• Tidak ada hasil yang ditemukan

IX. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. 1) Simpulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IX. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. 1) Simpulan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

IX.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

1) Simpulan

1) Perdagangan Tuna Indonesia di Pasar Dunia, Jepang, USA, dan Korea Selatan : a. Peringkat Indonesia sebagai eksportir tuna baik secara total maupun

berdasarkan jenis produk (segar, beku, maupun olahan) semakin meningkat dan termasuk 5 besar dunia. Dibandingkan Thailand maka Indonesia sangat berperan pada perdagangan tuna segar dan beku sedangkan Thailand pada perdagangan tuna olahan.

b. Jepang dan USA merupakan pasar potensial bagi tuna Indonesia, dengan nilai ekspor rata-rata dari kedua negara tersebut sebesar 69%. Indonesia merupakan eksportir utama tuna segar ke Jepang dengan kontribusi terhadap jumlah impor tuna Jepang sebesar 12,56%. USA merupakan importir tuna beku dan olahan, dan Indonesia termasuk sebagai eksportir utama dengan kontribusi tahun 2009-2012 sebesar 6,93% dan 21,60% . c. Persaingan pada perdagangan tuna segar lebih ketat dibandingkan dengan

perdagangan tuna beku dan olahan, yang ditunjukkan oleh jumlah eksportir maupun nilai CR4, kecuali di pasar Korea Selatan. Walaupun terjadi pertambahan jumlah eksportir namun struktur pasar tuna olahan masih mengarah ke monopoli sedangkan tuna beku dan segar mengarah ke oligopoli bahkan untuk perdagangan tuna segar dunia mengarah ke pasar persaingan monopolistik. Namun dengan adanya penerapan standar mutu produk, pasar lebih mengarah ke oligopoli dan pasar Jepang persaingannya lebih ketat dibandingkan dengan pasar USA dan Korea Selatan.

d. Produksi tuna Indonesia mengalami peningkatan, namun masih didominasi oleh kelompok tuna kecil. Indonesia merupakan penghasil tuna sirip biru, namun kuotanya relatif kecil. Proporsi ekspor yang masih relatif kecil dengan rata-rata selama tahun 2003-2012 sebesar 14,29%

e. Surplus neraca perdagangan tuna beku Indonesia di tiga pasar, terbesar diperoleh dari Jepang. Komposisi ekspor tuna beku terbesar rata-rata adalah ke pasar Jepang sebesar 47,42% , namun kontribusi terhadap negara importir terbesar adalah Korea Selatan dengan rata-rata 15,32%, dan pada periode 2009-2012 bergeser ke USA yaitu sebesar 23,24%

(2)

2

f. USA merupakan konsumen tuna olahan. Sebesar 84% dari total impor tuna USA tahun 2012 dalam bentuk tuna olahan. Thailand merupakan pemasok terbesar impor tuna olahan ke USA, yaitu 69,97% berasal dari Thailand, sedangkan dari Indonesia 5,99%. Persaingan pada perdagangan tuna beku di USA lebih kompetitif dibandingkan pada perdagangan tuna segar dan olahan. Perdagangan pada tuna olahan masih terkonsentrasi pada beberapa eksportir dan cenderung ke pasar monopoli.

g. Indonesia merupakan eksportir 5 besar di pasar USA sejak tahun 1988.

Peringkat Indonesia sepanjang tahun 1988-2012 sebagai eksportir produk tuna olahan lebih baik dibandingkan dengan peringkat pada tuna beku dan tuna segar, namun sejak tahun 2005, peringkat Indonesia sebagai eksportir tuna beku menduduki posisi 3 besar, dan tahun 2012 sebagai eksportir ke- 2. Perdagangan tuna beku lebih kompetitif dibandingkan tuna segar dan olahan. Hal tersebut ditunjukkan oleh jumlah eksportir, nilai CR dan HI, dan kecenderungan pasar ke arah monopoli (segar dan olahan), sedangkan tuna beku sudah mulai mengarah ke oligopoli.

2) Faktor yang mempengaruhi ekspor tuna Indonesia :

a. Di pasar internasional adalah produksi tuna Indonesia dan jumlah ekspor tuna Indonesia tahun sebelumnya

b. Pada perdagangan tuna segar di pasar Jepang adalah harga ekspor tuna segar Indonesia ke Jepang dan jumlah ekspor tuna segar Indonesia ke Jepang tahun sebelumnya, dan di pasar USA adalah harga ekspor tuna segar Indonesia ke AS, nilai tukar rupiah terhadap dolar US, produksi tuna segar Indonesia, dan jumlah ekspor tuna segar Indonesia ke AS tahun sebelumnya

c. Pada perdagangan tuna beku di Jepang adalah nilai tukar rupiah terhadap Yen, produksi tuna beku Indonesia dan penerapan persyaratan mutu produk, di pasar USA adalah adalah jumlah ekspor tuna beku Indonesia ke AS tahun sebelumnya, dan di pasar Korea Selatan adalah nilai tukar rupiah terhadap won,

d. Pada perdagangan tuna olahan di pasar Jepang adalah produksi tuna olahan Indonesia, jumlah ekspor tuna olahan Indonesia ke Jepang tahun lalu, dan penerapan persyaratan mutu produk; di pasar USA adalah harga ekspor tuna olahan Indonesia ke Amerika Serikat, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, produksi tuna olahan Indonesia, serta jumlah

(3)

3

ekspor tuna olahan Indonesia ke USA tahun lalu; serta di di pasar Korea Selatan adalah penerapan persyaratan mutu produk.

3) Faktor yang mempengaruhi harga ekspor adalah :

a. Pada perdagangan tuna segar di pasar Jepang harga ekspor dipengaruhi oleh harga ekspor tuna segar tahun sebelumnya, sedangkan di pasar USA adalah harga ekspor tuna beku Indonesia ke USA dan harga ekspor tuna segar Indonesia ke USA tahun sebelumnya.

b. Pada perdagangan tuna beku di pasar Jepang, harga ekspor dipengaruhi oleh harga ekspor tuna beku tahun sebelumnya, dan di pasar USA dipengaruhi oleh harga ekspor tuna segar Indonesia ke USA dan perubahan volume impor tuna beku AS.

c. Pada perdagangan tuna olahan di pasar Jepang dipengaruhi oleh harga ekspor tuna olahan tahun sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap Yen, dan perubahan jumlah impor tuna olahan Jepang; di pasar USA dipengaruhi oleh perubahan volume impor tuna olahan AS; dan di pasar Korea dipengaruhi oleh harga ekspor tuna segar Indonesia ke Korea Selatan.

4) Pengaruh produksi dalam meningkatkan ekspor tuna sangat responsif pada perdagangan tuna beku dan olahan di pasar Jepang dan perdagangan tuna segar dan olahan di pasar USA,

5) Pangsa pasar tuna Indonesia di pasar dunia dan di pasar Jepang, USA, Korea Selatan :

a. Secara total, pangsa pasar tuna Indonesia di pasar dunia lebih kecil dibandingkan Thailand. Di pasar dunia, Indonesia menguasahi pangsa pasar tuna segar dan beku, sedangkan Thailand menguasahi pangsa pasar tuna olahan. Thailand menguasahi pangsa pasar tuna olahan dunia dengan rata-rata market share tahun 1989-2012 sebesar 48,76%

sedangkan Indonesia merupakan eksportir tuna segar dunia dengan pangsa pasar rata-rata 18,56%.

b. Pangsa pasar tuna Indonesia di pasar Jepang dan Korea Selatan secara total lebih tinggi daripada Thailand sedangkan di pasar USA, Thailand lebih besar dibandingkan Indonesia. Pangsa pasar produk tuna segar dan beku Indonesia di ketiga pasar (Jepang, USA, dan Korea Selatan) lebih tinggi dibandingkan Thailand, sedangkan tuna olahan lebih rendah. Indonesia merupakan eksportir utama tuna segar dan beku di ketiga pasar tersebut, dan Thailand eksportir utama tuna olahan.

(4)

4

6) Daya saing tuna Indonesia di pasar dunia dan di pasar Jepang, USA, Korea Selatan :

a. Daya saing tuna segar dan beku Indonesia di pasar dunia lebih besar daripada Thailand, sedangkan daya saing tuna olahan Indonesia lebih rendah daripada Thailand. Tuna segar Indonesia di pasar dunia mempunyai daya saing kuat, sedangkan tuna beku dan olahan mempunyai daya saing sedang.

b. Daya saing tuna segar, beku, dan olahan Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand, baik di pasar Jepang, USA, maupun Korea Selatan.

c. Daya saing tuna Indonesia di pasar Jepang secara rata-rata baik tuna segar, beku, maupun olahan mempunyai daya saing tinggi. Daya saing tuna olahan lebih tinggi dibandingkan tuna segar dan beku.

d. Daya saing tuna segar Indonesia di pasar Jepang setelah adanya penerapan persyaratan mutu produk tidak mengalami perubahan, tuna beku mengalami penurunan nilai RCA dan menjadi berdaya saing sedang, sedangkan tuna olahan mengalami kenaikan. Nilai RCA Thailand mengalami kenaikan baik tuna segar, beku dan olahan, serta daya saing tuna segar dan olahan tinggi sedangkan tuna beku berdaya saing sedang.

e. Tuna beku dan olahan Indonesia di pasar USA rata-rata mempunyai daya saing tinggi, sedangkan tuna segar berdaya saing lemah.

f. Daya saing tuna segar Indonesia di pasar USA setelah adanya penerapan persyaratan mutu produk meningkat menjadi berdaya saing sedang, tuna beku meningkat dari lemah ke tinggi, sedangkan tuna olahan nilai RCA menurun tetapi daya saing masih tetap tinggi. Nilai RCA Thailand mengalami kenaikan baik tuna segar, beku dan olahan, serta daya saing tuna segar dan olahan tinggi sedangkan tuna beku berdaya saing sedang g. Tuna segar, beku, dan olahan Indonesia di pasar Korea Selatan rata-rata

mempunyai daya saing kuat. Daya saing tuna segar dan beku lebih kuat dibandingkan tuna olahan.

h. Daya saing tuna segar dan beku di pasar Korea Selatan setelah adanya penerapan standar mutu produk nilai RCA naik dan berdaya saing tinggi, sedangkan nilai RCA tuna olahan mengalami penurunan dan daya saing tuna olahan yang tinggi menjadi tidak berdaya saing. Tuna segar dan beku

(5)

5

Thailand menjadi tidak berdaya saing, sedangkan tuna olahan daya saing tinggi.

i. Daya saing tuna Indonesia ke pasar dunia lebih disebabkan efek daya saing spesifik, yaitu mengekspor spesifik produk (tuna segar) ke spesifik pasar (Jepang). Indonesia belum mengekspor ke negara yang tingkat pertumbuhan impornya tinggi untuk setiap jenis produk, yang ditunjukkan oleh nilai SME negatif terutama disebabkan oleh efek produk (SPE), yang mengindikasikan bahwa penyelidikan pasar Indonesia masih lemah.

7) Pada periode 2010-2012, (a) peningkatan ekspor tuna Indonesia dipengaruhi oleh pertumbuhan dunia (30,92%) dan distribusi pasar (7,77%), sedangkan komposisi komoditas memberikan pengaruh negatif (-10,08%); (b) Hambatan di pasar USA, efek komposisi di pasar Jepang dan penurunan daya saing di pasar Korea Selatan menghambat kinerja ekspor tuna Indonesia ke dunia; (c) Ekspor tuna ke USA menghambat kinerja ekspor tuna Indonesia ke dunia (0,07%), namun terjadi dorongan pasar tuna Indonesia di pasar Jepang (0,72%) dan pasar Korea Selatan (4,40%) ; (d) Efek komposisi komoditas di pasar Jepang menghambat kinerja ekspor tuna Indonesia ke dunia (0,07%), namun terjadi dorongan pasar ke USA (0,13%) dan Korea Selatan (0,01%) ; (e) Daya saing Indonesia di pasar Jepang relatif kuat yang meningkatkan kinerja ekspor tuna Indonesia sebesar 0,28%, namun komposisi komoditas yang diekspor masih bersifat spesifik (segar) sehingga jika terjadi goncangan di negara tersebut dapat menghambat kinerja ekspor tuna Indonesia; serta (f) Efek dari komposisi komoditas menurunkan kinerja ekspor tuna Indonesia ke dunia terutama disebabkan oleh efek komposisi ekspor ke Jepang, sedangkan di pasar USA dan Korea Selatan terjadi dorongan pasar

8) Faktor yang mempengaruhi daya saing tuna Indonesia dibandingkan Thailand di pasar Jepang, USA, dan Korea Selatan :

a. Daya saing tuna beku di pasar Jepang dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap bath dan rasio jumlah ekspor tuna segar antara Indonesia dan Thailand, pada tuna olahan adalah rasio jumlah ekspor tuna beku antara Indonesia dan Thailand, sedangkan pada tuna segar tidak ada satu faktor dalam model yang mempengaruhinya.

b. Daya saing tuna segar di pasar USA dipengaruhi oleh rasio harga ekspor tuna segar antara Indonesia dan Thailand, pada tuna beku adalah rasio harga ekspor tuna beku antara Indonesia dan Thailand tahun lalu dan rasio

(6)

6

jumlah ekspor tuna segar antara Indonesia dan Thailand, sedangkan pada tuna olahan tidak ada satupun variabel dalam model yang mempengaruhinya.

c. Daya saing tuna segar di pasar Korea Selatan dipengaruhi oleh rasio harga ekspor tuna segar antara Indonesia dan Thailand, pada tuna beku adalah rasio harga ekspor tuna beku antara Indonesia dan Thailand tahun kini dan tahun lalu serta rasio jumlah ekspor tuna olahan antara Indonesia dan Thailand, sedangkan pada perdagangan tuna olahan tidak ada satupun variabel dalam model yang mempengaruhinya.

9) Posisi daya saing tuna Indonesia :

a. Secara total, posisi daya saing tuna Indonesia di pasar dunia lebih kuat dibandingkan Thailand. Indonesia dalam tahap pertumbuhan ke kematangan. Daya saing tuna segar dan olahan lebih mapan dibandingkan tuna beku yang berfluktuasi. Posisi daya saing tuna segar, beku dan olahan dalam tahap pertumbuhan ke kematangan.

b. Posisi daya saing tuna total di pasar Jepang, USA, dan Korea Selatan lebih kuat dibandingkan Thailand. Di pasar Jepang, Indonesia dalam pertumbuhan ke kematangan, sedangkan Thailand dalam tahap perkenalan. Di Pasar USA posisi Indonesia dan Thailand dalam tahap pertumbuhan ke kematangan. Di Pasar Korea, posisi Indonesia dalam tahap pertumbuhan ke kematangan, sedangkan Thailand dalam tahap perkenalan.

c. Posisi daya saing tuna segar, beku dan olahan Indonesia di pasar Jepang dan USA serta tuna segar dan beku di pasar Korea dalam pertumbuhan ke kematangan, sedangkan tuna olahan Indonesia di pasar Korea berfluktuasi dari tahap pertumbuhan dan substitusi impor.

d. Produk Indonesia setelah diberlakukan persyaratan mutu produk : (a) di pasar dunia dalam pertumbuhan ke kematangan dan produk yang sedang menjulang (rising star) adalah tuna beku, sedangkan tuna segar dan olahan pada posisi lagging opportunity yaitu pertumbuhan pangsa pasar yang masih di bawah pertumbuhan dunia, (b) di pasar Jepang dalam pertumbuhan ke kematangan dan produk yang sedang menjulang (rising star) adalah tuna segar dan tuna beku, sedangkan tuna olahan masuk dalam kelompok lost opportunity, (c) di pasar USA dalam pertumbuhan ke kematangan dan produk yang sedang menjulang (rising star) adalah tuna

(7)

7

segar, sedangkan tuna beku dan olahan masuk dalam kelompok lagging opportunity, serta (d) di pasar Korea Selatan dalam pertumbuhan ke kematangan dan produk tuna segar, beku dan olahan masuk dalam kelompok lagging opportunity.

e. Pada periode 2010-2012, posisi daya saing tuna segar, dan olahan di pasar dunia adalah rising star sedangkan tuna beku pada posisi lagging opportunity. Tuna segar dan beku di pasar Jepang serta tuna beku di pasar USA dan Korea pada posisi rising star, sedangan tuna segar di pasar USA pada posisi lagging opportunity. Posisi daya saing yang lemah dan tidak punya kesempatan untuk bersaing (lost opportunity) adalah tuna olahan Indonesia di pasar Jepang, USA, dan Korea Selatan serta tuna segar di pasar Korea Selatan.

2) Implikasi Kebijakan

1) Dari hasil analisis diketahui bahwa variabel beda kala berpengaruh terhadap jumlah ekspor. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan faktor penentu dalam peningkatan ekspor. Dengan demikian kunci utama peningkatan ekspor dan daya saing produk tuna adalah membangun citra yang baik terhadap produk melalui peningkatan mutu hasil produk yang memenuhi standar keamanan pangan dan jenisnya sesuai permintaan pasar. Hal tersebut akan membangun kepercayaan konsumen, memudahkan akses pasar melalui negoisasi pengurangan hambatan perdagangan dan peningkatan kuota ekspor ke pasar tujuan ekspor.

2) Peningkatan daya saing tuna olahan Indonesia melalui peningkatan ekspor sangat diperlukan mengingat pada awal periode pencanangan renstra KKP yaitu periode 2010-2012, tuna olahan Indonesia dalam posisi kehilangan kemampuan untuk bersaing. Disamping itu elastisitas harga yang tidak responsif serta efek dari komposisi produk ekspor telah menghambat kinerja ekspor tuna Indonesia.

Hal tersebut juga didukung oleh komposisi ekspor dan pangsa pasar tuna olahan Indonesia masih relatif kecil, harga ekspor tuna olahan yang relatif tinggi, pangsa pasar ekspor tuna olahan dunia yang relatif besar, serta kecenderungan pola hidup yang serba praktis dan siap saji serta mengingat dalam perdagangan internasional terjadi kecenderungan setiap pasar terkonsentrasi untuk mengkonsumsi jenis maupun produk tertentu. Peningkatan ekspor tuna olahan diperlukan peran pemerintah, melalui dukungan perbaikan industri pengolahan,

(8)

8

mengingat industri perikanan merupakan infant industry. Perbaikan tersebut perlu didukung dengan penelitian pasar untuk mengetahui karakteristik kebutuhan pasar dan kecenderungan perdagangan tuna di pasar tujuan ekspor.

3) Jumlah produksi tuna beku dan olahan sangat responsif dalam meningkatkan ekspor, sehingga perlu adanya perubahan komposisi ekspor melalui diversifikasi produk agar tidak terjadi ketergantungan pada jenis produk yang spesifik dan pengembangan industri yang menuju peningkatan nilai tambah yang lebih tinggi.

Industri pengolahan ikan tuna memberikan harapan baik untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun devisa negara.

4) Dalam perdagangan tuna, Indonesia sebagai market follower terutama di pasar Jepang sehingga eksportir perlu memantau perkembangan harga ekspor.

Pengembangan pasar perlu diarahkan ke negara-negara prospektif yang mempunyai tingkat pertumbuhan impor tuna yang relatif tinggi serta dengan mengikuti kecenderungan pola pergeseran perdagangan dunia. yang mengarah dari south ke south. Penelitian tentang jenis/spesies tuna yang diminati konsumen setiap negara dapat memberikan arah produksi dan perbaikan sumberdaya.

5) Daya saing ekspor tuna Indonesia yang lebih disebabkan oleh efek daya saing spesifik maka perlu adanya diversifikasi produk maupun pasar ekspor. Efek komposisi komoditas yang masih bernilai negatif sehingga strategi diferensiasi produk dapat menjadi alternatif pilihan. Pengembangan ekspor tuna olahan akan memberikan nilai tambah dan mengembangkan industri tuna, mengingat pasar masih terkonsentrasi pada eksportir tertentu seperti Thailand yang menguasai pangsa pasar tuna olahan dunia.

6) Hasil analisis daya saing dapat dijadikan sebagai bahan dalam penyusunan petan perwilayahan komoditi dalam membangun industri tuna Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Unsur bid ang: Secara keseluru han ornamen ini terdiri dari berbagai be ntuk bid ang, diantaran ya adalah bentuk bid ang geometri yang d itu nju kkan p ada mo tif tumpal, bentuk

Selain implikasi teoretis, Penelitian tentang simplifikasi struktur naratif dalam novel Kumandhanging Katresnan karya Any Asmara mempunyai implikasi terhadap pembelajaran

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang diterapkan dalam mata pelajaran sejarah di SMK telah memperlihatkan bahwa materi yang akan disampaikan pada siswa sesuai

1. Dari 2 subjek yang diambil peneliti pada siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Madiun dengan penggunaan waktu luang yang cenderung dimanfaatkan untuk hiburan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan analisis data mengenai struktur, nilai pendidikan karakter, dan relevansi novel Pethite Nyai Blorong karya Peni sebagai alternatif

Guru dapat menjelaskan kepada siswa pentingnya cerita rakyat PSR perlu dijadikan sebagai bahan ajar, salah satunya untuk melestarikan kebudayaan karya sastra

(2) Apakah model pembelajaran tematik terpadu berbasis inkuiri berpengaruh lebih baik secara signifikan dari pada model pembelajaran tematik terhadap pencapaian

Kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai wujud dari sastra prosa cerpen yang disuguhkan oleh penulis melalui