13
BAB III
ANALISIS PERANCANGAN
3.1. Analisis Fungsi
3.1.1. Kegiatan
Kegiatan di gelanggang remaja terbagi menjadi kegiatan primer dan kegiatan sekunder. Secara umum, kegiatan dilakukan pada waktu luar sekolah dari siang hingga petang. Namun, pada hari-hari libur dan libur nasional beberapa kegiatan tetap berjalan. Berikut penjelasan mengenai pembagian kegiatan:
(a) Kegiatan Primer
Kegiatan primer merupakan kegiatan inti dari gelanggang remaja dimana para remaja mendatangi gelanggang remaja untuk aktivitas studi dan ekstrakurikuler. Kegiatan primer berupa kegiatan olahraga, seni, dan juga bimbingan belajar/tutor setelah jam sekolah atau hari libur.
• Olahraga
Kegiatan olahraga dapat berupa kegiatan luar ruang dan dalam ruang. Kegiatan luar ruang seperti olahraga sepak bola, lari, skateboarding, bola voli. olahraga dalam ruang seperti olahraga badminton, basket, dan gym. Adapun kegiatan olahraga yang secara fleksibel dilakukan diluar ruang maupun di dalam ruang. Rata-rata olahraga seperti ini adalah olahraga bela diri seperti karate, taekwondo, silat.
• Seni
Aktivitas seni dilakukan dominan di dalam ruang. Ruang-ruang untuk aktivitas dilakukan dalam studi kesenian sesuai minat atau jenis kesenian dari kelompok yang ada. Beberapa aktivitas seni membutuhkan ruang dengan spesifikasi khusus, contohnya adalah ruang rekaman musik yang harus kedap suara. Ruang tari perlu tembok datar dengan cermin luas agar penari dapat melihat gerakan tarian sendiri secara langsung. Ruang fotografi memerlukan pencahayaan ruang yang cukup terang agar objek dapat difoto dengan jelas.
14 • Pendidikan
Aktivitas pendidikan di gelanggang remaja berupa belajar bersama/tutor yang diselenggarakan secara kelompok. Aktivitas tersebut didukung dengan ruang-ruang kelas sebagai fasilitas belajar. Adapun ruang yang dapat digunakan untuk belajar mandiri dapat menggunakan ruang baca dan perpustakaan.
(b) Kegiatan Sekunder
Kegiatan sekunder merupakan kegiatan penunjang dari gelanggang remaja yang digunakan sebagai sarana rekreasi dan sosial. Kegiatan sekunder lebih mengarah kepada penggunaan sarana untuk berkumpul dan berinteraksi sesama kelompok atau komunitas. Kelompok atau komunitas yang dimaksud adalah perkumpulan pemuda yang terikat memiliki satu kesamaan hobi/tujuan, sebagai contoh klub pecinta alam atau klub robotik.
3.1.2. Pengguna
Pengguna utama gelanggang remaja adalah kelompok remaja. Namun, dalam proses operasionalnya terdapat pengguna lain dari gelanggang remaja seperti pengelola, anak-anak, orang tua/pendamping, dan pelatih. Berikut penjelasan profil dari setiap pengguna.
(1) Remaja
Remaja adalah pengguna utama yang menikmati sarana dari gelanggang remaja, dalam hal ini pengguna utama merupakan remaja usia 10 - 19 tahun dengan notabene pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), hingga Kuliah. Perlu disadari bahwa pemikiran, umur, dan status sosial pelajar mempengaruhi tatanan program ruang. Kegiatan antara anak SMP tidak bisa disatukan dengan kegiatan anak Kuliah/SMA yang sifat, cara bersosial, dan tingkat sosial kelompok berbeda sehingga diperlukan program ruang yang berbeda.
(2) Anak-anak dan orang tua
Kelompok luar remaja seperti anak-anak usia kurang dari 11 tahun memiliki kemungkinan memiliki kegiatan di gelanggang remaja, contohnya pada kegiatan klub Taekwondo yang biasanya memiliki kelas sub-junior (8 – 11 tahun). Selain itu pada kasus tarian bali, terkadang terdapat tarian-tarian yang diisi oleh anak-anak seperti tari Janger dan tari Rejang. Terkadang dari kehadiran anak-anak, orang tua tak luput hadir di antara aktivitas gelanggang sebagai pendamping.
15 (3) Pelatih
Adapun kelompok lainnya yaitu pelatih performer dimana membantu melatih performa atau membantu meningkatkan kemampuan minat dan bakat remaja. Pelatih performer terkadang terdiri dari beberapa pelatih dan melakukan rapat evaluasi. Oleh karena itu, perlu diberikan ruang khusus untuk pelatih.
(4) Pengelola
Pengelola adalah operator atau petugas yang memiliki tanggung jawab dalam jalannya dari seluruh aktivitas di gelanggang remaja. Pengelola dalam proyek ini diasumsikan sebagai karyawan yang terdiri dari petugas keamanan, petugas kebersihan, teknisi, administrasi dan manajemen gedung.
3.1.3. Fungsi
1) Ruang-ruang yang fleksibel
Agar kegunaan fungsi ruang tidak tumpah tindih maka perlu adanya fleksibilitas penggunaan ruang agar tidak terjadi penguasaan ruang oleh kelompok tunggal. Terdapat tiga konsep mengenai fleksibilitas dalam ruang, yaitu ekspansibilitas, konvertibilitas, dan versatilitas (Mion, 2017). Ekspansibilitas sejatinya suatu perubahan berdasarkan volume ruang seiring perubahan waktu sehingga akhirnya terjadi perubahan luas atau modifikasi dalam ruang. Berbeda dengan konvertibilitas yaitu perubahan ruang yang diubah melalui suasana atau orientasi bangunan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. Sedangkan, versatilitas adalah kemampuan suatu ruang untuk menggabungkan beberapa fungsi sehingga memiliki tujuan yang multifungsi.
2) Pengawasan dan Keamanan
Pembagian ruang tentu harus demokratis dan dapat digunakan aktivitas lain agar ruangan tidak dikuasai hanya sekelompok tertentu. Sifat anak remaja yang cenderung labil dan belum bisa memaknai benar dan salah secara gamblang harus diperhatikan. Anak remaja cenderung belum bisa menjaga diri dari ajakan yang salah dan terkadang mereka pula yang menimbulkan masalah karena karakternya belum dewasa. Oleh sebab itu, kemudahan pengawasan menjadi penting agar pengguna khususnya remaja terhindar dari kekerasan yang ditimbulkan dari perkelahian/perundungan.
16
3.2. Analisis Lahan
Lokasi lahan proyek terletak diantara hutan kota Way Halim, Bandar Lampung dengan luas lahan seluas 15.000 m2. Lokasi terletak pada koordinat 5°23'04.3"S 105°17'00.8"E berada pada
wilayah cukup strategis dekat area pertokoan dan perniagaan. Lahan tidak jauh dari tempat-tempat penting seperti sekolah, pusat perbelanjaan, arena olahraga.
Lokasi tapak di Way Halim Permai, kecamatan Way Halim
Posisi Way Halim di peta Bandar Lampung
Letak Bandar Lampung pada peta Provinsi Lampung
Berdasarkan ketentuan dari Peraturan Daerah Provinsi Lampung No. 21 Tahun 2014 Tentang Bangunan Gedung, Koefisien dasar bangunan/ KDB di daerah ini sebesar 60%. Artinya luas maksimal footprint di lahan ini sebesar 9000 m2. Karena lokasi berada diantara lahan hutan kota maka luas tapak perlu dibatasi. Sedangkan untuk garis sempadan bangunan tidak berlaku pada lahan ini karena lahan berada diantara lahan kosong dan jauh dari sisi jalan. Namun, karena lokasi
17 di sekitar hutan kota maka perlu adanya keselarasan dengan memberikan batas/sempadan disisi lahan. Sedangkan peraturan untuk KDH minimum 30% dan perlu diperbanyak sehingga lahan penghijauan dan fungsi asli lahan terjaga.
3.2.1. Akses Masuk Proyek
Gambar 3. 2 Peta Jaringan Jalan Sekitar Tapak dan Titik Pertemuan Kendaraan
Pemilihan akses masuk berdasarkan analisis akses dan sirkulasi jalan sekitar. Area hutan kota dapat dimasuki melalui 3 akses/ yaitu jalan Bypass Soekarno-Hatta, jalan Way Halim, dan jalan Letjen Alamsyah. Dari ketiga jalan ini berdasarkan peraturan RTRW kota Bandar Lampung, jalan Bypass Soekarno-Hatta merupakan jalan arteri primer sehingga lalu lintas jalan cukup padat, banyak kendaraan besar pengangkut logistik pada jalan ini. Sedangkan jalan Sultan Agung dan jalan Letjen Alamsyah adalah jalan kolektor sekunder merupakan sehingga lalu lintas pada jalan relatif lebih lengang. Namun, akses dari jalan Sultan Agung dilalui pertemuan jalan dekat flyover dan akses masuk transmart sehingga rentan menimbulkan kemacetan kedepannya. Oleh karena itu, akses jalan masuk dipilih melalui jalan Letjen Alamsyah karena mudah diakses dan cukup aman di akses untuk anak remaja.
18
3.2.2. Cuaca dan Iklim
Gambar 3. 3 Peta Arah Angin Sumber : Windfinder.com
Berdasarkan data yang diperoleh dari website windfinder pada 20 juli 2020 kecepatan angin rata-rata sekitar 3 knots atau 1.3 m/s. Arah angin dominan berasal dari selatan menuju ke utara. Dengan kondisi iklim tropis dan letak geografis lokasi maka dipertimbangkan massa bangunan tidak begitu tebal sirkulasi angin dapat menyebar ke seluruh ruang. Menurut Data online dari Stasiun Meteorologi Maritim Panjang lama penyinaran matahari rata-rata selama 2.5 – 3 jam dengan suhu maksimal rata-rata 33 derajat celcius. Massa diusahakan memanjang dari barat ke timur untuk mengurangi paparan sinar matahari. Selain itu, untuk mengurangi paparan panas sinar matahari diusahakan memperbanyak vegetasi dan memasang secondary skin.
19
3.2.3. Vegetasi
Gambar 3. 4 Peta Vegetasi
Vegetasi di dalam lahan cukup bervariasi dengan dominasi semak-semak belukar (untuk area kuning) dan pepohonan akasia yang rindang (area hijau). Pepohonan di dalam sebagian besar didominasi pohon akasia. Jenis akasia di lahan ini tidak bertajuk lebar dengan tinggi sekitar 4 – 7meter. Beberapa tanaman lain di dalam tapak terdapat tanaman yang mudah tumbuh dan palawija seperti pohon pisang dan singkong. Beberapa vegetasi seperti pohon besar akasia dapat dimanfaatkan agar suasana hutan dapat terjaga dan menyatu dengan area gelanggang remaja. Pada area barat dan beberapa bagian tengah lahan ditumbuhi semak ilalang. Tanaman yang tidak perlu dipertahankan seperti tanaman palawija dan semak ilalang akan dihilangkan dan diganti dengan tanaman baru yang lebih teduh. Situasi sekitar bangunan gelanggang remaja yang masih berupa hutan dan lahan kosong memiliki nilai positif namun juga patut diwaspadai karena faktor keamanan anak-anak remaja yang perlu pantauan.
20
3.2.4. Aspek Visual
Gambar 3. 5 Peta Gambaran Visual di Lahan Proyek
Visual menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk bangunan dan bukaan. Pemandangan dari arah dalam didominasi dengan pohon-pohon kearah utara dan timur. Pemandangan ke arah barat dan selatan banyak ilalang dan pohon dari kejauhan. Terkadang latar belakang siluet Gunung Betung terlihat dari arah barat saat sore hari. Pemandangan ini memiliki nilai yang positif memberikan suasana/sequence untuk pengguna. Sedangkan pemandangan menuju tenggara terdapat beberapa bangunan dari Auto 2000. Terdapat bangunan arah barat laut merupakan pusat perbelanjaan yang membelakangi lahan. Pemandangan ini kurang bagus untuk diperlihatkan sehingga perlu dipertimbangkan meminimalkan visual yang diperlihatkan kearah ini.