REPRESENTASI NILAI KELUARGA DALAM FILM CEK TOKO SEBELAH
(ANALISIS ROLAND BARTHES)
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
Program Studi Ilmu Komunikasi
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG
2022
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... I DAFTAR TABEL ... III DAFTAR GAMBAR ... IV DAFTAR LAMPIRAN ... V
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Fokus Penelitian ... 7
1.3 Rumusan Masalah ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
1.5.1 Manfaat Teoritis... 7
1.5.2 Manfaat Praktis ... 8
1.6 Waktu Dan Periode Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Kajian Teori ... 9
2.1.1 Komunikasi ... 9
2.1.2 Komunikasi Keluarga ... 11
2.1.3 Komunikasi Massa ... 12
2.1.4 Media Massa ... 14
2.1.5 Film Sebagai Representasi ... 16
2.1.5.1 Unsur Naratif ... 17
2.1.5.2 Unsur Sinematik ... 17
2.1.6 Semiotika Roland Barthes ... 18
2.1.7 Nilai & Fungsi Keluarga ... 19
ii
2.2 Penelitian Terdahulu ... 22
2.2.1 Penelitian Terdahulu ... 22
2.2.2 Jurnal Nasional Terdahulu ... 25
2.2.3 Jurnal Internasional Terdahulu ... 27
2.3 Kerangka Penelitian ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
3.1 Jenis Penelitian ... 31
3.2 Subjek Penelitian ... 32
3.3 Sumber Data ... 32
3.4 Unit Analisis ... 32
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.6 Teknik Analisis Data ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 38
LAMPIRAN ... 41
iii DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Waktu dan Periode Penelitian... 8
Tabel 2.1 Semiotika Roland Barthes ... 19
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ... 22
Tabel 2.3 Kerangka Penelitian ... 30
Tabel 2.4 Scene Film ... 32
iv DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Perbandingan Jumlah Film Indonesia dan Film Asing ... 3 Gambar 2.1 Model Komunikasi Harold Lasswell ... 10
v DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Poster Film Cek Toko Sebelah ... 41
Lampiran 2: Penghargaan Film Cek Toko Sebelah ... 42
Lampiran 3: Unit Analisis 1 ... 43
Lampiran 4: Unit Analisis 2 ... 43
Lampiran 5: Unit Analisis 3 ... 43
Lampiran 6: Unit Analisis 4 ... 44
Lampiran 7: Unit Analisis 5 ... 44
Lampiran 8: Unit Analisis 6 ... 44
Lampiran 9: Unit Analisis 7 ... 45
Lampiran 10: Unit Analisis 8 ... 45
Lampiran 11: Unit Analisis 9 ... 45
Lampiran 12: Unit Analisis 10 ... 46
Lampiran 13: Hasil iThenticate ... 46
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Film ialah karya buatan manusia mengenai bermacam aspek kehidupan.
Film sudah tidak lagi dilihat jadi sebuah hiburan yang sajikan tontonan saja, tapi juga jadi media komunikasi yang efektif serta apabila salah dalam menggunaannya bisa menyebabkan sebuah hal negatif. Pada konsep umum film hanya dijadikan media hiburan atau waktu luang. Namun, kenyataannya film bisa jadi sebuah karya yang bisa dinikmati dengan teman atau keluarga. Film juga bisa jabarkan soal watak, harkat, serta martabat budaya bangsa dan berpengaruh pada bidang ekonomi, sosial budaya sebuah negara pembuat film.
Film berfungsi pula guna jadi media perantara informasi edukasi terhadap masyarakat supaya pesan bisa mudah diterima serta dipahami dari sanalah masyarakat dapatkan pengetahuan dan pembelajaran baru.
Dalam penelitian ini merupakan kajian film yang berfokus kepada representasi nilai keluarga dalam film Cek Toko Sebelah 1 yang akan memperlihatkan nilai keluarga secara realita dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Film merupakan gabungan dari beberapa gambar diam dan menjadikan gambar-gambar tersebut bergerak karena diberikan efek. Secara harfiah, “film (sinema)” ialah “cinematographie” diamabil dari kata “cinema (gerak)”, “tho (cahaya)”, juga “graph (tulisan/gambar)”.
Film secara umum ialah media komunikasi audio visual yang dipakai guna berkomunikasi pada keseharian. Menurut Effendy (1986), film dianggap jadi hasil budaya serta alat ekspresi kesenian, film yang jadi komunikasi massa ialah kombinasi bermacam teknologi semacam fotografi serta rekaman suara, seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur seni musik. Pernyataan tersebut membuat film miliki banyak jenis dan juga teknik yang digunakan pada saat pembuatan agar memberikan kesan yang terlihat sangat mirip dengan realita pada saat di tonton. Seperti yang dikatakan Effendy (2000) mengatakan, teknik perfilman, peralatannya atau pengaturannya sudah sukses tampilkan gambar yang makin dekati kenyataan, contohnya saat menonton di bioskop, penonton
2 saksikan sebuah cerita yang seperti benar-benar terjadi dihadapannya (Effendy, 2000:207).
Film sebagai moving picture, merupakan gabungan dari teknologi fotografi yang membuat gambar menjadi bergerak dan rekaman suara yang mendukung audio agar terdengar jelas, dan juga ada campur tangan dari seni teater dan musik untuk menambahkan agar film menjadi lebih bersuara. Dalam perfilman banyak faktor yang menjadikan film jadi media guna sampaikan pesan, bentuk pesan yang disampaikan berbeda-beda tergantung apa yang mau disampaikan dari film itu. Film merupakan suatu kebutuhan masyarakat dalam hal hiburan, di era yang sudah maju sekarang ini sangat banyak film yang memiliki kualitas gambar yang sangat bagus dan juga di dukung efek yang sudah sangat mirip dengan realita. Efek tersebut yang membuat film menjadi bagus dan masyarakat yang menonton pun menyaksikan dengan antusias yang tinggi, CGI salah satu efek yang dimasukkan ke dalam sebuah film. CGI (“Computer Generated Imagery”) merupakan, “sebuah teknologi komputer yang dipakai guna ciptakan efek visual di video, untuk film, siaran televisi, games, iklan, dan media cetak”.
Menurut Pendiri dan CEO Tribeca Enterprise dan Tribeca Festival Film, Jane Rosenthal, manfaat masyarakat menonton film adalah membantu kita belajar dan mengambil moral value yang ada di film, dapat mendorong perubahan sosial, dapat menghilangkan kepenatan, dan menghargai karya seni.
Film layar lebar Indonesia alami naik turun, di tahun 1970 hingga 1990 an Indonesia pernah alami masa kejayaan, tetapi sesudah itu produksi perfilman mulai mengalami penurunan sampai dititik mati suri. Lima tahun belakangan, industri perfilman Indonesia kembali memuncak dimana diperlihatkan beberapa indikator, antara lain, (1) naiknnya jumlah bioskop serta layar, (2) naiknya jumlah produksi film, dan (3) naikknya jumlah penonton film Indonesia, serta (5) naiknya jumlah film yang masuk pada Box Office”. Di tahun 2019, Kemendikbud RI targetkan jumlah penonton film Indonesia cebanyak 58 Juta (CNN Indonesia, 2019). Naiknnya jumlah penonton menurut Mediarta (2017) diakibatkan oleh: “(1) terdapat hal yang baru serta berbeda pada bentuk serta karakteristik tema yang ditawarkan, (2) terdapat kenaikan kualitas serta nilai produksi film, dan (3) strategi pemasaran, pendekatan ciptakan sebuah berita kontroversial yang jadi perangkat promosi dari film yang telah mulai
3 ditinggalkan”. Lalu naiknya jumlah penonton juga diakibatkan terdapatnya kebijakan penghapusan film dari daftar negatif investasi, yang mungkinkan bangun bioskop baru dengan dana investasi asing. Film asing masih di atas jumlah film yang tayang di bioskop.
Gambar 1.1 Perbandingan Jumlah Film Indonesia dan Film Asing (Sumber: Pubangfilm 2019)
Dunia perfilman di Indonesia cukup besar dan semakin maju seiring dengan berjalannya waktu, Indonesia mulai produksi film sendiri pada tahun 1926 dengan judul “Lotoeng Kasaroeng”, karya G. Kruger dan L. Heuveldorp. Walau pembuatan film ini adanya campur tangan Jerman serta Belanda tapi film ini dibuat “NV Jaya Film Company”, di Bandung. Pada jaman penjajahan dahulu masih banyak film propaganda dan juga film paham komunis, sehingga menyebabkan film sebagai media menyampaikan pesan menjadi tercemar oleh paham-paham radikal. Dengan memberi sentuhan moral pada dunia perfilman di Indonesia dapat menjadikan potensi untuk memperbesar dunia perfilman yang ada. Di 30 maret 1950, Umar Ismail dirikan “Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFENI)” serta menjadikan tanggal 30 maret sebagai Hari Film Nasional.
Potensi besar dalam dunia film Indonesia jelas bisa membuat masyarakat teredukasi dan terhibur dengan memasukkan nilai pendidikan, pengembangan budaya dan norma yang ada. Seperti nilai kekeluargaan yang sangat erat dengan
0 50 100 150 200 250 300 350 400
2015 2016 2017 2018
Jumlah Film Asing Jumlah Film Indonesia
4 masyarakat, mengingat keluarga adalah salah satu unit terkecil yang sangat erat dengan masyarakat selama hidup dan menjadi prioritas utama. Ada salah satu film lokal yang memiliki nilai kekeluargaan yang sangat bagus untuk ditonton oleh masyarakat yaitu film “Cek Toko Sebelah”. Film ini ialah film komedi yang terbalut unsur keluarga, meski di film ini terdapat etnis tertentu tapi tidak mengurangi rasa kekeluargaan yang ada di film tersebut. Film yang diproduksi Starvision Plus dengan Ernest Prakasa jadi sutradari ini resmi tayang di layar lebar Indonesia pada 28 Desember 2016 yang dengan sukses membawa film
“Cek Toko Sebelah” ini menjadi salah satu film terfavorit. Film “Cek Toko Sebelah” memberikan hal segar dalam sebuah dunia perfilman Indonesia dengan menyimpan banyak pesan moral bagi seluruh generasi dengan bermacam perspektif, terkhusus pada tiap keluarga. Film “Cek Toko Sebelah” ialah film keluarga yang ceritakan hubungan ayah dan kedua anaknya, yang mana seorag ayah yakni Koh Afuk (Chew Kin Wah) yang sudah ditinggalkan istrinya serta miliki dua anak laki-laki yakni Yohan (Dion Wiyoko) serta Erwin (Ernest Prakasa).
Kemampuan film Cek Toko Sebelah dalam bidang akademis adalah dari sisi psikologi dimana seorang ayah yang sedang terjemak masa lalu dan selalu berkata “Dulu Mama belajar gini, kok kamu…” dan semacamnya, secara tidak sadar orang tua dapat terjebak pada nostalgia dan kenangan membuat bandingkan apa yang anaknya jalani, dalam film ini juga mengajarkan sisi pendidikan secara moral, dimana saling menghargai dimana Yohan yang telah miliki istri yakni Ayu yang pernikahannya sempat ditentang oleh sang ayah sebab Ayu keturunan Jawa sebab inginkan anak-anaknya menikah sesama etnis, namun dalam film ini memberikan pembelajaran untuk tidak putus asa dan selalu berjuang serta saling menghargai satu dengan lainnya.
Cerita dalam film “Cek Toko Sebelah” ialah sebuah cerita yang unik dengan mengangkat dari realitas etnis Tionghoa yakni ketika anaknya mulai dewasa, berpendidikan tinggi, memiliki karir yang bagus, namun tetap harus teruskan usaha keluarga. Ini jadi fenomena yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia, bukan artinya hal ini negatif, tetapi ini jadi sebuah pembelajaran serta motivasi saat hadapi sebuah permasalahan yang ada
5 Keberadaan production house yang semakin banyak di Indonesia juga membuat dunia perfilman Indonesia semakin maju, dan memiliki genre yang berbeda-beda, serta teknologi yang dipakai bermacam-macam. Production house adalah sebuah perusahaan yang memiliki kegiatan untuk membuat program acara televisi, iklan, film, dan music video. Salah satu production house yang sangat terkenal dan menghasilkan banyak film yang mendapatkan penghargaan yaitu Starvision. Starvision atau PT. Kharisma Starvision Plus merupakan sebuah production house yang berada di Jakarta dan didirikan oleh Chand Parwez Servia. Chand Parwez ialah pengusaha serta produser film yang berketurunan India-Indonesia, ia juga menjadi “Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia” serta “Ketua Badan Perfilman Bandung”. Starvision sudah membuat banyak film dan mendapatkan banyak penghargaan dari film yang mereka buat, seperti film “Cek Toko Sebelah” (2016).
Film “Cek Toko Sebelah” ini ceritakan tentang keluarga Koh Afuk dan kedua anak laki-lakinya Erwin dan Yohan yang hidup sederhana memiliki toko kelontong. Setelah lulus kuliah dan bekerja di luar negeri, Erwin memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan dengan terpaksa mengambil alih sementara usaha kelontong milik ayahnya yang tiba-tiba jatuh sakit. Setelah mengetahui Erwin yang mengambil alih sementara toko milik ayahnya, Yohan merasa kesal dan iri terhadap Erwin yang lebih dipercaya oleh Koh Afuk untuk mengambil alih tokonya. Yohan merasa dirinya yang lebih pantas untuk melanjutkan toko milik ayahnya, karena selama ini Yohan lah yang berada di Indonesia dan lebih dekat dengan orang tuanya, tetapi Koh Afuk ragu untuk memberi tanggung jawab tokonya kepada Yohan. Film Cek Toko Sebelah ini memiliki realita yang sebenarnya terjadi pada sebuah keluarga, mulai dari konflik dan juga arti dari keluarga itu sendiri. Dari sisi akademis tentunya film ini memiliki banyak sekali manfaat dan juga kita dapat memecahkan masalah dengan model-model komunikasi yang ada.
Menurut Bussard dan Ball (1996), keluarga ialah lingkungan sosial yang erat kaitannya dengan seseorang. Di keluarga seseorang dibesarkan, tinggal bersama, saling berinteraksi, dibentuknya nilai-nilai, pola pemikiran juga kebiasaannya serta fungsinya jadi saksi budaya luar serta mediasi hubungan
6 anak bersama lingkungannya. Pada sebuah keluarga pastinya tersusun ibu, ayah, dan anak, semua anggota keluarga ini bertugas serta juga perannya sendiri.
Seorang ayah merupakan kepala keluarga yang tidak hanya memimpin, melainkan harus bisa merangkul seluruh anggota keluarganya dan bisa memberikan role model pada anak-anaknya di keseharian. Pada keluarga ada yang namanya peran ayah (fathering), Menurut (Hart, dalam Yuniardi 2009), fathering ini merupakan peran dari ayah berkaitan dengan tugas guna arahkan anak jadi mandiri dan berkembang dengan positif fisik serta psikologi. Ibu serta ayah berperan pada tumbuh kembangan anak meskipun umumnya Ibu miliki waktu lebih banyak dibanding ayah (Lamb, 2010). Sedangkan menurut (Santoso, 2009), ibu ialah yang berperan banyak, peran jadi istri, ibu yang lahirkan dan rawat dari anak-anaknya, dimana Ibu dapat jadi benteng untuk keluarganya yang bisa kuatkan tiap anggota keluarganya”. Ditambah menurut Effendy (1998), peran ibu guna mengasuh, didik, dan tentukan nilai kepribadian anaknya. Peran ibu pada keluarga sangat penting sampai bisa tentukan kesuksesan serta kebahagiaan keluarga. Dapat dikatakan bila seorang ibu baik maka keluarganya bisa baik juga, apabila ibunya kurang baik maka keluarganya bisa hancur dan tidak harmonis (Karim, 2006). Peran kedua orang tua di dalam sebuah keluarga sangatlah penting dan harus dijaga keharmonisannya, mengingat perkembangan zaman dan juga globalisasi bawa pengaruh positif serta negatif pada kehidupan.
Hal tersebut akan membuat lingkungan keluarga menjadi buruk jika tidak dapat dikendalikan, dan harus menciptakan unsur-unsur dari fungsi keluarga dan nilai keluarga dalam menangkal hal negatif tersebut.
Cek Toko Sebelah sebagai film yang menganut unsur kekeluargaan yang sangat jelas terlihat bisa menjadikan sebuah edukasi dan inspirasi bagi penontonnya, dengan memperlihatkan bagaimana konflik yang terjadi di sebuah keluarga dan bisa diselesaikan dengan cara yang sangat bahagia. Dengan banyaknya pesan-pesan yang bisa di dapat dari film buatan dari Starvision ini bisa membuat penonton puas dan memberikan rating yang bagus, sehingga film Cek Toko Sebelah bisa menjadi film terpuji dan film bioskop terbaik tahun 2017. Ini jadi suatu alasan saya untuk meneliti film ini dalam penelitian kali ini.
Untuk menganalisis simbol dan tanda yang ada pada film “Cek Toko Sebelah”, peneliti memakai pendekatan semiotika Roland Barthes. Data
7 penelitian ini akan dikumpulkan secara kualitatif dan diolah secara deskriptif.
Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini berjudul “Representasi Nilai Keluarga dalam Film Cek Toko Sebelah”.
1.2 Fokus Penelitian
Pada studi ini difokuskan bagaimana film “Cek Toko Sebelah”
mempresentasikan nilai keluarga menggunakan model semiotika Roland Barthes.
1.3 Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang sebelumnya, penulis permasalahan yang dirumuskan ialah:
1. Bagaimana representasi nilai keluarga dalam film “Cek Toko Sebelah”
dalam makna denotasi
2. Bagaimana representasi nilai keluarga dalam film “Cek Toko Sebelah”
dalam makna konotasi
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan studi ini ialah :
1. Melihat representasi nilai keluarga dalam film “Cek Toko Sebelah”
dalam makna denotasi
2. Melihat representasi nilai keluarga dalam film “Cek Toko Sebelah”
dalam makna konotasi
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil dari studi ini diharapkan bisa perluas wawasan seputar penelitian kualitatif serta bisa jadi referensi bagi penelitian selanjutnya mengenai studi analisis semiotika Roland Barthes dalam representasi nilai keluarga yang ada di film.
8 1.5.2 Manfaat Praktis
a) Bagi Penulis
Diharapkan bisa jadi sarana penulis guna implementasikan pengetahuan penulis seputar semoitika, pengaruh nilai keluarga, dan film.
b) Bagi Akademisi
Pada penelitian ini dapat memberi deskripsi tentang representasi nilai keluarga yang ada pada film Cek Toko Sebelah.
1.6 Waktu dan Periode Penelitian
Tabel 1.1 Waktu dan Periode Penelitian
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Komunikasi
Komunikasi ialah peran penting dalam kehidupan manusia, dan dasar dari manusia ini membutuhkan sesama makhluk sosial untuk berinteraksi dan demi berlangsungnya hidup. Manusia mempunya hasrat untuk mencari wawasan baru dengan cara mencari informasi, pengetahuan, dan untuk mencari semua itu manusia butuh berinteraksi bersama orang lain, sebab manusia tidak hidup sendiri serta butuh bantuan dari orang lain. Komunikasi yang paling dekat dan melekat ada pada komunikasi pada keluarga.
Komunikasi bisa dilakukan dengan cara tatap muka langsung atau tidak tatap muka langsung, dengan cara memakai teknologi yang tersedia sekarang.
Umumnya, komunikasi ini ialah tahapan sampaikan pesan pada penerima pesan untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut (Hovland, Janis, Kalley, 1953), Komunikasi ialah suatu tahap seseorang (komunikator) sampaikan stimulus (umumnya berbentuk kata-kata) bertujuan ubah atau bentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Dalam komunikasi, bahasa penyampaian pesan (“message”), orang yang sampaikan pesan ialah komunikator (“communicator”), lalu yang menerima pesan atau komunikan (communicatee). Istilah dari komunikasi ada dalam beberapa bahasa, di bahasa Inggris “communication”, di bahasa latin
“communicatus” dengan arti “milik Bersama”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi yakni pengiriman serta penerimaan pesan atau berita diantara dua orang atau lebih maka pesan yang dimaksud bisa dimengerti”.
Lalu menurut Harold Lasswell dalam karyanya, “The Structure and Function of Communication in Society (1948)”, menurutnya teknik yang paling baik guna jabarkan komunikasi dengan jawab beberapa pertanyaan yaitu “Who Says What in Which Channel To Whom and With What Effect” atau “Siapa yang menyampaikan, berbicara apa, lewat apa, kepada siapa, dan apa hasilnya”.
10 Gambar 2.1 Model Komunikasi Harold Lasswell
(Sumber : https://arumaws.wordpress.com)
Berdasarkan penjelasan di atas dalam model komunikasi Harold Lasswell terdapat lima unsur jadi jawaban dari pertanyaan yang diberikan, yakni:
1. Who (siapa/pengirim pesan)
Who disini ialah komunikator yakni pihak utama yang punyai kebutuhan guna lakukan komunikasi atau memberi informasi kepada komunikan. Komunikator ini bisa saja berasal dari individu, kelompok, organisasi atau suatu negara.
2. Says What (pesan)
Isi atau maksud dari suatu yang dikomunikasikan pada komunikan dari komunikator. Isi pesan tersebut dapat berupa simbol verbal atau non- verbal yang meliputi ide, informasi atau berita dalam bentuk kata-kata, gambar atau tulisan.
3. In Which Channel (media/saluran)
Alat guna berkomunikasi atau menyalurkan pesan yang digunakan komunikator pada komunikandengan langsung (tatap muka) atau tidak (lewat media cetak). Pemilihan media tergantung kepada tujuan pesan yang mau disampaikan serta bentuk dari pesan tersebut.
11 4. To Whom (penerima pesan)
Komunikan yakni orang yang terima pesan dari komunikator. Sebagai penerima pesan dari komunikator, komunikan sangat wajib untuk memahami isi dari pesan yang dikirimkan komunikator dan beri feedback atas pesan tersebut.
5. With What Effect (feedback/dampak)
Reaksi atau tanggapan yang dialami komunikan sesudah memahami pesan yang dikirimkan komunikator. Feedback yang dihasilkan oleh komunikan dapat mengukur sebagaimana pahamnya komunikan dalam memahami pesan tersebut, dan apakah komunikator berhasil menyampaikan komunikasinya.
Menurut Riant Nugroho (2004), tujuan akhir dari komunikasi ialah mencitpakan pemahaman bersama atau mengubah persepsi, atau perilaku.
Lalu menurut Onong Uchjana Effendy (2009:8) dalam buku Dimensi- Dimensi Komunikasi, tujuan dari komunikasi ialah:
1. “Perubahan Sosial/Mengubah Masyarakat (to change the society) 2. Perubahan Sikap (to change the attitude)
3. Perubahan Opini (to change the opinion) 4. Perubahan Perilaku (to change the behavior)”
2.1.2 Komunikasi Keluarga
Keluarga adalah satu-satunya tempat untuk berkomunikasi atau berinteraksi yang paling dekat dengan keseharian manusia dan yang paling terkecil. Menurut Rae Sedwig (1985), komunikasi keluarga ialah suatu pengorganisasian lewat kata-kata, sikap tubuh (gestur), intonasi suara, tindakan guna ciptakan harapan image, ungkapan perasaan juga saling bagi pengertian. Komunikasi diantar anggota keluarga dilaksanakan guna menciptakan keharmonisan pada keluarga. Suasana kerukunan serta kelancaran komunikasi pada keluarga diantara anggota keluarga dapat dicapai jika tiap anggota keluarga mengetahui serta melaksanakan tugas serta
12 tanggung jawabnya, serta sekaligus menikmati hak-haknya sebagai anggota keluarga.
Menurut (Hurlock, dalam Tuti Bahfiarti, 2016:70), Keluarga ialah pembentukan pola kehidupan dimana pada keluarga ada: unsur pendidikan, bentuk sikap dan perilaku anak yang berdampak ke perkembangan anak. Idris Sardy (1992:2) mengatakan, komunikasi keluarga ialah suatu tahapkan sampaikan pesan bapak atau ibu yang jadi komunikator pada anak-anak jadi komunikan mengenai norma-norma yang berlaku pada keluarga bertujuan keutuhan serta pembentukan keluarga yang harmonis. Komunikasi dalam keluarga dapat diartikan sebagai sikap terbuka terhadap segala sesuatu dalam keluarga, menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta bersedia menyelesaikan masalah keluarga melalui percakapan yang berlangsung dengan kesabaran, kejujuran, dan keterusterangan, (Friendly, 2002:1).
Fitzpatrick (pada Morissan, 2013) menjelaskan, pada komunikasi keluarga ada dua jenis orientasi krusial, yaitu orientasi percakapan dan orientasi kepatuhan. Keluarga dengan skema kepatuhan tinggi, anak lebih sering bermain bersama orang tuanya, sedangkan keluarga dengan skema kepatuhan rendah, mempunyai anggota keluarga yang lebih sering terisolasi (individualistis). Dalam sebuah keluarga terdapat pembagian tugas dan peran masing-masing anggota keluarga yang wajib dilaksanakan, tugas dan peran tersebut sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan dan keharmonisan sebuah keluarga.
2.1.3 Komunikasi Massa
Komunikasi massa (“Mass Communication”) ialah komunikasi yang dilakukan dengan memakai media massa cetak atau elektronik yang diselenggarakan suatu organisasi atau lembaga untuk pada sekelompok orang besar yang menyebark, anonim, serta heterogen. Pesan tersebut bersifat generik, dikirim secara bersamaan, cepat dan dalam sekilas.
Menurut John R. Bittner (1989), komunikasi massa ialah tahapan sampaikan pesan pada banyak orang lewat media massa. Sedangkan Dedy Mulyana (2005) menjelaskan, komunikasi massa ialah komunikasi yang memakai media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik
13 (radio, televisi), yang diatursuatu organisasi atau lembaga, dan tujuannya bagi banyak orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen.
Komunikasi massa hakikatnya ialah tahapan komunikasi satu arah yakni dari komunikator (sumber) kepada komunikan (khalayak) lewat media.
Dari definisi yang dikatakan Bittner, komunikasi massa memiliki sebuah pesan yang diberikan kepada seseorang dalam skala yang besar dan secara heterogen. Komunikasi massa ini memiliki banyak komponen dan berbeda dengan benutk komunikasi yang lain. Komponen-komponen tersebut menurut Hiebert, Ungrait, dan Bohn (HUB) (1975), mengatakan komponen- komponen komunikasi massa yakni:
1. “Communicator (Komunikator)
Tahapan melakukan komunikasi massa dimulai dari komunikator.
Komunikator pada komunikasi massa bukan komunikasi personal tapi pda kelompok atau gabungan organisasi berbeda.
2. Codes & Content
Codes ialah sistem simbol yang dipakai guna sampaikan pesan komunikasi. Content ialah sebuah pesan, dapat berupa informasi.
Pada komunikasi massa, codes serta content berinteraksi dan codes bisa modifikasi pada masyarakat atas pesan, meski content-nya sama tapi jenis media beda.
3. Gatekeeper
Gatekeeper arti harpiahnya “penjaga gawang”, maksudnya disini supaya media massa tidak ‘kebobolan’ atau supaya tidak diajukan ke pengadilan oleh pembacanya sebab sampaikan informasi yang tidak akurat, singgung reputasi seseorang, cemarkan nama baik seseorang, atau yang lain. Maka gatekeeper di media massa tentukan penilaian apakah informasi itu penting atau tidak untuk disebarkan.
4. Regulator
Pada komunikasi massa, regulasi media massa ialah tahapan yang rumit dan libatkan banyak pihak. Hampir sama dengan gatekeeper, tapi regulator bekerja diluar institusi media yang hasilkan berita.
Regulator dapat menghentikan aliran berita dan hapus berita, tapi tidak bisa menambah informasi, bentuknya itu semacam sensor.
14 5. Media
Media massa ada media cetak, seperti majalah, koran, serta tabloid. Media elektronik meliputi televisi, radio, juga media online (internet).
6. Filter
Filter atau yang biasa disebut sebagai saringan. Dalam tiap pembahasan komponen komunikasi massa, perlu pertimbangkan masalah budaya, sebab sering proses komunikasi massa menemui kendala seperti budaya yang berbeda. Karena media massa sangat besar, tersebar juga heterogen (perbedaan usia, jenis kelamin, agama, tingkatan sosial, tingkat pendapatan, pekerjaan, dan lain-lain).
Membuat setiap khalayak memiliki ruang lingkup pengalaman dan sistem referensi yang berbeda, makna pesannya juga berbeda, pesan yang ditangkap juga berbeda.
7. Audience (Audiens)
Audiens atau penerima pesan. Marshall McLuhan mengatakan audience itu sentral komunikasi massa yang dengan kontstan didatangi media. Media menyebarkan informasi yang merugikan individu. Audience hampir tidak dapat lepas dari media massa, maka sebagian orang jadi anggota khalayak itu, yang terima banyak pesan dari media massa.
8. Feedback (Umpan Balik)
Komunikasi massa tidak seperti komunikasi lainnya, di komunikasi massa ini audiens hanya dapat berikan tanggapan dengan cara tertawa pada ketika menonton, atau audiens bisa menulis surat, dan mengomentari surat kabar.”
2.1.4 Media Massa
Media massa merupakan tempat komunikasi guna sampaikan pesan dan sarana komunikasi untuk menyebarkan informasi kepada seluruh khalayak lewat alat komunikasi semacam radio, surat kabar, televisi serta film. Canggara (2002) mengatakan, “media massa ialah alat yang dipakai
15 guna sampaikan pesan lewat alat komunikasi mekanis dari sumber pesan (komunikator) ke penerima pesan (komunikan)”.
Biagi (2010:10) sebut ada tiga konsep penting mengenai media massa: “1) media massa ialah suatu bentuk usaha yang pusatkan ke keuntungan, 2) perkembangan dan perubahan pada pengiriman dan pengonsumsian media massa, dipengaruhi perkembangan teknologi, dan 3) media massa terus cerminkan juga pengaruhi kehidupan masyarakat, dunia, dan budaya”. Pada sekarang ini masyarakat lebih tertarik untuk melihat televisi dibandingkan media-media massa yang lainnya. Karena televisi memberikan komunikasi atau memberikan pesan berupa audio visual yang sangat menarik untuk para audiens.
Menurut Cangara (2010:74) jenis media massa dibagi ada tiga, ialah:
1. Media Cetak
1920an jadi masa pertama kali media cetak ada. Yang awalnya pemerintah pakai guna doktrin masyarakat, sehingga bawa masyarakat pembaca pada suatu tujuan tertentu. Media yang digunakan berupa surat kabar, majalah, dan buku.
2. Media Elektronik
Sesudah kemunculan media cetak, lalu muncul lah media elektronik pertama di dunia yakni radio atau media audio yang berfungsi untuk sampaikan pesan melalui gelombang frekuensi.
Kecepatan serta ketepatan waktu pada menyampaikan pesan membuat radio lebih baik dari media cetak. Setelah radio muncul televisi sebagai pelengkap dari radio, dapat mengeluarkan audio dan juga dapat memunculkan gambar. Televisi dijadikan jadi media massa audio visual.
3. Media Internet
Internet baru populer pada abad ke-21, kemunculan search engine Google pada tahun 1997 membuat informasi lebih cepat didapatkan.
Media internet lebih unggul dari media cetak dan media elektronik.
Banyak sekali kelebihan media internet dibandingkan dengan media lain. Penggunaan internet masih terbilang bebas dan sangat berbahaya untuk pemakai yang masih belum mengerti. Di dalam dunia internet
16 banyak sekali hal-hal negatif seperti pornografi, penipuan, dan sebagainya. Di dunia internet kita juga bisa menonton film dengan membuka situs resmi untuk menontonnya. Media ini bisa disebut sebagai multimedia.
2.1.5 Film Sebagai Representasi
Menurut “Undang-Undang No.8 Tahun 1992 tentang Perfilman”, film ialah ‘karya cipta seni dan budaya sejenis media komunikasi massa pandang- dengar yang dibuat sesuai asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran lewat tahapan kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang bisa ditayangkan dengan system proyeksi mekanik, elektronik, dan lainnya”.
Sedangkan menurut Arsyad (2003:45), film ialah sekumpulan gambar yang berada pada frame yang diproyeksikan lewat lensa proyektor dengan mekanis maka pada layer terlihat gambar itu jadi hidup dan bergerak. Film sendiri merupakan berbasis audio dan juga visual, dengan fungsi sebagai hiburan, edukasi, informasi, dan persuasi.
Representasi (“representation”), dengan arti perwakilan. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti representasi merupakan perbuatan yang wakili atau diwakili. Jadi representasi ialah produksi makna-makna lewat bahasa dengan simbol itu seseorang bisa ungkapkan pikiran, konsep mengenai sesuatu (Juliastuti, 2000:6). Pada representasi harus menggunakan tata bahasa dan tanda-tanda yang mudah dipahami oleh penonton, agar penonton dapat menangkap apa saja makna yang ada.
Dalam sebuah film, pesan yang terkandung di dalamnya direproduksi secara realistis dan berkembang dikalangan masyarakat. Dalam proses representasi, film diciptakan dan dapat menyampaikan isi dari film atau pesan yang terkandung di dalamnya harus melalui unsur-unsur film yang ada.
Menurut Krissandy (2014:13), “dua unsur yang bantu guna pahami film di yakni unsur naratif dan unsur sinematik, keduanya saling berkesinambungan guna membuat film. Berikut dua unsur itu:
17 2.1.5.1 Unsur Naratif
Hal ini mengenai aspek cerita dan tema film. Maka tiap film tidak lepas dari unsur-unsur cerita. Unsur ini mencakup pelaku dan karakter cerita, masalah serta konflik, ruang atau lokasi, dan waktu.
1) Aktor / Pemeran
Pada film, terdapat dua karakter penting yang mendukung ide cerita: protagonis dan pemeran pendukung. Protagonis ialah bagian dari ide cerita film yang disebut protagonis, dan karakter pendukung itu musuh, biasanya sebagai pendukung ide cerita dengan karakter yang memperumit masalah cerita, atau untuk memicu konflik cerita.
2) Permasalahan dan Konflik
Masalah pada cerita yakni hambatan tujuan yang dihadapi pahlawan guna capai tujuan. Hal ini umumnya disebabkan pada cerita oleh tokoh antagonis. Masalah ini juga menyebabkan konflik diantara protagonis dan antagonis.
Masalah dapat terjadi tanpa diakibatkan oleh antagonis.
3) Tujuan
Pada cerita, protagonis harus bertujuan, umumnya memiliki harapan dan aspirasi dari protagonis, yang bisa semacam fisik atau abstrak (non fisik).
4) Ruang / Lokasi
Ruang dan lokasi penting guna setting cerita, sebab setting lokasi umumnya sangat penting membantu mengapresiasi cerita.
5) Waktu
Waktu cerita memungkinkan untuk bangun cerita yang mengikuti alur cerita.
2.1.5.2 Unsur Sinematik
Sinematik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti berkenaan atau berhubungan dengan film (bioskop). Maka unsur sinematik ialah aspek teknis pada pembuatan film, yang mana sinematik ini sebagai tubuh fisiknya. Sinematik ciptakan sebuah cerita
18 jadi sebuah karya audio visual semacam gambar bergerak atau film (Pratista, 2008:2). Terdapat pendukung utama untuk menjadikan sinematik menjadi sebuah film, berikut elemennya:
a. “Mise-en-scene”, dari bahasa Perancis yang berarti “putting in the scene” atau sesuatu yang ada pada scene. Semua gambar yang di lihat pada film ialah bagian dari “mise-en- scene” seperti latar tempat, kostum serta make up, lighting, serta pemain dan gerakannya.
b. Sinematografi secara umum merupakan teknik pengambilan gambar dengan objek dan tujuan tertentu.
c. Editing terdapat dua proses, editing produksi ialah tahapan pemilihan gambar juga penyatuan gambar yang sudah ditake.
editing setelah produksi ialah teknik yang dipakai guna hubungkan tiap gambar (shot).
d. Suara yang terdapat pada sebuah film berupa dialog, musik, dan efek suara (Pratista, 2008:1).
2.1.6 Semiotika Roland Barthes
Semiotika diambil dari bahasa Yunani “Semeion” dengan arti “tanda”.
Secara keseluruhan semiotika ialah ilmu yang pelajari tanda dari suatu objek dan di analisis untuk mendapatkan makna tertentu yang ada pada objek tersebut. Sementara semiotika pelajari fenomena sosial dalam masyarakat dan budaya sebagai tanda, semiotika pelajari sistem, aturan, dan konvensi yangmungkinkan tanda-tanda ini bermakna.
Roland Barthes seorang tokoh semiotika yang memiliki teori dari tokoh semiologi Ferdinand de Saussere dan Barthes menyempurnakan teori tersebut. Barthes memiliki pandangan yang berbeda dengan Saussere tentang kedudukan linguistik dalam semiotika, analisis semiotik yang dikemukakan Roland Barthes tidak berpaku ke penanda (signifier) juga petanda (signified) tapi menganlisis makna tersebut beserta denotatif serta konotatif.
Tanda ialah alat yang dipakai guna berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia. Semiotika atau semiologi, dasarnya guna pelajari bagaimana kemanusiaan (“humanity”) maknai hal-hal (“things”).
19 Memaknai (“to sinify”) yang tidak bisa disamakan dengan mengkomunikasikan (“to communicate”). Dalam (Barthes, 1988:179 pada Kurniawan, 2001:53), memaknai artinya objek tidak hanya bawa informasi, dalam hal mana objek itu ingin berkomunikasi, tapi juga konstitusi system terstruktur dari tanda. Berdasarkan landasan teori yang dimiliki Ferdinand de Saussere, Barthese memodifikasi makna menjadi dua tahap, seperti di tabel:
Pada tabel teori Barthes diatas dapat terlihat bila denotasi tersusun dari “penanda” dan “petanda”. Tapi di saat yang sama, denotatif ialahpenanda konotatif. Di konsep Barthes, tanda konotatif tidak hanya bermakna tambahan tapi soal makna dari kedua tanda denotatif atas keberadaannya (Alex Sobur, 2009:69). Dasarnya konotasi dan denotasi merupakan tanda tetapi memiliki makna dan pandangan yang berbeda, menurut Barthes denotasi ialah sistem dengan signifikasi tingkatan pertama, sedangkan konotasi sistem tingkatan kedua.
2.1.7 Nilai & Fungsi Keluarga
Setiap keluarga memiliki nilai dan fungsi yang berbeda-beda bagi setiap anggota keluarganya. Mengacu pada Friedman (1998), nilai yang terdapat pada sebuah keluarga merupakan sistem, sikap, dan keyakinan yang secara sadar atau tidak sadar menghubungkan keluarga dengan budaya. Nilai- nilai keluarga juga menjadi pedoman dalam mengembangkan norma dan
Tabel 2.1 Semiotika Roland Barthes
20 aturan. Menurut masyarakat, norma adalah pola perilaku yang baik berdasarkan nilai-nilai keluarga. Tiap anggota keluarga berperan supaya keluarga menjadi harmonis dan sejahtera.
Walsh (2003) jabarkan, “fungsi sebuah keluarga jadi konstruk multidimensional yang merefleksikan kegiatan dan interaksi keluarga guna jalankan tugas penting yakni jaga kesejahteraan dan tiap anggota keluarga dan guna pertahankan integrasinya”. Dengan adanya keluarga dapat penuhi fungsi dari keluarga, dan mempengaruhi sudut pandang keluarga tersebut.
Menurut “Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 mengenai Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga”, menagamatkan, “penduduk jadi modal dasar pembangunan”. Tiap keluarga dan individu di dalamnya jadi titik sentral guna wujudkan pembangunan berkelanjutan. Dalam keluarga terdapat delapan fungsi yang menurut “Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN)” sangat cukup untuk mewujudkan sebuah keluarga di Indonesia menjadi bahagia, sehat dan sejahtera. Berikut merupakan delapan fungsi dalam keluarga:
1. Fungsi Agama
Keluarga berfungsi sebagai tempat perkembangan nilai-nilai agama dan orang tua membantu untuk mengimplementasikan nilai agama yang sudah diajarkan agar seluruh anggota keluarga menjadi orang yang beriman kepada Tuhan.
2. Fungsi Sosial Budaya
Indonesia jadi negara beragam budaya dan norma yang berisikan berbagai macam adat istiadat sangat dijunjung tinggi.
Berawal dari keluarga, anak di didik untuk selalu sopan, santun dan memiliki toleransi yang tinggi kepada sesama masyarakat, dan mengerti budi pekerti supaya bisa pilih mana yang baik atau buruk.
3. Fungsi Kasih Sayang
Menjadi kebutuhan manusia yang harus bisa terpenuhi. Rasa disayangi oleh orang yang berada disekitarnya akan membuat nyaman, kasih sayang akan menjadi modal awal bagi keluarga untuk saling memperkuat suatu hubungan.
21 4. Fungsi Perlindungan
Keluarga menjadikan sebuah pelindung awal dan utama jika terjadinya hal yang tidak di inginkan, secara langsung setiap anggota keluarga akan mencari keamanan, kenyamanan, dan ketentraman dalam mencari perlindungan. Karena pasti setiap orang tua mengajarkan untuk tidak berbuat apapun dengan Tindakan kekerasan.
5. Fungsi Reproduksi
Setiap orang pasti sangat ingin memiliki keturunan dengan cara menikah, melalui pernikahan yang legal dan sah, keluarga akan berkembang baik secara perlahan dengan reproduksi yang sehat akan mewujudkan generasi pendatang yang baik dan berkualitas. Peran orang tua disini untuk mengajarkan anak tentang pentingnya sex education sejak dini dan menjauhkan yang tidak baik bagi anak.
6. Fungsi Sosialisasi Pendidikan
Anak sangat butuh pendidikan agar dapat mewujudkan apa yang di inginkan oleh sang anak. Bermula dari keluarga sebagai tempat sosialisasi sekaligus mendidik anak agar cerdas dengan mempraktikkan apa yang sudah anak terima ketika diajarkan oleh orang tua.
7. Fungsi Ekonomi
Finansial menjadi salah satu hal yang krusial dalam sebuah keluarga. Disini orang tua memiliki peran untuk membina anak agar dapat mencerdaskannya secara finansial dan menghemat keuangan guna menjaga keharmonisan sebuah keluarga.
8. Fungsi Lingkungan
Semua orang bertempat tinggal disuatu lingkungan, dalam sebuah lingkungan setiap orang harus menjaga dan juga menghargai lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal agar tetap hidup dan tidak terganggu. Dengan menerapkan ramah lingkungan dalam keluarga, orang tua dapat mengajarkan anaknya tentang eco-friendly, dengan begitu seorang anak akan mengikuti dan tumbuh sebagai orang yang cinta dengan lingkungan.
22 2.2 Penelitian Terdahulu
Di studi ini, penulis mengacu ke penelitian-penelitian terdahulu berupa lima skripsi terdahulu, lima jurnal nasional, dan lima jurnal internasional yang jadi referensi, berkaitan dengan judul dan tema penelitian. Berikut merupakan penelitian-penelitian terdahulu yang dipakai.
2.2.1 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 3 Penelitian Ter dahul u
Skripsi Terdahulu 1
Judul Representasi Nilai Keluarga dalam Film
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Penulis Adli Abiyyu Karies
Lokasi, Tahun Bandung, 2021
Sumber https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id
Perbedaan Pada penelitian ini hanya berbeda pada
sudut pandang peneliti tentang keluarga dan tidak adanya unsur psikologi di dalam keluarga.
Hasil Film ini dapat mempresentasikan nilai-nilai
keluarga dengan simbol yang ada pada film tersebut. Nilai keluarga yang banyak sekali muncul pada film ini berupa toleransi, kepercayaan, bertanggung jawab dan saling mendukung. Delapan fungsi yang ada pada keluarga menurut BKKBN muncul enam di film NKCTHI ini, enam fungsi tersebut diantaranya: fungsi kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi sosial budaya, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, serta fungsi ekonomi.
23 Skripsi Terdahulu 2
Judul Representasi Humanisme dalam Film GIE
(Analisis Semiotika Roland Barthes)
Penulis Iman Firmansyah Wijaya
Lokasi, Tahun Bandung, 2021
Sumber https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Film GIE dapat mempresentasikan makna
denotasi sesuai dengan yang ada pada film melalui dialog serta gestur. Humanisme yang ada pada film GIE direpresentasikan oleh tokoh utama dengan memperjuangkan harkat dan martabat manusia.
Skripsi Terdahulu 3
Judul Representasi Premanisme dalam Film
Green Book (2018) (Analisis Semiotika Roland Barthes Tentang Rasisme Dalam Film “Green Book”)
Penulis Tri Cahyo Wardhani
Lokasi, Tahun Bandung, 2019
Sumber https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Rasisme yang direpresentasikan pada film
ini ditunjukkan pada tanda denotasi, konotasi dan mitos dalam sebuah tindakan verbal maupun non-verbal terhadap orang berkulit hitam di Amerika Serikat.
Skripsi Terdahulu 4
Judul Representasi Semangat Nasionalisme
dalam Film 3 Srikandi (Analisis Semiotika
24 Roland Barthes)
Penulis Yulia Arlina
Lokasi, Tahun Bandung, 2018
Sumber https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Pada film ini menyampaikan pesan bahwa
nasionalisme sangat berarti bagi bangsa.
Terdapat banyak adegan yang membuat semangat nasionalisme di film ini menjadi terdominasi dan terlebih ini merupakan perjuangan tiga orang atlet wanita.
Skripsi Terdahulu 5
Judul Representasi Peran Ibu Sebagai Single
Parent dalam Film Sabtu Bersama Bapak (Analisis Semiotika John Fiske Dalam Film
“Sabtu Bersama Bapak”)
Penulis Widianto Andhani
Lokasi, Tahun 2017
Sumber https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian, konteks pada
penelitian berbeda dan teknik analisis yang dipakai semiotika John Fiske.
Hasil Pada film ini menyampaikan bahwa
terdapat sebuah ideologi feminisme yang liberal pada sebuah film Sabtu Bersama Bapak yang direpresentasikan melalui sebuah gerakan, kostum, eskpresi, kamera dan konflik.
25 2.2.2 Jurnal Nasional Terdahulu
Jurnal Nasional Terdahulu 1
Judul Representasi Nilai Moral Dalam Film
Keluarga Cemara (Analisis Semiotika Representasi Nilai Moral dalam Film Keluarga Cemara yang Ditayangkan di Bioskop Seluruh Indonesia Tahun 2019)
Penulis Balitar Binota
Lokasi, Tahun 2020
Sumber https://digilib.uns.ac.id/
Perbedaan Subjek pada penelitian, konteks pada
penelitian berbeda dan teknik analisis yang dipakai semiotika Ferdinand De Saussure
Hasil Pada film ini menyampaikan bahwa
bagaimana sebuah keluarga menyikapi permasalahan hidup melalui tindakan yang dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga. Nilai moral yang muncul dalam film Keluarga Cemara antara lain tanggung jawab, tolong menolong, saling menghibur dan mendukung, berani mengakui kesalahan serta mengasihi dan mengampuni.
Jurnal Nasional Terdahulu 2
Judul Representasi Nilai-Nilai Keluarga dalam
Film Searching (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
Penulis Ahmad Pramegia
Lokasi, Tahun 2019
Sumber https://jom.fikom.budiluhur.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian, konteks pada
26 penelitian berbeda dan teknik analisis yang dipakai semiotika Charles Sanders Peirce.
Hasil Pada film ini menyampaikan bahwa
pencarian film muncul memberikan tanda, cara David Kim memperoleh informasi tentang keberadaan melalui media sosial, interpretant adalah pemanfaatan media sosial, media menjadi simbol tentang bermanfaatnya media sosial.
Jurnal Nasional Terdahulu 3
Judul Representasi Keluarga pada Film “Nanti
Kita Cerita Tentang Hari Ini”
Penulis Tarekh Afdal Mohamad Yazid
Lokasi, Tahun 2021
Sumber http://karyailmiah.unisba.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Pada film ini menyampaikan bahwa
keluarga yang harmonis adalah keluarga yang dapat membuat seluruh anggota terutama anak merasa aman, nyaman, dan dicintai. Setiap permasalahan harus bisa diselesaikan jika seluruh anggota keluarga bekerja sama.
Jurnal Nasional Terdahulu 4
Judul Representasi Pola Komunikasi Keluarga
dalam Film Dua Garis Biru
Penulis Melisa Fransisca Liemantara, Fanny
Lesmana, dan Megawati Wahjudianata
Lokasi, Tahun 2021
Sumber https://publication.petra.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian, konteks pada
27 penelitian berbeda dan teknik analisis yang dipakai semiotika John Fiske
Hasil Pada film ini menunjukkan representasi
dari pola komunikasi keluarga melalui dialog, perilaku, latar, dan penampilan dan gambaran dua pola komunikasi keluarga berbeda yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi serta nilai yang dianut keluarga masing-masing.
Jurnal Nasional Terdahulu 5
Judul Representasi Fungsi Keluarga dalam Film
“Marriage Story”
Penulis Charles Endriko, Ido Prijana Hadi, dan
Desi Yoanita
Lokasi, Tahun 2020
Sumber https://publication.petra.ac.id
Perbedaan Subjek pada penelitian, konteks pada
penelitian berbeda dan teknik analisis yang dipakai semiotika John Fiske
Hasil Pada film ini menunjukkan kelima fungsi
keluarga milik Segrin semua tergambarkan dalam film, meskipun keluarga sudah tidak utuh, namun terdapat usaha agar fungsi keluarga dapat berjalan.
Berfokus pada tiga level kode televisi yaitu level realita, level representasi, dan level ideologi.
2.2.3 Jurnal Internasional Terdahulu
Jurnal Internasional Terdahulu 1
Judul Representation of Family in Hollywood
28 Movies Displayed on Satellite
Penulis Nazanin Malekian
Lokasi, Tahun 2018
Sumber https://journals.srbiau.ac.ir
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Pada film ini menunjukkan bahwa
hubungan antar generasi dalam film investigasi negatif digambarkan dan pernikahan ditampilkan dalam beberapa cara dimana tayangan di jaringan satelit dengan penekanan pada konsep keluarga dan hubungan keluarga.
Jurnal Internasional Terdahulu 2
Judul The Forgotten Parent : Fathers’
Representation in Family Interventions to Prevent Childhood Obesity
Penulis K.K Davison, N. Kitos
Lokasi, Tahun 2018
Sumber https://www.sciencedirect.com
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Pada penelitian ini menunjukkan bahwa
representasi ayah dalam intervensi keluarga untuk mencegah obesitas pada anak-anak dan karakteristik intervensi yang melibatkan ayah dibandingkan dengan ibu. Menggunakan skema pengkodean standar.
Jurnal Internasional Terdahulu 3
Judul The Family Map : A Graphical
Representation of Family Systems Theory
29
Penulis Larry H Ludlow dan Elizabeth Howard
Lokasi, Tahun 1990
Sumber https://journals.sagepub.com
Perbedaan Subjek pada penelitian dan teori sistem
keluarga
Hasil Pada penelitian ini menunjukkan bahwa
representasi statistik dari interaksi telah bermasalah dan menggunakan sarana diagnostik untuk memahami interaksi keluarga.
Jurnal Internasional Terdahulu 4
Judul Meta-Representation of Shape Families
Penulis Noa Fish, Melinos Averkiou, Oliver van
Kaick, dan Olga Sorkine-Hornung
Lokasi, Tahun 2014
Sumber https://dl.acm.org/doi
Perbedaan Subjek pada penelitian
Hasil Pada penelitian ini menunjukkan bahwa
meta-representasi yang mewakili esensi dari keluarga dengan bentuk umum di seluruh keluarga dengan memanipulasi distribusi secara langsung dalam meta- representasi.
Jurnal Internasional Terdahulu 5
Judul A Study of The Representation of
Marriage and The Family in the Film Muriel’s Wedding
Penulis Zoe Chambers
Lokasi, Tahun 2003
Sumber https://ro.ecu.edu.au/theses
30
Perbedaan Subjek pada penelitian dan teori keluarga
Hasil Pada penelitian ini menunjukkan bahwa
keluarga di media Australia bebrapa tahun terakhir telah bergeser dari bentuk keluarga inti tradisional ke konstruksi yang lebih beragam dan mengevaluasi terhadap film Muriel’s Wedding (1994) dan wacana gender serta nasionalisme bersinggungan dengan keluarga
2.3 Kerangka Penelitian
Peneliti meletakkan film Cek Toko Sebelah karya Ernest Prakasa, kemudian diteliti lewat analisis semiotik dengan model “Roland Barthes” yang hasilkan makna denotatif dan konotatif sesuai simbol teks, visual, dan audio yang ada di film “Cek Toko Sebelah”. Lalu dari makna denotatif dan konotatif yang didapat, bisa ditentukan makna yang ada di nilai keluarga.
Tabel 2.3 Kerangka Penelitian
Tabel 4 Kerangka Pe nelitian
(Sumber : Data diolah Peneliti 2022)
31 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Analisis isi menjadi metode di studi ini yang miliki sifat kualitatif yang bukan hanya untuk mengidentifikasi sebuah pesan “manifest”, namun “latent messages” dari dokumen yang diteliti juga. Studi ini memakai pendekatan semiotika. Kualitatif ialah penelitian yang tidak gunakan perhitungan dan data yang dihimpun tidak berbentuk angka namun berupa kata dan kalimat. Analisis isi di gunakan sebab guna cari kolerasi sebuah obyek serta pemakaian data. Jenis penelitian ini ialah interpretatif, sebuah metode yang fokuskan dirinya ke tanda dan teks yang jadi objek kajiannya, serta bagaimana peneliti tafsirkan kode (decoding) dibalik tanda dan teks itu. Mneurut (Ghozali dan Chariri, 2007:76),
“Penelitian interpretatif berfokus ke sifat subjektif dari dunia sosial dan berupaya pahami kerangka berpikir objek yang sedang dipelajarinya”.
Sedangkan sebuah teori konstruktivisme ialah sebuah pmebelajran yang sifatnya generatif, yaitu tindakan yang memberikan sebuah arti sesuai apa yang sudah dipelajari atau dari pengalaman. Perspektif konstruktivis yang dipakai di studi ini ialah guna mengetahui serta interpretasikan bagaimana pesan disampaikan.
Pendekatan studi ini dipakai guna eksplorasi suatu pesan dan makna yang ada pada sebuah film. Analisis semiotik jadi dasar penelitian ini yakni teknik guna maknai serta analisis mengenai tanda dan terbentuknya di bermacam media.
Analisis ini berupaya guna cari sudut pandang nilai keluarga ada di film “Cek Toko Sebelah” karya Ernest Prakasa lewat sebuah scene serta dialog lewat analisis semiotika model Roland Barthes.
32 3.2 Subjek Penelitian
Subjek kajian merupakan sebuah sumber data yang ada di film “Cek Toko Sebelah” yang meliputi dialog dan scene di dalamnya.
3.3 Sumber Data
Sumber data di objek penelitian ialah menonton film “Cek Toko Sebelah”
karya Ernest Prakasa. Lewat pengamatan itu peneliti identifikasi sejumlah adegan serta dialog di scene yang ada tanda yang gambarkan kekeluargaan.
Sesudah itu pemaknaannya akan lewat tahapan interpretasi berdasarkan tanda- tanda yang terliat memakai analisis semiotika. Jenis data yang dipakai disini ialah:
1. Data primer : penghimpunan data dari teks film “Cek Toko Sebelah”
yakni screen shoot adegan film juga sejumlah data mengenai film ini.
2. Data sekunder : penelitian pustaka lewat pelajari serta kaji literatiur yang memiliki keterkaitan soal permasalahan yang diteliti guna dukung penelitian ini yang jadi sebuah landasan teori untuk permasalahan yang dikaji.
3.4 Unit Analisis
Unit yang ada pada analisis disini ialah tanda-tanda. Studi ini berfokus pada dialog, scene, atau sebuah tanda yang memperlihatkan pesan keluarga yang ada di film “Cek Toko Sebelah” yang berdurasi 1 jam 44 menit, dengan kategori dialog dan ucapan tokoh di sebuah film. Beberapa scene yang akan dibahas di stud ini:
Tabel 3.1 Scene Film
Tabel 5 Scen e Film
No Keterangan Durasi Gambar
33 1 Saat Ibu Sonya
yang berperan sebagai atasan sangat humble terhadap
karyawan dan
hal ini
mengindikasikan nilai
kekeluargaan di tempat kerja
09.05
2 Koh Afuk,
Yohan, dan Ayu sedang
menikmati makan malam bersama dan hal ini
mengindikasikan keakraban diantara keluarga
11.05
3 Yohan
memperlihatkan rasa kecewa terhadap
keputusan sang ayah, dan hal ini mengindikasikan bahwa dalam sebuah nilai keluarga
terdapat rasa
18.27
34 kecewa yang
kemudian dapat akrab kembali
4 Erwin merasa kecewa terhadap Koh Afuk dan berbicara
01.01.10
5 Koh Afuk
merasa kecwa terhadap Erwin karena tidak mau
melanjutkan tokonya
01.06.17
6 Yohan
memarahi Erwin karena dia tidak mau meneruskan toko ayahnya, sehingga Koh Afuk menjual tokonya hingga jatuh sakit
01.07.19
35 3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengimpulan data yang dipakai disini ialah pengamatan langsung pada objek penelitian yang berbentuk softcopy film yakni film “Cek Toko Sebelah” dan menghimpun semua data yang berasal dari menonton tayangan 7 Erwin meminta
maaf kepada Yohan atas keributan di kamar inap rumah sakit
01.09.21
8 Erwin dan
Yohan berbincang bersama
mengenai masa kecilnya yang sangat
dirindukan
01.21.27
9 Koh Afuk
merasa bersalah kepada Yohan, Koh Afuk dan Yohan saling memaafkan
01.34.02
10 Yohan dan Erwin kembali membuka took Koh Afuk, dan Keluarga Koh Afuk berbahagia kembali
01.35.00
36 film secara langsung yang lalu amati serta catat unsur sebuah objek atau dialog pada film yang berikan gambaran terkait dengan nilai keluarga.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipakai ialah analisis semiotika dari Roland Barthes, sebab Roland Barthes membagi semiotika jadi dua sistem (“two order of signification”) yakni denotasi jadi sebuah sistem analisis pertama serta konotasi jadi sistem analisis kedua. Screen shoot gambar pada film yang sudah dianggap bisa jabarkan pesan keluarga akan dianalisis memakai sebuah denotasi, lalu pemakaian analisis konotasi akan dilaksanakan bila data pada screen shoot gambar miliki bukti. Tahap pertama peneliti gunakan tanda secara denotasi. Di tahap denotasi tanda dimaknai objektif atau maknai tanda dengan hubungkannya dengan langsung pada realitas yang ditunjukan. Sesudah analisis tanda jadi representasi realitas di tahap pertama, peneliti lalu analisis tanda pada film itu dengan tanda dimaknai secara konotasi yang artinya membaca makna subjektif atau intersubjektif. Makna berkaitan dengan isi tanda yang bekerja lewat mitos (di pandangan Roland).
Menurut Basrowi dan Suwandi pada buku “Memahami Penelitian Kualitatif”
(2011:209), analisis data kualitatif yang dikemukakan Miles dan Huberman pada prinsipnya analisis data kualitatif dilaksanakan lewat tahapan penghimpunan data. Teknik analisis data meliputi tiga kegiatan, antara lain:
1. Reduksi Data
Reduksi data ialah sebuah tahapan pemusatan perhatian, pemilihan, pengabstraksian dan pentransformasian data kasar yang berada di lapangan. Tahapan ini berlangsung selama penelitian, dari awal samapai akhir penelitian. Di proses reduksi data ini, penulis lakukan proses awal yakni pemusatan perhatian pada nilai kekeluargaan. Sesudah temukan pemusatan perhatian, lalu pemilihan subjek mengenai nilai kekeluargaan yakni film “Cek Toko Sebelah”.
Tahap berikutanya penulis terus kembangkan penelitian pada interpretasi juga pentransformasian yang akan diketahui di hasil akhir penelitian.
2. Penyajian Data
37 Yakni sekumpulan serta pengambilan tindakan. Bisa disajikan berbentuk teks naratif, matruks, grafik, jaringan, dan bagas.
Penyajian data yang dilaksakan penulis disini ialah penggalan- penggalan scene di film “Cek Toko Sebelah” yang akan dianalisis secata teks naratif di tiap scene.
3. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi
Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung.
Tahap ini peneliti buat rumusan proposisi ymengenai prinsip pada logika dan mengambilnya jadi sebuah temuan pada penelitian dan bisa dilanjutkan lewat kaji berulang pada data yang ada, pengelompokkan data yang sudah terbentuk, serta proposisi yang sudah dirumuskan.
Di studi ini, penulis lakukan analisis data diawali dengan menonton serta menginterpretasikan langsung film “Cek Toko Sebelah” yang berunsur nilai kekeluargaan. Penulis akan meneliti film itu dari unsur simbol visual, teks, dan audio. Lalu penulis pisahkan jadi beberapa potongan adegan guna dianalisa satu per satu.
38 DAFTAR PUSTAKA
Andhani, W. (2017). Representasi Peran Ibu Sebagai Single Parent dalam Film Sabtu Bersama Bapak.
Arlina, Y. (2018). Representasi Semangat Nasionalisme dalam Film 3 Srikandi.
Astuti, L., & Buldani, K. (2016). Model Laswell Dalam Komunikasi Pembangunan Kawasan Wisata Bengkulu.
Barthes, R. (2004). Mythologies. Wacana.
BKKBN. 2018. Kuatkan 8 Fungsi Keluarga Untuk Kesejahteraan Indonesia, diakses dari https://www.bkkbn.go.id/detailpost/kuatkan-8-fungsi-keluarga-untuk- kesejahteraan-indonesia, pada 3 Maret 2022.
Endriko, C., Hadi, I.P., & Yoanita, D. (2020). Representasi Fungsi Keluarga dalam Film “Marriage Story”. Jurnal E-Komunikasi, 8(2), 3.
Fikri, A.I. (2018). Analisis Struktur Naratif dan Unsur Sinematik Film Yakuza Apocalypcse Karya Takahashi Miike.
Hyoscyamina, D.E. (2011). Peran Keluarga Dalam Membangun Karakter Anak.
Jurnal Psikologi, 10(2), 145-146.
Karies, A.A. (2021). Representasi Nilai Keluarga dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Skripsi pada FKB Telkom University: dipublikasikan.
Kurniawan, D. (2018). Komunikasi Model Laswell dan Stimulus-Organism-Response Dalam Mewujudkan Pembelajaran Menyenangkan. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 2(1), 62-63.
39 Liemantara, M.F., Lesmana, F., & Wahjudianata, M. (2021). Representasi Pola Komunikasi Keluarga dalam Film Dua Garis Biru. Jurnal E-Komunikasi, 9(2), 2-3.
Malekian, N. (2018). Representation of Family in Hollywood Movies Displayed on Satellite. International Journal of Social Sciences, 8(4), 52-53.
Miftachurrohmah., & Prameiga, A. (2019). Representasi Nilai-Nilai Keluarga dalam Film Searching (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce).
Mulyana, D. (2013). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Remaja Rosadakarya.
Muna, L.N., & Sakdiyah, E.H. (2015). Pengaruh Ayah (Fathering) Terhadap Determinasi Diri Remaja.
Nuraini, H.A. (2020). Fungsi Keluarga Menurut BKKBN dari Sisi Agama hingga Lingkungan. Diambil dari: https://tirto.id/fungsi-keluarga-menurut-bkkbn-dari- sisi-agama-hingga-lingkungan-f6GF. (Diakses: 7 April 2022)
Nuraini., & Yahya, M. (2017). Komunikasi 4 Tipe Keluarga Terhadap Perilaku Anak Dalam Penyesuaian Sosial. Jurnal Ilmiah, 2(4), 145.
Retnowati, S., Widhiarso, W., & Rohmani, K.W. (2003). Peranan Keberfungsian Keluarga Pada Pemahaman dan Pengungkapan Emosi. Jurnal Psikologi, (2), 93-95.
Riwu, A., & Pujiati, T. (2018). Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film 3 Dara.
Kajian Semiotika, 10(3), 214-220.
Sabarua, J.O., & Mornene, I. (2020). Komunikasi Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak. International Journal of Elementary Education, 4(1), 83-85.
40 Sambuaga, D.P., Boham, A., & Tangkudung, J.P.M. (2014). Peranan Komunikasi Keluarga Dalam Mencegah Perkelahian Antar Warga. Jurnal Acta Diurna, 3(4), 3-6.
Sari, A., Hubies, A.V.S., Mangkuprawira, S., & Saleh, A. (2010). Pengaruh Pola Komunikasi Keluarga dalam Fungsi Sosialisasi Keluarga terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 8(2).
Tumbage, S.M.E., Tasik, F.C.M., & Tumengkol, S.M. (2017). Peran Ganda Ibu Rumah Tangga dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Di Desa Allude Kecamatan Kolongan Kabupaten Talaud. Jurnal Acta Diurna, 6(2).
Wahyuningrum, E. (2014). Peran Ayah (Fathering) Pada Pengasuhan Anak Usia Dini. Jurnal Psikologi, 10(1).
Wardhani, T.C. (2019). Representasi Premanisme dalam Film Green Book 2018 (Analisis Semiotika Roland Barthes Tentang Rasisme dalam Film Green Book).
Wijaya, I.F. (2021). Representasi Humanisme dalam Film GIE (Analisis Semiotika Roland Barthes).
Yazid, T.A.M. (2021). Representasi Keluarga pada Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”. Jurnal Hubungan Masyarakat, 7(1), 70-74.
https://dx.doi.org/10.29313/.v7i1.25294
41 LAMPIRAN
Lampiran 1: Poster Film Cek Toko Sebelah
imbd.com
42 Lampiran 2: Penghargaan Film Cek Toko Sebelah
Daftar Penghargaan imbd.com
43 Lampiran 3: Unit Analisis 1
Lampiran 4: Unit Analisis 2
Lampiran 5: Unit Analisis 3
44 Lampiran 6: Unit Analisis 4
Lampiran 7: Unit Analisis 5
Lampiran 8: Unit Analisis 6
45 Lampiran 9: Unit Analisis 7
Lampiran 10: Unit Analisis 8
Lampiran 11: Unit Analisis 9
46 Lampiran 12: Unit Analisis 10
Lampiran 13: Hasil iThenticate