• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN EKSPOR PRODUK BUMBU DALAM RANGKA PROGRAM INDONESIA SPICE UP THE WORLD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN EKSPOR PRODUK BUMBU DALAM RANGKA PROGRAM INDONESIA SPICE UP THE WORLD"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2021

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, REPUBLIK INDONESIA

ii

PEDOMAN EKSPOR PRODUK BUMBU DALAM RANGKA PROGRAM

INDONESIA SPICE UP THE WORLD

(3)

PEDOMAN EKSPOR PRODUK BUMBU DALAM RANGKA

PROGRAM INDONESIA SPICE UP THE WORLD

Jakarta : Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2021

Isi : 39 Halaman

Ukuran : 14.8 cm x 21 cm Cetakan : Ke 1 Tahun 2021

ISBN :

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman atau cara apapun tanpa izin tertulis sebelumnya dari penerbit.

(4)

SAMBUTAN

Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa dihaturkan kehadapan Allah Yang Maha Esa, karena atas rahmat, petunjuk dan izin-Nya, Pedoman Ekspor Produk Bumbu dalam rangka Indonesia Spice Up the World telah tersedia sebagai acuan penyelenggaraan pelayanan publik bagi petugas dan sebagai petunjuk teknis bagi pelaku usaha dalam melakukan pengajuan Surat Keterangan Ekspor.

Badan POM sebagai instansi pengawas Obat dan Makanan sangat mendukung kemudahan berusaha terutama pelaku usaha ekspor untuk tujuan peningkatan ekspor pangan olahan secara umum dan khususnya produk bumbu. Upaya ini sejalan dengan Program Nasional Indonesia Spice Up the World yang akan dicanangkan tahun 2021. Agar penyelenggaraan pelayanan Surat Keterangan Ekspor terstandarisasi sesuai dengan komponen standar pelayanan maka pedoman ini diterbitkan. Hal ini sesuai dengan butir- butir pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan sejalan dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Badan POM berkomitmen akan terus meningkatkan kualitas seluruh pelayanan publik yang diselenggarakan dengan menyediakan pedoman yang dapat membantu meningkatkan pemahaman pelanggan dan menyeragamkan persepsi petugas dalam melayani secara prima. Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman ini. Selanjutnya, diharapkan saran dan kritik membangun atas segala kekurangan yang terdapat pada pedoman ini untuk perbaikan mendatang.

Jakarta, Juni 2021

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia- Nya, kami dapat menyusun dan menuntaskan penyelesaian Pedoman Ekspor Produk Bumbu dalam rangka mendukung Program Indonesia Spice Up the World dengan baik. Pedoman ini disusun sebagai implementasi dari Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 5 Tahun 2020 tentang Integrasi Pelayanan Perizinan Berusaha Secara Elektronik Sektor Obat dan Makanan, sejalan dengan ditetapkanya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. dalam rangka memberikan kemudahan bagi pelaku usaha ekspor dalam melaksanakan kegiatan ekspor pangan olahan, terutama untuk produk bumbu sesuai komitmen Badan POM dalam mendukung suksesnya Program Nasional Indonesia Spice Up the World.

Pedoman ini digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pelayanan bagi masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan teratur mengikuti komponen standar pelayanan dan sumber referensi bagi pelaku usaha untuk memperoleh informasi tentang pengajuan surat keterangan ekspor. Pedoman ini berisi tentang gambaran umum tata cara eksportasi produk pangan olahan di Indonesia, registrasi pangan olahan, tata cara pengajuan SKE di Badan POM, dan Export Consultation Desk (ECD).

Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dari awal sampai akhir proses tersusunnya Pedoman Direktorat Pengawasan Peredaran Pangan Olahan, yang diharapkan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan penuh dengan tanggung jawab untuk peningkatan kualitas pelayanan Direktorat Pengawasan Peredaran Pangan Olahan.

Jakarta, Juni 2021

(6)

PENYUSUN

Penanggung Jawab :

Dra. Rita Endang, Apt, M.Kes

Koordinator Pelaksana Teknis :

Dra. Ratna Irawati, Apt, M.Kes

Tim Penyusun :

Neni Yuliza, S.Si., Apt

Betty Noegraha Ardi, S.T., M.Sc

Yennie Rosyiani Wulansay, S.Si, Apt, M.Sc

Restu Widodo, S.Kom

Eka Seva Ermawati, S.Farm., Apt

Nabila Sabrina Silvani, S.T.P

Raisha Audina Prameswari, STP

Candrika Nicitha Ramadhan, STP

Nur Azizah, S.Pi

(7)

EKSPOR PRODUK BUMBU DALAM RANGKA PROGRAM

INDONESIA SPICE UP THE WORLD

Program Indonesia Spice Up the World dilaksanakan dalam rangka mendukung kuliner Indonesia untuk masuk ke pasar mancanegara, khususnya negara-negara di Australia dan Afrika. Target program ini mencakup pemasaran produk bumbu/pangan olahan dan rempah, restoran Indonesia di luar negeri, serta penguatan destinasi gastronomi di dalam negeri. Badan POM pun ikut terlibat dan siap mendukung program ini.

e-b pom merupakan pelayanan online satu atap serta pelayanan satu pintu memberikan rekomendasi ekspor impor Obat dan Makanan melalui Penerbitan Surat Keterangan Ekspor (SKE), maupun penerbitan Surat Keterangan Impor (SKI) yang dilakukan oleh Badan POM. Dalam proses perizinan impor, Badan POM telah terintegrasi dalam portal Indonesia National Single Window (INSW). Perusahaan yang telah memiliki Nomor Izin Berusaha (NIB) sampai tahap 5, dapat mendaftarkan akunnya di aplikasi ebpom. NIB digunakan untuk pendaftaran akun perusahaan dalam rangka pembuatan Surat Keterangan Ekspor (SKE).

SKE Pangan Olahan, merupakan bentuk dukungan Badan POM untuk ekspor pangan Indonesia. Badan POM dalam penerbitan SKE ini, melakukan evaluasi terhadap keamanan dan mutu pangan yang akan diekspor. Badan POM sangat mendukung peningkatan ekspor, melalui berbagai upaya yang dilakukan untuk memberikan kemudahan dalam pemberian SKE dan juga melakukan simplifikasi pengajuan SKE dengan menggunakan Digital Signature/Tanda Tangan Elektronik (TTE).

Setiap pangan olahan baik yang diproduksi di dalam negeri atau yang diimpor untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran wajib memiliki Izin Edar. Izin edar pangan olahan berupa Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga Pangan (SPP-IRT) diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Dinkes), sedangkan izin edar BPOM RI MD dan BPOM RI ML diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jenis SKE berdasarkan produk terdaftar atau bahan baku yaitu SKE Produk Terdaftar di Dinas Kesehatan, SKE Produk terdaftar di BPOM, dan SKE Produk berupa Bahan Baku/Produk Khusus Ekspor.

Export Consultation Desk (ECD) merupakan inovasi layanan Publik Badan Pengawas Obat

(8)

DAFTAR ISI

Sambutan

iv

Kata Pengantar

v

Penyusun

vi

Ekspor Produk Bumbu Dalam Rangka Program Indonesia

Spice Up the World

vii

Daftar isi

viii

Pendahuluan

1

Latar Belakang

1

Tujuan

2

Ruang Lingkup Pedoman

2

Gambaran Umum Tata Cara Eksportasi Produk Pangan

Olahan di Indonesia

3

Pembuatan NIB

4

Surat Keterangan Ekspor di Badan POM

12

Registrasi Pangan Olahan

17

Pembuatan Akun e-reg

18

Persyaratan Registrasi Pangan Olahan

21

Tata Cara Registrasi Pangan Olahan

22

Tata Cara Pengajuan SKE di Badan POM

29

Pembuatan Akun e-bpom

30

Persyaratan Pengajuan SKE

31

Tata Cara Pengajuan SKE

34

Export Consultation Desk

35

Gambaran Umum ECD

36

Tata Cara Pembuatan Akun

37

Tata Cara Akses ECD

38

Penutup

39

(9)

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Ekspor pangan dari Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, hal ini terlihat dari tingginya permintaan Surat Keterangan Ekspor (SKE) pangan olahan. Data menunjukkan permintaan SKE dari tahun 2018 sampai dengan 2020 cenderung meningkat dengan negara tujuan ekspor terbesar yaitu negara-negara di Asia Tenggara dan China.

Program Indonesia Spice Up the World merupakan salah satu dari Rencana Aksi Strategi Kuliner Indonesia yang dilaksanakan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Program ini dilaksanakan dalam rangka mendukung kuliner Indonesia untuk masuk ke pasar mancanegara, khususnya negara-negara di Australia dan Afrika.

Target program ini mencakup pemasaran produk bumbu/pangan olahan dan rempah, restoran Indonesia di luar negeri, serta penguatan destinasi gastronomi di dalam negeri. Badan POM pun ikut terlibat dan siap mendukung program ini.

Negara-negara di benua Afrika dan Australia menjadi prioritas tujuan ekspor bumbu dan rempah pada program ini. Hal ini dikarenakan potensi produk Indonesia masih sangat besar untuk memasuki pasar Afrika dan Australia. Australia memiliki potensi yang besar, mengingat bahwa terdapat banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Australia, sedangkan Afrika memiliki kesamaan selera makan yaitu cita rasa pedas sehingga bumbu dan rempah Indonesia akan mudah berpenetrasi dengan kearifan lokal setempat. Bumbu dan rempah khas asal Indonesia yang beraneka ragam menjadi ketertarikan sendiri bagi konsumen mancanegara. Selain itu juga saat ini telah terdapat perusahaan pangan asal Indonesia yang memiliki pabrik di negara tersebut.

Sepanjang tahun 2018–2020, terdapat beberapa perusahaan asal Indonesia yang mengekspor produk bumbu ke negara di Afrika dan Australia, seperti Mauritius, Nigeria, Mesir, Ethiopia, Maroko, Sudan, Ghana, Kenya, Madagascar, dan Australia.

Sejalan dengan program pemerintah “Indonesia Spice Up The World” ini, selain dukungan yang dilakukan dalam bentuk sosialisasi, promosi, coaching clinic, business matching,

(10)

TUJUAN

Pedoman Ekspor Produk Bumbu Dalam Rangka Program Indonesia Spice Up the World disusun dengan tujuan memberikan panduan kepada pelaku usaha pangan untuk melakukan eksportasi pangan olahan, sehingga pada akhirnya dapat mendorong kuliner Indonesia (khususnya bumbu dan rempah) untuk masuk ke pasar mancanegara, terutama negara-negara di Australia dan Afrika.

RUANG LINGKUP PEDOMAN

Pedoman ini mencakup tentang gambaran umum tata cara eksportasi produk pangan olahan di Indonesia, registrasi pangan olahan, tata cara pengajuan SKE di Badan POM, dan ECD.

(11)
(12)

1. PEMBUATAN NIB

DASAR HUKUM

Implementasi NIB pada aplikasi e-bpom berdasarkan:

• Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan

Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

• Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 26 Tahun 2018 tentang

Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Obat dan Makanan

Badan Pengawas Obat dan Makanan telah melakukan penyesuaian persyaratan perizinan layanan penerbitan Surat Keterangan Ekspor dan Surat Keterangan Impor di Badan POM.

E-BPOM

e-bpom merupakan pelayanan online satu atap serta pelayanan satu pintu memberikan rekomendasi ekspor impor Obat dan Makanan melalui Penerbitan Surat Keterangan Ekspor (SKE) maupun penerbitan Surat Keterangan Impor (SKI) yang dilakukan oleh Badan POM. Dalam proses perizinan impor, Badan POM sudah terintegerasi dalam portal INSW.

e-bpom.pom.go.id

(13)

KONEKTIVITAS E-BPOM

NOMOR INDUK BERUSAHA (NIB)

1. NIB akan digunakan untuk pendaftaran akun

perusahaan

2. Perusahaan yang tidak memiliki NIB sampai

tahap 5 maka tidak dapat mendaftarkan akunnya di aplikasi ebpom

3. Perusahaan yang data NIBnya dapat ditarik ke

aplikasi ebpom adalah yang memiliki Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Badan POM

4. Proses approval pendaftaran akun baru akan

ditentukan berdasarkan kode izin yang didaftarkan melalui OSS

(14)

DOKUMEN PERSYARATAN

1. Surat Permohonan yang ditandatangani

oleh Direksi atau Kuasa Direksi

2. Surat Pernyataan Penanggung Jawab 3. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) 4. Daftar HS Code

5. Nomor Induk Berusaha (NIB) 6. Kartu Tanda Penduduk (KTP) 7. Foto Tampak Depan Perusahaan 8. Foto Tampak Depan Gudang

9. Izin Industri Farmasi/Izin PBF/Izin PBF

Penyalur Bahan Obat (Khusus komoditi

NIB UNTUK PERUSAHAAN BARU (1)

(15)
(16)

NIB UNTUK PERUSAHAAN BARU (3)

(17)
(18)

NIB UNTUK PERUSAHAAN BARU SUDAH TERDAFTAR

(19)
(20)

2. SURAT KETERANGAN EKSPOR

DI BADAN POM

SURAT KETERANGAN EKSPOR (SKE)

SKE Pangan Olahan, merupakan bentuk dukungan Badan POM untuk ekspor pangan Indonesia. SKE ini tidak bersifat wajib, tetapi mengikuti persyaratan yang dipersyaratkan oleh negara tujuan ekspor. Apabila negara tujuan ekspor mempersyaratkan SKE, maka Badan POM siap untuk menfasilitasi.

Badan POM dalam penerbitan SKE ini, selalu melakukan evaluasi terhadap keamanan dan mutu pangan yang akan diekspor. Dalam hal ini Badan POM selalu menekankan kepada pelaku usaha, agar selalu berkomunikasi secara intensif dengan Buyer terkait standar dan regulasi di negara tujuan ekspor, karena setiap negara memiliki standar dan regulasi yang berbeda-beda.

SKE dapat berupa Health Certificate atau Free Sale Certificate. Statement utama pada Health Certificate (HC), menyatakan bahwa produk aman dikonsumsi oleh manusia. Dapat diberikan untuk produk yang terdaftar di BPOM, di Dinas Kesehatan atau pun produk yang tidak terdaftar (produk khusus ekspor atau bahan baku)

Statement utama pada Free Sale Certificate (CFS), menyatakan bahwa produk bebas

diperjualbelikan di Indonesia. Oleh karena itu CFS hanya dapat diberikan apabila produk yang diekspor memang diperjualbelikan secara bebas di Indonesia, yang dibuktikan dengan adanya Nomor Izin Edar untuk produk pangan, dan untuk bahan baku berupa bukti pemesanan dari sarana produksi pengguna.

(21)

SIMPLIFIKASI ALUR PENGAJUAN SKE

Simplifikasi pengajuan SKE telah dilakukan dengan memangkas alur pengajuan SKE Pangan Olahan, yaitu:

1. Pada awalnya pengajuan dan proses evaluasi serta penerbitan SKE dilakukan secara manual

2. Selanjutnya dimulai pada tahun 2017, telah dilaksanakan proses pelayanan SKE secara online menggunakan website e-bpom.pom.go.id, namun output SKE masih berupa hard copy.

3. Mulai tahun 2018, telah dilakukan penerapan TTE pada SKE Pangan Olahan, sehingga pelaku usaha dapat mencetak secara mandiri SKE-nya.

Dengan adanya TTE ini, sangat memudahkan pelaku usaha, sehingga tidak perlu hadir di Badan POM (menghemat waktu dan biaya)

1. Alur Pengajuan SKE Manual

(22)

SIMPLIFIKASI ALUR PENGAJUAN SKE

2. Alur Pengajuan SKE

Proses penerbitan SKE Pangan Olahan secara online melalui e-bpom, tapi output SKE masih diprint, ditandatangani dan distempel basah

3. Alur Pengajuan SKE TTE

Proses penerbitan SKE Pangan Olahan secara online melalui e-bpom, output SKE telah menerapkan Digital Signature/TTE dan diprint secara mandiri oleh pelaku usaha

(23)

KEMUDAHAN SKE PANGAN OLAHAN

Badan POM sangat mendukung peningkatan ekspor. Dukungan diberikan dengan berbagai upaya, salah satunya dengan memberikan kemudahan dalam pemberian SKE.

• Dapat diterbitkan berupa HC atau CFS, bagi produk pangan yang diterbitkan oleh Industri Rumah Tangga Pangan, dengan melampirkan SPP-IRT, spesifikasi produk, dan Certificate of Analysis (COA)

• Fasilitasi SKE Time Based, yaitu SKE dengan masa berlaku 6 bulan, yang dapat digunakan untuk ekspor selama masa berlakunya sertifikat tersebut. Untuk mendapatkan SKE Time Based ini, pelaku usaha harus memiliki track

record yang baik, berdasarkan kajian manajemen risiko Badan POM, dengan

mempertimbangkan berbagai aspek (antara lain kepatuhan, hasil pengawasan, pelanggaran, dan juga penolakan ekspor), serta perusahaan melampirkan persetujuan dari buyer di negara tujuan ekspor.

• Fasilitasi SKE untuk produk yang terdaftar MD, yaitu bahwa produk pangan ekspor yang telah memiliki Nomor izin Edar Badan POM RI, tidak ada perubahan terhadap komposisi produk, dan tidak ada penambahan klaim pada label kemasan, maka tidak dipersyaratkan hasil analisa dari laboratorium eksternal yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), cukup digantikan dengan hasil pengujian dari laboratorium internal perusahaan

(24)

SLA LAYANAN SKE PANGAN OLAHAN

Badan POM telah menerapkan Service Level Agreement (SLA) 1 HK bagi proses penerbitan SKE Pangan Olahan, yaitu dengan penerapan Digital Signature pada SKE Pangan Olahan, yang memangkas waktu untuk mencetak hard copy dan menandatangani, serta pelaku usaha masih perlu menyiapkan waktu untuk mengambil SKE yang telah ditandatangani ke Badan POM.

(25)
(26)

1. PEMBUATAN AKUN E-REG

CARA MEMPEROLEH IZIN EDAR DI BADAN POM

Setiap pangan olahan baik yang diproduksi di dalam negeri atau yang diimpor untukdiperdagangkan dalam kemasan eceran wajib memiliki Izin Edar.

Izin edar pangan olahan yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Dinkes) yaitu SPP-IRT, sedangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin edar yaitu BPOM RI MD dan BPOM RI ML. Kriteria pangan yang didaftarkan di BPOM (MD/ML) antara lain lokasi produksi tersendiri, pangan olahan diproduksi secara manual, semi otomatis, otomatis atau dengan teknologi tertentu, dan mencakup seluruh jenis pangan olahan. Cara memperoleh izin edar di Badan POM terdiri dari 3 tahapan.

(27)

PERSYARATAN REGISTRASI AKUN PERUSAHAAN

Registrasi akun perusahaan perlu dilakukan untuk mendapatkan User ID dan Password agar dapat menginput data dan men-upload dokumen terkait produk yang didaftarkan. Persyaratan registrasi akun perusahaan dibedakan menjadi persyaratan produk dalam negeri dan produk luar negeri.

(28)

ALUR PROSES REGISTRASI AKUN PERUSAHAAN

Registrasi akun perusahaan dilakukan pada website e-reg.pom.go.id.

Dokumen pendukung yang diperlukan untuk produsen yaitu Izin Usaha Industri (IUI) atau Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) atau Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan Pemeriksaan Sarana oleh Balai (PSB). Dokumen pendukung yang diperlukan untuk importir yaitu SIUP, NPWP, Pemeriksaan Sarana oleh Balai (PSB), Sertifikat GMP/HACCP/ISO 22000 dan Letter of Appointment (LoA)/ Surat Penunjukan.

Alur proses registrasi akun perusahaan terdiri dari 5 tahapan, yaitu:

(29)

2. PERSYARATAN REGISTRASI

PANGAN OLAHAN

DOKUMEN PERSYARATAN REGISTRASI PANGAN OLAHAN

Registrasi pangan olahan dapat dilakukan jika perusahaan telah memiliki User ID dan Password untuk menginput data dan men-upload dokumen terkait produk yang didaftarkan. Dokumen persyaratan registrasi pangan olahan dibagi menjadi persyaratan produk dalam negeri dan produk luar negeri.

(30)

3. TATA CARA REGISTRASI PANGAN

OLAHAN

ALUR PROSES REGISTRASI PANGAN OLAHAN

Registrasi pangan olahan dilakukan pada website e-reg.pom.go.id.

Alur proses registrasi pangan olahan terdiri dari 7 tahapan.

(31)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

1. BUKA WEBSITE E-REG.POM.GO.ID DAN LOG IN SESUAI USER ID

(32)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

2. INPUT DATA

(33)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

(34)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

4. INPUT KOMPOSISI PRODUK

(35)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

(36)

TUTORIAL REGISTRASI PANGAN OLAHAN

6. UPLOAD DOKUMEN PENDUKUNG

(37)
(38)

1. PEMBUATAN AKUN E-BPOM

ALUR PROSES PEMBUATAN AKUN E-BPOM

Layanan publlik penerbitan SKE di Badan POM meliputi proses pengajuan SKE, pemenuhan persyaratan administrasi dan proses evaluasi pengajuan dilakukan secara

online melalui laman https://e-bpom.pom.go.id/

Sejak tahun 2018, Badan POM pusat telah diterapkan tanda tangan elektronik atau

digital signature, sehingga proses pelayanan SKE (SLA) menjadi lebih singkat, yaitu

6 jam. Untuk produk bumbu khususnya, dalam rangka dukungan program Indonesia

Spice Up the World, diterapkan SLA selama 3 jam.

(39)

DOKUMEN PERSYARATAN SURAT KETERANGAN EKSPOR

2. PERSYARATAN PENGAJUAN SKE

Berikut Persyaratan Data dan Dokumen pada pengajuan Surat Keterangan Ekspor (SKE) di Badan POM berdasarkan produk terdaftar atau bahan baku. Jenis SKE berdasarkan produk terdaftar atau bahan baku yaitu SKE Produk Terdaftar di Dinas Kesehatan, SKE Produk terdaftar di BPOM, dan SKE Produk Berupa Bahan Baku/Khusus Ekspor.

(40)

1.

SURAT PERMOHONAN

(Surat ditujukan ke Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan)

Memuat nama dagang, nama jenis, kemasan, jumlah yang diekspor, negara tujuan, nama dan alamat eksportir, nomor pendaftaran (MD/SPP-IRT), nomor bets/ kode produksi.

2.

SURAT PERNYATAAN

(di atas materai Rp10.000,-)

Jika produk pangan khusus ekspor mengalami perubahan desain kemasan/label yang telah disetujui pada waktu pendaftaran, namun mutu dan kualitas produk yang akan diekspor sama dengan mutu dan kualitas produk yang beredar di Indonesia. Hanya untuk produk khusus ekspor.

3.

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA

Antara produsen dan eksportir, apabila produk diekspor bukan oleh produsen yang bersangkutan.

4. Fotokopi

NOMOR PENDAFTARAN DAN LABEL

yang disetujui pada waktu pendaftaran (MD) atau fotokopi Sertifikat Pendaftaran Produk Industri Rumah Tangga (SPP-IRT)

.

5.

SERTIFIKAT

• Sertifikat analisa produk dari laboratorium produsen untuk produk pangan ekspor yang telah mempunyai MD

• Sertifikat Genetically Modified Organism (GMO) (untuk hasil olahan kedelai, tomat, jagung, dan kentang)

• Sertifikat analisa untuk residu 3-Monochloro Propandiol (3-MCPD) (untuk

Hydrolized Vegetable Protein, Isolated Soy Protein, Soy Sauce)

• Sertifikat Halal bila mencantumkan logo halal pada label/kemasan produk ekspor

• Sertifikat analisa dan hasil perhitungan Informasi Nilai Gizi (ING), apabila pada label produk lokal tidak tercantum sedangkan pada label ekspor mencantumkan ING

32

(41)

6.

SPESIFIKASI

• Deskripsi/komposisi/ingredient • Karakteristik fisika/kimia/mikrobiologi • Kemasan

• Penggunaan/aplikasi

• Penyimpanan, masa kedaluwarsa dan cara penyimpanan

7.

HASIL PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI

oleh Badan POM atau Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan POM.

8. Bukti penjualan lokal berupa surat pesanan/

INVOICE

(khusus Certificate of Free

Sale).

9.

FOTO KEMASAN PRODUK EKSPOR

Pada kemasan/label produk yang akan diekspor harus mencantumkan nama/alamat produsen atau Negara asal produk (Indonesia). Jika produk ekspor berbeda dengan produk lokal.

10.

NILAI EXPORT DALAM INVOICE

(US Dollar)

(42)

3. TATA CARA PENGAJUAN SKE

ALUR PROSES PENGAJUAN SKE

Pengajuan Surat Keterangan Ekspor (SKE) dilakukan pada website e-bpom.pom.go.id

Alur proses pengajuan SKE terdiri dari beberapa tahapan.

(43)
(44)

1. GAMBARAN UMUM ECD

Export Consultation Desk (ECD) merupakan inovasi layanan Publik Badan Pengawas

Obat dan Makanan yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha di bidang obat dan makanan yang berniat melakukan ekspor. Program ini diusulkan karena pentingnya kebutuhan untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan ekspor. Upaya ini didasarkan pada hasil kunjungan kerja ke beberapa negara dan adanya hubungan yang baik dengan seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri dimana diketahui bahwa hubungan dan komunikasi yang telah terjalin ini seyogyanya dimanfaatkan untuk penyediaan informasi yang berguna untuk peningkatan daya saing industri Indonesia. Untuk itu, ECD dibentuk sebagai wadah dalam pemberian informasi dimaksud.

ECD akan memberikan layanan informasi dan konsultasi terkait persyaratan ekspor obat dan makanan di negara-negara tujuan ekspor dan jika diperlukan, upaya advokasi akses pasar di negara-negara tujuan ekspor Indonesia khususnya di bidang obat, obat tradisional, kosmetik dan makanan. Layanan informasi dilakukan dapat secara langsung, maupun melalui laman (website) yang terintegrasi dengan laman Badan POM.

Untuk menunjang pelayanan ECD, Badan POM mengembangkan pola kemitraan dan kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri beserta Perwakilan RI di negara mitra baik Kedutaan Besar maupun Konsul Jenderal dan Konsul Republik Indonesia di negara-negara mitra dan National Regulatory Authority (NRA) setempat; serta berbagai pemangku kepentingan di dalam negeri, seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Badan Standardisasi Nasional, Akademisi, Asosiasi, dll dalam rangka peningkatan pelayanan informasi dan penambahan daya saing serta nilai tambah ekspor. Melalui hubungan perdagangan bilateral dan kerja sama serta hubungan Badan POM dengan beberapa NRA di negara mitra dapat menjadi alternatif dalam penanganan isu perdagangan sehingga memberikan kemudahan kepada pelaku usaha untuk memasarkan produknya di negara tujuan ekspor

(45)

Sejalan dengan semakin cepatnya perubahan ketentuan Obat dan Makanan global, pada platform ECD telah ditautkan berbagai platform notifikasi WTO dan ASEAN, antara lain:

a. e-ping yang merupakan notifikasi regulasi terbaru yang akan diterbitkan di negara anggota WTO.

b. TBT WTO yang berisi kumpulan notifikasi peraturan dari negara anggota WTO. c. ATR yang memberikan informasi persyaratan non-tarif yang belaku di negara

anggota ASEAN.

d. TBT-BSN yang merupakan platform BSN sebagai contact point Indonesia untuk kegiatan fasilitasi hambatan ekspor ke negara WTO.

Selain itu, terdapat tautan e-BPOM pada halaman beranda ECD yang bertujuan untuk mempermudah akses pelaku usaha dalam memperolah informasi terkait pelayanan sertifikasi ekspor produk Obat dan Makanan. Serta pentautan platform Istana UMKM untuk memberikan fasilitasi kepada UMKM Obat dan Makanan dalam memperoleh informasi pemenuhan persyaratan produksi bagi industri pangan menengah, kecil dan mikro.

2. TATA CARA PEMBUATAN AKUN

ECD

Pembuatan Akun ECD dilakukan di website ECD

https://ecd.pom.go.id/pendaftaran/

. Pendaftaran dilakukan dengan memasukkan data perusahaan dan profil perwakilan dari perusahaan yang ditunjuk memiliki hak akses ECD. Kemudian pemohon mengupload dokumen persyaratan antara lain: Surat Permohonan, Surat Pernyataan Penanggung Jawab, SIUP dan NPWP.

Setelah mendapatkan verifikasi persetujuan dari Badan POM, informasi akun perusahaan akan dikirimkan melalui email yang berisi username dan password. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi email

[email protected].

(46)

3. TATA CARA AKSES ECD

ECD menyediakan informasi di website yang terintegrasi dengan website Badan POM. Informasi yang akan disajikan diantaranya penjelasan mengenai regulasi dan persyaratan ekspor Obat dan Makanan di negara tujuan, data ekspor, distributor, serta analisa akses pasar.

Dalam menyajikan informasi regulasi di beberapa negara, koordinasi dilakukan dengan meminta bantuan dan kerjasama dari beberapa unit seperti penilaian obat, penilaian pangan dan Insert Pangan yang telah memberikan informasi mengenai regulasi perijinan ekspor dan penerbitan Surat Keterangan Ekspor serta regulasi makanan di negara lain. ECD juga mengumpulkan informasi regulasi dan prosedur izin masuk obat dan makanan dari semua perwakilan RI di negara-negara di kawasan Amerika, Eropa, Asia, Pasifik dan Afrika.

(47)

informasi distributor, airline code, airport code, informasi umum mengenai ijin-ijin custom, dan links NRA di negara tujuan ekspor, dan instansi yg terdapat informasi mengenai eksportasi, serta link ke perwakilan-perwakilan RI di negara tujuan ekspor. Informasi mengenai regulasi dan daftar distributor juga dibagikan ke contact center Badan POM (HALOBPOM 1500533) dan akan selalu di update.

EDC dapat membantu dalam permasalahan ekspor dengan menghubungi Tim ECD pada form Hubungi Kami. Tim ECD akan mengevaluasi apakah permasalahan yang terjadi adalah isu hambatan akses pasar atau karena belum adanya kepatuhan aturan di negara tujuan ekspor. Tim ECD akan bekerjasama dengan unit dan instansi terkait untuk mengkaji permasalahan dan mereview alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan. Hasilnya akan tim EDC informasikan melalui email.

Dalam melakukan ekspor ke negara mitra, ketentuan lain dan informasi terkait ekspor dapat diakses melalui menu regulasi dan potensi pasar, apabila belum terdaftar agar yang bersangkutan melakukan pendaftaran dan log in terlebih dahulu. Informasi juga dapat diakses melalui website beberapa instansi / institusi di Indonesia dan negara tujuan ekspor pada daftar tautan (e-ping, TBT WTO, ATR, dan TBT-BSN).

PENUTUP

Pedoman ekspor produk bumbu dalam rangka program Indonesia Spice Up The World ini diharapkan mampu membantu tercapainya dukungan kuliner Indonesia (khususnya bumbu dan rempah) untuk masuk ke pasar mancanegara, khususnya negara- negara di Australia dan Afrika.

(48)

Referensi

Dokumen terkait

J: Program ELTA adalah program bantuan pelatihan Bahasa Inggris yang disediakan bagi calon pelamar beasiswa Australia Awards yang berasal dari provinsi Papua, Papua Barat, Maluku,

Dalam kegiatan ini peneliti mendapatkan tiga temuan sementara dalam proses perencanaan pembelajaran yang dilakukan di SMP Negeri 3 Jatinom Klaten yaitu: (1) Penyusunan silabus di

GUGUSLATIH ILMU PENDIDIKAN RACANA WIJAYA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG. Sekretariat : Kampus PGSD Wonosari Ngaliyan

Variabel Kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar

Our results indicate that, although all isolates were able to utilise all inorganic and organic nitrogen sources, con- siderable intraspeci®c variation exists within the sampled

Sama halnya dalam penentuan kristalinitas struktur dari material yang dihasilkan, terjadinya perbedaan morfologi permukaan pada material mangan oksida birnessite

Dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Laksana diantaranya adalah tentang kependudukan dimana dari 30 responden seluruhnya merasakan adanya

Secara in vitro, cairan rumen dari ternak percobaan (diambil melalui mulut) dan digunakan sebagai inokulan untuk mendegradasi substrat serbuk rumput gajah, dan hasilnya (in