• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITIK IQBAL TERHADAP ARGUMEN-ARGUMEN KETUHANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KRITIK IQBAL TERHADAP ARGUMEN-ARGUMEN KETUHANAN"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Oleh:

Abi Akbar Atma

1111033100008

PROGRAM STUDI AQIDAH FALSAFAT

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1437 H. /2016 M.

(2)
(3)
(4)
(5)

iv

Arab Indonesia Arab Indonesia

ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض a b t ts j kh d dz r z s sy ṣ ḍ ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ء ي ة ṭ ẓ ' hg f q k l m n w g ' y h Vokal Panjang barA ansonodnr آ ā ىٳ ī وأ ū

(6)

v

adalah pembuktian tentang keberadaan (eksistensi) Tuhan yang didasari oleh penalaran manusia, dan tidak memersoalkan tentang esensi Tuhan. Paling tidak, terdapat tiga argumen besar tentang pembuktian keberadaan Tuhan yang diajukan pada masa skolastik, yakni: argumen ontologis, kosmologis, dan teleologis. Argumen ontologis menyatakan bahwa ide tentang wujud sempurna mengimplikasikan eksistensi sebenarnya dan mencoba melukiskan hakikat tentang Ada yang terakhir. Argumen kosmologis, bertumpu pada hukum alam yang kemunculannya karena hubungan sebab akibat. Argumen ini menyatakan bahwa setiap aktifitas pasti memiliki sebab bagi sebab yang lain. Argumen teleologis menyatakan bahwa bukti akan segala keteraturan alam semesta memberikan kesimpulan akan keberadaan sang perancang yang tak dapat disangkal.

Iqbal hadir menanggapi permasalahan argumen ketuhanan di atas. Mengenai argumen ontologis Iqbal menganggap argumen ini sesat karena tak dapat menciptakan ide tentang wujud sempurna. Argumen ini menciptakan sebuah jurang lebar yang tak terseberangi antara idea dan fakta. Kemudian, dalil kosmologis, Iqbal menganggap bahwa argumen ini dengan sendirinya telah melanggar hukum sebab-akibat yang merupakan pangkal bertolak argumen ini, dengan memberi batas bagi Sang Sebab. Argumen teleologis juga dianggap menemui kegagalan karena argumen tersebut telah mereduksi Tuhan hanya sebagai Penggerak semata, sehingga menempatkan kedudukan Pencipta seperti tukang yang berada di luar ciptaanNya.

Ia menawarkan argumen baru tentang ketuhanan. Menurutnya jika manusia ingin mengetahui keberadaan Tuhan, ia tidak bisa mencapainya di luar dirinya sendiri. Keberadaan Tuhan dapat disingkap melalui proses intuisi, yang pertama kali tersingkap secara kuat adalah keberadaan ego. Pengetahuan tentang Tuhan yang hanya didasarkan pada nalar semata tidaklah sepenuhnya memuaskan, sebab akal manusia sangatlah terbatas untuk mengetahui Realitas yang sebenarnya. Menurut Iqbal pengetahuan tentang Tuhan haruslah didasarkan pada pengalaman religius, dan ini akan sepenuhnya diterima oleh akal, karena pengalaman religius inilah yang secara langsung menghubungkan manusia kepada Tuhan.

(7)

vi

Alḥamdulillāh segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tak ada kata yang mampu merefleksikan rasa syukur kepadaNya. Atas bimbingan dan kehendakNya akhirnya penulis sanggup dan mampu menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “KRITIK IQBAL TERHADAP ARGUMEN-ARGUMEN KETUHANAN”.

Salawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muḥammad SAW, beserta sahabat, dan keluarganya, yang membawa manusia dari zaman kebodohan menuju zaman kemajuan ilmu pengetahuan. Beliau adalah manusia sempurna yang menjadi teladan dan panutan seluruh manusia hingga akhir zaman.

Skripsi ini penulis susun salah satu tujuannya adalah sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada jurusan Aqidah Falsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini bukanlah dengan hasil jerih payah penulis sendiri, melainkan karena ada dorongan motivasi serta bantuan baik moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, patut kiranya penulis sampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Ayahanda Bunyamin dan Ibunda Muhinah (almarhumah), pahlawan dan inspirasi terbesar dalam hidup penulis. Terima kasih untuk segenap cinta, kasih sayang, pengorbanan dan luapan cinta tanpa henti selama ini. Tanpa mereka mustahil bagi penulis untuk sampai pada titik ini. Skripsi ini penulis dedikasikan untuk mereka.

(8)

vii

2. Bapak Drs. Nanang Tahqiq, MA, selaku Dosen Pembimbing penulis, yang telah banyak memberikan masukan, saran dan kritik yang membangun, serta kesediaan meluangkan waktu untuk membimbing dan mengoreksi tulisan penulis tanpa bosan selama proses penulisan skripsi ini. Semoga Allah memberikan kebaikan dan rahmat untuk Bapak.

3. Bapak Drs. Agus Darmadji, M. Fils, selaku Dosen Pembimbing Akademik untuk bimbingan dan nasehat yang berharga bagi penulis selama penulis menyelesaikan masa studi.

4. Bapak Dr. Syamsuri, MA, dan Ibu Dra. Tien Rahmatin, MA, selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Aqidah Falsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Dr. Masri Mansoer, MA, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif (UIN) Hidayatullah Jakarta.

6. Dosen-dosen yang telah banyak memberikan ilmu dan motivasi kepada penulis tanpa pamrih selama proses belajar. Serta kepada seluruh staf dan karyawan Fakultas Ushuluddin yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu.

7. Editor pribadi penulis, Siti Ikhwanul Mutmainnah Pamungkas, S.Th.I untuk dukungan dan semangat tanpa henti.

8. Teman-teman Aqidah Falsafat angkatan 2011, untuk canda dan kebersamaan, serta debat dan diskusi panjang selama ini, dengannya menambah khazanah keilmuan

(9)

viii skripsi ini.

10. Pondok Pesantren al-Karimiyyah Depok dan kawan-kawan seperjuangan.

11. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) SMILE 2014 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Pulau Kelapa.

Akhirnya, penulis berharap agar apa yang telah ditulis dapat bermanfaat bagi semua kalangan pada umumnya dan dapat memerkaya khazanah keilmuan falsafat khususnya. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, walaupun penulis telah berusaha semaksimal mungkin. Kritik dan saran yang sifatnya membangun penulisan skripsi ini sangat diharapkan. Sebagai penutup, penulis berharap semoga Allah selalu membimbing langkah kita menuju jalan yang benar dan lurus.

Wassalāmu‘alaykum Waraḥmatullāh Wabarakātuh.

Jakarta, 8 Maret 2016

(10)

ix

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI iii

PEDOMAN TRANSLITERASI iv

ABSTRAKSI v

KATA PENGANTAR vi

DAFTAR ISI ix

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan Masalah 11

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 11

D. Metode Penelitian dan Penulisan 12

E. Tinjauan Kepustakaaan 13

BAB II BIOGRAFI IQBAL 16

A. Latar Belakang Kehidupan 16

B. Latar Belakang Pendidikan 23

C. Karya-karya 26

BAB III ARGUMEN-ARGUMEN KETUHANAN 30

A. Argumen Ontologi 32

B. Argumen Kosmologi 40

C. Argumen Teleologi 46

BAB IV KRITIK TERHADAP ARGUMEN KETUHANAN 53

A. Kritik terhadap Argumen Ontologi 56

B. Kritik terhadap Argumen Kosmologi 62

C. Kritik terhadap Argumen Teleologi 71

BAB V ARGUMEN KETUHANAN IQBAL 79

A. Pembuktian Tuhan melalui Pengalaman Religius (Intuisi) 80

B. Tuhan sebagai Keindahan Abadi, Ego Mutlak dan Hakikat Spiritual 91

BAB VI PENUTUP 105

A. Kesimpulan 105

B. Saran 107

(11)

1 A. Latar Belakang Masalah

Ketuhanan merupakan wilayah kajian metafisika yang membicarakan tentang Tuhan. Tuhan sebagai obyek kajian metafisika memiliki kekhususan dibanding obyek-obyek metafisika lainnya, seperti jiwa, akal, makhluk-makhluk ghaib, dan sebagainya. Titik permasalahan dalam kajian tentang ketuhanan adalah pembuktian tentang keberadaan (eksistensi) Tuhan yang didasari oleh penalaran

manusia, dan tidak memersoalkan tentang esensi Tuhan.1

Tuhan merupakan kajian yang sering dibicarakan, baik dalam ranah falsafat ataupun agama. Agama tidaklah bisa disebut sempurna jika tanpa ada kepercayaan terhadap Tuhan, begitu pula dengan falsafat. Kepercayaan akan keberadaan Tuhan adalah dasar utama dalam paham keagamaan. Penelaahan tentang Tuhan merupakan puncak metafisika yang khusus, dan berbeda dari metafisika lainnya yang membahas tentang “ada” pada umumnya. Permasalahan Tuhan dalam falsafat dikaji secara kritis dan berada di luar konteks wahyu yang mengabarkan tentang Tuhan. Akan tetapi wahyu tidak sepenuhnya disingkirkan, karena itu

merupakan bagian penting dari masalah ketuhanan.2

Permasalahan mengenai ketuhanan berurusan dengan pembuktian kebenaran keberadaan Tuhan yang didasarkan pada penalaran manusia dan hanya ingin menggarisbawahi bahwa apabila tidak ada penyebab pertama yang tidak

1 Donny Gahral Adian, Muhammad Iqbal Seri Tokoh Filsafat (Jakarta: Teraju, 2003), h. 60.

2

(12)

disebabkan maka kedudukan benda-benda yang relatif-kontigen tidak dapat dipahami oleh akal. Paling tidak, terdapat tiga argumen besar tentang pembuktian keberadaan Tuhan yang diajukan pada masa skolastik, yakni: argumen ontologis,

argumen kosmologis, dan argumen teleologis.3

Pertama, argumen ontologis menyatakan bahwa ide tentang wujud sempurna mengimplikasikan eksistensi sebenarnya dari wujud sempurna tersebut. Ontologi diartikan juga sebagai argumen yang mencoba melukiskan hakikat tentang Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi Sempurna)

yang menunjukkan bahwa segala hal tergantung padaNya.4 Segala sesuatu yang

ada di alam ini haruslah memunyai idea (konsep universal), dan idea inilah yang merupakan hakikat dari segala sesuatu. Plato menamakannya dengan Idea Kebaikan atau The Absolut Good (Yang Mutlak Baik). Yang Mutlak Baik itu

disebut juga Tuhan.5

Kedua, argumen kosmologis, yang bertumpu pada hukum alam yang kemunculannya karena hubungan sebab akibat. Argumen ini menyatakan bahwa setiap aktifitas pasti memiliki sebab bagi sebab yang lain. Selanjutnya argumen ini menyatakan bahwa tidak mungkin ada rantai sebab akibat yang terus menerus tanpa terputus dan tanpa batas. Pada akhirnya pasti akan sampai pada satu Sebab Pertama yang Tak Bersebab. Sebab Pertama inilah yang menjadikan keberadaan sesuatu lainnya. Sebab bagi keberadaan alam adalah lebih wajib ada terlebih dahulu daripada keberadaan alam itu sendiri secara fisik. Sesuatu yang

3

Simon Petrus L. Tjahjadi, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan dari Descartes Sampai

Whitehead, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 11-12.

4 Loren Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 76-77. 5

(13)

menyebabkan terjadi alam ini bisa dipastikan adalah Yang Kuasa, Maha Besar,

atau disebut juga to apeiron.6 Argumen ini dipegang oleh Aristoteles dan

mayoritas failasuf Peripatetik.

Ketiga, argumen teleologis menyatakan bahwa bukti akan segala keteraturan alam semesta memberikan kesimpulan akan keberadaan Sang Perancang yang tak

dapat disangkal.7 Argumen ini berasal dari pengamatan atas keteraturan dan

keterpaduan alam semesta ini, melalui pengamatan, pengalaman, dan berakhir pada suatu kesimpulan yang menyatakan bahwa hal-hal tersebut haruslah merupakan karya dari seorang perancang, dan perancang tersebut harus bebas dari segala aturan yang mengikat, sehingga ia bisa bebas berkreasi, dan Zat yang bebas dari segala aturan yang mengikat itu adalah Tuhan. Argumen ini diwakili oleh Ibn Rusyd.8

Muhammad Iqbal muncul menanggapi permasalahan argumen ketuhanan di atas dan menawarkan argumen baru tentang ketuhanan. Ia secara tegas menolak pandangan ketuhanan para failasuf sebelumnya (ontologis yang digagas oleh Plato, kosmologi yang digagas oleh Aristoteles dan failasuf Peripatetik, dan teleologis yang digagas oleh Ibn Rusyd). Baginya pandangan tersebut telah menemui kegagalan. Iqbal mengungkapkan bahwa di antara penyebab kegagalan pandangan tersebut karena ada pemaksaan dualisme epistemologis, yaitu pemisahan antara pikiran dan wujud (being). Padahal dalam konsep itu sendiri

6

Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1980), h. 16. 7 HM. Rasjidi, Filsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1965), h. 51.

8 Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan Alam, dan Manusia (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007), h. 28.

(14)

sesungguhnya telah tersirat bahwa pikiran dan wujud pada akhirnya merupakan

satu kesatuan.9

Mengenai argumen ontologis, Iqbal menganggap argumen ini sesat karena bagaimanapun alam yang memerlihatkan perubahan tak dapat menciptakan ide tentang wujud sempurna. Argumen ini menciptakan sebuah jurang lebar yang tak terseberangi antara idea dan fakta. Sama halnya dengan menyatakan bahwa pikiran tentang uang sebesar 100.000 rupiah dalam otak membuktikan bahwa memang ada uang 100.000 rupiah dalam kantong. Ia berpendapat sebagai berikut:

Antara gagasan tentang suatu wujud yang sempurna dalam pikiran saya dengan kenyataan obyektif wujud itu, terbentang sebuah jurang yang tak bisa dilintasi oleh pemikiran transedental. Argumen itu sebagaimana terlihat sebenarnya merupakan suatu patitio prinsipi, sebab ia menerima begitu saja masalah yang justru masih merupakan pertanyaan, yakni peralihan dari yang logis ke real.10

Selanjutnya, dalil kosmologis, Iqbal menganggap bahwa argumen ini dengan sendirinya telah melanggar hukum sebab-akibat yang merupakan pangkal bertolak argumen ini, dengan memberi batas bagi Sang Sebab. Dalam hukum sebab akibat, baik sebab maupun akibat saling bergantung satu sama lain. Ia berkomentar sebagai berikut:

Dalil kosmologis itu sebenarnya mencoba hendak mencapai Sebab Pertama akan tetapi ia mengingkari Sebab Pertama itu sendiri. Tetapi akibat yang dicapai dengan memertentangkan Sebab Pertama adalah satu akibat yang palsu, yang bukan saja tidak menjelaskan tentang dirinya sendiri tetapi tidak juga dengan Sebab Pertama yang dengan demikian telah dibuat untuk tegak berlawanan dengan akibat itu sendiri. Jadi, berbicara secara logika, gerak dari sebab ke akibat sebagaimana yang diungkapkan dalam dalil kosmologi

itu sama sekali tidak dapat dibenarkan, dan gagal dalam keseluruhan.11

9 Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, terj. Akhmad Syarif Maarif (Yogyakarta: Jalasutra, 2008), h. 4.

10 Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, h. 36.

11 Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, terj. Osman Raliby (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), h. 34.

(15)

Kemudian, argumen teleologis juga dianggap telah mereduksi Tuhan hanya sebagai Penggerak semata, sehingga menempatkan kedudukan Pencipta seperti tukang yang berada di luar ciptaanNya, sebagaimana yang ia katakan:

Dalil teleologi tidak lebih baik dari dalil sebelumnya. Ia menyelidiki musabab dengan maksud hendak menemukan sifat dari sebabnya itu. Dari kesan-kesan mengenai pandangan, tujuan, dan penyesuaian yang terlihat dari alam, ia menyimpulkan bahwa keberadaan satu wujud sadar diri dengan kecerdasan dan kekuasaan yang tak terbatas. Dalil tersebut hanya memberikan kita Penggerak semata dan bukan Pencipta, bahkan walaupun kita menganggap ia sebagai Pencipta dari bahannya, tidaklah itu

menguntungkan kebijaksanaanNya dalam menciptakan

kesukaran-kesukaranNya sendiri. Hakikatnya adalah bahwa analogi ini tidak berharga

sama sekali.12

Argumen ketuhanan Iqbal berbeda dari pemikiran kontemplatif karena Iqbal berangkat dari pemikiran yang menekankan pada pengetahuan langsung tentang

keberadaan ego atau diri yang bebas kreatif.13 Tidak berbeda dari para failasuf dan

mistikus lain mengenai cara mengetahui Tuhan, Iqbal sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Immanuel Kant bahwa Tuhan tidak bisa ditangkap oleh kesan-kesan indrawi bahkan tidak bisa dijangkau oleh rasio yang kapasitasnya dibatasi oleh pengalaman ruang dan waktu. Akan tetapi Iqbal tetap meyakini bahwa pengetahuan tentang Tuhan dapat disingkap melalui proses intuisi, di mana intuisi ini berbeda dari intuisi para mistikus lainnya yang sampai melenyapkan ego, karena menurutnya, yang pertama kali tersingkap secara kuat lewat intuisi adalah keberadaan ego.

Dengan demikian pemikiran Iqbal tentang Tuhan lebih tepat digolongkan pada panenteistik daripada panteisme, yaitu gagasan yang menolak peleburan dunia dengan yang Ilahi, tetapi tidak pula memisahkannya. Dalam pandangan ini

12 Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, h. 35. 13

(16)

wujud Tuhan tidak dipersempit menjadi wujud alam, tapi alam adalah ungkapan empiris yang berbeda dalam segala hal. Artinya Tuhan imanen sekaligus transenden.

Adapun pemikiran Iqbal mengenai ketuhanan secara ringkas dibagi menjadi tiga masa, di mana setiap masa merupakan proses perjalanan pemikirannya. Pada masa pertama, berlangsung sekitar tahun 1901 sampai 1908, Iqbal meyakini bahwa Tuhan adalah Keindahan Abadi. Dia berada tanpa bergantung pada sesuatu tetapi mendahului segala sesuatu dan karena itu menampakkan diri dalam semua

itu. Tuhan sebagai Keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu.14

Tuhan adalah Keindahan Abadi. EksistensiNya tanpa ketergantungan ataupun didahului oleh siapa pun dan sehingga, Tuhan menampakkan diri kepada semua yang ada di dunia ini. Hal ini terjadi tidak hanya pada apa yang terlihat oleh manusia, bahkan pada apa yang tidak terjangkau oleh makhlukNya, seperti permasalahan setelah kematian dan peristiwa Hari Akhir. Maka dari itu Tuhan sebagai Keindahan Abadi adalah Penggerak Pertama segala sesuatu.

Konsep Tuhan pada fase pertama ini bersifat Platonis. Plato berpendapat Tuhan adalah Keindahan Abadi, sebagai alam universal yang mendahului segala sesuatu serta terwujud pada segala sesuatu itu sebagai bentuk. Dengan demikian apa yang di dunia ini pasti bersifat fana, kecuali Tuhan. Konsepsi tentang Tuhan dalam fase pertama ini tidak begitu asli, karena konsep Platonis pada awal-awal masa Skolastik tampak telah dicangkokkan ke dalam panteisme oleh para mistikus panteistik. Selanjutnya pandangan ini menurun pada Iqbal dan muncul sebagai

14 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil (Bandung: Mizan, 1989), h.28.

(17)

tradisi lama dalam puisi Parsi dan Urdu. Konsep ketuhanan yang pertama ini bersifat imanen, yaitu Tuhan dalam pemikiran Iqbal adalah Keindahan Abadi dan eksistensiNya tiada yang mendahului dan tak tergantung pada siapa pun, seperti yang ia katakan bahwa:

Tuhan sebagai Zat Nan Indah mewujudkan segala sesuatu di alam semesta ini. Tenaga dan daya dalam obyek-obyek fisik, tumbuh dalam tanaman, insting pada hewan, dan kemauan pada manusia, itu semua adalah bentuk cinta bagi Tuhan. Maka Tuhan sebagai Keindahan Abadi itu menjadi sumber, esensi dan idea dari segala sesuatu. Atau Tuhan itu seperti

matahari.15

Pada masa kedua, berlangsung sekitar tahun 1908 sampai 1920, kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal ke arah perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana di situ tampak pada segala sesuatu (Tuhan), dan

cinta pada keindahan pada pihak lainnya.16 Di masa ini, pikirannya dibimbing

oleh konsep tentang pribadi sebagai pusat yang bersifat dinamis, terdiri dari hasrat, upaya, aspirasi, kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu, melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Dunia yang terindera adalah ciptaan pribadi. Karena itu, segala keindahan alam merupakan

bentukan hasrat-hasrat kita sendiri.17 Hasratlah yang menciptakan mereka, bukan

mereka yang memunyai hasrat. Tuhan Sang Hakikat Terakhir adalah Pribadi Mutlak, Ego Tertinggi. Tuhan dianggap sebagai Kemauan Abadi dan keindahan disusutkan menjadi sebutan yang sekarang mencakup nilai estetis dan moral sekaligus. Iqbal mengatakan bahwa:

15

Muhammad Iqbal, Asrar-i Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi, terj. H. Bahrum Rangkuti. (Jakarta: Bulan Bintang, 1953), h. 21.

16 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h.30. 17

(18)

Pribadi bukan lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri yang menjadi dinamisme pribadi. Pribadi itu adalah hidup dan hidup adalah pribadi. Tuhan menciptakan sifat-sifatNya bukanlah di alam ini dengan sempurna, tetapi pada para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan

sifat-sifatNya dalam diri, sebagaimana sesuai dengan Ḥadīts Nabi yakni

“Tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah”.18

Kemudian pada masa ketiga, perkembangan mental Iqbal berlangsung sekitar tahun 1920 sampai 1938 (tahun wafat). Jika pada masa kedua sebagai masa pertumbuhan, maka di masa ketiga ini adalah masa pendewasaan. Di sini Iqbal hanya menerima suatu pengaruh yang oleh kejeniusannya diizinkan untuk diterima. Dalam masa ini Tuhan menurut Iqbal adalah “Hakikat”, sebagai sesuatu keseluruhan yang pada dasarnya bersifat spiritual dalam arti individu dan suatu ego.19

Menurutnya, Tuhan dianggap sebagai ego karena seperti manusia, bahwa Dia adalah suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organismeNya untuk suatu tujuan konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita, karena ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada

panggilan pribadi yang lain.20 Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi

segalanya, dan tidak ada sesuatu pun di luar Dia. Pemikiran Iqbal pada masa ketiga ini menegaskan bahwa Tuhan bersifat imanen karena Tuhan bersifat mutlak meliputi segalanya.

Pada fase ketiga tersebut, Iqbal hendak menegaskan melalui falsafatnya tentang pembuktian eksistensi Tuhan, realitas diri, serta kebebasan dan keabadian.

18 Muhammad Iqbal, Asrar-i Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi, h. 23. 19 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 36.

20

(19)

Dan dia hendak menegaskan kebenaran akan Tuhan itu, bukan an sich melalui teori dan pengalaman, tetapi melalui apa yang disebutnya sebagai “intuisi”. Realitas dan eksistensi yang Mutlak tersebut, beserta kepastian sifat dasarnya, dapat diperoleh hanya melalui sebuah pengalaman luar biasa yang disebut sebagai intuisi. Intuisi, dengan demikian, bertujuan untuk memahami keseluruhan

realitas.21 Ia berpendapat:

Suatu kritik falsafat yang komprehensif tentang fakta-fakta pengalaman, baik yang bersifat efisien maupun apresiatif, membawa kita pada satu kesimpulan bahwa Realitas Yang Terakhir adalah suatu kehidupan kreatif yang terarah secara rasional. Menafsirkan kehidupan ini sebagai suatu ego.... Intuisi memerlihatkan hidup sebagai suatu ego yang bersifat memusatkan dan fakta-fakta akan pengalaman akan membenarkan kesimpulan. Realitas sesungguhnya adalah rohaniah, dan harus

digambarkan sebagai suatu ego.22

Pengetahuan tentang Tuhan yang hanya didasarkan pada nalar semata tidaklah sepenuhnya memuaskan, sebab akal manusia sangatlah terbatas untuk mengetahui Realitas yang sebenarnya. Menurut Iqbal pengetahuan tentang Tuhan haruslah didasarkan pada pengalaman religius, dan ini akan sepenuhnya diterima oleh akal, karena pengalaman religius inilah yang secara langsung menghubungkan manusia kepada Tuhan. Bagian yang lebih penting dari pengalaman religius dipandang sebagai sintesis yang menunjukkan bahwa suatu kehendak kreatif terarah secara rasional, yang telah digambarkan sebagai ego (intuitif). Untuk menekankan individualitas dari ego Yang Mutlak, teolog Islam

menyebutkanNya dengan nama Allah.23

21 Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal: Pengantar untuk Memahami The Reconstruction of

Religious Thought in Islam (Bandung: Pustaka Pelajar, 2004), h. 5.

22 Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk (Jakarta: Tintamas, 1966), h. 62-63.

23

(20)

Demikian penjelasan tentang argumen-argumen ketuhanan di atas. Selanjutnya tulisan ini akan menjelaskan maksud dari kata argumen, mengingat hal ini menjadi masalah saat dipertentangkan dengan kata konsep. Dalam hal ini, Iqbal mengritik argumen-argumen skolastik di atas, maka apakah Iqbal harus menawarkan argumen atau konsep? Tulisan ini akan membahas persoalan itu semua di bawah ini. Yang dimaksud dengan argumen dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah alasan yang dapat dipakai untuk memerkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, ide, atau gagasan yang disertai dengan dalil-dalil dan bukti-bukti. Sementara yang dimaksud dengan konsep adalah suatu rancangan atau ide

atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.24 Alasan kenapa penulis

memakai kata argumen pada judul skripsi ini karena di sini penulis ingin menjelaskan pemikiran failasuf tentang pembuktian dan keberadaan Tuhan, di mana pembuktian ini tidak hanya pada tataran konsep yang dianggap masih bersifat abstrak, akan tetapi secara mendetail dikuatkan dengan memberikan dalil-dalil dan bukti-bukti dari pemikiran mereka tersebut.

Ketika mengritik argumen-argumen tersebut (ontologi, kosmologi, dan teleologi), Iqbal menggunakan kata argumen, akan tetapi argumen Iqbal mengenai pembuktian keberadaan Tuhan terdapat dalam konsep-konsep ketuhanan yang digagas pada tiga fase perjalanan pemikirannya, di mana di dalam setiap fase disertai dengan dalil dan bukti-bukti yang kuat tentang keberadaan Tuhan. Lebih tepatnya, argumen ketuhanan Iqbal terlihat pada konsep pada ketiga fase perjalanan pemikirannya, di mana Iqbal menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa

24 http://kamusbahasaindonesia.org , “konsep dan argumen”, diakses pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2015, pukul 16:34 WIB.

(21)

dibuktikan dengan teori dan pengalaman indrawi, tetapi Tuhan bisa dibuktikan dengan apa yang ia sebut dengan intuisi (spiritualitas), karena Tuhan merupakan

Hakikat Spiritual yang hanya bisa ditemukan melalui pengalaman

religius/spiritual. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa argumen ketuhanan Iqbal adalah argumen intuitif. Oleh karena itu pula, argumen dipakai Iqbal di sini, dalam menawarkan hasil pemikirannya, berada dalam konsepnya. Dengan demikian, sekalipun Iqbal mengajukan argumen, pada hakekatnya argumen tersebut adalah bagian dari konsep. Pada sisi lain, sekalipun Iqbal menawarkan konsep, pada hakekatnya yang dituju dari konsep tersebut adalah argumen-argumen yang merupakan uraian dan isi dari konsepnya. Penjelasan ini untuk menjawab pertanyaan apakah Iqbal harus menawarkan argumen atau konsep dalam upaya mengritik dan memberi solusi mengenai permasalahan ketuhanan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dalam skripsi ini penulis membatasi dan memfokuskan diri terhadap kritik Iqbal terhadap tiga argumen ketuhanan: ontologi, teleologi, dan kosmologi, serta argumen ketuhanan yang ditawarkan oleh Iqbal. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditarik beberapa pokok rumusan masalah sebagai langkah memfokuskan penelitian ini. Rumusan masalah tersebut adalah:

1. Bagaimana kritik Iqbal terhadap tiga argumen ketuhanan? 2. Bagaimana argumen ketuhanan yang ditawarkan Iqbal?

(22)

Adapun manfaat dan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah.

1. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada penulis dan pembaca untuk sama-sama tergerak dalam mengaji pemikiran Iqbal tentang ketuhanan. 2. Memberikan sebuah paradigma yang luas dan baru bagi para mahasiswa, dan

masyarakat pada umumnya, tentang kritik Iqbal terhadap argumen ketuhanan. 3. Sebagai salah satu syarat untuk memeroleh gelar Sarjana Strata Satu (S1).

D. Metode Penelitian dan Penulisan

Berdasarkan tujuan penulis membuat skripsi ini, langkah-langkah penting untuk penulis lakukan adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan metode library research, yaitu suatu metode penulisan untuk mendapatkan bahan (data), baik itu dari buku primer seperti dalam judul buku Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Pemikiran Islam; Asrar-i Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi; Pesan dari Timur, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, dan beberapa sumber sekunder seperti buku yang ditulis oleh M.M. Sharif yang berjudul, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan; Muhammad Iqbal Seri Tokoh Falsafat, yang ditulis oleh Donny Gahral Adian; Filsafat dan Puisi Iqbal, yang ditulis oleh Dr. Abdul Wahab Azzam, dan data-data yang tidak kalah pentingnya dari situs-situs internet yang tentu saja dapat diambil dan sangat erat hubungannya serta relevansinya dengan tema yang akan penulis bahas.

Sedangkan metode pembahasan yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini mengumpulkan data-data primer maupun sekunder yang terkait langsung dengan penelitian, kemudian mendiskripsikannya sehingga dapat menemukan titik temu sehingga menjadi sangat jelas. Adapun yang dimaksud

(23)

analisis adalah metode dengan mengadakan serangkaian analisis-analisis permasalahan yang diteliti disertai argumen-argumen sampai mendapat kejelasan, tentunya dari sudut pandang tokoh yang akan dikaji.

Penulisan skripsi ini mengacu pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi) yang disusun oleh Tim Penyusun Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh CeQDA tahun 2007. Adapun transliterasi mengikuti pedoman transliterasi yang termuat dalam jurnal Ilmu Ushuluddin yang diterbitkan oleh HIPIUS (Himpunan Peminat Ilmu-Ilmu Ushuluddin).

E. Tinjauan Pustaka

Berdasarkan data katalog (skripsi) Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakan Fakultas Ushuluddin, penulis menemukan beberapa judul yang menulis tentang Muhammad Iqbal, yaitu:

1. “Pandangan Iqbal tentang Ego”, oleh Mursali (2003), Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. “Pengembangan Ego dalam Konsep Pendidikan Menurut Muhammad Iqbal”, oleh Suryanih (2005) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. “Konsep Pembinaan dan Kepribadian Muslim Menurut Muhammad Iqbal”, oleh Ratika Elsa (2012) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(24)

4. “Gagasan Muhammad Iqbal dalam Pembaharuan Islam”, oleh Agus Ripa’i (2005) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. “Kepribadian Insan Kamil, Tinjauan Psikologi atas Konsep Ego Muhammad Iqbal”, oleh Lutfi Syarqawi (2007) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Perbedaan mendasar skripsi-skripsi sebelumnya dari skripsi penulis adalah pada fokus kajian. Mursali menuliskan dalam skripsinya yang berjudul “Pandangan Iqbal tentang Ego” bahwa ego adalah kesatuan intuitif pencerah yang menerangi pikiran, perasaaan, dan kehendak manusia. Ego adalah sesuatu yang dinamis, ia mengorganisasi dirinya berdasarkan waktu dan terbentuk, serta mendisiplinkan pengalaman sendiri. Setiap denyut pikiran baik masa lampau atau sekarang adalah satu jalinan tak terpisahkan dari suatu ego yang mengetahui dan memeras ingatan.

Suryanih dalam skripsinya yang berjudul “Pengembangan Ego dalam Konsep Pendidikan menurut Muhammad Iqbal”, menyebutkan bahwa hanya manusia yang dapat melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan harus dapat memupuk sifat–sifat individualitas manusia agar menjadi manusia yang sempurna, yakni manusia yang dapat menciptakan sifat-sifat ketuhanan menjelma dalam dirinya, sehingga ia bisa berperilaku seperti Tuhan. Ia juga mengatakan bahwa manusia sebagai mahkluk individu akan mengalami berbagai perubahan secara dinamis dalam rangka interaksinya dengan lingkungan. Oleh

(25)

karena itu, pendidikan harus dapat mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan individu tersebut ke arah yang optimal.

Selanjutnya, Lutfi Syarqawi menulis dalam skripsinya “Kepribadian Insan Kamil, Tinjauan Psikologi atas Konsep Ego Muhammad Iqbal”, bahwa peningkatan ego manusia lebih sempurna menjadi “Insan Kamil” (Manusia Unggul), yaitu Khalifah Tuhan. Predikat ini tidak mungkin tercapai kecuali ego melampaui proses tiga fase: (1) ketaatan pada hukum, maksudnya hukum Tuhan yang tersedia dalam al-Qur’ān, (2) self control, maksudnya penguasaan diri sendiri yang merupakan bentuk kesadaran diri atau ego tertinggi, dan (3) wakil Tuhan di atas bumi yang merupakan fase terakhir perkembangan manusia.

Penulis menyimpulkan bahwa Mursali, dan penulis lainnya tidak ada yang menyinggung tentang permasalahan “Kritik Iqbal terhadap Argumen-Argumen Ketuhanan”. Oleh karena itu, judul dan penelitian penulis berbeda dari tulisan-tulisan mereka, dan ide-ide ketuhanan Iqbal merupakan kajian utama dan penting dalam ranah falsafat Islam, sehingga sangat penting untuk ditulis.

(26)

16 A. Latar Belakang Kehidupan

Muhammad Iqbal adalah tokoh yang muncul di tengah huru-hara masyarakat Muslim di India. Ia dikenal dengan nama Allama Muhammad Iqbal. Iqbal dilahirkan di Sialkot, Punjab, pada 22 Dzū al-Ḥijjah 1289 H. /22 Februari 1873 M. Sialkot adalah sebuah kota peninggalan Dinasti Mughal India yang sudah lama pudar gemerlapnya, yang terletak beberapa mil dari Jammu dan Kasymir, suatu kawasan yang kelak terus menerus menjadi wilayah sengketa antara India

dan Pakistan.1 Ada tiga pendapat, sekurang-kurangnya, tentang tanggal kelahiran

Iqbal. Miss Luce Claude Maitre, Osman Raliby dan Bahrum Rangkuti mengikuti pendapat yang mengatakan Iqbal lahir pada 22 Februari 1873. Sedangkan Willfred Cantwell Smith berpendapat kelahiran Iqbal pada tanggal 22 Februari 1876. Sedangkan pendapat yang paling kuat adalah pendapat dari Prof. J. Marek dari Universitas Praha yaitu tanggal 9 November 1877. Pendapat ini diperkuat dengan diadakannya peringatan seratus tahun kelahiran Muhammad Iqbal oleh

Kedutaan besar Republik Islam Pakistan pada 9 November 1977.2

Leluhurnya berasal dari keluarga berkasta Brahma Kasymir yang telah masuk Islam kurang lebih 300 tahun sebelumnya. Ayahnya adalah Nur

Muhammad, seorang Muslim yang taat.3 Ayahnya memiliki kedekatan khusus

1 Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal ( Bandung: Penerbit Teraju, 2003), h. 23. 2

Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Iqbal Studi tentang Kontribusi Gagasan Iqbal dalam Pembaharuan Islam (Padang: Kalam Mulia, 1994), h. 44.

3 M. Atiqul Haque, 100 Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia, terj. Ira Puspitorini (Yogyakarta:

(27)

dengan kalangan sufi. Karena kesalehan serta kecerdasannya, ia dikenal memiliki perasaan mistis yang dalam serta rasa keingintahuan keilmuan yang tinggi. Ia

dijuluki kawan-kawannya dengan sebutan “Sang failasuf tanpa guru”.4 Ayahnya,

meninggal pada tanggal 17 Agustus 1950. Diceritakan bahwa sang ayah bermimpi sebelum Iqbal dilahirkan, yakni melihat burung dara putih cemerlang sedang terbang dan kemudian terjatuh dan tinggal di kamarnya. Mimpi ini diartikan

bahwa ia akan memeroleh anak yang terkenal dan penuh dengan kebahagiaan.5

Kakek Iqbal, Syaikh Rafiq adalah seorang penjaja selendang yang berasal dari Looehar, Kasymir. Jika diikuti, jejak leluhur Iqbal berasal dari kalangan

Brahmana, subkasta Sapru.6

Ibundanya bernama Imam Bibi, juga dikenal sebagai orang yang sangat religius. Ia membekali kelima anaknya, tiga putri dan dua putra, dengan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat. Kelak dikemudian hari, Iqbal mengatakan bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi

falsafi, tetapi diwarisi dari kedua orang tuanya.7 Masa kanak-kanaknya dihabiskan

di kota perbatasan Punjab melalui kesenangan berolahraga dan bercengkrama

dengan kawan sebayanya. Mengenai sang ibu, iamelukiskan dalam sajak, dalam

buku Bang-i Dara: Dengan asuhanmu

Kugapai bintang-bintang rumahmu Kebanggaan moyang hidupmu

Lempeng keemasan dalam buku alam semesta.

Dan panutan dalam agama dan dunia.8

4

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 23.

5

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, terj. Ahmad Rofi‟i Usman (Bandung: Mizan, 1985), h. 16.

6

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 24.

7 Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 24. 8

(28)

Pada tahun 1892, sebelum masuk kuliah, Iqbal menikah dengan Karim Bibi, putri seorang dokter Gujarat kaya, Bahadur „Atta Muhammad Khan. Menurut beberapa sumber, ini adalah awal dari tahun-tahun ketidakbahagiaan. Mereka bercerai pada tahun 1916, tetapi Iqbal memberikan dukungan finansial untuk

Karim Bibi sampai ia meninggal.9 Pasangan ini memiliki tiga orang anak, Mi‟raj

Benum, yang wafat di usia muda, Aftab Iqbal, yang kelak mengikuti jejak sang

ayah memelajari falsafat, dan salah satu lagi meninggal saat dilahirkan.10

Pada tahun 1895, setelah menyelesaikan studinya di Scotch Mission, Iqbal masuk di Government College di Lahore. Setelah menyelesaikan studinya di Government College, Iqbal ditunjuk sebagai pengajar sejarah dan falsafat di Oriental College Lahore. Kemudian ia juga diangkat sebagai pengajar falsafat dan Bahasa Inggris di almamaternya, tetapi karier sastralah yang telah membayangi semua aspek kerja Iqbal terlebih dahulu, walaupun kemudian ia menulis sebuah

buku berbahasa Urdu pertama kali tentang permasalahan ekonomi.11 Namun

sebelum itu, ia telah menyadur beberapa bagian dari simposium syair lokal,

sehingga ia mampu menarik perhatian para penyair senior waktu itu.12

Di Lahore ini pula, tepatnya 1899, nama Iqbal sebagai penyair mulai termasyur melalui sajaknya yang berjudul “Nalāi Yatīm” (Rintihan si Yatim) yang dideklamasikan pada pertemuan tahunan Anjuman Humayāti Islām (Organisasi

9

A. Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan (Bandung: Penerbit Mizan, 1993), h. 174.

10

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 24.

11 A. Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, h. 174. 12

(29)

Pemeliharaan Islam).13 Tahun berikutnya dia membacakan sajaknya “An Orphan‟s Address to Id Crescent” (Khotbah seorang Yatim pada Idul Fitri).

Ketika di Eropa, Iqbal sempat menjalin persahabatan mendalam dengan seseorang perempuan Muslim bernama Atiya Begum Faizee. Namun Iqbal

memendam perasaan, karena perbedaan latar belakang keluarga.14 Dari Eropa,

Iqbal kemudian kembali ke India pada 1908 dan kembali mengajar di Government College, dalam bidang falsafat, sastra Arab, dan sastra Inggris. Namun, pertimbangan keuangan memaksanya untuk berhenti sebagai pengajar pada tahun 1909 dan memilih menjadi advokat dan memusatkan perhatian pada persoalan

hukum,15 dan ia juga memantapkan keyakinan pada politik, nasionalisme, dan

cita-cita keislaman yang matang selama menjadi advokat.16 Namun ada yang

mengatakan bahwa ketika mengajar, ia mulai menjalankan praktik hukum di Pengadilan Tinggi Punjab. Ketika keluar dari jabatannya tiga tahun kemudian, ia berkata kepada kawan lamanya, Khadim „Ali Bakhs, “Aku ingin memberi sesuatu yang berarti untuk bangsaku, tetapi perbudakan pemerintah ini menjadi hambatan besar. Sekarang setelah keluar dan berhenti dari tugas-tugas pemerintahan, aku

bisa mengabdikan hidup untuk mencapai tujuan.”17

Sejak saat itu, ia mengabdikan diri sepenuhnya pada bidang puisi dan syair. Dia hanya meluangkan waktu beberapa jam untuk praktik hukum dan seluruh sisa waktunya dipakai untuk

13

Sayed Abdul Vahid, Iqbal: His Art & Thought (Lahore: Sh. Muhamad Ashraf Kasymir Bazar, 1948), h. 22-23.

14

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 25.

15

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 28.

16

Bahrum Rangkuti, “Pengantar kepada Cita Iqbal”, dalam Muhammad Iqbal, Rahasia-Rahasia Pribadi, terj. Bahrum Rangkuti (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h. 108-109.

17

(30)

menulis. Iqbal tidak pernah menjadi kaya raya, penghasilannya hanya cukup

untuk hidup sederhana.18

Pada tahun 1909, Iqbal dinikahkan dengan Sardar Begum, seorang wanita muda cantik, namun rapuh fisiknya. Pernikahan tersebut tidaklah sempurna, dan karena sejumlah alasan, Iqbal sempat terpisah beberapa lama dengannya, walaupun pada akhirnya mereka menikah untuk kedua kalinya pada tahun 1913. Sardar Begum memberikan cinta, pengabdian, dan ketenangan batin bagi Iqbal. Namun ia wafat pada usia muda, yakni 37 tahun. Ia meninggalkan satu putra, Javid Iqbal dan seorang putri, Munirah. Ketika dalam rentang perpisahan tersebut, Iqbal sempat menikah dengan Mukhtar Begum yang meninggal pada tahun

1924.19

Ia pernah diundang ke Amritsar untuk menghadiri pertemuan Minerva Lodge, yaitu suatu organisasi kosmopolitan dengan anggota dari orang-orang Hindu dan Muslim. Namun dengan ramah Iqbal menolak undangan tersebut dengan mengirimkan surat, yang di dalam surat ia mengatakan sebagai berikut:

Aku sendiri berpendapat bahwa perbedaan-perbedaan agama harus lenyap dari negeri ini, dan bahkan sekarang ini. Itu merupakan prinsip dalam kepribadianku. Tetapi sekarang ini aku berpikir bahwa kesatuan nasional masing-masing yang terpisah adalah baik bagi kedua belah pihak, antara Islam dan Hindu. Visi kebangsaan yang satu bagi India merupakan sebuah cita yang bagus, dan memunyai daya tarik puisi, tetapi memerhatikan keadaan sekarang ini dan kecenderungan-kencederungan yang tanpa

disadari dari kedua komunitas, tampaknya mustahil untuk dilaksanakan.20

Pada tahun 1922, Muhammad Iqbal dianugerahi gelar Sir oleh pemerintah Inggris karena telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama

18

M. Atiqul Haque, 100 Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia, h. 109.

19 Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 25. 20

(31)

sastra Inggris dan falsafat, dan Universitas Tokyo juga menghadiahi gelar Doktor Anumerta kepada Iqbal dalam bidang sastra untuk pertama kalinya. Demi kepentingan politik India, pada tahun 1928 dan awal tahun 1929, ia mengadakan perjalanan ke India Selatan dan memasuki ranah politik. Prestasi politiknya ditandai dengan keterpilihannya sebagai presiden Liga Muslimin pada tahun

1930.21 Pada tahun tersebut Iqbal mencapai puncak karirnya di ranah politik, di

mana pada sidang pertama di hadapan umat Muslim India (yang kemudian dikenal sebagai Pakistan), ia menyatakan:

Aku ingin melihat Punjab, Provinsi North-West Frontier, Sindh dan Baluchistan, bergabung menjadi satu negara. Berperintahan sendiri dalam kerajaan Inggris, atau di luar kerajaan Inggris, pembentukan negara Muslim Laut Barat India tampaknya menjadi tujuan akhir umat Muslim, paling tidak

bagi umat Muslim Barat Laut India22

Namun pidato Iqbal di atas hanya menimbulkan sedikit reaksi di kalangan politisi pada waktu itu, dan kemudian, ia mengikuti perundingan Meja Bundar dua kali yang diselenggarakan di London, Inggris. Ia juga pernah turut menghadiri Konferensi Islam di Yerussalem.

Salah satu hal besar terakhir yang ia lakukan adalah mendirikan Adārah Dār al-Islām, sebuah institusi di mana studi Islam klasik dan ilmu sosial kotemporer akan disubsidi. Ini adalah keinginan terakhir orang besar yang terpesona pada ilmu pengetahuan modern dan falsafat Islam, untuk menciptakan jembatan pemahaman pada tingkat intelektual tertinggi.

Pada 1924 Iqbal menderita sakit di dada, yang kemudian berkembang menjadi masalah tenggorokan yang serius. Di tahun 1934, ia diundang oleh

21

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiram dan Pergerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 193.

22

(32)

Oxford University untuk berbicara mengenai Rhodes, tetapi karena alasan kesehatan, ia tidak bisa memenuhinya. Pada tahun 1936, Iqbal menderita katarak

di mata, mengalami masalah pada jantung dan asma.23 Pada tahun 1937 dalam

keadaan sakit, ia menghadiri dan menyaksikan beberapa perkembangan yang tidak menyenangkan di provinsi-provinsi di mana Kongres memeroleh kemenangan. Iqbal tidak diberi umur panjang untuk mewujudkan impiannya yakni tentang pendirian negara Muslim. Ia meninggal pada 18 Maret 1938, kurang

lebih sepuluh tahun sebelum pendirian Pakistan.24

Beberapa hari sebelum kematiannya, Iqbal dikunjungi oleh kawan lamanya semasa dulu ia belajar di Jerman, Baron Von Voltheim. Mereka berdiskusi tentang puisi, falsafat dan politik belakangan ini (semasa mereka hidup). Orang yang menyaksikan mereka berbincang tak menduga bahwa saat terakhir bagi Iqbal sudah dekat. Ketika Baron mengucapkan bahwa kehadirannya takut menambah kelelahan buat Iqbal, namun Iqbal menjawabnya, “Hal ini hanya cara lain.

Nafasmu bagaikan balsem (obat) buatku”.25

Bahkan, setengah jam sebelum menghembuskan nafas terakhir, Iqbal sempat membisikkan sajaknya yang terkenal, yakni:

Melodi perpisahan boleh menggema atau tidak Bunyi nafiri boleh bertiup lagi dari Ḥijāz atau tidak Saat si Fakir boleh sampai ke batas terakhir

Pujangga lain boleh datang atau tidak.26

Waktu meninggal dunia, usia Iqbal 60 tahun Masehi, 1 bulan 26 hari atau 63

tahun Hijriah, 1 bulan, 29 hari.27Ali Audah mengungkapkan komentar dua tokoh

23

M. Atiqul Haque, 100 Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia, h. 110.

24

A. Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, h. 188,

25

Sayed Abdul Vahid, Iqbal: His Art & Thought, h. 35-36.

26 Ali Audah, “Muhammad Iqbal: Sebuah Pengantar”, dalam Muhammad Iqbal, Membangun Kembali

(33)

utama, yaitu R. Tagore dan Syakib Arselan, menyusul kabar kematian Muhammad Iqbal. Tagore menyatakan, “Kematian Sir Muhammad Iqbal telah meninggalkan kekosongan dalam kesusastraan India, seperti luka parah, lama sekali baru akan dapat disembuhkan. India, yang letaknya begitu sempit dalam dunia, dapat menderita karena kehilangan seorang penyair yang sajak-sajaknya sudah demikian mencapai nilai universal”. Sedangkan Arselan mengatakan, “Iqbal adalah ahli pikir terbesar yang pernah dilahirkan dunia Islam selama seribu

tahun belakangan ini”.28

B. Latar Belakang Pendidikan

Pada mulanya, Iqbal dididik oleh ayahnya, Nur Muhammad, kemudian ia dimasukkan ke sebuah maktab (surau) untuk belajar al-Qur‟ān dan selanjutnya,

dimasukkan ke Scottish Mission School.29 Ia lahir dari kalangan keluarga miskin

yang taat beribadah sehingga sejak kecil telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah, Nur Muhammad dan kakeknya, Muhammad Rafiq. Akan tetapi berkat bantuan dari beasiswa yang ia peroleh dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan

dasarnya di Sialkot, ia masuk Government College di Lahore30.

Di Sialkot dia beruntung sekali memeroleh seorang guru seperti Syam Mir

Hasan, seorang ulama besar dari Timur.31 Ia adalah professor sastra Timur di

Scotch Mission College, dan telah membujuk ayah Iqbal, Nur Muhammad untuk

27 Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 40. 28

Ali Audah, “Muhammad Iqbal: Sebuah Pengantar”, dalam Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, h. ix.

29

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 16-17.

30 A. Mukti Ali, Alam Pemikiran Islam Modern di India dan Pakistan,h. 173 31

(34)

mengizinkan Iqbal melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Modern pertama di

wilayah tersebut.32 Beberapa tahun kemudian Iqbal mengakui sangat berhutang

budi kepada ulama besar ini, yang dilukiskan dalam sebuah sajak, “Nafasnya

mengembangkan kuntum hasratku menjadi bunga”.33

Dengan kekalahan Sikh di Punjab oleh tentara Inggris, para misionaris Barat tidak membuang waktu untuk mendirikan pusat pembelajaran di Sialkot. Salah satunya adalah Scotch College, yang didirikan 1889, menawarkan program studi seni liberal dalam bahasa Arab dan Persia, walaupun saat itu Inggris telah menjadi bahasa pengantar sekolah di India, dan itu adalah tempat pertama bagi Iqbal mendapat pendidikan sekuler. Potensi Iqbal sebagai penyair pertama kali diakui di sini oleh salah seorang gurunya Sayyid Mir Hasan yang darinya ia memelajari puisi klasik. Mir Hasan tidak pernah belajar bahasa Inggris, tapi kesadaran tentang manfaat pendidikan Barat dan apresiasi terhadap modernitas memastikan kedudukannya sebagai Profesor Oriental Scotch di bidang Sastra. Dia mengajari Iqbal banyak hal sampai Iqbal lulus pada tahun 1892.

Setelah menyelesaikan sekolahnya di Sialkot, pada 1895 Iqbal pindah ke Lahore, salah satu kota besar di India, untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dan ia memasuki Government College. Pada 1897 Iqbal menyelesaikan studinya dan memeroleh gelar Bachelor of Art (BA). Dalam ujian terakhir ia berhasil memeroleh nilai tertinggi, khususnya nilai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kemudian ia mengambil program Magister of Art (MA) di bidang falsafat dan menjadi mahasiswa Sir Thomas Arnold, yang memberinya kuliah falsafat

32

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 26.

33 Ali Audah, “Muhammad Iqbal: Sebuah Pengantar”, dalam Muhammad Iqbal, Membangun Kembali

(35)

Islam.34 Ia adalah guru besar falsafat yang sangat mengerti tentang kebudayaan Islam dan kesusastraan Arab. Dialah yang memberi motivasi kepada Iqbal untuk

meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Eropa.35

Iqbal adalah murid yang sempurna, lulus cumlaude, memenangkan medali emas dan menjadi satu-satunya yang lulus ujian akhir komprehensif. Ketika ia menerima gelar Master pada tahun 1889, ia sudah mulai membuat komentar antara lingkaran sastra Lahore, dan memeroleh beasiswa serta dua medali emas karena kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan Arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar MA dalam bidang falsafat.

Berkat dorongan gurunya, Sir Thomas Arnold, Iqbal melanjutkan studi ke Eropa. Dia memasuki Universitas Cambridge di Inggris dan meraih gelar kesarjanaan di bidang falsafat moral. Di sana dia belajar falsafat di bawah

bimbingan Dr. Mc. Taggart dan James Waid.36 Di samping itu, Iqbal mengambil

pula kesempatan di universitas tersebut untuk menimba ilmu dari dua orientalis

terkemuka saat itu, yakni; E.G. Brown dan Reynold A. Nicholson.37 Kemudian

dia pergi ke Jerman, untuk belajar bahasa dan falsafat Jerman beberapa waktu di Universitas Heidelberg pada Faraulein Wagnast dan Faraulein Senecal. Ia berhasil

menguasai Bahasa Jerman dengan baik hanya dalam waktu tiga bulan.38 Setelah

itu Iqbal memasuki Universitas Munich. Di universitas ini, Iqbal mengajukan disertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia. Disertasinya dipersembahkan untuk gurunya, Sir Thomas Arnold. Selain itu, untuk beberapa

34

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 19.

35

Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 27.

36

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 24.

37 Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 28. 38

(36)

waktu, dia pun masuk di School of Political Sciences, namun tidak ada informasi

mengenai hal tersebut, apakah Iqbal tamat atau tidak di sekolah ini.39 Ia tidak puas

dengan itu dan ia kembali ke London untuk menyiapkan bekal bagi profesi pragmatisnya di India kelak. Ia belajar di Lincoln‟s Inn untuk mendapatkan gelar

pengacara dan berhasil lulus pada tahun 1908.40

C. Karya-Karya

Iqbal terus berkarya dan membangkitkan semangat jiwa bangsanya. Karya-karya ia tulis dalam berbagai bentuk, di antaranya adalah Karya-karya falsafat, sastra,

agama dan ceramah-ceramah yang dibukukan, di antaranya:41

1. ‘Ilm al-Iqtiṣād, buku pertama yang memuat tentang risalah ekonomi sebagai anjuran Thomas Arnold pada tahun 1905.

2. The development of Metaphysics in Persia: A Contribution to the History of Muslim Philosophy. Tesis Iqbal ketika ia meraih gelar doktor di Universitas Munich, Jerman.

3. Stray Reflections, merupakan kompilasi penting Iqbal setelah ia pulang dari studinya di Eropa. Buku ini baru diterbitkan setelah Iqbal meninggal dunia.

4. Asrar-i Khudi. Buku pertama Iqbal yang memuat tentang falsafat dalam bentuk puisi. Buku ini menekankan pada khudi (diri atau makhluk individual), atau dikenal juga dengan istilah ego untuk menunjuk pada pusat kesadaran dan kehidupan kognitif.

39

Abdul Wahhab Azzam, Falsafat dan Puisi Iqbal, h. 24.

40 Donny Gahral Aldian, Muhammad Iqbal, h. 29. 41

(37)

5. Rumuz-i Bekhudi, tulisan falsafi kedua yang terbit pada tahun 1918. Tema-tema utamanya adalah tentang hubungan antar individu, masyarakat dan umat manusia. Buku ini adalah tulisan penyempurna dari pemikiran Asrar-i-Khudi.

6. Payam-i Masyriq, yang berisi tentang pesan dari Timur. Buku ini berusaha menyuntikkan kebenaran moral, agama dan bangsa, yang dibutuhkan oleh pendidikan rohani, individu dan bangsa.

7. Bang-i Dara (Lonceng Kafilah). Tulisan ini berisi puisi-puisinya selama lebih dari dua puluh tahun. Di antranya puisi sebelum keberangkatan ke Eropa, puisi selama di Eropa, dan setelah kembali dari Eropa.

8. Zabur-i ‘Azam (Mazmur Persia), yang berisi suntikan untuk semangat dunia baru kepada kaum muda dan masyarakat Timur. Dalam karya ini, Iqbal menggambarkan situasi batin dan sekaligus memaksa pembaca memerbaiki diri dan meningkatkan harapan serta aspirasinya untuk mencintai kemaujudan, kemakmuran dan penemuan diri. Karya ini sering dibandingkan dengan karya sastra Persia seperti ‘Aṭṭār, Ḥāfiẓ, Sa‘dī atau Jāmi‘ karena kemampuannya mencapai tujuan-tujuan tinggi.

9. The Reconstruction of Religious Thought in Islam, yakni kumpulan

serangkaian kuliah dan ceramah di berbagai tempat. Iqbal

mengemukakan tentang tanggung jawabnya dalam dasar-dasar

intelektual falsafat Islam melalui cara yang sesuai dengan iklim intelektual dan spiritual abad modern.

(38)

yang religius-falsafi. Puisi ini melibatkan perjalanan spiritual Iqbal, selayaknya seorang sufi dengan berbagai kandungan hikmah yang dalam untuk generasi muda.

11. Musafir, sebagai tulisan perjalannya menuju Afganistan dan tempat-tempat bersejarah.

12. Bal-i Jibril (Sayap Jibril), terinspirasi dari perjalanan ke luar negerinya antara tahun 1931-1933, yaitu ke Inggris, Mesir, Italia, Palestina, Francis Spanyol dan Afganistan.

13. Pas chi Bayad Kard (apa yang harus dilakukan wahai masyarakat Timur), diterbitkan pada 1935 atau dua tahun menjelang wafatnya, yang berisi penjabaran yang paling rinci mengenai falsafat praktisnya yang berhubungan dengan masalah sosial politik dan masalah dunia Timur yang berasal dari pengaruh peradaban Barat.

14. Zarb-i Kalam, yakni mengenai zaman modern dan permasalahannya. Peradaban modern adalah peradaban yang tak bertuhan dan materialistik, kekurangan cinta dan keadilan dan hidup dalam penindasan dan eksploitasi kaum lemah. Tulisannya ini adalah untuk menyelamatkan kaum Muslim dari peradaban modern tersebut.

15. Amarghan-i Ḥijāz, karya ini terbit pada November 1938, beberapa

bulan setelah ia wafat. Karya ini tidak lengkap karena ia sengaja menulis untuk pengalamannya ketika berhaji ke Makkah, namun niat itu tak pernah terwujud. Ia merindukan perjalanan ke Ḥijāz (jazirah Arab) untuk mengunjungi makam Nabi di Madīnah dan sakit yang berat dialaminya

(39)

beberapa tahun terakhir membuat karya ini tidak sempurna.

Banyak karya-karya Iqbal yang disunting oleh orang lain, baik yang berbentuk kumpulan ceramah, artikel, pernyataan dan surat menyuratnya. Kekaguman akan kejeniusan pemikiran Iqbal membuat pengajian terhadap karya-karya dan pemikiran Iqbal semakin banyak. Banyak karya-karya-karya-karya yang diterbitkan setelah ia wafat, namun tulisan ini tidak dapat memuat itu semua karena keterbatasan ruang.

(40)

30

Permasalahan mendasar yang menjadi pembahasan dalam ranah agama dan falsafat adalah permasalahan mengenai pembuktian akan keberadaan Tuhan. Penelaahan tentang keberadaan Tuhan merupakan puncak metafisika dan

memiliki perbedaaan dengan metafisika lainnya.1 Kepercayaan akan keberadaan

Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dalam dua cara, yakni teologis dan falsafi. Secara teologis, kepercayaan akan keberadaan Tuhan dipertanggungjawabkan jika ditunjukkan dengan pemahaman rasional terhadap

teks-teks wahyu yang merupakan sumber kebenaran agama.2 Sedangkan secara

falsafi, kepercayaan akan keberadaan Tuhan dipertanggungjawabkan melalui penalaran demonstratif (burhānī), terlepas dari teks-teks skripturalis.

Banyak dari pemikir yang kemudian menawarkan argumen-argumen mengenai keberadaan Tuhan. Argumen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah alasan yang dapat dipakai untuk memerkuat atau menolak suatu pendapat,

pendirian, ide, atau gagasan yang disertai dengan dalil-dalil dan bukti-bukti.3

Sedangkan konsep memiliki pengertian yang berbeda dengan argumen. Konsep berasal dari bahasa latin “conceptus” yang berarti “tangkapan”. Tangkapan dalam konteks logika berkaitan dengan aktifitas intelektual untuk menangkap realitas. Sedangkann dalam Bahasa Inggris, konsep berasal dari kata concept atau construc

1

Louis Leahy, Manusia di dalam Allah, Masalah Ketuhanan Dewasa Ini (Yogyakarta: Kanisius, 1982), h. 9.

2 Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), h. 21-22. 3 http://kamusbahasaindonesia.org, “konsep dan argumen”, diakses pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2015, pukul 16:34 WIB.

(41)

yang berarti simbol yang digunakan untuk memaknai sesuatu. Maka dapat disimpulkan bahwa konsep itu adalah aktifitas akal budi untuk memaknai realitas dengan menggunakan simbol, suatu rancangan atau ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret. Perbedaan antara argumen dan konsep adalah jika argumen merupakan sebuah upaya untuk berpendapat dan menolak sesuatu dengan disertakan dalil-dalil serta bukti untuk menguatan pendapat, sementara konsep itu hanya sebatas ide abstrak tanpa disertai dengan dalil–dalil dan bukti bukti yang nyata.

Dalam ranah falsafat Islam, Ibn Ṭufayl memberikan tiga argumen

keberadaan Tuhan yang terdapat pada kisah Ḥayy Ibn Yaqẓān, yakni: 1) Argumen Gerak, bahwa orang-orang yang meyakini alam qadim, penggerak berfungsi mengubah materi di alam dari potensial ke aktual. Sementara yang meyakini alam

baru, penggerak berfungsi mengubah dari tidak ada menjadi ada.4 Dan penggerak

ini adalah Tuhan. 2) Argumen Materi dan Bentuk, bahwa segala yang ada tersusun dari materi dan bentuk, setiap materi membutuhkan bentuk, bentuk tidak mungkin bereksistensi tanpa penggerak, dan segala yang bereksistensi di dunia ini membutuhkan pencipta. Argumen ini ingin membuktikan keberadaan Tuhan sebagai pencipta, dan Maha Kuasa. 3) Argumen Ghaiyyat dan ‘Ināyat al-Ilāhiyyat, maksudnya segala sesuatu yang ada di alam memunyai tujuan tertentu dan ini merupakan Ināyat dari Allah. Ia menolak pandangan yang menyatakan bahwa alam diciptakan secara kebetulan. Alam ini tersusun rapi dan teratur dan memiliki tujuan-tujuan tertentu yang sangat efektif dan bermanfaat bagi makhluk.

4 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 213.

(42)

Dan ini membuktikan bahwa tidak mungkin keteraturan ini tidak ada yang menciptakan dan mengatur, tentu ada Zat yang mengatur dan menata keseluruhannya untuk kebaikan manusia dan makhluk lain. Argumen ini juga

ingin membuktikan keberadaan Tuhan sebagai Pencipta. 5

Di dalam kajian falsafat klasik terdapat tiga argumen keberadaan Tuhan, yakni ontologis, kosmologis, dan teleologis. Ketiga argumen ini kelak menjadi sasaran kritik Iqbal, dan kritiknya menjadi topik utama dan judul dari skripsi ini. Tetapi sebelum menguraikan kritik Iqbal terhadap argumen-argumen di atas, terlebih dahulu tiga argumen tersebut dipahami. Penjelasan mengenai ketiga argumen tersebut adalah sebagai berikut di bawah ini.

A. Argumen Ontologi

Menurut bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on/ontos yang berarti being atau ada, dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Sehingga, ontologi diartikan sebagai the theory of being qua being (teori tentang

keberadaan sebagai keberadaan), atau ilmu tentang yang ada.6 Juhaya S. Praja

mendefinisikan ontologi sebagai ilmu yang menjelaskan tentang hakikat yang ada atau disebut pula sebagai teori hakikat, atau memertanyakan apa sebenarnya

hakikat dari segala sesuatu yang ada.7 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia, ontologi diartikan sebagai cabang hidup yang berkenaan dengan

hakikat segala sesuatu.8

5 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam;Filosof dan Filsafatnya, h. 215. 6

Loren Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 76-77. 7 Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997), h. 28. 8 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), h. 983.

(43)

Argumen ontologi dipelopori oleh Plato (428-348 S.M.) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam ini mesti ada idenya. Yang

dimaksud dengan ide adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu.9

Setiap sesuatu di alam memunyai ide, dan ide inilah yang menjadi dasar wujud itu. Ide-ide berada dalam alam tersendiri yaitu alam ide. Alam ide berada di luar alam nyata dan ide-ide itu kekal. Benda-benda yang tampak di alam nyata senantiasa berubah, bukanlah sebuah hakikat tetapi hanya bayangan. Yang sebenarnya memunyai wujud adalah ide-ide itu, dan bukan benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra. Benda-benda nyata ini adalah khayalan atau ilusi belaka. Benda-benda berwujud karena keberadaan ide-ide. Dan keberadaan

ide-ide adalah tujuan dan sebab dari wujud benda-benda.10 Ide-ide bukan berarti

terpisah, tanpa ada hubungan antara satu dengan yang lainnya, tetapi semuanya bersatu dalam sebuah Ide Tertinggi yang diberi nama Ide Kebaikan atau The Absolute Good, yaitu Mutlak Baik. Yang Mutlak Baik itu adalah sumber, tujuan dan sebab dari segala yang ada. Yang Mutlak Baik atau Absolute Good itulah

disebut Tuhan.11 Tuhan dalam konsepsi Plato bukanlah Pencipta alam dari tidak

ada menjadi ada, tetapi menurutnya, Tuhan hanya menyusun dari materi yang telah ada. Materi itu adalah empat elemen: air, udara, tanah dan api. Tetapi yang dibuat Tuhan pertama-tama adalah jiwa, kemudian benda jasmani.

Argumen ontologi kedua diajukan oleh St. Augustinus (354-430 M). Menurut Augustinus manusia mengetahui dari pengalamannya bahwa dalam alam

9 Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 169.

10 Bertrand Russel, History of Western Philosopy (London: George Allen & Unwin LTD, 1974), h. 137.

(44)

ini ada kebenaran. Pada saat yang sama, akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang manusia ragu-ragu akan kebenaran yang diketahuinya. Dengan kata lain, akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap, dan kebenaran yang tidak berubah-ubah itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itu merupakan Kebenaran Mutlak dan Kebenaran

Mutlak itulah yang disebut dengan Tuhan.12

Al-Fārābī membuktikan keberadaan Tuhan melalui teori emanasi. Emanasi adalah teori tentang keluar sesuatu yang wujūd mumkin (alam makhluk yang

mungkin muncul) dari Zat yang wajīb al-wujūd (Zat yang Wajib Ada/Tuhan).13

Teori ini sebenamya terdapat pula dalam paham Neo-Platonisme. Perbedaan antara keduanya yaitu terletak pada uraian Al- Fārābī yang ilmiah. Menurut teori emanasi Al-Fārābī disebutkan bahwa Tuhan itu Esa, sehingga yang keluar dariNya pun satu wujud saja. Emanasi timbul karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap Dzat-Nya yang satu. Sedangkan apa yang keluar dari hasil berfikir itu pun berbilang. Dasar adanya emanasi tersebut adalah karena dalam pemikiran Tuhan dan pemikiran akal terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan. Dalam alam manusia sendiri apabila kita memikirkan sesuatu, maka tergeraklah kekuatan badan untuk mengusahakan terlaksananya pemikiran tersebut menjadi suatu wujud.

Wujud pertama yang muncul dari hasil berpikir Tuhan terhadap ZatNya adalah Akal Pertama, mengandung dua segi. Pertama segi hakikatNya sendiri,

12

Harun Nasution, Falsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), h. 54. 13 A. Hanafi, Pengantar Falsafat Islam (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1981), h. 118.

(45)

yaitu mumkīn al-wujūd. Kedua segi lain yang wujudNya menjadi nyata karena keberadaan Tuhan sebagai Zat yang menjadikan. Sekalipun Akal Pertama tersebut satu, namun pada diriNya terdapat bagian-bagian yaitu ada dua segi yang menjadi obyek pemikiranNya. Dengan keberadaan segi-segi ini, maka dapat dibenarkan ada bilangan pada alam sejak dari Akal Pertama. Dari pemikiran Akal Pertama dalam kedudukanNya sebagai wajīb al-wujūd (yang wajib ada) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui diriNya maka keluarlah Akal Kedua dan manifestasinya, yang darinya timbul Akal Ketiga dan seterusnya.

Jumlah akal dibataskan hanya sampai bilangan sepuluh, hal ini sesuaikan dengan bintang yang berjumlah sembilan di mana untuk tiap-tiap akal diperlukan satu planet pula, kecuali akal pertama yang tidak disertai satu planet ketika keluar dari Tuhan. Stuktur Emanasi Al-Fārābī saat itu dipengaruhi oleh temuan saintis di mana jumlah bintang adalah sembilan, karena jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh, kemudian al-Fārābī menambah dua lagi yaitu benda yang terjauh (falāk aqṣā) dan bintang-bintang tetap (kawākib al-tsābiṭah), yang diambil dari Ptolomey (atau Caldius Ptolomaeus) seorang ahli astronomi dan ahli bumi Mesir, yang hidup pada pertengahan abad ke dua Masehi. Demikianlah, maka jumlah akal ada sepuluh, sembilan di antaranya mengurus benda-benda langit yang sembilan, dan akal kesepuluh yaitu bulan mengawasi dan mengurangi kehidupan di bumi. Akal-akal tidak berbeda, tetapi merupakan pikiran selamanya. Kalau pada Tuhan yaitu wujud yang pertama, hanya terdapat satu obyek pemikiran yaitu Dzat-Nya, maka pada akal-akal tersebut terdapat dua obyek pemikiran, yaitu Dzat yang wajib ada dan diri akal-akal itu sendiri. Akan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan pemahaman demikian, maka pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia saat ini mengalami ancaman dengan munculnya nilai nilai baru dari luar dan pergeseran

Pretes dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dari kedua kelas apakah sama atau berbeda. Hal ini dapat dilihat melalui uji perbedaan rata-rata terhadap

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hadori, Hastuti, dan Puspitawati menunjukkan bahwa self-esteem remaja yang orang tuanya bercerai cenderung rendah, dimana

Sehingga dibutuhkan media dan sarana komunikasi yang akurat, cepat, efisien dan hemat biaya dalam mendukung kelancaran bisnis dan operasional kerja.Salah satu media

Terdapat beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian ini yang pertama penelitian yang telah dilakukan Yuni Hasnahwati dengan judul penelitian “Pengaruh

Hasil analisis akhir penelitian ini mendapatkan bahwa kebiasaan sarapan adalah variabel dominan yang berhubungan dengan indeks massa tubuh setelah dikontrol

Nomor 31 sampai dengan nomor 36 diisi setelah limbah dianalis oleh pengumpul/pengolah/pemanfaat, bila limbah B3 yang disebutkan tidak sesuai atau tidak memenuhi syarat