• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang Masalah

Permainan bola tangan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1890 oleh seorang tokoh gymnastic dari Jerman bernama Konrad Koch. Akan tetapi permainan bola tangan ini tidak dapat langsung populer pada saat itu karena berbagai alasan.

Setelah perang dunia ke-1 selesai, dua orang Jerman yang lain bernama Hirschman dan Dr. Schelenz, berusaha mempopulerkan kembali permainan bola tangan. Kemudian permainan bola tangan mulai berkembang di Eropa dan menjadi suatu cabang yang secara teratur dimainkan di sekolah lanjutan, klub dan perguruan tinggi(Agus Mahendra,2000:1).

Permainan bola tangan sudah lama dikenal di Indonesia dikalangan pelajar dan militer, namun olahraga bola tangan ini sempat terhenti karena cenderung keras pemainannya. Berikut awal mula bola tangan dipertandinggkan di Indonesia:

Permulaan bola tangan telah dimasukkan dalam acara pertandingan PON ke-II Jakarta tahun 1951 yang diikuti teman–teman dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur saja. Jadi permainan bola tangan di Indonesia banyak dikenal oleh pelajar–pelajar sekolah lanjutan sebagai salah satu pelajaran olahraga serta dikalangan angkatan bersenjata(Aip Sjaripfuddin,1987:190).

Bola tangan sekarang ini pun semakin berkembang di Indonesia. Hal ini terlihat dengan adanya organisasi atau pengurus besar yang membawahi cabang olahraga bola tangan ini, yaitu Asosiasi Bola tangan Indonesia (ABTI). Permainan bola tangan Indoor (dengan 7 pemain) berkembang pesat dan bertambah populer, karena pola permainannya sangat menarik. Permainan berlangsung dengan tempo yang cepat, dinamis disertai taktik dan teknik yang spektakuler dari para pemain dan juga bolanya diakhiri dengan gerakan menembak yang dilakukan dengan cepat, keras dan tepat. Bola tangan memperlihatkan keterampilan gerak yang tinggi gabungan dari lari, lompat dan melempar bola. Seorang pemain bola tangan harus memiliki kemampuan tinggi dalam koordinasi, kelincahan, kecepatan dan daya tahan serta kekuatan.

Pada tahun 2008 Indonesia mulai mengembangkan cabang bola tangan.

Indonesia yang terpilih menjadi tuan rumah Kejuaraan Olahraga Pantai se-Asia 1st

(2)

Asian Beach Games Bali 2008, karena yang dipertandingkan semua olahraga pantai maka saat itu Indonesia memiliki pemain berawal dari bola tangan pantai. Sejak saat itu cabang bola tangan memiliki pengurus dengan nama ABTI (Asosiasi Bola tangan Indonesia). Bola tangan memulai latihan pertama kali di FIK-UNJ (Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta) dengan materi pemain masih dalam wilayah Jakarta. Seiring waktu, Bapak Mustafa selaku pelatih yang ditunjuk untuk menangani timnas bola tangan Indonesia mengadakan seleksi pemain ke daerah seluruh Indonesia untuk menjadi bagian tim Indonesia dalam rangka kagiatan kejuaraan pantai se-Asia itu.

Pembinaan prestasi olahraga seharusnya dilakukan secara sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan. Sebagaimana tercantum dalam Undang - Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional pasal 20 ayat 3 yang berbunyi “Olahraga prestasi dilaksanakan melalui proses pembinaan dan pengembangan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan”. Proses pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga tersebut tentunya membutuhkan atlet-atlet yang memiliki potensi yang tinggi. Untuk mendapatkan atlet berpotensi maka perlu adanya pembinaan dan pengembangan prestasi di usia produktif yakni tingkat usia sekolah.

Pembinaan olahraga di Indonesia seyogyanya harus selalu ada peningkatan seiring dengan penerapan berbagai perkembangan ilmu dan pengetahuan di bidang olahraga. Pemanfaatan penemuan model-model latihan dan berbagai pemanfaatan hasil penelitian selayaknya telah diterapkan oleh pembina atau pelatih. Sejalan dengan itu pemerintah selalu berupaya maksimal untuk melaksanakan pembinaan berkesinambungan dengan mempertimbangkan beberapa sektor yang sangat vital.

Pembinaan olahraga di Indonesia menurut Harsuki dkk telah diarahkan dan dilakukan dengan berbagai arah melalui: (1) sekolah-sekolah atau pelajar (mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi), (2) induk -induk cabang olahraga, (3) organisasi dan perkumpulan olahraga, dan (4) organisasi di masyarakat (Harsuki dkk:1996:30). Arah tersebut berguna untuk mengidentifikasi khalayak sasaran sehingga memudahkan mobilisasi sumber daya untuk pembinaan dalam jangka panjang.

Berdasarkan arah tersebut di atas maka akan diperoleh model pembinaan yang tepat diterapkan di Indonesia guna mencapai sistem pembinaan olahraga nasional secara optimal. Upaya pemerintah telah dilakukan dengan mendirikan model pembinaan

(3)

pelatihan atlet di tingkat daerah yang di sebut dengan pelatda atau pelatihan daerah, sasarannya adalah para atlet daerah yang berada didaerah tersebut. Dengan mendirikan pelatihan ditingkat daerah, atlet daerah akan terfasilitasi dan mendapat arahan untuk meningkatkan prestasinya. Peningkatan prestasi ini akan terus dimonitoring dan para atlet akan mendapatkan kesempatan untuk bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Pada tingkatan tertinggi, pemerintah telah mempersiapkan wadah untuk para atlet yang berpotensi untuk dipusatkan pada pusat pelatihan nasional.

Dalam melaksanakan pembinaan prestasi di tingkat daerah tidak terlepas dari pada manajemen yang baik. Manajemen merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pembinaan dan latihan secara keseluruhan karena tanpa pengelolaan

manajemen yang baik, akan terasa sangat sulit pelatihan daerah diwujudkan secara optimal. Manajemen pada hakikatnya adalah bagaimana seorang pimpinan mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga ia dapat mencapai tujuan organisasi. Suatu lembaga akan efisien apabila investasi yang ditanamkan didalam lembaga tersebut sesuai atau memberikan profit sebagaimana yang diharapkan. Selanjutnya, suatu institusi akan efektif apabila pengelolaannya menggunakan prinsip-prinsip yang tepat dan benar sehingga berbagai kegiatan di dalam lembaga tersebut dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah direncanakan.

Memang disadari bahwa turunnya prestasi olahraga Indonesia memang tidak lepas dari aspek-aspek seperti rendahnya perhatian pemerintah terhadap dunia olahraga Indonesia, terbatasnya sarana dan prasarana yang ada dalam melakukan latihan untuk berprestasi.

Pengelolaan manajemen keolahragaan yang belum begitu baik mungkin dikarenakan belum ada ahli manajemen keolahragaan yang mengurusinya atau masih ada sebagian orang yang mengelola keolahragaan ini adalah untuk mementingkan diri sendiri, campur tangan politik demi kepuasannya untuk mencapai sesuatu. Bagaimana mungkin mendapatkan prestasi yang tinggi kalau masalah-masalah keolahragaan kita seperti di atas masih di temui, terutama tanpa didukung sarana dan prasarana olahraga yang lengkap untuk berprestasi. Walaupun atlet memiliki kemampuan dan semangat yang tinggi, pelatih yang berpengalaman dan sertifikasi tingkat Internasional, namun apabila pengelolaan manajemen organisasi olahraga yang belum baik, dan tanpa adanya dukungan dari pemerintah maka prestasi belum dapat diraih. Penyelenggaraan program

(4)

pembinaan prestasi merupakan suatu sistem yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, karena pada hakekatnya seluruhnya saling mempengaruhi. Dalam satu pemusatan pelatihan di daerah memiliki berbagai permasalahan, berbagai keunggulan dan kelemahan selalu terjadi, baik yang telah ada ataupun di masa mendatang. Beberapa keunggulan dan prestasi yang telah dicapai oleh Pelatnas, masih terdapat beberapa celah yang harus dan dapat diperbaiki serta ditingkatkan.

Prestasi yang diraih oleh tim nasional putri indonesia U-19 pertama kali mengikuti kejuaraan internasional hingga ke tiga kalinya mengikuti kejuaraan IHF selalu mendapatkan peringkat ketiga yaitu mendapatkan mendali perunggu, apa penyebab dari ketidak majuan prestasi yang diraih inilah masalah yang harus diteliti agar kita semua bisa menelaah lebih jauh dan dalam lagi untuk meningkatkan prestasi olahraga yang baru populer dikalangan olahragawan ini,bukan hanya olahraga yang susah populer saja, tetapi kita harus mendukung olahraga-olahraga yang sedang berkembang.

Adapun penelitian dilakukan dengan mengkaji dan mengetahui gambaran tentang pelaksanaan pembinaan prestasi olahraga Bola Tangan (Handball) tim nasional putri U-19 melalui pendekatan evaluatif. Terdapat beberapa alasan tentang pemilihan lokasi diantaranya :

Pertama; Tim Nasional Putri U-19 karena perolehaan prestasi tidak meningkat dari pertama keikut sertaan di kejuaraan IHF dan tahun 2016 ini untuk kali ketiga timnas putri u-19 ikut bertahan dengan perolehaan mendali perunggu. Kedua; proses dan managemen untuk perekruitmen pelatih dan atlet platnas serta pembibitan untuk generasi selanjutnya. Ketiga; ingin memperkenalkan olahraga bola tangan ke masyarakat karena olahraga bola tangan ini adalah olahraga yang menyenangkan.

Keempat; ingin mengembangkan dan mempopulerkan olahraga yang seru dan menyenangkan, tidak kalah menyenangkan dan menguras keringat seperti olahraga basket dan futsal.

Keempat alasan di atas yang menjadi pemicu ketertarikan peneliti untuk meneliti pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) timnas putri u-19, Indonesia.

(5)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang belakang masalah di atas dapat didefinisikan berbagai masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia sebagai berikut :

1. Bagaimanakah sistem organisasi bola tangan (handball) Indonesia?

2. Bagaimana pola rekruitmen bola tangan (handball) Indonesia?

3. Pihak mana saja yang terlibat dalam rekruitmen bola tangan (handball) Indonesia?

4. Bentuk tes apa saja yang dilakukan untuk menyeleksi calon atlet dan pelatih pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

5. Komponen apa saja yang mendukung keberhasilan dalam suatu pertandingan atau perlombaan?

6. Bagaimana karakteristik sarana dan prasarana pendukung pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

7. Pendekatan apa saja yang diperlukan dalam meningkatkan kualitas pelatih pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) indonesia?

8. Bagaimanakah perencanaan program pada timnas bola tangan (handball) Indonesia?

9. Adakah dana untuk menunjang prestasi pelatnas bola tangan indonesia?

10. Apakah peranan PB dalam perekruitan para pelatih dan atlet?

11. Apakah ada tes tertentu untuk merekruit para pelatih dan atlet?

12. Apakah para pelatih memiliki kemampuan untuk menyusun program latihan pada pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

13. Bagaimana peran pelatih dalam pencapaian prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

14. Bagaimanakah prestasi yang telah dicapai oleh atlet pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

15. Hambatan dan kendala apa saja yang ada dalam pencapaian prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

(6)

C. Pembatasan Masalah

Dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah penelitian yang telah diuraikan di atas, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dikaji dan diungkapkan yang disesuaikan dengan pokok -pokok permasalahan dan tujuan penelitian yang digariskan. Adapun permasalahannya dibatasi pada 1) Karakteristik atlet pada pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia 2) Karakteristik pelatih pada pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (3) Karakteristik organisasi penyelenggara pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (4) Karakteristik program dan strategi dasar pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (5) Karakteristik program latihan pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (6) Karakteristik sarana dan prasarana pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (7) Penseleksian atlet dan pelatih pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (8) Pelaksanaan latihan pada pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (9) Evaluasi latihan pada pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (10) Motivasi dalam pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia (11) Prestasi atlet pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia pada rentang tahun 2012 hingga 2016 di kejuaraan IHF.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka perumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimanakah karakteristik atlet pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

2. Bagaimanakah karakteristik pelatih pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

3. Bagaimanakah organisasi penyelenggara pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

4. Bagaimanakah program latihan TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

5. Bagaimanakah program pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

(7)

6. Bagaimanakah sarana dan prasarana pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?.

7. Bagaimanakah penseleksian atlet dan pelatih pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

8. Bagaimanakah pelaksanaan latihan pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

9. Bagaimanakan evaluasi latihan pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

10. Bagaimanakah motivasi dalam pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia?

11. Bagaimanakah prestasi pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia pada rentang tahun 2012 hingga 2016 di kejuaraan IHF?

E. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia pada kejuaraan IHF dari tahun 2012 - 2016. Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Mendeskripsikan karakteristik atlet pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

2. Mendeskripsikan karakteristik pelatih pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

3. Mendeskripsikan organisasi penyelenggara pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia..

4. Mendeskripsikan program latihan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

5. Mendeskripsikan program pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

6. Mendeskripsikan sarana dan prasarana pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

7. Mendeskripsikan penseleksian atlet dan pelatih pembinaan prestasi TIMNAS U- 19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

(8)

8. Mendeskripsikan pelaksanaan latihan pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

9. Mendeskripsikan evaluasi latihan pada pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia

10. Mendeskripsikan motivasi pembinaan prestasi TIMNAS U-19 olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

11. Mendeskripsikan prestasi atlet TIMNAS U-19 putri Indonesia bola tangan (handball) pada rentang tahun 2012 hingga 2016.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat kepada berbagai pihak baik secara teoritis maupun secara empiris.

1. Manfaat Teoritik

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kasanah dan wacana ilmiah dalam pengembangan pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) Indonesia.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah: (1) Bagi Pemerintah, penelitian ini dapat sumber evaluasi pelaksanaan manajemen asosiasi bola tangan Indonesia (ABTI); (2) Bagi asosiasi bola tangan Indonesia (ABTI), Penelitian ini nantinya berguna untuk mendapatkan data pelaksanaan pembinaan prestasi olahraga bola tangan (handball) serta profil prestasi olahraga bola tangan (handball); (3) Bagi Induk organisasi Olahraga atau Pengurus Besar (PB) cabang olahraga bola tangan dapat mengadakan pembinaan lebih lanjut atlet yang berprestasi mulai dari proses rekruitmen hingga mencapai prestasi.

3. Bagi Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Sebelas Maret

Sebagai bahan pustaka dan tambahan referensi tentang penelitian evaluasi menggunakan model “CIPP” mengenai pengevaluasian program latihan dan pembinaan prestasi untuk mencapai prestasi tertinggi bukan hanya untuk TIMNAS saja tetapi untuk semua organisasi yang melaksanakan pembinaan dari tingkat daerah terlebih dahulu sebelum mencapai TIMNAS pembibitan dan pencarian bakat sedini mungkin dari tingkat daerah.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas yang cukup luas, maka penulis hanya membatasi penelitian ini pada Pengalaman Kerja, Independensi, Obyektifitas,

Berdasarkan pada latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah yang dikemukakan maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “bagaimana

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai implementasi nilai- nilai toleransi pada

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang diuraikan di atas yaitu jumlah parameter pengujian serta tugas-tugas selain pengujian sampel seperti pengambilan sampel

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “STUDI EKSPERIMENTAL VAPOR CARBURETOR

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis membatasi masalah untuk diteliti hanya pada Peran Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL-PP) Kota

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Penerapan Media E-learning Berbasis

1.3.Pembatasan Masalah Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan pada latar belakang dan identifikasi masalah yang cukup banyak, maka penulis membatasi pembahasan