BENTUKAN ARSITEKTUR KORIDOR KOTA PADA JALAN SOEKARNO-HATTA DAN LINGKAR SELATAN
Dewi Parliana
Dosen Teknik Arsitektur Itenas Bandung [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bentukan arsitektur koridor kota dengan adanya pembangunan jalan arteri yang berbentuk lingkar yang memotong cadaster dan kawasan terbangun kota.
Analisa dilakukan pada setiap segmen jalan pada jalan Soekarno-Hatta, dan jalan Lingkar Selatan.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pada lahan kosong dan terbangun yang sudah terpola kaplingnya seperti di koridor Jl.Soekarno Hatta (Segmen Kiaracondong-Cibiru, Kopo-Moh.Toha dan Moh.Toha-Buah Batu) dan Jl.Lingkar Selatan (segmen Pelajar Pejuang), hampir 90% memiliki tata letak massa bangunan yang mengikuti konteks bentuk kapling tegak lurus dan orientasi muka bangunan menghadap jalan arteri. Akibatnya pada koridor adalah kesinambungan fasade dan tercipta keteraturan.
Untuk kawasan terbangun yang terbentuk secara spontaneous dan kemudian terpotong miring oleh jalan seperti di koridor Jl. Soekarno Hatta (segmen Sudirman – Pasirkoja dan Pasirkoja-Kopo) dan Jl.Lingkar Selatan (segmen Peta dan Laswi), tata letak massa bangunannya mengikuti konteks bentuk kapling yang miring, dan mengabaikan pentingnya orientasi muka bangunan pada jalan arteri. Akibatnya pada koridor adalah, tidak adanya kesinambungan dan keharmonisan fasade. Namun untuk kawasan yang tidak terpotong miring seperti di Jl.Soekarno Hatta (segmen Kopo-Moh.Toha dan Moh.Toha-Buah Batu) dan Jl.Lingkar Selatan (segmen BKR 1 dan 2), bangunan-bangunan tetap mengikuti konteks bentuk kapling lurus dan muka bangunan berorientasi pada jalan.
Kata kunci : pembangunan jalan arteri, bentukan arsitektur koridor, kontekstual, fasade, skyline
Pendahuluan
Sebuah koridor merupakan rangkaian dari kapling-kapling dengan berbagai bentuk dan ukurannya. Fungsi pada koridor yang sama atau campur juga mempengaruhi ukuran besar kecilnya kapling, contohnya kapling industri dan kaling hunian, mempunyai ukuran yang sangat berbeda. Jadi apabila sebuah koridor mempunyai fungsi yang amat campur, maka ia akan menghasilkan komposisi ukuran kapling yang beraneka ragam.
Bentuk dan orientasi kapling akan membentuk massa-massa bangunan pada koridor yang mempengaruhi visual koridor.
Komposisi dari bentuk dan besar kapling yang seragam pada satu koridor, ditambah dengan bentuk dan besar bangunan yang sama, akan
membentuk koridor yang teratur dan harmoni. Sedangkan ketidak seragaman bentuk dan besar kapling, akan cenderung menghasilkan bentuk dan besar massa bangunan yang tidak teratur dan tidak harmoni.
Tata letak massa bangunan pada kapling juga mempengaruhi hasil dari rangkaian bangunan tersebut pada visual koridor, jarak antara bangunan serta ketinggian bangunan akan menciptakan skyline dan ruang kota yang bisa menjadi vista yang indah bagi yang memandangnya.
Kriteria-kriteria urban design dari berbagai konsep para ahli perancang kota telah banyak dikemukakan, diantaranya adalah Clark, Roger H dan Michael Pause, 1985, dalam “Precedent in Architecture”, menurut mereka ada 11 variabel yang berkaitan dengan
gagasan – gagasan bentuk yaitu:
struktur, pencahayaan alami, pembentukan massa, kaitan denah dengan potongan, sirkulasi, kaitan unit keseluruhan, pengulangan ke keunikan, simetri dan keseimbangan, geometri, adisi dan substraksi, hirarki.
Dari Brolin, Brent C, (1980:153) dalam bukunya “Architecture Incontext” mengusulkan 11 variabel dalam penggabungan bangunan baru pada bangunan lama sehingga tercipta kontinuitas visual yaitu setback, jarak antar bangunan, pembentukan massa, ketinggian, proporsi dan arah façade, raut dan silhouette, disposisi pintu dan jendela, material, warna, skala terhadap manusia.
Sedangkan Fremantle (1980:78) mengajukan 9 variabel arsitektural (berkaitan preservasi) yakni: bentuk, proporsi, skala, material, tekstur,
craftmanship, kondisi bangunan, nilai kualitas arsitektural terhadap lingkungan, kontekstual.
Richard Hedman, dan Andrew Jaszewski, 1984 dalam “Fundamental of Urban Design mengatakan untuk menganalisis suatu street picture ada 11 variabel yaitu: silhouette bangunan, jarak antar bangunan, setback, proporsi bukaan, massa dari bentuk bangunan, lokasi entry, material permukaan (finishing dan tekstur, pola pembayangan, skala bangunan, langgam arsitektur, dan lansekap.
Kota dibentuk oleh elemen- elemen dasar yang terdiri dari path, district, edges, landmark, dan nodes yang semuanya diwujudkan dalam bentuk-bentuk fisik di kota (Kevin Lynch, 1960). Sedangkan Elemen- Elemen Pembentuk Fisik Kota dari
Hamid Shirvani, 1985
mengkategorikan Urban Design secara lebih terperinci lagi, yaitu:
Land use, Building Form and Massing, circulation and parking, Open space, Pedestrian ways, Activity support, Signage, Preservation.
Menurut Mohammad Danisworo (1991), perancangan kota merupakan kebijaksanaan yang akan mengendalikan, ada tujuh kriteria yang harus dipegang, antara lain:
1. Pencapaian, yaitu kejelasan, orientasi, kemudahan.
2. Kesesuaian, yaitu harmonis, serasi, cocok.
3. Vista atau pemandangan, yaitu skala, pola, estetika
4. Identitas, yaitu karakter, mudah dibedakan, mempunyai ciri 5. Organisasi, yaitu keteraturan,
kejelasan, dan efisiensi.
6. Citra, yaitu tata nilai, kesesuaian lingkungan
7. Kelayakan hidup, artinya kota itu layak dihuni
Dari kriteria-kriteria tersebut diatas timbul pertanyaan, bisakah kriteria-kriteria tersebut digunakan untuk menganalisa suatu koridor yang tumbuh secara spontaneous, tanpa pengendalian fungsi, intensitas dan estetika?
Terdapat variabel pada kapling sebagai faktor bentukan arsitektur koridor : luas, bentuk, fungsi, asal kawasan.Dengan parameter:
1. Kaidah Arsitektur: bentuk, proporsi, datum,
2. Kaidah Arsitektur Kota - Koridor : harmony, unity, skyline, siluet, fasade
Kapling: luas, lebar pada sisi jalan, bentuk
Bangunan: intensitas (KDB, KLB), tata letak (setback, jarak samping, belakang), tinggi, orientasi bangunan terhadap jalan
Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang dilakukan adalah dengan membaca fenomena yang terjadi di beberapa kasus bagian-bagian kota, khususnya pada transformasi kawasan-kawasan yang terkena intervensi pembangunan jalan baru. Karena penelitian ini juga merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memberi penjelasan (explanatory), maka cara yang diambil dalam penelitian ini melalui penalaran induktif, yaitu memperoleh kesimpulan-kesimpulan umum dari sejumlah kasus tunggal. Pendekatan penelitian yang dipakai dalam melaksanakan penelitian ini adalah dengan grounded theory, yaitu jenis penelitian kualitatif yang mempunyai sasaran secara induktif menghasilkan sebuah teori dari hasil data-data yang didapat. Pada model penelitian ini peneliti membangun substantive theory yang berbeda dari grand atau formal theory.
Hasil dan Pembahasan
Bentukan Arsitektur pada Koridor Arteri Primer Soekarno-Hatta
Koridor Arteri Primer Soekarno- Hatta dibagi menjadi 8 (delapan) segmen, yaitu segmen Sudirman- Pasirkoja, Pasirkoja-Kopo, Kopo- Moh.Toha, Moh.Toha-Buahbatu, Buahbatu-Kiaracondong, segmen Metro, segmen Makro dan segmen Gedebage-Cibiru.
Koridor Soekarno-Hatta 1 (Segmen Sudirman-Pasirkoja)
Koridor segmen Sudirman- Pasirkoja terbentuk pada kawasan kampung yang padat, dan kawasan industri yang pada awalnya berada di pinggiran kota. Setelah lebih dari 20 tahun berlalu, koridor ini mengalami hanya sedikit perubahan.
Perkampungan yang kumuh yang berada di sisi selatan jalan, masih tetap menjadi perkampungan, tidak terjadi perubahan yang signifikan, bahkan bertambah buruk dengan berubahnya hunian menjadi usaha- usaha kecil yang kotor seperti warung, bengkel motor, depot minyak tanah, onderdil bekas dan banyak lainnya yang sifat pelayanannya lokal.
Konstruksi dari bangunan-bangunan tersebut tidak permanen.
Pada koridor ini terlalu banyak kategori kapling dengan bentuk dan ukuran yang berbeda, dengan fungsi yang sangat beragam, selain itu ke 5 fungsi tersebut tidak ada yang mengelompok, tetapi terletak acak bercampur baur. Akibatnya koridor yang terbentuk ditinjau dari tata massa dan façade bangunan menjadi tidak teratur dan tidak harmonis
Gambar 1 Bangunan di Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 1
(Segmen Sudirman-Pasikoja)
Gambar 2 Koridor Soekarno- Hatta 1 dalam tiga dimensi (Segmen
Sudirman-Pasirkoja)
Hunian kampung, industri, komersial, dan perkantoran yang tidak mengelompok, tetapi terletak acak dengan ukuran kapling yang beragam dan berbentuk ireguler, menghasilkan koridor yang spesifik, yang seringkali terlihat di kota-kota di Indonesia.
Koridor Soekarno-Hatta 2 (Segmen Pasirkoja-Kopo)
Jalan Soekarno-Hatta yang melengkung memotong kapling- kapling industri dan hunian kampung disekitarnya, menghasilkan kapling- kapling yang berbentuk ireguler, dengan orientasi tidak tegak lurus ke jalan.
Dominasi fungsi pada koridor ini adalah pabrik-pabrik besar, dengan kapling-kaplimg yang besar. Pada bentuk lengkung jalan, terlihat kapling-kapling menjadi tidak tegak lurus jalan, dan tata letak bangunannya juga tidak tegak lurus jalan, dan tetap berorientasi utara- selatan. Fungsi lain yang dominan adalah Pasar Caringin yang menjadi generator kegiatan-kegiatan lainnya di sekitarnya.
Gambar 3 Bangunan di
Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 2 (Segmen Pasikoja - Kopo)
Secara visual koridor segmen jalan ini, tidak bisa menampilkan pemandangan yang bisa dinikmati, terutama pada bangunan-bangunan pabrik yang rendah dan menjorok kedalam. Juga pada kampung- kampung kumuh dengan setback yang berimpit dengan jalan, yang telah
berubah fungsi menjadi usaha rumahan seperti warung, bengkel, penjual barang2 bekas seperti tong, onderdil, kayu, dll.
Gambar 4 Koridor Soekarno- Hatta 2 dalam tiga dimensi (Segmen Pasirkoja-Kopo)
Ketidak teraturan dan buruknya kualitas suatu koridor, kadangkala disebabkan oleh faktor lain diluar bentuk dan tata letak massa bangunan.
Pada koridor ini, selain ketidak teraturan yang disebabkan oleh fungsi yang sangat beragam, ukuran kapling yang tidak seragam serta bentuknya yang ireguler, ada faktor lain yaitu : keberadaan pasar induk caringin yang menyebabkan pada koridor ini kotor oleh sampah dan roda-roda penjual keliling, dan macet oleh angkutan kota.
Koridor Soekarno-Hatta 3 (Segmen Kopo-Moh.Toha)
Kapling pada koridor ini 60%
berbentuk segiempat ireguler, dengan ukuran yang hampir merata, tetapi lebar kapling tidak seluruhnya ada pada sisi jalan, beberapa kapling panjangnya berada pada sisi jalan, sehingga membentuk facade yang memanjang. Fungsi kapling pada bagian barat adalah perkantoran dan komersial, dan sudah mengelompok.
Sisi timur ditempati oleh fungsi jasa dan komersial kecil yang terjadi akibat perubahan fungsi dari hunian kampung ke komersial.
Gambar 5 Bangunan di Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 3
(Segmen Kopo – Moh.Toha) Secara keseluruhan terlihat adanya keteraturan dalam tata massa bangunan pada bagian barat, tetapi pada bagian timur, masih memberi kesan tidak teratur. Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang merata, bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback, dan jarak antara bangunan cukup seragam.
Kecuali pada kampung yang terpotong, secara keseluruhan koridor segmen jalan ini cukup baik.
Gambar 6 Koridor Soekarno- Hatta 3 dalam tiga dimensi (Segmen Kopo – Moh.Toha)
Pengelompokan fungsi sangat penting untuk membentuk koridor yang baik, seperti terlihat pada gambar di atas ini, yang memperlihatkan perkantoran yang ukuran kaplingnya hampir seragam mengelompok, dan membentuk facade tata massa bangunan yang harmonis.
Koridor Soekarno-Hatta 4 (Segmen Moh. Toha –Buahbatu)
Koridor ini hampir sama dengan koridor sebelumnya, hanya perbedaannya adalah pengelompokan fungsi terjadi tidak berseberangan, tetapi terjadi pada satu sisi jalan. Pada sisi utara didominasi oleh fungsi jasa dan komersial, disisi selatan fungsi perkantoran, dan di satu bagian lagi perumahan formal.
Gambar 7 Koridor Soekarno- Hatta 4 dalam tiga dimensi (Segmen Moh.Toha-Buah Batu)
Secara keseluruhan terlihat adanya keteraturan dalam tata massa bangunan, oleh karena kapling pada umumnya berbentuk regular, dan muka bangunan sejajar dengan jalan.
Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang merata, bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback dan jarak antara bangunan cukup seragam.
Koridor Soekarno-Hatta 5 (Segmen Buahbatu-Kiaracondong)
Pada koridor segmen jalan ini terjadi kemiringan yang memotong kapling, yang mengakibatkan terbentuk kapling-kapling berbentuk segitiga. Bentuk dan ukuran kapling yang beraneka ragam, dengan ke 5 fungsi yang menempati koridor, membentuk koridor dan tata massa bangunan menjadi tidak teratur.
Dengan kondisi kapling-kapling miring, pada umumnya sisi muka bangunan mengambil sikap sejajar dengan sisi jalan, sehingga kesan koridor masih bisa dirasakan
Gambar 8 Bangunan di Sepanjang koridor Soekarno-Hatta 5
Gambar 9 Koridor Soekarno- Hatta 5 dalam tiga dimensi (Segmen Buah Batu - Kiaracondong)
Koridor pada gambar di atas ini, terlihat bentuk dan besar bangunan yang sangat beragam, orientasi muka bangunan sebagian tidak menghadap jalan, dan fungsi-fungsi yang beraneka ragam tidak berkelompok.
Koridor Soekarno-Hatta 6 (Segmen Metro)
Koridor Soekarno-Hatta 6 ini berasal dari sawah, yang terpotong miring jalan Soekarno-Hatta. Koridor segmen ini didominasi oleh kantor pemerintahan wilayah besar dengan kategori kapling besar. Fungsi yang hampir seragam pada koridor, ditambah kapling yang besar, memberikan keleluasaan untuk mengembangkan variasi adaptasi bentuk bangunan, jarak pandang dari jalan ke bangunan sangat jauh, faktor- faktor ini menyebabkan bentukan tata massa bangunan terlihat teratur.
Gambar 10 Bangunan di Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 6
(Segmen Metro)
Gambar 11 Koridor Soekarno- Hatta 6 dalam tiga dimensi (Segmen Metro)
Pada gambar diatas terlihat bukti fisik proses terjadinya kapling pada koridor ini, dari sawah berbentuk segiempat besar terbelah menjadi 2 bagian, kemudian diiris-iris tipis menjadi kapling yang sempit dan panjang.
Melalui proses tersebut, ada sisa-sisa kapling berbentuk segitiga pada ujungnya, yang kemudian setelah di adaptasi oleh bangunan, menghasilkan koridor yang bila dipandang dari arah jalan tidak terlalu terlihat perbedaan bentuk dan ukuran kaplingnya.
Koridor Soekarno-Hatta 7 (Segmen Makro)
Koridor Soekarno-Hatta 7 ini membelakangi perumahan-perumahan besar seperti perumahan Margahayu Raya, Sanggar Hurip, Gading Regency dan Aria Graha. Sedangkan pada koridornya sendiri terdapat rumah sakit Al Islam, dan grosir Makro. Terdapat beberapa kantor besar dengan kategori ukuran kapling besar, dengan bentuk kapling tidak seragam tidak teratur, dan pada umumnya berbentuk segiempat ireguler.
Gambar 12 Bangunan di Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 7
(Segmen Makro)
Bentukan massa bangunan pada koridor sama dengan koridor sebelumnya terlihat teratur, karena kepadatan kurang, dan jarak pandang dari jalan bangunan sangat jauh. Secara keseluruhan terlihat adanya ketidak keteraturan dalam tata massa bangunan, oleh karena bentuk kapling yang iregular, dan setback bangunan yang tidak seragam. Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati.
Gambar 13 Koridor Soekarno- Hatta 7 dalam tiga dimensi (Segmen Makro)
Koridor Soekarno-Hatta 8 (Segmen Gedebage-Cibiru)
Koridor ini didominasi oleh fungsi industri dengan kategori kapling sangat besar sekali, dan besar.
Bentuk-bentuk kapling yang iregular diadaptasi dengan bentuk bangunan segiempat massa banyak, dengan jarak pandang yang jauh dari jalan, dan kepadatan kecil pada kawasan ini, menyebabkan koridor ini terlihat secara visual cukup teratur.
Secara visual koridor segmen jalan ini, netral saja, dan berkesan masih rural. Selain ketinggian bangunan yang merata dan rendah, setback bangunan yang jauh dari jalan, mengakibatkan fasade bangunan tidak bisa terlihat jelas.
Gambar 14 Bangunan di Sepanjang Koridor Soekarno-Hatta 8
(Segmen Gedebage - Cibiru)
Sebagai jalan arteri primer, fungsi segmen jalan ini sesuai, oleh karena akses ke setiap kapling bangunan dilakukan dari jalur lambat, sehingga tidak mengganggu kelancaran jalan arteri. Demikian juga dengan Angkutan kota yang melewati koridor ini bisa berhenti dimana saja setiap saat pada jalur lambat. Kecepatan yang ditempuh oleh setiap kendaraan bisa mencapai 60 km, dan kendaraan tidak mungkin berhenti atau parkir pada badan jalan arteri.
Gambar 15 Koridor Soekarno- Hatta 8 dalam tiga dimensi (Segmen Gedebage - Cibiru)
Fungsi yang hampir seragam pada koridor membentuk karakter tertentu.
Terlihat kawasan industri, dan perkantoran besar pada ujung timur jalan Soekarno-Hatta, dengan bentuk bangunan fungsional segiempat tanpa estetika facade.
Bentukan Arsitektur pada Koridor Arteri Sekunder Lingkar Selatan
Koridor Lingkar Selatan
Pada koridor jalan ini bentuk dan ukuran kaplingnya sangat
bervariatif, ditambah dengan orientasi kapling yang mengarah ke berbagai titik, tidak ke arah jalan saja. Dengan demikian, maka orientasi muka bangunan yang dihasilkan juga mengarah ke berbagai titik. Kapling- kapling yang sama ukurannya tidak mengelompok, dan ketinggian bangunan tidak membentuk skyline yang baik. Setback bangunan tidak sama, ada yang mundur, dan ada yang berimpit dengan batas muka kapling.
Fungsi yang campur dari hunian kampung, jasa dan komersial, serta industri, mengakibatkan sulit tercapainya koridor ini untuk disebut sebagai koridor komersial.
Gambar 16 Bangunan di Sepanjang Koridor Lingkar Selatan
Terdapat satu fungsi yang menonjol pada koridor ini, yaitu Mall Holis, yang berada pada ujung jalan dekat persimpangan jalan Pasirkoja.
Walaupun tata letak masa bangunan pada koridor ini tidak teratur, dengan setback yang tidak seragam, secara visual koridor ini bisa dinikmati.
Selain ketinggian bangunan yang merata (kecuali Mall Holis sebagai landmark), bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback bangunan cukup seragam.
Sebagai jalan arteri sekunder, fungsi segmen jalan ini tidak sesuai, oleh karena akses ke setiap kapling bangunan bisa dilakukan langsung dari jalan arteri. Angkutan kota yang melewati koridor ini bisa berhenti dimana saja setiap saat. Kecepatan yang ditempuh oleh kendaraan tidak bisa mencapai 60 km, oleh karena
selalu terjadi kemacetan yang disebabkan oleh angkutan umum.
Parkir kendaraan masih dilakukan pada badan jalan, dan trotoir dipergunakan oleh pedagang kaki lima.
Gambar 17 Koridor Lingkar Selatan dalam tiga dimensi
Konfigurasi ukuran dan bentuk bangunan yang tidak sama, orientasi muka bangunan mengarah tidak pada jalan, menghasilkan street picture yang tidak teratur.
Koridor Peta
Walaupun masih terdapat sedikit fungsi industri dan fungsi hunian kampung, fungsi pada koridor jalan ini hampir homogen yaitu jasa dan komersial,. Konfigurasi kapling pada koridor ini cukup seimbang, baik pada ukuran maupun bentuk-bentuk kapling, sehingga terbentuk street picture yang harmony. Setback bangunan masih tidak seragam, sehingga ruang muka bangunan tidak menerus. Apabila hal ini dikaitkan dengan ruang parkir, maka parkir masih dilakukan di badan jalan.
Gambar 18 Bangunan di Sepanjang Koridor Peta
Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang merata, bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback bangunan cukup seragam.
Gambar 19 Koridor Peta dalam tiga dimensi
Konfigurasi adaptasi bangunan yang terbentuk oleh bentuk dan besar kapling yang hampir seragam, ditambah dengan fungsi yang hampir homogen, membentuk street picture yang harmonis.
Koridor BKR 1
Koridor jalan BKR 3 berada pada ruas lapangan Tegalega, dengan ukuran kapling besar sekali. Dengan fungsi institusi, perkantoran, hunian, dan industri. Terdapat 2 simpul jalan yang memotong jalan ini, yaitu jalan Otto Iskandardinata, dan jalan Astanaanyar.
Gambar 20 Bangunan di Sepanjang Koridor BKR 1
Ukuran kapling yang sangat berbeda, serta ketinggian yang drastis dari bangunan PT. Inti dengan bangunan lainnya. Mengakibatkan koridor ini punya karakter yang spesifik, dan tandanya adalah bangunan PT. Inti
Gambar 21 Koridor BKR 1 dalam tiga dimensi
Koridor BKR2
Berbeda dengan koridor sebelumnya yang fungsinya hampir homogen, koridor ini masih mempunyai fungsi yang heterogen.
Fungsi komersial yang dominan adalah bangunan-bangunan ruko yang menggabungkan beberapa kapling yang kemudian dibelah-belah lagi.
Pada satu sisi utara bentuk dan ukuran kapling hampir seragam, tetapi fungsinya belum homogen, sehingga ruang muka bangunan untuk ruang publik komersial tidak menerus. Konfigurasi bentuk bangunan-bangunan teratur dan rapih, karena ukuran bangunan hampir sama, dan orientasi muka bangunan seluruhnya ke jalan. Pada sisi selatan jalan, kapling pada umumnya berbentuk segiempat, tetapi ukurannya tidak merata. Terdapat potongan kampung pada 3 titik, sehingga konfigurasi bentuk bangunan yang tercipta pada kelompok ini tidak teratur.
Gambar 22 Bangunan di Sepanjang Koridor BKR 2
Secara keseluruhan terlihat adanya keteraturan dalam tata massa bangunan, oleh karena bentuk kapling yang regular, dan muka bangunan
sejajar dengan jalan. Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang merata, bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback bangunan cukup seragam.
Gambar 23 Koridor BKR 2 dalam tiga dimensi
Koridor BKR 3
Koridor jalan BKR 1 (bagian utara) sebagian kaplingnya berasal dari perumahan formal yang terkena pelebaran jalan, sehingga kapling- kapling pada umumnya berbentuk segiempat dan sejajar jalan. Faktor ini yang menyebabkan pada bagian ini bangunan cukup tertata dengan baik dan teratur. Pada bagian lainnya (bagian selatan) adalah kawasan kampung yang terpotong, ukuran dan bentuk kapling tidak seragam, ditambah dengan beragamnya fungsi, sehingga terbentuk koridor yang tidak teratur. Ketinggian bangunan pada sisi selatan sangat bervariasi dari hotel Horison 8 lantai sampai dengan hunian kampung yang rendah 1 lantai.
Gambar 24 Bangunan di Sepanjang Koridor BKR 3
Secara keseluruhan terlihat adanya keteraturan dalam tata massa
bangunan, oleh karena bentuk kapling yang regular, dan muka bangunan sejajar dengan jalan. Secara visual koridor segmen jalan ini, kurang bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang tidak merata, setback bangunan tidak seragam.
Gambar 25 Koridor BKR 3 dalam tiga dimensi
Hotel Horison 8 lantai pada koridor BKR 1 menjadi landmark koridor.
Disampingnya bangunan komersial lainnya berlantai 4, sedangkan disebelah selatan masih terdapat kawasan kampung yang tidak teratur, dengan kapling-kapling kecilnya yang terpotong.
Koridor Pelajar Pejuang
Koridor jalan Pelajar Pejuang ini, berasal dari sebuah jalan di kawasan perumahan formal yang mengalami pelebaran jalan. Ukuran luas dan bentuk kapling yang seragam menghasilkan bentuk dan tata bangunan yang berderet rapih dan teratur. Koridor ini merupakan jalan lurus dan panjang dengan perubahan fungsi 60% dari fungsi hunian ke fungsi komersial.
Gambar 26 Bangunan di Sepanjang Koridor Pelajar Pejuang
Secara keseluruhan terlihat adanya keteraturan dalam tata massa bangunan, oleh karena bentuk kapling yang regular, dan muka bangunan sejajar dengan jalan. Secara visual koridor segmen jalan ini, cukup bisa dinikmati, selain ketinggian bangunan yang merata, bangunan-bangunan dirancang dengan material yang permanen, fasade bangunan terlihat harmonis, dan setback bangunan cukup seragam.
Gambar 27 Koridor Pelajar Pejuang dalam tiga dimensi
Koridor lurus dan panjang dengan perubahan fungsi dari hunian ke komersial. Keseragaman bentuk dan ukuran kapling, menciptakan keteraturan bentuk. Secara visual koridor memberi kesan rapih dan teratur, sedangkan skyline masih belum terlihat baik, karena ketinggian bangunan belum terbentuk.
Kesimpulan
Sebuah koridor merupakan rangkaian dari kapling-kapling dengan berbagai bentuk dan ukurannya. Fungsi pada koridor yang sama atau campur juga mempengaruhi ukuran besar kecilnya kapling. Contohnya kapling industri dan kaling hunian, mempunyai ukuran yang sangat berbeda. Jadi apabila sebuah koridor mempunyai fungsi yang amat campur akan menghasilkan komposisi ukuran kapling yang beraneka ragam. Bentuk dan orientasi kapling akan membentuk massa-massa bangunan pada koridor yang mempengaruhi visual koridor.
Komposisi dari bentuk dan besar kapling yang seragam pada satu koridor, ditambah dengan bentuk dan besar bangunan yang sama, akan membentuk koridor yang teratur dan harmoni. Sedangkan ketidak seragaman bentuk dan besar kapling, akan cenderung menghasilkan bentuk dan besar massa bangunan yang tidak teratur dan tidak harmoni. Tata letak massa bangunan pada kapling juga mempengaruhi hasil dari rangkaian bangunan tersebut pada visual koridor, jarak antara bangunan serta ketinggian bangunan akan menciptakan skyline dan ruang kota yang bisa menjadi vista yang indah bagi yang memandangnya.
Dari ke 7 segmen jalan yang terdapat di jalan Soekarno-Hatta, terdapat perbedaan yang sangat signifikan yang mempengaruhi terbentuknya kualitas koridor dan berperannya fungsi jalan arteri yang sebenarnya. Faktor pembentuknya adalah konteks fisik pada saat jalan tersebut dibangun, yaitu lahan kosong yang telah terpola, lahan kosong yang tidak terpotong miring oleh jalan, kawasan terbangun yang terencana dengan baik, dan spontan, serta jalan lama yang dilebarkan.
Sedangkan untuk kasus Jalan Lingkar Selatan, jalan ini memotong seluruhnya pada kawasan terbangun.
Terdapat 3 faktor pembentuk koridor, yaitu bentukan fisik asal kawasan terbangun yang terpotong : yaitu yang mempunyai pola yang terencana, tidak terencana, dan jalan yang dibangun pada jalan yang sudah ada (pelebaran jalan).
Untuk setiap segmennya, dapat terlihat perbedaan kesesuaian fungsi jalan sebagai jalan arteri.Untuk beberapa segmen, fungsi jalan arteri primer (Jl.Soekarno Hatta) dan arteri sekunder (Jl.Lingkar Selatan) masih sesuai. Namun untuk beberapa segmen dapat terlihat bahwa tedapat penurunan fungsi jalan yang disebabkan oleh adanya akses langsung setiap kapling bangunan ke jalan. Selain itu, kecepatan kendaraan tidak dapat mencapai kecepatan ideal
karena selalu terjadi kemacetan yang disebabkan oleh angkutan umum, on- street parking dan penggunaan trotoar oleh pedagang kaki lima.
Daftar Pustaka
1. Bacon, Edmund N, 1975 Design of Cities London : Thames and Hudson Ltd.
2. Barnett, Jonathan. 1982 An Introduction to Urban Design New York : Van Nostrand Reinhold Company
3. Bishop, Kirk, no year. Designing Urban Corridors: Planning Advisory Service Report Number 418.
American Planning Association.
4. Cullen, Gordon The Concise Townscape UK : The Architectural Press
5. Douglas, James 2002 Building Adaptation Oxford University Press Inc Butterworth-Heinemann
6. Gibbons Johanna, 1992 Urban Streetscape New York : Van Nostrand Reinhold
7. Hedman, Richard with Jaszewski, Andrew 1984 Fundamentals of Urban Design Washington DC : Planner Press American Planning Association 8. Jacobs Allan B, 1996 Great Streets
Massachusetts : MIT Press
9. Krier, Rob 1975 Urban Space New York : Rizzoli International Publications Inc.
10. Leupen, Bernard. Et. Al. 1997 Design and Analysis Van Nostrand Reinhold, NY.
11. Lynch, Kevin, 1960 The image of The City Cambridge Massachussets The MIT Press
12. ---, 1987 Good City Form--- Cambridge Massachussets The MIT Press
13. Marshall, Stephen 2005 Streets and Patterns London, New York : Spon Press Taylor and Francis Group 14. Madanipour, Ali 1996. Design of
Urban Space An Inquiry Into A Socio-Spatial Process. England : John Wiley and Sons Ltd.
15. Mc Cluskey, Jim 1979. Road Form and Townscape London : The Architectural Press
16. Moughtin, James Clifford. 1992 Urban Design : Street and Square Oxford Architectural Press
17. ---1996 Urban Design Green Dimension Boston : Architectural Press
18. Rossi, Aldo, 1982 The Architecture of the city London Massachussets : The MIT Press
19. R. Fyfe Nocholas, 1998 Images of The Street London New York Routledge 20. Shirvani, Hamid, 1985 Urban Design
Process New York : Van Nostrand Reinhold Company
21. Southworth, Michael and Eran Ben- Joseph, 1997 Streets and The Shaping of Towns and Cities New York Mc Graw-Hill
22. Trancik, Roger 1986 Finding Lost Space New York : Van Nostrand Reinhold company
23. Zahnd, Markus, 1999 Perancangan Kota Secara Terpadu, Teori
perancangan Kota dan
Penerapannya, Ser Strategi Arsitektur 2 Yogyakarta Kanisius
24. Zucker, P. 1959 Town and Square:
From The Agora to The Village Green New York : Columbia University Press
Tesis dan Disertasi
25. Siregar, Sandi A. 1990 Bandung- The Architecture of a City in Development Disertasi S3 Katholieke Universiteit Leuven.
Riwayat Penulis
Dr. Ir. Dewi Parliana, MSP. Adalah dosen Kopertis Wilayah IV yang dipekerjakan pada Jurusan Teknik Arsitektur Itenas Bandung sejak tahun 1990.