• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pasca Pandemi Covid-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pembelajaran Pasca Pandemi Covid-19"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

21

Pembelajaran

Pasca Pandemi Covid-19

PENDAHULUAN

Sebagian guru beranggapan bahwa pro¬ses belajar-mengajar adalah saat guru ber-interaksi dennga peserta didik, baik di kelas maupun saat melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Karena sudah mengajar selama bertahun-tahun, sebagian guru merasa hafal content knowledge mata pelajaran yang diajarkan. Itulah sebabnya, mereka datang ke kelas atau melakukan

prose belajar-mengajar secara daring secara as usual, begitu lagi, begitu lagi, tanpa per- siapan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Padahal, Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pen- didikan Bagian Keempat (

Standar Proses) Pasal 10 juga menyebutkan bahwa (1) Standar proses merupakan kriteria minimal proses pembelajaran berdasarkan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. (2) Standar proses sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi: (a). perencanaan pembelajaran;

(b) pelaksanaan pembelajaran; dan (c) penilaian proses pembelajaran.

Guru merupakan ujung tombak dan garda terdepan kegiatan belajar-mengajar.

Maka, apa pun yang terjadi, mereka harus bisa menghadirkan pembelajaran yang aktif, Dr. Wakhudin, M.Pd.

Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purwokerto

[email protected]

Abstrak: Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan guru untuk melakukan persiapan matang sebelum mengajar. Kenyataan di lapangan menunjukkan, guru lebih suka memilih mengajar “as usual”, mengajar seperti itu lagi seperti itu lagi dari tahun ke tahun. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana guru Sekolah Dasar di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah melakukan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 dan pemberlakuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus (case study). Dengan studi kasus memungkinkan peneliti melakukan analisis secara mendalam suatu kasus (single case) atau banyak kasus (multiple cases). Metode ini memungkinkan peneliti memperoleh data dari berbagai macam sumber, dokumentasi, catatan arsip, interview, observasi, dan artefak secara fisik.

Subjek penelitian adalah para guru Sekolah Dasar di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan, situasi darurat menyebabkan guru melaksanakan proses belajar-mengajar yang juga serba darurat. Guru mengalami banyak kendala dalam persiapan, pelaksanaan, maupun dalam melaksanakan penilaian. Hanya dengan bekerja sama dengan orang tua, memungkinkan guru mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Kata kunci: Persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi belajar-mengajar.

(2)

22 inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan dan

efisien, serta mengandung nilai transfer of knowledge dan transfer of value. Itulah se- babnya, meskipun dalam situasi pandemi Covid-19, guru tetap dituntut mengelola pembelajaran, walaupun menggunakan pembelajaran jarak jauh, baik daring maupun luring. Untuk menjamin kualitas pembelajaran, pendidik harus semaksimal mungkin mengelola pembelajaran mulai dari perencanaan (planning), pengorgani- sasian (organizing), pelaksanaan dan (ac- tuating) dan evaluasi (evaluating) (Saifulloh

& Darwis, 2020: 301-302).

Pandemi Covid-19 sedikit banyak me- nyebabkan keguncangan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah dasar.

Jika saja tidak ada pandemi, proses belajar- mengajar pada semua satuan belajar berjalan linear. Tapi sejak pandemic Covid- 19 melanda Indonesia awal 2020, proses belajar-mengajar berubah. Guru maupun peserta didik tidak lagi bertemu di ruang kelas, tapi bertemu di ruang maya. Mereka sebagian bertemu di rumah dengan cara guru mengunjungi peserta didik, namun prose belajar-mengajar ini segera berakhir, karena dinilai bisa membahayakan guru ataupun peserta didik. Karena saling me- ngunjungi merupakan yang tidak diizinkan untuk mencegah penularan virus Corona.

Perubahan pola belajar dari situasi nor- mal menjadi situasi pandemik menyebabkan pula perubahan pada proses belajar-meng- ajar. Selain berubah dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, metode yang digunakan pun berubah. Demi- kian juga, pendekatatan dan strategi yang digunakan guru dalam proses belajar-meng- ajar.

Penelitian ini berupaya mengungkap proses belajar-mengajar guru sekolah dasar di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah selama masa pandemic Covid-19 serta mengungkap bagaimana persiapan mereka dalam meng- hadapi proses belajar-mengajar pasca pandemi Covid-19 yang diharapkan kembali normal mulai 2022.

LANDASAN TEORI

Dunia saat ini dihadapkan dengan satu permasalahan yang sama dan cukup kom- pleks yaitu penyebaran virus covid-19 yang sangat massif. Permasalahan tersebut mem- berikan dampak tidak hanya pada sektor ekonomi, sosial dan budaya, tapi juga pada sektor pendidikan. Bahkan, dunia pendi- dikan terkena dampak yang sangat serius.

Penyebaran virus berdampak pada penye- lenggaraan pembelajaran pada semua jen- jang pendidikan (Septian Raibowo & Yahya Eko Nopiyanto, 2020: 113).

Menurut Utami (2017: 272), guru mem- punyai peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, karena guru merupakan key person yang berha- dapan langsung dengan siswa dalam proses belajar-mengajar itu. Guru harus dapat men- ciptakan suasana yang kondusif agar siswa bersedia terlibat sepenuhnya pada kegiatan pembelajaran, sehingga tujuan pembela- jaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Mengingat begitu pentingnya peranan guru dalam menen- tukan keberhasilan pembelajaran tersebut, maka guru dituntut memiliki kinerja yang tinggi, yaitu seperangkat kemampuan kerja- /unjuk kerja guru dalam menjalankan tugas- nya, terutama dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar- mengajar secara profesional sesuai etika profesi keguruan.

Proses belajar-mengajar yang baik harus dimulai dari persiapan yang guru lakukan.

Dalam hal ini, Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pen- didikan Pasal 11 menggariskan bahwa (1) Perencanaan pembelajaran sebagaimana di- maksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf a merupakan aktivitas untuk merumuskan:

(a) capaian pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit pembelajaran;

(b) cara untuk mencapai tujuan belajar; dan (c) cara menilai ketercapaian tujuan belajar.

(2) Perencanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik.

(3)

23 Pasal 12 PP No. 57 Tahun 2021 juga

menjelaskan bahwa, (1) Pelaksanaan pem- belajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: (a) interaktif;

(b) inspiratif; (c) menyenangkan; (d) me- nantang; (e) memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan (f) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. (2) Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik dengan membe- rikan keteladanan, pendampingan, dan fasi- litasi.

Supatni (2020: 206) mengemukakan, pa- radigma pembelajaran saat ini telah berubah dari yang semula berpusat pada guru men- jadi pembelajaran berpusat pada siswa.

Fungsi mata pelajaran yang diampu perlu dipahami oleh pengawas untuk memper- siapkan guru mampu merefleksikan peng- alamannya sendiri, pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan ser- ta memahami beragam nuansa makna. Di samping mengetahui peran, fungsi dan ke- gunaan mata pelajaran yang diampu, sebagai guru juga diperlukan untuk mampu mene- rapkan beberapa alur dan metode ajar se- hingga paradigma pengajaran dapat diubah menjadi paradigma pembelajaran.

Menurut Supatni (2020: 210), pendekat- an saintifik dapat meningkatkan kemam- puan guru dalam menyusun rencana pelak- sanaan pembelajaran. Ini didukung dengan bukti dari hasil analisis data kemampuan awal guru yang masih cukup rendah, banyak hal belum mampu dilaksanakan sudah dibe- nahi. Pada siklus I sudah terjadi peningkatan yang lebih baik di mana banyak unsur yang mesti dilakukan dalam proses pembelajaran sudah dilakukan. Pada akhir siklus II bahkan kemampuan guru sudah cukup baik. Ber- bagai hal yang belum dilakukan dalam pe- laksanaan proses pembelajaran sebelumnya sudah dilakukan dan terjadi kenaikan nilai yang diharapkan.

Agar dapat menyampaikan materi pem- belajaran dengan baik dan efektif, guru perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu: (a) Membuka pembelajaran dengan kesan yang menyenangkan; (b) Menyampaikan materi pembelajaran dengan tepat dan jelas; (c) Ada variasi dalam menambahkan materi pembelajaran; (d) Pertanyaann yang diberi- kan kepada peserta didik cukup untuk berpikir; (e) Memberikan kesempatan atau menciptakan kondisi yang dapat memun- culkan peserta didik untuk mengajukan per- tanyaan; (f) Pemberian pujian atau peng- hargaan kepada peserta didik yang mem- berikan jawaban tepat, dan mengarahkan jawaban yang kurang tepat; (g) Guru selalu memperhatikan reaksi atau respons yang berkembang pada diri peserta didik; (h) Menggunakan waktu secara tepat sehingga tidak membosankan; (i) Mengakhiri pembe- lajaran dengan kesan yang menyenangkan peserta didik (Wahid, 2020: 39).

Sedangkan Pasal 13 PP No. 57 Tahun 2021 menyebutkan, (1) Penilaian proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf c merupakan ases- men terhadap perencanaan dan pelaksa- naan pembelajaran. (2) Penilaian proses pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. Pasal 14 menjelaskan bahwa (1) Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran, penilaian proses pem- belajaran selain dilaksanakan oleh pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dapat dilaksanakan oleh: (a) sesama pendidik; (b) kepala satuan pendidikan;

dan/atau (c) Peserta Didik.

(2) Penilaian proses pembelajaran oleh sesama pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan asesmen oleh sesama pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. (3) Peni- laian proses pembelajaran oleh kepala satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan asesmen oleh kepala satuan pendidikan pada satuan

(4)

24 pendidikan tempat pendidik yang bersang-

kutan atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. (4) Penilaian proses pembelajaran oleh peserta didik sebagai- mana dimaksud pada ayat (1) huruf c me- rupakan asesmen oleh peserta didik yang diajar langsung oleh pendidik yang ber- sangkutan atas pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya.

Mahfudin et al., (2021: 9-10) menam- bahkan, kendala yang dialami dalam eva- luasi pembelajaran berbasis android selama pandemic Covid-19 yaitu terlambat hadir mengikuti ujian. (a) peserta ujian tidak hadir dalam ujian; (b) peserta ujian tidak memiliki perangkat android; (c) perangkat android peserta ujian tiba-tiba mati; (d) perangkat android peserta ujian kehabisan daya; (e) perangkat android peserta ujian tidak bisa terhubung dengan sistem ujian; (f) akses jaringan lambat; (g) aplikasi ujian menutup sendiri; (h) terjadi pemadaman listrik.

Penanganan permasalahan yang terjadi pada evaluasi pembelajaran berbasis android dilakukan dengan memenuhi sarana dan prasarana sesuai dengan standar yang ditetapkan. Masih perlu meningkatkan kua- litas dan kuantitas sarana dan prasarana sehingga pelaksanaan evaluasi pembela- jaran berbasis android bisa dilakukan de- ngan baik. Selain itu perlu peningkatan SDM untuk guru, sehingga pengelola sistem tidak terfokus ke proktor.

METODE PENELITIAN

Penelitian bertema, ”Menyiapkan Proses Belajar-Mengajar Pasca Pandemi Covid-19 bagi Guru SD di Cilacap” ini menggunakan pendekatan kualitatif de- ngan metode studi kasus (case study).

Studi kasus merupakan salah satu tradisi kualitatif (Creswell; 1998: 63). Studi ini merupakan salah satu dari lima tradisi riset kualitatif (Creswell: 1998: 65).

Menurut Robert K. Yin (1984:10), studi kasus adalah: Ini general, case study

are the preferred strategy when “how” or

“whay” question are being posed, when the investigator has liltle control over events, when the focus is on a contem- porary phenomenon within some real-life context. Such “explanatory” case studies also can be complemented by two other types – explanatory” and “descriptive”

case studies. Regardless of the type of case study, investigator must exercise great care in designing and doing case studies, to overcome the traditional criticisms of the method. (Yin, 1984:13).

Penggunaan metode studi kasus, karena penelitian bertema, ”Menyiapkan Proses Belajar-Mengajar Pasca Pandemi Covid-19 bagi Guru SD di Cilacap” ini memenuhi 14 ciri-ciri yang disebutkan Lincoln dan Guba (1985: 39-43). Ciri ke- 1, adalah latar alamiah (natural setting).

Ciri ke-2, menggunakan manusia sebagai instrumen (human instrument). Ciri ke-3, menggunakan pengetahuan secara diam (utilization of tacit knowledge). Ciri ke-4, menggunakan metode kualitatif (qualita- tive methods). Ciri ke-5, dapat memilih sampel yang diinginkan (purposive sam- pling). Ciri ke-6, melakukan analisis data secara induktif (inductive data analysis).

Ciri ke-7, menggunakan teori dari dasar (grounded theory).

Ciri ke-8, membuat desain riset seke- tika (emergent design). Ciri ke-9, hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama (negotioned outcomes). Ciri ke- 10, studi kasus memungkinkan menjadi sebuah mode (case study reporting mo- de). Ciri ke-11, menggunakan interpre- tasi berupa simbol (ideographic interpre- tation). Ciri ke-12, desain penelitian yang bersifat sementara (tentative applica- tion). Ciri ke-13, menentukan batas pe- nelitian dengan fokus (focus-determined boundaries). Dan, ciri ke-14, menetapkan kriteria khusus sebagai keabsahan data (special criteria for trustworthiness).

Studi kasus sendiri, menurut Cres-

well (1998: 61-64), memungkinkan pe-

(5)

25

neliti melakukan analisis secara menda-

lam suatu kasus (single case) atau banyak kasus (multiple cases). Metode ini memungkinkan peneliti memperoleh data dari berbagai macam sumber, doku- mentasi, catatan arsip, interview, obser- vasi, dan artefak secara fisik. Sementara dalam membuat analisis dilakukan de- ngan cara deskriptif (description), tema- tis (themes), dan berupa pernyataan (assertions).

Penelitian yang dilaksanakan No- vember-Desember 2021 ini mengambil tempat sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

Artinya data yang diperoleh dari hasil pengumpulan di lapangan, bukan berupa angka, melainkan data berupa catatan, memo, naskah wawancara, dokumen la- pangan, dokumen pribadi, serta doku- men resmi lainnya. Sehingga yang men- jadi tujuan dari penelitian ini adalah mengambarkan secara empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci, dan tuntas. Dengan demikian penggunaan penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah dengan cara mencocokkan realita yang ada dengan teori yang berlaku menggunakan metode deskriptif.

Penggunaan metode kualitatif seba- gaimana dikemukakan Lexy J. Moleong (1998: 5), dimaksudkan (1) Untuk me- nyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan ke- nyataan ganda; (2) Metode ini menya- jikan secara langsung hakikat hubungan antara antara peneliti dan responden;

(3) Metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak pena- jaman pengaruh bersama dan terhadap pola nilai yang dihadapi (Lexy J.

Moleong: 1998, 5).

Penelitian ini berjenis deskriptif.

Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interprestasi yang tepat. Peni- laian deskriptif mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang ber-

laku dalam masyarakat serta situasi ter- tentu, tentang hubungan, kegiatan, sikap, pandangan, serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari suatu fenomena. Sumber data primer diper- oleh dari sejumlah guru SD di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan ca- ra observasi, wawancara, dan pengum- pulan dokumen.

Hasil penelitian kemudian dianalisis untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan meto- de kualitatif, yakni bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Pada- nya terdapat regularitas atau pola ter- tentu, namun penuh dengan variasi (keberagaman) (Burhan Bungi: 2003, 53). Ada tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu, reduksi data, model data, dan penarikan/ve- rifikasi kesimpulan. Pada akhirnya, di- ambil simpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perencanaan Pembelajaran

Problematika yang dihadapi guru selama proses pembelajaran daring pada umumnya menyangkut masalah penyusunan rencana pembelajaran, pengetahuan dan kemampu- an guru, sarana dan prasarana yang me- madai, keterlibatan orang tua dan cara penyampaian materi.

Atin Siti Taryanti, Guru SD Negeri SD Jetis 04, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, misalnya, mengungkapkan, pembe- lajaran daring sangat erat kaitannya dengan kemampuan guru dalam penggunaan tekno- logi komputer. Agar pembelajaran daring dapat berjalan sebagaimana mestinya, guru harus mengetahui dan dapat menggunakan teknologi komputer. Sangat tidak mungkin pembelajaran secara daring dapat ber- langsung dengan baik apabila guru tidak

(6)

26 mengetahu dan tidak mampu mengope-

rasikan teknologi modern ini. Oleh karena itu ketika guru melakukan pembelajaran secara daring, pastikan guru mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan computer baik yang portable maupun berupa smartphone.

Sarana dan prasarana yang memadai, juga memegang peran penting, kata Atin.

Selain pengetahuan dan kemampuan guru dalam teknologi computer, proses belajar- mengajar memerlukan sarana dan prasa- rana berupa perangkat elektronik, jaringan yang memadai, dan aplikasi yang mendu- kung untuk proses pembelajaran. Perangkat elektronik yang dapat digunakan antara lain komputer, laptop, dan gadget. Jaringan biasa digunakan wifi maupun kuota data. Sedang- kan aplikasi yang dapat digunakan untuk pembelajaran antara lain Whatsapp, Zoom, dan Goooglemeet.

“Penggunaan perangkat elektronik mau- pun jaringan kita disesuaikan dengan ke- mampuan siswa. Karena tingkat ekonomi siswa berbeda-beda. Ada yang mampu membeli laptop, ada yang hanya mampu membeli gadget dan ada yang mampu memasang wifi tetapi banyak juga yang hanya mampu membeli kuota. Oleh karena itu sebelum pembelajaran daring dilaksa- nakan guru lebih dahulu memberitahu pe- serta didik dan wali murid tentang rencana pembelajaran secara daring supaya orang tua mengetahui dan menyiapkan sarana dan prasarananya. Sedangkan untuk pengguna- an aplikasi harus disesuaikan dengan pe- rangkat da jaringannya. Karena tidak semua perangkat dapat digunakan untuk pembe- lajaran daring selalu compatible dengan aplikasi – aplikasi pembelajaran. Misalnya WhatsApp adalah aplikasi yang paling mu- dah digunakan untuk semua perangkat serta semua jenis jaringan. Akan tetapi untuk Goo- gle meet dalam penggunaanya akan membu- tuhkan bandwich yang lebih besar. Ini harus dipertimbangkan, apakah jaringan akan memadai atau tidak.

Menjelaskan tentang keterlibatan wali murid dalam proses belajar-mengajar, Atin Siti Taryanti mengemukakan, berhubungan dengan pembelajaran daring pasti ini meru- pakan salah satu cara pembelajaran jarak jauh yang tidak melibatkan tatap muka dan melibatkan perangkat teknologi. Pembela- jaraan daring, terutama untuk siswa SD ti- dak biasanya dilakukan dari rumah dan menggunakan perangkat elektronik seperti yang sudah dijelaskan di atas. Oleh karena itu keterlibatan orang tua atau wali murid sangat diperlukan. Baik itu sebagai peng- awas dalam belajar maupun sebagai peng- awas dalam penggunaan perangkat elektro- nik.

“Sebagai pengawas anak dalam belajar, berarti orang tua memastikan dengan benar bahwa anaknya mengikuti kegiatan pembe- lajaran daring sebagaimana mestinya dan memastikan anaknya mengumpulkan tugas yang diberikan gurunya. Sebagai pengawas dalam penggunaan perangkat elektronik pembelajar, artinya orang tua memastikan anaknya menggunakan perangkat tersebut untuk kegiatan pembelajaran bukan untuk kegiatan bermain semata,” kata Atin Siti Taryanti.

Suratman, guru SD Negeri Alangamba 02 Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap juga mengemukakan, pembelajaran secara daring dilakukan di sekolah dengan menyu- sun perencanaan pembelajaran dengan melakukan perencanaan dengan kegiatan yang terdiri atas: (1) Pada saat pelaksanaan pembelajaran daring, guru menyusun jadwal pembelajaran secara seimbang merupakan salah satu bagian penting agar perencanaan pembelajaran berjalan terencana dengan batasan waktu dan muatan pelajaran yang tidak membebani peserta didik. Dalam satu hari mata pelajaran dibatasi berapa muatan mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik, misalnya dua atau tiga mata pelajaran yang akan digulirkan. Selain itu, alokasi waktu setiap muatan mata pelajaran juga harus ditetapkan misalnya untuk satu mata pelajaran dialokasikan waktu 120 menit dengan jeda istirahat 30 menit.

(7)

27

“Penyusunan jadwal daring yang seim- bang dapat dilaksanakan dengan berkoor- dinasi dengan seluruh guru dan kepala sekolah selaku pemangku kebijakan sekolah.

Ingat jangan sampai pembelajaran daring yang kita selenggarakan dalam masa pande- mi Covid-19 yang tidak proporsional justru akan menjadikan beban fisik dan mental dan berdampak buruk pada peserta didik men- jadi stress,” kata Suratman.

Dia menjelaskan, persiapan pembelajar- an yang baik juga didukung dengan peman- faatan media atau perangkat berbasis daring yang tepat. Pembelajaran secara daring da- pat berlangsung dengan efektif bila didu- kung tersedianya media yang tepat. Media daring yang digunakan di kelas adalah An- droid karena peserta didik belum semuanya memiliki laptop sendiri. Media aplikasi da- ring yang akan digunakan seperti Whatsapp group, Quizizz, Zoom Meeting, Google Class- room, dan Kahoot dan lainnya. Guru harus menyusun desain pembelajaran daring seca- ra efektif dengan memilih pemanfatan pe- rangkat media dan aplikasi daring yang tepat sesuai kemampuan dan ketersediaan sarana yang dimiliki peserta didik.

“Kebanyakan guru, peserta didik dan orang tua sudah mendengar berbagai apli- kasi untuk proses pembelajaran daring Learning Management Sistem (LMS) meng- gunakan internet seperti seperti Whatsapp group, Quizizz, Zoom Meeting, Google Class- room, dan Kahoot dan tetapi masih belum memahami penggunaannya. Tidak kalah penting juga adalah pemanfaatan portal rumah belajar, kipin school dan aplikasi lain sebagai portal pembelajaran yang menye- diakan bahan belajar,” kata Suratman selan- jutnya.

Didi Hari Purwantoro, guru SDN Grugu 02 Kawunganten, Kabupaten Cilacap juga mengemukakan, berdasarkan Peraturan Pe- merintah No. 57 Tahun 2021 tentang Stan- dar Nasional Bagian Keempat (Standar Proses), perencanaan pembelajaran dibuat sebagai sarana mencapai pembelajaran yang

menjadi tujuan belajar dari suatu unit pem- belajaran; cara untuk mencapai tujuan belajar; dan cara menilai ketercapaian tuju- an belajar. Dalam membuat perencananaan pembelajaran, yang diperlukan yaitu pene- kanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompe- tensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

Adapun unsur dalam penyusunan peren- canaan pembelajaran yaitu: (1) Nama/iden- titas sekolah tempat RPP digunakan; (2) Keterangan kelas/jenjang serta semester saat RPP tersebut dirancang; (3) Tema yang akan diajarkan; (4) Sub-tema pembelajaran;

(5) Pembelajaran keberapa dalam pelaksaan pembelajaran; (6) Muatan pembelajaran; (7) Pengalokasian lamanya waktu proses bela- jar; (8) Materi utama/inti; (9) Pengalokasian lamanya waktu proses belajar; (10) Kompe- tensi Inti (KI); (11) Kompetensi Dasar (KD);

(12) Indikator tercapai atau tidaknya KD;

(13) Tujuan akhir pembelajaran; (14) Materi atau isi bahan ajaran; (15) Metode pada proses belajar-mengajar; (16) Media dan sumber materi pengajaran; (17) Langkah kegiatan belajar-mengajar; (18) Penilaian selama proses belajar-mengajar.

Pelaksanaan pembelajaran

Dalam soal penyajian materi, Atin Siti Taryanti mengemukakan bahwa, pembe- lajaran secara daring untuk jenjang sekolah dasar merupakan sesuatu yang masih awam.

Faktor ini yang mendorong guru harus menyajikan materi secara menarik. Strategi dan penyajian materi harus bervariasi dan menarik sehingga menumbuhkan minat siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring. Mengenai penyajian materi tidak lepas dari media strategi dan media yang digunakan untuk menyampaiakan materi.

Sesuai Surat Edaran Nomor 4 tahun 20- 20 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendi- dikan dalam Masa Darurat Penyebaran Co- rona Virus Disease (Covid–19), maka sistem pelaksanaan pembelajaran secara daring

(8)

28 dilakukan melalui perangkat elektronik

yang dapat digunakan untuk membantu pembelajaran daring seperti yang sudah disebutkan di atas, kata Atin Siti Taryanti.

Antara lain PC, Laptop dan gadget.

Guru kemudian menggunakan aplikasi WA dan zoom untuk berinteraksi dengan pe- serta didik. Guru juga harus memastikan bahwa siswa memiliki kuota atau jaringan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

Untuk beberapa siswa yang tidak memiliki perangkat elektronik yang dapat digunakan untuk pembelajaran secara daring maka akan digunakan cara alternatif yaitu berke- lompok. Dalam artian siswa yang tidak mempunyai perangkat bergabung dengan siswa yang mempunyai perangkat. Proses interaksi dilakukan dengan cara video call.

Absensi dilakukan dengan voice note. Dan penyampaian materi digunakan video pem- belajaran dan power point. Dan yang paling penting memastikan kesiapan siswa meng- ikuti pembelajaran daring,” ujar Atin Siti Taryanti.

Sementara Suratman, Guru SD Negeri Widarapayung, Kecamatan Binangun, Kabu- paten Cilacap saat menjelaskan tentang penyajian materi daring mengatakan, harus bervariatif. Tahap awal persiapan guru sebelum melakukan pembelajaran daring yang dituangkan dalam Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) adalah bagaimana me- ngemas materi pembelajaran agar disajikan menarik dan bervariatif. Dapat dibayangkan betapa bosannya anak jika setiap hari diki- rimi materi mengerjakan soal melulu.

“Bukan berarti dalam pembelajaran da- ring tidak boleh memberi soal, akan tetapi tentu akan terasa berbeda jika soal terkait dengan materi yang diajarkan itu disajikan bervariatif, misalnya kuis kuis interaktif, teka teki silang ataupun bentuk penugasan kreatif berbasis aktivitas, karya ataupun dalam bentuk keterampilan sesuai materi pembelajaran,” ujar Suratman.

Agar tidak membosankan, kata dia se- lanjurnya, materi disajikan dalam bentuk pe- ta konsep, audio visual, video tutorial, video lucu sebagai hiburan, sumber web yang sudah disiapkan kesesuaian isi materi dan tautan linknya. Dengan meramu dan me- nyajikan materi yang bervariatif menarik, diharapkan dapat memberikan stimulus pe- serta didik menjadi lebih bersemangat dan tertantang untuk aktif dalam pembelajaran.

Yang paling penting, kata Suratman, ada- lah kemampuan guru dalam menuangkan ide kreatif untuk mengemas dan menyajikan materi pembelajaran daring yang bervariatif didukung pemilihan media aplikasi yang tepat. Hal ini dapat menjadikan peserta didik lebih termotivasi, aktif dan tetap semangat mengikuti pembelajaran. Mereka merespons dan mengapresisasi hasil pekerjaan tugas siswa juga tidak boleh diremehkan. Maka, guru harus dapat menghargai nilai proses yang dilakukan peserta didik. Apalah berat- nya jika guru memberikan ucapan terima kasih, menyampaikan kata tetap semangat belajar dan memberikan reward acungan jempol kepada siswa yang mengirim hasil pekerjaan penugasan daring.

Menjelaskan soal kerja sama guru de- ngan orang tua peserta didik selama masa pandemi, Suratman mengungkapkan, kerja sama dan keterlibatan orang tua baik secara langsung ataupun melalui paguyuban wali murid memiliki peran strategis dalam pem- belajaran daring. Pada masa pandemi Covid- 19, dibutuhkan komunikasi yang lebih in- tens dalam menyampaikan informasi pen- ting tidak hanya berkaitan dengan penugas- an materi pembelajaran daring, tapi berbagi informasi penting terkait edukasi Covid-19 juga sangat dibutuhkan.

Dalam menyampaikan informasi penu- gasan daring, kata Suratman, guru menyam- paikan intruksi penugasan dengan jelas, run- tut dan terarah sehingga mudah dipahami orang tua. Keterlibatan orang tua yang tidak kalah penting lagi adalah mendampingi se- cara efektif anak belajar di rumah. Orang tua bukan berarti menggantikan peran guru di

(9)

29 sekolah, tapi bagaimana orang tua terlibat

aktif melihat dan mengontrol kegiatan be- lajar anak, menjadi teman dan memotivator disiplin belajar anak, semangat mengerjakan tugas serta memfasilitasi kebutuhan belajar daring anak agar dapat berjalan dengan baik.

Sedangkan Didi Hari Purwantoro, guru SD Negeri Grugu Kawunganten mengung- kapan, dalam pelaksanaan pembelajaran daring, dia menggunakan media belajar seperti WhatsApp dan zoom meeting, serta Youtube untuk memudahkan interaksi da- lam pembelajaran. Link zoom meeting diba- gikan melalui grup kelas dan peserta didik masuk dengan akun masing-masing. Proses

Gambar 1: Contoh proses belajar-mengajar secara daring pembelajaran menggunakan buku teks

yang sudah disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dengan cara share screen melalui zoom meeting. “Saya juga mengirimkan link Youtube melalui Grup WhatsApp untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi. Masing- masing peserta didik bisa menyampaikan pertanyaan, ataupun tanggapan selama proses pembelajaran melalui zoom meeting.

Interaksi seperti ini efektif untuk mening- katkan pemahaman dalam pembelajaran menggunakan mode daring,” kata Didi.

Proses penilaian pembelajaran daring

Berkaitan dengan proses penilaian pada masa pembelajaran daring, Atin Siti Taryanti menjelaskan bahwa hal itu di- lakukan berupa penilaian proses dan

penilaian produk. Penilaian proses dila- kukan dengan cara membuat ceklis yang berisi tingkah laku siswa ketika meng- ikuti pembelajaran, misalnya sopan san- tun, keaktifan dan tanggung jawab. Ke- mudian untuk penilaian hasil meliputi tes tertulis.

“Tes ini akan dilakukan melalui kuis

melalui aplikasi Kahoot atau Quislet. Se-

lain menggunakan tes tertulis juga dibe-

rikan tugas kepada siswa. Dengan catat-

an tugas ini tidak memberatkan siswa

akan tetapi memicu semangat siswa un-

tuk belajar. Misalnya memberi tugas

yang berhubungan dengan kegiatan se-

hari-hari peserta didik selama pembe-

lajaran daring. Misalnya menceritakan

aktivitas sehari-hari, membuat video

tutorial mencuci tangan yang benar, atau

(10)

30

menggambar tentang sesuatu yang sedang tren misaln

ya virus corona,” ujar Atin selanjutnya.

Sedangkan Suratman mengemuka- kan, proses penilaian meliputi penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan peni- laian keterampilan. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam penilaian sikap peserta didik dalam pembelajaran daring seperti saat ini. Pertama, peni- laian diri sendiri. Teknik ini bisa dilak- sanakan dengan menggunakan Google Formulir. Guru mengirimkan sejumlah butir sikap yang diisi dengan pilihan

“iya-tidak”, “tidak pernah, kadang-ka- dang, sering, selalu”, atau dengan angka

“1,2,3,4”.

Kedua, kata Suratman, adalah jurnal kebaikan. Teknik ini adalah alternatif dari jurnal penilaian sikap guru. Ketiga, penilaian oleh orang tua. Dalam pem- belajaran daring seperti ini, peran orang tua sangat signifikan, terutama untuk menjaga anak agar tetap mau belajar.

Keempat, penilaian oleh seluruh guru, maka dalam pembelajaran daring ini bisa dilakukan dengan berdiskusi de- ngan seluruh guru yang mengajar di ke- las tersebut, terutama wali kelas. Dengan demikian, didapatkan gambaran yang lebih komprehensif misalnya tentang kedisiplinan peserta didik dalam me- ngumpul tugas atau sikap.

“Dengan empat teknik penilain di atas, diharapkan didapatkan nilai sikap yang komprehensif. Untuk menilai ke- aktifan ini dapat tercermin dari keaktif- an dalam berkomentar dalam diskusi baik di grup Whatsapp maupun dalam pertemuan Googlemeet. Ketika diskusi, anak memberi pendapat maupun dalam kehadiran. Karena ada beberapa anak yang tidak aktif. Namun kadang hal ini tidak selalu menjadi acuan, terkadang anak tidak hadir di Googlemeet karena tidak ada kuota, atau tidak ada gawai karena telefon pinternya dibawa orang- tua saat bekerja,” kata Suratman selan- jutnya.

Menjelaskan tentang penilaian pengetahuan, Suratman mengungkapka, guru menggunakan tes tertulis, lisan dan penugasan lainnya. Tes tertulis dapat di- kembangkan dalam bentuk pilihan gan- da, pilihan ganda kompleks, isian, uraian dan menjodohkan. Penilaian pengeta- huan dapat dilakukan secara daring de- ngan memanfaatkan aplikasi daring yang tersedia misalnya dengan google formu- lir dan Quizizz.

Sedangkan menjelaskan soal penilai- an keterampilan, Suratman mengung- kapkan, penilaian keterampilan atau penilaian kinerja adalah penilaian yang dapat dilakukan dengan cara meminta peserta didik mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Misal- nya penilaian produk (poster/puisi atau kerajinan) dan penilaian praktik (re- nang/menyanyi/menari atau membaca puisi) melalui video atau foto dan lain sebagainy.

Guru juga bisa melakukan penilaian proyek yaitu penilaian yang dapat dila- kukan dengan cara meminta peserta didik menyelesaikan tugas berupa pe- rancangan, pengumpulan, pengolahan data dan pelaporan. Berbagai hal yang harus diperhatikan adalah kemampuan pengelolaan, kesesuaian tugas proyek dengan muatan pelajaran, keaslian, serta inovasi dan kreatifitas peserta didik.

“Guru juga bisa melakukan penilaian portofolio yaitu, penilaian yang dapat dilakukan dengan cara meminta peserta didik mengumpulkan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya pe- serta didik yang mencerminkan perkem- bangan dalam kurun waktu tertentu. Mi- salnya karangan, puisi, lukisan, laporan penelitian, laporan kerja kelompok,”

kata Suratman selanjutnya.

Didi Hari Purwantoro, guru SD Ne-

geri Grugu Kawunganten juga meng-

ungkapkan, proses penilaian selama

(11)

31

pembelajaran berlangsung, dia meng-

gunakan Aplikasi Quizizz. Aplikasi ini mudah diakses dan digunakan oleh pe- serta didik karena tampilan yang mena- rik seperti bermain game.

“Saya membuat soal terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ke aplikasi Quizizz dan selanjutnya link Quizizz dibagikan melalui Grup WhatsApp kelas.

Selama pengerjaan soal evaluasi ber- langsung, ada batasan waktu dan bagi yang menjawab dengan benar dan cepat, maka peserta didik tersebut akan men- dapatkan nilai yang paling tinggi. Selain itu, saya juga mengamati peserta didik untuk mendapatkan nilai sikap selama proses pembelajaran dan juga kete- rampilan.” Kata Didi.

Gambar 2: Contoh pemberian soal penilaian menggunakan aplikasi Quizizz

Pembahasan

Semua guru di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang diwawancarai sepakat menyatakan bahwa proses belajar- mengajar di sekolah dasar yang sempur- na jika dilakukan secara tatap muka.

Dengan tatap muka, guru bisa memberi- kan stimulus untuk tumbuh kembang aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan lebih maksimal. Tapi dalam si- tuasi darurat, proses belajar-mengajar jarak jauh dapat menjadi solusi, meski- pun bersifat sementara.

Berkenaan dengan rencana kembali belajar dengan ofline pasca pandemic Covid-19, para guru di Kabupaten Cila- cap mengaku bahagia, karena setiap hari bisa bertatap muka dengan peserta didik maupun dengan kolega sesame guru

yang lain. Meski demikian, guru meng- aku merasa senang di “zona nyaman”

dengan melaksanaan pembelajaran dari rumah. Menghadapi proses belajar- mengajar yang normal tersebut, para guru berupaya melaksanakan semua tahapan belajar, baik persiapan, pelaksa- naan, maupun evaluasi dengan maksi- mal.

DAFTAR REFERENSI

Lexy J. Moleong. 1998. Metode Penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.

Bandung.

Lincoln, Y.S. dan Guba, E.G. (1985);

Naturalistic Inquiry; Sage Publication;

United State of America.

(12)

32 Mahfudin, S., Sutanto, A., & Dacholfany, M. I.

(2021). IMPLEMENTASI EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS ANDROID.

POACE: Jurnal Program Studi Adminitrasi Pendidikan, 1(1).

https://doi.org/10.24127/poace.v1i1.

614

Saifulloh, A. M., & Darwis, M. (2020).

Manajemen Pembelajaran dalam Meningkatkan Efektivitas Proses Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19. Bidayatuna: Jurnal

Pendidikan Guru Mandrasah Ibtidaiyah, 3(2).

https://doi.org/10.36835/bidayatuna.

v3i2.638

Septian Raibowo, & Yahya Eko Nopiyanto.

(2020). PROSES BELAJAR MENGAJAR PJOK DI MASA PANDEMI COVID-19.

STAND : Journal Sports Teaching and Development, 1(2).

https://doi.org/10.36456/j- stand.v1i2.2774

Supatni, N. M. (2020). PENGGUNAAN PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI KELOMPOK KERJA GURU (KKG) UNTUK MENINGKATKAN

KEMAMPUAN GURU DALAM

MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN YANG INOVATIF DI SD. Journal of Education Action Research, 4(2).

https://doi.org/10.23887/jear.v4i2.25 002

Utami, S. (2017). Penerapan Supervisi Klinis untuk Meningkatkan Kinerja Guru dalam Proses Belajar Mengajar Gugus IV Sanankulon. Briliant: Jurnal Riset Dan Konseptual, 2(3).

https://doi.org/10.28926/briliant.v2i 3.70

Wahid, A. (2020). Pengaruh Penggunaan Sarana Pendidikan Dalam Proses Belajar Mengajar Pada SD Inpres Paccerakkang Kota Makassar. DIKDAS MATAPPA: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar, 3(1).

https://doi.org/10.31100/dikdas.v3i1.

575

Yin, R.K (1984); Case Study Reseaerch – Design and Methods; Sage Publicaton;

Newbury Park, California.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam masa pandemi ini semua pembelajaran dilakukan secara daring guna memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 sehingga pembelajaran yang awalnya dilakukan

1. Pola Pembelajaran guru SD Negeri Ngelowetan selama masa pandemi Covid-19 adalah menggunakan model pembelajaran daring. Teknik pembelajaran daring menggunakan

Sejak pandemi Covid 19, pembelajaran di sekolah-sekolah dilakukan secara online termasuk di sekolah dasar (SD). Guru-guru SD banyak menggunakan zoom meeting atau Whatsapp

Pola Pembelajaran Guru Pada Masa Pandemi Corona (Covid-19) Pada Sekolah Dasar Negeri Gugus Jayabaya Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. Program Studi Magister

Saat pandemi tersebut pemerintah Indonesia menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (daring) guna mengurangi penyebaran virus Covid-19, hal ini juga belaku untuk

Efektifitas Implementasi Pembelajaran Daring (Full Online) Dimasa Pandemi Covid- 19 Pada Jenjang Sekolah Dasar Di Kabupaten Subang.. Rancangan Pengembangan Instrumen

Sejalan dengan penelitian dari (Eliza & Warlizasusi, 2021) yang mengatakan bahwa dengan pembelajaran secara daring di masa pandemi covid-19 ini membuat guru menjadi

maka akan dilakukan penelitian dengan judul “PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DARING PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SD NEGERI BINTORO 4