan prioritas dan isu-isu strategis seperti
yang ada pada hasil USG pada masing-masing sub sektor.
Gambaran Umum
Wilayah WPP 573 meliputi Meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan
Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu dan laut Timor Bagian Barat.
Batas Administrasi
Utara:
berbatasan dengan Pantai Selatan Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.
Timur:
berbatasan dengan perbatasan Laut Teritorial Indonesia – Timor Leste
Selatan:
berbatasan dengan batas terluar ZEE Indonesia – Australia
23
Tabel 14. Estimasi Potensi dan Status Eksploitasi Potensi Ikan di WPP-573
No Jenis ikan Potensi (Ribu ton/th)
Status tingkat
Eksploitasi Keterangan
A. Ikan Demersal 66,2 M Moderate
1) Layur M Moderate
2 Kakap merah F (5) Fully exploited (pancing ulur
dan rawai di NTT)
3) Kuwe F (5)
B. Pelagis kecil 210,6 F Fully exploited
1) D. Kuroides M Moderate
2) Lemuru O (6) Over exploited (di Selat Bali)
C. Tuna Besar 201,4
1) Cakalang M Moderate
2) Albacore F Fully exploited
3) Madidihang F Fully exploited
4) Mata besar O Over exploited
D. Cumi 2,1 M Moderate
E Udang penaeid 5,9 O Over exploited
F Lobster 1,0 O Over exploited
Sumber: KepMen KP No: 45/Men/2011 tanggal 3 Agustus 2011
Gambaran umum wilayah adminstratif yang dalam kawasan WPP-573 meliputi
wilayah wilayah Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Lembata di Provinsi nusa
Tenggara Timur.
Tabel 15. Luas Wilayah Kabupaten Sumba Timur
No Kecamatan Luas wilayah (Km2) % No Kecamatan Luas wilayah (Km2) %
1 Lewa 281,1 4,02 12 Ngadu Ngala 207,9 2,97
2 Nggaha Ori Angu 286,4 4,09 13 Pahunga Lodu 349,8 5,0
3 Lewa Tidahu 322,1 4,6 14 Wula Waijelu 221,3 3,16
4 Katala Hamu Lingu 453,1 6,47 15 Rindi 366,5 5,24
5 Tabundung 514,4 7,35 16 Umalulu 307,9 4,40
6 Pinu Pahar 246,6 3,52 17 Pandawai 412,6 5,89
7 Paberiwai 199,7 2,85 18 Kambata M. 412,7 5,9
8 Karera 334,6 4,78 19 Kota Waingapu 73,8 1,09
9 Matawai La Pawu 405,4 5,79 20 Kambera 52 0,74
10 Kahaungu Eti 475,1 6,79 21 Haharu 601,5 8,59
11 Mahu 196,6 2,81 22 Kanatang 279,4 3,99
Luas total 7.000,5 100
24
Pada Tabel 15, proporsi luas wilayah terluas ada pada lokasi Kecamatan Haharu
(8,59%) dan lokasi kecamatan terkecil ada pada Kecamatan Kambera (0,74%). Range luasan
lokasi berkisar 1-7%.
Tabel 16. Luas Wilayah Kecamatan Kabupaten Lembata
No Kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan Jumlah desa pantai Luas (Km2) % 1 Nubatukan 18 7 241,90 19,10 2 Lebatukan 17 10 165,64 13,08 3 Ile Ape 17 17 96,86 7,65 4 Omesuri 22 11 161,91 12,79 5 Buyasuri 20 10 104,26 8,23 6 Nagawutung 18 12 185,70 14,66 7 Atadei 15 3 150,42 11,88
8 Ile Ape Timur 9 9 38,26 3,02
9 Wulandoni 15 10 121,44 9,59
Jumlah 151 89 1.266,39 100
Sumber : Lembata Dalam Angka Tahun 2014 dan Hasil Olahan
Pada Tabel 16, jumlah desa/kelurahan terbanyak ada pada kecamatan Omesuri dan
Buyasuri. Sedangkan Jumlah desa pantai terbanyak terdapat pada kecamatan Ile Ape (17
desa), namun luasan wilayahnya kalah besar jika dibandingkan dengan Kecamatan
Nubatukan.
Tabel 17. Sebaran Hutan Mangrove di Kab. Sumba Timur
Sumber: Direktorat Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tahun 2011
Pada Tabel 17, jumlah hutan mangrove terbanyak terdapat pada Kecamatan
Pandawai dan Rindi (> 600 Ha), sedangkan luasan terkecil terdapat pada Kecamatan Haharu
(75,70 Ha).
No Kecamatan Luas (Ha) No Kecamatan Luas (Ha)
1 Haharu 75,70 6 Pahunga Lodu 450,72
2 Kanatang 126,22 7 Pandawai 757,09
3 Kambera 233,72 8 Rindi 649,07
4 Karera 105,03 9 Umalulu 113,99
5 Kota Waingapu 138,55 10 Wulla Waijelu 193,91
25
Gambar 3. Grafik Terumbu Karang di Kab. Sumba Timur
Sumber: Direktorat Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tahun 2011
Pada Grafik di atas, dapat dilihat bahwa luasan terumbu karang terluas ada pada
kecamatan Rindi, Pahunga Lodu. Sedangkan Kecamatan Karera dan haharu masuk dalam
kategori menengah dari kecamatan-kecamatan yang ada.
Tabel 18. Jumlah Penduduk Di Kab. Sumba Timur Berdasar Jenis Kelamin Tahun 2015 No Kecamatan Penduduk Jumlah Sex Ratio
(Lk/Pr) Lk Pr
1 Lewa 8.677 8.033 16.710 108
2 Nggaha OriAngu 4.833 4.674 9.507 103
3 Lewa Tidahu 3.355 3.396 6.751 99
4 Katala Hamu Lingu 1.999 1.997 3.996 100
5 Tabundung 4.455 4.331 8.786 103 6 Pinu Pahar 3.700 3.537 7.237 105 7 Paberiwai 3.106 2.819 5.925 110 8 Karera 4.187 3.927 8.114 107 9 Matawai La Pawu 3.239 3.097 6.336 105 10 Kahaungu Eti 4.423 4.259 8.682 104 11 Mahu 2.303 2.079 4.382 111 12 Ngadu Ngala 2.649 2.428 5.077 109 13 Pahunga Lodu 6.481 6.422 12.907 101 14 Wula Waijelu 3.835 3.650 7.485 105 15 Rindi 5.002 4.777 9.779 105 16 Umalulu 9.075 8.417 17.492 108 17 Pandawai 8.186 7.658 15.844 107 18 Kbt. Mapambuhang 1.952 1.792 3.744 109 19 Kota Waingapu 19.733 18.512 38.245 107 20 Kambera 17.065 15.992 33.057 107 21 Haharu 3.133 3.059 6.192 102 22 Kanatang 5.207 4.843 10.050 108 Jumlah Total 126.595 119.699 246.294
Sumber : BPS Kabupaten Sumba Timur 2016
0 500 1000 1500
Haharu Kanatang Karera Katala Hamu Lingu Kota Waingapu Lewa Tidahu Ngadu Ngala Pahunga Lodu Pandawai Pinu Pahar Rindi Tabundung Umalulu Wulla Waijelu Kecamatan Luas (Ha)
26
Pada Tabel 18, dapat dilihat bahwa proporsi jumlah penduduk laki-laki di setiap
kecamatan lebih tinggi jika dibandingkan penduduk perempuan. Jumlah penduduk terbesar
terdapat pada kecamatan Kota Waingapu dan Kambera.
Gambar 4. Jumlah Penduduk kabupaten Lembata, 2012-2014
Pada Gambar di atas dapat dilihat bahwa jumlah kepala keluarga dari tahun 2012
sampai tahun 2014
senantiasamengalami penambahan. Jumlah laki-laki dan perempuan pada
tahun 2014 mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2013.
Tabel 19. Jumlah penduduk menurut lapangan kerja utama di Kab. Sumba Timur Tahun 2015
No Lapangan Usaha Lk Pr Total %
1
Pertanian, Perkebunan,Kehutanan, Perburuan
& Perikanan 40.358 27.127 67.485 61,7
2 Pertambangan dan Penggalian 1.983 116 2.099 1,9
3 Industri 2.359 5.573 7.932 7,2
4 Listrik, Gas dan Air Minum 140 0 140 0,1
5 Konstruksi 6.042 0 6.042 7,3
6
Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi 4.830 3.143 7.973 7,3
7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 3.568 0 3.568 3,3 8
Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha
Persewaan & Jasa Perusahaan 606 417 1.023 0,9
9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 6.729 6.425 13.154 12,0
Jumlah 66.615 42.801 109.416 100
Sumber : BPS Kabupaten Sumba Timur 2016
63.091 64.273 64.094 69.910 70.938 70.837 34.235 35.938 36.362 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 2012 2013 2014 laki-laki perempuan kepala keluarga
27
Pada Tabel 19 di atas dapat dilihat bahwa sektor Pertanian, Perkebunan,Kehutanan,
Perburuan & Perikanan menyerap tenaga kerja lebih banyak 61,7% dengan proporsi
keterlibatan laki-laki lebih banyak jika dibandingkan perempuan.
Tabel 20. Pendidikan terakhir penduduk Kab. Sumba Timur usia 15 tahun keatas
Pendidikan terakhir Laki-laki Perempuan Jumlah %
Tidak sekolah 26.300 16.531 42.831 39,1 SD 15.469 12.485 27.954 25,5 Paket A 149 187 336 0,3 SLTP 6.740 3.183 9.923 9,1 Paket B 595 148 743 0,7 SLTA 12.206 5.903 18.109 16,6 Paket C 1.207 266 1.473 1,3 D1,D2,D3 1.908 523 2.431 2,2 S1 1.887 3.575 5.462 5,0 S2/S3 154 - 154 0,1 Total 66.615 42.801 109.416 100,0
Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional 2015
Pada Tabel 20 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk di usaia 15 tahun ke
atas memiliki tingkat pendidikan tidak sekolah (39,1%) dan hanya 7,3% yanng sampai pada
tingkat kuliah.
Tabel 21. Peran Sektor Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Rp juta) Di Kab. Sumba Timur Tahun 2014 – 2015
No Lapangan Usaha 2014 2015 Nominal % Nominal %
1 Pertanian, kehutanan, dan perikanan 1.100.155 26,85 1.214.488 26,63
2 Pertambangan dan penggalian 59.250 1,45 68.598 1,50
3 Industri pengolahan 58.027 1,42 64.516 1,41
4 Pengadaan Listrik dan gas 1.096 0,03 1.347 0,03
5 Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah
dan daur ulang 933 0,02 969 0,02
6 Konstruksi 436.149 10,64 474.926 10,41
7 Perdagangan, reparasi mobil dan motor,
rumah makan 539.374 13,16 589.435 12,92
8 Transportasi, dan pergudangan 194.534 4,75 219.372 4,81
9 Penyediaan akomodasi dan makan minum 10.110 0,25 11.706 0,26
10 Informasi dan komunikasi 148.555 3,63 156.417 3,43
11 Jasa Keungan dan asuransi 144.131 3,52 166.653 3,65
12 Real Estate 75.922 1,85 83.200 1,82
13 Jasa perusahaan 10.446 0,25 11.713 0,26
14 Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jamsos Wajib 408.482 9,97 438.893 9,62
28
No Lapangan Usaha 2014 2015 Nominal % Nominal %
16 Jasa Kesehatan dan kegiatan social 88.622 2,16 98.293 2,15
17 Jasa lainnya 163.323 3,99 178.278 3,91
PDRB 4.097,720 100 4.561,317 100
Sumber : BPS Kabupaten Sumba Timur 2016
Pada Tabel 21 di atas dapat dilihat bahwa peran PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
pada sektor Pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 26,85% (tahun 2014) dan 26,63%
(tahun 2015). Proporsi terbesar kedua ada pada sektor pendidikan, perdagangan dan
konstruksi.
Tabel 22. Peran Sektor Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Rp juta) Di Kab. Lembata Tahun 2013 - 2014
No SEKTOR 2013 2014
1 Pertanian 42,17 43,16
2 Pertambangan dan Penggalian 0,50 0,50
3 Industri Pengolahan 0,35 0,34
4 Listrik dan Air Minum 0,53 0,52
5 Bangunan 3,71 3,66
6 Perdagangan, hotel, Restaurant 12,34 12,11
7 Pengangkutan dan Komunikasi 3,45 3,52
8 Keuangan Perusahaan dan Jasa keuangan 1,15 1,15
9 Jasa Jasa 35,81 35,04
Sumber : BPS Kab. lembata 2014, Data terolah (Bappeda)
Pada Tabel 22 di atas, dapat dilihat bahwa pada Kabupaten Lembata, Sektor
Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dengan proporsi terbesar ada pada sektor
pertanian 42,17% (2013) dan tahun 2014 (43,16%).
Perikanan Tangkap
Tabel 23. Produksi Perikanan Tangkap di Kab. Sumba Timur Tahun 2015
No Kecamatan Produksi
(Ton) % No Kecamatan
Produksi
(Ton) %
1 Haharu 1.227,88 10,26 9 Wulla Waijelu 453,93 3,79
2 Kanatang 1.251,72 10,46 10 Ngadu Ngala 95,37 0,80
3 Kota Waingapu 1.868,99 15,62 11 Karera 262,26 2,19
4 Kambera 631,82 5,28 12 Pinu Pahar 464,92 3,88
5 Pandawai 1.370,93 11,46 13 Tabundung 500,69 4,18
6 Umalulu 2.145,80 17,93 14 Katala Hamulingu 35,76 0,30
7 Rindi 1.180,19 9,86 15 Lewa Tidahu 47,68 0,40
8 Pahunga Lodu 429,16 3,59
Jumlah 11.967,1 100,00
29
Pada Tabel 23 di atas, produksi perikanan tangkap di Kabupaten Sumba Timur
terbesar terdapat pada kecamatan Umalulu (17,93%) dan Kota Waingapu (15,62%).
Sedangkan produksi terkecil ada pada kecamatan Katala Hamulingu (0,30%) dan Lewa
Tidahu (0,40%).
Tabel 24. Produksi Perikanan Tangkap di Kab. Lembata Tahun 2014
No Kecamatan Jumlah %
1 Nagawutung 257,23 7,30
2 Wulandoni 520,91 14,78
3 Atadei 0 0
4 IleApe 257,28 7,30
5 Ile Ape Timur 7,24 0,21
6 Lebatukan 640,52 18,18
7 Nubatukan 778,53 22,09
8 Omesuri 619,65 17,58
9 Buyasuri 442,49 12,56
Total 3.523,85 100
Sumber :Statistik Pertanian, 2015
Pada Tabel 24 di atas dapat dilihat produksi perikanan tangkap terbesar pada
Kabupaten Lembata terbesar ada pada Kecamatan Nubatukan (22,09 %) dan kecamatan
Lebatukan (18,18%).
Tabel 25. Jumlah RTP dan Nelayan di kabupaten Lembata, 2015
Uraian Jumlah
Jumlah RTP 1.692
Jumlah Nelayan 2.190
Jumlah Nelayan Menurut Kategori Nelayan
- Penuh 783
- Sambilan Utama 561
- Sambilan Tambahan 846
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, 2016
Pada
Tabel 25 di atas dapat dilihat bahwa, jumlah nelayan Lembata mencapai 2.190
orang dengan proporsi terbanyak terdapat pada nelayan sambilan tambahan.
30
Tabel 26. Jumlah Armada Tangkap di Kabupaten Lembata, 2015
Uraian Kab. Sumba Timur Kab. Lembata Jumlah (unit) % Jumlah (unit) %
* Jukung 457 29,07
Perahu tanpa motor 860 62,64 561 35,69
* Bagan 13 0,83 * Motor Tempel 403 29,35 341 21,69 * Kapal 0 - 5 GT 110 8,01 131 8,33 * Kapal 5 – 10 GT 50 3,18 * Kapal 10 – 20 GT 1 0,06 * Kapal > 20 GT 0 0,00
* Peledang/Perahu Papan Besar 18 1,15
Jml nelayan 2.358 2.190
Total 3.731 100 3.762 100
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, 2015
Nelayan tangkap didominasi nelayan tradisional yang menggunakan armada
perahu tanpa motor dan perahu motor tempel menggunakan alat tangkap dominan berupa
pancing ulur dan jaring insang/mini purse seine (nelayan one day fishing). Karena
terbatasnya armada dan alat tangkap, produksi perikanan tangkap masyarakat Kab. Sumba
Timur dan Kab. Lembata relatif rendah. Potensi ikan di wilayah ini banyak dimanfaatkan
oleh nelayan dari luar (nelayan andon) yang datang dari Alor, Flores, Bima, Lombok Timur,
Madura, Sinjai, Buton) yang datang untuk menangkap cumi dan tuna/tongkol cakalang.
Gambar 5. Nelayan Tangkap di Kab. Sumba Timur Armada tangkap (unit):
Perahu tanpa motor: 860 Perahu motor tempel: 403 Kapal Motor 0-5GT: 110 Jumlah nelayan: 2.358
Alat tangkap (unit)
Jaring insang: 11.425 Jala tebar: 392 Pukat cincin: 11 Pukat Payang: 15 Pancing ulur: 5.932 Tombak/panah: 400 Bubu/Sero: 15 Profil Perikanan Tangkap 2015
31
Pada Gambar 5 di atas dapat dilihat bahwa nelayan tangkap di Sumba Timur
didominasi oleh perahu tanpa motor (860 unit) dan sebagian besar nelayan menggunakan
alat tangkap jairng insang dan pancing ulur.
Gambar 6. Nelayan Perikanan Tangkap di Kab. Lembata
Pada Gambar 6 di atas dapat dilihat bahwa armada di Kabupaten Lembata masih
didominasi oleh kapal tanpa motor. Kapal didominasi oleh ukuran 0-5 GT. Alat tangkap
yang digunakan didominasi oleh pancing ulur.
Tabel 27. Alat Tangkap yang digunakan di Kabupaten Lembata, 2015
Uraian Sumba Timur Lembata
Jumlah (Unit) % Jumlah (Unit) %
* Pukat Tarik 5 0,14
* Payang (termasuk Lampara) 15 0,08 27 0,77
* Pukat Pantai 146 4,15 * Pukat Cincin 11 0,06 16 0,45 * Jaring Insang 11.425 62,81 973 27,65 * Bagan Perahu/Rakit 0,00 13 0,37 * Jala tebar/Rawai 392 2,16 135 3,84 * Tonda 0,00 409 11,62 * Pancing Ulur 5.932 32,61 1036 29,44
* Tempuling, Harpoon/Tombak, Pana 400 2,20 669 19,01
* Bubu/sero 15 0,08 66 1,88
* Rumpon (FAD) 24 0,68
Total
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, 2016
Armada tangkap (unit):
Ukung : 457
Perahu tanpa motor : 561 Perahu motor tempel : 341 Bagan : 43
Kapal 0-5 GT : 131 Kapal 5-10 GT : 50 Kapal 10-20 GT : 1 Perahu papan besar : 18 Jumlah nelayan: 2.190
Alat tangkap (unit):
Pukat tarik : 5 Payang ; 27 Pukat pantai : 146 Pukat cincin : 16 Jaring insang : 973 Bagan/rakit : 13 Jala/rawai : 135 Pancing tonda : 409 Pancing ulur 1.036 Tombak/panah : 669 Bubu/sero : 66 Rumpon : 24 Profil Perikanan Tangkap 2015