POLITIK PEMBANGUNAN KABUPATEN LAYAK ANAK (KLA) DI KABUPATEN LANGKAT SKRIPSI. Oleh JUARI

221  Download (0)

Teks penuh

(1)

POLITIK PEMBANGUNAN KABUPATEN LAYAK ANAK (KLA) DI KABUPATEN LANGKAT

SKRIPSI

Oleh JUARI 150906008

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

JUARI (150906008)

POLITIK PEMBANGUNAN KABUPATEN LAYAK ANAK (KLA) DI KABUPATEN LANGKAT

Rincian isi skripsi: 150 Halaman, 2 tabel, 13 Buku, 2 jurnal, 4 berita online, 5 situs resmi, Regulasi: 5 (Kisaran buku dari tahun 1987-2016).

ABSTRAK

Pembangunan yang dilakukan suatu negara tidak terlepas dari pengaruh politik. Hal ini disebabkan politik sangat menentukan proses dari pembangunan yang betujuan untuk tercapainya kehidupan suatu negara yang lebih baik. Oleh sebab itu, terciptanya suatu porgram pembangunan di suatu negara yang pada akhirnya muncul suatu kebijakan bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi di negara tersebut.

Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) adalah: Sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program, dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Politik Pembangunan Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Langkat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan pengumpulan data primer berupa wawancara dan observasi dilapangan, dan pengumpulan data sekunder berupa dokumentasi dan studi kepustakaan. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dimana informan dalam penelitian terdiri dari leading sector KLA yaitu Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat, Tim Gugus Tugas KLA Kabupaten Langkat, LSM/NGO, tokoh pemuda dan masyarakat.

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa Program Pembangunan KLA di Kabupaten Langkat mulai dilaksanakan semenjak kedatangan Ibu Menteri PPPA pada tahun 2010 dan pelaksanaannya hingga saat ini sudah mulai mengalami peningkatan karena Langkat baru saja meraih penghargaan KLA di Tahun 2019. Startegi Politik Pembangunannya KLA di Kabupaten Langkat juga menerapkan pendekatan campuran dimana melibatkan seluruh elemen masyarakat dan LSM, seperti adanya PATBM, Forum Anak dan P2TP2A. Hanya saja perlu ditingkatkan lagi mengenai advokasi dan sosialisasi kepada jajaran OPD Pemerintah Kabupaten Langkat yang tergabung dalam gugus tugas KLA, masyarakat dan pelaku dunia usaha. Kemudian perlu peningkatan dalam segi anggaran sehingga program pembangunan tersebut bisa terlaksana dengan optimal.

Kata Kunci: Politik Pembangunan, Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)

(3)

UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE

JUARI (150906008)

POLITICAL DEVELOPMENT OF CHILD-FRIENDLY DISTRICTS (KLA) IN LANGKAT REGENCY

Descriptions: 150 pages, 2 table, 13 books, 2 journals, 4 online news, 5 official sites, 5 Laws (The range of books from year 1987-2016).

ABSTRACT

Development carried out by a country is inseparable from political influence. This is because politics determines the process of development in order to achieve a better state of life. therefore, the creation of a development program in a country which ultimately emerges a policy aimed at resolving a problem faced in that country.

Child-friendly districts/cities (KLA) are: Regency/city development systems that integrate the commitment and resources of the government, the community, and the business world that are planned in a comprehensive and sustainable manner in policies, programs and activities for the fulfillment of rights.

This study aims to find out how the politics of district development is appropriate for children in Langkat Regency. The method used in this research is descriptive method with a qualitative approach. data collection techniques by collecting primary data in the form of interviews and observations in the field, and secondary data collection in the form of documentation and study of literature.

The determination of informants and this study used a purposive sampling technique in which the informants in the study consisted of the KLA Leading Sector namely the PPKB Office and PPA Langkat Regency, the Langkat District Task Force Team, LSM/NGO, youth leaders and the community.

Based on the conclusions from the results, it was concluded that the KLA development program in Langkat Regency began to be implemented, sir, since the arrival of the PPPA minister's mother in 2010 and its implementation has since begun to increase because Langkat had just won the KLA award in 2019. The political strategy of the KLA development in Langkat Regency it is also a mixed approach which involves all elements of society and NGOs, such as the existence of the PATBM children's forum and P2TP2A. it just needs to be improved more about advocacy and outreach to the Langkat District Government of Langkat Regency who are members of the KLA task force, the community and business actors. Then Need to increase in terms of the budget so that the development program can be implemented optimally.

Keywords: Politics Development, Child-friendly districts/cities (KLA)

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat, Nikmat, Hidayah dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Politik Pembangunan Kabupaten Layak Anak (KLA) di Kabupaten Langkat”. Adapun penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan di Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Politik. Semoga Rahmat dan Karunia dari Allah SWT selalu mengalir dan menyertai penulis dalam menyempurnakan karya ilmiah ini.

Pada kesempatan ini, penulis akan mempersembahkan skripsi ini kepada orang tua penulis ayahanda Sugito dan Ibunda Siti Sania yang tiada henti untuk memberikan semangat dan motivasi kepada penulis. Terima kasih untuk doa, kasih sayang, nasehat, kerja keras yang kalian berikan untuk membesarkan dan mendidik penulis.

Sebagai suatu karya ilmiah, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan dan pengalaman penulis dalam menyusun karya ilmiah. Oleh karena itu, penulis mengaharapkan adanya kritik maupun saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan dukungan, bantuan, bimbingan, dan semangat dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada kepada:

(5)

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S,sos. M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Warjio, Ph.D selaku Ketua Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai dosen pembimbing saya yang telah banyak memberikan sumbangan pemikiran, masukan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis sehingga sampai selesainya skripsi ini.

3. Bapak Husnul Isa Harahap, S.Sos, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan nasehat dan arahan kepada penulis selama proses perkuliahan.

4. Kepada seluruh dosen-dosen dan staf pegawai Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

5. Terima Kasih kepada Kak Ema dan Pak Burhan yang telah banyak membantu penulis mulai dari awal perkuliahan hingga saat ini.

6. Ibu Dewi Purnama Tarigan, SH selaku Kepala dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian terkait KLA di Kabupaten Langkat.

7. Ibu Mimi Wardani Lubis, S.STP, M.AP selaku Kabid Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Langkat yang telah banyak memberikan arahan, masukan dan membimbing penulis selama menghimpun data dan mengomunikasikan penulis ke beberapa informan.

(6)

8. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kak Juniar Purba S.Psi dan seluruh pegawai di Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat yang telah banyak membantu penulis.

9. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada orang tua penulis yakni penulis ayahanda Sugito, dan Ibunda Siti Sania yang telah mendidik dan membesarkan penulis dengan penuh rasa kasih sayang dan kesabaran. Semoga doa dan restu bapak dan ibu selalu mengiringi dalam setiap langkah penulis.

10. Terima kasih kepada adik perempuan penulis, Nur Fadillah dan Hafiza Aini yang selama ini telah memberikan nasehat, mendoakan penulis dan memberikan dukungan kepada penulis.

11. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh keluarga besar Alm.

Sutinah dan Poniem yang penulis sayangi dan telah memberikan dukungan serta mendoakan penulis

12. Kepada sahabat-sahabat terbaik dan yang penulis sayangi Fitri Handayani, M. Sutriadi dan Agus Syahputra yang telah banyak memberikan motivasi, dan dukungan kepada penulis selama proses penyelesaian Skripsi ini.

13. Terima kasih kepada senioren saya abangda Rizky Fadly Matondang, S.Sos yang telah banyak memberikan motivasi, dukungan kepada penulis selama proses penyelesaian Skripsi ini.

14. Terima kasih kepada Senioren dan Pembimbing saya di Langkat abangda M. Kurnia Amir, S.sosI, S.PdI, MM dan Adi Siswanto S.IP yang telah banyak memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis selama proses penyelesaian Skripsi ini.

(7)

15. Terima kasih kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan di Ilmu Politik FISIP USU 2015 yaitu Nikko, Putra Ansari Ritonga, Yohansen W. Gultom dan Daffa Riyadh Azis karena sudah banyak memberi masukan dan membantu penulis selama masa perkuliahan.

16. Terima kasih kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan di Ilmu Politik FISIP USU Stambuk 2015. Terima Kasih sudah banyak memberi masukan dan membantu penulis selama masa perkuliahan.

17. Kepada seluruh rekan-rekan Pengurus IMADIP Periode 2015 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Terima kasih karena kalian telah banyak membantu penulis selama perkuliahan.

18. Terima kasih kepada rekan- rekan Pengurus Besar dan Pengurus Komisariat Himpunan Mahasiswa Langkat. Terima kasih sudah banyak memberikan nasihat dan semangat kepada penulis.

19. Terima kasih kepada rekan- rekan Pengurus UKMI As-Siyasah FISIP USU dan lingkaran halaqoh. Terima kasih sudah banyak memberikan nasihat dan semangat kepada penulis.

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Semoga Allah memberikan rahmat dan Keridhoan-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal’ Alamin.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Medan, 14 Agustus 2019 Penulis,

Juari

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Abstrak ... i

Kata Pengantar... iii

Daftar Isi ... vii

Daftar Gambar ... ix

Daftar Tabel ... x

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 11

1.3 Batasan Masalah... 11

1.4 Tujuan Penelitian ... 12

1.5 Manfaat Penelitian ... 12

1.6 Kerangka Konseptual ... 13

1.6.1 KonsepPembangunan ... 13

1.6.2 Konsep Kabupaten Layak Anak... 17

1.6.2.1 Pengertian KLA ... 17

1.6.2.2 Tujuan ... 17

1.6.2.3 Dasar/Landasan Hukum KLA ... 18

1.6.2.4 Prinsip, Startegi, dan Ruang Lingkup KLA ... 21

1.6.2.5 Alur Pikir KLA ... 22

1.6.2.6 Langkah-Langkat KLA ... 24

1.7 Kerangka Teori... 31

1.7.1 Teori Politik Pembangunan ... 31

1.7.1.1 Startegi Politik Pembangunan ... 34

1.7.1.2 Aktor Politik Pembangunan ... 37

1.8 Model Penelitian ... 39

1.8.1 Jenis Penelitian ... 40

1.8.2 Lokasi Penelitian ... 40

1.8.3 Informan Penelitian ... 41

1.8.4 Teknik Pengumpulan Data ... 42

1.8.5 Teknik Analisis Data ... 43

1.8.6 Sistematika Penulisan... 43

Bab 2 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 45

2.1 Gambaran Umum Kabupaten Langkat... 45

2.1.1 Letak Geografis ... 45

2.1.2 Wisata, Perindustrian dan Pertambangan ... 46

2.1.3 Penduduk ... 47

2.1.4 Sejarah Singkat Kabupaten Langkat ... 48

2.1.5 Makna dan Arti Logo Kabupaten Langkat... 53

(9)

2.1.6 Visi dan Misi Kabupaten Langkat... 55

2.2 Gambaran Umum Gugus Tugas KLA Kabupaten Langkat ... 56

2.3 Gambaran Umum Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat ... 61

2.3.1 Visi dan Misi Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat ... 62

2.3.2 Kedudukan, Tugas dan Fungsi Dinas PPKB & PPA Kab. Langkat 63 2.3.3 Struktur Organisasi Dinas PPKB dan PPA Kabupaten Langkat ... 66

Bab 3 Politik Pembangunan Kabupaten Layak Anak di Kab. Langkat 68 3.1 Perkembangan Politik Pembangunan KLA di Kab. Langkat ... 68

3.2 Analisis Teori Politik Pembangunan KLA di Kab. Langkat... 82

3.2.1 Adanya Aktor Pembangunan dan Kekuasaan ... 83

3.2.1.1 Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, dan Desa di Kab. Langkat ... 84

3.2.1.2 Kelompok Masyarakat, Dunia Usaha dan LSM di Kab. Langkat ... 98

3.2.2 Adanya Ideologi dan Intervensi Asing ... 104

3.2.3 Adanya Sistem ... 108

3.2.3.1 Tahap Persiapan KLA di Kab. Langkat ... 109

3.2.3.2 Tahap Perencanaan KLA di Kab. Langkat ... 114

3.2.3.3 Tahap Pelaksanaan KLA di Kab. Langkat ... 121

3.2.3.4 Tahap Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan KLA di Kab. Langkat ... 126

3.2.4 Startegi Politik Pembangunan KLA di Kabupaten Langkat ... 130

Bab 4 Penutup ... 136

4.1 Kesimpulan ... 136

4.2 Saran ... 146

Daftar Pustaka ... 149

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 3 Unsur Penting Dalam KLA ... 7

Gambar 1.2 Indikator Keberhasilan Pembangunan ... 15

Gambar 1.3 Alur Pikir KLA... 22

Gambar 1.4 Tahapan Pengembanga KLA n ... 30

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PPKB dan PPA Kab. Langkat ... 66

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 RAD KLA Kab. Langkat KLA Per Instansi/Dinas/Kantor/Unit 116 Tabel 3.2 Anggaran dan Kegiatan Bidang PP dan PA Dinas PPKB dan

PPA Kab. Langkat ... 125

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan yang dilakukan suatu negara tidak terlepas dari pengaruh politik. Hal ini disebabkan politik sangat menentukan proses dari pembangunan yang betujuan untuk tercapainya kehidupan suatu negara yang lebih baik. Oleh sebab itu, terciptanya suatu porgram pembangunan di suatu negara yang pada akhirnya muncul suatu kebijakan bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi di negara tersebut. Sesuai dengan pandangan Miriam Budiarjo bahwa politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima dengan baik oleh sebagian warga, untuk membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha untuk menggapai The Good Life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu.1

Politik pembangunan sebagai konsep diperlukan untuk menjelaskan bagaimana cara-cara (politik) atau strategi/aliran tertentu yang digunakan dalam konteks pembangunan mencapai sasarannya. Sesungguhnya pembangunan pada dasarnya adalah hasil dari proses politik yang dilakukan aktor-aktor di dalamnya, oleh pemerintah dengan perangkat-perangkat lain seperti lembaga, partai politik atau bahkan kelompok masyarakat.2 Dapat di lihat juga politik pembangunan bukan saja mengenai cara atau strategi yang hendak di capai dalam pembangunan tetapi juga pemikiran atau ideologi yang termaktub dalam pembangunan dari

1 Miriam Budiarjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal. 15.

2 Warjio.2016. Politik Pembangunan: Paradoks, Teori, Aktor, dan Ideologi. Jakarta: PT.Fajar Interpratama Mandiri. Hal.140.

(13)

strategi dan cara yang di jalankan itu yang melibatkan banyak kelompok kepentingan.3

Anak adalah generasi penerus bangsa yang memiliki posisi strategis dalam pembangunan maupun perkembangan peradapan manusia. Terlebih dalam menghadapi era masyarakat global yang sudah menyentuh hingga ke pelosok desa. Anak sebagai generasi muda menjadi salah satu tumpuan bangsa yang akan menghadapi persoalan global. Menciptakan suatu tatanan kehidupan yang layak bagi anak merupakan hal penting guna menciptakan sumberdaya manusia yang potensial dan handal dalam menjawab segala tantaang yang muncul di masa akan datang.

Jika kita berbicara mengenai pembangunan di bidang pemenuhan hak-hak anak, tentu banyak kemajuan yang telah dicapai negara Indonesia terutama dalam memajukan perlindungan, penghargaan dan pemenuhan hak anak sebagaimana tercantum dalam laporan pemerintah Indonesia mengenai pelaksanaan konvensi hak anak ke komite hak anak perserikatan bangsa-bangsa di Jenewa. Hal ini ditandai karena sudah lebih banyak anak-anak yang bersekolah dari pada tahun- tahun sebelumnya, lebih banyak anak-anak yang mulai terlibat aktif dalam keputusan menyangkut kehidupan mereka, dan sudah tersusun pula peraturan perundang- undangan penting yang melindungi anak. Kemajuan implementasi dari konvensi hak anak ini tentu saja menjadi satu modal besar untuk Indonesia menjadi satu bangsa yang menghargai hak-hak anak dan menjadi bangsa yang

3 Ibid., Hal.106.

(14)

layak bagi kehidupan anak baik ditingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga ke pelosok desa.4

Anak merupakan hal yang terpenting dalam struktur masyarakat, sehingga banyak hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembangnya. Dalam undang-undang menurut pasal 1 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud anak menurut undang undang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.di Indonesia masalah anak saat ini masih dilihat bukan karena masalah yang krusial, melainkan hanya karena “sedang musim dibicarakan”.

Pada sisi lain, kota- kota di Indonesia, saat ini mengalami pertumbuhan setiap tahun rata-rata 4,4 %, akibat dari pertumbuhan penduduk dan migrasi penduduk desa ke kota yang tidak terkendali. Akibatnya penyediaan pelayanan dasar, perumahan, pendidikan, kesehatan dan peluang untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin sulit. Dampaknya adalah Kota/Kabupaten dipenuhi oleh anak-anak yang mengalami eksploitasi, dan kekerasan terhadap anak terjadi disemua ruang, dirumah, sekolah, dijalanan dan ruang-ruang lainnya5.

Menyikapi berbagai permasalahan sosial terutama yang dialami oleh anak- anak, muncul sebuah gagasan dari sejumlah pemerhati anak untuk menciptakan Kabupaten atau Kota yang ramah atau layak anak. Gagasan KLA (Kabupaten/Kota Layak Anak) diawali dengan penelitian mengenai “ Children

4 Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Diakses melalui: http://kla.go.id. Pada tanggal 5 Juli 2019. Pukul 23.05 Wib.

5 Hamid Patilima. 2017. “Kabupaten Kota Layak Anak”, Jurnal (Online), Diakses melalui:

http://journal.ui.ac.id/index.php/jki/article/viewFile/9044/67545914. Pada tanggal 5 Juli 2019. Pukul 22.35 Wib

(15)

Perception Of the Environment” oleh Kevin Lynch (Arsitek dari Massachussets Institute of Technology) di 4 kota yaitu Melbourne, Warsawa, Salta dan Mexico City tahun 1971-1975. Menurut Lynch bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai komunitas yang kuat secara fisik dan sosial;

komunitas mempunyai aturan yang jelas dan tegas; yang memberi kesempatan pada anak; dan fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.6

Selanjutnya, gagasan awal pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak diperkenalkan pada konfrensi Habitat II atau City Summit, di Istanbul, Turki tahun 1996. Perwakilan pemerintah dari seluruh dunia bertemu dan menandatangani agenda Habitat, yakni sebuah program aksi untuk membuat pemukiman lebih nyaman untuk ditempati dan bekelanjutan. Paragraf 13 pembukaan agenda Habitat, secara khusus menegaskan bahwa anak dan remaja harus mempunyai tempat tinggal yang layak, terlibat dalam proses pengambilan keputusan baik di kota maupun lingkungannya, terpenuhi kebutuhan dan peran anak dalam bermain di lingkungannya.7

Selain temuan Lynch dan Chawla, Pengembangan KLA didasarkan pada UN Special Session on Children, Mei 2002, para walikota menegaskan komitmen mereka untuk aktif menyuarakan hak anak, pada pertemuan tersebut mereka juga merekomendasikan kepada walikota seluruh dunia untuk: (1) mengembangkan rencana aksi untuk kota mereka menjadi Kota Ramah Anak dan melindungi hak anak; dan (2) mempromosikan peran serta anak sebagai aktor perubahan dalam

6 Ibid.

7 Ibid.

(16)

proses pembuatan keputusan di kota mereka terutama dalam proses pelaksanaan dan evaluasi kebijakan pemerintah kota. Upaya UNICEF dan UN HABITAT ini terus menerus dipromosikan ke seluruh dunia dengan meningkatkan kapasitas pemerintah kabupaten/kota untuk mengarusutamakan isu-isu perkotaan yang lebih layak anak dalam kebijakan pembangunan kabupaten/kota..8

Kesepakatan-kesepakatan tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi agenda Nasional Pemerintah Indonesia. Untuk mengatasi masalah anak di Indonesia, terutama di tingkat Kabupaten/Kota maka pembangunan KLA(Kabupaten/Kota Layak Anak) merupakan salah satu solusi terbaik. Awal mula KLA mulai dikembangkan pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA RI) Nomor 02 Tahun 2009 tentang kebijakan Kabupaten atau Kota Layak Anak yang diujicobakan di 10 Kabupaten/Kota di Indonesia.9

Salah satu hal penting yang menguatkan komitmen bersama untuk mewujudkan sebuah dunia yang layak bagi anak sebagai wujud terpenuhinya hak anak adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Mei 2002 yang mengadopsi Laporan Komite Ad Hoc pada sesi khusus untuk anak. Dokumen itulah yang kemudian dikenal dengan judul “A World Fit for Children”. Judul dokumen tersebut menunjukkan gaung puncak rangkaian upaya dunia untuk memberikan perhatian yang besar terhadap masalah masa depan bumi, kelangsungan kehidupan umat manusia dan lebih khusus lagi upaya untuk

8 Ibid.

9 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. 2016. Bahan Advokasi Kebijakan KLA.

Jakarta.

(17)

menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik melalui anak-anak yang hidup pada masa sekarang ini dan pada masa-masa selanjutnya. Keikutsertaan Indonesia dalam komitmen tersebut menjadi tujuan Indonesia tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Atas dasar tersebutlah, maka Indonesia mulai menerapkan kebijakan untuk mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) sejak tahun 2006. Hal ini tertuang dalam lampiran Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak.10

Berdasarkan Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak dijelaskan pengertian Kabupaten/Kota Layak Anak yang selanjutnya disingkat KLA adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak. Sebuah Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), Hal ini berarti, ada tiga unsur yang dilibatkan, yakni pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam hal pelaksanaan Kabupaten/Kota Layak Anak itu sendiri. Sebagaimana tertera pada gambar berikut.

10 Reni Bandari. 2014. Implementasi Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak di Kota Tengerang Selatan, Skripsi Program Studi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

(18)

Gambar 1.1. 3 Unsur Penting dalam Pelaksanaan KLA (Sumber: Kementerian PPPA, 2016)

Gambar 1.1 di atas menjelaskan mengenai tiga unsur Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak, yakni pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

Peran pemerintah selaku eksekutif adalah sebagai pelaksana kebijakan tersebut, sementara dilihat dari gambar di atas peran masyarakat juga dituntut untuk melaksanakan kebijakan tersebut karena harus ada gerakan dari masyarakat apalagi sektor yang berperan penting adalah lingkungan keluarga dalam pemenuhan hak-hak anak. Selanjutnya, peran dunia usaha dilihat sebagai pemberi sumbangsih dana dalam pelaksanaanya, juga dituntut untuk berkomitmen tidak memperkerjakan anak dan mendukung terbentuknya perkumpulan atau asosiasi yang dipelopori oleh anak seperti Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak (APSAI).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan pada tahun 2011 juga telah memfasilitasi terbentuknya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak (APSAI) sebagai upaya mewujudkan Good Governance (tiga pilar pembangunan:Pemerintah, Masyarakat dan Dunia Usaha) dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak di Indonesia. APSAI merupakan organisasi Independen

(19)

yang dibentuk atas inisiasi dunia usaha untuk berkontribusi memenuhi hak dan melindungi anak-anak Indonesia. Sampai saat ini telah bergabung 29 perusahaan dalam APSAI11.

Kabupaten Langkat itu sendiri sejak tahun 2010 Kabupaten Langkat telah ditetapkannya menjadi salah satu kabupaten dari 8 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara sebagai wilayah pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak oleh Gubernur Provinsi Sumatera. Dengan diterbitkannya peraturan daerah Kabupaten Langkat Nomor 3 tahun 2013 tentang penyelenggaraan perlindungan anak semakin menguatkan keseriusan Kabupaten Langkat dalam mengintegrasikan kebijakan pemerintah daerah yang sesuai dengan hak-hak anak.12

Pada tahun 2012 Bupati Langkat H. Ngogesa Sitepu, SH menerima Penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) tingkat Pratama dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PPPA) dalam rangkaian acara Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2012 di Hotel Gren Sahid Jaya, Jakarta Pusat.13 Selanjutnya, prestasi yang membanggakan itu kaembali di raih oleh Kabupaten Langkat pada Penghargaan KLA 2019 di Makasar dan berhasil meraih predikat KLA tingkat Pratama14. Pada tahun 2012 dan 2019 ini menjadikan Kabupaten Langkat menerima kategori Pratama sebagai Kabupaten Layak Anak dimana masih ada 4 Tahap lagi yakni, madya, nindya,

11 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, 2016, Bahan Advokasi Kebijakan KLA. Op. Cit.

12 Pemkab Langkat. KLA. Diakses Melalui: http://langkatkab.go.id/KLA. Pada tanggal 6 Juli 2019. Pukul 20.52 Wib.

13 Ibid.

14 Harian Sinar Indonesia Baru. 2019. Pemkab Langkat meraih Penghargaa KLA. Koran (Online). Diakses Melalui: https://hariansib.com/Medan-Sekitarnya/Pemkab-Langkat-Raih-Penghargaan-KLA. Pada Tanggal 2 Agustus 2019 Pukul 01.04 WIB.

(20)

utama dan KLA sebagai penganugerahan tertinggi dalam kategori Kabupaten Layak Anak yang ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Adapun penghargaan terakhr yang diraih oleh Kabupaten Langkat pada tahun 2019 yang masih sama menerima kategori pratama dalam pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak.

Perlu kita ketahui bahwa semenjak bergulirnya era otonomi daerah pada tahun 2001, daerah memiliki wewenang penuh dalam mengatur pemerintahannya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 9 Tahun 2015 tentang Pemerintah Daerah . Dengan adanya Kabupaten Layak Anak ini tentu merupakan kesempatan yang sangat besar dalam proses pemenuhan hak-hak anak yang ada di daerah seluruh Indonesia terkhusus di Kabupaten Langkat. Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten Langkat memiliki tugas yang cukup berat dalam mengimplementasikan predikat sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA). Apalagi semenjak ada perubahan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dijelaskan sesuai dengan pasal 21 bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan di daerah dengan diwujudkan melalui upaya daerah membangun Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

Dalam pencapaian pemerintah Kabupaten Langkat sebagai Kabupaten Layak Anak ini tentu tidak mudah karena di dalamnya terdapat aturan yang harus dilaksanakan dan melibatkan segenap steakholders/SKPD yang ada di Kabupaten Langkat. Keterlibatan steakholders/SKPD sangat perlu dalam hal pelaksanaan Kabupaten Layak Anak ini karena di dalamnya terdapat aturan yang mengatur mengenai Indikator Penguatan Kelembagaan. Penguatan Kelembagaan yang

(21)

dimaksud sesuai dengan Permen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tentang Indikator Kabupaten Layak Anak dijelaskan bahwa harus ada gugus tugas yang jelas, terstruktur dan tersistematis dalam mengimplementasikan Kabupaten Layak Anak.

Selain harus adanya gugus tugas yang resmi langsung di kepalai oleh Kepala daerah dengan melibatkan steakholders/SKPD yang ada di Kabupaten Langkat. Penguatan Kelembagaan yang dimaksud dalam Indikator Kabupaten Layak Anak ini dapat dilihat dengan adanya fasilitasi atau pembentukan wadah partisipasi anak yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Langkat yakni yang dikenal dengan Organisasi Forum Anak, pengembangan Sekolah Ramah Anak (SRA), Puskesmas Ramah Anak (PRA) dan Ekonomi Masyarakat. Wadah partisipasi anak yang ada di Kabupaten Langkat ini adalah Forum Anak Kabupaten Langkat Berseri (FATENLAI) sebagai satu-satunya organisasi yang diinisiasi oleh anak-anak di kabupaten langkat dan di fasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Langkat.15

Setelah terpenuhinya indikator kelembagaan tersebut maka masih ada 5 Klaster Anak yang harus diwujudkan oleh pemerintah Kabupaten Langkat.

Apalagi saat sekarang ini belum ada terjadinya peningkatan menuju kategori Madya Kabupaten Layak Anak. Namun, Seiring berjalannya waktu predikat yang dicapai selama lebih kurang 7 tahun tentu menjadi tolak ukur seperti apa variabel politik pembangunan yang dilakukan dan bagaimana startegi dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak yang diraih oleh Pemerintah Kabupaten Langkat. Hal

15 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Nomor 12 Tentang Indikator Kelembagaan. Bab III.

(22)

yang menarik lainnya pula dalam pelaksanaan pengembangan KLA di Kabupaten Langkat selalu memiliki permasalahan yang kompleks karena adanya kepentingan politik yang cukup besar yang terjadi antara aktor/elite politik.

Maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“Politik Pembangunan Kebijakan Kabupaten Layak Anak Di Kabupaten Langkat”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Variabel Politik Pembangunan Kabupaten Layak Anak yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Langkat?

2. Seperti Apa Startegi yang dilakukan demi mewujudkan Kabupaten Langkat sebagai Kabupaten Layak Anak?

1.3 Batasan Masalah

Dalam melakukan penelitian, perlu membuat pembatasan masalah terhadap apa yang diteliti dengan tujuan untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup penelitian dan hasil penelitian tidak menyimpang dari tujuan awal penelitian yang ingin dicapai. Pada penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada variabel dan startegi politik pembangunan Pemerintah Kabupaten Langkat dalam mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

(23)

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana variabel Politik Pembangunan Pemerintah Kabupaten Langkat dalam Mewujudkan Kabupaten Layak Anak.

2. Untuk mengetahui bagaimana Startegi yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Langkat dalam Mewujudkan Kabupaten Layak Anak.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Secara teroritis, penelitian ini sebagai salah satu kajian ilmu politik yang sangat erat dan mampu memberikan kontribusi pemikiran konsep-konsep dalam pembangunan politik dan dalam upaya pengimplementasian suatu kebijakan pembangunan yang ada di daerah.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur untuk menganalisis.

3. Secara intuisi, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak terkait dalam hal akademis maupun bagi lembaga- lembaga terkait.

1.6 Kerangka Konspetual

Salah satu unsur terpenting dalam penelitian yang memiliki peran sangat besar dalam penelitian adalah teori ataupun konsep. Suatu landasan teori/konsep dari suatu penelitian tertentu atau karya ilmiah sering disebut juga sebagai studi

(24)

literalur atau tinjauan pustaka. Dalam proses penelitian diperlukan menggunakan teori-teori, konsep-konsep dan hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanakan penelitian. Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori dan konsep yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup dari penelitian.16 Adapun teori ataupun konsep yang digunakan dalam penelitian ini ialah :

1.6.1 Konsep Pembangunan

Dalam arti yang luas, pembangunan adalah sebagai perbuatan mengubah atau menciptakan suatu realitas material (fisik) dan non material (nonfisik;

pemikiran) sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidup manusia pada suatu masa yang dalam praktiknya dilakukan secara sadar oleh individu ataupun secara kolektifitas.17 Pendapat lain yang dikemukakan oleh Warjio dalam bukunya berjudul “Politik Pembangunan Paradoks, Teori, Aktor dan Ideologi”

Menjelaskan bahwa pembangunan juga diartikan sebagai sebuah paradoks global yang sarat dengan kepentingan politik.18

Dalam bukunya Rudi Salam Sinaga yang berjudul “Politik Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Daerah” dia menjelaskan bahwa hakekat daripada sebuah negara ialah terletak untuk membangun sebuah kehidupan peradaban yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zamannya. Pembangunan dibedakan menjadi dua yakni pembangunan berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bidangnya. Pembangunan dibedakan berdasarkan Bidangnya, bisa terbagi ke

16 Hadari Namawi. 1990. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University. Hal. 40.

17 Rudi Salam Sinaga, 2016, Politik Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Daerah. Semarang: Perdana Publisihing. Hal. 40.

18 Warijo. Op. Cit., Hal. 4.

(25)

dalam beberapa bidang seperti ekonomi, sosial kependudukan, politik, hukum, teknologi, dan lain sebagainya. Sedangkan, berdasarkan jenisnya terbagi ke dalam dua bentuk, sebagai berikut19:

1. Pembangunan dalam bentuk Kuantitatif berupa bangunan yang dapat dilihat secara fisik seperti gedung, jumlah penduduk dan lain sebagainya.

2. Pembangunan dalam bentuk Kualitatif berupa pembanguna yang tidak dapat terlihat wujudnya secara fisik berupa pemikiran atau watak.

Menurut Arief Budiman (2000), di Indonesia , kata pembangunan sudah menjadi kata kunci bagi segala hal. Secara umum, kata ini diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan warganya. Sering kali kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan material. Maka pembangunan, sering dikaitkan dengan ekonomi. Bukan hanya itu saja pembangunan sering kali bahkan dijadikan alat atau ideologi tertentu meredam daya kritis individu masyarakat. Sedangkan Mansour Faqih (2011) pembanguna erat kali hubungannya dengan perubahan sosial.20

Para sarajana mencari formula alternatif dalam menyelesaikan sebuah paradoks dalam pembangunan karena ada suatu negara yang sukses dalam pembangunan dan sebaliknya ada negara yang tidak berhasil dan malah menimbulkan suatu dampak negatif. Salah satu forumula yang diterapkan terutama dalam negara berkembang dapat kita lihat dalam salah satu formula atau model pembangunan adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Schramm.

19 Rudi Salam Sinaga. Op. Cit., Hal. 42.

20 Warjio. Op. Cit., Hal. 91.

(26)

Menurut Schramm model pembangunan yang diperlukan bagi suatu negara (Lihat Nasution, 1998), yaitu21:

1. Didasarkan pada pemahaman yang menyeluruh mengenai kebutuhan nasional.

2. Bergerak pada kecepatan berapa saja yang layak.

3. Diarahkan menuju apa yang dipersepsikan oleh negara tersebut sebagai tujuannya.

Dalam perspektif yang hampir sama, pakar pembanguna dunia ketiga Ketiga, Arief Budiman (2000) Menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan didasarkan pada beberapa hal. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Kedua, adanya kesinambungan pembangunan yang memfokuskan kepada: tidak terjadinya kerusakan sosial dan tidak terjadi kerusakan alam. Secara sederhana, pernyataan Arief Budiman dapat disederhanakan dalam Indikator Keberhasilan Pembangunan.22 (Lihat Gambar 1.2)

Gambar 1.2 Indikator Keberhasilan Pembangunan Sumber: Arief Budiman (2000)

Memahami pembangunan dapat dilihat dari beberapa perspektif. Andrian Leftwich (2000), salah seorang penulis politik pembangunan, mengemukakan

21 Ibid., Hal. 46.

22 Ibid., Hal. 47.

(27)

bahwa pemahaman pembangunan yang paling umum dapat dikategorikan ke dalam sembilan pendekatan pokok, yakni Pembangunan dilihat dari kemajuan historis (Development as historical progress), Pembangunan sebagai eskploitasi sumber daya alam (Development as the promotion of planned economic and sometime as social and political advancement), Pembanguna sebagai suatu kondisi (Development as condition), Pembangunan sebagai sebuah proses (Development as process), Pembangunan sebagai sebuah pertumbuhan ekonomi (Development as economic growth), Pembangunan sebagai perubahan struktural (Development as structural), Pembangunan sebagai modernisasi (Development as modernisation), dan Pembangunan sebagai kekuatan produksi (Development as increase in the forces of production). Di antara pendekatan tersebut pertumbuhan, modernisasi dan perubahan struktur menjadi ortodoks dominan menyangkut maknda dan tujuan pembangunan pada tahun-tahun setelah perang dunia II (Budi Winarno, 2013).23

Pembangunan tentu merupakan hasil dari sebuah proses. Dari segi asal- usulnya sebagaimana yang disampaikan oleh Harris (1957), pembangunan justru berasal dari sebuah sistem ide, yang disinergikan dengan organisasi, struktur kehidupan, ataupun proses hidup. Dengan tegas Harris (1957) menegaskan setidaknya pembangunan dapat didiskusikan dengan mendasar pada ide-ide dasarnya, yaitu24:

1. Organisme yang merupakan sistem kehidupan.

2. Waktu.

23 Ibid., Hal. 54.

24 Ibid., Hal. 69.

(28)

3. Tindakan atau gerekan ke depan organisasi.

4. Proses hierarki atau dari unit-unit atau sistem yang komprehensif.

5. Negara atau organisasi yang mampu menstabilkan dirinya.

1.6.2 Konsep Kabupaten Layak Anak

Konsep mengenai Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) meliputi pengertian KLA, Dasar Hukum KLA, tujuan KLA, prinsip, strategi, dan ruang lingkup KLA, alur pikir KLA, dan langkah-langkah KLA, serta hak-hak anak.

1.6.2.1 Pengertian KLA

Pengertian Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) adalah: Sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program, dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak25.

1.6.2.2 Tujuan KLA

KLA bertujuan untuk membangun inisiatif pemerintahan kabupaten/kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on The Rights of The Child) dari kerangka hukum ke dalam definsi, strategi dan intervensi pembangunan, dalam bentuk: kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak, pada suatu wilayah kabupaten/kota.26

25 Buku Panduan Grand Design Jakarta Menuju Kota Layak Anak Tahun 2018-2022. Diakses Melalui:

http://tarulh.com/wp-content/uploads/2018/01/Desain-Besar-Kota-Layak-Anak.pdf,. Pada tanggal 10 Juli 2019. Pukul 10.34 Wib.

26 Ibid.

(29)

1.6.2.3 Dasar/Landasan Hukum KLA

Dasar hukum program Kota Layak Anak (KLA) adalah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adapun pasal-pasal kunci dari Undang-Undang tersebut yang menjadi dasar dalam pengembangan KLA meliputi beberapa pasal, diantaranya adalah27:

 Pasal 21 – Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk

melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan Perlindungan anak di daerah dengan diwujudkan melalui upaya daerah membangun Kabupaten/Kota layak anak;

 Pasal 22 – Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab

memberikan dukungan sarana, prasarana, dan ketersediaan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan Perlindungan Anak;

 Pasal 24 – Pemerintah Daerah menjamin Anak untuk mempergunakan

haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan Anak.

Tingkat Nasional28

1. UUD Tahun 1945 Pasal 28a ayat 2 Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

27 Ibid.

28 Permen PPPA. Nomor 11. Tentang Kebijakan Pengembangan KLA. Bab Pendahuluan.

(30)

2. UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Bantuan dan pelayanan untuk kesejahteraan anak menjadi hak setiap anak tanpa diskriminasi.

3. UU No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Batas umur anak yang dapat diajukan ke sidang anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 tahun dan belum kawin.

4. UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat Hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

5. UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika Mencegah perlibatan anak di bawah umur dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

6. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, mendapatkan identitas, pelayanan kesehatan dan pendidikan, berpartisipasi dan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

7. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Setiap warga negara yang berusia 7 (tujuh) sampai dengan 15 (lima belas) tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

8. UU No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan terburuk dalam bentuk perbudakan dan sejenisnya dan pekerjaan yang memanfaatkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno atau perjudian.

(31)

9. UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Setiap orang yang melihat, mendengar atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (suami, isteri, anak dan keluarga lain), wajib melakukan pencegahan, perlindungan, pertolongan darurat, dan membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

10. UU No. 12 Tahun 2005 tentang Kewarganegaraan Anak WNI diluar perkawinan yang syah, belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang WNA tetap diakui sebagai WNI.

11. UU No. 13 Tahun 2006 tantang Perlindungan Saksi dan Korban Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib di lindungidari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah dan temannya.

12. UU No. 21 Tahun 2007 tantang PTPPO Setiap orang yang melakukan tindak pidana perdagangan orang dan korbannya adalah anak, maka ancaman pidananya ditambah sepertiga.

13. UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat.

Tingkat Internasional29: 1. Deklarasi HAM

2. Konvensi Hak-Hak Anak 3. World Fit For Children.

29 Buku Panduan Grand Design Jakarta Menuju Kota Layak Anak Tahun 2018-2022. Op Cit.

(32)

1.6.2.4 Prinsip, Strategi, dan Ruang Lingkup KLA Prinsip Kabupaten/Kota Layak Anak adalah sebagai berikut30.

1. Tata pemerintahan yang baik: transparasi. Keterbukaan informasi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum 2. Non diskriminasi terhadap anak

3. Kepentingan terbaik untuk anak

4. Hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang 5. Penghargaan terhadap pendapat anak

Kabupaten/Kota Layak Anak menerapkan strategi pengarusutamaan hak hak anak (PUHA), yang berarti melakukan pengintegrasian hak-hak anak ke dalam31:

1. Setiap proses penyusunan: kebijakan, program dan kegiatan.

2. Setiap tahapan pembangunan: perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.

3. Setiap tingkatan wilayah: nasional. provinsi dan kabupaten/kota,kecamatan hingga desa atau kelurahan.

30 Pasal 5. Permen PPPA. Nomor 11. Tentang Pengembangan KLA. Tahun 2011

31 Buku Panduan Grand Design Jakarta Menuju Kota Layak Anak Tahun 2018-2022. Op Cit.

(33)

1.6.2.5 Alur Pikir KLA

Berikut ini merupakan gambar alur pikir KLA:

Gambar 1.3 Alur Pikir KLA

(Sumber: Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Langkat 2016)

Berdasarkan gambar 1.5 di atas, alur pikir Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) berdasarkan pendekatan top down, berawal dari komitmen dunia melalui dokumen World Wit For Children (Dunia Layak Anak) pada Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa pada tanggal 10 Mei 2002 yang mengadopsi laporan Komite Ad Hoc pada Sesi Khusus untuk Anak, yang juga merupakan gaung puncak mengenai perhatian negara-negara di dunia terhadap pemenuhan hak-hak anak, termasuk oleh Indonesia.

(34)

Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) tersebut tentunya dilakukan melalui pemenuhan hak-hak anak yang merujuk pada Konvensi Hak Anak, dimana terdapat lima klaster hak-hak anak, yaitu32:

1. Hak Sipil dan Kebebasan;

2. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif;

3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan;

4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Seni Budaya; dan

5. Perlindungan Khusus.

Pemenuhan hak-hak anak berdasarkan klaster hak-hak anak tersebut dilihat dari masalah-masalah anak, baik dari pendidikan, kesehatan, partisipasi, lingkungan, Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Masalah Sosial Anak (MSA), Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Kekerasan Terhadap Anak (KTA), dan Pemenuhan Hak Sipil Anak (PHSA). Secara top down, pemenuhan hak-hak anak tersebut dilakukan oleh Pemerintah pada lingkungan dimana anak melakukan tumbuh kembang yakni di keluarga.

Sementara berdasarkan pendekatan bottom up, alur pikir KLA dilakukan mulai dari anak dan keluarganya, kemudian dilanjutkan dengan adanya gerakan masyarakat, peran lembaga legislatif dan lembaga yudikatif, serta dukungan dunia usaha, dan tentunya pemerintah sendiri sebagai pelaksana kebijakan untuk pemenuhan hak-hak anak tersebut.

32 Ibid.

(35)

1.6.2.6 Langkah-Langkah Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) Langkah-langkah KLA meliputi komitmen politis KLA, pembentukan Gugus Tugas KLA, pengumpulan data basis KLA, penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA, mobilisasi sumber daya yakni pelaksanaan RAD, pemanfaatan dan evaluasi KLA, serta pelaporan KLA. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai langkah-langkah KLA tersebut.

1. Komitmen Politis KLA

Untuk memperoleh komitmen politis terutama bagi para pengambil keputusan, dapat dilakukan melalui sosialisasi, advokasi, fasilitasi dan KLA bagi33:

a. Lembaga Eksekutif b. Lembaga Legislatif c. Lembaga Yudikatif

d. Lembaga masyarakat peduli/pemerhati anak;

e. Dunia Usaha

f. Organisasi/Forum/Kelompok Anak; dan g. Lembaga lain yang relevan

Penguatan komitmen politis, antara lain ditunjukkan melalui adanya34: Perda;

1. Peraturan Bupati/Walikota;

2. Keputusan Bupati/Walikota ; 3. Instruksi Bupati/Walikota dan 4. Surat edaran Bupati/Walikota

33 Ibid.

34 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2012. Buku Saku Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Jakarta.

(36)

Komitmen tersebut sangat penting dituangkan dalam bentuk tertulis untuk menjaga agar KLA bukan dilakukan hanya karena desakan atau keperluan sesaat saja. Semakin tinggi hierarkinya, kekuatan hukumnya juga semakin kuat sehingga menjamin kesinambungan dari pelaksanaan KLA di Kabupaten/Kota bersangkutan.

2. Pembentukan Gugus Tugas KLA

Gugus tugas KLA adalah lembaga koordinatif yang beranggotakan wakil dari unsur eksekutif, legislatif dan yudikatif yang membidangi anak, perguruan tinggi, organisasi non pemerntah, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, orang tua dan yang terpenting harus melibatkan anak (Forum Anak)35.

Pimpinan gugus tugas KLA diketuai oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeeda) untuk menjalankan koordinasi dalam perencanaan KLA. Gugus tugas KLA bertanggung jawab mengawali dan mengawal KLA di Kabupaten/Kota masing-masing. Berikut ini tugas pokok dari gugus tugas KLA36:

1. Mengkoordinasikan berbagai upaya KLA ; 2. Menyusun RAD (Rencana Aksi Daerah)- KLA ;

3. Melaksanakan sosialisasi, advokasi, dan komunikasi KLA ;

4. Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan dalam RAD-KLA ;

5. Melakukan evaluasi setiap akhir tahun terhadap pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan dalam RAD-KLA ; dan

6. Membuat laporan kepada Bupati/ Walikota.

35 Ibid.

36 Ibid.

(37)

Dalam melaksanakan tugas, anggota gugus tugas KLA menyelenggarakan fungsi sebagai berikut37:

1. Pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data kebijakan, program, dan kegiatan terkait pemenuhan hak anak ;

2. Melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan sesuai dengan RAD- KLA;

3. Membina dan melaksanakan hubungan kerja sama dengan pelaksana KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan KLA ditingkat kecamatan dan kelurahan/desa ;

4. Mengadakan konsultasi dan meminta masukan dari tenaga profesional untuk mewujudkan KLA.

Gugus tugas tidak harus merupakan sebuah wadah/lembaga baru melainkan dapat mendayagunakan wadah atau lembaga terkait yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh pokja anak atau pokja perempuan yang sudah ada disebuah kabupatem/kota dapat menjadi gugus tugas KLA dengan menyesuaikan keanggotannya berdasarkan unsur – unsur yang harus ada dalam KLA (termasuk infrastruktur). Keanggotaan gugus tugas yang optimal, harus berisikan seluruh perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan terkait pemenuhan hak anak, sebagaimana tertuang dalam indikator KLA (Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 tahun 2011 tentang indikator KLA).

37 Ibid.

(38)

3. Pengumpulan Data Dasar KLA

Data dasar berkaitan dengan situasi dan kondisi anak-anak di kabupaten/kota disusun secara berkala dan berkesinambungan. Pengumpulan data dasar digunakan untuk :

1. Untuk mengetahui besaran masalah anak;

2. Untuk menentukan fokus program;

3. Untuk menyusun kegiatan prioritas;

4. Melihat sebaran program/kegiatan anak lintas SKPD; dan 5. Menentukan lokasi percontohan KLA.

4. Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA

Rencana Aksi Daerah (RAD) KLA berfungsi sebagai acuan penting untuk mengembangkan KLA secara sistematis, terarah, dan tepat sasaran. Dalam penyusunan RAD-KLA, gugus tugas dan pihak–pihak terkait mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), RENSTRADA ( Rencana Strategis Daerah ), Visi, Misi, Kebijakan, Program dan kegiatan Kabupaten/Kota agar RAD-KLA tidak “tumpang tindih” dengan berbagai rencana daerah yang sudah ada atau sudah berjalan. Penyusunan RAD- KLA tidak berarti harus membuat program baru karena RAD KLA dapat merupakan sebuah integrasi dengan rencana kerja SKPD terkait. Hal yang utama yang harus diperhatikan dalam penyusunan RAD–KLA adalah upaya pemenuhan hak anak yang mencangkup penguatan 5 (Lima) kluster hak anak.

(39)

Selain itu RAD- KLA harus mempertimbangkan dan tentunya mendayagunakan semua potensi lokal, sosial, budaya, dan ekonomi serta berbagai produk unggulan setempat. Sesuai dengan prinsip partisipasi anak dalam KHA (konvensi Hak Anak), maka dalam proses penyusunan RAD- KLA, kelompok anak termasuk Forum Anak perlu dilibatkan. Berikut ini poin- poin penting dalam melakukan penyusunan RAD KLA :

a. Sesuaikan dengan RPJMN, RPJMD, Renstrada, Visi, Misi, Kebijakan, Program dan Kegiatan Pembangunan Kabupaten/Kota;

b. Integrasikan ke dalam rencana pembangunan daerah agar berkelanjutan;

c. Sesuaikan dengan potensi, kondisi sosial budaya dan ekonomi daerah;

d. Pastikan tersedianya sumber daya (manusia dan anggaran) untuk pelaksanaan RAD KLA; dan

e. Libatkan Organisasi/Forum/Kelompok Anak.

5. Pelaksanaan

Untuk mempercepat pelaksanaan kebijakan KLA, gugus tugas melaksanakan kebijakan, program dan kegiatan yang tertuang dalam RAD–KLA.

Gugus tugas memobilisasi semua sumber daya, baik yang ada di pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Sumberdaya meliputi sumberdaya manusia, keuangan, dan sarana prasarana yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk KLA. Selain itu media pun hendaknya juga dilibatkan untuk mengefektifkan pelaksanaannya, mengingat posisinya yang sangat penting sebagai pilar demokrasi. Media berperan dalam sosialisasi dan sekaligus advokasi berbagai hal terkait pemenuhan hak anak.

(40)

Dalam pelaksanannya, suara anak juga harus diperhatikan, baik untuk memberikan masukan mengenai bagaimana tanggapan mereka atas jalannya pelaksanaan yang dilakukan para pemangku kepentingan, maupun terlibat langsung dalam pelaksanaan.

6. Pemantauan

Pemantauan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 4 ayat 1 huruf d dilakukan oleh gugus tugas KLA untuk mengetahui perkembangan dan hambatan pelaksanaan KLA secara berkala serta sesuai dengan rencana. Aspek yang harus diperhatikan dalam pemantauan adalah mengenai :

a. Hal yang dipantau, meliputi input dan proses terkait dengan upaya untuk memenuhi seluruh indikator KLA ;

b. Pemantauan dilakukan oleh gugus tugas KLA Kabupaten/Kota dan Provinsi ;

c. Pemantauan dapat dilakukan setiap bulan atau setiap tiga bulan ;

d. Pematauan dilakukan mulai dari tingkat kabupaten/kota, kecamatan, sampai desa/kelurahan ;

e. Pemantauan dapat dilakukan bersama dengan pertemuan gugus tugas, dan atau kunjungan lapangan atau dengan cara lainnya.

f. Pelaksanaan pemantauan KLA mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

(41)

7. Evaluasi KLA

Hal yang dievaluasi meliputi capaian seluruh indikator KLA ; a. Evaluasi dilakukan oleh gugus tugas KLA, tim Independen ; b. Evaluasi dilakukan setiap tahun ;

c. Evaluasi dilakukan mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, sampai kabupaten/kota.

8. Pelaporan KLA

a. Disusun oleh kabupaten/kota setiap tahun;

b. Laporan disampaikan kepada Gubernur; dan

c. Tembusan Laporan disampaikan kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Gambar 1.4 Tahapan Pengembangan KLA

(Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI 2016)

(42)

1.7 Kerangka Teori

1.7.1 Teori Politik Pembangunan

Konsep politik pembangunan adalah gabungan dari konsep politik dan pembangunan, yaitu menjadi politik pembangunan. Keduanya memiliki hubungan dan makna yang saling bertautan dan dibentuk apa yang disebut dengan proses politik. Namun demikian, sebagai sebuah konsep yang lebih mendalam dalam memahami realitas politik dalam pembangunan. Jadi, ia tidak dapat dimaknai secara terpisah-pisah tetapi harus dimaknai dalam satu kesatuan.

Beberapa pakar (Warjio, 2012, Budi Winarno, 2012) kemudian mencoba menjelaskan bahwa politik pembangunan adalah cara, arah untuk mencapai tujuan (dasar pembangunan). Pandangan lain mengenai politik pembangunan juga dijelaskan oleh Zulfi Syarif Koto (2012) sebagai suatu cara atau startegi atau dasar dan model-model yang dipilih pemerintah dalam melakukan perubahan sosial ke arah yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai yang dianut suatu negara tertentu dan pada waktu tertentu (time spesific). Dari pengertian ini politik pembangunan merupakan political choice dan di dalamnya terkandung startegi.38

Berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan sesuai dengan pandangan Warjio (2016) bahwa politik pembangunan bukan saja mengenai cara atau startegi yang hendak dicapai dalam pembangunan tetapi juga pemikiran atau ideologi yang termaktub dalam pembangunan dari startegi atau cara yang dijalankan. Politik pembangunan juga mengandung muatan-muatan nilai, memiliki ideologi, atau pemikiran; artinya pembangunan ingin mewujudkan tipe

38 Warjio. Op. Cit., Hal. 105-106.

(43)

masyarakat yang lebih baik sebagai kewujudan dari nilai atau ideologi itu.39 Selanjutnya, dalam politik pembangunan juga berkaitan erat dengan konsep kekuasaan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Harold Lasswell mengenai sebuah pertanyaan tentang siapa, apa, bagaimana dan mendapatkan apa.40

Politik pembangunan sesungguhnya merupakan hasil dari proses politik yang dilakukan aktor-aktor di dalamnya; oleh pemerintah dan perangkat- perangkat lain seperti lembaga, partai politik atau bahkan kelompok masyarakat.

Oleh karena adanya aktor-aktor yang memiliki kepentingan dan bagaimana mencapai tujuan dari pembangunan maka akan muncul suatu variabel-variabel politik pembangunan. Variabel-variabel politik pembangunan adalah bagian- bagian dalam politik pembangunan yang keberadaannya sangat menentukan bagaimana politik pembangunan dijalankan atau dilakukan. Berikut ini variabel- variabel politik pembangunan41:

a. Adanya aktor-aktor pembangunan

Aktor-aktor pembangunan adalah syarat mutlak dari politik pembangunan.

Aktor-aktor pembangunan adalah mereka yang mengambil peran sentral dan menentukan dalam proses pembangunan. Mereka ini bisa merupakan individu, kelompok atau negara. Sebagai aktor pembangunan mereka memiliki naluri dan kepentingan politik dalam pembangunan melalui cara atau startegi tertentu untuk mencapai tujuan.

39 Ibid., Hal. 106.

40 Ibid., Hal. 110

41 Ibid., Hal. 140.

(44)

b. Adanya kekuasaan

Adanya kekuasaan menjadi syarat penting dalam pembangunan. Tanpa kekuasaan sulit bagi individu, kelompok atau negara mengintervensi pembangunan. Dengan kekuasaan tujuan pembangunan dapat dilaksanakan.

Kekuasaan adalah apa yang dimiliki oleh aktor pembangunan untuk merealisasikannya tujuan dari pembangunan itu baik dalam bentuk hard power maupun soft power.

c. Adanya sistem

Adanya sistem diperlukan dalam pembangunan. Hal ini disebabkan sistem dapat menggerakkan sebuah pola yang dikehendaki dalam pembangunan. Sebuah sistem atau lebih akan memengaruhi bagaimana pembangunan dijalankan dan mencapai tujuan. Sistem dapat dibentuk secara internasional atau juga bersifat nasional atau lokal.

d. Adanya ideologi

Ideologi merupakan syarat mutlak dalam politik pembangunan. Ideologi menggerakan pembangunan karena di dalamnya terkandung semangat ataupun cita-cita. Ideologi adalah semangat yang menjadi penggerak aktor pembangunan untuk meraih tujuan. Ideologilah yang menjadi roh dari semua aktivitas yang dilakukan oleh aktor pembangunan dalam mencapai tujuannya.

e. Intervensi Asing

Intervensi asing adalah syarat sentral dari bekerjanya politik pembangunan. Intervensi asing adalah sesuatu intervensi yang berasal dari satu

(45)

kelompok, sistem ataupun negara tertentu yang berfungsi untuk mengendalikan.

Intervensi asing adalah aktor pembangunan yang berasal dari “luar” yang mendukung rencana pembangunan yang dimainkan oleh aktor pembangunan dari

“dalam” dan memiliki tujuan-tujuan tertentu. Mereka memiliki hubungan khusus dan kepentingan yang saling menguntungkan dan di satu sisi mungkin ada ketergantungan. Mereka bisa individu, lembaga, ataupun negara.

1.7.1.1 Startegi Politik Pembangunan

Untuk mengetahui siapa yang berperan dalam politik pembangunan, maka diperlukan pendekatan dalam politik pembangunan. Pendekatan politik pembangunan ini juga akan membantu kita apakah politik pembangunan yang dijalankan melibatkan kepentiangan atas, kepentingan bawah atau campuran keduanya. Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan politik pembanguan terbagi menjadi 3, sebagai berikut:

1. Pendekatan Top-Down

Pendekatan Top-Down adalah pendekatan yang berpusat pada aktor atas.

Pendekatan Top-Down menggariskan bahwa perumusan startegi pembangunan disatukan dan dikordinasikan pimpinan tertinggi dan diturunkan pada tingkat/level bawah. Startegi pembangunan ini bersifat menyeluruh yang digunakan sebagai penentu sasaran pembangunan secara menyeluruh.42 Ini merupakan satu pendekatan yang digunakan untuk menerapkan pembangunan dengan cara mengklasifikasi persoalan pembangunan dan kemudian melakukan pembangunan

42 Nurman. 2015. Startegi Pembangunan Daerah. Jakarta: Rajawali Press. Hal: 158.

(46)

dengan kebijakan-kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh “orang-orang atas”. Mereka ini adalah penguasa dan pemerintah.

Pendekatan Top-Down menegasakan bahwa peran pemerintah dirasa sangat penting karena masyarakat biasanya dalam posisi yang lemah dalam berbagai aspek. Atas dasar tersebutlah bahwa pembangunan yang ada di daerah ataupun desa harus disponsori dan digerakkan oleh pemerintah. Dengan demikian, pola pembangunan dari atas dinilai adalah startegi yang sangat tepat dalam tercapainya kesejahteraan masyarakat. Praktik-praktik seperti ini di negara berkembang digunakan untuk melaksanakan secara langsung-langsung program- program, proyek-proyek pembangunan; melakukan pengorganisasian dan promosi organisasi-organisasi petani. Pengalaman jika menunjukkan bahwa startegi ini memungkinkan birokrasi bekerja sama dengan para elite-elite di tingkat lokal.43

2. Pendekatan Bottom-Up

Pendekatan Bottom-Up adalah salah satu pendekatan yang berasal dari bawah. Pendekatan Bottom-Up sering juga disebut pendekatan populistik.

Pendekatan Bottom-Up adalah kebalikan dari pendekatan Top-Down. Dalam Pendekatan Bottom-Up, rancangan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. Pendekatan Bottom-Up menggariskan bahwa inisiatif startegi pembangunan berasal dari berbagai unit yang disampaikan dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Model startegi pembangunan ini banyak

43 Warjio. Op. Cit., Hal. 179.

Figur

Gambar 1.1. 3 Unsur Penting dalam Pelaksanaan KLA  (Sumber: Kementerian PPPA, 2016)

Gambar 1.1.

3 Unsur Penting dalam Pelaksanaan KLA (Sumber: Kementerian PPPA, 2016) p.18
Gambar 1.2 Indikator Keberhasilan Pembangunan  Sumber: Arief Budiman (2000)

Gambar 1.2

Indikator Keberhasilan Pembangunan Sumber: Arief Budiman (2000) p.26
Gambar 1.3 Alur Pikir KLA

Gambar 1.3

Alur Pikir KLA p.33
Gambar 1.4 Tahapan Pengembangan KLA

Gambar 1.4

Tahapan Pengembangan KLA p.41
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas PPKB & PPA Kab. Langkat  (Sumber: Renstra Dinas PPKB & PPA Kab

Gambar 2.1

Struktur Organisasi Dinas PPKB & PPA Kab. Langkat (Sumber: Renstra Dinas PPKB & PPA Kab p.77

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di