• Tidak ada hasil yang ditemukan

A.4.2. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "A.4.2. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

d. Keseimbangan Antargenerasi (intergenerational equity)

Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.

Tujuan Pelaporan Keuangan

Pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan:

a. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran.

b. Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan.

c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai.

d. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya.

e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman.

f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan, belanja, transfer, dana cadangan, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dana, dan arus kas suatu entitas pelaporan.

A.4.2. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan pokok terdiri dari:

a. Laporan Realisasi Anggaran;

b. Neraca;

c. Laporan Arus Kas;

d. Catatan atas Laporan Keuangan.

Selain laporan keuangan pokok seperti disebut, entitas pelaporan diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas.

(2)

A.4.3. DASAR HUKUM PELAPORAN KEUANGAN

Pelaporan keuangan pemerintah diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang - undangan yang mengatur keuangan pemerintah, antara lain:

a. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, khususnya bagian yang mengatur keuangan negara;

b. Undang-undang di bidang keuangan negara;

c. Undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

d. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemerintah daerah, khususnya yang mengatur keuangan daerah;

e. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah;

f. Ketentuan perundang-undangan tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah; dan

g. Peraturan Daerah yang mengatur tentang keuangan.

A.4.4. ASUMSI DASAR

Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adaiah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan, yang terdiri dari:

a. Asumsi kemandirian entitas;

b. Asumsi kesinambungan entitas; dan

c. Asumsi keterukuran dalam satuan uang (monetary measurement).

Kemandirian Entitas

Asumsi kemandirian entitas baik entitas pelaporan maupun akuntansi berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab penuh. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud, utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas, serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan.

Kesinambungan Entitas

Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. Dengan demikian pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek.

(3)

Keterukuran Dalam Satuan Uang (Monetary Measurement)

Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi.

A.4.5. KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN

Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:

a. Relevan;

b. Andal;

c. Dapat dibandingkan; dan d. Dapat dipahami.

Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini dan memprediksi masa depan serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya.

Informasi yang relevan :

a. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)

Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan alat mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.

b. Memiliki manfaat prediktif (predictive value)

Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini.

c. Tepat waktu

Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan.

d. Lengkap

Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi Pengambilan keputusan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.

(4)

Andal

Informasi Dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Informasi yang andal memenuhi karakteristik:

a. Penyajian Jujur

Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.

b. Dapat Diverifikasi (verifiability)

Informasi yang disajikan Dalam laporan keuangan dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh.

c. Netralitas

Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu.

Dapat Dibandingkan

Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode Sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun.

Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan.

Dapat Dipahami

Informasi yang disajikan Dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud.

A.4.6. PRINSIP AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN

Prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh pembuat standar dalam penyusunan standar akuntansi, oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan

(5)

keuangan yang disajikan. Berikut ini adalah delapan prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah:

a. Basis akuntansi;

b. Prinsip nilai historis;

c. Prinsip realisasi;

d. Prinsip substansi mengungguli bentuk formal;

e. Prinsip periodisitas;

f. Prinsip konsistensi;

g. Prinsip pengungkapan lengkap; dan h. Prinsip penyajian wajar.

Basis Akuntansi

Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan belanja dan pembiayaan dalam laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca.

Basis kas untuk laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah atau entitas pelaporan. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba.

Penentuan sisa pembiayaan anggaran baik lebih ataupun kurang untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada laporan Realisasi Anggaran.

Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.

Entitas pelaporan yang menyajikan laporan Kinerja Keuangan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual, baik dalam pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan, maupun dalam pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Namun demikian, penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas.

Nilai Historis (Historical Cost)

Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar Jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah.

(6)

Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai historis, dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait.

Realisasi (Realization)

Bagi pemerintah, pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut.

Prinsip layak temu biaya-pendapatan (matching-cost against revenue principle) dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial.

Substansi Mengungguli Bentuk Formal (Substance Over Form)

Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Periodisitas (Periodicity)

Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Periode utama yang digunakan adalah tahunan. Namun, periode bulanan, triwulanan, dan semesteran juga dianjurkan.

Konsistensi (Consistency)

Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Pengungkapan Lengkap (Full Disclosure)

Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau Catatan atas Laporan Keuangan.

Penyajian Wajar (Fair Presentation)

Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran,

(7)

Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah, atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.

A.4.7. KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN DAN ANDAL

Kendala informasi akuntansi dan laporan keuangan adalah setiap keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal dalam mewujudkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang relevan dan andal akibat keterbatasan (limitations) atau karena alasan-alasan kepraktisan. Tiga hal yang menimbulkan kendala dalam informasi akuntansi dan laporan keuangan pemerintah, yaitu:

a. Materialitas;

b. Pertimbangan biaya dan manfaat;

c. Keseimbangan antar karakteristik kualitatif.

Materialitas

Walaupun idealnya memuat segata informasi, laporan keuangan pemerintah hanya diharuskan memuat informasi yang memenuhi kriteria materialitas.

Informasi dipandang material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan.

Pertimbangan Biaya dan Manfaat

Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya.

Oleh karena itu, laporan keuangan pemerintah tidak semestinya menyajikan segala informasi yang manfaatnya lebih kecil dari biaya penyusunannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya itu juga tidak harus dipikul oleh pengguna informasi yang menikmati manfaat. Manfaat mungkin juga dinikmati oleh pengguna lain disamping mereka yang menjadi tujuan informasi, misalnya penyediaan informasi lanjutan kepada kreditor mungkin akan mengurangi biaya yang dipikul oleh suatu entitas pelaporan.

Keseimbangan antar Karakteristik Kualitatif

Keseimbangan antar karakteristik kualitatif diperlukan untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat di antara berbagai tujuan normatif yang diharapkan

(8)

dipenuhi oleh laporan keuangan pemerintah. Kepentingan relatif antar karakteristik dalam berbagai kasus berbeda, terutama antara relevansi dan keandalan. Penentuan tingkat kepentingan antara dua karakteristik kualitatif tersebut merupakan masalah pertimbangan profesional.

A.4.8. UNSUR LAPORAN KEUANGAN Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

Unsur yang dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi Anggaran terdiri dari pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan. Masing-masing unsur didefinisikan sebagai berikut :

a. Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak per1u dibayar kembali oleh pemerintah.

b. Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.

c. Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

d. Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.

e. Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.

f. Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.

g. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

(9)

Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

Masing-masing unsur didefinisikan sebagai berikut :

a. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh baik oleh pemerintah maupun masyarakat serta dapat diukur dalam satuan uang termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

b. Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.

c. Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah.

Aset

Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah.

Aset diklasifikasikan ke dalam aset lancar dan nonlancar. Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.

Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non lancar. Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan. Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang, dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.

Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.

Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Investasi jangka panjang meliputi investasi nonpermanen dan permanen. Investasi nonpermanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara, penyertaan modal dalam proyek pembangunan, dan investasi nonpermanen lainnya. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya.

(10)

Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan aset tetap lainnya, dan konstruksi dalam pengerjaan. Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan).

Kewajiban

Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang.

Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintah lain, atau lembaga internasional.

Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya.

Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang-undangan.

Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.

Ekuitas Dana

Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek.

b. Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam aset nonlancar selain dana cadangan, dikurangi dengan kewajiban jangka panjang.

c. Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai peraturan perundang-undangan.

Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan transaksi non- anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu.

(11)

Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut:

a. Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Daerah.

b. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Daerah.

Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;

b. Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;

c. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi- transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;

d. Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan;

e. Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas; dan

f. Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan.

Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Kinerja Keuangan adalah laporan realisasi pendapatan dan belanja yang disusun berdasarkan basis akrual. Dalam laporan dimaksud, perlu disajikan informasi mengenai pendapatan operasional, belanja berdasarkan klasifikasi fungsional dan ekonomi, dan surplus atau defisit.

Laporan lainnya yang diperkenankan adalah Laporan Perubahan Ekuitas, yakni laporan yang menunjukkan kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

(12)

A.4.9. PENGAKUAN UNSUR LAPORAN KEUANGAN

Pengakuan Dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.

Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:

a. Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan;

b. Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyat nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal.

Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhi kriteria pengakuan, perlu dipertimbangkan aspek materialitas.

Kemungkinan Besar Manfaat Ekonomi Masa Depan Terjadi

Dalam kriteria pengakuan pendapatan, konsep kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan terjadi digunakan dalam pengertian derajat kepastian tinggi bahwa manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan pos atau kejadian/peristiwa tersebut akan mengalir dari atau ke entitas pelaporan. Konsep ini diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan operasional pemerintah. Pengkajian derajat kepastian yang melekat dalam arus manfaat ekonomi masa depan dilakukan atas dasar bukti yang dapat diperoleh pada saat penyusunan laporan keuangan.

Keandalan Pengukuran

Kriteria pengakuan pada umumnya didasarkan pada nilai uang akibat peristiwa atau kejadian yang dapat diandalkan pengukurannya. Namun ada kalanya pengakuan didasarkan pada hasil estimasi yang layak. Apabila pengukuran berdasarkan biaya dan estimasi yang layak tidak mungkin dilakukan maka pengakuan transaksi demikian cukup diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

Penundaan pengakuan suatu pos atau peristiwa dapat terjadi apabila criteria pengakuan baru terpenuhi setelah terjadi atau tidak terjadi peristiwa atau keadaan lain di masa mendatang.

Pengakuan Aset

Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh

(13)

Aset dalam bentuk kas yang diperoleh pemerintah antara lain bersumber dari pajak, retribusi, transfer, dan setoran lain-lain, serta penerimaan pembiayaan, seperti hasil pinjaman. Proses pemungutan setiap unsur penerimaan tersebut sangat beragam dan melibatkan banyak pihak atau instansi. Dengan demikian, titik pengakuan penerimaan kas oleh pemerintah untuk mendapatkan pengakuan akuntansi memerlukan pengaturan yang lebih rinci, termasuk pengaturan mengenai batasan waktu sejak uang diterima sampai penyetorannya ke Rekening Kas Umum Daerah. Aset tidak diakui jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin diperoleh pemerintah setelah periode akuntansi berjalan.

Pengakuan Kewajiban

Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi akan dilakukan atau telah dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sekarang, dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal. Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban timbul.

Pengakuan Pendapatan

Pendapatan menurut basis kas diakui pada saat diterima di Rekening Kas Daerah atau oleh entitas pelaporan. Pendapatan menurut basis akrual diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut.

Pengakuan Belanja

Belanja menurut basis kas diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah atau entitas pelaporan. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan.

Belanja menurut basis akrual diakui pada saat timbulnya kewajiban atau pada saat diperoleh manfaat.

(14)

BAB V

PENJELASAN ATAS POS-POS DALAM LAPORAN KEUANGAN

A. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI APBD

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, surplus/(defisit) dan pembiayaan yang masing-masing dipertanggungjawabkan dengan anggaran dalam satu periode.

A.1. PENJELASAN UMUM LAPORAN REALISASI APBD

Tabel 5.1. Laporan Realisasi APBD TA 2014

NO URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014

1 PENDAPATAN 1.283.863.055.411,00 1.351.171.087.194,24

1 . 1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 103.977.569.000,00 88.059.263.275,24

1 . 1 . 1 Pendapatan Pajak Daerah 30.784.299.000,00 32.009.452.634,50

1 . 1 . 2 Pendapatan Retribusi Daerah 13.699.650.000,00 8.256.958.731,94

1 . 1 . 3 Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan

Daerah Yang Dipisahkan 14.500.000.000,00 9.411.910.722,09

1 . 1 . 4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 44.993.620.000,00 38.380.941.186,71

1 . 2 PENDAPATAN TRANSFER 1.148.835.186.411,00 1.226.319.981.718,00

1 . 2 . 1 Transfer Pemerintah Pusat - Dana

Perimbangan 974.351.054.411,00 1.061.511.697.968,00

1 . 2 . 1 . 1 Dana Bagi Hasil Pajak 77.122.903.591,00 90.012.937.119,00 1 . 2 . 1 . 2 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber

Daya Alam) 643.491.964.820,00 718.709.201.849,00

1 . 2 . 1 . 3 Dana Alokasi Umum 249.949.676.000,00 249.949.676.000,00

1 . 2 . 1 . 4 Dana Alokasi Khusus 3.786.510.000,00 2.839.883.000,00

1 . 2 . 2 Transfer Pemerintah Pusat – Lainnya 48.576.631.000,00 63.310.465.000,00 1 . 2 . 2 . 2 Dana Penyesuaian 48.576.631.000,00 63.310.465.000,00 1 . 2 . 3 Transfer Pemerintah Provinsi 125.907.501.000,00 101.497.818.750,00 1 . 2 . 3 . 1 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 125.907.501.000,00 101.497.818.750,00

1 . 3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 31.050.300.000,00 36.791.842.201,00

1 . 3 . 1 Pendapatan Hibah 0,00 0,00

1 . 3 . 3 Pendapatan Lainnya 31.050.300.000,00 36.791.842.201,00

(15)

NO URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014

2 BELANJA 1.815.023.973.023,20 1.677.056.631.223,97

2 . 1 BELANJA OPERASI 901.038.328.478,20 821.063.589.915,45

2 . 1 . 1 Belanja Pegawai 459.845.498.939,04 437.633.313.363,57

2 . 1 . 2 Belanja Barang 370.352.668.703,16 323.772.570.548,88

2 . 1 . 3 Belanja Subsidi 2.500.000.000,00 2.500.000.000,00

2 . 1 . 4 Belanja Hibah 57.666.674.300,00 51.478.780.500,00

2 . 1 . 5 Belanja Bantuan Sosial 10.093.050.000,00 5.120.199.375,00

2 . 1 . 6 Belanja Bantuan Keuangan 580.436.536,00 558.726.128,00

2 . 2 BELANJA MODAL 910.985.644.545,00 855.742.525.966,20

2 . 2 . 1 Belanja Tanah 20.819.281.688,00 7.266.125.000,00

2 . 2 . 2 Belanja Peralatan dan Mesin 56.778.141.414,00 51.392.108.507,00

2 . 2 . 3 Belanja Bangunan dan Gedung 370.657.955.877,00 351.449.760.150,20 2 . 2 . 4 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 459.532.687.776,00 442.457.996.213,00

2 . 2 . 5 Belanja Aset Tetap Lainnya 2.914.097.790,00 2.893.721.116,00

2 . 2 . 6 Belanja Aset Lainnya 283.480.000,00 282.814.980,00

2 . 3 BELANJA TAK TERDUGA 3.000.000.000,00 250.515.342,32

2 . 3 . 1 Belanja Tak Terduga 3.000.000.000,00 250.515.342,32

SURPLUS / (DEFISIT) (531.160.917.612,20) (325.885.544.029,73)

3 PEMBIAYAAN

3 . 1 PENERIMAAN DAERAH 531.160.917.612,20 531.160.917.612,20

3 . 1 . 1 Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan

Anggaran (SiLPA) 531.160.917.612,20 531.160.917.612,20

3 . 1 . 2 Pencairan Dana Cadangan 0,00 0,00

3 . 1 . 3 Penerimaan Kembali Pinjaman Lainnya 0,00 0,00

3 . 2 PENGELUARAN DAERAH 0,00 0,00

3 . 2 . 1 Pembentukan Dana Cadangan 0,00 0,00

3 . 2 . 2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah

Daerah 0,00 0,00

3 . 2 . 3 Pembayaran Pokok Utang 0,00 0,00

3 . 2 . 4 Pemberian Pinjaman Daerah 0,00 0,00

PEMBIAYAAN NETTO 531.160.917.612,20 531.160.917.612,20

SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) 0,00 205.275.373.582,47

(16)

Realisasi Pendapatan Daerah pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.351.171.087.194,24 yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer, dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

Pendapatan Asli Daerah terdiri dari Pendapatan Pajak Daerah, Pendapatan Retribusi, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. Pemerintah Daerah telah berupaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari tahun ke tahun. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan penerimaan pajak. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pendapatan asli daerah dalam tahun 2014 antara lain mencakup: (i) kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan retribusi; (ii) potensi- potensi pendapatan baru yang dapat di gali; dan (iii) Penegakan Perda Pendapatan

Realisasi Pendapatan Asli Daerah adalah sebesar Rp88.059.263.275,24 terdiri dari Pendapatan Pajak Daerah sebesar Rp32.009.452.634,50, Pendapatan Retribusi sebesar Rp8.256.958.731,94, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan sebesar Rp9.411.910.722,09, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp38.380.941.186,71.

Pendapatan Transfer terdiri dari Transfer dari Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan, Transfer Pemerintah Pusat Lainnya, dan Transfer Pemerintah Provinsi. Pemerintah Kota Tarakan telah berupaya untuk meningkatkan pendapatan transfer dari tahun ke tahun.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam perhitungan lifting. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pendapatan transfer dalam tahun 2014 antara lain mencakup : (i) indikator- indikator ekonomi daerah seperti PDRB, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan; (ii) Perhitungan lifting minyak dan gas bumi; dan (iii) Peraturan-perundangan pusat mengenai alokasi dana.

Realisasi pendapatan Transfer dari Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan Tahun 2014 sebesar Rp1.061.511.697.968,00, terdiri dari Dana Bagi Hasil Pajak sebesar Rp90.012.937.119,00, Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp718.709.201.849,00, Dana Alokasi Umum sebesar Rp249.949.676.000,00 dan Dana Alokasi Khusus Non Reboisasi sebesar Rp2.839.883.000,00.

Pada tahun 2014 Pemerintah Kota Tarakan mendapatkan transfer pemerintah pusat lainnya berupa dana penyesuaian sebesar Rp63.310.465.000,00.

Realisasi pendapatan Transfer dari Pemerintah Provinsi Tahun 2014 sebesar Rp101.497.818.750,00, merupakan Dana Bagi Hasil Pajak Provinsi. Pemerintah telah

berupaya untuk meningkatkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah dari tahun ke tahun. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan koordinasi pendapatan dengan Pemerintah provinsi dan Pusat. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah dalam tahun 2014 antara lain mencakup: (i) jumlah kendaraan bermotor; (ii) jumlah bea balik nama kendaraan bermotor; dan (iii) pemanfaatan air.

(17)

Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Tahun 2014 sebesar Rp36.791.842.201,00, terdiri dari Pendapatan Hibah sebesar Rp0,00 dan pendapatan lainnya sebesar Rp36.791.842.201,00.

Belanja Daerah dilakukan berdasarkan pada prinsip pengendalian anggaran belanja daerah dengan tetap menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar dan alokasi belanja minimum, dengan mempertimbangkan penghematan dan efisiensi penggunaan belanja daerah, menjamin terlaksananya kegiatan administrasi pemerintahan, serta terselenggaranya agenda-agenda penting daerah.

Belanja daerah meliputi (i) Belanja Operasi, (ii) Belanja Modal, (iii) Belanja Tidak Terduga, dan (iv) Belanja Transfer. Belanja Operasi ditujukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembangunan tanpa menimbukan aset tetap. Belanja Modal ditujukan untuk mendukung kegiatan pembangunan berupa aset tetap. Belanja Tidak Terduga ditujukan untuk mengantisipasi di luar perencanaan pemerintah daerah. Belanja Transfer ditujukan untuk pemerataan pembangunan.

Realisasi Belanja Daerah pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.677.056.631.223,97, yang terdiri dari (i) Belanja Operasi sebesar Rp821.063.589.915,45, (ii) Belanja Modal sebesar Rp855.742.525.966,20 dan (iii) Belanja Tak Terduga sebesar Rp250.515.342,32. Berdasarkan realisasi Pendapatan Daerah dan realisasi Belanja Daerah, maka defisit Anggaran yang terjadi pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp325.811.002.730,73.

Realisasi Pembiayaan Netto pada Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp531.160.917.612,20, yang terdiri dari (i) Penerimaan Daerah berupa SILPA awal tahun sebesar Rp531.160.917.612,20 dan (ii) Pengeluaran Daerah yaitu berupa pembayaran pokok utang sebesar Rp0,00 (nihil).

Berdasarkan Surplus Anggaran dan Pembiayaan Netto pada Tahun Anggaran 2014 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp205.275.373.582,47.

A.2. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI APBD A.2.1. Pendapatan Daerah

Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.351.171.087.194,24 atau 105,24% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp1.283.863.055.411,00. Realisasi Pendapatan Daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah, dengan komposisi sebagai berikut.

Tabel 5.2. Realisasi Pendapatan TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014

REALISASI 2014

(%) REALISASI

2013 Pendapatan Asli Daerah 103.977.569.000,00 88.059.263.275,24 84,69 94.014.016.148,75 Pendapatan Transfer 1.148.835.186.411,00 1.226.319.981.718,00 106,74 1.235.345.246.182,00 Lain-lain Pendapatan Yang Sah 31.050.300.000,00 36.791.842.201,00 118,49 136.364.745.000,00 JUMLAH 1.283.863.055.411,00 1.351.171.087.194,24 105,24 1.465.724.007.330,75

(18)

Komposisi masing-masing pendapatan daerah tahun 2014 dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Grafik 5.1. Pendapatan Daerah Kota Tarakan tahun 2014

A.2.1.1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Realisasi PAD Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp88.059.263.275,24 atau 85% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp103.977.569.000,00. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari Pendapatan Pajak Daerah, Pendapatan Retribusi, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah.

Tabel 5.3. Realisasi PAD TA 2014

URAIAN ANGGARAN 2014 REALISASI 2014 % REALISASI 2013

Pendapatan Pajak Daerah 30.784.299.000,00 32.009.452.634,50 103,98 27.319.802.868,43 Pendapatan Retribusi Daerah 13.699.650.000,00 8.256.958.731,94 60,27 12.605.787.028,66 Pendapatan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Dearah Yang Dipisahkan 14.500.000.000,00 9.411.910.722,09 64,91 10.820.501.766,64 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang

Sah 44.993.620.000,00 38.380.941.186,71 85,30 43.267.924.485,02

JUMLAH 103.977.569.000,00 88.059.263.275,24 84,69 94.014.016.148,75

A.2.1.1.1. Pendapatan Pajak Daerah

Realisasi Pendapatan Pajak Daerah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp32.009.452.634,50 atau 103,98% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp30.784.299.000,00.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400

milyar

PAD

Dana Perimbangan

Lain-lain Pendpt

(19)

Tabel 5.4. Realisasi Pajak Daerah TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013

Pajak Hotel 4.000.000.000,00 4.527.702.656,50 113,19 2.951.624.619,80

Pajak Restoran 4.600.000.000,00 5.494.887.748,36 119,45 4.898.857.954,79

Pajak Hiburan 325.000.000,00 315.331.550,00 97,03 252.648.132,00

Pajak Reklame 1.500.000.000,00 1.843.681.410,95 122,91 1.537.530.770,53

Pajak Penerangan Jalan 7.000.000.000,00 9.373.675.510,00 133,91 7.066.745.913,00

Pajak Parkir 270.000.000,00 301.867.200,00 111,80 217.497.280,00

Pajak Air Bawah Tanah 200.000.000,00 187.008.650,69 93,50 175.359.737,14

Pajak Sarang Burung Walet 20.000.000,00 11.225.000,00 56,13 1.850.000,00

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 700.000.000,00 1.042.317.218,00 148,90 679.790.063,57 Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

Perkotaan 6.000.000.000,00 5.696.335.434,00 94,94 5.505.077.547,60

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan

Bangunan 6.169.299.000,00 3.215.420.256,00 52,12 4.032.820.850,00

JUMLAH 30.784.299.000,00 32.009.452.634,50 103,98 27.319.802.868,43

A.2.1.1.2. Pendapatan Retribusi Daerah

Realisasi Pendapatan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp8.256.958.731,94 atau 60,27% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp13.699.650.000,00.

Tabel 5.5. Realisasi Retribusi Daerah TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Retribusi Jasa Umum 6.202.650.000,00 2.492.240.200,00 40,18 2.190.357.100,00 Retribusi Jasa Usaha 3.300.000.000,00 2.249.010.455,00 68,15 2.355.560.794,00 Retribusi Perizinan Tertentu 4.197.000.000,00 3.515.708.076,94 83,77 4.226.369.334,66 JUMLAH 13.699.650.000,00 8.256.958.731,94 60,27 8.772.287.228,66

A.2.1.1.3. Pendapatan Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

Realisasi Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp9.411.910.722,09 atau 64,91% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp14.500.000.000,00. Realisasi Pendapatan Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan ini adalah hasil dari dividen BPD Kaltim.

Tabel 5.6. Dividen BPD TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Bagian Laba Atas Penyertaan Modal Pada

Perusahaan Milik Daerah/BUMD 14.500.000.000,00 9.411.910.722,09 64,91 10.820.501.766,64

JUMLAH 14.500.000.000,00 9.411.910.722,09 64,91 10.820.501.766,64

(20)

A.2.1.1.4. Lain-lain PAD Yang Sah

Realisasi Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp38.380.941.186,71 atau 85,30% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp44.993.620.000,00.

Tabel 5.7. Lain-lain PAD yang Sah TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Penerimaan Jasa Giro 7.538.620.000,00 2.308.653.994,26 30,62 10.436.372.361,44 Penerimaan Bunga Deposito 24.000.000.000,00 27.374.788.726,30 114,06 26.065.395.306,35 Tuntutan Ganti Kerugian Daerah (TGR) 1.750.000.000,00 1.546.758.099,14 88,39 3.310.341.196,64 Pendapatan Denda Keterlambatan

Pelaksanaan Pekerjaan 150.000.000,00 184.902.913,60 123,27 248.445.736,32

Pendapatan Dari Pengembalian 7.395.000.000,00 5.613.993.213,84 75,92 139.646.007,08 Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum 2.500.000.000,00 931.400.000,00 37,26 1.034.400.000,00 Penerimaan Lain-Lain 1.500.000.000,00 289.625.136,93 19,31 2.033.323.877,19

Pendapatan Denda Pajak 40.000.000,00 72.927.342,24 182,32 -

Pendapatan Denda Retribusi 15.000.000,00 45.121.760,40 300,81 -

Pendapatan Dari Penyelenggaraan Pendidikan

dan Pelatihan 5.000.000,00 - 0,00 -

Penerimaan Dari Hasil Triping 50.000.000,00 - 0,00 -

Penerimaan Dari Lelang Barang Bukti Hasil

Sitaan 50.000.000,00 12.770.000,00 25,54 -

JUMLAH 44.993.620.000,00 38.380.941.186,71 85,30 43.267.924.485,02

A.2.1.2. Pendapatan Transfer

Realisasi Pendapatan Transfer Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.226.319.981.718,00 atau 106,74% dari anggaran yang ditetapkan dalam APBD sebesar Rp1.148.835.186.411,00. Realisasi Pendapatan Transfer terdiri dari Pendapatan Dana Perimbangan, Dana Penyesuaian dan Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi.

Tabel 5.8. Pendapatan Transfer TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Dana Perimbangan 974.351.054.411,00 1.061.511.697.968,00 108,95 1.078.974.437.132,00 Dana Penyesuaian 48.576.631.000,00 63.310.465.000,00 130,33 27.354.761.000,00 Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi 125.907.501.000,00 101.497.818.750,00 80,61 129.016.048.050,00 JUMLAH 1.148.835.186.411,00 1.226.319.981.718,00 106,74 1.235.345.246.182,00

A.2.1.2.1. Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan

Realisasi Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.061.511.697.968,00 atau 108,95% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp974.351.054.411,00. Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat terdiri dari

(21)

Pendapatan Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.

Tabel 5.9. Dana Perimbangan TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014

REALISASI 2014

(%) REALISASI

2013 Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil bukan pajak 720.614.868.411,00 808.722.138.968,00 112,23 829.530.135.132,00 Dana Alokasi Umum 249.949.676.000,00 249.949.676.000,00 100,00 249.444.302.000,00

Dana Alokasi Khusus 3.786.510.000,00 2.839.883.000,00 75,00 0,00

JUMLAH 974.351.054.411,00 1.061.511.697.968,00 108,95 1.078.974.437.132,00

A.2.1.2.1.1. Pendapatan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

Realisasi Pendapatan Bagi Hasil Pajak Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp90.012.937.119,00, atau 116,71% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp77.122.903.591,00. Pendapatan Bagi Hasil Pajak terdiri dari Pendapatan PBB, Pajak Penghasilan (PPh Ps 25 dan 29), Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan Migas. Sedangkan Pendapatan Bagi Hasil Bukan Pajak Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp718.709.201.849,00 atau 111,69% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp643.491.964.820,00. Pendapatan ini merupakan Bagi Hasil Dari Provisi Sumber Daya Hutan, Dana Reboisasi, Pungutan Hasil Perikanan, Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, Royalti dan Bagi Hasil Kurang Salur Minyak dan Gas Bumi.

Tabel 5.10. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Bagi Hasil Pajak 77.122.903.591,00 90.012.937.119,00 116,71 138.694.732.849,00 Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan Bangunan 63.196.773.629,00 51.900.864.545,00 82,13 119.593.295.967,00 Bagi Hasil Pajak Penghasilan Ps 25 dan 29 13.926.129.962,00 9.678.304.734,00 69,50 19.101.436.882,00 Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan Bangunan

Migas - 28.433.767.840,00 - -

Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya

Alam 643.491.964.820,00 718.709.201.849,00 111,69 690.835.402.283,00

Bagi Hasil Provisi Sumber Daya Hutan 10.031.767.119,00 7.047.473.376,00 70,25 4.017.034.451,00

Bagi Hasil Dana Reboisasi - 24.023.047,00 - -

Bagi Hasil Pungutan Hasil Perikanan 402.414.486,00 383.182.410,00 95,22 347.408.873,00 Bagi Hasil Perimbangan Minyak Bumi 134.590.494.000,00 136.808.159.711,00 101,65 139.675.663.567,00 Bagi Hasil Perimbangan Gas Bumi 269.645.199.000,00 341.276.809.599,00 126,57 332.048.666.971,00 Bagi Hasil Perimbangan Umum Royalti 228.822.090.215,00 232.181.978.317,00 101,47 214.746.628.421,00 Penerimaan Dana Bagi Hasil Kurang Salur

Minyak Bumi dan Gas Bumi - 987.575.389,00 - -

(22)

A.2.1.2.1.2. Pendapatan Dana Alokasi Umum

Realisasi Pendapatan Dana Alokasi Umum Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp249.949.676.000,00 atau 100,00% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp249.949.676.000,00.

Tabel 5.11. Dana Alokasi Umum TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Dana Alokasi Umum 249.949.676.000,00 249.949.676.000,00 100,00 249.444.302.000,00

JUMLAH 249.949.676.000,00 249.949.676.000,00 100,00 249.444.302.000,00

A.2.1.2.1.3. Pendapatan Dana Alokasi Khusus – Non DR

Realisasi Pendapatan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp2.839.883.000,00 atau 75,00% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp3.786.510.000,00.

Tabel 5.12. Dana Alokasi Khusus TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013

Dana Alokasi Khusus 3.786.510.000,00. 2.839.883.000,00 75,00 -

JUMLAH 3.786.510.000,00. 2.839.883.000,00 75,00 -

A.2.1.2.1.4. Dana Penyesuaian

Realisasi Dana Penyesuaian dari Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp63.310.465.000,00 atau 130,33% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp48.576.631.000,00.

Tabel 5.13. Dana Penyesuaian TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Dana Penyesuaian 48.576.631.000,00 63.310.465.000,00 130,33 27.354.761.000,00

JUMLAH 48.576.631.000,00 63.310.465.000,00 130,33 27.354.761.000,00

A.2.1.2.1.5. Pendapatan Bagi Hasil Pajak Provinsi

Realisasi Pendapatan Bagi Hasil Pajak Provinsi Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp101.497.818.750,00 atau 80,61% dari target yang direncanakan dalam APBD sebesar Rp125.907.501.000,00.

Tabel 5.14. Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi 125.907.501.000,00. 101.497.818.750,00 80,61 129.016.048.050,00

(23)

A.2.1.3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Realisasi Lain-lain Pendapatan Yang Sah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp36.791.842.201,00 atau 118,49% dari target yang ditetapkan sebesar Rp31.050.300.000,00.

Tabel 5.15. Lain-Lain Pendapatan yang Sah TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Pendapatan Lainnya 31.050.300.000,00 36.791.842.201,00 118,49 103.010.300.000,00

JUMLAH 31.050.300.000,00 36.791.842.201,00 118,49 136.364.745.000,00

A.2.2. Belanja Daerah

Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp1.677.056.631.223,97 atau 92,40% dari jumlah yang dianggarkan dalam APBD sebesar Rp1.815.023.973.023,20.

Tabel 5.16. Belanja Daerah TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Belanja Operasi 901.038.328.478,20 821.063.589.915,45 91,12 940.923.934.398,28 Belanja Modal 910.985.644.545,00 855.742.525.966,20 93,94 843.228.596.004,00 Belanja Tak Terduga 3.000.000.000,00 250.515.342,32 8,35 4.564.228.612,80 JUMLAH 1.815.023.973.023,20 1.677.056.631.223,97 92,40 1.788.716.759.015,08

Rincian belanja masing-masing SKPD dapat dilihat di Lampiran 5.1. Belanja Pemerintah Daerah dikelompokkan menjadi 6 (enam) kategori, yaitu (i) belanja pemerintah daerah menurut urusan pemerintahan (urusan wajib dan urusan pilihan), (ii) belanja pemerintah daerah menurut fungsi, (iii) belanja pemerintah daerah menurut organisasi, (iv) belanja pemerintah daerah menurut organisasi, (v) belanja pemerintah daerah menurut kelompok belanja (belanja tidak langsung dan belanja langsung), dan (vi) belanja pemerintah daerah menurut jenis.

Komposisi Realisasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Pemerintah Daerah dapat dilihat pada Grafik berikut :

Grafik 5.2. Realisasi belanja tidak langsung dan belanja langsung

(24)

B.2.2.1. Belanja Operasi

Realisasi Belanja Operasi Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp821.063.589.915,45 atau 91,12% dari jumlah yang dianggarkan dalam APBD sebesar Rp901.038.328.478,20. Belanja Operasi Pemerintah Daerah terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bantuan Keuangan dan Belanja Subsidi.

Tabel 5.17. Belanja Operasi TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Belanja Pegawai 459.845.498.939,04 437.633.313.363,57 95,17 416.164.149.197,40 Belanja Barang 370.352.668.703,16 323.772.570.548,88 87,42 420.327.713.392,88 Belanja Hibah 57.666.674.300,00 51.478.780.500,00 89,27 66.177.743.755,00 Belanja Bantuan Sosial 10.093.050.000,00 5.120.199.375,00 50,73 2.695.589.315,00 Belanja Bantuan Keuangan 580.436.536,00 558.726.128,00 96,26 35.558.738.738,00

Belanja Subsidi 2.500.000.000,00 2.500.000.000,00 100,00 0,00

JUMLAH 901.038.328.478,20 821.063.589.915,45 91,12 940.923.934.398,28

A.2.2.1.1. Belanja Pegawai

Realisasi Belanja Pegawai Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp437.633.313.363,57 atau 95,17% dari jumlah yang dianggarkan dalam APBD sebesar Rp459.845.498.939,04.

Tabel 5.18. Belanja Pegawai TA 2014

URAIAN ANGGARAN

2014 REALISASI

2014 % REALISASI

2013 Gaji dan Tunjangan 208.742.114.120,86 197.215.516.085,00 94,48 183.910.762.996,00 Tambahan Penghasilan PNS 219.204.056.880,18 211.894.428.020,57 96,67 205.058.831.720,39 Belanja Penerimaan Lainnya

Pimpinan dan Anggota DPRD 2.289.996.000,00 2.289.996.000,00 100,00 2.263.221.000,00 Biaya Pemungutan Pajak

Daerah - - - 1.388.175.000,00

Insentif Pemungutan Pajak

Daerah 2.058.000.000,00 2.016.390.500 97,98 1.286.694.875,01

Honorarium PNS 20.562.846.228,00 17.305.347.058,00 84,16 16.013.547.626,00

Honorarium Non PNS 140.818.000,00 100.318.000,00 71,24 130.110.800,00

Uang untuk diberikan kepada

pihak ketiga / masyarakat 6.847.667.710,00 6.811.317.700,00 99,47 6.112.805.180,00 JUMLAH 459.845.498.939,04 437.633.313.363,57 95,17 416.164.149.197,40

A.2.2.1.2. Belanja Barang

Realisasi Belanja Barang Tahun Anggaran 2014 adalah sebesar Rp323.772.570.548,88 atau 87,42% dari jumlah yang dianggarkan dalam APBD sebesar Rp370.352.668.703,16.

Gambar

Tabel 5.1. Laporan Realisasi APBD TA 2014
Tabel 5.2. Realisasi Pendapatan TA 2014
Grafik 5.1. Pendapatan Daerah Kota Tarakan tahun 2014
Tabel 5.4. Realisasi Pajak Daerah TA 2014  URAIAN  ANGGARAN  2014  REALISASI 2014  %  REALISASI 2013  Pajak Hotel  4.000.000.000,00  4.527.702.656,50  113,19  2.951.624.619,80  Pajak Restoran  4.600.000.000,00  5.494.887.748,36  119,45  4.898.857.954,79  P
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dilihat bahwa keadaan laboratorium SMK Negeri 1 Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara untuk melaksanakan Mata Pelajaran Keteram-

- Senior Teknisi Pengawasan Pengoperasian dan pemeliharaan : Ahli Muda yang mampu mengimplemantasikan bidang mekatronika dalam mengoperasikan, pemeliharaan, mampu

Menurut UU Perpustakaan bab I pasal I, Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah

 Visi Program Studi Pendidikan Dokter FKIK Universitas Tadulako Pada tahun 2020 PSPD FKIK Untad : “Unggul dalam Pengabdian kepada masyarakat di Bidang Penyakit Tropis

Dasar-dasar ekonomi utama yang digunakan dalam Manajemen Keuangan adalah analisa marjinal, yaitu dasar-dasar keputusan keuangan akan dibuat dan dilakukan hanya bila penambahan

Setiap perbuatan korupsi mengandung penipuan, biasanya dilakukan oleh badan publik atau umum (masyarakat). Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan. Korupsi