• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA ANOMALI BOUGUER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA ANOMALI BOUGUER"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PENGOLAHAN DAN ANALISA ANOMALI BOUGUER

Tahapan pengolahan data gaya berat pada daerah Luwuk, Sulawesi Tengah dapat ditunjukkan dalam diagram alir (Gambar 4.1). Tahapan pertama yang dilakukan adalah pengolahan data complete bouguer anomaly (CBA) yang didapat dari data lapangan. Tahapan berikutnya dilakukan pengkonturan nilai CBA sehingga dapat dilakukan analisa secara regional. Tahapan terakhir adalah pemodelan kedepan lintasan tertentu dan interpretasi model yang didapat.

(2)

Seperti terlihat pada diagram alir untuk membantu interpretasi pemodelan anomali Bouguer dilakukan analisa second horizontal derivative dan analisa spektrum.

4.1 ANOMALI BOUGUER

Tujuan utama dari pengolahan data gaya berat adalah mendapatkan nilai complete

bouguer anomaly (CBA). Data yang didapatkan sudah berupa nilai CBA yang

artinya faktor-faktor yang mempengaruhi pembacaan nilai gaya berat pada alat telah dikoreksi. Faktor tersebut antara lain faktor elevasi, faktor apungan (drift) dan faktor koreksi spheroid-geoid.

Setelah tahapan pengkoreksian dilakukan, tahapan selanjutnya adalah penentuan rapat massa yang akan digunakan. Metoda estimasi rapat massa yang digunakan adalah metoda Nettleton. Lintasan yang digunakan dalam penentuan rapat massa dengan metoda Nettleton adalah lintasan B-B’ seperti dapat dilihat pada Gambar 4.6. Pada metoda Nettleton penentuan rapat massa ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. Penentuan secara kualitatif diberikan pada Gambar 4.4 dan dilakukan dengan cara melihat secara visual perbandingan grafik stasiun terhadap elevasi, stasiun terhadap gobs dan melihat perbandingan antara nilai-nilai CBA yang dihasilkan dari beberapa nilai rapat massa dari satu stasiun yang sama. Stasiun yang dipilih dalam estimasi rapat massa ini adalah lintasan B-B’ yang mempunyai perbedaan elevasi yang besar atau di dalam satu lintasan topografinya bervariasi. Selain itu, secara kuantitatif estimasi rapat massa permukaan dapat ditentukan dengan menerapkan korelasi silang antara perubahan elevasi terhadap suatu referensi tertentu dengan anomali gaya beratnya. Rapat massa terbaik diberikan oleh harga korelasi silang terkecil.

(3)

korelasi dari masing-masing rapat massa untuk menentukan secara kuantitatif nilai rapat massa rata-rata yang digunakan.

Gobs vs STASIUN 977975.000 977980.000 977985.000 977990.000 977995.000 978000.000 978005.000 978010.000 978015.000 978020.000 978025.000 978030.000 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 (mGal) (stasiun)

Gambar 4.2 Grafik antara Gobs dan stasiun pengukuran

ELEVASI vs STASIUN 0 50 100 150 200 250 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 (meter) (stasiun)

(4)

CBA vs STASIUN -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2,4 2,3 2,2 2,1 2 1,9 (mGal) (stasiun)

Gambar 4.4 Grafik perbandingan beberapa rapat massa

Hubungan Nilai Korelasi dan Densitas

1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 -0.015 -0.01 -0.005 0 0.005 0.01 0.015 1.7 1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 (korelasi) (ρ)

Gambar 4.5 Grafik nilai Korelasi Tabel 1 Korelasi dan Densitas

(5)

Dari grafik dan tabel perhitungan diatas, nilai korelasi terkecil terdapat pada nilai rapat massa 2,2 gr/cm3. Nilai tersebut adalah nilai rapat massa yang mewakili rapat massa pada daerah penelitian. Nilai tersebut cocok dengan nilai rapat massa yang telah digunakan untuk menghitung nilai CBA.

4.1.1 Analisa Anomali Bouguer

Harga anomali Bouguer pada peta kontur anomali Bouguer (Gambar 4.7) bervariasi antara -25 mGal s.d. 82 mGal dengan skala biru tua s.d. merah tua. Dengan kontur anomali yang bernilai rendah berada di daerah Selatan Kabupaten Luwuk dan kontur anomali yang bernilai tinggi berada di daerah Utara. Dari peta kontur anomali Bouguer kita dapat melihat dua jalur anomali gaya berat.

Utara

Nilai anomali Bouguer di daerah ini berkisar antara +20 mGal s.d. +80 mGal. Dengan topografi daerah sekitar berupa perbukitan

Selatan

Nilai anomali Bouguer di daerah Selatan berkisar antara -10 mGal s.d. +20 mGal. Dengan topografi daerah sekitar perbukitan diselingi pegunungan dan dataran rendah.

Dari peta kontur anomali Bouguer (Gambar 4.7) dapat kita lihat pola kontur anomali yang bersifat rapat di daerah Utara dengan nilai anomali yang lebih tinggi daripada daerah Selatan. Bagian Selatan daerah penelitian mempunyai nilai anomali yang relatif rendah dan mempunyai kontur yang cenderung renggang, pola kontur anomali ini menunjukkan pola batuan dasar yang semakin mendangkal ke arah Utara daerah penelitian. Pola kemiringan batuan dasar berarah Selatan jika melihat pola kontur anomali Bouguer pada daerah penelitian.

(6)

Selain itu, perubahan anomali dari Selatan ke Utara yang bernilai rendah ke tinggi juga disebabkan karena berubahnya mendala geologi. Pada daerah Selatan batuan penyusunnya didominasi oleh batuan sedimen, sehingga anomalinya relatif lebih rendah terhadap daerah Utara penelitian yang didominasi oleh mendala Sulawesi Timur.

Peta Anomali Bouguer juga menunjukkan adanya daerah yang mempunyai anomali negatif berarah Barat-Timur. Daerah anomali negatif ini kemungkinan menunjukkan melengkungnya pola batuan dasar sehingga berbentuk ”U”. Kemungkinan kelengkungan ini disebabkan oleh aktifitas tektonik daerah kompresi.

nilai anomali tinggi dan rendah dipisahkan oleh suatu garis horisontal di daerah tengah, yang kemungkinan menunjukkan sesar Poh yang membelah daerah Luwuk.

Gambar 4.6 Peta Geologi dan titik-titik pengamatan

0 2 4 6 8 10 kilometer

(7)
(8)

4.2 ANALISA SPEKTRUM

Analisa spektrum dilakukan untuk mendapatkan estimasi kedalaman anomali gaya berat. Analisa spektrum ini dilakukan dengan metoda transformasi Fourier pada lintasan A-A’, C-C’ dan D-D’ (Gambar 4.6). Dari grafik antara Ln A (Amplitudo) dengan k (bilangan gelombang) dan persamaan (3.4-5) didapatkan estimasi kedalaman anomali dari gradien masing-masing spektrum.

Dari hasil analisa spektrum dapat kita lihat bahwa penyebab anomali residual berada pada kedalaman sekitar 100 meter pada lintasan A-A’, sedangkan anomali regionalnya berkisar pada kedalaman 700 meter (Gambar 4.8). Lintasan C-C’ estimasi kedalaman penyebab anomali residual terdapat pada kedalaman kurang lebih 450 meter dan kedalaman anomali regionalnya 2500 meter (Gambar 4.9). Lintasan D-D’ penyebab anomali residual diperkirakan pada kedalaman 500 meter dengan anomali regionalnya berkisar pada kedalaman 2700 meter (Gambar 4.10).

4.2.1 Lintasan A-A’

Berikut ini adalah hasil dari analisa spektrum yang menunjukkan grafik antara Ln A dan K pada lintasan A-A’ (Gambar 4.8).

Ln A vs k 0.0000 1.0000 2.0000 3.0000 4.0000 5.0000 6.0000 0.0000 0.0050 0.0100 0.0150 0.0200 0.0250 0.0300 0.0350 k Ln A regional Z = 700 meter Z = 100 meter Z = 20 meter noise residual

(9)

Dari hasil analisa spektrum dapat kita lihat bahwa penyebab anomali residual berada pada kedalaman sekitar 100 meter dan anomal regionalnya pada kedalaman 700 meter. Nilai kedalaman ini diturunkan dari Persamaan 3.4-5. penentuan zona ini didasarkan kriteria grafik perbandingan antara Ln A dengan K (Gambar 3.7).

4.2.2 Lintasan C-C’

Berikut ini adalah hasil dari analisa spektrum yang menunjukkan grafik antara Ln A dan K pada lintasan B-B’ (Gambar 4.9).

Ln A vs K -3.0 -2.0 -1.0 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 0.0000 0.0050 0.0100 0.0150 0.0200 0.0250 0.0300 0.0350 k Ln A noise residual regional Z = 50 meter Z = 500 meter Z = 2500 meter

Gambar 4.9 Pembagian zona anomali lintasan C-C’

Hasil analisa spektrum juga menunjukkan hasil yang relatif sama dengan lintasan A-A’ yaitu dapat kita perkirakan kedalaman penyebab anomali residual terdapat pada kedalaman kurang lebih 450 meter, sedangkan perkiraan kedalaman penyebab anomali regionalnya 2500 meter.

4.2.3 Lintasan D-D’

(10)

Ln A vs K -1 0 1 2 3 4 5 6 7 0.000 0.005 0.010 0.0 0.020 0.025 0.030 0.035 k Ln A 15 regional noise Z = 2600 meter residual Z = 500 meter Z = 20 meter

Gambar 4.10 Pembagian zona anomali lintasan D-D’

Gambar 4.10 menunjukkan zona anomali regional, residual dan noise pada lintasan D-D’ dengan penyebab anomali residual diperkirakan pada kedalaman 500 meter dan anomali regionalnya berada pada kedalaman 2600 meter.

4.3 KRITERIA ANOMALI NEGATIF

Untuk penentuan kriteria anomali negatif dilakukan dengan analisa metoda second

horizontal derivative, analisa dilakukan pada stasiun yang sama (A-A’, C-C’, D-D’).

(11)

4.3.1 Analisa Second Horizontal Derivative

Pada lintasan A-A’, C-C’ dan D-D’ dilakukan analisa second horizontal derivative (SHD) untuk menentukan struktur yang menyebabkan anomali negatif. Analisa SHD dilakukan dengan menggunakan Persamaan 3.5-2 pada spasi yang sama dengan spasi pengukuran data yaitu 100 meter. Analisa turunan kedua ini hanya dilakukan pada anomali yang bernilai negatif pada masing-masing lintasan (Gambar 4.11, Gambar 4.12 dan Gambar 4.13). Turunan kedua yang didapatkan kemudian diperbandingkan nilai maksimum dan nilai minimumnya untuk mendapatkan struktur yang menyebabkan munculnya anomali negatif sesuai dengan Persamaan 3.5-3 dan Persamaan 3.5-4. -1 0.2 9 -9 .5 2 -8 .8 1 -8 .4 3-8 .2 1-8 .03-7 .9 7 -6 .6 8 -6 .07-5 .8 6 -5 .1 1-5 .05 -4 .7 5 -4 .2 5 -2 .9 5-2 .9 0 -2 .8 5-2 .8 0 -2 .2 2-1 .9 9 -1 .5 6 -0.8 4-0.5 3-0.5 0-0.3 7 0.030.2 9 1 .3 81 .4 01 .4 8 1 .8 22 .1 02 .1 42 .2 0 3 .4 3 4 .2 7 3 .9 93 .9 0 2 .9 6 2 .6 62 .6 0 2 .2 52 .2 0 1 .9 6 1 .1 91 .1 01 .050.8 80.8 00.7 50.7 00.6 5 0.1 6 -0.2 0-0.2 5 -0.3 1-0.3 5-0.4 0-0.5 2 -1 .4 5-1 .5 0-1 .4 7-1 .4 5-1 .4 4-1 .4 3-1 .2 1 -0.5 4 0.3 5 1 .1 01 .1 6 1 .5 51 .6 0 2 .2 02 .2 7 2 .6 1 3 .1 1 4 .4 74 .5 04 .6 94 .8 0 6 .1 3 6 .9 0 8 .4 8 9 .039 .03 1 0.031 0.031 0.1 2 1 0.3 2 1 0.6 1 1 1 .011 1 .2 31 1 .3 01 1 .3 5 -15.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 0 3000 6000 9000 12000 meter mG al

(12)

y = 8E-16x4 - 3E-11x3 + 3E-0 7x2 - 0 .0 0 21x + 11.544 R2 = 0 .962 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 0 5000 10000 15000 20000 25000 meter mG al

Gambar 4.12 Lokasi anomali negatif yang dianalisa pada lintasan C-C’

-15 -10 -5 0 5 10 15 0 5000 10000 15000 20000 meter mG al

(13)

Hasil dari analisa SHD ditunjukkan dalam tabel berikut :

Tabel 3 Nilai turunan kedua tiap lintasan

Lintasan d2g/dx2 maksimum d2g/dx2 minimum

A-A’ 0.000909 -0.001607

C-C’ 0.000169 -0.000178

D-D’ 0.003968 -0.006470

Dari Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa lintasan yang dipilih (A-A’, C-C’ dan D-D’) mempunyai respon yang sama. Dengan nilai perbandingan second horizontal

derivative-nya sebagai berikut :

min max 2 2 dx g d dx g d2 < 2

Hasil tersebut menunjukkan bahwa anomali negatif pada ketiga lintasan tersebut adalah sedimentary basin atau cekungan sedimen.

(14)

Pada lintasan A-A’, turunan kedua horizontal menunjukkan dua sesar naik (Lampiran A-D) dan satu batas lapisan yang dapat menunjukkan struktur cekungan (Lampiran E-F). Pembuktian struktur sesuai dengan persamaan (3.5-3) dan (3.5-4) yang menganalisa struktur dengan membandingkan nilai maksimum dan minimum turunan kedua horisontal dari anomali gayaberat.

Lintasan C-C’ struktur sesar naik ditunjukkan turunan kedua minimumnya lebih kecil dari turunan kedua maksimum (Lampiran G-L). Batas lapisan yang dapat menunjukkan struktur cekungan dapat dibuktikan dengan turunan kedua maksimumnya lebih kecil dari turunan kedua minimumnya (Lampiran M-N).

(15)

4.3.2 Pola Anomali Negatif

Anomali negatif seperti terlihat pada Gambar 4.14 terdapat pada bagian Selatan daerah penelitian. Anomali negatif tersebut mempunyai nilai antara 0 s.d. -11mGal dengan pola penyebarannya berbentuk menyerupai cekungan atau lembah. Sehingga anomali negatif disebabkan oleh adanya suatu sedimentary basin pada daerah tersebut. Sehingga dapat diperkirakan suatu pola cekungan yang terdapat di daerah penelitian yang ditunjukkan oleh Gambar 4.14.

(mGal)

U

0 2 4 6 8 10

Gambar 4.14 Perkiraan Pola Cekungan

(16)

4.4 PEMODELAN

Untuk melakukan interpretasi struktur bawah permukaan pada daerah penelitian, dilakukan pemodelan kedepan. Pemodelan dilakukan dengan memodelkan nilai anomali Bouguer dari tiga penampang yang mewakili daerah penelitian. Penggunaan anomali Bouguer didasarkan bahwa anomali Bouguer mencakup semua anomali yang terakumulasi di permukaan bumi, baik yang bersifat dangkal maupun dalam. Dari masing-masing penampang dilakukan pemodelan kedepan dengan menggunakan software Grav2DC.

Informasi ketebalan batuan didapatkan dari perkiraan yang dilakukan oleh (Rusmana, 1993). Sedangkan kisaran densitas yang dapat digunakan dan diperkirakan dalam pemodelan menggunakan Tabel 2 (Telford, 2000). Untuk mendapatkan struktur bawah permukaan yang sesuai dengan keadaan sesungguhnya, maka dilakukan juga analisa second horizontal derivative dan analisa spektrum.

Tabel 2 Kontras densitas yang digunakan dalam pemodelan (data dari Telford, 1990)

Formasi Estimasi Densitas (gr/cm3) Kontras Densitas

Terumbu Koral Kuarter 1.9 -0.3

Kintom 2.0 -0.2 Salodik 2.1 -0.1 Nanaka 2.35 0.15 Nambo 2.5 0.3 Meluhu 2.75 0.55 Basement 2.8 0.6

(17)

juga dengan arah lintasan dari Selatan ke Utara. Berikut adalah penampang dua dimensi dari masing-masing lintasan yang telah dimodelkan :

4.4.1 Lintasan A-A’

Gambar 4.15 Model dua dimensi lintasan A-A'

Lintasan A-A’ mempunyai panjang lintasan 9300 meter dengan kedalaman pemodelan mencapai kedalaman 4000 meter. Hasil pemodelan menunjukkan terjadinya lipatan lemah bersudut kurang dari 25o. Anomali negatif dari lintasan A-A’ dimodelkan sebagai akibat adanya penebalan lapisan sedimen. Sedangkan pola kemiringan batuan disesuaikan dengan arah dip pada peta geologi (Gambar 4.6). Didasarkan peta geologi dan tataan stratigrafi mendala Banggai-Sula maka

Terumbu Koral Formasi

(18)

pemodelan memperlihatkan ada tujuh lapisan batuan atau formasi. Lapisan pertama berwarna biru muda merupakan Terumbu Koral Kuarter dengan tebal lapisan mencapai 400 meter. Lapisan kedua berwarna hijau muda merupakan formasi Kintom dengan ketebalan mencapai 1500 meter. Lapisan ketiga berwarna biru tua adalah formasi Salodik dengan ketebalan mencapai 1200 meter. Lapisan keempat berwarna kuning adalah formasi Nanaka, ketebalannya mencapai 800 meter. Lapisan kelima berwarna coklat muda merupakan formasi Nambo dengan ketebalan formasi mencapai 300 meter. Lapisan keenam berwarna coklat tua adalah formasi Meluhu dengan ketebalan 750 meter. Lapisan paling bawah adalah basement yang berwarna merah.

(19)

9 4.4.2 Lintasan C-C’

Gambar 4.16 Model dua dimensi lintasan C-C’

(20)

Lintasan C-C’ mempunyai panjang lintasan 18900 meter dengan kedalaman pemodelan mencapai kedalaman 5000 meter. Hasil pemodelan menunjukkan terjadinya lipatan lemah bersudut kurang dari 25o. selain itu, terdapat sesar yang diinterpretasikan sebagai sesar naik berumur Jura. Anomali negatif dari lintasan C-C’ dimodelkan sebagai akibat adanya penebalan lapisan sedimen. Pola kemiringan batuan disesuaikan dengan arah dip pada peta geologi (Gambar 4.6). Didasarkan peta geologi dan tataan stratigrafi mendala Banggai-Sula maka pemodelan memperlihatkan ada enam lapisan batuan atau formasi. Dibandingkan dengan lintasan sebelumnya di lintasan ini tidak ditemukan formasi Kintom.

Lapisan pertama berwarna biru muda merupakan Terumbu Koral Kuarter dengan tebal lapisan mencapai 400 meter. Lapisan ketiga berwarna biru tua adalah formasi Salodik dengan ketebalan mencapai 1200 meter. Lapisan keempat berwarna kuning adalah formasi Nanaka, ketebalannya mencapai 800 meter. Lapisan kelima berwarna coklatmuda merupakan formasi Nambo dengan ketebalan formasi mencapai 300 meter. Lapisan keenam berwarna coklat tua adalah formasi Meluhu dengan ketebalan 750 meter. Lapisan paling bawah adalah basement yang berwarna merah.

(21)

4.4.3 Lintasan D-D’

Gambar 4.17 Model dua dimensi lintasan D-D’

(22)

48 Lintasan C-C’ mempunyai panjang lintasan 22500 meter dengan kedalaman pemodelan mencapai kedalaman 4000 meter. Hasil pemodelan menunjukkan terjadinya lipatan lemah bersudut kurang dari 25 . Anomali negatif dari lintasan D-D’ dimodelkan sebagai akibat adanya penebalan lapisan sedimen. Sedangkan pola kemiringan batuan disesuaikan dengan arah dip pada peta geologi (Gambar 4.6). Didasarkan peta geologi dan tataan stratigrafi mendala Banggai-Sula maka pemodelan memperlihatkan ada tujuh lapisan batuan atau formasi. Lapisan pertama berwarna biru muda merupakan Terumbu Koral Kuarter dengan tebal lapisan mencapai 400 meter. Lapisan kedua berwarna hijau muda merupakan formasi Kintom dengan ketebalan mencapai 1500 meter. Lapisan ketiga berwarna biru tua adalah formasi Salodik dengan ketebalan mencapai 1200 meter. Lapisan keempat berwarna kuning adalah formasi Nanaka, ketebalannya mencapai 800 meter. Lapisan kelima berwarna coklat muda merupakan formasi Nambo dengan ketebalan formasi mencapai 300 meter. Lapisan keenam berwarna coklat tua adalah formasi Meluhu dengan ketebalan 750 meter. Lapisan paling bawah adalah

o

basement yang berwarna

merah.

Hasil analisa spektrum untuk memperkirakan kedalaman sumber anomali regional menunjukkan sumber anomali berada pada kedalaman 2600 meter, ini menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan lintasan C-C’, dimana sumber anomalinya adalah Formasi Nambo, Nanaka dan Meluhu beserta struktur sesarnya. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada kedalaman sumber anomali residual 500 meter, yang disebabkan oleh Formasi Salodik.

4.5 ANALISA PETROLEUM SYSTEM

(23)

49 Poh. Kemungkinan adanya sumber hidrokarbon didasarkan atas adanya persamaan mendala geologi daerah Batui dengan daerah Luwuk.

Syarat terdapatnya cadangan hidrokarbon adalah adanya petroleum system yang terdiri dari batuan induk, batuan reservoir dan batuan tudung. Selain itu, juga adanya perangkap hidrokarbon baik yang bersifat perangkap struktur maupun perangkap stratigrafi.

4.5.1 Batuan Induk

Batuan induk adalah batuan yang menghasilkan hidrokarbon. Batuan ini harus mempunyai kadar organik yang tinggi.Napal dan napal pasiran yang merupakan bagian dari Formasi Nambo yang berumur Jura dimungkinkan sebagai batuan induk. Karena formasi Nambo mengandung banyak fosil Belemnit dan Innoceramus dengan lingkungan pengendapannya yaitu laut dangkal.

4.5.2 Batuan Reservoir

Batuan reservoir mempunyai syarat memiliki porositas dan permeabilitas yang tinggi. Batuan reservoir diperkirakan batuan sedimen berumur Mesozoikum (Rusmana, 1993). Formasi Salodik merupakan batuan sedimen yang memenuhi syarat sebagai batuan reservoir.

Bagian dari formasi Salodik yang mempunyai porositas tinggi dan menjadi batuan reservoir adalah Minahaki (Upper Platform Limestone Unit) dan Tomori (Lower

Platform Limestone Unit) (Pane, 1996). Minahaki tersusun dari batu gamping poros

(24)

50

4.5.3 Batuan Tudung

Batuan Tudung syarat utamanya adalah mempunyai permeabilitas rendah. Dalam tataan Stratigrafi Banggai –Sula formasi yang memenuhi persyaratan ini adalah formasi Kintom dan bagian dari formasi Salodik yaitu Matindok (Middle Platform

Limestone Unit). Formasi Kintom mempunyai lapisan napal di bagian bawahnya,

yang merupakan batuan tudung yang baik untuk batuan reservoir Minahaki (Upper

Platform Limestone Unit). Sedangkan Matindok (Middle Platform Limestone Unit)

yang tersusun dari batu lempung menjadi batuan tudung untuk reservoir Tomori (Lower Platform Limestone Unit).

4.5.4 Perangkap Hidrokarbon

Perangkap hidrokarbon adalah hambatan bawah permukaan yang menghalangi proses migrasi hidrokarbon ke permukaan, terdapat dua kemungkinan perangkap di dalam daerah penelitian, yaitu :

¾ Perangkap Struktur :

Perangkap ini terdapat pada antiklin bersudut lemah yang terdapat di daerah penelitian. Perangkap ini akan tersusun dengan formasi Kintom sebagai batuan tudung dan Minahaki (Upper Platform Limestone Unit) sebagai batuan reservoir-nya.

¾ Perangkap Stratigrafi :

(25)

51

4.5.5 Petroleum System

4.5.5.1 Lintasan A-A’

Lintasan A-A’ yang melalui daerah Bunga Timur mempunyai potensi terdapatnya kandungan hidrokarbon, karena terpenuhinya petroleum system seperti terlihat pada pemodelan lintasan A-A’ (Gambar 4.15). Batuan induk diperkirakan adalah formasi Nambo yang mempunyai banyak kandungan fosil. Sedangkan yang bertindak sebagai batuan reservoir adalah formasi Salodik baik bagian bawah (Tomori/Lower

Platform Limestone Unit) atau bagian atasnya (Minahaki/Upper Platform Limestone Unit) yang keduanya merupakan batuan gamping dengan porositas yang baik.

Sedangkan seal (batuan tudung) adalah bagian tengah formasi Salodik (Matindok/Middle Platform Limestone Unit) dan formasi Kintom yang keduanya berupa lapisan napal. Pemodelan lintasan A-A’ (Gambar 4.15) menunjukkan perangkap hidrokarbon dimungkinkan adalah perangkap struktur untuk reservoir Minahaki dan kombinasi dari perangkap struktur dan perangkap stratigrafi untuk

reservoir Tomori.

4.5.5.2 Lintasan C-C’ dan D-D’

Lintasan C-C’ dan D-D’ mempunyai kemiripan hasil, dapat kita lihat pada perbandingannya pada model masing-masing lintasan (Gambar 4.16 dan Gambar 4.17). Pada kedua lintasan kita dapat temukan lapisan yang berfungsi sebagai batuan induk (formasi Nambo) dan lapisan yang berfungsi sebagai batuan reservoir yaitu formasi Salodik baik yang berada pada bagian atas (Minahaki/Upper Platform

Limestone Unit) atau bagian bawah (Tomori/Lower Platform Limestone Unit).

(26)

52 teridentifikasi pada model lintasan C-C’ (Gambar 4.16). Sehingga potensi kandungan hidrokarbon pada lintasan yang melintasi daerah Mantok cukup kecil kemungkinannya. Selain itu, formasi Salodik yang berfungsi sebagai reservoir keberadaannya tersingkap secara luas di permukaan, ini tentu menyebabkan hidrokarbon tidak dapat terakumulasi.

Gambar

Gambar 4.1 Diagram alir pengolahan data
Gambar 4.2 Grafik antara Gobs dan stasiun pengukuran
Gambar 4.4 Grafik perbandingan beberapa rapat massa
Gambar 4.6 Peta Geologi dan titik-titik pengamatan     0 2 4 6 8 10
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisa pada Tabel 4.15 dibutuhkan 1 petak parkir kendaraan roda empat untuk 2 buah tempat tidur dan 1 petak parkir kendaraan roda dua untuk 2 buah tempat tidur..

dibandingkan dengan jumlah anomali pada lintasan-lintasan sebelumnya. Hasil Filter Karous-Hjelt ini selanjutnya dicocokkan dengan hasil inversi.. Pada kedalaman 0-5 meter

Gambar 4.3 menunjukkan bahwa, hasil reduksi ke kutub dari anomali regional terdapat fitur anomali magnetik tinggi yang terdapat di dekat titik semburan gas dengan rentang

Selain itu, dari hasil analisa gerusan dasar sungai didapat kedalaman gerusan &gt; kedalaman pondasi yang akan berdampak pada kerusakan /ambrol pada pilar. Jadi, dari

Sedangkan pada gambar 11 terlihat analisa power spektrum lintasan VV’ dan didapatkan kedalaman bidang batas regional 4765.8m, sedikit lebih dalam dari harga

Dari 3 metode yang diproses untuk analisa anomali tersebut didapat bahwa kontur kedalaman dari reflektor 1 berada pada interval 6 – 11m di bawah permukaan laut dan letak

Gambar 4.3 menunjukkan bahwa, hasil reduksi ke kutub dari anomali regional terdapat fitur anomali magnetik tinggi yang terdapat di dekat titik semburan gas dengan rentang

Gambar 4.4 Analisa Sirkulasi Kegiatan Pasien, Petugas dan Alat Pada Instalasi Rawat Inap Sumber : Hasil Analisis, 2013.. Analisa Alur Kegiatan Pada