• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh : HASUDUNGAN SILABAN /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TESIS. Oleh : HASUDUNGAN SILABAN /IKM"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MENGOMUNIKASIKAN PESAN KESEHATAN PENYAKIT DIARE TERHADAP PENGETAHUAN

DAN SIKAP MASYARAKAT KELOMPOK UMUR (15-44) TAHUN DI KECAMATAN LINTONGNIHUTA KABUPATEN

HUMBANG HASUNDUTAN

TESIS

Oleh :

HASUDUNGAN SILABAN 107032122/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 1 2

(2)

PERAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MENGOMUNIKASIKAN PESAN KESEHATAN PENYAKIT DIARE TERHADAP PENGETAHUAN

DAN SIKAP MASYARAKAT KELOMPOK UMUR (15-44) TAHUN DI KECAMATAN LINTONGNIHUTA KABUPATEN

HUMBANG HASUNDUTAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

HASUDUNGAN SILABAN 107032122/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(3)

Judul Tesis : PERAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MENGOMUNIKASIKAN PESAN KESEHATAN PENYAKIT DIARE TERHADAP

PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT KELOMPOK UMUR (15-44) TAHUN DI

KECAMATAN LINTONGNIHUTA

KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Nama Mahasiswa : Hasudungan Silaban

Nomor Induk Mahasiswa : 107032122

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D) (Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes

Ketua Anggota

)

Tanggal Lulus : 8 Oktober 2012

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(4)

Telah diuji

Pada tanggal : 08 Oktober 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D Anggota : 1. Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes 2. drh. Hiswani, M.Kes

3. dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K

(5)

PERNYATAAN

PERAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MENGOMUNIKASIKAN PESAN KESEHATAN PENYAKIT DIARE TERHADAP PENGETAHUAN

DAN SIKAP MASYARAKAT KELOMPOK UMUR (15-44) TAHUN DI KECAMATAN LINTONGNIHUTA KABUPATEN

HUMBANG HASUNDUTAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, Oktober 2012

(HASUDUNGAN SILABAN)

107032122/IKM

(6)

ABSTRAK

Penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan masih merupakan penyebab kematian dan kesakitan bagi semua golongan usia.

Menurut data pada tahun 2012 mulai bulan Januari sampai dengan April, penyakit diare menempati urutan ke-4 dari 10 penyakit terbesar di puskesmas dengan jumlah kasus 212 kasus di 22 desa wilayah kecamatan Lingtongnihuta. Dilihat dari data sekunder Kabupaten Humbang Hasundutan yang ditangani penderita diare pada tahun 2009 sebanyak 6.234 orang dengan Insiden Rate 37 per 1000 penduduk dan pada tahun 2010 sebanyak 2.374 orang dengan Insiden Rate 13,8 per 1000 penduduk, sedangkan pada tahun 2011 jumlah penderita diare sebanyak 6.065 orang dengan Insiden Rate 35 per 1000 penduduk. Tingginya kasus diare disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit diare terutama akibat kurangnya informasi tentang kesehatan.

Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi penelitian meliputi masyarakat umur 15-44 tahun dengan jumlah sampel 71 orang. Metode pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dan analisis data menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dan regresi logistik berganda untuk mengetahui pengaruh peran petugas kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat usia 15-44 tahun di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran petugas kesehatan berpengaruh secara signifikan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat tentang penyakit diare.

Hal ini diindikasikan oleh nilai signifikansi uji regresi logistik secara parsial dimana p-value promosi kesehatan (0.019), pemberdayaan (0.012) dan penyuluhan kesehatan (0.023).

Dinas Kesehatan diharapkan semakin meningkatkan peran petugas kesehatan dalam menyampaikan informasi kesehatan terutama tentang perilaku sehat dan kesehatan lingkungan sebab penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.

Kata Kunci : Diare, Promosi Kesehatan, Pemberdayaan, Penyuluhan,

Pengetahuan dan Sikap

(7)

ABSTRACT

In Lintongnihuta Subdistrict, Humbang Hasundutan District, diarrhea is still a disease which causes morbidity and mortality to the people of all age groups.

According to the data of 2012, from January to april, diarrhea ranked 4 of the 10 severest diseases at the Puskesmas (Community Health Center) with 212 cases in 22 villages in the area of Lintongnihuta Subdistrict. Based on the secondary data of Humbang Hasundutan District, the treatment was given to 6,234 sufferers in 2009 with the Incident Rate of 37 per 1000 residents, and in 2010, the treatment was given to 2,374 sufferers with the incident rate of 13.8 per 1000 residents, while in 2011, the were 6,065 persons sufferers from diarrheawith the Incident Rate of 35 per 1000 residents. This high case of diarrhea was due to the lackof community’s knowledge about diarrhea, especially because of lack information about health.

The purpose of this survey study with cross-sectianal design was to find out the influence of the role of health workers on the knowledge and attitude of the community members of 15-44 years old in Lintongnihuta Subdistrict, Humbang Hasundutan District. The population of this study was all of the community members of 15-44 years old and 71 of them were selected to be the samples for this study. The data for this study were obtained through questionnaire distribution. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis, and multiple logistic regression tests.

The result of this study showed that the role of health workers had a significant influence on the knowledge and attitude of community members about the diarrhea. The result of multiple logistic regression tests showed that, partially, the p- value of health promotion was 0.019, empowerment 0.012, and health extension 0.023.

The management of District health service is expected to improve the role of the health workers more in socializing the information about health, especially on healthy behavior and environmental health because the diarrhea is an environmentally-based disease.

Keyword : Diarrhea, Health Promotion, Empowerment, Extension, Knowledge and Attitude

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Berkat dan Anugerah-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “Peran Petugas Kesehatan dalam Mengomunikasikan Pesan Kesehatan Penyakit Diare terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Kelompok Umur (15-44) Tahun di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan”.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan, dorongan, bimbingan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc. (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr.Drs.Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D selaku Pembimbing I dan Drs. Alam Bakti

Keloko, M.Kes selaku Pembingbing II yang telah meluangkan waktu,

pemikiran, arahan, dan semangat hingga selesainya penulisan tesis ini.

(9)

5. drh. Hiswani, M. Kes selaku Penguji I dan dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K, selaku Penguji II telah memberikan bimbingan, kritik serta saran yang sangat membantu untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.

6. Seluruh Dosen Pengajar Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Promosi Kesehatan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu dan pengetahuan.

7. Drs. Maddin Sihombing, M.Si sebagai Kepala Daerah Kab. Humbang Hasundutan yang telah memberikan izin tugas belajar serta memberikan semangat dan memberikan waktu selama mengikuti perkuliahan.

8. Drs. Maruhum Sihombing selaku Camat Kecamatan Lintongnihuta yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian kepada penulis.

9. Teristimewa buat istri tercinta dr. Tiar Lusiana Sihombing, anakku tersayang Andreas Marojahan Silaban yang penuh pengertian, kesabaran, pengorbanan dan doa serta cinta yang dalam setia menunggu memotifasi dan memberi dukungan moril agar bisa menyelesaikan pendidikan ini.

10. Ayahanda Alm. Maidin Silaban, Ibunda Alm. Diana Manullang, Bapak mertua Alm. Gotuk Pintar Sihombing dan Ibu mertua Nortini Lubis serta seluruh keluarga atas doa, dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan.

11. Teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

yang telah bersedia menjadi teman berdiskusi untuk penyelesaian tesis ini.

(10)

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membalas segala kebaikan Bapak, Ibu dan saudara-saudaraku sekalian.

Medan, Oktober 2012 Penulis,

Hasudungan Silaban

107032122/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Hasudungan Silaban lahir pada tanggal 14 Desember 1974 di Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan anak kesepuluh dari 10 bersaudara dari pasangan Ayahanda Alm. Maidi Silaban dan Almh. Ibunda Diana Manullang. Melangsugnkan pernikahan pada tanggal 21 Juni 2005 dengan Tiar Lusiana Sihombing dan dikaruniai 1 orang anak yaitu Andreas Marojahan Silaban.

Pendidikan formal penulis di mulai dari Sekolah Dasar di SD Negeri 173395 Dolok Sanggul, SMP Negeri 1 Dolok Sanggul, SLTA Negeri 11 Medan pada tahun 1999 penulis menyelesaikan Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, pada tahun 2010 penulis melanjutkan Pendidikan Program S2 IKM dengan Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan hingga saat ini dan menyelesaikan studi tahun 2012.

Pada tahun 2005-2006, penulis bekerja sebagai Tenaga Medis di Rumah Sakit

Umum Dolok Sanggul. Tahun 2006 hingga saat ini bekerja di Instansi Dinas

Kesehatan Humbang Hasundutan.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Hipotesis ... 10

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Penyakit Diare ... 11

2.1.1. Pengertian ... 11

2.1.2. Penyebab Diare ... 11

2.1.3. Patogenesis ... 14

2.1.4. Patofisiologi ... 15

2.1.5. Komplikasi ... 15

2.1.6. Pengobatan ... 16

2.1.7. Pencegahan dan Penanggulangan Diare ... 16

2.2 Peran Petugas ... 22

2.2.1. Peran Promotif Kesehatan ... 22

2.2.2. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment) ... 26

2.2.3. Bina Sosial (Penyuluhan) ... 27

2.3 Proses Komunikasi dan Aliran Informasi ... 29

2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Peran Promotif Petugas Kesehatan ... 35

2.4.1. Kecakapan Berkomunikasi... 35

2.4.2. Keterbukaan Diri (Self-Disclosure) ... 38

2.4.3. Faktor Budaya ... 42

2.5. Pengetahuan ... 44

2.5.1. Pengertian ... 44

2.5.2. Sumber Pengetahuan ... 46

2.5.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan .... 47

(13)

2.6. Sikap ... 50

2.6.1. Pengertian ... 50

2.6.2. Indikator Sikap Kesehatan ... 51

2.7 Landasan Teori ... 51

2.8 Kerangka Konsep ... 54

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 55

3.1 Jenis Penelitian ... 55

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 55

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 55

3.2.2 Waktu Penelitian ... 55

3.3 Populasi dan Sampel ... 56

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 59

3.4.1 Data Primer ... 59

3.4.2 Data Sekunder ... 59

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 59

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional ... 63

3.6 Metode Pengukuran ... 64

3.7 Metode Analisis Data ... 65

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 67

4.1.Hasil Penelitian ... 67

4.2.Analisis Univariat ... 68

4.3.Analisisi Bivariat ... 71

4.4.Analisis Multivariat ... 77

BAB 5. PEMBAHASAN ... 82

5.1.Hubungan Promosi Kesehatan dengan Pengetahuan Masyarakat ... 82

5.2.Hubungan Pemberdayaan dengan Pengetahuan Masyarakat 85 5.3.Hubungan Penyuluhan dengan Pengetahuan Masyarakat ... 88

5.4.Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Menghadapi Penyakit Diare di Kecamatan Lintongnihuta ... 90

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 92

6.1.Kesimpulan ... 92

6.2.Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95

LAMPIRAN ... 98

(14)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1. Jumlah Populasi Penelitian ... 56

3.2. Jumlah Sampel Berdasarkan Desa di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan 2012... 58

3.3. Uji Validitas Variabel Peran Petugas Kesehatan ... 61

3.4. Uji Validitas Variabel Pengetahuan dan Sikap ... 62

3.5. Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas ... 63

3.6. Variabel Independen dan Defenisi Operasional ... 63

3.7. Variabel Dependen dan Defenisi Operasional ... 64

3.8. Aspek Pengukuran Variabel Bebas ... 64

3.9. Aspek Pengukuran Variabel Terikat ... 65

4.1. Distribusi Frekuensi Gambaran Karakteristik Responden Kecamatan Lintongnihuta Kab. Humbang Hasundutan... 69

4.2. Distribusi Frekuensi Peran Petugas terhadap Pengetahuan Masyarakat Kelompok Usia 15-44 tahun di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2012 ... 70

4.3. Hubungan Promosi Kesehatan dengan Pengetahuan Masyarakat Kelompok Umur 15-44 tahun ... 72

4.4. Hubungan Pemberdayaan dengan Pengetahuan Masyarakat Kelompok Umur 15-44 tahun di Kec. Lintongnihuta Tahun 2012 ... 73

4.5. Hubungan Penyuluhan Masyarakat dengan Pengetahuan Masyarakat Kelompok Umur 15-44 tahun di Kec. Lintongnihuta Tahun 2012 ... 74

4.6 Hubungan Promosi Kesehatan dengan Sikap Masyarakat Kelompok

Umur 15-44 tahun ... 75

(15)

4.7. Hubungan Pemberdayaan dengan Sikap Masyarakat Kelompok Umur

15-44 tahun ... 76 4.8. Hubungan Penyuluhan dengan Sikap Masyarakat Kelompok Umur

15-44 tahun ... 77 4.9. Pengaruh Peran Petugas Kesehatan terhadap Pengetahuan Masyarakat

Kelompok Umur 15-44 Tahun di Kec. Lintongnihuta Tahun 2012.... 78 4.10. Probabilitas Petugas Kesehatan terhadap Pengetahuan Masyarakat ... 79 4.11. Pengaruh Peran Petugas Kesehatan terhadap Sikap Masyarakat

Kelompok Umur 15-44 Tahun di Kec. Lintongnihuta Tahun 2012.... 80

4.12. Probabilitas Petugas Kesehatan terhadap Sikap Masyarakat ... 81

(16)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Bagan Proses Komunikasi Informasi ... 30

2.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 54

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner ... 98

2. Master Data Penelitian ... 103

3. Hasil Olah Data ... 107

4. Surat Permohonan Penelitian dari FKM USU ... 134

5. Surat Izin Penelitian dari Camat Lintongnihuta ... 135

(18)

ABSTRAK

Penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan masih merupakan penyebab kematian dan kesakitan bagi semua golongan usia.

Menurut data pada tahun 2012 mulai bulan Januari sampai dengan April, penyakit diare menempati urutan ke-4 dari 10 penyakit terbesar di puskesmas dengan jumlah kasus 212 kasus di 22 desa wilayah kecamatan Lingtongnihuta. Dilihat dari data sekunder Kabupaten Humbang Hasundutan yang ditangani penderita diare pada tahun 2009 sebanyak 6.234 orang dengan Insiden Rate 37 per 1000 penduduk dan pada tahun 2010 sebanyak 2.374 orang dengan Insiden Rate 13,8 per 1000 penduduk, sedangkan pada tahun 2011 jumlah penderita diare sebanyak 6.065 orang dengan Insiden Rate 35 per 1000 penduduk. Tingginya kasus diare disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit diare terutama akibat kurangnya informasi tentang kesehatan.

Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi penelitian meliputi masyarakat umur 15-44 tahun dengan jumlah sampel 71 orang. Metode pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dan analisis data menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dan regresi logistik berganda untuk mengetahui pengaruh peran petugas kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat usia 15-44 tahun di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran petugas kesehatan berpengaruh secara signifikan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat tentang penyakit diare.

Hal ini diindikasikan oleh nilai signifikansi uji regresi logistik secara parsial dimana p-value promosi kesehatan (0.019), pemberdayaan (0.012) dan penyuluhan kesehatan (0.023).

Dinas Kesehatan diharapkan semakin meningkatkan peran petugas kesehatan dalam menyampaikan informasi kesehatan terutama tentang perilaku sehat dan kesehatan lingkungan sebab penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.

Kata Kunci : Diare, Promosi Kesehatan, Pemberdayaan, Penyuluhan,

Pengetahuan dan Sikap

(19)

ABSTRACT

In Lintongnihuta Subdistrict, Humbang Hasundutan District, diarrhea is still a disease which causes morbidity and mortality to the people of all age groups.

According to the data of 2012, from January to april, diarrhea ranked 4 of the 10 severest diseases at the Puskesmas (Community Health Center) with 212 cases in 22 villages in the area of Lintongnihuta Subdistrict. Based on the secondary data of Humbang Hasundutan District, the treatment was given to 6,234 sufferers in 2009 with the Incident Rate of 37 per 1000 residents, and in 2010, the treatment was given to 2,374 sufferers with the incident rate of 13.8 per 1000 residents, while in 2011, the were 6,065 persons sufferers from diarrheawith the Incident Rate of 35 per 1000 residents. This high case of diarrhea was due to the lackof community’s knowledge about diarrhea, especially because of lack information about health.

The purpose of this survey study with cross-sectianal design was to find out the influence of the role of health workers on the knowledge and attitude of the community members of 15-44 years old in Lintongnihuta Subdistrict, Humbang Hasundutan District. The population of this study was all of the community members of 15-44 years old and 71 of them were selected to be the samples for this study. The data for this study were obtained through questionnaire distribution. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis, and multiple logistic regression tests.

The result of this study showed that the role of health workers had a significant influence on the knowledge and attitude of community members about the diarrhea. The result of multiple logistic regression tests showed that, partially, the p- value of health promotion was 0.019, empowerment 0.012, and health extension 0.023.

The management of District health service is expected to improve the role of the health workers more in socializing the information about health, especially on healthy behavior and environmental health because the diarrhea is an environmentally-based disease.

Keyword : Diarrhea, Health Promotion, Empowerment, Extension, Knowledge and Attitude

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan. Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (frekuensinya lebih dari 3 kali dalam 24 jam). Neonatus dikatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali (Depkes RI, 2005).

Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia padahal berbagai upaya penanganan, baik secara medik maupun upaya perubahan tingkah laku dengan melakukan pendidikan kesehatan terus dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil yang menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini masih menduduki peringkat atas, khususnya di daerah-daerah miskin (Depkes RI, 2007).

Di tingkat dunia, penyakit diare merupakan penyakit kedua terbanyak setelah

infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Diperkirakan 1 milyar kasus ditemukan per

tahunnya bahkan penyakit ini merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas

anak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Abdullah dkk, 2006). Hal yang sama juga

dikemukakan oleh World Health Organization (WHO) bahwa diare merupakan

(21)

penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun (WHO, 2009)

Di negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak (WHO, 2009).

Di Indonesia, Hasil survei Program Pemberantasan (P2) Diare menyebutkan bahwa angka kesakitan diare pada tahun 2000 adalah sebesar 301 per 1.000 penduduk dengan episode diare balita adalah 1,0-1,5 kali per tahun. Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk. Sementara Survei Departemen Kesehatan (2003) menyatakan penyakit diare menjadi penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur. Kejadian diare pada golongan balita secara proporsional lebih banyak dibandingkan kejadian diare pada seluruh golongan umur (Depkes RI, 2005).

Berdasarkan data WHO (2007), setiap tahun 100.000 anak Indonesia meninggal akibat diare. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010, Case Fatality Rate (CFR) sebesar 1,74%. Angka kematian ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 100 orang, dengan jumlah penderita diare adalah 5.756 orang (Kementerian Kesehatan, 2010).

Di Sumatera Utara, penyakit diare merupakan penyakit yang menempati

urutan teratas pada 10 penyakit menular terbanyak (kasus baru) pada pasien rawat

(22)

jalan di rumah sakit di Provinsi Sumatera Utara tahun 2008 dengan persentase 43,66%.

Berdasarkan gambaran perkembangan penyakit diare tersebut di atas, terlihat bahwa penyakit diare masih merupakan ancaman yang dapat menimbulkan kematian dan kesakitan bagi semua golongan usia. Demikian juga dengan wilayah Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. Dilihat dari data sekunder Kabupaten Humbang Hasundutan yang ditangani penderita diare pada tahun 2009 sebanyak 6.234 orang dengan Insiden Rate 37 per 1000 penduduk dan pada tahun 2010 sebanyak 2.374 orang dengan Insiden Rate 13,8 per 1000 penduduk, sedangkan pada tahun 2011 jumlah penderita diare sebanyak 6.065 orang dengan Insiden Rate 35 per 1000 penduduk. Menurut data pada tahun 2012 mulai bulan Januari sampai dengan April, penyakit diare menempati urutan ke-4 dari 10 penyakit terbesar di puskesmas dengan jumlah kasus 212 kasus di 22 desa wilayah kecamatan Lingtongnihuta, dimana jumlah kasus menurut kelompok umur yang terbanyak adalah umur diatas 5 tahun sebanyak 121 kasus.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kecamatan

Lintongnihuta, diketahui bahwa salah satu penyebab tingginya kasus diare di

Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan adalah masih kurangnya

informasi tentang penyakit diare. Dinas Kesehatan Kecamatan Lintongnihuta

diharapkan semakin meningkatkan peran petugas dalam menyampaikan informasi

kesehatan terutama tentang perilaku sehat untuk memelihara kesehatan lingkungan

sebab penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.

(23)

Lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2008).

Hal yang sama dikemukakan oleh Blum dalam Kusnoputranto (1986) bahwa derajat kesehatan masyarakat yang optimal dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan dan keturunan.

Keempat faktor tersebut saling terkait dengan faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem budaya dan populasi sebagai satu kesatuan.

Pentingnya perilaku sehat dalam mencegah penyakit diare juga ditekankan Departemen Kesehatan RI (2003) bahwa bahwa

Peningkatan peran petugas khususnya dalam mengomunikasikan pesan kesehatan adalah merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) bahwa masyarakat

perilaku sehat merupakan perilaku

proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah faktor resiko,

terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam

gerakan kesehatan masyarakat.

(24)

atau komunitas merupakan salah satu dari strategi global promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri.

Mengenai lingkup peran petugas kesehatan, Notoatmodjo (2007) secara rinci memaparkan bahwa

Dari pemaparan tentang peran petugas tersebut di atas dapat dipahami bahwa tujuan utama peningkatan peran petugas dalam mengomunikasikan pesan kesehatan adalah untuk mempercepat pengalihan pengetahuan, ketrampilan dan teknologi kepada masyarakat. Tetapi, untuk memperlancar proses pengkomunikasian pesan kesehatan tersebut, diperlukan kompetensi atau kecakapan komunikasi petugas sehingga informasi tentang kesehatan dapat mengalir secara efektif dan tepat sasaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Spitzberg (1988) bahwa kecakapan

peran petugas kesehatan adalah mencakup 1). Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat, 2). Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut dan 3).

Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat dengan

melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional (Notoatmodjo, 2007)

(25)

berkomunikasi merupakan kemampuan untuk dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain. Secara baik disini adalah dalam hal; ketelitian, kejelasan, bisa dimengerti, bertalian (nyambung)

Pengertian tentang kecakapan berkomunikasi juga dikemukakan oleh Friedrich (1994) bahwa kecakapan berkomunikasi merupakan kemampuan situasional dalam upaya untuk mendapatkan tujuan yang pantas dan realistis dengan cara meningkatkan kemampuan berkomunikasi melalui pengetahuan diri sendiri, orang lain, konteks yang sedang terjadi dan teori komunikasi sehingga bisa digeneralisasikan dalam tindakan komunikasi yang adaptif.

, menguasai, efektif dan pantas.

Dengan adanya aliran informasi yang efektif, diharapkan pengetahuan dan sikap masyarakat semakin meningkat dalam mencegah dan mengobati penyakit sebab pengetahuan itu sendiri adalah muatan informasi yang dikomunikasikan. Pengetahuan adalah informasi yang merubah sesuatu atau seseorang baik dengan menjadikannya sebagai dasar melakukan tindakan, maupun membuat individu atau organisasi menjadi cakap dalam melakukan tindakan yang lebih efektif (Peter Drucker, 2001).

Achterbergh & Vriens (2002) lebih jauh menuliskan bahwa pengetahuan memiliki 2 fungsi yakni : pertama, berfungsi sebagai latar belakang untuk pengkajian gejala, yang sebaliknya akan memungkinkan pelaksanaan tindakan.

Fungsi kedua adalah untuk menilai apakah bentuk tindakan akan memberikan hasil

yang diharapkan dan untuk menggunakan penilaian dalam memutuskan cara

mengimplementasikan tindakan tindakan tersebut.

(26)

Menurut Schramm mengatakan bahwa apabila kita berkomunikasi, berarti kita sedang mengusahakan kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan.

Seorang komunikator harus mempunyai kemampuan untuk mengubah sikap komunikan melalui mekanisme daya tarik, artinya komunikan merasa bahwa komunikator terlibat atau turut serta dengan mereka.

Sebagaimana dikatakan oleh Severin dan Tankard (1992), bahwa komunikasi massa adalah sebagian keterampilan (skill), sebagaian seni (art) dan sebagian ilmu (science)., tanpa dimensi seni menata pesan, tidak mungkin media surat kabar, majalah, radio siaran televisi dan film dapat memikat perhatian khalayak, yang pada akhirnya pesan tersebut dapat mengubah sikap, pandangan dan perilaku komunikan.

Penyampaian informasi yang baik adalah komunikator harus mampu mengenal latar belakang dari sikomunikan dari segi pendidikan, ekonomi, suku - budaya, keyakinan atau kepercayaan, kultur budaya atau negara sehingga maksud dan tujuan yang ingin disampaikan bisa dimengerti dan diterima dengan jelas tanpa ada kesalahpahaman maupun hambatan atau gangguan lainnya ( Marhaen, 2009).

Setelah Dinas Kesehatan Kecamatan Lintongnihuta meningkatkan peran

petugas dalam mengomunikasikan pesan kesehatan,terjadi peningkatan pengetahuan

dan sikap masyarakat terhadap penyakit diare. Meningkatnya pengetahuan dan sikap

masyarakat tersebut juga disertai dengan menurunnya kasus penyakit diare di

Kecamatan Lintongnihuta. Hal ini sesuai dengan hasil pra-penelitian yang dilakukan

dimana masyarakat Humbang Hasundutan mempunyai tradisi dengan sifat

kommunikasi yang terbuka melalui perkumpulan arisan marga dan kerohanian.

(27)

Pemberian informasi mengenai penyakit diare telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui promosi kesehatan dengan bentuk jaringan komunikasi yaitu siaran radio swasta yang dilakukan setiap tahun di Kabupaten. Petugas kesehatan dalam penyampaian komunikasi pada masyarakat belum optimal karena masih banyaknya petugas belum mendapat pelatihan dan pembinaan tentang komunikasi masalah kesehatan khususnya penyakit diare.

Adanya kecenderungan penurunan kasus diare setelah petugas kesehatan meningkatkan perannya dalam mentransfer pengetahuan melalui penyampaian pesan kesehatan, membuat pentingnya melakukan penelitian tentang peran petugas kesehatan dalam mengomunikasikan pesan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat kelompok usia 15-44 tahun tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2012.

Dapat ditambahkan bahwa penetapan kelompok masyarakat usia 15-44 tahun dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat dibawah usia 15 tahun masih kurang mampu menjawab kuesioner penelitian. Pertimbangan lainnya adalah masyarakat di atas usia 44 tahun dianggap sudah memiliki pengetahuan yang memadai tentang penyakit diare, sehingga kalaupun mereka menderita penyakit diare besar kemungkinan bukan lagi karena kurangnya pengetahuan dan sikap melainkan karena pengaruh faktor usia. Sehingga kelompok usia ini dianggap tidak lagi relevan dengan topik penelitian sehingga tidak disertakan dalam penelitian.

(28)

1.2. Permasalahan

Program pengkomunikasian informasi tentang penyakit diare di Humbang Hasundutan Kecamatan Lintongnihuta belum mencapai hasil optimal. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab belum efektifnya pelaksanaan mengomunikasikan penyakit diare pada masyarakat tersebut dan bagaimana peran petugas kesehatan meningkatkan pengetahuan dan sikap .masyarakat melalui pengkomunikasian pesan kesehatan tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk menganalisis peran petugas kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat umur (15-44) tahun melalui pengkomunikasian pesan kesehatan tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui pengaruh petugas kesehatan terhadap pengetahuan masyarakat umur (15-44) tahun tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

2. Untuk mengetahui pengaruh petugas kesehatan terhadap sikap masyarakat umur

(15-44) tahun tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten

Humbang Hasundutan.

(29)

1.4. Hipotesis

Ada pengaruh peran petugas kesehatan dalam mengomunikasikan pesan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat umur (15-44) tahun tentang penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

1.5. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.5.1. Untuk meningkatkan dan memperbaiki komunikasi dalam penyampaian informasi terhadap masyarakat umur (15-44) tahun tentang pencegahan penyakit diare di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

1.5.2. Untuk menurunkan angka penderita penyakit diare dengan cara mengomunikasikan pencegahan penyakit diare kepada masyarakat.

1.5.3. Sebagai bahan kajian dalam pelaksanaan program promosi kesehatan

khususnya tentang pencegahan penyakit diare.

(30)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyakit Diare 2.1.1. Pengertian

Menurut Hipocrates diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (frekuensinya lebih dari 3 kali dalam 24 jam).

Neonatus dikatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali (Depkes RI, 2005).

2.1.2. Penyebab Diare

Diare ialah suatu kondisi perubahan buang air besar dari pada biasanya, dimana frekuensi dan jumlahnya lebih sering dan konsistensi seperti air. Bayi baru lahir umumnya akan buang air besar lebih dari sepuluh kali sehari, dan bayi yang lebih besar akan berbeda-beda, ada 2-3 kali sehari (Suririnah, 2009).

Keadaan lingkungan fisik dan biologis pemukiman penduduk Indonesia

belum maksimal, hal ini berakibat masih tingginya angka kesakitan dan kematian

karena berbagai penyakit. Salah satu penyakit terbanyak yang disebabkan oleh

buruknya sanitasi di lingkungan masyarakat adalah diare. Diare menyerang siapa saja

tanpa kenal usia. Diare yang disertai gejala buang air besar terus-menerus, muntah

(31)

dan kejang perut sering dianggap bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pertolongan medis. Memang diare jarang sekali yang berakibat kematian, tapi bukan berarti bisa dianggap remeh. Penyakit yang juga populer dengan nama muntah berak alias muntaber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Indonesia, artinya terjadi secara terus-menerus di semua daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan, khususnya di daerah-daerah miskin. Di kawasan miskin tersebut umumnya penyakit diare dipahami bukan sebagai penyakit klinis, sehingga cara penyembuhannya tidak melalui pengobatan medik. Kesenjangan pemahaman semacam ini merupakan salah satu penyebab penting yang berakibat pada lambatnya penurunan angka kematian akibat diare (Sunoto, 2001).

Infeksi penyakit sering terjadi pada para penghuni kawasan kumuh. Penyakit menular yang sering dijumpai adalah diare. Gaya hidup yang kurang bersih, tidak memperhatikan sanitasi menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare.

Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, berkembangnya perilaku pencegahan ini sangat tergantung pada kondisi pribadi masing-masing individu, termasuk persepsi individu bersangkutan dalam memandang diare. Dengan kata lain jika seseorang mempersepsikan diare adalah penyakit yang membahayakan maka yang bersangkutan dapat diproyeksikan akan semakin berusaha keras untuk melakukan pencegahan agar tidak terserang diare. Sebab, upaya pencegahan penyakit ini bersumber pada seluruh aktivitas manusia yang berkaitan dengan upaya preventif (Budiarso, 2004).

Penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan, higiene sanitasi, sosial

ekonomi dan pendidikan/pengetahuan, sedangkan penyebab langsung diare

(32)

terkait dengan masalah infeksi (bakteri, virus, parasit), gangguan malabsorbsi, makanan basi atau beracun, alergi, dan imunodefisiensi. Kebiasaan penduduk desa yang suka membuang kotoran di sungai, tidak mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum memberi makan pada anak, tidak menjaga kebersihan makanan, serta perilaku yang tidak mencerminkan pola hidup sehat dapat menjadi penyebab timbulnya diare.

Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu : 1. Faktor Infeksi

a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak–anak, infeksi enteral ini meliputi infeksi bakteri dan infeksi virus

b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti otitis media akut. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak dibawah umur 2 tahun.

2. Faktor Malabsorbsi

a. Malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi laktosa b. Malabsorbsi lemak

c. Malabsorbsi protein 3. Faktor Makanan

Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan.

4. Faktor Psikologis

Rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang lebih dewasa,

namun kasus ini jarang ditemukan (Anonimus, 2004).

(33)

2.1.3. Patogenesis

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah : a. Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Cairan yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

b. Gangguan Sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

c. Gangguan Motilitas Usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan dan cairan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan pertumbuhan bakteri berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare. Diare terbagi 2 yaitu :

a. Diare akut

Diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 3 – 7 hari pada bayi dan anak.

Patogenesis Diare Akut :

1. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil

melewati rintangan asam lambung.

(34)

2. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.

3. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)

Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare

b. Diare kronik

Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

Patogenesis Diare Kronis :

Lebih kompleks dan faktor–faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain–lain

2.1.4. Patofisiologi

Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :

1. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainya).

2. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah).

3. Hipoglikemia.

4. Gangguan sirkulasi darah.

2.1.5. Komplikasi

Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi

berbagai macam komplikasi seperti :

(35)

1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

2. Renjatan hipovolemik.

3. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram).

4. Hipoglikemia.

5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktosa karena kerusakan vili mukosa usus halus.

6. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.

7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan.

2.1.6. Pengobatan

Adapun dasar pengobatan diare adalah :

a. Pemberian cairan bertujuan untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang dan untuk memenuhi kebutuhan. Pemberian ini tergantung pada jenis cairan, jalan pemberian cairan, jumlah cairan dan jadwal/kecepatan pemberian cairan.

b. Dietetik / pemberian makanan.

c. Obat–obatan.

d. Mengobati penyakit penyerta.

2.1.7. Pencegahan dan Penanggulangan Diare

Menurut Anonimus (2004) bahwa cara pencegahan diare adalah :

a. Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan.

(36)

b. Mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar atau sebelum memberi makan anak.

c. Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya.

d. Membuang tinja di jamban.

e. Menggunakan air matang untuk makanan dan minuman.

f. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi derajat kesehatan manusia. upaya sanitasi dasar antara lain penyediaan air bersih, penggunaan jamban, dan pengelolaan sampah (Chandra, 2007)..

1). Penyediaan Air Bersih

Menurut Kandun (2008), sebesar 47,5 persen sumber air minum yang dikonsumsi masyarakat terkontaminasi bakteri E Coli yang bisa menyebabkan diare.

Penyakit ini adalah penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur. Penyakit diare sering dikaitkan dengan sumber air, namun sebenarnya akan lebih akurat jika dikaitkan dengan kotoran yang mengandung patogen.

Kandun (2008) menilai pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga

sangat penting. Hal itu akan menurunkan kasus diare hingga 39 persen. Oleh karena

itu, pemerintah memperkenalkan metode pengelolaan air minum layak berupa

klorinisasi, filterisasi, dan solar water disinfectant (SWD).

(37)

Untuk mencapai status kesehatan masyarakat yang optimal, program Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga baik di pedesaan maupun di perkotaan merupakan hal penting untuk dikembangkan. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga mencakup berbagai pendapat pengolahan air minum dan penyimpanannya telah berkontribusi dalam peningkatan kualitas air minum dan penurunan kasus diare yaitu dengan cara :

a. Merebus, adalah proses mematikan mikroorganisme (virus, bakteri, spora bakteri, jamur, protozoa) penyebab penyakit dengan pemanasan.

b. Filtrasi/ Penyaringan, adalah cara pengolahan air minum dengan melewatkan pada suatu alat yang dapat menyaring kuman. Dikenal beberapa teknologi penyaringan yaitu biosand, keramik filter dan vesterguard.

c. Klorinasi, yaitu proses pembubuhan zat khlor kedalam air untuk membunuh bakteri dan virus. Contoh produk dengan menggunakan metode khlorinasi yaitu Air RahMat dan Aquatabs.

d. Flokulasi dan disinfeksi, contoh dari metode ini Purifier of Water.

e. SODIS (Solar Water Desinfection) adalah pemaparan air minum dengan sinar matahari terutama sinar UV-A untuk merusak dan melumpuhkan mikroorganisme pathogen.

Beberapa cara untuk mengamankan air minum yang sudah siap minum adalah dengan memperhatikan wadah penyimpanan air minum, yaitu:

a. Wadah yang aman adalah yang bertutup, berleher sempit, dan lebih baik jika

dilengkapi dengan kran.

(38)

b. Air minum sebaiknya disimpan di wadah pengolahannya.

c. Air yang sudah diolah sebaiknya disimpan dalam wadah yang bersih dan selalu tertutup.

d. Jangan minum air langsung dari mulut wadah/ kran, gunakan gelas bersih dan kering.

e. Letakkan wadah air minum di tempat yang bersih dan sulit terjangkau oleh binatang.

f. Wadah air minum sebaiknya dicuci setiap 3 hari atau saat air habis. Gunakan air yang sudah diolah sebagai bilasan terakhir

Selain itu, hal penting yang perlu untuk dilakukan adalah :

a. Cucilah tangan dengan sabun sebelum menangani air minum dan mengolah makanan siap santap.

b. Mengolah air minum secukupnya sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga.

c. Gunakan air yang sudah diolah untuk mencuci sayur dan buah siap santap dan mengolah makanan siap santap.

d. Hindari kontak tangan dengan air minum yang sudah diolah (Dep.PU, 2004).

Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT) adalah suatu proses

pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang digunakan untuk

produksi makanan dan keperluan oral lainnya seperti berkumur, sikat gigi, persiapan

makanan/ minuman bayi.

(39)

2). Penggunaan Jamban

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Dinkes , 2009).

Jamban merupakan fasilitas sanitasi yang sederhana, terdiri atas pelat jongkok dan leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan ke cubluk atau tangki septik (Dep.PU, 2004).

a. Jamban cemplung; adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.

Jenis-jenis Jamban :

b. Jamban tangki septik/leher angsa; adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya.

3). Pengelolaan Sampah

Menurut Sirojuddin (2009), sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia

dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah merupakan material sisa yang

tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Pengelolaan sampah adalah

kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi

(40)

pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah.

Bila ditinjau dari sumber sampah yaitu rumah tangga maka jenis sampah yang banyak dihasilkan setiap rumah tangga adalah organik dan sampah non organik.

Sampah organik seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun, kertas, koran, karton dan sebagainya. Sedangkan sampah anorganik dari rumah tangga seperti botol kaca, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal, diantaranya tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Sampah bukanlah sesuatu yang harus dibuang melainkan dapat diolah menjadi produk baru.

Sampah juga tidak perlu berkonotasi kotor dan bau bila dikelola dengan baik (Tusy, 2004).

Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, seperti hasil pengolahan bahan

makanan, sisa minyak, kardus bekas, pakaian bekas, bahan bacaan, karpet tua,

perabotan rumah tangga disebut juga sampah domestik.

(41)

2.2. Peran Petugas

2.2.1. Peran Promotif Kesehatan

Peran adalah suatu yang diharapkan dari seseorang dalam situasi sosial tertentu agar memenuhi harapan. (Setiadi, 2008). Peran petugas kesehatan adalah suatu kegiatan yang diharapkan dari seorang petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Setiadi, 2008)

Tugas dan fungsi pokok petugas kesehatan dalam Upaya Pokok Kesehatan adalah meliputi upaya promotif (penyebarluasan informasi), preventif (pencegahan), curatif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) yang diorganisir melalui sistem unit. Dalam bidang penyebarluasan informasi, peran petugas kesehatan disebut sebagai peran promotif yakni upaya penyebarluasan informasi melalui berbagai media. Metode penyampaian, alat bantu, sarana, media, waktu ideal, frekuensi, pelaksana dan bahasa serta keterlibatan instansi terkait maupun informal leader tidaklah sama di setiap daerah, tergantung kepada dinamika di masyarakat dan kejelian untuk menyiasatinya agar informasi kesehatan bisa diterima dengan benar dan selamat (Elkadi, 2007).

Dalam perkembangannya, Pusat Promosi Kesehatan mengalami berbagai

masalah yang menyangkut tugas pokok dan fungsi promosi kesehatan, kebijakan

kesehatan, koordinasi antar provinsi dan daerah. Di samping itu, masalah lain yang

dihadapi adalah perubahan dan tantangan yang bersifat strategis baik internal maupun

eksternal. Dalam konteks internal antara lain krisis politik, ekonomi, sosial budaya,

(42)

dan keamanan serta bencana alam dan keadaan geografis di beberapa wilayah Indonesia. Dalam konteks eksternal antara lain era globalisasi, perkembangan teknologi transportasi, dan telekomunikasi informasi. (Departemen Kesehatan R.I.

2003).

Promosi kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan Kesehatan Nasional. Hal ini dapat dilihat bahwa promosi kesehatan merupakan salah satu pilar dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Departemen Kesehatan R.I. 2007).

Promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk

memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya dengan kesadaran dan

kemampuan serta upaya mengembangkan lingkungan sehat, mencakup aspek perilaku

yaitu upaya memotivasi, mendorong dan meningkatkan potensi yang dimiliki

masyarakat agar mereka mampu memelihara kesehatan diri sendiri dan keluarga. Di

samping itu promosi kesehatan juga mencakup aspek yang berkaitan dengan

lingkungan dan perkembangan perilaku yang berhubungan dengan sosial budaya,

(43)

pendidikan ekonomi, politik dan pertahanan keamanan (Departemen Kesehatan R.I.

2003).

Menurut Bangkok Charter, promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan manusia untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk faktor-faktor yang memengaruhi nya, sehingga dapat memperbaiki derajat kesehatannya.

Berdasarkan pengertian tersebut, promosi kesehatan merupakan konsep sehat yang positif dan inklusif yang menekankan pada kualitas hidup, mental dan spiritual yang sebaik-baiknya. Promosi kesehatan merupakan konsep yang efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia

Konsep promosi kesehatan tersebut telah teruji dan dapat menggerakkan peran aktif masyarakat dalam upaya memelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri dan lingkungannya. Promosi kesehatan dengan berbagai model pelaksanaannya telah menempatkan masyarakat bukan sebagai obyek tetapi subyek, bukan sasaran tetapi pelaku, dan bukan pasif menunggu tetapi aktif berperan dalam upaya dan pembangunan kesehatan bagi diri, masyarakat dan lingkungannya.

Konsep promosi kesehatan tersebut juga terbukti sesuai bukan hanya untuk

masyarakat di negara yang telah berkembang, tetapi juga di negara yang sedang

berkembang. Ia juga dapat dilakukan baik di masyarakat perkotaan maupun di

perdesaan, bagi masyarakat yang tergolong kaya, juga bagi masyarakat yang

tergolong miskin. Demikian pula promosi kesehatan juga perlu dilakukan oleh

mereka yang merasa sehat, agak sehat, atau yang merasa sakit, karena semua perlu

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Istilah promosi kesehatan

(44)

sebenarnya sudah mulai dicetuskan tahun 1986, pada waktu diselenggarakan Konferensi International Pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Canada. Pada waktu itu dicanangkan the Ottawa Charter, yang memuat definisi dan prinsip-prinsip dasar Health Promotion. Namun istilah tersebut di Indonesia belum bergema. Pada waktu itu,istilah yang digunakan adalah Penyuluhan Kesehatan, dan populer istilah- istilah lain seperti: KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Pemasaran Sosial (Socia Marketing), Mobilisasi Sosial. Akhir-akhir ini penyuluhan kesehatan berobah menjadi promosi kesehatan.

Program dasar promosi kesehatan terdiri dari enam program unggulan sebagai

berikut: pendidikan kesehatan bertujuan melakukan perubahan pemeliharaan dan

pengembangan perilaku masyarakat, penyuluhan kesehatan masyarakat melalui

pemberdayaan masyarakat dalam promosi kesehatan serta upaya penyediaan dan

penyebarluasan informasi kesehatan. KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)

dilakukan dengan upaya jalur komunikasi dan edukasi, pemasaran sosial melalui

pengenalan produk secara meluas kepada masyarakat sehingga mereka dapat

mengenal, memilih dan memanfaatkan hidup sehat. Mobilisasi sosial dilakukan

melalui advokasi dan bina suasana yang merupakan upaya pembujukan dan

menciptakan lingkungan kondusif. Bina peran serta masyarakat yaitu diharapkan

masyarakat bukan sebagai objek melainkan menjadi subjek (Departemen Kesehatan

RI, 2002).

(45)

2.2.2. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan individu, keluarga dan masyarakat untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, menciptakan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya kesehatan.

a. Pemberdayaan individu

Pemberdayaan terhadap individu yang dilakukan oleh setiap petugas kesehatan terhadap individu-individu yang datang memanfaatkan pelayanan kesehatan..

Tujuan dari upaya tersebut adalah memperkenalkan perilaku baru kepada individu yang mungkin mengubah perilaku yang selama ini dipraktekkan oleh individu tersebut.

b. Pemberdayaan keluarga

Pemberdayaan terhadap keluarga yang dilakukan oleh setiap petugas kesehatan terhadap keluarga, yaitu keluarga dari individu pengunjung atau keluarga- keluarga yang berada di wilayah kerja Puskesmas. Tujuan dari pemberdayaan keluarga juga untuk memperkenalkan perilaku baru yang mungkin mengubah perilaku yang selama ini di praktekkan oleh keluarga tersebut.

c. Pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh setiap petugas kesehatan

terhadap masyarakat merupakan upaya penggerakan atau pengorganisasian

masyarakat. Penggerakan atau pengorganisasian masyarakat diawali dengan

(46)

membantu kelompok masyarakat mengenali masalah-masalah yang menggangu kesehatan sehingga masalah-masalah tersebut menjadi masalah bersama.

Kemudian masalah tersebut dimusyawarahkan untuk dipecahkan secara bersama.

2.2.3. Bina Sosial (Penyuluhan)

Bina sosial yang juga disebut bina suasana atau konseling adalah upaya menciptakan suasana atau lingkungan sosial yang mendorong individu, keluarga dan masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatannya serta menciptakan lingkungan sehat dan berperan aktif dalam setiap upaya penyelenggaraan kesehatan.

Konseling atau penyuluhan merupakan kegiatan bimbingan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara pribadi. Jones (1970) menyebutkan bahwa konseling sebagai suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Menurut Pietrofesa (1978), tujuan konseling bagi individu adalah mengubah perilaku yang salah dalam penyesuaian diri, belajar membuat keputusan, dan mencegah timbulnya masalah.

Ellis, Shetzer and Stone (1980) mengatakan konseling adalah proses interaksi yang memfasilitasi dan mengklarifikasi makna pemahaman diri dan lingkungan dimana siswa berada berikut tujuan-tujuan serta nilai-nilai perilaku pada waktu yang akan datang

Bila konseling dianggap sebagai fasilitas dalam mengklarifikasi pemahaman

diri dan lingkungan dimana individu berada berikut tujuan-tujuan konselor adalah

mengajarkan bagaimana berpikir secara rasional tentang masalah-masalah pribadi dan

(47)

bagaimana mengambil keputusan-keputusan yang secara moral nampak memuaskan baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Ini berarti bahwa konselor berperan sebagai pedagogi dan peranan ini sangat kompleks. Dalam hal ini konselor membantu mendefinisikan konsep fungsi pribadi secara utuh dan membuat kriteria untuk menggambarkan kehidupan yang baik dan kesehatan mental individu, dan membuat tujuan-tujuan konseling yang konsisten dalam diri konselor. Karena itu, proses konseling hendaknya dipandang sebagai urutan pilihan konselor terutama dalam menentukan interpretasi terhadap perilaku individu, menentang pikiran yang irasional individu, memberi saran, atau hanya mendengar dengan tidak melakukan apa-apa.

Dalam hal ini model konseling akan memberikan rujukan dalam membatasi dan memfokuskan tujuan, waktu dan prosedur kerja (Steven .J.Lynn, P. John Garske,1985).

Selanjutnya Shostrom (1982) menekankan konseling sebagai suatu perencanaan yang lebih rasional, pemecahan masalah, pembuatan keputusan intensionalitas, pencegahan terhadap munculnya masalah penyesuaian diri, dan memberi dukungan dalam menghadapi tekanan-tekanan situasional dalam kehidupan sehari- hari .

Berdasarkan perkembangan kehidupan individu, masalah penyesuaian sosial

pada umumnya lebih banyak dirasakan pada masa usia remaja. Menurut Hurlock

(1990), masa remaja merupakan masa yang sangat sulit dalam melakukan hubungan

sosial dengan orang lain. Kesulitan yang dialami oleh individu antara lain kurang

dapat membuka diri (self disclosure) dengan orang lain. Sebagaimana yang

(48)

dikemukakan (Kirby dalam Colhoun dan Accolla,1990), bagi beberapa orang sulit untuk membuka dirinya

Berdasarkan uraian teoritis tentang peran petugas kesehatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran petugas kesehatan dalam penyampaian pesan kesehatan dapat digolongkan kedalam 3 bagian yakni promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan penyuluhan

2.3. Proses Komunikasi dan Aliran Informasi

Pada dasarnya setiap proses komunikasi bertujuan menyampaikan suatu pesan atau informasi hingga pesan tersebut dapat diterima oleh si-penerima setepat mungkin; apapun bentuk dan cara penyampaiannya. Namun demikian, apa yang sering terjadi; pesan atau informasi itu berubah arti (distorsi) dari pesan yang diharapkan untuk diterima. Suatu distorsi (penyimpangan/kekeliruan) terjadi akibat gangguan (noise) dalam proses komunikasi. Distorsi sebenarnya tidak boleh terlalu banyak dan sering terjadi. Kalaupun tidak bisa dihindari keterjadian distorsi berlangsung secara minimal. Untuk itu hendaknya dapat ditelusuri dan dipelajari komponen-komponen komunikasi yang terlibat sebagai potensi terjadinya distorsi tersebut. Dengan cara demikian komunikasi akan menjadi lebih hati-hati dan efektif (Spitzberg, 1999)

Bagan berikut memperlihatkan 8 (delapan) komponen dari proses komunikasi

yang perlu dicermati setiap komunikator, yaitu: (1) Konteks (lingkungan)

komunikasi, (2) Sumber-penerima, (3) Enkoding-dekoding (4) Kompetensi

(49)

komunikasi, (5) Pesan dan saluran, (6) Umpan balik, (7) Gangguan, dan (8) Efek komunikasi.

Pertama: Konteks (lingkungan) merupakan sesuatu yang kompleks. Antara dimensi fisik, sosial-psikologis dan dimensi temporal saling memengaruhi satu sama lain.

Gambar 2.2. Bagan Proses Komunikasi Informasi

Kedua: Komponen sumber-penerima menunjukkan keterlibatan seseorang dalam berkomunikasi dimana ia berfungsi sebagai sumber sekaligus penerima.

Ketiga: Enkoding-Dekoding. Baik sebagai sumber ataupun sebagai penerima, seseorang mengawali proses komunikasi dengan mengemas pesan (pikiran atau suatu ide) yang dituangkan ke dalam gelombang suara (lembut, berapi-api, tegas, marah dan sebagainya) atau ke dalam selembar kertas. Kode-kode yang dihasilkan ini berlangsung melalui proses pengkodean (enkoding). Bagaimana suatu pesan

Sumber /encoder

Penerima decoder

Sumber /encoder

Penerima decoder Umpan balik

Umpan balik

Pesan yang akan disampaikan

Pesan yang akan disampaikan

gangguan

(50)

terkodifikasi, amat tergantung pada keterampilan, sikap, pengetahuan dan sistem sosial budaya yang memengaruhi . Artinya, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut memiliki peranan dalam menentukan tingkat efektivitas sumber komunikasi. Proses kodifikasi (pengkodean) di pihak sumber komunikasi hingga pesan itu terkode, pada dasarnya mengandung unsur penafsiran subjektif atas simbol-simbol atau artifak yang dari perspektif sosial budaya bisa menimbulkan distorsi bahkan makna yang berlainan sama sekali.

Keempat: Kompetensi Komunikasi; mengacu pada kemampuan berkomunikasi secara efektif (dari Spitzberg dan Cupach, 1989).

Kelima: Pesan dan Saluran. Pesan sebenarnya merupakan produk fisik dari proses kodifikasi. Pesan itu dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang digunakan untuk mentransfer makna atau isi dari pesan itu sendiri dan dipengaruhi oleh keputusan memilih dan menata kode dan isi tersebut. Menurut Sendjaja (1994) mengutip pendapat Reardon bahwa kendala utama dalam berkomunikasi seringkali lambang atau simbol yang sama mempunyai makna yang berbeda. Artinya, kekurangcermatan di dalam memilih kode atau mentransfer makna dan menata kode dan isi pesan, dapat menjadi sumber distorsi komunikasi.

Kelima, saluran merupakan medium; lewat mana suatu pesan itu berjalan.

Saluran dipilih oleh sumber komunikasi. Sumber komunikasi dalam organisasi

biasanya ditetapkan menurut jaringan otoritas yang berlaku bertalian dengan

pelaksanaan pekerjaan secara formal dalam organisasi itu. Sedangkan saluran

Referensi

Dokumen terkait

Ukuran perusahaan, jenis industri, komite audit, dan ukuran KAP berpengaruh sebesar 22,9% terhadap audit delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak

[r]

[r]

Berdasarkan hasil dari latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah yakni “ bagaimana merancang sistem informasi

Rendah- nya intensitas serangan penggerak batang tersebut disebabkan oleh mortalitas lar- va penggerek batang padi putih yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 66-96%..

In this example, the variable $var was explicitly defined as global, meaning that after the func- tion is called, the variable will exist outside the function as well.. The output

Pengaruh Struktur Modal, Pertumbuhan Perusahaan, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kinerja Keuangan Perusahaan, terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur

Tarif dasar merupakan tarif terendah yang ditentukan berdasarkan perhitungan dan analisa biaya operasional kendaraan, yang mana tarif dasar adalah nilai tarif