PENGARUH VARIASI DOSIS TERHADAP EFEK ANTI ULKUS BEADS ALGINAT GASTRORETENTIF YANG MENGANDUNG DISPERSI PADAT EKSTRAK KUNYIT
(Curcuma domestica Val.) PADA TIKUS SKRIPSI
OLEH:
NATALINA SIMARMATA NIM 151501054
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ii
PENGARUH VARIASI DOSIS TERHADAP EFEK ANTI ULKUS BEADS ALGINAT GASTRORETENTIF YANG MENGANDUNG DISPERSI PADAT EKSTRAK KUNYIT
(Curcuma domestica Val.) PADA TIKUS SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
OLEH:
NATALINA SIMARMATA NIM 151501054
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
iii
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa telah melimpahkan rahmat, dan kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Variasi Dosis Terhadap Efek Anti Ulkus Beads Alginat Gastroretentif yang Mengandung Dispersi Padat Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica Val.) Pada Tikus”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat bagi penulis guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Kunyit memiliki komponen utama kurkumin yang berkhasiat sebagai anti- ulkus. Kurkumin memiliki kelarutan yang rendah. Sehingga dikembangkan suatu sediaan dispersi padat yang tertahan di dalam lambung untuk meningkatkan kelarutannya dalam air. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pengaruh variasi dosis yg lebih besar dari 100mg/kg bb terhadap efek anti ulkus dari beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit secara in vivo menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil yang diperoleh yaitu sediaan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dengan dosis 400 mg/kg bb memiliki efek anti-ulkus yang lebih cepat efek penyembuhannya dibandingkan dengan dosis 200mg/kg bb dan dosis 300mg/kg bb. Harapannya sediaan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat menjadi salah satu bentuk penyampaian dan pengobatan yang lebih efisien sebagai anti-ulkus .
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Sumatera Utara atas bantuan dana melalui penelitian Guru Besar (TALENTA) tahun 2019. Penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Hakim Bangun, Apt., selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan motivasi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan
v
selama penelitian dan penulisan skripsi ini berlangsung.
Rasa terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas selama masa pendidikan dan penelitian, juga kepada Ibu Dr. Anayanti Arianto, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt., selaku penguji yang telah memberikan arahan, kritik, dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini, kepada Ibu Dr. Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt., selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini, serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Ayahanda Janer Simarmata dan Ibunda Ernalina Sagala serta saudara-saudaraku Dina, Indre, Nadi, Dewanta, Erick Marthin. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada sahabat-sahabat kesayangan Amazing Christ, AHB Squad, PNJ Kost dan teman- teman angkatan 2015 yang selalu mendoakan, memberikan cinta dan kasih sayang, semangat, dorongan dan pengorbanan baik moril maupun materil selama penelitian dan penyusunan skripsi ini berlangsung.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Medan, 6 Desember 2019 Penulis,
Natalina Simarmata NIM 151501054
vi
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Natalina Simarmata
Nomor Induk Mahasiswa : 151501054
Program Studi : Sarjana Farmasi
Judul Skripsi : Pengaruh Variasi Dosis Terhadap Efek Anti Ulkus Beads Alginat Gastroretentif Yang Mengandung Dispersi Padat Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica Val.) Pada Tikus
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat adalah asli karya sendiri dan bukan plagiat. Apabila di kemudian hari diketahui skripsi saya tersebut terbukti plagiat karena kesalahan sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikian surat pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan, 6 Desember 2019
Natalina Simarmata
NIM 151501054
vii
PENGARUH VARIASI DOSIS TERHADAP EFEK ANTI ULKUS BEADS ALGINAT GASTRORETENTIF YANG MENGANDUNG DISPERSI PADAT EKSTRAK KUNYIT (
Curcuma domestica Val
.) PADA TIKUSABSTRAK
Latar Belakang: Komponen utama kunyit adalah kurkumin yang memiliki khasiat sebagai anti-ulkus. Kurkumin memiliki kelarutan dan bioavailabilitas yang rendah serta tidak stabil di bagian bawah saluran pencernaan. Pada penelitian sebelumnya sediaan beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit telah terbukti efektif sebagai anti ulkus dengan dosis 100mg/kg bb. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbandingan variasi dosis terhadap efek anti ulkus beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh variasi dosis (200 mg/kg bb, 300 mg/kg bb, 400 mg/kg bb) terhadap efek anti-ulkus dari beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit secara in vivo menggunakan hewan percobaan tikus.
Metode: Ekstrak kunyit dibuat secara maserasi serbuk kunyit dengan etanol 96%, filtrat diuapkan dengan rotary evaporator suhu 50oC. Dibuat dispersi padat ekstrak kunyit dengan metode pelarutan menggunakan ekstrak kunyit : PVP K30 dengan perbandingan (1:1) dilarutkan dengan etanol dan dikeringkan dalam oven suhu 400C setelah kering diserbukkan. Kemudian dispersi padat dilarutkan dengan etanol lalu ditambahkan larutan natrium alginat yang sudah dibuat, ditambahkan Tween 80.
Diteteskan ke dalam larutan kalsium klorida (CaCl2) 0,15 M dengan curing time 4 - 5 menit. Terbentuk beads alginat dispersi padat ekstrak kunyit, kemudian dibilas dengan akua DM, dikumpulkan dan dikeringkan di suhu ruangan selama 2 hari.
Beads disimpan dalam desikator hingga waktu pemakaian. Uji anti ulkus dilakukan pada tikus putih jantan dengan berat 150-200 g dengan model induksi ulkus dengan pemberian HCl 0,6 N. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok: Kelompok I (kontrol tanpa pengobatan) sebagai pembanding, kelompok II, III, IV (diberikan beads alginat dispersi padat ekstrak kunyit secara oral dengan dosis 200 mg/kg bb; 300 mg/kg bb;
400 mg/kg bb), setiap hari selama 4 hari. Lalu dibedah pada hari kedua, ketiga, keempat, kelima dan cairan lambung di ukur pHnya, lambung dicuci dengan NaCl lalu diamati secara makroskopik (dihitung jumlah ulkus dan indeks ulkus) dan mikroskopik (dilihat tingkat kerusakan mukosa lambung dengan histologi).
Hasil: Hasil uji anti-ulkus secara makroskopik dan mikroskopik pada kelompok tikus pemberian beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb memberikan efek penyembuhan 3 hari, dosis 300 mg/kg bb memberikan efek penyembuhan 2 hari, dosis 400 mg/kg bb memberikan efek penyembuhan 1 hari, sedangkan kelompok tikus tanpa pengobatan diamati selama 4 hari tidak menunjukkan efek penyembuhan.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh variasi dosis beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit lebih efektif pada dosis 400 mg/kg bb dengan penyembuhan pada hari pertama.
Kata kunci: Kurkumin, gastroretentif, dosis, beads alginat, dispersi padat, anti- ulkus
viii
THE EFFECT OF VARIATION DOSE ON ANTI ULCER EFFECT OF ALGINATE BEADS GASTRORETENTIVE CONTAINING TURMERIC
EXTRACT (Curcuma domestica Val.) SOLID DISPERSION IN RATS ABSTRACT
Background: The main component of turmeric is curcumin which has an anti-ulcer effect. Curcumin has low solubility and bioavailability and unstable in the lower part of the digestive tract. In previous studies, the preparation of gastroretentive alginate beads containing turmeric extract solid dispersion has been proven effective as an anti-ulcer at a dose of 100 mg/kg bw. Therefore, it is necessary to compare the dose variations on the effect of anti-ulcer alginate beads gastro retentive containing turmeric extract solid dispersion.
Objective: To determine the effect of dose variations (200 mg/kg bw, 300 mg/kg bw, 400 mg/kg bw) on the anti-ulcer effect of gastroretentive alginate beads containing turmeric extract solid dispersion using in-vivo method in rats.
Method: Turmeric extract was made by maceration of turmeric powder in 96%
ethanol, the filtrate was evaporated on 50°C rotary evaporator. Turmeric extract solid dispersion was made by dissolving method using turmeric extract : PVP K30 in the ratio (1 : 1). Turmeric extract and PVP K30 was dissolved in ethanol and dried in an oven at 40°C. The solid dispersion was dissolved in ethanol then the sodium alginate solution and Tween 80 was added. The solution dropped into a 0.15 M calcium chloride (CaCl2) solution with a curing time of 4 - 5 minutes. Alginate beads formed a solid dispersion of turmeric extract, then rinsed with DM aqua, collected and dried at room temperature for 2 days. Beads are stored in the desicator until the time of use. Anti-ulcer test was performed on a male white rats weighing 150-200 g with ulcer induction model with HCl administration of 0.6 N. Rats were divided into 4 groups: Group I (control without treatment) as a comparison, groups II, III, IV (given solid alginate dispersion of turmeric extract, administered orally at a dose of 200 mg/kg bw; 300 mg/kg bw; 400 mg/kg bw), every day for 4 days. The stomach then dissected on the second, third, fourth, fifth day and pH of gastric fluid was measured, the stomach washed with NaCl then observed macroscopically (counted the number of ulcers and ulcer index) and microscopic (seen the level of gastric mucosal damage with histology).
Results: The results of macroscopic and microscopic anti-ulcer test in the group of rats given alginate beads containing turmeric extract solid dispersion at a dose of 200 mg / kg bw had a healing effect on the 3rd day, a dose of 300 mg / kg bw had a healing effect on 2nd day, a dose of 400 mg/kg bw had a healing effect on the 1st day, whereas the group of rats without treatment showed no healing effect.
Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that the effect of dose variation of alginate beads containing solid dispersions of turmeric extract is more effective at a dose of 400 mg / kg bw with healing effect on the first day.
Keywords: Curcumin, gastroretentive, dosage, alginate beads, solid dispersion, anti-ulcer
ix DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Hipotesis Penelitian ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Lambung ... 9
2.1.1 Anatomi Lambung ... 9
2.1.2 Histologi Lambung ... 10
2.1.3 Sistem Pertahanan Mukosa Lambung ... 12
2.2 Ulkus Peptikum ... 13
2.3 Sistem Penyampaian Gastroretentif ... 14
2.4 Sistem Mukoadhesif ... 16
2.5 Natrium Alginat ... 18
2.6 Dispersi Padat ... 19
2.6.1 Defenisi Dispersi Padat ... 19
2.6.2 Metode Pembuatan Sistem Dispersi Padat ... 19
2.6.2.1 Metode Peleburan atau Difusi ... 19
2.6.2.2 Metode Pelarutan ... 20
2.6.2.3 Metode Pelarutan dan Peleburan ... 20
2.7 Kunyit (Curcuma domestica Val.) ... 21
2.7.1 Kurkumin ... 23
2.7.2 Farmakokinetika kurkumin ... 23
2.7.3 Manfaat kurkumin ... 24
BAB III METODE PENELITIAN... 26
3.1 Lokasi Penelitian ... 26
3.2 Jenis Penelitian ... 26
3.3 Alat ... 26
3.4 Bahan ... 26
3.5 Hewan Percobaan ... 26
3.6 Prosedur Penelitian ... 27
3.6.1 Penyiapan Bahan Tumbuhan... 27
3.6.1.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan ... 27
3.6.1.2 Identifikasi Bahan Tumbuhan ... 27
3.6.1.3 Pengolahan Bahan Tumbuhan... 27
x
3.6.2 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia ... 27
3.6.2.1 Pemeriksaan Makroskopik ... 27
3.6.2.2 Pemeriksaan Mikroskopik ... 28
3.6.2.3 Penetapan Kadar Air ... 28
3.6.2.4 Penetapan Kadar Sari Larut Air ... 28
3.6.2.5 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol ... 28
3.6.2.6 Penetapan Kadar Abu Total ... 29
3.6.2.7 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larsut Asam ... 29
3.6.3 Pembuatan Pereaksi ... 29
3.6.3.1 Pembuatan Akuades Bebas Karbondioksida ... 29
3.6.3.2 Pembuatan Larutan Kalsium Klorida 0,15 M ... 29
3.6.4 Pembuatan Ekstrak Kunyit ... 30
3.6.5 Pembuatan Beads Alginat yang Mengandung Dispersi Padat ... 30
Ekstra Kunyit ... 30
3.7 Pengujian Efek Anti Ulkus Lambung Dengan Beads Alginat yang Mengandung Dispersi Padat Ekstrak Kunyit ... 31
3.7.1 Uji in-vivo efek anti-ulkus ... 31
3.7.2 Pengamatan makroskopis ... 32
3.8 Pembuatan Preparat untuk Pemeriksaan Histopatologik ... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35
4.1 Identifikasi Tumbuhan ... 35
4.2 Karakteristik Simplisia ... 35
4.3 Pemeriksaan Makroskopis dan Mikroskopis Rimpang Kunyit... 36
4.3.1 Hasil Pemeriksaan Makroskopik... 36
4.3.2 Hasil Pemeriksaan Makroskopik... 36
4.4 Hasil Uji Efek Anti-Ulkus Beads Alginat yang Mengandung Dispersi Padat Ekstrak Kunyit ... 36
4.4.1 Lambung Normal ... 36
4.4.2 Kondisi Lambung Awal di Induksi dengan HCl 0,6 N ... 37
4.4.3 Kondisi Lambung Selama 1 Hari ... 38
4.4.4 Kondisi Lambung Selama 2 Hari ... 42
4.4.5 Kondisi Lambung Selama 3 Hari ... 45
4.4.6 Kondisi Lambung Selama 4 Hari ... 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
5.1 Kesimpulan ... 57
5.2 Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 58
xi
DAFTAR TABEL
2.1 Perbandingan antara sistem penyampaian obat gastroretentif dan sistem
penyampaian obat konvensional ...15
4.1 Hasil karakterisasi simplisia rimpang kunyit ...35
4.2 Rata – rata jumlah ulkus setiap kelompok ...50
4.3 Rata – rata indeks ulkus setiap kelompok ...52
4.4 Rata – rata pH setiap kelompok ...53
xii
DAFTAR GAMBAR
1.1 Diagram kerangka pikir penelitian ... 8
2.1 Pembagian daerah anatomi lambung. ...9
2.2 Gambaran potongan lambung dan struktur histologi. ...11
2.3 Struktur kimia alginat ...18
2.4 Struktur kurkuminoid ... 22
2.5 Degradasi kurkumin dalam pH basa (Kumavat dkk., 2013) ...23
4.1 Lambung Tikus Normal ...37
4.2 Lambung yang diinduksi dengan HCL 0,6 N setelah 1 jam ...38
4.3 Lambung yang diinduksi dengan HCl 0,6 N setelah 1 hari ...41
4.4 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb selama 1 hari ...41
4.5 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 300 mg/kg bb selama 1 hari ...41
4.6 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 300mg/kg bb selama 1 hari ...42
4.7 Lambung yang diinduksi dengan HCl 0,6 N setelah 2 hari ...43
4.8 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb selama 1 hari ...43
4.9 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 300 mg/kg bb selama 2 hari ...44
4.10 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 400 mg/kg bb selama 2 hari ...44
4.11 Lambung yang diinduksi dengan HCl 0,6 N setelah 3 hari. ...46
4.12 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb selama 3 hari. ...46
4.13 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 300 mg/kg bb selama 3 hari. ...47
4.14 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 400 mg/kg bb selama 3 hari. ...47
4.15 Lambung yang diinduksi HCl 0,6 N selama 4 hari ...48
4.16 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb selama 4 hari ...49
4.17 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 300 mg/kg bb selama 4 hari ...50
4.18 Lambung yang diberi beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 400 mg/kg bb selama 4 hari ...51
4.19 Perbandingan jumlah ulkus lambung antara kelompok kontrol tanpa pengobatan dengan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb; 300 mg/kg bb; 400 mg/kg bb. ...52
4.20 Perbandingan indeks ulkus lambung antara kelompok kontrol tanpa pengobatan dengan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb; 300 mg/kg bb; 400 mg/kg bb ...52
4.21 Perbandingan pH lambung antara kelompok kontrol tanpa pengobatan dengan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg bb; 300 mg/kg bb; 400 mg/kg bb. ...53
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Foto morfologi tanaman kunyit ...64
2. Foto simplisia kunyit ...65
3. Hasil pemeriksaan mikroskopik rimpang tanaman kunyit ...66
4. Hasil identifikasi tumbuhan ...67
5. Perhitungan penetapan kadar air ...68
6. Perhitungan penetapan kadar sari larut air ...70
7. Perhitungan penetapan kadar sari larut etanol ...71
8. Perhitungan penetapan kadar abu total ...72
9. Perhitungan penetapan kadar abu tidak larut asam ...73
10. Perhitungan rendemen ...74
11. Gambar sediaan ...75
12. Surat ethical clearance ...76
13. Hasil data statistik ...77
14. Perhitungan indeks ulkus ...82
15. Data ph ...99
16. Perhitungan kadar ekstrak kunyit dalam beads ...101
17. Perhitungan dosis ...102
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Ulkus peptikum merupakan penyakit akibat gangguan pada saluran gastrointestinal atas yang disebabkan sekresi asam dan pepsin yang berlebihan oleh mukosa lambung (Avunduk, 2008). Ulkus peptikum dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara faktor agresif (seperti: infeksi Helicobacter pylori, NSAID dan asam lambung) dengan faktor pertahanan lambung (seperti: mucin, bikarbonat dan prostaglandin) yang mengakibatkan kerusakan pada mukosa lambung (Sunil dkk., 2012). Kondisi yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan kedua faktor tersebut yaitu adanya reaksi berlebihan terhadap makanan tertentu, minuman yang mengandung kafein dan alkohol, rangsangan parasimpatis dan histamine dapat merangsang sel - sel parietal untuk menghasilkan HCl (Wells dkk., 2003).
Pengunaan obat – obatan seperti antiinflamasi non steroid (AINS) berkaitan erat dengan terjadinya pendarahan lambung melalui iritasi sel – sel secara langsung dan inhibisi sistemik sintesis prostaglandin mukosa saluran pencernaan.
Keberadaan Helicobacter pylori dapat mengganggu pertahanan mukosa melalui elaborasi toksin dan enzim serta meningkatkan pelepasan gastrin (Mustafa dkk., 2015). Pada berbagai kasus pasien ulkus peptikum, ditemukan infeksi kronis pada bagian ujung mukosa lambung dan bagian awal mukosa duodenum akibat infeksi yang paling sering disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori. Sekali infeksi dimulai, infeksi dapat berlangsung seumur hidup kecuali kuman dieradikasikan dengan pengobatan antibakteri. Faktor yang paling penting dalam patogenesis tukak termasuk infeksi bakteri. Faktor-faktor pertahanan lambung antara lain
2
bikarbonat, prostaglandin, produksi mukus, dan aliran darah ke mukosa, sedangkan faktor-faktor agresif antara lain infeksi bakteri Helicobacter pylori, asam lambung, pepsin, rokok, stress, alkohol, obat-obat antiinflamasi nonsteroid (Guyton dan Hall, 2012).
Tumbuhan merupakan salah satu sumber alam yang telah memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari di samping sebagai bahan makanan juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Salah satunya tumbuhan yang sering digunakan adalah kunyit.
Kunyit (Curcuma domestica Val.) berasal dari keluarga rimpang-rimpangan dan dipanen secara luas di Asia Selatan dan Tenggara. Kunyit memiliki komponen paling aktif yakni kurkumin sebanyak 2-5%. Kurkumin adalah serbuk kristal orens kekuningan yang praktis tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol, dimetilsulfoksida, dan aseton. Kurkumin memiliki titik leleh 1830C, rumus molekul C21H20O6, dan berat molekul 368,37 g/mol, kurkumin memberikan perubahan warna yang jelas dan cepat yaitu kurang lebih 5 detik sehingga dimungkinkan digunakan sebagai indicator (Ravindran dkk., 2007).
Pada penelitian lain, kurkumin menghambat angiogenesis, memaksa sel-sel kanker untuk mati (melalui proses apoptosis) dan menghambat pertumbuhan sejumlah kanker, yaitu kanker kolon, prostat, paru-paru, hati, lambung, payudara, ovarium, otak, dan leukemia (Schreiber, 2010). Studi menunjukkan efek kurkumin oral pada peradangan manusia. Kurkumin dosis 400 mg tiga kali sehari selama 5 hari menyebabkan efek anti peradangan yang signifikan diukur secara objektif dan subjektif pada pasien pasca-operasi (Satoskar dkk., 1986).
Kurkumin cukup stabil dalam pH asam lambung. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa kurkumin dimetabolisme dengan cepat, terkonjugasi di hati,
3
dan diekskresikan dalam tinja, oleh karena itu memiliki ketersediaan hayati sistemik yang terbatas (Jurenka, 2009).
Sepuluh pasien dengan penyakit peradangan usus menerima kurkumin murni pada dosis antara 0,55 dan 1,65 g per hari hingga 2 bulan; semua pasien menunjukkan peningkatan kondisi klinik (Holt dkk., 2005). Uji klinis menunjukkan kurkumin memiliki potensi sebagai agen terapeutik dalam penyakit seperti penyakit radang usus, pankreatitis, radang sendi, dan juga kanker tipe tertentu (Jurenka, 2009), antiinflamasi (Patil dkk., 2011), antikanker (Naama dkk., 2010), antioksidan (Tanvir dkk., 2017), antiulkus (Aziz, 2011), dan antibakteri (Mohammed, 2015).
Pengobatan H. pylori dengan kurkumin meredakan gejala pada pasien tukak (Koosirirat dkk., 2010). Efek anti tukak dari kurkumin dikarenakan sifatnya yang menurunkan sekresi asam lambung dan meningkatkan mekanisme pertahanan mukosa melalui penekanan peradangan yang diperantarai enzim NO sintase (Mahattanadul dkk., 2009).
Dispersi padat merupakan salah satu metode untuk meningkatkan kelarutan suatu bahan aktif. Dispersi padat menghasilkan pelepasan yang lebih cepat dan bioavailabilitas yang lebih tinggi dibandingkan formulasi sediaan konvensional biasa. Pada pembuatan dispersi padat biasa digunakan polimer seperti hidroksipropilselulosa, hidroksipropil metilselulosa (HPMC), polietilena glikol (PEG) dan polyvinylpyrolidone (PVP) (Singh dkk., 2011)
Dispersi padat kurkumin (kurkumin dan PVP K 30 dengan rasio 1:8) menghasilkan efek anti tukak lambung dengan menghambat sekresi asam lambung, menurunkan keasaman cairan lambung, menghambat aktivitas pepsin dan meningkatkan penyembuhan tukak (Mei dkk., 2009). Sifat lain dari kurkumin adalah aktivitas antibakteri, terutama pada bakteri enterik (Farnsworth dan Bunya,
4
1992). Antioksidan kurkumin menunjukkan efek penghambatan pada aktivasi NF- kappa B dan juga IL oleh H.pylori (Munzeinmaier dkk., 1997). Efek farmakologis kurkumin terbatas karena kelarutannya yang rendah dan memiliki metabolisme yang cepat di saluran pencernaan (Petchsomrit, 2013). Penelitian selama tiga decade terkait absorpsi, distribusi, metabolism dan ekskresi kurkumin menunjukkan bahwa absorpsi dan metabolism cepat sehingga membatasi ketersedian hayati kurkumin. Biovailabilitas yang rendah (t<1%) dan degradasi pada pH basa intestine manusia, sangat membatasi aplikasi klinisnya (Anand dkk., 2002).
Sistem penghantaran obat tinggal di lambung adalah salah satu cara untuk memperpanjang waktu tinggal sediaan di dalam lambung dengan maksud untuk pemberian obat lokal pada saluran cerna bagian atas ataupun untuk efek sistemik.
Sistem penyampaian obat gastroretentif (Gastroretentive drug delivery) yang dapat memperlama waktu tinggal sediaan obat di lokasi absorpsi sehingga kontak antara sediaan dengan lokasi absorpsi optimal. Perpanjangan waktu tinggal sediaan obat dalam lambung akan meningkatkan bioavailabilitas, meningkatkan lamanya pelepasan obat. Di samping itu juga akan bermanfaat terhadap kerja lokal obat pada bagian atas saluran pencernaan terutama untuk pengobatan tukak peptik (Nayak dkk., 2010).
Beberapa contoh desain dan pengembangan sistem gastroretentif meliputi sistem penyampaian obat mukoadhesif yang melekat pada permukaan mukosa, sistem pengembangan (swelling) yaitu sediaan ketika kontak dengan cairan lambung akan mengembang dan ukuran sediaan obat lebih besar sehingga mencegah obat melewati pilorus akibatnya sediaan obat tetap berada dalam lambung untuk beberapa waktu tertentu, sistem pengapungan (floating system)
5
yaitu sistem penyampaian dengan membuat densitas bulk sediaan obat yang sampai di lambung lebih kecil dari densitas cairan lambung sehingga sediaan obat mengapung dan bertahan dalam lambung sementara obat dilepaskan perlahan-lahan dari sediaan (Ami dkk., 2012; Nayak dkk., 2010).
Gastroretentif penting untuk zat aktif yang diserap di lambung, sedikit larut atau terdegradasi dalam pH usus, dan senyawa aktif yang absorpsinya dapat diatur dengan perubahan waktu pengosongan lambung (Cora dkk., 2007; Bruschi, 2015).
Alginat merupakan suatu polisakarida yang dihasilkan ganggang coklat (Phaeophyceae) dan bakteri. Alginat adalah kopolimer anionik yang terdiri dari residu asam β-D-manuronat dan asam α-L-guluronat dalam ikatan 1,4. Alginat yang biasa digunakan adalah dalam bentuk natrium alginat yang larut dalam air dan jika dilarutkan dalam larutan kalsium klorida segera terbentuk gel kalsium alginat yang tidak larut dalam air. Ikatan antara kalsium dengan alginat adalah ikatan kelat antara kalsium dengan rantai L-guluronat dari alginat (Morris dkk.,1978). Sifat pembentukan gel yang terjadi antara natrium alginat dengan kalsium klorida dimanfaatkan dalam pembuatan kapsul alginat tipe matriks yang tahan terhadap asam lambung dan obat terenkapsulasi di dalam gel (Bangun dkk., 2006). Kelebihan yang paling penting dari natrium alginat sebagai matriks untuk formulasi pelepasan terkontrol adalah karena sifatnya yang biodegradabel dan biokompatibel dan mempunyai sifat mukoadhesif (Sachan dkk., 2009).
Pada penelitian sebelumnya Sitepu (2015) telah membuat beads alginat yang mengandung metronidazole menggunakan variasi curing time. Hasil penelitian tersebut diperoleh beads alginat dapat mengapung lebih dari 12 jam pada medium lambung buatan pH 1,2. Adliani (2016) telah melakukan formulasi dan evaluasi terhadap beads alginat yang mengandung antasida. Hasil penelitian
6
tersebut diperoleh diameter beads 2,17 mm dan dapat mengapung selama lebih 12 jam. Beads alginat yang diperoleh memiliki sifat mukoadhesif dengan nilai 58,73 ± 0,05 dyne serta memiliki efek penyembuhan lesi lambung.
Dilanjutkan oleh Aulia (2017) telah meneliti tentang pembuatan beads alginat dari ekstrak kunyit dengan menggunakan variasi viskositas alginat dan melakukan pengujian bioadhesi serta penyembuahan lesi dengan menggunakan tikus yang diinduksi HCl 1 M. Hasil yang diperoleh terdapat pengaruh viskositas alginat terhadap pelepasan kurkumin dari beads alginat. Sediaan beads alginat yang mengandung ekstrak kunyit bersifat gastroretentif serta efektif menyembuhkan lambung pada dosis 100 mg/kg bb tikus.
Bangun (2018) telah melakukan pengujian in vitro beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat meningkatkan pelepasan kurkumin dan memberikan efek antibakteri.
Kemudian dilanjutkan oleh Rehngenana (2019) telah meneliti tentang uji anti ulkus beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) dengan menggunakan tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat menyembuhkan ulkus pada lambung pada dosis 100 mg/kg bb tikus pada hari ke-4
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dalam penelitian ini melanjutkan peneliti sebelumnya dengan judul Pengaruh variasi dosis terhadap uji anti ulkus beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) dengan menggunakan tikus.
7 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Apakah pengaruh variasi dosis beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat mempercepat proses penyembuhan ulkus pada lambung ?
1.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian pada perumusan masalah , maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Pengaruh variasi dosis beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat mempercepat proses penyembuhan ulkus pada lambung
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada hipotesis penelitian , maka tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui Pengaruh variasi dosis beads alginat yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit dapat mempercepat proses penyembuhan ulkus pada lambung.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan bahwa dengan variasi dosis yang lebih besar dari dosis 100mg/kg dalam sediaan beads alginat dispersi padat ekstrak kunyit dapat digunakan sebagai sediaan untuk pengobatan tukak lambung, tukak usus, sindroma Zollinger Ellison dan penyakit refluks gastroesophageal.
8 1.6 Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir atau road map penelitian ini adalah tertera pada gambar 1.1 di bawah ini :
Gambar 1.1 Diagram Kerangka Pikir Penelitian Pada
penelitian sebelumnya sediaan beads alginat
gastroretentif yang
mengandung dispersi padat ekstrak kunyit telah terbukti efektif sebagai anti ulkus dengan dosis
100mg/kg bb.
Oleh karena itu, perlu dilakukan perbandingan variasi dosis yg lebih besar dari
100mg/kg bb terhadap efek anti ulkus beads alginat gastroretentif yang
mengandung dispersi padat ekstrak .kunyit.
Membandi ngkan pengaruh variasi dosis terhadap efek pengobata n dari beads alginat gastroreten tif yang mengandu ng dispersi padat ekstrak kunyit terhadap ulkus lambung yang diinduksi larutan HCl 0,6 N
Beads alginat dispersi padat Ekstrak Kunyit Dosis 200mg/kg bb
Beads alginat dispersi padat Ekstrak Kunyit Dosis 300mg/kg bb
Beads alginat dispersi padat Ekstrak Kunyit Dosis 400mg/kg bb
Efek anti ulkus secara in vivo
Makrosk opik : Jumlah ulkus dan indeks ulkus
Mikrosk opik : Tingkat kerusaka n pada mukosa Latar
Belakang
Penyelesaian Variabel
Bebas Variabel
Terikat Parameter
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lambung
2.1.1 Anatomi Lambung
Lambung secara anatomi dibagi atas 4 bagian, yakni: kardia, fundus, korpus dan pilorus (Gambar 2.1) (Tortora dan Derrickson, 2009). Fundus dan korpus memiliki struktur histologis yang identik (Gambar 2.2) (Junqueira dan Carneiro, 2005). Kardia adalah daerah kecil yang berada pada hubungan gastroesofageal (gastroesophageal junction) dan terletak sebagai pintu masuk ke lambung. Fundus adalah daerah berbentuk kubah yang menonjol ke bagian kiri di atas kardia. Badan (body) adalah suatu rongga longitudinal yang berdampingan dengan fundus dan merupakan bagian terbesar dari lambung. Antrum adalah bagian lambung yang menghubungkan badan (body) ke pilorik dan terdiri dari otot yang kuat. Pilorik adalah suatu struktur tubular yang menghubungkan lambung dengan duodenum dan mengandung spinkter pilorik (Schmitz dan Martin, 2008).
Gambar 2.1 Pembagian daerah anatomi lambung (Tortora dan Derrickson, 2009).
10 Lambung melakukan tiga fungsi utama:
1. Lambung menyimpan makanan yang masuk sampai makanan dapat disalurkan ke usus halus dengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan penyerapan yang optimal. Diperlukan waktu beberapa jam untuk mencerna dan menyerap satu porsi makanan yang dikonsumsi hanya dalam bilangan menit.
Lambung menyimpan makanan dan menyalurkannya secara mencicil ke duodenum dengan kecepatan yang tidak melebihi kapasitas usus halus.
2. Lambung mengeluarkan asam hidroklorida (HCl) dan enzim yang memulai pencernaan protein.
3. Melalui gerakan mencampur lambung, makanan yang tertelan dihaluskan dan dicampur dengan sekresi lambung untuk menghasilkan campuran cairan kental yang dikenal sebagai kimus (Sherwood, 2011).
2.1.2 Histologi Lambung
Berdasarkan histologi, dinding saluran pencernaan terdiri dari empat lapisan yaitu sebelah dalam sekali lapisan mukosa, lalu berturut – turut ke arah luar lapisan submukosa, lapisan muskularis (otot) dan lapisan yang paling luar sekali adalah lapisan serosa atau adventisia. Setiap lapisan terdiri atas beberapa komponen yang mempunyai struktur yang berbeda–beda (Junqueira dan Carneiro, 2005). Dinding lambung tersusun dari empat lapisan dasar utama, sama halnya dengan lapisan saluran cerna secara umum dengan modifikasi tertentu yaitu lapisan mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa (Schmitz dan Martin,2008).
Lapisan mukosa terdiri atas epitel permukaan, lamina propia, dan muskularis mukosa. Epitel permukaan yang berlekuk ke dalam lamina propia dengan kedalaman yang bervariasi, dan membentuk sumur-sumur lambung disebut foveola gastrika.
Epitel yang menutupi permukaan dan melapisi lekukan-lekukan tersebut adalah
11
epitel selapis silindris dan semua selnya menyekresi mukus alkalis. Lamina propia lambung terdiri atas jaringan ikat longgar yang disusupi sel otot polos dan sel limfoid.
Muskularis mukosa yang memisahkan mukosa dari submukosa dan mengandung otot polos (Tortora dan Derrickson, 2009). Lapisan oblik terbatas pada bagian badan (body) dari lambung. Lapisan serosa adalah lapisan yang tersusun atas epitel selapis skuamos (mesotelium) dan jaringan ikat areolar (Tortora dan Derrickson, 2009).
Dinding lambung tersusun dari empat lapisan dasar utama, sama halnya dengan lapisan saluran cerna secara umum dengan modifikasi tertentu yaitu lapisan mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa (Schmitz & Martin, 2008).
Lapisan sub mukosa mengandung jaringan ikat, pembuluh darah, sistem limfatik, limfosit, dan sel plasma. Sebagai tambahan yaitu terdapat pleksus submukosa (Meissner). Lapisan muskularis propia terdiri dari tiga lapisan otot, yaitu (1) inner oblique, (2) middle circular, (3) outer longitudinal. Pada muskularis propia terdapat pleksus myenterik (auerbach) (Schmitz dan Martin, 2008).
Gambar 2.2 Gambaran potongan lambung dan struktur histologi (Junqueira dan Carneiro, 2005).
12 2.1.3 Sistem Pertahanan Mukosa Lambung
Lambung dapat diserang oleh beberapa faktor endogen dan faktor eksogen yang berbahaya. Sebagai contoh faktor endogen adalah asam hidroklorida (HCl), pepsinogen/pepsin, dan garam empedu, sedangkan contoh substansi eksogen yang dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung adalah seperti obat, alkohol, dan bakteri (Kasper dkk., 2008).
Sistem pertahanan dapat dibagi menjadi tiga tingkatan sawar yang terdiri dari preepitel, epitel, dan subepitel. Pertahanan lini pertama adalah lapisan mukus bikarbonat, yang berperan sebagai sawar psikokemikal terhadap beberapa molekul termasuk ion hydrogen. Mukus dikeluarkan oleh sel epitel permukaan lambung.
Mukus tersebut terdiri dari air (95%) dan pencampuran dari lemak dan glikoprotein (mucin). Fungsi gel mukus adalah sebagai lapisan yang tidak dapat dilewati air dan menghalangi difusi ion dan molekul seperti pepsin. Bikarbonat, dikeluarkan sebagai regulasi di bagian sel epitel dari mukosa lambung dan membentuk gradien derajat keasaman (pH) yang berkisar dari 1 sampai 2 pada lapisan lumen dan mencapai 6 sampai 7 di sepanjang lapisan sel epitel (Kasper dkk., 2008).
Lapisan sel epitel berperan sebagai pertahanan lini selanjutnya melalui beberapa faktor, termasuk produksi mukus, tranpoter sel epitel ionik yang mengatur pH intraselular dan produksi bikarbonat dan taut erat intraselular. Proses ini terjadi dimana pembelahan sel secara independen dan membutuhkan aliran darah yang tidak terganggu dan suatu pH alkaline di lingkungan sekitarnya. Beberapa faktor pertumbuhan (growth factor) termasuk epidermal growth faktor (EGF), transforming growth factor (TGF)α dan basic fibroblast growth faktor (FGF), memodulasi proses pemulihan. Kerusakan sel yang lebih besar yang tidak secara efektif diperbaiki oleh proses perbaikan (restitution), tetapi membutuhkan proliferasi sel. Regenerasi sel
13
epitel diregulasi oleh prostaglandin dan faktor pertumbuhan (growth factor) seperti EGF dan TGFα. Bersamaan dengan pembaharuan dari sel epitel, pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) juga terjadi pada kerusakan mikrovaskular.
Kedua faktor yaitu FGF dan VEGF penting untuk meregulasi angiogenesis di mukosa lambung (Kasper dkk., 2008).
2.2 Ulkus Peptikum
Ulkus peptikum adalah ulkus yang terjadi meluas sampai dibawah epitel pada mukosa bagian saluran pencernaan misalnya, lambung atau usus (duodenum atau jejunum). Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai kebawah epitel disebut sebagai erosi, walaupun sering dianggap juga sebagai “ulkus”. Sekitar 2 hingga 3%
dari semua ulkus lambung mengalami perforasi dan menyebabkan sekitar 65%
kematian akibat penyakit ulkus peptikum. (Price dan Wilson, 2006).
Lambung dilindungi terhadap faktor iritan oleh lapisan mukus, epitel, tetapi beberapa faktor iritan seperti makanan, minuman dan obat antiinflamasi non steroid (OAINS), alkohol dan empedu yang dapat menimbulkan defek lapisan mukus dan terjadi difusi balik ion H+, sehingga timbul tukak lambung (ulkus lambung). Asam lambung (HCl) adalah salah satu faktor terutama yang menginduksi penyakit ulkus lambung. Telah dilaporkan bahwa kira-kira 50% pasien yang menderita ulkus lambung merupakan hipersekresi asam dan pepsin. Disamping itu faktor lain seperti kuman Helicobacter pylori dan Sindroma Zollinger-Ellison juga merupakan penyebab terjadinya ulkus lambung. Sindroma Zollinger-Ellison adalah suatu sindroma yang disebabkan oleh tumor pankreas mengeluarkan gastrin dalam jumlah yang banyak. Gastrin yang berlebihan ini merangsang lambung untuk menyekresi sejumlah besar HCl dan pepsin, yang memicu terjadinya ulkus (Tarigan, 2006 ; Amandeep dkk., 2012).
14
Ulkus adalah lesi yang berpenetrasi menembus mukosa saluran pencernaan.
Ada beberapa jenis tukak yang umum, yakni: tukak lambung, yang dikarenakan kerusakan dinding pencernaan, dan tukak duodenum, yang dikaitkan dengan sekresi asam berlebihan oleh lambung. Penyebab terjadinya ulkus peptikum saat ini masih sering diperdebatkan (Wells dkk.,2003).Patofisiologi penyakit tukak lambung dapat digambarkan sebagai ketidakseimbangan antara faktor agresif (Helicobacter pylori, Antiinflamasi Non Steroid (AINS), dan asam lambung) dan factor pertahanan (mucin, bikarbonat, dan protasglandin), yang menyebabkan gangguan pada jaringan mukosa (Sunil dkk., 2012).
Terapi tukak lambung bertujuan untuk menghilangkan keluhan/simtom, menyembuhkan atau memperbaiki kesembuhan tukak, mencegah kekambuhan atau rekurensi tukak, dan mencegah komplikasi. Obat-obat yang digunakan untuk terapi ulkus lambung yaitu obat golongan antasida yang mengandung aluminium dan magnesium, obat penangkal kerusakan mukus misalnya sukralfat, obat golongan antagonis reseptor H2 seperti ranitidin, dan obat golongan proton pump inhibitor (PPI) seperti omeprazol (Tarigan, 2006).
2.3 Sistem Penyampaian Gastroretentif
Sistem penyampaian gastroretentif adalah bentuk sediaan yang dapat tertahan di lambung selama beberapa jam dan secara signifikan memperpanjang waktu tinggal obat dalam lambung. Sistem ini disampaikan per oral, tertahan dalam lambung, dan akan melepaskan obat dengan cara terkontrol, sehingga obat dapat disuplai secara kontinu pada daerah absorpsi saluran pencernaan (Nayak, dkk., 2010).
Memperpanjang waktu tinggal obat di lambung diinginkan untuk mencapai keuntungan terapi dari obat yang diabsorpsi di bagian proksimal saluran pencernaan,
15
atau yang kurang larut, atau terdegradasi pH basa pada bagian bawah saluran pencernaan. Sistem penyampaian gastroretentif menguntungkan bagi obat untuk:
a. meningkatkan bioavailabilitas b. efisiensi terapi
c. kemungkinan pengurangan dosis d. keuntungan farmakokinetik,
seperti mempertahankan level terapetik yang konstan dan mengurangi fluktuasi konsentrasi terapetik (Ali dkk., 2005).
Beberapa pendekatan digunakan untuk meningkatkan waktu tinggal lambung, termasuk sistem penyampaian obat mengapung (floating drug delivery systems (FDDS)), juga dikenal sebagai sistem hidrodinamik seimbang
(hydrodynamically balanced systems (HBS)), sistem mengembang (swelling) dan melebar (expanding), dan sistem polimer bioadhesif (Mishra, 2016).
Tabel 2.1 Perbandingan antara sistem penyampaian obat gastroretentif dan sistem penyampaian obat konvensional (Badoni dkk., 2012)
No. Perbandingan Konvensional Gastroretentif 1. Toksisitas Toksisitas
berisiko tinggi
Toksisitas berisiko rendah 2. Kepatuhan Pasien Berkurang Meningkatkan kepatuhan
pasien 3. Obat dengan absorpsi
sempit pada usus halus
Tidak cocok Cocok
4. Obat dengan absorpsi cepat melalui saluran pencernaan
Tidak
menguntungkan
Sangat menguntungkan
5. Obat yang
didegradasi dalam kolon
Tidak
menguntungkan
Sangat menguntungkan
6. Obat dengan aksi lokal dalam lambung
Tidak
menguntungkan
Sangat menguntungkan 7. Obat dengan kelarutn
rendah pada pH basa
Tidak
menguntungkan
Sangat menguntungkan
16
Bentuk sediaan pelepasan terkontrol mampu mencapai berbagai keuntungan terapi, termasuk (a) mempertahankan konsentrasi plasma dalam rentang yang diinginkan dengan fluktuasi minimal sehingga efek terapi yang lebih konstan; (b) peningkatan durasi aktivitas dari obat dengan waktu paruh singkat; (c) mengurangi efek samping; (d) mengurangi frekuensi dosis dan peningkatan kepatuhan pasien;
dan (e) potensi untuk penyampaian obat tapak spesifik dalam saluran pencernaan (Wen dan Park, 2010).
2.4 Sistem Mukoadhesif
Penggunaan polimer mukoadhesif untuk meningkatkan penyampaian agen terapi telah menarik minat selama beberapa tahun dikarenakan beberapa keuntungan penting terkait performa bentuk sediaan secara in vitro dan in vivo. Formulasi mukoadhesif mampu menyediakan obat dengan pelepasan obat terlokalisasi pada daerah yang diinginkan seperti rongga hidung, mata, mulut, lambung, intestin, dan vagina untuk meningkatkan efikasi klinisnya. Penggunaan bahan mukoadhesif dalam formulasi bisa mengubah permeabilitas jaringan mukosa atau membran sehingga membantu adsorpsi makromolekul, seperti peptida. Lebih lanjut, interaksi antara formulasi mukoadhesif dan permukaan mukosa memberikan potensi untuk memperpanjang waktu tinggal dari bentuk sediaan pada tempat pemakaian, karenanya menurunkan frekuensi pemberian dosis dan meningkatkan kepatuhan pasien (Yu dkk., 2014).
Bentuk sediaan mukoadhesif telah menarik perhatian sebagai penyedia kontak antara obat/sistem penyampaian dengan tempat absorpsi, dan untuk memperpanjang waktu tinggal pada tempat target. Natrium alginat merupakan Polimer mukoadhesif yang memiliki kemampuan untuk melekat pada substrat mukosa (lapisan mukus yang menutupi jaringan epitel).Natrium alginat tidak hanya
17
mampu memperpanjang waktu tinggal obat tetapi juga mengatur pelepasan obat.
Karena itu, polimer mukoadhesif ini cocok untuk pengobatan penyakit lokal juga untuk peningkatan ketersediaan obat sistemik (Sandri dkk., 2015).
Pembentukan hubungan mukoadhesi, misalnya bahan mukoadhesif dan membran mukosa, membutuhkan 3 tahap:
a. Tahap kontak: kontak antara polimer mukoadhesif dan membran mukosa b. Tahap interpenetrasi: interdifusi rantai polimer melalui lapisan mukus untuk
memperluas area kontak.
c. Tahap konsolidasi: pembentukan interaksi mekanik dan.atau kimia yang bertanggung jawab untuk penyatuan dan memperkuat hubungan mukoadhesif yang menghasilkan adhesi yang berkepanjangan (Sandri dkk., 2015).
Tahap pertama dipengaruhi oleh kondisi fisik dari bahan polimer, secara khusus oleh kondisi hidrasi. Tahap kontak antara bahan mukoadhesif dan epitel mukosa, terjadi ketika menempatkan bahan mukoadhesif kontak langsung dengan permukaan mukosa melalui penghantaran obat dalam bentuk partikulat mukoadhesif di saluran pernapasan, atau adsorpsi di permukaan mukosa saluran pencernaan.
Kontak menyebabkan pengurangan energi bebas permukaan, penghilangan dua permukaan yang berbeda, dan pembentukan permukaan baru. Pada titik ini, terjadi tahap kedua: interpenetrasi rantai polimer ke dalam lapisan mukosa yang menyebabkan rantai tersangkut. Pada tahap konsolidasi, sangkutan rantai menyebabkan pembentukan ikatan mekanik dan kimia, sehingga memperkuat hubungan mukoadhesif (Sandri dkk., 2015).
18 2.5 Natrium Alginat
Gambar 2.3 Struktur kimia alginat (Thom dkk., 1981)
Alginat adalah polisakarida linear yang dihasilkan oleh alga laut dan bakteri genus Pseudomonas dan Azetobacter. Viskositas larutan alginat beragam berdasarkan komposisi polimer dan ukurannya, dan dengan adanya ion logam divalen larutan alginat dapat membentuk gel. Sifat fisikokimia dari alginat dimanfaatkan secara luas sebagai bahan tambahan dalam industri makanan, hingga menarik minat peneliti bagian medis (Tipton, 2010).
Asam alginat adalah kopolimer biner yang terdiri dari residu β-D-mannuronat (𝑀) dan α-L-asam guluronat (G) yang tersusun dalam blok-blok yang membentuk rantai linear. Kedua unit tersebut berikatan pada atom C1 dan C4 dengan susunan homopolimer dari masing-masing residu (MM dan GG) dan suatu blok heteropolimer dari dua residu (MG) (Thom dkk., 1989).
Asam alginat tidak larut dalam air. Oleh karena itu, umumnya yang digunakan dalam industri adalah dalam bentuk garam natrium dan kalsium. Salah satu sifat natrium alginat mempunyai kemampuan membentuk gel dengan penambahan larutan garam-garam kalsium seperti kalsium glukonat, kalsium tartrat, dan kalsium sitrat. Pembentukan gel dengan ion kalsium disebabkan oleh adanya ikatan silang membentuk khelat antara ion kalsium dan anion karboksilat pada blok G-G melalui mekanisme antar rantai. Natrium alginat mempunyai rantai
19
poliguluronat menunjukkan sifat pengikatan ion kalsium yang lebih besar. (Moriis dkk., 1980).
2.6 Dispersi Padat
2.6.1 Defenisi Dispersi Padat
Istilah dispersi padat mengacu kepada sekelompok produk padatan yang terrdiri setidaknya dari dua komponen yang berbeda, umumnya matriks hidrofilik dan obat hidrofobik. Matriks ini dapat berupa kristal atau amorf. Obat ini dapat terdispersi secara molekuler, dalam partikel amorphous (kluster) atau dalam partikel kristal (Chiou dan Reigelman, 1971).
Dispersi padat dapat didefenisikan sebagai sistem satu atau lebih bahan aktif ke dalam suatu pembawa atau matriks inert dalam kondisi padat, yang dibuat dengan cara peleburan, pelarutan, atau kombinasi dari peleburan dan pelarutan, dimana masing-masing metode ini memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing dan disesuaikan dengan sifat bahan dan matriks yang akan didispersikan. Keuntungan dari formulasi dispersi padat dibandingkan tablet kapsul konvensional untuk peningkatan disolusi dan bioavailabilitas dari obat yang sukar larut dalam air (Chiou dan Rielgeman, 1971).
2.6.2 Metode Pembuatan Sistem Dispersi Padat 2.6.2.1 Metode Peleburan atau Difusi
Campuran fisik dari bahan aktif dengan pembawa larut air dipanaskan sampai melebur. Leburan disolidifikasi secara cepat pada tanggas es sambil diaduk terus- menerus, lalu diserbukkan, kemudian diayak. Pendinginan secara cepat diperlukan karena akan menghasilkan supersaturasi obat akibat terjadinya penjeratan molekul obat dalam matrik solven selama pemadatan segera (Agoes, 2008).
20
Keuntungan cara peleburan adalah sederhana dan ekonomis. Cara ini tidak sesuai jika bahan aktif tidak stabil pada suhu peleburan atau akan menguap pada suhu tinggi. Sebagai contoh, asam suksinat sebagai pembawa griseofulvin sangat mudah menguap dan terurai parsial secara dehidrasi pada suhu mendekati suhu lebur.
Kerugiannya adalah sifat lengket pada hasil peleburan dan kristalisasi tidak teratur karena keberadaan halangan misibilitas pada diagram fasa (Agoes, 2008).
2.6.2.2 Metode Pelarutan
Pembuatan dispersi solida β-karoten dengan PVP dilakukan dengan menggunakan CHCl3 sebagai pelarut. Solven yang digunakan dengan tekanan rendah pada berbagai suhu rendah dapat menguap sempurna (Agoes, 2008).
Keuntungan metode pelarutan adalah dapat mencegah penguraian akibat termal sedangkan kerugiannya adalah biaya relatif mahal akibat menggunakan pelarut, sementara pelarut adakalanya sulit sekali dihilangkan secara sempurna.
Selanjutnya, kemungkina efek negatif residu soleven menimbulkan kesulitan untuk mendapatkan bentuk kristal (Agoes, 2008).
2.6.2.3 Metode Pelarutan dan Peleburan
Pembentukan sistem dispersi padat dalam pembawa yang mudah larut telah luas digunakan diantaranya: polivinilpirolidon (PVP), polietilen glikol (PEG), polivinilalkohol (PVA), derivat selulosa, poliakrilat dan polimethakrilat, urea, gula, poliol dan polimernya, dan emulsifier (Leuner dan Dressman, 2000).
Kalaupun terdapat resiko penguraian, hal itu terjadi pada suhu peleburan yang tinggi. Misalnya digunakan PEG 300 – 400 (cair) untuk melarutkan bahan aktif.
Sesudah itu masa lain PEG 6000 dilebur dan leburan dicapur dengan larutan bahan aktif PEG 300 – 400, lalu didinginkan sambil diaduk dan dihaluskan (Agoes, 2008).
21
Peningkatan kecepatan disolusi dispersi padat dapat berkisar antara 2 – 400 kali. Mekanisme peningkatan disolusi adalah melalui:
a. Penurunan ukuran partikel b. Efek solubilisasi pembawa
c. Efek peningkatan pembasahan dan dispersibilitas bahan aktif dalam media disolusi
d. Pembentukan dispersi metastabil.
2.7 Kunyit (Curcuma domestica Val.)
Kunyit (Curcuma longa Linn atau Curcuma domestica Val.) termasuk dalam famili Zingiberaceae, telah lama dikenal oleh masyarakat sebagai tanaman yang sangat banyak manfaatnya seperti antiinflamasi (Patil dkk., 2011), antikanker (Naama dkk., 2010), antioksidan (Tanvir dkk., 2017), antiulkus (Aziz, 2011), dan antibakteri (Mohammed, 2015). Komponen utama kunyit yaitu kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin (BM 368) sebanyak 60-80%, demetoksikurkumin (BM 338) sebanyak 15-30% dan bisdemetoksikurkumin (BM 308) sebanyak 2-6% (Rohman, 2012). Kurkumin adalah senyawa kimia yang memberikan warna kuning pada kunyit dan memiliki efek terapi yang luas. Bagian yang dipakai adalah rimpang. Bagian paling aktif dari kunyit adalah kurkumin, yang bisa mencapai 2-5% dari total bagian rimpang (Aggarwal dkk., 2003).
Kunyit memiliki sejarah panjang dalam pengobatan sebagai pengobatan untuk keadaan inflamasi. Konstituen kunyit termasuk tiga kurkuminoid: kurkumin (diferuloilmetana; komponen penyusun utama dan yang betanggung jawab atas warna kuning kuat), demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin, dan juga minyak volatil (tumeron, atlanton, dan zingiberon), gula, protein dan resin. Penelitian menunjukkan bahwa kurkumin merupakan molekul yang pleiotropik (menghasilkan
22
banyak ekspresi fenotip) yang bisa berinteraksi dengan banyak molekul target yang terlibat dalam inflamasi. Senyawa kimia utama: senyawa aktif adalah kurkuminoid (3-5%), yang merupakan fenilpropanoid, predominan kurkumin (50-60%), dengan monodesmetoksikurkumin, dihidrokurkumin dan lainnya (Jurenka, 2009).
Gambar 2.4 Struktur kurkuminoid Taksonomi kunyit adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan pembuluh) Superdivisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (monokotiledon)
Subkelas : Zingiberidae Order : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae (famili jahe-jahean) Genus : Curcuma L.
Species : Curcuma longa Linn. (Kunyit)
Sinonim : C. domestica Valeton (Krishnaswamy, 2009).
23 2.7.1 Kurkumin
Kurkumin adalah senyawa polifenol berupa serbuk kristalin kuning tak berbau dengan berat molekul 368,4 dan titik lebur 184º-186 º C, sukar larut dalam air, petroleum eter dan benzena dan larut dalam metil dan etil alkohol, kloroform, asam asetat glasial, alkali, aseton dan propilen glikol (Krishnaswamy, 2009).
Sifat kurkumin tidak stabil pada suasana netral dan basa karena memicu degradasi asam ferulat dan gugus feruloilmetan. Kurkumin stabil pada saluran pencernaan pH 1-6. Vanilin, asam ferulat dan feruloil diidentifikasi sebagai produk degradasi minor. Melalui sistem reduksi endogen sebagian besar kurkumin akan direduksi menjadi dihidrokurkumin dan tetrahidrokurkumin dan diubah menjadi konjugat monoglukuronosida. Tetrahidrokurkumin (THC) adalah metabolit in vivo utama (Krishnaswamy, 2009).
Gambar 2.5 Degradasi kurkumin dalam pH basa (Kumavat dkk., 2013) 2.7.2 Farmakokinetika kurkumin
Efek farmakologis kurkumin terbatas karena kelarutannya yang rendah dan memiliki metabolisme yang cepat di saluran pencernaan (Petchsomrit, 2013).
24
Penelitian selama tiga dekade terakhir terkait absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi kurkumin, menunjukkan bahwa absorpsi dan metabolisme cepat sehingga membatasi ketersediaan hayati kurkumin. Bioavailabilitas yang rendah t(<1%) dan degradasi pada pH basa intestin manusia, sangat membatasi aplikasi klinisnya (Anand dkk., 2002).
Kurkumin tidak larut dalam air, sedikit diserap dari saluran pencernaan, dan ketika melalui saluran pencernaan tidak banyak masuk ke aliran darah, jadi sedikit menghasilkan efek ke tubuh. Dosis besar harus diberikan secara oral untuk memasukkan jumlah kecil ke darah (Jefferson, 2015). Absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi kurkumin dalam hewan pengerat telah dijelaskan dalam sedikitnya 10 studi. Tidak ada data farmakokinetik komprehensif manusia sebagai perbandingan studi preklinik dikarenakan bioavailabilitas sistemik yang rendah dari kurkumin (Sharma dkk., 2007).
2.7.3 Manfaat kurkumin
Kurkumin, komponen bioaktif dari kunyit, telah menunjukkan peran penting dalam pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit kronik proinflamasi termasuk penyakit neurodegeneratif, kardiovaskular, paru-paru, metabolisme, autoimun, dan penyakit mematikan. Aktivitas kurkumin melawan penyakit kronik dihubungkan dengan penghambatan biomarker inflamasi (Krishnaswamy, 2009).
Penelitian menunjukkan kurkumin memiliki khasiat sebagai antiinflamasi (Ghatak dan Basu, 1972), antibakteri (Negi, dkk., 1999), antijamur (Apisariyakul, dkk., 1995), antikanker (Bansar dan Basant, 1982), antioksidan (Ruby, dkk., 1995), antiHIV (Mazumdar, dkk., 1995), dan antidiabetes (Halim dan Ali, 2002).
Studi menunjukkan efek kurkumin oral pada peradangan manusia. Kurkumin dosis 400 mg tiga kali sehari selama 5 hari menyebabkan efek anti peradangan yang
25
signifikan diukur secara objektif dan subjektif pada pasien pasca-operasi (Satoskar dkk., 1986). Sepuluh pasien dengan penyakit peradangan usus menerima kurkumin murni pada dosis antara 0,55 dan 1,65 g per hari hingga 2 bulan; semua pasien menunjukkan peningkatan kondisi klinik (Holt dkk., 2005). Uji klinis menunjukkan kurkumin memiliki potensi sebagai agen terapeutik dalam penyakit seperti penyakit radang usus, pankreatitis, radang sendi, dan juga kanker tipe tertentu (Jurenka, 2009).
Diketahui bahwa kondisi proinflamasi dihubungkan dengan perkembangan tumor.
Maka dari itu, senyawa fitokimia seperti kurkumin dengan efek anti radang yang kuat diharapkan memiliki aktivitas kemopreventif . Secara natural, ada 4 tahapan proses penyembuhan. Tahapan itu adalah hemostatis, inflamasi/peradangan, proliferasi, dan remodeling. Banyak penelitian pra-klinis telah menunjukkan bahwa kurkumin mampu bekerja pada fase inflamasi, proliferasi dan remodeling dari proses penyembuhan luka sehingga mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka (Aggarwal dkk., 2003).
Pengobatan H. pylori dengan kurkumin meredakan gejala pada pasien tukak (Koosirirat dkk., 2010). Efek anti tukak dari kurkumin dikarenakan sifatnya yang menurunkan sekresi asam lambung dan meningkatkan mekanisme pertahanan mukosa melalui penekanan peradangan yang diperantarai enzim NO sintase (Mahattanadul dkk., 2009). Dispersi padat kurkumin (kurkumin dan PVP K30 dengan rasio 1:8) menghasilkan efek anti tukak lambung dengan menghambat sekresi asam lambung, menurunkan keasaman cairan lambung, menghambat aktivitas pepsin dan meningkatkan penyembuhan tukak (Mei dkk., 2009). Sifat lain dari kurkumin adalah aktivitas antibakteri, terutama pada bakteri enterik (Farnsworth dan Bunyapraphatsara, 1992). Antioksidan kurkumin menunjukkan efek penghambatan pada aktivasi NF-kappa B dan juga IL oleh H. pylori (Munzeinmaier dkk., 1997).
26
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Fisik Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, dan Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental yang meliputi uji efek anti ulkus dengan variasi dosis dari sediaan beads alginat gastroretentif yang mengandung dispersi padat ekstrak kunyit
3.3 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, alu dan lumpang, jangka sorong (Tricle), desikator, kamera digital, lemari pengering magnetic stirrer, neraca analitis (Ohaus Pionner), oven (Marment), stopwatch, oral sonde, rotary evaporator, spuit 10 mL dengan jarum ukuran 21G, termometer, vial, waterbath dan alat – alat laboratorium yang biasa digunakan.
3.4 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.), etanol 96%, Akua DM (Brataco), Tween 80 (Merck), Natrium alginat 80-120 cP (Wako pure chemical industries, Ltd. Japan), bahan-bahan yang berkualitas pro analysis (Merck): kalsium klorida, natrium klorida dan asam klorida.
3.5 Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah sebanyak 52 ekor tikus putih jantan dengan berat 150- 200 g.
27 3.6 Prosedur Penelitian
3.6.1 Penyiapan Bahan Tumbuhan
Penyiapan bahan tumbuhan meliputi pengambilan, dan pengolahan bahan.
3.6.1.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan
Metode pengambilan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu diambil dari satu daerah saja tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama di daerah lain. Bahan tumbuhan diperoleh dari Pancur Batu , Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
3.6.1.2 Identifikasi Bahan Tumbuhan
Identifikasi bahan tumbuhan (rimpang) dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA), Universitas Sumatera Utara, Medan.
3.6.1.3 Pengolahan Bahan Tumbuhan
Rimpang dibersihkan dari kotoran yang melekat, disortasi basah lalu dicuci dengan air sampai bersih. Ditiriskan, dirajang dengan ketebalan 3 – 5 mm dan ditimbang. Dikeringkan dalam lemari pengering sampai bahan tumbuhan rapuh (dapat dipatahkan) kemudian simplisia ditimbang (Depkes RI, 2008).
3.6.2 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia
Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total, dan penetapan kadar abu yang tidak larut asam (Depkes RI, 1989).
3.6.2.1 Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk, ukuran, warna, dan bau rimpang kunyit (Depkes RI, 1989).
28 3.6.2.2 Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia rimpang kunyit. Serbuk simplisia ditaburkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati dengan mikroskop. Untuk melihat bentuk butir pati ditetesi dengan akuades (Depkes RI, 1989).
3.6.2.3 Penetapan Kadar Air
Sebanyak 10 g simplisia ditimbang dengan seksama dalam botol timbang yang telah ditara. Dikeringkan pada suhu 105o C selama 5 jam di dalam oven, kemudian wadah ditimbang . Lanjutkan pengeringan dan timbang pada selang waktu 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25% (Ditjen POM, 1995).
3.6.2.4 Penetapan Kadar Sari Larut Air
Sebanyak 5 g serbuk dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL air - kloroform (2,5 mL kloroform dalam akuades sampai 1 liter) dengan menggunakan botol bersumbat warna coklat sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18-24 jam dan disaring, sejumlah 20 mL filtrat pertama diuapkan hingga kering dalam cawan yang telah dipanaskan dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 1050C sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara (Depkes RI, 1989).
3.6.2.5 Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Sebanyak 5 g serbuk dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96%
dengan menggunakan botol bersumbat berwarna coklat sambil sekali-kali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18-24 jam dan disaring.Sejumlah 20 mL filtrat pertama diuapkan hingga kering dalam cawan yang telah dipanaskan
29
dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 1050 C sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari larut dalam etanol dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara (Depkes RI, 1989).
3.6.2.6 Penetapan Kadar Abu Total
Lebih kurang 2 g zat yang telah digerus dan ditimbang seksama, dimasukkan kedalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus porselen bersama isinya dipijarkan perlahan–lahan hingga arang habis, didinginkan, ditimbang sampai diperoleh bobot yang tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara (Depkes RI, 1989).
3.6.2.7 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larsut Asam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit, dikumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, disaring dengan kertas saring, lalu dicuci dengan air panas. Kemudian residu dan kertas saring dipijarkan sampai diperoleh bobot tetap, didinginkan dan ditimbang beratnya. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara (Depkes, 1989).
3.6.3 Pembuatan Pereaksi
3.6.3.1 Pembuatan Akuades Bebas Karbondioksida
Akuades didihkan selama 5 menit atau lebih dan didiamkan sampai dingin dan tidak boleh menyerap karbondioksida dari udara (Ditjen POM, 1995).
3.6.3.2 Pembuatan Larutan Kalsium Klorida 0,15 M
Kalsium klorida ditimbang 22,053 gram kemudian dilarutkan dengan akua bebas CO2 secukupnya sampai 1000 mL (Ditjen POM, 1995).
30 3.6.4 Pembuatan Ekstrak Kunyit
Metode pembuatan ekstrak kunyit dengan cara maserasi, yaitu simplisia rimpang kunyit dikeringkan sampai simplisia rimpang kunyit rapuh (dapat dipatahkan) kemudian simplisia ditimbang lalu dihaluskan. Simplisia rimpang kunyit yang telah menjadi serbuk kunyit, kemudian ditimbang sebanyak 1 kg, lalu dimaserasi serbuk kunyit yang telah ditimbang dengan etanol 96% sebanyak 7,5 liter selama 5 hari lalu diserkai dan filtrat disimpan, kemudian residu di remaserasi selama 2 hari dengan etanol 96% sebanyak 2.5 liter lalu diserkai dan filtratnya dicampur dengan filtrat pertama dan kemudian diuapkan dengan penguap vakum putar hingga didapatkan ekstrak kental dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin (Ditjen POM, 1979).
3.6.5 Pembuatan Beads Alginat yang Mengandung Dispersi Padat Ekstrak Kunyit
R/ Natrium Alginat 0,75 g
PVP K30 7,5 g
Ekstak kunyit 7,5 g Tween 80 0,75 g Aqua ad 50 mL
Sistem dispersi padat dibuat dengan memvariasikan jumlah PVP K30 dengan perbandingan berat (Ekstrak Kunyit : PVP K30) = 1:1. Ekstrak kunyit - PVP K30 ditimbang sesuai komposisi campuran masing-masing, kedua bahan dicampur dan dilarutkan dengan pelarut etanol sebanyak 25 mL agar terjadi proses rekristalisasi.
Kemudian diuapkan pelarut dengan udara panas di oven (40°C) sampai semua pelarut etanol menguap hingga diperoleh berat konstan. Setelah campuran diuapkan, disimpan dalam desikator selama 24 jam. Kemudian padatan yang dihasilkan dikerok lalu diayak dengan menggunakan ayakan no. 12.