• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai negara yang memiliki berbagai macam keanekaragaman, karena memang terbukti Indonesia berlimpah kekayaan seni dan budaya nya. Seni serta budaya yang melimpah ini, juga dapat dikatakan murni berasal dari hasil akal pikiran manusia atau bisa disebut dengan kemampuan intelektual manusia. Zaman yang serba canggih sekarang ini juga tidak terlepas dari adanya kemampuan intelektual manusia, bukan hanya seni dan budaya yang muncul dari pemikiran manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi pun merupakan hasil dari kemampuan intelektual manusia. Dapat dilihat kemampuan intelektual membawa pengaruh besar terhadap perkembangan zaman, kemampuan tersebut dapat menghasilkan pemikiran yang mempunyai nilai atau manfaat ekonomi bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tersebut disebut sebagai kekayaan intelektual (intellectual property). Kekayaan intelektual adalah kreativitas yang muncul dari daya pikir manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup manusia (Roisah, 2015: 2). Penemuan- penemuan dan hasil karya cipta dan seni memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Ketika suatu hasil kreativitas manusia dipakai untuk tujuan komersial, timbullah persepsi dimana penting untuk adanya suatu bentuk penghargaan khusus terhadap karya intelektual seseorang dan hak yang timbul dari karya itu, maka muncullah Hak Kekayaan Intelektual.

Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disebut HKI) adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio (Saidin, 2010: 9). Di Indonesia sistem hukum HKI tersebut sudah muncul sejak Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yaitu dengan dikeluarkannya peraturan HKI yang meliputi Auteurswet 1912 Stb. 1912 No.600 bagi perlindungan hak cipta, Reglement Industriele Eigendom Kolonien Stb. 1912 No. 545 jo. Stb. 1913 No. 214

(2)

mengenai perlindungan hak merek, dan Octrooweit 1910 S.No. 33 yis S.11-33, S.22-54 mengenai perlindungan hak paten (Santoso, 2008, p. 29). HKI menurut Haris Munandar dalam bukunya menyatakan bahwa secara hukum HKI dibagi menjadi dua bagian (Haris Munandar, 2008: 3)

1) Hak Cipta (copyrights)

2) Hak Kekayaan Industri (Industrial Property Rights), meliputi:

a. Hak Merek;

b. Hak Paten;

c. Hak Desain Industri;

d. Rahasia Dagang;

e. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

f. Varietas Tanaman

Hak cipta merupakan salah satu bagian dari HKI yang memiliki hak eksklusif.

Pengertian dari hak cipta sendiri dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut UUHC) adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak eksklusif yang terdapat dalam hak cipta ada dua yaitu hak moral dan hak ekonomi, hal ini diatur di dalam UUHC.

Salah satu ciptaan yang dilindungi oleh UUHC berdasar pada 40 ayat 1 adalah lagu atau musik dengan atau tanpa teks (huruf d). Karya lagu atau musik adalah ciptaan utuh yang terdiri dari unsur lagu atau melodi, syair atau lirik dan aransemen, termasuk notasinya, dalam arti bahwa lagu atau musik tersebut merupakan suatu kesatuan karya cipta (Tommy Hottua Marbun, 2013: 1). Sebuah lagu yang telah tercipta pada dasarnya adalah sebuah karya intelektual pencipta sebagai perwujudan kualitas rasa, karsa, dan kemampuan pencipta. Sedangkan yang dimaksud dengan pemilik dan pemegang hak cipta lagu adalah:

a) Pemilik hak cipta adalah pencipta, yaitu seseorang atau beberapa orang yang dengan kemampuan bakat dan pikiran serta melalui inspirasi dan imajinasi yang

(3)

dikembangkannya sehingga dapat menghasilkan karya yang spesifik dan bersifat pribadi.

b) Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta sesuai batasan yang tercantum dalam UUHC. Di dalam karya musik dapat disimpulkan bahwa seorang pencipta lagu memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan eksploitasi atas lagu ciptaannya.

Hal ini berarti bahwa pihak-pihak yang ingin memanfaatkan karya tersebut harus meminta izin terlebih dahulu kepada penciptanya sebagai pemilik dan pemegang hak cipta (Miladiyatno, 2015: 9).

Hampir semua orang di seluruh dunia menyukai lagu dan musik, sehingga tak heran jika lagu dan musik berperan juga dalam pertumbuhan perekonomian masyarakat. Lagu dan musik biasanya dipergunakan diberbagai kesempatan baik itu didengar, diperdengarkan, disiarkan, dipertunjukkan, serta disebarkan. Sebagian para pendengar lagu dan musik selalu disertai dengan aktivitas ekonomi, sebagai contoh membeli lagu di handphone melalui iTunes atau berlangganan akun Spotify/Joox Premium sehingga dapat mendengarkan lagu sepuasnya. Begitu juga jika dipertujukan, tak jarang para penikmat musik dari penyanyi tertentu rela untuk membayar uang tiket supaya dapat menikmati acara pertunjukan yang tidak mau mereka lewatkan. Namun bagaimana bila ada seseorang atau sekelompok orang yang membawakan lagu orang lain dan juga mendapat keuntungan, contohnya seperti para penyanyi/grup musik yang biasanya ada di acara pernikahan.

Pada acara pernikahan seperti di gedung pertemuan atau hotel biasanya terdapat sebuah penampilan dari penyanyi dan musisi. Mereka biasa disebut wedding singer atau para penyanyi/grup musik yang ada di acara pernikahan. Berkarir sebagai penyanyi/grup musik di acara pernikahan besar merupakan pekerjaan yang cukup menjanjikan khususnya di kota-kota besar sampai saat ini. Para penyanyi/grup musik di pernikahan tersebut biasanya membawakan lagu dari hasil karya cipta orang lain, serta mereka dapat keuntungan dari hal tersebut. Dapat dilihat disini bahwa mereka para penyanyi/grup musik di pernikahan telah menggunakan lagu

(4)

dan musik secara komersial, mereka mendapatkan hak ekonomi yang seharusnya adalah milik daripada pencipta lagu ataupun pemegang hak cipta lagu tersebut.

Penggunaan secara komersial sendiri dalam Pasal 1 UUHC memiliki arti pemanfaatan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dari berbagai sumber atau berbayar. Adanya penggunaan lagu dan musik secara komersial tanpa izin tentu merupakan suatu hal yang tidak diperbolehkan, karena hal tersebut melanggar hak cipta yang berhubungan dengan hak ekonomi pencipta atau pemegang hak dari lagu dan musik tersebut.

Ada beberapa contoh grup musik yang biasa digunakan dipernikahan seperti Javasoul Music, grup musik lokal ini juga menerima pemesanan pekerjaannya melalui tokopedia (https://www.tokopedia.com/javasoulmusicent/wedding-band, Diakses pada 16 November 2020 pukul 23.38 WIB). Selain itu, ada juga grup musik lokal bernama Zevania Music Projects mereka juga menerima jasa untuk mengisi di acara pernikahan (https://www.olx.co.id/item/band-wedding-band-akustik- sewa-soundsystem-iid-794529251, Diakses pada 16 November 2020 pukul 23.47 WIB). Beberapa contoh grup lokal lainnya yang sudah biasa mengisi diacara pernikahan ialah

Salah satu pencipta lagu, Badai eks Kerispatih menyoroti soal masih tingginya pelanggaran hak cipta musik di Indonesia. Menurut Badai, di Indonesia copyright (hak cipta) belum menjadi satu masalah yang utama, masih banyak celah yang bisa dilanggar, itulah yang sebenarnya harus dicegah baik oleh masyarakat umum maupun dari para musisi itu sendiri (https://www.inews.id/lifestyle/music/badai- kerispatih-soroti-masalah-pelanggaran-hak-cipta-pernah-tegur-youtuber-indira- kalistha Diakses pada 20 Oktober 2020 pukul 17.42 WIB). Bukan hanya musisi Badai saja yang berbicara mengenai pelanggaran hak cipta, dikutip dari Beritasatu.com hal ini juga dirasakan oleh Alm. Didi Kempot pelantun lagu Pamer Bojo (Cendol Dawet), yang sempat mengeluhkan minimnya musisi dan pihak lain yang minta izin untuk menggunakan beberapa lagu ciptaannya di panggung acara

(5)

atau pun di sosial media (https://www.beritasatu.com/elvira-anna- siahaan/hiburan/607039/royalti-tantangan-terbesar-industri-musik-era-digital Diakses pada 20 Oktober 2020 20.19 WIB).

Dalam Pasal 120 UUHC menjelaskan bahwa “Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini merupakan delik aduan”, Berarti penanganan mengenai tindak pidana hak cipta berubah dari yang sebelumnya delik biasa menjadi delik aduan. Delik aduan (klach delict) adalah salah satu jenis delik atau tindak pidana yang dalam rumusan delik dengan tegas dinyatakan, bahwa tindak pidana ini hanya dapat dituntut bila ada pengaduan dari yang berkepentingan (Kumendong, 2017: 53). Menurut E Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II dalam delik aduan, penuntutan terhadap delik tersebut digantungkan pada persetujuan dari yang dirugikan atau disebut (korban). Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu perdamaian (Utrecht, 2000: 7). Hal ini menjelaskan bahwa penegak hukum, khususnya polisi baru bertindak menangani pelanggaran pidana jika ada pengaduan dari orang-orang yang mengetahui hak-hak ekonominya dilanggar (Nainggolan, 2016: 241).

Dengan melihat adanya pengaturan tentang hak cipta tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat celah dalam perlindungan hak cipta yang dimiliki oleh pencipta/pemegang hak cipta, karena tidak mungkin pencipta/pemegang hak cipta dapat menjangkau ciptaannya diseluruh wilayah Indonesia. Berbeda dengan tindak pidana delik biasa, dalam delik biasa siapapun dapat melaporkan dan perkara dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Sehingga, walaupun telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut (Muhammad Yusuf Siregar, 2014:

186). Dengan menjadikan pengaturan hak cipta menggunakan delik biasa, dirasa tidak akan menjadi celah lagi dalam pengaturan hak ciptanya karena siapapun orang dapat melaporkan dengan adanya bukti yang memadahi, sehingga pengaturan mengenai UUHC dapat berjalan lebih efektif.

(6)

Berikut beberapa penelitian sebelumnya mengenai perlindungan hukum hak cipta lagu dan musik yang menjadi referensi oleh penulis dalam membuat makalah yakni diantaranya, penelitian skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum Hak Ekonomi terhadap Karya Cipta Lagu yang Dinyanyikan Ulang (Cover Song) Dalam Media Sosial Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014” oleh Daniel Naibaho, Program Sarjana, Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret dengan rumusan masalah tentang perlindungan hukum hak ekonomi terhadap karya cipta lagu yang dinyanyikan ulang (Cover Song) di media sosial dengan penyelesaian sengketa pelanggaran hak ekonomi, dan penelitian jurnal yang berjudul “Perlindungan Hukum Hak Cipta terhadap Cover Version Lagu di Youtube” oleh Anak Agung Mirah Satria Dewi, Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Udayana dengan menulis rumusan masalah apakah membuat cover version lagu dan mengunggah ke media sosial YouTube merupakan bentuk pelanggaran hak cipta dan bagaimana perlindungan hukum terhadap pemegang hak cipta atas pelanggaran hak cipta. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan besar seperti yang diadakan di dalam gedung pertemuan ataupun hotel. Mengingat bahwa hak cipta lagu dan musik telah dilindungi dalam undang-undang namun dalam fakta nyatanya dilapangan masih banyaknya pelanggaran hak cipta lagu dan musik, serta kurangnya upaya yang dilakukan oleh para penegak hukum maupun aturan yang mengatur.

Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai hal tersebut melalui penelitian yang berjudul “Penggunaan Lagu dan Musik Secara Komersial yang Dibawakan oleh Penyanyi atau Grup Musik di Pernikahan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014”

(7)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis merumuskan permasalahan yang akan diteliti secara rinci dan sesuai dengan sasaran yang dituju.

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Apakah problematika hukum perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan?

2. Bagaimana solusi bagi perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini ialah memberikan arahan dalam proses penyusunan secara utuh agar tetap sesuai dengan maksud penelitian. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini antara lain:

1. Tujuan Objektif

a. Untuk mengetahui serta menganalisis problematika hukum perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan

b. Untuk mengetahui serta menganalisis solusi perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan

2. Tujuan Subjektif

a. Untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh bagi penulis dan memperluas pengetahuan ilmu pengetahuan dalam bidang hukum perdata, khususnya Hak Cipta serta memberikan kontribusi positif bagi perkembangaan ilmu pengetahuan, yaitu ilmu hukum.

b. Untuk memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar strata Sarjana Strata 1 (S1) dalam bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(8)

D. Manfaat Penelitian

Sebuah penelitian hukum dapat memberikan suatu kontribusi serta manfaat mengenai ilmu pengetahuan, baik bagi penulis serta pembaca. Berikut manfaat yang ingin diharapkan oleh penulis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian dan penulisan hukum ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan manfaat bagi perkembangan di bidang ilmu hukum pada umumnya, serta terhadap bidang Hukum Perdata pada khususnya.

b. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dan masukan terhadap perkembangan perlindungan Hak Cipta khususnya dalam perlindungan lagu dan musik

c. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi, literature, dan bahan kepustakaan sebagai acuan untuk melakukan penelitian-penelitian sejenis dikemudian hari

2. Manfaat Praktis

a. Mengembangkan pola pikir dan penalaran penulis dalam penerapan ilmu sebagai upaya penyelesaian permasalahan hukum.

b. Memberikan jawaban dari permasalahan hukum dalam bidang Hak Cipta yang dibahas dalam penulisan hukum ini.

c. Memberikan tambahan pengetahuan serta menjadi sarana yang membantu pihak yang berkepentingan apabila mengalami permasalahan yang serupa dalam penelitian ini.

E. Metode Penelitian

Agar suatu penelitian ilmiah dapat berjalan baik, maka perlu menggunakan metode penelitian yang tepat. Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan untuk memecahkan isu hukum yang timbul sehingga dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah hukum, melakukan penalaran hukum yang dihadapi,

(9)

dan kemudian memberikan pemecahan atas permasalahan tersebut (Marzuki, 2014:

60). Dalam penelitian ini, metode yang digunakan penulis adalah:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum doktrinal atau normatif. Menurut Terry Hutchinson sebagaimana dikutip dari Peter Mahmud Marzuki mengartikan penelitian normatif ialah penelitian yang memberikan penjelasan sistematis aturan yang mengatur suatu kategori hukum tertentu, menganalisis hubungan antara peraturan menjelaskan daerah kesulitan dan mungkin memprediksi pembangunan masa depan. Terkait metode penelitian hukum doktrinal atau normatif ini, Peter Mahmud Marzuki juga berpendapat bahwa penelitian yang berkaitan dengan hukum (legal research atau rechtsonderzoek) adalah selalu normatif (Marzuki, 2011: 35).

Penelitian doktrinal ini dilakukan dengan meneliti bahan pustaka yang meliputi bahan hukum primer, sekunder, maupun tersier yang kemudian dikaji, dianalisis, dan diambil kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.

2. Sifat Penelitian

Ilmu hukum mempunyai karakter yang khas, yaitu sifatnya yang normatif, praktis dan preskriptif (Philipus M. Hadjon, 2005: 1). “Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum, dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan, ilmu hukum menentapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aktivitas hukum”

(Marzuki, 2011: 22).Penelitian yang dikaji penulis dalam penelitian ini adalah penelitian yang bersifat preskriptif, yang ditujukan untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian yang telah dilakukan.

(10)

3. Pendekatan Penelitian

Keterkaitannya dengan penelitian normatif, pendekatan yang digunakan dalam penulisan hukum menurut Peter mahmud Marzuki adalah sebagai berikut (Marzuki, 2011: 93):

a. Pendekatan kasus (case approach)

b. Pendekatan perundang-undangan (statute approach) c. Pendekatan historis (historical approach)

d. Pendekatan perbandingan (comparative approach) e. Pendekatan konseptual (conceptual approach)

Suatu penelitan normatif dapat dikatakan harus menggunakan pendekatan perundang-undangan, sehingga pendekatan yang digunakan dalam penulisan hukum ini ialah pendekatan perundang-undang (statute approach) serta pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan perundangan- undangan adalah pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua undang- undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani, dalam penelitian ini pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan cara menganalisis UUHC guna menemukan celah dalam hukum yang menyebabkan kurang efektifnya undang-undang tersebut (Marzuki, 2011: 24). Pendekatan konseptual ialah Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. dengan mempelajari pandang-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum yang relevan untuk menghasilkan suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu hukum yang dihadapi. Pendekatan konseptual dalam penelitian ini digunakan untuk memecahkan isu hukum yang diteliti khususnya mengenai solusi bagi perlindungan hak cipta terhadap lagu dan musik yang dibawakan oleh penyanyi/grup musik di pernikahan, karena dalam menganalisis permasalahan atau problematika tersebut dibutuhkan juga pandangan-pandangan/doktrin dari

(11)

para ahli hukum untuk menjadi penunjang dalam memecahkan isu hukum yang dihadapi (Marzuki, 2011: 134-136).

4. Jenis dan Sumber Bahan Penelitian

Jenis bahan hukum dapat dibedakan menjadi 3, yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sumber bahan hukum yaitu :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer yang digunakan terdiri dari peraturan perundang- undangan,catatan resmi, risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim (Marzuki, 2011: 141). Dalam penelitian ini bahan hukum primer yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Undang Undang Negara Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2014 Tentang Hak Cipta

2) Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No.36 Tahun 2018 tentang Tata Cara Permohonan dan Penerbitan Izin Operasional serta Evaluasi Lembaga Manajemen Kolektif

3) Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor:

HKI.2.OT.03.01-02 Tahun 2016 tentang Pengesahan Tarif Royalti untuk Pengguna yang melakukan Pemanfaatan Komersial Ciptaan dan/atau Produk Hak Terkait Musik dan Lagu.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang utama adalah buku teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan- pandangan klasik para sarjana yang mempunyai kualifikasi tinggi (Marzuki, 2011: 142). Dalam penelitian ini bahan hukum sekunder yang digunakan meliputi :

1) Buku-buku ilmiah dibidang hukum;

2) Makalah-makalah yang relevan;

(12)

3) Jurnal hukum;

4) Artikel ilmiah;

5) Hasil penelitian ilmiah dalam bentuk skripsi maupun tesis.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Dalam penelitian ini, bahan hukum tersier yang digunakan penulis adalah situs web dari internet yang relevan.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum dimaksudkan untuk memperoleh bahan hukum dalam penelitian. Teknik pengumpulan bahan hukum yang mendukung dan berkaitan dengan pemaparan penelitian ini adalah studi dokumen (studi kepustakaan). Studi dokumen merupakan suatu alat pengumpulan bahan hukum yang dilakukan melalui bahan hukum tertulis dengan mempergunakan content analysis. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan landasan teori yang

berhubungan dengan penelitian hukum ini.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Menurut Peter Mahmud Marzuki yang mengutip pendapat Philipus M.Hadjon memaparkan metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan oleh Aristoteles. Penggunaan metode deduksi berpangkal dari pengajuan premis mayor (pernyataan yang bersifat umum). Kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus), dari kedua premis itu kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclusion. Akan tetapi di dalam argumentasi hukum, silogisme hukum tidak sesederhana silogisme tradisional (Marzuki, 2011: 47).

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan logika deduktif, logika deduktif atau pengolahan bahan hukum dengan cara deduktif yaitu menjelaskan suatu hal yang bersifat umum kemudian menariknya menjadi kesimpulan yang lebih khusus.

(13)

F. Sistematika Penulisan Hukum

Agar mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai sistematika penulisan hukum, maka penulis membagi sistematika penulisan hukum ini menjadi 4 (empat) bab, tiap-tiap bab tersebut terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman terhadap keseluruhan penelitian.

Sistematika penulisan hukum ini diuraikan sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Dalam bab ini, penulis menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan hukum.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulis menguraikan tinjauan pustaka yang berkaitan dengan judul serta permasalahan yang diteliti sebagai landasan teori dalam penelitian hukum ini. Landasan teori tersebut ialah mengenai tinjauan perlindungan hukum, tinjauan hak cipta, dan juga tinjauan mengenai penggunaan lagu dan musik secara komersial. Kemudian, untuk mempermudah alur pemikiran penulis menyertakan kerangka pemikiran yang disajikan dalam bentuk alur kerangka beserta keterangannya.

BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi uraian hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis dan pembahasan, serta untuk menjawab pokok permasalahan.

BAB IV: PENUTUP

Bab ini menguraikan secara singkat tentang kesimpulan akhir dari pembahasan dan jawaban atas rumusan masalah, yang diakhiri dengan saran-saran yang didasarkan pada hasil penelitian keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan ketrampilan kepada para penjual umbi- umbian di Pasar Telo Karangkajen

Memberikan informasi tentang hubungan motivasi kerja perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan terhadap pasien tidak mampu agar menjadi bahan pertimbangan pada perbaikan

This study analyses the underestimation of tree and shrub heights for different airborne laser scanner systems and point cloud distribution within the

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

3alai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan ll. Perintis Kemerdekaan Km. Dengan menggunakan varietas unggul baru tanaman padi, akan diperoleh peningkatan

Berdasarkan Tabel 1 juga dapat diketahui bahwa pemberian pupuk anorganik dan kompos menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap jumlah batang pada tanaman

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

SEGMEN BERITA REPORTER A Kreasi 1000 Jilbab Pecahkan Muri Rina & Deska. CAREER DAY AMIKOM Adib & Imam Wisuda smik amikom Adib