i
Seri Data dan Informasi Sosek KP No.05
Kajian Desain Program dan Implementasi Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan
Umum Daratan
Zahri Nasution, dkk
ii Seri Data dan Informasi Sosek KP No.05
Kajian Desain Program dan Implementasi Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan Umum Daratan
ISBN: 978-979-3893-87-7 Diterbitkan Oleh:
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan(BBPSEKP) bekerja sama dangan
Indonesian Marine and Fisheries Socio-Economics Research Network(IMFISERN)
Penanggung Jawab:
Kepala Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Penyunting: Budi Wardono Rikrik Rahadian Penulis: Zahri Nasution Muhadjir Elly Reswati Rani Hafsaridewi Rismutia Hayu Deswati
Design Cover: Ari Suswandi
Tata Letak: Irawati Arifa Desfamita Asep Jajang Setiadi
Santi Astuti
ISI DAPAT DIKUTIP DENGAN MENYEBUTKAN SUMBERNYA
Publikasi ini dicetak dengan
menggunakan Anggaran Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Tahun 2013
iii KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya buku Seri Data dan Informasi Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan ini dapat diselesaikan. Buku data dan informasi ini merupakan salah satu keluaran dari kegiatanPenelitian Kajian Desain Program dan Implementasi Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan Umum Daratanyang dibiayai dari APBN tahun 2013.
Paket data ini berisikan berbagai tabel dan hasil analisis, yang dimuat dalam Laporan Teknis Akhir kegiatan penelitian tersebut. Data yang ditampilkan merupakan hasil olahan dari data sekunder dan primer hasil penelitian. Data yang tercantum meliputi data perikanan tingkat nasional dan data perikanan dari 3 tipologi yaitu waduk,danau dan sungai rawa di enam lokasi penelitian, yaitu di Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Kerinci, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Brebes.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Kepala Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBPSEKP) yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan Kajian Desain Program dan Implementasi Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan Umum Daratan ini. Tim Peneliti menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Penanggung Jawab dan Tim Lab Data BBPSEKP yang telah menyunting dan menerbitkan buku seri data dan informasi ini. Terima kasih juga diucapkan kepada berbagai pihak, yang telah banyak membantu kelancaran dalam pengumpulan data lapangan kegiatan sehingga terselesaikan buku data dan informasi ini.
Akhirnya, semoga buku seri data dan informasi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Saran perbaikan yang bersifat positif konstruktif sangat diharapkan.
Jakarta, Desember 2013
iv DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I PENGANTAR ... 1
METODOLOGI... 3
KONSEP DAN DEFINISI ... 3
BAB IIDATA DAN INFORMASI ... 21
v DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tingkat produksi perikanan tangkap yang berasal dari perairan umum daratan beserta jumlah nelayan, RTP, unit penangkapan dan nilai produksi secara nasional
tahun 2007 hingga 2011. ... 3
Tabel 2. Tingkat Kenaikan Penurunan Produksi Perikanan Tangkap, Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan dan Nilai Produksi Perikanan yang berasal dari Perairan Umum Daratan Tahun 2007 hingga 2011. ... 4
Tabel 3. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap, Nilai Produksi Perikanan Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007 hingga 2011. ... 5
Tabel 4. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007-2009 dan 2010-2011. ... 5
Tabel 5. Tingkat produksi perikanan tangkap yang berasal dari perairan umum daratan beserta jumlah nelayan, RTP, unit penangkapan dan nilai produksi secara nasional tahun 2007 hingga 2011. ... 21
Tabel 6. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap, Nilai Produksi Perikanan Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007 hingga 2011. ... 21
Tabel 7. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007-2009 dan 2010-2011. ... 23
Tabel 8. Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya di Ogan Ilir, Tahun 2008 - 2012 ... 24
Tabel 9. Produksi dan Nilai Produksi Tiap Jenis Ikan Tangkap di Perairan Umum Kab. Ogan Ilir Tahun 2009 ... 24
Tabel 10. Produktivitas Perikanan Perairan Umum Sungai dan Rawa di Kab. Ogan Ilir Tahun 2006-2012 ... 25
Tabel 11. Produksi Perikanan Di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2009 dan 2012 ... 26
Tabel 12. Produksi Perikanan Budidaya di Kab. Ogan Ilir Tahun 2009 dan 2012. ... 27
Tabel 13. Produksi dan Nilai Produksi Ikan Budidaya Berdasarkan Jenis Ikan Dan Jenis Usaha di Perairan Umum Kab. Ogan Ilir 2009 ... 28
Tabel 14. Jenis dan jumlah alat tangkap ikan di Kab. Ogan Ilir 2009 ... 30
Tabel 15. Kalender Musim Tangkap di Kabupaten Ogan Ilir ... 30
Tabel 16. Harga beli dan harga jual ikan pada tingkat pedagang pengecer... 31
Tabel 17. Jumlah Pengolah Kerupuk/Kemplang di Kab. Ogan Ilir ... 32
Tabel 18. Luas Wilayah Per Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan ... 38
Tabel 19. Produksi Perikanan Darat Menurut Kecamatan (ton) di Kabupaten Barito Selatan ... 38
Tabel 20. Areal dan Produksi Budidaya Kabupaten Hulu Sungai Utara ... 42
Tabel 21. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan di Kerinci Tahun 2009 - 2011 ... 43
Tabel 22. Produksi Berbagai Macam Ikan Di Kabupaten Kerinci Tahun 2012 ... 44
Tabel 23. Produksi, konsumsi ikan dan peran perikanan tangkap di Kabupaten Kerinci, Jambi Tahun 2009 – 2011 ... 45
Tabel 24. Infrastruktur pendukung industrialisasi perikanan di Kab. Kerinci, Tahun 2013 ... 45
vi Tabel 26. Jenis dan volume dan harga ikan yang diperdagangkan seorang pedagang tiap
bulan sesuai musim tangkap di Kabupaten Kerinci, Jambi. ... 47 Tabel 27. Jenis-jenis Alat Tangkap yang Digunakan Nelayan Kabupaten Simalungun Tahun
2008-2011 ... 51 Tabel 28. Komposisi jenis ikan di Waduk Malahayu Kab. Brebes Jawa Tengah. ... 57
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kawasan Pengembangan Minapolitan di Kabupaten Ogan Ilir ... 29
Gambar 2. Saluran pemasaran ikan tangkap di Ogan Ilir ... 33
Gambar 3. Rantai Nilai Ikan Gabus segar di Kabupaten Ogan Ilir ... 34
Gambar 4. Rantai Nilai 2 Ikan Gabus segar di Kabupaten Ogan Ilir ... 35
Gambar 5. Rantai Nilai 3 Ikan Gabus bentuk olahan (kerupuk) di Kab. Ogan Ilir ... 35
Gambar 6. Rantai Nilai 4 ikan sepat segar ... 36
Gambar 7. Rantai Nilai 5 ikan sepat segar ... 37
Gambar 8. Alat – Alat Tangkap Nelayan di Kabupaten Barito Selatan ... 39
Gambar 9. Rantai Pasok ( Supply Chain) Perikanan di Kabupaten Barito Selatan ... 40
Gambar 10. Rantai pemasaran ikan gabus ... 40
Gambar 11. Value chain analysis ikan gabus rantai 1 ... 41
Gambar 12. Rantai pemasaran ikan hasil tangkap di Kabupaten Kerinci ... 47
Gambar 13. Rantai Pasok Ikan di Kabupaten Kerinci, Jambi ... 48
Gambar 14. Rantai pemasaran ikan hasil tangkap di Danau Kerinci... 49
Gambar 15. Kawasan perairan Danau Toba yang meliputi 7 kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. ... 50
Gambar 16. Rantai Pemasaran Ikan Bilih di Kab. Simalungun, Sumut ... 55
Gambar 17. Rantai pasok komoditas ikan Gabus di Kabupaten Brebes ... 58
Gambar 18. Rantai pasok komoditas nila Waduk Malahayu ... 59
Gambar 19. Sistem pohon industri ikan gabus ... 60
Gambar 20. Sistem pohon industri komoditas gabus dari nelayan ke pengumpul dan ke pengecer ... 61
1 BAB IPENGANTAR
Industrialisasi perikanan merupakan “proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir” dengan tujuan untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dannilai tambah produk kelautan dan perikananyang berdaya saing tinggi dan berorientasi pasar (KKP, 2012). Kemudian, juga untuk mempercepat pembangunan ekonomiberbasis kelautan dan perikanan melaluimodernisasi sistem produksi danmanajemen, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan (KKP, 2012). Sejalan dengan yang dikemukakan diatas, Satria (2011) mengemukakan, dalam arti luas, industrialisasi perikanan adalah transformasi ke arah perikanan yang bernilai tambah, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah produksi perikanan lokal yang dinikmati para pelaku usaha kecil dan menengah.
Industrialisasi bukan hanya sekadar membangun pabrik, tetapi lebih pada terciptanya sistem yang menjamin meningkatnya mutu produk perikanan nelayan dan pembudidaya ikan yang bernilai tambah, berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan mereka (Satria, 2011).Dengan demikian, industri tidak semata teknologi, tetapi orientasi nilai budaya baru, di mana industri mengait pada sumber daya lokal, sehingga pelaku lokal di hulu terlibat secara dalam dan karena itu keberlanjutan sumber daya menjadi penting untuk menjamin keberlanjutan produksi. Kemudian, dalam arti sempit, industrialisasi perikanan adalah membangun pabrik-pabrik pengolahan ikan, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan olahan.baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Secara konseptual industrialisasi perikanan menganut prinsip-prinsip (KKP, 2012): (1) Meningkatkan nilai tambah dan daya saing: peningkatan nilai tambah dan daya saing produk untuk ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri; (2) Modernisasi sistem produksi: efisiensi dan modernisasi sistem produksi hulu dan hilir; (3) Penguatan pelaku industri kelautan dan perikanan: peningkatan jumlah, kapasitas, dan kualitas industri kelautan dan perikanan dan pembinaan hubungan antar entitas bisnis dan industri pada semua tahapan value chain untuk memperkuat struktur industri kelautan dan perikanan; (4) Berbasis komoditas, wilayah, dan sistem manajemen kawasan; (5) Konsentrasi pada komoditas unggulan, potensi wilayah dan manajemen sentra-sentra produksi potensial sesuai dengan prospek pertumbuhannya di masa depan; (6) Berkelanjutan: prinsip keseimbangan antara pemanfaatan sumberdaya alam dan perlindungan lingkungan berjangka panjang; (7) Transformasi sosial: perubahan cara berfikir dan perilaku masyarakat modern. Berdasarkan ke tujuh prinsip tersebut, maka arah kebijakan industrialisasi adalah:
(1) Peningkatan produktivitas, nilai tambah dan kesejahteraan rakyat; (2) Peningkatan daya saing dan modernisasi berorientasi pasar, dan
(3) Swasembada dan manajemen kelautan dan perikanan berkelanjutan: integrasi hulu dan hilir berwawasan lingkungan.
2 Terkait dengan konsep pembangunan ekonomi berbasis pada potensi wilayah, maka muncul gagasan pembangunan kawasan minapolitan di perairan umum daratan, yang juga dapat dikembangkan sebagai kawasan industrialisasi perikanan.Dalam hal ini, pemanfaatan potensi perairan umum daratan yang mencapai 12 juta hektar (Sukadi and Kartamihardja) dapat memberikan dukungan terhadap pencapaian IKU KKP khususnya terkait dengan peningkatan produksi kelautan dan perikanan, tingkat konsumsi dan peningkatan nilai ekspor produk perikanan (BBPSEKP, 2013). Konsep minapolitan memiliki kaitan penting dalam mempercepat implementasi industrialisasi pembangunan ekonomi masyarakat berbasis potensi wilayah dengan mengandalkan potensi sumber daya lokal (Sunoto, 2011) termasuk perikanan perairan umum daratan.
Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dalam upaya peningkatan produksi perikanan perairan umum adalah aspek sumber daya dan tata ruang, aspek masyarakat dan bisnis, aspek kelembagaan, keberadaan infrastruktur serta dukungan kebijakan dan governance (BBRSEKP, 2010).Disamping itu, industrialisasi perikanan menghendaki keterkaitan antara industri penyedia bahan baku (produksi), dengan industri pengolahan dan pemasaran (Sharif, 2011). Salah satu upaya mendukung industrialisasi perikanan tersebut, KKP memprioritaskan peningkatan daya saing dan nilaitambah melalui program peningkatan "supply chain and value chain management".
Sharif (2011) mengemukakan juga bahwa terdapat empat strategi dalam mendukung industrialisasi perikanan, yaitu;Pertama, meningkatkan produksi perikanan tangkap melalui berbagai program; Kedua,meningkatkan produksi perikanan budidaya. Ketiga, meningkatkan produksi produk olahan bernilai tambah tinggimelalui peningkatan kapasitas UKM dan industrialisasi pengolahan. Keempat, mengembangkan industripendukung serta industri terkait lainnya.Terkait dengan strategi tersebut terdapat beberapa faktor-faktor penting terkait desain program dan implementasi industrialisasi perikanan1. Dengan demikian terlihat bahwa penting untuk mengkaji desain program dan implementasi induistrialisasi berbasis perikanan pada kawasan minapolitan perairan umum daratan serta berbagai aspek terkait terhadap industrialisasi tersebut terutama perdagangan dan pemasaran komoditas yang dihasilkan pada kawasan program tersebut.
1Faktor-faktor tersebut adalah peningkatan nilai tambah, daya saing produk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor,
efisiensi dan modernisasi sistem produksi hulu dan hilir, peningkatan jumlah dan kapsitas bisnis, pembinaan hubungan pada entitas bisnis pada semua tahapan value chain untuk memperkuat struktur industri KP, konsentrasi pada komoditas unggulan, potensi wilayah dan manajemen sentra produksi potensial, keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan lingkungan jangka panjang, perubahan cara berpikir dan perilaku masyarakat modern (KKP, 2012).
3 METODOLOGI
Penelitian dilakukan pada bulan Januari – Desember 2013. Lokasi penelitian yang dipilih merupakan lokasi-lokasi yang sudah ditetapkan menjadi kawasan minapolitan dan juga merupakan lokasi penerapan industrialisasi perikanan yaitu di Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Kerinci, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Brebes.
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan mengumpulkan data primer dan sekunder selama kegiatan penelitian.Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan melakukan analisis kebijakan yang mendukung industrialisasi perikanan di tiap lokasi penelitian, analisis value chain dan analisis pohon industri pada setiap komoditas unggulan di lokasi penelitian.Secara khusus untuk dasar penyempurnaan desain program industrialisasi berbasis perikanan di kawasan perairan umum daratan dilakukan analisis per tipe ekosistem dengan membandingkan antara kondisi saat ini (existing condition) terhadap kondisi ideal industrialisasi perikanan yang ditunjukkan oleh beberapa variabel kunci prinsip penting dalam industrialisasi perikanan (KKP, 2012). Analisis komparatif (perbandingan) dilakukan pada sektor hulu, proses dan hilir.
KONSEP DAN DEFINISI
Produksi Perikanan Perairan Umum Daratan (PUD) Nasional
Produksi perikanan tangkap yang berasal dari perairan umum daratan, jumlah nelayan, RTP, unit penangkapan dan nilai produksinya terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat produksi perikanan tangkap yang berasal dari perairan umum daratan beserta jumlah nelayan, RTP, unit penangkapan dan nilai produksi secara nasional tahun 2007 hingga 2011.
Uraian Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Produksi (ton) 310.467 301.182 296.736 344.972 347.720 Nilai Produksi (Rp.000) 3.406.284.057 4.143.679.692 4.402.230.140 4.968.927.106 5.694.220.000 Nelayan 523.827 496.499 472.688 457.835 492.870 RTP 353.562 334.169 309.932 313.849 313.270
4 Unit
Penang-kapan
818.411 820.273 714.724 538.855 n.a
Pokmaswas 901 1.369 1.419 1.452 1.452
Sumber: Statistik Kelautan dan Perikanan 2011.
Berdasarkan Tabel 1 diatas, maka dapat ditunjukkan bahwa apakah terjadi peningkatan ataukah penurunan pada setiap hal-hal yang dijelaskan dalam tabel tersebut, sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Tabel 2 memperlihatkan bahwa tingkat produksi perikanan yang berasal dari perairan umum daratan dari tahun 2007 hingga tahun 2011 rata-rata meningkat sebesar 9.178 ton per tahun. Terlihat pula bahwa peningkatan yang terjadi mulai tahun 2009 hingga tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi suatu peningkatan sebagai akibat adanya suatu program tertentu. Namun demikian, meskipun tingkat produksi rata-rata meningkat sedikit, tetapi nilai produksi selalu meningkat setiap tahunnya. Rata-rata peningkatan nilai produksi selama periode 2007-2011 adalah sebesar Rp.571.983.986.- per tahun.
Tabel 2. Tingkat Kenaikan Penurunan Produksi Perikanan Tangkap, Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan dan Nilai Produksi Perikanan yang berasal dari Perairan Umum Daratan Tahun 2007 hingga 2011.
Uraian Tahun Rata-Rata
Per Tahun 2007-2008 2008-2009 2009-2010 2010-2011 Produksi (ton) - 9.825 - 4.446 + 48.236 + 2.748 9.178 Nilai Prod. (Rp.000) +737.395.635 +258.550.448 +566.696.966 +725.292.894 571.983.986 Nelayan - 27.328 - 23.811 - 14.853 + 35.305 - 7.672 RTP - 19.393 - 24.237 + 3.917 - 579 - 10.073 Unit pe -nangkapan + 1.862 - 105.549 - 175.869 n.a - 93.185 Pokmaswas + 468 + 50 + 33 0 138
Sumber: Diolah dari Tabel 1.
Di lain pihak, semua yang merupakan unsur upaya bersifat rata-rata menurun baik nelayan, RTP, maupun unit penangkapan per tahun, sedangkan jumlah Pokwasmas setiap tahunnya rata-rata meningkat 138 kelompok. Jumlah nelayan rata-rata menurun sejumlah 7.672 nelayan, sedangkan RTP menurun sejumlah 10.073 RTP per tahun dan unit penangkapan menurun rata-rata 93.185 unit per tahun.
5 Tabel 3. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap, Nilai Produksi Perikanan Perairan Umum
Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007 hingga 2011.
Uraian Tahun
2007 2008 2009 2010 2011
Produksi(kg) per nelayan 593 607 628 753 706
Nilai Produksi(Rp.000) per nelayan 6.503 8.346 9.313 10.853 11.553
Produksi(kg) per RTP 878 901 957 1.099 1.110
Nilai Produksi(Rp.000) per RTP 9.634 12.399 14.204 15.832 18.177 Produksi(kg) per unit penang
kapan
379 367 415 640 na
Nilai Produksi(Rp.000) per unit penangkapan
4.162 5.052 6.159 9.221 na
Sumber: Tabel 2, diolah
Efektivitas kebijakan dan program yang dilaksanakan pada tataran Nasional terhadap pembinaan produksi dan nelayan serta unit penangkapan ikan di perairan umum daratan dalam hal ini dapat dilihat dari volume produksi per nelayan atau produksi per RTP atau produksi per unit penangkapan. Disamping itu juga dilihat dari nilai produksi per nelayan atau per RTP atau per unit penangkapan ikan sebagaimana terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa selama lima tahun mulai dari tahun 2007 hingga tahun 2011, tingkat produksi perikanan perairan umum daratan selalu meningkat baik terhadap jumlah nelayan, RTP maupun unit penangkapan ikan. Begitu pula untuk nilai produksi perikanan perairan umum daratan pada periode tersebut baik terhadap jumlah nelayan, RTP maupun unit penangkapan ikan. Berdasarkan Tabel 3 selanjutnya dibedakan atas dua periode yaitu periode tahun 2007 hingga 2009 yang dapat menggambarkan sebelum adanya program minapolitan, sementara tahun 2010 dan 2011 memperlihatkan adanya pengaruh program minapolitan. Perbandingan kedua periode tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007-2009 dan 2010-2011.
Uraian
Rata-Rata Per Tahun Per Periode
2007-2009 2010-2011 %
Perbedaan
Produksi (kg) per Nelayan 609 729,5 19,7
Nilai Produksi (Rp.000) per nelayan 8.054 11.203 39,0
6
Nilai Produksi (Rp.000) per RTP 12.079 17.004,5 40,7
Produksi (kg) per unit penang kapan 387 640 65,3
Nilai Produksi (Rp.000) per unit penangkapan
5.124 9.221 79,9
Sumber: Tabel 3, diolah
Berdasarkan Tabel 4 diperoleh gambaran bahwa rata-rata produktivitas produksi dan produktivitas nilai produksi baik per nelayan, per RTP maupun per unit penangkapan menunjukkan adanya peningkatan dengan adanya program minapolitan. Tabel 4 memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas produksi per nelayan pada 2 periode tersebut terdapat perbedaan sebesar 19,7%, sedangkan perbedaan nilai produksi per nelayan mencapai 39,0%. Tabel 4 tersebut juga menunjukkan bahwa perbedaan produktivitas produksi per RTP antar 2 periode tersebut sebesar 21,1%, sedangkan perbedaan produktivitas nilai produksi per RTP mencapai 40,7%. Sementara perbedaan produktivitas produksi per unit penangkapan antar 2 periode tersebut sebesar 65,3%, sedangkan untuk produktivitas nilai produksi per unit penangkapan perbedaannya mencapai 79,9%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya efektivitas kebijakan dan program yang dijalankan dalam kerangka peningkatan produksi perikanan di perairan umum daratan.
Pada program minapolitan misalnya pengembangannya dilakukan melalui tahapan pemilihan daerah yang akan dibangun kawasan yang cocok untuk peningkatan produksi. Peningkatan produksi tersebut dilakukan baik melalui upaya peningkatan produksi minapolitan perikanan tangkap maupun minapolitan perikanan budidaya. Sebagai contoh pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap ditetapkan pada kawasan Danau Toba, Danau Kerinci dan wilayah sungai dan rawa di Sumatera Selatan.
Dalam pengembangan kawasan minapolitan, terlihat bahwa pusat dan daerah secara bersama membiayai kegiatan tersebut sehingga pembangunan perikanan tangkap perairan umum daratan dilakukan tidak hanya oleh pemerintah daerah atau hanya oleh pemerintah. Kemudian, dalam penetapan kawasan minapolitan juga dipertimbangkan pengembangan komoditas unggulan dan diminati pasar sehingga dapat menangkal kemungkinan kelebihan produksi. Disamping itu, juga dilakukan perbaikan teknologi pasca panen dan pengembangan sistem rantai dingin. Bahkan kawasan minapolitan inilah nantinya yang ditetapkan sebagai embrio kawasan industrialisasi perikanan.
Industrialisasi perikanan akan dilaksanakan melalui pengembangan komoditas unggulan dan produk-produk bernilai tambah berorientasi pasar. Dalam pelaksanaan program industrialisasi perikanan dimulai dari asesmen jenis dan kapasitas industri yang dapat dikembangkan berdasarkan analisis potensi dan trend pasar. Selain itu, upaya peningkatan produksi perikanan itu akan ditempuh
7 sejalan dengan upaya yang memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha, diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM atau modernisasi nelayan dan pembudidaya ikan.
Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan Umum Daratan
Secara nasional tentang industrialisasi perikanan mulai dikumandangkan pada awal tahun 2012 sejalan dengan adanya penyempurnaan rencana strategis Kementeriam Kelautan dan Perikanan (KKP). Dalam kaitannya dengan dukungan terhadap industrialisasi perikanan, maka penelitian pengembangan kawasan minapolitan di masing-masing lokasi penelitian diarahkan untuk mendukung industrialisasi perikanan yang dimaksud, dengan catatan bahwa pengertian secara luas yang terkandung dalam kawasan minapolitan dikembangkan ke arah mendukung industrialisasi perikanan.
Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip, integrasi, efisiensi, kualitas, dan akselerasi. Dalam kaitannya dengan konsep ini, pada tahun 2011, KKP membangun kawasan minapolitan (kawasan produksi kelautan dan perikanan yang terintegrasi) di 28 kabupaten sebagai pilot project untuk meningkatkan produksi perikanan di Indonesia.
Pada prinsipnya tahapan pengembangan kawasan minapolitan dilakukan dengan cara terlebih dahulu memilih beberapa daerah yang akan dibangun kawasan minapolitandengan maksud untuk meningkatkan produksi ikan dengan harga ikan yang murah dan terjangkau masyarakat. Pada tahap ini misalnya sekitar 60 persen biaya budidaya ikan berasal dari harga pakan ikan. Harga pakan ikan mempengaruhi harga ikan menjadi mahal atau murah.Harga ikan budidaya saat ini berkisar antara Rp.9.000–Rp.11.000 per kg.Agar biaya budidaya ikan lebih murah, maka perlu membuat industri pakan ikan yang dikelola oleh masyarakat pembudidaya ikan itu sendiri.
Dalam pengembangan kawasan minapolitan, menurut panduan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sedikitnya ada enam syarat dalam membangun kawasan minapolitan yang benar dan ideal. Pertama, adanya komitmen daerah melalui rencana strategis, adanya kucuran dana atau tepatnya alokasi dana melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD Kabupaten maupun APBD Provinsi) dan penetapan tata ruang yang seimbang. Kedua, adanya komoditas unggulan, misalnya ikan Patin, ikan Mas, ikan Gurami, ikan Gabus, ikan Baung dan jenis-jenis ikan lainnya yang diminati pasar. Ketiga, letak geografis yang strategis serta secara alamiah cocok untuk usaha perikanan.Keempat, sistem mata rantai produksi dari hulu ke hilir, misalnya lahan budidaya dan pelabuhan perikanan dan diperlukan adanya dermaga perikanan. Kelima, adanya fasilitas pendukung atau sarana dan prasarana, misalnya jalan, aliran listrik, pusat pemerosesan ikan,
8 sarana angkutan, dan ketersedian bibit ikan dan pakan ikan yang tersedia sepanjang waktu. Keenam, kelayakan lingkungan dengan kondisi yang baik atau tidak merusak.
Dengan demikian, minapolitan merupakan konsep pengembangan sektor kelautan dan perikanan yang berbasis wilayah. Minapolitan merupakan pengembangan sektor perikanan secara terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pembudidayaan/penangkapan, proses olahan, hingga pemasaran, yang dalam hal inilah sejalan dengan upaya ke arah mendukung industrialisasi perikanan.Terkait dengan industrialisasi perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Cicip Sharif Sutardjo, mengatakan pada tanggal 18 Januari 2012, bahwa konsep industrialisasi perikanan yang diusung oleh pihak KKP dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah yang berorientasi kepada pasar. "Industrialisasi kelautan dan perikanan akan dilaksanakan melalui pengembangan komoditas
unggulan dan produk-produk bernilai tambah berorientasi pasar," Oleh karena itu, pelaksanaan
program industrialisasi perikanan dimulai dari asesmen jenis dan kapasitas industri yang dapat dikembangkan berdasarkan analisis potensi dan tren pasar.
Selain itu, lanjutnya, pihak KKP juga akan mengukur beragam kekuatan yang dimiliki oleh sejumlah produk perikanan nasional terhadap produk yang didatangkan dari negara-negara pesaing. Sektor hulu kelautan dan perikanan juga dikembangkan sesuai dengan perhitungan pertumbuhan industri pengolahan dengan cara menggerakan semua potensi, mulai dari produksi bahan baku skala kecil sampai dengan skala besar.
Dalam upaya meningkatan kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan terus berupaya untuk meningkatkan produksi perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya, Menteri Kelautan dan Perikanan menegaskan, upaya peningkatan produksi perikanan itu akan ditempuh sejalan dengan upaya industrialisasi perikanan yang memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Industrialisasi perikanan tersebut, dilakukan dengan membenahi sektor hulu hingga hilir, diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM atau modernisasi nelayan dan pembudidaya. "Dengan industrialisasi ini diharapkan
mampu menciptakan mata rantai industri perikanan nasional yang kuat dan berdaya saing”.
Dalam upaya mendukung industrialisasi perikanan, KKP memprioritaskan peningkatan daya saing dan nilai tambah melalui program peningkatan "supply chain and value chain management" dengan empat strategi, meliputi:
1) Meningkatkan produksi perikanan tangkap melalui berbagai program seperti pengadaan kapal bantuan untuk para nelayan,
2) Meningkatkan produksi perikanan budidaya,
3) Meningkatkan produksi produk olahan bernilai tambah tinggi melalui peningkatan kapasitas UKM dan industrialisasi pengolahan, serta
9 4) Mengembangkan industri pendukung serta industri terkait lainnya.
Salah satu program yang menunjang industrialisasi perikanan yang terkait dengan peningkatan produksi perikanan adalah Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) yaitu bagian dari pelaksanaan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri KP) melalui bantuan pengembangan usaha dalam menumbuh-kembangkan usaha perikanan sesuai dengan potensi desa (Anonim, 2011). Dijelaskan pula bahwa PNPM Mandiri KP adalah program pemberdayaan masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan pendapatan serta penumbuhan wirausaha kelautan dan perikanan.
Di lain pihak, Kelompok Usaha Kelautan dan Perikanan yang selanjutnya disingkat KUKP adalah kelompok usaha berupa kelompok nelayan atau kelompok pembudidaya ikan atau kelompok pengolah/pemasar (poklahsar) ikan dalam rangka mengembangkan usaha produktif untuk mendukung peningkatan pendapatan dan penumbuhan wirausaha kelautan dan perikanan. Sementara, Rencana Usaha Bersama (RUB) adalah rencana usaha untuk pengembangan wirausaha kelautan dan perikanan yang disusun oleh KUKP berdasarkan kelayakan usaha dan potensi desa.
Pelatihan adalah proses pembelajaran baik teori maupun praktek yang bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kompetensi atau kemampuan akademik, sosial dan pribadi di bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap serta bermanfaat bagi pesertanya dalam meningkatkan kinerja pada tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Pendampingan adalah kegiatan yang dilakukan oleh tenaga pendamping dalam rangka pemberdayaan nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasar ikan dan masyarakat petambak garam rakyat dalam melaksanakan PNPM Mandiri KP. Kemudian, Kelompok Usaha Bersama (KUB) adalah badan usaha non badan hukum yang berupa kelompok yang dibentuk oleh nelayan berdasarkan hasil kesapakatan/musyawarah seluruh anggota yang dilandasi oleh keinginan bersama untuk berusaha bersama dan dipertanggungjawabkan secara bersama guna meningkatkan pendapatan anggota. Kelompok Pembudidaya Ikan yang selanjutnya disingkat Pokdakan adalah kumpulan pembudidaya ikan yang terorganisir.
Kebijakan Umum Pengembangan Industrialisasi Perikanan Berbasis Perairan Umum Daratan
Pengembangan kawasan sentra produksi perikanan perairan umum daratan menjadi kawasan minapolitan memberikan implikasi menjadikan perairan umum daratan sebagai kawasan yang perlu pengaturan. Oleh karena itu perairan umum daratan, sebagaimana sumberdaya alam lainnya menjadi “state property” sehingga semua perairan umum daratan di Indonesia harus diatur
10 menggunakan peraturan perundang-undangan yang berimplikasi harus dipatuhi semua sektor. Untuk itu, minimal harus diatur menggunakan “peraturan pemerintah” atau PP, yang sudah tentu harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang telah ada termasuk hak komunal yang telah berlaku atau diberlakukan pada wilayah tertentu di daerah.
Dengan dasar bahwa semua perairan umum daratan harus diatur, maka bagi daerah yang belum mengatur perairan umum daratan yang berada di wilayahnya seyogyanya sudah harus memikirkan bagaimana pengaturannya guna pemanfaatan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, dapat diikuti langkah-langkah sebagai berikut;
a. Pertama-tama perairan umum daratan yang memiliki sumberdaya perikanan dengan produktivitas yang cukup tinggi dan menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan dan atau pembudidaya ikan harus dikelola oleh pemerintah daerah melalui pembinaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota.
b. Suatu hal yang mendasar adalah menetapkan kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan perairan umum daratan yang bersifat ko-manajemen. Dalam hal ini, instansi pembina dinas kelautan dan perikanan kabupaten/kota bekerja sama dengan kelembagaan nelayan membentuk pola pengelolaan sumberdaya perikanan perairan umum daratan. Dalam hal ini diutamakan untuk mengembangkan perikanan tangkap dan mengendalikan perikanan budidaya di perairan umum daratan berdasarkan prinsip pemanfaatan dan pendayagunaan yang berkelanjutan.
c. Bentuk peraturan yang dapat diberlakukan antara lain adalah Peraturan Bupati Tentang Pengembangan Perikanan Tangkap Menggunakan Pendekatan Culture Base Fishery (CBF) dan sekaligus mengendalikan kegiatan budidaya ikan di perairan umum daratan tersebut. Pengembangan perikanan tangkap dengan menggunakan pendekatan CBF dapat dilakukan mengikuti langkah protokol penebaran ikan yang baik dan benar.
d. Untuk perikanan budidaya, jika belum ada budidaya ikan yang berkembang di perairan umum daratan tersebut lebih baik tidak dikembangkan tipe perikanan budidaya sistem keramba di danau, waduk, ataupun sungai. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa tipe perikanan budidaya tersebut lambat laun akan merusak lingkungan ekologis waduk, danau ataupun sungai tersebut.
e. Kerusakan lingkungan perairan umum daratan sebagai akibat tidak terkendalinya jumlah unit budidaya yang dikembangkan oleh pembudidaya ikan. Hingga saat ini belum terlihat bahwa tipe perikanan budidaya seperti itu dapat dikendalikan di Indonesia. Kerusakan ini telah banyak bukti di Indonesia, misalnya di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur di Jawa Barat serta perairan sungai di Kalimantan Selatan.
11 Disamping itu, kegiatan kelautan dan perikanan yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan pengembangan perikanan tangkap dan pengendalian perikanan budidaya di wilayah perairan umum daratan dapat dibagi menjadi dua bagian besar kegiatan yang perlu diperhatikan yaitu pengembangan perikanan tangkap pola Culture Based Fishery (CBF) dan pengendalian atau pembatasan atau pelarangan pengembangan perikanan budidaya sistem keramba jaring apung, atau sistem keramba kayu di lingkungan perairan umum daratan.
a. Pengembangan perikanan tangkap menggunakan pendekatan CBF pada perinsipnya mengembangkan pola pemanfaatan dan pendayagunaan perairan umum dengan cara menebar ikan asli kembali ke perairan umum daratan yang dikelola. Ikan yang ditebar merupakan pemanfaatan relung pakan dan atau peningkatan produksi ikan asli. Kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan perairan umum daratan dengan menggunakan pendekatan CBF.
b. Berdasarkan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan menggunakan pendekatan CBF, dapat dikemukakan kegiatan kelautan dan perikanan yang perlu difasilitasi oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota setempat adalah sebagai berikut;
Fasilitasi pembentukan kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan yang dapat berupa kelembagaan pelaku usaha (nelayan).
Peningkatan peran masyarakat nelayan dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan (termasuk didalamnya sistem pengawasan sumberdaya).
Fasilitasi pembentukan aturan pemanfaatan dan pendayagunaan sumberdaya perikanan termasuk penggunaan alat tangkap, penetapan wilayah konservasi, penetapan otoritas dalam kaitannya dengan pengaturan sanksi (penegakan peraturan).
Penebaran ikan asli dan atau peningkatan produksi ikan asli termasuk pengaturan mata jaring untuk penangkapan ikan dan pengaturan waktu penggunaan alat tangkap tertentu.
Fasilitasi pembentukan sistem pengawasan oleh masyarakat (Siswasmas) dan pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).
Selanjutnya, dikemukakan apa yang harus dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota terkait dengan sistem rantai pasok dalam hubungannya dengan upaya pengembangan perikanan tangkap dan pengendalian perikanan budidaya di wilayah perairan umum daratan, baik sungai & rawa, waduk maupun danau.
a. Dengan adanya dua bagian besar kegiatan yaitu pengembangan perikanan tangkap pola Culture
Based Fishery (CBF) dan pengendalian perikanan budidaya sistem keramba jaring apung, atau
sistem keramba kayu di lingkungan perairan umum daratan, terdapat perubahan sistem rantai pasok di suatu wilayah kabupaten atau kota.
12 b. Sistem rantai pasok ikan perairan umum di pasar kabupaten yang semula sebagian besar berasal dari luar kabupaten berubah menjadi ada pasokan baru dari daerah pengembangan kawasan minapolitan perairan umum daratan. Kawasan pengembangan minapolitan yang terdiri atas zona inti (daerah minapolis) dapat berfungsi sebagai pemasok tambahan baru terhadap pasar kabupaten. Tambahan pula jika telah ada pengembangan perikanan budidaya, maka pemasok bertambah dari sekitar minapolis.
c. Pola pengembangan perikanan tangkap dengan pendekatan penerapan prinsip CBF memerlukan pasokan benih minimal sekitar 1 juta ekor per kali penebaran per perairan di satu wilayah pedesaan. Oleh karena perubahan rantai pasok benih ini memerlukan perluasan produksi benih. Dalam hal ini dapat dikembangkan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang tentunya menjadi tugas dan fungsi Balai Benih Ikan (BBI Kabupaten) yang secara lokal terdapat di setiap wilayah kabupaten. Begitu pula pasokan benih untuk pengembangan perikanan budidaya yang sudah terlanjur ada (masih dalam kapasitas dukung lingkungan) memerlukan benih paling tidak jutaan ekor per kali tanam.
d. Hasil produksi ikan dari perairan umum tersebut diatas merupakan pasokan ikan yang harus pula dipasarkan baik pada tingkat lokal sekitar kecamatan ataupun pada tingkat kabupaten (pasar ibukota kabupaten). Oleh karena itu perlu pembangunaan fasilitas pasar input yang terkait dengan pengembangan perikanan tangkap maupun perikanan budidaya di tingkat kecamatan. Termasuk di dalamnya pengadaan pasar benih ikan, pakan ikan serta peralatan penunjang usaha perikanan yang lainnya. Lebih lanjut, fasilitas sarana jalan dari dan ke pedesaan pusat pengembangan kawasan minapolitan merupakan suatu hal yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan kelancaran usaha perikanan di kawasan minapolitan.
Di lain pihak, sistem rantai nilai merupakan upaya perbaikan yang dilakukan dengan jalan memperbaiki sistem rantai nilai yang terjadi mulai produk ikan di produksi hingga ke tangan konsumen. Dalam banyak kasus, pengambil manfaat terbesar dalam rantai nilai adalah para pedagang yang menjadi perantara pemasaran produk dari produsen (nelayan/pembudidaya) sampai ke tangan konsumen akhir.Melalui penguasaan modal dan kemampuan akses terhadap pasar dan informasi pasar, pedagang dapat mengambil marjin keuntungan yang sangat tinggi, sementara nelayan/pembudidaya hanya mendapat marjin laba yang rendah.Untuk ini perlu upaya peningkatan kapasitas nelayan/pembudidaya khususnya terhadap informasi harga pasar dan peluang pasar sehingga nelayan/pembudidaya dapat memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam pemasaran produknya.
13 Analisis Kebijakan, Daya Saing dan Nilai Tambah Dalam Mendukung Pengembangan Industrialisasi Perikanan
Analisis kebijakan terkait pengembangan industrialisasi perikanan dilakukan terhadap kebijakan dan atau regulasi serta program dan kegiatan yang dibuat terkait dengan upaya mendukung (supporting system) industrialisasi perikanan di perairan umum daratan pada level nasional maupun lokal. Hal ini dilakukan atas pertimbangan bahwa pelaksana yang bertugas dalam proses perumusan kebijakan terletak pada para pejabat pemerintah atau pegawai negeri sipil disuatu lembaga pemerintah. Keterlibatan pihak lain, yaitu lembaga-lembaga non pemerintah, umumnya terbatas pada pengusulan isu dan agenda kebijakan serta pengevaluasiannya.
Pemain kebijakan atau stakeholder kebijakan terdiri atas individu, kelompok atau lembaga yang memiliki kepentingan suatu kebijakan, yang dapat dikelompokkan menjadi menjadi stakeholder yang mendukung ataupun stakeholder yang menolak kebijakan.Untuk itu, stakeholder kebijakan terdiri atas mereka yang mendukung ataupun yang menolak. Terkait dengan posisi dan perannya dalam proses perumusan kebijakan, stakeholder kebijakan dapat dibedakan kedalam tiga kelompok (Putra 2005):
a)
Stakeholder kunci: mereka yang memiliki kewenangan secara legal untuk membuat keputusan. Stakeholder kunci mencakup unsur eksekutif, legislatif dan lembaga-lembaga pelaksanaanprogram pembangunan sesuai tingkatannya.
b)
Stakeholder primer: mereka yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatukebijakan, program atau proyek. Mereka biasanya dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam penyerapan aspirasi publik. Stakeholder primer dapat mencakup (a) masyarakat yang diidentifikasi akan terkena dampak (baik positif maupun negatif) oleh suatu kebijakan, (b) tokoh masyarakat dan (c) pihak manajer publik, yakni lembaga atau badan publik yang bertanggung jawab dalam penentuan dan penerapan suatu keputusan.
c)
Stakeholder sekunder: mereka yang tidak memiliki kaitan kepentingan langsung dengan suatukebijakan, program, dan proyek, namun memiliki kepedulian dan perhatian sehingga mereka turut bersuara dan berupaya untuk mempengaruhi keputusan legal pemerintah. Kelompok-kelompok kritis, organisasi profesional (PGRI, IDI, HIPMI), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Sosial (Orsos), dan lembaga-lembaga keuangan internasional dapat dikategorikan sebagai stakeholder sekunder.
Dengan demikian, kebijakan dan regulasi yang berkaitan dengan industrialisasi perikanan berbasis perairan umum daratan dapat yang berasal dari Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap terutama Direktorat Sumber Daya Hayati Ikan, Direktorat Perbenihan (DJPB) KKP, Asosiasi, Lembaga, Dinas Teknis. Sementara, target analisis kebijakan industrialisasi perikanan berbasis perairan umum
14 daratan diantaranya adalah: (1) Sistem produksi, (2) Modernisasi, (3) Penguatan kelembagaan, (4) Transformasi sosial, dan (5) Peluang investasi. Dalam hal ini, kebijakan, regulasi, program dan kegiatan dari supporting sistem dikaji keselarasan dan pengaruhnya terhadap pelaksana kebijakan dan bisnis (main system). Dalam hal ini main system adalah pelaku-pelaku yang ada dalam sistem usaha sektor perikanan yang dapat berupa: penyedia input, produsen, pedagang, pengolah skala rumah tangga, unit pengolah ikan, eksportir, dan lainnya. Keselarasan dan pengaruh tersebut khususnya terkait dengan value chain dan sistem pohon industri komoditas utama ikan perairan umum daratan.Hal ini tentunya harus sejalan pula dengan analisis daya saing dan nilai tambah dalam mendukung industrialisasi perikanan.
Analisis daya saing dan nilai tambah merupakan keluaran yang diharapkan dari hasil
AnalysisValue Chainyang dilakukan untuk dapat merumuskan bagaimana meningkatkan nilai (value)
dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Pemanfaatan tersebut dimulai dari sistem produksi (penangkapan) sebagai sumber bahan baku, proses transformasi pada berbagai level perantara pemasaran (intermediary) hingga pemasaran produk perikanan; sebagaimana yang dikemukakan oleh Hellin dan Meijer (2006) dan White (2009). Dalam konteks industrialisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan ini harus lebih efisien.
Peran Kelembagaan Nelayan Dalam Mendukung Pengembangan Industrialisasi Perikanan Melalui Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Perairan Umum Daratan Secara Berkelanjutan2
Dalam konteks sumber daya alam, kelembagaan dapat bermakna bagaimana manusia mengelola akses terhadap sumber daya dan pemanfaatannya dan merupakan titik penting dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut (Smajgl and Larson, 2006). Kelembagaan terkait dengan pengelolaan sumber daya perikanan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) tipe yang ekstrim, yaitu pengelolaan sumber daya ikan oleh pemerintah atau dikenal dengan istilah pengelolaan sentralistis. Kedua, pengelolaan sumber daya ikan berbasis masyarakat (Arsyad, 2007). Model pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat adat terdapat di beberapa daerah di Indonesia dengan aturan-aturan lokalnya atau tradisi (adat-istiadat) masyarakat yang diwarisi secara turun temurun.Pengintegrasian kedua rezim ini dikenal dengan nama manajemen kolaborasiatau ko-manajemen (co-management), yang di Indonesia mulai diperkenalkan sekitar 1990-an.
Ko-manajemen perikanan dapat diartikan sebagai pembagian atau pendistribusian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya perikanan (Nikijuluw, 2002).Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa dalam ko-manajemen terjadi
2
Bahan kajian ini diambil dari bahan yang merupakan konsep dasar penulisan dalam mempersiapkan orasi ilmiah kandidat professor riset bidang sosial ekonomi kelautan dan perikanan Balitbang Kelautan dan Perikanan, KKP yang dibuat pada bulan Desember 2012.
15 pembagian tanggung-jawab dan wewenang antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam (Pomeroy and Williams, 1994).Tujuan utarna ko-manajemen adalah pengelolaan perikanan yang lebih tepat, lebih efisien, serta lebih adil dan merata (Nikijuluw, 2002).Namun demikian, prinsip kelembagaan dalam ko-manajemen menyatakan bahwa setiap aturan permainan dapat saja diubah asalkan telah merupakan suatu kesepakatan bagi pengguna dan pembuat aturan itu sendiri (Pomeroy, 1991).
Variasi bentuk ko-manajemen tergantung sejauhmana peranan pemerintah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan (Nikijuluw, 2002). Kemudian, bentuk tugas dan fungsi manajemen yang dapat atau akan dikelola bersama oleh pemerintah dan masyarakat atau didistribusikan diantara kedua pihak hingga tahap proses manajemen (ketika kerjasama pengelolaan diwujudkan sejak perencanaan, implementasi, pengawasan dan evaluasi). Terkait dengan hal ini, pola
ko-manajemen kooperatifyang menempatkan masyarakat nelayan dan pemerintah pada tingkat yang
sama atau sederajat merupakan pola yang saat ini hendak dikembangkan dan dikehendaki oleh masyarakat secara umum.
Pengembangan kelembagaan nelayan dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan PUD berkelanjutan menghadapi beberapa permasalahan dan hambatan pada wilayah PUD yang telah terlanjur dikelola dengan sistem aturan main yang juga sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan demikian, terdapat tiga kepentingan terhadap sumber daya perikanan PUD tersebut yaitu kepentingan konservasi guna keberlanjutan sumber daya perikanan PUD, sebagai sumber penghidupan masyarakat nelayan, dan sebagai sumber PAD (Nasution et al., 1992). Akibatnya terjadi degradasi terhadap sumber daya perikanan PUD dan lingkungannya. Produktivitas ikan hasil tangkapan nelayan menurun dari tahun ke tahun dan ukuran individu ikan yang semakin kecil (Nasution, 2012). Kondisi kepentingan yang demikian dapat menghambat fungsi kelembagaan pelaku utama nelayan yang diharapkan dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan masyarakat nelayan.
Pengelolaan sumberdaya perikanan PUD memerlukan kelembagaan yang kondusif guna berlangsungnya keberlanjutan produksi dan pengelolaan (termasuk pemanfaatan) sumber daya perikanan PUD tersebut (Welcomme dan Henderson, 1976; Welcomme, 1985; Ostrom, 2008). Kelembagaan nelayan yang tidak berkembang dan dibentuk hanya untuk tujuan mendapatkan hak usaha penangkapan terbukti tidak mendukung pengelolaan sumber daya perikanan PUD yang berkelanjutan (Nasution dan Sumarti, 2010), sebagaimana terjadi di areal PUD yang dilelangkan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Pengembangan dan atau penguatan kelembagaan (institutional development) merupakan proses memperbaiki kemampuan lembaga (baik organisasi maupun aturan main) guna
16 mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia dan sumber dana yang tersedia (Israel, 1987; Dasgupta, 200). Proses ini secara internal dapat digerakkan oleh manajer sebuah lembaga atau difasilitasi dan dipromosikan oleh pemerintah dan atau badan-badan pembangunan tertentu. Namun demikian, pada prinsipnya peningkatan kapasitas kelembagaan dapat berupa upaya yang dilakukan pada tingkatan individu (individual level), pada tingkat organisasi (organizational level), dan pada tingkatan sistem (system level)(Milen, 2006).
Kelembagaan Nelayan Pada Tingkat Individu
Kelembagaan nelayan pada tingkat individu berkaitan dengan permasalahan kehidupan masyarakat nelayan baik kondisi sosial, ekonomi, budaya, maupun politik (Nasution et al., 2012). Termasuk didalamnya masyarakat nelayan PUD yang terutama berada di wilayah sungai-sungai besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hasil penelitian pada masyarakat nelayan di Sungai Lempuing, Sumatera Selatan menunjukkan bahwa secara individu, nelayan menghadapi berbagai masalah terkait dengan peran mereka dalam berorganisasi ataupun peran mereka terkait dengan aturan main dalam pengelolaan (termasuk pemanfaatan) sumber daya perikanan PUD (Nasution et al., 2011).
Pada areal PUD yang dikelola dengan sistem lelang di Sumatera Selatan, secara individu meskipun nelayan menguasai sumber daya perikanan yang melimpah, namun mereka tetap menerima bagian pendapatan yang kecil dari hasil usahanya (Ramadhan dan Nasution, 2010). Hal ini sebagai akibat adanya kewajiban membayar sewa perairan yang tinggi terhadap pemilik modal yang berfungsi sebagai pemenang lelang (pengemin)(Nasution, 2005). Di bagian wilayah lainnya terlihat pula bahwa masyarakat nelayan secara individu sebagian besar terikat terhadap kelembagaan ekonomi informal yaitu para pemilik modal (Nasution dan Sumarti, 2010).
Nelayan pada tingkat individu belum menyadari pentingnya manfaat membentuk kelompok nelayan, sehingga berakibat semakin lemahnya posisi tawar nelayan tersebut dalam melaksanakan usaha penangkapan ikan di perairan umum (Nasution dan Sastrawidjaja, 2010). Padahal dalam hal ini, kelembagaan dapat berfungsi sebagai pranata sosial, yaitu suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas manusia untuk memenuhi sejumlah kebutuhan yang kompleks dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, 1997). Artinya kelembagaan sangat penting bagi upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat nelayan perairan umum daratan (Nasution et al., 1991).
Dengan demikian, adanya nelayan sebagai suatu kelembagaan pada tingkat individu merupakan modal dasar bagi masyarakat nelayan untuk dapat melaksanakan usaha penangkapan ikan secara baik dan benar. Hal ini sesuai dengan fungsi kelembagaan sebagai sesuatu yang memberi
17 pedoman berperilaku kepada individu-individu atau masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah di masyarakat terutama terkait dengan kebutuhanmereka sebagai individu (Cernea, 1988).
Kelembagaan Nelayan Pada Tingkat Organisasi
Kelembagaan nelayan pada tingkat organisasi dapat disamakan dengan organisasi nelayan. Organisasi kenelayanan saat ini masih banyak yang tergabung dengan kelembagaan petani, sehingga disebut sebagai Kelompok Tani Nelayan (Nasution dan Sumarti, 2010). Hasil penelitian di Desa Berkat, Kabupaten Ogan Komering Ilir (Kab. OKI) menunjukkan bahwa belum ada kelembagaan pelaku usaha yang khusus nelayan (Shafitri dan Pranowo, 2010). Kelembagaan yang ada di desa ini yaitu Kelompok Tani Sekawan, yang juga beranggotakan nelayan, disamping petani. Akibatnya antara lain adalah kelompok tersebut belum pernah mendapatkan pelayanan atau bantuan atau pembinaan di bidang kenelayanan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menunjang usaha mereka.
Kelembagaan khusus kelompok nelayan di wilayah Kab. OKI yang ada antara lain dibentuk untuk keperluan masyarakat nelayan mengikuti proses “lelang lebak lebung”yang diadakan pemerintah kabupaten setempat (Nasution et al., 1992). Kelompok nelayan ini disahkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Kelompok nelayan yang terbentuk digunakan sebagai syarat jika masyarakat nelayan ingin mengikuti proses lelang lebak lebung guna mendapatkan hak usaha penangkapan ikan di PUD yang ada di wilayah Kab. OKI. Ada pula pembentukan kelompok nelayan bersifat mendadak dengan tujuan menerima paket bantuan program pemerintah atau pemerintah daerah (Nasution et al., 2012).
Di lain pihak, kelembagaan nelayan pada tingkat organisasi yang diperlukan masyarakat nelayan adalah kelembagaan yang mendukung usaha mereka, yaitu kelembagaan penyediaan input usaha; kelembagaan penyediaan permodalan usaha; kelembagaan penyedia tenaga kerja; kelembagaan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (Nasution dan Sastrawidjaja, 2010). Dengan adanya kelembagaan tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran usaha nelayan terutama dalam mengakses hal-hal yang terkait sumber daya (resources) termasuk informasi pasar (harga).
Hingga saat ini kelembagaan usaha pada masyarakat nelayan sebagian besar berupa kelembagaan informal, yaitu kelembagaan yang terbentuk diantara masyarakat nelayan itu sendiri sesuai dengan keperluan mereka dalam melaksanakan usaha penangkapan ikan (Nasution et al., 2003). Dalam hal permodalan dan penyediaan input usaha termasuk kebutuhan akan pangan serta kebutuhan keluarga, kebanyakan nelayan sangat tergantung kepada pemilik modal baik sebagai
18 pedagang, toke, bos ataupun patron (Nasution dan Sumarti, 2010). Bahkan untuk nelayan yang mengikuti sistem “lelang lebak lebung” di Sumatera Selatan, masyarakat nelayan sudah terikat sejak awal usaha penangkapan ikan terhadap pemilik modal yang berfungsi sebagai pemenang lelang yang membebani nelayan dengan berbagai persyaratan yang memberatkan masyarakat nelayan (Nasution, 2011). Dalam hal ini tidak jarang nelayan masih berhutang pada akhir tahun setelah adanya perhitungan antara pembayaran yang dilakukan nelayan melalui ikan hasil tangkapan (Rifai dan Nasution, 1988).
Suatu kelembagaan pada tingkatan organisasi yang sudah mendukung kepentingan masyarakat nelayan di perairan umum daratan adalah kelembagaan Kelompok Nelayan Nila Jaya di perairan umum Waduk Malahayu. Kelembagaan nelayan ini telah menerapkan sistem pengelolaan sumber daya perikanan berupa pengembangan perikanan tangkap berbasis budidaya (Culture Based
Fishery; CBF) (Nasution dan Sastrawidjaja, 1999). Dalam hal ini, meskipun hanya satu kelembagaan
saja, tetapi kelembagaan ini di dalamnya memiliki berbagai fungsi yang diperlukan masyarakat nelayan mulai dari penyediaan input usaha hingga kepada pemasaran ikan hasil tangkapan masyarakat nelayan. Fungsi lainnya yang dimiliki kelembagaan kelompok nelayan di waduk Malahayu tersebut adalah fungsi pengawasan dan fungsi pembinaan terkait dengan penerapan peraturan pengelolaan sumber daya perikanan di perairan umum waduk tersebut (Nasution dan Purnomo, 2010).
Kelembagaan Nelayan Pada Tingkatan Sistem
Pada tingkatan sistem, aturan main (rule of the game) terkait dengan pengelolaan sumber daya perikanan PUD diharapkan dapat memberikan ruang yang mempermudah nelayan melaksanakan usaha penangkapan ikan. Kemudian, kelembagaan lainnya pada tingkatan sistem adalah kelembagaan penyuluhan perikanan, kelembagaan dinas pembina terkait terutama Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.
Sistem aturan main terkait pengelolaan sumberdaya perikanan PUD berbeda antar wilayah di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya sebagian besar wilayah PUD di Indonesia belum ada pengaturan secara rinci terkait pengelolaan (termasuk pemanfaatan) sumber daya perikanan PUD di wilayah tertentu, kecuali hanya terdapat pada beberapa wilayah tertentu (Wardoyo dan Nasution, 2004; Sastrawidjaja dan Nasution, 2006; Yanti et al., 2011). Terkait dengan kondisi ini, pengembangan kelembagaan nelayan menjadi suatu sistem pendukung yang penting agar sumber daya perikanan PUD dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal ini sesuai pula dengan hasil kajian pengembangan sentra perikanan PUD pada berbagai tipe ekosistem yang menunjukkan bahwa untuk meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat nelayan melalui
19 program apapun, maka areal PUD harus dikelola oleh masyarakat dengan fasilitasi pemerintah daerah (Nasution et al., 2011). Pemerintah daerah dalam hal ini dilaksanakan oleh masing-masing Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten atau Kota melalui pengembangan pola pengelolaan sumber daya perikanan PUD yang berkelanjutan.
Sebagai contoh, di wilayah PUD Waduk Malahayu di Jawa Tengah memperlihatkan bahwa kelembagaan nelayan yang dibentuk dari, oleh dan untuk nelayan dengan fasilitasi pemerintah menunjukkan hasil yang baik. Dalam hal ini, tingkat produksi dan pendapatan nelayan dapat ditingkatkan dari tahun ke tahun karena kelembagaan nelayan (organisasi) dan sistem aturan mainnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan dan pengelolaan sumber daya perikanan PUD yang dikelola dengan prinsip berkelanjutan. Bahkan, dalam kelembagaan nelayan sudah ada pengaturan terkait dengan pola pengorganisasian hubungan dan jaminan sosial diantara masyarakat (antara nelayan, bakul, satuan tugas, pengurus lembaga nelayan) (Nasution dan Purnomo, 2010).
Pada tingkatan sistem, kelembagaan penyuluhan perikanan pada lokasi nelayan umumnya telah terbangun dan telah diatur untuk tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan pedesaan (Nasution et al., 2009). Pada tingkat propinsi telah ada kelembagaan Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh), meskipun pada wilayah tertentu belum ada alokasi dana operasional dan belum lengkapnya kepengurusan (Nasution et al., 2010). Begitu pula untuk tingkat kabupaten, kecamatan dan desa telah ada kelembagaannya, meskipun belum banyak berfungsi sesuai dengan tujuan pembentukannya bagi masyarakat nelayan.
Kelembagaan penyuluhan pada tingkat kabupaten dinamakan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) yang merupakan lembaga fungsional setara eselon II yang ditetapkan dengan Peraturan Bupati (Nasution dan Sastrawidjaja, 2010). Sementara kelembagaan penyuluhan pada tingkat kecamatan dinamakan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) yang juga merupakan lembaga fungsional yang ditetapkan dengan Peraturan Bupati. Kelembagaan penyuluhan pada tingkat pedesaan disediakan satu Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) untuk dua desa yang menjadi wilayah kerja PPL tersebut, dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati.
Dengan demikian, pada prinsipnya pengembangan kelembagaan nelayan dapat dilakukan setiap tingkatan yang dilaksanakan secara bersamaan (Milen, 2006).Namun demikian, proses pengembangan kelembagaan nelayan di lapangan harus digerakkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan pada tingkat kabupaten atau kota sebagai instansi pembina masyarakat di sektor kelautan dan perikanan. Oleh karena itu, petugas teknis yang berada pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota merupakan ujung tombak sebagai fasilitator kegiatan pembinaan terhadap kegiatan
20 pengembangan kelembagaan terkait dengan pengelolaan sumber daya perikanan PUD di wilayahnya.
21 BAB IIDATA DAN INFORMASI
DATA & INFORMASI PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN TINGKAT NASIONAL
Tabel 5. Tingkat produksi perikanan tangkap yang berasal dari perairan umum daratan beserta jumlah nelayan, RTP, unit penangkapan dan nilai produksi secara nasional tahun 2007 hingga 2011.
Uraian Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Produksi (ton) 310.467 301.182 296.736 344.972 347.720 Nilai Produksi (Rp.000) 3.406.284.057 4.143.679.692 4.402.230.140 4.968.927.106 5.694.220.000 Nelayan 523.827 496.499 472.688 457.835 492.870 RTP 353.562 334.169 309.932 313.849 313.270 Unit Penang-kapan 818.411 820.273 714.724 538.855 n.a Pokmaswas 901 1.369 1.419 1.452 1.452
Sumber: Statistik Kelautan dan Perikanan 2011.
Pada Tabel 5 diatas dijelaskan bahwa tingkat produksi hasil tangkapan nelayan di perairan umum daratan yang tersebar di seluruh Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Diiringi juga dengan penambahan jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan tangkap. Perairan umum daratan dalam hal ini terdiri atas berbagai tipologi yaitu waduk,danau,sungai dan rawa.
Tabel 6. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap, Nilai Produksi Perikanan Perairan Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007 hingga 2011.
Uraian Tahun
2007 2008 2009 2010 2011
Produksi(kg) per nelayan 593 607 628 753 706
Nilai Produksi(Rp.000) per nelayan 6.503 8.346 9.313 10.853 11.553
Produksi(kg) per RTP 878 901 957 1.099 1.110
Nilai Produksi(Rp.000) per RTP 9.634 12.399 14.204 15.832 18.177
Produksi(kg) per unit penang kapan 379 367 415 640 na
Nilai Produksi(Rp.000) per unit penangkapan
4.162 5.052 6.159 9.221 na
23 Tabel 7. Tingkat Produktivitas Produksi Perikanan Tangkap dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap Perairan
Umum Daratan per Jumlah Nelayan, RTP, Unit Penangkapan Tahun 2007-2009 dan 2010-2011.
Uraian
Rata-Rata Per Tahun Per Periode
2007-2009 2010-2011 %
Perbedaan
Produksi (kg) per Nelayan 609 729,5 19,7
Nilai Produksi (Rp.000) per nelayan 8.054 11.203 39,0
Produksi (kg) per RTP 912 1.104,5 21,1
Nilai Produksi (Rp.000) per RTP 12.079 17.004,5 40,7
Produksi (kg) per unit penang kapan 387 640 65,3
Nilai Produksi (Rp.000) per unit penangkapan 5.124 9.221 79,9
Sumber: Tabel 3, diolah
Tabel 3 menjelaskan bahwa terjadi peningkatan baik dari produksi maupun nilai produksi antara periode sebelum adanya program minapolitan (2007-2009) dengan sesudah adanya program minapolitan (2010-2011). Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip, integrasi, efisiensi, kualitas, dan akselerasi. Sejak tahun 2012 pengembangan kawasan minapolitan yang melibatkan sektor hulu ke hilir diarahkan menuju industrialisasi perikanan.
DATA & INFORMASI PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN BERDASARKAN TIPOLOGI
TIPOLOGI SUNGAI DAN RAWA
SUNGAI OGAN, KABUPATEN OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN
Kabupaten Ogan Ilir terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2003 merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan luas wilayah 2.666,07 km2 atau 266.607 hektar dengan jumlah kecamatan sebanyak 6 kecamatan (tahun 2012 berjumlah 16 kecamatan, 14 kelurahan dan 241 desa).Kabupaten Ogan Ilir dialiri oleh satu sungai besar yaitu sungai Ogan yang mengalir mulai dari Kecamatan Muara Kuang, Rantau Alai, Tanjung Raja, Indralaya Pemulutan Selatan, Pemulutan Barat dan Pemulutan, serta bermuara di Sungai Musi di Kertapati-Palembang. Sedangkan sungai kecil antara lain sungai Kelekar, sungai Rambang, sungai Keramasan, sungai
24 Kuang, dan sungai Randu. Danau yang ada merupakan danau kecil yang disebut danau Lebung Karangan yang terletak di sebelah Barat Desa Tanjung Sejaro Kecamatan Indralaya.
Tabel 8. Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya di Ogan Ilir, Tahun 2008 - 2012
No Jenis usaha Tahun 2008 2009 2010 2011 2012
Ton % Ton % Ton % Ton % Ton %
1 Ikan tangkap 7,398 73 7,398 73 7.398 71 7.914 54 8.290 54 2 Ikan budidaya 2,772 27 2,772 27 2.984 29 6.613 46 7.076 46 Total 10,170 100 10,170 100 10.38 2 100 14.52 7 10 0 15.366 100
Sumber: Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Ogan Ilir, Sumsel, diolah.
Tabel 9. Produksi dan Nilai Produksi Tiap Jenis Ikan Tangkap di Perairan Umum Kab. Ogan Ilir Tahun 2009
Jenis Ikan Tahun 2009
Produksi (ton) Nilai Produksi (Rp)
01. Jelawat 52,321 470.889 02. Lampam 366,600 3.299.400 03. Jambul 746,459 6.718.131 04. Gabus 887,462 13.311.930 05. Lais 380,780 3.427.020 06. Toman 594,328 11.886.560 07. Sepat Siam 967,080 8.703.720 08. Tambakan 809,859 7.288.731 10. Betutu 136,431 2.046.465
11. Ikan (Lele, Betok, Nilem, Mujair) 2.083,446 18.778.014
12. Udang lainnya 221,532 2.658.384
13. Kodok 150,021 1.350.189
Jumlah 7.399,319 79.939.433
Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir
Pada Tabel 9 digambarkan bahwa jumlah produksi perikanan baik tangkap maupun budidaya yang diperoleh di perairan umum daratan di Kabupaten Ogan Ilir meningkat setiap tahunnya. Peningkatan yang tinggi terjadi pada usaha budidaya ikan yang kini mulai bermunculan keramba-keramba di sepanjang sisi sungai. Namun selain usaha budidaya dari perikanan tangkap di
25 Kabupaten Ogan Ilir juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, dimana pada Tabel 5 dijelaskan terdapat 13 jenis ikan yang tertangkap di perairan umum daratan di kabupaten tersebut. Ikan sepat siam dan ikan gabus merupakan komoditas utama yang paling banyak tertangkap di kabupaten itu. Sedangkan pada tabel 6 digambarkan peningkatan produktivitas perikanan tangkap perairan umum di Kabupaten Ogan Ilir.
Tabel 10. Produktivitas Perikanan Perairan Umum Sungai dan Rawa di Kab. Ogan Ilir Tahun 2006-2012
No . Uraian Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1 Produksi ikan tangkap (ton/th) 7,225.0 7,225.2 7,398.2 7,399.3 7,398.4 7,913.7 8.289,6 a) - Sungai 1,634.3 1,534.3 1,613.7 1,614.2 1,613.8 1,667.1 1.746,3 b) - Rawa/Rawa Banjiran 5,590.7 5,690.9 5,784.5 5,785.1 5,784.6 6,246.6 6.543,3 2 Jumlah nelayan (rtp/th) 16,670 16,687 16,691 16,691 16,750 16,771 16.771 a) - Sungai 5,498 5,504 5,506 5,506 5,541 5,590 5,590 b) - Rawa/Rawa banjiran 11,172 11,183 11,185 11,185 11,209 11,181 11,181 3 Jumlah perahu 4,976 5,022 5,045 5,107 5,112 5,112 5,112 4 Luas areal
tangkap ikan (ha) 55,018.8
55,018. 8 55,042. 1 55,042. 1 55,042. 1 55,042.1 55,042. 1 a) - Sungai 1,132.2 1,132.2 1,155.5 1,155.5 1,155.5 1,155.5 1,155.5 b) - Rawa/Rawa banjiran 53,886.6 53,886. 6 53,886. 6 53,886. 6 53,886. 6 53,886.6 53,886. 6 5 Jumlah alat tangkap (Unit) 6,239 6,300 6,364 6,698 6,766 6,766 6,766 a) - Jaring insang hanyut/tetap 1,879 1,898 1,850 1,969 1,972 1,972 1,972 b) - Jaring anco/sero 993 1,004 985 1,077 1,077 1,077 1,077 c) - Bubu 1,154 1,163 1,141 1,273 1,285 1,285 1,285 d) - Pancing/pancing rawai 1,019 1,029 1,093 1,138 1,158 1,158 1,158 e) - Lain-lain 1,194 1,206 1,295 1,241 1,274 1,274 1,274 6 Produktivitas nelayan (ton/org) a) - Nelayan sungai 0.30 0.28 0.29 0.29 0.29 0.30 0.30 b) - Nelayan rawa 0.50 0.51 0.52 0.52 0.52 0.56 0.56 7 Produktivitas perahu(ton/kapal ) 1.45 1.44 1.47 1.45 1.45 1.55 1.55 8 Produktivitas alat tangkap 1.16 1.15 1.16 1.10 1.09 1.17 1.17 9 Produktivitas areal tangkap a) - Sungai (ton/ha) 1.44 1.36 1.40 1.40 1.40 1.44 1.44